SURVEY STANDAR MANAJEMEN KEAMANAN SISTEM INFORMASI UNTUK SISTEM KONTROL INDUSTRI
R. Benny Gandara
Fakultas Magister Teknik Elektro, Universitas Mercubuana, Jakarta Email : [email protected]
Dosen : DR Ir Iwan Krisnadi MBA Abstrak
Sistem kontrol industri kini tidak lagi beroperasi secara terisolasi, tapi akan dihubungkan dengan berbagai sumber daya (jaringan dan internet) untuk dapat memfasilitasi dan meningkatkan efisiensi proses bisnis. Konsekuensi yang timbul dengan adanya
perkembangan ini menyebabkan meningkatkan ancaman terhadap keamanan cyber dalam dunia industri. Dalam penulisan survey paper ini akan diulas secara singkat mengenai bentuk standar manajemen keamanan sistem informasi yang akan di terapkan pada sektor industri minyak dan gas.
Kata kunci : Sistem kontrol industri, manajemen keamanan sistem informasi, industri minyak dan gas.
Abstract
Industrial control systems no longer operate in isolation, but use connected with other resources (e.g., corporate networks and the Internet) to facilitate and improve business processes. The consequence of this development is the increased exposure to cyber threats. This paper surveys, the methodologies and research in a brief for information security
management system standards that has been published to be adopted in oil and gas industrial sectors.
Keywords: Industrial control system, Information Security Management System, oil and gas industry.
I.Pendahuluan
I.1 Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembangnya teknologi operasi dan teknologi informasi di sektor industri maka ikut turut meningkatkan adanya kebutuhan perlindungan keamanan cyber terhadap konvergensi kedua teknologi tersebut. Teknologi operasi atau sistem kontrol industri terdiri dari sistem perangkat keras dan perangkat lunak yang memantau dan mengontrol peralatan secara langsung dilapangan, sering ditemukan pada industri yang mengelola infrastruktur penting, seperti: pengolahan air minum, minyak & gas, pembangkit listrik, manufaktur, sistem pertahanan dan transportasi. Dalam teknologi operasi ini penggunaan terminology khusus seperti: Programmable Logic Controller (PLC), Distributed Control System (DCS),
server, dan jaringan komunikasi data baik berupa : Local Area Network (LAN) dan Wide Area Network (WAN).
Hubungan keterkaitan sistem kontrol industri dan teknologi informasi yang terpisahkan pada beberapa waktu lalu akan dikaji kembali karena dengan semakin berkembangnya teknologi dan kebutuhan efisiensi pada sistem industri, yang membutuhkan konvergensi dengan teknologi informasi. Bentuk ancaman keamanan pun tidak luput dari bahasan setelah adanya konvergensi ini. Dimana contoh kasus keamanan cyber untuk sistem kontrol industri ini mulai menjadi trend ditahun 2010 dengan ditemukannya malware Stuxnet di fasilitas instalasi nuklir Iran dan malware Black Energy difasilitas pembangkit listrik di Ukraina ditahun 2016. Dan dengan semakin banyak serta berkembangannya bentuk ancaman yang dihadapi, maka berbagai upaya pun di lakukan untuk menghadapi bentuk ancaman-ancaman keamanan tersebut. Salah satunya adalah metoda /standarisasi manajemen keamanan yang berkaitan dengan cara pengamanan untuk mengurangi resiko yang akan dihadapi. Dalam hal ini bentuk pemilihan standar harus dapat di sesuaikan dengan karakter dari sistem yang akan di
lindunginya. Sistem kontrol industri (Industrial Control System, ICS) memiliki bentuk karakter yang berbeda dari sistem teknologi informasi dan oleh sebab itu bentuk pemilihan standar yang tersedia perlu di analisa sesuai dengan kebutuhan karakternya , yang mana akan diulas dalam penulisan ini.
