• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejadian Luar Biasa Nindi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kejadian Luar Biasa Nindi"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KEJADIAN LUAR BIASA

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar belakang

Indonesia merupakan Negara yang masih memiliki angka kejadian luar biasa (KLB)

penyakit menular dan keracunan yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan perlunya

peningkatan sistem kewaspadaan dini dan respon terhadap KLB tersebut dengan

langkah-langkah yang terprogram dan akurat, sehingga proses penanggulangannya menjadi lebih

cepat dan akurat pula. Untuk dapat mewujudkan respon KLB yang cepat, diperlukan bekal

pengetahuan dan keterampilan yang cukup dari para petugas yang diterjunkan ke lapangan.

Kenyataan tersebut mendorong kebutuhan para petugas di lapangan untuk memiliki pedoman

penyelidikan dan penanggulangan KLB yang terstruktur, sehingga memudahkan kinerja para

petugas mengambil langkah-langkah dalam rangka melakukan respon KLB.

Undang-Undang No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular serta PP No. 40

tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular mengatur agar setiap wabah

penyakit menular atau situasi yang dapat mengarah ke wabah penyakit menular (kejadian luar

biasa - KLB) harus ditangani secara dini. Sebagai acuan pelaksanaan teknis telah diterbitkan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit

Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Dalam

pasal 14 Permenkes Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010 disebutkan bahwa upaya

penanggulangan KLB dilakukan secara dini kurang dari 24 (dua puluh empat) jam terhitung

sejak terjadinya KLB. Oleh karena itu disusun Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan

Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular dan Keracunan Pangan sebagai pedoman bagi

pelaksana baik di pusat maupun di daerah. Diperlukan program yang terarah dan sistematis,

yang mengatur secara jelas peran dan tanggung jawab di semua tingkat administrasi, baik di

daerah maupun di tingkat nasional dalam penanggulangan KLB di lapangan, sehingga dalam

pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang optimal

B.

Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :

a.

Apa definisi kejadian luar biasa ?

b.

Bagaimana karakteristik penyakit yang berpotensi terjadi KLB ?

(2)

d.

Bagaimana penyidikan KLB ?

e.

Bagaimana pelaporan kejadian luar biasa ?

C.

Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :

a.

Untuk mengetahui definisi kejadian luar biasa.

b.

Untuk mengetahui karakteristik penyakit yang berpotensi terjadi KLB.

c.

Untuk mengetahui penanggulangan KLB dan prosedurnya.

d.

Untuk mengetahui penyidikan KLB.

e.

Untuk mengetahui penyusunan laporan kejadian luar biasa.

BAB II

PEMBAHASAN

A.

Definisi kejadian luar biasa (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk

mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit.

Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau

meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada

suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta

Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan

segera dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan

bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang

jumlah penderita nyameningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu

dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi

(3)

wabah secarad ini, dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih

dini terhadap kejadian wabah. Tetapi kelemahan dari system ini adalah penentuan penyakit

didasarkan atas hasil pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat

diantisipasi (Sidemen A., 2003).

Badan Litbangkes berkerjasama dengan Namru telah mengembangkan suatu system

surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan

Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu system

jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita

adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia kepusat EWORS secara

cepat (BadanLitbangkes, Depkes RI). Melalui system ini peningkatan dan penyebaran kasus

dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan

sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal

menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit,

tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen

A., 2003).

7 (tujuh) Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010

adalah :

a.

Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal

pada suatu daerah.

b.

Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam,hari

atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

c.

Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya

dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya.

d.

Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan duakali

atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan dalam tahun sebelumnya.

e.

Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan

dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan perbulan pada

tahun sebelumnya.

f.

Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)kurun waktu

tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan

angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

g.

Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan

kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang

sama.

(4)

B.

Karakteristik Penyakit yang berpotensi KLB

a.

Penyakit yang terindikasi mengalami peningkatan kasus secara cepat.

b.

Merupakan penyakit menular dan termasuk juga kejadian keracunan.

c.

