MAKALAH HERBARIUM BERBAGAI JENIS TANAMAN

112  572  Download (18)

Teks penuh

(1)
(2)

MAKALAH HERBARIUM

Untuk Pemenuhan Syarat Mengikuti Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Botani Farmasi FA2121

Disusun oleh :

Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung Angkatan 2015

Penanggung Jawab

Helbert Hoesada 10715023 Editor :

Dita Pratama 10715010

M. Tsani Jamil 10715063

Faqihatul Mahmudah 10715091 Siti Riqqah Hasan 10715097 Nd. St. Tamara Chrysanthy 11615015

Indah Sugesti 11615021

SEKOLAH FARMASI

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena karunia dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang berjudul “Makalah Herbarium” ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah botani farmasi dan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian tengah semester pada mata kuliah tersebut. Atas dukungan moral dan meteriil yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada,

1. Ibu Siti Kusmardiyani, M.Sc., selaku dosen mata kuliah botani farmasi kelas 02 yang senantiasa membimbing kami

2. Bapak Prof. Dr. Sukrasno, selaku dosen mata kuliah botani farmasi kelas 03 yang senantiasa membimbing kami

3. Sdra Defri Rizaldy, M.Si. Apt., selaku pemimpin praktikum mata kuliah botani farmasi yang selalu mendorong untuk segera menyelesaikan makalah ini

4. Sdri Evelyn Nadia Halim, M.Si.Apt., selaku asisten mata kuliah botani farmasi yang selalu mendorong untuk segera menyelesaikan makalah ini

5. Serta teman-teman Sekolah Farmasi 2015, orang tua kami, dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini baik dari segi tata bahasa maupun isi yang berupa herbarium itu sendiri. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk memperbaiki makalah ini sehingga bermanfaat untuk pembelajaran yang lebih baik di masa mendatang.

Demikian yang dapat kami sampaikan, besar harapan penyusun dengan hadirnya makalah herbarium ini dapat memberikan sumbangsih dalam memajukan ilmu pengetahuan.

Bandung, November 2016

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN... 1

I. Latar Belakang... 1

(5)

Anredera cordifolia...69

Cananga odorata... 74

Piper betle...78

Strobilanthes crispa... 83

Abrus precatorius...87

Excoecaria cochinchinensis...91

Graptophyllum pictum... 95

Cinnamomum burmannii... 99

BAB III PENUTUP...103

Kesimpulan...103

(6)

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Bumi saat ini, diketahui telah memiliki lebih dari 350.000 jenis tumbuhan. Keberagaman jenis tumbuhan tersebut dikelompokkan dalam sebuah sitem yang disebut sistem klasifikasi tumbuhan. Tumbuhan diklasifikasikan berdasarkan kesamaan ciri-ciri yang dimiliki. Salah satunya adalah ciri-ciri morfologi. Dalam prosesnya, ciri-ciri morfologi tumbuhan awalnya didapat dari sebuah pengamatan secara langsung pada tumbuhan tersebut. Dan dalam keberjalanannya, para ahli botani pada zaman dahulu membuat suatu spesimen tanaman untuk dijadikan koleksi dan sebagai bukti autentik dari sebuah identifikasi ciri-ciri morfologi suatu tumbuhan yang telah mereka kemukakan. Spesimen tumbuhan tersebut kemudian dikenal dengan nama herbarium.

Herbarium merupakan istilah dari pengawetan spesimen tumbuhan dengan cara dikeringkan dandipress(ditekan) untuk kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan. Selain itu, herbarium merupakan salah satu acuan identifikasi untuk mengetahui ciri-ciri morfologi tumbuhan. Dengan adanya herbarium, kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri suatu tumbuhan tanpa harus melihat tumbuhannya secara langsung pada habitatnya. Tidak semua tumbuhan dapat dijumpai dengan mudah disekitar lingkungan. Banyak tumbuhan yang hidup pada daerah-daerah tertentu yang sulit dijangkau. Oleh karenanya, dengan adanya herbarium akan sangat memudahkan studi literatur tentang ciri-ciri morfologi suatu tumbuhan. Selain itu, herbarium juga berfungsi sebagai koleksi. Para ahli botani biasanya menjadikan herbarium sebagai koleksi pribadi dan menyimpannya dengan baik pada kondisi penyimpanan yang seharusnya.

