• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA KECACATAN PRODUK BAUT DENGAN PENDEKATAN DMAIC DI PT. UNISON SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISA KECACATAN PRODUK BAUT DENGAN PENDEKATAN DMAIC DI PT. UNISON SURABAYA."

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

DI PT. UNISON SURABAYA

SKRIPSI

Disusun Oleh :

LUKMAN HAKIM 0832015017

J URUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “

J AWA TIMUR

(2)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAKSI ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Asumsi ... 3

1.5 Tujuan Penelitian ... 3

1.6 Manfaat Penelitian ... 4

1.7 Sistematika Penulisan ... 4

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Pengendalian kualitas ... 7

2.2 Six Sigma ... 10

2.3 DMAIC (define, measure, analyze, improve, control) ... 13

2.3.1 Define……….……….. 13

2.3.2 Measure ……….……….…... 15

2.3.3 Analyze... 16

2.3.4 Improve... 18

(3)

2.6 Kapabilitas Proses (process capability) ... 22

2.6.1 Penentuan Kapabilitas Proses Untuk Data Atribut ... 23

2.6.2 Penentuan Kapabilitas Proses Untuk Data Variabel... 24

2.7 Pareto ... 26

2.8 Diagram SIPOC (supplier, input, process, output, costumer)…. 28 2.9 Diagram Sebab - Akibat………. ... . 29

2.10 Failure Mode and Effect Analyze (FMEA)... ..31

2.11 Brainstorming ... ..35

2.12 Baut ……… ... . 36

2.12.1 Bahan Baku Baut ... ..38

2.12.2 Proses Produksi Baut ... ..38

2.13 Penelitian Pendahulu………. ………40

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

3.2 Identifikasi Variabel ... .41

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.4 Metode Pengolahan Data ... 43

3.5 Langkah – Langkah Pemecahan Masalah ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data ... 48

4.2 Pengolahan Data ... 50

(4)

4.2.2 Measure ... 52

4.2.2.1 Menentukan CTQ………. 52

4.2.2.2 Mengukur Baseline Kinerja……….. 72

4.2.3 Analyze ... 92

4.2.3.1 Analisa Hasil Pengukuran Nilai DPMO dan Nilai Sigma ... 92

4.2.3.2 Menentukan Akar Penyebab ……….………. 93

4.2.4 Improve ... 108

4.2.4.1 Identifikasi Prioritas Tindakan Perbaikan Dengan FMEA ... 108

4.2.4.2 Urutan Prioritas Tindakan Perbaikan ... 112

4.2.3 Hasil dan Pembahasan ... 114

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 116

5.2. Saran ... 117

(5)

2.1 Konsep Six Sigma Motorola Dengan Distribusi Normal ... 10

2.2 Proses DMAIC... 13

2.3 Contoh Pareto ... 27

2.4 Contoh Diagram SIPOC ... 29

2.5 Contoh Fish Bone Chart ... 32

2.6 Contoh Produk Baut ... 37

3.1 Langkah – Langkah Penelitian ... 45

4.1 Diagram SIPOC Produk Baut Metris Hexagon ... 51

4.2 Diagram Pareto Bulan Januari 2011 ... 53

4.3 Diagram Pareto Bulan Pebruari 2011 ... 55

4.4 Diagram Pareto Bulan Maret 2011 ... 56

4.5 Diagram Pareto Bulan April 2011 ... 58

4.6 Diagram Pareto Bulan Mei 2011 ... 59

4.7 Diagram Pareto Bulan Juni 2011 ... 61

4.8 Diagram Pareto Bulan Juli 2011 ... 62

4.9 Diagram Pareto Bulan Agustus 2011 ... 64

4.10 Diagram Pareto Bulan September 2011 ... 65

4.11 Diagram Pareto Bulan Oktober 2011 ... 67

4.12 Diagram Pareto Bulan Nopember 2011 ... 68

4.13 Diagram Pareto Bulan Desember 2011 ... 70

4.14 Diagram Pareto Bulan Januari – Desember 2011 ... 71

4.15 Grafik Nilai Sigma Bulan Januari – Desember 2011 ... 92

(6)

4.19 Diagram Sebab Akibat Untuk Jenis Defect Kepala Baut Miring ... 103

(7)

2.1 Tabel Konversi Sigma Motorola... 21

2.2 Severity ... 33

2.3 Occurrence ... 33

2.4 Detection ... 34

2.5 Contoh Penggunaan Nilai Risk Priority Number (RPN)... 36

2.6 Standart Baut Metris Hexagon ... 37

2.7 Ukuran Bahan Baku Kawat Gelondongan ... 38

4.1 Data Produksi Tahun 2011 ... 48

4.2 Data Pemeriksaan Defect Baut Metris Hexagon Tahun 2011 ... 48

4.3 Data Jenis Defect Baut Metris Hexagon Tahun 2011 ... 49

4.4 Data Persentase Defect Bulan Januari 2011 ... 53

4.5 Data Persentase Defect Bulan Pebruari 2011 ... 54

4.6 Data Persentase Defect Bulan Maret 2011 ... 56

4.7 Data Persentase Defect Bulan April 2011 ... 57

4.8 Data Persentase Defect Bulan Mei 2011 ... 59

4.9 Data Persentasa Defect Bulan Juni 2011 ... 60

4.10 Data Persentase Defect Bulan Juli 2011 ... 62

4.11 Data Persentase Defect Bulan Agustus 2011 ... 63

4.12 Data Persentase Defect Bulan September 2011 ... 65

4.13 Data Persentase Defect Bulan Oktober 2011 ... 66

4.14 Data Persentase Defect Bulan Nopember 2011 ... 68

4.15 Data Persentasa Defect Bulan Desember 2011 ... 69

(8)

4.19 Kapabilitas Proses Bulan Maret 2011 ... 76

4.20 Kapabilitas Proses Bulan April 2011 ... 77

4.21 Kapabilitas Proses Bulan Mei 2011 ... 79

4.22 Kapabilitas Proses Bulan Juni 2011 ... 80

4.23 Kapabilitas Proses Bulan Juli 2011 ... 82

4.24 Kapabilitas Proses Bulan Agustus 2011 ... 83

4.25 Kapabilitas Proses Bulan September 2011 ... 85

4.26 Kapabilitas Proses Bulan Oktober 2011 ... 86

4.27 Kapabilitas Proses Bulan Nopember 2011 ... 88

4.28 Kapabilitas Proses Bulan Desember 2011 ... 89

4.29 Kapabilitas Proses Bulan Januari – Desember 2011 ... 91

4.30 Rekapitulasi Nilai DPMO dan Nilai Sigma Bulan Januari – Desember 2011 ... 91

4.31 FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) Baut Metris Hexagon .... 110

(9)

Sejarah Perusahaan PT. Unison Surabaya ... A1 Proses Produksi Baut di PT. Unison Surabaya ... A2

Gambar Produk Baut Yang Diproduksi di PT. Unison Surabaya ... A3

Tabel Acuan FMEA ... B

Perhitungan Nilai Sigma Menggunakan Kalkulator Sigma ... C1

Perhitungan RPN Pada FMEA ... C2

(10)

Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat

dan Hidayah-Nya sehingga Laporan Penelitian Tugas Akhir (Skripsi) dengan

judul “Analisa Kecacatan Produk Baut Dengan Pendekatan DMAIC Di PT.

Unison Surabaya” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulisan skripsi ini dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan kelulusan

Program Sarjana Strata - 1 (S-1) di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi

Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Terselesaikannya Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini tentunya tak lepas dari

bantuan banyak pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penyusun ingin

mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Allah SWT karena atas ijin-NYA lah laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini bisa

terselesaikan tepat pada waktunya.

2. Kedua orang tua dan keluarga saya yang selalu memberikan dukungan dan

doa kepada saya.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto,MP. Selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Ir. Sutiyono, MT. Selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

5. Bapak Dr. Ir. Minto Waluyo, MM. Selaku ketua jurusan Teknik Industri

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

6. Ibu Ir. Yustina Ngatilah, MT. Selaku Dosen Pembimbing I yang telah

meluangkan banyak waktu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan

(11)

laporan penelitian ini.

8. Dosen penguji Seminar 1 & 2, maupun Dosen Penguji Skripsi ini.

9. Ibu Rita Puspa selaku pembimbing lapangan di PT. Unison - Surabaya dan

Seluruh karyawan PT. Unison - Surabaya yang telah meluangkan waktunya

terhadap penyusunan laporan penelitian ini.

10.Seluruh teman - teman dan orang tercinta yang telah membantu dan

memberikan dukungan dalam penyelesaian Skripsi ini.

Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir (Skripsi) ini tentunya masih dapat

di katakan jauh dari sempurna dan saya mohon maaf jika penyusunan Laporan

Tugas Akhir (Skripsi) ini terdapat kesalahan. Dan semoga Laporan Tugas Akhir

(Skripsi) ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Surabaya, 15 Mei 2012

Hormat kami

(12)

ABSTRAKSI

Adanya persaingan antar produk yang semakin ketat dewasa ini menuntut setiap perusahaan memberikan yang terbaik bagi konsumennya. PT. Unison merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi baut, dengan produknya yaitu baut metris hexagon, UNC withworth, dan baja hexagon dengan segala macam ukuran. Baut ini dibuat dari bahan baku batang kawat yang dibeli dari PT. Krakatau Steel dan PT. Ispat Indo, bahan baku batang kawat juga diimpor langsung dari China dan Taiwan.

Saat ini kualitas produk baut PT. Unison belum maksimal, hal ini ditunjukkan oleh banyaknya jumlah produk defect yang cukup besar. Penelitian difokuskan pada jenis produk baut metris hexagon dengan jumlah defect terbesar dibanding produk baut lainnya yaitu sebesar 4,12 %. Produk-produk baut metris hexagon dengan spesifikasi di luar standard kualitas yang ditetapkan oleh PT. Unison dan dikategorikan jenis kecacatannya yaitu: kepala baut cuil, ulir miring, baut bengkok, kepala baut miring dan kepala baut retak.

Dengan adanya masalah tersebut, maka dilakukan penelitian dengan menggunakan metode DMAIC. Diharapakan dengan metode DMAIC ini defect sebesar 4,12 % dari setiap hasil produksi baut metris hexagon dapat diminimalkan ke arah zero defect dan syarat pokok kebutuhan pelanggan bisa terpenuhi. Dengan bertambahnya nilai kualitas dari produk tersebut, secara otomatis perusahaan akan mampu lebih bersaing di pasaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kualitas produk baut metris hexagon yang diukur dari segi nilai DPMO dan level sigma selama bulan Januari sampai Desember 2011, dengan jumlah pemeriksaan sebanyak 125.520 dan defect sebanyak 885 adalah: DPMO = 1.410 dan level sigma = 4,5. Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil tersebut adalah karena mesin kurang perawatan dan pelumas, operator melakukan kesalahan penyettingan, material kurang pencucian dan pelapisan, lingkungan kerja yang bising dan pengap, sehingga untuk menentukan prioritas perbaikan digunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).

(13)

ABSTRACT

The existence of competition between the increasingly stringent product today requires every company to provide the best for consumers. PT. Unison is a company engaged in the production of bolts, with a product metric hexagon bolts, UNC withworth, and steel hexagon with all sorts of sizes. These bolts are made from raw materials purchased wire rod from PT. Krakatau Steel and PT. Ispat Indo, wire rod materials are also imported directly from China and Taiwan.

At present the quality of the products in PT. Unison is not maximized, this is indicated by the large number of product defect is large enough. The study focused on product type metric hexagon bolt with greatest number of defects compared to other products in the amount of bolts 4.12%. Products of metric hexagon bolts to specifications beyond standard of quality set by the PT. Unison and categorized the types of disability: chipped head bolts, screw tilted, bent bolts, head bolt and bolt head tilted cracks.

Given these problems, the research carried out using DMAIC method. DMAIC method is expected to defect of 4.12% of each output metric hexagon bolts can be minimized in the direction of the principal terms of zero defect and customer needs can be met. With increasing value of the quality of the product, the company will automatically be able to better compete in the market.

The results showed that the level of product quality metric hexagon bolts are measured in terms of the value of DPMO and sigma level during January to December 2011, the number of defect inspection as much as 125.520 and 885 is: DPMO = 1410 and the level of sigma = 4,5. Factors - factors affecting these results is due to lack of maintenance and engine lubricants, the operator made a mistake when set up, less cleaning and coating material, the work environment is noisy and stuffy, so as to determine methods of repair used FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).

(14)

1.1 Latar Belakang Masalah

Adanya persaingan antar produk yang semakin ketat dewasa ini menuntut

setiap perusahaan memberikan yang terbaik bagi konsumennya. Kualitas

merupakan salah satu jaminan yang harus diberikan dan dipenuhi oleh perusahaan

kepada pelanggan, termasuk pada kualitas produk. Karena kualitas suatu produk

merupakan salah satu kriteria penting yang menjadi pertimbangan pelanggan

dalam memilih produk. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan dan peningkatan

kualitas secara terus – menerus dari perusahaan sesuai dengan spesifikasi dan

kebutuhan pelanggan.

PT. Unison merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang

produksi baut, dengan produknya yaitu baut metris hexagon, UNC withworth,

dan baja hexagon dengan segala macam ukuran. Baut ini dibuat dari bahan baku

kawat gelondongan yang dibeli dari PT. Krakatau Steel dan PT. Ispat Indo. Baut

terdiri dari 3 komponen, yaitu kepala baut, badan baut, dan ulir. Produk baut ini

diproduksi secara Make to Stock dan juga sesuai dengan permintaan dari

konsumen (Job Order). Proses produksinya menggunakan beberapa macam jenis

mesin, dimana proses utamanya terdiri dari 6 macam proses yaitu pencucian

bahan baku dan pelumasan (material cleaning and phospating), penarikan bahan

baku (material drawing), pemotongan (cutting), pembentukan kepala (heading

(15)

Saat ini kualitas produk baut PT. Unison belum maksimal, hal ini

ditunjukkan oleh banyaknya jumlah produk defect yang cukup besar. Penelitian

difokuskan pada jenis produk baut metris hexagon dengan jumlah defect terbesar

dibanding produk baut lainnya yaitu sebesar 4,12 %. Produk-produk baut metris

hexagon dengan spesifikasi di luar standard kualitas yang ditetapkan oleh PT.

Unison dan dikategorikan jenis kecacatannya yaitu: kepala baut cuil, ulir miring,

baut bengkok, kepala baut miring dan kepala baut retak.

Dengan adanya masalah tersebut, maka dilakukan penelitian dengan

menggunakan metode DMAIC. Diharapakan dengan metode DMAIC ini defect

sebesar 4,12 % dari setiap hasil produksi baut metris hexagon dapat diminimalkan

ke arah zero defect dan syarat pokok kebutuhan pelanggan bisa terpenuhi. Dengan

bertambahnya nilai kualitas dari produk tersebut, secara otomatis perusahaan akan

mampu lebih bersaing di pasaran.

1.2 Per umu san Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan

yang timbul, yaitu :

“Mengapa kecacatan produk baut metris hexagon tinggi di PT. Unison pada saat ini ? “

1.3 Batasan Masa lah

Dalam penulisan tugas akhir ini perlu dilakukan pembatasan masalah agar

agar dalam pelaksanaan penelitian tertuju pada tujuan penelitian ini. Adapun

(16)

1. Penelitian dilakukan untuk produk baut jenis metris hexagon, karena jumlah

defect produk ini adalah yang paling terbesar dibanding produk lainnya. 2. Data yang digunakan yaitu data produksi, data pemerikasaan defect dan data

jenis defect tahun 2011.

3. Peneliti hanya menerapkan satu siklus DMAIC.

4. Tahap Improve hanya sebatas usulan pada pihak perusahaan.

5. Tahap Control dilakukan oleh perusahaan.

6. Pada penelitian ini tidak dibahas aspek biaya (finansial).

1.4 Asumsi-asumsi

Asumi-asumsi yang digunakan dalam penelitian adalah :

1. Tidak dilakukan penambahan atau pengurangan terhadap mesin-mesin

ataupun peralatan produksi.

2. Sistem produksi dan spesifikasi produk baut yang diamati juga tidak

mengalami perubahan.

3. Terdapat hanya satu jenis kecacatan pada satu unit produk.

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian tugas akhir ini adalah sebagai

berikut:

1. Mengetahui tingkat kualitas produk baut metris hexagon.

2. Menganalisa penyebab-penyebab kecacatan produk baut metris hexagon dan

menetapkan prioritas tindakan perbaikan untuk menurunkan jumlah kecacatan

(17)

1.6 Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini akan diperoleh manfaat baik bagi perusahaan maupun

bagi penulis yaitu sebagai berikut :

1. Bagi Perusahaan

Memperoleh masukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas

produk, ukuran kemampuan proses yang dimiliki, penyebab yang

menimbulkan cacat (defect) pada produk, serta masukan untuk melakukan

tindakan perbaikan kualitas dari hasil penelitian yang diperoleh dengan

menggunakan pendekatan DMAIC.

2. Bagi Peneliti

Peneliti dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan

dalam menyelesaikan masalah-masalah pengendalian kualitas di PT. Unison

dengan menggunakan pendekatan DMAIC.

