• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN KONSUMSI ZAT BESI, SENG DAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN NO KELURAHAN PASAR MERAH BARAT KECAMATAN MEDAN KOTA TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN KONSUMSI ZAT BESI, SENG DAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN NO KELURAHAN PASAR MERAH BARAT KECAMATAN MEDAN KOTA TAHUN 2014"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

1 GAMBARAN KONSUMSI ZAT BESI, SENGDAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN NO.060813 KELURAHAN PASAR MERAH BARAT

KECAMATAN MEDAN KOTA TAHUN 2014

(DESCRIPTION OF IRON, ZINC CONSUMPTION AND NUTRITIONAL STATUS IN ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS OF SDN. 060813 KECAMATAN MEDAN KOTA

SUB-DISTRICT PASAR MEDAN BARAT VILLAGE 2014 ) Fadhlan Mulia Akbar Harahap1, Etty Sudaryati2, Fitri Ardiani3

1

Alumni Mahasiswa Gizi Kesehatan Masyarakat, FKM USU 2,3

Staf Pengajar Gizi Kesehatan Masyarakat, FKM USU ABSTRACT

Indonesia still faces major challenges in the field of nutrition, namely malnutrition and nutrition, nutritional status of primary school children is a picture of what is consumed in the long term. One problem that often occurs is the consumption of iron and zinc, so that the necessary attention in the consumption of foods and nutrients are school-age children. This study aims to describe the consumption of iron, zinc and nutritional status of primary school children in SDN No. 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota.

This type of research is a survey research using quantitative approach. Sampling was carried out with a total sampling method with a sample of 69 students. The type of data collected primary data, performed by using interviews, questionnaires 24 hour recall, food frequency and measurement of nutritional status (TB/U and IMT/U) and secondary data obtained diinstansi related, processing and analysis of data by using a computer program SPSS, Nutrisurvey and WHO antro plus 2007.

The results showed that the consumption of iron in school children in SDN 060 813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota largely on the category of less as many as 39 people (56.5%), consumption of zinc mostly in the category of less as many as 52 people (75 , 4%), nutritional status based on IMT/U mostly in the normal category as many as 57 people (82.6%), based on the nutritional status of TB/U mostly in the normal category as many as 44 people (63.8%)

The results of this study may be a referral for students to consume a varied diet and nutrition, and to other researchers to further explore the different variables.

Keywords: Elementary School Children, Consumption Iron, Zinc Nutritional Status PENDAHULAN

Anak sekolah dasar merupakan kelompok yang rentan terhadap defisiensi zat gizi mikro diantaranya adalah zat besi dan seng, hal ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dan seng dalam makanan. Pada kondisi ini, anak harus mendapatkan asupan gizi dalam kuantitas dan kualitas yang cukup. Cerminan kecukupan gizi dapat dinilai dari status gizi anak dan merupakan salah satu tolak

ukur yang penting untuk menilai keadaan pertumbuhan dan status kesehatannya.

Besi dan seng merupakan mikronutrein esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta sistem imun manusia. Defisiensi mikronutrien tersebut menyebabkan penurunan sistem imun, gangguan perkembangan psikomotor dan menurunkan kemampuan kerja. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat kesegaran jasmani, yang sangat penting dalam tercapainya

(2)

2 perkembangan dan pertumbuhan optimal

pada masa anak-anak (Lestari, 2009). Defisiensi besi dan seng sering terjadi pada populasi gizi kurang (Donald, 2000) terutama pada negara-negara berkembang dengan tingkat ekonomi masih lemah. Defisiensi besi berpengaruh pada pertumbuhan anak. Salah satu akibatnya adalah lemahnya peningkatan berat badan yang pada akhirnya akan memperburuk status gizinya (Lonnerdal, 1998). Selain itu juga menyebabkan gangguan perkembangan mental dan motorik anak, serta menyebabkan anemia yang merupakan penyakit penyerta gizi buruk ataupun sebaliknya yaitu anemia berlanjut yang menyebabkan gizi buruk (Nasution, 2004).

Kekurangan zat besi pada anak-anak dan orang dewasa dengan atau tanpa anemia sangat erat berhubungan dengan kemampuan belajar, selain itu berhubungan erat dengan pertumbuhan dan nafsu makan (Chwang, 1989; Lawless, 1994; Allen, 1994). Siswono (2004) menyatakan pada anak usia prasekolah dan sekolah, anemia defisiensi besi dapat mengganggu proses tumbuh kembang, menurunkan daya konsentrasi belajar, dan memudahkan anak terserang penyakit. Hal ini terjadi oleh karena masukan zat besi melalui makanan sehari-hari tidak mencukupi kebutuhan fisiologis atau menderita infeksi kronis yang menyebabkan pertumbuhan otak tidak optimal, pertumbuhan fisik yang lemah, daya tahan terhadap infeksi menurun dan penurunan kemampuan kognitif (Oski, 1993).

Kekurangan seng yang terjadi pada usia sekolah dapat berakibat gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan sel otak. Menurut Groff (1998) defisiensi seng dapat menurunkan kemampuan ekspresi gen dalam proses replikasi sel dan pertumbuhan tulang (SKRT, 2001). Anak dengan gizi buruk juga mengalami penurunan konsentrasi serum seng dan seng yang rendah pada hati dan otot. Berdasarkan laporan Golden, meskipun

anak gizi buruk mendapat rehabilitasi berupa formula susu, mereka tetap memiliki konsentrasi seng rendah dan kenaikan berat badan pada tingkat rendah pula. Setelah menerima suplementasi seng, mengalami peningkatan berat badan pada tingkat baik (Lonnerdal, 1998).

Status gizi anak usia sekolah dasar yaitu pada usia 5-12 tahun menurut RISKESDAS 2013 diukur berdasarkan indeks antara TB/U dan IMT/U hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional prevalensi kurus (menurut IMT/U) pada anak umur 5-12 tahun adalah 11,2 persen, terdiri dari 4,0 persen sangat kurus dan 7,2 persen kurus. Prevalensi sangat kurus paling rendah di Bali (2,3%) dan paling tinggi di Nusa Tenggara Timur (7,8%). Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi sangat kurus diatas nasional, yaitu Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur. Provinsi sumatera utara merupakan salah satu provinsi dari 16 provinsi yang mempunyai prevalensi sangat kurus diatas-rata-rata nasional yaitu sebesar 18% (RISKESDAS, 2013).

Survei awal yang dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 060813 bahwa jumlah murid keseluruhan di sekolah tersebut berjumlah 158 anak, dimana ada 15 orang dari 20 siswa SD yang diukur memiliki badan yang kurus. Penilaian dilakukan dengan menggunakan IMT/U dan juga dengan bantuan software WHO Antro dengan klasifikasi menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia 5-18 tahun. Disamping itu, dilakukan pula wawancara untuk melihat gambaran konsumsi makanan dalam waktu 24 jam. Hasil nya dalam sehari mereka lebih banyak mengkonsumsi makanan jajanan seperti disaat pagi sebelum sekolah hanya minum teh manis serta roti kering, disertai dengan jajanan sekolahan seperti nasi goreng yang ukurannya hanya sepiring kecil, bakso cilok, mi instan yang tidak dimasak,

(3)

3 minuman buah seperti nutri jeruk, frutang,

dan minuman lain yang memiliki pewarna yang menarik. Dan saat siang juga hanya mengonsumsi nasi putih dan lauk apa adanya seperti mie instan, telur, dan beberapa potong ikan tanpa mengonsumsi sayuran. Pada saat malamnya hanya mengonsumsi makanan kecil seperti roti dan snack. Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan anak-anak kurang mengonsumsi makanan seperti daging dan sayur-sayuran yang memiliki kandungan zat besi dan seng.

Berdasarkan uraian yang diatas penulis sangat ingin meneliti lebih dalam mengenai “Gambaran Konsumsi Zat Besi, Seng dan Status Gizi Pada Anak Sekolah di SD Negeri 060813 Kecamatan Kota Kelurahan Pasar Merah Barat Tahun 2014”..

Manfaat dari penelitian ini yaitu Bagi pengelola pendidikan SD Negeri 060813 Kecamatan Kota Kelurahan Pasar Merah Barat dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai masukan untuk dasar pelaksanaan pengembangan kegiatan di sekolah dalam rangka program peningkatan gizi dan kesehatan berbasis sekolah. Terutama berkaitan dengan masalah asupan zat besi, seng dan status gizi pada anak sekolah.

