DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT KOMISI II
PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PENETAPAN PERPU NOMOR I TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI DAN WALIKOTA
MENJADI UNDANG-UNDANG Tahun Sidang : 2014-2015
Masa
Persidangan : II Rapat ke- : --
Jenis Rapat : Rapat Kerja
Hari, Tanggal : Kamis, 15 Januari 2015 Waktu : 20.00-22.28 WIB
Tempat : RUANG KK III Ketua Rapat :
Rambe Kamarul Zaman
Sekretaris Rapat : Minarni, SH/Kabag.Set Komisi II DPR RI
Acara : - Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- undang nomor 22 tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota serta Rancangan Undang-undang tentang penetapan peraturan pengganti Undang- undang Nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah menjadi Undang-undang; dan
- Pandangan fraksi-fraksi dan DPD ri terhadap keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-undang tentang penetapan peraturan Pemerintah pengganti Undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- undang nomor 22 tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota serta Rancangan Undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti
ARSIP DPR RI
Undang-undang nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah menjadi Undang-undang.
Hadir :
Anggota Komisi II DPR RI:
... orang Anggota dengan rincian :
Pimpinan Komisi II DPR RI (... dari 5 orang Pimpinan):
1. Rambe Kamarul Zaman
2. Ir. H. Ahmad Riza Patria, M.BA.
3. Drs. Wahidin Halim M.Si 4. Ir. H.M. Lukman Edy, M.Si 5. H. Mustafa Kamal, SS
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( ... dari 10 orang Anggota):
6. Komarudin Watubun, SH., MH 7. Arif Wibowo
8. Budiman Sudjatmiko, M.Sc, M.PhiL 9. Diah Pitaloka, S.Sos
10. Tagore Abu Bakar
11. Adian Yunus Yusak Napitupulu 12. Dr. Ir. Willy M. Yoseph, MM 13. H. KRH. Henry Yosodiningrat, SH 14. Drs. Sirmadji, M.Pd
Fraksi Partai Golkar (...dari 7 orang Anggota):
15. Dadang S. Muchtar 16. Drs. H.A. Mujib Rohmat 17. Drs. Setya Novanto, AK 18. Mahyudin, ST, MM
19. Hj. Enny Anggraeny Anwar 20. Tabrani Maamun
21. Agung Widyantoro, SH., M.Si
Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (... dari 5 orang Anggota):
22. Dr. H. Azikin Solthan, M.Si
23. H. Bambang Riyanto, SH, MH, M.Si 24. H. Subarna, SE., M.Si
25. Suasana Dachi, SH 26. Ir. Endro Hermono, MBA Fraksi Partai Demokrat
1
ARSIP DPR RI
(... dari 5 orang Anggota):
27. Saan Mustopa, M.Si 28. H. Zulkifli Anwar 29. Ir. Fandi Utomo
30. Libert Kristo Ibo, S.Sos, SH, MH 31. EE. Mangindaan, SIP
Fraksi Partai Amanat Nasional (.... dari 4 orang Anggota):
32. H. Yanri Susanto
33. H. Sukiman, S.PD., MM
34. Ammy Amalia Fatma Surya, SH., M.Kn 35. Amran, SE
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (.... dari 3 orang Anggota):
36. H. Abdul Malik Haramain, M.Si 37. Yanuar Prihatin, M.Si
38. Dr. Zainul Arifin Noor, SE, MM
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (....dari 3 orang Anggota):
39. H. Jazuli Juwaini, Lc., MA 40. Dr. H. Sa’aduddin, MM 41. Muhammad Yudi Kotouky
Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (... dari 3 orang Anggota):
42. H. Mohammad Arwani Thomafi 43. KH. Asep Ahmad Maosul Affandy 44. Dr. H. MZ. Amirul Tamim, M.Si
Fraksi Partai Nasional Demokrat (...dari 3 orang Anggota):
45. H. Syarif Abdullah Alkadrie, SH., MH 46. Drs. Tamanuri, MM
47. Dr. Muchtar Lutfhi A. Mutty, M.Si
Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (... dari 2 orang Anggota):
48. Dr. Rufinus Hotmaulana Hutauruk, SH., MM., MH
49. Dr. Frans Agung Mula Putra, S.Sos., MH
2
ARSIP DPR RI
B. PEMERINTAH : a) Mendagri b) Menkumham c) Komite I DPD RI
3
ARSIP DPR RI
JALANNYA RAPAT :
KETUA RAPAT (RAMBE KAMARUL ZAMAN) :
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Salam sejahtera buat kita semua Yang terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri beserta jajarannya.
Yang terhormat Saudara menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya.
Yang terhormat Saudara pimpinan Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Yang terhormat Saudara pimpinan Komisi II dan anggota komisi 2 DPR RI yang berbahagia.
Hadirin sekalian yang kami hormati.
Berdasarkan surat presiden Republik Indonesia Nomor R56/Pres/10 /2014.
Tanggal 2 Oktober 2014 perihal rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu nomor I tahun 2014 tentang pemilihan gubernur bupati dan walikota menjadi Undang-Undang serta surat presiden Republik nomor R57 /Presiden /10 /2014 tanggal 2 Oktober 2014 perihal rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014.
Tentang pemerintah daerah menjadi Undang-Undang, Pemerintah dalam hal ini presiden telah Menugaskan Menteri Dalam Negeri serta Menteri Hukum dan HAM baik secara sendiri-sendiri maupun bersama sama, dan berdasarkan keputusan rapat Badan Musyawarah DPR RI tanggal 7 November 2014 memutuskan, bahwa penanganan pembahasan diserahkan kepada komisi II DPR RI.
Untuk mengawali pembicaraan tingkat satu terlebih dahulu marilah kita memanjatkan puji syukur kehadiran Tuhan yang Maha Esa karena atas perkenannya kita dapat menghadiri rapat kerja komisi II DPR RI dalam rangka pembahasan 2 rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu dimaksud dengan Menteri Dalam Negeri serta menteri Hukum dan HAM dalam rangka melaksanakan tugas konstitusi di bidang legislasi pada hari ini dalam keadaan sehat. Follow up sesuai dengan laporan sekretariat rapat kerja pada hari ini daftar hadir telah ditandatangani oleh 33 dari 50 orang anggota yang terhormat di komisi II. Dan fraksinya lengkap 10 fraksi.
Dengan demikian sesuai dengan pasal 251 ayat (1) peraturan tata tertib DPR RI makan perkenankan kami pembukaan rapat kerja ini dan rapat di nyatakan terbuka untuk umum. Saudara-saudara, sekarang baru kita memulai pembahasan tentang Perpu ini.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 20.00 WIB)
Kita disiplin dalam pembahasannya sesuai dengan aturan Konstitusi yang ada , jadi mohon maaf jika kami sampaikan jika Perpu yang lalu dibahas di luar itu pembahasan tidak resmi. Apalagi tanggapan mau mengarahkan sesuatu hal tentang Perpu ini, itu adalah tidak resmi karena mampu forumnya sesuai dengan Undang- Undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dinyatakan wajib dibahas
4
ARSIP DPR RI
oleh DPR RI dalam masa sidang berikutnya. Berikutnya itu adalah masa sidang yang sekarang, Pasal 22 Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 selengkapnya berbunyi, Undang-Undang Dasar kita jangan ditambah-tambah dan jangan dikurang-kurang. Ini Kementerian Hukum dan HAM menteri Hukum dan Ham, kita bersama-sama mengkaji ini, termasuk saya kira Saudara Menteri Dalam Negeri tentang hal ini . Pasal 22 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selengkapnya berbunyi dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang- Undang berikutnya Peraturan Pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut . Jika tidak mendapat persetujuan , kata jika tidak mendapat persetujuan maka Peraturan Pemerintah itu harus dicabut , ini Undang-Undang Dasar .
Oleh karenanya pembahasan yang kami katakan di luar tadi yang bukan kewenangannya, ya itu hanya sekedar pembicaraan-pembicaraan yang walapupun Komisi II DPR RI telah memberikan, bukan teguran, tapi memberikan pengertian jangan kita buat ribet mengatur republik ini , kalau kita buat ribet akan menjadi ribet sendiri . Pasal 52 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan bahwa satu, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut artinya ini sudah prosedur dilalui .
