• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLEKSI E-DEPOSIT PERPUSTAKAAN PERPUSTAKAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOLEKSI E-DEPOSIT PERPUSTAKAAN PERPUSTAKAAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERPUSTAKAAN

TEMA GEOLOGI 2020

KUMPULAN ABSTRAK JURNAL

KOLEKSI E-DEPOSIT PERPUSTAKAAN

NASIONAL

TEMA GEOLOGI 2020

KUMPULAN ABSTRAK JURNAL

Penyusun: Gibran Bima Penyunting: Rudi Hernanda

(2)

2 KETERDAPATAN BEBERAPA MINERAL BERAT DI PERAIRAN PULAU

BINTAN DAN SEKITARNYA SEBAGAI HASIL ROMBAKAN DARI SEDIMEN HOLOSEN ASAL PAPARAN SUNDA

D. Setiady dan L. Sarmili

ABSTRAK

Daratan Sunda sebagai kerak benua Erasia yang terdiri dari gabungan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa, biasa disebut Paparan Sunda, yang diperkirakan terjadi pada waktu zaman Es. Dalam zaman es tersebut aktifitas sungai mendominasi, mengalir dan mengerosi batuan serta mengendapkan sedimen beserta mineral ikutannya di bagian yang lebih dalam. Pada waktu es mencair, daratan Sunda mulai tenggelam dan terjadilah laut Jawa yang memisahkan pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sungai-sungai yang dulunya mengalir dan memanjang di antara pulau-pulau tersebut sekarang berada di bawah laut Jawa dan lainnya. Beberapa mineral berat ditemukan di perairan dan pantai pulau Batam, Bintan dan sekitarnya, seperti:

magnetit, kasiterit, zirkon, monasit, hornblenda, turmalin, pirit, ilmenit, hematit, leokosen, augit, dan diopsid. Terdapatnya kandungan mineral magnetit dan kasiterit yang tinggi di tengah-tengah selat Batam– Bintan menunjukkan bahwa sumber mineral tersebut diduga dari sedimen P. Batam dan P. Bintan bukan dari tempat yang jauh.

Kandungan mineral magnetit dan kasiterit dalam sedimen pasir kerikilan tersebar dari pulau Batam ke timur kandungan mineral beratnya semakin rendah sehingga sumbernya diduga berasal dari Pulau Batam, sedangkan dalam sedimen kerikil pasiran (dekat pulau Batam) penyebarannya semakin ke timur semakin besar, maka sumbernya diduga berasal dari P. Bintan. Ke dua pulau ini merupakan tinggian di daratan Sunda pada waktu itu yang terbentuk oleh batuan terobosan Granit yang mengalami erosi sejak zaman es hingga saat ini dan sebagai sumber terdapatnya mineral kasiterit dan magnetit.

Kata kunci :

(3)

3 Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan

Volume : Volume 3, no. 3, Desember 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(4)

4 SEISMIK STRATIGRAFI PERAIRAN LOMBOK LEMBAR PETA 1807,

NUSA TENGGARA BARAT

I N. Astawa, D. Ilahude dan D.Kusnida

ABSTRAK

Hasil studi seismik stratigrafi di perairan Lombok Lembar Peta 1807 menghasilkan empat runtunan stratigrafi A, B, C, D dan intrusi batuan volkanik. Kontak antara runtunan A dengan runtunan B adalah kontak onlap yang terletak di bagian barat laut dan utara daerah telitian. Kontak antara kedua runtunan tersebut di atas dengan runtunan C dibatasi oleh suatu reflektor yang kuat dan menerus, serta sudah mengalami perlipatan seperti terlihat di bagian baratlaut daerah telitian, tepatnya di bagian atas Pulau Bali bagian timur. Pola gambaran pantulan runtunan ini adalah paralel, diduga runtunan ini tidak terpengaruh tektonik yang terjadi di daerah telitian.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan

Volume : Volume 3, no. 3, Desember 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(5)