Mempunyai masa inkubasi yang cepat.

d.

Terjadi di daerah dengan padat hunian.

C.

Penyakit-Penyakit Berpotensi Wabah/KLB

a.

Penyakit karantina/penyakit wabah penting: Kholera, Pes, Yellow Fever.

b.

Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat/mempunyai mortalitas tinggi

& penyakit yang masuk program eradikasi/eliminasi dan memerlukan tindakan segera :

DHF,Campak,Rabies, Tetanus neonatorum, Diare, Pertusis, Poliomyelitis.

c.

Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting : Malaria, Frambosia,

Influenza, Anthrax, Hepatitis, Typhus abdominalis, Meningitis, Keracunan, Encephalitis,

Tetanus.

d.

tidak berpotensi wabah dan atau KLB, tetapi Penyakit-penyakit menular yang masuk

program : Kecacingan, Kusta, Tuberkulosa, Syphilis, Gonorrhoe, Filariasis, dll.

D.

Penggolongan KLB berdasarkan sumber

a.

Sumber dari manusia : jalan nafas, tenggorokan, tinja, tangan, urine, dan muntahan. Seperti :

Salmonella, Shigela, Staphylococus, Streptoccocus, Protozoa, Virus Hepatitis.

b.

Sumber dari kegiatan manusia : penyemprotan (penyemprotan pestisida), pencemaran

lingkungan,penangkapan ikan dengan racun, toxin biologis dan kimia.

c.

Sumber dari binatang : binatang piaraan, ikan dan binatang pengerat.

d.

Sumber dari serangga : lalat (pada makanan) dan kecoa. Misalnya : Salmonella,

Staphylococus, Streptoccocus.

e.

Sumber dari udara, air, makanan atau minuman (keracunan). Dari udara, misalnya

Staphylococus, Streptoccocus, Virus, Pencemaran Udara. Pada air, misalnya Vibrio cholerae,

Salmonella. Sedangkan pada makanan, misalnya keracunan singkong, jamur, makan dalam

kaleng.

E.

Penanggulangan KLB

Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani penderita,

mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian baru pada suatu

KLB yang sedang terjadi.

(5)

Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB),

yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini

dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa

pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada

yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan

yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi

terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul

dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh

tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002).Upaya penanggulangan KLB yaitu :

a.

Penyelidikan epidemilogis.

b.

Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk tindakan karantina.

c.

Pencegahan dan pengendalian.

d.

Pemusnahan penyebab penyakit.

e.

Penanganan jenazah akibat wabah.

f.

Penyuluhan kepada masyarakat.

g.

Upaya penanggulangan lainnya.

Indikator keberhasilan penanggulangan KLB

a.

Menurunnya frekuensi KLB.

b.

Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB.

c.

Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB.

d.

Memendeknya periode KLB.

e.

Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB.

F.

Penyidikan KLB

Penyidikan KLB (Kejadian Luar Biasa) meliputi :

a.

Dilaksanakan pada saat pertama kali mendapatkan informasi adanya KLB atau dugaan KLB.

b.

Penyelidikan perkembangan KLB atau penyelidikan KLB lanjutan.

c.

Penyelidikan KLB untuk mendapatkan data epidemiologi KLB atau penelitian lainnya yang

dilaksanakan sesudah KLB berakhir.

Tujuan umum Penyidikan KLB yaitu mencegah meluasnya kejadian (penanggulangan)

dan mencegah terulangnya KLB dimasa yang akan datang (pengendalian). Sedangkan tujuan

khusus Penyidikan KLB yaitu diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab

penyakit, memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB, mengidentifikasi sumber

(6)

dan cara penularan, mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB, dan mengidentifikasi

populasi yang rentan atau daerah yang beresiko akan terjadi KLB.

Langkah-langkah Penyidikan KLB :

a.

Persiapan penelitian lapangan.

b.

Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB.

c.

Memastikan diagnosis Etiologis.

d.

Mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan.

e.

Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat.

f.

Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan).

g.

Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran.

h.

Mengidentifikasi keadaan penyebab KLB.

i.

Merencanakan penelitian lain yang sistematis.

j.

Menetapkan saran cara pencegahan atau penanggulangan.

k.

Menetapkan sistem penemuan kasus baru atau kasus dengan komplikan.

l.

Melaporkan hasil penyidikan kepada instansi kesehatan setempat dan kepala sistim

pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.

G.

Penetapan KLB

Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah

berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik), pada populasi yang

dianggap berisiko, pada tempat dan waktu tertentu.Dalam membandingkan insidensi penyakit

berdasarkan waktu harus diingat bahwa beberapa penyakit dalam keadaan biasa (endemis)

dapat bervariasi menurut waktu (pola temporal penyakit).

Khusus untuk penyakit-penyakit Kholera, Cacar, Pes, DHF/DSS.Setiap peningkatan

jumlah penderita-penderita penyakit tersebut dia dua di suatu daerah endemis. Serta

terdapatnya satu atau lebih penderita atau kematian karena suatu penyakit, pada suatu

kecamatan yang telah bebas dari penyakit-penyakit, paling sedikit bebas selama 4 minggu

berturut-turut.

H.

Laporan Kewaspadaan

Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita atau tersangka penderita. Isi

laporan kewaspadaan meliputi nama penderita atau yang meninggal, golongan umur, tempat

atau alamat kejadian, waktu kejadian, dan jumlah yang sakit atau meninggal. Laporan

kewaspadaan disampaikan oleh :

(7)

a.

Orang tua penderita atau tersangka penderita, orang dewasa yang tinggal serumah dengan

penderita, orang dewasa yang tinggal serumah dengan penderita atau tersangka penderita,

kepala keluarga, ketua rukun tetangga, ketua rukun warga atau rukun kampung atau kepala

dukuh.

b.

Dokter atau petugas kesehatan yang memeriksa penderita, dokter hewan yang memeriksa

hewan tersangka.

c.

Kepala stasiun Kereta Api, kepala asrama, kepala sekolah, dan pimpinan perusahaan.

d.

Nahkoda kendaraan air atau udara..

I.

Tim penanggulangan KLB

Tim penanggulangan KLB meliputi :

a.

Terdiri dari multi disiplin atau multi lintas sektor, bekerjasama dalam penanggulangan KLB.

b.

Salah satu anggota tim kesehatan adalah perawat (sebagai anggota masyarakat maupun

sebagai petugas disarana kesehatan).

c.

Perawat dapat terlibat langsung di Puskesmas atau Rumah sakit.

J.

Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah.

1.

Masa pra KLB

Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan

Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh lainnya :

a.

Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistic

b.

Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.

c.

Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat

d.

Memperbaiki kerja laboratorium

e.

Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Tim Gerak Cepat (TGC) : Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan

pengamatan dan penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas

atau data penyelidikan epideomologis.

2.

Pengendalian KLB

Tindakan pengendalian KLB meliputi pencegahan terjadinya KLB pada populasi, tempat

dan waktu yang berisiko (Bres, 1986). Dengan demikian untuk pengendalian KLB selain

(8)

diketahuinya etiologi, sumber dan cara penularan penyakit masih diperlukan informasi lain.

Informasi tersebut meliputi :

a.

Keadaan penyebab KLB

b.

Kecenderungan jangka panjang penyakit

c.

Daerah yang berisiko untuk terjadi KLB (tempat)

d.

Populasi yang berisiko (orang, keadaan imunitas)

3.

Penyusunan laporan KLB

Hasil penyelidikan epidemiologi hendaknya dilaporkan kepada pihak yang berwenang

baik secara lisan maupun secara tertulis.Laporan secara lisan kepada instansi kesehatan

setempat berguna agar tindakan penanggulangan dan pengendalian KLB yang disarankan

dapat dilaksanakan.Laporan tertulis diperlukan diperlukan agar pengalaman dan hasil

penyelidikan epidemiologi dapat dipergunakan untuk merancang dan mereapkan

teknik-teknik sistim surveilans yang lebih baik atau dipergunakan untuk memperbaiki program

kesehatan serta dapat dipergunakan untuk penanggulangan atau pengendalian KLB.

