KRISIS FINANSIAL DI AMERIKA SERIKAT

20 

Teks penuh

(1)

KRISIS FINANSIAL DI AMERIKA SERIKAT

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Politik: Teori dan Isu Dosen : Prof. Dr. Aleksius Jemadu, M. Si

Oleh : Ahirul Habib Padilah

170820140512

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga tugas individu

membuat makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Politik: Teori dan Isu. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah juga

sebagai penerapan pemahaman penulis terhadap materi kuliah yang telah disampaikan di kelas. Ada pun permasalahan yang saya angkat adalah tentang

Krisis Finansial di Amerika Serikat.

Penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Aleksius Jemadu, M. Si yang telah banyak membagikan ilmunya kepada penulis dan

menuntun dalam membuat makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap agar makalah ini dapat memberikan

sumbangan pemikiran bagi yang membaca dan penulis berharap kritik dan sarannya guna pengembangan penulisan makalah untuk selanjutnya. terima kasih.

Bandung, 30 Januari 2016

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

2.1 Krisis Finansial Amerika Serikat ... 3

2.2 Pandangan Teori Merkantilisme ... 6

2.3 Pandangan Teori Liberalisme ... 9

2.4 Pandangan Teori Marxisme ... 10

2.5 Argumen dan Teori yang Tepat untuk Menganalisis Krisis Finansial Amerika Serikat ... 11

BAB III PENUTUP ... 15

3.1Kesimpulan ... 15

3.2 Saran ... 15

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Saat ini, fenomena dunia kontemporer yang ditandai oleh menyempitnya ruang dan waktu1, menipisnya batas-batas teritorial negara bangsa oleh para pendukung ekstrem globalisasi diungkapkan sebagai state borderless2, serta aliran modal serta barang-barang melintasi batas-batas negara. Beberapa faktor penyebabnya dapat diidentifikasi, antara lain adalah surplus kapital yang mendorong perluasan investasi di wilayah-wilayah baru yang menjanjikan baik pasar maupun bahan baku agar surplus lebih lanjut. Globalisasi ekonomi dan perdagangan juga ditopang oleh ketersedian infrastruktur yang sangat memungkinkan dilakukannya perdagangan lintas batas negara dalam waktu yang relatif cepat dengan berbagai pertimbangan seperti pemangkasan biaya demi memperoleh banyak keuntungan. Revolusi dalam bidang teknologi komunikasi dan semakin rendahnya biaya transfortasi telah menjadikan katalis penting dalam dunia globalisasi ekonomi dan perdagangan saat ini. sebagai akibatnya, ekonomi negara-negara nasional menjadi semakin tergantung satu dengan yang lain dalam lingkup dunia global. Ini berarti bahwa kebijakan-kebijakan ekonomi suatu negara tidak dapat dilepaskan dari pengaruhnya terhadap negara lain, demikian juga sebaliknya.

Isu yang sangat menarik belakangan ini adalah isu mengenai wacana masyarakat internasional tentang berita perlambatan ekonomi di Amerika Serikat (AS). Melambatnya perekonomian Amerika Serikat pada akhir tahun 2007 sempat mendorong sebuah spekulasi bahwa Amerika Serikat berada pada ambang resesi, sebagai akibat dampak krisis kredit sektor perumahan ke sektor manufaktur dan

(5)

menengah ke sektor tenaga kerja. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat merupakan gejolak global yang saat ini sedang marak dan menjadi sorotan publik maupun pergunjingan para analis ekonomi di seluruh dunia dan sebuah masalah fundamental yang menuntut concern atau respons masyarakat dunia karena memang efek dari krisis di Amerika Serikat ini bersifat global. Dianggap memiliki efek global dikarenakan permasalahan ini sangat pelik dan mempengaruhi stabilitas perekonomian global.

Kerusakan ekonomi suatu negara akan dengan mudah menyebar ke negara lain seperti efek domino3. Oleh karena hal tersebut suatu negara nasional tidak lagi dapat mengambil kebijakan tanpa mempertimbangkan lingkungan ekonomi global. Inilah akibat munculnya interdependensi dunia dalam ekonomi dan perdagangan, yang mendorong timbulnya perdebatan4, yakni interdependensi timbal balik yang setara di antara kelompok-kelompok negara yang mengakibatkan saling tergantung ekonomi yang berakibat semakin mendorong proses globalisasi.

1.2Rumusan Masalah

Secara sederhana tulisan ini akan menjelaskan atau menjabarkan tentang gejolak ekonomi dunia, interaksi antara negara (state), pasar (market) dan masyarakat (society), serta lebih khususnya krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat.

