• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

11

2.1. Sistem Informasi Administrasi Sekolah

2.1.1. Sistem Informasi

Menurut James O’Brien (2006) sistem adalah sekumpulan komponen yangsaling berhubungan, bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerimainput serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur.

Sistem adalah sekumpulan sumber daya yang berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. (Bodnar, 2000)

Sedangkan menurut McLeaod (2004), Sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud sama untuk mencapai suatu tujuan.

Informasi adalah data yang telah diubah bentuknya menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi para pemakai akhir tertentu.

(O’Brien, 2006)

Informasi adalah data yang berguna dan diolah sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan. (Bodnar, 2000)

Informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti. (McLeod, 2004)

Menurut James O’Brien (2006) sistem informasi adalah kombinasi teratur apapun dari orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak,

(2)

jaringan komunikasi, dan sumber daya yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.

2.1.2. Administrasi Sekolah

Administrasi adalah usaha dan kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebijakan untuk mencapai tujuan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, p9)

Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran menurut tingkatannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, p1013).

Jadi, administrasi sekolah adalah suatu proses yang merupakan siklus penyelenggaraan pendidikan yang dimulai dari perencanaan, diikuti pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian tentang usaha untuk mencapai tujuannya. Administrasi sekolah juga mencakup mengenai usaha untuk melakukan manajemen.

2.2. Cloud Computing

2.2.1. Sejarah Cloud Computing

Ide awal dari cloud computing bisa ditarik ke tahun 1960-an, saat John McCarthy, pakar komputasi MIT yang dikenal juga sebagai salah satu pionir intelejensia buatan, menyampaikan visi bahwa "suatu hari nanti komputasi akan menjadi infrastruktur publik seperti listrik dan telpon".

Namun baru di tahun 1995 lah, Larry Ellison, pendiri Oracle, memunculkan ide "Network Computing" sebagai kampanye untuk menggugat dominasi Microsoft yang saat itu merajai desktop computing

(3)

dengan Windows 95-nya. Ide Larry Ellison menawarkan bahwa sebetulnya user tidak memerlukan berbagai software, mulai dari Sistem Operasi dan berbagai software lain, dijejalkan ke dalam PC Desktop mereka. PC Desktop bisa digantikan oleh sebuah terminal yang langsung terhubung dengan sebuah server yang menyediakan environment yang berisi berbagai kebutuhan software yang siap diakses oleh pengguna.

Ide "Network Computing" ini sempat menghangat dengan munculnya beberapa pabrikan seperti Sun Microsystem dan Novell Netware yang menawarkan Network Computing client sebagai pengganti desktop. Namun akhirnya, gaung Network Computing ini lenyap dengan sendirinya, terutama disebabkan kualitas jaringan komputer yang saat itu masih belum memadai, sehingga akses Network Computing ini menjadi sangat lambat, sehingga orang-orang akhirnya kembali memilih kenyamanan PC Desktop, seiring dengan semakin murahnya harga PC.

Perkembangan selanjutnya adalah kehadiran konsep ASP (Application Service Provider) di akhir era 90-an. Seiring dengan semakin meningkatnya kualitas jaringan komputer, memungkinkan akses aplikasi menjadi lebih cepat.

Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh sejumlah pemilik data center untuk menawarkan fasilitasnya sebagai tempat ‘hosting’ aplikasi yang dapat diakses oleh pelanggan melalui jaringan komputer. Dengan demikian pelanggan tidak perlu investasi di perangkat data center.Hanya saja ASP ini masih bersifat private, di mana layanan hanya dikastemisasi

(4)

khusus untuk satu pelanggan tertentu, sementara aplikasi yang di sediakan waktu itu umumnya masih bersifat clientserver.

Kehadiran berbagai teknik baru dalam pengembangan perangkat lunak di awal abad 21, terutama di area pemrograman berbasis web disertai peningkatan kapasitas jaringan internet, telah menjadikan situssitus internet bukan lagi berisi sekedar informasi statik.Tapi sudah mulai mengarah ke aplikasi bisnis yang lebih kompleks.

Popularitas Cloud Computing semakin menjulang saat di awal 2000-an, Marc Benioff ex VP di Oracle, meluncurkan layanan aplikasi CRM dalam bentuk Software as a Service (SaaS), Salesforce.com, yang mendapatkan sambutan hangat di mata dunia.Dengan misinya yang terkenal yaitu "The End of Software", Benioff bisa dikatakan berhasil mewujudkan visi bos-nya di Oracle, Larry Elisson, tentang Network Computing menjadi kenyataan satu dekade kemudian.

Selanjutnya Cloud Computing bergulir seperti bola salju yang menyapu dunia teknologi informasi.Dimulai di tahun 2005, mulai muncul inisiatif yang didorong oleh nama-nama besar seperti Amazon.com yang meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Compute Cloud), Google dengan Google App Engine-nya, tak ketinggalan raksasa biru IBM meluncurkan Blue Cloud Initiative dan lain sebagainya.