METODE

Desain yang digunakan dalam penelitian ini bersifat penelitian survei dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah semua murid di SDN No. 060813 Kecamatan Medan Kota Kelurahan Pasar Merah Barat, yaitu sebanyak 159 orang. Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih dengan kriteria kelas 4,5 dan 6 berjumlah sebanyak 69 orang.

Data kecukupan konsumsi zat besi dan seng diperoleh dari hasil recall 24 jam dan food frequency dari responden melalui wawancara dengan anak SD dan dengan bantuan metode pencatatan dari orang tua responden saat dirumah. Data status gizi responden meliputi pengukuran TB/U dan IMT/U, pengukuran tinggi badan

menggunakan microtoice dengan ketelitian 0,1 cm dan penimbangan berat badan menggunakan timbangan injak dengan ketelitian 0,1 kg.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sumber dan Kecukupan Zat Besi Anak Sekolah Dasar

Sumber zat besi pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar dengan sumber zat besi yang berasal dari hewani dan nabati. Sumber zat besi hewani yang sering dikonsumi yaitu ikan, daging sapi, daging ayam, telur dan kuning telur. Sedangkan sumber zat besi nabati yang sering dikonsumsi yaitu bayam, kangkung, kentang, jagung dan tempe. Sumber zat besi hewani dan nabati yaitu sebanyak 37 orang (53,6%) dan sebagian kecil berasal dari hewani saja yaitu sebanyak 32 orang (46,4%). Dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1 Distribusi Responden berdasarkan Sumber Zat Besi Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Sumber Zat Besi n %

1 Hewani 32 46,4

2 Hewani dan Nabati

37 53,6

Jumlah 69 100,0

Kecukupan konsumsi zat besi pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori kurang yaitu sebanyak 39 orang (56,5%) dan sebagian kecil pada kategori baik yaitu sebanyak 30 orang (43,5%). dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Kecukupan konsumsi Zat Besi Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Kecukupan Konsumsi Zat Besi

n %

1 Baik 30 43,5

2 Kurang 39 56,5

(4)

4 Hasil penelitian menunjukkan

bahwa kecukupan konsumsi zat besi pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori kurang yaitu sebesar 56,5%. Penyebab kurangnya konsumsi zat besi pada anak sekolah dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota dapat disebabkan karena asupan zat besi yang kurang dari makanan yang mereka makan setiap hari dan rendahnya absorbsi (penyerapan) zat besi oleh tubuh mereka masing-masing. Anak sekolah dasar kurang mengkonsumsi makanan dengan sumber zat besi baik heme dan non heme. Hasil penelitian Nurnia, dkk (2013) di Makassar menunjukkan bahwa konsumsi zat besi anak sekolah dasar baik dikarenakan sebagian besar responden sering mengkonsumsi makanan laut seperti ikan dan kerang. Dari hasil rekap frekuensi konsumsi makanan sumber zat besi heme anak sekolah dasar wilayah pesisir Makassar didapatkan jenis bahan makanan yang paling sering dikonsumsi adalah kerang 100% dan ikan segar 97,2%. Walaupun frekuensi kosumsi kerang responden lebih tinggi daripada ikan tetapi jumlah rata-rata konsumsi ikan per harinya lebih tinggi, sebanyak 130,01 gr/hr dibandingkan rata-rata konsumsi kerang hanya sebanyak 9,7 gr/hr. Sehingga dapat diketahui bahwa yang menjadi pola konsumsi responden adalah ikan segar. Tingginya konsumsi ikan dapat dikarenakan wilayah penelitian di daerah pesisir dan pekerjaan utama orang tua responden adalah sebagai nelayan, hal ini juga menyebabkan frekuensi konsumsi kerang tinggi.

Konsumsi zat besi yang kurang pada anak sekolah dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota juga disebabkan oleh responden jarang mengkonsumsi sayuran dan buah. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2010) terhadap remaja putri di Mamuju

Utara. Hal ini dikarenakan bahan makanan seperti tempe dan kangkung tergolong murah dan mudah di dapatkan untuk menu hidangan sehari-hari. Walaupun sering mengkonsumsi tetapi porsi tiap kali konsumsi sedikit, dapat juga mempengaruhi asupan zat besinya. Dapat juga diketahui bahwa anak usia sekolah dasar lebih sering mengkonsumsi jajanan instan daripada mengkonsumsi sayur dan buah.

Sumber dan Kecukupan Seng Anak Sekolah Dasar

Sumber seng pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar dengan sumber zat seng dari hewani dan nabati yaitu sebanyak 32 orang (46,4%) dan sebagian kecil tidak ada sumber zat seng yaitu sebanyak 3 orang (4,3%). Sumber zat seng hewani yang sering dikonsumsi yaitu kerang, daging sapi, daging ayam, kepiting, dan tiram. Sedangkan sumber zat seng nabati yang sering dikonsumsi seperti bayam, kangkung, dan jamur. Dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini :

Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan Sumber Seng Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Sumber Zat Seng N %

1 Hewani 32 46,4

2 Hewani dan Nabati

34 49,3

3 Tidak ada sumber seng

3 4,3

Jumlah 69 100,0

Kecukupan konsumsi seng pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori kurang yaitu sebanyak 52 orang (75,4%) dan sebagian kecil pada kategori baik yaitu sebanyak 17 orang (24,6%). Dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :

(5)

5 Tabel 4 Distribusi Responden berdasarkan

Kecukupan Konsumsi Seng Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Kecukupan Konsumsi Seng n % 1 Baik 17 24,6 2 Kurang 52 75,4 Jumlah 69 100,0

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi seng pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori kurang yaitu sebesar 75,4%. Penyebab kurangnya konsumsi seng pada anak sekolah dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota dapat disebabkan karena asupan seng yang kurang dari makanan yang mereka makan setiap hari dan rendahnya absorbsi (penyerapan) zat seng oleh tubuh mereka masing-masing. Anak sekolah dasar kurang mengkonsumsi makanan dengan sumber seng baik heme dan non heme. Penyebab kurangnya kecukupan seng pada anak sekolah dasar juga dapat disebabkan oleh jenis dan cara pengolahan makanan dapat mempengaruhi total masukan seng dan bioavailability-nya. Susu dan produknya merupakan sumber seng yang penting bagi anak-anak sekolah dasar. Bahan pangan nabati banyak mengandung asam fitat dan serat (selulosa) yang dapat menghambat absorpsi seng. Selain itu proses fisiologis kebutuhan jaringan, banyaknya seng yang dikeluarkan dari tubuh, dan karakteristik diet seseorang. Apabila seseorang terkena infeksi maka kebutuhan seng akan meningkat. Angka kecukupan seng rata-rata yang dianjurkan merupakan kadar yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang sehat.

Hasil penelitian ini menambah data angka kekurangan asupan seng pada anak-anak khususnya anak-anak sekolah dasar Berdasarkan Data dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan (P3GM) Depkes RI Tahun 2006 tentang studi gizi mikro di 10 Propinsi,

menemukan bahwa prevalensi balita kurang seng sebesar 32% sementara asupan zat gizi zink pada balita: 30 % dari AKG (angka kecukupan gizi). Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang meneliti 661 anak di lima sekolah dasar negeri di Jakarta Timur menunjukkan 98,6% anak sekolah mendapatkan asupan zat seng hanya 80% dari rekomendasi harian yang dianjurkan. Kemudian penelitian oleh Huwae FJ tahun 2006 pada 111 anak usia 6-8 tahun di grobongan Jawa Tengah di temukan 40% mengalami defisiensi seng. Sedangkan hasil penelitian dari Endang Dwi L dari Universitas Sebelas Maret Solo cukup mengejutkan, di mana dari penelitian terhadap 220 anak sekolah dari 10 SD yang diteliti semuanya menderita defisiensi zat seng.

