1
PERPUSTAKAAN
TEMA GEOLOGI 2020
KUMPULAN ABSTRAK JURNAL
KOLEKSI E-DEPOSIT PERPUSTAKAAN
NASIONAL
TEMA GEOLOGI 2020
KUMPULAN ABSTRAK JURNAL
Penyusun: Gibran Bima
Penyunting: Rudi Hernanda
2 PROSES ABRASI DI KAWASAN PANTAI LOMBONG, MAJENE,
SULAWESI BARAT
Yudhicara dan M. Yosi
ABSTRAK
Saat ini pantai Lombong yang merupakan bagian dari kawasan pantai di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat mengalami kerusakan akibat abrasi, sehingga sarana dan prasarana umum di beberapa tempat terancam mengalami kerusakan. Untuk itu dilakukan analisis terhadap potensi abrasi melalui suatu penelitian, berupa kegiatan lapangan dan analisis yang antara lain adalah analisis energi fluks gelombang menggunakan data arah dan kecepatan angin; analisis material endapan pantai; analisis arus sepanjang pantai; serta analisis data pasang surut.
Berdasarkan hasil pengukuran di atas, beda tinggi dataran pantai tempat pemukiman berada relatif sangat landai (0.2-1.0 m) dengan jarak yang sangat dekat terhadap garis pantai yaitu 18 hingga 52 m. Hasil analisis data angin menunjukkan bahwa arah angin dominan yang dapat memicu timbulnya gelombang di perairan Majene, adalah angin yang berasal dari arah barat (18,11 %) dan angin barat laut (17,41 %). Tinggi gelombang dari arah barat dan barat laut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan dari arah lainnya, karena arah ini mempunyai kecepatan dan panjang fetch angin yang lebih besar. Analisis data pasang surut memunjukkan bahwa rentang air di perairan Majene ini adalah 170 cm dengan tinggi duduk tengah muka laut (MSL) 89.99 cm, sedangkan dari perhitungan konstanta harmonik mengidentifikasikan bahwa tipe pasang surut di perairan Majene tersebut adalah tipe campuran condong harian tunggal (mixed mainly diurnal tides). Berdasarkan hasil perhitungan energi fluks, terlihat bahwa daerah- daerah yang berpotensi mengalami proses abrasi adalah di titik amat 1 - 2; 6 - 13; 14 - 17; 19 - 21, sedangkan pantai yang berpotensi mengalami sedimentasi adalah pada titik amat 2 – 3; 13 – 14; 17 – 19. Titik amat 3 – 6 dan 21 – 22 relatif stabil.
3 Kata kunci :Pantai Lombong, Abrasi, Gelombang, Angin, Pasang surut
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.3, Desember 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
4 MODEL SEDERHANA 2-DIMENSI ARAH PERGERAKAN SEDIMEN DI
SUNGAI PORONG JAWA TIMUR
Huda Bachtiar, Franto Novico dan Fitri Riandini
ABSTRAK
Model numerik MIKE 21 modul transport sedimen digunakan untuk mengetahui respon pergerakan lumpur Sidoarjo pada saat musim hujan dan musim kemarau dan pengaruh tanggul yang berada di muara Sungai Porong. Data yang digunakan adalah pasang surut muka air laut, kedalaman air, debit sungai, arus dan konsentrasi sedimen.
Simulasi dilakukan dengan membuat dua skenario, yaitu pada saat kondisi musim hujan dan pada saat musim kemarau. Hasil simulasi model hidrodinamika di verifikasi dengan data lapangan untuk mendapatkan nilai korelasi. Verifikasi meliputi data muka air dan kecepatan arus baik arah –x maupun –y. Berdasarkan hasil verifikasi didapatkan nilai korelasi muka air sebesar 0.8641 sementara arus bernilai 0.1493 untuk sumbu –x dan 0.1917 untuk sumbu –y. Selanjutnya hasil simulasi model menunjukkan konsentrasi sedimen pada tanggal 27 November 2007 merupakan puncak tertinggi dengan nilai 3.2x10-3 kg/m3 untuk musim hujan sementara untuk musim kemarau konsentrasi sedimen bernilai 0.0x10-3 kg/m3.
Kata kunci : Model Numerik, Pergerakan Lumpur, Sungai Porong.
