• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP NASRANI 1 MEDAN T.A 2014/2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP NASRANI 1 MEDAN T.A 2014/2015."

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE

NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP NASRANI 1 MEDAN T.A 2014/2015

Oleh:

Puji Saulina Br. Silalahi NIM. 4103111063

Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Matematika

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih-Nya yang memberikan kemampuan dan kesempatan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Skripsi ini berjudul “Peningkatan Kemandirian Belajar dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) Pada Materi Fungsi di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan T.A 2014/2015”, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.

Selama proses penyelesaian skripsi ini banyak kendala yang dihadapi penulis, namun semua itu dapat diatasi karena bantuan tulus dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan rendah hati dan tulus penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak Drs. Togi, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktu dalam membimbing serta memberikan masukan kepada penulis sejak awal sampai dengan selesainya penulisan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bapak Drs.Yasifati Hia, M.Si, Bapak Dr. M.Manullang, M.Pd, dan Bapak Prof. Dr. P.Siagian, M.Pd sebagai dosen penguji yang telah memberikan masukan berupa kritik dan saran yang sangat bermanfaat mulai dari rencana penelitian sampai selesainya penyusunan skripsi ini.

(4)

v

dan Ibu dosen serta staf pegawai Jurusan Matematika khususnya kepada Ibu Sri Lestari Manurung, M.Pd. dan Bapak KMS Amin Fauzi, M.Pd yang telah membantu penulis. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Mariun Malau, S.Pd. selaku Kepala SMP Nasrani 1 Medan, Ibu N.Pakpahan, S.Pd. selaku guru Matematika SMP Nasrani 1 Medan, serta guru-guru yang telah banyak membantu dalam penelitian ini.

Teristimewa penulis ucapkan terima kasih kepada Ayahanda tersayang P.Silalahi, Ibunda tercinta H.Hutabarat, yang selalu memberikan limpahan kasih sayang, doa, semangat, dan pengorbanan yang tak ternilai harganya. Terima kasih kepada kakak tersayang Palen Ovtiana dan adik-adik tersayang, Patar Suwito dan Victor Parulian, juga kak Elviani, abang sepupu Ir. Gumpar Tobing, kakak sepupu Tince Sinaga, Ibu R.Purba serta seluruh keluarga besar yang sudah berdoa dan senantiasa membantu serta memberikan dukungan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan studi di UNIMED.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada sahabat dikala suka dan duka “Keluarga Tung” (Zita, Priska, Siska, Santika , Ria, Rista, Vera, Nanda, Renata dan Dwi), teman seperjuangan bimbingan skripsi (Putri) dan teman-teman selama perkuliahan terkhusus kelas Reguler Dik C’10 yang telah banyak membantu, memberikan semangat dan motivasi kepada penulis, dan kepada teman-teman seperjuangan PPLT SMA Swasta Pembangunan Galang (khususnya Inri, Neva, dan Nindya). Terima kasih juga disampaikan kepada sahabat lama penulis yaitu Kristina Sitorus, dan teman SMA yang telah membantu mencari buku referensi skripsi penulis (Tohom), teman-teman SMAN 5 Medan (khususnya Fany, Rico, Radot, Angga), adik Lando yang membantu menterjemahkan jurnal bahasa Inggris dan Ibu R.Hutapea yang turut membantu dalam penyusunan skripsi penulis. Terima kasih juga tak lupa penulis sampaikan kepada kak Imas Siti Liawati, kak Putri Rahayu, kak Ira, kak Desi, dan Kak Maya yang telah berbaik hati membantu memberikan referensi contoh skripsi.

(5)

vi

yang sifatnya membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini sehingga dapat bermanfaat dalam memperkaya ilmu pendidikan.

Medan, September 2014 Penulis

(6)

iii

PENINGKATAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE

NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA MATERI FUNGSI DI KELAS VIII SMP NASRANI 1 MEDAN T.A 2014/2015

Puji Saulina Br. Silalahi (4103111063)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa pada materi Fungsi di kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan T.A 2014/2015.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Nasrani 1 Medan yang berjumlah 22 orang dan objek penelitian ini adalah pembelajaran model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa pada materi Fungsi SMP Nasrani 1 Medan Tahun Ajaran 2014/2015. Instrumen penelitian ini adalah angket, lembar observasi dan tes. Angket digunakan untuk melihat peningkatan kemandirian belajar siswa. Sedangkan tes digunakan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa.