Status Gizi

Status gizi pada anak sekolah berdasarkan IMT/U di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori normal yaitu sebanyak 57 orang (82,6%) dan sebagian kecil pada kategori gemuk yaitu sebanyak 3 orang (4,3%). Dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini :

Tabel 5 Distribusi Status Gizi Responden berdasarkan IMT/U Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Status Gizi (IMT/U) n % 1 Kurus 9 13,0 2 Normal 57 82,6 3 Gemuk 3 4,3 Jumlah 69 100,0 Berdasarkan TB/U di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori normal yaitu sebanyak 44 orang (63,8%) dan sebagian kecil pada kategori gemuk yaitu sebanyak 9 orang (13,0%). Dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini :

(6)

6 Tabel 6 Distribusi Status Gizi Responden

berdasarkan TB/U Pada Anak Sekolah Dasar di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014

No Status Gizi (TB/U) n % 1 Normal 44 63,8 2 Pendek 16 23,2 3 Sangat Pendek 9 13,0 Jumlah 69 100,0

Berdasakan hasil penelitian diketahui bahwa status gizi pada anak sekolah berdasarkan IMT/U di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori normal yaitu sebanyak 57 orang (82,6%) dan sebagian kecil pada kategori gemuk yaitu sebanyak 3 orang (4,3%). Hal ini juga sejalan dengan hasil Riskesdas 2010 yang menunjukkan rata-rata status gizi anak usia sekolah di Indonesia masih normal (78.6%) sedangkan sangat kurus (4.6%), kurus (7.6%) dan gemuk (9.2%). Penelitian oleh Yulni (2013) menunjukkan bahwa status gizi berdasarkan IMT/U yaitu sangat kurus (3,3%), kurus (16,7%), normal (77,3%) dan sangat gemuk (1,3%), berdasarkan indikator TB/U yaitu sangat pendek (13.3%), pendek ( 30,7%), dan normal (56%).

Kemudian status gizi berdasarkan TB/U di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori normal yaitu sebanyak 44 orang (63,8%) dan sebagian kecil pada kategori gemuk yaitu sebanyak 9 orang (13,0%). Hasil ini sejalan dengan hasil dari Riskesdas 2010 yang menunjukkan anak usia sekolah di Indonesia secara berturut-turut adalah tinggi badan normal (64.5%), pendek (20.5%), dan sangat pendek (15,1%). Indeks TB/U lebih menggambarkan keadaan gizi masa lalu juga berkaitan erat dengan status ekonomi. Keadaan tinggi badan anak pada usia anak balita menggambarkan status gizi masa lalu mereka. Berbeda dengan berat badan, tinggi badan tidak banyak dipengaruhi

oleh keadaan yang mendadak akan tetapi lebih memberikan gambaran riwayat gizi masa lalu.

Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk antara lain kurangnya asupan gizi dari makanan dan akibat terjadinya penyakit yang menyebabkan infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

Anwar (2009) juga menjelaskan bahwa penurunan pemusatan perhatian (atensi), kecerdasan, dan prestasi belajar dapat terjadi akibat anemia besi. Seorang yang menderita anemia akan malas bergerak sehingga kegiatan motoriknya akan terganggu. Distribusi zat gizi yang menurun akan menyebabkan otak kekurangan energi. Akibatnya, daya pikir orang itu pun ikut menurun sehingga prestasi pun ikut menurun. Anemia juga terbukti dapat menurunkan atau mengakibatkan gangguan fungsi imunitas tubuh, seperti menurunnya kemampuan sel leukosit dalam membunuh mikroba. Anemia juga berpengaruh terhadap metabolisme karena besi juga berperan dalam beberapa enzim. Pada anak-anak, hal itu akan menghambat pertumbuhan. Selain itu, anemia juga akan menyebabkan penurunan nafsu makan yang akan menyebabkan seseorang kekurangan gizi.

Anak dengan gizi buruk mengalami penurunan konsentrasi serum seng dan seng yang rendah pada hati dan otot. Berdasarkan laporan Golden, meskipun anak gizi buruk mendapat rehabilitasi berupa formula susu, mereka tetap memiliki konsentrasi seng rendah dan kenaikan berat badan pada tingkat rendah pula. Setelah menerima suplementasi seng, mengalami peningkatan berat badan pada tingkat baik. (Lonnerdal, 1998). Defisiensi seng dapat mengganggu pertumbuhan yang menyebabkan anak menjadi gizi buruk dan meningkatkan risiko diare dan infeksi saluran nafas. (Nasution E. 2004)

(7)

7 Hasil kecukupan zat gizi besi dan

seng, menunjukkan asupan zat gizi anak sekolah dasar masih ada di bawah angka kecukupan gizi besi dan seng yang dianjurkan. Tentunya hal ini disebabkan oleh berbagai hal yang perlu mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat dan khususnya orang tua dan pemerintah untuk menanggulangi terjadinya kasus malnutrisi lebih lanjut.

Responden yang mengalami defisit dalam asupan besi dan seng kemungkinan dikarenakan faktor ekonomi, kebiasaan makan dan jajan, ketersediaan bahan makanan, sosial budaya, dan lain-lain. Selain itu, adanya beberapa responden yang memiliki asupan zat besi dan seng yang baik, tetapi malah ada beberapa responden yang memiliki status gizi yang buruk. Hal ini diduga karena adanya responden yang terkena penyakit infeksi. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori bahwa terjadi hubungan yang timbal balik antara penyakit infeksi dan kejadian gizi buruk. Anak yang mengalami gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi. Di sisi lain anak yang menderita penyakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi konsumsi besi dan seng rendah adalah makanan jajanan karena dalam usia anak sekolah ini gemar sekali jajan (Permana, 2012). Hal ini didukung oleh penelitian di Magelang yang menyatakan ada hubungan antara pola konsumsi makanan jajan dengan status gizi siswa, status gizi kurang lebih banyak ditemukan pada anak yang sering jajan (Luwih, 2011)

Penelitian yang pernah dilakukan Saifuddin (2012) menunjukkan tidak adanya hubungan antara Fe dengan indikator IMT/U maupun TB/U, disebabkan karena Fe lebih banyak berpengaruh pada pembentukan hemoglobin darah dibandingkan dengan pertumbuhan seseorang. Seperti halnya juga Vitamin C yang tidak menunjukkan

hubungan antara kedua indikator, disebabkan vitmain C lebih banyak berperan dalam hidroksilasi pada pembentukan kolagen jaringan fibrosa, penyerapan Fe, dan imunitas.

Namun dalam penelitiannya juga Saifuddin (2012) menunjukkan bahwa fungsi seng yang banyak berperan dalam metabolisme tubuh, seperti keseimbangan asam basa, metabolisme asam amino, sintesis protein dan asam nukleat, dan prekusor enzim, hal ini dapat menjelaskan mengapa hasil penelitian menunjukkan hasil yang berhubungan antara asupan seng dengan indikator IMT/U. Seng tidak mempunyai hubungan langsung dengan pertumbuhan tulang sehingga hasil senada dengan penelitian yang menunjukkan tidak ada hubungan signifikan dengan TB/U. (Saifuddin, 2012)

KESIMPULAN

Hasil penelitian tentang gambaran konsumsi zat besi, seng dan status gizi pada anak sekolah dasar di SDN No. 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota Tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa:

1. Konsumsi zat besi dan seng pada anak sekolah di SDN 060813 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota sebagian besar pada kategori kurang dikarenakan anak sekolah dasar kurang dalam mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan seng baik dari hewani dan nabati yang dibutuhkan tubuh sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) besi dan seng yang dianjurkan.

2. Status gizi berdasarkan IMT/U dan berdasarkan TB/U sebagian besar pada kategori normal hal ini menunjukkan bahwa konsumsi zat besi dan seng tidak berdampak secara langsung tehadap status gizi anak sekolah dasar.

(8)

8 SARAN

Adapun Saran dari penelitian ini adalah :

1. Untuk siswa sekolah dasar disarankan agar mengonsumsi makanan yang bervariasi sehingga tidak mengalami kekurangan zat gizi besi dan seng serta diharapkan kepada guru dan orang tua siswa agar lebih memperhatikan pola makan anak-anak di sekolah.

2. Untuk pihak sekolah terutama guru agar ikut memperhatikan pola makan anak-anak di sekolah agar meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan seng yang cukup baik hewani maupun nabati serta mengurangi konsumsi jajanan di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, L. H. 1998. Zinc and Micronutrient Supplements for Children. Am J Clin Nutr. ; (68 (Suppl) : 495S-8S

Anwar, Faisal dan Khomsan, Ali. 2009. Makan Tepat, Badan Sehat. PT Mizan Publika. Jakarta.

Badan Litbang Kesehatan, DepKes RI. 1008. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007-2008. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Jakarta

Badan Litbang Kesehatan, DepKes RI. 2013. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Jakarta.

Browning J., O’Dell B, Zinc Deficiency Decreases the Concebtration of N-ethylID-aspartate Receptors in Guinea Pig Cortal Synaptic Membranes. J. Nutr. 95; 125: hal. 2083-2089.

Donald A. .2000. Vitamins and Minerals in Pediatrics. In : Wharton B. Protein Energy Malnutrition. Nutrition & Child Health. London : Harcourt Publishers Limited; 2000.p. 89-91

Faharuddin. 2012.

http://taharuddin.com/efek-gizi-terhadap-status-gizi-anak.html. (Diakses pada tanggal 08 September 2014).