BAB III

PENUTUP

A.

Kesimpulan

(9)

1.

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk

mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit.

2.

Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani penderita,

mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian baru pada suatu

KLB yang sedang terjadi.

3.

Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang

dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini

dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB.

4.

Tujuan umum Penyidikan KLB yaitu mencegah meluasnya kejadian (penanggulangan) dan

mencegah terulangnya KLB dimasa yang akan datang (pengendalian).

5.

Tujuan khusus Penyidikan KLB yaitu diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi

penyebab penyakit, memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB, dll.

http://decha-ariani.blogspot.com/2013/07/kejadian-luar-biasa.html

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penyakit campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang banyak menyerang anak-anak. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian. Sangat diperlukan wawasan mengenai penyakit ini agar masyarakat dapat segera mengenalinya saaat terjadi penyakit ini. Oleh karena itu, kami menyusun makalah yang berjudul “Penyakit Campak” yang akan membahas berbagai masalah mengenai penyakit campak.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah penyakit campak itu? 2. Bagaimana gejala penyakit campak? 3. Bagaimana penularan penyakit campak? 4. Bagaimana pencegahan penyakit campak? 5. Bagaimana perawatan penderita campak?

6. Apa saja tahapan pemberantasan penyakit campak? C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui tentang penyakit campak.

2. Mengetahui gejala-gejala pada penyakit campak. 3. Mengetahui cara penularan penyakit campak. 4. Mengetahui cara pencegahan penyakit campak. 5. Mengetahui cara perawatan penderita campak.

6. Mengetahui tahapan pemberantasan penyakit campak. D. Manfaat Penulisan

(10)

1. Menambah wawasan, baik penulis maupun pembaca mengenai penyakit campak. 2. Menambah wawasan mengenai pencegahan penyakit campak.

3. Menambah wawasan mengenai penanganan kasus campak. BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit Campak

“Tampek merupakan bahasa Jawa namun istilah Indonesianya adalah campak. Sedangkan orang dari Irian menyebutnya serampah. Dalam bahasa latin disebut sebagai morbili atau rubeolla. Sementara dalam bahasa Inggris, measles,” tutur spesialis anak dari RS MH Thamrin Internasional, Jakarta, dr. Asti Praborini, SpA.

Menurut Soegijanto (2008) penyakit campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus penyakit campak yang sangat menular pada anak-anak. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus, genus morbili. Penyakit ini cukup berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian. Kejadian mengenai penyakit ini sangat berkaitan dengan keberhasilan program imunisasi campak.

Campak merupakan penyakit serius yang mudah ditularkan melalui udara. Tingkat penularan infeksi campak sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa). Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak.

Penyakit ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya dan diketahui bahwa seseorang hanya akan terkena penyakit ini sekali seumur hidup. Sesuai dengan sifat alami penyakit campak yang

monotipik, yaitu hanya terdiri dari satu tipe saja, setelah pemberian imunisasi campak seharusnya seorang anak akan kebal seumur hidup. Namun ada beberapa kasus mengenai anak yang dinyatakan terkena penyakit campak oleh dokter, padahal orang tuanya telah melakukan imunisasi campak pada anak tersebut.

Dengan kemajuan teknologi mutakhir dibidang biologi molekuler, yaitu dengan ditemukannya alat untuk menentukan urutan DNA (DNA sequencing), ternyata walaupun virus campak bersifat

monotipik, tapi ternyata terdiri dari beberapa genotip (yaitu keadaan genetik dari suatu individu sel atau organisme). Sampai saat ini, WHO telah mendapatkan 24 genotip campak diseluruh dunia, dan ada 3 genotip di Indonesia, yaitu genotip G2, G3 dan D9. Dengan pendekatan epidemiologi

molekuler, dapat diketahui bagaimana penyebaran virus campak dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu negara ke negara lain (mobilization of population).