3

Budi Winarno, 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta : Center of Academic Publishing Service (CAPS), hal. 28.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Krisis Finansial Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah negara adi daya (super power) yang memberikan kontribusi sekitar 20 - 30% dari perputaran ekonomi dunia. Ekonomi Amerika Serikat memiliki PDB (Pendapatan Domestik Bruto) sebesar US $ 13, 1 triliun, setara 20% dari PDB dunia pada tahun 2007. PDB Amerika Serikat naik pada kuartal ke tiga sebesar 4,9%, bahkan masih memiliki daya beli konsumen yang tinggi (IKK 90,6), ternyata tidak mampu menopang ekonominya akibat krisis kredit pada pasar senilai US $ 1,8 triliun5.

Sumber: Bambang Prijambodo6

Kerusakan ekonomi suatu negara akan dengan mudah menyebar ke negara lain seperti efek domino7. Relevan dengan kasus krisis keuangan di Amerika Serikat yang kini dimungkinkan akan berdampak terhadap ekonomi secara global.

5 Teguh Sihono. 2009. Dampak Krisis Finansial Amerika Serikat Terhadap Perekonomian Asia . Jurnal Ekonomi dan Pendidikan. Volume 6, Nomor 1. hal. 2

6

http://www.bappenas.go.id/files/7413/6082/9493/makro-bhs-indonesia-18-februari-2011-2__20110225174212__2978__0.pdf 7 Winarno. Loc. Cit.

(7)

Buktinya, krisis yang terjadi di Amerika Serikat merambah ke Eropa, menurunnya harga saham global8 dan dolar AS turun tajam terhadap Euro, berada pada 1,4168 dolar AS9. Bank yang memiliki networking dengan investasi perumahan para pelaku bisnis properti ikut terkena dampaknya, sehingga membuat kinerja perbankan mengalami goncangan hebat. Pasar saham global tidak kuasa menanggulangi dampak kredit, sehingga memukul pasar saham pada level terpuruk, semakin sulit mendapat kepercayaan pelaku pasar modal, baik di pasar di Amerika maupun di kawasan dunia. Badan usaha sendiri tidak mampu beradaptasi pada perubahan yang drastis, maka jatuhnya harga saham nyaris merontokkan portofolio beberapa korporat ternama di dunia.

Terakumulasinya dana besar di sektor perumahan telah melahirkan stagnasi yang berakibat melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2007 yang diperkirakan tumbuh 2,3%, padahal tahun 2006 tumbuh 3,3%. Keadaan ini juga diikuti dengan memburuknya keadaan sosial dengan tingkat angka pengangguran sebesar 4,9%, sementara pada tahun 2006 3%. Inflasi pada tahun 2006 sebesar 2,1% dan tahun 2007 meningkat menjadi 4,3%10.

Sumber: Bambang Prijambodo11

8

Sihono. Loc. Cit. 9

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/30/keuangan-amerika-sekarat-dunia-tertipu/

10

Sihono. Loc. Cit.

11

(8)

Menurut Bank Dunia12 ekspansi di negara-negara berkembang akan membantu membatasi dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat. Perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2008 sebesar 3,3%, sedangkan tahun 2007 sebesar 3,6%. Prediksi IMF angka pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2008 tidak lebih dari 1,5% sedang tahun 2007 masih 2,2%13. The Fed memprediksikan antara 1,3% sampai 2,0%, dan prediksi Departemen Perdagangan Amerika Serikat merosot tajam dari 4,9% kuartal III/2007 menjadi 0,6% pada kuartal IV/200714. Buruknya kondisi ekonomi Amerika Serikat ini, menunjukkan lemahnya keuangan, dan gejolak pasar uang yang meliputi: asuransi, sekuriti, sistem perbankan, kartu kredit, kredit individu dan korporasi yang ada.

Sumber: Bambang Prijambodo15

Sebagai akibat dari sebuah krisis keuangan yang terjadi, utang Amerika Serikat menjadi meningkat dari tahun ke tahun bila kita lihat tabel di atas. Saat ini,

12

http://www.worldbank.org/ 13 Sihono. Loc. Cit.

(9)

menurut Pengamat valuta asing (valas) Nico Omer16 utang AS sudah mencapai USD18,2 triliun dan itu belum termasuk tanggungan pemerintah kepada masyarakat berupa tunjangan kesehatan dan tunjangan pensiun (unfunded liabilities).