Gambar 1[1]
I.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dirumuskan permasalahan yang mendasari untuk di bahas dalam penulisan ini adalah dengan diterbitkannya berbagai macam standar manajemen keamanan sistem informasi yang dibuat untuk sistem teknologi informasi dan sistem kontrol industri. Sehingga di perlukannya analisa yang lebih mendalam untuk dapat menentukan jenis standar apa yang akan di gunakan berdasarkan karakter keamanan informasi pada sistem kontrol industri. Untuk cakupan ruang lingkup kerja sistem kontrol yang akan diulas pada bahasan ini di tujukan lebih spesifik ke penggunaannya dalam sektor industri energi di fasilitas produksi minyak dan gas.
I.3 Metodologi dan Tujuan Penelitian
Adapun maksud dan tujuan dari pembahasan penulisan ini adalah, memberikan informasi mengenai bentuk-bentuk standar manajemen keamanan informasi yang tersedia baik untuk sistem teknologi informasi dan sistem automasi industri yang umum di pergunakan,
kemudian dianalisa, dan akhirnya menentukan bentuk standar yang akan dipergunakan dalam sistem kontrol industri agar dapat diimplementasikan sesuai dengan karakter dan
kebutuhannya. Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis melakukan pendekatan proses analisa penilitian dengan cara:
1.Memililih bentuk model standar yang akan dianalisa (teknologi informasi dan Sistem kontrol industri).
3.Membandingkan model standar analisa dengan model referensi. 4.Tabulasi dan Identifikasi model.
5.Analisa hasil tabulasi dan bandingkan dengan kebutuhan penulisan. 6.Menarik hasil dan memberikan kesimpulan.
II.Tinjuan Teroritis
II.1 Sistim Kontrol Industri.
Sistem kontrol adalah proses pengaturan ataupun pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variabel, parameter) sehingga berada pada suatu nilai atau dalam suatu rangkuman besaran cakupan (range) tertentu. Di dalam dunia industri, dituntut suatu proses kerja yang aman dan efisien untuk menghasilkan produk dengan kualitas dan kuantitas yang baik dalam periode waktu tertentu yang telah ditentukan. Sistem kontrol sangat membantu dalam hal kelancaran operasional, keamanan (investasi, lingkungan), ekonomi (biaya produksi), mutu produk, dll.
Komponen dari sistem kontrol secara umumnya terdiri : 1. Input (Process Variable, masukan variabel proses)
Modul input terbagi menjadi dua jenis :analog dan digital. Bentuk contoh peralatan input analog (instrumentasi dilapangan): pressure transmitter (alat pengukur tekanan), level transmitter (alat pengukur ketinggian), flow transmitter (alat pengukur aliran), temperature transmitter (alat pengukur suhu), fire detector (alat deteksi api), smoke detector (alat deteksi asap), analyser dan input digital: switch/saklar dihubungkan ke modul input.
2. Process (Controller, pusat pemrosesan data)
Adalah alat yang menerima data dari masukan variabel proses dan diproses untuk di hitung, dibandingkan dengan nilai tertentu, dan memberikan perintah keluaran setelah proses tersebut diolah
3. Output (Manipulated Variable, keluaran manipulasi variable).
Merupakan bagian terakhir dari elemen kontrol, yang diatur dari controller untuk menghasilkan keluaran dengan tujuan tertentu, seperti pengaturan nilai besaran tertentu berdasarkan set point atau pun fungsi kendali ON/OFF, contoh : actuator (valve solenoid)
dan contactor relay (circuit breaker) . Modul output terbagi atas dua jenis yaitu : analog dan digital.
1.Modul catu daya, dimana berfungsi sebagai bagian yang memberikan daya ke dalam sistem internal modul.
2.Modul prosessor dan memory dimana berfungsi sebagai pusat proses pemrosesan data, penyimpanan data dan sistem operasi .
3.Modul komunikasi, dimana berfungsi sebagai media komunikasi untuk hubungan antar mesin atau pun ke eksternal sistem seperti antara lain : komputer/server, peralatan jaringan dll.