Semua inisiatif ini masih terus bergerak, dan bentuk Cloud Computing pun masih terus mencari bentuk terbaiknya, baik dari sisi praktis maupun dari sisi akademis.Bahkan dari sisi akademis, jurnaljurnal

(5)

yang membahas tentang ini hal ini baru bermunculan di tiga tahun belakangan.

Akhirnya seperti yang kita saksikan sekarang, seluruh nama-nama besar terlibat dalam pertarungan menguasai cloud ini.Bahkan pabrikan Dell, pernah mencoba mempatenkan istilah "Cloud Computing", namun ditolak oleh otoritas paten Amerika.

2.2.2. Definisi Cloud Computing

Menurut Scale (2009), Cloud Computing adalah berbagi dalam penggunaan aplikasi dan resource dari sebuah lingkungan jaringan yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa harus memperhatikan kepemilikan dan manajemen dari resource jaringan dan aplikasi itu sendiri. Dengan menggunakan cloud computing, komputer resource yang dipergunakan untuk bekerja dan data tidak lagi disimpan dalam komputer personal, tetapi data tersebut berada di tempat lain (hosting) yang dapat di akses dari mana saja dan kapan saja.

Cloud computing menjadi sebuah teknologi yang adoptable untuk banyak organisasi dengan skalabilitas yang dinamis dan penggunaan sumber daya virtual sebagai layanan melalui Internet.(Ercana, 2010).Cloud computing menurut Furht (2010) dapat didefinisikan sebagai model baru dalam dunia komputer yang memiliki skala dinamis dan virtualisasi resource yang diberikan sebagai layanan melalui internet.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penerapan teknologi cloud computing, antara lain adalah:

(6)

1. Cloud computing adalah sebuah model layanan berbasis Internet untuk menampung sumberdaya sebuah perusahaan. Artinya sebuah perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung”

di cloud alias Internet.

2. Sebuah perusahaan tak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastruktur dan software.

3. Perusahaan pun tak perlu memiliki pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infrastruktur di “cloud” yang mendukung mereka.

2.2.3. Model Layanan Cloud Computing

Sedangkan tiga jenis model layanan dijelaskan oleh NIST (Mell dan Grance, 2009) sebagai berikut :

1. Cloud Software as a Service (SaaS).

Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk menggunakan aplikasi penyedia dapat beroperasi pada infrastruktur cloud.Aplikasi dapat diakses dari berbagai perangkat klien melalui antarmuka seperti web browser (misalnya, email berbasis web).

Konsumen tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur cloud yang mendasari termasuk jaringan, server, sistem operasi, penyimpanan, atau bahkan kemampuan aplikasi individu, dengan kemungkinan pengecualian terbatas terhadap pengaturan konfigurasi aplikasi pengguna tertentu.

(7)

2. Cloud Platform as a Service (PaaS).

Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk menyebarkan aplikasi yang dibuat konsumen atau diperoleh ke infrastruktur cloud computing menggunakan bahasa pemrograman dan peralatan yang didukung oleh provider. Konsumen tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur cloud yang mendasari termasuk jaringan, server, sistem operasi, atau penyimpanan, namun memiliki kontrol atas aplikasi disebarkan dan memungkinkan aplikasi melakukan hosting konfigurasi.

3. Cloud Infrastructure as a Service (IaaS).

Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk memproses, menyimpan, berjaringan, dan komputasi sumberdaya lain yang penting, dimana konsumen dapat menyebarkan dan menjalankan perangkat lunak secara bebas, dapat mencakup sistem operasi dan aplikasi. Konsumen tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur cloud yang mendasari tetapi memiliki kontrol atas sistem operasi, penyimpanan, aplikasi yang disebarkan, dan mungkin kontrol terbatas komponen jaringan yang pilih (misalnya, firewall host).

2.2.4. Deployment Model dari Cloud Computing

Model penyebaran cloud computing menurut NIST terdiri dari empat model (Mell dan Grance, 2009), yaitu:

1. Private Cloud: yaitu infrastruktur cloud yang semata-mata dioperasikan bagi suatu organisasi. Ini mungkin dikelola oleh

(8)

organisasi atau pihak ketiga dan mungkin ada pada on premis atau off-premis.

2. Community Cloud: yaitu infrastruktur cloud digunakan secara bersama oleh beberapa organisasi dan mendukung komunitas tertentu yang telah berbagi concerns (misalnya, misi, persyaratan keamanan, kebijakan, dan pertimbangan kepatuhan). Ini mungkin dikelola oleh organisasi atau pihak ketiga dan mungkin ada pada on premis atau off premis.

3. Public Cloud: yaitu infrastruktur cloud yang dibuat tersedia untuk umum atau kelompok industri besar dan dimiliki oleh sebuah organisasi yang menjual layanan cloud.

4. Hybrid Cloud: yaitu infrastruktur cloud merupakan komposisi dari dua atau lebih cloud (swasta, komunitas, atau publik) yang masih memiliki entitas unik namun terikat bersama oleh standar atau kepemilikan teknologi yang menggunakan data dan portabilitas aplikasi (e.g., cloud bursting for loadbalancingbetween clouds).

2.2.5. Karakteristik Cloud Computing

NIST mengidentifikasi lima karakteristik penting dari cloud computing (Mell & Grance, 2009) sebagai berikut:

1. On-demand self-service. Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen antarmuka. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumberdaya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia.

