b. Morfologi Seledri
Seledri merupakan tanaman setahun atau dua tahun. Tanaman ini terdiri atas daun, tangkai daun, batang, dan akar. Terna, tumbuh tegak, tinggi sekitar 50 cm dengan bau aromatik yang khas. Batang bersegi, beralur, beruas, tidak berambut, bercabang banyak, berwarna hijau pucat. Daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3–7 helai. Anak daun bertangkai yang panjangnya 1–2,7 cm, helaian daun tipis dan rapuh, pangkal dan ujung runcing, tepi beringgit, panjang 2–7,5 cm, lebar 2–5 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau keputih-putihan. Bunga majemuk berbentuk payung, 8–12 buah, kecil-kecil, berwarna putih, mekar secara bertahap. Buahnya buah kotak, kecil berbentuk kerucut, panjang 1-1,5 mm, berwarna hijau kekuningan (Dalimartha, 2000).
Seledri berasal dari daerah subtropik Eropa dan Asia, dan merupakan tanaman dataran tinggi, yang ditemukan pada ketinggian di atas 900 m dpl. Di daerah ini, seledri yang tumbuh memiliki tangkai yang menebal (Dalimartha, 2000).
c. Kandungan dan Manfaat Seledri
berkhasiat hipotensif (Dalimartha, 2000).
Bagian dari seledri yang dapat digunakan adalah seluruh herba, akar, dan biji dari buah masak. Akar seledri berkhasiat memicu enzim pencernaan dan peluruh kencing (diuretik), sedangkan buah atau bijinya sebagai pereda kejang (antispasmodik), menurunkan kadar asam urat darah, antirematik, peluruh kencing (diuretik), peluruh kentut (karminatif), afrodisiak, dan penenang (sedatif). Herba berbau aromatik, rasanya manis, sedikit pedas, dan sifatnya sejuk. Herba berkhasiat tonik, memacu enzim pencernaan (stomatik), menurunkan tekanan darah (hipotensif), penghenti perdarahan (hemostatis), peluruh kencing (diuretik), peluruh haid, peluruh kentut (karminatif), mengeluarkan asam urat darah yang tinggi, pembersih darah, dan memperbaiki fungsi hormon yang terganggu.
Dan dari penelitian menunjukkan bahwa herba seledri memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Pityrosporum ovale, dan pada konsentrasi 10 % dapat berfungsi sebagai antiketombe dan memiliki kestabilan fisik yang baik pada formulasi sampo (Mataharanti et al., 2012).
2. Ekstrak
3. Metode Ekstraksi
Ekstraksi yaitu penarikan zat yang diinginkan dari bahan obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih disesuaikan dengan zat yang akan dilarutkan. Proses ekstraksi adalah dengan mengumpulkan zat aktif dari bahan mentah obat dan mengeluarkannya dari bahan-bahan sampingan yang tidak diperlukan (Ansel, 1989).
Ada beberapa metode yang dipakai untuk ekstraksi yaitu metode maserasi, perkolasi, dan soxhletasi untuk mengekstraksi atau penyari bahan. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat (Ansel,1989).
Pada pembuatan sampo dengan ekstrak seledri ini digunakan metode maserasi. Maserasi merupakan proses paling tepat untuk obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap ke dalam sel, sehingga zat – zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989). Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar (Harborne, 1987).
4. Cairan Penyari
Sistem pelarut yang digunakan harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah yang maksimum dari zat aktif dan seminimum mungkin bagi unsur yang tidak diinginkan. Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor lain : murah dan mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif, tidak mempengaruhi zat yang berkhasiat, diperbolehkan oleh peraturan. Pelarut yang digunakan sebagai cairan penyari antara lain : air, eter atau campuran etanol-air (Anonim, 1979).
5. Sediaan Sampo
Sampo merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mencuci (keramas) rambut, sehingga kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan rambut menjadi lebih lembut, berkilau, dan mudah diatur. Sedangkan sampo antijamur adalah sampo yang digunakan selain untuk membersihkan juga untuk mencegah dan menghilangkan jamur penyebab infeksi kulit kepala. Sampo antijamur sering diedarkan dengan berbagai nama, seperti sampo obat (medicare) dan sampo klinik (Anonim, 1985). Kandungan kimia sampo antiketombe yang biasa beredar dipasaran adalah zinc pyrithione, asam salisilat, selenium sulfida, dan ketokonazol (Mottram dan Less, 2000).
Jenis-jenis sampoo :
a. Liquid Sampoo (Sampo Cair) b. Lotion Sampoo (Sampo Losio)
d. Gel Sampoo (Sampo Jeli) e. Aerosol Sampoo (Sampo Erosol)
f. Dry Sampoo (Sampo Serbuk) (Anonim, 2011).
Standar mutu sampo menurut Badan Standarisasi Nasional Indonesia. Standar Mutu Sampo (SNI 06-2692-1992) berdasarkan Karakteristik Syarat Cara Pengujian.
