• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Derajat Miopia pada Murid SMA di Kota Denganmurid SMA di Desa Tahun 2014 Chapter III VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Derajat Miopia pada Murid SMA di Kota Denganmurid SMA di Desa Tahun 2014 Chapter III VII"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

KERANGKA KONSEPSIONAL DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsepsional

Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan

dan mengarahkan asumsi mengenai elemen – elemen yang diteliti.

Berdasarkan dari rumusan masalah yang telah di paparkan dalam latar

belakang dan dari tinjauan kepustakaan yang ada, maka kerangka konsep

di gambarkan sebagai berikut :

Kerangka Konsep :

Derajat Miopia

SMA di kota dan di desa

- Jenis Kelamin - umur

- Riwayat anggota keluarga berkaca mata

- Riwayat mulai berkaca mata - Waktu membaca / mengerjakan

pekerjaan rumah ( PR ), menonton televisi ( TV),

(2)

3.2. Defenisi Operasional

1. Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar di

fokuskan di depan retina pada mata dalam keadaan istirahat tanpa

akomodasi.

2. Miopia ringan adalah kelainan refraksi yang masih dapat di koreksi

dengan spheris negatif dari 0,25 – 3.00 dioptri.

3. Miopia sedang adalah kelainan refraksi yang masih dapat di koreksi

dengan spheris negatif > 3.00 – 6.00 dioptri.

4. Miopia tinggi adalah kelainan refraksi yang masih dapat dikoreksi

dengan spheris negatif lebih tinggi dari 6.00 dioptri.

5. Jenis kelamin adalah laki – laki dan perempuan.

6. Umur adalah umur diatas14 tahun, dibawah 21 tahun.

7. Riwayat anggota keluarga yang berkaca mata adalah ayah , ibu,

kakak / adik.

8. Riwayat mulai berkaca mata adalah waktu duduk di bangku SD, SMP

dan SMA.

9. Waktu yang di habiskan untuk membaca (mengerjakan pekerjaan

rumah(PR), menonton televisi,handphone(HP) dan komputer sehari

(3)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian observasional dengan metode pengumpulan data secara

cross –sectional .

4.2. PEMILIHAN TEMPAT PENELITIAN

Penelitian dilakukan tanggal 1 sampai dengan tanggal 4 april 2014

di SMA Negeri 2 Kota Medan yang mewakili SMA di kota.dan SMA

Perguruan Istiqlal Deli Tua Kabupaten Deli Serdang mewakili SMA di

desa.

4.3. POPULASI

Populasi penelitian adalah seluruh murid SMA Negeri 2 Kota

Medan dan SMA Perguruan Istiqlal Deli Tua Kabupaten Deli Serdang

4.4. SAMPEL

Sampel penelitian adalah semua murid SMA Negeri 2 Medan dan

murid SMA Perguruan Istiqlal dengan diagnosa miopia yang di koreksi \

diperiksa di sekolah tahun 2014. Perhitungan besar sampel pada

penelitian ini di tentukan dengan rumus berikut:

(4)

0

P

= proporsi penderita myopia 0,261 (26,1 %)

a

P

= perkiraan proporsi penderita myopia sebesar = 0,10

a

P

P

0 = beda proporsi yang bermakna ditetapkan sebesar 0,361 Maka sampel minimal untuk penelitian ini sebanyak 218 penderita myopia.

4.5. Kriteria Inklusi Dan Eksklusi Kriteria inklusi

1. Penderita miopia ringan, miopia sedang, dan miopia tinggi.

2. Visus dengan koreksi terbaik 6 /6.

3. Tidak menderita penyakit mata lainnya.

Kriteria eksklusi

1. Penderita miopia ringan, sedang dan tinggi di sertai astigma tisma.

2. Penderita miopia dengan glaucoma.

3. Penderita miopia dengan kelainan posisi bola mata.

4. Penderita miopia yang menderita penyakit infeksi pada mata.

4.6 Identifikasi Variabel

Variabel terikat adalah penderita miopia.

Variabel bebas adalah :

• Miopia ringan.

• Miopia sedang.

• Miopia tinggi.

