PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
Kasus Pelanggaran HAM Nasional dan
Internasional
Disusun Oleh :
1. MEIDA SINTIA DEVI
(14080314054)
PRODI PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
TRAGEDI TALANGSARI (1989) (Pelanggaran Ham
Nasional)
Aksi Kamisan ke-384, Peringati 26 Tahun Talangsari
on 06 Feb 2015 at 06:00 WIB
Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan melakukan aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/2/2015). (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pada aksi ini mereka memperingati 26 tahun peristiwa Talangsari Lampung dan mendesak Jokowi untuk memandatkan Jaksa Agung agar menindaklanjuti hasil
A. Latar Belakang Masalah
Selama lebih dari tiga dekade Indonesia dibawah kepemimpinan Soeharto. Pada masa itu pemerintahan Soeharto dikenal dengan nama Orde Baru. Pemerintahan Indonesia dengan wajah Orde Baru adalah pemerintahan yang bergaya militeristik dan otoriter. Fokus pemerintahan Indonesia saat itu adalah menciptakan kestablian ekonomi dan politik, terutama setelah peristiwa berdarah G30S. Akibatnya segala suatu tindakan di halalkan asal dengan mengatasnamakan kestabilan dan keamanan negara. Tidak terkecuali tindak kekerasan seperti penangkapan paksa, penganiayaan bahkan pembunuhan dapat dilakukan oleh aparat negara apabila mengatasnamakan keamanan negara. Sayangnya pada jaman Orde Baru berkuasa tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara kepada mereka yang dianggap sebagai ‘ancaman’ terhadap negara seringkali yang menjadi korban adalah para aktivis atau golongan oposisi pemerintah, yang belum tentu menjadi pihak yang bersalah.
Setelah rezim Orde Baru berakhir, wajah pemerintah Indonesia berganti dari yang otoriter menjadi wajah yang lebih demokratis dibawah rezim Reformasi. Konsekuensi dari demokrasi yang dibawa adalah mulainya keterbukaan informasi. Mulai banyak kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh rezim yang lalu mulai mendapat perhatian dan banyak korban mulai meminta tuntutan terhadap pemerintahan yang baru untuk menyelesaikan kasus tindak kekerasan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat negara. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Talangsari yang terjadi di Lampung.
Selain karena tergolong senior, Warsidi adalah juga pemilik lahan sekaligus pemimpin komunitas Talangsari yang pada awalnya hanya berjumlah di bawah sepuluh orang.
Kasus Talangsari hanyalah satu kasus dari sekian kasus kekerasan yang di wariskan pemerintah Orde Baru. Tidak banyak yang tahu, namun sudah banyak pula yang melupakannya. Selama ini informasi yang beredar ditengah masyarakat, kasus ini muncul karena adanya kelompok pemberontak “nyeleneh” dan ingin melawan pemerintah. Mereka mendapat image sesat dari masyarakat. Peristiwa Talangsari bukan semata masalah agama. Namun lebih kepada sikap aparat negara yang kurang bisa menerima kritik dan perbedaan pendapat.
GAMBARAN UMUM PERISTIWA TALANGSARI (1989)
Konteks awal terbentuknya jamaah Warsidi dimulai dengan pendirian Mushola Mujahidin oleh Jayus dan keluarga pada 1977, yang selanjutnya diikuti dengan pendirian rumah dan pondok pesantren.
Pada sekitar 1984, Jayus berkenalan dengan Warsidi dan mengundang Warsidi untuk bergabung menjadi jamaah Mushola tersebut. Kurang lebih ½ tahun mengikuti kegiatan di mushola tersebut, Jayus melihat bahwa Warsidi adalah orang yang tepat untuk menjadi imam mushola. Kemudian pada 1986 Jayus mendirikan pondok pesantren dan Warsidi menjadi imamnya.
