TESIS
Oleh:
NURSALAM HARIANJA 187045019
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
PERWAKILAN PROVINSI SUMATERA UTARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu Komunikasi pada Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
NURSALAM HARIANJA 187045019
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
PENGARUH KOMPETENSI KOMUNIKASI DAN
PROFESIONALISME PUBLIC RELATIONS OFFICERS TERHADAP KUALITAS LAYANAN KEHUMASAN DI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERWAKILAN PROVINSI
SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakillan Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode korelasional.
Populasi penelitian yaitu pegawai inspektorat se-Provinsi Sumatera Utara. Sampel penelitian terdiri dari 1 orang pegawai inspektorat Provinsi Sumatera Utara, 2 orang pegawai BUMD, serta 33 pegawai pemerintah kota/kabutapen se-provinsi Sumatera Utara. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kompetensi komunikasi yang digagas oleh Slocum dan Hellriegel, teori profesionalisme public relation officers (PRO) yang digagas oleh Richard Hall serta pelayanan prima yang digagas oleh Atep Adya Barata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kompetensi komunikasi terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara. Terdapat juga pengaruh profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara. Kemudian terdapat pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, di mana nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel pada taraf kepercayaan signifikansi 0,05, dengan demikian kompetensi komunikasi yang dipadukan dengan profesionalisme PRO dapat meningkatkan kualitas layanan kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
Kata Kunci: Kompetensi Komunikasi, Profesionalisme, Public Relation Officers, Kualitas Layanan, BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara
Telah diuji pada
Tanggal: 13 Agustus 2020
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dra. Lusiana Andriani Lubis, M.A., Ph.D Anggota : 1. Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., PhD
2. Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si.
3. Drs. Syafruddin Pohan, M.Si. Ph.D
PERNYATAAN
PENGARUH KOMPETENSI KOMUNIKASI DAN POFESIONALISME PUBLIC RELATION OFFICERS TERHADAP KUALITAS LAYANAN
KEHUMASAN DI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERWAKILAN PROVINSI SUMATERA UTARA Dengan ini peneliti menyatakan bahwa :
1. Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan merupakan hasil karya peneliti sendiri.
2. Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister, dan/atau doktor), baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.
3. Tesis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Komisi Pembimbing dan masukan Tim Penguji
4. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
5. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya peneliti sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, peneliti bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang peneliti sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Agustus 2020 Peneliti,
Materai 6000
Nursalam Harianja
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan-Nya sehingga peneliti bisa menyelesaikan penelitian dalam bentuk tesis ini.
Peneliti juga bersyukur atas doa yang tidak pernah putus dari kedua orang tua (J. Harianja dan M. Pakpahan), mertua (A. Purba dan N. Banjarnahor). Serta dukungan yang luar biasa dari suami tercinta (Brian Purba) sehingga setiap proses dapat peneliti lalui dan sampai di titik ini. Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini, peneliti banyak mendapatkan dukungan baik dalam bentuk moril maupun materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, khususnya Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, selaku pemberi dana beasiswa perkuliahan pada Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
4. Ibu Prof. Dra. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D selaku Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan penulisan tesis ini.
5. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., PhD. selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.
6. Bapak Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si. selaku anggota Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.
7. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si. Ph.D selaku Sekretaris Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan selaku anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan penulisan tesis ini.
8. Kepala BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara Bapak Eydu Oktain Panjaitan yang mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian di Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
9. Seluruh pegawai Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang tak pernah bosan direpotkan oleh peneliti dalam pengurusan administrasi selama peneliti menempuh pendidikan hingga tesis ini selesai.
10. Teman-teman di Kelas Kominfo Angkatan 2018 Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, terimakasih atas kebersamaan, dukungan, tangis dan tawa selama 2 tahun ini.
Peneliti menyadari tesis ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun peneliti berharap tesis ini bermanfaat bagi seluruh pembaca. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.
Medan, Agustus 2020 Peneliti,
Nursalam Harianja
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
LEMBAR PENGESAHAN TESIS ... iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS ... iv
PERNYATAAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 11
1.3. Tujuan Penelitian ... 12
1.4. Manfaat Penelitian ... 12
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1. Paradigma Penelitian ... 14
2.1.1. Paradigma Positivisme ... 15
2.2. Penelitian Sejenis Terdahulu... 16
2.3. Uraian Teoritis ... 25
2.3.1. Komunikasi ... 25
2.3.2. Kompetensi Komunikasi ... 29
2.3.3. Profesionalisme ... 35
2.3.4. Public Relations Officers (PRO) ... 39
2.3.5. Kualitas Pelayanan Publik ... 44
2.3.6. Audit Humas ... 50
2.3.7. Kerangka Konsep ... 53
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 55
3.1. Metode Penelitian ... 55
3.1.1. Lokasi Penelitian ... 59
3.1.2. Jenis Penelitian ... 59
3.2. Populasi dan Sampel ... 60
3.2.1. Populasi ... 60
3.2.2. Sampel ... 62
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 62
3.4. Defenisi Operasional Variabel... 634
3.4.1. Kompetensi Komunikasi (X1) ... 65
3.4.2. Profesionalisme (X2)... 65
3.4.3. Kualitas Pelayanan (Y) ... 65
3.5. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 69
3.5.1. Jenis dan Sumber Data ... 69
3.5.2. Uji Validitas ... 69
3.5.3. Uji Reliabilitas ... 74
3.6. Teknik Analisis Data ... 75
3.6.1. Analisis Regresi Berganda... 75
3.6.2. Analisis Korelasi Berganda ... 76
3.6.3. Pengujian Hipotesis ... 77
BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 78
4.1. Gambaran Umum BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 78
4.1.1. Sejarah BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 79
4.1.2. Visi, Misi dan Nilai-nilai Dasar BPK RI ... 81
4.1.3. Struktur Organisasi ... 83
4.2. Analisis Data Tunggal ... 84
4.2.1. Data Umum Responden Berdasarkan Usia ... 84
4.2.2. Data Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 86
4.2.3. Data Umum Responden Berdasarkan Pendidikan ... 87
4.2.4. Data Umum Responden Berdasarkan Jabatan ... 89
4.3. Analisis Data Silang ... 91
4.3.1. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kompetensi Komunikasi ... 92
4.3.2. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Profesionalisme PRO ... 99
4.3.3. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kualitas Layanan ... 106
4.4. Analisis Statistik ... 114
4.4.1. Uji Normalitas ... 114
4.4.2. Analisis Regresi Linier Berganda ... 115
4.4.3. Analisis Korelasi Berganda ... 117
4.5. Uji Hipotesis ... 119
4.5.1. Uji Signifikasi (Uji – t) ... 119
4.5.2. Uji Serentak (Uji – F) ... 122
BAB V PEMBAHASAN ... 125
5.1. Pengaruh Kompetensi Komunikasi dalam Meningkatkan Layanan Kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 125
5.2. Pengaruh Profesionalisme dalam Meningkatkan Layanan Kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 132
5.3. Pengaruh Kompetensi Komunikasi dan Profesionalisme PRO terhadap Kualitas Layanan Kehumasan di BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 139
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN ... 148
6.1. Simpulan ... 148
6.2. Saran ... 149
DAFTAR PUSTAKA ... 152 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
2.1. Kerangka Konsep ... 53
4.1. Struktur Organisasi BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara ... 83
4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia... 84
4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 86
4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 88
4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan ... 89
DAFTAR TABEL
2.1. Penelitian Sejenis Terdahulu... 22
3.1. Daftar Pemerintah Provinsi, Pemda/Pemko dan BUMD (Populasi Penelitian) ... 61
3.2. Defenisi Operasional Variabel ... 66
3.3. Validitas Item ... 71
3.4. Hasil Uji Validitas... 72
3.5. Hasil Uji Reliabilitas ... 75
4.1. Jumlah Responden Berdasarkan Usia ... 84
4.2. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 86
4.3. Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan ... 88
4.4. Jumlah Responden Berdasarkan Jabatan ... 89
4.5. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kompetensi Komunikasi ... 92
4.6. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Profesionalisme PRO ... 100
4.7. Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Kualitas Layanan ... 107
4.8. Hasil Uji Normalitas Data ... 115
4.9. Analisis Regresi Linear Berganda ... 116
4.10. Analisis Korelasi Berganda... 118
4.11. Data Uji Signifikansi (Uji – t) ... 120
4.12. Pengujian Secara Simultan X1, X2 Terhadap Y ... 123
4.13. Pengujian Hipotesis penelitian ... 124
5.1. Koefisien Korelasi Variabel X1 terhadap Y ... 125
5.2. Koefisien Korelasi Variabel X2 terhadap Y ... 133
5.3. Koefisien Korelasi Variabel X1 dan X2 terhadap Y ... 139
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Permohonan Izin Penelitian 2. Surat Keterangan Melakukan Penelitian
3. Lembar Informasi Penelitian (Informed Consent) 4. Angket Sebelum Uji Validitas dan Reliabilitas 5. Angket Sesudah Uji Validitas dan Reliabilitas 6. Jawaban Angket Penelitian
7. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas 8. Regresi Linear Berganda
9. Korelasi Nonparametrik
10. Surat Edaran Sekjen BPK RI Nomor 05/SE/X-XIII.2/3/2020 tentang Mekanisme Penyesuaian Sistem Kerja dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19 di Lingkungan Pelaksana BPK.
