STUDI KOMPARASI UPAYA MENUJU IMPLEMENTASI KAMPUS HIJAU UNIVERSITAS NUSA CENDANA DAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
TESIS
Diajukan Oleh:
Martina Kaisriani Rupa 182222117
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2021
i
STUDI KOMPARASI UPAYA MENUJU IMPLEMENTASI KAMPUS HIJAU UNIVERSITAS NUSA CENDANA DAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
TESIS
UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN MENCAPAI DERAJAT SARJANA S-2
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
Diajukan Oleh:
Martina Kaisriani Rupa 182222117
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2021
ii
iii
iv
UNIVERSITAS SANATA DHARMA FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, dengan ini menyatakan bahwa Tesis dengan judul:
STUDI KOMPARASI UPAYA MENUJU IMPLEMENTASI KAMPUS HIJAU UNIVERSITAS NUSA CENDANA DAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
Dan diajukan untuk diuji pada tanggal 25 Februari 2021 adalah hasil kerja saya.
Saya juga menyatakan bahwa dalam Tesis ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat ataupun simbol yang menunjukkan gagasan, pendapat, ataupun pemikiran dari penulis lain yang saya seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, saya tiru, atau saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan (disebutkan dalam referensi) pada penulisan saya.
Bila di kemudian hari terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan tersebut, maka saya bersedia menerima sanksi, yaitu Tesis ini digugurkan dan gelar akademik yang saya peroleh (M.M) dibatalkan serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No 20 Tahun 2003, pasal 25 dan pasal 27).
Yogyakarta, 26 Februari 2021 Yang membuat pernyataan,
Martina Kaisriani Rupa
v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Martina Kaisriani Rupa
Nomor Induk Mahasiswa : 182222117
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
STUDI KOMPARASI UPAYA MENUJU IMPLEMENTASI KAMPUS HIJAUUNIVERSITAS NUSA CENDANA DAN UNIVERSITAS KATOLIK
WIDYA MANDIRA
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademik tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan loyalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal 26 Februari 2021
Yang menyatakan,
Martina Kaisriani Rupa
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terimakasih Tuhan Yesus atas limpahan rahmat serta berkat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal tesis ini. Penulisan tesis ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen Program Studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Dalam menyelesaikan tesis ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada:
1. Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., selaku Rektor Universitas Sanata Dharma.
2. T. Handono Eko Prabowo, MBA, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.
3. Dr. Titus Odong Kusumajati M.A selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma.
4. Dr.Fransisca Ninik Yudianti, M.Acc.,Qia.selaku dosen pembimbing tesis yang selalu membantu, mengarahkan, meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
5. Dr. Lukas Purwoto, M.Si selaku dosen penguji kolokium dan tesis yang telah meluangkan waku, tenaga, dan pikiran untuk memberikan masukan, perbaikan, dan dukungan kepada penulis.
vii
6. Dr. C. Wahyu Estining Rahayu, M.Si. selaku dosen pembahas proposal Tesis yang telah memberi masukan dan saran untuk perbaikan tesis ini.
7. Prof. Ir. Fredik L. Benu, M.Si., Ph.D, selaku Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang yang telah memberikan izin dan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian ini.
8. Pater Dr. Philipus Tule, SVD, selaku Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang telah memberikan izin dan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian ini.
9. Segenap Wakil Rektor, Dosen, Staf, dan Mahasiswa yang menjadi narasumber penelitian di Universitas Nusa Cendana Kupang atas waktu, tenaga, dan pikiran yang diluangkan untuk memfasilitasi penulis sehingga sangat membantu dalam kelancaran proses penelitian ini.
10. Segenap Wakil Rektor, Dosen, Staf, dan Mahasiswa yang menjadi narasumber penelitian di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang atas waktu, tenaga, dan pikiran yang diluangkan untuk memfasilitasi penulis sehingga sangat membantu dalam kelancaran proses penelitian ini.
11. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma yang telah membagikan ilmu dan pengalamannya selama proses perkuliahan.
viii
12. Segenap staf MM USD, Mbak Dhanik dan Mas Romi yang sudah banyak membantu dalam berbagai keperluan dan kegiatan yang penulis lakukan.
13. Keluarga tercinta dan orang – orang terkasih yang memberikan banyak doa, dukungan, semangat, dan motivasi dalam menyelesaikan tesis ini.
Khususnya Bapak Hans Rupa, Mama Filomena Weleurat, kedua adik Maria Imaculata Rupa, Makaria Elisabet Rupa, serta A. Efrem Angi.
14. Teman-teman kuliah Proffesional Regular Program BATCH 1 Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma yaitu Goda, Winda, Cesa, Vili, Vivin, Amanda, Beni, Alfa, Boy, Sepri, Carlos, Krisna, Ivan, Frando, Fernando, Niko, Agnes, Asih, Povy, Sudek.
15. Sahabat-sahabat terkasih atas doa dan dukungan semangat dalam setiap proses penyelesaian tesis ini.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu dan telah membantu dalam proses penyelesaian tesis ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam materi maupun penyajian tesis ini maka pengembangan dan penyempurnaan tesis ini akan sangat berguna bagi kita semua. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, 26 Februari 2021
Martina Kaisriani Rupa
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBINGError! Bookmark not defined.
LEMBAR PERSETUJUAN TIM PENGUJI TESIS .. Error! Bookmark not defined.
