1.1 Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Faktor keturunan / bawaan menentukan cepat pertumbuhan, bentuk janin dan fungsi organ-organ yang dibentuk. Faktor keturunan dapat ditentukan lewat makanan yang disalurkan oleh ibu melalui plasenta [8].
Faktor lingkungan yang berperan dalam tumbuh kembang anak adalah konsumsi makanan (diet), kebersihan, latihan jasmani dan keadaan kesehatan.
Lebih lanjut [8] menjelaskan bahwa hal penting lain bagi pertumbuhan bayi adalah pemberian makanan yang berkualitas dan kuantitas yang baik sehingga bayi dapat tumbuh normal.
Makanan yang ideal harus mengandung cukup bahan bakar (energi) dan semua zat gizi esensial, yaitu semua komponen bahan makanan yang tidak dapat disintesa oleh tubuh sendiri akan tetapi diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan harus dalam jumlah yang cukup.
ASI merupakan makanan yang terbaik untuk memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi, karena ASI mengandung semua komposisi zat gizi yang dibutuhkan bayi. Tetapi sangat disayangkan, tidak semua ibu dapat memberikan ASI dengan baik pada bayinya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, misalnya yang berhubungan dengan penyakit bayi, ibu yang sedang di rawat dirumah sakit serta bekerja di luar rumah, yang menyebabkan ia harus mencari alternatif pengganti ASI [8].
Penggunaan ASI di Indonesia telah dilaksanakan sejak 1980, bahkan Presiden RI mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan ASI pada tahun 1990. Berbagai organisasi juga mendukung gerakan ASI eksklusif, baik organisasi pemerintah maupun organisasi swasta juga ikut melaksanakan upaya
1
peningkatan pemberian ASI sesuai dengan peran dan sumber daya yang ada pada masing-masing organisasi tersebut.
Namun seiring dengan kemajuan teknologi membuka kesempatan bagi wanita untuk bekerja di luar rumah, sehingga memerlukan susu formula sebagai makanan pengganti ASI selama bekerja. Selain itu adanya perubahan gaya hidup dan kelompok emansipasi wanita, memandang negatif menyusui bayi dikhawatirkan adanya kecenderungan perubahan perilaku dari kebiasaan memberi ASI beralih ke penggunaan susu botol atau susu formula, terutama di daerah perkotaan. Hal ini dapat terlihat dari besar ibu yang menyusui bayi mereka dengan ASI khususnya di daerah Surakarta hanya 37% (Solopos, 22 Desember 2008).
Menurut [8], ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, namun dengan umur bayi yang semakin bertambah maka kebutuhan zat gizi juga akan semakin bertambah sehingga tidak cukup hanya ASI saja.. Selain itu adanya anggapan ibu bahwa ASI yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan bayi, karena sulit untuk mengukur atau melihat berapa banyak yang telah dikonsumsi.
Keraguan tersebut mendorong para ibu untuk memberikan makanan tambahan pada bayi mereka. Untuk itu diperkenalkan makanan pendamping ASI (MP-ASI), yaitu susu formula dan makanan lunak.
Pemberian susu formula saat ini sudah menyebar keseluruh lapisan masyarakat, baik yang mampu maupun yang kurang mampu. Kondisi seperti ini dimanfaatkan produsen susu formula dalam mempromosikan produk mereka bahwa susu formula yang diproduksi “hampir sama atau serupa ” dengan ASI.
Padahal menurut para ahli, kampanye seperti ini tidak dibenarkan. Menurut mereka susu formula tidak akan pernah menyerupai ASI.
Promosi merek susu formula di berbagai tempat, seperti rumah sakit, praktek bidan, praktek dokter yang semakin meningkat cukup membuat para ibu bingung memilih produk yang cocok untuk bayi mereka. Susu formula juga dipromosikan lewat berbagai media, baik media cetak, elektronik, internet dan lain-lain.
Komposisi zat gizi yang beragam yang ditulis dalam setiap kemasan susu formula justru membuat ibu bingung dalam menentukan susu formula apa yang
cocok untuk diberikan bagi bayi mereka. Perbedaan harga susu formula satu dengan yang lain untuk konsumen yang seumur juga membuat ibu harus lebih selektif memilih susu formula yang cocok untuk bayi mereka.
1.2 Rumusan Masalah
Berkaitan dengan fakta- fakta yang diungkapkan dalam latar belakang di atas maka masalah yang timbul adalah
1. bagaimana perbandingan harga jual antar susu formula bayi 0-6 bulan?
2. bagaimana perbandingan komposisi zat gizi antar susu formula bayi 0-6 bulan?
3. bagaimana keputusan ibu dalam memilih susu formula bayi 0-6 bulan?
1.3 Batasan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi oleh beberapa hal yaitu,
1. Sampel yang digunakan hanya pada susu formula bayi 0-6 bulan untuk bayi normal.
2. Komposisi zat gizi yang tercantum dalam kemasan susu formula sesuai dengan komposisi zat gizi yang sebenarnya.
1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah
1. mengetahui perbandingan harga jual antar susu formula 0-6 bulan 2. mengetahui perbandingan komposisi zat gizi antar susu formula 0-6
bulan
3. mengetahui bagaimana keputusan ibu dalam memilih susu formula
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah
1. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu perilaku konsumen serta sebagai bahan rujukan dan informasi bagi ibu- ibu dalam memilih susu formula yang baik.
2. Bagi produsen, sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas produksi susu formula.
3. Bagi pemerintah, sebagai bahan pertimbangan dalam pengawasan penggunaan mutu, kualitas susu formula.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 ASI
Air Susu Ibu merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama, karena mengandung semua zat gizi yang membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan bayi [8]. Menurut [9]
pemberian ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI tanpa diberi tambahan cairan lain seperti susu formula, madu, air teh, bahkan makanan padat lain.
