• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengaruh paradigma terhadap kebijakan pembangunan

Kaitan antara paradigma dengan kebijakan pembangunan, dapat ditelusuri dari berbagai paradigma yang berkembang. Habermas (1973) membagi paradigma menjadi tiga. Pertama adalah instrumental knowledge. Dalam perspektif paradigma instrumental, suatu pengetahuan dimaksudkan untuk mendominasi atau menaklukkan suatu obyek. Paradigma instrumental disebut juga sebagai pardigma positivisme. Paradigma tersebut menggunakan cara pandang, metode, dan teknik ilmu alam dalam memahami suatu realitas. Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tunggal bersifat universal, sehingga cocok untuk semua keadaan, kapan saja dan dimana saja tentang suatu fenomena sosial.

Kedua adalah paradigma interpretative. Paradigma ini memandang bahwa pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu sosial dan juga penelitaian sosial hanya dimaksudkan untuk memahami sungguh-sungguh suatu fenomena sosial, sehingga ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan sebagai proses pembebasan.

Ketiga adalah paradigma kritis. Ilmu sosial dalam paradigma kritis dianggap sebagai proses katalisasi untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Paradigma kritis menganjurkan bahwa ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial tidak boleh dan tidak mungkin bersifat netral. Paradigma kritik memperjuangkan pendekatan yang bersifat holistik, serta menghindari cara berfikir yang determinastik dan reduksionistik.

Paradigma kritis selalu mempersoalkan mengapa paradigma lain, terutama positivisme menempatkan rakyat dalam perubahan sosial diletakkan dalam pasif subyek untuk diteliti, bahkan menjadi obyek rekayasa sosial. Sebaliknya paradigma kritis selalu menempatkan rakyat sebagai subyek utama perubahan sosial. Rakyat harus diletakkan sebagai pusat proses perubahan, itulah yang menjadi dasar sumbangan teoritik terhadap perkembangan participatory research.

(2)

15

Paradigma kritis memberikan legitimasi terhadap ilmu sosial pembebasan, yang tadinya dianggap tidak ilmah.

Pada dasarnya memahami paradigma dan teori perubahan sosial seharusnya tidak sekadar untuk mempelajari dan memahaminya, tetapi harus didasari pada komitmen dan pemihakan, terlebih kita yang saat ini sedang mempelajari pemberdayaan masyarakat. Pemahaman ini menjadi penting, ketika nanti kita mencoba menelaah realitas sosial dan akan mengubahnya. Tanpa pemahaman dan pemilihan teori yang disertai pemihakan, kita bisa terjebak dalam kegiatan anti pemberdayaan, ketika merencanakan, menyusun dan menetapkan serta mengevaluasi kegiatan.

Sedangkan Giroux dan Aronowitz (1985) dalam Fakih (2000) membedakan tiga paradigma yaitu konservatif, liberal dan kritis. Bagi penganut paradigma konservatif, menganggap bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan hukum alami. Masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan sosial, tidak memiliki kekuatan dan kuasa untuk mengubah kondisi mereka, menganggap hal itu sudah menjadi takdir Tuhan.

Para penganut paham konservatif cenderung menyalahkan subyeknya.

Mereka yang miskin dan tertindas karena salah mereka sendiri, karena banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Kaum konservatif sangat menghendaki harmoni dalam masyarakat. Kaum miskin harus sabar dan menunggu sampai gilirannya datang.

Sedangkan bagi kaum liberal, melihat bahwa memang ada persoalan dalam masyarakat. Tetapi bagi mereka, intervensi yang dilakukan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dalam masyarakat. Sehingga upaya dalam menyelesaikan persoalan lebih merupakan reformasi „kosmetik‟. Hal yang umum dilakukan seperti membangun sekolah dan fasilitas baru, memodernkan peralatan, seperti pengadaan komputer. Kaum liberal beranggapan bahwa masalah masyarakat dan masalah pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitannya dengan struktur kelas, dominasi politik dan budaya.

(3)

16

Dengan anggapan bahwa faktor manusia sebagai akar penyebab masalah dalam masyarakat, maka masalah etika, kreativitas dan need for achievement dalam kesadaran dianggap sebagai penentu perubahan. Jadi dalam menganalisis penyebab kemiskinan masyarakat, kesalahannya terletak di masyarakat itu sendiri.

Masyarakat dianggap malas, tidak memiliki semangat kewiraswastaan, atau tidak memiliki budaya membangun, dan seterusnya. Oleh karena itu, man power development adalah sesuatu yang diharapkan dapat menjadi pemicu perubahan.

Pendekatan yang sangat dipengaruhi oleh modernisasi tersebut misalnya analisis “Perubahan Sosial Pengentasan Kemiskinan” (Anti Poverty). Dasar pemikiran analisis ini adalah bahwa perubahan sosial perlu dilakukan untuk mendorong kaum miskin untuk mengejar ketinggalan mereka dalam masyarakat.

Bagi mereka penyebab utamanya lebih karena kurangnya sumber daya alam ataupun karena tidak produktif, oleh karena itu perlu diciptakan “proyek peningkatan pendapatan” bagi kaum miskin tersebut.

Analisis lain yang juga dapat dikatagorikan golongan ini adalah pendekatan efisiensi yakni pemikiran bahwa pembangunan dan pertumbuhan mengalami hambatan kerena kaum miskin tidak dilibatkan. Maka pelibatan kaum miskin merupakan pertimbangan demi efisiensi pembangunan dan pertumbuhan.

Analisis semacam itu sama sekali tidak bertujuan untuk membebaskan dan mengemansipasi golongan miskin, melainkan justru menggunakan kaum miskin untuk tujuan pembangunan dan pertumbuhan. Kedua analisis sosial tersebut lebih memfokuskan pada golongan miskin, dan kegiatannya lebih untuk memenuhi kebutuhan praktis golongan miskin semata, tanpa mempertanyakan pada kebutuhan strategis mereka.

Kebalikan dari keduanya adalah penganut paradigma kritis. Jika bagi kaum konservatif, program pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk menjaga status quo, dan bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur yang fundamental dalam politik ekonomi masyarakat.

(4)

17

Dalam perspektif kritis, yang harus dilakukan adalah melakukan refleksi terhadap the dominant ideology. Tugas utama penyuluhan adalah menumbuhkan sikap kritis terhadap sistem dan struktur sosial yang tidak adil. Sehingga penyuluhan bertugas melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Sehingga program maupun intervensi yang dilakukan tidak mungkin bersikap netral dan berjarak dengan masyarakat.

Visi yang dikembangkan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil yang tertindas untuk menciptakan tatanan yang lebih adil. Tugas utama penyuluhan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil. Dengan melihat sistem dan struktur sebagai penyebab masalah, maka penganut paradigma kritis menghindari blaming the victim, sebaliknya haruslah melakukan analisa kritis untuk menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya terhadap keadaan masyarakat.

B. Kebijakan dan Advokasi

Menurut Topatimasang (2000) Salah satu kerangka analisis yang berguna untuk memahami suatu kebijakan publik adalah dengan melihat kebijakan tersebut sebagai suatu sistem hukum yang terdiri dari:

 Isi hukum (content of law): yakni uraian atau penjabaran tertulis dari suatu kebijakan yang tertuang dalam bentuk perundang-undangan, peraturan- peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. Ada juga kebijakan-kebijakan yang lebih merupakan kesepakatan umum (konvensi) tidak tertulis, tetapi dalam hal ini lebih menitikberatkan perhatian pada naskah (text) hukum tertulis, atau aspek tekstual dari sistem hukum yang berlaku.