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH ... iv
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
ABSTRAK ... xv
ABSTRACT ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
A. Akuntansi Manajemen Lingkungan ... 12
B. Sustainable Development Goals ... 15
C. Global Reporting Initiative & Sustainibility Report ... 16
D. Teori Legitimasi... 18
E. Kampus Hijau ... 20
F. UI Green Metric ... 21
G. Penelitian Terdahulu ... 25
x
BAB III METODE PENELITIAN... 29
A. Jenis Penelitian ... 29
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 30
D. Sumber Data ... 30
E. Metode Pengumpulan Data... 32
F. Kredibilitas Data ... 34
G. Variabel Penelitian... 35
H. Pengukuran Variabel ... 36
I. Teknik Analisis Data ... 39
BAB IV DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN ... 45
A. Profil Universitas Nusa Cendana ... 45
1. Sejarah Singkat Universitas Nusa Cendana ... 45
2. Logo Universitas Nusa Cendana ... 50
3. Visi dan Misi Universitas Nusa Cendana ... 50
4. Struktur Organisasi Universitas Nusa Cendana ... 51
B. Profil Universitas Katolik Widya Mandira ... 52
1. Sejarah Singkat Universitas Katolik Widya Mandira ... 52
2. Letak Universitas Katolik Widya Mandira... 53
3. Logo Universitas Katolik Widya Mandira ... 54
4. Visi dan Misi Universitas Katolik Widya Mandira ... 56
5. Motto Universitas Katolik Widya Mandira ... 56
6. Struktur Organisasi Universitas Katolik Widya Mandira ... 56
BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 59
A. Kebijakan Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam pengimplementasian Kampus Hijau ... 59
1. Kebijakan Universitas Nusa Cendana dalam pengimplementasian Kampus Hijau ... 59
2. Kebijakan Universitas Katolik Widya Mandira dalam pengimplementasian Kampus Hijau ... 65
3. Komparasi Kebijakan Kampus Hijau Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira ... 68
xi
B. Penerapan Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas
Katolik Widya Mandira ... 70
1. Penerapan Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana ... 70
2. Penerapan Kampus Hijau di Universitas Katolik Widya Mandira ... 84
3. Komparasi Penerapan Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Nusa Cendana ... 94
C. Hambatan dalam Implementasi Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira ... 110
1. Hambatan Universitas Nusa Cendana dalam pengimplementasian Kampus Hijau ... 110
2. Hambatan Universitas Katolik Widya Mandira dalam pengimplementasian Kampus Hijau ... 113
BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN ... 121
A. Kesimpulan ... 121
B. Keterbatasan Penelitian ... 123
C. Saran ... 124
DAFTAR PUSTAKA ... 125
LAMPIRAN ... 129
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Penataan dan Infrastruktur (SI) ... 22
Tabel 2. 2 Energi dan Perubahan Iklim (EC) ... 22
Tabel 2. 3 Limbah (WS)... 23
Tabel 2. 4 Air (WR) ... 23
Tabel 2. 5 Transportasi (TR) ... 24
Tabel 2. 6 Pendidikan dan Penelitian (ED) ... 24
Tabel 3. 1 Pertanyaan Kebijakan Universitas Dalam Penerapan Kampus Hijau ... 36
Tabel 3. 2 Penerapan Kampus Hijau Berdasarkan UI GreenMetric ... 37
Tabel 3. 3 Hambatan Penerapan Kampus Hijau Untuk Manajemen Universitas ... 37
Tabel 3. 4 Hambatan Penerapan Kampus Hijau Untuk Dosen, Staf, dan Mahasiswa ... 38
Tabel 5. 1 Kebijakan Kampus Hijau ... Error! Bookmark not defined. Tabel 5. 2 Penerapan Kampus Hijau di UNDANA dan UNWIRA ... 94
Tabel 5. 3 Hambatan Kampus Hijau di UNDANA dan UNWIRA ... 114
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1 Kerangka Penelitian ... 44
Gambar 4. 1 Logo Universitas Nusa Cendana ... 50
Gambar 4. 2 Struktur Organisasi Universitas Nusa Cendana ... 51
Gambar 4. 3 Logo Universitas Katolik Widya Mandira ... 54
Gambar 5. 1 Peresmian kerjasama UNDANA dan PLN terkait EBT... 59
Gambar 5. 2 Penataan Taman Kampus di UNDANA... 72
Gambar 5. 3 Area Kampus Berupa Hutan ... 72
Gambar 5. 4 Penggunaan Paving Block sebagai infratstruktur Jalan ... 73
Gambar 5. 5 Monitor Layar LED ... 75
Gambar 5. 6 Penerangan Lampu LED ... 76
Gambar 5. 7 Penerangan Lingkungan kampus Menggunakan Solar Panel ... 76
Gambar 5. 8 Tempat Pengolahan Sampah Organik Menjadi Pupuk ... 78
Gambar 5. 9 Area Penampungan Air ... 80
Gambar 5. 10 Mobil dan Bus Kampus ... 81
Gambar 5. 11 Penataan Taman Kampus Universitas UNWIRA ... 85
Gambar 5. 12 Area Kampus Berupa Hutan ... 85
Gambar 5. 13 Lahan Terbuka di Kampus UNWIRA ... 86
Gambar 5. 14 Dinding bangunan terbuat dari kaca untuk meningkatkan Pencahayaan ... 88
Gambar 5. 15 Himbauan Larangan merokok diKampus UNWIRA ... 88
Gambar 5. 16 Kotak Sampah Organik dan An-Organik ... 90
Gambar 5. 17 Mobil dan Bus Kampus ... 92
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian... 130
Lampiran 2 Surat Penelitian Universitas Nusa Cendana ... 131
Lampiran 3 Modul Blok Pariwisata ... 132
Lampiran 4 Modul Lahan Kering ... 133
Lampiran 5 Bahan Ajar Pengtehauan Lingkungan ... 134
Lampiran 6 Rencana Strategis Undana ... 135
Lampiran 7 Narasumber Universitas Katolik Widya Mandira ... 136
Lampiran 8 Narasumber Universitas Nusa Cendana Kupang... 137
Lampiran 9 Wawancara bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Katolik Widya Mandira Drs. Rodriques Servatius, M.Si ... 139
Lampiran 10 Alat Pemadam Api Ringan di Universitas Nusa Cendana Kupang ... 140
Lampiran 11 Cindera Mata untuk Universitas Nusa Cendana dan Unviersitas Katolik Widya Mandira... 141
Lampiran 12 Wawancara bersama Wakil Rektor 4 Bidang Kerja Sama Ir I Wayan Mudita, M.Sc.,Ph.D ... 142
Lampiran 13 Wawancara bersama Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Universitas Nusa Cendana Dr.Drh.Maxs Urias E.Sanam, M.Sc ... 143
Lampiran 14 Panduan Wawancara Pihak Manajemen... 144
Lampiran 15 Panduan Wawancara Dosen, Staf, dan Mahasiswa ... 147
Lampiran 16 Hasil Transkrip Wawancara Universitas Nusa Cendana ... 150
Lampiran 17 Hasil Transkrip Wawancara Universitas Katolik Widya Mandira ... 151
xv ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengkomparasikan kebijakan, penerapan, dan hambatan di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam upaya menuju implementasi kampus hijau. Penelitian ini berfokus kepada indikator kampus hijau yaitu penataan & infrastruktur, energi & perubahan iklim, limbah, air, transportasi, pendidikan & penelitian di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu studi kasus tipe deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Universitas Katolik Widya Mandira dalam rencana strategis kampus memuat terkait dengan kebijakan pelestarian lingkungan, tidak dengan Universitas Nusa Cendana. Penerapan Kampus Hijau di masing-masing Universitas memiliki kelebihan dan kekurangan dalam berbagai indikator, misalnya dalam limbah Universitas Nusa Cendana sudah memiliki program daur ulang sampah & limbah sedangkan Universitas Katolik Widya Mandira belum memiliki program khusus dalam penanganan limbah. Hambatan dalam upaya penerapan Kampus Hijau di kedua Universitas diantaranya adalah minimnya tingkat pengetahuan serta tidak adanya sosialisasi berkelanjutan terkait dengan kampus hijau, kurangnya tenaga khusus yang mengurusi terkait dengan aspek pemeliharaan lingkungan secara menyeluruh, iklim daerah yang cenderung kering dan berbatu karang karena sulit ditanami tanaman apapun dan membuat keadaan menjadi gersang.
Kata Kunci: kampus hijau, pembangunan berkelanjutan, lingkungan, green metric, lingkungan yang berkelanjutan.
xvi ABSTRACT
The aim of this research is to find out the comparative policy study, implementation, and obstacles at Nusa Cendana University and Widya Mandira Catholic University in supporting implementing a green campus. This research related to green campus indicators, structuring and infrastructure, energy &
climate change, waste, water, transportation, education and research at Nusa Cendana University and Widya Mandira Catholic University. This research uses a qualitative approach, which is a descriptive type case study. The result showed that Nusa Cendana and Widya Mandira Catholic University have been applied green campus policy but not thoroughly optimal. Widya Mandira Catholic University in the campus strategic plan was related to environmental conservation policies but not in Nusa Cendana University. The implementation of the Green Campus at each University has advantages and disadvantages in various indicators, for example in waste, Nusa Cendana University already has a waste recycling program, while Widya Mandira Catholic University does not have a special program in handling waste. Obstacles in the effort to implement the Green Campus at the two universities include the lack of knowledge and the absence of sustainable socialization related to the green campus, the lack of special staff who take care of aspects of environmental maintenance as a whole, the climate of the area tends to be dry and rocky because it is difficult to plant any plants and make things arid.