Pemberian ASI eksklusif diajurkan untuk angka waktu minimal 4 bulan dan akan lebih baik apabila diberikan sampai bayi berusia 6 bulan. Pemberian ASI secara eksklusif kepaba bayi usia 0-6 bulan akan mampu meningkatkan tumbuh kembang, daya tahun tubuh, kecerdasan dan mencegah kematian akibat diare, saluran pernafasan dan penyakit lain.
ASI mengandung semua komposisi zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan. Kebaikan ASI lain adalah murah harganya, tersedia pada suhu yang ideal, tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu, selalu segar dan bebas tercemar, memperkuat ikatan batin antara ibu dengan bayinya, menyusui bayi dapat mempercepat pengembalikan besarnya rahim pada bentuk dan ukuran sebelum mengandung [8]. Disamping kebaikan-kebaikan ASI tersebut, ASI juga mempunyai kekurangan yaitu kadar vitamin A dalam ASI sangat rendah, demikian pula dengan garam besi, vitamin B dan C [6].
2.1.2 Susu Formula
Permenkes No.240 / 1985 tentang PASI dan telah disempurnakan dengan keputusan Kepmenkes No.237 / 1997 tentang pemasaran PASI menyebutkan bahwa PASI adalah makanan bayi setelah bayi mencapai usia antara 4 sampai 6 bulan. Lebih lanjut peraturan tersebut menjelaskan bahwa pemberian PASI
5
kepada bayi hanya diperbolehkan apabila ibu tidak bisa memberikan ASI karena keadaan tertentu misalnya ibu meninggal, ibu sakit keras atau indikasi medis.
Biasanya bahan dasar susu formula sebagai salah satu PASI adalah susu sapi , tetapi ada juga yang terbuat dari susu kedelai.
Susu formula bayi yang terbuat dari bahan susu sapi, memiliki komposisi yang harus diubah terlebih dahulu hingga mendekati susunan yang terdapat pada ASI. Sedangkan menurut European Society for Paediatric Gastroenterology and Nutrition (ESPGAN) Committee on Nutrition pada publikasi tahun 1977 membagi formula bayi dalam 2 jenis yaitu formula awal (starting formula) dan formula lanjutan (follow-up formula) yang diperuntukan bagi bayi berumur 6 bulan ke atas [8].
Formula awal biasanya dalam bentuk bubuk setelah ditambah dengan sejumlah air sesuai dengan petunjuk produsen susu tersebut dan jika pemberian sehari-harinya cukup, harus dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi esensial bagi bayi sampai berumur 4-6 bulan , dan bersama-sama dengan makanan tambahan lain sampai bayi berumur 1 tahun. Formula awal dibagi lagi dalam 2 golongan yaitu formula adaptasi( adapted starting formula) dan formula lengkap ( complete starting formula) [8].
Susu formula adaptasi ( adapted starting formula) adalah susu formula yang telah disesuaikan dengan kebutuhan bayi baru lahir sampai umur 6 bulan. Susunan formula adaptasi sangat mendekati susunan ASI dan sangat baik bagi bayi baru lahir sampai umur 4 bulan. Susu formula adaptasi yang beredar di Indonesia antara lain: Bebelac1, Bimbi, Dumex sb, Enfamil, Morinaga BMT, Nan, Nutrilon, S26, Vitalac, Sinosa 1 [8].
Susu formula lengkap (complete starting formula) adalah susu formula yang memiliki susunan zat gizi lengkap dan cara pemberian dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. Susu formula yang beredar di Indonesia antara lain : Lactogen 1, Nestrogen (Nestle), Nutricia dan SGM [8].
2.1.3 Komposisi Zat Gizi
Susu formula yang beredar di pasaran telah memiliki komposisi zat gizi yang sama. Komposisi zat gizi susu formula diupayakan mendekati komposisi zat gizi pada ASI dengan kandungan yang sesuai standar yang ditetapkan WHO. Namun bukan berarti susu formula bisa disamakan dengan ASI, karena tidak ada susu formula yang bisa menyamai ASI [12].
Komposisi zat gizi susu formula juga telah disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi yang belum sempurna [12]. Menurut [8] susu formula yang baik harus mengandung beberapa komposisi zat gizi berikut:
1. Karbohidrat
Karbohidrat diperlukan untuk sumber tenaga. Karbohidrat dianjurkan supaya hanya memakai laktosa atau hampir seluruhnya dan selebihnya glukosa dan dekstrim-maltosa. Kadar karbohidrat dam susu formula dianjurkan antara 5,4 gram- 8,2 gram tiap 100 ml.
2. Lemak
Lemak berfungsi sebagai sumber energi dan penghasil asam lemak yang diperlukan pada proses biokimia dalam tubuh. Susu formula dianjurkan memiliki kandungan asam lemak esensial linolenat (omega-3) dan linoleat (omega-6) yang berguna untuk menyuplai kebutuhan pertumbuhan sel-sel otak. Kadar lemak dalam susu formula dianjurkan berkisar antara 2,7 gram – 4,1 gram tiap 100 ml.
3. Protein
Zat gizi ini diperlukan untuk berbagai proses pertumbuhan. Asam amino adalah unsur penyusun protein, sedangkan asam amino esensial merupakan unsur asam amino yang harus dipasok dari luar karena tidak terdapat dalam tubuh.
Kadar protein dalam susu formula harus berkisar antara 1,2 gram – 1,9 gram tiap 100 ml.
4. Mineral
Mineral berfungsi sebagai zat pengatur dalam berbagai proses biokimia yang berlangsung di setiap sel dan jarngan tubuh. Mineral-mineral yang perlu diperhatikan adalah kalsium, fosfor, yodium, zat besi, seng, selenium dan flour.
Kadar mineral dalam susu formula dianjurkan berkisar antara 0.25 gram – 0,34 gram tiap 100 ml.