11. Surat Edaran Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Nomor 3195/UN5.1.R/KPM/2020 tentang Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di Lingkungan Universitas Sumatera Utara.
12. Biodata Peneliti
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Komunikasi interpersonal merupakan unsur yang paling diperlukan oleh setiap orang sebagai alat bantu dalam kelancaran kerjasama dengan pihak lain.
Komunikasi interpersonal memiliki efek yang dapat dirasakan secara langsung seperti mempengaruhi orang lain atau individu. Hal seperti ini biasanya dapat terjadi karena komunikasi dilakukan dengan bertemu secara langsung, dan dalam penyampaian pesannya tidak menggunakan media. Dengan demikian, komunikator dengan komunikan dapat terhubung secara langsung dan tanpa jarak (face to face). (Cangara, 2010: 33).
Komunikasi interpersonal yang efektif berfungsi untuk meciptakan dan menjaga hubungan baik diantara setiap individu yang terlibat dalam komunikasi, menyampaikan maksud dan tujuan dari si pemberi pesan kepada si penerima pesan, dapat mempengaruhi sikap maupun perilaku, membuat citra diri yang lebih baik serta mampu membantu memecahkan masalah hubungan antar pribadi.
Sentoso (2007: 103) menyampaikan bahwa hukum komunikasi efektif meliputi keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan kesetaraan. Kelima hukum di atas merupakan unsur positif pendukung komunikasi interpersonal.
Sementara itu, efektifitas dari komunikasi interpersonal dapat dipandang dari sisi si penyampai pesan (komunikator), penerima pesan (komunikan) dan pesan yang disampaikan.
Proses komunikasi di dalam organisasi merupakan salah satu faktor penentu dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Jika hal tersebut dapat terjalin dengan baik maka akan terbentuk pemahaman yang sama di antara individu, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama yang baik. Cutlip dan Center (Sujanto, 2019: 94) menyampaikan bahwa hubungan masyarakat atau humas merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja, dan secara berkesinambungan direncanakan untuk menciptakan hubungan yang baik antara organisasi ataupun instansi pemerintah dengan masyarakat internal maupun eksternal yang dilayani. Tujuan utama humas adalah mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang ataupun kelompok saat saling berkomunikasi, seperti saat melakukan dialog atau disksi dengan semua golongan, di mana kesuksesan organisasi tersebut dapat dinilai dari persepsi, sikap dan opini masyarakat yang dilayani.
Petugas humas atau public relations officers (PRO) harus dapat bekerja dengan profesional, mereka juga harus memiliki kredibilitas serta mampu menjalin hubungan yang baik dengan wartawan dan media sehingga hubungan baik dengan media maupun masyarakat dapat terjaga. (Nurjaman dkk dalam Sujanto, 2019: 93). Peranan maupun posisinya sangat srategis dan menentukan guna menciptakan citra positif dari masyarakat. Profesionalisme seorang petugas humas sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan media atas layanan yang mereka terima khususnya mengenai informasi yang mereka butuhkan. Untuk meningkatkan kemampuan public relations officer, mereka harus memiliki penguasaan atas komunikasi serta teknologi informasi, termasuk mahir bermedia
sosial serta memahami kebutuhan masyarakat. Lebih penting lagi, humas harus menjaga hubungan baik dan akrab dengan wartawan, sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat dikontrol demi kebaikan organisasi.
Peranan PRO institusi pemerintah dalam mengkomunikasikan program dan kinerja institusinya kepada masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Selain itu, PRO selaku sumber informasi, harus mampu atau kompeten dalam mengatasi tantangan serta mampu menyesuaikan diri denan perubahan lingkungan yang sangat cepat. Perubahan tersebut terasa sangat cepat khususnya perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi. PRO institusi pemerintah juga harus terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan informasi serta sanggup mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mensukseskan berbagai program pemerintah yang hasilnya dapat dinikmati oleh publik. Tugas pelayanan yang dilakukan oleh PRO institusi pemerintah merupakan salah satu tugas penting karena sangat berkaitan dengan bidang lain. Ketika komponen pelayanan mengalami permasalahan, maka dampak kemacetan akan terjadi pada semua sektor, oleh karenanya diperlukan perencanaan yang baik. Perlu juga dibentuk suatu standar pelayanan kepada masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan instansi masa kini.
Fungsi humas yang dijalankan oleh PRO pada umumnya merupakan upaya dalam membangun dan memelihara komunikasi yang lebih baik serta dapat memberi manfaat antara lembaga atau instansi kepada masyarakat. Humas dapat membantu mewujudkan tercapainya tujuan organisasi (Sujanto, 2019: 93). Humas mampu mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan berkomunikasi sebuah instansi.
Komunikasi instansi yang dilakukan kepada masyarakat umumnya dilakukan oleh humas disetiap instansi ataupun perusahaan, baik secara langsung maupun melalui media. Peranan umum humas manajemen suatu instansi pemerintah dapat dilihat dari kegiatan kehumasan yang dilakukan, misalnya mengevaluasi sikap dan opini masyarakat yang dilayani. Sehingga dengan demikian berarti humas harus dapat mengkoreksi kekurangan pelayanannya dan harus mampu melihat situasi dan kondisi masyarakan untuk selanjutnya menyesuaikan diri dalam menjalankan tugasnya di tengah-tengah masyarakat. Humas dalam sebuah lembaga pemerintahan tentu dibutuhkan dalam mengelola informasi yang dimiliki oleh intansi untuk memperkenalkan intansinya kepada publik. Humas juga memberikan informasi yang bermanfaat dan juga untuk menjaga nama baik instansi tersebut.
Mengingat fungsi humas yang sangat penting dalam sebuah organisasi, baik pemerintahan maupun swasta, setiap organisasi wajib memiliki divisi humas yang menjadi representasi organisasinya di mata masyarakat. Aksi humas menjadi gambaran dari sebuah organisasi. Demikian juga halnya pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), humaslah yang menjadi ujung tombak penyampaian informasi dari institusi ke masyarakat.
Instansi tersebut baik kantor pusat maupun kantor perwakilan, memiliki divisi humas yang bertugas melakukan aktifitas komunikasi, baik komunikasi internal maupun eksternal guna membangun citra institusi atau pembangunan image jangka panjang. Jika sebuah intansi pemerintah ingin mendapat respon yang baik dari masyarakat, maka mereka wajib memiliki humas yang mampu
meningkatkan image instansi tersebut. Sikap dan kepribadian humas dalam suatu instansi mencerminkan bagaimana citra tersebut di mata masyarakat.
