• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK INDIVIDUAL ANGGOTA MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARAKTERISTIK INDIVIDUAL ANGGOTA MASYARAKAT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK INDIVIDUAL ANGGOTA MASYARAKAT

Anggota masyarakat yang menjadi sampel sekaligus menjadi responden berjumlah 115 orang yang merupakan anggota KTH dalam program Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang diselenggarakan Perum Perhutani. Responden ini tersebar di 9 desa wilayah penelitian.

Gambaran responden dalam penelitian ini ditinjau dari karakteristik individual dan karakteristik sosial ekonomi. Data yang diperoleh diolah menggunakan program SPSS untuk mengetahui persen tiap-tiap kategori variabel.

Karakteristik individual anggota masyarakat yang diteliti meliputi : (1) umur, (2) pendidikan formal, (3) pendidikan non formal, (4) pekerjaan, (5) asal daerah, (6) pengetahuan tentang pelestarian hutan, dan (7) kebutuhan (biologik, psikologik dan sosiologik).

Umur

Pendiskripsian umur anggota masyarakat bertujuan untuk mengetahui sebaran umur produktif. Umur merupakan salah satu karakteristik individu yang mempengaruhi fungsi biologis, psikologis dan sosiologis. Dari teori Havigurst (1972), umur dikategorikan muda pada kisaran kurang dari 30 tahun, dewasa antara 31 – 45 tahun dan kategori tua pada umur lebih dari 46 tahun. Bila dikaitkan dengan pekerjaan pertanian usia paling produktif adalah pada usia 18 – 40 tahun, karena pada usia ini berada pada puncak efisiensi fisik, kema mpuan motorik, kecepatan respon, kemampuan mental, dan berkeinginan kuat untuk mandiri. Kemampuan-kemampuan ini akan menurun perlahan mulai usia 30 tahunan dan akan menurun drastis sejak usia 40 tahun (Havigurst, 1972). Ditinjau dari umur responden memperlihatkan keragaman seperti pada Tabel 13.

Responden paling tua berusia 70 tahun sedangkan yang paling muda berusia 19 tahun. Sebaran responden terbesar pada kisaran umur antara 50 – 59 tahun yaitu 42,6 %. Responden terbesar kedua pada kisaran umur 45 – 49 tahun sebesar 15,6 % dan kisaran umur 60 – 64 tahun sebesar 11,3 %. Rata-rata umur responden adalah 49 tahun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat yang berpartisipasi tergolong berumur tua. Masyarakat yang berusia muda lebih tertarik mencari pekerjaan di kota Tangerang

(2)

dan Jakarta dengan menjadi kuli/buruh, pedagang, ataupun mengojek. Pekerjaan ini dirasakan lebih menghasilkan pendapatan lebih tinggi.

Tabel 13. Sebaran Responden menurut Umur

Kategori Umur

(tahun) Jumlah (orang) Persen

≥ 70 1 0,9 65 – 69 4 4,4 60 – 64 13 11,3 55 – 59 24 20,9 50 – 54 25 21,7 45 – 49 18 15,6 40 – 44 7 6,1 35 – 39 6 5,3 30 – 34 6 5,3 ≤ 29 10 8,9 115 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2006

Memperhatikan umur responden yang berusia tua ini berimplikasi bahwa responden atau masyarakat petani hutan tidak produktif. Havigurst (1972) dan Hurlock (1992) menyebutnya dengan usia pertengahan/dewasa lanjut (middle age) (umur 40 – 60 tahun) dimana kemampuan indra menurun, fungsi fisiologis menurun, kesehatan menurun, menopause/klimakterik. Pada usia ini juga timbul perubahan sikap dan perilaku, timbul tanda-tanda ketuaan, mengalami kemunduran mental, terutama pada orang yang mempunyai kemampuan intelektual rendah. Kemampuan fisik dan mental ini terus menurun pada usia tua (later maturity) (umur lebih dari 60 tahun)

Bila ditinjau dari mulainya pembangunan Indonesia dimana pembangunan dimulai pada tahun 1969 yaitu pada saat Pelita I dicanangkan maka 84,3 % responden lahir sebelum tahun 1969 dan 15,7 % setelah pembangunan Indonesia dimulai. Hal ini terkait dengan kesempatan menikmati pembangunan seperti kesempatan mendapatkan pendidikan, fasilitas kesehatan, perekonomian dan lain- lain. Sebanyak 84,3 % responden lahir sebelum Pelita I, sehingga belum mendapatkan kesempatan menikmati pendidikan, fasilitas kesehatan, perekonomian dan lain- lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumberdaya manusia masyarakat desa sekitar hutan di kawasan pemangkuan hutan Parung Panjang dapat dikategorikan rendah dan tidak produktif.

