BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usia Lanjut
2.1.1 Pengertian Usia Lanjut
Menurut UU RI No. 13 tahun 1998 usia lanjut adalah mereka yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas, sedangkan menurut dokumen pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang diterbitkan oleh Departemen Sosial dalam rangka perencanangan Hari Lanjut Usia Nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh Presiden RI, batas usia lanjut adalah 60 tahun atau lebih (Fatimah, 2010).
2.1.2 Proses Menua
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus-menerus,dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh,sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Maryam dkk, 2008).
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan struktur dan fungsi normal, ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya infeksi (Mubarak, 2011).
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh.
Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Proses sudah mulai berlangsung sejak seorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit (Azizah, 2011).
2.1.3 KlasifikasiLansia
Menurut WHO, klasifikasi lansia adalah sebagai beikut: 1) Usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun
2) Lansia (elderly) 60-74 tahun 3) Lansia tua (old) 75-90 tahun
4) Lansiasangattua (very old) di atas 90 tahun 2.1.4 Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lansia
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan psikologis (Maryam dkk, 2008):
1) Perubahan Fisik
a. Kekuatan fisik secara menyeluruh berkurang, merasa cepat lelah dan stamina menurun.
b. Rambut memutih dan pertumbuhan berkurang sedang rambut dalam hidung dan telinga mulai menebal.
c. Perubahan muskuloskeletal cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), kram, tremor, tendon mengerut.
d. Perubahan pendengaran,membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran.
e. Perubahan penglihatan, respon terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun, adaptasi menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.
f. Kulit yang mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Permukaan kulit kasar dan bersisik karena proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk sel epidermis.
2) Perubahan Sosial
a. Perubahan peranpost power syndrome, single woman, dan single parent
b. Ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan kapan akan meninggal.
c. Kalau menjadi PNS akan ada tabungan(dana pensiun). Kalau tidak, anak dan cucu yang akan memberi uang.
d. Terjadinya kepikunan yang mengganggu sosialisasi.
e. Emosi mudah berubah, sering marah-marah dan mudah tersinggung. 3) Perubahan Psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi, dan kecemasan.
2.1.5 Perubahan Umum Fungsi Pancaindra pada Lansia 1) Sistem Penglihatan
Orang berusia lanjut pada umumnya menderita presbiop atau tidak dapat melihat jarak jauh dengan jelas yang terjadi karena elastisitas lensa mata berkurang.
2) Sistem Pendengaran
Orang berusia lanjut kehilangan kemampuan mendengar bunyi dengan nada yang sangat tinggi sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan saraf dan berakhirnya pertumbuhan sel organ basal yang mengakibatkan matinya rumah siput di dalam telinga.
3) Sistem Perasa
Perubahan penting dalam alat perasa pada usia lanjut adalah sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan tunas perasa yang terletak di lidah dan di permukaan bagian dalam pipi.
4) Sistem Pencium
Daya penciuman menjadi kurang tajam sejalan dengan bertambahnya usia, sebagian karena pertumbuhan sel di dalam hidung berhenti dan sebagian lagi karena semakin lebatnya bulu rambut di lubang hidung. 5) Sistem Peraba
Kulit menjadi semakin kering dan keras, maka indera peraba di kulit semakin peka dan sensitivitas terhadap sakit dapat terjadi akibat penurunan pengetahuan ketahanan terhadap rasa sakit.
2.2 Gangguan Penglihatan
2.2.1 Pengertian Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan merupakan masalah penting yang menyertai lanjutnya usia. Akibat dari masalah ini seringkali tidak disadari oleh masyarakat, para ahli, bahkan oleh para lanjut usia sendiri. Dengan berkurangnya penglihatan, para lanjut usia seringkali kehilangan rasa percaya diri, berkurangnya keinginan untuk pergi keluar, untuk lebih aktif atau bergerak kesana kemari. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk membaca atau melihat televisi. Semua itu akan menurunkan aspek sosialisasi dari para lanjut usia, mengisolasi mereka di dunia luar yang pada gilirannya akan menyebabkan depresi dengan berbagai akibatnya (DarmojodanMartono, 2006).
