• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Perilaku Asertif dengan Self-Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hubungan Perilaku Asertif dengan Self-Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI Disusun Oleh:

Indahni Fansela Tanjung 161101140

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(2)

ii

(3)
(4)

iii

tiada henti sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Hubungan Perilaku Asertif dengan Self-Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan”.

Penulisan Skripsi ini dimaksud untuk memenuhi salah satu syarat Program Strata I pada Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil pengamatan, pengisian angket, dan keterlibatan langsung dalam proses pelaksanaan yang dilaksanakan pada bulan November sampai selesai.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Dudut Tanjung, SKp, M.Kep, Sp.KMB selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat selaku Wakil Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Cholina T. Siregar, S.Kep., Ns., M.Kep, Sp.KMB selaku Wakil Dekan II Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktu dan perhatian dengan penuh

(5)

ini.

5. Ibu Roxsana Devi Tumanggor, S.Kep, Ns., MNurs (MntlHlth) selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan bimbingan dan memberikan semangat yang luar biasa kepada penulis selama perkuliahan.

6. Ibu Wardiyah Daulay, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Dosen Penguji I yang banyak memberikan saran dan masukan yang membangun dalam penulisan skripsi ini

7. Ibu Jenny M Purba, S.Kp, MNS, Ph.D selaku Dosen Penguji II yang juga banyak memberikan saran dan masukan yang membangun dalam penulisan skripsi ini.

8. Seluruh dosen dan staf Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah banyak mendidik dan membantu penulis selama proses perkuliahan.

9. Ketua Rumah Singgah Kopa Medan.

10. Teristimewa kepada kedua orangtua penulis yang selalu memberi doa, nasehat dan dukungan baik moril maupun materil, yang menjadi sumber motivasi dalam proses pengerjaan skripsi ini.

(6)

v

Anggriani, Shafira Aulia, yang banyak memberikan dukungan dan semangat selama perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.

12. Teman-teman seperjuangan S1 stambuk 2016 Fakultas Keperawatan USU, yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan masukan, berbagi pengetahuan dan mendukung penulis.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas seluruh dukungan dan doa kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan baik dari segi penyusunan kalimat, cara penulisan, maupun tutur bahasa. Maka dari itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini agar dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan Profesi Keperawatan.

Medan, 26 April 2021 Penulis

Indahni Fansela Tanjung 161101140

(7)

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.x BAB 1 PENDAHULUAN... 1

1. Latar Belakang ... 1

2. Rumusan Masalah ... 8

3. Tujuan Penelitian ... 8

4. Manfaat Penelitian ... 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 10

1. Perilaku Asertif ... 10

1.1. Pengertian Perilaku Asertif... 10

1.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Asertif ... 11

1.3. Aspek-aspek perilaku asertif ... 14

1.4. Ciri-ciri perilaku asertif ... 16

2. Self Esteem ... 17

2.1. Pengertian Self Esteem ... 17

2.2. Aspek-Aspek Self Esteem ... 18

2.3. Tingkat dan Krakteristik Self Esteem ... 20

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Esteem ... 23

2.5. Fungsi Self Esteem ... 24

2.6. Meningkatkan Self Esteem ... 25

3. Anak Jalanan ... 27

3.1. Pengertian Anak Jalanan ... 27

3.2. Ciri-Ciri Anak Jalanan ... 28

3.3. Jenis Anak Jalanan ... 30

3.4. Faktor Penyebab Anak Jalanan ... 31

3.5. Masalah Anak Jalanan... 33

4. Hubungan Perilaku Asertif dan Self Esteem pada Anak Jalanan Remaja ... 34

(8)

vii

3. Hipotesis Penelitian ... 38

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 38

1. Desain Penelitian ... 39

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ... 39

2.1. Populasi ... 39

2.2. Sampel Penelitian ... 39

2.3. Teknik Sampling ... 40

3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 40

3.1. Lokasi Penelitian... 40

3.2. Waktu Penelitian ... 40

4. Pertimbangan Etik Penelitian ... 41

5. Instrumen Penelitian ... 42

5.1. Kuesioner Data Demografi ... 42

5.2. Kuesioner Perilaku Asertif ... 43

5.3. Kuesioner Self-Esteem ... 44

6. Validitas dan Reabilitas ... 46

6.1. Validitas ... 46

6.2. Reliabilitas ... 46

7. Teknik Pengumpulan Data ... 47

8. Analisa Data ... 49

8.1. Pengolahan Data ... 49

8.2. Edit (Editing) ... 49

8.3. Kode (Coding) ... 49

8.4. Tabulasi (Tabulating) ... 49

8.5. Entry data ... 50

8.6. Cleaning data ... 50

8.7. Analisa Univariat ... 50

8.8. Analisa Bivariat ... 50

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53

(9)

Singgah Kopa Medan ... 54

1.3. Distribusi Frekuensi Self Esteem Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan ... 55

1.4. Pengujian Hipotesis ... 56

2. Pembahasan ... 57

2.1. Perilaku Asertif ... 57

2.2. Self Esteem ... 62

2.3. Hubungan Perilaku Asertif dengan Self Esteem Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan ... 66

BAB 6KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

1. Kesimpulan ... 69

2. Saran ... 69

2.1. Pendidkan Keperawatan ... 69

2.2. Pelayanan Keperawatan ... 70

2.3. Penelitian Selanjutnya ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(10)

ix Lampiran 2 Informed Consent

Lampiran 3 Jadwal Tentative Penelitian Lampiran 4 Anggaran Dana Penelitian Lampiran 5 Instrumen Penelitian Lampiran 6 Hasil Uji Validitas Lampiran 7 Hasil Uji Reliabilitas Lampiran 8 Master Data Penelitian Lampiran 9 Hasil Penelitian Lampiran 10 Riwayat Hidup Lampiran 11 Hasil Turnitin

(11)

Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan Nama : Indahni Fansela Tanjung

NIM : 161101140

Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan Tahun Akademik : 2021

ABSTRAK

Perilaku Asertif dengan Self-Esteem sangat perlu dimiliki oleh anak remaja terutama anak jalanan remaja karena anak jalanan remaja mengalami kesulitan pada saat melakukan penyesuaian diri, mereka ingin diakui oleh lingkungannya meskipun yang mereka lakukan tidak sesuai dengan keinginannya serta tanpa memperdulikan hak-haknya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan perilaku asertif dengan self-esteem pada anak jalanan remaja di rumah singgah kopa Medan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku asertif dengan self-esteem menunjukkan nilai dengan r = 0.683 dan p (0,000) < α (0,05). Artinya semakin baik perilaku asertif anak jalanan remaja maka akan semakin tinggi pula self-esteem yang dimiliki anak jalanan remaja.

Kata Kunci : Anak Jalanan Remaja, Perilaku Asertif, Self-Esteem

(12)
(13)

1. Latar Belakang

Remaja merupakan proses tubuh kembang dari sifat dan masa kanak- kanak menuju dewasa, ditandai dengan usia 12-20 tahun keatas. Masa remaja rentan dengan keinginan seksual yang tinggi, dapat menentukan masa depan sendiri. Remaja sangat menyukai kebebasan, akibat kebebasan maka akan memberikan faktor positif dan negatif terhadap lingkungan sekitar sehingga terjadinya perselisihan dan perilaku yang bertentangan dengan orang tua. Tingkat perilaku asertif dan memiliki emosi yang tinggi mengakibatkan remaja sangat sulit untuk mengendalikan diri dan menerima nasihat dari orang tua bahkan orang sekitarnya (Putro, K.Z., 2017).

Menurut Departemen Sosial RI (2005), anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah maupun berkeliaran di jalan dan tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri, berusia antara 5 sampai dengan 20 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, dan mobilitas yang tinggi.