 Tata-laksana hukum (structure of law); yakni semua perangkat kelembagaan dan pelaksana dari isi hukum yang berlaku. Dalam pengertian ini tercakup lembaga-lembaga hukum (pengadilan, penjara, birokrasi pemerintahan, partai politik, dll) dan para aparat pelaksananya (hakim, jaksa, pengacara, polisi, tentara, pejabat pemerintah, anggota parlemen, dll).

(5)

18

 Budaya hukum (culture of law); yakni persepsi, pemahaman, sikap penerimaan, praktek-praktek pelaksanaan, penafsiran terhadap dua aspek sistem hukum di atas: isi dan tata-laksana hukum. Dalam pengertian ini juga tercakup bentuk-bentuk tanggapan (reaksi, respon) masyarakat luas terhadap pelaksanaan isi dan tata-laksana hukum tersebut. Karena itu, hal ini merupakan 'aspek kontekstual' dari sistem hukum yang berlaku.

Sebagai suatu kesatuan sistem, tiga aspek hukum tersebut saling jumbuh dan berkait satu sama lain. Karena itu, idealnya, suatu kegiatan atau program advokasi harus juga mencakup sasaran perubahan ketiganya. Karena, dalam kenyataannya, perubahan yang terjadi pada salah satu aspek saja tidak dengan serta-merta membawa perubahan pada aspek lainnya. Perubahan suatu naskah perundang-undangan atau peraturan pemerintah, tidak dengan sendirinya mengubah mekanisme kerja lembaga atau aparat pelaksananya.

Banyak contoh selama ini jelas-jelas memperlihatkan bahwa naskah undang-undang atau peraturan pemerintah yang betapapun baiknya secara normatif, tidak didukung oleh kesiapan perangkat kelembagaan atau aparat pelaksana yang memadai dan akhirnya tersisa sebagai retorika murni belaka.

Pernyataan tersurat (eksplisit) dalam UU Pokok Agraria No. 5/1960, misalnya, yang jelas-jelas mengakui adanya hak-hak ulayat masyarakat adat lokal, tidak pernah bisa dilaksanakan atau bahkan masih terus menjadi bahan perdebatan kontroversial, karena memang tidak ada penjabaran yang lebih rinci tentang tata cara pelaksanaannya dalam peraturan-peraturan pemerintah. Bahkan, banyak undang-undang lain, seperti UU Pokok Kehutanan, bertentangan atau mengabaikan pengakuan tersebut.

Fakih (2000) menyebutkan bahwa advokasi merupakan upaya sistematik dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam kebijakan public secara bertahap maju (incremental). Dengan demikian, advokasi bisa dilakukan siapa saja, termasuk perusahaan-perusahaan besar untuk membela kepentingannya, dengan menggunakan jasa konsultan yang menyediakan jasa advokasi. Banyak perusahaan asing menggunakan jasa pelobi

(6)

19

profesional untuk melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah di Negara dimana mereka menanamkan modal. Oleh karena itu, NGO pendamping petani perlu melakukan advokasi tandingan, yaitu advokasi untuk keadilan sosial. Dalam kaitan dengan proposal penelitian ini, maka kepentingan petani yang menjadi korban kebijakan harus menjadi agenda utama yang diperjuangkan.

Selama ini kata advokasi sudah sering dikatakan orang dengan pengertian beragam, bahkan sering disederhanakan. Pemerintah pun tidak jarang menggunakan kata advokasi dalam salah satu programnya. Sebenarnya suatu kegiatan dapat dikatakan sebagai advokasi atau bukan dapat dilihat dari sasaran akhirnya.

Topatimasang (2000) menyatakan advokasi adalah suatu upaya untuk memperbaiki atau mengubah suatu kebijakan publik sesuai dengan kehendak atau kepentingan mereka yang mendesakkan terjadinya perubahan tersebut. Tujuan akhir advokasi adalah mempengaruhi dalam rangka mengubah suatu kebijakan Negara atau pemerintah yang merugikan rakyat awam. Oleh karena itu keberhasilan suatu advokasi ditentukan terjadinya perubahan kebijakan tersebut.

Kebijakan tersebut bisa berupa Undang-Undang atau peraturan, cara pemerintah melaksanakannya, bahkan cara pandang, sikap, perilaku dan tindakan pemerintah terhadap masyarakat.

Dalam mencapati tujuan akhir advokasi diperlukan adanya sasaran antara.

Selama proses advokasi berlangsung ada banyak hal yang bisa dihasilkan, misalnya masyarakat menjadi sadar bahwa masalah yang mereka hadapi ada hubungannya atau bersumber dari suatu kebijakan tertentu. Sehingga para korban kebijakan tersebut menjadi lebih berani menyatakan sikap dan tuntutan, semakin banyak pihak yang bersedia memberikan dukungan dan bersedia membantu memperjuangkan terjadinya perubahan kebijakan tertentu tersebut.

Pihak yang akan melakukan advokasi terlebih dulu harus melakkan analisis sosial. Inti analisis sosial sesungguhnya adalah pada hubungan-hubungan (relasi-relasi) sosial yang terjadi di balik suatu gejala, kejadian, peristiwa atau permasalahan kemasyarakatan yang tampak di permukaan serta kepentingan-

(7)

20

kepentingan dan pertentangan kepentingan yang ada di balik hubungan-hubungan (relasi) tersebut. Analisis sosial bukan sekadar suatu “deskripsi sosiografis” atau

“sosiogram” yang hanya menguraikan pola-pola hubungan sosial dalam masyarakat tanpa mempertanyakan kepentingan-kepentingan tersembunyi di balik hubungan-hubungan tersebut.

Dalam melakukan analisis, ketika akan memahami suatu gejala atau persitiwa harus selalu mempertanyakan: Siapa saja pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kasus tersebut? Siapa yang untung dan siapa yang rugi? Apa dan bagaimana dan sifat hubungan atau saling keterkaitan antar setiap pihak tersebut? Siapa menerima dan memberi apa terhadap pihak yang lain? Apa sesungguhnya sifat dari bentuk-bentuk hubungan atau saling keterkaitan semacam itu? Apakah bersifat saling menguntungkan, saling merugikan, atau justru ada yang diuntungkan sementara di pihak lain ada yang dirugikan? Dengan kata lain, apakah sifat dari hubungan-hubungan tersebut memang adil atau sebaliknya bersifat menghisap (eksploitatif) oleh satu pihak terhadap pihak yang lain?

Langkah-Langkah Advokasi 1. Membentuk Lingkar Inti

Langkah pertama dari proses advokasi adalah membentuk apa yang disebut sebagai 'lingkar inti' yakni kumpulan orang dan/atau organisasi yang menjadi penggagas, pemrakarsa, penggerak dan pengendali utama seluruh kegiatan advokasi. Sebagai upaya sistematik dan terorganisir untuk mengubah kebijakan publik dalam suatu issu tertentu, maka kegiatan advokasi memerlukan perancangan strategi yang cukup baik, mulai dari pemilihan issunya, perumusan sasaran-sasaran yang akan dicapai, penentuan metoda dan taktik yang akan digunakan, penyiapan dan penggalangan dukungan sumberdaya yang dibutuhkan, sampai pada pemantautan seluruh proses, hasil dan dampaknya nanti.

