BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
1
Bijakkah Berpacaran Selagi Sibuk Berorganisasi Menurut Perspektif Ekonomi?
Oleh: Anoraga Ilafi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
2016
Membagi untuk mengalokasikan waktu saat kuliah itu memang tidaklah mudah. Belum ditambah kesibukan berorganisasi yang begitu banyak, tuntutan tugas yang sedemikian rupa, hingga harus menemani pacar kesana-kemari (kalau ada pacar ya hehehe).
Belum lagi untuk mengalokasikan pikiran dan tenaga yang mungkin selama ini menjadi permasalahan bagi banyak orang. Dalam bermain atau sekedar nongkrong dengan teman, waktu, tenaga, dan pikiran yang dikorbankan bersifat fleksibel sesuai isi pikiran dan hati. Beda lagi dengan kuliah, jika setengah-tengah dalam melaksanakan kuliah dapat berimplikasi pada hasil Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lama waktu kelulusan.
Begitu pula dengan berpacaran, dimana hal tersebut membutuhkan komitmen yang kuat dan pengorbanan yang besar baik dari segi waktu, tenaga, dan pikiran (dengan asumsi ketika berpacaran akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasangan dan menginginkan hubungan untuk bertahan selama mungkin). Untuk organisasi bagaimana? Hal ini juga sama-sama memaksa kita untuk berkorban lebih jauh dalam ketiga hal yang telah disebutkan (waktu, tenaga, dan pikiran). Jika kita salah sedikit atau tidak fokus di organisasi, bisa jadi kita membuat kesalahan dalam bekerja yang berimplikasi pada penurunan kepercayaan, citra baik, ataupun hubungan pertemanan dengan rekan kerja. Betul bukan?
Organisasi dan cinta katanya merupakan simbol kehidupan mahasiswa yang kritis dan dinamis. Kebutuhan mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri dapat dipenuhi dengan berorganisasi. Sedangkan kebutuhan mahasiswa sebagai makhluk sosial dapat dilihat dari insting tertarik untuk berpasangan dengan lawan jenisnya.
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
2
Menimbang terbatasnya waktu, tenaga, dan pikiran yang dimiliki oleh mahasiswa, adanya kebutuhan mahasiswa untuk tetap menjaga Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan berprestasi, dan mengingat kemampuan setiap mahasiswa berbeda-beda dalam mengoptimalkannya, apakah berpacaran saat berorganisasi merupakan keputusan yang tepat?Dengan pendekatan ilmu ekonomi, tulisan ini akan menjawab pertanyaan diatas. Tulisan ini memakai asumsi berpacaran dan berorganisasi merupakah kebutuhan mahasiswa untuk aktualisasi dan pengembangan diri.
Opportunity Cost dalam Berorganisasi
Tak bisa dipungkiri organisasi merupakan suatu hal yang penting untuk pengembangan diri. Mendapatkan relasi, belajar manajemen waktu, melatih kepemimpinan, dan hal-hal lainnya. Namun, berorganisasi juga memerlukan opportunity cost lohh!! Opportunity cost merupakan biaya atau pengorbanan yang dilakukan untuk melakukan atau memilih suatu hal. Banyak sekali opportunity cost ketika aktif dalam berorganisasi. Kita dapat kehilangan waktu untuk belajar, bermain, hingga bekerja secara part time disekitar kampus. Belum lagi biaya iuran atau pengeluaran yang harus kita bayar untuk menunjang keberlangsungan organisasi.
Semua pengorbanan itu apakah sebanding dengan apa yang kita dapatkan? Apakah ini resiko yang harus diambil saat berkuliah dengan tuntutan akademis yang tinggi? Jawabannya tergantung dengan kesungguhan dan kecerdasan kita melihat peluang dalam mengikuti organisasi. Jika kita menaruh organisasi ialah investasi pengembangan diri, maka sadar tidak sadar kita akan lebih cerdik dalam memanfaatkan peluang ketika berorganisasi, vice versa.