Direktorat Kesejahteraan Anak, Keluarga dan Lanjut Usia, Departemen Sosial (2001) memaparkan adapun waktu anak jalanan yang dihabiskan di jalan lebih dari 4 jam dalam satu hari. Pada dasarnya anak jalanan menghabiskan waktunya di jalan demi mencari nafkah, baik dengan kerelaan hati maupun dengan paksaan dari orang tuanya sendiri.

(14)

Situasi krisis ekonomi dan urbanisasi yang dialami Indonesia, menimbulkan begitu banyak masalah sosial yang membutuhkan penanganan secepatnya. Salah satunya permasalahan sosial yang dihadapi, yaitu anak jalanan yang membutuhkan penangan yang lebih komprehensif. Anak jalanan umumnya tidak dihargai, karena dianggap melakukan perkerjaan yang tidak jelas, tidak ada tujuan hidup, serta yang dilakukan hanya mendapatkan uang untuk makan hari ini saja. Kondisi ini memosisikan anak jalanan sebagai korban dari kekeliruan atau ketidaktepatan pemilihan model pembangunan yang selama ini dilakukan.

Fenomena anak jalanan menjadi salah satu permasalahan sosial yang cukup kompleks bagi kota-kota besar di Indonesia. Apabila diamati dengan baik, ternyata anak jalanan sangat mudah ditemukan pada kot-kota besar. Mulai dari perempatan lampu merah, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, bahkan mall, menjadi tempat anak jalanan melakukan aktivitasnya. Anak jalanan mempunyai hubungan dengan masalah-masalah lain, baik secara internal maupun eksternal, seperti ekonomi, psikologi, sosial, budaya, lingkungan, pendidikan, agama, dan keluarga. Mereka adalah korban dari kondisi yang dialami individu, baik internal, eksternal, maupun kombinasi keduanya (Nasution & Nashori., 2007)

Penyebab meningkatnya anak jalanan di Indonesia dipicu oleh krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Pada era tersebut selain masyarakat mengalami perubahan secara ekonomi juga menjadi masa transisi pemerintahan yang menyebabkan begitu banyak permasalahan sosial muncul. Secara langsung dampak krisis ekonomi memang terkait erat dengan terjadinya peningkatan

(15)

jumlah anak jalanan. Hal ini akhirnya memberikan ide-ide menyimpang pada lingkungan sosial anak untuk mengekploitasi mereka secara ekonomi salah satunya dengan melakukan aktivitas di jalanan (Astri, H., 2014).

Berdasarkan data dari Dinas Sosial, anak jalanan di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 348,00 orang, dan pada tahun 2018 jumlah anak jalanan menurun menjadi 67,00 orang dan pada tahun 2019, jumlah anak jalanan sedikit meningkat sebanyak 72,00 orang, dan pada tahun 2020 jumlah anak jalanan stabil sama dengan tahun 2019 yaitu sebanyak 72,00 orang. Untuk Sumatera Utara pada tahun 2020 jumlah anak jalanan sebanyak 525 orang dengan rincian 436 orang laki-laki dan 89 orang perempuan. Remaja yang menjadi anak jalanan tentunya akan beradaptasi dengan lingkungan baru terutama kemampuan individu untuk bersosialisasi. Saat akan bersosialisasi setiap remaja dapat mengatakan apa yang sedang mereka rasakan secara jujur tanpa menyakiti perasaan orang lain yang sering disebut dengan perilaku asertif.

Perhatian khusus pemerintah terhadap anak jalanan baru muncul sekitar tahun 1998, yaitu dengan mendirikan Rumah Singgah bagi anak jalanan.

Pembentukan Rumah Singgah merupakan upaya pelayanan kesejahteraan sosial terhadap anak jalanan yang di landasi oleh UUD 1945 pasal 34. Rumah Singgah sendiri menurut Departemen Sosial didefinisikan sebagai suatu wahanan yang akan dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka mereka. Rumah Singgah merupakan proses informal yang memberikan suasana resoalisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Rumah Singgah merupakan tahap awal bagi seorang

(16)

anak untuk memperoleh pelayanan selanjutnya, oleh karenanya penting menciptakan Rumah Singgah sebagai tempatt yang aman, nyaman, menarik dan menyenangkan bagi anak jalanan.

Perilaku asertif yaitu perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi, emosi yang tepat, jujur dan relative terus terang dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain (Purwoastuti dan Walyani, 2015).

Rathus dan Nevid (1983) mengatakan jenis kelamin, harga diri, kebudayaan, tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku asertif.

Perilaku asertif dapat mengkomunikasikan kesan respek terhadap diri sendiri dan orang lain sehingga dapat memandang keinginan, serta kebutuhan dari orang lain (Novalia dan Dayakisni, 2013).

Di Indonesia selama dasawarsa terakhir ini, menunjukkan adanya kecenderungan perilaku asertif. Individu menjadi faktor utama dalam memilih dan menentukan eksistensi dirinya dalam membentuk karakter agresif, asertif, atau pasif. Perilaku asertif bagi remaja bermanfaat untuk memudahkan bersosialisasi dalam lingkungannya, menghindari konflik karena bersikap jujur dan terus terang, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi secara efektif.

Hubungan dari perilaku asertif dengan anak jalanan dapat dilihat dari aktifitas dan tingkah laku mereka setiap hari. Pada umumnya orang yang asertif mampu mengenal dirinya sendiri dengan baik sehingga mampu menentukan pilihan keinginan dan tujuan hidupnya tanpa harus mempengaruhi orang lain.

Sedangkan orang yang agresif selalu tidak puas akan apa yang mereka peroleh dan akhirnya sering merasa tidak puas terhadap diri sendiri. Ornag-orang agresif

(17)

sering memandang orang lain tidak semampu dirinya, sehingga kegagalan yang terjadi sering dianggap lebih disebabkan orang lain (Muchtar, M.M., 2017).

Asertivitas merupakan kemampuan dalam diri seseorang untuk mengekspresikan diri sendiri, pandangan-pandangan dirinya, dan menyatakan keinginan dan perasaan diri secara langsung, jujur, dan spontan tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak orang lain. Asertif dalam perspektif pendidikan merupakan domain keterampilan sosial (social skills) diantara kerja sama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), dan self-control, empathy, problem behavior. Dengan demikian, asertif merupakan kemampuan untuk mengungkapkan hak dan kebutuhan secara positif dan konstruktif tanpa melanggar hak orang lain. Ciri seseorang yang memiliki perilaku asertif adalah hubungan yang dilakukan merasa lebih percaya diri, mendapatkan rasa hormat dari orang lain melalui jalinan komunikasi secara langsung, terbuka, dan jujur.

Perilaku asertif bermanfaat bagi individu untuk menjaga kejujuran dalam komunikasi, mampu untuk mengendalikan diri, dan meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan. Pendidikan sejatinya dapat menjadi wadah untuk mewariskan kebudayaan, dalam membentuk kepribadian dan karakter generasi muda. Secara sistematis pendidikan merupakan usaha sadar yang memiliki landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan kultural untuk mencapai tujuan yang diamksud. Apa yang tersirat dalam landasan tersebut bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk membangun peradaban suatu bangsa di atas fondasi budaya masyarakat.

(18)

Dengan munculnya fenomena anak jalanan remaja yang sebagian masih berstatus sebagai pelajar, akhir-akhir ini menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan baik dari perspektif pendidikan, psikologi, sosial, maupun budaya. Dari perspektif pendidikan persoalan tersebut sebetulnya menjadikan ironi, di satu sisi pendidikan seharusnya dapat membangun kepribadian, perilaku, dan karakter peserta didik.

Dari pendapat yang di atas, dapat disimpulkan bahwa asertif yaitu individu yang mampu mengungkapkan dan mengekspresikan melalui verbal dan nonverbal akan kebutuhan dalam dirinya berupa pendapat, perasaan, keinginan, pikiran, harapan serta tujuan baik positif maupun negatif secara tegas dan terbuka tanpa menutupi tetapi tidak menyinggung perasaan orang lain.