Berikutnya yang kedua, pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) yang kami katakan tadi , dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang.
Jadi surat Presiden yang lalu adalah Rancangan Undang-Undang tentang Perpu. Ayat (3) DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Berikutnya dalam Ayat (4) dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang mendapat persetujuan DPR dalam rapat Paripurna , Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut ditetapkan menjadi Undang-Undang. Ayat (5) dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tidak mendapat persetujuan DPR dalam rapat Paripurna Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang tersebut harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku.
Jadi ini banyak pers yang menanyakan apa keputusannya , terima atau tolak atau cabut , kan itu yang kadang-kadang kita bikin pusing padahal belum mulai pembahasannya . Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus dicabut dan harus dinyatakan tidak berlaku sebagaimana dimaksud pada Ayat (5) tadi DPR atau Presiden mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Ayat 7 Rancangan Undang-Undang tentang pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang sebagaimana dimaksud pada Ayat (6) mengatur segala akibat hukum dari pencabutan Pemerintah Pengganti Undang-Undang jadi tadi Rapat kerja dengan Menteri Dalam Negeri dalam hal pengawasan kita sudah bersepakat untuk menyelesaikan tentang pembahasan Perpu ini berikut akibat Hukum yang muncul , penyelesaian akibat Hukum yang muncul dalam masa sidang yang cukup singkat ini hanya selama 28 hari. Oleh Karena itu saya kira dari Kementerian Hukum dan HAM
5
ARSIP DPR RI
juga kami sampaikan hal tersebut agar kepastian Hukum setelah kita tetapkan apa pun nanti sudah tidak ada pertanyaan-pertanyaan hal yang menyangkut pelaksanaan Pilkada di daerah-daerah . Ayat 8 Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada Ayat (7) ditetapkan menjadi Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dalam rapat Paripurna yang sama .
Jadi rapat Paripurna yang sama antara diterima dan atau ditolak atau dicabut jadi jika Rapat Paripurna yang sama kita harus selesaikan akibat Hukum, apa yang terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama agar kiranya Pilkada -Pilkada di daerah dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan ketentuan tersebut , maka dalam hal Perpu disetujui oleh DPR, maka Perpu ditetapkan dan diundangkan menjadi Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 menjadi Undang-Undang dan Perpu tersebut melanjutkan keberlakuannya yang telah dimulai sejak tanggal 2 Oktober 2014. Artinya apa, bahwa dalam pembahasan ini Perpu yang ada ini kalau kita terima kita harus terima sepenuhnya dan kita laksanakan sepenuhnya. Ini makna konstitusional , kalau Bapak Saudara Menteri Kemenkumham mengatakan negara ini adalah harus memang berpahamkan negara konstitusional .
Dalam hal Perpu tidak mendapat persetujuan dari DPR maka dalam rapat Paripurna yang sama ditetapkan Undang-Undang tentang Pencabutan Perpu Nomor 1 tahun 2014 dan kita bicarakan jalan keluar tentang konsekuensi hukumnya . RUU tentang Pencabutan Perpu dapat diajukan oleh DPR atau Presiden dan di dalam RUU tersebut diatur segala akibat Hukum dari Pencabutan Perpu , dengan demikian ketika Perpu diserahkan pembahasannya kepada Komisi II DPR RI, maka sebelum dibawa ke Rapat Paripurna sudah tentunya nanti kita persiapkan dua Rancangan Undang-Undang itu dengan segala akibat huku -hukumnya .
Saudara Menteri Hukum dan HAM, Menteri Dalam Negeri , para Anggota DPD, yang kami hormati,
Dengan demikian tata cara kita untuk membahas ini kita sudah bahas secara internal di Komisi II langkah pertama yang harus kita lakukan adalah penjelasan dari Presiden Republik Indonesia , Presiden Republik Indonesia bukan yang mengeluarkan Perpu yang lalu tapi Presiden Republik Indonesia yang sudah menugaskan Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan penjelasan tentang Perpu 1 dan Perpu 2 tersebut. Yang di dalam Undang-Undang dinyatakan adalah tidak yang dijelaskan ide dasar keluarnya Perpu tersebut dan juga yang kedua substansi -substansi yang diatur di dalam Perpu tersebut seluas-luasnya nanti akan kita dengarkan penjelasan daripada Pemerintah .
Setelah itu mekanismenya karena baik diterima atau pun dicabut harus diperbincangkan oleh Fraksi . Oleh karena itu setiap Fraksi di Komisi II akan memberikan tanggapan atas penjelasan Pemerintah tentang Perpu tersebut.
Setelah tanggapan Fraksi-Fraksi dan juga DPD , Saudara Muqowam sudah mulai agak senyum kok tidak disebut-sebut gitu DPD prosedurnya kita tempuh saja
6
ARSIP DPR RI
setelah itu selesai baru kembali Pemerintah memberikan tanggapan atas pandangan -pandangan dari Fraksi-fraksi, setelah memberikan tanggapan Pemerintah baru kita rembukkan mau kita apakan, baru kita tetapkan mekanisme pembahasan secara tuntas dan jadwal acara pembahasannya kita tetapkan dalam Rapat Kerja lebih lanjut setelah itu kita bentuk tim Panja atau Timus baru kita tuntaskan yang jika masa sidang ini sampai tanggal 19 Februari mudah-mudahan Paripurna penetapannya bisa dilaksanakan tanggal 17 , selambat lambatnya tanggal 17 Februari. Saudara Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan HAM, Saudara Pimpinan , Anggota Komisi II dan DPD yang kami hormati.
Tanggapan Fraksi nanti tentu kita ikuti secara bersama-sama , kalau seperti yang kami katakan tadi lebih baik di forum ini kita buka bahwa jika diterima apa konsekuensi hukumnya? Perpu ini harusnya , seharusnya. Bukan lagi harusnya, seharusnya dilaksanakan secara utuh padahal kita menginginkan agar Perpu nanti kalau kita terima misalnya jika kita terima dan sudah ada perbaikan , tetapi kalau diterima tidak ada rumus perbaikan itu menurut bahasa Undang-Undang kita terima secara utuh bagaimana jalan keluarnya nanti . Yang mewakili Presiden menyampaikan tentang hal tersebut .
Kalau dicabut misalnya konsekuensi hukumnya juga harus terselesaikan , kita atur bagaimana lebih lanjut yang paling penting adalah Undang-Undang tentang Pilkada kita selesaikan pada masa sidang ini dan juga demi bangsa dan negara serta rakyat Indonesia yang sudah menanti apa hasil pembahasan kita untuk kita selesaikan secara tuntas. Kami dari Pimpinan belum mau memasuki materi karena nanti pandangan dari pada Fraksi-Fraksi akan menyampaikan hal ini dan selanjutnya pandangan itu akan ditanggapi oleh Presiden dalam hal ini adalah Kementerian Dalam Negeri, Menteri Dalam Negeri dan lalu Menteri Hukum dan HAM yang selanjutnya baru kita bahas mekanisme pembahasannya .
Suap dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 ada cara khusus ada cara biasa dinyatakan di sana secara tegas . inilah pengantar kami Saudara-saudara karena ini terbuka, jadi dari pers jangan dianggap sudah kiamat dunia ini semuanya bisa kita selesaikan karena untuk demi bangsa dan negara. Komisi II DPR RI pada dasarnya dalam rapat Komisi II nanti didengarkan pandangan fraksi-fraksi siap untuk membahas ini sebab ini adalah tugas konstitusional yang mulia . Demikian pengantar kami kami minta dari Pemerintah yang mewakili Presiden Republik Indonesia Menteri Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM untuk memberikan penjelasan seluas-luasnya sebab tidak kita buka dialog dari penjelasan itu nanti, sebablangsung Pandangan Fraksi ditanggapi baru kita membicarakan hal- hal lebih lanjut tentang itu.