Humas pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia merupakan unit kerja yang salah satu tugasnya adalah menyampaikan pesan atau informasi mengenai institusi dan produk instansi yang perlu dipublikasikan melalui kerja sama dengan media atau pers serta pesan langsung kepada masyarakat melalui aksi lapangan dan media online. Kegiatan kehumasan ini bertujuan untuk menciptakan publisitas dan citra positif dari masyarakat terhadap institusi.
Humas pada BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara dikelola oleh PRO yang belatarbelakang pendidikan bukan komunikasi, mulai dari akuntansi, ekonomi dan hukum. Meskipun latar belakang pendidikan mereka bukan dari ilmu komunikasi, namun PRO dituntut untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga layanan yang diberikan kepada masyarakat dinilai baik.
Salah satu tugas dan fungsi PRO BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara adalah melayanan permintaan informasi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Humas BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara menjadi jembatan antara masyarakat dengan institusi. Melalui humas, masyarakat dapat turut serta mewujudkan pemerintahan yang good governance, di mana masyarakat dapat menyampaikan semua keluhan dan pengaduan terkait kecurangan pengelolaan keuangan negara untuk diperiksa oleh auditor BPK. Hasil pemeriksaan tersebut akan kembali diinformasikan oleh BPK melalui humas kepada masyarakat. BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara melalui humas rutin mengadakan kegiatan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK dengan mengundang seluruh
pemerintah daerah/kota (pemda/pemko), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, PT.
Bank Sumut serta PDAM Tirtanadi.
Kegiatan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK diwajibkan untuk dihadiri oleh inspektorat seluruh pemda/pemko dan inspektorat provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut dikarenakan oleh inspektorat merupakan pengawas di pemerintahan daerah. Hal tersebut tertuang dalam Pergub Sumatera Utara No. 46 tahun 2007. Peraturan tersebut mengatur tentang tugas pokok dan fungsi dan tata kerja Inspektorat Daerah Provinsi Sumatera Utara. Salah satu fungsi inspektorat adalah melakukan mengawasi kinerja dan keuangan internal melalui pemeriksaan, kegiatan reviu dan evaluasi serta kegiatan lainnya. Oleh karena itu setiap kegiatan humas BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara yang berkaitan dengan pemeriksaan selalu melibatkan inspektorat pemda/pemko dan Provinsi Sumatera Utara.
Inspektorat yang terdapat di setiap daerah se-Sumatera Utara menjadi pihak yang mewakili seluruh masyarakat dalam mengawasi pengelolaan keuangan daerah. Hal itu dikarenakan BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara wajib menyerahkan laporan hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan kepada inspektorat. Laporan tersebut merupakan hasil pemeriksaan terkait realisasi dari pemerintah daerah dalam melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan atau laporan mengenai pengembalian kerugian daerah yang disetorkan ke kas daerah. Melalui laporan ini masyarakat melalui inspektorat dapat mengetahui apakah pemerintah daerah telah menjalankan kewajibannya
dalam mengembalikan kerugian daerah sesuai dengan temuan hasil pemeriksaan BPK.
Kegiatan rutin di atas dilakukan sepenuhnya oleh PRO BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara dengan melibatkan kepala perwakilan dan kepala subauditorat sebagai narasumber. PRO dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, baik ke pihak internal maupun eksternal. Ukuran kualitas layanan instansi pemerintah yang diterima oleh masyarakat dapat dilihat dari kesesuaian layanan tersebut dengan keinginan masyarakat atau publik. Baik atau tidaknya layanan yang diberikan oleh PRO dapat dinilai berdasarkan tingkat kepuasan masyarakat. Selanjutnya apabila layanan yang diberika PRO melampaui harapan masyarakat, maka layanan tersebut dinyatakan berkualitas dan sangat ideal. Namun sebaliknya apabila layanan yang diberikan PRO instansi pemerintah berada di bawah harapkan masyarakat, itu berarti layanan instansi pemerintah dinilai buruk.
Kualitas pelayanan yang diselenggarakan suatu instansi dapat ditingkatkan dengan memperbaiki kualitas manusianya. Kompetensi komunikasi PRO dan seluruh penyelenggara pelayanan adalah salah satu faktor pendukung utamanya.
Walaupun orang berkomunikasi setiap saat, namun hanya sedikit yang mengetahui tingkat kualitas komunikasinya, baik secara orang perorangan, secara sosial, maupun secara profesional. Faktor lain yang kemungkinan berpengaruh terhadap kualitas layanan kehumasan yakni profesionalisme PRO.
Profesionalisme PRO merupakan hal yang sangat diperlukan di dalam organisasi atau instansi pemerintah. Hasil dari pekerjaan PRO dapat dinilai dari berbagai
sudut sesuai porsinya, objek pekerjaan, kegiatan yang bersifat terus-menerus dan penyelesaian pekerjaan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
Keinginan masyarakat selaku penerima jasa pelayanan yakni memperoleh perlakuan yang tanpa membedabedakan. Bentuk pelayanan seperti ini dapat dilakukan dengan kesiapan instansi pemerintah yang mampu memposisikan diri dan mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Birokrasi pemerintah memiliki tanggungjawab dan kewajiban melaksanakan pelayanan prima terhadap masyarakat. Pelayanan tersebut didasarkan pada profesionalisme PRO dan nilai- nilai kemanusiaan yang dimilikinya serta kemampuan PRO untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat selaku penerima layanan serta perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Mengingat sangat pentingnya eksistensi sumber daya manusia (SDM), setiap pegawai seharusnya mampu secara profesional menjalankan pekerjaan dan tanggungjawabnya. Meskipun pada kenyataannya merupakan hal yang sulit untuk melaksanakan hal tersebut. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sering tidak sesuai dengan yang seharusnya, di mana masih terdapat banyak aparatur pemerintah yang tidak bekerja secara profesional sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat kurang optimal. Contohnya adalah ketika seorang aparatur sipil negara (ASN) tidak dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan jam kerja yang sudah ditentukan. Seperti dikutip dalam pemberitaan Kompas.Com yang dirilis pada hari Senin, 16 Oktober 2019 pukul 07:45 WIB.
Berita tersebut merupakan satu dari sekian banyak berita terkait razia yang menangkap sejumlah ASN yang berkeliaran di mall/supermarket atau di luar
kantor pada saat jam kerja. Hal seperti ini akan mengakibatkan pelayanan yang diterima masyarakat tidak lagi optimal karena pada saat masyarakat membutuhkan pelayanan, ASN yang seharusnya melayani mereka tidak berada di tempat.
(Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/10/16/07450731/nekat- keluyuran-saat-jam-kerja-14-asn-kena-razia?page=all).
Faktor lain yang menjadi penyebab kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat berdasarkan hasil pengamatan peneliti adalah kompetensi komunikasi PRO yang kurang memadai serta kurangnya profesionalisme humas dalam menjalankan tugasnya. Demikian juga halnya dengan PRO pada BPK RI, sebagai sebuah instansi yang memiliki posisi yang strategis di masyarakat, mereka dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kepada publik dengan baik. Dengan demikian masyarakat dapat berperan serta mewujudkan BPK RI yang good governance dengan turut mengawasi pengelolaan tanggung jawab keuangan negara. Namun pada prakteknya, masih ada masyarakat yang merasa kecewa dengan pelayanan humas BPK yang mereka terima. Seperti dikutip dari pemberitaan hariansib.com terkait pengaduan wartawan SIB terhadap BPK RI Sumut di Polres Tanjungbalai yang dirilis pada hari Sabtu, 11 Mei 2019 pukul 09:45 WIB. Wartawan merasa diperlakukan dengan tidak wajar sehingga menimbulkan konflik antara wartawan dengan instansi BPK sendiri. Hal seperti ini dapat mengganggu stabilitas pelaksanaan tugas BPK serta menimbulkan keraguan masyarakat dengan kompetensi dan profesionalisme PRO BPK.