Menurut Santrok (2003) self esteem merupakan dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri, self esteem juga di sebut sebagai harga diri atau gambaran diri. Roman (dalam Coetzee, 2005) menjabarkan self esteem sebagai kepercayaan diri seseorang, mengetahui apa yang terbaik bagi diri dan bagaimana melakukannya. Clemens dan Bean (1995) juga menyatakan self esteem adalah penilaian-penilaian seseorang tentang dirinya sendiri dari berbagai titik pandangan yang berbeda, apakah individu tersebut sebagai orang yang berharga dan sebaiknya.

Para anak jalanan remaja sebagian terjerumus ke dalam hal negatif seperti narkoba, salah satunya disebabkan oleh kepribadian yang lemah yaitu ketidakmampuan para anak jalanan remaja untuk bersikap asertif, memiliki pemikiran jangka pendek, ketidakstabilan emosi, tidak mengenal norma

(19)

kesusilaan dan tidak bertanggung jawab secara sosial. Remaja yang memiliki self esteem (harga diri) yang rendah berawal dari perasaan tidak mampu, tidak berharga dan adanya pengakuan (penerimaan) atau tidak. Harga diri yang rendah akan berdampak pada cara remaja bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat.

Hasil penelitian Pudijogyanti (1988) dalam Tesisnya menunjukkan adanya salah satu penyebab kekalnya anak jalanan hidup dalam lingkaran kehidupan jalanan dan kemiskinan, yaitu rendahnya self esteem. Hal tersebut menunjukkan masih tingginya tingkat ketergantungan mereka terhadap gaya hidup jalanan, penghasilan dari mengamen dan meminta dianggap lebih menjanjikan daripada berwirausaha.

Dari pendapat yang di atas, dapat disimpulkan bahwa self esteem dipandang sebagai salah satu aspek penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dimana seseorang tidak dapat menghargai dirinya sendiri, maka akan sulit untuk dapat menghargai orang-orang yang berada di sekitarnya. Dengan demikian self esteem merupakan salah satu dari elemen penting bagi pembentukan konsep diri seseorang, dan akan sangat berdampak luas pada sikap dan perilakunya.

Fenomena yang terjadi pada anak jalanan khususnya pada usia remaja sangat sulit untuk mengembangkan perilaku asertif dan self esteem. Hal ini disebabkan karena anak jalanan remaja takut ditolak oleh lingkungannya sendiri, terutama oleh teman sebaya karena dianggap tidak sama dengan teman sebaya yang lain. Dalam penelitian Gozali (2012) menjelaskan bahwa teman sebaya yang tidak sama dengan anak jalanan dapat menghambat perilaku asertif dan self

(20)

esteem hingga mengakibatkan anak jalanan merasa direndahkan. Sehingga rendahnya pencapaian semua aspek, yang diurutkan dari kurangnya kemampuan untuk menyatakan keyakinan, kemampuan untuk mempertahankan hak-hak pribadi, kemampuan untuk memahami ketakutan dan keyakinan yang irasional, dan terakhir kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran.

Anak jalanan remaja mengalami kesulitan pada saat melakukan penyesuaian diri, mereka ingin diakui oleh lingkungannya meskipun yang mereka lakukan tidak sesuai dengan keinginanya serta tanpa memperdulikan hak-haknya sendiri. Anak jalanan remaja sangat diperlukan memiliki perilaku asertif dan self esteem agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Berdasarkan fenomena perilaku asertif dan self esteem pada anak jalanan remaja tidak dapat berprilaku asertif dan tidak dapat mempertahankan harga dirinya yang disebabkan tidak memiliki keyakinan diri, merasa dirinya tidak berharga, tidak percaya diri dan kepribadian yang lemah (Latifah, 2006).

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Perilaku Asertif dengan Self Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang maka rumusan masalah yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Hubungan Perilaku Asertif dengan Self Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan?”

3. Tujuan Penelitian 3.1. Tujuan Umum

(21)

Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi Hubungan Perilaku Asertif dengan Self Esteem pada Anak Jalanan Remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

3.2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi perilaku asertif pada anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

b. Mengidentifikasi self esteem pada anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

4. Manfaat Penelitian

4.1. Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai acuan dan referensi terkait perilaku asertif dan self esteem pada anak jalanan remaja

4.2. Bagi Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai sarana untuk memberikan informasi kepada petugas kesehatan terkait perilaku asertif dan self esteem pada anak jalanan remaja.

4.3. Bagi Peneliti Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat di gunakan sebagai salah satu tambahan wawasan dan pengetahuan serta referensi untuk mengembangkan penelitian di bidang keperawatan jiwa dan menjadi salah satu informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hubungan perilaku asertif dengan self esteem pada anak jalanan remaja

(22)

1. Perilaku Asertif

1.1. Pengertian Perilaku Asertif

Sukaji (1983) mengungkapkan perilaku asertif yaitu perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi, emosi yang tepat, jujur dan relative terus terang dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Lange dan Jakubowski (dalam purwoastuti dan wilyani) mengungkapkan perilaku asertif merupakan perilaku seseorang dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan perasaan dan pikiran dan perasaan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat.

Rathus dan Nevid (1983) asertif adalah tingkah laku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran-pikiran apa adanya, mempertahankan hak-hak pribadi, serta menolak permintaan-permintaan yang tidak masuk akal dari figur otoritas dan standar- standar yang berlaku pada suatu kelompok. Perilaku asertif adalah perilaku bersifat aktif, langsung, dan jujur (Novalia dan Dayaskini, 2013) . Perilaku ini mampu mengkomunikasikan kesan respek kepada diri sendiri dan orang lain sehingga dapat memandang keinginan, kebutuhan, dan hak kita sama dengan keinginan, kebutuhan dan hak orang lain atau bisa di artikan juga sebagai gaya

(23)

wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur, dan peuh dengan respek saat berinteraksi dengan orang lain.

1.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Asertif

Rathus dan Nevid (1983) mengklasifikasikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku asertif yaitu :

a. Jenis kelamin

Wanita pada umumnya lebih sulit bertingkah laku asertif seperti mengungkap perasaan dan pikiran dibandingkan dengan laki-laki. Wanita diharapakan lebih banyak menurut dan tidak boleh mengungkapkan pikiran dan perasaanya bila dibandingkan dengan laki-laki, artinya pengkondisian budaya untuk wanita cenderung membuat wanita menjadi lebih sulit mengembangkan asertivitasnya.

b. Harga diri

Harga diri seseorang turut mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki harga diri yang tinggi, memiliki kekhawatiran sosial yang rendah sehingga ia mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan tanpa merugikan dirinya maupun orang lain.

c. Kebudayaan

Tuntutan lingkungan menentukan batasan-batasan perilaku masing-masing anggota masyarakat sesuai dengan umur, jenis kelamin, status sosial seseorang.

d. Tingkat Pendidikan

(24)

Semakin tinggi tingkat pendidikan individu maka semakin luas wawasan berpikirnya sehingga kemampuan untuk mengembangkan diri lebih terbuka.

e. Situasi-situasi tertentu disekitar

Kondisi dan situasi dalam arti luas misalnya posisi kerja antara bawahan terhadap atasannya, ketakutan yang tidak perlu (takut dinilai kurang mampu), situasi-situasi seperti kekhawatiran mengganggu dalam keadaan konflik.

Menurut Alberti dan Emmons (dalam Miasari 2012) faktor-faktor yang mempengaruhi asertivitas antara lain :

a. Keluarga

Anak yang memutuskan untuk berbicara mengenai hak-haknya sering mendapatkan sensor dari anggota keluarga, seperti dilarang untuk berbicara, anak dianggap sebagai individu yang mengetahui apapun, atau anak dianggap kurang ajar terhadap orangtuanya. Tanggapan yang diberikan oleh orangtua tersebut menjadi tidak kondusif bagi perkembangan asertivitas anak.

b. Sekolah

Di sekolah guru-guru juga sering melarang anak untuk bersikap asertif.