3. Bagi Universitas

Sebagai referensi bagi mahasiswa aktif dan sebagai alat perbandingan untuk

melakukan penelitian ini lebih lanjut oleh mahasiswa teknik industri,

khususnya mengenai masalah pengendalian kualitas.

1.7 Sistematika Penulisan

Agar lebih mudah dalam memahami penelitian ini, maka berikut disajikan

(18)

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah,

tujuan penelitian, batasan masalah, asumsi-asumsi, manfaat

penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang landasan teori-teori yang digunakan dalam

pelaksanaan penelitian sebagai penunjang untuk mengolah dan

menganalisa data-data yang diperoleh secara langsung maupun tidak

langsung yaitu teori tentang DMAIC.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang langkah-langkah dalam melakukan penelitian,

mulai dari lokasi pencarian data, metode pengambilan data, yang

dilakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian selama pelaksanaan

penelitian ini.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang data-data yang telah terkumpul, kemudian

diolah dengan metode yang digunakan, disamping itu juga

menyajikan penyelesaian masalah dan analisa-analisa yang didapat

dari hasil pengolahan data sebelumnya.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan penutup penulisan yang berisi kesimpulan dan

saran mengenai analisa yang telah dilakukan sehingga dapat

memberikan suatu rekomendasi sebagai masukan atau perbaikan

(19)

DAFTAR PUSTAKA

(20)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1 Pengendalian Kualitas

Ada dua segi umum tentang kualitas yaitu kualitas rancangan dan kualitas

kecocokan. Semua barang dan jasa dihasilkan dalam berbagai tingkat kualitas.

Kualitas rancangan adalah istilah teknik terkait dengan perbedaan dalam variasi

tingkat kualitas yang memang disengaja meliputi jenis bahan, daya tahan,

keandalan, misalnya semua mobil mempunyai tujuan dasar memberikan angkutan

yang aman bagi konsumen, tetapi mobil–mobil berbeda dalam ukuran, penentuan,

rupa, dan penampilan.Perbedaan–perbedaan ini adalah hasil perbedaan rancangan

yang disengaja antara jenis–jenis mobil itu, jenis bahan yang digunakan dalam

pembuatan, daya tahan dalam proses pembuatan, keandalan yang diperoleh

melalui pengembangan teknik mesin dan bagian–bagian penggerak, dan

perlengkapan atau alat-alat yang lain. (Montgomery, 1998).

Kualitas kecocokan adalah seberapa baik produk yang sesuai dengan

spesifikasi dan kelonggaran yang diisyaratkan oleh rancangan. Kualitas

kecocokan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pemilihan proses

pembuatan, latihan dan pengawasan angkatan kerja, jenis sistem jaminan kualitas

(pengendalian proses, uji, aktivitas pemeriksaan) yang digunakan, seberapa jauh

prosedur jaminan kualitas ini diikuti, dan motivasi angkatan kerja untuk mencapai

(21)

Pengendalian kualitas didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari

pemeriksaan atau pengujian analisis dan tindakan-tindakan yang harus diambil

dengan memanfaatkan kombinasi seluruh peralatan dan teknik-teknik, guna

mengendalikan kualitas produk dengan ongkos minimal (Montgomery, 2002).

Dalam istilah “Kendali Kualitas”, mengandung pengertian bahwa “Kualitas”

bukan berarti terbaik di dunia industri kata itu berarti “terbaik dalam memuaskan

kebutuhan pelanggan tertentu” (Montgomery, 2002).

Montgomery mengemukakan 2 hal penting dari kebutuhan konsumen

yaitu fungsi dan harga produk, dua syarat ini tercemin dalam beberapa

kondisi-kondisi produk, diantaranya :

1. Kondisi Spesifikasi dimensi dan karakteristik

2. Umur produk dan keandalan

3. Standar yang relevan

4. Biaya rekayasa, pembuatan dan mutu

5. Pembuatan (persyaratan produksi)

6. Fungsi, pemeliharaan dan pemasangan di lapangan

7. Biaya-biaya operasi dan pemakaian konsumen

Berdasarkan hal diatas jelaslah kualitas tidak hanya berkaitan dengan mutu

teknis produk, tetapi juga nilai ekonomisnya, sehingga kualitas menjadi faktor

dasar keputusan konsumen dalam produk dan jasa

Tujuan pelaksanaan pengendalian kualitas adalah :

1. Pencapaian kebijaksanaan dan target perusahaan secara effesien

2. Perbaikan hubungan manusia

(22)

4. Pengembangan kemampuan tenaga kerja

Dengan mengarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan diatas akan terjadi

peningkatan produktivitas dan probabilitas usaha. Secara khusus dapat pula

diungkapkan bahwa tujuan pengendalian kualitas adalah :

1. Memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan

2. Penurunan ongkos kualitas secara keseluruhan (Lindsay, 2007)

Kegiatan pengendalian kualitas pada dasarnya terdiri dari 4 langkah yaitu :

1. Menetapkan standar, yaitu standar kualitas biaya, standar kualitas prestasi

kerja, standar kualitas keamanan dan standar kualitas keandalan yang

diperlukan untuk suatu produk

2. Menilai kesesuaian antara produk yang dibuat dengan standart

3. Mengambil tindakan bila diperlukan, yaitu mencari penyebab timbulnya

masalah dan mencari pemecahan masalah

4. Perencanaan peningkatan, berupa pengembangan usaha-usaha yang continue

untuk memperbaiki standar-standar biaya, prestasi keamanan dan keandalan.

Kegiatan pengendalian kualitas yang menunjang tercapainya standard

kualitas tertentu tersebut, melibatkan unsur–unsur manusia, mesin, peralatan,

spesifikasi dan metode pengujian.

Dengan adanya pengendalian diharapkan penyimpangan-penyimpangan

yang muncul dapat dikurangi dan proses dapat diarahkan pada tujuan yang

dicapai. Oleh karena itu fungsi pengendalaian kualitas ini harus dilaksanakan

(23)

2.2 Six Sigma

Six Sigma, pertama kali dikembangkan oleh Bill Smith, Vice President Motorola Inc. (Harry, Mikel J, 1988). Six Sigma, yang dikenal luas sebagai teknik

yang memungkinkan suatu perusahaan mencapai kesempurnaan dalam mutu

produk yang dihasilkan, pertama kali dikembangkan sebagai desain praktis untuk

peningkatan proses manufaktur dan mengeliminasi kerusakan (defect), namun

akhirnya diaplikasikan secara luas dalam berbagai tipe perusahaan. Dalam Six

Sigma, defect diartikan sebagai segala keluaran dari proses yang tidak memenuhi spesifikasi pelanggan atau segala hal yang dapat mengakibatkan keluaran

(produk) yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

T

- 1,5 sigma +1,5 sigma

mean

LSL USL

- 6sigm a - 3sigma - 2sigma - 1sigma + 1sigma + 2sigma + 3sigma + 6 sigma

Gambar 2.1 Konsep Six sigma Motorola dengan Distr ibusi Nor mal Ber geser 1,5–Sigma.

(Sumber : Gaspersz,V.,2002) Doktrin utama dari Six Sigma, adalah :

• Usaha yang terus-menerus untuk mencapai hasil proses yang secara stabil dan

terprediksi (yaitu pengurangan variasi dalam proses) merupakan hal terpenting

(24)

• Manufaktur (proses produksi) dan proses bisnis harus memiliki karakteristik

yang dapat diukur, dianalisis, ditingkatkan dan dikontrol.

• Pencapaian peningkatan kualitas yang berkelanjutan membutuhkan komitmen

dari seluruh organisasi, utamanya dari Top Manajemen.

Dalam Six Sigma dikenal istilah DPMO (Defect Per Million

Opportunities), yaitu besarnya kemungkinan terjadinya kerusakan (defect) dalam setiap sejuta kesempatan. Jadi, misalnya suatu perusahaan, seperti Motorola Inc.

telah mencapai level 3,4 DPMO maka dalam setiap 1 juta proses/produk

kemungkinan terjadi 3,4 proses/produk yang cacat. Sehingga jika dibuat rejection

rate-nya sebesar 0,00034% (bandingkan dengan rejection rate industri farmasi rata-rata 5 – 10%). Motorola Inc. mengklaim bahwa dengan melaksakan jurus ini,

mereka bisa menghemat lebih dari US$ 17 juta (About Motorola University.

http://motorola.com/content).

Six Sigma , terbagi menjadi 2 metode, yaitu DMAIC dan DMADV. DMAIC digunakan untuk proyek-proyek yang ditujukan untuk peningkatan pada

perusahaan yang telah exist, dan DMADV digunakan untuk produk baru atau

proses desain.

DMAIC merupakan singkatan dari :

Define, yaitu penetapan masalah yang juga bisa merupakan keluhan dari pelanggan, tujuan dari suatu proyek, atau spesifikasi yang diinginkan.