Keywords: green campus, sustainable development goals, green metric, sustainable environment.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pemanasan global merupakan salah satu masalah yang sedang menarik perhatian dunia. Pemanasan global merupakan peningkatan suhu di permukaan bumi yang disebabkan oleh terperangkapnya gas CO2, CH4, N2O, dan CFC di atmosfer. Dalam hal ini dampak yang dihasilkan dari pemanasan global adalah peningkatan suhu bumi, perubahan iklim, peningkatan permukaan laut, gangguan ekologis, dan dampak sosial politik. Akuntansi Manajemen Lingkungan merupakan salah satu cabang pembelajaran akuntansi yang berfokus pada pengelolaan lingkungan hidup di suatu organisasi secara keseluruhan, tidak hanya terkait dengan pencatatan dan pelaporannya saja (Chang dan Degan, 2010). Munculnya cabang lingkungan pada ilmu akuntansi merupakan isu yang sangat relevan dengan ketertarikan masyarakat saat ini yang mulai resah dengan kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitarnya.
Pemerintah sebagai penyusun kebijakan di Indonesia juga mempunyai concern dalam menghadapi dampak-dampak tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengajak civitas akademika untuk berperan aktif dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global yang telah terjadi (KLHK, 2017).
Program Kampus Hijau merupakan salah satu gerakan yang telah dilakukan di berbagai kampus baik negara maju maupun negara berkembang untuk membantu mengurangi efek pemanasan global dan akibat-akibat yang lain.
Beberapa kampus diantaranya yang juga menduduki peringkat 10 besar yang ada di UI GREEN METRIC adalah Wageningen University & Research, University of Nottingham, University of California, Oxford University, Nottingham Trent University, Umwelt-Campus Brikenfeld (Trier University of Applied Sciences), University of Groningen, Bangor University, University College Cork, University of Connecticut. Keberadaan program Kampus Hijau diharapkan dapat menciptakan kesadaran serta kepedulian masyarakat kampus untuk turut serta berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengurangi pemanasan global.
Kampus Hijau menurut Zao dan Zhou (2015) merupakan suatu upaya untuk mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam perencanaan dan pengembangan kampus, dengan tujuan menciptakan lingkungan yang berkelanjutan di mana mahasiswa, dosen dan staf dapat meningkatkan kesadaran keberlanjutan dan kemudian menumbuhkan kesadaran tersebut kepada masyarakat luas. Sedangkan menurut Tan, Chen, Shi dan Wang (2014) Kampus Hijau adalah suatu konsep manajemen pendidikan tinggi yang di dalamnya tercakup pendidikan, penelitian, dan budaya yang berfokus pada pencegahan serta penanggulangan polusi dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pendidikan dan penelitian yang pada akhirnya mampu membawa universitas pada pembangunan berkelanjutan (University Sustainability Development).
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kelanjutan dari The Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan yang terus menerus ada sampai akhir abad 20, mengurangi kesejangan dan melindungi lingkungan. SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya.
SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target, diantara 17 tujuan dari SDGs terdapat 4 tujuan yang terkait secara langsung atau berkontribusi terhadap lingkungan dengan implementasi Kampus Hijau diantaranya pendidikan berkualitas (tujuan 4); air bersih dan sanitasi; energi bersih dan terjangkau (tujuan 7); industri, inovasi dan infrastruktur (tujuan 9); konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (tujuan 12).
Selain itu hal ini juga didukung dengan paparan dari Ir. Diana Kusumastuti, M.T., Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya Kementrian PUPR yang hadir sebagai panelis dalam workshop “Perencanaan dan Desain Kampus Hemat Energi dan Kondusif Perguruan Tinggi di Indonesia”
pada 8 April 2019 di Vertu Harmoni Jakarta bahwa kampus lama maupun yang baru akan dibangun diharapkan setidaknya memenuhi standar, berkelanjutan dan berwawasan global. Saat ini, pembangunan secara nasional, khususnya mesti merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs), yang mana salah satu tujuan di sana adalah berkaitan dengan lingkungan seperti air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, serta penanganan dan perubahan iklim.
Kampus Hijau program diawali dengan adanya The Stockholm Declaration 1972, deklarasi ini merupakan deklarasi pertama yang membuat referensi untuk keberlanjutan dalam pendidikan tinggi, meskipun secara tidak langsung. (Wright, 2002). Adanya deklarasi dan program ini merupakan pendorong agar universitas memberikan kepemimpinan bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga lingkungan kita sehingga krisis lingkungan global tidak semakin kompleks dan melebar untuk generasi sekarang dan masa depan (Sharp, 2002). Hal ini sangatlah penting untuk dikembangkan, karena keberlanjutan merupakan salah satu isu yang telah menjadi fokus utama pengajaran dan penelitian dalam universitas (Finlay dan Massey, 2011). Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh seluruh civitas akademika adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, tanggung jawab universitas tidak hanya mencakup isu lingkungan hidup di internal universitas namun mencakup wilayah sekitarnya maupun bumi secara keseluruhan.
Pada perguruan tinggi, penerapan Kampus Hijau merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perguruan tinggi atau yang sering disebut University Social Responsibilities (USR). Menurut Tilaar M., dkk., 2011 bahwa implementasi program Kampus Hijau di Indonesia tidaklah mudah, manajemen kampus dari Rektorat hingga karyawan/staf serta mahasiswa perlu bekerja sama untuk dapat mewujudkan program tersebut. Beberapa indikator terciptanya
kampus hijau antara lain adanya kebijakan manajemen kampus yang berorientasi pada pengelolaan lingkungan, adanya upaya penghematan air, kertas, dan listrik,
adanya penghijauan untuk mencapai proporsi ideal Ruang Terbuka Hijau (RTH), tersedianya bangunan yang ramah
lingkungan, terpeliharanya kebersihan dan kenyamanan lingkungan, terciptanya kampus tanpa rokok dan bebas polusi, terselenggaranya pendidikan lingkungan bagi mahasiswa, serta adanya kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen civitas akademika dalam budaya peduli lingkungan.
Zao dan Zhou (2015) menemukan bahwa inisiatif green university Tsinghua merupakan sebuah tanggapan strategi Tsinghua untuk menjadi World- Class University, dengan sebuah tujuan dari batasan yang melebihi tanggung jawab dalam mempromosikan masyarakat yang berkelanjutan. Tsinghua menggunakan satu prinsip (green university) dan tiga dimensi (green education, green research and Kampus Hijau) untuk memberikan kerangka inisiatif green university. Penelitian lainnya mengenai Kampus Hijau juga dilakukan oleh Hapsari, Nugroho dan Purwanti (2014) yang menemukan bahwa penerapan Kampus Hijau di Universitas Diponegoro sudah dilakukan dengan baik, tetapi belum diintegrasikan secara menyeluruh, yang mana kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro belum dapat memberikan manfaat positif bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial, sehingga Universitas Diponegoro belum dapat dikatakan sebagai kampus yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan informasi yang diperoleh dari survei pendahuluan oleh peneliti bahwa terdapat
dua universitas di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang telah menerapkan Kampus Hijau yaitu Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira, yang mana keduanya merupakan kampus favorit untuk calon mahasiswa/i di Indonesia Timur dan karena didukung oleh reputasi baik yang dimiliki oleh masing-masing universitas. Universitas Nusa Cendana sebagai satu- satunya Perguruan Tinggi Negeri di Nusa Tenggara Timur yang berkedudukan Universitas sejak tahun 1962 dan Universitas Katolik Widya Mandira sebagai universitas katolik yang unggul di kawasan Indonesia Timur dan sebagai kampus swasta katolik terbesar yang ada di NTT sejak tahun 1981.