Lingkar inti dari suatu gerakan advokasi adalah suatu 'tim kerja' yang siap bekerja purna-waktu, kohesif dan solid. Ibarat menghadapi suatu peperangan (dan

(8)

21

persoalan advokasi memang adalah persoalan 'menang' atau 'kalah', bukan persoalan 'benar' atau 'salah'), lingkar initi ini adalah perancang strategi sekaligus pemegang tongkat komando utama yang siap setiap saat di 'markas besar pusat' selama proses advokasi berlangsung.

Karena itu pembentukan lingkar inti dalam suatu gerakan advokasi memerlukan beberapa prasyarat tertentu yang cukup ketat, terutama dalam hal adanya kesatuan atau kesamaan visi dan analisis (bahkan juga ideologis) yang jelas terhadap issu yang diadvokasikan.

2. Menentukan Issu Strategis

Segera setelah lingkar inti terbentuk, tugas pertama mereka adalah memilih dan menetapkan suatu issu tertentu yang akan diadvokasikan. Mereka harus mengumpulkan data dan informasi sebanyak mungkin untuk menganalisis mana di antara sekian banyak issu aktual dalam masyarakat yang benar-benar strategis untuk diadvokasikan. Issu strategis adalah perumusan jawaban terhadap sejumlah pertanyaan atau masalah kebijakan paling mendasar yang akan mempengaruhi kerja-kerja advokasi selanjutnya.

Issu strategis paling tidak harus mengandung 3 ciri pokok atau kaidah dasar, yaitu:

a. Terumuskan secara singkat-padat-jelas, jika perlu dalam satu kalimat/paragraf saja. Meskipun singkat rumusan ini harus mampu menjawab pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan oleh suatu organisasi terhadap issu tersebut. Kalau ternyata jawabannya adalah bahwa organisasi yang bersangkutan tidak dapat berbuat sesuatu apapun, itu berarti bahwa issu itu bukanlah suatu issu yang strategis.

b. Meskipun rumusannya singkat, namun rumusan itu adalah hasil dari suatu diskusi panjang dan mendalam tentang sejumlah faktor yang menjadi alasan mengapa issu tersebut dapat dianggap sebagai suatu masalah kebijakan yang paling mendasar dalam suatu organisasi, terutama dalam kaitannya dengan kerja-kerja advokasi.

(9)

22

c. Meski ringkas, namun tersedia suatu rumusan terpisah yang cukup rinci tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dialami oleh organisasi jika nantinya ternyata gagal menangani issu tersebut. Jika ternyata tidak ada konsekuensi atas kegagalan tersebut, maka issu tersebut tidak bisa bisa dikatakan sebagai suatu issu strategis. Sebaliknya jika konsekuensinya cukup berat jika terjadi kegagalan, maka berarti issu tersebut memang sangat strategis dan harus ditangani segera.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam merumuskan issu strategis:

a. Pertama sekali, urun-pendapat (brainstorming) semua anggota lingkar inti mendaftarkan sebanyak mungkin issu yang mereka anggap penting diavokasikan.

b. Setelah daftar isssu terkumpul, dilakukan penilaian terhadap setiap issu dengan meng-crosscheck satu-persatu terhadap Tolak Ukur Issu Strategis Advokasi yang telah dirumuskan dan disepakati.

c. Atas dasar check-list tersebut, pilih salah satu saja issu yang akan diadvokasikan, yakni yang paling memenuhi semua tolak-ukur yang ada d. Susun satu tulisan singkat (1-2 halaman saja) sebagai 'kertas posisi'

(position papper) kelompok lingkar inti yang menjelaskan latar-belakang data/informasi dan alasan-alasan mengapa menganggap issu tersebut penting dan perlu diadvokasikan.

3. Menggalang Sekutu dan Pendukung

Sekutu (alliances) dalam kegiatan advokasi adalah perseorangan, kelompok atau organisasi yang memiliki sumberdaya (keahlian, akses, pengaruh, informasi, prasarana dan sarana, juga dana) yang bersedia, dan kemudian terlibat aktif langsung, mendukung dengan mengambil peran atau menjalankan suatu fungsi atau tugas tertentu dalam keseluruhan rangkaian kegiatan advokasi secara terpadu.

Adapun mereka yang tidak terlibat secara langsung (misalnya, sekedar membantu penyediaan sarana dan logistik yang dibutuhkan), dapat kita katakan

(10)

23

sebagai satuan pendukung (supporting unit). Tetapi, terlibat langsung atau tidak langsung, tetap dibutuhkan proses-proses pendekatan kepada mereka agar bersedia terlibat. Jelas, diperlukan berbagai ketrampilan teknis dan kiat khusus untuk itu.

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam usaha menggalang sekutu dan barisan pendukung advokasi yang akan kita lakukan adalah menyangkut issu advokasi itu sendiri. Untuk mengajak berbagai pihak dan meyakinkan mereka agar bersedia mendukung issu yang akan kita advokasikan, paling sedikit issu tersebut harus memenuhi beberapa syarat berikut:

a. Memang penting dan berarti bagi mereka yang kita ajak. Jika mereka merasa issu tidak ada kaitannya dengan mereka, mengapa mereka harus tertarik mendukung?

b. Sebaiknya dengan cakupan atau lingkup terbatas dulu yang khas. Issu dengan cakupan terlalu besar dan luas, belum apa-apa, akan memancing pesimisme: apa memang realistik dan bisa berhasil? Hasil kemenangan- kemenangan kecil yang dicapai pada awal advokasi akan semakin meyakinkan mereka yang kita ajak bahwa advokasi yang kita lakukan adalah sesuatu yang memang masuk akal.

c. Meskipun demikian, issu tersebut harus tetap mencerminkan adanya tujuan-tujuan perubahan yang lebih besar dalam jangka panjang.

Adanya gambaran jelas tentang ini akan lebih meyakinkan mereka yang kita ajak bahwa mereka akan mendukung sesuatu yang sangat penting dan berdampak luas, meskipun dimulai dari sesuatu yang nampaknya kecil dan sederhana.

d. Dengan demikian, issu yang kita tawarkan itu memiliki landasan untuk membangun kerjasama dan persekutuan lebih lanjut di masa-masa mendatang, jadi tidak hanya berhenti untuk satu kegiatan advokasi saja.

e. Tetapi pilihan issu yang tepat dan bagus itu sendiri belum cukup. Apa yang tak kalah penting adalah keterlibatan mereka dalam perumusan

(11)

24

dan pemilihan issu tersebut. Atau, paling tidak kita mampu membuktikan dan meyakinkan mereka bahwa issu tersebut memang dipilih dan dirumuskan melalui proses partisipatif dengan basis-basis konstituen atau anggota organisasi yang berakar di masyarakat, sehingga mereka yakin bahwa mereka akan mendukung suatu kegiatan advokasi yang memang mendapat dukungan luas dan kuat di masyarakat.

4. Merancang Sasaran dan Strategi

Hal pertama yang harus diingat dalam perumusan sasaran suatu kegiatan atau program advokasi adalah hakekat dan tujuan utama advokasi itu sendiri sebagai upaya untuk mengubah kebijakan publik, sehingga rumusan sasaran (objectives, targets, outcomes) nya juga harus tetap mengacu pada tujuan (goals) tersebut. Ini penting diingatkan kembali terlebih dahulu untuk mencegah kecenderungan merumuskan sasaran advokasi yang berlebihan atau sudah berada di luar batas lingkup advokasi itu sendiri, misalnya, kecenderungan memperlakukan advokasi sebagai suatu 'revolusi' untuk merebut kekuasaan.