Penelitian ini terdiri dari 2 siklus dan di akhir setiap siklus diberikan angket kemandirian belajar siswa dan tes hasil belajar. Berdasarkan hasil angket, kemandirian belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan rata-rata aspek kemandirian siswa mengalami peningkatan sebesar 17,90% dari 60,67% menjadi 78,57%. Peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II pada masing–masing aspek kemandirian adalah sebagai berikut: (1) Aspek Inisiatif belajar mengalami peningkatan sebesar 20,07% dari 59,09% menjadi 79,16%, (2) Aspek Mendiagnosa kebutuhan belajar mengalami peningkatan sebesar 10,23% dari 69,88% menjadi 80,11%, (3) Aspek Menetapkan target dan tujuan belajar mengalami peningkatan sebesar 11,93% dari 69,32% menjadi 81,25%, (4) Aspek Memonitor, mengatur dan mengontrol mengalami peningkatan sebesar 12,12% dari 65,53% menjadi 77,65%, (5) Aspek Memandang kesulitan menjadi tantangan mengalami peningkatan sebesar 18,56% dari 59,09% menjadi 77,65%, (6) Aspek Memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan mengalami peningkatan sebesar 17,8% dari 60,23% menjadi 78,03%, (7) Aspek Memilih dan menerapkan strategi belajar mengalami peningkatan sebesar 31,06% dari 48,48% menjadi 79,54%, (8) Aspek Mengevaluasi proses dan hasil belajar mengalami peningkatan sebesar 17,42% dari 62,5% menjadi 79,92%, dan (9) Aspek Self efficacy (konsep diri) mengalami peningkatan sebesar 21,97% dari 51,89% menjadi 73,86%. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 2,52 menjadi 2,98.

(7)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan i

Riwayat Hidup ii

Abstrak iii

Kata Pengantar iv

Daftar Isi vii

Daftar Gambar x

Daftar Tabel xi

Daftar Lampiran xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah 1

1.2. Identifikasi Masalah 9

1.3. Batasan Masalah 9

1.4. Rumusan Masalah 10

1.5. Tujuan Penelitian 10

1.6. Manfaat Penelitian 10

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1. Kerangka Teoritis 12

2.1.1. Pendidikan Karakter 12

2.1.2. Kemandirian Belajar 14

2.1.2.1 Pengertian Kemandirian Belajar 14

2.1.2.2 Kemandirian Belajar Dalam Pembelajaran Matematika 18

2.1.3. Hasil Belajar 20

(8)

viii

2.1.6.1 Prosedur Penggunaan Strategi Cooperative Learning

Bermuatan Karakter ke dalam Pembelajaran 26 2.1.7 Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together 27 2.1.7.1 Numbered Heads Together (NHT) Bermuatan Karakter

Kemandirian 34

2.1.7.2 Prosedur Penggunaan NHT Bermuatan

Karakter Kemandirian 34

2.1.8 Materi Fungsi 34

2.1.8.1. Relasi 34

2.1.8.2. Fungsi 36

2.1.8.3. Korespondensi Satu-satu 37

2.1.8.4. Rumus Suatu Fungsi 37

2.1.8.5. Grafik Fungsi 38

2.1.8.6. Nilai Fungsi 39

2.1.8.7. Penerapan Relasi dan Fungsi 41

2.2. Penelitian Yang Relevan 43

2.3. Kerangka Konseptual 43

2.4. Hipotesis Tindakan 45

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 46

3.2. Subjek dan Objek Penelitian 46

3.2.1. Subjek Penelitian 46

3.2.2. Objek Penelitian 46

3.3. Jenis Penelitian 46

3.4. Prosedur Penelitian 47

3.5. Alat Pengumpulan Data 57

3.6. Teknik Analisis Data 60

3.6.1 Reduksi Data 60

3.6.2 Paparan Data 64

(9)

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Siklus I 67

4.1.1 Permasalahan I 67

4.1.2 Tahap Perencanaan Tindakan I (Alternatif Pemecahan I) 68

4.1.3 Pelaksanaan Tindakan I 68

4.1.4 Observasi I 76

4.1.5 Analisis Data Hasil Penelitian Siklus I 77

4.1.6 Refleksi I 81

4.2 Siklus II 84

4.2.1 Permasalahan II 84

4.2.2 Tahap Perencanaan Tindakan II (Alternatif Pemecahan II) 84

4.2.3 Pelaksanaan Tindakan II 85

4.2.4 Observasi II 92

4.2.5 Analisis Data Hasil Penelitian Siklus II 93

4.2.6 Refleksi II 97

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian 97

4.4 Keterbatasan Penelitian 101

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 103

5.2 Saran 104

DAFTAR PUSTAKA 105

(10)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1. Tahapan-Tahapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered

Head Together 29

Tabel 2.2. Indikator Karakter Kemandirian dalam

Pembelajaran Matematika 33

Tabel 2.3. Tahapan-tahapan Pembelajaran Kooperatif tipe NHT

Bermuatan Karakter Kemandirian 34

Tabel 2.4 Tabel Fungsi f : x → 2x + 1 38

Tabel 3.1 Daftar Nama Validator 58

Tabel 3.1. Pedoman Penskoran Angket Kemandirian Belajar Siswa 59 Tabel 3.2. Kisi – Kisi Angket Kemandirian Belajar Matematika Siswa 60 Tabel 3.3. Kriteria Rata-Rata Penilaian Observasi 61

Tabel 3.4. Tingkat Penguasaan Siswa 61

Tabel 3.5 Konversi Penilaian dalam Predikat 61

Tabel 3.6 Kategori Penguasaan Siswa 63

Tabel 3.7 Kategori Penilaian Angket 64

Tabel 4.1 Tingkat Ketuntasan Siswa pada Tes Awal 67 Tabel 4.2 Hasil Angket Kemandirian Belajar Tiap Siswa pada Siklus I 78 Tabel 4.3 Deskripsi Hasil Angket Kemandirian Belajar

Siswa Pada Siklus I 78

Tabel 4.4 Tingkat Kemampuan Penguasaan Siswa pada Siklus I 79 Tabel 4.5 Tingkat Ketuntasan Tes Siklus I 79 Tabel 4.6 Hasil Analisis Lembar Angket Kemandirian Belajar

Siswa Menggunakan Model Kooperatif Ttipe NHT

pada Siklus II 93

Tabel 4.7 Deskripsi Hasil Angket Kemandirian Belajar Siswa

Pada Siklus II 94

(11)

xii

Tabel 4.11 Nilai Rata-rata Tes Hasil Belajar Siswa Siklus I dan II 96 Tabel 4.12 Ketuntasan Belajar Siswa Berdasarkan Tes Hasil

(12)

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1Siklus Kemandirian Belajar 17

Gambar 2.2 Diagram Relasi “menyukai” dari Himpunan A ke B 35

Gambar 2.3 Diagram Panah relasi “menyukai” 35

Gambar 2.4 Diagram Cartesius relasi “menyukai” 36

Gambar 2.5 Diagram Panah Contoh 2 37

Gambar 2.6 Diagram Panah relasi “beribukota” 37 Gambar 2.7 Grafik fungsi f : x → 2x + 1 38

Gmbar 2.8 Diagram panah contoh 5 42

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Siklus I 108 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 Siklus I 112 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 Siklus II 116 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 Siklus II 120

Lampiran 5 Lembar Aktivitas Siswa I 124

Lampiran 6 Lembar Aktivitas Siswa II 127 Lampiran 7 Lembar Aktivitas Siswa III 131 Lampiran 8 Lembar Aktivitas Siswa IV 134

Lampiran 9 Kisi-kisi Tes Diagnostik 137

Lampiran 10 Tes Diagnostik 138

Lampiran 11 Alternatif Penyelesaian Tes Diagnostik 140 Lampiran 12 Pedoman Penskoran Tes Diagnostik 144 Lampiran 13 Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran 148 Lampiran 14 Hasil Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I 156 Lampiran 15 Hasil Lembar Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II 157 Lampiran 16 Kisi-Kisi Angket Kemandirian Belajar Siswa 158 Lampiran 17 Lembar Angket Kemandirian Belajar Siswa 159 Lampiran 18 Lembar Validasi Angket Kemandirian Belajar Siswa 161 Lampiran 19 Deskripsi Hasil Angket Kemandirian Belajar Siswa

Pada Siklus I dan II 164

Lampiran 20 Hasil Angket Kemandirian Belajar Setiap Siswa (Siklus I) 165 Lampiran 21 Hasil Angket Kemandirian Belajar Setiap Siswa (Siklus II) 166 Lampiran 22 Analisis Perhitungan Persentase Lembar Angket