Anak-anak yang pendiam dan berperilaku baik serta tidak banyak bertanya justru diberi imbalan, berupa pujian karena dianggap bersikap baik. Sehingga sikap asertif tidak dapat dimiliki oleh anak. Oleh karena itu, saat ini para pengajar dituntut untuk dapat mendorong setiap individu agar dapat bersikap asertif kepada diri sendiri dan juga orang lain.

c. Usia

(25)

Perilaku asertif berkembang sepanjang hidup manusia. Semakin bertambah usia individu maka perkembangannya akan mencapai tingkat integrasi yang lebih tinggi, di dalamnya termasuk kemampuan pemecahan masalah. Artinya semakin bertambahnya usia individu maka semakin banyak pula pengalaman yang telah diperoleh, sehingga kemampuan pemecahan masalah pada individu juga bertambah.

d. Jenis Kelamin

Pria cenderung memiliki perilaku asertif yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan masyarakat yang menjadikan pria lebih aktif, mandiri dan kooperatif, sedangkan wanita cenderung lebih pasif, tergantung kompromis.

e. Konsep Diri

Konsep diri dan perilaku asertif mempunyai hubungan yang sangat erat.

Individu yang mempunyai konsep diri yang kuat akan mampu berperilaku asertif.

Sebaliknya individu yang mempunyai konsep diri yang lemah, maka perilaku asertifnya juga rendah.

f. Pola asuh orang tua

Kualitas perilaku asertif individu sangat dipengaruhi oleh interaksi individu tersebut dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Hal tersebut akan menentukan pola respon individu dalam merespon masalah.

g. Kondisi sosial budaya

(26)

Perilaku yang dikatakan asertif pada lingkungan budaya tertentu belum tentu sama pada budaya lain. Karena setiap budaya mempunyai etika dan aturan sosial tersendiri.

1.3. Aspek-aspek perilaku asertif

Alberti dan Emmon mengemukakan aspek-aspek perilaku asertif sebagai berikut :

a. Bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri

Meliputi kemampuan untuk membuat keputusan, mengambil inisiatif, percaya pada yang dikemukakan sendiri, dapat menentukan suatu tujuan dan berusaha mencapainya, serta mampu berpartisipasi dalam pergaulan.

b. Mampu mengekspresikan perasaan jujur dan nyaman

Meliputi kemampuan untuk menyatakan rasa tidak setuju, rasa marah, menunjukkan afeksi dan persahabatan terhadap orang lain serta mengakui perasaan takut dan cemas, mengekspresikan persetujuan , menunjukkan dukungan dan bersikap spontan.

c. Mampu mempertahankan diri

Meliputi kemampuan untuk berkata tidak apabila diperlukan, mampu menanggapi kritik, celaan dan kemarahan dari orang lain, serta mampu mengekspresikan perasaan dan pendapat.

d. Mampu menyatakan pendapat

Meliputi kemampuan menyatakan pendapat atau gagasan, mengadakan suatu perubahan, dan menanggapi pelanggaran terhadap dirinya dan orang lain.

(27)

e. Tidak mengabaikan hak-hak orang lain

Meliputi kemampuan untuk menyatakan kritik secara adil tanpa mengancam, memanipulasi, mengintimidasi, mengendalikan dan melukai orang lain.

Rathus dan Nevid (1983) mengemukakan 10 aspek-aspek dari asertivitas sebagai berikut :

a. Bicara Asertif

Tingkah laku ini dibagi menjadi 2 yaitu rectifying statement mengemukakan hak-hak dan berusaha mencapai tujuan tertentu dalam suatu situasi dan commendatory statement memberikan pujian untuk orang lain dan memberi umpan balik positif.

b. Kemampuan mengungkapkan perasaan

Mengungkapkan perasaan kepada orang lain dan pengungkapan perasaan ini dengan suatu tingkat spontanitas yang tidak berlebihan.

c. Menyapa atau memberi salam kepada orang lain

Menyapa atau memberi salam kepada orang-orang yang ditemui, termasuk orang yang baru dikenal dan membuat suatu pembicaraan.

d. Ketidaksepakatan menampilkan cara yang efektif dan jujur untuk menyatakan rasa yang tidak setuju.

e. Menanyakan alasan

Menanyakan alasan bila diminta untuk melakukan sesuatu, tetapi langsung tidak menyanggupi atau menolak begitu saja.

f. Berbicara mengenai diri sendiri

(28)

Membicarakan diri sendiri mengenai pengalam-pengalaman dengan cara menarik, dan merasa yakin bahwa orang akan lebih berespon terhadap perilakunya daripadamenunujukkan perilaku menjauh atau menarik diri.

g. Menghargai pujian dari orang lain

h. Menolak untuk menerima begitu saja pendapat orang yang suka berdebat.

i. Menatap lawan bicara j. Respon melawan rasa takut 1.4. Ciri-ciri perilaku asertif

Lange dan Jakubowski (dalam Khiyaroh,2017) mengemukakan lima ciri- ciri individu sebagai perilaku asertif :

a. Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri

Menghormati orang lain berarti menghormati hak-hak yang mereka miliki, tetapi tidak berarti menyerah atau selalu menyetujui apa yang diinginkan orang lain. Artinya, individu tidak harus menurut dan takut mengungkapkan pendapatnya kepada seseorang karena orang tersebut lebih tua dari dirinya atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi.

b. Berani mengemukakan pendapat secara langsung

Perilaku asertif memungkinkan individu mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan kebutuhan lainnya secara langsung dan jujur. Ketika ada ide atau pendapat meskipun kritik dan saran langsung disampaikan.

c. Kejujuran

(29)

Bertindak jujur berarti mengekspresikan diri secara tepat agar dapat mengkomunikasikan perasaan, pendapat atau pilihan tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain.

d. Memperhatikan situasi dan kondisi

Semua jenis komunikasi melibatkan setidaknya dua orang dan terjadi dalam konteks tertentu. Dalam bertindak asertif, seseorang harus dapat memperhatikan lokasi, waktu, frekuensi, intensitas komunikasi dan kualitas hubungan.

e. Bahasa tubuh

Dalam bertindak asertif yang terpenting bukanlah apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Bahasa tubuh yang menghambat komunikasi, misalnya: jarang tersenyum, terlihat kaku, mengerutkan muka, berbicara kaku, bibir terkatup rapat, mendominasi pembicaraan, tidak berani melakukan kontak mata dan nada bicara tidak tepat.

2. Self Esteem

2.1. Pengertian Self Esteem

Morris Rosenberg (dalam Khairat dan Adiyanti, 2015) selaku pelopor yang memperkenalkan self esteem mengemukakan bahwa self esteem merupakan sikap positif atau negatif individu terhadap sebuah objek tertentu yang dinamakan diri (self). Ia juga mendefinisikan self esteem dalam suatu istilah yang menunjuk pada sikap atau pemikiran yang mendasari munculnya persepsi terhadap perasaan,

(30)

yaitu perasaan individu mengenai worth (rasa berharga) atau value (nilai) sebagai manusia.

Menurut Coopersmith (1967) self esteem adalah evaluasi yang dibuat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri, hal ini mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukan tingkat dimana individu itu menyakini diri sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga.

Menurut Santrok (2003) Self esteem merupakan dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Self esteem juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri. Roman (dalam Coetzee, 2005) menjabarkan self esteem sebagai kepercayaan diri seseorang, mengetahui apa yang terbaik bagi diri dan bagaimana untuk melakukannya.