Kami persilakan dengan hormat, terserah siapa yang mau mendahului untuk memberikan penjelasan tersebut bila perlu lanjut nanti dengan Menteri Dalam Negeri juga kita persilakan dan untuk kita perbincangkan yang jika nanti masih ada waktu, ada Fraksi yang siap langsung atau DPD memberikan pandangan kita cicil baru akan kelanjutan besok siang setelah Jumatan kita lakukan lagi Pandangan setelah itu baru juga tanggapan Pemerintah . Kami persilakan dengan hormat izin Pak Mendagri keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang dan
7
ARSIP DPR RI
Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang.
MENTERI HUKUM DAN HAM (YASSONA H. LAOLY) :
Yang terhormat Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Saudara Pimpinan dan Anggota Komite I DPD RI Bapak Mendagri, dan hadirin yang berbahagia.
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Pertama-tama marilah kita panjatkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas Rahmat dan Karunia-Nya pada hari ini kita dapat hadir dalam Rapat Kerja antara Komisi II DPR RI, Komite I DPD RI, dan Pemerintah dalam rangka Rapat Kerja pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang dan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang .
Kedua rancangan tersebut telah disampaikan oleh Presiden kepada Ketua DPR RI dengan surat Nomor R-56/Pres/X2014 dan surat Nomor R-57/Pres/X2014 tanggal 2 Oktober 2014 dalam surat tersebut Presiden menugaskan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk mewakili Presiden dalam membahas kedua Rancangan Undang-Undang tersebut di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dalam hal ini Komisi II .
Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta Saudara Pimpionan dan Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang terhormat.
Berdasarkan ketentuan Pasal 22 ayat (10) , seperti yang dikutip oleh Pak Ketua tadi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dinyatakan bahwa dalam hal Ihwal kegentingan yang memaksa Presiden berhak menetapkan peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang untuk melaksanakan hak konstitusional tersebut pada tanggal 2 Oktober 2014 Presiden telah menetapkan : 1. Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, dan 2. Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan diterbitkannya Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur , Bupati dan Walikota, maka segenap ketentuan pemilihan kepala daerah yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dicabut dan dinyatakan tidak berlaku berkenaan dengan hal tersebut pengaturan mengenai pemilihan Kepala Daerah di dalam Undang-Undang Nomor 32
8
ARSIP DPR RI
tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku sedangkan regulasi penggantinya yakni Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, tidak memuat pengaturan terkait pemilihan kepala daerah secara langsung .
Keadaan ini mengakibatkan terjadinya kekosongan Hukum dalam pemilihan kepala daerah selain itu terdapat keadaan yang mendesak dan memerlukan tindakan segera untuk menjamin kepastian hukum dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah di 204 daerah pada tahun 2015 . Kondisi faktual tersebut dipandang selaras dengan pertimbangan yang tertuang dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009 yang memuat tentang persyaratan perlunya peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang apabila :
1. Adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang.
2. Undang-Undang yang di butuhkan tersebut belum padat sehingga terjadi kekosongan Hukum atau Undang-Undang tetapi ada Undang-Undang tetapi tidak memadai.
3. Kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-Undang secara prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan.
Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota ditetapkan dengan tujuan untuk menjamin agar pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dilaksanakan secara demokratis sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemerintah dalam hal ini secara konsisten tetap berpandangan bahwa makna frasa dipilih secara demokratis sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Ayat (4) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu ditegaskan dengan pelaksanaan pemilihan gubernur , bupati dan walikota secara langsung oleh rakyat dengan tetap melakukan beberapa perbaikan mendasar atas berbagai permasalahan pemilihan kepala daerah langsung yang selama ini telah di jalankan khususnya antara lain mengenai :
1. Penguatan peran unsur penyelenggara pemilihan gubernur, bupati dan walikota yakni KPU Propinsi dan KPU Kabupaten/Kota serta melakukan perbaikan dalam setiap tahapan pelaksanaannya antara lain :
a) Menegaskan mekanisme pemilu gubernur, bupati dan walikota dilakukan secara langsung oleh rakyat hanya untuk kepala daerah dan tidak satu paket dengan wakil kepala daerah.
b) Menegaskan pentingnya pelaksanaan uji publik oleh akademisi, tokoh masyarakat dan komisioner KPU Provinsi dan atau KPU Kabupaten/Kota bagi setiap bakal calon kepala daerah untuk mewujudkan kualitas gubernur, bupati dan walikota yang memiliki kompetensi dan integritas selain memenuhi persyaratan formal administratif. Uji publik ini juga dimaksudkan untuk mempertemukan preferensi partai politik dan preferensi masyarakat dalam proses pengusulan calon kepala daerah.
9
ARSIP DPR RI
c) Pelaksanaan kampanye difasilitasi oleh KPU propinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan menggunakan prinsip efektifitas, efesiensi dan proporsionalitas.
d) Memperketat persyaratan calon gubernur, bupati wali kota antara lain :
1. Syarat untuk berhenti dari jabatan kepala daerah jika mencalonkan diri di daerah lain.
2. Syarat untuk mengurangi terjadinya politik dinasti
3. Syarat untuk mengundurkan diri sebagai anggota TNI/ Polri dan PNS sejak mendaftarkan diri sebagai calon dan
4. Syarat berhenti dari jabatan pada BUMN dan BUMD jika mencalon di calon kepala daerah.
2. Pendanaan penyelenggaraan pemilihab gubernur, bupati dan walikota bersumber dari APBN dan dapat didukung APBD namun khusus pelaksanaan pemilihan gubernur, bupati dan walikota pada tahun 2015 pendanaannya dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah guna menjamin transparansi dan efesiensi penyelenggaraan pemilihan gubernur, bupati dan walikota, maka lembaga penegak hukum wajib mengawasi pelaksanaan seluruh tahapan pemilihan gubernur, bupati dan walikota, untuk mencegah politik uang yang dikhawatirkan.
4. Berdasarkan pengalaman penyelesaian sengketa pemilihan kepala daerah sebelumnya dan untuk menundukkan kembali tugas dan fungsi lembaga yang diamanatkan untuk menyelesaikan sengketa Pilkada sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka penyelesaian sengketa Pilkada yang sebelumnya ditangani oleh Mahkamah Konstitusi diserahkan kembali ke Mahkamah Agung.
Kebijakan ini ditetapkan guna menegakkan supremasi hukum dalam konteks kesatuan hukum nasional.
5. Penyelesaian perselisihan hasil pemilihan gubernur maupun perselisihan hasil pemilihan bupati dan walikota adalah di tingkat pengadilan tinggi dan dapat mengajukan permohonan keberatan ke Mahkamah Agung yang putusannya bersifat final dan mengikat serta tidak dapat dilakukan upaya hukum lain Adapun Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah kami ajukan sebagai konsekuensi dengan berlakunya Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota .
Kedua Rancangan Undang-Undang tersebeut menjadi penting sebagai jaminan terwujudnya prinsip kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan untuk memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang berlandaskan kedaulatan rakyat dan demokrasi. Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, serta Saudara Pimpinan dan Anggota Komite I DPD RI yang terhormat. Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, bupati walikota yang telah disahkan tanggal 30 September 2014 khususnya materi muatan mengenai mekanisme pemilihan kepala daerah secara tidak berlangsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah mendapatkan penolakan yang luas oleh masyarakat , rakyat dan mempengaruhi kehidupan demokrasi di Indonesia sehingga kami menilai bahwa kondisi ini telah
10
ARSIP DPR RI
menyebabkan terjadinya kegentingan yang memaksa yang pada akhirnya mendorong kami untuk menetapkan kedua Perpu tersebut di atas sebagai landasan yuridis agar kondisi kegentingan yang memaksa tersebut dapat segera kembali menjadi kondisi yang normal.
Secara konstitusional Pasal 20 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam persidangan yang berikut. Ketentuan tersebut di atas dijabarkan lebih lanjut dalam ketentuan Pasal 52 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan yang menyatakan bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut dan pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang- Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang. Dalam penjelasan Pasal 55 ayat (1) dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan persidangan berikut adalah Masa Sidang Pertama DPR setelah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditetapkan. Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II DPR RI serta Saudara penghinaan dan anggota komisi satu DPR DPD yang terhormat materi muatan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang dan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 20114 tentang Pemerintahan Daerah memuat 2 hal yaitu : 1.