(3)

Pendidikan Formal dan Pendidikan Non Formal

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan manusia. Dengan pendidikan seseorang dapat memperoleh berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi diri dan masyarakat. Pendidikan dapat mempengaruhi cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak seseorang. Tingkat pemahaman dan kemampuan melakukan suatu, kemampuan mengembangkan pengetahuan dan pengalaman individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan formal dan pendidikan non formal yang pernah ditempuh.

Sebaran responden ditinjau dari jenjang pendidikan, baik ditinjau dari jenjang pendidikan formal dan non fo rmal dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Sebaran Responden menurut Pendidikan

Kategori Pendidikan Jumlah (orang) Persen Formal § Tidak sekolah 11 9,6 § Tidak tamat SD 39 33,9 § Tamat SD 26 22,6 § Tamat SLTP 13 11,4 § Tamat SLTA 26 22,6 § Perguruan Tinggi 0 0 Jumlah 115 100 Non Formal § Tidak pernah 91 79 § Pelatihan 1 – 4 minggu 14 12,3 § Pelatihan 5 – 8 minggu 5 4,4 § Pelatihan > 8 minggu 5 4,4 Jumlah 115 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2006

Dari data tersebut 33,9 % responden tidak tamat sekolah dasar dan 9,6 % tidak pernah bersekolah (tidak lancar baca tulis dan berhitung). Pendidikan responden tertinggi adalah pada tingkat Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) yaitu 22,6 %. Rata-rata pendidikan responden adalah tamatan sekolah dasar.

Hal ini berimplikasi bahwa tingkat pemahaman dan kemampuan melakukan suatu, kemampuan mengembangkan pengetahuan dan pengalaman responden sangat terbatas. Hal ini juga sejalan dengan pendapat De Cecco (1968) yang mengemukakan bahwa pendidikan yang rendah akan berimplikasi pada rendahnya kesiapan belajar.

(4)

Demikian pula dengan rendahnya pendidikan yang pernah diperoleh masyarakat maka cara berfikir dan bertindaknya masih belum sesuai dengan harapan. Kenyataan ini juga berkaitan dengan produktifitas sebagaimana disampaikan oleh Madrie (1986) bahwa warga masyarakat yang berpendidikan formal rendah dan mempunyai ketrampilan yang rendah, akan cenderung rendah pula produktifitasnya. Yusuf (1982) juga mengemukakan bahwa melalui pendidikan formal dapat dikembangkan pengetahuan (knowledges), ketrampilan (skill), sikap (attitude) dan nilai- nilai (values), artinya tanpa pendidikan, pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai- nilai individu tidak berkembang.

Orang-orang yang sudah atau tidak lagi mengikuti pendidikan formal, orang dewasa maupun putus sekolah, maka pendidikan non formal sangat me mbantu untuk mengembangkan dirinya untuk tau, mau dan mampu melakukan sesuatu yang dirasakan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan formal yang diperoleh seseorang akan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat partisipasi mereka bagi kepentingan diri dan masyarakatnya.

Berdasarkan jenjang pendidikan non formal, hasil penelitian menunjukkan bahwa 79 % tidak pernah mengikuti pelatihan/kursus dan 12 % pernah mengikuti pelatihan yang pada umumnya adalah pelatihan yang dilaksanakan pada saat yang bersangkutan menempuh pendidikan di SLTP atau di SLTA, yaitu pelatihan ketrampilan sebagai program ekstrakurikuler di sekolah formal. Hal tersebut memberikan makna bahwa para petani hutan tidak aktif mengikuti pelatihan/kursus. Perhatian utama mereka tertuju pada bagaimana memenuhi kebutuhan hidup.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan masyarakat desa sekitar hutan tergolong rendah, sehingga kurang mampu mengembangkan potensi dirinya dengan adanya keterbatasan cara berpikir, cara merasa dan cara bertindaknya.