II. Tujuan

 Menentukan cara pembuatan herbarium

(7)

BAB II

Spesies :Cymbopogon nardusL. Rendle Nama sinonim :Andropogon nardus

Nama resmi : serai wangi

Nama daerah : sere magat (Aceh), sereh (Sunda), sere (Jawa), hisa-hisa (Ambon), dan sare (Makasar)

Nama asing : citronella grass (Inggris), su sa (Vietnam), ta khrai hom (Thailand), ya xiang mao (Cina), dan kou suigaya (Jepang)

2. Morfologi

Cymbopogon nardus merupakan rumput-rumputan tegak, tumbuhan tahunan, dan memiliki perakaran yang dalam.

Habitus : Terna perennial.

Batang : Tegak atau condong, berpelepah, membentuk rumpun, pendek, masif, bulat (silindris), penampang lintang berwarna merah.

Daun : Tunggal, tidak bertangkai, pertulangan daun sejajar, tepi daun kasar dan tajam, ujung daun runcing (akutus), permukaan daun bawah berbulu, jika diremas mengeluarkan bau aromatik.

Bunga : Susunan malai atau bulir majemuk, bertangkai atau duduk, berwarna hijau atau putih kekuningan.

Buah : Tidak ada. Biji : Tidak ada.

(8)

3. Kegunaan

Komponen-komponen dari tanaman serai wangi memiliki manfaatnya masing-masing. Salah satu khasiatnya adalah sebagai obat antibakteri. Menurut suatu penilitian yang dilakukan oleh mahasiswa FMIPA dari Universitas Negeri Yogyakarta, sifat antibakteri dari serai wangi ini dapat digunakan untuk deodoran alami. Fungsi antibakteri di deodoran adalah untuk menekan pertumbuhan bakteri yang dapat membuat keringat bau. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembatan deodoran ini adalah serai wangi,aqua destillata, propilen glikol, dan alkohol 95%.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan ekstraksi pada serai wangi menggunakan metode destilasi uap. Dari hasil destilasi ini, didapatkan minyak atsiri yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan deodoran. Kemudian diambil 65 mL alkohol 95%, 30 mL ekstrak serai wangi, 5 mL propilen glikol lalu dimasukkan ke dalam botol. Semua larutan dikocok sampai homogen.

4. Daftar Pustaka

Dasuki, M. Sc., Ahmad, Drs. Undang, dan Sofi Andriani, S. Si. 2002.

Morfologi dan Sistematik Tumbuhan.Bandung: Departemen Biologi, Instititut Teknologi Bandung.

(9)

5. Herbarium

(10)
(11)

Kelompok 2

Spesies :Pluchea Indica(L.) Less. Nama sinonim :Baccharis indica,Linn. Nama umum : beluntas

Nama Daerah : beluntas, luntas (Jawa), lamutasa (Makassar), luntas (Dayak) Nama Asing : Indian camphorweed (Inggris), cuc tan (Vietnam), luan yi (Cina)

2. Morfologi

Habitus : Semak, perdu kecil, tinggi 2-3 m.

Batang : Berkayu, bulat, berdiri tegak, banyak cabang, berwarna ungu dan hijau saat muda.

Daun : Tunggal, akutus, berselang-seling, permukaan daun terdapat bulu-bulu halus, panjang daun 3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, tepi bergerigi, bertangkai pendek.

Bunga : Majemuk dengan bentuk umbela, benang sari banyak warna putih, putik seperti jarum dengan warna hitam kecoklatan.

Buah : Kecil, keras, warna coklat. Biji : Coklat keputih–putihan. Akar : Tunggang.