Menetapkan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang dan menetapkan Perpu Nomor 2 tahun 2041 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, serta melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang tersebut . Mulai berlakunya Undang-Undang 2. Mulai berlakunya Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 tanggal 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 2 tanggal 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta Saudara Pimpinan dan Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang terhormat.
Demikianlah kami sampaikan Keterangan Pemerintah atas kedua Rancangan Undang-Undang tersebut, dengan harapan agar kedua Rancangan Undang-Undang mendapat persetujuan bersama dari dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan kami memohon agar kiranya dapat kita dilaksanakan sesegera mungkin dapat kita sahkan secepat mungkin mengingat pada saat ini tahapan pelaksanaan Pilkada sudah memasuki tahapan dan KPU serta KPU Provinsi dan daerah sangat mengharapkan keputusan kita yang cepat mengenai hal ini agar tahapan-tahapan pelaksanaan Pilkada untuk tahun 2015 dapat dilaksanakan dengan baik.
Akhir kata kami atas nama Pemerintah Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan HAM mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas perhatian Pimpinan dan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta Pimpinan dan Anggota Komite I DPD RI yang terhormat, yang dengan kesabarannya mendengarkan penyampaian Keterangan Pemerintah atas kedua rancangan Undang-Undang tersebut . Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa
11
ARSIP DPR RI
meridhoi usaha ki dan senantiasa memberi petunjuk ke jalan yang lurus Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Atas nama Pemerintah Menteri Hukum dan HAM dan Menteri Dalam Negeri.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Penjelasan Pemerintah tentang Perpu Nomor 1 dan Nomor 2 , karena tadi sudah ditutup dan sudah diserahkan kepada kami materi yang lengkap. . Tidak elok lagi kalau kami minta tambahan dari Menteri Dalam Negeri karena sudah dinyatakan tadi penutupnya, tapi tidak ditutup seperti itu masih ada cara mungkin bisa ditambahkan, tapi karena sudah ditutup dan sudah diserahkan materinya . Saya kira kita sudah dengarkan Penjelasan Pemerintah , sekarang jika untuk kita percepat tahapan berikutnya adalah Pandangan dari Fraksi-Fraksi dan DPD kalau sudah ada yang siap kita mulai cicil malam ini , sebab dari pandangan itu nanti Presiden dalam hal ini juga Menteri Hukum dan HAM Menteri Dalam Negeri akan mencatat pandangan tersebut akan mengutarakan Materi dan bagaimana kira-kira langkah- langkah yang kita ambil agar dalam rapat berikutnya ditanggapi oleh pemerintah cocok misalnya jalan keluarnya baru kita, atur sedemikian rupa perjalanan dan mekanisme pembahasan kita kami dari pimpinan menawarkan kepada Fraksi-fraksi dan DPD yang sudah siap memberikan Pandangan atas penjelasan pemerintah Ketua juga sudah ada yang sip ya, Pak Yandri siap?
F-PAN (YANDRI SUSANTO):
Bukan ketua.
Ngomong sedikit Ketua.
Terima kasih, mohon ijin Ketua.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Pimpinan dan anggota komisi II yang saya hormati, Kawan-kawan dari DPD,
Pak Menteri Dalam Negeri dan Kumham beserta jajaran.
Apa yang disampaikan pemerintah tadi saya kira begini saja, usul saya ini pimpinan kita gilir saja per fraksi saya kira kan pendapat malam hari ini apakah kita setuju dilanjutkan pembahasan itu saja kan di minta kepada masing-masing fraksi belum kepada materi jadi kita minta kepada masing-masing fraksi digilir saja Ketua bagi yang sudah siap dengan materi tertulis bagus kalau yang belum tertulis pada prinsipnya setuju untuk lanjutan atau tidak setuju untuk dilanjutkan mari kita lihat nanti masing-masing Fraksi kalau misalkan mayoritas atau seluruhnya fraksi mengatakan setuju dilanjutkan maka mungkin Senin atau besok bisa kita bentuk Panja itu artinya kita sesuai dengan prosedur saha Ketua, jangan diminta kepada yang siap saya kira mungkin semua Fraksi sudah siap walaupun mungkin dari sisi administrasi belum lengkap, Fraksi PAN sudah lengkap dengan tertulisnya apa
12
ARSIP DPR RI
namanya Pimpinan, saya yakin juga Fraksi yang lain sudah siap karena kita memang sudah dituntut oleh masyarakat ditunggu rakyat jangan sampai kita ini dianggap berbelit-belit apalagi masa sidang kedua ini sangat pendek kalau kita misalkan malam ini selesai dengan Pandangan Fraksi kita tentu akan melanjut kepada langkah yang berikutnya dan saya yakin semua semua Fraksi berkomitmen penuh untuk membahasa ini secepat-cepatnya, terima kasih pimpinan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
KETUA RAPAT:
Saya kira kita mulai saja. Biar lebih demokratis. Kita tanya yang mau tunjuk tangan duluan, kalau tidak nanti dipimpin yang menunjuk.
F-PDIP (ARIF WIBOWO) :
Ketua diurut saja Ketua seperti biasanya, yang sesuai dengan undangan dari fraksi yang terbesar dulu Kita harapkan kalau sudah ada nanti tertulisnya diserahkan juga secara resmi Kepada Pemerintah dan juga diserahkan kepada Pimpinan agar nanti bahan kita berikutnya juga kalau bisa diperbanyak oleh Sekretariat kami persilakan dari PDIP Fraksi PDIP.
Terima kasih Ketua.
Jadi saya kira kita perlu tertib sesuai dengan undangan Komisi II bahwa pada hari ini adalah setelah mendengarkan keterangan dari pemerintah kemudian setiap Fraksi untuk menyampaikan pandangan fraksinya terhadap Keterangan Pemerinta.
Pandangan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dewan perwakilan Rakyat Republik Indonesia Indonesia Terhadap Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang
tentang
Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota serta Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 2
Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang.
Disampaikan oleh Arif Wibowo Nomor anggota 193 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua Om Suasti Astu,
Merdeka!!!
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat dan segenap Anggota Komisi II dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
13
ARSIP DPR RI
Yang terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri serta Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakili beserta jajarannya.
Yang terhormat Saudara Pimpinan Komite I DPD RI;
Hadirin sekalian yang berbahagia.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang memungkinkan kita bersidang pada hari ini dengan agenda penyampaian pandangan fraksi-fraksi dan DPD RI terhadap Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 serta Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 untuk kemudian menjadi Undang-Undang, bagi fraksi PDI Perjuangan pembahasan Rancangan Undang-Undang ini demikian penting dan starategis karena akan memberikan landasan Hukum yang kuat dan kokoh atas pelaksanaan kedaulatan rakyat di daerah dalam pemilihan Kepala Daerah dan untuk memantapkan penyelenggaraan Otonomi Daerah Kepala Daerah terpilih diharapkan nantinya mendapatkan legitimasi yang dibutuhkan melalui proses pemilihan yang menjunjung tinggi asas kedaulatan rakyat transparan dan akuntabel.
Atas seluruh proses dan tahapan yang ditentukan derajat legitimasi pimpinan daerah terpilih tidak sekedar mendapatkan cukup suara tetapi juga memerlukan legitimasi substantif yaitu dipilih langsung oleh rakyat legitimasi yang demikian dapat menjadi modal utama dalam mencapai efektivitas penyelenggaraan pemerintah pemerintahan di daerah untuk mempercepat terwujudnya keesejahteraan masyarakat daerah melalui peningkatan pelayanan pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah.
Saudara pimpinan dan anggota Saudara Menteri;
beserta hadirin Yang Mulia.
Fraksi PDI Perjuangan DPR menghargai sikap pemerintah terdahulu yang telah menerbitkan Perpu Nomor 1 tahun 2014 serta Perpu Nomor 2 Tahun 2014 seperti diketahui RUU yang kemudian sisahkan dan diundangkan menjadi Undang- Undang Nomor 2 tahun 2014 tersebut dilakukan pembahasan bersama DPR RI dengan pemerintah pada tanggal 6 Juni 2012 dan dilakukan pengambilan putusan pada September 2014 hanya berselang 6 hari dalam masa pemerintah yang sama dan oleh Pemerintah yang sama Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 dicabut melalui penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tepatnya pada tanggal 2 Oktober 2014, secara bersamaan pada tanggal yang sama diterbitkan dan disampaikan Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 kepada DPR RI Saudara pimpinan dan anggota Saudara Menteri beserta hadirin Yang Mulia.
