BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Permasalahan bullying telah banyak terjadi dikalangan masyarakat berupa tindakan yang dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung, selain itu bullying menjadi salah satu topik perbincangan panas yang sering kali menjadi topi pembahasan tertentu baik dalam ranah ilmiah. Kowalski et al. (2012:12) menyatakan bahwa Bullying sendiri merupakan perilaku negatif yang dilakukan seseorang atau kelompok yang mengakibatkan orang lain menderita atau memiliki dampak negatif pada korban. Tindakan mem-bully sangat beragam mulai dari hal kecil seperti mengejek, menyebarkan suatu rumor, menghasut, mengucilkan orang lain, mengintimidasi, mengancam bahkan sampai menindas. Perilaku Bullying juga kerap kali menimbulkan perilaku yang ekstrem misalnya berupa penyerangan secara fisik. Bullying juga dapat memberikan dampak yang sangat serius bagi korbannya, seperti mengalami perasaan takut, tidak nyaman di lingkungan sekitarnya, dan bahkan memicu tindakan bunuh diri karena perlakuan yang tidak baik kepada mereka sebagai korban bullying.
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, praktik bullying yang semula dilakukan seseorang atau kelompok melalui interaksi secara langsung kini mulai bergeser. Pelaku bullying kini bisa melakukan tindakannya kapanpun dan dimanapun karena adanya teknologi internet yang memudahkan seseorang dapat terhubung secara tidak langsung dan tidak berada pada satu tempat bersama, hal tersebut disebut sebagai “Cyberbullying” (Kowalski, 2012:57). Merujuk pada uraian yang disampaikan dalam KBBI, Kata “bullying” disamakan dengan kata
“perundungan” yaitu kata dengan sumber atau awalan berupa “rundung”, dan memiliki arti sebagai perilaku mengganggu dan menyusahkan orang lain denga perilak yang diulang-ulang. Sementara perundungan yang dilakukan dengan menggunakan jejaring sosial dan ponsel merupakan perundungan siber atau dipadankan sebagai Cyberbullying. Selain itu, dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin berkembang saat ini berdampak negatif
pada perilaku mem-bully. Hal ini selaras dengan kajian data yang dimuat oleh APJII dalam laporan Kompas (2019) yang diketahui bahwa dari sebanyak 5.900 orang responden, terdapat sebanyak 49% responden menyatakan bahwa mereka pernah di-bully. Selanjutnya dari 49% tersebut diketahui bahwa sebanyak 32% responden mengaku tidak memperdulikan bullying yang mengarah kepadanya, sedangkan sebesar 8% menyatakan bahwa mereka membalas bullying tersebut kepada orang yang yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Merunut pada penjabaran data di atas maka bisa ditarik benang merah bahwa di Indonesia kerap kali terjadi tindakan bullying. Padahal jika dikaji lebih jauh, maka akan terlihat bahwa perilaku bullying tersebut berdampak buruk kepada pihak lain yang merupakan korban. Hal ini dijelaskan oleh Zakiyah et al. (2018:
267) bahwa korban dari perilaku bullying akan berdampak pada dua hal yaitu berkaitan dengan dampak sementara dan dampak dalam masa waktu yang panjang, pada jangka pendek akan timbul berupa efek negatif kesehatan psikis dan konsekuensi akademik, termasuk berkurangnya self-esteem atau kepercayaan diri.
Sedangkan pada aspek jangka panjang akan berdampak pada kegagalan tugas perkembangan, misalnya tidak mampu menemukan identitas atau jati dirinya dengan mudah.
Salah satu platform yang sering terjadi tindakan bullying adalah YouTube, hal ini disampaikan oleh Marathe dan Shirsat (2015: 680) bahwa YouTube merupakan platform yang seringkali memiliki unsur bullying, meskipun sebenarnya tindakan bullying merupakan hal yang dilarang oleh pengembang YouTube.
Namun hal ini tetap kurang efektif, dikarenakan pada kenyataannya masih banyak konten yang mengandung kekerasan dan unsur perundungan yang bisa ditemukan dalam platform tersebut. Selain terkait dengan konten, pengguna YouTube juga memiliki kesempatan untuk memberikan komentar kepada konten yang dimuat oleh pengguna lain melalui kolom komentar yang disediakan oleh platform tersebut.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Mutma (2019: 180) diketahui bahwa 65% responden yang terdiri dari mahasiswa di Indonesia menyatakan setuju mengenai pernyatan yang menyatakan bahwa platform YouTube termasuk salah
tersebut secara umum sering ditemukan pada ulasan atau review serta komentar secara langsung pada bagian bawah video yang dilontarkan orang pada postingan video seseorang dan cenderung bernada negatif. Komentar yang dilontarkan seringkali memiliki unsur mem-bully dan menggangu orang lain. Berangkat dari kejadian tersebut yang didukung berdasarkan data maka peneliti kemudian memfokuskan penelitian ini pada kasus Cyberbullying pada platform YouTube khusunya komentar negatif yang terdapat pada Channel Lutfi Agizal.