(Sumber: https://hariansib.com/Headlies/Terkait-Pengaduan-Wartawan-SIB- Terhadap-BPK-RI-Sumut-di-Polres-Tanjungbalai). Kasus lain yang pernah
meresahkan masyarakat adalah kasus pengadaan Rumah Sakit Sumber Waras di Jakarta. Salah satu beritanya dirilis dalam TEMPO.CO pada Rabu, 8 Juli 2015 pukul 22:08 WIB. Dalam berita tersebut dituliskan bahwa konflik antara Ahok dan BPK terkait pembelian lahan RS Sumber Waras yang menjadi temuan pemeriksaan BPK. Dalam berita tersebut Kepala Biro Humas BPK RI menjelaskan bahwa pembelian lahan tersebut dinyatakan bermasalah karena 5 faktor. Dalam hal ini humas sebagai jembatan antara BPK dengan masyarakat harus memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjelaskan masalah yang sedang terjadi sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Humas bertanggungjawab dalam menjaga nama baik instansi sehingga kredibilitasnya tidak diragukan masyarakat yang dilayani. (Sumber:
https://metro.tempo.co/read/682334/ahok-vs-bpk-5-alasan-lahan-sumber-waras- dianggap-bermasalah).
Berita lainnya terkait kasus lahan Sumber Waras dirilis dalam Bisnis.Com pada hari Selasa, 21 Maret 2017 pukul 20:31 WIB. Dalam berita tersebut Kepala Biro Humas BPK RI menegaskan bahwa BPK sudah melakukan proses audit terhadap pembelian lahan Sumber waras dengan mengikuti prodesur, pedoman dan seluruh ketentuan yang berlaku secara independen, di mana proses audit tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun. Biro humas menegaskan hal tersebut gunamenjawab keraguan masyarakat tentang profesionalisme dan independensi BPK RI terkait pelaksanaan audit. (Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/
20170321/9/639080/bpk-bantah-tak-independen). Humas dituntut untuk tidak sekedar kompeten dalam bidang yang terkait kehumasan namun juga harus
mengetahui tentang institusi yang menaunginya. Pemahaman PRO akan hal tersebut akan memudahkan mereka dalam menjaga nama baik institusinya.
Kasus yang terjadi dalam beberapa berita di atas dapat dihindari dengan komunikasi yang efektif antara instansi BPK RI melalui PRO dengan masyarakat.
Dengan komunikasi yang efektif maka akan terjalin hubungan kerja sama yang baik antara BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara dengan masyarakat khususnya dalam mengawasi keuangan daerah di seluruh pemerintah kota/kabupaten se-Sumatera Utara. Komunikasi ini dapat terjalin dengan baik apabila PRO memiliki kompetensi yang memadai dan profesional dalam menjalankan tugasnya. Atas dasar yang telah dikemukakan pada latar belakang di atas, peneliti terarik untuk meneliti tentang pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme public relations officers terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh kompetensi komunikasi Public Relations Officers (PRO) terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara?
2. Apakah terdapat pengaruh profesionalisme Public Relations Officers (PRO) terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara?
3. Apakah terdapat pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi komunikasi PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
2. Untuk menganalisis pengaruh profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
3. Untuk menganalisis pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme PRO terhadap kualitas layanan kehumasan di BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat hasil penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis manfaat penelitian ini menambah referensi tentang kompetensi komunikasi dan profesionalisme public relation officers dalam melayani masyarakat khususnya dalam bidang birokrasi.
2. Manfaat Akademis
Secara akademis, penelitian ini memperluas pemahaman tentang kompetensi komunikasi dan profesionalisme public relation officers dalam melayani masyarakat pada BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
3. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini berkontribusi dalam mendorong PRO BPK RI dalam bekerja memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Paradigma Penelitian
Seorang peneliti perlu mempertimbangkan tiga komponen penting ketika melaksanakan suatu penelitian, (Creswell, 2014: 6), yaitu:
1. Asumsi-asumsi paradigma atau pandangan dunia filosofis yang mengarah dalam suatu penelitian.
2. Strategi penelitian yang harus dilakukan peneliti terkait dengan asumsi- asumsi paradigma tersebut.
3. Metode-metode atau prosedur spesifik yang mampu menerjemahkan strategi penelitian tersebut ke dalam praktik nyata untuk diaplikasikan dalam penelitian.
Thomas Kuhn mengatakan bahwa paradigma bukan sekedar teori, tetapi merupakan pola ataupun model yang menjadi konsensus atau kesepakatan yang dipergunakan sebagai alat menganalisis. Maka dari itu paradigma juga digunakan sebagai konsep dalam komunikasi dan penelitian yang dilakukan di dalamnya.
Creswell memandang paradigma sebagai world view (pandangan dunia) yang memiliki arti kepercayaan dasar yang memandu setiap tindakan. Jadi dengan demikian, paradigma dapat diartikan sebagai sebuah pedoman yang menjadi acuan bagi seorang peneliti dalam mengungkapkan fenomena yang terjadi melalui kegiatan penelitian yang dilakukannya (Arifin, 2012: 146).
2.1.1. Paradigma positivisme
Irwan (2018: 27-30) mengemukakan bahwa paradigma positivisme adalah suatu paradigma yang menggambarkan bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid dan bersifat empiris adalah ilmu. Sedangkan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat atau lingkungan akan menjadi sejalan dengan objek pengetahuan.
Asumi paradigma positivisme adalah bahwa paradigma tersebut terkait dengan sebab akibat, di mana dengan menghubungkan beberapa variabel, maka akan diketahui sebuah kebenaran atas suatu perstiwa. Paradigma positivisme adalah fakta sosial dan sesuatu yang perlu untuk melakukan pembuktian. Objektifitas menjadi sesuatu yang sangat penting ketika menggunakan paradigma ini. Orang yang melakukan penelitian terpisah dengan objek yang diteliti dan tidak saling mempengaruhi. Ketika peneliti melakukan penelitian, mereka melakukan percobaan kepada objek penelitian dan selanjutnya memberi skor terhadap setiap aksi yang dilakukan objek. Dalam paradigma positivisme, diyakini bahwa segala sesuatu dapat diukur dan dinilai dengan angka, dan angka dapat menjelaskan suatu fenomena secara rasional.
Paradigma positivistik tidak mempertimbangkan konteks setiap penelitian karena merupakan paradigma yang berasal dari ilmu alam. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab paradigma ini kurang tepat apabila diterapkan pada penelitian sosial. Dengan menggunakan paradigma ini, peneliti seperti menutup mata dan mengabaikan berbagai faktor. Seperti hal-hal yang menyebabkan objek penelitian melakukan sesuatu hal, tempat dan waktu dilakukaannya eksperimen, serta kedekatannya dengan objek yang diteliti, dan sebagainya. Peneliti
menggambarkan objek sebagaimana adanya berdasarkan skor. Dalam penelitian yang menggunakan paradigma ini, peneliti biasanya menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Jawaban kuesioner tersebut selanjutnya diberi skor, dan dihitung yang pada akhirnya akan memunculkan statistik. Selanjutnya statistik tersebut akan diinterpretasi peneliti sesuai teori yang digunakan sebagai landasan penelitian.
Peneliti merasa bahwa paradigma positivisme cocok untuk diterapkan dalam penelitian ini karena peneliti bertindak sebagai pengamat dengan tidak mempengaruhi objek yang diteliti. Selanjutnya untuk penerapan paradigma positivisme dalam penelitian ini, sejalan dengan teori yang digagas Siswanto dan Suyanto (2018: 116-117) bahwa objek yang diteliti dinilai dengan pemberian skor atas masing-masing jawaban responden atas instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti.
2.2. Penelitian Sejenis Terdahulu
Penelitian sejenis terdahulu yang dijadikan peneliti sebagai perbandingan dalam penelitian ini adalah:
Penelitian Fanolo Telambanua (2015), dengan judul PengaruhnKompetensi KomunikasindannProfesionalismenTerhadapnKualitasnPelayanannAparatur di DinasnKependudukannDannPencatatannSipilnKabupatennNiasnUtara. Di mana penelitian ini bertujuannuntuk mengetahuiiapakahhkualitasppelayanan dipengaruhiioleh kompetensiikomunikasiidanpprofesionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi dan profesionalisme.