2.2. Aspek-Aspek Self Esteem

Coopersmith (1967) menyebutkan terdapat empat aspek dalam self esteem individu. Aspek-aspek tersebut yaitu power, significance, virtue, dan competence.

a. Power (Kekuatan)

Kekuatan atau power menunjukan pada adanya kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dan mengontrol tingkah laku dan mendapat pengakuan atas tingkah laku tersebut dari orang lain. Kekuatan dinyatakan dengan pengakuan dan penghormatan yang diterima seorang individu dari orang lain dan adanya kualitas atas pendapat yang diutarakan oleh seorang individu yang nantinya diakui oleh orang lain.

b. Significance (Keberartian)

(31)

Keberartian atau significance menunjukan pada kepedulian, perhatian, afeksi dan ekspresi cinta yang di terima oleh seseorang dari orang lain yang menunjukkan adanya penerimaan dan popularitas individu dari lingkungan sosial.

Penerimaan dari lingkungan ditandai dengan adanya kehangatan, respon yang baik dari lingkungan dan adanya ketertarikan lingkungan terhadap individu dan lingkungan menyukai individu sesuai dengan keadaan diri yang sebenarnya.

c. Virtue (Kebajikan)

Kebajikan atau virtue menunjukan suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral dan etika serta agama dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus di hindari dan melakukan tingkah laku yang di izinkan oleh moral, etika dan agama. Dianggap memiliki sikap yang positif dan akhirnya membuat penilaian positif terhadap diri yang artinya seseorang telah mengembangkan self esteem yang positif pada dirinya sendiri.

d. Competence (Kemampuan)

Kemampuan atau competence menunjukan sustu performasi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai prestasi (need of achievement) diman level dan tugas-tugas tersebut tergantung pada variasi usia seseorang. Self esteem pada masa remaja meningkat menjadi lebih tinggi bila remaja tahu apa tugas-tugas yang penting untuk mencapai tujuannya, dan karena mereka telah melakukan tugas- tugasnya tersebut atau tugas lain yang serupa. Para peneliti juga menemukan bahwa self esteem remaja dapat meningkatkan saat remaja menghadapi masalah dan mampu menghadapinya ( dalam Santrock, 2003).

(32)

2.3. Tingkat dan Krakteristik Self Esteem a. Self Esteem Tinggi

Individu dengan self esteem tinggi cenderung puas dengan karakter dan kemampuan diri. Adanya penerimaan dan penghargaan dari yang positif ini memberikan rasa aman dalam menyesuaikan diri yang positif ini memberikan rasa aman dalam menyesuaikan diri atau bereaksi terhadap stimulus dan lingkungan sosial. Individu dengan self esteem tinggi lebih bahagia dan lebih efektif dalam menghadapi tuntutan lingkungan dari pada individu dengan self esteem rendah.

Individu dengan self esteem tinggi lebih suka mengambil peran yang aktif dalam kelompok sosial dan untuk mengekspresikan pandangannya secara terus menerus dan efektif. Tidak bermasalah dengan rasa takut dan perasaan yang saling bertentangan, tidak terbebani dengan keraguan diri, dan gangguan kepribadian, individu dengan self esteem yang tinggi terlihat bergerak secara langsung dan realistis untuk tujuan pribadinya. Individu dengan self esteem tinggi lebih mandiri menyesuaikan diri dengan situasi, menunjukan kepercayaan yang besar bahwa mereka akan berhasil.

Menurut Coopersmith (dalam Pervin dan John, 2001) individu dengan self esteem yang tinggi lebih asertif atau tegas, mandiri dan kreatif. Individu tersebut juga kurang menerima definisi sosial mengenai realita kecuali mereka menyampaikan dengan pengamatan mereka sendiri, dimana lebih fleksibel, imaginatif, dan mampu untuk menemukan soslusi orisinil terhadap suatu masalah.

b. Self Esteem Sedang

(33)

Individu yang memiliki self esteem sedang menurut Coopersmith (1967) ini memiliki ciri-ciri, sifat dan cara bertindak yang hampir sama dengan individu yang memiliki self esteem tinggi, namun terkadang individu merasa kurang yakin pada dirinya sehingga membutuhkan dukungan yang kuat dan penerimaan dari lingkungannya.

c. Self Esteem Rendah

Individu dengan self esteem rendah memiliki rasa kurang percaya diri dalam menilai kemampuan dan atribut-atribut dalam dirinya. Hal ini membuat individu tidak mampu mengekspresikan diri dalam lingkungan sosialnya. Mereka kurang mampu melawan tekanan untuk menyesuaikan diri dan kurang mampu untuk merasakan stimulus yang mengancam. Individu menarik diri dari orang lain dan memiliki persaan tertekan secara terus menerus. Individu ini merasa inferior, takut atau malu, membeci dirinya, kurang mampu menerima dirinya, dan bersikap patuh atau submissif. Individu dengan self esteem rendah menunjukan level kecemasan yang lebih tinggi, dan lebih banyak menunjukan simtom psikosomatis dan perasaan depresi.

Individu ini juga percaya bahwa mereka memiliki kesulitan yang besar dalam membentuk hubungan pertemanan ketimbang individu dengan self esteem tinggi dan rendah. Individu dengan self esteem yang rendah mungkin terlibat dalam aktivitas yang menyimpang dan memiliki masalah psikologis. Andrews dkk, (dalam Itasari, 2006) individu dengan self esteem yang tinggi secara umum memiliki pengetahuan mengenai dirinya yang lebih baik dibanding individu dengan self esteem rendah.

(34)

Self esteem yang tinggi juga berhubungan dengan keterlibatan yang aktif dalam kehidupan sehari-hari, sikap yang lebih optimis, dan kesehatan psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, individu dengan Self esteem yang rendah seringkali merasa tidak memadai dan tidak cakap, berharap untuk gagal, dan seringkali mudah menyerah. Hal ini menimbulkan kegagalan dalam kehidupan. Seseorang dengan harga diri yang rendah kurang memiliki konsepsi diri yang jelas, berpikir kurang baik mengenai diri mereka sendiri, seringkali memilih tujuan akhir yang tidak realistik atau melarikan diri juga dihadapkan pada tujuan akhir bersama, cenderung pesimistis tentang masa depan, serta memiliki reaksi-reaksi emosional dan behavioral yang merugikan dalam bentuk kritik atau berbagai macam umpan balik yang bersifat negatif. Kernis,dkk (dalam Miller, 2006).

Rosenberg (Reasoner, 2010) menjelaskan bahwa individu dengan self esteem (harga diri) yang rendah seringkali mengalami depresi dan ketidakbahagiaan, memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, menunjukan implus- implus agresivitas yang lebih besar, mudah marah dan mendendam, serta selalu menderita kareana ketidakpuasan akan kehidupan sehari-hari.

Individu dengan harga diri yang cenderung mencari bukti bahwa dirinya kurang memiliki kecakapan, sedangkan mereka yang memiliki harga diri yang tinggi memotivasi diri untuk menemukan bukti yang memperkuat semangat mereka. Mereka yang telah berhasil menampilkan diri akan mengatribusika hasil kesuksesan pada karakteristik internalnya, sedangkan individu-individu dengan harga diri yang rendah cenderung mengatribusikan kesuksesan mereka pada pengaruh eksternal.

(35)

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Esteem

Berikut faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self esteem individu (Sarandria, 2012) :

1. Faktor Parental (Keterlibatan Orang Tua)

Orang tua cukup menjadi penentu self esteem untuk seseorang. Pola asuh orang tua yang baik akan menggiring seorang anak untuk memiliki self esteem yang tinggi. Namun lain halnya dengan orang tua yang kasar dan sering mengkritik anak akan membuat anak memiliki self esteem yang rendah (negatif).

2. Faktor Jenis Kelamin

Secara umum, wanita memiliki masalah self esteem pada hal yang berhubungan dengan perasaan diterima atau ditolak oleh lingkungan, sedangkan pria cenderung untuk memiliki masalah self esteem pada hal yang berhubungan dengan kesuksesan atau kegagalan.

3. Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya

Jika seseorang berada dalam suatu kelompok lalu suatu masyarakat secara umum yang memandang rendah pada suatu kelompok tersebut, maka seseorang tersebut akan cenderung memandang rendah dirinya. Self esteem seseorang bisa saja merupakan efek dari diskriminasi lingkungan. Self esteem bisa lebih tinggi pada kelompok minoritas karena kelompok tersebut akan fokus pada suatu hal yang positif, dapat mengangkat derajat kelompok mereka atau bagi dirinya sendiri. Kelompok yang menjunjung individualisme akan menghasilkan self esteem yang tinggi, sedangkan kelompok yang tidak peduli peran individual

(36)

cenderung tidak mementingkan kesuksesan personal, sehingga mereka akan mendapatkan skor self esteem yang rendah.

2.5. Fungsi Self Esteem

Berikut terdapat beberapa pandangan mengenai fungsi dari self esteem.

(Leary & Baumeister, 2000) :

a. Kenyamanan dan Afek Positif

Seseorang yang memiliki self-esteem tinggi apabila tertimpa suatu masalah, maka ia cenderung akan menyelesaikannya dengan perasaan nyaman dan emosi yang positif, lain halnya pada seseorang yang memiliki self esteem rendah, maka ia akan cenderung bersikap murung dan memliki emosi yang negatif.

b. Keberhasilan Coping

Self esteem dapat memengaruhi diri sendiri untuk menyelesaikan suatu masalah. Seseorang yang memiliki self-esteem tinggi apabila menghadapi suatu permasalahan, maka ia akan menyelesaikannya dengan cara yang positif yang akan memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri secara positif pula, sedangkan pada self esteem yang rendah cenderung akan menghindari bahkan tidak akan menyelesaikan permasalahan tersebut.

c. Self Determination

Self esteem akan menggiring seseorang untuk memiliki suatu keyakinan untuk menentukan nasib mereka sediri. Ketika seseorang memiliki keyakinan terhadap dirinya, maka mereka akan memiliki kesehatan yang baik dan

(37)

ketertarikan terhadap sesuatu yang terintegrasi dengan baik pula seiring dengan self-esteem yang baik.

d. Kecenderungan Memiliki Jiwa Pemimpin

Apabila suatu kelompok memliki seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi, maka seseorang tersebut cenderung akan lebih menonjol dibandingkan anggota lainnya. Namun belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.

e. Mudah Mengatasi Kepanikan

Merujuk ke teori manajemen teror, maka seseorang yang memiliki motivasi untuk memiliki self esteem tinggi akan membantu mereka menyangga atau menghindari pengalaman teror yang mereka dapatkan seperti kematian atau hal-hal buruk lainnya. Selanjutnya ia akan memiliki prospek hidup yang lebih baik untuk masa depan mereka.

2.6. Meningkatkan Self Esteem

Berikut intervensi-intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-esteem. (Larasati, 2012) :

a. Pemberian Dukungan Sosial (Social Support)

Intervensi yang termasuk kategori ini adalah konseling teman sebaya yang dilakukan dengan cara melibatkan pemberian umpan balik positif terhadap klien.

Selain itu, intervensi lain yang dapat dilakukan dalam kategori ini adalah mengubah pola asuh orang tua yaitu diharapkan agar orang tua dapat menyediakan lingkungan melibatkan anak secara positif, menyediakan

(38)

kesempatan bagi anak untuk berinisiatif dan menyelesaikan masalah sendiri (sambil dibantu dengan mengajukan pilihan-pilihan).

b. Intervensi Cognitive-Behavior

Intervensi-intervensi cognitive-behavior yang terbukti meningkatkan self- esteem adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pelatihan asertivitas, pengubahan atribusi, latihan penetapan sasaran, pemecahan masalah, penjadwalan kegiatan rekreatif, penguatan diri melalui penetapan self reinforcement, pengawasan diri (self monitoring), proses evaluasi diri (self evaluative processes), dan self-instruction.

c. Pemantapan Fisik

Intervensi ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan memiliki kondisi tubuh yang prima atau menguasai keterampilan olahraga tertentu, remaja (baik laki-laki maupun perempuan) akan meningkat self esteem-nya, terutama yang berkaitan dengan aspek body image. Biasanya intervensi ini lebih efektif pada remaja laki-laki karena kompetensi fisik memiliki peranan yang lebih besar untuk meningkatkan self esteem pada laki- laki.

d. Strategi Lainnya

Strategi-strategi lain yang telah terbukti efektif meningkatkan self esteem adalah intervensi spesifik yang tergantung pada populasi yang dituju, seperti Eye- Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) yang ditujukan khusus untuk meningkatkan self esteem anak-anak dengan masalah perilaku. Selain itu, ada juga Process Based Forgiveness yang menggunakan berbagai strategi seperti

(39)

Reality Therapy, Solution Focused Therapy, Narrative Therapy, Creative Arts dan Play Therapy.

3. Anak Jalanan

3.1. Pengertian Anak Jalanan

Menurut Departemen Sosial RI (1999), pengertian tentang anak jalanan adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun yang karena berbagai faktor, seperti ekonomi, konflik keluarga hingga faktor budaya yang membuat mereka turun ke jalan. Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya (Suyanto, 2010).

UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan, yaitu Street child are those who have abandoned their homes, school and immediate communities before they are sixteen years of age, and have drifted into a nomadic street life.

Berdasarkan hal tersebut, maka anak jalanan adalah anak-anak berumur di bawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam kehidupan berpindah-pindah di jalan raya (Soedijar, 1998).

Anak jalanan, anak gelandangan, atau disebut juga secara eufimistis sebagai anak mandiri, sesungguhnya mereka adalah anak yang tersisih, marginal, dan teralienasi dari perlakuan kasih sayang. Kebanyakan dalam usia yang relatif dini mereka sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan

(40)

bahkan sangat tidak bersahabat. Di berbagai sudut kota, sering terjadi anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum (Suyanto, 2010).

Marginal, rentan, dan eksploitatif adalah istilah-istilah untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan yang tidak jelas jenjang kariernya, kurang dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun di masa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang, dari segi kesehatan maupun sosial. Adapun disebut eksploitatif karena mereka biasanya memiliki posisi tawar menawar (bargaining position) yang sangat lemah, tersubordinasi, dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenang- wenang dari keluarga, ulah preman atau oknum aparat yang tidak bertanggung jawab (Suyanto, 2010).

3.2. Ciri-Ciri Anak Jalanan

Anak jalanan pada dasarnya adalah anak-anak marginal di perkotaan yang mengalami proses dehumanisasi (Mulandar, 1996). Mereka bukan saja harus mampu bertahan hidup dalam suasana kehidupan kota yang keras, tidak bersahabat dan tidak kondusif bagi proses tumbuh kembang anak. Tetapi, lebih dari itu mereka juga cenderung dikucilkan masyarakat, menjadi objek pemerasan, sasaran eksploitasi, korban pemerkosaan dan segala bentuk penindasan lainnya.

Hal inilah yang membuat anak jalanan memiliki ciri dan karakteristik khusus, yang membedakan anak jalanan dengan masyarakat pada umumnya.

(41)

Menurut Sadli (Sudarsono, 2009) anak jalanan memiliki ciri khas baik secara psikologisnya maupun kreativitasnya, sebagai berikut :

a. Mudah tersinggung perasaannya

b. Mudah putus asa dan cepat murung

c. Nekat tanpa dapat dipengaruhi secara mudah oleh orang lain yang ingin membantunya

d. Tidak berbeda dengan anak-anak yang lainnya yang selalu menginginkan kasih sayang

e. Tidak mau bertatap muka dalam arti bila mereka diajak bicara, mereka tidak mau melihat orang lain secara terbuka

f. Sesuai dengan taraf perkembangannya yang masih kanak-kanak, mereka sangatlah labil

g. Mereka memiliki suatu keterampilan, namun keterampilan ini tidak selalu sesuai bila diukur dengan ukuran normatif masyarakat umumnya.

Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Nanda Dian Nusantara yang bergerak dalam bidang perlindungan anak pada tahun 1996, ada beberapa ciri secara umum anak jalanan antara lain :

a. Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan) selama 24 jam

(42)

b. Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, serta sedikit sekali yang lulus SD)

c. Berasal dari keluarga-keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban dan beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya)

d. Melakukan aktifitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor informal).

Keterlibatan anak jalanan dalam kegiatan ekonomi akan berdampak kurang baik bagi perkembangan dan masa depan anak, kondisi ini jelas tidak menguntungkan bahkan cenderung membutakan terhadap masa depan mereka, mengingat anak adalah aset masa depan bangsa.

3.3. Jenis Anak Jalanan

Sebagai bagian dari pekerja anak (child labour), anak jalanan sendiri sebenarnya bukanlah kelompok yang homogen. Mereka cukup beragam, dan dapat dibedakan atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orang tua serta jenis kelaminnya (Farid, 1998). Berdasarkan kajian lapangan, secara garis besar anak jalanan dibedakan dalam tiga kelompok (Surbakti, 1997) :

1. Children on the street, yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka. Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya (Soedijar, 1984). Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya

(43)

karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya.

2. Children of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu.

3. Children from families of the street, yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Walaupun anak-anak ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang- ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala risikonya.

3.4. Faktor Penyebab Anak Jalanan

Seiring dengan berkembangnya waktu, fenomena anak jalanan atau pekerja anak banyak terkait dengan alasan ekonomi keluarga (kemiskinan) dan kecilnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Pendapatan orang tua yang sangat sedikit tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehingga memaksa mereka untuk ikut bekerja. Menurut Mulandar (1996), penyebab dari fenomena anak bekerja antara lain :

a. Dipaksa orang tua

b. Tekanan ekonomi keluarga

c. Diculik dan terpaksa bekerja oleh orang yang lebih dewasa

(44)

d. Asumsi dengan bekerja bisa digunakan sebagai sarana bermain

e. Pembenaran dari budaya bahwa sejak kecil anak harus bekerja.

Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak terjerumus dalam kehidupan di jalanan antara lain :

a. Kesulitan keuangan b. Tekanan kemiskinan

c. Ketidakharmonisan rumah tangga d. Hubungan orang tua dan anak

Kombinasi dari faktor ini sering kali memaksa anak-anak mengambil inisiatif mencari nafkah atau hidup mandiri di jalanan. Kadang pengaruh teman atau kerabat juga ikut menentukan keputusan hidup di jalanan. Studi yang dilakukan Depsos Pusat dan Unika Atma Jaya Jakarta (1999) di Surabaya yang mewawancarai 889 anak jalanan di berbagai sudut kota menemukan bahwa faktor penyebab atau alasan anak memilih hidup di jalanan adalah karena kurang biaya sekolah (28,2%) dan (28,6%) membantu pekerjaan orang tua (Suyanto, 2010).

Pada batas-batas tertentu, memang tekanan kemiskinan merupakan kondisi yang mendorong anak-anak hidup di jalanan. Namun, bukan berarti kemiskinan merupakan satu-satunya faktor determinan yang menyebabkan anak lari dari rumah dan terpaksa hidup di jalanan. Menurut penjelasan Baharsjah, kebanyakan anak bekerja di jalanan bukanlah atas kemauan mereka sendiri, melainkan sekitar

(45)

60% di antaranya karena dipaksa oleh orang tua. Biasanya, anak-anak yang memiliki keluarga, orang tua penjudi dan peminum alkohol, relatif lebih rawan untuk memperoleh perlakuan yang salah. Pada kasus semacam ini, ibu sering kali menjadi objek perasaan ganda yang membingungkan. Ia dibutuhkan kasih dan perlindungannya, namun sekaligus dibenci karena perbuatannya (Farid, 1998).

Anak yang hidup dengan orang tua yang terbiasa menggunakan bahasa kekerasan seperti, menampar anak karena kesalahan kecil, melakukan pemukulan sampai dengan tindak penganiayaan. Apabila semuanya sudah dirasa melampaui batas toleransi anak itu sendiri, maka mereka akan cenderung memilih keluar dari rumah dan hidup di jalanan. Bagi anak jalanan sendiri, sub-kultur kehidupan urban menawarkan kebebasan, kesetiaan dan dalam taraf tertentu juga

“perlindungan” kepada anak-anak yang minggat dari rumah akibat diperlakukan salah, telah menjadi daya tarik yang luar biasa. Menurut Farid (1998), makin lama anak hidup di jalan, maka makin sulit mereka meninggalkan dunia dan kehidupan jalanan itu.

3.5. Masalah Anak Jalanan

Anak jalanan biasanya melakukan berbagai pekerjaan di sektor informal, baik yang legal maupun yang ilegal di mata hukum untuk bertahan hidup di tengah kehidupan kota yang keras. Ada yang bekerja sebagai pedagang asongan di kereta api dan bus kota, menjajakan koran, menyemir sepatu, mencari barang bekas atau sampah, mengamen di perempatan lampu merah, tukang lap mobil, dan tidak jarang pula ada anak-anak jalanan yang terlibat pada jenis pekerjaan berbau

(46)

kriminal, mengompas, mencuri, bahkan menjadi bagian dari komplotan perampok.

Tantangan kehidupan yang mereka hadapi pada umumnya memang berbeda dengan kehidupan normatif yang ada di masyarakat. Dalam banyak kasus, anak jalanan sering hidup dan berkembang di bawah tekanan dan stigma atau cap sebagai pengganggu ketertiban. Perilaku mereka sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari stigma sosial dan keterasingan mereka dalam masyarakat.

Tidak ada yang berpihak kepada mereka, justru perilaku mereka sebenarnya mencerminkan cara masyarakat memperlakukan mereka, serta harapan masyarakat terhadap perilaku mereka (Suyanto, 2010). Studi Hadi Utomo (1998) menemukan, bahwa anak-anak jalanan cenderung rawan terjerumus dalam tindakan salah. Salah satu perilaku menyimpang yang populer di kalangan anak- anak jalanan adalah ngelem, secara harafiah berarti menghisap lem. Di perkirakan 65-70% anak yang seharian hidup dan mencari nafkah di jalanan pernah menggunakan zat ini.

4. Hubungan Perilaku Asertif dan Self Esteem pada Anak Jalanan Remaja

Hubungan antara perilaku asertif dengan self esteem (harga diri) dapat terjadi karena adanya keuntungan apabila seorang anak jalanan remaja dapat berperilaku asertif dan mempunyai harga diri, remaja tersebut dapat menyampaikan kebutuhannya untuk dimengerti orang lain tanpa ada pihak yang tersakiti. Hal ini dapat meminimalkan konflik serta dapat mengendalikan

(47)

hidupnya. Hal ini berdampak pada rasa percaya diri anak jalanan remaja (Ginting, B.O & Masykur, A.M, 2014).

Fenomena yang terjadi pada anak jalanan khususnya pada usia remaja sangat sulit untuk mengembangkan perilaku asertif dan self esteem. Hal ini disebabkan karena anak jalanan remaja takut ditolak oleh lingkungannya sendiri, terutama oleh teman sebaya karena dianggap tidak sama dengan teman sebaya yang lain. Dalam penelitian Gozali (2012) menjelaskan bahwa teman sebaya yang tidak sama dengan anak jalanan dapat menghambat perilaku asertif dan self esteem hingga mengakibatkan anak jalanan merasa direndahkan. Sehingga rendahnya pencapaian semua aspek, yang diurutkan dari kurangnya kemampuan untuk menyatakan keyakinan, kemampuan untuk mempertahankan hak-hak pribadi, kemampuan untuk memahami ketakutan dan keyakinan yang irasional, dan terakhir kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran.