Groff. J.L. and Sareen.S. Gropper. 1998. Advanced Nutrition and Human Metabolism. Third Ed. Wadsworth.

Lonnerdal B. 1998. Iron-Zinc-Cooper Interaction. Micronutrien Interaction : Impact on Child Health and Nutrition. Washington: The USAID/FAO; 1998. p.3-10.

Luwih,Sharikah. 2011. Hubungan Antara Pola Konsumsi Makanan Jajanan dengan Status Gizi Siswa Sekolah Dasar Negeri di Kota Magelang. Universitas Negeri Semarang

Nasution E. 2004. Efek Suplementasi Zinc dan Besi Pada Pertumbuhan Anak. Sumatera Utara: Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatra Utara; 2004. p. 1-5

Nurnia, Veni Hadju, Citrakesumasari. Hubungan Pola Konsumsi Dengan Sstatus Hemoglobin Anak Sekolah Dasar Di Wilayah Pesisir Kota Makassar. Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

Permana A.G. 2012. Hubungan Asupan Zat Gizi Makro Dengan Status Gizi Siswa SD Inpres 2 Pannampu Kecamatan Tallo Kota Makassar. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

(9)

9 Pratiwi, E.F. 2010. Hubungan Pola

Konsumsi dengan Status Hemoglobin (Hb) Remaja Putri Sekolah Menengah Pertama di Daerah Endemik Malaria Kec.Baras Kab.Mamuju Utara Sulawesi Barat Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Riskesdas. 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan, RI

(10)

1 HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN POLA MAKAN PADA REMAJA PUTRI DENGAN KEJADIAN ANEMIA DI SMP NEGERI 2 KOTAPINANG

KABUPATEN LABUHAN BATU SELATAN TAHUN 2014

RELATED KNOWLEDGE NUTRITION AND DIET ADOLESCENT WITH ANEMIA IN SMP STATE EVENT 2 KOTAPINANG LABUHAN STONE SOUTH

DISTRICT 2014

Damayani1, Etti Sudaryati2, M. Arifin Siregar3 1

Mahasiswi FKM USU Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, 2

Dosen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan, 20155. Indonesia

Email: [email protected]

ABSTRACT

Anemia is one of the health problems that continue to be the government’s attention. Among the various types of anemia, anemia in adolescent girls is the biggest anemia problem in society. This happenes because the girls undergo the process ef menstruation and a diet that causes a lack of nutrition.

This research is descriptive survey that aim to know nutrition knowledge, diet, and anemia in SMP Negeri 2 Kotapinang South Labuhan Batu district. The population in this study were students of class seventh, eight, nineth in SMP Negeri 2 Kotapinang many as 567 people. The sample was selected a part of the population of 88 people. Collecting data using the nutrition knowledge questionnaire. Data form the diet using food frequency and 24-hours food recall.

The research resultshowed that nutrition knowledge of students is good enough showed by 52,3%. The students didn’t consume staple food, fishes, vegetable, and fruit everyday showed by consume frequency is 71,6% is seldom. Anemia in student of SMP Negeri 2 Kotapinang is high showed by 71,4% anemia.

Based on the research, results, expected the importance of improving information for student of SMP Negeri 2 Kotapinang about the importance of consume foods the certain mani Fe, vitamin and mineral as source of food which is able to prevent anemia needed menu cycle so that the food more regular by frequency, type and amount side.

Keywords : knowledge of nutrition, diet, anemia PENDAHULUAN

Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan tentang makanan dan zat gizi, sumber-sumber zat gizi pada makanan,

makanan yang dikonsumsi sehingga tidak menimbulkan penyakit dengan cara mengolah makanan yang baik agar zat gizi dalam makanan tidak hilang, serta

(11)

2 bagaimana hidup sehat. (Notoatmodjo,

2003).

Pada usia remaja harus dibiasakan menyukai makanan yang beraneka ragam. Remaja perlu diperkenalkan variasi, baik jenis maupun rasa makanan. Misalnya untuk karbohidrat tidak hanya pada sepiring nasi, tetapi juga terdapat pada semangkuk mie, setangkup roti, sepiring irisan kentang goreng dan lain-lain, kemudian dibiasakan untuk menyukai berbagai macam sayur dan buah. Jika memungkinkan bawa bekal makan siang dari rumah, selain dapat menghemat bekal dari rumah bisa terjamin kesehatan dan keamanannya. (Dedeh dkk, 2010).

Makanan pokok terdiri atas bahan makanan serelia dan umbi-umbian. Adapun standar makanan pokok nasi adalah 100 gram beras yang berbentuk nasi untuk satu kali makan. Jadi hidangan sehari semalam terdiri dari 4-5 porsi atau piring setara dengan ≥ 350 gram beras, dan bahan makanan lauk hewani merupakan bahan makanan sumber protein yang berasal dari hewan, 1 potong ikan atau 2 potong tempe dan sejenisnya setara dengan ≥ 50 gram lauk pauk yang harus kita konsumsi dalam sehari, sedangkan sayuran merupakan bagian dari tubuh yang dapat dimakan, standar porsi sayur yang harus dikonsumsi dalam sehari ialah 1 mangkok sayur dengan isi sayur daun hijau setara dengan ≥ 200 gram, serta buah diartikan sebagai semua produk yang dikonsumsi sebagai “pencuci mulut” 1 potong buah segar setara dengan ≥ 150 gram buah yang harus kita konsumsi dalam sehari (Persagi,1991).

Ragam bahan makanan itu berhubungan dengan frekuensi makan, dan semua itu bisa kita lihat dari pedoman gizi seimbang. Dalam TGS, makanan sumber karbohidrat diletakkan sebagai dasar tumpeng, sumber lemak diletakkan pada puncak TGS karena penggunaanya dianjurkan seperlunya, sumber protein

hewani dan nabati diletakkan berdasarkan level yang sama dibawah puncak tumpeng konsumsi kedua protein ini juga dianjurkan dengan porsi yang sama. Dalam TGS sayur dan buah-buahan dianjurkan dikonsumsi sesering mungkin tiap hari, dalam TGS setiap hari minum air putih paling sedikit 2 liter atau 8 gelas (Dedeh, dkk, 2010).

Anemia adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Kadar hemoglobin normal pada remaja perempuan adalah 12 gr/dl (Proverewati & Misaroh, 2009).

Anemia merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang terus menjadi perhatian pemerintah. Data terbaru dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan bahwa sekitar 21,7% penduduk Indonesia menderita anemia, dan 31,7% wanita hamil mengalami anemia.

Berdasarkan hasil dari survei pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 21 Desember 2013 di SMP Negeri 2 Kotapinang diketahui bahwa terdapat 35 orang dari 40 siswi kelas 1 dan kelas 2 yang beresiko menderita anemia. Hasil ini diperoleh dengan melakukan wawancara langsung dengan siswi tersebut yang berkaitan dengan tanda-tanda anemia yaitu sering kelelahan, pusing, kelopak mata pucat, wajah pucat, dan daya tahan tubuh menurun.

Manfaat dari penelitian ini yaitu agar remaja putri mengetahui informasi pentingnya konsumsi makanan yang bergizi untuk mencegah timbulnya penyakit seperti Anemia, serta agar remaja putri itu lebih meningkatkan informasi mengenai pentingnya asupan gizi yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh terutama untuk remaja putri yang melakukan diet agar tidak berlebihan.

(12)

3 METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa yang ada di SMP Negeri 2 Kotapinang sebanyak 567 orang. sampel pada penelitian ini berjumlah 88 orang dengan sasaran utama siswa perempuan karena perempuan yang paling rentan terkena anemia dilihat dari pola makan dan setiap bulan mengalami menstruasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sekolah Menengah Pertama Negeri Dua Kotapinang merupakan sekolah yang terletak di Desa Blok Songo Kecamatan Kotapinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis, sekolah ini memiliki luas 2 ha/m2, dengan panjang 200 meter dan lebar 100 meter.

Grafik 1. Distribusi Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Berdasarkan Umur Pada Tahun 2014

Sumber : Profil SMP Negeri 2 Kotapinang Kabupaten Labuhan Batu Selatan Tahun 2014

Berdasarkan grafik 1 siswi yang berumur 11-12 tahun sebanyak 39 orang dan siswa yang berumur 13-14 tahun sebanyak 49 orang.