5 POTENSI AGREGAT SERTA DAMPAK YANG TIMBUL BILA

DILAKUKAN EKSPLOITASI DI PANTAI DAN LEPAS PANTAI MUARA SUNGAI SAMBAS KALIMANTAN BARAT

P. Astjario dan D.Kusnida

ABSTRAK

Berdasarkan hasil analisis besar butir menunjukan bahwa jenis sedimen permukaan dasar laut daerah penelitian terdiri dari 4 jenis sedimen yaitu lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Sedangkan jenis agregat yang dijumpai adalah berupa jenis agregat kasar yaitu pasir dan batu belah. Pasir adalah salah satu jenis agregat di daerah penelitian dan ditemukan bersama-sama dengan batu belah. Agregat pasir tersebar di bagian utara daerah penelitian dengan luas sebaran sekitar 2,238 km2 sementara di bagian selatan daerah penelitian, pasir tersebar di pantai Tanjung Bila diperkirakan menerus ke laut dengan luas sebaran kurang lebih 2,189 km2. Agregat berupa batu belah yang dijumpai adalah sebagai batuan beku terobosan berupa andesit, dasit, granodiorit, gabro dan basal. Dibagian utara daerah penelitian agregat batu belah dijumpai di Tanjung Kalangbau berupa bukit kecil dengan ketinggian sekitar 20 meter dengan luas sebaran 0,7079 km2 . Di bagian selatan agregat batu belah terdapat di Tanjung Batu berupa bukit kecil dengan sebaran kurang lebih 0,2920 km2.

Pemanfaatan agregat pasir di daerah penelitian akan menjadi masalah jika tidak terekomendasi. karena akan mengganggu kesetimbangan pantai, seperti pantai akan terabrasi terutama saat musim barat.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 3, no. 2, Agustus 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(6)

6 PENELITIAN LINGKUNGAN PANTAI WILAYAH PESISIR

KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT

P. Astjario dan FX. Harkins

ABSTRAK

Sumber daya alam yang tersedia saat ini mengalami penurunan mengingat adanya peningkatan pembangunan yang pesat serta populasi manusia yang terus meningkat.

Maka tidak menutup kemungkinan bahwa sumber daya laut akan menjadi primadona sebagai penunjang perekonomian ke depan. Wilayah pesisir dan laut tampaknya akan dijadikan kawasan yang diprioritaskan untuk pengembangan industri, agrobisnis, agroindustri, pemukiman, pariwisata, transportasi dan pelabuhan. Akan tetapi wilayah ini masih menyimpan beragam permasalahan yang menyebabkan pengembangan dan pengelolaannya menjadi tidak maksimal. Menurunnya baku mutu air laut karena tingkat kekeruhan yang tinggi, tercemar limbah padat maupun cair, intrusi air laut, abrasi, akerasi, pendangkalan, banjir, dan kekeringan merupakan beberapa butir permasalahan yang kita jumpai di wilayah pesisir dan laut. Tidak kalah pentingnya adalah perilaku manusia yang telah merambah tumbuhan bakau dan merubah fungsi hutan rawa menjadi tambak. Dalam penelitian pantai wilayah pesisir yang dilaksanakan, penulis mencoba menggambarkan metode pendekatan penelitian karakteristik pantai dan penginderaan jauh untuk melakukan inventarisasi wilayah pesisir yang memiliki permasalahan tersebut, khususnya di pantai timur Kabupaten Cirebon

Kata kunci : Sumberdaya laut kawasan pesisir.

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan

Volume : Volume 3, no. 2, Agustus 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(7)

7 KETERDAPATAN EMAS LETAKAN DAN IKUTANNYA

DI PERAIRAN DELTA KAPUAS, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT

U. Kamiludin dan Y. Darlan

ABSTRAK

Perairan Delta Kapuas merupakan tempat yang baik bagi akumulasinya endapan letakan asal Sungai Kapuas. Permukaan dasar lautnya ditutupi oleh sedimen pasir, pasir lanauan, lanau pasiran dan lanau. Sedimen ini mengandung logam emas (Au) dan ikutannya, yaitu perak (Ag), tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn) dan timah (Sn).

Kadar terendah yaitu emas berkisar 2 - 92 ppb dan tertinggi Sn < 10 - 320 ppm.

Keterdapatan emas secara lateral relatif membesar ke arah bagian hulu dan secara vertikal membesar ke bagian bawah permukaan. Keterdapatan emas dan ikutannya tersebut tidak satupun dijumpai pembawa mineral bijihnya. Namun secara kualitatif keterdapatan unsur-unsur logam ini sesuai dengan hasil analisis geokimia dari percontohan “stream sediment” dan “pan concentrate” di Sungai Delta Kapuas.

Primernya diduga berkaitan dengan peristiwa Batuan Terobosan Sintang yang dijumpai secara setempat di sebelah timur daerah penelitian.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 3, no. 2, Agustus 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(8)

8 KARAKTERISTIK SEDIMEN PERMUKAAN DASAR SUNGAI

DAN LAUT DI DAERAH SUNGAI KUARO DAN TELUK ADANG KALIMANTAN TIMUR

H. Kurnio dan U. Kamiludin

ABSTRAK

Fenomena menarik sedimen permukaan sungai dan laut dalam kajian alur transportasi batubara di daerah Teluk Adang Kabupaten Kuaro Kalimantan Timur menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan tekstur, sebaran dan komposisi fraksi. Perbedaan- perbedaan tersebut dicoba diidentifikasi melalui tampilan-tampilan diagram histogram;

posisi geografis dari contoh-contoh juga dapat membantu identifikasi perbedaanperbedaan tersebut. Dari tampilan histogram tampak bahwa fraksi lanau dominan tersebar ke arah lepas pantai sedangkan fraksi pasir cenderung dominan ke arah sungai. Contoh sedimen dari tengah sungai cenderung berpola unimodal sedangkan sedimen tepi sungai lebih berpola bimodal dan polimodal. Kandungan material organik yang terlalu tinggi merupakan kendala untuk identifikasi rejim pengendapan karena pola histogramnya tidak menunjukkan keadaan yang sesungguhnya. Sedangkan sedimen hasil perangkap sedimen menunjukkan sistem pengendapan suspensi dari dominannya fraksi halus lanau.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan

Volume : Volume vol. 3, no. 1, April 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(9)

9

FORAMINIFERA DI PERAIRAN SEKITAR BAKAUHENI, LAMPUNG (SELAT SUNDA BAGIAN UTARA)

L. Gustiantini, K.T. Dewi dan E. Usman

ABSTRAK

Penelitian foraminifera bentik dari 15 percontoh sedimen dasar laut di bagian utara Selat Sunda, Perairan Bakauheni, Lampung telah dilakukan secara kuantitatif.

Keterdapatan foraminifera bentik di daerah penelitian sangat melimpah dan bervariasi yaitu terdiri dari 142 spesies (65 genera) yang diidentifikasi dari 7.799 spesimen.

Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa kelimpahan dan komposisi spesies foraminifera di bagian timur (sekitar Bakauheni) cenderung lebih tinggi (rata-rata 6,24%) dibandingkan dengan bagian barat (rata-rata 4,7%) daerah penelitian. Hal ini kemungkinan dapat dikaitkan dengan arah pergerakan arus dasar laut yang bekerja di daerah penelitian. Keanekaragaman foraminifera bentik tertinggi terdapat pada titik lokasi BHL-36 yang terletak di bagian barat daerah penelitian dan terdiri dari 104 spesies. Kelimpahan tertinggi (10,07%) terdapat pada titik lokasi BHL-25 yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni dan didominasi oleh spesies tertentu yang dapat bertahan hidup. Subordo Rotaliina merupakan kelompok utama di daerah penelitian yang dicirikan oleh genera Asterorotalia, Operculina, dan Elphidium.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 3, no. 1, April 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(10)

10 GRANIT KELUMPANG SEBAGAI GRANIT TIPE-I DI PANTAI TELUK

BALOK, BELITUNG

N.C.D. Aryanto, Nasrun, A.H Sianipar dan L. Sarmili

ABSTRAK

Batuan granit mempunyai arti penting terutama akan kandungan mineral ekonomisnya.

Di Indonesia bagian barat, batuan granit lebih terkenal dengan asosiasi mineralisasi kasiterit (timah). Tidak semua batuan granit mempunyai kandungan mineral kasiterit.

Batugranit biotit berhubungan dengan mineralisasi kasiterit, sedangkan batugranit hornblende tidak ada hubungannya dengan mineralisasi kasiterit. Batuan granit di Pulau Belitung ditemukan di empat daerah berbeda, yaitu Tanjung Pandan di baratlaut, Gunung Mang di timurlaut, Parangbuloh di baratdaya dan Kelumpang di tenggara.

Granit Kelumpang adalah salah satu dari jenis granit di daerah telitian. Secara megaskopis, batuan granit di Kelumpang terbentuk oleh mineral-mineral berbutir kasar, berwarna abu-abu-putih dan kaya akan megakristik KFeldspar Identifikasi karakteristik granit di daerah penelitian berdasarkan hasil analisa petrografis dan penafsiran seismik pantul dangkal, yang ditunjukkan oleh pola reflektor yang membentuk struktur kerucut yang tidak menerus. Penyebaran dari batuan granit ini dapat dipetakan sepanjang lintasan kapal. Pada akhirnya, berdasarkan kenampakan megaskopis dan analisa petrografi terlihat bahwa granit di lokasi kegiatan memiliki sifat yang menyerupai granit tipe-I bukan pembawa mineral kasiterit.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 3, no. 1, April 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(11)

11

(12)

12 PROSES TERBENTUKNYA PULAU-PULAU WISATA,

GILI TRAWANGAN, MENO DAN AIR, AKIBAT AKTIFITAS GUNUNGAPI BAWAH LAUT DI PAMENANG,

KABUPATEN LOMBOK BARAT

P. Astjario dan I N. Astawa

ABSTRAK

Kegiatan gunungapi dasar laut di masa lalu, di wilayah pesisir baralaut Pulau Lombok menghasilkan struktur aliran lava bantal yang membeku di laut dangkal. Kondisi lingkungan air laut yang jernih, kadar salinitas yang cukup serta penetrasi sinar matahari yang baik memungkinkan tumbuhnya beragam jenis terumbu karang hingga mencapai permukaan laut dan membentuk pulau-pulau atol. Gili Trawangan, Meno dan Air merupakan pulau-pulau atol yang menyingkapkan batuan dasar gunungapi dasar laut berupa lava bantal, ditutupi oleh material gunungapi produk gunungapi Rinjani dan material rombakan terumbu karang. Dengan kondisi tersebut menjadikan ke tiga pulau-pulau tersebut memiliki nilai wisata bahari yang tinggi. Saat ini, ketiga pulau tersebut selain memiliki pasir pantai yang putih bersih dan singkapan struktur lava bantal, telah memiliki nilai wisata yang tinggi baik geowisata, wisata pantai dan wisata bahari. Pengelolaan kawasan wisata yang baik dapat meningkatkan kehadiran parawisatawan asing maupun domestik, hal ini penting guna meningkatkan penghasilan asli daerah.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan Volume : Volume 3, no. 1, April 2005

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

(13)

13 FORAMINIFERA DI TELUK SEPI – BLONGAS, LOMBOK

SELATAN, NUSA TENGGARA BARAT DAN KAITANNYA DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN

E. Usman, L. Sarmili dan Sampurno

ABSTRAK

Dua puluh satu contoh sedimen dasar perairan Teluk Sepi – Blongas, Lombok Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Barat telah digunakan untuk studi foraminifera bentik dalam kaitannya dengan faktor lingkungan. Foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian sebanyak 133 spesies yang termasuk dalam 60 genera. Spesies yang mempunyai persentase tertinggi adalah Ammonia beccarii, kemudian diikuti oleh Ammonia sp., Elphidium crispum, Pattelina corrugata, Amphistegina lessonii, Amphistegina sp.1, Calcarina sp.1, Pyrgo lucernula dan Quinqueloculina seminulum.

Calcarina dengan pengawetan cangkang yang baik merupakan genus penciri utama daerah penelitian. Genus ini terdiri dari 15 species dengan perkiraan 11 spesies diantaranya merupakan spesies baru dan diperlukan penelitian khusus di masa yang akan datang. Foraminifera bentik tidak terdistribusikan secara merata di setiap lokasi pengambilan percontoh. Hal ini berkaitan dengan faktor lingkungan seperti jenis sedimen, pola arus, nutrisi dan kondisi lingkungan setempat seperti wilayah bakau dan budidaya mutiara.

Kata kunci :

Nama Jurnal : Jurnal Geologi Kelautan

Volume : Volume 2, no. 3, Desember 2004

Doi/Link : http://ejournal.mgi.esdm.go.id/index.php/JGK

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menguji adanya reaksi harga dilakukan tes abnormal return selama periode peristiwa dengan analisis perhitungan berdasarkan konsep model-model keseimbangan yaitu

Hasil penelitian menghasilkan kesimpulan, pertama, sikap terhadap ketidakpatuhan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap niat untuk tidak patuh terhadap

Buku “Aku Cinta Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah Kelas V” Penerbit: Tiga Serangkai adalah salah satu buku yang digunakan sekolah-sekolah Madrasah Ibtidaiyah

Penelitian ini bertujuan menghasilkan panduan untuk meningkatkan kompetensi guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan kecerdasan sosial siswa SMP kelas VII,

Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui Perbedaan Hasil Belajar Siswa yang diajar dengan Media Torso dan Media Gambar Pada materi Sistem Reproduksi Manusia Kelas XI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ukuran perusahaan, komite audit dan ukuran dewan memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pengungkapan modal intelektual,

Beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya abrasi di lokasi ini, di antaranya adalah adanya perbedaan kemiringan morfologi dasar laut yang cukup besar dari pantai ke

Hasil menunjukkan bahwa pelaksanaan penilaian autentik oleh guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas X dapat dikatakan baik; hal