Tabel I. Mutu Sampo Berdasarkan SNI 06-2692-1992
Kharakteristik Syarat Pengujian
Bentuk Cair Emulsi Pasta Batangan Serbuk
Tidak ada yang mengendap Rata-rata dan tidak pecah Tidak ada gumpalan dikertas Rata-rata dan seragam Rata-rata dan seragam
Organoleptik Organoleptik Organoleptik Organoleptik Organoleptik Zat aktif permukaan dihitung
Na Lauryl Sulfat (SLS) dan atau non ionic % b/b minimal
4,5 Potentiometric titration
assembly
nilai pH Larutan 10% b/v 5,0-9,0 pH meter
Kadar air dan zat lainnya menguap % b/v maksimal
95,5 Oven 105oC
Viskositas 400-4000 cP (Schmit & William)
Rheometer Brookfield
Alkali bebas 0
-6. Kosmetik
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalm keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Iswari, 2007).
pada pencampuran bahan-bahan tersebut harus memenuhi kaidah pembuatan kosmetik ditinjau dari berbagai segi teknologi pembuatan kosmetik termasuk farmakologi, farmasi, kimia teknik dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).
7. Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Anonim, 1979).
Ada 3 teori tentang pembentukan emulsi , yaitu : a. Teori Tegangan Permukaan
Teori ini menjelaskan bahwa emulsi terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang menurunkan tegangan antar muka diantara 2 cairan yang tidak bercampur.
b. Teori Orientasi Bentuk Baji
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi dengan dasar adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator, ada bagian yang bersifat suka terhadap air atau mudah larut dalam air (hidrofil) dan ada bagian yang suka dengan minyak atau larut dalam minyak (lipofil).
c. Teori Film Plastik
Dalam membuat emulsi dapat dilakukan dengan 3 metode , yaitu : a. Metode Gom Basah ( Metode Inggris )
Yaitu dengan membuat mucilago yang kental dengan sedikit air lalu ditambahkan minyak sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila emulsi terlalu kental, ditambahkan air sedikit demi sedikit agar mudah diaduk dan diaduk lagi ditambah sisa minyak. Bila semua minyak sudah masuk ditambahkan air sambil diaduk sampai volume yang dikehendaki. Cara ini digunakan terutama bila emulgator yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan air.
b. Metode Gom Kering
Metode ini juga disebut metode 4:2:1 (4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom). Selanjutnya sisa air dan bahan lain ditambahkan. Caranya ialah 4 bagian minyak dan 1 bagian gom diaduk dan dicampur dalam mortir yang kering dan bersih sampai tercampur benar, lalu ditambahkan 2 bagian air sampai terjadi corpus emulsi. Tambahkan sirup dan tambahkan sisa air sedikit demi sedikit, bila ada cairan alkohol hendaklah ditambahkan setelah diencerkan sebab alkohol dapat merusak emulsi.
c. Metode HLB
Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan sebagai berikut , yaitu : a. Flokulasi dan Creaming
Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan, dimana masing-masing lapis mengandung fase dispersi yang berbeda.
b. Koalesen dan pecahnya emulsi ( Craking atau breaking )
Pecahnya emulsi yang bersifat tidak dapat kembali. Penggojokkan sederhana akan gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
c. Inversi adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi M/A ke tipa A/M atau sebaliknya (Anief, 1996).
8. Surfaktan
Surfaktan merupakan senyawa aktif penurun tegangan permukaan yang dapat diproduksi secara sintesis kimiawi ataupun biokimiawi. Surfaktan memiliki gugus hidrofobik dan hidrofilik dalam satu molekul. Pembentukan film pada antar muka fasa menurunkan energi antar muka. Surfaktan dimanfaatkan sebagai bahan penggumpal, pembasah, pembusaan, emulsifier oleh industri farmasi, industri kosmetika, industri kimia, industri pertanian, industri pangan (Hill, 1996).
Micelle Concentration (CMC). Tegangan permukaan akan menurun hingga CMC tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam keseimbangan dinamis dengan monomernya (Genaro, 1990).
Klasifikasi surfaktan berdasarkan muatannya dibagi menjadi empat golongan, yaitu :
a. Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion. Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam lemak rantai panjang.
b. Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation. Contohnya yaitu garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil dialkil-dimethil benzil ammonium.
d. Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino, betain, fosfobetain.
9. Antifungi
Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas dan masih menjadi penyakit utama penyebab kematian di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur (Jawetz et al., 2005).
Antifungi/antimikroba adalah suatu bahan yang dapat mengganggu pertum-buhan dan metabolisme mikroorganisme. Pemakaian bahan antimikroba merupakan suatu usaha untuk mengendalikan bakteri maupun jamur, yaitu segala kegiatan yang dapat menghambat, membasmi, atau menyingkirkan mikroorganisme. Tujuan utama pengendalian mikroorganisme untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusu-kan dan perusapembusu-kan oleh mikroorganisme. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh suatu bahan antimikroba, seperti mampu mematikan mikroorganisme, mudah larut dan bersifat stabil, tidak bersifat racun bagi manusia dan hewan, tidak berga-bung dengan bahan organik, efektif pada suhu kamar dan suhu tubuh, tidak menim-bulkan karat dan warna, berkemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap, murah dan mudah didapat (Pelczar dan Chan, 1988).