Grafik 2 Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Kejadian Anemia di SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 2 dapat dilihat bahwa siswi yang menderita anemia sebanyak 65 orang 73,9%. Ini dikarenakan tidak terpenuhinya konsumsi pola makan meliputi jumlah, jenis dan frekuensi pada siswi SMP Negeri 2 Kotapinang.

Grafik 3 Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Pengetahuan Gizi dan pola makan siswi di SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 3 dapat dilihat bahwa siswi yang memiliki pengetahuan gizi cukup baik sebesar 46 orang (52,3%), dan siswi yang memiliki pola makan yang paling besar berada pada kategori kurang sebanyak 62 orang (70,5%).

11 dan 12 13 dan 14

44.30% 55.70%

Umur

11 dan 12 13 dan 14

Anemia Tidak Anemia

73.90%

26.10% Kejadian Anemia

Anemia Tidak Anemia

Baik Cukup Kurang

36.40% 52.30% 11.40% 2.30% 27.30% 70.50% Pengetahuan dan Pola Makan

(13)

4 Grafik 4 Distribusi Frekuensi Makan

Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 4 dapat dilihat bahwa frekuensi makan siswi SMP Negeri 2 Kotapinang berada pada kategori tidak sering sebanyak 63 orang (71,6%). Hal ini disebabkan karena pada umumnya remaja putri tidak mengkonsumsi makanan 3 kali dalam sehari ataupun lebih terutama sayur dan buah karena baunya yang tidak enak kurang konsumsi buah dikarenakan ketersediaan buah didaerah kotapinang sangatlah sedikit.

Grafik 5 Distribusi Jenis Makanan yang Dikonsumsi Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 5 dapat dilihat bahwa jenis makanan yang dikonsumsi oleh

siswi SMP Negeri 2 Kotapinang berada kategori tidak baik yang konsumsi jenis makanannya < 4 jenis bahan makanan setiap harinya sebanyak 56 orang (63,6%). Ini disebabkan karena pada umumnya remaja putri hanya mengkonsumsi bahan makanan satu jenis saja seperti lauk pauk, sayuran, dan buah.

Grafik 6 Distribusi Jumlah Makanan Dikonsumsi Oleh Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 6 dapat dilihat bahwa jumlah makanan pokok yang dikonsumsi siswi berada pada kategori tidak baik sebanyak 62 orang (70,5%), jumlah lauk pauk yang dikonsumsi siswi berada pada kategori tidak baik sebanyak 53 orang (60,2%), sedangkan jumlah sayuran yang dikonsumsi siswi juga berada pada kategori tidak baik sebanyak 56 orang (63,6%), serta jumlah buah yang dikonsumsi siswi juga berada pada kategori tidak baik sebanyak 75 orang (85,2%)

Sering Tidak Sering

28.40%

71.60% Frekuensi Makan

Sering Tidak Sering

Baik Tidak Baik

36.40%

63.60% Jenis Makanan

Baik Tidak Baik

Pokok Lauk Pauk Sayuran Buah 29.50% 39.80% 36.40% 14.80% 70.50% 60.20% 63.60% 85.20% Jumlah Makanan

(14)

5 Grafik 7 Tabulasi Silang Pengetahuan

Gizi dengan Frekuensi Makan Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang tahun 2014

Berdasarkan grafik 7 dapat dilihat bahwa siswi yang memiliki pengetahuan baik tetapi lebih banyak frekuensi makannya yang tidak sering (jarang) sebesar 75,0%. Hal ini disebabkan karena pada umumnya remaja putri itu lebih cenderung mementingkan penampilannya yang suka mengikuti penampilan teman sebayanya bahkan seperti idolanya yang berpenampilan menarik sebagian dari mereka banyak yang melakukan aktivitas yang tinggi seperti olah raga yang melebihi batas sehingga mengharuskan mereka mengatur berat badan mereka seperti halnya remaja putri banyak yang melakukan diet yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, penyebab yang lainnya juga dikarenakan perubahan gaya hidup pada remaja putri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan makan mereka. selain itu pengaruh kelompok dalam kehidupan remaja putrid juga sangat kuat daripada pengaruh keluarga sehinga perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja sangat berpengaruh terhadap kebiasaan makannya.

Grafik 8 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Jenis Makanan yang Dikonsumsi Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 8 dapat dilihat bahwa siswi yang memiliki pengetahuan baik tetapi kebanyakan jenis makanan dikonsumsi yang tidak beragam 68,8%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan yang cukup baik belum tentu siswi dapat mengkonsumsi makanan dalam jenis yang beragam, ini disebabkan bukan hanya pengetahuan mereka tentang makanan yang baik dan sehat tetapi juga karena kurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan akan jenis makanan yang dikonsumsi mereka.

Grafik 9 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Jumlah Makanan Pokok yang Dikonsumsi Oleh Siswi SMP Negeri 2

Baik Cukup Kurang

25.00% 28.30% 40.00%

75.00% 71.70%

60.00% Pengetahuan dengan Frekuensi Makan

Frekuensi Makan Sering Frekuensi Makan Tidak Sering

Baik Cukup Kurang

31.20% 37.00% 50.00%

68.80% 63.00%

50.00% Pengetahuan dengan Jenis Makanan

Jenis Makanan Baik Jenis Makanan Tidak Baik

Baik Cukup Kurang

31.20% 26.10% 40.00%

68.80% 73.90% 60.00%

Pengetahuan dengan Jumlah Makanan Pokok

Jumlah Makanan Pokok Baik Jumlah Makanan Pokok Tidak Baik

(15)

6 Berdasarkan grafik 9 dapat dilihat

bahwa siswi yang memiliki pengetahuan baik tetapi konsumsi makanan pokoknya tidak baik 73,9%. Hal ini dikarenakan siswi SMP Negeri 2 Kotapinang lebih sering makan itu 2 bahkan 1 hari sekali, mereka lebih sering mengkonsumsi makanan jajanan, alasannya karena makanan jajanan lebih enak daripada makan nasi.

Grafik 10 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Jumlah Lauk Pauk yang Dikonsumsi Oleh Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 10 diatas dapat diketahui bahwa siswi yang mengonsumsi makanan lauk pauk berda pada kategori tidak baik, tetapi pengetahuan siswi tersebut berada pada kategori baik dengan jumlah sebanyak 62,5%. %. Hal ini dikarenakan pemenuhan makanan khususnya lauk pauk sangatlah kurang pada keluarga remaja putri yang disebabkan ketidak adaan biaya orang tua untuk memnuhi kebutuhan makan lauk pauk yang lebih mengandung zat besi tinggi seperti daging, dan ikan karena didaerah Kotapinang itu sendiri harga daging dan ikan itu sangat mahal terutama daging.

Grafik 11 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Jumlah Sayuran yang Dikonsumsi Oleh Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 11 dapat diketahui bahwa jumlah siswi yang mengkonsumsi sayuran kurang dari yang dianjurkan 78,1% tetapi memiliki pengetahuan yang baik. Alasan mereka tidak mau memakan sayuran itu dikarenakan rasa dan aroma dari sayuran itu sendiri sangatlah tidak enak, kalaupun mereka mau memakan sayuran itu hanya sayuran jenis tertentu saja karena rasa dan aromanya berbeda dengan sayuran yang lain.

Grafik 12 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Jumlah Buah yang Dikonsumsi Oleh Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Baik Cukup Kurang

37.50% 41.30% 40.00%

62.50% 58.70% 60.00%

Pengetahuan dengan Jumlah Lauk Pauk Jumlah Lauk Pauk Baik

Jumlah Lauk Pauk Tidak Baik

Baik Cukup Kurang

21.90%

45.70% 40.00%

78.10%

54.30% 60.00%

Pengetahuan dengan Jumlah Sayuran Jumlah Sayuran Baik Jumlah Sayuran Tidak Baik

Baik Cukup Kurang

6.20% 17.40% 30.00%

93.80% 82.60%

70.00% Pengetahuan dengan Jumlah Buah

(16)

7 Berdasarkan grafik 12 dapat dilihat

bahwa siswi yang berpengetahuan baik tetapi dalam mengonsumsi buah setiap harinya sesuai dengan yang dianjurkan bereada pada kategori tidak baik sebesar 93,8%. Hal ini dikarenakan ketersediaan buah didaerah tersebut sangatlah sedikit, karena sedikitnya buah yang ada disana menyebabkan harga buah didaerah tersebutpun sangatlah mahal, dan di daerah tersebut buah banyak dijumpai ketika musim buah tiba.