Meskipun dalam tujuan jangka panjang (aims) nya, advokasi merupakan salah satu piranti gerakan perubahan sosial yang lebih besar dan menyeluruh, namun advokasi tetap saja merupakan gerakan yang menggunakan cara-cara bukan kekerasan (non-violence movement) melalui jalur, wadah dan proses demokrasi perwakilan yang ada. Jadi, jelas advokasi bukanlah revolusi fisik, apalagi perlawanan bersenjata.

Karena itu sasaran advokasi memang hanya tertuju atau terarah pada kebijakan-kebijakan publik (atau bahkan hanya satu kebijakan publik tertentu) saja, dengan asumsi bahwa perubahan yang terjadi pada satu kebijakan tertentu tersebut akan membawa dampak positif atau, paling tidak, titik-awal dari perubahan-perubahan yang lebih besar secara bertahap maju.

Dalam merancang sasaran dan strategi hendaknya memperhatikan langkah- langkah sebagai berikut :

a. Lihat kembali hasil perumusan Issu Strategis yang telah disusun sebelumnya oleh lingkar inti.

(12)

25

b. Tentukan kebijakan publik mana yang akan menjadi sasaran advokasi. Jika berbentuk peraturan atau undang-undang resmi, harus disebutkan secara jelas: nomor berapa, tentang apa, dan pada tingkatan apa (daerah, nasional, internasional)?

c. Tentukan aspek apa dari kebijakan publik tersebut yang akan difokuskan atau diprioritaskan sebagai sasaran advokasi? Aspek tersebut meliputi isi naskah, tata-laksana, budaya, atau semuanya.

d. Tentukan bentuk perubahan apa yang diinginkan sebagai hasil keluaran konkrit dari rencana advokasi.

5. Mengolah Data dan Mengemas Informasi

Berbeda dengan riset akademis yang mementingkan formalitas baku dalam proses dan hasilnya, riset untuk advokasi lebih mementingkan manfaat praktis dari semua data dan informasi yang dihasilkannya. Karena itu, riset advokasi sebenarnya lebih merupakan riset terapan (applied reaserch), terutama dalam bentuk kajian kebijakan (policy studies).

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data dan mengolahnya menjadi informasi yang diperlukan untuk mendukung semua kegiatan lain dalam proses advokasi: dalam rangka memilih dan merumuskan issu strategis, sebagai bahan proses legislasi, untuk keperluan lobbi dan kampanye, dan sebagainya.

Dengan demikian, semua data dan informasi hasil riset itu pada akhirnya perlu dikemas sedemikian rupa untuk berbagai keperluan praktis yang beragam tersebut. Data dan informasi yang sama, jika digunakan untuk keperluan melobbi pejabat pemerintah, misalnya, tentu saja memerlukan kemasan dan cara penyajian yang berbeda jika digunakan untuk menggalang dukungan langsung dan aktif dari berbagai pihak lain sebagai calon sekutu potensial, atau jika digunakan untuk keperluan kampanye pembentukan pendapat umum.

(13)

26 Kaidah dan Ciri Pokok Riset Advokasi

a. Tujuan riset advokasi adalah pembuktian kasus dan berpegang pada kebenaran issu yang diadvokasikan.

b. Manfaat riset advokasi adalah adanya pengakuan hak atau pelayanan publik yang lebih baik.

c. Riset advokasi harus memihak/tidak netral.

d. Hindari kaidah-kaidah baku yang cenderung bersifat akademis.

e. Penyajian hasil singkat, padat, jelas dan tegas.

Langkah-langkah Riset Advokasi

a. Tentukan kebijakan publik apa yang menjadi obyek kajian.

b. Tentukan tujuan melakukan riset advokasi, dengan memperhatikan data dan informasi akan disampaikan kepada siapa atau digunakan untuk apa.

c. Tentukan siapa yang melakukan kajian. Pelaksanaan kajian harus melibatkan aktivis dan rakyat.

d. Buatlah jadwal pelaksanaan kegiatan.

e. Pilih proses dan metoda pelaksanaannya.

Pengemasan Informasi Untuk Keperluan Advokasi

Informasi hasil riset atau kajian kebijakan untuk keperluan kegiatan advokasi harus disajikan agar menarik dan mudah dipahami. Bedakan bentuk dan cara penyajian informasi berdasar keperluannya, karena kegiatan yang berbeda cara penyajiannya juga harus beda. (sebagai bahan proses legislasi; atau untuk lobbi dengan pejabat pemerintah; atau untuk kampanye pendapat umum dan media massa; menggalang dukungan kerjasama dari organisasi lain; bahan pelatihan dan pendidikan di basis-basis massa)

Untuk membangun dukungan publik pada alasan yang anda sampikan, harus dicari jalan untuk menjangkau orang dan menangkap perhatian mereka.

Artinya penyampaian issu harus mudah dipahami dan dapat mempengaruhi orang.

(14)

27

Langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana pesan akan disampaikan.

Pikirkan dengan hati-hati mengenai kesan kampanye dan bagimana anda akan menyampaikan. Apakah anda perlu terang-terangan, dapat dipercaya, tua atau muda agresif atau menghibur. Cara anda menampilakn diri anda akan memengaruhi cara orang memandang anda dan issu yang disampaikan.

Ketika mendisain pesan, mintalah masukkan dan berunding dengan pelaku kampanye, apakah mereka staff, relawan, pemimpin masyarakat yang mendukung kasus anda. Ajak orang kreative untuk merumuskan pesan-pesan tersebut.

6. Sosialisasi Issu

Pada jalur ini, bentuk-bentuk kegiatannya lebih beragam dan majemuk lagi, mulai dari kampanye pembentukan kesadaran masyarakat dan pendapat umum, kampanye penggalangan dukungan, pelatihan dan pendidikan politik tentang suatu issu kepada para anggota dan warga korban, pembentukan basis- basis organisasi gerakan, sampai pengerahan kekuatan massa melakukan berbagai aksi-aksi kesetiakawanan, unjuk-rasa, mogok, boikot, pembangkangan sosial, dan seterusnya.

Kampanye pembentukan pendapat umum penting dalam kegiatan advokasi, bahkan mungkin merupakan bentuk kegiatan yang paling lazim dilakukan oleh banyak organisasi/jaringan advokasi selama ini. Tetapi tidak banyak, terutama di kalangan ORNOP di Indonesia selama ini, yang pernah melakukannya secara cukup sistematis, efektif, kreatif, innovatif dan menarik! (bahkan ada kesan sering dibuat 'asal-asalan').

Langkah-langkah

a. Tentukan apa sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil kampanye pembentukan pendapat umum dalam kerangka kerja advokasi.

b. Kenali siapa saja yang akan menjadi sasaran utama kampanye.

c. Pilih tema (pesan-pesan) pokok yang akan dikampanyekan dan siapkan bahan-bahan pendukungnya.

(15)

28

d. Rancanglah penyajian pesan-pesan yang akan disajikan. Pilih bentuk media yang tepat untuk menyamaikannya dan kemas pesan dengan efektif serta kreatif.

e. Buatlah jadwal pelaksanaan kampanye; Berapa kali dan berapa lama kampanye akan dilakukan? Kapan, pada saat apa dan dimana saja?

f. Tentukan orang-orang yang akan melakukan kampanye. Pikirkan cara mengkoordinasikannya secara terpadu dengan semua kegiatan advokasi lainnya.

g. Rancanglah akan diapakan hasil kampanye itu nanti. Buat antisipasi jika ternyata kampanye itu gagal mencapai sasaran.

h. Lakukan evaluasi dalam kelompok lingkar inti apakah kampanye yang telah dilakukan tadi berhasil atau tidak mencapai sasaran (mempengaruhi pendapat khalayak sasaran kampanye).