Berdasarkan pada pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam hal Ihwal kegentingan yang memaksa Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti Undang-Undang serta memperhatikan putusan MK Nomor 138/PU-VII/2009 tanggal 8 Februari 2010 yang menetapkan 3 syarat adanya kegentingan memaksa, sebagaimana dimaksud oleh Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yaitu satu, adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah Hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang.
14
ARSIP DPR RI
Yang kedua, Undang-Undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum, atau ada Undang-Undang tetapi tidak memadai.
Yang ketiga, Kekosongan Hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-Undang secara prosedur biasa, karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan maka fraksi PDI Perjuangan DPR RI memandang perlu bahwa Perpu Nomor 1 Tahun 2014, penerbitannya memenuhi syarat substantif pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dan putusan MK Nomor 138/PU-VII/2009 pandangan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI tersebut dilakukan setelah melakukan penialaian secara obyektif terhadap pertimbangan pada ketentuan menimbang dalam Perpu Nomor 1/2014 Yakni : a. Untuk menjamin pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dilaksanakan secara demokratis sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 maka kedaulatan rakyat serta demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat wajib dihormati sebagai syarat utama pemilihan Gubernur, Bupati, Bupati dan Walikota, Perlu ditegaskan dengan pelaksanaan pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung oleh rakyat dengan tetap melakukan beberapa perbaikan mendasar atas berbagai pemilihan langsung yang selama ini telah dijalankan Undang-Undang Nomor d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud perlu menetapkan Perpu tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
Saudara Pimpinan dan Anggota, Saudara Menteri beserta hadirin yang mulia.
Selain melakukan penilaian obyektif dalam rangka filosofis dan dan yuridis seperti yang dikemukakan di atas Fraksi PDI Perjuangan DPR RI juga melakuan penilaian secara obyektif faktual bahwa unsur kegentingan memaksa penerbitan Perpu No. 1 Tahun 2014 juga terpenuhi yakni dalam kurun waktu tahun 2015 terdapat 204 Kepala Daerah yang berakhir masa jabatannya. Dengan demikian penyelenggaraan Pilkada Tahun 2015 secara langsung oleh rakyat memerlukan payung hukum sebagai pijakan yuridis Pilkada tahun 2015. Dalam berbagai pengalaman Pilkada langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan secara matang dengan alokasi waktu yang cukup atau setidaknya dibutuhkan waktu 10 bulan sebelum pelaksanaan pemungutan suara dilakukan .
Pada tingkat perencanaan Pilkada Tahun 2015 Fraksi PDI Perjuangan DPR RI meyakini bahwa penyelenggara Pilkada dan Pemerintah termasuk Pemda beserta lembaga terkait lainnya telah mempersiapkannya secara matang dan itu dilakukan sejak tanggal 2 Oktober 2014 dimana adalah Perpu Nomor 1 Tahun 2014 diterbitkan ketentuan Pasal 87 Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menggariskan Peraturan Perundang- Undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan kecuali ditentukan lain di dalam peraturan Perundang-Undangan dan yang bersangkutan .
Saudara Pimpinan dan Anggota, Saudara Menteri beserta hadirin yang mulia.
Dengan mendasarkan pada prinsip pelaksanaan kedaulatan rakyat melalui Pilkada langsung penilaian obyektif dalam kerangka filosofis dan yuridis serta faktual
15
ARSIP DPR RI
sebagaimana dikemukakan di atas, maka Fraksi PDI Perjuangan DPR RI berpandangan agar Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 dilakukan pembahasan lebih lanjut dengan tahapan sesuai peraturan Perundang-Undangan mengingat ketentuan Pasal 52 Ayat (3) Undang-Undang nomor 12 Tahun 2011 DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang maka Fraksi PDI Perjuangan DPR RI mengusulkan agar pembahasan dan pengambilan keputusan rancangan Undang-Undang tentang Perpu Nomor satu tahun 2014 menjadi Undang-Undang dilakukan dengan mekanisme dan jadwal yang lebih singkat :
1. Pandangan Fraksi-Fraksi dan DPD terhadap Keterangan Pemerintah tanggapan Pemerintah atas Pandangan Fraksi-Fraksi dan DPD.
2. Pendapat Akhir Mini Fraksi-Fraksi dan DPD untuk Pengambilan Keputusan Pembicaraan Tingkat i. 4. Pembicaraan Tingkat II atau Pengambilan Keputusan dalam Rapat Paripurna DPR RI yang sedianya bisa diselenggarakan minggu depan.
Fraksi PDI Perjuangan DPR RI berharap agar usulan tersebut mendapat respon positif dari Fraksi-Fraksi, DPD dan Pemerintah sendiri dengan satu harapan agar tahapan penyelenggaraan Pilkada 2015 dapat segera dilaksanakan sesuai dengan persiapan dan pencernaan yang telah dilakukan. Beberapa substansi materi Perpu Nomor 1 Tahun 2014 yang dirasa masih diperlukan penyempurnaan dapat dilakukan melalui penyusunan Rancangan Undang-Undang baru yang urgensi dan tujuan penyusunannya, sasaran yang ingin diwujudkan, pokok pikiran, lingkup atau objek yang akan diatur dan jangkauan serta pengaturannya merupakan penyempurnaan atas Perpu Nomor 1 tahun 2014 setelah disahkan menjadi Undang-Undang sedangkan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perpu Nomor 2 Tahun 2014 Fraksi PDI Perjuangan DPR RI juga menerima agar dilakukan lebih lanjut dengan mekanisme dan jadwal pembahasan satu paket dengan rancangan Undang- Undang tentang Perpu Nomor 1 Tahun 2014.
Saudara Pimpinan dan Anggota, Saudara Menteri beserta hadirin yang mulia.
Demikian pandangan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI terhadap Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 serta Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 menjadi Undang-Undang kami sampaikan. Semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan pancaran kasih dan karunia-Nya pada kita semua Amin. Orandum est us sit mens sana in corpore sano, berdoalah semoga di dalam tubuh yang sehat bersemayam jiwa yang kuat. Demikian pesan penulis Romawi. Sekian dan terima kasih.
Wasalamualakum Warah matullahi Wabarakatuh.
Om Shanti Shanti Om.
Merdeka.
Jakarta 15 Januari 2015.
16
ARSIP DPR RI
Pimpinan Poksi II Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Ketua Komarudin Watubun.
Nomor Anggota 230.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Saudara Yang terhormat Arif Wibowo dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kita lanjutkan fraksi partai golongan karya Kami persilakan.
F-PG (DRS. H. DADANG S. MUCHTAR):
Baiklah.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Giliran fraksi Partai Golkar untuk menyampaikan Pandangan yang akan disampaikan oleh Dadang S.Muchtar Nomor Anggota A 263.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Yang Terhormat Pimpinan Sidang Saudara Menteri Dalam Negeri;
Saudara Menteri Hukum dan HAM;
dan Para Anggota Dewan khususnya Komisi II; dan Anggota Kominte DPD;
Hadirin sekalian yang saya muliakan.
Ijinkanlah kami atas nama fraksi Partai Golongan Karya dalam kesempatan yang berbahagia ini ingin mengajak kita semuanya yang hadir dalam rapat kerja komisi II ini untuk memanjatkan puji dan syukur kehadiran Allah SWT karena dengan izin dan hidayahnya kita dapat hadir dan mengikuti Rapat Kerja Komisi II ini untuk mendengarkan pendapat fraksi-fraksi mengenai penjelasan keterangan pemerintah atau atas Rencana Undang-Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang perubahan dan atas Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur Bupati, walikota serta Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah menjadi Undang-Undang.