Grafik 13 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Pola Makan Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 13 dapat dilihat bahwa siswi dengan pola makan kurang baik rata-rata yang memiliki pengetahuan yang baik, jumlah siswi yang memiliki pola makan kurang baik 78,1%. Ini dikarenakan siswi memiliki pola makan yang meliputi jumlah, jenis dan frekuensi makan berada pada kategori yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi yang dianjurkan untuk setiap harinya.

Grafik 14 Tabulasi Silang Pengetahuan Gizi dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 14 diatas dapat dilihat bahwa tidak adanya hubungan pengetahuan gizi dengan kejadian anemia pada siswi SMP Negeri 2 Kotapinang, dilihat dari data jumlah siswi yang berpengetahuan baik lebih banyak yang terkena anemia sebesar 75,0%. Hal ini dikarenakan meskipun pengetahuan seseorang itu sudah cukup baik, belum tentu dia tidak terkena anemia, karena pengetahuan gizi seseorang bukanlah faktor yang utama menentukan sesorang terkena anemia atau tidak.

Grafik 15 Tabulasi Silang Frekuensi Makan dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 15 diatas dapat dilihat bahwa frekuensi makan memiliki hubungan yang signifikan terhadap

Baik Cukup Kurang

0.00% 2.20% 10.00%

21.90% 30.40% 30.00%

78.10%

67.40% 70.50%

Pengetahuan dengan Pola Makan

Pola Makan Baik Pola Makan Cukup

Pola Makan Kurang

Baik Cukup Kurang

75.00% 76.10%

60.00%

25.00% 23.90%

40.00% Pengetahuan dengan Kejadian Anemia

Kejadian Anemia Anemia Kejadian Anemia Tidak Anemia

Sering Tidak Sering

40.00%

87.30% 60.00%

12.70% Frekuensi Makan dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

(17)

8 terjadinya anemia pada siswi, dilihat dari

datanya frekuensi makan yang jarang kejadian anemianya sebesar 87,3, Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi makan siswi SMP Negeri 2 Kotapinang tidak baik dikarenakan remaja putri SMP Negeri 2 Kotapinang frekuensi makannya tidak mencapai 3 kali dalam sehari, ini dikarenakan siswa pergi kesekolah jarang yang sarapan pagi disebabkan orang tua siswa bekerja sebagai buruh karet yang berangkat kerja pada pukul 05.30 dan orang tua mereka pun tidak sempat untuk membuatkan sarapan pagi untuk anak mereka, ada juga siswa memang tidak suka sarapan pagi alasannya kalau sarapan pagi membuat siswa itu sakit perut disekolah, serta ada juga siswa yang melakukan diet sehingga frekuensinya makannya pun tidak mencapai 3 kali dalam sehari.

Grafik 16 Tabulasi Silang Jenis Makanan dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 16 diatas dapat dilihat bahwa konsumsi makanan yang beragam itu sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi oleh tubuh setiap harinya, kurangnya konsumsi jenis makanan dapat menyebabkan anemia seperti data diatas jenis makanan yg dikonsumsi berada pada kategori tidak baik dengan jumlah penderita

anemia sebanyak 94,6%. Hal ini dikarenakan tidak cukupnya biaya untuk memenuhi jenis pangan yang beragam dalam pemenuhan zat gizi remaja putri setiap harinya, selain itu juga remaja putri dalam seharinya hanya bias mengonsumsi satu atau dua jenis bahan makanan saja setiap harinya.

Grafik 17 Tabulasi Silang Jumlah Konsumsi Makanan Pokok yang Di Konsumsi dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 17 dapat diketahui bahwa kurangnya mengkonsumsi lauk pauk juga dapat menyebabkan terjadinya anemia, siswi yang menderita anemia karena kurangnya asupan makanan pokok kedalam tubuh sebesar 87,1%, dikarenakan frekuensi makan remaja putri dalam satu hari tidak mencapai 3 kali sehari, bahkan remaja putri lebih sering mengonsumsi jajanan diluar rumah dibanding makanan pokok, selain itu juga siswi lebih sering makan itu 2 bahkan 1 hari sekali, mereka lebih sering mengkonsumsi makanan jajanan, alasannya karena makanan jajanan lebih enak daripada makan nasi.

Baik Tidak Baik

37.50%

94.60% 62.50%

5.40% Jenis Makanan dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

Baik Tidak Baik

42.30%

87.10% 57.70%

12.90% Jumlah Makanan Pokok dengan Kejadian

Anemia

(18)

9 Grafik 18 Tabulasi Silang Jumlah

Konsumsi Lauk Pauk dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 18 dapat diketahui bahwa penderita anemia akibat kurangnya mengkonsumsi lauk pauk sebesar 90,6%. Lauk pauk adalah salah satu jenis bahan makanan yang berperan penting dalam menghasilkan zat besi, protein dan lemak yang dapat mencegah terjadinya anemia, khususnya daging dan ikan.

Grafik 19 Tabulasi Silang Jumlah Konsumsi Sayuran dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 19 dapat diketahui bahwa jumlah penderita anemia yang diakibatkan dari kurangnya mengkonsumsi sayuran sebesar 91,1%, dikarenakan hampir rata-rata remaja putri

tidak suka mengkonsumsi sayuran, selain itu juga sebagian remaja putri lebih suka makan itu tidak dengan sayuran, mereka lebih sering makan itu hanya dengan nasi dan lauk pauk alasan mereka tidak mau memakan sayuran itu dikarenakan rasa dan aroma dari sayuran itu sendiri sangatlah tidak enak, kalaupun mereka mau memakan sayuran itu hanya sayuran jenis tertentu saja karena rasa dan aromanya berbeda dengan sayuran yang lain.

Grafik 20 Tabulasi Silang Jumlah Konsumsi Buah dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 20 dapat dilihat bahwa penderita anemia akibat kurangnya mengkonsumsi anemia sebanyak 82,7%, ini dikarenakan kurangnya asupan atau konsumsi buah setiap harinya adalah salah satu penyebab terjadinya anemia karena setiap harinya buah yang harus dikonsumsi sebanyak ≥150 gram. Hal ini dikarenakan ketersediaan buah didaerah tersebut sangatlah sedikit, karena sedikitnya buah yang ada disana menyebabkan harga buah didaerah tersebutpun sangatlah mahal, dan di daerah tersebut buah banyak dijumpai ketika musim buah tiba.

Baik Tidak Baik

43.80%

91.10% 56.20%

8.90% Jumlah Lauk Pauk dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

Baik Tidak Baik

43.80%

91.10% 56.20%

8.90% Jumlah Sayuran dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

Baik Tidak Baik

23.10%

82.70% 76.90%

17.30% Jumlah Buah dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

(19)

10 Grafik 21 Tabulasi Silang Pola Makan

dengan Kejadian Anemia Pada Siswi SMP Negeri 2 Kotapinang Tahun 2014

Berdasarkan grafik 21 dapat dilihat bahwa siswi yang pola makannya kurang baik yang paling banyak menderita anemia, jumlah penderitanya sebesar 93,5%. Ini dikarenakan pola makan mempunyai hubungan yang signifikan dengan terjadinya anemia.

Kesimpulan

1. Jumlah siswi yang terkena anemia di SMP Negeri 2 Kotapinang yaitu 65 siswi (71,4%).

2. Pengetahuan gizi yang paling tinggi berada pada kategori cukup (52,3%), sedangkan yang berada pada kategori baik (36,4%) dan yang berada pada kategori kurang (11,4%).

3. Frekuensi makan yang paling tinggi pada siswi terdapat pada kategori tidak sering, sedangkan dari konsumsi jenis makanan dapat dilihat bahwa yang paling tinggi berada pada kategori tidak baik, serta dalam jumlah mengkonsumsi bahan makanan meliputi makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah dapat diketahui bahwa siswi mengkonsumsinya kurang dari kebutuhan gizi yang dibutuhkan tubuh setiap harinya.

4. Pola makan yang terdiri dari (jumlah, jenis dan frekuensi) memiliki hubungan terhadap terjadinya anemia pada remaja putri khususnya siswi SMP Negeri 2 Kotapinang dengan nilai p = 0,001 (p< 0,05), sedangkan pengetahuan gizi tidak memiliki hubungan terhadap pola makan dan kejadian anemia.

Saran

1. Perlunya pemahaman tentang pentingnya Pedoman Gizi Seimbang pada siswi SMP Negeri 2 Kotapinang dalam konsumsi makanan setiap harinya.

2. Perlunya peningkatan informasi pada siswi SMP Negeri 2 Kotapinang tentang pentingnya mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, vitamin dan mineral sebagai sumber makanan yang dapat mencegah terjadinya anemia.