2.2 Pandangan Teori Merkantilisme

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Victor de Riqueti dan marquis de Mirabeau pada tahun 1763, kemudian dipopulerkan oleh Adam Smith pada tahun 1776. Pada kenyataannya, Adam Smith menjadi orang pertama kali menyebutkan kontribusi merkantilis terhadap ilmu ekonomi dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations. Istilah merkantilis sendiri berasal dari bahasa Latin mercari, yang berarti "untuk mengadakan pertukaran," yang berakar dari kata merx, berarti "komoditas." Kata merkantilis pada awalnya digunakan oleh para kritikus seperti Mirabeau dan Smith saja, namun kemudian kata ini juga digunakan dan diadopsi oleh para sejarawan.17

Merkantilisme merupakan teori tentang pandangan dunia elit-elit politik yang berada pada garis depan pembangunan negara modern. Dalam pandangan utama teori merkantilisme ekonomi merupakan alat bagi kepentingan politik atau sebagai dasar dari kekuasaan politik.18 Negara merupakan aktor utama yang dianggap mampu menjalankan kepentingan nasional atau mensejahterakan rakyatnya. Merkantilisme merupakan teori yang dominan di Eropa dari 16 ke abad ke-18,19 yang dipromosikan lewat peraturan ekonomi pemerintahan suatu negara untuk tujuan menambah kekuasaan negara dengan mengorbankan kekuatan nasional saingannya. Ini adalah mitra dari politik ekonomi absolutisme atau monarki absolut. Merkantilisme termasuk kebijakan ekonomi nasional yang bertujuan untuk mengumpulkan cadangan moneter melalui keseimbangan

16

http://ekbis.sindonews.com/read/1037306/35/utang-menumpuk-as-diramal-akan-bangkrut-seperti-yunani-1440578853 17

https://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme

18 Robert Jackson & George Sorensen. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 231.

(10)

perdagangan positif, terutama barang. Secara historis, kebijakan tersebut sering menyebabkan perang dan juga termotivasi untuk melakukan ekspansi kolonial. Teori merkantilis bervariasi dalam penerapannya terkini dari satu penulis ke yang penulis lain dan telah berkembang dari waktu ke waktu. Tarif tinggi, terutama pada barang-barang manufaktur, merupakan fitur yang hampir universal dari kebijakan merkantilis. Kebijakan lainnya yang termasuk20 yaitu menciptakan koloni di luar negeri, melarang daerah koloni untuk melakukan perdagangan dengan negara-negara lain, Memonopoli pasar dengan port pokok, melarang ekspor emas dan perak (bahkan untuk alat pembayaran), melarang perdagangan untuk dibawa dalam kapal asing, Subsidi ekspor, mempromosikan manufaktur melalui penelitian atau subsidi langsung, membatasi upah, memaksimalkan penggunaan sumber daya dalam negeri, dan membatasi konsumsi domestik melalui hambatan non-tarif untuk perdagangan.

Merkantilisme sendiri tidak percaya dengan sistem perdagangan bebas (free trade) karena merkantilisme melihat bahwa perekonomian internasional sebagai arena konflik kepentingan nasional yang bertentangan dengan wilayah kerjasama yang saling menguntungkan. Menurut pemikir merkantilisme, persaingan ekonomi antarnegara adalah sebuah permaianan zero-sum di mana keuntungan suatu negara merupakan kerugian bagi negara lain.21

Menurut Gilpin (1987:32) persaingan ekonomi antarnegara bisa dibagi menjadi dua bentuk yang berbeda22. Pertama, merkantilisme bertahan atau

‘ramah’ (benign mercantilism) yang berarti negara memelihara kepentingan ekonomi nasionalnya yang merupakan unsur terpenting demi keamanan nasionalnya yang tidak memiliki dampak negatif terhadap negara lain melalui kebijakan tersebut. Kedua, merkantilisme agresif atau ‘jahat’ (malevolent mercantilism), di mana negara-negara berupaya mengeksploitasi sistem perekonomian internasional melalui kebijakan ekspansi. Contohnya, imperialisme

20 Ibid.

(11)

kekuatan kolonial Bangsa Eropa di Asia dan Afrika. Oleh karena itu, merkantilisme identik dengan nasionalis.

Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa peran sebuah negara dalam perdagangan internasional di era globalisasi ini sangatlah penting dan merupakan sesuatu yang dianggap bisa menentukan arah masa depan dalam mensejahterakan rakyat. Selain itu, Nngara harus bisa menjadi pemenang dalam kompetisi perdagangan internasional. Merkantilisme didukung oleh beberapa politisi dan ekonom terkemuka seperti Alexander Hamilton yang merupakan salah seorang pendiri Amerika Serikat. Ia mendukung merkantilisme dalam bentuk kebijakan proteksionis yang dimaksudkan untuk kemajuan industri domestik di Amerika Serikat.23 Selain Alexander Hamilto, pendukung lainnya adalah

Friedrich List, tahun 1840 List mengembangkan sebuah teori bernama “kekuatan produksi” yang menekankan pada kemampuan menghasilkan lebih penting dari

hasil produksi. Dengan kata lain, kesejahteraan suatu negara tidak semata-mata tergantung pada banyaknya tumpukan kekayaan, namun pada kekuatan negara tersebut dalam mengembangkan kekuatan produksinya.

Ringkasan Merkantilisme

Sumber: Robert Jackson & George Sorensen. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 235

23 Ibid., hal. 233.

Aktor utama/unit analisis:

Tujuan ekonomis: Sifat hubungan ekonomi:

Negara

Konfliktual, zero-sum game

(12)

2.3 Pandangan Teori Liberalisme

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama24. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas.25

Liberalisme sendiri telah dikenal dan terapkan sejak abad ke 16, yang kemudian terus berkembang dan mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman pada abad ke 20 dan menjadi Neoliberalisme yang sekarang banyak di terapkan oleh berbagai negara di dunia. Kunci utama dari Liberalisme adalah kerjasama demi mendapatkan keuntungan bersama-sama, dalam hal ini pandangan liberalisme mengandalkan kerjasama antar negara bukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan saja. Selain itu pandangan liberalisme juga percaya bahwa hal ini dapat menghindarkan perang antar negara karena sudah saling bergantung satu sama lainnya dalam berbagai bidang kerjasama.

Menurut Adam Smith, pemikiran mahzab ekonomi klasik merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis. Sementara menurut Sumitro Djojohadikusumo, haluan pandangan yang mendasari seluruh pemikiran mahzab klasik mengenai masalah ekonomi dan politik bersumber pada falsafah tentang tata susunan masyarakat yang sebaiknya dan seyogyanya didasarkan atas hukum alam yang secara wajar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemikir ekonomi klasik adalah

Adam Smith (1723-1790) mengenai politik dan ekonomi yang sangat luas, oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi tiga kelompok pemikiran.

Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas dari falsafah politik.

Kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang faktor-faktor apa dan kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai dan harga barang.

Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang mendukung kegiatan ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat. Singkatnya, segala

(13)

kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar dimana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.26 Tentunya sebuah teori memiliki kelebihan dan kekurangan, liberalisme mungkin di lihat orang-orang sebagai teori yang kejam di mana suatu negara dapat menguasai sistem global hanya dengan melalui perdagangan tetapi walau demikian liberalisme tidak sekejam Komunisme. Dalam Liberalisme, jika negara berkembang ingin maju mereka harus bisa berinovasi dan melakukan perbaikan pemerintahan dengan baik agar bisa berkembang dan menyusul negara maju yang sudah jauh lebih dulu start point dari negara berkembang.

Perbedaan teori liberlisme dengan teori merkantilisme adalah liberalisme percaya bahwa perdagangan bebas dan kerjasama akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak (positive sum game) dan ekonomi pasar merupakan sumber utama kemajuan, kerjasama, dan kesejahteraan. Menurut Adam Smith, kalaborasi antara politik dan peraturan negara tidak ekonomis, bisa menyebabkan kemunduran dan menimbulkan sebuah konflik.27

2.4 Pandangan Teori Marxisme

Marxisme merupakan dasar dari teori komunisme modern di mana teori ini termuat dalam sebuah buku Manifesto Komunis yang ditulis oleh Marx dan Friedrich Engels.28 Marxisme sendiri muncul sebagai bentuk protes Marx terhadap kaum kapitalisme yang mengumpulkan uang dengan mengekplorasi kaum proletar secara berlebihan. Hal ini menyebabkan kondisi kaum proletar sangat memprihatinkan. Selain harus tinggal di daerah pinggiran serta kumuh, mereka terpaksa bekerja berjam-jam dengan upah yang sangat minimum sementara hasil pekerjaan mereka berjam-jam tersebut hampir keseluruhannya dinikmati oleh kaum kapitalis. Marx memandang bahwa permasalahan kesenjangan hidup ini terjadi karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan terhadap kekayaan yang didominasi oleh orang-orang kapitalis. Bila

26 https://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme 27 Jackson & Sorensen. Op. Cit., hal. 235.