7. Kerja Media

Media merupakan kata yang digunakan untuk menunjuk pada hubungan komunikasi, apakah dalam bentuk cetakan atau bentuk siaran, seperti surat kabar, jurnal, majalah, radio dan televisi. Semua bentuk media ini berguna untuk menyampaikan pesan anda ke masyarakat.

Setiap penggunaan dari media itu sangat berbeda, oleh karena itu ia membutuhkan bentuk pendekatan yang berbeda pula. Media massa terutama media cetak dan elektronik memiliki dampak yang luas dan kompleks terhadap pola kehidupan sosial di kota maupun di desa. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada satu bidang tertentu tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Kerja media dapat dilakukan secara mandiri maupun dengan menggunakan atau bekerjasama dengan media massa yang ada baik itu elektronik, cetak mapun cyber media. Kegiatan mandiri yang dapat dilakukan antara lain menebitkan bulletin, newsletter, membentuk radio komunitas bahkan kalau perlu TV komunitas. Sedangkan kegiatan kerja media yang dilakukan dengan menggunakan atau bekerjasama dengan media yang ada antara lain, menerbitkan

(16)

29

press release (siaran pers), mengundang untuk liputan, talkshow, spot iklan dan lain-lain.

Secara garis besar tujuan dari kerja media ini adalah :

a. Memberikan informasi dan penyadaran pada masyarakat mengenai isu yang sedang diadvokasi.

b. Mengajak masyarakat untuk mendukung isu yang diadvokasi dalam bentuk perilaku.

c. Membentuk pendapat umum dalam rangka menciptakan tekanan sosial- politik bagi terjadinya perubahan kebijakan publik.

8. Mengadakan Seminar

Salah satu langkah penting lainnya untuk mempromosikan kasus dan mendidik masyarakat adalah melalui penyelenggaraan seminar-seminar. Seminar merupakan suatu kegiatan pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah dibawah pimpinan ahli (praktisi, pakar, dsb).

Dalam kerangka advokasi seminar bermanfaat untuk:

a. Memberi suatu orientasi dan pandangan umum terhadap suatu permasalahan.

b. Mengajari orang-orang untuk melakukan sesuatu dengan baik. Contohnya:

advokasi legislatif, hubungan media, mencari dana.

c. Menciptakan suatu bahasa, sikap, atau pendekatan umum terhadap permasalahan/kampanye dan memperbaiki komunikasi antar anggota dan kemampuan mereka untuk menyampaikan pesan anda ke masyarakat.

d. Menimbulkan kebersamaan dan memberikan kesempatan untuk saling mendukung dan mempelajari.

Penyelenggaraan seminar dapat ditujukan untuk :

a. Memberikan informasi dan penyadaran pada masyarakat mengenai isu.

b. Membentuk pendapat umum dalam rangka menciptakan tekanan sosial- politik bagi terbentuknya perda.

(17)

30

c. Menghasilkan pandangan-pandangan akademik yang akan dijadikan acuan pembuatan legal draft.

9. Mendesakkan Perubahan Kebijakan

Upaya mendesak perubahan kebijakan akan menyangkut kedalam berbagai aspek teknis atau bentuk-bentuk kegiatan advokasi yang sesungguhnya. Seperti yang digambarkan dalam bagan-arus sistem advokasi terpadu, ada tiga jalur proses pembentukan kebijakan publik, dengan berbagai jenis atau kegiatannya masing-masing yang khas, yang harus ditempuh pula oleh proses advokasi. Jalur pertama adalah proses-proses legislasi dan juridiksi.

Proses-proses legislasi, yang membentuk isi naskah hukum atau kebijakan publik, mencakup beberapa jenis kegiatan: mulai dari menyusun rancangan undang-undang atau peraturan (legal drafting), termasuk di dalamnya penyususnan rancangan tanding (counter draft), sampai peninjauan kembali atau pengujian undang-undang (judicial review); sementara proses juridiksi, yakni beracara di peradilan (ligitasi) juga bisa terjadi dalam berbagai bentuk: gugatan perwakilan(legal standing), gugatan bersama (class action), dsb.

Upaya pendesakan perubahan kebijakan ditekankan pada proses-proses legislasi, terutama yang sekaligus melibatkan dan banyak berkaitan dengan proses-proses politik dan proses-proses sosialisasi, yakni pengajuan rancangan tanding (counter draft legislation) yang memang memungkikan kalangan masyarakat awam sekalipun terlibat didalamnya, bukannya hanya pakar maupun praktisi hukum semata-mata. Proses ini sekaligus merupakan inti semangat advokasi, yaitu adanya partisipasi masyarakat dalam proses-proses pembentukan kebijakan publik yang bermanfaat bagi kepentingan bersama.

(18)

31 Proses Pembaruan Kebijakan

Bagan di bawah ini memperlihatkan sasaran advokasi. Walaupun sasarannya adalah perubahan kebijakan publik sebagai bagian dari sistem hukum, namun tidak berarti hanya dapat dilakukan melalui jalur-jalur “legal” (proses- proses legislasi dan litigasi) saja, tetapi juga melalui jalur-jalur “para-legal”

(proses-proses politik dan birokrasi serta proses-proses sosialisasi dan mobilisasi).

Kegiatan kampanye pembentukan pendapat umum, diharapkan bisa menjadi sesuatu yang menarik, menyentuh perasaan-perasaan terdalam khalayak ramai, dikemas dengan kepekaan, sentuhan artistik dan ketrampilan teknis yang memadai.

PROSES-PROSES

LEGISLASI & LITIGASI - legal drafting ISI/NASKAH

(pengajuan usul, konsep- tanding dan pembelaan Isi Naskah

PROSES-PROSES - lobbi POLITIK & BIROKRASI - mediasi Tatanan

(mempengaruhi pembuatan - negosiasi

& pelaksana peraturan)

TATANAN

Budaya

PROSES-PROSES BUDAYA

SOSIALISASI & MOBILISASI - kampanye, siaran pers

(membentuk pendapat umum - pengorganisasian

dan tekanan politik - pendidikan politik

Gambar 2. 1 Proses Perubahan Kebijakan

Perubahan Kebijakan

(19)

32 C. Perlawanan Petani

Dari masa ke masa berbagai macam kebijakan pertanahan seringkali mendapatkan perlawanan karena kebijakan yang dikeluarkan menimbulkan dampak ketidakadilan. Meskipun ada Undang-Undang yang mengatur tentang reformasi agraria, pelaksanaanya tidak efektif dan mendapat pertentangan dari tuan tanah yang merasa dirugikan. Bentuk perlawanan yang dilakukan petani bermacam-macam, baik bersifat individual maupun kolektif, hanya sekedar berunjuk rasa atau bahkan melakukan pemberontakan. Salah satu bentuk perlawanan petani yang bersifat tersembunyi dan diam-diam disebut James Scott sebagai bentuk perlawanan sehari-hari (everyday forms of resistance). Perlawanan sehari-hari merupakan upaya perjuangan petani yang biasa-biasa saja namun terjadi secara terus-menerus antara kaum tani dengan orang-orang yang berusaha untuk menghisap tenaga kerja, makanan, pajak, sewa, dan keuntungan dari mereka. Perlawanan petani tidak selalu merupakan bentuk aksi bersama, tetapi kadang-kadang merupakan resistensi individual yang dilakukan secara diam-diam.