Pada suatu penelitian yang telah dilakukan, ditemukan ada 2 genotip di pulau Jawa, yaitu genotip G3 dan D9. Dengan adanya 2 genotip ini, dapat menerangkan mengapa seorang anak yang telah terkena campak, dapat terkena campak lagi bila dia terinfeksi dengan virus campak dari genotip lainnya. B. Gejala Penyakit Campak

Masa inkubasi penyakit campak berlangsung sekitar 10-12 hari, pada tahap ini anak yang sakit belum memperlihatkan gejala dan tanda sakit.

Penampilan klinis penyakit campak dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu :

1. Fase pertama ( fase prodormal ) timbul gejala yang mirip dengan penyakit flu, seperti tubuh terasa demam dan menggigil dengan suhu 38-40 derajat Celcius, lelah, batuk, hidung beringus, mata merah berair dan sakit, pada mulut muncul bintik putih (bercak Koplik) dan kadang disertai mencret. Bercak Koplik ini berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum, dikelilingi oleh eritema, dan berlokalisasi di mukosa mulut.Bercak ini biasanya muncul menjelang akhir stadium kataral (prodomal) dan 24 jam

(11)

sebelum timbul enantem.

2. Fase kedua ( fase erupsi ), ditandai dengan munculnya bercak merah dan gatal seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Ruam tersebut mulai dari belakang telinga, leher, dada, muka, tangan, kaki. Biasanya bercak menyebar hingga seluruh tubuh dalam waktu 4-7 hari. Bila bercak merah sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya.

3. Fase ketiga (fase konvalesens), bercak merah ini makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang butuh waktu sampai 2 minggu.

Sampai sepertiga penderita campak mengalami komplikasi, yang termasuk infeksi telinga, diare dan pneumonia, dan mungkin memerlukan rawat inap. Kira-kira satu dari setiap 1000 penderita campak terkena ensefalitis (pembengkakan otak). Biasanya komplikasi terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun dan anak-anak dengan gizi buruk.

Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.

Beberapa komplikasi yang mungkin timbul diantaranya : 1. Laringitis akut

Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai dengan distres pernafasan, sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.

2. Bronkopneumonia

Dapat disebabkan oleh virus campak maupun infeksi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanya ronki basah halus. Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus.

Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik.

3. Kejang Demam

Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam.

4. Ensefalitis

Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah timbulnya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1000 kasus campak, dengan mortalitas antara 30-40%. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak.

Gejala ensefalitis dapat berupa kejang, letargi (keadaan lemah, tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan), koma dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas meningkat, twitching, disorientasi juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan

(12)

predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan kadar glukosa dalam batas normal.

5. Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)

SSPE merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah menderita campak adalah 0.6-2.2 per 100.000 infeksi campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan masa inkubasi rata-rata 7 tahun.

Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan.

6. Enteritis

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein (protein losing enteropathy).

C. Penularan Penyakit Campak

Penyebaran virus campak maksimal adalah melalui percikan ludah (droplet) dari mulut selama masa prodormal (stadium kataral). Penularan terhadap penderita rentan sering terjadi sebelum diagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan, pada beberapa keadaan dapat menularkan hari ke 7. Virus campak ini dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lender tenggorokan, hidung, dan saluran pernafasan.

Campak merupakan salah satu infeksi manusia yang paling mudah ditularkan. Berada di dalam kamar yang sama saja dengan seorang penderita campak dapat mengakibatkan infeksi.

Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul. Waktu dari eksposur sampai jatuh sakit biasanya adalah 10 hari. Ruam biasanya timbul kirakira 14 hari setelah eksposur. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.

D. Pencegahan Penyakit Campak

1. Menghindari kontak dengan penderita. 2. Menjaga kebersihan lingkungan. 3. Menjaga daya tahan tubuh.

Rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, dan istirahat yang cukup. 4. Imunisasi campak.