3. Perlunya peran aktif guru dalam memberikan informasi kepada siswa tentang pentingnya gizi pada remaja usia sekolah untuk mencegah masalah gizi pada yang terjadi pada remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Dedeh, dkk. 2010. Sehat Dan Bugar Berkat Gizi Seimbang. Jakarta : Penerbit PT Sarana Bobo.

Notoatmodjo, S . 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar). Jakarta: Rineka Cipta.

Persagi. 1991. Penuntun Diit. Jakarta : Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Proverewati, A, & Asfuah, S. 2009. Gizi

untuk Kebidanan. Yogyakarta : Muha Medika.

Sediaoetama, A.D. 2003. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi di Indonesia Jilid I, II, III Jakarta : Penerbit Dian Rakyat.

Baik Cukup Kurang

0.00% 29.20% 93.50% 100.00% 70.80% 6.50% Pola Makan dengan Kejadian Anemia Kejadian Anemia Kejadian Tidak Anemia

(20)

PERILAKU MAKAN SIAP SAJI (FAST FOOD) DAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 1 BARUMUN KECAMATAN

BARUMUN KABUPATEN PADANG LAWAS TAHUN 2014

THE BEHAVIOR OF FAST FOOD AND OBESITY TO THE FEMALE ADOLESCENT AT SMAN 1 BARUMUN

PADANG LAWAS DISTRICT 2014

Romaito Hasibuan1, Etti Sudaryati2, Ernawati Nasution3 1

Alumni Mahasiswa Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU 2

Staf Pengajar Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan, 20155, Indonesia

Email: [email protected] ABSTRACT

Fast food is characterized by unbalanced nutrient content. mostly high in calories, fat, but very low in fiber. consumption of fast food will lead to excessive problems of nutrition. This research was conducted to study the behavior (knowledge and attitude) of female adolescent and the diet of fast food (frequency, type, and number of carbohydrate, protein, fat and fiber) to the female adolescent at SMAN 1 Barumun.

This research is descriptive study by cross sectional study.sample amounted to 77 is the female student in class X, XI, XII, SMAN 1 Barumun. primary data collection using questionnaires, forms meal frequency and recall 24 hours.

The result of research indicates that the female adolescent have good knowledge (97,4%) and have good attitude (74%) to the fast food, type of fast food consumed by adolescent is snack , fried, sausage, and instan noodles with frequency of weekly, daily, weekly, and monthly. Contribution of carbohydrates, proteins and fats consumed by adolescent SMAN 1 Barumun already exceed the recommended dietary allowance figures, while the fiber is still far from the recommended dietary allowance.

It suggested of the female adolescent to have a good diet pattern and minimize the consumtion of fast food to avoid the obesity.

Keyword : fast food behavior, nutrition status.

PENDAHULUAN

Masa remaja adalah dimana mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan dan teman terdekat, mudah mengikuti alur zaman seperti mode dan trend yang sedang berkembang di masyarakat khususnya dalam hal makanan modern. Pola makan remaja akan menentukan jumlah zat-zat gizi yang diperoleh untuk meningkatkanpertumbuhan dan perkembangannya. Remaja juga umumnya melakukan aktivitas fisik

lebih banyak dibanding usia lainnya, sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak (Proverawati, 2010). Kesalahan dalam memilih makanan dan kurang cukupnya pengetahuan tentang gizi yang akan mengakibatkan timbulnyaberbagai masalah gizi yang akhirnya mempengaruhi status gizi. Status gizi yang baik hanya dapat tercapai dengan pola makan yang baikdanseimbang.

(21)

Lokasi penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Barumun yang terletak di Sibuhuan yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Padang Lawas. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena zaman sekarang makanan siap saji tidak hanya di perkotaan saja, diperkampungan juga sudah banyak ditemukan, salah satunya adalah di daerah Padang Lawas, terutama di Sibuhuan yang merupakan ibu kota dari Padang Lawas, dimana lokasi ini adalah pusat dari perkantoran, seperti dinas pendidikan, rumah sakit umum, kantor bupati, kantor DPR, dinas pertanian dan sekolah-sekolah, salah satunya adalah SMAN 1 Barumun. Sekolah ini dekat dengan pusat perbelanjaan, rumah makan, minimarket, indomaret, bakery palas (sejenis pizza, roti abon, sosis, dll), warung tradisional, dan tempat – tempat makan lainnya yang menyediakan makanan cepat saji seperti mi instan, bakso, gorengan, snack, burger, martabak, pecel, yang banyak ditemukan didekat sekolah ini, sehingga memudahkan pelajar SMAN 1 untuk mengkonsumsi makanan siap saji apalagi pada jam istirahat dan jam les sore. Di sekolah ini juga terdapat 3 kantin sekolah yang menyediakan makanan seperti nasi goreng, mi instan, bakso, gorengan, donat, roti, makanan ringan, dan minum soda. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif

dengan desain cross

sectional.Lokasipenelitianadalah SMAN 1 Barumun Padang Lawas.Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling.Populasipenelitian

iniadalahseluruhremajaputri SMAN 1

Barumunsebanyak 338

orang.Sampelpadapenelitianinipadakel as X, XI, dan XII sebanyak 77 orang. Data pengetahuan dan sikap diperoleh melalui wawancara dengan

menggunakan kuesioner, pola makan diperoleh dengan menggunakan formulir frekuensi makan dan formulir Food Recall 24 jam, dan data kejadian obesitas diperoleh dengan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan berat badan menggunakan timbangan digital.Kemudian data dianalisasecaradeskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

SMAN 1 Barumun berdiri pada tahun 1957 dan secara resmi beroperasi pada tahun 1965. Sekolah ini berada di Jl. KH. Dewantara No. 43 Sibuhuan, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Tanah tempat berdirinya gedung SMAN 1 Barumun dan seluruh wilayah sekolah diperoleh dari hibah masyarakat Barumun pada tahun 1957. Siswi SMAN 1 Barumun memiliki pengetahuan baik terhadap makanan siap saji yaitu sebanyak 97,4%. Perpustakaan sekolah menyediakan buku tentang makanan yang sehat, sayur-sayuran, dan pada pelajaran pertanian yang merupakan mata pelajaran tambahan, sehingga remaja putri juga mendapat informasi tentang sayur-sayuran, buah, dan tanaman-tanaman lain yang mengandung gizi yang baik dikonsumsi oleh manusia. Hasil penelitian Wulansari (2013) terhadap mahasiswa kedokteran UIN Syarif Hidayatullah bahwa Sebagian besar responden mengetahui fast food yaitu 99,1%, dan kandungan nutrisi dalam fast food yaitu 94,1%. Dari hasil tersebut sebagian besar mahasiswa PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki pengetahuan yang baik tentang fast food. Hal tersebut sesuai dengan tingkat pendidikan responden yaitu mahasiswa kedokteran, sehingga tingkat pengetahuan tentang fast food adalah baik.

(22)

Tabel 1. Distribusi Tingkat Pengetahuan Makanan Siap Saji Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu, dengan kata lain sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau reaksi tertutup (Notoatmodjo, 2005). Dari 77 remaja putri 74% memiliki sikap baik tentang makanan siap saji.

Tabel 2. Distribusi Tingkat Sikap Terhadap Makanan Siap Saji pada Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

Sebagian besar dibawah rata-rata kontribusi karbohidrat makanan siap saji terhadap konsumsi sehari sebanyak 40,3% remaja putri. sumbangan karbohidrat makanan siap saji yang banyak terhadap total konsumsi sehari dikarenakan jenis makanan siap saji yang dikonsumsi tergolong memiliki karbohidrat yang tinggi, bila terus mengkonsumsi makanan yang karbohidrat tinggi dan menjadi kebiasaan tanpa disertai dengan olahraga maka akan berdampak negative pada keadaan gizi remaja, salah satunya adalah obesitas (Proverawati, 2010).

Tabel 3. Distribusi Kontribusi Karbohidrat Makanan Siap Saji Terhadap Konsumsi Sehari pada Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014 No. Kontribusi Karbohidrat Terhadap Total Konsumsi Sehari (%) f % 1. 2. Diatas rata Dibawah rata-rata 31 46 40,3 59,7 Jumlah 77 100,0

Berdasarkan hasil penelitian pada siswi SMAN 1 Barumun tahun 2014 dapat diketahui bahwa dibawah rata-rata kontribusi protein makanan siap saji terhadap konsumsi sehari sebanyak 66,2% remaja putri. Di dalam tubuh, protein mempunyai peranan yang sangat penting. Fungsi utamanya sebagai zat pembangun atau pembentuk struktur sel, misalnya untuk pembentukan otot rambut, kulit, membran sel, jantung, hati, ginjal, dan beberapa organ penting lainnya.