Perubahan penglihatan merupakan bagian dari penyesuaian berkesinambungan yang datang dalam kehidupan usia lanjut. Perubahan penglihatan mempengaruhi pemenuhan AKS (aktivitas kehidupan sehari-hari). Perubahan penglihatan dan fungsi mata yang dianggap normal dalam proses penuaan termasuk penurunan kemampuan untuk melakukan akomodasi, konstriksi pupil akibat penuaan, dan perubahan warna serta kekeruhan lensa mata (Stanley, 2007).
Perubahan penglihatan pada awalnya dimulai dengan terjadinya awitan presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif. Perubahan kemampuan akomodatif ini pada umumnya dimulai pada dekade keempat kehidupan, ketika seseorang memiliki masalah dalam membaca huruf-huruf yang kecil (Stanley, 2007).
2.2.2 Menurut Darmojo dan Martono (2006), perubahan-perubahan gangguan penglihatan secara fisiologis yaitu:
1) Perubahan Struktur Kelopak Mata
Dengan bertambahnya usia akan menyebabkan kekendoran seluruh jaringan kelopak mata. Perubahan ini yang juga disebut dengan perubahan involusional terjadi pada m.orbicularis, retractor palpebra inferior, tarsus, tendokantus medial/lateral, aponeurosis levator papebra dan kulit.
2) Perubahan Sistem Lakrimal
Pada usia lanjut seringkali dijumpai keluhan nrocos. Kegagalan fungsi pompa pada sistem kanalis lakrimalis disebabkan oleh karena kelemahan palpebra, eversi punctum atau malposisi palpebra sehingga akan menimbulkan keluhan epifora.
3) Proses Penuaan pada Kornea
Dengan bertambahnya usia akan terjadi penurunan sensitivitas kornea yang ditimbulkan oleh rangsangan mekanis. Bagian sentral kornea lebih lama menurunnya dibanding dengan bagian lainnya.
4) Perubahan Muskulus Siliaris
Semakin bertambah usia seseorang maka serabut otot dan jaringan ikatnya bertambah sehingga muskulus tersebut menjadi lebih tebal, terutama bagian inferior.
5) Perubahan Refraksi
Dengan bertambahnya usia hipermetrop laten menjadi lebih manifest karena hilangnya cadangan akomodasi,namun bila terjadi sklerosis nucleus pada lensa, hipermetrop menjadi berkurang atau terjadi miopisasi karena proses kekeruhan di lensa dan lensa cenderung lebih cembung (Darmojo & Martono, 2006).
6) Perubahan Fungsional
Proses degenerasi dialami oleh berbagai jaringan di dalam bola mata, media refrakta menjadi kurang cemerlang dan sel-sel reseptor berkurang, visus kurang tajam dibandingkan pada usia muda.
2.2.3 Aspek Klinik 1. Katarak
Katarak adalah kekeruhan pada lensa atau kapsul lensa mata, penyebab umumnya adalah kehilangan penglihatan yang bertahap. Katarak umumnya mempengaruhi kedua mata, tetapi katarak di masing-masing mata memburuk sendiri-sendiri. Katarak merupakan penyakit yang paling banyak terjadi pada lansia (katarak senile) terutama orang diatas usia 70 tahun (Fatimah, 2010).
Pengobatan katarak adalah dengan tindakan pembedahan, setelah pembedahan lensa diganti dengan kacamata afakia, lensa kontak atau lensa tanam intraocular (Ilyas, 2010).
2. Glaukoma
Glaukoma merupakan sekumpulan gangguan yang ditandai dengan tingginya tekanan intraokuler yang merusaka saraf optikus dan tersering dialami oleh lansia wanita yang berusia 40 sampai 65 tahun (Fatimah, 2010).
3) Presbiopi
Gangguan penglihatan yang terjadi karena kekakuan lensa. Menurut penelitian lensa manusia mulai terjadi kekakuan pada usia 40 tahun sehingga kemampuan akomodasi menurun. Sinar yang masuk kemata tidak dibiaskan tepat diretina dan dibutuhkan lensa kaca mata yang sesuai dengan usia (Tarwoto, Aryani, Wartonah 2009).
2.2.4 Ketajaman Penglihatan
Tidak semua orang mempunyai ketajaman penglihatan yang sama. Ketajaman penglihatan ini dalam istilah kedokteran disebut visus. Ketajaman penglihatan (visus) dipergunakan untuk menentukan penggunaan kacamata.Visus penderita bukan saja memberi pengertian tentang optiknya (kacamata) tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memberi keterangan tentang baik buruknya fungsi mata keseluruhan (Gabriel dikutip oleh Wijayanti, 2005).