4.7 Bahan Dan Alat

Bahan dan alat yang di gunakan dalam penelitian ini adalah:

- Snellen Chart, Trial Lens

- Kertas

- Pulpen

- Pensil

- Penghapus

(5)

4.8 Cara Kerja

Pencatatan identitas semua murid SMA Negeri 2 Medan dan murid

SMA Perguruan Swasta Istiqlal yang memenuhi kriteria pemilihan sampel.

4.9 Analisis Data

Analisa data di lakukan secara Deskriptif dan di sajikan dalam

bentuk tabulasi data

4.10 Personalia Penelitian Peneliti : Vera Avliwani

4.11 Pertimbangan Etika

Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh rapat bagian Ilmu

Kesehatan Mata FK-USU/ RS H. Adam Malik Medan. Penelitian ini

kemudian di ajukan untuk di setujui oleh rapat komite etika PPKRM

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Populasi

Sampel

Derajat Miopia

Uji Anova

(6)

BAB V

HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada tanggal 1 April 2014 sampai dengan

4 April 2014. Bertempat di SMA Negeri 2 Medan ( kota ) dan SMA

Swasta Perguruan Istiqlal Deli Tua Kabupaten Deli Serdang( desa ). Di

dapatkan 800 murid penelitian yang terdiri dari 400 murid SMA di kota dan

400 murid SMA didesa.

Tabel 5.1

Distribusi Penderita Miopia Berdasarkan Asal Sekolah

Penderita Miopia

n %

Kota

Desa

168

52

76,36

23,64

Total 220 100,00

SMA di kota terdapat 168 murid (76,36%) yang menderita miopia dan

murid SMA di desa terdapat 52 murid (23,64%) menderita miopia.

Tabel 5.2

Distribusi Penderita Miopia SMA di Kota dengan SMA di desa Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Kota Desa

n % n %

Laki – Laki

Perempuan

54

114

24,55

51,81

13

39

5,91

17,73

Total 168 76,36 52 23,64

Berdasarkan Tabel 5.2 menunjukan penderita miopia paling

banyak perempuan pada murid SMA di kota sebanyak 114 murid

(7)

Tabel 5.3. Distribusi Penderita Miopia SMA di kota dengan SMA di Desa Berdasarkan Umur

Umur Kota Desa

Berdasarkan tabel 5.3.berdasarkan distribusi umur pada murid SMA di

kota paling banyak menderita miopia pada kelompok umur 16-17 tahun

sebanyak 80 murid (36,36%). Sementara pada murid SMA di desa paling

banyak menderita miopia pada kelompok umur 18-19 tahun sebanyak

23 murid (10,46%).

Tabel 5.4. Distribusi Penderita Miopia Berdasarkan Derajat Miopia pada Murid SMA di Kota Dengan Murid SMA di desa

Derajat Miopia Kota Desa

n % n %

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan derajat miopia ringan paling banyak

dijumpai pada murid SMA di kota sebanyak 133 murid (60,45%),begitu

(8)

Tabel 5.5. Distribusi Penderita Miopia Berdasarkan Riwayat Anggota Keluarga Berkaca Mata

Keluarga Kota Desa

Berdasarkan tabel 5.5. menunjukkan lebih banyak ayah dan ibu yang

berkaca mata pada murid SMA di kota sebanyak 49 murid (22,27%).

Sementara pada murid SMA didesa lebih banyak kakak / adik sebanyak

17 murid (7,73%).

Tabel 5.6

Distribusi Penderita Miopia SMA di kota Dengan SMA di desa Berdasarkan Mulai Menderita Miopia

Mulai

Tabel 5.6 Pada murid SMA dikota mulai menderita miopia paling

banyak di jumpai waktu SMP sebanyak 90 murid (40,91 %), berbeda

dengan murid SMA di desa lebih banyak menderita miopia sejak SMA

(9)

Tabel 5.7.

Distribusi Lamanya Waktu Untuk Membaca/ mengerjakan Pekerjaan Rumah(PR), Menonton Televisi(TV), Menggunakan Handphone(HP),

Menggunakan Komputer pada murid SMA di kota.