Imunisasi campak adalah salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah bagi balita. Vaksin campak dapat diberikan saat anak berusia 9 bulan atau lebih. Walaupun vaksinasi Campak tidak menghindarkan 100% si anak dari campak di kemudian hari, namun anak yang telah divaksinasi umumnya memiliki gejala dan komplikasi yang ringan jika terkena kedua penyakit tersebut kelak. Jadi vaksinasi masih merupakan pendekatan penting bagi penanganan primer dari penyakit campak, khususnya bagi anak.

Imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering kombinasi dengan vaksin gondong dan rubella. Kemasan ini dikenal dengan

(13)

nama vaksin MMR (Measles-Mumps-Rubella). Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonstone B) dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminiun). Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat.

Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1.100 TCID-50 atau sebanyak 0.5 ml. Tetapi dalam hal vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID-50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan (penyuntikan di bawah kulit), walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara intramuscular (penyuntikan ke dalam otot rangka, sejauh mungkin dengan syaraf utama) tampaknya mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan.

Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif, dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal. Penelitian terbaru menunjukkan bayi rentan terhadap penyakit campak saat berusia 2-3 bulan hingga mendapatkan imunisasi pertamanya, karena kekebalan tubuh yang didapat dari ibunya sudah berkurang.

Penelitian ini berdasarkan catatan medis dari 207 perempuan sehat dan bayinya di lima rumah sakit Belgia pada tahun 2006. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan secara online pada 18 Mei 2010 dalam British Medical Journal (BMJ). Berdasarkan penelitian ini diketahui perempuan yang telah tertular penyakit campak dalam kehidupannya menjadi lebih kebal dan bisa memberikan perlindungan lebih pada bayinya, dibandingkan dengan perempuan yang telah divaksinasi tapi belum pernah terkena penyakit ini.

Tapi perlindungan yang berasal dari ibu hanya berlangsung pada bulan pertama hingga ke empat untuk semua perempuan sehingga perlu untuk dilakukan imunisasi campak.

Program imunisasi campak di Indonesia dimulai tahun 1982, dan pada tahun 1991 Indonesia telah mencapai imunisasi dasar lengkap (Universal Child Immunization=UCI) secara nasional; meskipun demikian masih ada beberapa daerah yang cakupan imunisasi campaknya masih rendah sehingga sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

(14)

Tabel pemberian imunisasi pada bayi

Vaksin harus diupayakan agar tidak menimbulkan efek samping yang berat, dan jauh lebih ringan dari gejala klinis penyakit secara alami. Pada kenyataannya tidak ada vaksin yang benar-benar ideal, namun dengan kemajuan teknologi saat ini telah dapat dibuat vaksin yang efektif dan relative aman. Reaksi simpang dikenal sebagai kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization. KIPI ini adalah kejadian medic yang berhubungan dengan imunisasi, baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kasual yang tidak dapat ditentukan. Dibawah ini merupakan table gejala klinis :

Untuk efek samping atau KIPI dari vaksin MMR berupa :

a. Demam lebih dari 39,5 derajat Celcius yang terjadi pada 5% - 15% kasus, demam dijumpai pada hari ke-5 samapi ke-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari.

b. Kejang demam.

c. Ruam timbul pada hari ke-7 sampai ke-10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. d. Memar karena berkurangnya trombosit.

e. Infeksi virus campak pada imunodefisiensi, seperti penderita HIV.

f. Reaksi KIPI berat dapat menyerang system syaraf, yang reaksinya diperkirakan muncul pada hari ke-30 sesudah imunsasi.

(15)

a. Terjadi mendadak

b. Gejala klasik : kemerahan merata, edem

c. Urtikaria, sembab pada kelopak mata, sesak, nafas berbunyi d. Jantung berdebar kencang

e. Tekanan darah menurun f. Anak pingsan / tidak sadar

g. Dapat pula terjadi langsung berupa tekanan darah menurun dan pingsan tanpa didahului oleh gejala lain.