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.3, Desember 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
5 AKUMULASI TAILING DASAR LAUT
DI PERAIRAN TELUK SENUNU DAN SEKITARNYA, SUMBAWA BARAT
Y. Noviadi dan A Prijantono
ABSTRAK
Teluk Senunu terletak di pantai selatan Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini merupakan kawasan pembuangan tailing dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Hasil pemeruman di lokasi penyelidikan di sekitar alur pipa tailing memperlihatkan kedalaman dasar laut di sekitar Teluk Senunu bervariasi, pada kedalaman 0 sampai dengan 100 meter dijumpai pada jarak sekitar 3 - 3,25 km dari garis pantai. Keberadaan pipa tailing terluar berada pada kedalaman sekitar 120 meter dari permukaan dasar laut, dan posisi penempatan tailing ini terletak di kawasan Ngarai dengan kedalaman lebih dari 125 meter. Berdasarkan hasil penafsiran data Side Scan Sonar dijumpai adanya 3 jalur pipa tailing yang berada di permukaan dasar laut dengan penyebaran tailing secara lateral melebar sepanjang 1,5 km sejajar dengan tebing Ngarai Senunu.
Kata kunci : tailing, Teluk Senunu, Rekaman Seismik, Side scan sonar
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
6 POLA SEBARAN GAS CHARGED SEDIMENT DASAR LAUT DI
PERAIRAN SIDOARJO JAWA TIMUR
I Nyoman Astawa, Wijaya, P.H., dan I.W. Lugra
ABSTRAK
Gas charged sediment dalam rekaman seismik dicirikan oleh tidak adanya gambar pantul dalam (free reflector), karena gas charged sediment merupakan media penyerap energi. Dari hasil penafsiran rekaman seismik dapat dibuat Peta Pola Sebaran Gas Charged sediment di daerah penelitian. Pola sebaran gas charged sediment di daerah penelitian cukup luas yaitu mulai dari Perairan Sukolilo hingga ke muara Kali Porong.
Di bagian selatan daerah penelitian (L-12), sebaran gas charged sediment relatif lebih luas jika dibandingkan dengan di bagian utara (L-19).
Kata kunci : seismik, penafsiran, peta pola sebaran gas charged
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
7 KAJIAN IDENTIFIKASI INFRASTRUKTUR JARINGAN PIPA MIGAS
BAWAH LAUT DI PERAIRAN SEBELAH UTARA PROVINSI BANTEN
B. Rachmat, C. Purwanto dan P. Raharjo
ABSTRAK
Keberadaan fasilitas infrastruktur pipa migas bawah laut di perairan utara Banten berkembang cukup pesat seiring dengan berkembangnya kegiatan industri yang berada di kawasan Propinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Mengingat kondisi lingkungan di sekitar perairan utara Banten cukup komplek, seperti adanya jalur sesar/patahan, seismisitas kegempaan yang cukup aktif, morfologi dasar laut yang tidak rata, keberadaan jaringan kabel bawah laut, kondisi hidrooseanografi yang cukup dinamis, kegiatan pelayaran yang sangat padat dan adanya kegiatan nelayan, menyebabkan potensi resiko untuk terjadinya kegagalan struktur pada jaringan pipa yang digelar di perairan utara Banten cukup besar. Potensi resiko lainnya adalah terkait dengan penggelaran pipa yang tidak sesuai dengan aturan standar dan aturan perundangan yang berlaku. Pipa-pipa ini perlu ditertibkan karena posisi pipa-pipa ini sangat rawan untuk terjadinya kegagalan struktur. Beberapa potensi kegagalan struktur pada pipa migas bawah laut di perairan ini yang mungkin terjadi diantaranya adalah pipa tertimpa jangkar kapal, terseret jangkar kapal, terjadi bentang bebas (freespan), kegagalan akibat lelah (patigue) terjadi pembengkokan (buckling) dan terjadi pergeseran posisi pipa baik lateral maupun vertikal. Oleh karena itu perlu dilakukannya pengawasan terhadap keberadaan pipa migas bawah laut ini yang sesuai dengan aturan standar dan aturan perundangan yang berlaku.