Menurut WHO Study Group on The Prevention of Blindness, kelainan pada penglihatan dibagi atas tiga, yaitu :
1) Normal vision 2) Low Vision 3) Blindness
2.2.10 Pemeriksaan Visus menggunakan Kartu Snellen
1) Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.
2) Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka 30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30.
3) Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada pada baris yang menunjukkan angka 50, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50. 4) Bila tajam penglihatan adalah 6/60 bearti ia hanya dapat terlihat pada
jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.
5) Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen maka dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.
6) Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60.
Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter. 7) Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam
penglihatan pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah 1/300.
8) Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak terhingga.
9) Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka dikatakan penglihatannya adalah 0 (nol) atau buta total.
2.2.10.1 Prosedur Pemeriksaan Mata dengan menggunakan Kartu Snellen Menurut Depkes RI (2007) prosedur pemeriksaan sebagai berikut : Tahap I. Pengamatan:
Pemeriksa memegang senter perhatikan: 1. Posisi bola mata: apakah ada juling 2. Konjungtiva: ada pterigium atau tidak 3. Kornea: ada parut atau tidak
4. Lensa: jernih atau keruh/ warna putih
Tahap II. Pemeriksaan Tajam Penglihatan Tanpa Pinhole:
1. Pemeriksaan dilakukan di pekarangan rumah (tempat yang cukup terang), responden tidak boleh menentang sinar matahari.
2. Gantungkan kartu Snellen yang sejajar mata responden dengan jarak 6 meter (sesuai pedoman tali).
3. Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan.
4. Mata kiri responden ditutup dengan telapak tangannya tanpa menekan bola mata.
5. Responden disuruh baca huruf dari kiri-ke kanan setiap baris kartu Snellen atau dimulai baris teratas atau huruf yang paling besar sampai huruf terkecil (baris yang tertera angka 20/20).
6. Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf kurang dari setengah baris/ maka yang dicatat ialah baris yang tertera angka di atasnya. 7. Bila dalam baris tersebut responden dapat membaca huruf setengah baris
Pemeriksaan Tajam Penglihatan dengan hitung jari:
1. Bila responden belum dapat melihat huruf terbesar dari kartu Snellen maka mulai hitung pada jarak 3 meter (tulis 3/60).
2. Bila belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 2/60), bila belum terlihat maju 1 meter (tulis 1/60). Bila belum juga terlihat maka lakukan lambaikan tangan pada jarak 1 meter (tulis 1/300).
3. Lambaian tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan apakah responden dapat melihat sinar senter (tulis 1/-).
4. Bila tidak dapat melihat sinar disebut buta total (tulis 00/000). 2.3 Aktivitas Hidup Sehari-hari
2.3.1 Pengertian Aktivitas Hidup Sehari-hari
Aktivitas sehari-hari merupakan semua kegiatan yang dilakukan oleh lanjut usia setiap hari. Aktivitas ini dilakukan tidak melalui upaya atau usaha keras. Aktifitas tersebut dapat berupa mandi, berpakaian, makan, atau melakukan mobilisasi (Luekenotte, 2000). Seiring dengan proses penuaan maka terjadi berbagai kemunduruan kemampuan dalam beraktifitas karena adanya kemunduran kemampuan fisik, penglihatan dan pendengaran sehingga terkadang seorang lanjut usia membutuhkan alat bantu untuk mempermudah dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari tersebut (Stanley, 2006).
2.3.2 Manfaat Aktivitas Hidup Sehari-hari pada Lansia
Adapun manfaat aktivitas hidup sehari-hari pada lansia adalah:
a. Meningkatkan kemampuan dan kemauan seksual lansia. Terdapat banyak faktor yang dapat membatasi dorongan dan kemauan seksualpada lanjut usia khususnya pria. Sejumlah masalah organik danjantung serta sistem peredaran darah, sistem kelenjar dan hormon serta sistem saraf dapat menurunkan kapasitas dan gairah seks (Bandiyah,2009).
b. Kulit tidak cepat keriput atau menghambat proses penuaan.
c. Meningkatkan keelastisan tulang sehingga tulang tidak mudah patah. d. Menghambat pengecilan otot dan mempertahankan atau mengurangi
kecepatan penurunan kekuatan otot. Pembatasan atas linkup gerak sendi banyak terjadi pada lanjut usia, yang sering terjadi akibat keketatan/kekakuan otot dan tendon dibanding sebagai akibat kontraktur sendi.
e. Self efficacy (keberdayagunaan mandiri) yaitu suatu istilah untuk
menggambarkan rasa percaya diri atas keamanan dalam melakukan aktivitas. Dengan keberdayagunaan mandiri ini seorang lanjut usia mempunyai keberanian dalam melakukan aktivitas atau olah raga (Darmojo, 2006).