(14)

kondisi ini terus terjadi dan dibiarkan maka kaum proletar akan memberontak dan menuntut sebuah keadilan, inilah yang akhirnya menjadi dasar dari lahirnya teori marxisme.29

Teori marxisme ini memiliki persamaan dengan teori merkantilisme yang bersifat konfliktual dan zero sum game. Sementara, persamaan teori marxisme dengan liberalisme pada sisi aktor non-negaranya. Unit analisis dan aktor utama dalam teori ini adalah kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dan tercapainya kepentingan kelas sebagai tujuan ekonominya. Ekonomi menjadi faktor penentu dalam perspektif ini. Marxisme sangat identik dengan eksploitasi kaum borjuis terhadap kelas proletar dalam praktek kepemilikan modal, di mana pemilik modal (kaum borjuis) akan selalu berusaha agar yang tidak memiliki modal (kaum proletar) selalu tergantung kepada mereka. Dalam konteks sebuah negara, Andrew Gunder Frank menyatakan negara-negara kuat atau pemilik modal akan selalu berusaha untuk mempertahankan atau meningkatkan posisinya dengan cara mengeksploitasi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan lain sebagainya dari negara berkembang atau negara miskin agar selalu tergantung sama mereka.

2.5 Argumen dan Teori yang Tepat untuk Menganalisis Krisis Financial Amerika Serikat

Krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat menuai banyak tanggapan dan pendapat para ahli dunia maupun lokal mengenai dampaknya terhadap perekonomian global. Penulis memiliki pendapat bahwa apa yang terjadi di Amerika Serikat merupakan sebagai akibat dari kelemahan perspektif liberalisme dalam mengatur lembaga-lembaga keuangan dan pasar modal sehingga sistemnya menjadi liberal. Karena hal ini yang mendorong dan dianggap sebagai faktor utama penyebab krisis Amerika Serikat yang memuncak pada tahun 2008. Para

ekonom menyebut krisis finansial ini “The Globalization Crisis”. 30

29

P. A. van der Weij. 1991. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 111-117.

30

(15)

Isu krisis finansial Amerika Serikat bila kita kaitkan dengan teori marxisme yang unit analisisnya adalah perjuangan kelas dalam mengkategorikan negara-negara yang ada di dunia. Dalam pandangan marxisme ada negara-negara core, negara

semi-periphery, dan negara periphery31. Amerika serikat dalam hal ini masuk dalam kategori negara core, yang memiliki power untuk mengontrol dan memonopoli dunia melalui kekuasaannya dalam berbagai hal. Misalnya dari segi ekonomi, banyak negara yang mempercayakan Amerika Serikat sebagai negara tujuan investasi. Menurut analisis penulis, penyebab krisis yang terjadi salah satunya adalah usaha Amerika Serikat yang tetap ingin mempertahankan kelasnya atau image sebagai negara core di mata internasional.

Sumber: Bambang Prijambodo32

Walau sedang mengalami defisit Amerika Serikat masih bisa membantu negara lain. Sebagai contoh, Pakistan yang mendapatkan bantuan dana sebesar 7 miliar33. Namun, bantuan ini tentu memiliki sebuah tujuan, yaitu untuk tetap mengikat negara-negara berkembang (miskin) agar terus tergantung sama mereka yang mana bila kita lihat kembali teori interdependensi dalam teori marxis.

31 Op. Cit.

32 Op. Cit.

(16)

Amerika Serikat masih dengan mudah bisa mengeksploitasi resource negara-negara berkembang (miskin).

Dalam menganalisis kasus ini, penulis menggunakan teori merkantilisme yang dirasa cukup tepat dalam memahami krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat. Dengan alasan bahwa bila kita lihat pemaparan di atas sangat jelas bahwa munculnya krisis dan yang bisa menyelesaikannya hanyalah negara sebagai aktor utama. Sesuai dengan teori merkantilisme bahwa negara merupakan aktor utama yang harus bisa menyelesaikan berbagai permasalahn yang terjadi. Penulis menyatakan bahwa negara sebagai penyebab munculnya permasalahan krisis finansial di Amerika Serikat dikarenakan pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan pada tahun 1981 sudah meregulasikan kepada lembaga-lembaga keuangan dan investasi. Selain itu, negara mempunyai otoritas untuk memberikan bantuan kepada negara lain demi mempertahankan statusnya sebagai negara core

agar ketergantungan negara lain kepada Amerika Serikat terus berlanjut.