Tiap Indikator Kemandirian Siswa Siklus I 167 Lampiran 23 Analisis Perhitungan Persentase Lembar Angket

Tiap Indikator Kemandirian Siswa Siklus II 171 Lampiran 24 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar I 175

(14)

xiv

Lampiran 26 Lembar Validasi Tes Hasil Belajar I 177 Lampiran 27 Alternatif Penyelesaian Tes Hasil Belajar I 180

Lampiran 28 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar I 181 Lampiran 29 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar II 183

Lampiran 30 Tes Hasil Belajar II 184

Lampiran 31 Lembar Validitas Tes Hasil Belajar II 185 Lampiran 32 Alternatif Penyelesaian Tes Hasil Belajar II 191 Lampiran 33 Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar II 193 Lampiran 34 Deskripsi Tingkat Penguasaan Siswa Siklus I 195 Lampiran 35 Deskripsi Tingkat Penguasaan Siswa Siklus II 196 Lampiran 36 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I 197 Lampiran 37 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II 198 Lampiran 38 Daftar Nama Siswa Kelas VIII-A SMP Nasrani 1 Medan

T.A 2014/2015 199

Lampiran 39 Pembagian Kelompok Belajar Siswa 200

Lampiran 40 Kutipan Hasil Wawancara 201

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha yang ditempuh oleh manusia dalam rangka memperoleh ilmu yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk bersikap dan berperilaku. Dengan kata lain, pendidikan merupakan salah satu proses pembentukan karakter manusia. Pendidikan bisa juga dikatakan sebagai proses pemanusiaan manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 263)

disebutkan bahwa “Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui

upaya pengajaran dan pelatihan.” Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2005: 10) “Pendidikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga dapat menambah

pemahaman dan mengubah cara tingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan tiap individu.” Melalui pendidikan, manusia dituntut untuk dapat menumbuh-kembangkan segala potensi yang ada dalam diri guna mencapai kesejahteraan hidup sebagaimana yang didambakannya.

Pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan adalah upaya terencana dalam proses pembinaan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia (dalam Suyadi, 2013:20). Pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia menjadi lebih baik dan bermartabat antara lain melalui program pendidikan yang bermutu yang dicerminkan melalui proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan.

(16)

2

belajar perubahan akan terjadi pada siswa berupa pengetahuan, keterampilan dan tingkah laku. Meyer (dalam Pribadi, 2009) mengemukakan pengertian belajar sebagai

“…perubahan relative permanen dalam pengetahuan dan perilaku

seseorang yang diakibatkan oleh pengalaman.” Pengalaman yang sengaja

didesain untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap seseorang akan menyebabkan berlangsungnya proses belajar. Pada proses belajarlah karakter seseorang akan terbentuk”.

Adapun karakter yang dapat dibentuk pada proses belajar di sekolah adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,peduli sosial, dan tanggung jawab. (Sulistyowati, 2012:72).

Pendidikan formal adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan di sekolah secara berjenjang dan berkesinambungan. Sekolah mempunyai peranan penting untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan dalam UUD 1945 dan juga UU SISDIKNAS. Sekolah bertanggungjawab penuh untuk dapat mencetak lulusan yang memiliki kualitas yang handal yang diwujudkan dengan pencapaian prestasi yang tinggi.

Pencapaian prestasi yang tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagaimana diungkapkan oleh Slameto (2003: 54), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.

(17)

3

(Slameto, 2003: 54). Salah satu faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kemandirian belajar.

Menurut Good (dalam Slameto, 2003) kemandirian belajar adalah belajar yang dilakukan dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan dari pihak luar. Sedangkan menurut Shirley Gould yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (1995:108) “independence is freedom from dependence and as exemption from realiance on, or control by, others”. Mandiri diartikan sebagai suatu keadaan yang bebas dari ketergantungan kepada orang lain atau dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kemandirian berarti kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan bebas dari ketergantungan dari orang lain. Sehingga belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri, melainkan suatu prinsip belajar yang bertumpu pada kegiatan dan tanggung jawab siswa sendiri bukan suruhan atau anjuran orang lain.

Kemandirian siswa dalam belajar mempengaruhi keberhasilan siswa.