4.Modul input dan output: dimana akan berinteraksi masukan/input dari peralatan di lapangan dan juga perintah keluaran/output.Modul ini terbagi atas dua jenis: analog dan digital.
Dalam implemetasinya sistem kontrol/automasi industri akan berinterkasi dengan teknologi informasi seperti perangkat alat pendukung komputer untuk layanan antar muka mesin dan manusia (human machine interface), server untuk penyimpanan dan pengolahan dan juga termasuk peralatan komunikasi jaringan seperti: switch, router,dll.
Subjek pada penulisan ini ditujukan untuk peralatan sistem kontrol/ automasi industri di sektor industri energi minyak dan gas,dimana untuk fasilitas produksi akan terkait dengan alat pengontrol proses yang pada umumnya terdiri dari : Basic Process Control System (BPCS), dan alat penunjang keselamatan: Safety Instrumented System (SIS), seperti pada gambar
Gambar 2 [2]
Dimana peralatan BPCS ini berperan sebagai sistem yang bertanggung jawab untuk
menjalankan proses produksi di saat normal operasi yang merespon signal input dari proses atau peralatan-peralatan dilapangan, termasuk juga perintah masukan dari operator untuk mengendalikan proses sesuai dengan tujuan yang diinginkan. BPCS juga berperan sebagai alat fungsi peringatan dan keselamatan pada tingkat awal, jika terjadi gangguan pada proses dilapangan.
Bentuk peralatan penunjang keselamatan , Safety Instrumented System (SIS) didefinisikan oleh ISA S84.1 dan IEC 61508 adalah : sistem yang terdiri dari sensor, logic solver (sistem prosessor), dan final control element (elemen/output control akhir) yang di fungsikan untuk kepentingan penunjang keselamatan, apabila telah terjadi gangguan proses diluar batas yang telah di tentukan. Contoh implementasi sistem ini ada pada sistem Emergency shutdown dan juga sistem Fire and Gas.
II.2 Standar Keamanan Manajemen Sistem Informasi ISO 27001
ISO 27001 merupakan dokumen standar sistem manajemen keamanan informasi atau Information Security Management System, biasa disebut ISMS. Dalam hal ini maka ISMS dapat diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk mengidentifikasikan dan
dan memelihara keamanan informasi di perusahaan/organisasi berdasarkan ”best practise” dalam pengamanan informasi.
Penggunaan ISO 27001 juga ditujukan untuk digunakan bersama dengan ISO/IEC 27002, yang memberikan daftar tujuan pengendalian keamanan dan merekomendasikan suatu rangkaian pengendalian keamanan yang lebih spesifik. ISO/IEC 27002 memberikan rekomendasi praktik terbaik (best practices) untuk standar Sistem Manajemen Keamanan Informasi (ISMS) yang didefinisikan oleh standar ini dalam konteks C-I-A:
•Kerahasiaan (confidentiality): memastikan bahwa informasi hanya dapat diakses oleh pihak yang memiliki wewenang.
•Integritas (integrity): memastikan bahwa informasi tetap akurat dan lengkap, serta informasi tersebut tidak dimodifikasi tanpa otorisasi yang jelas.
•Ketersediaan (availability): memastikan bahwa informasi dapat diakses oleh pihak yang memiliki wewenang ketika dibutuhkan.
Pengamanan informasi tersebut dapat dicapai dengan melakukan suatu kontrol yang terdiri dari kebijakan, proses, prosedur, struktur organisasi, serta fungsi-fungsi infrastruktur teknologi informasi.
II.3 ISA-62443
Standarisasi ini di kembangkan oleh komite ISA 99 dan kelompok kerja komite teknis IEC 65 (TC65WG10) di tujukan untuk kebutuhan desain ketahanan keamanan cyber spesifik untuk sistem kontrol automasi industri (Industrial automation control system, IACS) dimana mencakup:
Perangkat keras dan perangkat lunak seperti DCS, PLC, SCADA, peralatan sensor monitor dan diagnostic.
Operator pengguna/manusia, jaringan komunikasi, perangkat antar muka untuk sistem kendali , sistem keselamatan dan juga operasi di manufaktur.
Laporan teknis dan standar ISA 62443 dibagi menjadi empat kategori yaitu [3]:
1.General (Umum) : pembahasan berkaitan tentang dasar-dasar informasi, seperti: konsep model, dan terminology temasuk matriks keamanan dan siklus IACS.
2.Procedure and Policy (Prosedur dan kebijakan): Membahas tentang aspek-aspek kebijakan dan peraturan oleh pemilik aset yang berkaitan dengan menciptakan dan memelihara
keamanan IACS.
4.Component Provider (Komponen peralatan): membahas mengenai pengembangan dan kebutuhan teknis dari produk sistem kontrol.
II.4 NIST 800
NIST adalah National Institute of Standards and Technology badan ini adalah organisasi yang berada di bawah U.S Department of commerce. NIST membuat standar, panduan dan
publikasi yang memberikan pengarahan kepada perusahaan-perusahaan di Amerika untuk menggunakan FISMA: Federal Information Security Management Act of 2002, yang dimana merupakan sebuah undang-undang yang mendefinisikan kerangka kerja secara komprehensif untuk melindungi informasi, operasi dan aset pemerintah terhadap ancaman alam atau hasil rekayasa manusia. Informasi angka 800 ini menjelaskan mengenai kode SP (Special
Publication) yang mengindikasikan bahwa standar ini terkait dengan keamanan komputer. Secara garis besar penggambaran struktur dokumentasi NIST adalah:
Gambar 3
III. Pembahasan
Tujuan penulis pada penulisan ini adalah untuk membahas dengan singkat tentang bentuk standar manajemen keamanan sistem informasi yang di terbitkan oleh berbagai pihak, kemudian dianalisa dan diadopsikan dalam sektor industri migas.
Pemahaman bentuk karakter dasar dari sistem teknologi infomasi dan sistem automasi industri ,perlu dianalisa untuk mendapat metoda analisa sistem keamanan yang sesuai,
dimana untuk penjelasannya dapat diinformasi dengan table 1 sebagai berikut[4], berdasarkan standar NIST:
Kategori Sistem Teknologi Informasi Sistem Automasi Industri
Tidak real time Real time
Bentuk respond yang diperlukan
adalah : Respond yang Bentuk respond yang di perlukan adalah : respond yang cepat yang besar sangat diinginkan
Cukup menggunkan kapasitas bandwith menengah
Delay dan jitter dapat terima Tidak menerima delay dan jitter Interaksi terhadap fungsi
darurat/kritis sangat minimal
Berinteraksi dengan fungsi-fungsi yang kritikal
Implementasi akses kontrol yang ketat bisa di
Bentuk akses sangat di kontrol dan dibuat agar tidak menggangu
fungsi interaksi dengan layanan antar
muka (human machine implementasikan sesuai dengan
kebutuhan tingkat keamanan
interaction )
Respon terhadap rebooting/restart bisa diterima
Kebutuhan ketersediaan
Kekurangan dalam ketersediaan sistem masih bisa di
Redundansi akan di diperhitungan tergantung dari tingkat
tolerensi, tergantung dari
kebutuhan operasional sistem ketersediaan yang dibutuhkan
Pemadaman / pemberhentian sistem
harus direncana dalam
beberapa waktu sebelummnya
Mengatur data Mengatur peralatan di lapangan
Kerahasiaan dan integritas data menjadi hal yang utama
Keselamatan dan ketersedian menjadi hal yang utama
Kebutuhan manajemen
Toleransi kesalahan tidak menjadi perhatian utama- Karena
Toleransi kesalahanmenjadi perhatian utama- Karena interupsi
resiko penghentian sementara tidak mengandung resiko yang besar
proses, mungkin tidak dapat ditoleransi
Resiko bisa berdampak pada
aturan/hukum yang Resiko terbesar adalah tertunda
proses bisnis
Menggunakan jenis sistem operasi yang umum
tidak umum dan kadang tidak dilengkapi dengan perlindungan
keamanan terhadap sistem
Dapat dengan mudah melakukan
upgrading / pemutakhiran
Harus sangat berhati-hati dalam proses modifikasi atau
Sistem mengalami kendala untuk mendapatkan dukungan sumber
daya tambahan dari pihak lain untuk
menunjang solusi keamanan, Kendala Sumber
Daya
tambahan dari pihak lain untuk
menunjang solusi keamanan karena di buat spesisifik untuk kebutuhan tertentu(industrial)
Terdiri dari bentuk network yang rumit dan membutuhkan
sumberdaya tertentu/ahli dalam
pengerjaannya
Perubahan perangkat lunak bisa
dilakukan sewaktu-waktu Perubahan perangkat lunak harus melalui tahap pengujian untuk
dengan mengindahkan kaidah
kebijakan dan prosedur
memastikan kemampuan, dan
intergritas sistem Manajemen
Dukungan operasi Memiliki kemampuan yang lebih
flexible (multiple vendor) Hanya khusus pabrikan &pemeliharaan
Umur Perangkat 3-5 Tahun 10-15 Tahun
Lokasi perangkat
Lokal, dan mudah diakses Sangat bergantung pada kebutuhan : lokal, terdistribusi, dan
sukar untuk diakses / berjauhan , terkadang terisolasi
Tabel 1
Dari pembahasan tabel 1 diatas, maka dapat bentuk matriks karakter ISMS untuk teknologi informasi dan sistem automasi industri menjadi seperti pada table 2
No Matriks Tujuan Keamanan Informasi
Teknologi Informasi Sistem Automasi Industri 1 Confidentiality (Kerahasiaan) Availability (Ketersedian) 2 Integrity (Integritas) Integrity (Integritas)
3 Availability (Ketersedian) Confidentiality (Kerahasiaan) Tabel 2
Berdasarkan pembahasan teori karakter dan bentuk objektivitas kebutuhan keamanan pada sistem kontrol industri memiliki karakter yang berbeda dengan sistem teknologi informasi pada umumnya.
Untuk penentuan awal untuk tipe model dimulai dari pendekatan seleksi model ISMS yang umum digunakan dan tersedia untuk kebutuhan keamanan teknologi informasi yang terdiri dari :ISO 27001, BS 7799, PCIDSS, ITIL dan COBIT. Dan terpilihnya metode ISO 27001, disadur oleh penulis berdasarkan pada pada pembahasan jurnal[5], dimana model ISO 27001 dimana penggunaannya merupakan populasi terbesar atau paling umum di gunakan, dan juga lebih mudah diimplementasikan
Selanjutnya untuk menentukan model yang khusus di tujukan berkaitan dengan sistem keamanan informasi automasi industri, maka penulis membandingkan dan menganalisa informasi yang ada pada penulisan jurnal [6] dan memilih standar ISA 62443 yang cukup representative untuk dijadikan referensi pada penelitian ini karena :
1.Dipergunakan sebagai standarisasi dan bukan sekedar panduan.
2.Dalam bahasan publikasi model tersebut turut membahas tentang pentingnya unsur /parameter keselamatan ( safety) dalam sistem yang menjadi unsur dasar utama karakter ISMS dalam sistem automasi industri.
3.Membahas analisa resiko manajemen yang terkait dengan keamanan aset sistem automasi industri.