Selanjutnya penelitian Yanuar Luqman (2012), dengan judul KompetensiiPraktisiiPR diiKotasSemarang 2012 (padaaBUMN).pPenelitian ini bertujuannuntuk mencaritahunbagaimanaatingkatkkompetensi praktisiiPR di KotaaSemaranggdengan menggunakan SKKNI dalam bidang Kehumasan.
Sedangkan paradigmaayang digunakannadalahppositivistik. Penelitian ini menemukan bahwaahumasjjunior kompeten dan memiliki intensitas tinggiidalam melakukanntugasnya. Sementarahhumasmmadya dan HumassAhli dalam melakukan pekerjaannya memiliki nilai antara cukup dan tinggi. Sementara HumassManajerial memilikiikompetensi yang bervariasiidan intensitassyang bervariasi pula dalam melakukannpekerjaan.
Berikutnya Laras Tris Ambar Suksesi Edwardin (2006), dengan penelitian yang berjudul AnalisissPengaruhkKompetensikKomunikasi, Kecerdasan Emosionalldan BudayaaOrganisasi TerhadapkKinerja Karyawan (Studi padaaPT PosiIndonesia (Persero) Se KotasSemarang). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan dannmenganalisis apakah kinerjaakaryawan mendapat pengaruh dari kompetensiikomunikasi, kecerdasannemosional, danibudaya organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa kinerja karyawan dapat dipengaruhi oleh kompetensi komunikasi dan kecerdasan emosional serta budaya organisasi.
Namun variabellbudaya organisasiimempunyai pengaruh yang palingbbesar terhadap kinerjaakaryawan dibandingkanndengan variabel lainnya. Selanjutnya untuk implikasiipenelitian ini bahw dalam meningkatkannkinerja karyawan dibutuhkan peranan kompetensiikomunikasi dan kecerdasannemosional serta budayaaorganisasi.
Penelitian lainnya adalah yang dilakukan oleh Arief, N. Nurlaela dan Saputra, M. Arkan Ariel (2019), dengan judul Kompetensi BaruuPublic Relations (PR) pada EraaArtificial Intelligence (AI): CaseeStudy PraktisiiPR di Indonesia.
Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana AI merevolusi pekerjaan PR, dan kecepatannperubahan yang terjadi.hHasil penelitian ini menunjukkannbahwa pekerjaan klipping berita yang dilakukan manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi. Demikian juga halnya dengan kegiatan menganalisis berita di media. Pekerjaan lainnya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi adalah hubungan kerjasama antara media dengan masyarakat atau pemilik kepentingan. Demikian juga halnya dengan pekerjaan manajemen konten media sosial, kegiatan foto dan video serta kegiatan distribusi rilis. Sedangkan pekerjaan presentasi atau face to face communication kemungkinan kecil untuk digantikan oleh mesin. Sementara untuk tingkat strategis dalam aktivitas PR manusia masih diperlukan. Aktivitas ini misalnya analisis hasil media monitoring, yang bersifat prediktif dan sebagainya. Penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat kompetensi baru PR seperti kemampuan analisis data, managemen sosial media dan pembuat konten atau conten creator.
Berikutnya penelitian Nur Dwi Jayanti (2016), dengan judul Kualitas Pelayanan di Legend Premium Coffee Yogyakarta. Tujuan dariipenelitian ini adalah untukkmengetahui kualitasspelayanan dilihat dari dimensi “RATER”
(responsiveness,aassurance, tangible, empathy dan reliability) di Legend Premium Coffee. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan hasil sebagai berikut: kualitasspelayanan di LegenddPremium Coffee pada kategori
baik 66% dan cukup 34%, pada indikatorrkualitas pelayanannkehandalan memiliki kategoriibaik 62,3% dan cukup pada presentase 37,7%, sementara itu ketanggapan dengan kategori baik pada 34% dan kategori cukup pada nilai 66%, selanjtnya jaminan dengan kategori baik pada nilai 43,5% dan kategori cukup pada nilai 56,%, dan yang selanjutnya adalah perhatian dinyatakan memiliki kategoriibaik dengan nilai 55,4% dan kategoriicukup dengan nilai 44,5%, sementara yang terakhir adalah buktiifisik memiliki kategori baik dengan nilai 70,5% dan kategoriicukup dengan nilai 29,5%.
Ada lagi penelitian yang dilakukan oleh StephanieeChintya AnggaaDewi dan SetionBudi Hendro Hutomo (2012), dengan judul TingkatnKompetensi dan KinerjaaPraktisi Public RelationssRumah Sakit. Penelitianiini bertujuan mengetahui tingkat kompetensi PR dan tingkat kinerja seorang praktisi public relationssrumah sakit Daerah IstimewaaYogyakarta. Penelitian ini menghasilkan bahwa dari seluruh responden penelitian diketahui 80% skornya adalah berada pada kompetensi public relations rumah sakit tinggi. Penelitian ini juga menemukan bahwa dari sepuluh aktivitas public relations, aktivitas yang terlaksana hanya 3 dimensi.
Berikutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Toto Bondan (2005), dengan judul Pengaruh KepuasannMasyarakat terhadap KualitassPelayanan di Kantor-kantor Lurah se-Kotamadya JakartaaTimur dilihat dari dimensi tangibility, reliability,rresponsiveness,aassurance, dan emphaty. Penelitian ini dilakukan dengan tujuannuntuk mengetahui nilaiikepuasan masyarakat terhadapkkualitas pelayanan di kantor-kantorrlurah se-Kotamadya JakartatTimur dilihat dari lima
dimensi. Penelitian tersebut menghasilkan data bahwa tingkat kepuasan masyarakat berdasarkan kelima dimensi yang diteliti adalah negatif.
Hampir mirip dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian Vidya Metayunika (2013), dengan judul Analisis PengaruhhKualitas Pelayanan (Tangible, Reliability, Responsiveness,sAssurance, daneEmphaty) Terhadap KepuasannKonsumen (Studi pada Dealer Mitsubishi PT BumennRedja Abadi Semarang). Penelitian ini dilakukan untuk tujuan menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasannkonsumen pada dealer Mitsubishi PT Bumen Redja Abadi Semarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variable yang paling berpengaruh terhadap kepuasan konsumen adalah variable emphaty (0,312), diikuti oleh variabellkualitas responsiveness (0,238), kemudianvvariabel assurance (0,145), lalu variabel tangible (0,140) dan terakhir adalah variabel reliability (0,115). Hasil ujitt membuktikannbahwa tangible,rreliability, responsiveness,aassurance, dan emphaty mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan konsumen. Koefisien determinasii(adjusted R2) yang diperolehhsebesar 0,451.
Sedangkan A. Rahman (2015), dengan penelitian yang berjudul Kompetensi Komunikasi Calon SDM Public Relation. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menjelaskan jenis-jenis pelatihan yang pernah diikuti dan dibutuhkan serta menjelaskan perbedaan kompetensi mahasiswa Public Relations sebelum dengan kurikulum KBK dengan mahasiswa Public Relations sesudah dengan kurikulum KBK. Hasil penelitian ini menunjukkan berdasarkan self evaluator bahwa mahasiswa Public Relations
sebelum dengan kurikulum KBK tidak cukup kompeten dalam menyimak, menyampaikan gagasan tertulis, pengendalian situasi komunikasi, mengakhiri percakapan, cara berkomunikasi dan lain sebagainya. Sedangkan sesudah dengan kurikulum KBK, mahasiswa PR memiliki kompeten komunikasi baik tentang pengetahuan, skill, motivasi dan kemampuan memanajemen interaksi.