Strategi perlawanan ini lebih aman karena tidak perlu dilakukan melalui sebuah organisasi lengkap dengan pemimpinnya yang mudah terdeteksi.

Popkin (1979) menyatakan bahwa gerakan perlawanan petani lebih karena faktor determinan individu, bukan kelompok. Biang keladi atas terjadinya perlawanan para petani tradisional datang dari penetrasi kapitalisme ke kawasan pedesaan yang dalam banyak kasus melahirkan eksploitasi terhadap para petani oleh para tuan tanah, oleh Negara dan kaum kapitalis.

Pendapat Scott (1981) yang menyatakan bahwa kehidupan petani ditandai oleh hubungan moral sehingga malahirkan moral ekonomi yang lebih mengutamakan “keselamatan” dan menjauhkan diri dari bahaya, bisa berlaku pada sebagian gerakan petani, tetapi tidak berlaku pada gerakan yang lain, karena beberapa perlawanan petani juga bisa bersifat radikal, tidak jarang perlawanan juga dilakukan dalam bentuk kekerasan.

Perlawanan petani tidak semata-mata disebabkan oleh masalah agraria.

Menurut Scott (1993) perlawanan petani juga bisa disebabkan oleh komersialisasi

(20)

33

pertanian. Perlawanan bisa muncul pada daerah-daerah yang kemajuan komersialnya sangat menonjol, sehingga kepercayaan petani akan jaminan subsistensinya semakian menurun dan petani tidak mempunyai pilihan lain kecuali melawan.

Perlawanan petani juga sering terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam (SDA). Sengeketa pemanfaatan SDA biasanya terjadi akibat dominasi oleh Perusahaan yang memperoleh Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dari Negara.

Ternyata pengelolaan hutan yang tidak berpihak pada masyarakat sekitar hutan tersebut ada benang merahnya dengan diskursus pengelolaan hutan dalam ilmu kehutanan. Scott menggambarkan bahwa Sumber Daya Hutan seperti produsen kayu yang mampu memberikan pemasukan terhadap Negara.

Sengketa dimulai ketika lingkungan alam disebut sebagai sumber daya alam (SDA), yang menjadi factor penting sejak awal perkembangan kapitalisme.

Dalam teori ekonomi kapitalis, ada tiga factor produksi; yaitu sumber daya dana, sumber daya manusia, dan sumber daya alam. Berhubung sumber alam sifatnya terbatas, sementara kebutuhan pemupukan modal tidak ada batasnya, maka sumber daya alam itu perlu dipertahankan dan dikelola secara ilmiah, maka timbulah wacana pengelolaan sumberdaya alam (natural resource management), suatu pendekatan modern yang menafikan cara-cara tradisional masyarakat tempatan yang dianggap tidak ilmiah.

Akibatnya Perusahaan yang memperoleh hak menguasai sumber daya alam menggusur dan meniadakan hak-hak rakyat asal dan bahkan secara angkuh menyebut masyarakat setempat sebagai perambah lingkungan alam. Maka persoalannya menjadi serba terbolak-balik; siapa sesungguhnya yang merambah dan merusak lingkungan, untuk tujuan apa dan untuk kepentingan siapa. Bahkan akhirnya perlu dipertanyakan siapa sebenarnya yang paling berhak atas sumberdaya alam, siapa yang berhak memutuskan penggunaannya (Fakih 1998).

Peluso (2006) menyatakan telah terjadi kegagalan negara dalam mengelola sumber daya hutan, khususnya di Pulau Jawa. Kegagalan ini tidak semata terletak pada kesalahan aplikasi dari keilmuan yang telah dianut. Tetapi

(21)

34

karena adanya keengganan negara dalam memandang masyarakat sekitar hutan dalam mengelola SDH. Hal itu kemudian menimbulkan perlawanan petani terhadap negara. Perlawanan tersebut tidak lain karena adanya pemutusan akses masyarakat sekitar hutan terhadap SDH yang selama ini menjadi tempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

D. Pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu tema sentral dalam pembangunan masyarakat seharusnya diletakkan dan diorientasikan searah dan selangkah dengan paradigma baru pendekatan pembangunan. Paradigma pembangunan lama yang bersifat top-down perlu direorientasikan menuju pendekatan bottom-up yang menempatkan masyarakat atau petani di pedesaan sebagai pusat pembangunan atau oleh Chambers dalam Anholt (2001) sering dikenal dengan semboyan “put the farmers first”.

Menurut Nasikun (2000) paradigma pembangunan yang baru tersebut juga harus berprinsip bahwa pembangunan harus pertama-tama dan terutama dilakukan atas inisitaif dan dorongan kepentingan-kepentingan masyarakat, masyarakat harus diberi kesempatan untuk terlibat di dalam keseluruhan proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunannya; termasuk pemilikan serta penguasaan aset infrastrukturnya sehingga distribusi keuntungan dan manfaat akan lebih adil bagi masyarakat.

Aspek penting dalam suatu program pemberdayaan masyarakat adalah program yang disusun sendiri oleh masyarakat, mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat, mendukung keterlibatan kaum miskin dan kelompok yang terpinggirkan lainnya, dibangun dari sumberdaya lokal, sensitif terhadap nilai- nilai budaya lokal, memperhatikan dampak lingkungan, tidak menciptakan ketergantungan, berbagai pihak terkait terlibat (instansi pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, LSM, swasta dan pihak lainnya).

Arah perkembangan ekonomi seperti yang dikehendaki oleh konstitusi tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Artinya, kemajuan yang diukur melalui membesarnya produksi nasional tidak otomatis menjamin bahwa pertumbuhan

(22)

35

tersebut mencerminkan peningkatan kesejahteraan secara merata. Masalah utamanya adalah ketidakseimbangan dalam kemampuan dan kesempatan untuk memanfaatkan peluang yang terbuka dalam proses pembangunan. Dengan proses pembangunan yang terus berlanjut, justru ketidakseimbangan itu dapat makin membesar yang mengakibatkan makin melebarnya jurang kesenjangan.

Menurut Ginanjar Kartasasmita (1997), dalam upaya mengatasi tantangan itu perlu diletakkan strategi pemberdayaan masyarakat. Dasar pandangannya adalah bahwa upaya yang dilakukan harus diarahkan langsung pada akar persoalannya, yaitu meningkatkan kemampuan rakyat. Bagian yang tertinggal dalam masyarakat harus ditingkatkan kemampuannya dengan mengembangkan dan mendinamisasikan potensinya, dengan kata lain, memberdayakannya.

Secara praktis upaya yang merupakan pengerahan sumber daya untuk mengembangkan potensi ekonomi rakyat ini akan meningkatkan produktivitas rakyat sehingga baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam di sekitar keberadaan rakyat dapat ditingkatkan produktivitasnya. Dengan demikian, rakyat dan lingkungannya mampu secara partisipatif menghasilkan dan menumbuhkan nilai tambah ekonomis. Rakyat miskin atau yang berada pada posisi belum termanfaatkan secara penuh potensinya akan meningkat bukan hanya ekonominya, tetapi juga harkat, martabat, rasa percaya diri, dan harga dirinya.

Dengan demikian, dapatlah diartikan bahwa pemberdayaan tidak saja menumbuhkan dan mengembangkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai tambah sosial dan nilai tambah budaya.