(9)

2. Broad network access. Kemampuan yang tersedia melalui jaringan dan diakses melalui mekanisme standar, yang mengenalkan penggunaan berbagai platform (misalnya, telepon selular, laptop, dan PDA).

3. Resource pooling. Penyatuan sumberdaya komputasi yang dimiliki penyedia untuk melayani beberapa konsumen menggunakan model multi-penyewa, dengan sumberdaya fisik dan virtual yang berbeda, ditetapkan secara dinamis dan ditugaskan sesuai dengan permintaan konsumen. Ada rasa kemandirian lokasi bahwa pelanggan umumnya tidak memiliki kontrol atau pengetahuan atas keberadaan lokasi sumberdaya yang disediakan, tetapi ada kemungkinan dapat menentukan lokasi di tingkat yang lebih tinggi (misalnya, negara, negara bagian, atau datacenter). Contoh sumberdaya termasuk penyimpanan, pemrosesan, memori, bandwidth jaringan, dan mesin virtual.

4. Rapid elasticity. Kemampuan dapat dengan cepat dan elastis ditetapkan.

5. Measured Service. Sistem cloud computing secara otomatis mengawasi dan mengoptimalkan penggunaan sumberdaya dengan memanfaatkan kemampuan pengukuran (metering) pada beberapa tingkat yang sesuai dengan jenis layanan (misalnya, penyimpanan, pemrosesan, bandwidth, dan account pengguna aktif). Penggunaan sumberdaya dapat dipantau, dikendalikan, dan dilaporkan sebagai

(10)

upaya memberikan transparansi bagi penyedia dan konsumen dari layanan yang digunakan.

2.2.6. Komponen Cloud Computing

Ada tiga komponen dasar cloud computing dalam topologi yang sederhana menurut Velte (2010) yaitu clients, datacenter, dandistributed servers. Ketiga komponen dasar tersebut memiliki tujuan dan peranan yang spesifik dalam menjalankan operasi cloud computing. Konsep ketiga komponen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1. Tiga Komponen Dasar Cloud Computing

2.2.7. Keuntungan Cloud Computing

Keuntungan cloud computing menurut CSO Group (2012) bagi perusahaan yang lebih besar tertarik dengan struktur keuangan yang dapat menghemat uang mereka di berbagai bidang, termasuk:

ƒ Capital expenses. Perusahaan tidak perlu lagi berurusan dengan amortisasi dan penyusutan dari peralatan, perusahaan hanya membayar

(11)

bulanan atau tahunan dari kontrak cloud computing. Dengan demikian membuat budget lebih terprediksi.

ƒ IT budgets. Dengan hardware, software dan networking secara

outsource, perusahaan berhemat pada pembelian peralatan, lisensi software, biaya upgrade dan biaya manajemen IT.

ƒ Development costs. Dibandingkan dengan perusahaan harus

mengeluarkan biaya untuk membangun, upgrade dan custom software, perusahaan mengandalkan service provider untuk maintenance dan upgrade aplilkasi.

Sedangkan menurut Spinola (2009) sedikitnya ada tiga kategori utama dari keuntungan atau manfaat dari cloud computing, yaitu:

1. Delivery of service (faster time-to-value and time-to-market)

2. Reduction of cost (CapEx vs. OpEx tradeoff and costs that are more competitive)

3. IT department transformation (fokus pada inovasi vs. pemeliharaan &

implementasi)

2.3. Business Plan Process

Menurut Bygrave dan Zacharakis (2011) Business plan merupakan sebuah dokumen yang disiapkan entrepreneurship yang mencakup tentang perencanaan bisnis yang akan dilakukan dan yang disusun agar mendapatkan prediksi perusahaan untuk masa depan. Berdasarkan dokumen business plan tersebut terdapat perencanaan yang mencakup ringkasan eksekutif; analisis industri, pelanggan dan pesaing; deskripsi perusahaan dan produk; perencanaan

(12)

pemasaran; operasional; perencanaan pengembangan; tim; risiko yang kritis;

perencanaan keuangan; dan lampiran. Business plan ini juga berguna untuk membantu kegiatan penelitian (bisnis) yang sedang dilaksanakan atau sedang berjalan agar tetap pada jalur yang direncanakan; sebagai pedoman untuk mempertajam rencana-rencana yang diharapkan; dan alat untuk mencari dana dari pihak ketiga dalam hal ini termasuk investor, lembaga keuangan dan lain-lain.

Tahapan dalam menyusun rencana bisnismenurut Bygrave dan Zacharakis adalah sebagai berikut:

2.3.1. Ringkasan Eksekutif (Executive Summary)

Ringkasan eksekutif merupakan bagian yang terpenting dari business plan, karena melalui dokumen tersebut seorang investor mendapatkan gambaran dari perencanaan bisnis secara keseluruhan tanpa harus melihat keseluruhan dokumen business plan tersebut. Dalam ringkasan eksekutif ini biasanya terdapat informasi berupa deskripsi tentang kesempatan bisnis atau peluang, konsep bisnis, gambaran industri, target pasar, keunggulan kompetitif, model bisnis dan ekonomi, tim dan bagaimana melakukan penawaran kepada pelanggan.