Pimpinan sidang dan hadirin yang kami hormati; Undang-Undang tentang pemilihan kepala daerah bagi fraksi partai Golkar diposisikan sebagai bagian dari upaya untuk membangun sistem pemerintahan yang demokratis akuntable dan efisien berkenaan dengan itu bagi fraksi partai Golkar membahas Perpu ini adalah upaya memberikan makna sekaligus penguatan terhadap NKRI sebagai bagian dari amanat Konstitusi kita dalam rangka memajukan kehidupan bernegara, menegakkan keadilan dan kesejahteraan Indonesia dengan memperhatikan pengalaman serta
17
ARSIP DPR RI
dinamika dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah fraksi partai Golkar berharap hendaknya Perpu ini mampu menghasilkan kebijakan terbaik bagi masyarakat Indonesia.
Sebelum menyampaikan pandangan fraksi kami ingin mengingatkan adanya peristiwa menarik yang perlu diperhatikan bersama yaitu bahwa Perpu ini dikeluarkan sesaat setelah Undang-Undang tentang pemilihan gubernur bupati dan walikota ditandatangani oleh presiden seluruh materinya dicabut oleh presiden yang yang sama melalui Perpu ini biasanya Perpu hanya mencabut beberapa pasal saja terhadap suatu Undang-Undang, padahal presiden tersebut turut membahas bersama DPR uniknya Perpu ini kemudian dibahas oleh presiden yang berbeda bersama DPR, kira-kira apakah presiden saat ini sungguh-sungguh akan ikhlas membahas Perpu ini selanjutnya perkenankanlah fraksi partai Golkar memberikan pandangan dan pendapat terhadap penjelasan/keterangan pemerintah atas Rencana Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 sebagai berikut : pertama mengenai syarat adanya kegentingan yang memaksa sehingga harus dikeluarkan Perpu berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU /VII/2009 menetapkan 3 sarat adanya kegentingan yang memaksa ,sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 45 yaitu adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah Hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang Kedua Undang-Undang yang dibutuhkan tersebut belum ada, sehingga terjadi kekosongan Hukum atau ada Undang-Undang tetapi tidak memadai.
Kedua kekosongan Hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan ccara membuat Undang-Undang secara prosedur biasanya karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut Undang-Undang yang mengatur mengenai pemilihan kepala daerah sudah ada dan dibahas bersama antara pemerintah dan DPR yaitu Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur bupati dan walikota artinya kekosongan Hukum sebagaimana yang dikuatirkan tidak terjadi, atau jika Undang-Undang yang sudah ada dikatakan tidak memadai sebagaimana yang dimaksud putusan MK tersebut dalam hal apa? Yang dinilai tidak memadai bukankah dalam proses pembuatan Undang-undang Nomor 22 tahun 2014 sudah melalui proses yang matang, panjang dan berliku-liku, sehingga pemerintah juga menyatakan persetujuannya pada saat pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna DPR sekaligus ditandatangani oleh Presiden.
Ketiga Fraksi Partai Golkar memandang terdapat beberapa masalah terkait materi Perpu yang diajukan oleh Pemerintah diantaranya adalah masalah yang terkait pengajuan calon Kepala Daerah Pasal 40 Perpu 1 Tahun 2014 dengan jelas menyebutkan bahwa calon diajukan secara berpasangan akan tetapi pada materi- materi sebelumnya maupun selanjutnya dengan jelas dan tegas dapat kita pahami bahwa calon diajukan tidak berpasangan bahkan wakil gubernur Wakil Bupati dan Wakil Walikota diusulkan oleh Gubernur, Bupati dan Walikota sendiri untuk selanjutnya dilantik oleh pejabat yang berwenang. Hal ini merupakan masalah yang nyata-nyata yang akan menimbulkan persoalan yang serius di kemudian hari 3.
Masalah terkait dengan penyelenggaraan Pilkada, Undang-Undang Tahun 1945
18
ARSIP DPR RI
menyatakan bahwa termasuk rezim Pemilu adalah pemilihan Presiden dan pemilihan Anggota DPR, DPD dan DPRD.
Hal ini diperkuat oleh putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97 yang menyatakan bahwa Pilkada bukan termasuk rezim pemilu oleh karenanya bukan menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menanganinya, selanjutnya Pasal 20e Ayat (5) Undang-Undang 1945 dinyatakan bahwa Pemilihan Umum diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri artinya jika pilkada bukan masuk rezim Pemilu maka KPU penyelenggara pemilu adalah AdHoc, jika KPU bersifat AdHoc maka dasar hukumnya apa, sebab menurut Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 sifat KPU itu adalah tepat dan permanen.
Keempat terkait penyelesaian sengketa Pilkada, Perpu No,or 1 Tahun 2014 menyatakan bahwa penyelesaian sengketa Pilkada adalah Pengadilan Tinggi yang ditunjuk oleh Mahkamah Agung akan tetapi Mahkamah Agung justru berpendapat bahwa sebaiknya penyelesaian sengketa Pilkada tidak di Mahkamah Agung melainkan ditangani oleh badan khusus di luar pengadilan walaupun sebagian dari pelaksanaan maaf, walaupun sebagai bagian dari pelaksanaan Indonesia negara hukum, Mahkamah Agung siap mengadili sengketa hasil Pilkada apabila perintah Undang-Undang.
Di sisi lain Mahkamah Konstitusi sudah tidak berwenang mengadili sengketa hasil Pilkada sesuai dengan putusan yang telah dijatuhkannya beberapa waktu yang lalu seandainya Mahkamah Konstitusi akan diberikan kembali tugas tersebut niscaya akan sulit dilaksanakan mengingat kelak Pilkada akan dilakukan secara serentak dengan kedudukan hanya ada di Jakarta dengan jumlah Hakim yang hanya 9 orang dan pegawai jumlahnya terbatas maka sungguh tidak bisa dibayangkan betapa berat melaksanakan tugas mengadili puluhan atau bahkan ratusan gugatan hasil Pilkada secara serentak bersamaan waktunya. Kemudian bagaimana dan pengawasan dan keamanan terkait masalah yang timbul tersebut kondisi ini sungguh akan menyulitkan dalam pelaksanaannya menimbulkan dilema yang sangat serius pabila Perpu ini disetujui Dewan.
Kelima Masalah terkait pilkada serentak bagi Kepala Daerah yang habis masa jabatannya tahun 2015, maka akan diselenggarakan Pilkada pada tahun 2015 adapun Kepala Daerah yang habis masa jabatannya setelah tahun 2015 yakni tahun 2016 sampai dengan tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada pada tahun 2018 selama kurun waktu antara habis masa jabatan sampai dengan penyelenggaraan Pilkada, roda Pemerintahan diarahkan di pegang oleh pelaksana tugas atau Plt . Dalam rentang waktu yang cukup lama ini benarkah tidak akan menimbulkan masalah besar dalam hal penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pelaksanaan pembangunan krena nyata-nyata seorang Plt tidak boleh mengambil kebijakan dan keputusan strategis , di antaranya adalah pembahasan APBD dapat kita bayangkan bagaimana penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan kegiatan pembangunan apabila APBD tidak dapat diproses masyarakat lah yang akan dirugikan dengan kondisi ini.
Keenam, penjadwalan atau pentahapan penyelenggaraan Pilkada yang cukup panjang apabila jika berlangsung 2 putaran, jika pelantikannya dilakukan secara
19
ARSIP DPR RI
serentak maka bagi calon yang terpilih dalam 1 putaran harus menunggu penyelesaian sengketa Pilkada di daerah lain yang berlangsung 2 putaran.
Bagaimana dengan pengawasan dan kemanan dalam setiap tahapan penyelenggaraan jika proses cukup panjang. Apakah kita telah benar-benar yakin bahwa hal ini akan berjalan sesuai dengan harapan.
Ketujuh, terkait dengan adanya Wakil Kepala Daerah lebih dari 1 sepanjang memenuhi batas minimal jumlah penduduk sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 168 apakah norma Hukum itu tidak dipandang sebagai politik akomodasi belaka.