Tabel 4. Distribusi Kontribusi Protein Makanan Siap Saji Terhadap Total Konsumsi Sehari pada Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

No. Kontribusi Protein Terhadap Total Konsumsi Sehari (%) f % 1. 2. Diatas rata Dibawah rata-rata 26 51 33,8 66,2 Jumlah 77 100,0

Jenis makanan siap saji yang biasa dikonsumsi adalah gorengan 46,8% dan sosis 84,4%. Makanan ini merupakan yang banyak di sukai oleh remaja putri karena harganya murah, mengenyangkan dan banyak dijual di sekitar sekolah. No. Kategori Pengetahun f % 1. Baik 75 97,4 2. 3. Sedang Kurang 1 1 1,3 1,3 Jumlah 77 100,0 No. Kategori Sikap f % 1. Baik 57 74 2. 3. Sedang Kurang 20 0 26 0 Jumlah 77 100,0

(23)

Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Jenis Makanan Siap Saji yang dikonsumsi Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

Sebagian besar dibawah rata-rata kontribusi lemak makanan siap saji terhadap konsumsi sehari sebanyak 55,8%. Penelitian di Amerika dan Finlandia (dalam Fukuda, 2001) menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak.

Tabel 6. Distribusi Kontribusi Lemak Makanan Siap Saji Terhadap Total Konsumsi Sehari Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

Sebagian besar dibawah rata-rata konsumsi serat makanan siap saji terhadap konsumsi sehari sebanyak 74% remaja putri, Serat pada makanan siap saji sangat sedikit. Serat banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan.

Tabel 7. Distribusi Kontribusi Serat pada Makanan Siap Saji Terhadap Total Konsumsi Sehari Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

SMAN 1 Barumun tahun 2014, dari 77 siswi terdapat 27,3% obesitas dan 23,4% gemuk, 48% normal, dan 1,3% kurus. Obesitas adalah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat badan idealnya yang disebabkan terjadinya penimbunan lemak ditubuhnya.

Tabel 8. Distribusi Kejadian Obesitas Remaja Putri SMAN 1 Barumun Tahun 2014

No Jenis Makanan

Perhari Perminggu Perbulan TidakPernah Jumlah

% % % % % 1. Mi instan 6,5 70,1 22,1 1,3 100,0 2. Bakso 0 40,3 55,8 3,9 100,0 3. Sosis 11,7 84,4 3,9 0 100,0 4. Hamburger 2,6 11,7 42,9 42,9 100,0 5. Donat 11,7 22,1 37,7 28,6 100,0 6. Gorengan 46,8 49,4 2,6 1,3 100,0 7. Ayam tepung 2,6 42,9 19,5 35,1 100,0

No. Kontribusi Lemak Terhadap Total Konsumsi Sehari (%) f % 1. 2. Diatas rata-rata Dibawah rata-rata 34 43 44,2 55,8 Jumlah 77 100,0

No. Kontribusi Serat Terhadap Total Konsumsi Sehari (%) f % 1. 2. Diatas rata-rata Dibawah rata-rata 20 57 26,0 74,0 Jumlah 77 100,0 No. Kejadian Obesitas f % 1. Obesitas 21 27,3 2. Gemuk 18 23,4 3. Normal 37 48,1 4. Kurus 1 1,3 Jumlah 77 100,0

(24)

Berdasarkan hasil penelitian pada siswi SMAN 1 Barumun tahun 2014 dapat diketahui bahwa siswi memiliki pengetahuan baik terhadap makanan siap saji yaitu sebanyak 97,4%, dan remaja putri SMAN 1 Barumun 100% jawaban mengetahui makanan siap saji. Perpustakaan sekolah yang menyediakan buku tentang makanan yang sehat, sayur-sayuran, dan pada pelajaran pertanian yang merupakan mata pelajaran tambahan, sehingga remaja putri juga mendapat informasi tentang sayur-sayuran, buah, dan tanaman-tanaman yang lain yang mengandungzat gizi yang baikuntuk dikonsumsi oleh manusia. Hasil penelitian Mardatillah (2008) bahwa tingginya pengetahuan gizi kesehatan pada siswi SMA Islam PB. Soedirman karenatelah lengkapnya sumber pengetahuan dan materi pengetahuan gizi yang diajarkan tidak dalam mata ajaran khusus. Namun demikian hasil analisis disapatkan bahwa proporsi responden gizi lebih (39,3%) memiliki tingkat pengetahuan baik lebih tinggi dibandingklan responden gizi lebih dengan tingkat pengetahuan kurang, untuk itu diperlukan penyuluhan bagaimana cara hidup sehat guna menghindari masalah kesehatan yang akan dihadapi dimasa mendatang seperti gizi lebih.

Grafik 1. Tabulasi Silang Pengetahuan Remaja Putri SMAN 1 Barumun Berdasarkan Sikap Tentang Makanan Siap Saji Tahun 2014

Sebagian besar dibawah rata-rata kontribusi karbohidrat makanan siap saji terhadap konsumsi sehari sebanyak 16,1% remaja putri yang obsitas. Sebagian siswi yang kurang mengkonsumsi karbohidrat terutama yang kelas XII karena jadwal sekolah yang padat sehingga mereka tidak sempat untuk menkonsumsi makanan sumber karbohidrat. Sedangkan siswi yang obesitas dengan jadwal yang padat membuat mereka lebih mengurangi konsumsi karbohidrat yang berlebihan. Ada beberapa dari siswa yang menderita overweight dan obesitas ini kebanyakan cenderung makan berlebih pada waktu siang atau malam. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa siswi menambah porsi makannya artinya memang cenderung makan berlebih. Untuk sarapan, sebagian besar siswi mengaku jarang sarapan sebab seringnya mereka terlambat bangun sehingga takut terlambat ke sekolah. Hanya sebagian kecil yang tidak biasa sarapan sebab dari kecil tidak biasa sarapan sehingga tidak pernah ada kemauan untuk sarapan hingga sekarang.

baik sedang kurang

1 baik 2 sedang 3 kurang 100% 0% 74.7% 25.3% 100% 0% 0%0% 0%

Gambar

Grafik 3   Distribusi Proporsi Responden  Berdasarkan  Pengetahuan  Gizi  dan  pola  makan  siswi  di  SMP  Negeri  2  Kotapinang  Tahun 2014
Grafik  6  Distribusi  Jumlah  Makanan  Dikonsumsi  Oleh  Siswi  SMP  Negeri  2  Kotapinang  Tahun  2014
Grafik  8  Tabulasi  Silang  Pengetahuan  Gizi  dengan  Jenis  Makanan  yang  Dikonsumsi  Siswi  SMP  Negeri 2 Kotapinang Tahun  2014
Grafik  11    Tabulasi  Silang  Pengetahuan  Gizi dengan Jumlah  Sayuran  yang            Dikonsumsi  Oleh  Siswi  SMP  Negeri  2  Kotapinang Tahun 2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN ENERGI, PROTEIN, BESI, SENG DAN STATUS GIZI DENGAN STATUS.. IMUNITAS ANAK BALITA DI RW VII KELURAHAN SEWU, KECAMATAN JEBRES,

Konsumsi zat gizi makro kaitannya dengan status gizi anak usia sekolah dasar pada keluarga penerima BLSM.. Skripsi, Fakultas Teknik Universitas Negeri

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan asupan zat gizi (energi, protein, zat besi dan seng), stunting, dan stimulasi psikososial dengan status motorik anak

Anak balita merupakan salah satu kelompok yang memiliki risiko tertinggi untuk mengalami defisiensi zat besi dan seng, karena pada masa balita terjadi pertumbuhan yang cepat

Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan kebiasaan konsumsi makanan sumber zat seng dan zat besi serta kejadian diare dengan kejadian stunting pada balita usia 1-3

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status anemia de# siensi besi dan tingkat kecukupan zat gizi (energi, protein, vitamin A dan zat besi) serta mengetahui

Aktivitas fisik tidak berhubungan dengan status gizi anak di SDN Dukuhsari II dikarenakan konsumsi energi dan protein beberapa responden dalam kategori defisit

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan konsumsi zat gizi yang meliputi energi, karbohidrat, lemak, protein, zat besi, vitamin A, dan seng, status gizi