2.3.2. Analisis Industri, Pelanggan dan Pesaing (Industry, Customer and Competitor Analysis)

Penganalisian dari industri, pelanggan dan pesaing merupakan hal yang harus dilakukan seorang entrepreneurship untuk mengetahui kondisi pasar pada saat ingin melakukan bisnis dan tenjun dalam sebuah dunia

(13)

persaingan.Berikut adalah penjelasan berdasarkan analisis insdustri, pelanggan dan pesaing.

a. Analisis industri : analisis yang bertujuan untuk menggambarkan industri apa saja yang memiliki kesempatan bisnis dan bagaimana karakteristik yang dibutuhkan untuk membuat kesempatan tersebut menjadi lebih menarik serta dapat menarik pangsa pasar yang ada.

Penganalisian industri tidak membahas tentang konsep, produk, dan jasa yang ditawarkan, tetapi hanya melakukan penganalisian industri yang menjadi kesempatan entrepreneurship untuk melakukan inovasi terhadap business plan.

b. Analisis pelanggan: analisis yang bertujuan untuk penentuan target pasar yang cocok untuk membidik produk atau jasa yang akan dipasarkan. Melalui analisis pelanggan, entrepreneurship dapat mengembangkan produk dan jasa yang akan dipasarkan berdasarkan kebutuhan pelanggan tersebut, sehingga produk dan jasa tersebut dapat memuaskan pelanggan.

c. Analisis pesaing: analisis yang bertujuan untuk melihat perusahaan apa saja yang menjadi pesaing, dan melalui analisis ini dapat membantu entrepreneurship untuk melakukan pengembangan.

Dalam hal ini pesaing yang ada dapat menjadi benchmark untuk perusahaan dalam melakukan pengembangan tehadap produk dan jasa yang akan dipasarkan.

(14)

2.3.3. Deskripsi Perusahaan dan Produk (Company and Product Description)

Deskripsi perusahaan dan produk merupakan bagian untuk menjelaskan secara terperinci mengenai perusahaan dan produk yang akan dipasarkan. Langkah ini harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan perencanaan pemasaran dan perencanaan operasional, karena untuk masuk tahap tersebut, pendeskripsian terhadap perusahaan dan produk yang akan dipasarkan harus jelas.

Pendeskripsian perusahaan dapat berupa apa yang menjadi visi dan misi perusahaan dan perencanaan atau strategi jangka panjang untuk pertumbuhan bisnis tersebut. Sedangkan untuk pendeskripsian produk dapat berupa nilai tambah yang akan dikirim kepada pelanggan, produk atau jasa seperti apa yang sangat diperlukan dan bermanfaat untuk pelanggan, dan perlu untuk menjelaskan kenapa produk atau jasa yang dipasarkan adalah sangat baik.

2.3.4. Perencanaan Pemasaran (Marketing Plan)

Perencanaan pemasaran adalah tahap yang mendeskripsikan strategi untuk melakukan pemasaran terhadap beberapa bagian antara lain adalah sebagai berikut:

a. Strategi penentuan target pasar : merupakan penetapan untuk target pasar dan positioning produk yang dipasarkan. Untuk dapat menentukan target pasar, biasanya harus dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk mencari tau target pasar yang cocok untuk membidik produk yang akan dipasarkan.

(15)

b. Strategi produk/jasa : merupakan penetapan strategi yang unik untuk produk dan jasa yang akan ditawarkan kepada pelanggan, dan usaha untuk membuat suatu produk dan jasa yang berbeda dengan yang ditawarkan oleh perusahaan lain dalam hal ini adalah pesaing.

c. Strategi penetapan harga : merupakan strategi untuk menentukan harga yang cocok terhadap produk dan jasa yang akan ditawarkan pada pelanggan. Untuk melakukan penentuan harga tentunya harus memperhatikan kualitas dari produk dan jasa yang akan ditawarkan, dari segi fungsi dan manfaat yang didapatkan dan kenapa produk dan jasa tersebut penting untuk dimiliki pelanggan.

d. Strategi distribusi : merupakan strategi bagaimana produk dan jasa yang ditawarkan dapat menjangkau pelanggan. Dari tahap ini yang perlu diperhatikan bagaimana penetapan untuk strategi distribusi ini dapat dilakukan dengan efektif dan efisien, serta dapat menjangkau pelanggannya dengan sangat mudah.

e. Strategi komunikasi pemasaran : merupakan strategi untuk mengkomunikasikan produk dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen dapat disampaikan dengan sangat baik; dimana nilai- nilai dari produk, fungsi dari produk, manfaat yang didapat dari produk dan jasa tersebut, serta keuntungan yang kompetitif dari produk dan jasa yang ditawarkan dapat disampaikan kepada konsumen dengan sangat baik. Dalam hal ini, strategi komunikasi dapat dilakukan dengan baik dengan ketentuan orang yang

(16)

melakukan komunikasi tersebut harus memiliki knowledge mengenai deskripsi produk dan jasa yang akan dipasarkan.