Akhirnya peneliti menelaah penelitian FerilNanta Sebayang (2016), dengan judul PengaruhhKompetensi dan IklimnKomunikasi Terhadap Motivasi Kerja PenyuluhnPertanian Lapangan pada BadannPelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Karo. Tujuanndilakukannya penelitianiini adalahuuntuk mengetahui apakah motivasiikerja penyuluh pertanian dipengaruhi oleh kompetensiikomunikasi dan iklim komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode korelasional. Penelitian menemukan bahwa terdapat pengaruh kompetensi komunikasi terhadap motivasi kerja. Demikian juga halnya dengan iklim komunikasi. Temuan selanjutnya adalah bahwa kompetensi dan iklim komunikasi berpengaruh terhadap motivasi kerja.
Penelitian sejenis terdahulu di atas selanjutnya dituangkan dalam tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1. Penelitian Sejenis Terdahulu No Peneliti Masalah yang
Diteliti Alat Analisis Hasil 1 Fanolo
Telambanua (2015)
Pengaruh kompetensi komunikasi dan profesionalisme terhadap kualitas pelayanan aparatur di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Nias Utara
Regresi Berganda
Kompetensi
komunikasi dan profesionalisme mempengaruhi
kualitasppelayanan di DinassKependudukan dan Catatan Sipil KabupateniNias Utara
2 Yanuar Luqman (2012)
Tingkat kompetensi praktisi PR di Kota Semarang, Junior, Madya, Ahli dan atau Manajerial dengan menggunakan
SKKNI dalam bidang Kehumasan
Menghitung frekuensi data statistik dan
mengelompo kannya dengan didasarkan padaaBuku Panduann SKKNI Bidangg Kehumasan 2007
Humas junior, Humas Madya danaHumas Ahli memiliki kompetensi dan intensitas tinggi dalamnmelakukan pekerjaannya.
SementaraaHumas Manajerial memiliki kompetensiiyang bervariasi dan intensitassyang
bervariasi pula dalam melakukannpekerjaan 3 Laras Tris
Ambar Suksesil Edwardin (2006)
Pengaruhikompetensi komunikasi,
kecerdasann
emosional, dan budayanorganisasi terhadap kinerja karyawannPT Pos Indonesia se Kota Semarang
Structural Equation Modeling (SEM)
Kinerja karyawan dipengaruhi oleh tiga variable. Variabel tersebut yakni kompetensi
komunikasi, budaya organisasi serta kecerdasan emosional
4 Arief, N.
Nurlaela dan
Saputra, M.
Arkan Ariel (2019)
Bagaimana artificial intelligence
merevolusi
pekerjaan PR, dan seberapa cepat perubahan ini terjadi
Analisis deskriptif;
analisis prediktif dan analisis preskriptif
Pekerjaan PR yang dapattdigantikan oleh teknologiibig data dan AI antaranlain : kliping dan analisis berita, hubungan media dan pemangku
Tabel 2.1. Lanjutan
kepentingan, manajemennkonten mediaa sosial, mendistribusikan rilis, foto dannvideo.
5 Nur Dwi Jayanti (2016)
Kualitas pelayanan dilihat dari dimensi
“RATER”
(responsiveness, assurance, tangible,
empathy dan
reliability) di Legend Premium Coffee
Analisis Deskriptif
Kualitas pelayanan di Legend Premium Coffee pada indikator responsiveness,
assurance, tangible,
empathy dan
reliability berada pada kategori baik dan cukup.
6 Stephanie Chintya Angga Dewi dan Setio Budi Hendro Hutomo (2012)
Tingkattkompetensi dan tingkat kinerja seorang praktisi publicc relations rumah sakittDaerah Istimewa
Yogyakarta
Survei Tingkat kompetensin yang dimiliki oleh praktisisPR rumah sakit tinggi yaitu 80% dari total skor sseluruh respondennpenelitian.
7 Toto Bondan (2005)
Tingkat kepuasan masyarakattterhadap kualitasspelayanan masyarakat di kantor-kantor lurah se-Kotamadyan Jakarta Timur dilihat dari dimensi tangibility,
reliability, responsiveness, assurance, dan emphatyn
Analisis Korelasional
Masyarakat di lingkungan
kotamadya Jakarta Timur masih belum merasaapuas dengan pelayanan yang diberikanioleh kantor- kantor llurah se- Kotamadyaan Jakarta Timur
Tabel 2.1. Lanjutan 8 Vidya
Metayunik a (2013)
Melakukan aanalisis dan memberikan bukti eempiris mengenai apakah variabell kualitas pelayanann yaitu tangible, rreliability, responsiveness, assurance, dan emphatyt
berpengaruh terhadappkepuasan konsumenn pada dealerrMitsubishi PT Bumen Redja AbadieSemarang
Analisis Deskriptif dan Analisis Kuantitatif
Variabel yang paling berpengaruhtterhadap kepuasan konsumen adalahn emphaty (0,312), variabel kualitasa
responsivenesss (0,238), variabel assurance (0,145), variabel ttangible (0,140) dan terakhir adalah vvariabel reliability (0,115).
9 A. Rahman (2015)
Jenis-jenis
pelatihan yang pernah diikuti dan dibutuhkan serta menjelaskan
perbedaan kompetensi
mahasiswa Public Relations sebelum dengan kurikulum
KBK dengan
mahasiswa Public Relations sesudah dengan kurikulum KBK
Analisis komparatif
Mahasiswa PR
sebelum kurikulum KBK tidak cukup kompeten dalam berbagai komunikasi, sedangkan sesudah dengan kurikulum KBK, mahasiswa PR dinyatakan kompeten
10 Ferie Nanta Sebayang 20163
Pengaruh kompetensii
komunikasi dan iklimmkomunikasi terhadapp motivasi kerja ppenyuluh pertanian lapangan
Regresi Linier Berganda
Terdapat pengaruh kompetensie
komunikasi tterhadap motivasikkerja dan juga menunjukkan bahwa ada pengaruh iklimkkomunikasi terhadapp motivasi kerja.
Sumber : Peneliti, 2020
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dari semua penelitian yang sudah dilakukan, peneliti masih belum menemukannpenelitian di BPK RI terkait kompetensi komunikasi dan profesionalisme PRO sehingga peneliti merasa perlu untuk menggunakan teori yang sama dengan beberapa peneliti sebelumnya untuk menganalisis kompetensi dan profesionalisme PRO pada BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.
2.3. Uraian Teoritis
2.3.1. Komunikasi
Komunikasi dilakukan pada umumnya secaranlisan atau verbal dan dapat dipahami oleh kedua belahhpihak yang berkomunikasi. Namun komunikasiijuga dapat dilakukanssecara nonnverbal apabila kedua belah pihak tidak dapat mengerti bahasa verbal yang digunakan. Penyampaian pesan dalam komunikasi non verbal tersebut dapat dilakukanndengan menunjukkannsikap dan gerakan anggota tubuh, seperti tersenyum, mengangguk tanda setuju, menggelengkan kepala, serta mengangkat bahu dan lain sebagainya.
Komunikasi merupakan suatuuproses sosial di mana setiapporang menggunakanssimbol-simbol untuk menciptakanndan menginterpretasikan makna dalam lingkungannmereka. Handoko (2006: 272) menjelaskan bahwa komunikasi merupakan proses pertukaran pengertian berupa gagasan atauuinformasi dari satu orang terhadap orang lain. Dalam pertukaran pengertian tersebutttidak hanya melalui ucapan atau pesan verbal dalam percakapan, melainkan juga pesan non verbal melalui intonasi, ekspresi wajah dan gerak tubuh dan lain sebagainya.
Hovland (Effendy, 2005:10) menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses mengubahhperilaku seseorang ataupun orang lain. Hal tersebut dapat terwujud apabila terdapat komunikasi yang komunikatif.
Selanjutnya Lasswell menjelaskan bahwa komunikasi terdiri atas lima unsur yakni komunikator (Who says), pesan (what in), media (which channel), komunikan (to whom), dan efek (with what effect). Komunikasi yang efektif dapat mempengaruhihhasil dari suatupproses komunikasittersebut apabila dilakukan sesering mungkin. Kompetensi komunikasi akan mampu mendorong pelaksanaan tugas maupun tanggung jawab dengan baik sehingga akan mendorong kualitas kinerja suatu organisasi. Dan sebaliknya, hasil kerja bisa tidak maksimal apabila komunikasi yang dilakukan tidak baik disebabkan oleh hubungan yang renggang, sikap yang semena-mena, perbedaan pendapat atau konflik dan lain sebagainya.