Alasan pemilihan Channel Lutfi Agizal adalah karena channel tersebut pernah mengeluarkan statement mengenai ucapan “anjay” yang kemudian direspon oleh pengguna YouTube lain dengan cara memberikan komentar negatif pada kolom komentar tersebut.
Video yang berjudul “Ngomong anjay bisa merusak moral bangsa” Menuai Pro dan kontra dari beberapa pihak. Hal ini dapat terjadi karena menurut beberapa netizen kata “Anjay” sendiri sudah lama dan sudah biasa digunakan dalam keseharian anak muda, dan netizen atau pengguna Youtube tersebut menganggap bahwa Lutfi Algizal hanya mencari keuntungan dari pembahasan kata “Anjay” di video yang ia unggah.
Salah satu indikator yang biasanya memiliki komentar yang bernada mengejek, bullying serta terkesan memojokkan content creator atau pihak yang mengunggah video youtube yaitu jumlah pengguna yang tidak menyukai (dislike) lebih banyak dari pada jumlah pengguna yang menyukai (like), selain itu juga bisa dilihat secara jelas adanya komentar yang terdapat pada kolom tersebut. Salah satu video yang memiliki indikator yang disebutkan adalah video yang diunggah pada tanggal 19 Agustus 2020 dengan judul “Ngomong Anj*y Bisa Merusak Moral Bangsa!!!” memiliki jumlah like sebanyak 3,6 ribu sedangkan jumlah dislike sebanyak 200 ribu. Berdasarkan beberapa indikator tersebut yang berhasil diidentifikasi dari kanal “Lutfi Agizal”, maka terdapat beberapa kata kasar yang terkesan mengejek dan memojokkan Lutfi Agizal sebagaimana diuraikan pada ilustrasi berikut.
Gambar 1.1 Komentar Negatif Oleh Akun Hii Dapzz
Pada gambar di atas diketahui bahwa komentar dari akun Hii Dapzz tersebut ditujukan kepada Lutfi Agizal yang menyatakan bahwa Lutfi Agizal selaku orang yang memiliki akun @Lutfi Agizal dan bertindak sebagai kreator konten khususnya pada video yang berjudul “Ngomong Anj*y Bisa Merusak Moral Bangsa!!!”. Pada komentar tersebut berisi Cyberbullying yang mengarah pada Flaming yaitu mengirim komenter berupa tulisan yang menyakiti dan memalukan dengan kalimat yang berisi “bodoh”. Selanjutnya terdapat pula komentar negatif yang disampaikan oleh akun Abdi Subowo yaitu sebagai berikut.
Gambar 1.2 Komentar Negatif Oleh Akun Abdi Subowo
Pada komentar negatif yang ditunjukkan oleh gambar tersebut, diketahui bahwa komentar yang dilayangkan oleh Abdi Subowo tersebut merupakan komentar negatif yang ditujukan kepada Lutfi Agizal yang mengarah pada Cyberbullying pada aspek flaming yaitu menghina Lutfi Agizal dan adanya penggunaan kata senonoh atau vulgar berupa “kontol”. Pada beberapa temuan awal tersebut maka dapat diketahui bahwa pada unggahan video oleh kanal “Lutfi Agizal” terdapat beberapa indikator bullying yang dilakukan menggunakan media sosial internet atau yang lebih dikenal dengan istilah Cyberbullying. Rudi (2010: 5) menyatakan bahwa Cyberbullying bisa muncul karena pelaku mempunyai berbagai macam dorongan dan ingin memiliki kekuasaan di dunia cyber, murka pada pihak
buat menghibur diri sendiri misalnya merasa senang dengan mendapatkan respon dari tindakannya, serta adapula yang disebabkan unsur tidak sengaja.
Pemilihan tema pada penelitian ini didasarkan karena berkembangnya kasus Cyberbullying saat ini, perkembangan kasus Cyberbullying juga didukung oleh perkembangan teknologi gadget yang membuat pengguna semakin leluasa untuk memberikan komentar kepada orang lain baik yang dikenal atau bahkan orang yang tidak dia kenal. Selain itu, topik yang diambil dalam penelitian ini juga dikarenakan banyaknya kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh Cyberbullying, misalnya terkait permasalahan di Amerika Serikat yakni Megan Meier yang memilih buat bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di kamar sesudah menerima kekerasan ekspresi dalam akun media sosial MySpace miliknya (Mawardah dan Adiyanti, 2014: 61).
masalah selanjutnya yaitu adanya masalah bunuh diri seorang seniman Korea Selatan (Lee Jin Ri alias Sulli) karena komentar buruk yang dilakukan sang pengguna lain yang tidak bertanggung jawab dalam media sosialnya. seperti yang di tulis pada laporan harian Kompas (2019) bahwa Sulli ditemukan oleh managernya dalam keadaan tergantung pada lantai 2 rumahnya. Sedangkan di Indonesia sendiri diketahui laporan KPAI bahwa pada kurun waktu 9 tahun terakhir, sejak 2011 sampai 2019, ada 37.381 aduan yang masuk ke Komisi proteksi Anak Indonesia (KPAI). Berasal jumlah tadi, pelaporan masalah bullying atau perundungan, pada global pendidikan juga media umum mencapai 2.473 laporan (Republik, 2020).
Meskipun terdapat persamaan dengan beberapa penelitian tersebut, namun dalam penelitian ini memiliki ciri khusus yang membedakan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada kajian objek yang digunakan yaitu tentang respon netizen kepada Lutfi Agizal yang mempermasalahkan kata “Anjay”
karena dianggap tidak layak digunakan dalam bahasa sehari-hari dan dianggap mirip dengan nama hewan berupa anjing. Jika pada penelitian sebelumnya lebih difokuskan pada perilaku seseorang yang dianggap tidak pantas dan lebih berkaitan dengan kehidupan pribadinya seperti yang dialami oleh Lee Jin Ri alias Sulli yang dianggap tidak pantas karena menjalin hubungan dengan Dynamic Duo. Namun pada kasus Lutfi Agizal yang menjadi permasalahannya adalah berkaitan dengan
pendapat dari Lutfi Agizal tentang penggunaan kata “anjay” karena tidak akan lagi menggambarkan keramahan dan keberadaban pada remaja. Karena pendapat dari Lutfi Agizal tersebut sehingga dia mendapat perundungan berupa cyberbullying oleh netizen. Berdasarkan beberapa poin penting diatas, maka penting rasanya melakukan penelitian mengenai “Praktik Cyberbullying di Channel YouTube Lutfi Agizal (Studi Pada Komentar negatif)” yang saat ini terus mendapatkan komentar buruk oleh netizen.
1.2 Rumusan Masalah
Merunut pada penyampaian sub bab di atas, sehingga rumusan masalah dalam riset ini dinyatakan sebagai berikut “Seberapa banyak frekuensi Cyberbullying muncul dalam komentar di Channel YouTube Lutfi Agizal dalam postingan Ngomong Anjay Bisa Merusak Moral Bangsa?”
1.3 Tujuan Penelitian
Merunut pada penyampaian sub bab di atas, sehingga tujuan dari riset ini dinyatakan sebagai berikut “Untuk mengetahui banyaknya frekuensi Cyberbullying muncul dalam komentar di Channel YouTube Lutfi Agizal dalam postingan Ngomong Anjay Bisa Merusak Moral Bangsa”.
1.4 Manfaat Penelitian
Merunut pada penyampaian sub bab di atas tentang tujuan riset, sehingga manfaat dalam riset ini dinyatakan sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Akademis
Manfaat akademis penelitian ini diharapkan dapat menyampaikan manfaat sebagai referensi buat penelitian yang berfokus pada Cyberbullying di media umum YouTube, serta bagi peneliti lain dapat dijadikan menjadi acuan atau rujukan terhadap pengembangan ataupun pembuatan penelitian yang memakai metode etnografi virtual (netnografi) maupun analisis isi serta penelitian tentang kenyataan perudungan yang menekankan pada kajian deskriptif kuantitatif.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis berasal hasil penelitian ini diharapkan bisa memberi
penggunaan YouTube sebagai media Cyberbullying. akibat asal penelitian ini dapat menyadarkan warga bahwa terdapat beberapa kalimat kasar atau tidak sopan di media sosial YouTube yang merujuk di jenis-jenis Cyberbullying khususnya di platform YouTube.