5. Energi
Kadar energi dalam susu formula yang dianjurkan berkisar antara 67 Kkal – 67,6 Kkal tiap 100 ml.
2.1.4 Analisis Profil
Analisis profil adalah suatu uji hipotesis terhadap rata-rata vektor analisis peubah ganda yang memiliki cara pemecahan menggunakan prinsip-prinsip grafik. Dari analisis ini diinginkan informasi mengenai pola kesejajaran nilai unsur-unsur rata-rata vektor kelompok, baik di dalam kelompok maupun antar kelompok. Analisis profil dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang dapat memberikan petunjuk bagi kelompok data tertentu, apakah mempunyai kecenderungan sepadan atau dapat dipersamakan [7].
Namun untuk mengetahui seberapa besar arti kesejajaran dari populasi itu tidak cukup hanya dengan grafik saja, maka diperlukan 3 pengujian yang berkaitan dengan analisis profil yaitu:
1. Apakah profil-profil itu sejajar?
Atau setara dengan H01:µ1i −µ1i−1=µ2i−µ2i−1 untuk i=2,3,4,…p 2. Jika profil itu sejajar, apakah profil-profil itu saling berhimpit?
Atau setara dengan H02:µ1i =µ2iuntuk i=1,2,3,…p
3. Jika profil-profil itu saling berhimpit, apakah profil-profil itu mempunyai besaran (nilai) yang sama?
Atau setara denganH03:µ11 =µ12 =...=µ1p =µ21=µ22 =...=µ2p
Untuk melakukan analisis profil diperlukan beberapa asumsi sebagai berikut:
1. Setiap perlakuan untuk kelompok (populasi) yang berbeda bersifat saling bebas satu dengan yang lain.
2. Seluruh respon dari peubah-peubahnya harus dinyatakan dengan satuan yang sama agar dapat dibandingkan dan dijumlahkan.
3. Nilai galat menyebar multinormal dengan rataan 0 dan ragam σ.
2.1.5 Uji t
Uji beda rata-rata digunakan untuk membandingkan perlakuan antara 2 populasi yang independen dengan sampel kecil [2]. Asumsi yang diperlukan dalam uji beda rata-rata antara lain:
1. Kedua populasi berdistribusi normal 2. Variansi populasi σ12 dan σ22 sama
2.2 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan maka penulis mempunyai alur pemikiran untuk menyelesaikan masalah yang telah dirumuskan.
Perbandingan komposisi zat gizi susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete menggunakan analisis profil dan uji t. Komposisi zat gizi yang dimaksud adalah lemak, karbohidrat, protein, mineral, energi. Akan tetapi untuk komposisi zat gizi energi tidak dapat menggunakan analisis profil, karena satuan yang digunakan berbeda maka digunakan uji t saja. Perbandingan harga jual susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete menggunakan uji t.
Keputusan ibu dalam memilih susu formula akan ditunjukkan menggunakan analisis deskriptif dari data primer. Simulasi dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS for Windows 11 dan SAS for Windows versi 6.12.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Sumber data sekunder tentang komposisi zat gizi susu formula dan harga jual konsumen didapat dari komposisi dan harga jual yang tertera pada kemasan susu formula. Lokasi yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah swalayan, supermarket, toko-toko dan pusat pembelanjaan lain yang diperkirakan menjual produk susu formula, terutama untuk bayi yang berumur 0-6 bulan.
Sumber data primer untuk mengetahui pertimbangan ibu dalam memilih susu formula bayi, didapat dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan secara random kepada orang tua balita yang memeriksakan di poliklinik anak Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta. Kuesioner dilakukan pada tanggal 2 – 5 bulan Desember 2008.
3.2 Metode Pengambilan data
Sampel pada penelitian ini adalah orang tua balita yang memeriksakan di poliklinik anak Rumah Sakit dr.Moewardi Surakarta. Karena populasi yang tidak tentu jumlahnya, maka salah satu teknik yang dapat digunakan adalah metode Simple Random Sampling ( Sampel Acak Sederhana). Sampel yang terpilih dalam penelitian ini sebanyak 46.
3.3 Teknik Analisis 3.3.1 Analisis Profil
Analisis ini diterapkan pada situasi yang memiliki p variabel yang tercatat untuk 2 kelompok pengamatan dan diasumsikan setiap kelompok tersebut independen tetapi harus berasal dari unit yang hampir sama [4].
Pengujian hipotesis yang akan diuji dalam analisis profil, yaitu 1. Uji kesejajaran (Parallel)
1 2 2 1 1 1
01: i− i− = i − i−
H µ µ µ µ untuk i = 2,3,…, p variabel.
10
Atau dalam bentuk matriks kontras
2 1 1
2 1 0
: :
µ µ
µ µ
C C H
C C H
≠
= dengan
C
H H
p-1L
x pL
=i k
- 1 1 0 0 ... 0 0 0 -1 1 0 ... 0 0 . . . . ... . . . . . . ... . . . . . . ... . . 0 0 0 0 ... - 1 1
y
Statistik uji yang digunakan adalah
{
) .(
. ) . . 1 ].
.([1 . ]
[ 1 1 2
2 1 2
1
2 CSpC C x x
n C n
x x
T = − ′ ′ + ′ − −
dengan
2 ).
1 ( ).
1 (
2 1
2 2 1 1
− +
− +
= −
n n
S n S Sp n
x = rata-rata vektor variabel pada kelompok 1 1 2 =
x rata-rata vektor variabel pada kelompok 2
1 =
n ukuran sampel pada kelompok 1
2 =
n ukuran sampel pada kelompok 2
1 =
S kovariansi pada kelompok 1
2=
S kovariansi pada kelompok 2
H akan ditolak pada tingkat signifikansi α apabila 01 T2 ≥c2
dengan
) ( , 2 1 , 1 2
1 2 2 1
) . (
) 1 ).(
2 (
α p n n
Fp
p n n
p n
c n − + −
− +
−
−
= +
2. Uji keberhimpitan (Coincident)
i i
i i
H H
2 1 12
2 1 02
: :
µ µ
µ µ
≠
= untuk i= 1,2,…, p variabel.