Alasan kenapa penelitian ini penting dilakukan karena faktanya bahwa di tahun 2018 sebanyak empat kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur masuk 10 kota terkotor yang diumumkan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam penilaian Adipura 2018 yaitu Kota Kupang, Waikabubak, Bajawa dan Kota Ruteng. Maka dari itu, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat untuk bangkit menjadi kota yang bersih dengan campur tangan seluruh masyarakat termasuk perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur. Selain karena kedua universitas ini merupakan perguruan tinggi yang telah menerapkan Kampus Hijau perbedaan kebijakan dari petinggi universitas juga dapat mempengaruhi implementasinya, apakah concern ke Kampus Hijau merupakan suatu kewajiban atau sebaliknya. Serta ditemukan kendala dalam penerapannya maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian ini menggunakan UI Green Metric University Rankings.
Sejak tahun 2010, Universitas Indonesia telah mempelopori inisiatif untuk menciptakan sebuah peringkat kampus “hijau” secara online universitas- universitas di dunia untuk mengetahui usaha berkelanjutan kampus guna melihat program dan kebijakan berkelanjutan yang sudah dibuat universitas. Peringkat UI Green Metric untuk World University Ranking didasarkan pada informasi yang diberikan oleh universitas-universitas di seluruh dunia pada kriteria yang menunjukkan komitmen untuk menjadi kampus yang “hijau” dan keberlanjutan seperti: Penataan & Infrastruktur (15%), Energi & Perubahan Iklim (21%), Limbah 18%, Air (10%), Transportasi (18%), Pendidikan & Penelitian (18%). Di dalam tiap kategori terdapat indikator spesifik dan poin/skor untuk masing- masing kategori. Hal ini menunjukkan bahwa UI Green Metric dikenal sebagai yang pertama dan satu-satunya pemeringkatan universitas dunia dalam hal berkelanjutan dengan harapan dapat menarik perhatian para pemimpin universitas dan pemegang saham agar lebih banyak perhatian yang diberikan untuk memerangi perubahan iklim global, konservasi energi dan air, daur ulang limbah dan transportasi hijau. Keikutsertaan dari universitas juga diharapkan agar dapat membantu kesadaran tentang pentingnya permasalahan keberlanjutan.
Saat ini belum banyak penelitian mengenai Kampus Hijau yang dilakukan di Indonesia khususnya terkait dengan perbandingan implementasi di universitas negeri dan universitas swasta untuk melihat implementasi Kampus Hijau yang sudah dilakukan, kendala apa saja yang ditemui, serta strategi apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi kendala yang ada.
Maka dari itu peneliti dengan menggunakan UI Green Metric yang sudah dimodifikasi tertarik untuk meneliti perbandingan dari upaya pengimplementasian program-program Kampus Hijau dalam hal ini mencakup kebijakan, pengimplementasian, dan kendala-kendala secara umum mengenai Kampus Hijau antara Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira menggunakan studi komparasi.
B. Rumusan Masalah
Saat ini, banyak pihak yang mengkampanyekan untuk menjaga lingkungan melalui istilah “green”. Institusi perguruan tinggi sebagai agen perubahan atau sebagai contoh di masyarakat sebagai kaum intelektual harusnya mampu untuk menjaga lingkungan sesuai dengan apa yang sudah diamanatkan oleh masyaryakat. Dalam hal ini aktivitas lingkungan yang digerakkan oleh universitas adalah program-program Kampus Hijau seperti yang sudah dijelaskan di UI Green Metric yaitu yaitu: Penataan & Infrastruktur, Energi & Perubahan Iklim, Limbah, Air, Transportasi, Pendidikan & Penelitian yang mana di masing- masing kategori terdapat indikator spesifik dan skor untuk masing-masingnya.
Oleh karena itu, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana perbandingan kebijakan Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam upaya menuju pengimplementasian kampus hijau?
2. Bagaimana perbandingan upaya menuju pengimplementasian kampus hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira?
3. Apa saja perbandingan hambatan-hambatan yang ditemui Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam upaya menuju pengimplementasian kampus hijau?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan kebijakan Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam upaya pengimplementasian kampus hijau.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan upaya penerapan kampus hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan hambatan yang ditemui Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam upaya pengimplementasian kampus hijau.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan agar program Kampus Hijau menjadi program lingkungan yang diwajibkan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar dapat dijadikan contoh di masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan di sekitarnya.
2. Bagi Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya
merawat lingkungan dari segala aspek dan memperbaiki kendala-kendala yang dihadapi dengan strategi-strategi alternatif yang ada.
3. Bagi akademisi diharapkan dapat menambah dan mengembangkan wawasan dalam bidang pendidikan, serta sebagai referensi dalam melakukan penelitian yang lebih spesifik kedepannya.
E. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini terdapat enam bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Bab ini menjabarkan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini memaparkan mengenai teori-teori pendukung yang digunakan sebagai acuan dalam pembahasan penelitian.
BAB III Metode Penelitian
Bab ini membahas mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV Deskripsi Universitas dan Narasumber
Bab ini menjelaskan profil universitas dan profil narasumber.
BAB V Analisis Data dan Pembahasan
Bab ini menjelaskan deskripsi data, analisis data, dan pembahasan penelitian
BAB VI Penutup
Bab ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Akuntansi Manajemen Lingkungan
Menurut Christ dan Burritt (2013), Akuntansi manajemen lingkungan merupakan suatu teknik atau alat yang digunakan untuk membantu organisasi dalam mengakui dan mengelola dampak lingkungannya dari kegiatan- kegiatan yang sudah dilakukan. Akuntansi lingkungan (Environmental Accounting) merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Akuntansi manajemen lingkungan dapat digunakan untuk mendukung keputusan, menilai kinerja lingkungan terhadap target yang ditetapkan, memastikan manajer bertanggung jawab dan harus mempertanggungjawabkan pengelolaan dan kinerja untuk meningkatkan akuntabilitas lingkungan, serta memberikan informasi fisik dan moneter untuk mendukung pelaporan lingkungan eksternal.
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau United States Environment Protection Agency (US EPA) akuntansi lingkungan adalah: “suatu fungsi penting tentang akuntansi lingkungan adalah menggambarkan biaya-biaya lingkungan supaya diperhatikan oleh para stakeholders perusahaan yang mampu mendorong dalam pengidentifikasian cara-cara mengurangi atau menghindari biaya-biaya ketika pada waktu bersamaan sedang memperbaiki kualtias lingkungan”. Akuntansi lingkungan juga merupakan suatu bidang yang terus berkembang dalam
mengidentifikasi pengukuran-pengukuran dan mengkomunikasikan biaya- biaya aktual perusahaan atau dampak potensial lingkungannya. Biaya ini meliputi biaya-biaya pembersihan atau perbaikan tempat-tempat terkontaminasi, biaya pelestarian lingkungan, biaya hukuman dan pajak, biaya pencegahan polusi teknologi dan biaya manajemen pemborosan.