f. Strategi penjualan : marupakan strategi yang mendukung semua penetapan strategi sebelumnya, mulai dari strategi penentuan target pasar; strategi produk/jasa; strategi penetapan harga; strategi distribusi; dan strategi komunikasi pemasaran. Strategi penjualan ini akan dilakukan penetapan terhadap sumber daya manusia yang akan melakukan penjualan baik dari internal perusahaan atau outsource. Dengan melakukan strategi ini dapat membangun sebuah kredibilitas di mata investor, karena dengan mempresentasikan hal ini dapat dilihat dengan jelas bahwa pemilik perusahaan mengetahui dengan jelas bagaimana bisnis tersebut beroprasi.

g. Perkiraan penjualan dan pemasaran : merupakan strategi yang dibagi dari dua metode yaitu pertama adalah comparable method yang merupakan perencanaan penjualan setelah apa yang perusahaan dapatkan, kemudian melihat diferensiasi dengan produk perusahaan pesaingnya. Metode ini juga melibatkan pemiliknya juga harus memonitor sejumlah pesaing dan menjelaskan apa yang membedakan bisnisnya dengan pesaingnya.

Metode yang kedua yaitu metode build-up adalah metode yang berarti pemilik perusahaan mengidentifikasi semua kemungkinan sumber pendapatan bisnis dan berapa banyak pendapatan yang di dapatkan dalam jangka waktu tertentu.

(17)

2.3.5. Perencanaan operasional (Operational plan)

Perencanaan operasional adalah tahap bagaimana operasional yang berlangsung akan menambah nilai kepada pelanggannya. Perencanaan operasional terbagi atas tiga yaitu:

1. Operasi strategi

Strategi yang menyediakan secara keseluruhan operasional yang ada dalam perusahaan serta menyediakan keuntungan yang komperatif, lokasi geografis dan fasilitas produksi, juga bagaimana meningkatkan keuntungan yang kompetitif pada perusahaan.

2. Ruang lingkup operasi

Merupakan cakupan atau batasan untuk operasional secara keseluruhan yang ada pada perusahaan tersebut. Dari sini akan dibuat diagram untuk melihat bagian mana dari produk yang dapat diproduksi sendiri atau harus outsource.

3. Operasi yang sedang berlangsung

Merupakan operasional yang bertujuan untuk menyediakan rincian aktivitas harian dari diagram yang telah dibuat sebelumnya pada saat penentuan ruang lingkup operasi.

2.3.6. Rencana Pengembangan (Development Plan)

Perencanaan pengembangan adalah strategi yang ditetapkan untuk melakukan pengembangan terhadap suatu produk dan membuat sebuah timeline yang menggambarkan berapa lama proses pengembangan terhadap produk tersebut. Berdasarkan timeline dapat dilihat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sub-sub aktivitas yang

(18)

akandilakukan, dan akan dilihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi agar pengembangan terhadap produk tersebut dapat berhasil, serta risiko- risiko apa yang akan dihadapi perusahan dalam proses pengembangan.

Perencanaan pengembangan juga harus membicarakan tentang upaya paten dan merek dagang dan timeline yang membantu untuk melacak aktivitas utama, tanggung jawab delegasi untuk tugas-tugas proyek, dan jadwal kegiatan terbaik untuk melakukan eksekusi.

2.3.7. Tim (Team)

Tim mengidentifikasi siapa saja yang terlibat dalam proyek dan bertanggung jawab atas pembuatan proyek tersebut. Dalam tim terdapat peranan tim, penasihat dan pemilik perusahaan.

2.3.8. Risiko Kritis (Critical Risks)

Risiko kritis merupakan hal yang penting untuk diketahui seorang pemilik perusahaan, karena untuk perencanaan bisnis akan ada banyak risiko yang akan dihadapi apalagi dalam melakukan perencanaan pengembangan, baik itu risiko dari sisi bisnis dan juga dari sisi teknologi.

Berdasarkan analisis yang dilakukan untuk mengetahui risiko-risiko yang mungkin terjadi, seorang entrepreneurship harus mengidentifikasi juga dampak apa yang akan terjadi pada perusahaan, dan untuk mengatasinya perlu adanya solusi untuk dapat mengatasi risiko-risiko yang mungkin terjadi.

(19)

2.3.9. Perencanaan Keuangan (Financial Plan)

Perencanaan keuangan merupakan perincian tentang perhitungan keuangan perusahaan mulai dari awalnya perusahaan berdiri, dan perhitungan untuk perencanaan keuangan ini dapat berupa pendapatan, laporan arus kas (cash flow), neraca keuangan (balance sheet) dan funding.

Dengan adanya perencanaan keuangan, entrepreneurship dapat lebih mudah melihat anggaran-anggaran yang keluar selama periode waktu tertentu, dan melihat kapan pengembalian modal perusahaan.

2.3.10. Lampiran (Appendix)

Lampiran merupakan semua data-data yang tidak dimasukan dalam laporan sebelumnya dan ingin ditambahkan untuk lebih memperjelas perencanaan bisnis yang akan dilakukan.