Hal tersebut senada dengan Mubyarto yang selalu menekankan pentingnya dikembangkan sistem ekomi kerakyatan. Dalam sistem ekonomi kerakyatan, produksi harus dikerjakan oleh semua warga masyarakat, dan hasilnya harus didistribusikan kepada semua secara adil. Sistem tersebut tidak manabukan persaingan, tetapi tidak boleh dalam suasana yang saling mematikan. Negara menguasai cabang-cabang produksi yang penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak, untuk menjamin sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

(23)

36

Selanjutnya Kartasasmita menyebutkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial.

Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat

"people-centered, participatory, empowering, and sustainable". Dalam kerangka pikiran itu, upaya memberdayakan masyarakat, dapat dilihat dari tiga sisi.

Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya, karena, kalau demikian akan sudah punah. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong memotivasikan dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.

Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Perkuatan ini meliputi langkah- langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya.

Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Dalam proses pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.

Pemberdayaan masyarakat memerlukan proses-proses pengorganisasian.

Pengorganisasian disini lebih diartikan sebagai suatu kerangka proses menyeluruh untuk memecahkan permasalahan tertentu di tengah rakyat, sehingga bisa juga diartikan sebagai suatu cara pendekatan bersengaja dalam melaksanakan kegiatan-

(24)

37

kegiatan tertentu dalam rangka memecahkan berbagai masalah masyarakat tersebut (Topatimasang 2002). Pengorganisasian rakyat pada akhirnya bertujuan untuk melakukan dan mencapai perubahan sosial yang lebih besar dan lebih luas.

Proses-proses pengorganisasian rakyat bahkan dianggap sebagai unsur yang paling penting dalam semua gerakan-gerakan perubahan sosial. Tetapi perubahan sosial adalah suatu istilah yang masih harus diuraikan lebih lanjut. Apa bentuk atau wujud nyata perubahan sosial yang ingin dicapai? Dalam hal apa saja dan sampai pada tahapan atau tingkatan yang bagaimana?

Menurut Topatimasang masih cukup banyak pengorganisir rakyat, dan juga aktivis pergerakan sosial lainnya, yang sering kesulitan merumuskan secara rinci dan jelas apa sebenarnya yang mereka perjuangkan dalam jangka panjang.

Ini terutama terjadi di kalangan para pengorganisir atau aktivis muda bersemangat, yang masih suka terjebak dalam romantisme ideologis atau teoritis.

Apalagi kalau mereka memang memahami ide-ide perubahan sosial itu hanya melalui rangkaian diskusi akademis, hanya membaca dan mendengar teori-teori, tanpa pengalaman nyata dalam dunia pergerakan sosial yang sebenarnya dan tidak terlibat langsung dalam proses-proses pengorganisasian. Padahal jika seorang pengorganisir atau aktivis benar-benar terlibat dalam proses-proses pegerakan sosial yang nyata, sebenarnya tidak terlalu sulit merumuskan ide-ide perubahan sosial ke dalam sasaran-sasaran pencapaian yang khas, nyata, jelas dan rinci.

Seorang petani dengan mudah sekali akan mengatakan: “Saya ingin agar ada distribusi pemilikan tanah yang merata”; atau “Kami ingin bebas memilih untuk menanam apa saja di lahan kami sendiri”.

Agar suatu pengorganisasian rakyat dapat berhasil mencapai tujuan, unsur pokok yang perlu diperhatikan dalam menyusun strateginya adalah:

 kemampuan menganalisis perkembangan situasi eksternal (politik, ekonomi, hukum, dll) yang berhubungan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi dan dengan apa yang mereka cita-citakan.

(25)

38

 kemampuan melihat atau mengidentifikasi peluang-peluang yang tersedia dalam perkembangan situasi eksternal tersebut, sekaligus kemampuan memanfaatkannya untuk kepentingan pencapaian tujuan mereka sendiri.

 kemampuan menemukan cara-cara kreatif untuk menghindari berbagai kemungkinan hambatan atau ancaman yang juga tersedia dalam perkembangan situasi eksternal,

 kemampuan menentukan fihak-fihak mana saja yang mereka dapat ajak sebagai pendukung dari gerakan mereka.

E. Ketangguhan Petani

Pemberdayaan akhirnya haruslah bermuara pada kemandirian.

Kemandirian bukan berarti mampu hidup sendiri, tetapi mandiri dalam pengambilan keputusaan, yaitu kemampuan untuk memilih dan berani untuk menolak segala bentuk kerjasama yang tidak menguntungkan (Ife 2002).

Ketangguhan adalah terjadi dalam situasi keterbatasan dan penuh tekanan, tetapi bisa bertahan dan mampu melawan situasi tersebut. Istilah petani tangguh menurut Wahono (2011) untuk menangkap dengan tepat istilah dalam bahasa Ingris, yaitu “survivor” yang mampu “survived”. Tentu istilah tersebut lebih terkesan positif daripada mengatakan petani sebagai “korban” atau “being a victim”. “Victim” berarti menyerah kalah pada keadaan, sementara “survivor”

adalah berjuang tanpa kenal lelah.

Istilah tersebut mengingatkan pada kompilasi karya tulis Rex. A. Mortimer (1975) yang diberi judul oleh para editornya (Herbert Feith dan Rodney Tiffen) Subborn Survivors: Disenting Essays on Peasent and Third World Development.

Terbitan itu berbicara mengenai patani yang “tangguh” hingga petani “keras kepala”. Dikatakan keras kepala sebab petani tangguh tesebut melawan tanpa kenal lelah terhadap segala sumber daya tindak penindasan dan peminggiran atas dirinya. Untuk mendapatkan sedikit saja dari haknya yang banyak, petani mesti berjuang tanpa henti, bahkan sampai sisa kulit pembalut tulang yang hitam legam.

(26)

39

Ciri-ciri petani tangguh secara ringkas dapat dirumuskan sebagai “kendati dalam keterbatasan sumber daya namun tetap kreatif berusaha mencari pemenuhan kebutuhan hidup, karena kebijakan dan sistem ekonomi sosial budaya yang dipilih pemerintah adalah kapital dan tenaga kerja berbasis kepemilikan individual, seraya mekanisme pembagian hasil kerja dan pertukaran barang diserahkan ke pasar dengan nilai dihargai dengan uang”.

F. Rekayasa Genetika VS Pertanian Lestari

Rekayasa genetika dapat mempercepat secara drastis proses-proses untuk mendapatkan sifat-sifat baru yang diinginkan dalam hewan dan tanaman. Proses tersebut juga memungkinkan penciptaan bentuk kehidupan yang sebelumnya tidak pernah ada di alam, karena gen dari species yang sama sekali berbeda dapat dipertukarkan dan ditransplasikan. Dengan demikian rekayasa genetika tidak hanya memberikan alat untuk mempercepat evolusi, tetapi juga untuk mendahuluinya (Janet Bell 2001).

Hal-hal yang perlu dicermati dalam pengembangan rekayasa genetika adalah siapa yang akan memperoleh hak kontrol dan mendapat keuntungan dari proses-proses pemuliaan tanaman (baca: pemerkosaan kodrat alam) tersebut.

Menurut Wahono (2001) hal tersebut bisa menimbulkan kolonialisasi teknologi.

Sebagai salah satu contohnya adalah modernisai pertanian yang berkiblat pada pemuliaan bibit unggul VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng). Benih unggul yang ternyata sama sekali tidak unggul disebarluaskan dengan seperangkat asupan bikinan pabrik dan teknologi ikutannya: pupuk kimia, pestisida, insektisida, herbisida dan traktor tangan.