2.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Hidup Sehari-hari
Kemp dan Mitchel (dalam Blackburn dan Dulmus, 2007) menyebutkan bahwa aktivitas sehari-hari pada lansia dipengaruhi olehdepresi. Kemp dan Mitchel juga menyebutkan kemampuan aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan ketakutan, kemarahan, kecemasan, penolakan dan ketidakpastian (Potter, 2005).
a. Faktor-faktor dari dalam diri sendiri 1) Umur
Mobilitas dan aktivitas sehari-hari adalah hal yang paling vital bagi kesehatan total lansia. Perubahan normal muskuloskelatal terkait usia pada lansia termasuk penurunan tinggi badan, redistribusi massa otot dan lemak subkutan, peningkatan porositas tulang, atrofi otot, pergerakan yang lambat, pengurangan kekuatan dan kekakuan sendi-sendi yang menyebabkan perubahan penampilan, kelemahan dan lambatnya pergerakan yang menyertai penuaan (Stanly dan Beare, 2007).
2) Kesehatan Fisiologis
Kesehatan fisiologis seseorang dapat mempengaruhi kemampuan partisipasi dalam aktifitas sehari-hari, sebagai contoh sistem nervous menggumpulkan dan menghantarkan, danmengelola informasi dari lingkungan. Sistem muskuluskoletal mengkoordinasikan dengan sistem nervous sehingga seseorang dapat merespon sensori yang masuk dengan cara melakukan gerakan.
3) Fungsi Kognitif
Kognitif adalah kemampuan berfikir dan memberi rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan (Keliat,1995). Tingkat fungsi kognitif dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Fungsi kognitif menunjukkan proses menerima, mengorganisasikan dan menginterpestasikan sensor stimulus untuk berfikir dan menyelesaikan masalah. Proses mental memberikan kontribusi pada fungsi kognitif yang meliputiperhatian memori, dan kecerdasan. Gangguan pada aspek-aspek dari fungsi kognitif dapat mengganggu dalam berfikir logis dan menghambat kemandirian dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.
4) Fungsi Psikologis
Fungsi psikologis menunjukkan kemampuan seseorang untuk mengingat sesuatu hal yang lalu dan menampilkan informasi pada suatu cara yang realistik. Proses ini meliputi interaksi yang komplek antara perilaku interpersonal dan interpersonal. Kebutuhan psikologis berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang. Meskipun seseorang sudah terpenuhi kebutuhan materialnya, tetapi bila kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, maka dapat mengakibatkan dirinya merasa tidak senang dengankehidupanya, sehingga kebutuhan psikologi harus terpenuhi agar kehidupan emosionalnya menjadi stabil (Tamher, 2009).
5) Tingkat Stres
Stres merupakan respon fisik non spesifik terhadap berbagai macam kebutuhan. Faktor yang menyebabkan stres disebut stressor, dapat timbul dari tubuh atau lingkungan dan dapat mengganggu keseimbangan tubuh. Stres dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Stres dapat mempunyai efek negatif atau positif pada kemampuan seseorang memenuhi aktifitas sehari-hari (Miller, 1995). b. Faktor-faktor dari luar meliputi :
1) Lingkungan Keluarga
Keluarga masih merupakan tempat berlindung yang paling disukai para lanjut usia. Lanjut usia merupakan kelompok lansia yang rentan masalah, baik masalah ekonomi, sosial, budaya,kesehatan maupun psikologis, oleh karenanya agar lansia tetap sehat, sejahtera dan bermanfaat, perlu didukung oleh lingkungan yang konduktif seperti keluarga. Budaya tiga generasi (orang tua, anak dan cucu) di bawahsatu atap makin sulit dipertahankan, karena ukuran rumah didaerah perkotaan yang sempit, sehigga kurang memungkinkan para lanjut usia tinggal bersama anak (Hardywinoto, 2005).