5.Memiliki teknik analisa penilaian terhadap ancaman dan kelemahan sistem keamanan. 6.Evaluasi resiko dapat dilaksakan secara dilaksakan secara kuantitatif dan kualitatif. Kemudian standar NIST SP 800 menyediakan cara untuk mengamankan sistem kontrol industri (Industrial Control System, ICS), termasuk diantaranya : Supervisory Control and Data Acqusition (SCADA), Distributed Control System (DCS), dan sistem lainnya yang melakukan fungsi kontrol. Standar ini juga akan memberikan gambaran dan pembahasan mengenai ICS dan topologi umum sistem ICS, mengidentifikasi ancaman dan kerentanan sistem dan termasuk juga memberikan rekomendasi cara penanggulangan keamanan sistem ICS untuk mengurangi risiko gangguan keamanan.
Dalam standar ini juga membahas bentuk kontrol keamanan yang spesifik khusus untuk ICS, memberikan panduan cara kontrol untuk sistem yang sudah lama terbentuk/dijalankan dan tambahan panduan untuk operator. ICS.NIST 800 telah memperoleh tertentu pengakuan dan popularitas di antara para pihak-pihak yang terlibat dalam bidang ICS (alat keamanan ICS dan penyedia layanan, perangkat lunak ICS / produsen perangkat keras dan integrator, operator infrastruktur, badan-badan publik, badan standardisasi, akademisi)[7].
Berikut adalah bentuk tabulasi dan identifikasi model standar yang di sesuaikan dengan kebutuhan karaktek ISMS pada sistem kontrol industri yang dirangkum oleh penulis seperti pada tabel 3
Tabel 3
Pembahasan mengenai beberapa standar yang diulas sebelumnya dengan pendekatan metode standar: NIST SP 800 dan ISA 62443, nantinya akan diolah dan adopsi untuk diterapkan dalam ISMS sistem kontrol industri, sehingga dalam penerapannya dapat di lakukan: 1.Kuantifikasi level resiko yang dihadapi pada saat ini terhadap ancaman resiko keamanan 2.Dapat memprioritaskan bentuk investasi dalam menanggulangi ancaman resiko keamanan 3.Analisa terhadap resiko baru yang akan di hadapi, jika terjadi adanya bentuk perubahan baru
IV. Kesimpulan
Daftar Pustaka
[1]J. Weiss Pe, “Assuring Industrial Control System (ICS) Cyber Security.” [2]G. C. Maitland, Oil and gas production, vol. 5. 2000.
[3]I. Automation and C. S. Security, “Overview The 62443 series of standards Industrial Automation and Control Systems Security,” no. 919, pp. 1–4, 2015.
[4]K. Stouffer, K. Stouffer, and M. Abrams, “Guide to Industrial Control Systems ( ICS ) Security NIST Special Publication 800-82 Guide to Industrial Control Systems ( ICS ) Security.”
[5]H. Susanto, M. Almunawar, and Y. Tuan, “Information security management system standards: A comparative study of the big five,” Int. J. Electr. Comput. Sci. IJECS- IJENS, vol. 11, no. 5, pp. 23–29, 2011.
[6]W. Knowlesa, D. Princea, D. Hutchisona, J. F. P. Dissob, and K. Jonesb, “A survey of cyber security management in industrial control systems,” Int. J. Crit. Infrastruct. Prot., vol. 9, no. June 2015, pp. 52–80, 2015.
[7]R. Leszczyna, “Approaching secure industrial control systems,” no. April 2013, pp. 81–89, 2014.
[8]M. Afzaal, C. Di Sarno, L. Coppolino, S. D’Antonio and L. Romano, A resilient architecture for forensic storage of events in critical infrastructures, Proceedings of the Fourteenth IEEE International Symposium on High-Assurance Systems Engineering, pp. 48– 55, 2012.
[9]C. Alcaraz, G. Fernandez and F. Carvajal, Security aspects of SCADA and DCS environments, in Critical Infrastructure Protection, J. Lopez, R. Setola and S. Wolthusen (Eds.),Springer-Verlag, Berlin Heidelberg, Germany, pp. 120–149,2012.
[10]C. Alcaraz and J. Lopez, Analysis of requirements for critical control systems,