2.4. Strategi Bisnis

2.4.1. Analisis SWOT

Analisis SWOT menurut Rangkuti (1997, p18) adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan.Analisis ini berdasarkan logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).

Menurut John, A.P dan Robinson R.B (1997), analisis SWOT merupakan analisis dari kekuatan dan kelemahan suatu organisasi dan kesempatan serta ancaman dari lingkungannya.

(20)

Analisis SWOT dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Peluang (Opportunities)

Adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.Kecenderungan-kecenderungan penting merupakan salah satu peluang.Identifikasi segmen pasar yang tadinya terabaikan, perubahan pada situasi persaingan atau peraturan, perubahan teknologi, serta membaiknya hubungan dengan pembeli atau pemasok dapat memberikan peluang bisnis.

2. Ancaman (Threats)

Adalah situasi yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.Ancaman merupakan penganggu utama, bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan.Masuknya pesaing baru, lambatnya pertumbuhan pasar, meningkatnya kekuatan tawar-menawar pembeli atau pemasok penting, perubahan teknologi, serta perubahan baru atau yang direvisi dapat menjadi ancaman bagi keberhasilan perusahaan.

3. Kekuatan (Strength)

Adalah sumber daya, keterampilan, atau keunggulan-keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani oleh perusahaan yang termasuk dalam kekuatan antara lain sumber daya keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli-pemasok.

4. Kelemahan (weakness)

(21)

Adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan yang dapat menjadi sumber kelemahan antara lain fasilitas, sumber daya keuangan, kapabilitas manajemen, keterampilan pemasaran dan citra merek .

2.4.2. Analisis Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Menurut Kotler (2004, p56), marketing mix adalah seperangkat alat pemasaran taksis yang meliputi produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar yang menjadi target.

1. Product (Produk).

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan masyarakat.Beberapa elemen dari produk adalah kualitas, bentuk fisik, manfaat, jaminan, kemasan, merek, servis, dll.

Saat ini konsumen semakin selektif dalam memilih produk.Hal ini dikarenakan terdapat beragam produk yang tersedia di pasaran.Oleh karena itu, produk yang memiliki keunggulan yang kompetitif dapat memenangkan persaingan dengan produk sejenis lainnya.

2. Price (Harga)

Harga adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen kepada pihak produsen untuk mendapatkan sebuah produk.Dalam

(22)

menentukan harga, produsen harus menitik-beratkan pada kemampuan pembeli pada saat harga yang telah ditetapkan.Harga menunjukkan persepsi konsumen terhadap suatu produk.Harga merupakan salah satu elemen dari bauran pemasaran yang sangat flexible karena harga cenderung mudah berubah, hal ini dipengaruhi oleh faktor pasar dan kondisi ekonomi pada saat itu.

3. Promotion (Promosi)

Promosi merupakan satu variable yang penting dalam bauran pemasaran yang merupakan suatu proses yang berlanjut. Promosi dapat membantu untuk memperbaiki hubungan antara pemasar dan konsumen.Kesediaan konsumen untuk membeli produk dan jasa atas dasar kepuasannya yang merupakan hasil umpan balik dari kegiatan promosi perusahaan, sehingga perusahaan mengetahui bahwa informasi yang mereka dapat, diterima konsumen dengan positif.

Media promosi yang dapat digunakan pada bisnis ini antara lain:

(1) Periklanan, (2) Promosi penjualan, (3) Publisitas dan hubungan masyarakat, dan (4) Pemasaran langsung. Penentuan media promosi yang akan digunakan didasarkan pada jenis dan bentuk produk itu sendiri.

4. Place (Saluran Distribusi)

Kotler (2004) menyatakan bahwa “Saluran distribusi terdiri dari seperangkat lembaga yang melakukan segala kegiatan (Fungsi) yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status pemiliknya dari produsen ke konsumen”.

(23)

Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa saluran distribusi suatu barang adalah keseluruhan kegiatan atau fungsi untuk memindahkan produk disertai dengan hak pemiliknya dari produsen ke konsumen akhir atau pemakai industri.Distribusi berkaitan dengan kemudahan memperoleh produk di pasar dan tersedia saat konsumen mencarinya.Distribusi memperlihatkan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk menjadikan produk atau jasa diperoleh dan tersedia bagi konsumen sasaran.

2.4.3. Analisis Five Forces

Kompetisi dalam suatu industri berakar pada struktur ekonomi yang menuju pada prilaku dari para pesaing dalam industri tersebut.

Kompetisi ini bergantung pada lima kekuatan yang digambarkan oleh Porter (1980) dalam Five Forces Model.

Gambar 2.2. Forces Driving Industry Competition (Porter, 1980, p4)

(24)

1. The Bargaining Power of Suppliers

Sebuah industri atau segmen pasar dikatakan tidak menarik apabilasupplier perusahaan dapat menaikkan harga ataupun mengurangikuantitas bahan baku yg di-supply. Hal ini dapat dikarenakan olehsejumlah supplier yang sedikit untuk menyediakan kebutuhan perusahaansehingga supplier bisa menetapkan harga dengan bebas.

a. Kekuatan supplier dalam menawar lebih kuat ketika:

• Anggota industri harus mengeluarkan biaya tinggi dalam menukar pembelian mereka dengan alternative supplier yang lain

• Pasokan sumber daya yang diperlukan sangat penting bagi perusahaan (sehingga supplier dapat menentukan harga)

• Supplier memiliki pasokan sumber daya yang khas yang bisa meningkatkan kualitas atau performa dari produk penjual atau bagian yang kritis dan bernilai dari proses produksi penjual.