Sifat dari perubahan sosial yang mengikuti kehilangan orang yang dicintai tergantung pada jenis hubungan dan definisi peran sosial dalam suatu hubungan keluarga. Selain rasa sakit psikologi mendalam, seseorang yang berduka harus sering belajar
keterampilan dan peran baru untuk mengelola tugas hidup yangbaru, dengan perubahan sosial ini terjadi pada saat penarikan, kurangnya minat kegiatan, tindakan yang sangat sulit. Sosialisasi dan pola interaksi juga berubah. Tetapi bagi orang lain yang memiliki dukungan keluarga yang kuat dan mapan, pola interaksi independent maka proses perasaan kehilangan atau kesepian akan terjadi lebih cepat, sehingga seseorang tersebut lebih mudah untuk mengurangi rasa kehilangan dan kesepian (Lueckenotte, 2000).
2) Lingkungan Tempat Kerja
Kerja sangat mempengaruhi keadaan diri dalam mereka bekerja, karena setiaap kali seseorang bekerja maka ia memasuki situasi lingkungan tempat yang ia kerjakan. Tempat yang nyaman akan membawa seseorang mendorong untuk bekerja dengan senang dan giat.
3) Ritme Biologi
Waktu ritme biologi dikenal sebagai irama biologi, yang mempengaruhi fungsi hidup manusia. Irama biologi membantu mahluk hidup mengatur lingkungan fisik disekitarnya. Misalnya cuaca yang mempengaruhi aktifitas sehar-hari.
2.3.4. Indeks Barthel
Indeks barthel (modifikasi Collin C, Wade DT) adalah suatu alat/ instrument ukur status fungsional dasar berupa kuisioner yang berisi atas 10 butir pertanyaan terdiri atas mengendalikan rangsang buang air besar, mengendalikan rangsang buang air kecil, membersihkan diri (memasang gigi palsu, sikat gigi, sisir rambut, bercukur, cuci muka), penggunaan toilet-masuk dan keluar WC (melepas, memakai celana, membersihkan/ menyeka, menyiram), makan, berpindah posisi dari tempat tidur ke kursi dan sebaliknya, mobilitas/ berjalan, berpakaian, naik-turun tangga dan mandi. Dengan skor antara 0 – 20. Skor 20 = mandiri, skor 12 – 19 = ketergantungan ringan, skor 9 – 11 = ketergantungan sedang, skor 5 – 8 = ketergantungan berat, skor 0 – 4 = ketergantungan total.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Agung (2006) kuisioner ADL Barthel merupakan instrumen ukur yang andal dan sahih serta dapat digunakan untuk mengukur status fungsional dasar usia lanjut Indonesia. Indeks Barthel digunakan untuk mengukur status fungsional dasar lansia, karena kemampuannya menilai ketidakmampuan fisik lansia.
Tabel 2.1 Indeks Barthel dalam pemenuhan kebutuhan Sehari-hari
No. Aktivitas Kemampuan Skor
1. Mengendalikan rangsang buang air besar (BAB)
Tidak terkendali/ tidak teratur Kadangkala tidak terkendali (1xseminggu) Terkendali teratur 0 1 2 2. Mengendalikan rangsang
berkemih (BAK) Tidak terkendali/ menggunakan kateter Kadangkala tidak terkendali(1x24 jam) Terkendali teratur 0 1 2 3. Membersihkan diri (muka,
sisir rambut, sikat gigi, bercukur, cuci muka)
Membutuhkan bantuan orang lain
Mandiri
0 1 4. Penggunaan toilet Tergantung perlu pertolongan
orang lain
Perlu bantuan pada beberapa aktivitas
Mandiri
0 1 2
5. Makan Tidak mampu
Perlu dibantu memotong makanan
Mandiri
0 1 2 6. Berpindah posisi dari
tempat tidur ke kursi dan sebaliknya
Tidak mampu
Perlu bantuan dua orang Perlu bantuan satu orang Mandiri
0 1 2 3 7. Mobilitas/ berjalan Tidak mampu
Mobilitas dengan kursi roda Berjalan dengan bantuan satu orang Mandiri 0 1 2 3 8. Berpakaian Tergantung orang lain
Sebagian dibantu orang lain Mandiri
0 1 2 9. Naik turun tangga Tidak mampu
Perlu pertolongan orang lain Mandiri
0 1 2 10 Mandi Tergantung orang lain
Mandiri
0 1 Skor Total (0–20)