(25)

Analysis, yaitu melakukan analisa terhadap data-data yang telah dikumpulkan untuk dilakukan penyelidikan dan memverifikasi hubungan sebab-akibat (akar

permasalahan).

Improve, yaitu perbaikan atau optimalisasi dari proses yang ada saat ini berdasarkan analisis data menggunakan teknik-teknik misalnya design

experiment, atau pembuktian kesalahan yang selanjutnya menciptakan atau menetapkan standar baru

Control, yaitu pengendalian atau pemantauan terhadap proses atau standar baru yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa setiap penyimpangan harus

telah dikoreksi sebelum terjadi defect (kerusakan).

Sedangkan DMADV (juga dikenal dengan nama DFSS – Define For Six

Sigma) adalah singkatan dari:

Define, yaitu pemastian bahwa hasil akhir dari desain akan konsisten dengan keinginan/kebutuhan pelanggan dan strategi perusahaan.

Measure, yaitu mengukur dan mengidentifikasi hal-hal kritis yang berpengaruh terhadap kualitas, kapabilitas produk, kapabilitas proses produksi dan resiko.

Analysis, yaitu Analisis untuk pengembangan dan desain alternatif, menciptakan desain dengan level yang tinggi dan evaluasi kapabilitas desain

untuk mendapatkan desain yang terbaik.

Design, yaitu detail dari desain, optimasi dan merencanakan verifikasi dari desain.

(26)

2.3 DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control)

DMAIC merupakan proses untuk peningkatan terus–menerus menuju

target Six Sigma. DMAIC dilakukan secara sistematik, berdasarkan ilmu

pengetahuan dan fakta. Proses ini menghilangkan langkah–langkah proses yang

tidak produktif, sering berfokus pada pengukuran–pengukuran baru, dan

menetapkan teknologi untuk peningkatan kualitas menuju target Six Sigma. (

Gaspersz, 2002).

2.3.1 Define

Define merupakan langkah operasional pertama dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini, yang paling penting untuk

dilakukan adalah identifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki. Kita harus

menetapkan prioritas utama tentang masalah-masalah dan atau kesempatan

peningkatan kualitas mana yang akan ditangani terlebih dahulu. Pemilihan proyek

terbaik adalah berdasarkan pada identifikasi proyek yang sesuai dengan

kebutuhan, kapabilitas dan tujuan organisasi. Langkah kedua yaitu pernyataan

(27)

Pernyataan tujuan yang benar adalah apabila mengikuti prinsip SMART sebagai

berikut :

Specific Tujuan proyek peningkatan kualitas Six Sigma harus bersifat spesifik yang dinyatakan dengan tegas. Tim peningkatan

kualitas Six Sigma harus menghindari pernyataan-pernyataan

tujuan yang bersifat umum dan tidak spesifik. Pernyataan tujuan

seyogyanya menggunakan kata kerja, seperti: menaikkan,

menurunkan, menghilangkan, dll.

Measurable Tujuan proyek peningkatan kualitas Six Sigma harus dapat diukur menggunakan indikator pengukuran yang tepat guna

mengevaluasi keberhasilan, peninjauan-ulang, dan tindakan

perbaikan diwaktu mendatang. Pengukuran harus mampu

memunculkan fakta-fakta yang di-nyatakan secara kuantitatif

menggunakan angka-angka.

Achievable Tujuan program peningkatan kualitas Six Sigma harus dapat

dicapai melalui usaha-usaha yang menantang

(challenging effort).

Result-oriented Tujuan program peningkatan kualitas Six Sigma harus berfokus pada hasil-hasil berupa pencapaian target-target kualitas yang

ditetapkan, yang ditunjukkan melalui penurunan DPMO (defect

(28)

Time-bound Tujuan program peningkatan kualitas Six Sigma harus menetapkan batas waktu pencapaian tujuan itu dan harus dicapai

secara tepat waktu. (Gaspersz, 2002)

2.3.2 Measure

Tahap ini merupakan langkah operasional kedua dalam program

peningkatan kualitas Six Sigma. Terdapat 3 hal pokok yang harus dilakukan dalam

tahap Measure, yaitu :

1. Memilih atau menentukan karakteristik kualitas (CTQ) kunci yang

berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan.

2. Melakukan pengumpulan data melalui pengukuran yang dapat dilakukan pada

tingkat proses, output dan outcome.

Sebelum melakukan pengukuran, terlebih dahulu kita harus membedakan

apakah data yang diukur itu merupakan data variabel atau data atribut. Data

variabel merupakan data kuantitatif yang diukur menggunakan alat pengukuran

tertentu untuk keperluan pencatatan dan analisis. Data variabel bersifat

kontinyu. Contoh data variabel karakteristik kualitas adalah : diameter pipa,

ketebalan produk kayu lapis, berat semen dalam kantong, konsentrasi elektrolit

dalam persen, dll. Ukuran-ukuran berat, panjang, lebar, tinggi, diameter,

volume. Data atribut merupakan data kualitatif yang dihitung menggunakan

daftar pencacahan atau tally untuk keperluan pencatatan dan analisis. Data

atribut bersifat diskrit. Contoh data atribut karakteristik kualitas adalah :

ketiadaan label pada kemasan produk, kesalahan proses administrasi buku

tabungan nasabah, banyaknya jenis cacat pada produk, banyaknya produk kayu

(29)

3. Mengukur kinerja sekarang (current performance) pada tingkat proses, output,

dan outcome untuk ditetapkan sebagai baseline kinerja (performance baseline)

pada awal proyek Six Sigma. Baseline kinerja dalam proyek Six Sigma

biasanya diterapkan menggunakan satuan pengukuran DPMO dan tingkat

kapabilitas sigma (sigma level). Sesuai dengan konsep pengukuran yang

biasanya diterapkan pada tingkat proses, output dan outcome, maka baseline

kinerja juga dapat ditetapkan pada tingkat proses, output dan outcome.

Pengukuran biasanya dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana output dari

proses dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. (Pzydek, 2002)

2.3.3 Analyze

Tahap ini merupakan langkah operasional ketiga dalam program

peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah

beberapa hal sebagai berikut :

1. Menentukan kapabilitas/kemampuan dari proses.

Process capability merupakan suatu ukuran kinerja kritis yang menunjukkan proses mampu menghasilkan sesuai dengan spesifikasi produk

yang telah ditetapkan oleh manajemen berdasarkan kebutuhan dan

ekspektasi pelanggan.

Keberhasilan implementasi program peningkatan kualitas Six Sigma

ditunjukkan melalui peningkatan kapabilitas proses dalam menghasilkan

produk menuju tingkat kegagalan nol. Kemampuan proses didefinisikan

sebagai “ukuran statistik dari variansi yang inheren pada suatu peristiwa

(30)

Cpm =

Dimana : Cpm = indeks kapabilitas proses (Process Capability Indeks)

USL = batas spesifikasi atas (Upper Specification Limit)

LSL = batas spesifikasi bawah (Lower Specification Limit)

T = target

s = standart deviasi

x = arithmetic mean

Kriteria penilaian indeks kapabilitas proses sebagai berikut :

Cpm > 2,00 : maka proses dianggap mampu (capable)

Cpm = 1,00 – 1,99 : maka proses dianggap mampu namun perlu upaya

upaya giat untuk peningkatan kualitas menuju target

perusahaan berkelas dunia.

Cpm < 1,00 : maka proses dianggap tidak mampu (not capable)

Semakin tinggi Cpm menunjukkan bahwa output proses itu semakin mendekati

nilai spesifikasi target kualitas yang diinginkan pelanggan.

Menurut (Gasperz, 2002) bahwa analisis kapabilitas proses Cpm dan Cpk

tidak dapat diterapkan pada data atribut karena data tersebut mengikuti pola

distribusi binomium. Data atribut sering berbentuk kategori atau klasifikasi

seperti : baik/buruk, sukses/gagal.

2. Mengidentifikasi sumber–sumber dan akar penyebab kecacatan atau kegagalan.

Untuk mengidentifikasi sumber-sumber penyebab kegagalan, dapat

menggunakan Fishbone diagram (cause and effect diagram). Dengan analisa

(31)

atau dalam beberapa kasus, merupakan akibat atau hasil yang diinginkan dan

membuat daftar terstruktur dari penyebab potensial.

Setelah akar-akar penyebab dari masalah yang ditemukan, dimasukkan ke

dalam cause and effect diagram yang telah mengkategorikan sumber-sumber

penyebab berdasarkan prinsip 7M, yaitu :

1) Manpower (tenaga kerja) 2) Machines (mesin-mesin) 3) Methods (metode kerja)

4) Material (bahan baku dan bahan penolong) 5) Media (surat kabar)

6) Motivation (motivasi) 7) Money (keuangan) ( Pzydek, 2002 )

2.3.4 Improve

Tahap Improve merupakan langkah operasional keempat dalam program

peningkatan kualitas Six Sigma. Langkah ini dilakukan setelah sumber–sumber

dan akar penyebab dari masalah kualitas teridentifikasi. Pada tahap ini ditetapkan

suatu rencana tindakan (action Plan) untuk melaksanakan peningkatan kualitas

Six Sigma. Tool yang digunakan untuk tahap improve ini adalah FMEA (Failure Mode and Effect Analysis).