Menurut penelitian Sipayung (2007) berperilaku asertif dapat meningkatkan harga diri (self esteem), peningkatan penghargaan diri menghasilkan rasa dan sikap percaya diri, rasa berharga kuat, perasaan mampu dan berguna. Perilaku asertif dan self esteem sangat berperan bagi anak jalanan khususnya pada usia remaja agar dapat berkembang sesuai dengan harapan- harapan sosial serta terhindar dari perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma di masyarakat. Berperilaku asertif dan penghargaan diri (self esteem) dalam perkembangan pada fase remaja sangat berperan dalam memunculkan sebuah perilaku asertif atau perilaku terbuka dan mempunyai self esteem (harga diri).

(48)

KERANGKA PENELITIAN

1. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan gambaran tentang hubungan antar konsep atau variabel yang akan diamati atau diukur melalui penelitian yang dilakukan (Notoatmodjo, 2012).

Pada penelitian ini, peneliti meneliti tentang hubungan perilaku asertif dengan self esteem pada anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

Berdasarkan kajian teoritis yang ada, maka kerangka konsep penelitian ini adalah:

(Variabel bebas) (Variabel terikat)

Skema 1.1 Kerangka konsep penelitian

Self Esteem

1. Power (Kekuatan)

2. Significance (Keberartian) 3. Virtue (Kebajikan)

4. Competence (Kemampuan)

( Coopersmith , 1967 ) Perilaku Asertif

1. Bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri.

2. Mampu mengekspresikan perasaan jujur dan nyaman.

3. Mampu mempertahankan diri.

4. Mampu menyatakan pendapat.

5. Tidak mengabaikan hak-hak orang lain.

(Alberti dan Emmons , 2002 )

(Alberti dan Emmons , 2002 )

(49)

2. Defenisi Operasional

VARIABEL DEFENISI

OPERASIONAL

ALAT UKUR HASIL UKUR SKALA

Perilaku asertif

Kemampuan yang dimiliki anak jalanan remaja Rumah

Singgah Kopa Medan dalam menyampaikan perasaan secara jujur tanpa perasaan cemas terhadap orang lain.

Kuisioner berdasarkan aspek perilaku asertif Alberti

& Emmons dengan jumlah 10 pernyataan dengan

menggunakan skala Likert

41-50= Baik

10-40= Tidak Baik

Ordinal

Self- esteem Penilaian anak jalanan remaja Rumah

Singgah Kopa Medan tentang dirinya yang meliputi kekuatan, keberartian, kebajikan, dan kemampuan

Kuisioner berdasarkan Coopersmith Self Esteem Inventory (CSEI) yang dikembangkan oleh

Coopersmith dengan jumlah 10 pernyataan dengan menggunakan skala Likert

12-16=Rendah 17-48= Sedang 49-60=Tinggi

Ordinal

2.1 Tabel Defenisi Operasional

(50)

3. Hipotesis Penelitian

Dalam penelitian ini Ha yang berarti ada hubungan yang signifikan antara perilaku asertif dengan self-esteem pada anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

(51)

1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain penelitian dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku asertif dengan self esteem pada anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

2.1. Populasi

Populasi penelitian adalah yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian kemudian ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2018). Populasi dalam penelitian ini adalah anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan yaitu 40 orang. Data tersebut didapatkan peneliti dari Rumah Singgah Kopa Medan.

2.2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang memiliki populasi (Sugiyono, 2018). Teknik pengambilan sampel pada penelititan menggunakan purposive sampling sehingga anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan, yaitu 40 orang dengan mengidentifikasi adanya

(52)

2.3. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang berdasarkan atas suatu pertimbangan tertentu seperti sifat-sifat populasi ataupun ciri-ciri yang sudah diketahui sebelumnya, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 orang anak jalanan remaja di Rumah Singgah Kopa Medan.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilaksanakan peneliti yaitu di Rumah Singgah Kopa Medan, alasan peneliti memilih Rumah Singgah Kopa Medan sebagai lokasi penelitian karena merupakan dengan populasi anak jalanan yang cukup tinggi dan disana banyak anak jalanan yang mengalami masalah seperti, memakai obat-obatan terlarang, melakukan tindakan criminal, menjadi pelaku kekerasan dan lain-lain, selain itu belum pernah dilakukan penelitian mengenai Hubungan Perilaku Asertif dengan Self-Esteem pada Anak Jalanan di Rumah Singaah Kopa Medan.

3.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan dari bulan April sampai Januari 2021 dengan pembagian pada bulan april sampai oktober melakukan penyusunan proposal, awal bulan Desember sampai awal bulan Januari 2021 melakukan penelitian.

(53)

4. Pertimbangan Etik Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan setelah peneliti lulus uji etik dari Komisi Etik Penelitian Universitas Sumatera Utara dan mendapatkan izin dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Prosedur penelitian yang dijelaskan adalah bahwa penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara maupun izin dari Rumah Singgah Kopa Medan. Sebelum melakukan penelitian, peneliti akan menyerahkan lembar persetujuan (informed consent) bersedia sebagai responden. Peneliti terlebih dahulu peneliti menjelaskan maksud, tujuan, dan prosedur penelitian yang akan dilaksanakan serta menyakinkan bahwa informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiannya dan tidak akan dipergunakan dalam hal yang dapat merugikan responden dan hanya akan dipergunakan selama penelitian. Setelah dijelaskan kepada responden, bagi responden yang bersedia untuk diteliti maka peneliti menyerahkan lembar persetujuan untuk ditandatangani sebagai bukti telah berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini :

a. Lembar Persetujuan

Lembar persetujuan adalah lembar yang akan diberikan kepada responden sebelum dilakukannya penelitian. Lembar persetujuan ini diberikan agar responden mengetahui maksud dan tujuan dari penelitian ini. Jika responden bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan, jika tidak bersedia maka peneliti harus menghormati keputusan responden.

b. Kerahasiaan

(54)

Kerahasiaan merupakan masalah etika dalam menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun masalah lainnya. Semua informasi yang sudah di kumpulkan akan dijamin kerahasiannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan mendapat laporan pada hasil penelitian.

c. Tanpa Nama

Hal ini dilakukan agar menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner, melainkan dengan memberi nomor atau kode dan menggunakan inisial saja pada lembar pengumpulan data.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian atau instrumen pengumpulan data ialah alat bantu yang dipergunakan untuk penelitian atau kegiatan mengumpulkan data supaya kegiatan tersebut menjadi sistematis (Sugiyono, 2016). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari tiga bagian yaitu kuesioner data demografi, kuesioner perilaku asertif dan kuesioner Self-Esteem.

5.1. Kuesioner Data Demografi

Kuesioner data demografi pada anak jalanan berisi pertanyaan tentang identitas responden yang meliputi inisial, jenis kelamin, umur, suku, agama dan pendidikan responden.

Referensi

Dokumen terkait

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Berisiko Seks Bebas Anak Jalanan Di Rumah Singgah Kota

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) perilaku seksual anak jalanan di RSB Diponegoro, dan 2) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual anak jalanan di RSB

PENGARUH PARENT ATTACHMENT , EMOTIONAL REGULATION DAN SELF-ESTEEM TERHADAP. PERILAKU SELF INJURY

Untuk mengetahui hubungan antara body image dan self esteem terhadap perilaku diet pada remaja putri SMA Santo Thomas 1 Medan, maka hipotesis yang ditegakkan dalam penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk untuk menguji adanya hubungan antara self-esteem dengan perilaku seksual pada remaja awal.Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMPN

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan antara perilaku asertif dengan interaksi sosial pada remaja, dimana semakin tinggi perilaku asertif maka semakin tinggi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self esteem terhadap perilaku diet pada remaja putri di SMA Santo Thomas 1 Medan.. Penelitian ini

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian yang telah dianalisis, dapat dikatakan bahwa remaja yang memiliki perilaku asertif yang tinggi juga menunjukkan bahwa terjadi