Waktu Membaca Televisi HP Komputer

N % N % n % n %

Dari tabel 5.7 berdasarkan distribusi waktu pada murid SMA di kotaota.

Kelompok waktu 1-2 jam paling banyak di gunakan untuk membaca

(mengerjakan PR) sebanyak 117 murid (53,18%). Kelompok waktu 3-4

jam paling banyak digunakan untuk menonton TV sebanyak 53 murid

(24,10%). Kelompok waktu > 4 jam paling banyak di gunakan untuk

menggunakan HP sebanyak 75 murid (34,00%).

Tabel 5.8.

Distribusi Lamanya Waktu Untuk Membaca/ mengerjakan Pekerjaan Rumah(PR), Menonton Televisi(TV), Menggunakan Handphone (HP),

Menggunakan Komputer pada murid SMA di desa. WAKTU

Dari tabel 5.8. berdasarkan distribusi waktu pada murid SMA di

(10)

menggunakan komputer sebanyak 35 murid (15,91%). Kelompok waktu

3-4 jam paling banyak digunakan untuk menonton TV sebanyak 19 murid

(8,64%). Kelompok waktu > 4 jam paling banyak di gunakan untuk

menggunakan handphone sebanyak 14 murid (6,36%).

Tabel 5.9.

Hubungan Waktu Membaca (Mengerjakan Pekerjaan Rumah), Menonton Televisi, Menggunakan Handphone Dan Menggunakan Komputer Dengan Derajat Miopia Pada Murid SMA di Kota dan Murid

SMA di Desa

Waktu derajat miopia p R

n X ± SD n X ± SD n X ± SD

Waktu membaca

Waktu Nonton TV

Waktu

Dari tabel 5.9. tidak terdapat angka yang signifikan dengan

lamanya menggunakan waktu membaca,menonton, menggunakan

komputer dan Hp terhadap peningkatan derajat miopia pada murid SMA di

(11)

BAB VI

PEMBAHASAN DAN DISKUSI

Dari tabel 5.1 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

penderita miopia murid SMA di kota sebanyak 168 murid ( 76,36%) dan

murid SMA di desa sebanyak 52 murid (23,64%). Pada penelitian ini

perbandingan penderita miopia pada murid SMA di kota dengan di desa

adalah 3,2 : 1.

Dari tabel 5.2 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

jenis kelamin pada murid SMA di kota lebih banyak perempuan 114 murid

(51,8%) yang menderita miopia dibanding laki – laki 54 murid ( 24,50 % ),

dengan perbandingan 2,1 : 1. Begitu juga dengan murid SMA di desa

perempuan 39 murid (17,73%) dan laki – laki 13 murid (5,91%), dengan

perbandingan 3 : 1. Hal ini sejalan dengan penelitian Bella,MG,dkk, yang

di lakukan pada murid SMA di kota Padang dengan perbandingan 3,7 : 1,

pada penelitian Anisa,S,dkk pada murid SMA Temanggung dengan

perbandingan 2,5 : 1.

Dari tabel 5.3 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

umur. Murid SMA di kota lebih banyak menderita miopia pada kelompok

umur 16-17 tahun sebanyak 80 murid (36,36%), berbeda dengan murid

SMA didesa lebih banyak pada kelompok umur 18-19 tahun sebanyak 23

murid (10,46%).

Dari tabel 5.4 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

derajat miopia, pada murid SMA di kota lebih banyak menderita miopia

ringan sebanyak 133 murid ( 60,45%).Begitu juga dengan murid SMA di

desa Sebanyak 32 murid ( 14,55 %) Tidak ada perbandingan derajat

miopia pada murid SMA di kota dengan di desa. Walaupun perkembangan

tekhnologi lebih berkembang di kota.

Dari tabel 5.5 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

riwayat anggota keluarga yang berkaca mata pada murid SMA di kota

(12)

Sementara pada murid SMA di desa hanya 5 murid (2,27%). Pada

penelitian ini pada murid SMA dikota sebanyak 28 murid (12,72 %) tidak

memiliki riwayat orang tua berkaca mata sesuai dengan penelitian

Goss,di mana prevalensi miopia, 6% - 15% yang tidak memiliki orang tua

miopia.