Pada tahap ini tim peningkatan kualitas Six Sigma harus memutuskan apa

yang harus dicapai serta alasan kegunaan rencana tindakan itu harus dilakukan,

dimana rencana tindakan itu akan dilakukan, bilamana rencana tindakan itu akan

(32)

bagaimana melaksanakan, dan berapa besar biaya untuk melaksanakan serta

manfaat positif yang diterima dari implementasi rencana tindakan itu.(Gasperz,

2002)

2.3.5 Control

Tahap ini merupakan langkah operasional kelima dalam program

peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini hasil–hasil peningkatan kualitas di

dokumentasikan dan disebarluaskan, praktek–praktek terbaik yang sukses dalam

peningkatan proses standardisasikan dan disebarluaskan, prosedur–prosedur

didokumentasikan dan dijadikan pedoman kerja standard, serta kepemilikan atau

tanggung jawab ditransfer dari tim Six Sigma kepada pemilik atau penanggung

jawab, yang berarti proyek Six Sigma berakhir pada tahap ini.

Tujuan dari standardisasi adalah menstandardisasikan sistem kualitas

Six Sigma yang telah terbukti menjadi terbaik dalam bisnis kelas dunia. Hasil–hasil yang memuaskan dari proyek peningkatan kualitas Six Sigma harus

distandardisasikan, dan selanjutnya dilakukan peningkatan terus–menerus pada

jenis masalah yang lain melalui proyek–proyek Six Sigma yang lain mengikuti

konsep DMAIC. (Gaspersz, 2002).

2.4 CTQ (Critical To Quality)

CTQ merupakan karakteristik kualitas yang mempengaruhi kepuasan

pelanggan terhadap suatu produk. CTQ dapat diklasifikasi kedalam tiga kategori,

seperti yang disarankan oleh professor dari jepang, Noriaki Kano:

1. Penyebab ketidak puasan : sesuatu yang diharapkan didalam suatu produk atau

(33)

penting merupakan beberapa contoh yang tidak diminta langsung oleh

pelanggan tetapi diharapkan ada di dalam produk tersebut. Jika fitur-fitur ini

tidak ada, maka pelanggan akan merasa tidak puas.

2. Penyebab kepuasan : sesuatu yang diinginkan oleh pelanggan. Banyak

pembeli mobil menginginkan atap mobil, jendela otomatis, atau rem anti

kunci. Meskipun kebutuhan-kebutuhan ini tidak diminta oleh pelanggan.

Memenuhi kebutuhan ini akan menciptakan kepuasan.

3. Pembuat senang : fitur baru atau otomatis yang tidak diharapkan pelanggan.

Adanya fitur yang tidak diharapkan, seperti tombol perkiraan cuaca di radio

atau kontrol audio khusus di kursi belakang yang terpisah yang member

kesempatan pada anak-anak untuk mendengarkan music yang berbeda dari

orang tua mereka, menghasilkan persepsi kualitas yang lebih tinggi. (Pzydek,

2002).

2.5 DPMO (Defects Per Million Opportunities)

Defect adalah kegagalan untuk memberikan apa yang diinginkan oleh pelanggan. Sedangkan Defects per Opportunity (DPO) merupakan ukuran

kegagalan yang dihitung dalam program peningkatan kualitas Six Sigma, yang

menunjukkan banyaknya cacat atau kegagalan per satu kesempatan. Dihitung

menggunakan formula DPO = banyaknya cacat atau kegagalan yang ditemukan

dibagi dengan (banyaknya unit yang diperiksa dikalikan banyaknya CTQ

potensial yang menyebabkan cacat atau kegagalan itu). Besaran DPO ini, apabila

dikalikan dengan konstanta 1.000.000, akan menjadi ukuran Defect Per Million

(34)

Defects Per Million Opportunities (DPMO) merupakan ukuran kegagalan

dalam program peningkatan Six Sigma , yang menunjukkan kegagalan per satu

juta kesempatan. Target dari pengendalian kualitas Six Sigma Motorola, sebesar

3,4 DPMO seharusnya tidak diinterpretasikan sebagai 3,4 unit output yang cacat

dari sejuta unit output yang diproduksi, tetapi diinterpretasikan sebagai dalam satu

unit produk tunggal terdapat rata–rata kesempatan untuk gagal dari suatu

karakteristik CTQ adalah hanya 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan.

Saat ini pihak Motorola telah membuat gambaran kapabilitas sebuah

proses dalam perbandingan antara sigma dan DPMO yang ditunjukkan di tabel 2.1

Tabel 2.1 Konver si Sigma Motor ola Persentase Yang

Memenuhi Spesifikasi DPMO Sigma

30,9 % berada pada 1 sigma dengan prosentase sebesar 30,9 %

- Pada nilai DPMO sebesar 308.000 unit maka level sigmanya dikategorikan berada pada 2 sigma dengan prosentase sebesar 69,2 %

- Pada nilai DPMO sebesar 66.800 unit maka level sigmanya dikategorikan berada pada 3 sigma dengan prosentase sebesar 93,3 %

- Pada nilai DPMO sebesar 6.210 unit maka level sigmanya dikategorikan berada pada 4 sigma dengan prosentase sebesar 99,4 %

(35)

- Pada nilai DPMO sebesar 3,4 unit maka level sigmanya dikategorikan berada pada 6 sigma dengan prosentase sebesar 99,9997 %

2.6 Kapabilitas Pr oses (Process Capability)

Kapabilitas proses adalah kemampuan proses untuk memproduksi atau

menyerahkan output sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan pelanggan. Perlu

dipahami bahwa indeks Cpm yang digunakan mengacu pada CTQ

(Critical-To-Quality) tunggal atau item karakteristik kualitas individual. Indeks Cpm mengukur

kapabilitas potensial atau melekat dari suatu proses yang diasumsikan stabil, dan

biasanya didefinisikan sebagai :

Cpm =

USL = Upper Specification Limit (batas spesifikasi atas)

LSL = Lower Specification Limit (batas spesifikasi bawah)

T = Nilai target (nilai terbaik untuk karakteristik kualitas yang diharapkan

pelanggan) dari produk.

Ketiga nilai USL, LSL, dan T ditentukan berdasarkan kebutuhan dan

ekspektasi rasional dari pelanggan.

μ

= Nilai rata-rata (mean) proses aktual

σ

2

= Nilai varian (variance) dari proses yang merupakan ukuran variasi proses

Kapabilitas proses hanya diukur untuk proses yang stabil, sehingga apabila

proses itu dianggap tidak stabil, maka proses itu harus distabilkan terlebih dahulu.

Dengan demikian nilai standar deviasi yang digunakan dalam pengukuran

kapabilitas proses (Cpm) harus berasal dari proses yang stabil, sehingga merupakan

(36)

Keberhasilan implementasi program peningkatan kualitas Six Sigma

ditunjukkan melalui peningkatan kapabilitas proses dalam menghasilkan produk

menuju tingkat kegagalan nol (zero defect). Oleh karena itu, konsep perhitungan

kapabilitas proses menjadi sangat penting untuk dipahami dalam implementasi

program Six Sigma.

Dalam konteks pengendalian proses statistikal dikenal dua jenis data,

yaitu :

- Data Atribut (Attributes Data) merupakan data kualitatif yang dihitung

menggunakan daftar pencacahan atau tally untuk keperluan pencatatan dan

analisis. Data atribut bersifat diskrit. Contoh data atribut karakteristik kualitas

adalah : ketiadaan label pada kemasan produk, kesalahan proses administrasi

buku tabungan nasabah, banyaknya jenis cacat karena corelap, dana lain-lain.

Data atribut biasanya diperoleh dalam bentuk unit-unit ketidaksesuaian atau

cacat/kegagalan terhadap spesifikasi kualitas yang ditetapkan.

- Data Variabel (Variables Data) merupakan data kuantitatif yang diukur

menggunakan alat pengukuran tertentu untuk keperluan pencatatan dan

analisis. Data variabel bersifat kontinyu. Contoh data variabel karakteristik

kualitas adalah ; diameter pipa, ketebalan produk kayu lapis, berat semen

dalam kantong, konsentrasi elektrolit dalam persen, dll. Ukuran-ukuran berat,

panjang, lebar, tinggi, diameter, volume merupakan data variabel. (Pzydek,

2002).