Menurut Agustia (2015) Penerapan akuntansi manajemen lingkungan harus tepat untuk memungkinkan organisasi mengidentifikasi, menghasilkan, dan menganalisis data yang terkait lingkungan untuk pengambilan keputusan internal secara efektif. Dengan tujuan utama yaitu memperoleh informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dalam dimensi ekonomi dan lingkungan. Dalam hal ini peran dari seorang akuntan juga meliputi yaitu mewujudkan pembangunan dunia secara berkelanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals) harus ada sinergi lintas profesi. Salah satu yang menjadi tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut adalah pelestarian lingkungan. Untuk mewujudkannya tidak hanya menjadi tanggung jawab profesi yang terkait saja. Salah satu yang bisa berperan adalah seorang akuntan (Pratama et al., 2019). Profesi akuntan manajemen menjadi salah satu profesi yang menunjang dalam tercapainya Sustainable Development Goals. Profesi akuntan manajemen memberlakukan pengembangan profesi berkelanjutan.
Pengembangan profesi berkelanjutan ditujukan untuk pengembangan dan pemeliharaan kompetensi profesional dari pengetahuan profesional, keterampilan profesional, nilai-nilai, etika, dan sikap profesional.
Peran profesi akuntansi manajemen dalam merespons adanya perubahan lingkungan global, mengakibatkan profesi akuntan manajemen yang secara konvensional tidak memperhatikan perubahan eksternal organisasi, sekarang memasukkan faktor eksternal dalam menghasilkan informasi yang dibutuhkan manajemen organisasi. Perubahan lingkungan dunia yang merupakan dampak pemanasan global, memberikan konsekuensi signifikan kepada profesi akuntan manajemen. Profesi akuntan manajemen harus mampu menyediakan informasi akuntansi manajemen yang strategis sebagai dasar pengambilan keputusan. Isu-isu perubahan lingkungan mengakibatkan organisasi membutuhkan informasi keuangan dan lingkungan sehingga akuntansi manajemen lingkungan menjadi berkembang.
B. Sustainable Development Goals
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kelanjutan dari The Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati karena perkembangan isu kemiskinan yang terus menerus sampai akhir abad 20, dengan salah satu tujuannya yaitu mengurangi jumlah penduduk miskin hingga 50% pada tahun 2015.
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan dokumen kesepakatan pembangunan global untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan pada proses pembangunan. SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi, dan inklusif yang terdiri dari 17 tujuan dan 169 target dalam rangka melanjutkan upaya dan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir di akhir tahun 2015. Diantara 17 tujuan dari SDGs terdapat beberapa tujuan yang terkait secara langsung berkontribusi terhadap lingkungan dengan implementasi Kampus Hijau diantaranya:
1) Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.
2) Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua.
3) Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.
4) Membangun infrastruktur yang tangguh, mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan dan membantu perkembangan inovasi.
5) Melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi desertifikasi, dan menghambat dan membalikkan degradasi tanah dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.
C. Global Reporting Initiative & Sustainibility Report
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainibility Report yaitu pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainibilty development).
Pelaporan keberlanjutan (Sustainability reporting) menurut GRI merupakan praktek pengukuran, pengungkapan dan upaya akuntabilitas dari kinerja organisasi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal. Sustainability reporting merupakan sebuah istilah umum yang dianggap sinonim dengan istilah lainnya untuk menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan dan sosial seperti triple bottom line.
Menurut Elkington (1997), sustainability report merupakan laporan yang memuat tidak saja informasi kinerja keuangan tetapi juga informasi non keuangan yang terdiri dari informasi aktivitas sosial dan lingkungan yang memungkinkan perusahaan bisa bertumbuh secara berkesinambungan (sustainable performance). Laporan keberlanjutan (sustainability report) merupakan praktik pengukuran penjelasan, dan menjadikan akuntabel terhadap kinerja organisasi sambil bekerja menuju tujuan pembangunan keberlanjutan (sustainable development). Dalam 19 penyajian sustainability report perusahaan di Indonesia dapat menggunakan pedoman pengungkapan sustainability report yang dikeluarkan oleh GRI (Global Reporting Initiative) sebagai pedoman yang berlaku secara umum.
Menurut World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) menjelaskan manfaat yang didapat dari sustainability report antara lain :
1) Memberikan informasi kepada stakeholders (pemegang saham, anggota komunitas lokal, pemerintah) sehingga meningkatkan prospek perusahaan dan membantu mewujudkan transparansi.
2) Membantu membangun reputasi sebagai alat yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan brand value, market share, dan costumer loyality jangka panjang.
3) Menjadi cerminan bagaimana perusahaan mengelola risikonya.
4) Digunakan sebagai stimulasi leadership thinking dan performance yang didukung dengan semangat kompetisi.
5) Mengembangkan dan memfasilitasi pengimplementasian dari sistem manajemen yang lebih baik dalam mengelola dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial.
6) Mencerminkan secara langsung kemampuan dan kesiapan perusahaan untuk memenuhi keinginan pemegang saham untuk jangka panjang.
7) Membantu membangun ketertarikan para pemegang saham dengan visi jangka panjang dan membantu mendemonstrasikan bagaimana meningkatkan nilai perusahaan yang terkait dengan isu sosial dan lingkungan.
Hal ini juga terkait dengan teori sebelumnya yaitu teori legitimasi yang erat kaitannya dengan teori stakeholder.
D. Teori Legitimasi
Menurut Deegan (2004) Teori legitimasi menyatakan bahwa organisasi secara berkelanjutan mencari cara untuk menjamin operasi mereka berada dalam batas dan norma yang berlaku di masyarakat. Lebih lanjut lagi Deegan menjelaskan tentang teori legitimasi organisasi di negara berkembang terdapat dua hal: Pertama, kapabilitas dalam menempatkan motif maksimalisasi keuntungan membuat gambaran lebih jelas tentang motivasi perusahaan memperbesar tanggung jawab sosialnya. Kedua, legitimasi organisasi dapat
memasukkan faktor budaya yang membentuk tekanan institusi yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Selain Ghozali dan Chariri (2007), menjelaskan bahwa guna melegitimasi aktivitas perusahaan di mata masyarakat, perusahaan cenderung menggunakan kinerja berbasis lingkungan dan pengungkapan informasi lingkungan.
Kinerja lingkungan yang baik akan menimbulkan rasa nyaman dari stakeholder karena kemampuan perusahaan dalam mengelola lingkungannya.