Pekerjaan

Berdasarkan pekerjaan utama yang ditinjau dari kesesuaian pekerjaan dengan kegiatan pelestarian hutan dan alokasi waktu untuk bekerja adalah sebagai Tabel 15.

Data tersebut menunjukkan 81,8 % pekerjaan utama responden sesuai dengan kegiatan pelestarian hutan dalam hal ini adalah pertanian (sawah dan tumpangsari), buruh/kuli persemaian/pemeliharaan/penebangan tegakan hutan; sedangkan sisanya yaitu 18,2 % mempunyai pekerjaan utama tidak sesuai dengan pelestarian hutan yaitu

(5)

sebagai berdagang, mengojek dan buruh/kuli industri di kota Tangerang/Jakarta atau industri- industri pembakaran bata, penggalian pasir dan lain- lain.

Tabel 15. Sebaran Responden menurut Pekerjaan Utama ditinjau dari Kesesuaian Pekerjaaannya dengan Pelestarian Hutan serta Alokasi Waktu untuk Bekerja

Kategori

Kesesesuaian Jumlah (orang) Persen

Alokasi waktu

§ < 5 jam dalam sehari 115 100

§ > 5 jam dalam sehari 0 0

Jumlah 115 100

Kesesuaian

§ Tidak sesuai 21 18,2

§ Sesuai 84 81,8

Jumlah 115 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2006

Seluruh responden menyatakan bahwa mereka bekerja kurang dari 5 jam dalam sehari. Hal ini terkait dengan keyakinan masyarakat bahwa para leluhurnya melarang (pamali) untuk bekerja lebih dari tengah hari karena akan mendapatkan rintangan/halangan hidup. Rata-rata mereka bekerja dari pagi sampai dengan adzan dzuhur tiba (sekitar jam 12 siang). Setelah itu oleh nenek moyangnya dianjurkan untuk istirahat. Sztompka, 2004 juga mengemuk akan bahwa tradisi ini kadang-kadang dipelihara bukan karena pilihan sadar akan tetapi karena kebiasaan semata. Mereka merasa nyaman dengan kebiasaan yang ada serta tidak ingin mengambil resiko untuk melakukan hal- hal baru yang mungkin lebih baik. Warnaen (2001) mengemukakan bahwa pola hidup masyarakat Sunda masih tradisional, meskipun ini dibantah oleh Hanafi dkk. (2004) bahwa mereka tidak menyandarkan keseluruhan pola hidupnya pada tradisi/adat. Alokasi waktu tertinggi terjadi bila musim penebangan kayu hingga musim tanam. Kegiatan pada musim tanam meliputi pembersihan lahan (pembakaran), pengolahan lahan dan penanaman tanaman pokok (A. mangium) maupun tanaman tumpangsari, memperoleh porsi waktu yang tinggi. Apabila tanaman sudah tumbuh, kegiatan pemeliharaan meliputi memupuk maupun menyiangi gulma, tidak banyak waktu yang dialokasikan di kawasan hutan dan mereka mengerjakan pekerjaan lain misalnya membuat kerajinan, buruh/kuli, mengojek, berdagang dan lain- lain.

Dengan demikian, masyarakat sekitar kawasan hutan Parung Panjang adalah masyarakat yang mempunyai pekerjaan utama sebagai petani baik petani sawah maupun

(6)

petani hutan. Dalam mengalokasikan waktu untuk pekerjaan (yaitu bertani) masih rendah. Hal ini memberi makna bahwa masyarakat desa sekitar hutan Parung Panjang belum berbudaya menghargai waktu dan bekerja keras.

Asal Daerah

Ditinjau dari asal, sebagian besar responden adalah suku Sunda yaitu sebesar 93 %, sedangkan sisanya berasal dari suku Jawa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa budaya dan adat istiadat responden hampir seragam yaitu kebudayaan Sunda.