Sebagaimana Holstein (1986:189) menyatakan bahwa: “Kemandirian itu adalah

unsur penting dalam setiap belajar dan jelas dapat memperbaiki mutu, karena

menyangkut inisiatif siswa”. Kemandirian dalam belajar merupakan faktor internal guna mencapai hasil belajar yang memuaskan. Hal ini dapat dimengerti karena kegiatan belajar merupakan tanggung jawab sendiri. Sejauh ada motivasi diri yang mendorong kegiatan belajar dengan demikian siswa akan dapat mencapai keberhasilan dari belajarnya.

(18)

4

Kemandirian dirasa perlu dikembangkan pada individu yang belajar matematika berkaitan dengan hakekat matematika diantaranya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis, sebagai ilmu bantu dalam ilmu lain/kehidupan sehari-hari, dan sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis, serta sikap yang terbuka dan obyektif. Sehingga pembelajaran matematika diarahkan untuk mengembangkan (1)kemampuan berfikir matematis yang meliputi: pemahaman, pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koneksi matematis; (2)kemampuan berfikir kritis, serta sikap yang terbuka dan obyektif, serta (3)disposisi matematis atau kebiasaan, dan sikap belajar berkualitas yang tinggi. Kebiasaan dan sikap belajar yang dimaksud antara lain terlukis pada karakteristik kemandirian belajar yaitu: (1)Menganalisis kebutuhan belajar matematika, merumuskan tujuan, dan merancang program belajar; (2) Memilih dan menerapkan strategi belajar; (3) Memantau dan mengevaluasi diri apakah strategi telah dilaksanakan dengan benar, memeriksa hasil (proses dan produk), serta merefleksi untuk memperoleh umpan balik.

Kegiatan pembelajaran matematika dilakukan dengan mengaitkan antara pengembangan diri dengan proses pembelajaran di kelas melalui pengalaman-pengalaman belajar yang inovatif, menantang dan menyenangkan. Pembelajaran yang berdasarkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mengesankan ialah pembelajaran yang efektif, bermakna dan bisa mengaktifkan siswa.

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, sehingga dengan melakukan aktivitas belajarnya siswa mampu memperoleh pengetahuan dari pemahaman sendiri. Pembelajaran hendaknya mendorong dan menjadikan siswa bersikap peka, kritis, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab (Sudjatmiko dkk, 2003: 11).

(19)

5

Pengembangan pembelajaran matematika yang memungkinkan siswa untuk dapat bertukar pendapat, belajar dan bekerja sama dalam sebuah kelompok diperlukan untuk dapat lebih mengembangkan kemampuan berpikirnya. Siswa juga harus mempunyai kemandirian dalam belajar sehingga pembelajaran berlangsung efektif. Kemandirian belajar penting dimiliki oleh siswa, karena siswa yang mandiri dalam belajar akan membawa perubahan dalam sikap belajar mereka. Siswa yang mempunyai kemandirian dalam belajar mampu menganalisis permasalahan yang kompleks, mampu bekerja secara individual maupun bekerja sama dalam sebuah kelompok, berani mengemukakan gagasan, beragumentasi, membela pendiriannya dan mampu mengkritik gagasan orang lain secara konstruktif.

Menurut Utari Sumarmo (2006: 5) dengan kemandirian, siswa cenderung belajar lebih baik, mampu memantau, mengevaluasi, dan mengatur belajarnya secara efektif, menghemat waktu secara efisien, akan mampu mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional. Sedangkan siswa yang tidak memiliki kemandirian dalam belajar akan mengalami kesulitan dalam belajar, tidak mempunyai dorongan untuk berprestasi sebaik mungkin sehingga tujuan dari pembelajaran tidak dapat tercapai dengan baik.

Dalam kenyataannya, masih banyak siswa lemah dalam pelajaran matematika. Ini dapat dilihat dari pencapaian nilai rata-rata hasil belajar tes awal dilakukan peneliti tanggal 12 Mei 2014 pada materi Fungsi di kelas VIII-1 SMP Nasrani 1 Medan Tahun Ajaran 2013/2014 adalah 56 dengan standar deviasi 17,2 dan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh 40% dimana nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) untuk mata pelajaran Matematika adalah 65. Hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh homogen (seragam) artinya nilai siswa di kelas tersebut hampir sama yaitu di bawah nilai KKM atau dengan kata lain kemampuan siswa kelas VIII-1 rata-rata masih rendah.

(20)

6

menjelaskan defenisi fungsi, menentukan notasi fungsi, menghitung nilai fungsi dan menentukan bentuk fungsi jika nilai dan data fungsi diketahui, selain itu kebanyakan siswa sulit menentukan banyaknya pemetaan yang mungkin dari dua himpunan dikarenakan tidak memahami rumus yang digunakan.