Tindakan untuk syok anafilaktik :

a. Suntikan adrenalin 1:1000, dosis 0,1 – 0,3 ml, sk/im

b. Jika pasien membaik dan stabil dilanjutkan dengan suntikan deksametason (1 ampul) secara intravena/intramaskular.

c. Segera pasang infuse NaCl 0,9% d. Rujuk ke Rumah Sakit terdekat.

E. Pengobatan dan Perawatan Penderita Penyakit Campak

Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campak dirawat di bangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan

perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila terdapat malnutrisi diberikan 1500 IU tiap hari. Apabila terdapat penyulit, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit yang timbul, yaitu: 1. Bronkopneumonia

Diberikan antibiotik ampisillin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin biasanya negatif (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hipersensitivity disebabkan oleh sel limfosit-T yang terganggu fungsinya.

2. Enteritis

Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis + dehidrasi.

3. Ensefalopati/Ensefalitis

Perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga ¾ kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid berupa deksametason 1 mg/kg/hari sebagai dosis awal

dilanjutkan 0.5 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off). Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah. Selain itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam perawatan penderita campak, yaitu : 1. Penderita infeksi campak biasanya dinasihati untuk beristirahat, minum banyak cairan dan minum parasetamol untuk merawat demam.

2. Vitamin A dengan dosis tertentu sesuai usia anak juga dapat diberikan untuk meringankan perjalanan penyakit campak agar tidak menjadi parah.

3. Tempatkan penderita campak dalam kamar yang terpisah selama masa penularan.

(16)

panas, anak yang menderita campak tidak perlu dimandikan. Cukup bersihkan dengan handuk yang dibasahi air hangat.

5. Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.

6. Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter. F. Tahapan Pemberantasan Penyakit Campak

Pemberantasan campak meliputi beberapa tahapan, dengan criteria pada tiap tahap yang berbeda-beda.

1. Tahap Reduksi

Tahap reduksi penyakit campak dibagi dalam 2 tahap, yaitu : a. Tahap Pengendalian Campak

Pada tahap ini terjadi penurunan kasus dan kematian, cakupan imunisasi sebesar 80%, dan interval terjadinya KLB berkisar antara 4-8 tahun.

b. Tahap Pencegahan KLB

Pada tahap ini cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, dan interval terjadinya KLB relative panjang.

Reduksi campak bertujuan menurunkan angka insidens campak sebesar 90% dan angka kematian campak sebesar 95% dari angka sebelum program imunisasi campak dilaksanakan. Di Indonesia, tahap reduksi campak diperkirakan dengan insiden menjadi 50/10.000 balita, dan kematian 2/10.000 (berdasarkan SKRT tahun 1982).

Pada TCG Meeting di Dakka tahun 1999, Indonesia sedang berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB. Reduksi campak mempunyai strategi yaitu:

a. Imunisasi Rutin 2 kali, pada bayi 9-11 bulan dan anak Sekolah Dasar Kelas I (belum dilaksanakan secara nasional) dan Imunisasi Tambahan atau Suplemen.

b. Surveilans Campak.

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus-menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008). Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001).

Surveilans penyakit campak dilakukan untuk menilai perkembangan program pemberantasan campak dan menentukan strategi pemberantasannya terutama di daerah.

Surveilans dalam reduksi campak di Indonesia masih belum sebaik surveilans eradikasi polio. Kendala utama yang dihadapi adalah, kelengkapan data/laporan rutin Rumah Sakit dan Puskesmas yang masih rendah, beberapa KLB campak yang tidak terlaporkan, pemantauan dini (SKD – KLB) campak pada desa-desa berpotensi KLB pada umumnya belum dilakukan dengan baik terutama di Puskesmas, belum semua unit pelayanan kesehatan baik Pemerintah maupun Swasta ikut

berkontribusi melaporkan bila menemukan campak. Dukungan dana yang belum memadai, terutama untuk melaksanakan aktif surveilans ke Rumah Sakit dan pengembangan surveilans

(17)

campak pada umumnya. Surveilans campak sangat penting untuk menilai perkembangan pemberantasan campak dan untuk menentukan strategi pemberantasannya di setiap daerah.