Pengajian Warsidi bercita-cita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran khususnya menegakkan syariat Islam. Kelompok ini mayoritas terdiri dari orang-orang pendukung NII (Negara Islam Indonesia)/Darul Islam (DI) faksi Abdullah Sungkar ditambah faksi Ajengan Masduki dan Aceng Kurnia. Mereka berasal dari Jakarta, Solo, Bandung dan Lampung. Kelompok ini meyakini bahwa syariat Islam tidak akan terwujud tanpa adanya negara Islam
Lambat-laun, kelompok yang berada di Jakarta berkembang dan kelompok ini memandang bahwa suasana pada waktu itu sangat represif bagi perjuangan Islam. Oleh sebab itu, dari serangkaian pertemuan yang mereka selenggarakan menyepakati bahwa untuk memulai perjuangan Islam harus dilakukan dengan membuat basecamp dan perkampungan Islam serta melakukan hijrah. Mereka memandang ada dua pilihan untuk tempat hijrah yaitu Bima atau Lampung.
Dari hasil pemantauan atau investigasi yang dilakukan, mereka mengetahui adanya kemiripan gerakan mereka dengan gerakan di Lampung yaitu pengajian Warsidi. Oleh karena itu, pada awal Agustus 1988, kelompok Jakarta yang diwakili oleh Nur Hidayat Assegaf bertemu dengan anggota kelompok Warsidi yaitu Ir. Usman, Heri, Umar, Sholeh di rumah Sofwan di Jl. Mardani, Jakarta Pusat. Pada akhir Agustus 1988 dilaksanakan pertemuan di rumah Haji Didin Solehudin di Cibinong. Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 40 orang wakil dari beberapa daerah antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung. Rapat menyepakati “untuk berbuat sesuatu guna mencegah Indonesia dari kehancuran”. Rapat selanjutnya memilih Nurhidayat sebagai Amir Musyafir dan menyepakati Lampung sebagai tempat hijrah dengan alasan bahwa di Lampung cikal jamaah pengajian sudah terbentuk dan jauh dari Jakarta. Pada awal September 1988 dilakukan peninjauan lokasi di Lampung oleh Nurhidayat, Darsono, dkk. Mereka bertemu Warsidi dan menegaskan kembali Lampung sebagai tempat hijrah. Dalam pertemuan itu, sebagai Amir Musyafir Nurhidayat diminta untuk memerintahkan jamaahnya agar hijrah ke Lampung. Setelah itu, terjadi pengiriman jamaah ke Lampung. Setiap wilayah diminta untuk mengirim dua orang wakil untuk dikirim ke Lampung dan dilatih agar mempunyai empat kemampuan, yaitu fisik (komando), dakwah, mencari dana dan konsolidasi.
Bentuk-bentuk Kejahatan Yang Terjadi Dalam Peristiwa Talangsari
Pembunuhan
Serangan yang terjadi pada 7 Pebruari 1989 terhadap penduduk sipil yaitu jamaah Pondok Pesantren Warsidi di Desa Cihideung dilakukan oleh pelaku yang dapat diidentifikasi sebagai aparat militer. Serangan tersebut mengakibatkan sekurang-kurangnya sebanyak 130 orang meninggal dunia.
Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
Sehubungan dengan dibakarnya serta dirusaknya rumah-rumah penduduk serta adanya larangan dari aparat militer terhadap penduduk untuk kembali kerumahnya, maka telah mengakibatkan pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. Berdasarkan hasil penyelidikan yang telah dilakukan, sekurang-kurangnya tercatat sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh).
Perampasan Kemerdekaan Secara Sewenang-wenang
Dari hasil penyelidikan ditemukan fakta-fakta tentang terjadinya tindak pidana perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Tindak perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang terjadi sebelum dan setelah penyerangan jamaah Warsidi pada 7 Pebruari 1989. Sesuai dengan hasil penyelidikan, didapati sekurang-kurangnya sebanyak 53 (lima puluh tiga) orang yang dirampas kemerdekaannya secara sewenang-wenang orang dalam bentuk penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.
Penyiksaan
Bahwa hampir di semua lokasi penangkapan dan penahanan terjadi praktik kekerasan dan penyiksaan, yang dimulai dari proses penangkapan, menuju tempat tahanan, selama pemeriksaan maupun selama dalam tahanan. Secara umum penyiksaan dilakukan untuk mendapatkan keterangan, pemaksaan untuk mengakui sesuatu, pemaksaan untuk menandatangani sesuatu, dan sebab-sebab yang tidak diketahui alasannya. Penyiksaan yang dilakukan dengan metode khusus misalnya penyetruman, penginjakan kaki dengan kursi yang diduduki dan penyundutan rokok yang dilakukan saat interogasi dengan tujuan untuk mendapatkan keterangan atau pengakuan. Penyiksaan yang terjadi tidak hanya dilakukan secara fisik tetapi juga secara mental, misalnya dengan adanya ancaman pembunuhan, intimidasi, caci maki dengan kata-kata kotor, stigmatisasi sebagai kelompok PKI, Mujahidin, dan cacian lainnya yang merendahkan martabat manusia.