• Hanya ada beberapa jumlah supplier dalam sumber daya tertentu.

• Beberapa supplier mengancam untuk masuk ke dalam bisnis dan kemungkinan akan menjadi pesaing yang kuat.

b. Kekuatan Supplier dalam menawar lebih lemah ketika:

• Barang yang dipasok adalah barang komoditi yang sudah tersedia dari banyak supplier pada harga pasar

• Biaya penjualan dalam menukar supplier dengan alternatif supplier yang lain terbilang rendah.

• Barang pengganti untuk pasokan sumber daya sudah ada dan yang baru muncul

(25)

• Terjadi peningkatan dari persediaan yang dipasok sehingga melemahkan kekuatan supplier dalam menetapkan harga

• Pembelian dari anggota industri terhitung berjumlah besar dari total penjualan supplier dan pembelian ulang dalam jumlah besar sangat penting bagi kesejahteraan supplier.

• Anggota industri merupakan ancaman dan dapat melakukan manufaktur sendiri kebutuhan mereka.

2. The Bargaining Power of Buyers

Jika kekuatan buyer untuk membeli dan menawarkan produktersebut memiliki posisi yang lebih tinggi, maka segmen pasar tersebutdapat dikatakan tidak menarik.Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknyacompetitor dalam industri tersebut sehingga buyer bebas memilih produkyang mereka inginkan.

a. Kekuatan pembeli dalam menawar lebih kuat ketika:

• Biaya pembeli dalam menukar dengan merek competitor atau produk pengganti adalah rendah

• Pembeli berjumlah banyak dan dapat meminta hadiah ketika membeli dalam jumlah besar

• Pembelian dalam volume besar sangat penting bagi penjual • Permintaan pembeli lemah dan dalam posisi menurun

• Hanya ada beberapa pembeli sehingga setiap bisnis sangat penting bagi penjual

• Identitas pembeli menambah gengsi untuk daftar konsumen yang dimiliki oleh penjual

(26)

• Kuantitas dan kualitas informasi yang tersedia untuk pembeli meningkat

• Beberapa pembeli merupakan ancaman dan dapat menjadi competitor penting.

b. Kekuatan pembeli dalam menawar lebih lemah ketika:

• Pembeli melakukan transaksi sangat jarang atau dalam jumlah kecil.

• Biaya pembeli dalam menukar dengan merek competitor adalah tinggi.

• Reputasi merek penjual sangat penting bagi pembeli

• Produk tertentu penjual memberikan kualitas atau performa yang sangat penting bagi pembeli dan hal ini tidak didapat dari merek yang lain

3. Threat of Substitute Products

Segmen pasar dikatakan tidak menarik apabila dalam industritersebut terdapat barang substitusi yang potensial.

a. Tekanan kompetitif dari produk pengganti lebih kuat ketika:

• Produk pengganti sudah tersedia atau produk yang baru muncul

• Produk pengganti memiliki harga yang menarik

• Produk pengganti memiliki performa fitur yang sebanding atau bahkan lebih baik

• Pengguna akhir hanya memerlukan biaya rendah dalam menukar dengan produk pengganti

• Pengguna akhir lebih nyaman dengan menggunakan produk pengganti

(27)

b. Tekanan kompetitif dari produk pengganti lebih lemah ketika:

• Belum tersedianya produk pengganti

• Produk pengganti memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan performa yang diberikan

• Pengguna akhir memerlukan biaya tinggi dalam menukar dengan produk pengganti

c. Tanda bahwa kompetisi dari produk pengganti kuat, yaitu:

• Penjualan dari produk pengganti bertumbuh lebih cepat daripada penjualan dari industri yang dianalisis.

• Produsen produk pengganti bergerak untuk menambah kapasitas baru.

• Profit dari produsen produk pengganti meningkat.

4. Threat of New Entrants

Ancaman dari sebuah perusahaan tidak hanya datang dari pemainlama dari industri tersebut, tetapi juga dari pemain baru yang potensialuntuk memasuki industri tersebut

a. Ancaman pendatang baru lebih kuat ketika:

• Pendatang baru berjumlah besar yang memiliki sumber daya yang dapat membuat mereka menjadi pesaing yang hebat di pasar.

• Hambatan untuk masuk rendah

b. Ancaman pendatang baru lebih lemah ketika:

• Pendatang baru berjumlah kecil

• Hambatan untuk masuk tinggi

(28)

• Pandangan tentang industri tersebut beresiko atau tidak pasti

• Permintaan pembeli tumbuh dengan pelan atau dalam kondisi stagnant

• Anggota industri akan secara kuat menguji usaha dari pendatang baru untuk meraih kedudukan di dalam pasar.