Dengan kinerja lingkungan yang baik, stakeholder akan lebih percaya untuk berinvestasi di perusahaan tersebut karena perusahaan telah terhindar dari penolakan masyarakat sekitar terkait aktivitas operasionalnya. Investasi dari stakeholder dapat meningkatian kinerja keuangan perusahaan dengan meningkatnya modal perusahaan. Grey et al. (1997) berpendapat bahwa legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society), pemerintah, individu dan kelompok masyarakat. Berthelot dan Robert, (2011) mengatakan untuk mendapatkan legitimasi maka organisasi perusahaan harus mengkomunikasikan aktivitas lingkungan dengan melakukan pengungkapan lingkungan sosial. Hal ini didukung oleh Hadjoh dan Sukartha (2013) bahwa pengungkapan lingkungan dinilai bermanfaat untuk memulihkan, meningkatkan, dan mempertahankan legitimasi yang telah diterima.
E. Kampus Hijau
Menurut Ravesteyn et al. (2014) penerapan Kampus Hijau akan terwujud apabila terdapat kerja sama antara pelaku terkait (mahasiswa, dosen, dan para pemangku kepentingan eksternal) atau dengan kata lain upaya berkelanjutan bukan hanya top down atau bottom-up saja, tapi harus dilakukan oleh organisasi
’middle’ (yaitu staf dan mahasiswa) dengan dukungan manajemen yang kuat.
Hal serupa disampaikan oleh Zulkifli, (2012) bahwa Kampus Hijau ialah sistem pendidikan, penelitian pengabdian masyarakat dan lokasi yang ramah lingkungan serta melibatkan warga kampus dalam aktivitas lingkungan serta harus berdampak positif bagi lingkungan, ekonomi dan sosial. Sedangkan menurut Hudaini dalam Puspadi, (2016) Kampus Hijau juga harus menjadi contoh implementasi pengintegrasian ilmu lingkungan dalam semua aspek manajemen dan best pratices dalam pembangunan yang berkelanjutan.
Menurut RENSTRA GC-UNS (2014 III-2), Kampus Hijau Program sebagai program yang mengintegrasikan pengelolaan dan perlindungan lingkungan ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga terwujudnnya kampus yang berkelanjutan.
Pelaksanaan Kampus Hijau dibedakan menjadi tiga komponen dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan dan Pengabdian kepada masyarakat. Kampus ramah lingkungan adalah kampus yang mampu mewujudkan suasana lingkungan yang bersih, sejuk, dan nyaman serta mendukung iklim kehidupan kampus yang dinamis
berkelanjutan dengan memenuhi kriteria Kampus Hijau yang juga sesuai dengan indikator UI Green Metric yaitu: tata letak dan infrastruktur (setting and infrastructure) yang menjamin ketersediaan ruang terbuka hijau; efisiensi energi dan mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim (energy and climate change), pengelolaan limbah (waste); pengelolaan air (water); transportasi (transportation); dan pendidikan pengajaran (education) (Peraturan Rektor UNS No.827A/ UN27/KP/2013, Pasal 1).
F. UI Green Metric
UI Green Metric merupakan standar yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia, yaitu sistem pemeringkatan perguruan tinggi pertama di dunia yang basis penilaian utamanya adalah komitmen perguruan-perguruan tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup kampus. Program ini dimaksudkan sebagai jalan masuk penilaian institusi pendidikan tinggi di seluruh dunia. Selain itu, juga ditujukan kepada pemerintah, organisasi/ agency lingkungan baik lokal maupun internasional, dan masyarakat dalam menerapkan konsep berkelanjutan. UI Green Metric diluncurkan pada tahun 2010. Hingga saat ini UI Green Metric diikuti oleh 515 perguruan tinggi dari 4 benua di dunia (Nurbaya, 2017). Untuk tingkat nasional, terdapat 49 perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam pemeringkatan ini. Kriteria yang terdapat dalam penilaian UI Green Metric adalah sebagai berikut: Penataan & Infrastruktur, Energi & Perubahan Iklim, Limbah, Air, Transportasi, Pendidikan & Penelitian. Masing-masing dari
kategori tersebut, terdapat indikator-indikator yang mengukur tingkat “green”
sesuai masing-masing kategori, seperti yang ada di tabel di bawah ini:
Tabel 2. 1 Penataan dan Infrastruktur (SI)
No Categories & Indicators Points Weighting
SI 1 Perbandingan antara ruang terbuka dengan total area 300 15 % S1 2 Persentase area kampus yang berupa hutan 300
SI 3 Persentase area kampus yang ditutupi dengan tanaman/taman (termasuk rumput, kebun, dan lain-lain) (%)
200
SI 4 Persentase area permukaan di lingkungan kampus yang dapat menyerap air (termasuk tanah atau con-block) (%)
300 SI 5 Total ruang terbuka dibagi dengan populasi kampus 200 SI 6 Presentase budget kampus untuk mewujudkan kampus
yang berkelanjutan (ramah lingkungan)
200
TOTAL 1500
Tabel 2. 2 Energi dan Perubahan Iklim (EC)
No Categories & Indicators Points Weighting
EC 1 Penggunaan peralatan hemat energi (misalnya penggunaan bola lampu dengan daya kecil, LED) menggantikan perangkat yang konvensional.
200 21 %
EC 2 Implementasi program Smart Building 300 EC 3 Jumlah sumber energi terbarukan di dalam kampus 300 EC 4 Total penggunaan listrik dibagi dengan populasi kampus 300 EC 5 Rasio antara produksi energi terbarukan dengan total
penggunaan energi per tahun.
200 EC 6 Green Building (unsur pelaksanaan green building yang
tercermin dalam kebijakan pembangunan dan renovasi)
300 EC 7 Program pengurangan emisi gas rumah kaca 200 EC 8 Total jejak karbon dibagi dengan populasi kampus 300
TOTAL 2100
Tabel 2. 3 Limbah (WS)
Tabel 2. 4 Air (WR)
No Categories & Indicators Points Weighting
WR 1 Implementasi program konservasi air di Kampus 300 10 % WR 2 Implementasi program pemanfaatan air di didaur ulang di
Kampus
300 WR 3 Penggunaan peralatan hemat air (misalnya keran sensor
otomatis, autoflush toilet, dll
200 WR 4 Rasio antara penggunaan air berbasis pipa (contohnya:
PAM) dengan total penggunaan air
200
TOTAL 1000
No Categories & Indicators Points Weighting
WS 1 Program daur ulang sampah di kampus 300 18 %
WS 2 Program kampus untuk mengurangi penggunaan kertas dan plastik di Kampus (jawaban dapat lebih dari satu)
300 WS 3 Pengolahan limbah organik (sampah, limbah sayuran, dan
tumbuhan) (pilih opsi yang paling menggambarkan situasi kampus dalam pengolahan limbah organik)
300
WS 4 Pengolahan limbah anorganik (sampah, sampah kertas, plastik, logam, dll.) (pilih opsi yang paling menggambarkan situasi kampus dalam pengolahan limbah anorganik)
300
WS 5 Penanganan limbah beracun di Kampus (apakah limbah beracun ditangani secara terpisah, misalnya dengan mengelompokkan dan dikumpulkan)
300
WS 6 Pembuangan limbah cair (metode utama dari pengolahan limbah) (pilih opsi yang paling menggambarkan cara pembuangan pembuangan air limbah)
300
TOTAL 1800
Tabel 2. 5 Transportasi (TR)
No Categories & Indicators Points Weighting
TR 1 Ratio jumlah kendaraan dibagi dengan populasi kampus 200 18 %
TR 2 Tipe operasional shuttle kampus 200