Berdasarkan rangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi, jumlah korban penyiksaan di berbagai tempat penahanan tersebut sekurang-kurangnya sebanyak 46 (empat puluh enam) orang.
Penganiayaan
PEMBANTAIAN MY LAI (1968) (Pelanggaran HAM
Internasional)
40 Tahun Pembantaian My Lai
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 16-Mar-2008, 01:01:31 WIB
KabarIndonesia - Pembantaian di Vietnam pada tanggal 16 Maret 1968 merupakan salah satu peristiwa tersadis dalam sejarah perang modern. Hanya seorang tentara AS saja yang diajukan ke pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan kejadian ini.
Hari Minggu, 16 Maret, merupakan peringatan 40 tahun pembantaian My Lai. Pada akhir Perang Vietnam, di sebuah desa kecil dengan nama yang sama, tentara Amerika Serikat dengan brutal membunuh sekitar 500 penduduk. Di antara korban pembunuhan ini terdapat banyak perempuan dan anak-anak. Setelah melalui penyelidikan arsip-arsip AS yang intensif, dapat diketahui dengan jelas, bahwa kasus My Lai bukanlah satu-satunya kasus yang terjadi selama Perang Vietnam.
Dini hari, tanggal 16 Maret 1968, tentara Amerika Serikat dari Brigadir ke-11 mendarat dengan helikopter di dekat sebuah desa bernama My Lai, di
Vietnam. Misi mereka adalah membasmi pasukan Vietkong yang
bersembunyi di sana. Perintah yang dikeluarkan sang pemimpin pasukan yang kala itu berusia 24 tahun, Letnan William Calley jr., adalah: cari dan hancurkan!
Serdadu AS merazia gubuk-gubuk. Tapi karena mereka tidak mendapatkan pejuang Vietkong, akhirnya mereka menggiring penduduk desa untuk
dikumpulkan. Setelah itu dimulailah pembantaian terhadap para warga lanjut usia, pria, perempuan dan anak-anak. Salah seorang penduduk yang lolos dari pembantaian itu, Fran Ha Thi, yang kini berusia 75 tahun, menuturkan, “Ketika tentara Amerika datang, suami saya sedang berada di sawah. Saya sendiri di rumah bersama anak saya. Tiba-tiba mereka menembak membabi-buta. Saya terkena tembakan. Saya bilang kepada anak saya untuk lari dan menyelamatkan diri. Mereka akan tembak mati kamu. Ia memohon untuk dibiarkan hidup, tapi tidak berhasil. Kejadian itu sangat mengerikan.”
Para pejabat militer Amerika Serikat dan juga kalangan pemerintahan Nixon berhasil menutup-nutupi peristiwa ini selama 18 bulan. Sampai akhirnya seorang wartawan bernama Seymor Hersh, pada bulan November 1969, memaparkan kisah pembantaian ini di majalah Life. Dunia internasional dikejutkan dengan insiden ini. Sejak itu dunia mengetahui bahwa masih banyak pembantaian lain di luar My Lai.
Ahli sejarah, Bern Greiner mengatakan, "Setiap satuan tempur yang
diterjunkan di Vietnam, mulai dari tingkat divisi sampai satuan kecil, dapat dikakatan terlibat dalam kejahatan perang. Bisa berupa penyiksaan,
pembunuhan tawanan perang atau pembantaian.“
Bernd Greiner yang telah meneliti arsip AS memperkirakan, bahwa penduduk sipil yang terbunuh selama Perang Vietnam berjumlah puluhan ribu dan korban di My Lai dicatat bukan sebagai penduduk sipil, tapi pejuang Vietkong.
Hampir tidak ada serdadu yang membangkang perintah untuk
menghancurkan My Lai, kecuali, salah satunya adalah Hugh Thomson. Pilot helikopter ini berhasil menyelamatkan beberapa perempuan dan anak-anak dengan cara mengancam pasukan AS, mengatakan akan menembaki mereka dari helikopternya yang dilengkapi persenjataan.
Hanya seorang pelaku pembantaian saja, yaitu Letnan Calley, yang dijatuhi hukuman. Calley dijatuhi hukuman seumur hidup, tapi hanya mendekam di penjara selama tiga hari. Kemudian dia menjalani tahanan rumah selama tiga tahun, sebelum Presiden Nixon pada tahun 1974 memberi pengampunan.
Apa yang menyebabkan terjadinya pembantaian? Para peneliti perang menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan tindakan
pembantaian adalah taktik perang gerilya yang dilancarkan pejuang Vietkong, yang membuat frustasi tentara AS yang tidak terlatih. Hal ini memicu
kemarahan dan emosi yang tidak terkendali di pihak pasukan AS yang akhirnya mendorong mereka melakukan pembantaian.
Setelah 40 tahun peristiwa My Lai, strategi perang AS di Irak juga
Bernd Greiner menjelaskan, “Pihak militer seharusnya dapat menarik pelajaran, ketika pada tahun-tahun 70-an serta 80-an dan juga 90-an muncul tuntutan-tuntutan kepada Pemimpin Politik untuk tidak mengirimnya ke dalam situasi yang sama! Kami tidak siap menjalani peperangan asimetris dan kami juga tidak terdidik untuk itu. Masalahnya adalah, bahwa Pemimpin Politik di Amerika Serikat tidak menghiraukan keberatan ini dan tetap menjalankan perang di Irak, yang situasinya hampir sama. Walaupun dimensinya tidak sama dengan di Vietnam, tapi akibat yang ditimbulkan di sana setara.”
Pembantaian M Laiỹ adalah pembantaian yang dilakukan oleh tentara
AS terhadap ratusan warga sipil Vietnam yang tidak bersenjata, dan kebanyakan perempuan dan anak-anak, pada 16 Maret 1968, pada saat Perang Vietnam. Pembantaian ini menjadi lambang kejahatan perang Amerika di Vietnam, dan segera membangkitkan kemarahan di seluruh dunia serta mengurangi dukungan masyarakat di dalam negeri terhadap perang itu sendiri. Peristiwa ini kadangkala juga dikenal dengan nama Pembantaian Son My atau Pembantaian Song My.
Latar belakang
Pada saat Perang Vietnam, Provinsi Quang Ngai di Vietnam Selatan
Pembebasan Rakyat dan kader-kader lainnya dari Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam (FNPV), yang juga disebut "Viet Cong" atau "VC" oleh pasukan-pasukan AS dan simpatisan mereka. Tempat ini secara tidak resmi disebut Pinkville (karena warna merah jambu yang dicetak pada peta) oleh militer AS, dan provinsi ini sering dibom dan ditembaki. Pada 1968 hampir semua rumah di seluruh provinsi ini telah hancur atau rusak.
Militer menganggap penting bahwa para tenaga lapangan FNPV dimusnahkan. Karena itu, mereka tidak mengukur sukses dari berapa banyak wilayah atau lokasi strategis yang direbut (misalnya), melainkan berdasarkan "jumlah mayat" mereka - jumlah keseluruhan mereka yang dicurigai sebagai tenaga lapangan FNPV yang terbunuh. Tentara dianjurkan oleh atasan mereka untuk melebih-lebihkan perhitungan mereka untuk memberikan kesan keberhasilan militer. Karena tekanan itu, dan karena kenyataannya seringkali para tenaga lapangan FNPV sulit sekali dibedakan dari rakyat biasa, seringkali ada kesenjangan yang sangat luas antara jumlah mayat yang dilaporkan dalam suatu misi tertentu dengan jumlah senjata musuh yang direbut. Menurut Doug Linder, profesor hukum di Universitas Missouri-Kansas City, para G.I. menyebarkan lelucon bahwa "apapun yang mati dan bukan putih adalah VC [Viet Cong]" dengan tujuan menghitung mayat semata. Tidak diragukan bahwa banyak warga sipil yang terbunuh di provinsi itu, sehingga semakin membakar sentimen anti-Amerika yang sudah ada di wilayah tersebut.