Opportunity Cost dalam Berpacaran
Ketika berpacaran banyak kegiatan yang seharusnya dapat kita lakukan seperti belajar, bekerja paruh waktu, refreshing, ataupun berorganisasi. Disamping itu, kita dapat berpacaran dengan pasangan lain yang lebih cocok dengan kita. Banyak pasangan yang awalnya begitu menjanjikan namun pada akhirnya hubungan mereka kandas di tengah jalan. Tak jarang banyak pasangan yang stres akibat berpacaran yang dapat menyebabkan turunnya peforma akademik, kelalaian dalam
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
3
tanggung jawab berorganisasi, hilangnya waktu untuk teman, sampai hal-hal yang tak diinginkan seperti mengakhiri hidup. Pertanyaannya, apakah ini resiko yang harus diambil saat berkuliah? Production Possibility Frontier antara Berorganisasi dan BerpacaranAndaikan kita berasumsi bahwa produksi kesenangan saat berkuliah dapat diukur dengan 2 hal, yaitu berorganisasi dan berpacaran. Kita dapat membuat kurva Production Possibility Frontier (PPF) untuk mengetahui kombinasi atau proporsi antara berorganisasi dan berpacaran sesuai waktu, tenaga, dan pikiran yang manusia miliki. Hal ini dapat dilihat dari grafik dibawah:
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
4
Garis XY merupakan batas kemungkinan kombinasi antara berorganisasi dan berpacaran menciptakan kesenangan bagi kita. Titik A merupakan kombinasi yang tidak efisien dikarenakan produktivitas kita masih dapat dioptimalkan lagi. Sedangkan kombinasi B merupakan kombinasi yang tidak mungkin bisa dicapai oleh diri kita dikarenakan terbatasnya waktu, tenaga, uang, dan beberapa hal lainnya. Kombinasi yang paling ideal berada di titik O dimana kombinasi kita dalam berorganisasi dan berpacaran berada di titik optimal. Intinya adalah dalam berorganisasi dan berpacaran pasti ada batasan-batasan yang membuat kita harus pintar-pintar mengelola waktu, tenaga, dan bahkan uang yang kita miliki.Sunk cost fallacy saat berpacaran sambil berorganisasi
Lalu pertanyaannya, dengan terbatasnya waktu, uang, dan tenaga, mengapa banyak orang yang tetap bertahan menjalin hubungan disamping sibuknya organisasi padahal mereka sudah mengetahui mereka berada di titik jenuh? (istilah ekonominya berada di titik B kurva PPF diatas). Ini merupakan keputusan yang buruk menurut teori ekonomi sunk cost fallacy.
Krismiaji & Aryani (2011:32) mendefinisikan sunk cost sebagai biaya yang terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah sekarang maupun di masa mendatang. Contoh dari sunk cost dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang membeli sebuah minuman di suatu kedai; ketika orang tersebut sudah mual dia tetap menghabiskan minuman tersebut walaupun dia sendiri sudah tidak tahan lagi untuk meminum minuman tersebut karena dia berpikir uangnya akan kembali jika dia menghabiskan minuman tersebut. Perilaku ini dapat dikatasan keputusan ekonomi yang buruk karena dengan meminum sampai habis tidak akan membuat uang kita kembali.
Menurut hasil penelitian dari Universitas Minho di Braga (Portugal), dari 900 orang sampel, 30% diantaranya rata-rata akan berinvestasi untuk melanjutkan hubungan mereka selama 294 hari atau sekitar 9 bulan meskipun hubungan mereka dalam kategori “bermusuhan” yang disebabkan banyak faktor seperti perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, kemiskinan, dan faktor lainnya.
Hal yang tidak kalah mengerikan ketika kita berada di situasi chaos dimana kerjaan organisasi berantakan, hubungan dengan pasangan begitu buruk, dan kuliah berantakan. Jika kalian mengalami
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
5
situasi tersebut, apakah ini juga dinamakan sunk cost fallacy? Apakah kita harus tidak melanjutkan salah satu atau bahkan kedua hal tersebut?(Dengan asumsi kuliah tidak bisa ditinggalkan).Jawabannya ialah dengan optimalisasi kurva PPF. Dengan sumber daya yang terbatas seperti tenaga, waktu, dan finansial, ketika kita berada di situasi sulit dalam berorganisasi dan menjalin hubungan, pembagian proporsi yang baik antara organisasi dan berpacaran merupakan solusi yang ideal. Pasti akan ada tradeoff (pengorbanan) di dalam menentukan proporsi yang tepat. Namun, hal inilah jalan terbaik agar sunk cost yang kita alami tidak terlalu besar.
Kesimpulan
Saat berkuliah, ketika kita sedang dihadapkan dengan situasi sulit saat berorganisasi dan berpacaran (asumsi punya aktivitas organisasi dan punya pasangan), maka kita akan mencapai sunk cost fallacy. Biaya ini disebabkan oleh keterbatasan waktu, tenaga, dan uang yang kita miliki. Menurut perspektif ekonomi, alangkah bijaknya jika kita meninggalkan kegiatan tersebut yang sudah dirasa tidak sehat. Namun, pastinya ada suatu momen dimana kita tidak dapat meninggalkan organisasi ataupun hubungan dengan pasangan kita. Hal yang bisa kita lakukan ialah manajemen diri yang proporsional sesuai batasan-batasan kita sendiri. Hal ini akan meminimalisir sunk cost yang ada dalam diri kita.
Referensi
Krismaji, Aryani.2011.Akuntansi Manajemen. UPP STIM YPKN
Rego, S., Arantes, J.&Magalhes,P (2018). Is There a Sunk Cost Effect in Committed Relationship?. Current Psychology
Goddard, H. W. (2007). Commitment in healthy relationships. The Forum for Family and Consumer Issues [Online], 12 (1).
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sekretariat: Student Center Kav. 23 Kampus Unpad Jatinangor
Website: kema.unpad.ac.id, E-mail: [email protected]
6
https://www.economicsonline.co.uk/Competitive_markets/Production_possibility_frontiers.html
https://www.independent.co.uk/life-style/love-sex/what-to-do-if-your-unhappy-relationship-is-case-of-sunk-cost-fallacy-a7475266.html