Komunikasi yang dilakukan antar individu kadang berjalan dengan sukses (efektif) mencapain tujuan yang dimaksud, namun tidak jarang juga mengalamii kegagalan.
Sentoso (2007: 103) menyatakan bahwa terdapat beberapaaprinsip dasar dalam berkomunikasiyyang harus diperhatikan. Prinsippdasar tersebut antara lain:
(1) sikap hormat (respect); (2) empati (empathy); (3) mendengarkan dengan baik (audible); (4) kejelasan pesan (clarity); serta (5) rendah hati (humble). Kelima prinsip ini dapat dirangkum dalam satu kata yaitu REACH yang selanjutnya dijelaskan sebagai berikut:
a) Prinsipppertama adalah Respect, merupakan sikaphhormat dan sikap menghargaitterhadap orang yang berkomunikasindengan kita. Untuk menjalin
komunikasi yang baik, masing-masing individu yang terlibat dalam interaksi komunikasi harus saling memahami dengan menjaga sikap dan perkataan.
b) Prinsip kedua yaknieEmpathy, merupakankkemampuan kita untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dalam hal ini kitaaberusaha untuk memahamissikap seseorang serta ikut dalam kondisi yang sedang dia alami, sehinggahhubungan emisional pun akan terjalin dengan mudah.
c) Prinsip ketiga adalah Audible, yakni pesanyyang disampaikan dapattdidengar dan dimengertindengan baik. Untuk dapat menerapkannprinsip ini dalam mengirimkannpesan diperlukan beberapa hal antara lain:
(1) membuat pesan yang mudah dimengerti (2) fokus pada informasi penting
(3) menggunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi pesan tersebut (4) memberi perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan di sekitar (5) mengantisipasi kemungkinan masalah yang bisa muncul
(6) selalu mempersiapkan backup atau pesan cadangan.
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa kemampuan seseorang dalam menyampaikan pesan dan menganalisis pesan serta sikap yang cepat tanggap tehadap lingkungan dapat menciptakan komunikasi yang efektif.
d) Prinsip keempat yaknicClarity atau kejelasan dari pesan yang disampaikan, menunjukkan bahwa komunikasiiefektif membutuhkan bahasa yang baik dan penjelasan yang jelas dan tegas serta adanya simbol atau isyarat. Sementara itu terdapat beberapaccara untuk menyiapkannpesan agar jelas yakni:
(1) menentukanntujuan yang jelas
(2) meluangkannwaktu untuk mengorganisasikan ide (3) penguasaan terhadap formatnbahasa yang dipakai
(4) membuat pesanddengan jelas dan tepat serta meyakinkann (5) pesannyang disampaikannharus fleksibel.
Pesan atau informasi sifatnya relatif berubah dan terus-menerus diperbaharui, seperti pesan atau informasi yang baru akan menghilangkan pesan atau informasi yang lama. Oleh karena itu, penyampaian pesan atau informasi perlu dilakukan dengan baik dan menarik sehingga mampu bertahan di ingatan penerima pesan.
e) Prinsip kelima adalah sikap rendah hati (Humble) atau tidak sombong yang berarti bahwa seseorangllebih menghargai orang lainnbaik melalui sikappdan perbuatannserta perkatannya. Sikap rendah hati lebih kepada bagaimana seseorang memahami posisi orang lain sehingga akan lebih mudah baginya untuk menyampaikan pesan kepada orang tersebut.
Komunikasi efektif akan terwujud apabila dalam proses komunikasi pesan yang disampaikan oleh komunikanndapat diterima dan dipahamikkomunikan sesuai dengan keinginannkomunikator. Efektifnya sebuahkkomunikasi adalah jika pesannyang dikirim memberikanppengaruh terhadapkkomunikan, di mana informasi yang disampaikanndapat diterima dengannbaik sehingga menimbulkan responnatau umpanbbalik dari penerimanpesan. Contoh umpan balik tersebut misalnya adanya tindakanndari komunikan, hubungan yang semakinnbaik dianara keduanya, serta pengaruh terdahap sikapkkomunikan.
2.3.2. Kompetensi komunikasi
Komunikasi merupakan prosesspenyampaian informasi,ggagasan, fakta, pikiranndan perasaan, dari satu orang terhadapporang lain. Dalam kehidupan suatuiorganisasi, komunikasi merupakan unsur yang paling dibutuhkan dalam melakukan kerja sama ketika menyelesaikan suatu pekerjaan. Komunikasi tersebut dapat menimbulkan dan meningkatkan kesepahaman atas suatu pekerjaan dalam organisasi, sehingga penyelesaiannya akan lebih mudah dilakukan.
Komunikasi adalah sesuatu yang sangat dibutuhkanndalam sebuahnkegiatan atau pekerjaan. Komunikasi yang kurang baik dapattmengakibatkan dampak yang luas terhadappkehidupan organisasi, seperti konflikkantar karyawan, dan sebaliknya komunikasiiyang baik dapat menciptakan dampakipositif dalam lingkungan kerja sehari-hari. Komunikasi yang terbuka harus dikembangkan dengan baik di sebuah organisasi karena untuk mencapai tujuannya, sekelompok sumber daya manusia (SDM) dengan karakter yang unik dapat disatukan oleh komunikasi yang baik.
SDM dengan kompetensi komunikasi yang baik akan memiliki kinerja yang baik pula karena mereka akan mampu menjalankan tugas yang diembannya dengan baik.
Spitzberg dan Cupach (Selviana, dkk 2017: 78), menyebutkan ada tiga faktor yang dapat meningkatkan kompetensi komunikasi, yakni ketepatan (appropriatness), efektivitas (effectiveness), serta faktor-faktor lain yang memfasilitasi kompetensi komunikasi. Selanjutnya Slocumndan Hellriegel (2009:
114) menyampaikan bahwa kompetensikkomunikasi merupakannkemampuan untuk menyesuaikan perilakuikomunikasi dengan situasi lingkungan komunikasi.
Kompetensi komunikasi merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan cara sosial secara efektif. Spitzberg (Yusuf,22010: 208) mengemukakan bahwa kompetensi komunikasi merupakan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengannorang lain.
Kompetensinmencakup beberapa hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan dalamnmempengaruhi isi dan bentuk sebuah pesannkomunikasi.
Contoh kompetensi ini misalnya adalah pengetahuan seseorang untuk menentukan apakah suatuitopik layak atau tidak untuk disampaikanikepada orang tertentu dalam lingkunganntertentu, tetapi mungkin tidakklayak bagi orang lain di lingkungannyang lain. Pengetahuan tentang tataacara perilaku non verbal juga merupakan bagian dari kompetensikkomunikasi. Kriteria untuk menentukan kompetensikkomunikasi menurut Canary dan Cody (Selviana, dkk 2017: 78) yaitu: adaptabilitas atau fleksibilitas; keterlibatan berbicara (conversational involvement); manajemen pembicaraan (conversational management); empati (empathy); kesesuaian (appropriateness); dan efektivitas (effectiveness).
Sementara Brian Spitzberg dan William Cupach (Wulandari, 2015: 6-7) mengemukakan bahwa dimensi-dimensi dari kompetensi komunikasi antara lain:
1) Motivasi komunikasi
Motivasikkomunikasi merupakan sesuatu yang terkait dengan kemauannseseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain atau menghindari dari orang lain. Sebuah organisasi merancang sebuah skala motivasi yang digunakan untuk mengukur kesediaan seseorang untuk menyesuaikan komunikasi di dalam organisasi, melakukan komunikasi yang baik, mengatur interaksi.