Triandis, 1972 dalam Warnaen, 2001 mengemukakan bahwa salah satu faktor lingkungan yang sangat penting yang mempengaruhi tingkah laku manusia adalah apa yang disebut kultur atau kebudayaan hasil sebuah tradisi (kebiasaan dan kebijakan turun temurun). Triandis, 1972 dalam Warnaen, 2001 menarik kesimpulan bahwa sejarah hidup manusia terpenting adalah akomodasi terhadap pola standar yang secara tradisional dianut oleh lingkungan sosialnya. Sejak individu dilahirkan, kebiasaan lingkungan membentuk pengalaman-pengalaman hidup dan tingkah laku. Adat dan tingkah laku manusia dalam lingkungannya menjadi kebiasaan, kepercayaaannya, dan yang tabu bagi lingkungan juga tabu baginya. Dari konsep tersebut, asal daerah akan berimplikasi pada persepsi tentang nilai aturan, dan norma kelompok serta peran yang merupakan aspek-aspek kultur subyektif (cara khas suatu golongan kebudayaan memandang lingkungan sosialnya). Pada umumnya, interaksi yang sering akan membentuk kesamaan norma dan sikap, serta kesamaan kultur subyektif.

Warnaen (2001) dari hasil penelitiannya mengemukakan bahwa stereotip (sifat khas yang tampil pada individu) orang Sunda adalah sopan, jujur, senang menerima tamu, baik hati, ramah, netral atau baik, tradisional, penuh perasaan, humoris, periang, ikatan keluarga kuat, malas, dan suka meniru. Berkaitan dengan partisipasinya terhadap pelestarian hutan, hal ini memperkuat hasil pengamatan peneliti bahwa masyarakat desa kawasan hutan Parung Panjang masih belum menanamkan budaya bekerja keras, namun demikian masih berpotensi besar untuk dikembangkan karena sifatnya yang terbuka.

Dari uraian tersebut, disimpulkan bahwa budaya masyarakat belum dapat mendukung kegiatan pelestarian hutan. Untuk ke depannya, sifat terbuka yang dimiliki oleh suku bangsa Sunda, berpotensi dapat dikembangkan dalam menerima inovasi baru, artinya melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

(7)

Pengetahuan tentang Pelestarian Hutan

Pengetahuan dapat diperoleh melalui pembelajaran formal, non formal, media masa, penyuluhan, dan lain- lain. Hasil penelitian menunjukkan 67% responden tidak tahu tentang pelestarian hutan dan 33% mengetahuinya. Hal ini terkait dengan lemahnya sistem penyuluhan dan keterbatasan kemampuan belajar masyarakat di wilayah penelitian. Meskipun penyuluhan ini sudah dilakukan sejak terbentuknya program Perum Perhutani yang mengarah pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat (community development) yaitu pada tahun 1972, namun demikian masyarakat belum menyadari arti pentingnya pelestarian (konservasi) hutan. Masyarakat melihat bahwa kawasan hutan adalah sumberadaya alam untuk digunakan memenuhi kebutuhan. Dalam pandangan masyarakat, meskipun ada keterbatasan-keterbatasan dalam memanfaatkannya namun hal itu semata- mata karena kawasan hutan dibawah hukum kekuasaan Perum Perhutani yang tidak boleh dengan bebas dieskploitasi.

Disamping itu, masyarakat desa hutan yang mempunyai pendidikan rendah memberikan iklim yang tidak menguntungkan bagi proses pembelajaran. Tingkat adopsi terhadap berbagai informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) maupun non IPTEK rendah.

Kebutuhan

Teori hirarki kebutuhan Maslow (1943) dalam Ross (1979) membagi kebutuhan manusia menjadi : (1) Kebutuhan fisiologis (udara, makan minum, pakaian, tempat tinggal, perlindungan, dan sex) (2) Kebutuhan rasa aman (pekerjaan, kepastian, kemerdekaan), (3) Kebutuhan kasih sayang (status sosial, peran, keanggotaan dalam keluarga), (4) Kebutuhan percaya diri (penghargaan, penghormatan) dan (5) Kebutuhan aktualisasi diri (kemampuan dan talen/bakat). Selanjutnya kebutuhan tersebut dapat dirangkum menjadi kebutuhan biologik, psikologik dan sosiologik. Oleh karena itu dalam penelitian ini kebutuhan masyarakat ditinjau dari segi kebutuhan biologik, psikilogik dan sosiologik.

Sebaran responden berdasarkan kebutuhan biologik, psikologik dan sosiologik dapat dilihat sebagaimana Tabel 16.