Benarkah dengan adanya Wakil Kepala Daerah lebih dari 1 akan mendorong terwujudnya Pemerintahan yang efektif dan efisien , apakah tidak sebaliknya dengan adanya Wakil Kepala Daerah lebih dari 1 dimana dapat berjumlah 3 orang justru akan menimbulkan masalah besar dalam koordinasi dan sinkronisasi pembagian tugas. Pengaturan kekuasaan antara wakil dan antara Kepala Daerah dengan para wakilnya belum lagi kuatnya tantangan bagi Kepala Daerah para wakilnya dalam menjalankan kekompakan dan kerjasama pada saat yang sama adanya Wakil Kepala Daerah lebih dari 1 juga akan menimbulkan pemborosan anggaran padahal kita menginginkan roda Pemerintahan Daerah berjalan dengan efektif dan efesien.
Delapan adanya beberapa pandangan ahli hukum yang berbeda terhadap Perpu jika disetujui atau tidak disetujui oleh DPR . Pandangan pertama yang menyatakan jika Perpu idak disetujui oleh DPR maka terjadi itu kekosoangn hukum karena Undang-Undang yang telah dicabut tidak dapat hidup lagi. Pandangan kedua yang menyatakan bahwa jika Perpu disetujui oleh DPR maka Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 dapat berlaku kembali. Sebagai contoh putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Listrik pada tahun 2008 dalam putusan disebutkan mengisi kekosongan hukum akibat dibatalkannya Undang-Undang Ketenagalistrikan peraturan sebelumnya dinyatakan kembali berlaku .
Pandangan ketiga yang menyatakan bahwa jika Perpu tersebut tidak tidak disetujui oleh DPR maka Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 dapat berlaku kembali dengan adanya pernyataan bersama antara Pemerintah dan DPR. Bagi Fraksi Partai Golkar perbedaan pandangan para ahli hukum tersebut pada saatnya akan mempengaruhi proses pembahasan Perpu, oleh karena itu Fraksi Golkar akan mendengarkan terlebih dahulu pandangan ahli-ahli hukum tata negara, mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Pemerintah, mendengarkan aspirasi masyarakat dan pandangan Fraksi Golkar yang akan membahas Perpu tersebut.
Berangkat dari pandangan yang telah dikemukakan tersebut nyata bahwa materi Perpu memuat banyak masalah, sehingga harus disempurnakan akan tetapi berdasarkan Pasal 52 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerUndang-Undangan DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang seandainya disetujui oleh DPR berbagai permasalahan tersebut akan menyebabkan Perpu ini sulit dilaksanakan dan seandainya tidak di setujui maka harus diatur segala akibat Hukum yang ditimbulkan.
Mengingat urgensi Perpu ini sebagai bagian dari upaya membangun sistem Pemerintahan yang demokratis, akuntabel dan efisien sekaligus penguatan NKRI
20
ARSIP DPR RI
sebagai bagian dari amanat Konstitusi kita dalam memajukan kehidupan bernegara menegakkan keadilan dan kesejahteraan Indonesia. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim dan mengharap Ridha Allah Fraksi Partai Golkar berpandangan siap membahas dan menyelesaikan Perpu Nomor 1 tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 pada Masa Persidangan ini.
Sekali lagi kami tegaskan bahwa Fraksi Golkar DPR RI berkomitmen untuk ber-ihktiar sekuat mungkin bersama teman-teman dari Fraksi-Fraksi lain untuk menuntaskan pembahasan Perpu ini pada Masa Persidangan II tahun 2014 ini kami juga yakin teman-teman dari seluruh Fraksi yang ada mempunyai tekad dan semangat yang sama, dengan demikian menjadi target kita semuanya pada akhir Persidangan Ke-II tahun 2014 ini yakni sekitar antara tanggal 15 Februari 2014 akan datang sudah ada keputusan yang mengenai Perpu ini hal ini penting kita lakukan bersama sebagai bagian dari komitmen kita semua untuk mendukung kelancaran dan kesuksesan agenda nasional sekaligus agenda demokrasi kita yakni pelaksanaan Pilkada yang jujur dan adil pada masa mendatang .
Demikian pendapat Fraksi partai Golkar, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan perlindungan dan kekuatan kepada kita, sehingga kita semua dapat menjalankan tugas konstitusional dengan sebaik-baiknya. Amin.
Jakarta 15 Januari 2015.
Pimpinan Fraksi Partai Golongan Karya Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia,
Dr. Adi Komaruddin, MA, MBA, Bambang Soesatyo SE, MBA
Ketua sekretaris,
Terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
KETUA RAPAT :
Merah, ini kuning Pak Menteri, Saudara yang terhormat Dadang Mukhtar, jubir fraksi partai Golkar. Kita lanjutkan Fraksi partai Gerindra. Sudah siap, kalau sudah siap.
F-GERINDRA (IR. ENDRO HERMONO, MBA):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang kami hormati Pimpinan dan
21
ARSIP DPR RI
anggota komisi 2 DPR RI Menteri dalam negeri Republik Indonesia, Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia
Hadirin dan hadirat serta para wartawan yang berbahagia.
Segala Puji bagi Allah SWT, yang telah menganugerahkan karunia-Nya kepada kita semua dengan ridho nya kita dapat melaksanakan tugas-tugas konstitusional yang telah diamanatkan oleh rakyat pada kita sekalian. Amin.
Pimpinan dan anggota komisi II yang kami hormati,
Baru saja kita mendengarkan penjelasan tentang Perpu Nomor satu tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 oleh pemerintah yang dalam hal ini diwakili dijelaskan oleh menteri Hukum dan HAM RI. Semua penjelasan telah kami catat namun akan kami dalami latar persidangan ini.
Oleh karena itu, kami fraksi partai Gerindra dengan tidak mengurangi rasa hormat pada kesempatan ini mohon izin untuk menyampaikan pandangan kami besok pagi. Atau besoks iang, sehingga namun sgala proses dan mekanisme persidangan ini lalu kita menyetujui untuk berjalan agak layak dalam persidangan baik yang kedua ini masalah Perpu No. 1 dan 2 ini bisa selesai pada waktunya Pimpinan dan anggota Komisi II DPR RI yang kami hormati, demikianlah permohonan dari fraksi Partai Gerindra mudah-mudahan bisakah nantinya akan jalan dengan lancar. Wass. Disampaikan oleh Endro Hermono Kapoksi partai Gerindra Nomor A369, terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi kita jadwalkan besok siang, berikutnya adalah pakai fraksi partai demokrat.
F-PD (IR. FANDI UTOMO):
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat pimpinan dan anggota komisi II DPR RI,
Menteri dalam negeri RI menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia, perwakilan DPD RI. Serta hadirin yang berbahagia.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan yang maha Esa pada hari ini kita dapat menjalankan tugas konstitusional kita seperti anggota DPR RI dalam rapat komisi 2 DPR RI guna memberikan pandangan terhadap keterangan pemerintah atas rancangan Undang-Undang penetapan Perpu Nomor I tahun 2014.
22
ARSIP DPR RI
Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang pemilu pemilihan kepala daerah dan rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Hadirin yang saya hormati, pembahasan atas RUU tentang penetapan kedua Perpu tersebut bernilai strategis karena menyangkut penyelenggaraan kehidupan bernegara yang demokratis di daerah yaitu pemilihan kepala daerah secara langsung.
Tentu kuat dalam ingatan kita salah satu pesan reformasi adalah adanya pemilu sebagai mekanisme terbaik untuk mengartikulasikan suara rakyat dimana rakyat memilih pemimpinnya secara langsung umum bebas rahasia dan demokratis.
Hadirin yang hormati, fraksi partai demokrat Republik Indonesia DPR RI, Republik Indonesia maaf fraksi partai demokrat DPR RI memandang sesungguhnya Perpu Nomor I tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 tentang pemilihan gubernur bupati dan walikota bukan hanya ditujukan untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah secara langsung namun juga telah menjawab apa dirasakan sebagai kekurangan dari pelaksanaan pilkada secara langsung selama ini. Kekurangan-kekurangan penyelenggaraan pilkada sebelumnya dijawab oleh Perpu ini antara lain terkait dengan uji publik yang kedua terkait dengan penghematan anggaran pilkada yang signifikan. Terkait dengan pengaturan dan pembatasan kampanye terbuka. Keempat terkait dengan akuntabilitas penggunaan dana kampanye.
Pelarangan politik uang atau money politic larangan fitnah atau kampanye hitam, pelarangan pelibatan aparat birokrasi larangan pencopotan aparat birokrasi sebelum dan sesudah pilkada, penyelesaian sengketa pilkada secara lebih akuntabel. 10. Mencegahl kekerasan dan menuntut tanggungjawab calon atas kepatuhan Hukum para pendukungnya. Pimpinan dan anggota serta Bapak menteri dalam negeri dan Bapak Menkumham dan hadirin yang saya hormati, ]fraksi partai demokrat juga mendengarkan sungguh-sungguh keberatan-keberatan yang diajukan terhadap Perpu Nomor satu tahun 2014 ini.
Dan sesungguhnya pendalaman kita terhadap Perpu Nomor satu tahun 2014 sesungguhnya di dalamnya sekaligus menjawab ke atas keberatan-keberatan tersebut dan jawabannya tentu dapat kita gali dari di dalamnya. Keberatan- keberatan yang menyatakan bahwa ini bukan merupakan rezim pemilu, dan bahkan lebih jauh dikatakan bahwa Perpu tidak dapat dilaksanakan sesungguhnya ini bisa kita jawab dengan pendalaman kata Perpu itu sendiri maupun jawaban dari pelaksana Undang-Undang yaitu KPU yang menyatakan kesiapannya untuk bisa melaksanakan pilkada secara serentak pada tahun 2015 ini. Pimpinan dan anggota komisi II yang saya hormati, Bapak menteri dalam negeri dan Bapak menteri Hukum dan HAM serta seluruh hadirin maaf dan DPD RI dan seluruh hadirin yang berbahagia. Berdasarkan pandangan kami fraksi partai demokrat dengan ini menyatakan setuju untuk dilakukannya pembahasan lebih lanjut terhadap Perpu Nomor I dan Perpu Nomor 2 tahun 2014, di dalam satu paket pembahasan sekaligus tentu dengan harapan bahwa Perpu nomor I dan Perpu Nomor 2 ini mendapat dukungan dari fraksi-fraksi DPR RI dan dengan demikian Perpu Nomor 1 dapat diundangkan menjadi Undang-Undang dan dapat dilaksanakan pelaksanaannya di tahun 2015 ini.
23
ARSIP DPR RI
Demikian, pandangan fraksi partai Demokrat yang telah disampaikan semoga Allah SWT Tuhan yang maha Esa memberikan ridhoNya kepada kita untuk dapat melanjutkan rapat sampai dengan rapat Paripurna selesai dengan demikian kita kan dapat mewujudkan Undang-Undang dalam rangka pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dan perbaikan terhadap Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 sehingga dengan demikian kehidupan demokrasi di daerah dapat terlaksana dengan baik kiranya Allah SWT menolong kita semua, terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Jakarta 15 Januari 2015
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT
Edy Baskoro Yudhoyono Didi Mukrianto
Ketua Sekretaris
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih juru bicara fraksi Partai Demokrat. Kita lanjutkan jadi kita simak semua, dan kita lanjut sekarang kepada Fraksi Partai Amanat Nasional.
F-PAN (H. YANDRI SUSANTO, S. pt):
Ya terima kasih pimpinan
Pandangan fraksi partai amanat Nasional Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
terhadap
Rancangan Undang-Undang tentang Penatapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dan Perpu Nomor 2 tahun 2014
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Dibacakan oleh Yandri Susanto nomor Anggota 494
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Komisi II DPR.
Yang kami hormati Anggota Komite I DPD RI;
Yang kami hormati Saudara Menteri Dalam Negeri beserta jajaran;
Yang kami hormati Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajaran.
24
ARSIP DPR RI
Marilah kita sanjungkan puji dan syukur kehadirat Alloh SWTyang telah melimpahkan taufik, hidayah dan inayah Nya kepada kita semua , sehingga kita bisa melaksanakan sidang yang terhormat ini. Pimpinan dan Anggota Komisi II yang kami hormati, hadirin yang berbahagia. Perpu Nomor 1 tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 merupakan Perpu yang mencabut Undang-Undang Nomor 22 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Perpu ini secara konstitusional adalah hak subyektif Presiden. Dan sudah memiliki kekuatan hukum, mengikat, meskipun belum mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, sebagaimana ditentukan dalam pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Fraksi PAN memandang bahwa ke dua Perpu ini memiliki implikasi dan konsekwensi hukum, sehingga perlu mendapat perhatin yang sangat serius dari Dewan Perwakilan Rakyat. Konsekwensi yang paling krusial yang sekaligus menjadi perhatian publik adalah menyangkut mekanisme penyelenggaraan kepala daerah dan penghapusan tugas dan kewenangan DPRD propinsi dan DPRD kabupaten kota dalam mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah.
Fraksi PAN menilai bahwa khusus menyangkut Perpu Pilkada, menyetujui atau tidak menyetujui Perpu tersebut oleh DPR secara pasti akan menyisakan permasalahan hukum, apabila tidak menyetujui maka akan menimbulkan kekosongan hukum, sementara bila menyetujui maka akan diperhadapkan pada persoalan tentang institusi apa yang akan menyelenggarakan Pilkada, sebab dalam Perpu disebutkan secara tersurat bahwa penyelenggara Pilkada dilakukan oleh KPU dan KPU daerah sementara sesuai amar keputusan Mahkamah konstitusi yang pada pokoknya telah menyatakan bahwa Mahkamah Konstitusi tidak berwenang mengadili dan memutuskan perkara-perkara Pilkada, sebab Pilkada tidak termasuk dalam rezim Pemilu sebagaimana diatur dalam Pasal 22 e Undang-undang Ddasar 1945 yang menegaskan bahwa KPU, hanya menyelenggarakan Pemilu untuk memilih DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta DPRD.
Melainkan pilkada menjadi bagian dari rezin pemerintahan daerah, sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Ayat (4) Undang-Undang 1945 yang pada pokoknya menegaskan bahwa Gubernur, Bupati dan Walikota dipilih secara demokratis. Oleh karena demikian agar proses pemilihan kepala daerah tetap bisa berjalan secara demokratis dan berkualitas, maka penting perlunya kesepahaman konsepsional agar permasalahan ini dapat diselesaikan secara komprehensip dan bersifat solutif. Mengingat pada tahun 1015 terdapat 204 kepala daerah yang masa jabatannya berakhir.
Pimpinan, Menteri yang kami hormati, seluruh hadirin yang berbahagia.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Mengharap Ridha Allah Swt. Fraksi PAN berpandangan bahwa Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang umur 22 tahun204 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
25
ARSIP DPR RI
Daerah perlu segera dibahas dalam masa sidang ini Insya Allah menjadi sebuah keputusan yang membuat bangsa dan negara ini, laju demokrasi kita menjadi lebih baik terima kasih,
Wassalammualaikum warohmatullahi Wabarukatuh.
Jakarta 15 Januari 2015
Pimpinan Fraksi Partai Amanat Nasional Dewan perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Ir. Catur Sapto Edy, Ir. Teguh Juarno,
Ketua Sekretaris
Terima kasih,
KETUA RAPAT :
Berikutnya Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Saudara Yanuar.
F-PKB (H. YANUAR PRIHATI, M.Si):
Terima kasih pimpinan .
Pendapat Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa atas Rancangan Undang- Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2014.
Tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota serta Perpu Nomor 2 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang.
Disampaikan oleh Yanuar Prihatin, A-49 Partai Kebangkitan Bangsa.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.
Pimpinan sidang beserta Anggota komisi II yang terhormat;
Saudara Menteri Dalam Negeri beserta jajaran;
Saudara Menteri Hukum dan HAM beserta jajarannya;
Anggota DPD yang hadir dan hadirin sekalian.
Pada kesempatan ini perkenankanlah kami mengajak seluruh yang hadir, untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. Oleh karena pada malamini, kita semua bisa hadir dan berkumpul di dalam rangka membahas satu agenda penting sekali untuk masa depan bangsa kita. Terkait dengan Rancangan Undang-Undang tentang Perpu Nomor 1 tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 tahun 2014 shalawat dan
26