TR 3 Kebijakan mengenai kendaraan bebas emisi di kampus 200 TR 4 Presentase pengurangan area parkir untuk kendaraan
pribadi dalam 3 tahun terakhir (dari 2016-2019)
200 TR 5 Ratio total parkir area terhadap total area kampus 200 TR 6 Presentase pengurangan area parkir untuk kendaraan
bermotor pribadi yang memasuki kawasan kampus
200 TR 7 Inisiatif pembatasan jumlah kendaraan bermotor pribadi
yang memasuki kawasan kampus
300
TR 8 Dukungan terhadap pejalan kaki 300
TOTAL 1800
Tabel 2. 6 Pendidikan dan Penelitian (ED)
Categories & Indicators Points Weighting
ED 1 Ratio mata kuliah berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan dibanding keseluruhan mata kuliah
300 18 % ED 2 Ratio dana riset didekasikan untuk penelitian
keberlanjutan lingkungan dibanding seluruh dana riset kampus
300
ED 3 Jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan tentang keberlanjutan lingkungan (jumlah rata-rata yang diterbitkan setiap tahun selama 3 tahun)
300
ED 4 Jumlah kegiatan kampus/ acara yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan (konferensi dll) (rata-rata per tahun selama 3 tahun terakhir)
300
ED 5 Jumlah organisasi kemahasiswaan yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan
300 ED 6 Ketersediaan laman mengenai keberlanjutan lingkungan 200 ED 7 Ketersediaan laporan mengenai keberlanjutan lingkungan 100
TOTAL 1800
G. Penelitian Terdahulu
1) Implementasi Kampus Hijau
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi Kampus Hijau yang terjadi di Indonesia maupun dunia yang menunjukkan hasil yang berbeda dengan dua contoh yang ada di Cina dan Belanda. Adapun hasil penelitian Tan et.,al (2014) yang dilakukan di negara Cina adalah (1) pengembangan energi dan sumber daya kampus yang efisien telah diperluas dalam skala besar di Cina, terutama yang bertujuan untuk menerapkan teknologi hemat energi dan manajemen energi kampus; (2) adanya dukungan penuh dari pemerintah nasional melalui kebijakan dan pendanaan keuangan; (3) adanya peningkatan energi dan sumber daya kampus yang efisien untuk Kampus Hijau yang memperluas ruang lingkup pendidikan berkelanjutan dan inisiatif kehidupan rendah karbon di kampus. Berdasarkan penelitian ini, kemudian disarankan untuk penelitian selanjutnya adalah (1) perlu mengatur konsep pembangunan berkelanjutan untuk meneruskan Kampus Hijau; (2) perlu melakukan reformasi struktural yang sesuai, membangun jaminan kelembagaan dan memberikan dukungan teknis yang professional sesegera mungkin.
Penelitian dengan tema serupa dilakukan oleh Ravesteyn, et.,al (2014) yang juga menemukan (1) Meskipun ada banyak inisiatif keberlanjutan lingkungan dalam pendidikan tinggi Belanda, tapi banyak yang terlihat terputus secara keseluruhan dari visi dan strategi; (2) kerangka kerja yang diusulkan dalam penelitian ini dapat membantu dalam menyelaraskan inisiatif dan proyek
yang ada; (3) mengembangkan cara yang jelas secara keseluruhan untuk Smart Kampus Hijau. Adapun rekomendasi yang disampaikan dalam penelitian ini antara lain: (1) melakukan penelitian serupa di negara-negara lain dan menguji kegunaan dari kerangka kerja yang dihasilkan dari penelitian ini; (2) memberikan eksistensi untuk kerangka kerja yang telah dihasilkan pada penelitian ini dengan menggabungkan aspek keberlanjutan; dan (3) melakukan beberapa studi kasus di lembaga yang mengadopsi kerangka kerja pengembangan strategi dan portofolio berkelanjutan menuju Smart Kampus Hijau.
2) Tantangan/Hambatan/Kendala Implementasi Kampus Hijau Berdasarkan penelitian di Beijing peneliti menemukan bahwa (1) inisiatif green university Tsinghua merupakan sebuah tanggapan untuk strategi Tsinghua untuk mendirikan sebuah world-class university; (2) Tsinghua menggunakan satu prinsip (green university) dan tiga dimensi (green education, green research, and Kampus Hijau) untuk memberikan kerangka inisiatif green university; dan (3) inisiatif green university Tsinghua telah mendapatkan banyak prestasi, tetapi juga menghadapi banyak tantangan, seperti mengabaikan keadilan sosial, upaya koordinasi yang terfragmentasi dan kurangnya komunikasi yang efektif dan mekanisme penilaian.
Untuk di Indonesia penelitian yang mencoba mengetahui bagaimana perencanaan dan anggaran dari universitas telah dilakukan oleh Hapsari et al.
(2014) dengan hasil yang ditemukan juga sesuai dengan yang penelitian oleh Finlay dan Massey (2012) bahwa tidak ada satupun kampus tidak ada satupun
kampus yang secara penuh telah mengadopsi setiap aspek keberlanjutan. Salah satu tujuan melakukan penelitian ini adalah menganalisis penerapan Kampus Hijau di berdasarkan tiga dimensi utama pembangunan berkelanjutan yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial di Universitas Diponegoro sehingga akan tercipta kampus yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis bahwa: (1) penerapan Kampus Hijau di Universitas Diponegoro sudah dilakukan dengan baik, tetapi belum diintegrasikan secara menyeluruh; dan (2) kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro, secara keseluruhan belum dapat memberikan manfaat positif bagi lingkungan, ekonomi dan sosial, sehingga kampus Universitas Diponegoro belum dapat dikatakan sebagai kampus yang berkelanjutan.
Selain itu, hasil penelitian Finlay dan Massey (2012) ini mampu memberikan prinsip-prinsip konkret yang mampu mengatasi jejak ekologi lembaga pendidikan tinggi dan mengembangkan praktek-praktek masyarakat yang berkelanjutan. Dari keseluruhan hasil penelitian menunjukkan beberapa kelemahan misalnya: (1) munculnya beberapa hambatan informasi yang berhubungan dengan pengumpulan, pengalokasian, dan pelaporan informasi lingkungan yang relevan; (2) penelitian-penelitian sebelumnya memiliki keterbatasan normal penelitian berbasis survey dan memiliki bias sosial.
Hambatan lain yang ditemui Tan et al. (2014) yang menunjukkan adanya masalah selama implementasi Kampus Hijau program adalah kurangnya desain top-level yang baik di antara kementrian nasional yang berbeda dan universitas,
masih kurangnya kebutuhan mode penggerak praktis dan masih kurangnya mekanisme jangka panjang untuk menjami pembangunan Kampus Hijau.
Berdasarkan penjelasan singkat di atas, research gap yang dapat peneliti identifikasi adalah implementasi Kampus Hijau program di beberapa negara menunjukkan hasil yang berbeda dan masih terdapat beberapa permasalahan dan tentunya membutuhkan strategi untuk mengatasi kendala-kend ala yang ada.
Selain itu belum banyak ditemukan penelitian mengenai akuntansi manajemen lingkungan yang mengikutsertakan dengan biaya lingkungan yang melihat implementasi Kampus Hijau program yang dilakukan di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Timur diantara perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta.