Dari tabel 5.6 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

mulai menderita miopia,pada murid SMA di kota mulai menderita miopia

paling banyak sejak duduk di bangku SMP sebanyak 90 murid (40,91%).

Dan sesuai dengan penelitian yang di lakukan Saerang, lebih banyak

murid SMP yang menderita miopia dibandingkan murid SD dan SMA.

Sementara pada murid SMA didesa mulai menderita miopia pada saat

duduk dibangku SMA sebanyak 24 murid (10,90 %).

Dari tabel 5.7 dan 5.8 menunjukkan bahwa subjek penelitian

berdasarkan penggunaan waktu. Pada kelompok waktu 1 – 2 jam murid

SMA dikota banyak digunakan untuk membaca, sementara pada murid

SMA di desa banyak menggunakan komputer. Pada kelompok waktu 3 –

4 jam murid SMA di kota dan di desa sama – sama banyak di gunakan

untuk menonton televisi. Pada kelompok waktu > 4 jam, murid SMA di

kota dan di desa sama – sama menggunakan handphone.

Dari tabel 5.9 menunjukkan bahwa subjek penelitian berdasarkan

hasil uji Anova , tidak terdapat hubungan yang signifikan tidak

mempengaruhi peningkatan derajat miopia dengan lamanya waktu

membaca, menonton TV, menggunakan komputer dan menggunakan HP.

Hanya semakin rendah derajat miopia semakin lama waktu untuk

membaca, menonton, menggunakan komputer dan HP baik pada murid

(13)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian ini maka diambil kesimpulan bahwa :

1. Penderita miopia lebih banyak di jumpai pada murid SMA di kota,di

bandingkan dengan murid SMA di desa dengan perbandingan 3,2 : 1.

2. Perempuan lebih banyak menderita miopia dibandingkan laki – laki

2,1 :1 pada murid SMA di kota. Sama halnya dengan murid SMA di

desa dengan perbandingan 3 : 1.

3. Tidak dijumpai adanya perbandingan derajat miopia pada murid SMA

di kota dengan murid SMA di desa.

4. Riwayat anggota keluarga yang berkaca mata, pada murid SMA di

kota lebih banyak ayah dan ibu sebanyak 49 murid (22,27%),

sementara pada murid SMA di desa lebih banyak kakak / adik yang

berkaca mata sebanyak 17 murid ( 7,14%).

5. Murid SMA di kota lebih banyak mulai menderita miopia saat duduk

dibangku SMP sebanyak 90 murid (40,91 %), pada murid SMA di

desa lebih banyak saat duduk di bangku SMA sebanyak 24 murid

(10,91 %).

6. Pada penelitian ini tidak terdapat pengaruh lama membaca, menonton

TV, menggunakan komputer dan HP terhadap peningkatan derajat

miopia. Baik pada murid SMA di kota maupun di desa

7.2. Saran

1. Mengurangi menggunakan handphone dan komputer dalam waktu

yang cukup lama, karena bisa memperberat derajat miopia, sebaiknya

diselingi dengan aktivitas diluar rumah.

2. Agar dilakukan penelitian selanjutnya untuk menentukan faktor apa

Gambar

Tabel 5.9.  Komputer Dengan Derajat Miopia Pada Murid SMA di Kota dan Murid Menonton Televisi, Menggunakan Handphone Dan Menggunakan Hubungan Waktu Membaca (Mengerjakan Pekerjaan Rumah), SMA di Desa

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian pegawai Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam pemberian bantuan khusus murid mandiri pada SMA/SMK di Kota Palu harus tetap

Dengan demikian pegawai Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam pemberian bantuan khusus murid mandiri pada SMA/SMK di Kota Palu harus tetap

Subjek pada penelitian ini adalah seluruh data pasien yang telah didiagnosis menderita OMA sesuai data rekam medis di RSUP H.. Besar sampel menggunakan

Dengan adanya penelitian Tentang Perbandingan Minat Perbandingan Minat Siswa- Siswi SMA Favorit Di Kota Dan SMA Favorit Di Desa Terhadap Ekstrakurikuler Bolavoli pada