5. Rivalry Among Competitors

Apabila pemain atau kompetitornya sudah banyak, kuat, danagresif, maka segmen pasar tersebut sudah tidak menarik lagi untukdimasuki.Terlebih lagi kalau kondisinya sudah dalam posisi stagnant danmenurun.

a. Persaingan secara umum lebih kuat ketika

• Permintaan pembeli bertumbuh perlahan

• Permintaan pembeli menurun dan penjual kelebihan kapasitas dan inventory

• Jumlah pesaing meningkat dan pesaing memiliki ukuran dan kemampuan kompetitif yang sama

• Produk pesaing yang berupa komoditi atau yang lain sulit dibedakan

• Biaya yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mengganti merek mereka adalah rendah.

• Pesaing memiliki strategi dan objektif yang berbeda dan berlokasi di beberapa Negara.

• Orang luar yang mengakuisisi pesaing yang lemah dan mencoba untuk merubah mereka menjadi pesaing utama

b. Persaingan secara umum lebih lemah ketika

(29)

• Permintaan pembeli tumbuh sangat cepat.

• Produk pesaing sangat berbeda dan loyalitas konsumen sangat tinggi

• Biaya yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mengganti merek adalah tinggi

c. Senjata khas untuk melawan pesaing dan menarik pembeli

• Harga yang lebih rendah

• Fitur yang lebih banyak dan berbeda

• Performa produk yang lebih baik

• Kualitas produk yang lebih tinggi

• Gambaran merek dan pendekatan yang lebih kuat

• Pemilihan model dan gaya lebih luas

• Jaringan penyalur yang lebih besar/baik

• Pembiayaan dengan tingkat bunga rendah

• Iklan yang lebih tinggi tingkatannya

• Kemampuan pelayanan terhadap konsumen yang lebih baik

• Kemampuan yang lebih kuat untuk menyediakan pembeli dengan adanya produk custom-made

2.4.4. Penyusunan Anggaran Dengan Metode Bottom Up

Penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan top-down atau bottom-up. Penyusunan anggaran keuangan dengan menggunakantop-down budgeting biasanya berpotensi menimbulkan masalah.

Para praktisi menyatakan bahwa anggaran menghalangi alokasi sumber daya organisasi untuk mendapatkan manfaat yang terbaik, menyebabkan pembuatan

(30)

keputusan yang cenderung berorientasi jangka pendek dan permainan anggaran yang bersifat disfungsional (Lasdi, 2007).Perilaku disfungsional merupakan perilaku individual yang pada dasarnya bertentangan dengan tujuan organisasi (Hansen dan Mowen, 2004).

Sebaliknya, pendekatan partisipasi atau bottom-up memungkinkan terjadinya negosiasi antar para manajer untuk mencapai tujuan organisasi (Sardjito, 2005). Partisipasi manajer tingkat menengah dan bawah dalam penyusunan anggaran akan memberikan manfaat: mengurangi ketimpangan informasi dalam organisasi serta menimbulkan komitmen yang lebih besar kepada para manajer untuk melaksanakan dan memenuhi anggaran (Welsch, 1998 dalam Sardjito, 2005)

Namun penyusunan anggaran secara partisipatif atau bottom-up bukan berarti tidak menimbulkan masalah. Hansen dan Mowen (2004) mengidentifikasi beberapa masalah yang timbul dalam penganggaran partisipatif, antara lain: (1) atasan atau bawahan akan menetapkan standar anggaran yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, (2) membuat kelonggaran dalam anggaran (budgetary slack), dan (3) terdapat pseudo participation atau partisipasi semu.

Gambar

Gambar 2.1. Tiga Komponen Dasar Cloud Computing
Gambar 2.2. Forces Driving Industry Competition (Porter, 1980, p4)

Referensi

Dokumen terkait

Strategi pemasaran didefinisikan sebagai analisa strategi pengembangan dan pelaksanaan kegiatan dalam strategi penentuan pasar sasaran bagi produk pada tiap unit bisnis,

(2018), dimana ia berpendapat bahwa perceived value akan menentukan seberapa besar sacrifices yang rela dilakukan oleh konsumen untuk menggunakan suatu produk atau

EWOM adalah sebuah media komunikasi untuk berbagi informasi mengenai suatu produk atau jasa yang sudah dikonsumsi antar konsumen yang pada awalnya tidak saling mengenal

Value Proposition yaitu produk atau jasa yang membentuk sebuah value yang berguna untuk ditawarkan perusahaan bagi segmentasi konsumen yang lebih spesifik. Dengan kata lain,

Peranan periklanan dalam pemasaran produk atau jasa adalah untuk menambah pengetahuan konsumen tentang barang yang ditawarkan sehingga konsumen dapat terbujuk untuk membeli

Produk jasa berada pada jantung strategi pemasaran perusahaan, oleh karena itu produk jasa harus diperhatikan benar-benar, karena konsep jasa disini akan memberikan nilai

Lebih lanjut Albertus (2012) menyatakan harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan oleh konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk barang atau

Dari beberapa definisi para ahli tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan yang menyangkut proses penyampaian produk barang atau jasa kepada konsumen