3. Manfaat

(12)

demam dengan cara 15 helai daun beluntas diseduh dengan segelas air panas. Setelah agak dingin, disaring. Diminum sekaligus 1x sehari. Menghilangkan bau badan dan bau mulut dengan cara beberapa helai daun beluntas muda dikukus lalu dimakan sebagai lalap. Menghilangkan pegal-linu dengan cara beberapa helai daun beluntas diseduh dengan segelas air panas. Ramuan ini untuk diminum dua kali sehari. Menghilangkan keputihan dengan cara 20 helai daun beluntas, 1 akar pohon tapak liman direbus dengan 1 gelas air sampai airnya tinggal setengah. Diminum sekaligus, satu kali sehari.

Menghilangkan nyeri punggung dan pinggul dengan cara 1 akar beluntas, 1 ibu jari kencur, 1 ibu jari temulawak, 1 ibu jari kunyit direbus dengan 1 gelas air sampai airnya tinggal setengah. Diminum 1x sehari, sekaligus. Mengobati rematik dengan cara akar beluntas direbus dengan segelas air. Saring, minum 1x sehari sekaligus. Mengobati sakit perut dan menghilangkan nyeri haid dengan cara 20 helai daun beluntas dicuci bersih lalu diremas-remas sampai hancur. Seduh dengan segelas air panas sambil diberi sedikit asam dan garam, lalu disaring. Diminum selagi masih hangat. Ramuan ini untuk diminum dua kali sehari. Mengobati gangguan pencernaan dan menambah nafsu makan pada anak dengan cara 8 helai daun beluntas dicuci bersih, lalu taruh di nasi yang akan ditim.

Kegunaan yang lain adalah untuk mengobati kencing darah (bijinya), gangguan pencernaan pada anak-anak dan menambah nafsu makan, menurunkan panas, peluruh keringat (daunnya), mencret darah, TBC kelenjar leher (Cervical tuberculous lymphadenitis), nyeri pada rheumatik, nyeri haid, sakit perut, nyeri pinggang (lumbago) dan pinggul, menghilangkan bau badan, pegal linu.

4. Daftar Pustaka

Dalimarta, Setiawan. 2004. Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta: Puspa Swara. Halaman 5.

(13)

5. Herbarium

(14)
(15)

Kelompok 3

Spesies :Quisqualis indica

Nama resmi : melati belanda, ceguk, widani

Nama sinonim :Combretum indicum(L.) De Filipps,Quisqualis glabra Nama daerah : bidani (sunda), wedani (Jawa), wudani (Melayu)

Nama asing : Chinese honeysuckle (Inggris), rangoon creeper (Inggris), Akar dani (Malaysia)

2. Morfologi

Habitus : perdu (2,5-8 m).

Batang : berkayu, coklat, memiliki rambut berwarna kuning, merambat, kadang berduri karena petiola di batang yang mengeras, tumbuh ke atas (erektus), mudah mengelupas.

Daun : berwarna hijau kekuningan, berbentuk lonjong (ovatus), ujung runcing (akutus), bagian bawah bulat (kordatus), tumbuh berhadapan (opposita), oblong, oblovatus.

Bunga : aromatik, berbentuk tabung (tubular), berwarna putih, merah, atau merah muda, aktinomorf, tumbuh di terminal, rasemosa, memiliki petal sejumlah 4-5.

Buah : berbentuk lonjong (elips atau oblong), memiliki ujung yang runcing, licin, berwarna merah saat muda, berwarna coklat dan berupa drupa bersayap 5 saat matang.

(16)

3. Kegunaan

Quisqualis indica atau melati belanda sering digunakan sebagai tanaman hias Sebagai obat cacing, Quisqualis indica direbus atau dipanggang, dan hasil rebusan atau panggangan tersebut dikonsumsi secara oral sebanyak tiga kali sehari, untuk anak-anak 4-7 biji, untuk orang dewasa 8-10 biji. Dikonsumsi 2 jam sebelum makan. Obat diabetes, dengan cara mengonsumsi 4 mL sari dari bunga atau daun Melati Belanda, diminum dua kali sehari, dapat dikonsumsi bersama sari pare pahit. Untuk mengobati masalah pencernaan, bisa dikonsumsi sari daun melati belanda atau mengunyah daunnya beberapa kali sehari.