10. Pityrosporum ovale L.
Divisi : Basidiomycota Subdivisi : Ustilaginomycotina Class : Exabasidiomycetes Ordo : Malasseziales Genus : Malassezia
Spesies : Pityrosporum ovale L.
B. Uraian Bahan Penelitian
Berdasarkan formulasi dari sampo ekstrak etanol daun seledri, bahan-bahan kimia yang terdapat dalam satu formulasi terdiri dari Tween 80, Span 80, Cocamide DEA, Cocamidopropyl betain (CAB-30), Methylparaben, Parfum Apel, dan Aqua Destilata. Fungsi dari masing-masing bahan adalah :
1. Tween 80
2. Span 80
Ester asam lemak sorbitan monooleat (Span 80) adalah surfaktan nonionik yang larut dalam minyak yang menunjang terbentuknya emulsi A/M. Pemerian Span 80 adalah cairan kental berwarna krem sampai kecoklatan, rasanya khas, dan berbau khas. Kelarutannya larut atau terdispersi dalam minyak, larut dalam banyak pelarut organik, tidak larut dalam air, tetapi dapat terdispersi secara perlahan. pH larutan < 8. Stabilitasnya stabil jika dicampurkan dengan asam lemah dan basa lemah. Konsentrasi lazimnya apabila digunakan sendiri adalah 1 – 15 %, dan apabila dikombinasi dengan surfaktan hidrofilik adalah 1 – 10 % (Rowe, et al., 2009).
3. Cocamide DEA
Cocamide DEA merupakan bahan yang berbentuk cairan padat berwarna bening dan memiliki bau yang khas. DEA merupakan senyawa organik dengan rumus HN (CH2CH2OH)2. Seperti amina organik lainnya, DEA bertindak sebagai basa lemah. Mencerminkan karakter hidrofilik kelompok alkohol, DEA larut dalam air, dan bahkan higroskopis. Penambahan bahan ini dapat meningkatkan kekentalan sampo. Dalam sediaan, bahan ini berfungsi sebagai zat pengental.
4. Cocamidopropyl betain (CAB-30)
5. Methylparaben
Pemerian Methylparaben adalah berbentuk kristal tidak berwarna atau serbuk kristal berwarna putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau dan sedikit mempunyai rasa panas. Kelarutannya larut dalam 5 bagian propilenglikol P, 3 bagian etanol (95 %) P, 60 bagian gliserin P, dan 400 bagian air. Khasiatnya adalah sebagai zat pengawet (Anonim, 1979). Konsentrasi lazimnya adalah 0,02 % - 0,3 % (Rowe, et al., 2009).
6. Parfum Apel
Parfum atau bahan pewangi (fragrance) merupakan bahan yang sering ditambahkan agar sampo memiliki bau yang menarik. Pada formula ini digunakan parfum yang terbuat dari minyak buah apel hijau.
7. Aqua Destilata
Aqua destilata atau air suling memiliki rumus kimia H2O, air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum. Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa. Kegunaannya adalah sebagai pelarut (Anonim, 1979).
C. Kerangka Penelitian
Pembuatan sediaan sampo ekstrak seledri pada penelitian ini menggunakan variasi jenis surfaktan. Perbedaan jenis surfaktan dimaksudkan untuk mengetahui surfaktan terbaik yang mempunyai sifat fisik serta sifat kimia sampo yang paling stabil. Pada penelitian ini digunakan Tween 80 dengan konsentrasi 15 %, Span 80 dengan konsentrasi 15 %, serta kombinasi Tween 80 dan Span 80 dengan konsentrasi masing-masing 6 %. Tween 80 dan Span 80 merupakan surfaktan nonionik golongan sorbitan yang sering digunakan dalam kosmetik, produk makanan dan sediaan farmasetika baik dalam penggunaan secara peroral, parenteral maupun topikal. Sorbitan bersifat tidak larut dalam air dan larut dalam minyak, dan stabil pada suhu tinggi dan tidak beracun (Stockburgerg, 1981). Keunggulan surfaktan golongan sorbitan dibandingkan dengan golongan lain adalah lebih aman (tidak toksik) dan tidak mengiritasi, serta limbahnya lebih aman bagi lingkungan. Span 80 bersifat hidrofobik dengan nilai HLB sebesar 4,3 yang akan menghasilkan sediaan emulsi yang bertipe A/M, sedangkan Tween 80 bersifat hidrofilik dengan nilai HLB sebesar 15 yang akan menghasilkan sediaan emulsi yang bertipe M/A.
D. Hipotesis
1. Penggunaan Tween 80, Span 80 serta kombinasi Tween 80 dan Span 80 sebagai surfaktan dalam pembuatan sampo ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) diduga berpengaruh terhadap kestabilan sifat fisik sampo yaitu organoleptis, viskositas dan tinggi busa serta berpengaruh terhadap sifat kimia sampo yaitu derajat keasaman (pH).