Banyaknya siswa yang lemah dalam pelajaran matematika di kelas VIII-1 SMP Nasrani 1 Medan pada Tahun Ajaran 2013/2014 sangat memprihatinkan. Menurut Trianto (2009: 5) menyatakan bahwa masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Dalam arti, bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru. Dengan demikian tidak ada timbal balik antara guru dan siswa dalam pembelajaran yang terjadi. Pembelajaran seperti ini tidak memberikan akses bagi peserta didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.

(21)

7

meminta siswa untuk membuka dan membaca sumber belajar seperti buku dan LKS, siswa tidak memiliki inisiatif untuk membaca dan mempelajarinya.

Dalam hal mengerjakan PR atau tugas yang diberikan oleh guru, sebagian siswa tidak mengerjakan sendiri terlebih dahulu di rumah tetapi hanya meniru pekerjaan teman sesampainya di sekolah. Hal tersebut menunjukkan karakter siswa yang kurang mandiri dimana tanggung jawab siswa serta rasa percaya diri dalam mengerjakan tugas mata pelajaran matematika kurang optimal, padahal kemandirian dalam belajar adalah suatu aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri dari pembelajar. Akibatnya jika guru memberikan soal yang berbeda dengan contoh yang telah diajarkan guru sebelumnya, siswa merasa kesulitan. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kemandirian belajar matematika siswa di SMP Nasrani 1 Medan khususnya kelas VIII-1 masih rendah.

Rendahnya kemandirian belajar siswa ini berdampak pada hasil belajar siswa. Terdapat hubungan positip antara kemandirian belajar dengan hasil belajar siswa. Semakin tinggi kemandirian belajar seseorang peserta ajar, maka akan memungkinkannya untuk mencapai hasil belajar yang tinggi (Tahar,2006). Hal ini dapat terlihat dari tes awal yang peneliti berikan kepada siswa kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan pada materi Fungsi, hanya 10 orang siswa dari 25 orang siswa yang mencapai nilai ketuntasan belajar.

Dari permasalahan di atas, perlu diterapkan suatu model pembelajaran matematika yang diharapkan dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa. Salah satunya model pembelajaran yang telah berkembang adalah model pembelajaran berkelompok atau pembelajaran kooperatif.

(22)

8

akan berkurang dan siswa akan semakin terlatih untuk menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun.

Salah satu alternatif pembelajaran Cooperative Learning yang dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran Cooperative tipe NHT (Numbered Head Together) yang dikembangkan oleh

Spencer Kagan. Hal ini didukung dari penelitian sejenis yang dilakukan oleh Liawati (2009) dan Anniy Susilowatiy (2011) yang menyimpulkan peningkatan kemandirian belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).

Pembelajaran kooperatif pendekatan struktural NHT dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik setiap peserta didik. Peserta didik ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 3-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat akademis, jenis kelamin, suku, agama, dan sebagainya (Ibrahim, 2000). Kemudian, masing-masing peserta didik dalam setiap tim diberi nomor urut sebagai identitas di dalam timnya. Sehingga nantinya guru dapat memanggil salah satu nomor dan siswa yang memiliki nomor tersebut secara mandiri dan bertanggung jawab untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah suatu model pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab penuh dalam memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT, semua siswa dianggap sama. Guru tidak lagi mendominasi proses pembelajaran dan hanya bertindak sebagai fasilitator. Selama pembelajaran siswa dilibatkan secara langsung sehingga masing- masing siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajarnya. Dalam proses pembelajaran kooperatif tipe NHT, siswa aktif bekerja dalam kelompok dan bertanggungjawab penuh terhadap soal yang diberikan.

(23)

9

Selain itu NHT memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa seperti hasil penelitiannya yang dikemukakan Haydon, Maheady, dan Hunter (dalam Pratiwi,2012). Selain itu hasil penelitian Asih Munifah (2011) yang mendapat hasil penelitian keefektifan model NHT terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 4 Semarang.

Berdasarkan dari latar belakang di atas, peneliti merasa penting untuk

melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Kemandirian Belajar dan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT) di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan T.A 2014/2015 ”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah pada penelitian ini adalah

1. Kurangnya inisiatif, kepercayaan diri dan tanggung jawab siswa yang berkaitan atau berhubungan dengan karakter mandiri siswa dalam pembelajaran matematika.

2. Kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah. 3. Siswa belum memanfaatkan sarana pembelajaran dan sumber belajar

secara optimal.

4. Rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan.

5. Kegiatan pembelajaran di kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan masih berpusat pada guru (teacher centered).

6. Siswa banyak yang bersikap pasif selama pembelajaran berlangsung.

1.3. Batasan Masalah

(24)

10

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka yang menjadi fokus permasalahan penelitian ini, yaitu :

1. Apakah penerapan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa pada

materi Fungsi di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan?

2. Apakah penerapan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi

Fungsi di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab semua permasalahan pokok penelitian, yaitu :

1. Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan

kemandirian belajar siswa pada materi Fungsi di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan.

2. Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan

hasil belajar siswa pada materi Fungsi di Kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan.

1.6. Manfaat Penelitian

Dengan diterapkannya tujuan penelitian ini, dapat diharapkan manfaatnya sebagai berikut :

1. Bagi Siswa

a. Membantu siswa dalam meningkatkan keaktifan belajar

(25)

11

2. Bagi Guru

a. Membantu guru dalam mengoptimalkan model pembelajaran untuk meningkatkan kemandirian belajar.

b. Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

3. Bagi peneliti

a. Sebagai sarana untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah

b. Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam kegiatan pembelajaran matematika

4. Bagi penelitian selanjutnya

(26)

103

103 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan pada BAB IV dapat diambil kesimpulan yaitu:

1. Pembelajaran model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa pada materi Fungsi di kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan T.A 2014/2015. Hal ini didasarkan hasil angket kemandirian belajar siswa yang disebarkan pada akhir setiap siklus, kemandirian belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan yaitu 59,95% dari siklus I menjadi 77,90% pada siklus II dan dalam kategori baik. 2. Pembelajaran model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together

(NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi fungsi di kelas VIII SMP Nasrani 1 Medan T.A 2014/2015. Hal ini terlihat dari meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 2,52 menjadi 2,98 pada siklus ke II. Selain itu persentase ketuntasan klasikal siswa meningkat yaitu 10 (45,5%) siswa yang tuntas belajar pada siklus I menjadi 19 siswa (86,4%) yang tuntas pada siklus II.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, adapun saran yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

1. Kepada guru matematika hendaknya mulai menerapkan model yang berpusat pada siswa, salah satunya penggunaan model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa. 2. Guru diharapkan lebih kreatif dalam penggunaan model pembelajaran

(27)

104

3. Guru harus lebih memperhatikan kegiatan siswa pada saat berdiskusi supaya pembelajaran dapat berjalan kondusif dan siswa dapat fokus terhadap pembelajaran dan tugas yang diberikan guru. Selain itu, pembentukan kelompok harus benar-benar diperhatikan dan sebaiknya bersifat heterogen agar diskusi berjalan maksimal dan pertukaran ide juga lebih terarah.

4. Kepada siswa SMP Nasrani 1 Medan khususnya siswa yang memiliki kemandirian belajar rendah agar lebih banyak berlatih, membaca dan tidak sungkan untuk bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak dipahami dan tidak malu mengemukakan ide-ide matematikanya baik secara lisan maupun tulisan dalam pembelajaran matematika.

(28)

105

DAFTAR PUSTAKA

Adinawan, Cholik M dkk., (2010), Matematika Untuk SMP Kelas VIII Semester 1, PT Erlangga, Jakarta

Aprillia, Linda Kristina., (2013), Kemandirian Dalam Belajar, STKIP Garut, http://coretanpenasihijau.blogspot.com/2013/09/tugas-kuliah-makalah-kemandirian-dalam.html (diakses 3 juni 2014)

Arikunto, S., (2007), Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta. Basir, La Ode.2008. Kemandirian Belajar atau Belajar Mandiri.

http://www.sma-dwiwarna.net/website/data/artikel/kemandirian.htm. Diakses tanggal 6 Juni 2014

Darr, C and Fisher, J., (2004), Self Regulated Learning in Mathematics Class. http://www.nzcer.org.nz/system/files/13903.pdf (diakses 03 Mei 2014).

Dhesiana, (2009), Kemandirian Dalam Belajar. http://dhesiana.wordpress.com/2009/01/16/kemandirian-dalam-belajar/ (diakses 3 Juni 2014)

Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan., (2011), Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Proposal Penelitian Kependidikan, FMIPA Unimed.