4. Daftar Pustaka

Ahmad, Undang dkk. 2002. Morfologi dan Sistematik Tumbuhan. Bandung: Departemen Biologi Institut Teknologi Bandung. Halaman 112

(17)

5. Herbarium

(18)

 Herbarium dari Turangga

(19)

Kelompok 4

Spesies :Piper crocatum Nama sinonim :Piper ornatum Nama resmi : sirih merah

Nama daerah : suruh, sedah (Jawa), ranub (Aceh), cambai (Lampung), dan derigi (Sulawesi)

Nama asing : ikmo (Philipina), guan shang hu jiao (Cina), ornamental pepper (Inggris)

2. Morfologi

Piper crocatum diketahui tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, seperti di lingkungan Keraton Yogyakarta dan di lereng Merapi sebelah timur, serta di Papua, Jawa Barat, Aceh dan beberapa daerah lainnya.

Habitus : Sirih termasuk jenis tumbuhan memanjat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini panjangnya mampu mencapai sekitar 5-10 m. Batang : Batang pohonnya berwarna hijau tembelek atau hijau agak kecoklatan

dan permukaan kulitnya kasar serta berkerut-kerut dengan bentuk bulat, beruas dengan panjang ruas 3-8 cm, batangnya bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Pada setiap buku tumbuh satu daun. Daun : Piper crocatum saat muda umumnya mempunyai bentuk

(20)

daun hijau pada kedua permukaannya, bagian atas hijau dengan garis-garis merah jambu kemerahan, permukaan bagian bawah hijau merah tua keunguan. Tangkai daun hijau merah keunguan, panjang 2,1-6,2 cm, pangkal tangkai daun pada helaian daun agak ketengah sekitar 0,7-1 cm dari tepi daun bagian bawah.

Bunga : Bunga berbentuk bulir, berdiri sendiri diujung cabang dan berhadapan dengan daun. Daun pelindung berbentuk lingkaran, bulat telur terbalik atau lonjong, panjang kira-kira 1 mm. Bulir jantan, panjang gagang 2,5-3 cm, benang sari sangat pendek. Bulir betina, panjang gagang 2,5–6 cm. Kepala putik berjumlah 3-5.

Buah : Buah buni, bulat, dengan ujung gundul. Bulir masak berambut kelabu, rapat, tebal 1–1,5 cm.

Biji : Biji berbentuk bulat.

Akar : Tanaman sirih mempunyai sistem perakaran serabut. Akar pada tanaman sirih merupakan suatu modifikasi untuk memenuhi fungsinya dari akar yang disebut akar pelekat yaitu akar-akar yang keluar pada buku-buku batang tumbuhan memanjat dan berguna untuk melekatkan diri pada penunjangnya.

3. Kegunaan

Sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak dalam kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti diabetes millitus, hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi, dan memperhalus kulit. Karena sirih merah mengandung flavonoid, polivenol, alkoloid, tanin, minyak astsiri, saponin, hidroksikafikol, kavikol, kavibetol, allylprokatekol, karvokrol, eugenol, P-cymene, cineole, coryofelen, kadimen, ekstragol, terpenana, dan fenil propoda. Senyawa flavonoid dan polivenol berfungsi sebagai antioksidan, antideabetik, antikanker, antiseptik dan antiflamasi. senyawa alkoloid pada sirih merah juga dapat dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

(21)

sebelum makan, sekali minum setengah gelas. Sedangkan untuk mengobati keputian, daun sirih merah dapat dimanfaatkan dengan cara: sebanyak 8 daun sirih merah tua dicuci bersih, kemudian diiris-iris selebar 1 cm, lalu direbus dengan air 800 mL sampai mendidih. Setelah dingin, dipakai untuk membersihkan organ kewanitaan dua kali sehari.

4. Daftar Pustaka

Ahmad, Undang. 2002. Morfologi dan Sistematik Tumbuhan. Bandung: Departemen Biologi ITB.

Arief, Hariana. 2006. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 73-74.

(22)

5. Herbarium

(23)
(24)

Kelompok 5 Sub class : Asteridae Ordo : Rubiales Famili : Rubiaceae Genus : Gardenia

Species :Gardenia jasminoides Nama sinonim :Gardenia augusta(L.) Merr. Nama resmi : kaca piring

Nama daerah : jempiring (Bali), ceplokpiring (Jawa), cepiring (Sumatra) Nama asing : Tidak ada

2. Morfologi

Habitus : Setengah semak, setengah perdu.