2) Pengetahuan komunikasi
Pengetahuan komunikasi merupakan kemampuan seseorang dalam membuat skenario komunikasi dan rencana tindakan. Komunikator yang sudah memiliki kemampuan tersebut juga mampu untuk menyusun dan menjalankan rencana komunikasi tersebut didalam lingkungan masyarakat yang berubah-ubah sehingga mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan perubaahn lingkungan. Menurut Spitzberg dan Cupach (Wulandari, 2015: 6-7) pengetahuan prosedural adalah mengetahuiibagaimana bukan isi darinmengetahui bahwa atau mengetahuiaapa.
Pengetahuan komunikasi dapat diperoleh melaluinpendidikan dan pengalaman, serta melaluippengamatan dalam proses komunikasi sehari-hari, sekaligus mengetahuisstandar untuk komunikasi.
3) Keterampilan komunikasi
Keterampilan komunikasi mencakup pembuktiannkinerja atau aktualisasi dari perilaku. Mengubah motivasi dan rencana menjadi tindakan menjadi hal yang sulit untuk dilakukan komunikator. Seseorang sering memilikinpengetahuan untuk berkomunikasi danttermotivasi, namun kenyataannya keterampilan dalamppraktek komunikasinya kurang. Variabel orientasi lain, kejengahan sosial, keekspresifan serta manajemen interaksi merupakan bagian dari keterampilan. Selain variabel- variabel di atas, kemampuan seseorang untuk mengungkapkan pesan secara non verbal, berbicara dan mendengar serta melihat dalam situasi tertentu juga merupakan kemampuan yang perlu dimiliki seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dalam setiap situasi.
Keterampilan yang diperlukannoleh instansippemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yakni keterampilan mmembina hubungan,nmenyimak, memberikan umpannbalik, bertukarrinformasi, mencari umpanbbalik, dan menyelesaikannmasalah. Selain keterampilan yang telah disebutkan, seorang petugas humas juga perlu memiliki keterampilan dalam menggunakan media baru (new media) karena di era internet saat ini, pelayanan kehumasan tidak dapat dipisahkan dari penggunaan internet sebagai sarana pelayanan kepada masyarakat. Informasi dari instansi pemerintah dapat disampaikan kepada masyarakat dengan memanfaatan media online seperti website dan media sosial.
Slocum dan Hellriegel (Telambanua, 2015: 22) mengemukakan bahwa terdapat lima indikator dalam mengukur tingkattkompetensi komunikasi ddalam organisasi. Teori ini merupakan salah satu dari tiga teori yang peneliti gunakan sebagai landasan dalam melakukan penelitian. Kelima indikator tersebut antara lain:
a. Bijaksana dan kesopanan
Indikator ini merupakan sikappkeseharian seseorang seperti ccara berbicara, tingkah laku, dan kerapihan.
b. Penerimaan umpan balik
Umpan balik yakni mengkomunikasikannkepada seseorang ataukkelompok tentang bagaimanapperilaku orang telahhmempengaruhi kitaaatau orang lain. Kata-kata yang diucapkan, sikap dan tindakan seseorang juga merupakan umpan balik yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam berkomunikasi.
Umpan balik dapat digunakan untuk hal yang positif seperti membangun orang lain dan untuk hal yang negatif seperti merusak orang lain. Hal ini tergantunggpada sumber umpan balik tersebut, apakah bersumber dari penerimanpesan atau pemberiipesan.
c. Berbagicinformasi
Berbagi informasi dalam hal ini maksudnya adalah bahwa instruksi yang disampaikannpimpinan organisasi kepadaabawahannya berisikan tentang informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat selaku penerima layanan dan instruksiitersebut selanjutnya diteruskan oleh bawahan kepada masyarakat tepat seperti instruksi atasannya.
d. Memberikaniinformasi tugas
Memberikanninformasi tugas adalah instruksiyyang diberikan oleh pimpinanoorganisasi kepada bawahannya mengenai tugas dan pekerjaan yang akan dikerjakan. Instruksi yang diberikan berhubungan dengan kecepatan dan ketepatan pelayanan serta kemudahanndan keadilanndalam imelayani masyarakat.
e. Mengurangiiketidakpastian tugas
Ketidakpastianntugas atau pekerjaan seseorang dalam organisasi mengindikasikan bahwa individu tersebut tidak mampu untuk memprediksi suatu hal dengan tepat sehingga terjadi keraguan dalam menjalankan tugasnya. Lowntask uncertainty atau ketidakpastian tugasyyang rendah menandakannbahwa seseorang dapat mengerjakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik sehingga yang bersangkutan memiliki prestasi
yang baik. Sebaliknya high task uncertainty atau ketidakpastian tugas tinggi mengakibatkan seseorang kurang mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga prestasinya juga kurang baik dan bahkan menimbulkan disfunction behavior atau perilaku negatif.
Berdasarkaniuraian di atas, dapat diketahui bahwa kompetensiikomunikasi telah dikonsep untuk mencakup unsur-unsurppengetahuan, keterampilan, motivasi,pperilaku, daneefektivitas. Sementara itu, Spitzberg dan Cupach mengemukakan kompetensi komunikasi dapat merupakan pengaruh interpersonal, dimana seseorang menjalankanttugas dan fungsinya untuk mencapaiitujuan organisasi secaraeefektif dan komunikatif serta mematuhi norma dalam berkomunikasi. Dengan demikian, pimpinan organisasi semakin termotivasi untuk melakukan komunikasi yang baik dengan bawahannya. Dari perspektif ini, semakinnbanyak pimpinanttermotivasi untuk berinteraksiidengan karyawan, berpengetahuan luas dalam keterampilannkomunikasi yang memfasilitasi keterbukaan,nnegosiasi, dan kerjassama tim, terampil dalamnmenggunakan teknik, dan sensitif terhadap konteksskomunikasi.
Kompetensiikomunikasi merupakaniistilah yang kompleks denganistruktur internal daneeksternal. Terkait dengan strukturiinternal, kita harus menghubungkannya dengan istilahisubordinasi seperti efektivitassdan kesesuaian.
Efektivitas menggambarkanhhasil kompetensi komunikasi, sedangkan kesesuaian menghubungkankkondisi situasional dari interaksissosial yang sebenarnya.
Kompetensiikomunikasi harus berkaitan dengan sistemiaturan yang menghasilkan
situasi yang ideal dan bukan mengenai kode linguistik yang menghubungkan bahasandan pragmatikiyang universal dengan sistemnperan yang sebenarnya.
Berdasarkan uraianndi atas, dapat diketahui bahwankompetensi komunikasi diperlukan bukan hanya untuk tujuannilmiah, melainkan juga untuk praktek dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas kompetensi komunikasi diperlukan selain pada tingkat organisasi danimasyarakat dan pertukaran antarabudaya tetapi juga untuk interaksi sosial masyarakat di tingkat individu. Akibat dari kurang kompetennya seseorang mengenai aspek-aspek tertentu dari komunikasi mengakibatkan terjadinya masalah individu dan sosial dalam masyarakat. Hal tersebut di atas berkaitan dengan masalah psikologis dan kesehatan seseorang, hubungan interpersonal serta keberhasilan akademik dan profesional.
2.3.3. Profesionalisme Public Relation Officer
Profesionalisme dewasa ini sering dijadikan tolak ukur keberadaan pegawai yang cakap dalam sebuah organisasi pemerintah. Namun belum terdapat standar penilaian baku yang jelas atas pemahaman akan profesionalisme itu sendiri. Sebutannprofesionalisme itu sendiribberasal dari kata profesi. Jadi, berbicara tentangnprofesionalisme itu sendiri mengacunpada pemahaman suatu profesi, dimana profesi tersebut merupakan suatu bidang pekerjaan.
Sujanto (2019: 200) mengatakan bahwa profesionalisme seorang PRO tidak dapat dipisahkan dengan kode etik kehumasan. Kode etik tersebut merupakan suatu sistem yang menilai sesuatu itu benar atau tidakibenar, adilidan tidak adil, jujur dan tidak jujur. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, sebuah