Tujuan khusus surveilans:

1) Memonitor kecenderungan (trends) penyakit

2) Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini

3) Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit disease burden) pada populasi 4) Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi program kesehatan

5) Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan

6) Mengidentifikasi kebutuhan riset (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002). c. Penyelidikan dan Penanggulangan KLB Manajemen Kasus

d. Pemeriksaan Laboratorium

Dalam upaya reduksi campak di Indonesia, secara epidemiologis ada 2 jenis wilayah rawan yang perlu penanganan khusus:

a. Reservoar : desa dengan kasus campak yang terjadi terus-menerus sepanjang tahun.

b. Kantong : kelompok sasaran yang masih rentan karena cakupan imunisasi campak rendah ( <80%) dalam 3 tahun terakhir. 2. Tahap Eliminasi Pada tahap eliminasi, cakupan imunisasi sudah sangat tinggi ( > 90%), dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai tidak terlindung (suspectible) harus diselidiki dan mendapat imunisasi tambahan.

3. Tahap Eradikasi

Pada tahap ini, cakupan imunisasi sudah tinggi dan merata, kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi virus sudah dapat diputus. Amerika Serikat merupakan salah satu Negara yang telah mencapai tahap eliminasi.

(18)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Penyakit campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Paramysovirus. Penyakit ini sangat mudah menular melalui udara. Penyakit ini berbahaya karena dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat pada kematian. Pencegahan penyakit ini sangat efektif dilakukan dengan vaksinasi campak sehingga orang yang telah disuntik memiliki kekebalan terhadap penyakit ini.

B. Saran

1. Masyarakat harus melakukan vaksinasi campak pada bayinya yang berusia 9 bulan agar terhindar dari penyakit campak.

2. Masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh dan membentuk pola hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Suharjo B., dkk. 2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Kanisius. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pedoman Pemantauan dan

Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Jakarta: Depkes RI.

Kerjasama Direktorat Jenderal PPM & PL Depkes RI dan PATH. 2005. Modul Pelatihan Safe Injection. Mansjoer, Arif M,, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta : Media

Aesculapius.

Muchlastriningsih, Enny. 2005. Kecenderungan Kasus Campak Selama Empat Tahun (1997-2000) di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran. No. 148: 35-36.

Panitia Pekan Imunisasi Nasional Tingkat Pusat. 1997. Petunjuk Teknis Imunisasi Campak. Priyono, Yunisa. 2010. Merawat Bayi Tanpa Baby Sitter. Yogyakarta: Medpress.

Setianingrum, Findra. 2010. Campak;Manifestasi Klinis-Tatalaksana. Artikel Imiah Kedokteran. (Online),

(http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/kulit/2010/11/27/campak-manifestasi-klinis-tatalaksana/ , diakses 13 Maret 2011). Setiati, Eni. 2009. Mengenal Penyakit Balita. Yogyakarta: Medika.

Supartini, Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Wijayakusuma, M. Hembing. 2008. Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit. Jakarta: Pustaka Bunda.

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah

Bencana alam dapat merupakan pemicu pemunculan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah campak, karena campak merupakan salah satu penyakit menular yang potensial menjadi KLB

Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia pada tahun 1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas, sehingga kejadian luar biasa

bahwa dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 338.1/Kpts/ PD.620/9/2005, telah ditetapkan pernyataan berjangkitnya wabah penyakit hewan

penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat..

Penyakit menular merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian besar, mengingat potensi munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah penyakit menular. Pada umumnya

Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia , pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu “kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam

Bencana alam dapat merupakan pemicu pemunculan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah campak, karena campak merupakan salah satu penyakit menular yang potensial menjadi KLB