Hamalik, Oemar., (2010), Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta. Hamdani,(2011), Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung.

Hiemstra, R., (1994), Self-directed learning. In T. Husen & T. N. Postlethwaite (Eds.), The International Encyclopedia of Education (second edition), Oxford: Pergamon Press. http://home.twcny.rr.com/hiemstra/sdlhdbk.html (diakses 3 Juni 2014)

Ibrahim, M.H dkk., (2000), Pembelajaran Kooperatif, Universitas Negeri Surabaya, University Press: Surabaya

Isjoni, H., (2009), Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik, Pustaka Belajar, Yogyakarta.

(29)

106

Lie, Anita., (2008), Cooperative Learning, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Liawati, Imas Siti., (2009), Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) Sebagai upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Siswa Pada Siswa Kelas VIII-D Semester Ganjil SMP Negeri 8 Bandar Lampung T.P 2009/2010), FMIPA UNL, Lampung.

Mudjiman, Haris., (2011), Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mu’tadin, Zainun., (2002), Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologi Pada

Remaja. http://www.e-psikologi.com (diakses 20 Juni 2014).

Nuharini, Dewi., dan Wahyuni, Tri., (2008), Matematik Konsep dan Aplikasinya untuk Kelas VIII SMP dan MTs, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Nurkancana, Wayan., (1986), Evaluasi Pendidikan, Usaha Nasional, Jakarta. Pribadi, Benny A., (2009), Model Desain Sistem Pembelajaran, Dian Rakyat,

Jakarta.

Pidarta, Made., (2009), Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta.

Rusman, (2011), Model-Model Pembelajaran:Mengembangkan Profesionalisme Guru, Rajawali Pers, Jakarta.

Sanjaya,Wina, (2011), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Shadiq, Fadjar, (2009), Model-Model Pembelajaran Matematika SMP, P4TK, Yogyakarta.

Slameto., (2010), Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi, Rineka Cipta, Jakarta.

Slavin, Robert E., (2005), Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, Penerbit Nusa Media, Jakarta

Soegito, Edi., Nurani, Yuliani., (2003), Kemampuan Dasar Mengajar, Universitas Terbuka, Jakarta.

(30)

107

Suprijono, Agus., (2010), Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sulistyowati, Endah., (2012), Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter, PT CITRA AJI PARAMA, Yogyakarta.

Sumarmo, U., (2010), Kemandirian Belajar : Apa, Mengapa, Bagaimana Dikembangkan Pada Peserta Didik. Makalah Disajikan Pada Seminar Pend.Matematika Di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Yogyakarta tanggal 11 Februari 2010:tidak diterbitkan.

Suyadi., (2012), Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Tim Pelatih Proyek PGSM., (1999), Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), Depdikbud, Jakarta.

Trianto., (2009), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikuum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kencana, Jakarta.

Yamin, Martinis., (2012), Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan, GP Press, Jakarta

Yuslinawati., (2012), Perbedaan Peningkatan Kemampuan Komunikasi Dan Kemandirian Belajar Matematika Siswa SMP Melalui Pembelajaran Koperatif tipe Jigsaw Menggunakan Software Autograph Dengan Pembelajaran Konvensional Menggunakan Software Autograph. Tesis, Program Pasca Sarjana UNIMED, Medan.

Gambar

Tabel 4.11 Nilai Rata-rata Tes Hasil Belajar Siswa Siklus I dan II
Gambar 2.1Siklus Kemandirian Belajar

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam pembelajaran matematika adalah melalui Cooperative Learning tipe

Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Metode

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian yaitu siswa kelas VIII B SMP N 3 Teras yang berjumlah 30 siswa yang terdiri dari 13

Subjek dalam penelitian ini adalah guru ekonomi kelas VIII dan siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang, sedangkan objek nya adalah pengaruh penggunaan

Data yang digunakan untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah nilai ulangan harian matematika siswa kelas VIII F dan VIII H, dan data hasil post tes digunakan untuk menguji

Pelaksanaan siklus I ini berpedoman pada langkah-langkah Model Cooperative Learning tipe Numbered Head Together (NHT) yakni sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan

1) Variabel bebas (independent variable) yaitu perbedaan pembelajaran dengan menggunakan Strategi Cooperative Learning. Cooperative Learning berfokus pada pembelajaran

Hasil observasi kegiatan guru pada siklus I menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan implementasi Cooperative Learning Strategy Tipe NHT berjalan kurang