29 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu studi kasus tipe deskriptif. Menurut Creswell (2015), studi kasus merupakan pendekatan kualitatif di mana peneliti mengeksplorasi satu atau lebih kasus dalam sistem yang dibatasi dari waktu ke waktu, melalui pengumpulan data mendalam dan terperinci yang melibatkan berbagai sumber informasi (misalnya, observasi, wawancara, audio visual materi, dokumen dan laporan), dan melaporkan deskripsi kasus dan tema berbasis kasus. Jenis studi kasus kualitatif dibedakan berdasarkan ukuran kasus yang dibatasi (satu individu, beberapa individu, kelompok, seluruh program, atau suatu kegiatan), dan tujuan analisis kasus (studi kasus instrumental tunggal, studi kasus kolektif atau ganda, dan studi kasus intrinsik).
Penelitian ini fokus pada kasus upaya menuju implementasi Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang dilakukan pada periode waktu tertentu yaitu bulan Februari sampai April 2020 dengan pengumpulan data melalui kuisioner, wawancara, dokumentasi dan observasi.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
` 2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2020 sampai bulan April 2020 C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek penelitian ini terdiri dari:
a. Rektorat Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
b. Dosen
c. Staf dari masing- masing Fakultas yang telah bekerja sejak tahun 2015 d. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) e. Petugas Kebersihan dan Sanitasi
2. Objek penelitian ini terdiri dari:
a. Kebijakan Kampus Hijau Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang terdapat pada UI Green Metric yaitu Penataan dan Infrastruktur, Energi dan Perubahan Iklim, Limbah, Air, Transportasi, Pendidikan dan Penelitian.
b. Implementasi Kampus Hijau Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang terdapat pada UI Green Metric yaitu Penataan dan Infrastruktur, Energi dan Perubahan Iklim, Limbah, Air, Transportasi, Pendidikan dan Penelitian.
c. Kendala-kendala yang dihadapi dalam Implementasi Kampus Hijau.
D. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil checklist peneilaian implementasi
`
elemen Kampus Hijau oleh pihak manajemen dan staf, kuesioner mahasiswa, wawancara dengan pihak rektorat dan staf universitas serta observasi lingkungan Universitas Katolik Widya Mandira dan Universitas Nusa Cendana. Selanjutnya, data sekunder diperoleh dari data dan dokumen asli milik pihak Universitas serta melalui media online berupa website resmi universitas dan media sosial.
a. Data primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama (Suliyanto, 2018). Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak manajemen, checklist penilaian implementasi berdasarkan kuesioner yang diadaptasi dari UI Green Metric pada Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira terkait dengan kebijakan Implementasi Kampus Hijau, upaya dalam pengimplementasian Kampus Hijau dan hambatan dalam penerapan Kampus Hijau.
b. Data Sekunder
Menurut Suliyanto (2018), data sekunder adalah data yang diperoleh tidak langsung dari subjek penelitian. Data sekunder penelitian ini terdiri dari data:
1) Profil Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
`
2) Implementasi Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira dalam bentuk kegiatan maupun program kerja yang dilakukan.
3) Dokumentasi bukti implementasi Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
4) Silabus mata kuliah Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
E. Metode Pengumpulan Data a. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik mendapatkan data dengan cara mengadakan percakapan secara langsung antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dengan pihak yang diwawancarai (interviewer) yang menjawab pertanyaan (Djamal, 2015).
Wawancara semi terstruktur dilakukan kepada pihak manajemen pengambil kebijakan dalam hal ini Rektorat, Dosen dan Staf serta beberapa Petugas-petugas lain yang juga turut ambil bagian dalam implementasi Kampus Hijau. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengajukan pertanyaan terbuka sehingga partisipan dapat menyuarakan pengalaman mereka tanpa dibatasi oleh perspektif peneliti atau temuan sebelumnya. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada:
1) Rektorat Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
` 2) Dosen
3) Staf dari masing- masing Fakultas yang telah bekerja sejak tahun 2015
4) Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) 5) Petugas Kebersihan dan Sanitasi
b. Observasi
Observasi adalah suatu metode pengumpulan data di mana peneliti mencatat setiap informasi sesuai dengan kenyataan yang mereka alami selama penelitian berlangsung (Sunyoto, 2013). Peneliti melakukan pengamatan secara langsung tentang pelaksanaan kegiatan Kampus Hijau di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira.
c. Dokumentasi
Dokumen mewakili sumber yang baik untuk data teks (kata) untuk studi kualitatif (Creswell, 2015). Dokumen adalah catatan tertulis mengenai berbagai kegiatan atau peristiwa pada waktu yang lalu (Sunyoto, 2013).
Dokumen yang digunakan adalah:
1. Rencana Strategis Universitas (dalam kurun waktu 5 tahun) 2. Kebijakan dan peraturan tertulis
3. Program Kerja/Kegiatan yang dilakukan
4. Pedoman Pengembangan Kurikulum Universitas 5. Silabus mata kuliah
` F. Kredibilitas Data
Secara kualitatif, kredibilitas data diuji dengan melakukan triangulasi sumber data dan teknik pengumpulan data. Triangulasi sebagai teknik mendapatkan data dari tiga sudut yang berbeda. Peneliti menggunakan berbagai teknik seperti pengamatan, wawancara mendalam dan dokumentasi untuk mengumpulkan data. Apabila peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik pengumpulan data, maka sebenarnya peneliti telah melakukan pengujian kredibilitas data karena menggunakan berbagai macam teknik pengumpulan data serta beragam sumber data (Djamal, 2015). Triangulasi dengan sumber dilakukan peneliti dengan cara menggali kebenaran informasi data yang diperoleh dari narasumber utama yaitu pihak rektorat, staf dan juga mahasiswa di Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira kemudian akan dibandingkan dengan informasi lain yang peneliti peroleh dengan mewawancarai narasumber di luar informan (mahasiswa).
Triangulasi akan dilakukan kepada:
a. Pihak Rektorat Universitas Nusa Cendana dan Universitas Katolik Widya Mandira
b. Dosen
c. Staf dari masing- masing Fakultas yang telah bekerja sejak tahun 2015
d. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) e. Petugas Kebersihan dan Sanitasi
`
Sedangkan untuk triangulasi dengan metode atau teknik dilakukan peneliti dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda, misalnya wawancara, kuesioner atau checklist, observasi dan telaah dokumen untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal. Triangulasi dengan metode akan dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen sebagai berikut:
a. Rencana Strategis Universitas (dalam kurun waktu 5 tahun) b. Kebijakan dan peraturan tertulis
c. Program Kerja/Kegiatan yang dilakukan.
b. Pedoman Pengembangan Kurikulum Universitas c. Silabus mata kuliah
G. Variabel Penelitian
Variabel adalah karakteristik atau atribut dari individu atau organisasi yang dapat diukur atau diamati oleh peneliti dan bervariasi di antara individu atau organisasi yang diteliti (Creswell, 2015). Variabel Kampus Hijau dalam penelitian ini mengacu pada Indikator UI Green Metric, hanya saja sifat penelitian kualitatif deskriptif sehingga peneliti tidak melakukan penilaian terhadap masing-masing indikator hanya berfokus pada identifikasi penerapan indikator kampus hijau yang terdapat pada UI Green Metric secara naratif. Variabel dalam penelitian ini antara lain meliputi variabel kebijakan, penerapan, hambatan dan strategi yang terdiri dari enam indikator UI Green Metric yaitu penataan