Dari Tabel 16 menunjukkan bahwa responden 82,6 % mempunyai kebutuhan biologik tinggi yang merupakan kebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan pangan, sandang dan papan/rumah. Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan biologik masyarakat belum terpenuhi.

(8)

Tabel 16. Sebaran Responden menurut Tingkat Kebutuhannya Kategori Kebutuhan Jumlah (orang) Persen Biologik § Rendah 20 17,4 § Tinggi 95 82,6 Jumlah 115 100 Psikologik § Rendah 94 81,7 § Tinggi 21 18,3 Jumlah 115 100 Sosiologik § Rendah 76 66,1 § Tinggi 39 33,9 Jumlah 115 100

Sumber : Data Primer Diolah, 2006

Ditinjau dari kebutuhan psikologik antara lain kebutuhan rasa aman, responden sebesar 81,7 % termasuk pada kategori rendah dan 18,3 % termasuk kategori tinggi. Kenyataaan ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa aman dan nyaman hidup tinggal di desanya. Kenyamanan ini diduga terkait dengan sikap pasrah masyarakat.

Berdasarkan kebutuhan sosiologik yaitu kebutuhan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, 66,1 % termasuk pada kategori rendah dan 33,9 % termasuk kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat responden pada umumnya mempunyai kebutuhan sosiologik yang rendah, artinya bahwa kebutuhan hidupnya untuk bersosialisasi telah terpenuhi atau dengan kata lain sosialisasi masyarakat responden cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan pula oleh sistem kekerabatan yang tinggi.

Dalam penelitian ini, mengkaji kebutuhan biologik, psikologik dan sosiologik merupakan kebutuhan berjenjang, sehingga tidak bisa dirangkum menjadi satu peubah kebutuhan saja. Makna kebutuhan adalah bahwa kebutuhan biologik merupakan kebutuhan dasar, sedangkan kebutuhan psikologik dan sosiologik adalah kebutuhan masyarakat yang terpikirkan setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi. Hal ini didukung pula oleh Maslow (1943) dalam Ross (1979) bahwa kebutuhan biologik, sosiologik dan psikologik merupakan kebutuhan berjenjang. Kebutuhan biologik menduduki pemenuhan kebutuhan pertama.

Gambar

Tabel 13.  Sebaran Responden menurut Umur
Tabel 14.  Sebaran  Responden menurut Pendidikan
Tabel 15.  Sebaran Responden menurut Pekerjaan Utama ditinjau dari  Kesesuaian  Pekerjaaannya dengan  Pelestarian  Hutan serta  Alokasi  Waktu untuk Bekerja
Tabel 16. Sebaran Responden menurut Tingkat Kebutuhannya  Kategori   Kebutuhan  Jumlah (orang)  Persen  Biologik  § Rendah  20  17,4  § Tinggi  95  82,6  Jumlah  115  100  Psikologik  § Rendah  94  81,7  § Tinggi  21  18,3  Jumlah  115  100  Sosiologik  §

Referensi

Dokumen terkait

Pada akhir program, peneliti wajib menyerahkan laporan akhir penelitian, laporan keuangan, dan luaran sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian seperti yang

terakhir dan rendahnya prestasi kerja karyawan bagian penjualan dengan tidak tercapainya target penjualan yang telah ditetapkan pada tahun 2012, dan tingginya tingkat

Setelah makan siang check out dari hotel untuk kemudian menuju Abyar Ali terlebih dahulu (untuk miqat umrah) dan melanjutkan perjalanan menuju kota Makkah Al

Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel kompensasi terhadap kinerja guru SLTA di Kecamatan Bangkinang.. Besarnya koefisien determinasinya adalah

Penelitian yang dilakukan oleh Fidlizan dkk (2012) di Malaysia, pengumpulan dana zakat yang dilakukan oleh PPZ-MAIWP adalah melalui kaedah potongan gaji, dan

Untuk review dokumen resmi yang digunakan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, seperti Peraturan Daerah (Perda), Surat Keputusan

Siswa dapat menuangkan peran Indonesia dalam kerja sama di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, dan pendidikan dalam lingkup ASEAN ke dalam peta pikiran dengan

Halaman 87 engan dilaksanakannya satu program utama dan program pendukung dalam tahun 2010 dapat dikatakan bahwa secara umum rencana kinerja yang ditetapkan oleh