Untuk menangani krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat juga negara memiliki bahkan memainkan peran penting. Terlihat dan tergambar jelas dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Amerika Serikat memproteksi perekonomian yang semakin diperketat. Bila kita lihat kembali teori merkantilisme bahwa negara merupakan aktor utama, perdagangan internasional memiliki sifat konfliktual, zero sum game, dan politik berada di atas negara sangat sesuai dengan apa yang di lakukan oleh negara atau pemerintahan Amerika Serikat dalam melindungi perekonomiannya melalui sistem negara.

(17)
(18)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kerusakan ekonomi suatu negara akan dengan mudah menyebar ke negara lain seperti efek domino. Oleh karena hal tersebut suatu negara nasional tidak lagi dapat mengambil kebijakan tanpa mempertimbangkan lingkungan ekonomi global. Inilah akibat munculnya interdependensi dunia dalam ekonomi dan perdagangan, yang mendorong timbulnya perdebatan, yakni interdependensi timbal balik yang setara di antara kelompok-kelompok negara yang mengakibatkan saling tergantung ekonomi yang berakibat semakin mendorong proses globalisasi.

Krisis kredit sebagai akibat krisis properti (subprime mortgate) di Amerika Serikat akhirnya meluas ke sektor manufaktur dan tenaga kerja. Market failure

dan government failure sebagai akibat secara kolektif kenaikan harga komoditi, dan kegagalan twins problems yang mengarah pada resesi dunia. Resesi akan berakibat penurunan aktivitas ekonomi. Kendati terjadi perlambatan bahkan menurunnya perekonomian Amerika Serikat belum mengarah pada depresi dunia, namun akan mempengaruhi perekonomian negara-negara di dunia secara global, karena Amerika Serikat menguasai 20 - 30% perputaran aktivitas ekonomi dunia.

3.2 Saran

Sebuah negara nasional tidak lagi dapat mengambil kebijakan tanpa mempertimbangkan lingkungan ekonomi global. Karena mengambil keputusan sebuah kebijakan tanpa mempertimbangkan dampak internasionalnya akan mengakibatkan jatuhnya ekonomi secara global. Maka dari itu para pembuat kebijakan dalam sebuah negara ketika membuat kebijakan bukan hanya mementingkan kepentingan nasionalnya yang ingin selalu untung namun harus mempertimbangkan dampak globalnya.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Audi, Robert. 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy. United Kingdom: Cambridge University Press

Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Harvey, David. 2000. “Time-Space Compression and the Postmodern”. Dalam David Held and Anthony McGrew (eds.) The Global Transformations Reader: An Introduction to the Globalization Debate. Cambridge: Polity Press

Held, David. et al. 1999. Global Transformations: Politics, Economic, and Culture, Stanford. California: Stanford University Press

Jackson, Robert H. dan Georg Sorensen. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ohmae, Kenichi. 1995. “The End of Nations State”, The 1995 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta, 4 Oktober

Pals, Daniel L. 1996. Seven Theories of Religion. Yogyakarta: Qalam.

Russel, Alan. 2001. “Trade, Money, and Market”, in Brian White, Richard Little,

and Michael Smith (eds.) 2001. Issues in World Politics. Second Edition.

Oxford University Press

Steans, Jill & Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional : Perpektif dan Tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukarna. 1981. Ideologi : Suatu Studi Ilmu Politik. Bandung: Penerbit Alumni Teguh Sihono. 2009. Dampak Krisis Finansial Amerika Serikat Terhadap

Perekonomian Asia. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan. Volume 6, Nomor 1. Weij, P. A. van der. 1991. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama

(20)

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/30/keuangan-amerika-sekarat-dunia-tertipu/

diakses 24 Januari 2016

http://www.bappenas.go.id/files/7413/6082/9493/makro-bhs-indonesia-18-februari-2011-2__20110225174212__2978__0.pdf diakses 24 Januari 2016

http://www.bappenas.go.id/files/7413/6082/9493/makro-bhs-indonesia-18-februari-2011-2__20110225174212__2978__0.pdf. diakses 25 Januari 2016

http://www.liberal-international.org/editorial.asp?ia_id=535 diakses 30 Januari 2016

http://www.worldbank.org/ diakses 25 Januari 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Federal_Reserve_System diakses 27 Januari 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme diakses 30 Januari 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Merkantilisme diakses 27 Januari 2016

https://www.academia.edu/9324543/AsumsiNeo-Marxisme_Pada diakses 24

Januari 2016

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...