Untuk bisa bertumbuh, pertanian dunia harus mengubah paradigma menuju pertanian yang lestari. Menurut FAO, para petani bisa meningkatkan hasil panen, menjaga kesuburan tanah, menghemat waktu dan biaya produksi dengan beralih ke sistem pertanian yang lestari. Sistem ini adalah sistem pertanian yang menerapkan praktik konservasi atau penyelamatan sumber daya alam (conservation agriculture), meminimalisir penggunaan lahan pertanian dengan beralih ke tanaman yang lebih produktif yang mampu menjaga kesuburan tanah.

(27)

40

Semua praktik tersebut, menurut FAO, terbukti mampu mengurangi kebutuhan air hingga 30% dan biaya produksi hingga 60%. Penerapan sistem ini di wilayah Afrika bagian selatan telah berhasil meningkatkan produksi gandum hingga enam kali lipat. Dengan menerapkan pola irigasi yang lebih tepat guna, para petani bisa menghasilkan panen lebih banyak. Petani juga bisa mengurangi kebutuhan pupuk kimia dengan menerapkan pola pemupukan yang lebih tepat sasaran sehingga bisa melipatgandakan nutrisi yang diserap oleh tanaman. Dengan menggunakan insektisida secara lebih bijaksana mereka bisa menyelamatkan predator alami yang membantu penanggulangan hama.

Penelitian FAO di 57 negara berkembang menemukan, dengan menggunakan air secara lebih efisien, mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan kesuburan tanah, petani akan bisa meningkatkan hasil panen rata- rata mencapai 79%. Penelitian lain menyimpulkan bahwa sistem pertanian yang mampu melestarikan layanan ekosistem dengan menerapkan sistem konservasi lahan, diversifikasi tanaman serta pengendalian hama alami mampu menghasilkan panen yang setara dengan sistem intensif yang lain yang tidak ramah lingkungan.

(Sumber: http://www.hijauku.com)

Dengan pertanian lestari petani mampu mengelola input, memproduksi, mendistribusikan, dan mengembangkan budidaya tani. Pilihan komoditi berdasarkan sumber daya lokal. Benih untuk proses produksi diproduksi sendiri secara terus-menerus dari daerah setempat. Pupuk diproduksi sendiri dari sumber bahan baku setempat secara terus-menerus. Sistem ini juga dapat melindungi kehidupan ekosistem setempat, jadi tidak saling menggeser. Pengelolaan budidaya memakai teknologi di mana teknologi yang berasal dari modifikasi temuan baru dengan kearifan lokal. Hasil usaha tani dipakai sebagai input usaha selanjutnya dan tabungan keluarga.

Leisa (low External Input Sustainable Agriculture) dalam majalah Leisa Indonesia disebutkan sebagai suatu pilihan yang layak bagi petani, dipusatkan pada teknologi yang dapat memanfaatkan sumber daya local secara efisien. Leisa berupaya mengoptimalkan pemanfaatkan sumber daya lokal yang ada dengan

(28)

41

mengombinasikan berbagai komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang terbaik. Pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem. Dalam memanfaatkan input luar, perhatian utama diberikan pada maksimalisasi daur ulang dan meminimalisir kerusakan lingkungan.

Selain harus mempunyai kedaulatan dalam produksi, petani juga harus menerima manfaat terbaik dalam tata niaga pertanian. Hal itu bisa trwujud jika dikembangkan suatu tataniaga yang adil atau fair trade. Kata fair trade memang sengaja dibuat hampir sama dengan free trade, tetapi maknanya jauh berlawanan.

Fair trade atau sistem perdagangan yang adil berusaha memperbaiki penghidupan dan kesejahteraan dari produsen (petani) dengan memperbaiki akses dan kontrol terhadap pasar. Perdagangan yang memberikan harga yang adil sering diterjemahkan sebagai harga minimum menutup seluruh biaya produksi. Sejauh mungkin memilih rantai pemasaran terpendek atau memotong jalur middlemen yang tidak perlu. Upaya ini juga harus disertai dengan kebijakan yang memihak petani, misalnya dengan moratorium impor produk pertanian.

G. Penelitian terdahulu yang relevan

Penelitian Ririn Darini tentang sengketa agraria dari masa kemasa.

Penelitian menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menyoroti banyaknya sengketa agraria yang terjadi menunjukkan belum terlindunginya hak rakyat atas tanah. Adanya kepentingan yang sama terhadap sumber produksi yang sama merupakan sumber konflik bagi masing-masing pihak, baik bagi rakyat (rakyat kecil/petani), negara, maupun pemilik modal. Dalam hal ini rakyat (rakyat kecil/petani) merupakan pihak yang selalu dikalahkan. Ketidakadilan yang mereka peroleh tidak diterima begitu saja oleh mereka. Protes dan perlawanan mereka lakukan dengan dukungan pihak-pihak yang bersimpati dengan nasib mereka

(29)

42 H. Kerangka Pikir

Kebijakan pertanian yang dijalankan pemerintah telah membawa dampak bagi petani, yaitu petani menjadi tidak berdaulat dalam melakukan usaha tani, pertanian yang dijalankan tidak berkelanjutan, dan petani tidak memperoleh kesejahteraan. Menghadapai kondisi seperti itu petani tidak tinggal diam, melainkan melakukan perlawanan untuk mendapatkan kembali kedaulatannya, melakukan pertanian yang bersifat lestari, dan berupaya meningkatkan kesejahteraannya.

Upaya petani tesebut mendapat dukungan dari berbagai pihak dengan melakukan pemberdayaan untuk memperkuat posisi petani, merancang strategi perjuangan petani, dan melakukan advokasi untuk mengubah kebijakan agar lebih berpihak pada petani. Kerangka pikir penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2. 2 Kerangka Pikir Penelitian K

e b i j a k a n P e r t a n i a n

S i s t e m B u d i d a y a T a n a m a n

Pihak yang Mendukung Perlawanan

Petani Dampak

Bagi Petani

Advokasi

Pemberdayaan

Tidak sejahtera Tidak

berkelanjutan Tidak

berdaulat

-Merebut kedaulatan -lestari -kesejahteraan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi struktur seperti dip-strike, kekar, sesar, dan lainnya, serta proses geomorfologi yang ada, maka dapat diperkirakan apakah suatu bentuk perbukitan termasuk

(2) Dalam hal Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 50 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah dari NJOP yang

sahnya jual beli telah terpenuhi, untuk menjual kepada Pihak Kedua, yang --- berjanji dan mengikat diri untuk membeli dari Pihak Pertama: --- Sebidang tanah Hak Guna Bangunan Nomor

sebagai Luka yang hancur pada extremitas sebagai Luka yang hancur pada extremitas atau anggota badan lain yang mengakibatkan atau anggota badan lain yang

Sesuai dengan kriteria diterima atau ditolaknya hipotesis maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa menerima hipotesis yang diajukan terbukti atau dengan kata lain variabel

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada

Pers sebagai institusi sosial mempunyai fungsi yang penting dalam komunikasi massa. Melalui pers manusia ingin mencapai komunikasi dengan masyarakat luas, tidak hanya di suatu

Literatur menyatakan terdapat hubungan antara kondilomata akuminata vulva dengan 5 hasil pap smear yang abnormal (CIN1 dan CIN2/3), sedangkan literatur lain menyebutkan