Kata kunci : jaringan, pipa, infrastruktur, aturan, penggelaran
8 Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
9 MODEL 2D PENGARUH GAYA HORIZONTAL ARUS
PADA PEMECAH GELOMBANG DI TPI PANCER JAWA TIMUR
F. Novico dan Sahudin
ABSTRAK
Perencanaan pemecah gelombang yang baik seharusnya dilakukan tidak hanya dengan mempertimbangkan aspek geologi dan geoteknik namun juga arus sebagai gaya horizontal yang bekerja pada pemecah gelombang. Berdasarkan desain pemecah gelombang pada penelitian terdahulu, maka dilakukan analisa pemodelan pemecah gelombang yang difokuskan pada parameter arus yang bekerja di struktur pemecah gelombang. Kecepatan arus ditransformasikan menjadi gaya horizontal untuk masing- masing skenario model, dimana model dibuat dalam bentuk dua dimensi elemen terbatas dengan analisis linear elastis untuk setiap skenario model. Model telah dibuat dengan menerapkan 8 meter tinggi pemecah gelombang dan 1kN/m2 gaya horizontal untuk disimulasikan. Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dapat diketahui bahwa perpindahan terbesar yang terjadi adalah sebesar 46,25 x 10-3 m. Sehingga gaya arus dapat dikatakan tidak menyebabkan keruntuhan atau perubahan yang besar pada struktur pemecah gelombang.
Kata kunci : Gaya Arus, Pemecah Gelombang TPI Pancer, Plaxis V.8.2
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
10 POLA ANOMALI MAGNET LOKAL DARI APLIKASI TREND SURFACE ANALYSIS (TSA) PADA PEMETAAN GEOLOGI KELAUTAN BERSISTEM
DI PERAIRAN SELAT MALAKA SUMATERA UTARA
D. Ilahude dan B. Rachmat
ABSTRAK
Analisis intensitas magnet dari penerapan metode TSA orde ke 2 menunjukkan nilai anomali lokal yang cukup signifikan dari pemisahan nilai anomali magnet total di perairan Selat Malaka. Kontur anomali lokal yang dihasilkan diduga berkaitan dengan pola struktur geologi busur belakang Sumatera Utara.
Kata kunci : anomali lokal, metode TSA
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
11 FORAMINIFERA PERAIRAN BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR:
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PENGARUHNYA
Mimin K. Adisaputra dan M. Hendrizan
ABSTRAK
Dari hasil telitian perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur (Lembar 1914), di dalam sedimen dasar laut antara kedalaman 18 m – 562 m bawah permukaan laut, dijumpai tidak kurang dari 195 spesies foraminifera bentos kecil dan besar dan 34 spesies foraminifera plankton. Heterolepa praecincta merupakan spesies bentos kecil yang banyak mendominasi sedimen permukaan di daerah penelitian, kemudian Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta masih dijumpai sampai kedalaman 383 m, sedangkan ke arah yang lebih dalam lagi jumlahnya semakin berkurang.
Foraminifera bentos kecil yang langka seperti Biarritzina proteiformis di daerah telitian dan di perairan antara Pangabakan - Sagita, di utara daerah telitian, sebelah utara Delta Mahakam, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di bagian selatannya, yaitu di perairan utara P. Lombok, tempat spesies ini pertama kali dijumpai.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya arus yang berarah dari utara ke selatan.
Spesies Operculina spp., yang banyak diwakili oleh spesies O. complanata, O.
ammonoides, dan O. heterosteginoides, banyak dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 m. Spesies-spesies tersebut di beberapa lokasi banyak berasosiasi dengan Amphistegina lessonii, yang menandakan bahwa pada kedalaman ini turbulensinya rendah, dengan kondisi air yang cukup jernih. Melimpahnya foraminifera plankton Neogloboquadrina dutertrei, terutama pada kedalaman lebih dari 100 m, menunjukkan bahwa pada kedalaman tersebut perairan daerah telitian mempunyai salinitas rendah.