2.6.1 Penentuan Kapabilitas Pr oses Untuk Data Atr ibut

Berikut ini akan dibahas tentang teknik memperkirakan kapabilitas proses

(37)

melalui perhitungan, bukan pengukuran langsung). Pada umumnya data atribut

hanya memiliki dua nilai yang berkaitan dengan YA atau TIDAK.

Menurut (Gaspersz, 2002) Langkah-langkahnya :

1. Proses apa yang ingin anda tahu ?

2. Berapa banyak unit yang dikerjakan melalui proses?

3. Berapa banyak unit transaksi yang gagal

4. Hitung tingkat cacat berdasarkan langkah 3

(langkah 3) / (langkah 2)

5. Tentukan banyaknya CTQ potensial yang dapat mengakibatkan cacat

Banyaknya karakteristik CTQ

6. Hitung peluang tingkat cacat per karakteristik CTQ

(langkah 4) / (langkah 5)

7. Hitung kemungkinan cacat per satu juta kesempatan (DPMO)

(langkah 6) x 1.000.000

8. Konversi DPMO (langkah 7) ke dalam nilai sigma

9. Buat kesimpulan

DPO = Banyaknya cacat atau kegagalan yang ditemukan

(Banyaknya unit yang diperiksa x banyaknya kegagalan)

DPMO = DPO x 1.000.000

2.6.2 Penentuan Kapabilitas Pr oses Untuk Data Var iabel

Data variabel merupakan data kuantitatif yang dihitung menggunakan alat

pengukuran tertentu untuk keperluan pencatatan dan analisis. Data variabel

bersifat kontinyu. Jika suatu catatan dibuatberdasarkan keadaan aktual, diukur

(38)

Contoh data variabel karakteristik kualitas adalah : diameter pipa, ketebalan

produk kayu lapis, berat semen dalam kantong, konsentrasi elektrolit dalam

persen, dll. Ukuran-ukuran berat, panjang, lebar, tingi, diameter, volume

merupakan variabel.

Teknik penentuan kapabilitas proses untuk data variabel adalah sebagai

berikut :

a. Menentukan proses yang ingin diukur.

b. Menentukan nilai batas spesifikasi atas dan batas spesifikasi bawah.

c. Menentukan nilai target yang ingin dicapai.

d. Menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi dari proses.

e. Menghitung nilai DPMO, dengan menggunakan formula sebagai berikut:

DPMO = [ P { Z ≥ ( USL – X-bar ) / S } x 1juta ] +

[ P { Z ≤ ( LSL – X-bar ) / S } x 1juta ]

Dimana , USL : Batas spesifikasi atas

LSL : Batas spesifikasi bawah

X-bar : Nilai rata-rata

S : Standart deviasi

f. Mengkonversikan nilai DPMO kedalam nilai sigma.

g. Menghitung kemampuan proses didalam nilai sigma.

h. Menghitung kapabilitas proses didalam indeks kapabilitas proses, dengan

formula sebagai berikut :

Cpm = (USL – LSL) / {6≥X-bar – T)² + S² }

Dimana, Cpm : Indeks kapabilitas proses

(39)

Menurut (Gaspersz, 2002) Kriteria (rule of thumb) dari Cpm adalah :

1) Cpm ≥ 2,00; maka poses dianggap mampu dan kompetitif (perusahaan

berkelas dunia)

2) Cpm antara 1,00-1,99; maka proses dianggap cukup mampu, namun perlu

upaya-upaya giat untuk peningkatan kualitas menuju target perusahaan

berkelas dunia yang memiliki tingkat kegagalan sangat kecil menuju nol (zero

defect oriented). Persusahaan yang memiliki nilai Cpm yang berada diantara 1,00-1,99 memiliki kesempatan terbaiki dalam melakukan program

peningkatan kualitas Six Sigma.

3) Cpm < 1,00; maka proses dianggap tidak mampu dan tidak kompetitif untuk

bersaing dipasar global.

2.7 Par eto

Analisis pareto adalah proses dalam mempersingkat kesempatan untuk

menentukan yang mana dari kesempatan potensial yang banyak harus dikejar

lebih dahulu. Ini juga dikenal sebagai “memisahkan sedikit yang penting dari

banyak yang sepele”.

Analisis pareto harus digunakan pada berbagai tahap dalam suatu program

peningkatan kualitas untuk menentukan langkah mana yang diambil berikutnya.

Analisis pareto digunakan untuk menjawab pertanyaan seperti”departemen apa

yang harus memiliki tim SPC berikutnya?” atau “pada jenis kerusakan apa kita

seharusnya mengkonsentrasikan usaha kita?” (pyzdek, 2002)

Sedangkan menurut (Gaspersz, 2002) pareto adalah grafik batang yang

menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang

(40)

ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling

sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta

ditempatkan pada sisi paling kanan.

Pada dasarnya diagram pareto dapat dipergunakan sebagai alat interpretasi

untuk :

• Menentukan frekuensi relative dan urutan pentingnya masalah-masalah atau

penyebab-penyebab dari masalah yang ada.

• Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui membuat

rangking terhadap masalah-masalah atau penyebab dari masalah itu dalam

bentuk yang signifikan.

Gambar 2.3 Contoh Diagr am Par eto (Sumber : www.google.com) Langkah-langkah pembuatannya :

1. Menentukan masalah apa yang akan diteliti.

2. Membuat suatu ringkasan daftar atau tabel yang mencatat frekuensi kejadian

dari masalah yang telah diteliti dengan lembar periksa.

3. Membuat daftar masalah secara berurut berdasarkan frekuensi kejadian dari

(41)

4. Menggambar 2 buah garis vertikal dan garis horizontal.

5. Membuat histogram pada pareto.

6. Menggambar kurva kumulatif dan mencantumkan nilai kumulatif.

7. Memutuskan untuk mengambil tindakan peningkatan atas penyebab utama

dari masalah yang sedang terjadi.

2.8 Diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Costumer)

SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Costumer) digunakan untuk

menunjukkan aktivitas mayor, atau sub-proses dalam sebuah proses bisnis,

bersama-sama dengan kerangka kerja dari proses, yang disajikan dalam Supplier,

Input, Process, Output, Costumer. Dalam mendefinisikan proses-proses kunci beserta pelanggan yang terlibat dalam suatu proses yang dievaluasi dapat didekati

dengan model SIPOC (supplier-Inputs-Process- Output-Costumer). Model SIPOC

adalah paling banyak digunakan manajemen dalam peningkatan proses. Nama

SIPOC merupakan akronim dari lima elemen utama dalam sistem kualitas, yaitu:

Suppliers adalah orang atau kelompok orang yang memberikan informasi kunci, material, atau sumber daya lain kepada proses. Jika suatu proses terdiri

dari beberapa sub proses, maka sub proses sebelumnya dapat dianggap sebgai

petunjuk pemasok internal (internal suppliers).

Inputs adalah segala sesuatu yang diberikan oleh pemasok (suppliers) kepada proses.

Process adalah sekumpulan langkah yang mentransformasikan secara ideal menambah nilai kepada inputs (proses transformasi nilai tambah kepada

(42)

Outputs adalah produk (barang atau jasa) dari suatu proses. Dalam industri manufaktur ouputs dapat berupa barang setengah jadi maupun barang jadi

(final product). Termasuk kedalam outputs adalah informasi-informasi kunci dari proses.

Customers adalah orang atau kelompok orang, atau sub proses yang menerima outputs. Jika suatu proses terdiri dari beberapa sub proses, maka sub proses sesudahnya dapat dianggap sebagai pelanggan internal (internal customers).

(Gaspersz, 2002)

Ga mbar 2.4 Contoh Diagr am SIPOC (Sumber : www.google.com)

2.9 Diagr am Sebab-Ak ibat

Diagram sebab akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan

antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal,

diagram sebab-akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab

(sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor

penyebab itu. Diagram sebab-akibat ini sering juga disebut diagram tulang ikan

(43)

ishikawa (ishikawa’s diagram) karena pertama kali diperkenalkan oleh Prof.

Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo pada tahun 1943.(Gaspersz, 2002)

Pada dasarnya diagram sebab-akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan

berikut:

• Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah

• Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah

• Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut.

Langkah-langkah dalam pembuatan diagram sebab-akibat dapat

dikemukakan sebagai berikut:

§ Mulai dengan pernyataan masalah-masalah utama yang penting dan mendesak untuk diselesaikan.

§ Tuliskan pernyataan masalah itu pada kepala ikan, yang merupakan akibat (effect). Tuliskan pada sisi sebelah kanan dari kertas , kemudian gambarkan tulang belakang dari kiri ke kanan dan tempatkan pernyataan masalah itu

dalam kotak.

§ Tuliskan faktor-faktor penyebab utama yang mempengaruhi masalah kualitas sebagai tulang besar, juga ditempatkan dalam kotak. Faktor-faktor penyebab

atau kategori-kategori utama dapat dikembangkan melalui stratifikasi ke dalam

pengelompokan dari faktor-faktor; manusia, mesin, peralatan, material,

metode, lingkungan, dll, atau stratifikasi melalui langkah-langkah actual dalam

proses. Faktor-faktor penyebab atau kategori-kategori dapat dikembangkan

(44)

§ Tuliskan penyebab sekunder yang mempengaruhi penyebab-penyebab utama, serta penyebab-penyebab-penyebab-penyebab sekunder itu dinyatakan sebagai

tulang berukuran sedang.

§ Tuliskan penyebab-penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab-penyebab sekunder, serta penyebab-penyebab tersier itu dinyatakan sebagai tulang

berukuran kecil.

§ Tentukan item-item yang penting dari setiap faktor dan tandailah faktor-faktor penting tertentu yang kelihatannya memiliki pengaruh nyata terhadap

karakteristik kualitas.

§ Catatlah informasi yang perlu di dalam diagram sebab-akibat itu.

Gambar 2.5 Contoh Fish Bone Chart (Sumber: www.google.com)

2.10 Failure Mode and Effect Analyze (FMEA)

FMEA adalah sekumpulan petunjuk, sebuah proses, dan form untuk

mengidentifikasi dan mendahulukan masalah-masalah potensial (kegagalan).

Dengan mendasarkan aktifitas pada FMEA, seorang manajer, tim perbaikan, atau

(45)

monitoring, dan rencana-rencana tanggapan yang paling mungkin untuk

memberikan hasil. (Pande, 2002)

Langkah – langkah proses implementasi FMEA adalah sebagai berikut :

§ Tetapkan dan gambarkan proses yang akan dianalisa (tahapan define dari DMAIC)

§ Tetapkan keseriusan nilai (dengan Brainstorming) untuk :

1. Keseriusan (severity) akibat kesalahan terhadap proses lokal, proses

lanjutan dan konsumen

2. Tingkat keseringan terjadinya suatu kesalahan (occurance) karena

penyebab potensial

3. Cara mendeteksi kesalahan akibat penyebab potensial muncul (detection)

(tahapan measure dari DMAIC)

§ Brainstorming kesalahan dari tiap tahapan proses, potensial causes dan alat deteksi kesalahan yang ada (tahapan Analyze dari DMAIC)

§ Masukan kriteria nilai yang sesuai untuk masing – masing akibat atau efek kesalahan, penyebab potensial dan alat kontrol

§ Dapatkan RPN (Risk Potensial Number) dengan menganalisa S.O.D (Severity, Occurance, Detection)

§ Rumus RPN = Severity x Occurance x Detection

Severity menunjukkan nilai keseriusan masalah yang timbul pada proses setempat, proses selanjutnya dan end user. Adapun nilai – nilai yang

(46)

Tabel 2.2 Severity

Rating Kriteria Deskripsi

1. Negligigible Severity Pengaruh buruk yang dapat diabaikan 2. Mild Severity Pengaruh buruk yang ringan atau sedikit 3. Mild Severity Pengaruh buruk yang ringan atau sedikit

4. Moderat Severity Pengaruh buruk yang moderat

(masih berada dalam batas toleransi)

5. Moderat Severity Pengaruh buruk yang moderat

(masih berada dalam batas toleransi)

6. Moderat Severity Pengaruh buruk yang moderat

(masih berada dalam batas toleransi)

7. High Severity Pengaruh buruk yang tinggi

(berada di luar batas toleransi)

8. High Severity Pengaruh buruk yang tinggi

(berada di luar batas toleransi)

9. Potensial Safety Problems Akibat yang ditimbulkan sangat berbahaya

(berkaitan dengan keselamatan atau keamanan potensial) 10. Potensial Safety Problems Akibat yang ditimbulkan sangat berbahaya

(berkaitan dengan keselamatan atau keamanan potensial) Sumber: (Gaspersz, 2002)

Occurrence menunjukkan nilai keseringan suatu masalah yang terjadi karena potential cause. Adapun nilai – nilai yang menggambarkan occurrence

bisa diinterpretasikan seperti pada tabel 2.5

Tabel 2.3 Occurrence

Rating Tingkat kegagalan Deskripsi

1. 1 dalam 1.000.000 Tidak mungkin bahwa penyebab ini yang mengekibatkan mode kegagalan

2. 1 dalam 20.000 Kegagalan akan jarang terjadi 3. 1 dalam 4.000 Kegagalan akan jarang terjadi 4. 1 dalam 1.000 Kegagalan agak mungkin terjadi 5. 1 dalam 400 Kegagalan agak mungkin terjadi 6. 1 dalam 80 Kegagalan agak mungkin terjadi

7. 1 dalam 40 Kegagalan adalah sangat mungkin terjadi 8. 1 dalam 20 Kegagalan adalah sangat mungkin terjadi

9. 1 dalam 8 Hampir dapat dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi

10. 1 dalam 2 Hampir dapat dipastikan bahwa kegagalan akan terjadi Sumber: (Gaspersz, 2002)

(47)

Tabel 2.4 Detection

Rating Degree Deskripsi

1. Very high Secara otomatis proses bisa mendeteksi kesalahan yang terjadi 2. Very high Hampir semua kesalahan bisa dideteksi oleh alat kontrol (visual

pada bentuk barang dan ada double checking)

3. High Alat kontrol cukup awal untuk mendeteksi kesalahan (visual

7. Low Keandalan alat kontrol untuk mendeteksi kesalahan rendah (pengamatan fisik)

8. Low Keandalan alat kontrol untuk mendeteksi kesalahan sangat rendah (perubahan warna)

9. Very low Alat kontrol tidak bisa diandalkan untuk mendeteksi kesalahan (feeling berdasar pengalaman masa lalu)

10. Nil Tidak ada yang bisa digunakan untuk mendeteksi kesalahan Sumber: (Gaspersz, 2002)

§ Pusatkan perhatian pada RPN yang tertinggi dan lakukan perbaikan pada potential cause-nya atau alat kontrolnya atau bahkan pada efeknya. (tahapan improve pada DMAIC)

§ Tetapkan implementasi action plan (tahapan improve pada DMAIC)

§ Ukur perubahan RPN yang terjadi (tahapan control pada DMAIC)

§ Jika RPN-nya (baru) masih lebih besar RPN tertinggi terdahulu, maka kembali ke tahapan Brainstorming hingga nilai RPN-nya turun.

(48)

Tabel 2.5 Contoh penggunaan nilai Risk Priority Number (RPN)

S O D RPN Artinya

8 8 1 64 Sering terjadi dan cukup serius akibatnya meskipun ada alat control otomatis untuk memberitahukan kesalahan proses yang terjadi

8 1 9 72 Jarang terjadi dan cukup serius akibatnya dan alat control yang ada belum bisa diandalkan untuk memberitahukan kesalahan proses yang terjadi

1 8 9 72 Sering terjadi dan akibat yang ditimbulkan tidak serius dan alat control yang ada belum bisa diandalkan untuk memberitahukan kesalahan proses yang terjadi

2.11 Brainstorming

Brainstorming membantu membangkitkan ide-ide alternative dan persepsi dalam suatu tim kerja sama (teamwork) yang bersifat terbuka dan bebas (tidak

malu-malu). Brainstorming dapat digunakan berkaitan dengan hal-hal berikut:

(Gaspersz,2002)

§ Menentukan penyebab yang mungkin dari masalah-masalah dalam proses dan/atau solusi terhadap masalah masalah itu.

§ Memutuskan masalah apa (atau kesempatan peningkatan apa) yang perlu diselesaikan.

§ Anggota tim merasa bebas untuk berbicara dan menyumbangkan ide-ide kreatif mereka.

§ Menginginkan untuk menjaring sejumlah besar persepsi alternatif

§ Kreatifitas merupakan outcome yang diinginkan.

§ Fasilitator dapat secara efektif mengelola tim kerja sama itu. ( Gasperz, 2002)

Untuk dapat melaksanakan brainstorming, dapat mengikuti

(49)

§ Menyatakan pertanyaan masalah secara jelas

§ Semua anggota dari kelompok harus berpikir dan membuat catatan-catatan.

§ Setiap ide atau respon yang diberikan oleh anggota kelompok tidak boleh dikritik atau diberi komentar.

§ Setiap ide atau respon dari anggota kelompok dicatat tanpa memberikan komentar.

§ Setiap anggota kelompok diminta memberikan ide atau respon, tidak boleh ada satupun anggota kelompok yang tidak memberikan ide atau respon.

§ Setiap anggota kelompok menyiapkan suatu rangking dari ide-ide atau respon yang diterima itu.

§ Rangking individualvterhadap ide-ide atau respon tersebut kemudian diperbandingkan.

§ Memperioritaskan untuk memilih ide-ide terbaik dari berbagai ide atau respon yang dikemukakan itu.

2.12 Baut

Baut adalah suatu batang atau tabung dengan alur heliks pada

permukannya. Penggunaan utamanya adalah sebagai pengikat (fastener) untuk

menahan dua obyek bersama, dan sebagai pesawat sederhana untuk mengubah

torka (torque) menjadi gaya linear. Baut dapat juga didefinisikan sebagai bidang

miring yang membungkus suatu batang. Komponen baut terdiri dari kepala baut,

(50)

Gambar 2.6 Contoh Pr oduk Baut (Sumber: Gambar Produk Baut PT. Unison)

Baut memiliki standard kualitas yang sudah ditentukan oleh perusahaan.

Adapun standart kualitasnya tercantum dalam tabel berikut:

Tabel 2.6 Standar d Baut Metr is Hexagon

Ukur an Pitch Kunci Tebal kepala (mm)

M5 x 8B 0,8 8 3,4 – 3,4

M6 x 10B 1,00 10 3,9 – 4,0

M7 x 11B 1,00 11 4,5 – 4,6

M8 x 12B 1,25 12 5,1 – 5,2

M8 x 13B 1,25 13 5,1 – 5,2

M10 x 14B 1,25 14 6,3 – 6,4

M10 x 17B 1,50 17 6,1 – 6,2

M12 x 17B 1,25 17 7,3 – 7,4

M12 x 19B 1,75 19 7,2 – 7,3

M16 x 24B 2,00 24 9,7 – 9,8

M20 x 30B 2,50 30 11,5 – 11,6 M22 x 32B fulldrat 2,50 32 13,8 – 13,9 M22 x 32B fullbody 2,50 32 13,8 – 13,9 M24 36B fulldrat 3,00 36 14,8 – 14,9 M24 x36B fullbody 3.,00 36 14,8 – 14,9

(51)

2.12.1 Bahan Baku Baut

Bahan baku baut terbuat dari batang kawat dari besi dan baja, batang

kawat besi dan baja berupa gulungan rol yang besar dan beratnya bisa mencapai 1

ton lebih. Untuk bahan baku batang kawat besi dan baja PT. Unison mendapatkan

supplai bahan baku dari PT. Ispat Indo dan PT. Krakatau Steel.

Adapun ukuran batang kawat besi tercantum dalam tabel berikut :

Tabel 2.7 Standar d Bahan Baku Kawat Gelondongan

Ukur an Diameter Batang M24 36B fulldrat 21,70 M24 x36 fullbody 23,60 Sumber: Data Internal PT. Unison

2.12.2 Pr oses Pr oduk si Baut

Proses produksi baut dibagi menjadi 6 bagian yaitu :

1. Pencucian Bahan Baku dan Pelumasan (Material Cleaning and Phospating)

Material dari gudang bahan baku dimasukkan ke dalam tempat pencucian

dengan tujuan untuk menghilangkan atau membersihkan kawat dari karat dan

(52)

mudah tergores pada saat diproses menjadi baut. Pertama-tama material

direndam menggunakan asam klorida (HCL), kemudian dibilas dengan air.

Kemudian direndam kembali menggunakan fosfat, setelah itu material dijemur

hingga kering dan siap untuk diproses lebih lanjut.

2. Penarikan Bahan (Material Drawing)

Setelah material kering, maka proses selanjutnya yaitu proses penarikan

material dengan menggunakan mesin drawing. Pada proses ini, diameter

material akan disesuaikan dengan diameter yang biasa diproduksi ataupun

diameter yang telah dipesan oleh konsumen.

3. Pemotongan (Cutting)

Pada tahap ini, material kemudian dipotong potong menjadi beberapa bagian

disesuaikan dengan panjang yang diinginkan.

4. Pembentukan Kepala (Heading and Trimming)

Pada proses ini, material yang telah disesuaikan diameternya dimasukkan ke

dalam mesin heading untuk dibuat menjadi baut setengah jadi / baut yang

sudah memiliki kepala baut dan badan baut.

5. Pembentukan Drat (Threading Process)

Baut yang masih setengah jadi, kemudian dimasukkan kedalam mesin rolling

untuk mengalami proses dratting atau pembentukan ulir pada badan baut

hingga menjadi baut yang siap dipakai.

6. Pelapisan (finishing)Pada proses ini, baut yang sudah mengalami proses

pembentukan ulir, kemudian dimasukkan mesin pelapisan UCP yang berwarna

(53)

2.13 Penelitian Pendahulu

Sebagai komparasi untuk penelitian yang terkait maka dicantumkan pula

judul, pembahasan, dan kesimpulan dari penelitian pendahulu.

Judul : ANALISIS PENINGKATAN KUALITAS DENGAN METODE

DMAIC (DEFINE, MEASURE, ANALYZE, IMPROVE, AND

CONTROL) TERHADAP PROSES PERAKITAN SEPEDA MOTOR

Oleh : FIRMAN VERDI SANTOSO

http://library.gunadarma.ac.id/abstraction_30499334-skripsi_fti.pdf

Asbtrak : Peningkatan yang signifikan terjadi tidak hanya dalam hal teknologi

yang digunakan tetapi juga dari sisi kualitas produk atau jasa yang dihasilkan.

Akibatnya, setiap perusahaan baik yang bergerak dibidang manufaktur

maupun yang bergerak dibidang non-manufaktur saling bersaing untuk

menjadi yang terbaik dimata para pelanggan (customer). Penulisan ini

membahas usulan peningkatan kualitas dengan menggunakan Metode

DMAIC. Penulisan ini menitik beratkan pada proses perakitan sepeda motor

tipe xyz pada PT. XYZ sebagai proses yang berpengaruh terhadap adanya

ketidakpuasan konsumen akan produk dari PT. XYZ. Berdasarkan tabel

konversi Six Sigma, nilai DPMO = 225086 berada pada tingkat 2,255 sigma

dengan kapabilitas proses sebesar 0,0997 untuk periode Juli-Agustus 2003.

Tahap perbaikan (improve) difokuskan kepada rear fender miring sebagai

cacat terbesar dengan prosentase 34% dari seluruh jenis cacat dengan terlebih

dahulu dianalisis dengan menggunakan diagram tulang ikan (fishbone) pada

tahap analisis. Dan Tahap pengendalian difokuskan pada faktor metode, faktor

(54)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian untuk penyusunan tugas akhir ini dilakukan di PT. Unison yang

beralamatkan di Jl. Margomulyo no.3C Surabaya. Waktu pengambilan data

dimulai pada bulan Nopember 2011 sampai data tercukupi.

3.2 Identifikasi Var iabel dan Definisi Oper asional Var iabel

3.2.1 Identifikasi Var iabel

Berdasarkan data dari perusahaan yang digunakan dalam perhitungan

DMAIC. Variabel-variabel yang didapat adalah sebagai berikut :

1. Variabel terikat

Nilai DPMO dan level sigma.

2. Variabel bebas

a. Data produksi

b. Data pemeriksaan defect

c. Data jenis defect

3.2.2 Definisi Operasional Var iabel

1. Variabel terikat

Gambar

Tabel 2.3 Occurrence
Tabel 2.4 Detection
Tabel 2.6 Standard Baut Metris Hexagon
Tabel 2.7 Standard Bahan Baku Kawat Gelondongan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Agar masalah dalam proses produksi yang berhubungan dengan kerusakan mesin dapat diminimumkan Perawatan Cutter Posisi cutter kurang presisi Ketidak tepatan penyetingan yang

Metode HEART bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan operator dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan operator sehingga melakukan

Perawatan mesin rutin seperti pemberian pelumas danpemeriksaan mesin sebelum memulai produksi yang dilakukan oleh operator untuk mencegah terjadinya kerusakan

Fakor yang ada yang paling berpengaruh terhadap kecacatan produk botol air mineral ukuran 600ml adalah faktor material, faktor selanjutnya yaitu mesin sering terjadi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesalahan manusia yang mempengaruhi ketidaksesuaian kualitas produk dan faktor – faktor penyebab terjadinya

Faktor yang dapat mempengaruhi adanya laporan ketidaksesuaian produk masuk pada departemen produksi adalah manusia yaitu operator, mesin yaitu mesin pembakaran mesin pembakaran

56 Manusia Mesin Material Metode Operator mengalami keletihan Operator kurang teliti dan kurang disiplin saat sortasi buah Kurangnya pengawasan oleh asisten Banyak material

Faktor manusia berpengaruh sebesar 50% terhadap produk cacat, kurangnya pengawasan operator mesin terhadap mesin yang sedang berjalan, kurangnya operator mesin untuk menjaga dan