Atau dalam bentuk
2 1 02:1′µ =1′µ
H
dengan
1'=
H
1 1 1 ... pL
Statistik uji yang digunakan adalah
) .(
1 . ] 1 . . 1 1 ).
.[(1 ) .(
1 1 1 2
2 1 2 1
2 Sp x x
n x n
x
T = ′ − ′ + ′ − ′ −
2
2 1
2 1
1 . . 1 1 ).
(1
) (
1
+ ′
′ −
=
n Sp n
x x
H akan ditolak pada level signifikansi α apabila 02 T2 ≥F1,n1+n2−2,(α)
3. Uji kesamaan (level)
p p
p p
H H
2 22
21 1 12
11 13
2 22
21 1 12
11 03
...
...
:
...
...
:
µ µ
µ µ µ
µ
µ µ
µ µ µ
µ
≠
≠
≠
≠
≠
≠
≠
=
=
=
=
=
=
=
atau dalam bentuk matriks kontras 0
03:Cµ=
H dengan
C
H H
p-1L
x pL
=i k
-1 1 0 0 ... 0 0 0 -1 1 0 ... 0 0 . . . . ... . . . . . . ... . . . . . . ... . . 0 0 0 0 ... -1 1
y
Statistik uji yang digunakan adalah
{
x C C Sp C C x n n
T2 =( 1+ 2). ′. ′.[ . . ′]−1. .
Ketika H01 dan H02dapat diterima, maka rata-rata vektor µ diestimasi dengan menggunakan observasi (jumlah sampel) n1+ n2, dengan
2 1
2 2 2 1
1
1. .
n n
x n n n
x x n
+ +
= +
H03 akan ditolak pada tingkat signifikansi α apabila T2 ≥Fp−1,n1+n2−p,(α)
3.3.2 Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui perbedaan harga jual konsumen dan komposisi zat gizi susu formula kelompok adapted dan kelompok complete.
Hubungan ini dapat diketahui dengan uji hipotesis sebagai berikut:
2 1 1
2 1 0
: :
µ µ
µ µ
≠
= H H
dengan µ1 = rata-rata pada kelompok 1 µ2 = rata-rata pada kelompok 2
Statistik uji yang digunakan sebagai berikut
2 1 2
1
2 2 2 2 1 1
2 1 2 1
1 . 1
2 ).
1 ( ).
1 (
) (
n n n
n
S n S n
x t x
− + +
− +
−
−
−
= − µ µ
H0 akan ditolak pada tingkat signifikansi α apabila , 1 2 2
2 + −
≥t n n
t α
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data
4.1.1 Umur Pertama Kali Diberikan Susu Formula
Pemberian ASI eksklusif di ajurkan untuk jangka waktu minimal 4 bulan dan akan lebih baik apabila diberikan sampai bayi berusia 6 bulan. Namun dengan umur bayi yang semakin bertambah maka kebutuhan zat gizi juga akan semakin bertambah sehingga tidak cukup hanya ASI saja. Untuk itu memerlukan susu formula sebagai makanan pendamping untuk memenuhi semua kebutuhan bayi.
52%
28%
13%
7%
Gambar 1. Persentase Umur Pertama Kali Diberi Susu Formula
Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa sebagian besar orang tua balita memberikan susu formula pertama kali pada saat bayi berumur kurang dari 6 bulan (52 %), 28 % pada saat bayi berumur 6-12 bulan, 13 % memberikan susu formula pada saat bayi berumur 1-2 tahun dan sebanyak 7 % pada saat bayi berumur 2 tahun lebih.
14
4.1.2 Alasan Memberi Tambahan Susu Formula
ASI merupakan makanan yang terbaik untuk memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan bayi.
Tetapi tidak semua ibu dapat memberikan ASI dengan baik pada bayi mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, misalnya ASI tidak keluar sama sekali, berhubungan dengan penyakit ibu seperti gagal jantung, ibu yang sedang dirawat di rumah sakit serta bekerja di luar rumah.
50%
46%
4%
Gambar 2. Persentase Alasan Memberi Tambahan Susu Formula
Dari Gambar 2 menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua balita memberikan tambahan susu formula karena faktor karir atau pekerjaan (50 %).
Faktor lain yang menyebabkan ibu mulai menghentikan ASI adalah faktor medis atau penyakit (46 %) dan faktor lainnya (4 %).
4.1.3 Pertimbangan dalam Memilih Susu Formula
Komposisi zat gizi yang beragam yang ditulis dalam setiap kemasan susu formula membuat ibu bingung dalam menentukan susu formula apa yang cocok untuk diberikan bagi bayi mereka. Perbedaan harga susu formula satu dengan yang lain untuk konsumen yang seumur juga membuat ibu harus lebih selektif memilih susu formula yang cocok untuk bayi mereka. Selain itu kecocokan bayi terhadap susu formula juga perlu dipertimbangkan, karena tidak semua susu formula cocok dengan kebutuhan bayi. Susu formula yang tidak cocok dapat mengakibatkan alergi pada bayi seperti kulit jadi kemerah-merahan, gatal-gatal, saluran pernapasan berlendir dan diare.
Gambar 3. Persentase Pertimbangan dalam Memilih Susu Formula
Dari Gambar 3 dapat terlihat bahwa sebagian besar orang tua balita lebih mementingkan komposisi zat gizi dalam memilih susu formula yang terbaik untuk anak mereka, yaitu sebesar 48 %. Selain itu, faktor harga jual dan faktor kecocokan bayi terhadap susu formula juga menjadi pertimbangan para ibu dalam memilih susu formula, yaitu masing-masing sebesar 26 %.
4.1.4 Informasi Pertama Kali tentang Susu Formula
Promosi merek susu formula di berbagai tempat, seperti rumah sakit, praktek bidan, praktek dokter cukup membuat para ibu binggung memilih produk yang cocok untuk bayi mereka. Susu formula juga dipromosikan lewat berbagai media, baik media cetak, elektronik, internet dan lain-lain.
Gambar 4. Persentase Informasi Pertama Kali tentang Susu Formula Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa dokter atau bidan merupakan tempat yang paling banyak memberikan informasi pertama kali kepada ibu-ibu yang terpilih sebagai sampel di Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta tentang susu
46%
35%
20%
48%
26% 26%
formula (46 %). Lebih lanjut faktor media massa, seperti televisi, radio, koran , majalah , internet dan sebagainya juga ikut memberikan informasi tentang susu formula sebanyak 35 %. Kemudian disusul faktor keluarga yang memberikan andil sebanyak 20 % kepada ibu-ibu.
4.1.5 Kandungan Zat Gizi antar Merek Susu Formula
Promosi berbagai merek susu formula yang semakin meningkat terutama dalam hal kandungan zat gizi yang terkandung cukup membuat ibu binggung dalam memilih. Setiap merek tersebut mempromosikan bahwa kandungan zat gizi produk mereka telah lengkap dan sangat membantu dalam tumbuh kembang bayi.
Gambar 5. Persentase Kandungan Zat Gizi antar Merek Susu Formula
Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa persepsi ibu-ibu yang menyatakan kandungan zat gizi susu formula antar merek sama dan tidak sama mengalami kenaikan. Kemudian dari persepsi yang mengatakan bahwa kandungan susu formula tidak sama, ragu-ragu dan tidak tahu mengalami penurunan. Dari 46 sampel yang terpilih sebagian besar mengatakan kandungan zat gizi susu formula antar merek susu formula saling berbeda (tidak sama), yaitu sebesar 41%. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa kandungan zat gizi susu formula antar merek susu formula itu sama (30 %) dan selebihnya mengatakan ragu-ragu (13 %), tidak tahu (15 %).
41%
30%
13%
15%
4.1.6 Kandungan Zat Gizi Susu Formula dengan ASI
Kandungan zat gizi yang terkandung pada ASI tidak dapat digantikan oleh susu formula merek manapun. ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang sangat diperlukan bayi dan zat ini tidak dapat diperoleh dari merek susu formula manapun.
57%
43%
Gambar 6. Persentase Kandungan Zat Gizi Susu Formula dengan ASI
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa sebanyak 43 % orang tua balita mengatakan kandungan zat gizi susu formula tidak sama dengan ASI, ini berarti pemahaman mereka tentang kandungan zat gizi susu formula tidak akan menyamai kandungan zat gizi ASI sudah bagus. Meskipun demikian masih ada juga yang kurang memahami bahwa kandungan zat gizi susu formula tidak akan menyamai ASI sebanyak 43 %.(sama)
4.2 Tabulasi Silang Data
4.2.1 Alasan Memberi Tambahan Susu Formula dengan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Hubungan antara alasan menghentikan ASI dengan pertimbangan memilih susu formula dapat dilihat dari Tabel 1.
Tabel 1. Tabulasi Silang antara Alasan Memberi Tambahan Susu Formula dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Alasan menghentikan ASI * Pertimbangan dalam memilih SF Crosstabulation
10 7 6 23
21.7% 15.2% 13.0% 50.0%
11 4 6 21
23.9% 8.7% 13.0% 45.7%
1 1 2
2.2% 2.2% 4.3%
22 12 12 46
47.8% 26.1% 26.1% 100.0%
Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total karir
medis lainnya Alasan menghentikan
ASI
Total
komposisi
zat gizi harga jual cocok Pertimbangan dalam memilih SF
Total
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 46 sampel yang terpilih sebagai sampel mengatakan bahwa alasan Memberi tambahan susu formula karena faktor karir atau pekerjaan sebanyak 50 %, dengan pertimbangan memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (21,7 %), harga jual (15,2 %) dan pertimbangan cocok dengan bayi sebanyak 13 %. Lebih lanjut sebesar 45,7 % mulai menghentikan ASI karena medis atau penyakit mengharuskan ibu mengganti ASI dengan susu formula, dengan pertimbangan dalam memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (23,9 %), harga jual (8,7 %) dan kecocokan dengan bayi sebesar 13 %. Selain itu faktor lain, seperti ASI tidak keluar juga menjadi faktor ibu menghentikan ASI sebesar 4,3 %, dengan pertimbangan memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (2,2 %) dan harga jual ( 2,2
%). Untuk mengetahui hubungan antara alasan menghentikan ASI dengan pertimbangan memilih susu formula dapat dilihat pada lampiran 4.
4.2.2 Informasi Pertama Kali tentang Susu Formula dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Hubungan antara informasi pertama kali tentang susu formula dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat dilihat dari Tabel 2.
Tabel 2. Tabulasi Silang antara Informasi Pertama Kali tentang Susu Formula dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Dari mana informasi tentang SF * Pertimbangan dalam memilih SF Crosstabulation
7 6 8 21
15.2% 13.0% 17.4% 45.7%
8 4 4 16
17.4% 8.7% 8.7% 34.8%
7 2 9
15.2% 4.3% 19.6%
22 12 12 46
47.8% 26.1% 26.1% 100.0%
Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total dokter
media massa keluarga Dari mana
informasi tentang SF
Total
komposisi
zat gizi harga jual cocok Pertimbangan dalam memilih SF
Total
Dari Tabel 2 menunjukan bahwa dari 46 sampel yang terpilih mengatakan bahwa sebesar 45,7 % mengetahui informasi pertama kali tentang susu formula dari dokter atau bidan, dengan pertimbangan memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (15,2 %), harga jual (13 %) dan kecocokan bayi terhadap susu formula sebesar 17,4 %. Selain dari dokter atau bidan, informasi pertama kali tentang susu formula didapatkan dari media massa terutama televisi sebanyak 34,8
%, dengan pertimbangan memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (17,4%), harga jual dan kecocokan bayi terhadap susu formula sebesar 8,7 %.
Faktor keluarga juga ikut ambil bagian dalam memberikan informasi tentang susu formula sebesar 19,6 %, dengan pertimbangan memilih susu formula berdasarkan komposisi zat gizi (15,2 %) dan harga jual (4,3%). Untuk mengetahui hubungan antara informasi pertama kali tentang susu formula dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat dilihat pada lampiran 4.
4.2.3 Kandungan Zat Gizi antar Merek Susu Formula dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Hubungan antara kandungan zat gizi antar merek susu formula dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat dilihat dari Tabel 3.
Tabel 3. Tabulasi Silang antara Kandungan Zat Gizi
antar Merek Susu Formula dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Kandungan SF satu sama dengan yang lain * Pertimbangan dalam memilih SF Crosstabulation
6 6 2 14
13.0% 13.0% 4.3% 30.4%
10 3 6 19
21.7% 6.5% 13.0% 41.3%
5 1 6
10.9% 2.2% 13.0%
1 3 3 7
2.2% 6.5% 6.5% 15.2%
22 12 12 46
47.8% 26.1% 26.1% 100.0%
Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total sama
tidak sama ragu-ragu tidak tahu Kandungan
SF satu sama dengan yang lain
Total
komposisi
zat gizi harga jual cocok Pertimbangan dalam memilih SF
Total
Dari Tabel 3. dapat disimpulkan bahwa sebanyak 30,4 % ibu menyatakan kandungan zat gizi antar merek susu formula sama, dengan pertimbangan memilih susu formula karena komposisi zat gizi dan harga jual sebesar 13 %, karena kecocokan sebesar 4,3 %. Dan sebanyak 41,3 % menyatakan bahwa kandungan zat gizi antar merek susu formula tidak sama, dengan pertimbangan memilih susu formula karena komposisi zat gizi (21,7 %), harga jual (6,5 %) dan karena kecocokan sebesar 13%. Sisanya menyatakan ragu-ragu (13 %) dan tidak tahu (15,2 %). Untuk mengetahui hubungan antara kandungan zat gizi antar merek susu formula dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat di lihat pada lampiran 4.
4.2.4 Kandungan Zat Gizi Susu Formula sama dengan ASI dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Hubungan antara kandungan zat gizi susu formula sama dengan ASI dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat dilihat dari Tabel 4.
Tabel 4. Tabulasi Silang antara Kandungan Susu Formula sama dengan ASI dan Pertimbangan Memilih Susu Formula
Kandungan SF sama dengan ASI * Pertimbangan dalam memilih SF Crosstabulation
11 7 8 26
23.9% 15.2% 17.4% 56.5%
11 5 4 20
23.9% 10.9% 8.7% 43.5%
22 12 12 46
47.8% 26.1% 26.1% 100.0%
Count
% of Total Count
% of Total Count
% of Total ya
tidak Kandungan SF sama dengan ASI
Total
komposisi
zat gizi harga jual cocok Pertimbangan dalam memilih SF
Total
Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 46 sampel yang terpilih sebanyak 56,5 % mengatakan bahwa kandungan susu formula dan ASI sama (ya), dengan memilih susu formula berdasarkan pertimbangan komposisi zat gizi (23,9%), harga jual (15,2%) dan kecocokan bayi sebesar 17,4%. Sedangkan ibu yang menyatakan bahwa kandungan susu formula dan ASI tidak sama (tidak) sebanyak 43,5 %, dengan pertimbangan memilih susu formula sebesar 23,9 % karena komposisi zat gizi, karena harga jual sebesar 10,9 % dan 8,7 % dengan pertimbangan kecocokan. Untuk mengetahui hubungan antara kandungan zat gizi susu formula sama dengan ASI dan pertimbangan dalam memilih susu formula dapat dilihat pada lampiran 4.
4.3 Uji t
4.3.1 Uji t pada Harga Jual Susu Formula
Perbandingan harga jual susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete menggunakan uji beda rata-rata (uji t) saja, hal ini disebabkan karena harga jual tidak memiliki sejumlah p variabel seperti pada komposisi zat gizi.
Tabel 5. Rata-rata Harga Jual Susu Formula antara Kelompok Adapted dan Complete
Dari hasil Tabel 5 didapatkan rata-rata harga jual konsumen susu formula baik pada kelompok adapted sebesar Rp.72.286,82,- dan pada kelompok complete sebesar Rp. 33.365,-. Signifikansi perbedaan rata-rata harga jual susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan t-test pada lampiran 5, didapat signifikansi adalah 0,001 yang berarti bahwa rata-rata harga jual susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete tidak sama.
Perbedaan itu dapat terjadi karena beberapa faktor, kemungkinan karena faktor kandungan zat gizi yang terkandung dalam susu formula tersebut memang berbeda. Beberapa produsen susu formula ada yang menambahkan dengan zat-zat pendukung lainnya, seperti DHA (Asam Dokosaheksaeonat), AA (Asam Arakidonat), Asam Linoleat (Omega-6), Asam Linolenat (Omega-3) yang sangat baik untuk perkembangan otak bayi. Sehingga adanya penambahan zat gizi pelengkap tersebut dapat menjadi penyebab perbedaan harga jual antar merek susu formula. Faktor lain yang mungkin adalah proses pengolahan susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete yang saling berbeda.
4.3.2 Uji t pada Komposisi Zat Gizi Karbohidrat
Dari hasil uji t terhadap rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat susu formula bayi 0 – 6 bulan antara kelompok adapted maupun kelompok complete diperoleh hasil seperti pada Tabel 6.
Group Statistics
11 72286.82 17195.409 5184.611 4 33365.00 5349.757 2674.879 FAKTOR
adapted complete HARGA
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Tabel 6. Rata-rata Karbohidrat antara Kelompok Adapted dan Complete
Group Statistics
11 56.3455 1.83432 .55307 4 55.1750 2.12662 1.06331 FAKTOR
Adapted Complete karbohidrat
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Berdasarkan hasil Tabel 6 dapat dilihat bahwa rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat pada kelompok adapted yaitu 56,3455 gram. Sedangkan pada kelompok complete didapatkan rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat sebesar 55,1750 gram. Signifikansi perbedaan rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan uji t pada lampiran 6, didapat signifikansi adalah 0,312 yang berarti bahwa rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat antara kelompok adapted dan kelompok complete sama (identik).
4.3.3 Uji t pada Komposisi Zat Gizi Lemak
Dari hasil uji t terhadap rata-rata komposisi zat gizi lemak susu formula bayi 0 – 6 bulan antara kelompok adapted maupun kelompok complete diperoleh hasil seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Rata-rata Lemak antara Kelompok Adapted dan Complete
Group Statistics
11 27.2182 1.41479 .42658 4 24.8750 3.06526 1.53263 FAKTOR
Adapted Complete lemak
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
. Berdasarkan hasil Tabel 7 dapat dilihat bahwa rata-rata komposisi zat gizi lemak pada kelompok adapted yaitu 27,2182 gram. Sedangkan pada kelompok complete didapatkan rata-rata komposisi zat gizi lemak sebesar 24,8750 gram.
Signifikansi perbedaan rata-rata komposisi zat gizi lemak susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan uji t pada lampiran 6, didapat signifikansi adalah 0,057 yang berarti bahwa rata-
rata komposisi zat gizi lemak antara kelompok adapted dan kelompok complete sama (identik).
4.3.4 Uji t pada Komposisi Zat Gizi Mineral
Dari hasil uji t terhadap rata-rata komposisi zat gizi mineral susu formula bayi 0 – 6 bulan antara kelompok adapted maupun kelompok complete diperoleh hasil seperti pada Tabel 8
Tabel 8. Rata-rata Mineral antara Kelompok Adapted dan Complete
Group Statistics
11 2.6409 .65377 .19712
4 3.3375 .41508 .20754
FAKTOR Adapted Complete mineral
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Berdasarkan hasil Tabel 8 dapat dilihat bahwa rata-rata komposisi zat gizi mineral pada kelompok adapted yaitu 2,6409 gram. Sedangkan pada kelompok complete didapatkan rata-rata komposisi zat gizi mineral sebesar 3,3375 gram.
Signifikansi perbedaan rata-rata komposisi zat gizi mineral susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan uji t pada lampiran 6, didapat signifikansi adalah 0,071 yang berarti bahwa rata- rata komposisi zat gizi mineral antara kelompok adapted dan kelompok complete sama (identik).
4.3.5 Uji t pada Komposisi Zat Gizi Protein
Dari hasil uji t terhadap rata-rata komposisi zat gizi karbohidrat susu formula bayi 0 – 6 bulan antara kelompok adapted maupun kelompok complete diperoleh hasil seperti pada Tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata Protein antara Kelompok Adapted dan Complete
Group Statistics
11 11.1000 .83905 .25298
4 12.5000 2.70678 1.35339 FAKTOR
Adapted Complete protein
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Berdasarkan hasil Tabel 9 dapat dilihat bahwa rata-rata komposisi zat gizi protein pada kelompok adapted yaitu 11,1 gram. Sedangkan pada kelompok complete didapatkan rata-rata komposisi zat gizi protein sebesar 12,5 gram.
Signifikansi perbedaan rata-rata komposisi zat gizi protein susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan uji t pada lampiran 6, didapat signifikansi adalah 0,133 yang berarti bahwa rata- rata komposisi zat gizi protein antara kelompok adapted dan kelompok complete sama (identik).
4.3.6 Uji t pada Komposisi Zat Gizi Energi
Dari hasil uji t terhadap rata-rata komposisi zat gizi energi susu formula bayi 0 – 6 bulan antara kelompok adapted maupun kelompok complete diperoleh hasil seperti pada Tabel 10.
Tabel 10. Rata-rata Energi antara Kelompok Adapted dan Complete
Group Statistics
11 520.18 7.291 2.198
4 511.25 8.958 4.479
FAKTOR Adapted Complete energi
N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean
Berdasarkan hasil Tabel 10 dapat dilihat bahwa rata-rata kandungan zat gizi energi pada kelompok adapted yaitu 520,18 kalori. Sedangkan pada kelompok complete didapatkan rata-rata kandungan zat gizi energinya sebesar 511,25 kalori.
Signifikansi perbedaan rata-rata kandungan zat gizi energi susu formula antara kelompok adapted dan kelompok complete dilihat dari uji beda rata-rata dengan t- test pada lampiran 6, didapat signifikansi adalah 0,069 yang berarti bahwa rata- rata kandungan zat gizi energi antara kelompok adapted dan kelompok complete sama (identik).
4.4 Analisis Profil
Analisis profil digunakan untuk melihat persamaan komposisi zat gizi susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete. Dalam analisis profil ini komposisi zat gizi yang diuji adalah karbohidrat, lemak, mineral
dan protein. Komposisi zat gizi energi tidak dapat menggunakan analisis profil, karena satuan yang digunakan berbeda.
komposisi zat gizi
protein mineral
lemak karbohidrat
Mean
60
50
40
30
20
10
0
ADAPTED COMPLETE
Gambar 7. Analisis Profil Rata-rata Komposisi Zat Gizi Susu Formula Kelompok Adapted dan Complete
Dari Gambar 7 dapat memperlihatkan bahwa profil rata-rata komposisi zat gizi pada kelompok adapted dan kelompok complete tersebut agak sejajar dan berhimpit. Akan tetapi perlu dilakukan pengujian analisis profil untuk mendukung hasil tersebut. Pengujian analisis profil dapat dilihat pada lampiran 7.
Dari pengolahan data dengan menggunakan software SAS for Windows versi 6.12 diperoleh bahwa H diterima pada uji kesejajaran, ini berarti terdapat 01 kesejajaran (paralel) antara kedua kelompok tersebut atau dengan kata lain tidak terdapat perbedaan pengaruh perlakuan antara kedua kelompok. Setelah hipotesis mengenai kesejajaran diterima, maka langkah selanjutnya adalah uji mengenai keberhimpitan. Dari software SAS for Windows versi 6.12 diperoleh Pvalue sebesar 0,8061 sehingga H02 diterima, ini berarti antara kelompok adapted dan kelompok complete saling berhimpit atau dengan kata lain kedua kelompok memiliki kualitas yang sama. Selanjutnya adalah uji mengenai kesamaan, diperoleh Pvalue sebesar 0,6546 sehingga rata-rata komposisi zat gizi antara kelompok adapted dan kelompok complete sama atau dengan kata lain tidak
terdapat perbedaan komposisi zat gizi susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete.
Dari hasil perhitungan dengan analisis profil dan uji t didapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan harga jual susu formula dan tidak terdapat perbedaan komposisi zat gizi susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete. Sehingga adanya anggapan bahwa harga jual susu formula yang mahal maka komposisi zat gizinya juga akan lebih tinggi belum tentu benar. Oleh sebab itu produsen susu formula harus memberikan keterangan yang sebenarnya terutama mengenai komposisi zat gizi yang terkandung dalam susu formula.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan analisa di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1. Terdapat perbedaan yang signifikan pada harga jual konsumen susu formula bayi 0-6 bulan antara kelompok adapted dan kelompok complete.
Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena adanya penambahan zat penunjang lainnya seperti AA, DHA, Omega 3 dan Omega 6 dan adanya perbedaan proses pengolahan antara kelompok adapted dan kelompok complete.
2. Tidak terdapat perbedaan pada komposisi zat gizi susu formula bayi 0-6 bulan kelompok adapted dan kelompok complete baik dengan menggunakan metode analisis profil maupun uji beda rata-rata (uji t). Hal ini disebabkan perbedaan rata-rata kandungan zat gizi karbohidrat, lemak, mineral, protein dan energi antara kelompok adapted dan kelompok complete tidak signifikan.
3. Dari studi kasus di Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta, sebagian besar ibu memilih susu formula bayi dengan pertimbangan komposisi zat gizi sebesar 48% dan dengan pertimbangan harga jual konsumen sebesar 26 %.
Ini berarti mereka sudah cukup sadar akan pentingnya zat gizi yang terkandung dalam susu formula bayi 0-6 bulan demi membantu tumbuh kembangnya bayi / anak mereka.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang ada dalam penulisan ini, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :
29
1. Orang tua balita dapat membeli susu formula bayi 0-6 bulan kelompok complete, hal ini disebabkan karena susu formula bayi 0-6 bulan kelompok complete memiliki komposisi zat gizi yang sama dengan kelompok adapted tetapi harganya relatif lebih murah.
2. Penelitian seharusnya dilakukan pengujian ulang di laboratorium khusus untuk mengetahui dengan pasti tentang komposisi zat gizi yang terkandung dalam susu formula.
3. Penelitian seharusnya dilakukan pada semua komposisi zat gizi yang terkandung dalam susu formula bayi 0-6 bulan agar hasilnya lebih memuaskan. Sehingga untuk selanjutnya para ibu dapat mengetahui bahwa susu formula yang mahal mempunyai kualitas yang tidak jauh dengan susu formula yang murah.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Alhusin, S. ,( 2003 ), Aplikasi Statistik Praktis dengan SPSS.10 For Windows, Graha Ilmu, Yogyakarta.
[2] Bhattacharya, G.K dan Johnson.R.A. , ( 1977 ) , Statistical Concepts and Methods, Santa Barbara , New York.
[3] Harinaldi , ( 2005 ), Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains , Erlangga , Jakarta.
[4] Johnson, Richard A and Dean W Wichern. (1988). Applied Multivariate Statistical Analysis, Third Edition , Prentice Hall Internasional inc, New Jersey.
[5] KAKAK. ( 2002 ), ASI, Hak Asasi Anak ; Untaian Bunga Rampai, Mercy Corps, Jakarta.
[6] Moehji, Sjahmin. (1985). Ilmu Gizi, Depkes, Palembang.
[7] Morrison, D. F. ,( 1990 ), Multivariate Statistical Methods, Third Edition, McGraw-Hill, New York.
[8] Pudjiadi, S. , 2000, Ilmu Gizi Klinis pada Anak Edisi keempat, FKUI, Jakarta.
[9] Roesli, Utami.,(2001) , Bayi Sehat Berkat ASI Eksklusif ,PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
[10] Soedarmo, P. dan Sediaoetama, A. D. ,( 1977 ), Ilmu Gizi : Masalah Gizi Indonesia dan Perbaikannya, Dian Rakyat, Jakarta.
[11] http://khasanah_nakita.htm. Mengapa Anak Perlu Minum Susu.
[12] http://khasanah_nakita.htm. Susu Formula untuk Bayi.
[13] http://khasanah_nakita.htm. Komponen Zat Gizi Pada Susu Formula.
[14] http://khasanah_nakita.htm. Haruskah Pilih Susu Dengan Kandungan Ekstra?