Kata kunci : foraminifera, lingkungan, Balikpapan, Kalimantan Timur
12 Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.2, Agustus 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
13 ABRASI PANTAI DAN PENDANGKALAN KOLAM PELABUHAN
JETTY PERTAMINA BALONGAN, INDRAMAYU MELALUI ANALISIS ARUS PASANG SURUT, ANGIN DAN GELOMBANG
L. Arifin dan B. Rachmat
ABSTRAK
Masalah utama yang terjadi di perairan sekitar kolam Pelabuhan Jetty Pertamina Balongan, Indramayu adalah abrasi dan pendangkalan. Oleh karena itu dilakukan analisis mengenai pendangkalan kolam pelabuhan dan abrasi pantai di lokasi ini dengan menggunakan data arus stasioner, trayektori arus, pasang surut dan hindcasting gelombang. Data penelitian lapangan selama satu bulan memperlihatkan telah terjadi proses pendangkalan dan abrasi pantai di sekitar area Pelabuhan Jetty Pertamina.
Proses ini terjadi akibat terganggunya laju sedimen yang berasal dari selatan ke utara dan sebaliknya oleh aliran arus sejajar pantai dan arus pasang surut karena keberadaan Pelabuhan Jetty Pertamina (terganggunya kesetimbangan suplai sedimen). Kecepatan arus pasang surut pada tiga kedalaman berbeda rata-rata berkisar antara 0.168 – 0.215 m/s dan kecepatan arus terbesar sebesar 0.371 m/s terjadi pada saat spring tide. Arus pasang surut dan arus sejajar pantai secara bersinergi mempercepat terjadinya abrasi pantai dan pendangkalan kolam Pelabuhan Jetty. Laju abrasi pantai di perairan ini berdasarkan data PPPGL tahun 2003 adalah sebesar 1 – 4 m per tahun. Salah satu upaya untuk menanggulangi abrasi dan pendangkalan di kolam Pelabuhan Jetty terlebih dahulu harus di lakukan studi pemodelan. Studi pemodelan ini digunakan untuk melihat gambaran secara dinamis kondisi hidro dinamika perairan yang berhubungan dengan proses terjadinya pendangkalan dan abrasi, serta untuk menentukan tipe bangunan pantai yang sesuai.
Kata kunci :pelabuhan, jetty, sedimentasi, pendangkalan, abrasi, arus, sedimen
14 Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan
Volume : Volume 9, No.1, April 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK
15 MORFOLOGI DASAR LAUT KAITANNYA DENGAN PROSES ABRASI
PANTAI DI PERAIRAN PULAU MARORE, SULAWESI UTARA
Beben Rachmat dan Catur Purwanto
ABSTRAK
Pulau Marore adalah salah satu pulau terluar yang mempunyai arti strategis bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia karena pulau ini merupakan salah satu titik pangkal terluar wilayah Indonesia dalam penentuan batas wilayah dan gerbang ekonomi Indonesia dengan Filipina. Oleh karena itu keberadaan Pulau Marore baik secara fisik maupun secara politik harus dipertahankan. Permasalahan yang terjadi di Pulau Marore adalah adanya aktifitas abrasi yang berlangsung secara berkesinambungan. Abrasi ini menjadi salah satu kendala dalam pembangunan sarana infrastruktur untuk kegiatan ekonomi dan pengembangan wilayah di Pulau Marore.
Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya abrasi di lokasi ini, di antaranya adalah adanya perbedaan kemiringan morfologi dasar laut yang cukup besar dari pantai ke arah laut, kondisi hidrodinamika laut yang terkait dengan musim, tipe pantai dan posisi Pulau Marore yang berada di antara dua perairan besar. Perbedaan morfologi dasar laut yang cukup besar (di atas 5º) dari pantai ke arah laut menyebabkan daerah gelombang pecah menjadi lebih dekat dengan pantai dan penetrasi gelombang menjadi lebih jauh ke arah daratan. Hempasan (run up) gelombang di pantai ini menyebabkan terjadinya arus sejajar pantai dan arus tegak lurus pantai yang membawa material dari darat ke arah laut sehingga terjadi pengikisan material darat oleh air laut secara berkesinambungan. Abrasi pantai oleh gelombang paling parah terjadi pada saat musim barat terutama pada tipe pantai berpasir dan tipe pantai berbatu yang tersusun dari batuan lepas. Secara teknis sangat sulit untuk mengatasi masalah abrasi di Pulau Marore. Cara yang paling efektif adalah dengan menjaga dan tidak merubah bentang alam dan garis pantai agar tidak mengalami kehancuran lebih parah.
16 Kata kunci : abrasi, gelombang, morfologi
Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 9, No.1, April 2011
Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK