• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT ILMU DALAM MITOLOGI HINDU. Oleh: I GEDE PASEK MANCAPARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FILSAFAT ILMU DALAM MITOLOGI HINDU. Oleh: I GEDE PASEK MANCAPARA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT ILMU DALAM MITOLOGI HINDU

Oleh:

I GEDE PASEK MANCAPARA

UPT – PPKB

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2019

(2)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Tujuan ... 3

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Mitologi ... 4

2. Pengertian Filsafat Ilmu ... 4

3. Objek Materi dan Objek Formal dalam Filsafat Ilmu ... 6

4. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Mitologi ... 7

BAB III PENUTUP Kesimpulan ... 9

DAFTAR PUSTAKA

(3)

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mitologi tidak bisa dipandang sebelah mata dalam aktivitas keagamaan umat Hindu. Mengingat posisi mitologi juga sangat mempengaruhi sistem nilai yang berlaku pada masyarakat Hindu khususnya di Bali. Mircea Eliade juga mengemukakan dalam teorinya tentang hakekat dari yang sacral bahwa mitos dan symbol memiliki peranan memberi jawaban-jawaban atas usaha mengeksplor hal yang sacral dalam bentuk pengalaman yang normal, seperti yang dinyatakan Eliade dalam Pals (2012: 241) menyatakan bahwa satu hal yang perlu kita garis bawahi dalam rangka merasakan atau mencari Yang Sacral, yaitu bahwa Yang Sakral bukan sekedar untuk ditemukan lalu dideskripsikan,…bagaimana mungkin sesuatu yang benar – benar berbeda dari yang lain bisa dideskripsikan dalam bentuk pengalaman normal? penyelesaian masalah ini menurut Eliade akan terjawab oleh pengalaman tidak langsung (indirect experience) terhadap bahasa-bahasa Yang Sacral yang dapat ditemukan dalam symbol dan mitos-mitos.

Merujuk pada pandangan Eliade tersebut menunjukkan bahwa symbol-simbol dan mitos-mitos dapat membantu manusia untuk menemukan jawaban atas hal Yang Sakral, dalam agama Hindu dikenal dengan konsep ketuhanan Saguna

Brahman yang menyerupai pemikiran Eliade tersebut. Dalam konsep ketuhanan

Agama Hindu mengenai Nirguna Brahman dan Saguna Brahman yaitu Tuhan sebagai suatu yang sama sekali tak terpikirkan dan tidak memiliki sifat (Nirguna

(4)

Brahman) dan Tuhan yang telah memiliki sifat (Saguna Brahman) yang terwujudkan dalam symbol-simbol, wujud dewa-dewa, termasuk yang termuat dalam mitologi-mitologi, hal itu juga didukung pernyataan Eliade yang menyatakan bahwa mitos-mitos sebenarnya juga merupakan symbol-simbol berwujud narasi, mitos-mitos bukan sekedar sebuah imajinasi atau pertanda-pertanda, melainkan imajinasi-imajinasi yang dimuat kedalam bentuk cerita yang mengisahkan dewa-dewa, leluhur, para ksatriya atau dunia supernatural lainnya.

Eliade juga mengemukakan bahwa alam semesta yang bersifat natural ini akan selalu menerima kehadiran yang supernatural yang disebut “modalitas Yang Sakral”. Hal itu juga berlaku pada umat Hindu yang hingga sekarang masih dipengaruhi dalam beragama dari mitos-mitos hingga akhirnya mitos juga sebagai penentu sistem nilai pada sebuah kebudayaan masyarakat Hindu khususnya di Bali. Maka tidaklah mengherankan jika masyarakat arkhais sangat mementingkan mitos kosmogonik – cerita dan legenda tentang penciptaan dunia, baik penciptaan yang disebabkan wahyu Tuhan, maupun disebabkan kemampuan Tuhan menyelesaikan chaos dan megalahkan kekuatan jahat. Eliade memberikan suatu contoh menarik tentang imitasi (peniruan) perbuatan dewa-dewi di India kuno. Sebelum membangun sebuah rumah, seorang ahli perbintangan akan menunjukkan kepada tukang batu satu titik tempat dia harus meletakkan batu pertama dari rumah yang akan dibangun. Titik ini diyakini berada diatas kepala ular yang menyangga dunia, lalu tukang batu tersebut meruncingkan sebilah tongkat dan membawanya ketengah lapangan untuk memecahkan kepala ular tadi. Kemudian barulah batu pertama tadi bisa diletakkan dititik yang sekarang telah

(5)

dianggap sebagai pusat dunia. Upacara penghancuran kepala ular itu pada hakekatnya adalah peristiwa sacral, karena mengulang kembali perbuatan dewa Indra dan Soma seperti yang dikisahkan dalam kitab suci. Dewa-dewa inilah yang pertama kali membunuh sang ular, yang melambangkan chaos dan ketiadaan. Dengan penghancuran tersebut dewa-dewa ini kemudian menciptakan sebuah tatanan dunia yang sebelumnya penuh dengan kekacauan, sehingga proses penciptaan dunia tersebut dianggap sebagai lambang penciptaan dunia (Eliade dalam Pals, 2012: 240). Berdasarkan hal tersebut diatas menunjukkan bahwa mitologis masih memegang peraan penting dalam aktivitas keagamaan khususnya agama Hindu.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah mengkaji lebih dalam secara filsafat ilmu mengenai mitologi dalam agama Hindu, mengingat bahwa mitologi dewasa ini masih memegang peranan penting, sehingga dengan mengetahui secara keilmuan, baik itu yang berupa mitos bisa bertahan secara keilmuan di jaman post modern ini yang sebagian besar mengagungkan pengetahuan positivistik.

(6)

II

PEMBAHASAN a. Pengertian Mitologi

Sebelum menuju filsafat ilmu dalam mitologi, perlu kiranya diketahui dahulu makna dari mitologi. Istilah mitologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “mythologia” yang terdiri dari dua kata yaitu “mythos” dan “logos”. “Mythos” berarti kisah atau legenda, sedangkan “logo”s berarti penuturan atau ilmu, sehingga mitologi berarti ilmu yang menjelaskan tentang mitos

(https://id.m.wikipedia.org/wiki/Portal:Mitologi,15/12/2017,10:20AM).

Eliade menyataan bahwa mitos bukan hanya sekedar sebuah imajinasi atau pertanda – pertanda, melainkan imajinasi- imajinasi yang dimuat kedalam bentuk cerita yang mengisahkan dewa-dewa, leluhur, para ksatria atau dunia supernatural lainnya. Melalui dua sumber diatas, maka bisa disimpulkan bahwa mitologi adalah sebuah ilmu yang menjelaskan tentang suatu imajinasi-imajinasi yang dimuat kedalam bentuk suatu cerita, baik itu mengisahkan para dewa, leluhur, ksatria ataupun hal lainnya yang supernatural.

b. Pengertian Filsafat Ilmu

Sidharta dalam Donder dan Wisarja (2010: 1) menyatakan bahwa filsafat ilmu secara gramatikal mengandung arti “Filsafat tentang ilmu”, hal itu artinya bahwa filsafat ilmu adalah filsafat yang objeknya adalah ilmu. Karena itu orang yang hendak menguraikan arti dan makna filsafat ilmu harus menjelaskan terlebih dahulu arti istilah filsafat atau pengertian filsafat. Kata filsafat yang kita gunakan dewasa ini berasal dari bahasa Yunani “Philosophia”. Kata filsafat ini dalam

(7)

bahasa arab disebut falsafah dan dalam bahasa inggris disebut philosophy. Filsafat yang berasal dari bahasa yunani tersebut terdiri dari dua kata yaitu philein yang berarti cinta, dan Sophia yang berarti kebijaksanaan, maka berdasarkan pengertian etimologi kata tersebut bisa disimpulkan bahwa filsafat/ philosophia berarti cinta kebijaksanaan.

Filsafat telah berhasil merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitos-sentris menjadi logos-sentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lainnya di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam semesta ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Melalui filsafat, pola pikir yang tergantung pada rasio, kejadian alam seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi yang berada pada kedudukan satu garis lurus, sehingga bayangan bulan menimpa sebagian permukaan bumi (Donder dan Wisarja, 2010: 19).

Melalui filsafat tersebut mampu merubah pola pikir mitosentris menuju logis-sentris yang tentunya tidak berimplikasi kecil. Alam yang semula ditakuti dan dipuja mulai didekati bahkan dieksploitasi, sehingga melalui berbagai macam paradigma studi tentang alam menghasilkan temuan hukum-hukum alam beserta teori-teori ilmiah yang dikonstruk secara sistematis dan bermetode dalam suatu ilmu pengetahuan yang dapat menjelaskan segala perubahan yang terjadi baik pada alam semesta maupun manusia yaitu berupa ilmu kosmologi, astronomi, fisika, kimia, biologi, psikologi, antropologi, sosiologi, dan lain sebagainya yang

(8)

dalam objek filsafat dikenal dengan objek formal yaitu dari sudut pandang/ paradigma/ pendekatan apa objek itu mencoba untuk ditelaah mencakup ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sebagaimana filsafat ilmu memiliki 3 aspek yang harus dimiliki sebagai persoalan utama (Donder dan Wisarja, 2010: 27) yaitu : keberadaan (Ontologi), pengetahuan (Epistemologi), dan nilai-nilai (Aksiologi).

c. Objek Materi dan Objek Formal dalam Filsafat Ilmu

Pengertian objek materi dan formal dalam filsafat menurut Surajiyo dalam Donder dan Wisarja (2010: 157) menyatakan bahwa objek materi tersebut menguraikan bahwa objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang dibedakan atas dua yaitu; objek materi dan objek formal, dimana objek materi merupakan objek yang dijadikan sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu, objek yang dipelajari oleh suatu ilmu itu, sehingga dapat disimpulkan bahwa apa yang dimaksud objek materi itu adalah bendanya/ materinya itu sendiri. Sedangkan objek formal adalah sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau dari sudut mana pengetahuan itu disorot. Misalkan objek material adalah manusia dan manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sehingga beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya: psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.

Menurut pengertian diatas diketahui bahwa pengertian objek materi dan formal. Kemudian bisa diketahui bahwa objek materi pada filsafat ilmu pengetahuan yaitu ilmu itu sendiri yang telah tersusun secara sistematis dan

(9)

bermetode ilmiah tertentu. Sedangkan objek formal pada filsafat ilmu pengetahuan berupa pertanyaan-pertanyaan terhadap keilmiahan suatu paradigma ilmu pengetahuan (dari sudut pandang ilmu pengetahuan tertentu).

d. Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Mitologi

Melalui penjelasan diatas maka bisa diketahui bahwa dalam mitologi terdapat unsur ontology, epistemology, serta aksiologi. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa mitologi merupakan penuturan/ ilmu mengenai legenda, maka dapat diketahui bahwa ontology dari suatu mitologi adalah “mitos” dengan segala aspek tokoh-tokoh yang diceritakan/ yang melegenda dalam mitologi tertentu itu sendiri yang sebagai objek materi, sebagai bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan mengingat bahwa objek .

Kemudian aspek epistemologinya berupa ajaran-ajaran yang diajarkan dalam cerita baik itu bersifat supranatural ataupun natural yang tergantung dari mitologi tertentu misalkan saja Siwapurana yang merupakan salah satu jenis mitologi atau cerita legenda yang dimiliki agama Hindu yang menceritakan berbagai macam ajaran kebisaan untuk mencapai pembebasan tertinggi/ moksa, dan mitologi lain sebagainya yang begitu banyak termuat dalam kitab-kitab purana.

Sehingga untuk itu perlu adanya interpretasi makna atau yang lebih dikenal dengan istilah hermeneutika yang berupa penafsiran dan interpretasi makna suatu yang supernatural/ adikodrati yang terdapat dalam mitos tersebut, mengingat bahwa dasar epistemologi yang tetap digunakan bagi ilmu agama termasuk mitologi bukan pendekatan analitis, melainkan pemahaman atau lazim

(10)

disebut understanding atau verstehen dengan mempelajari suatu mitos dengan pemahaman dan interpretasi sehingga menghasilkan suatu pengetahuan dan pemahaman mengenai objek yang ada dalam mitologi tersebut.

Sehingga dengan demikian diketahui aksiologinya menghasilkan suatu sistem nilai terhadap kebudayaan ataupun aktifitas umat tertentu melalui symbol-simbol ataupun mitologi tersebut serta bermanfaat untuk manusia untuk mencapai tujuan tertentu baik bersifat natural ataupun supernatural, fisik ataupun spiritual, yang memudahkan aktivitas manusia (profane maupun sacral), memudahkan memahami yang adikodrati sebagai causa prima, mencari kebenaran, ataupun hal lainnya yang berhubungan dengan yang adikodrati/ supernatural/ causa prima, yang disebut oleh Eliade sebagai Yang Sakral

(11)

III PENUTUP

Mitologi tidak bisa dilepaskan pengaruhnya dengan penerapan aktivitas keagamaan umat Hindu khususnya di Bali. masih banyak aktivitas yang dilaksanakan umat Hindu berdasarkan mitologi seperti salah satunya mitologi yang menganggap jika larva gunung berapi adalah bhatara, mitologi melaksanakan malam peleburan dosa yang termuat dalam Siwapurana berupa pelaksanaan Siwaratri, dan lain sebagainya.

Istilah mitologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “mythologia” yang terdiri dari dua kata yaitu “mythos” dan “logos”. “Mythos” berarti kisah atau legenda, sedangkan “logo”s berarti penuturan atau ilmu, sehingga mitologi berarti ilmu yang menjelaskan tentang mitos, bisa disimpulkan bahwa mitologi adalah sebuah ilmu yang menjelaskan tentang suatu imajinasi-imajinasi yang dimuat kedalam bentuk suatu cerita, baik itu mengisahkan para dewa, leluhur, ksatria ataupun hal lainnya yang supernatural.

Suatu mitologi juga memiliki 3 elemen yang harus dimiliki suatu ilmu untuk diakui oleh ilmu yang lainnya yaitu ontology, epistemology, dan aksiologi. Adapun ontology dari mitologi yaitu mitos itu sendiri dengan berbagai aspek didalamnya termasuk tokoh yang dibicarakan dalam mitos tersebut. Epistemology berupa ajaran-ajaran yang terdapat didalamnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang diajarkan sehingga jika dicermati dengan pemahaman dan interpretasi tertentu akan menghasilkan suatu aksiologi yaitu bermanfaatnya

(12)

mitologi tersebut untuk manusia yang mempelajarinya sesuai dengan tujuan ajaran yang diajarkan, ataupun bermanfaat sebagai objek penelitian.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Donder, I Ketut, Wisarja I Ketut, 2010. Filsafat Ilmu: Apa, Bagaimana, Untuk

Apa Ilmu Pengetahuan itu, dan Apa HUbungannya dengan Agama?.

Surabaya: Paramita.

Pals. L. Daniel, 2012. Seven Theories of Religion Tujuh Teori Agama Paling

Komprehensif. Jogjakarta: IRCiSoD.

Referensi

Dokumen terkait

Šia pra- sme nestandartiniams darbuotojams gali priklausyti ne tik sudarę nestandartinę sutartį, bei ir visai neturintys jokios sutarties (pavyzdžiui, savarankiškai dirbantieji

Cown (1995) mengatakan bahwa sebagai suatu penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-ciri

Persaingan di antara AS dan USSR tersebut tentu tidak lain adalah untuk memperebutkan hegemoni dunia dimana keduanya ingin menjadi penguasa tunggal yang dapat

b. Penerapan Evaluasi kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dalam upaya meningkatkan keberagamaan peserta didik di SMA Negeri 1 Gondang.. 1) Evaluasi

Aplikasi pembelajaran pusat program mingguan (PPM) juga dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab (Maharah Al-Kalam) siswa dalam aspek psikomotorik, hal ini dapat

kesahihannya, maka itulah mazhabku”, perlu ditambah dan direformulasi menjadi rumusan kaidah yang berbunyi: Apabila tuntutan maslahat dan cita keadilan sosial telah

Jika diulik lebih dalam, target audience pada Iklan Video Youtube di Indonesia sudah spesifik, yaitu berumur 10-40 tahun, memiliki gadget atau telepon serular, selalu

Ide diversi bagi pelaku anak adalah untuk menyediakan alternatif yang lebih baik dibanding dengan prosedur resmi beracara di pengadilan anak pelaku tindak pidana