Batang : Tinggi 1-2 m, kulit batang berwarna keabu-abuan, berkayu, berbentuk bulat, simpodial.

Daun : Bertekstur tebal, berwarna hijau gelap hingga terang mengilap, berbentuk elips bulat telur, memiliki stipula, tunggal, opposita, menyirip, tepi integer, ujung akuminatus, duduk dalam lingkaran, pinnatus.

Bunga : Berwarna putih atau putih krem, beraroma harum, tunggal, terminal, petal 4-5, kaliks 4-5, biseksual, aktinomorf, ovarium inferior, simosa. Buah : Berbentuk kapsul bulat telur, berwarna kuning atau jingga, panjang

(25)

3. Kegunaan

Diabetes mellitus: bahan yang digunakan adalah 12 lembar daun kaca piring. Cara membuatnya direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. Cara menggunakannya diminum sekaligus dan diulangi secara rutin setiap hari.

Sariawan: bahan yang digunakan adalah 7 lembar daun kaca piring, 2 sendok makan madu dan 1 potong gula aren. Cara membuatnya daun kaca piring diremas-remas dan ditambah dengan 1 cangkir air dan disaring. Kemudian dicampur dengan madu dan gula aren tersebut dan diaduk sampai merata. Cara menggunakannya diminum dan diulangi setiap dua hari sekali.

Demam: bahan yang digunakan adalah 7 lembar daun kaca piring dan 1 potong gula batu. Cara membuatnya daun kaca piring diremas-remas dengan 1 gelas air dan disaring. Kemudian dicampur dengan gula batu dan diaduk sampai merata. Cara menggunakannya diminum.

Sukar buang air besar: bahan yang digunakan adalah 3 biji buah kaca piring. Cara membuatnya direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. Cara menggunakannya diminum.

4. Daftar Pustaka

Dalimartha, Setiawan. 2003.Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid III. Jakarta: IKAPI. Gilman, Edward F. 1999. Gardenia Jasminoides. Florida: Florida Cooperative

Extension Service, University of Florida. Halaman 222.

(26)

5. Herbarium

(27)
(28)

Kelompok 6

Sub Class : Asteridae

Ordo : Scrophulariales

Famili : Acanthaceae

Genus : Barleria

Species :Barleria prionitisL. Nama Sinonim :Prionitis hystrixMiq. Nama Resmi : landep

Nama Daerah : kembang landep (Sunda), bunga landak (Sumatera), landep (Jawa)

Nama Asing : porcupine flower (Inggris), vajradanti (Hindi), pilikantashelio (Gujarat)

2. Morfologi

Habitus : Semak, tinggi 1,5 m.

Batang : Berkayu, segiempat, monopodial, hijau.

Daun : Daun tunggal, oposita, peninervis, elips sampai lanset, akuminatus, panjang 2-18 cm, lebar 20-65 mm, hijau.

Bunga : Bunga tunggal, zigomorf, simosa, aksial, panjang 1-2 cm, sepal ±1,5 cm, stamen dua, stilus bentuk jarum, petal bertajuk lima, bentuk elips memanjang, ovarium superior, kuning.

Buah : Buah kotak, bulat telur, pipih, ujung agak lancip, keras, hijau. Biji : Bulat telur, pipih, mengkilat seperti beludru, cokelat.

Akar : Tunggang, bulat, cokelat kotor.

3. Kegunaan

(29)

gelas air dalam satu wadah. Diminum dua kali setengah gelas dalam sehari. Selain itu, akar landep dapat menyembuhkan luka. Akar landep mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Pembuatan ramuan luka sebanyak 15 gram akar landep dicuci bersih. Lalu tambah ¼ sendok the kapursirih. Tumbuk sampai lumat, kemudian tempelkan pada luka.

4. Daftar Pustaka

Amin, Asmi. 2012. “Skrining Farmakognosi Tanaman Etnofarmasi Asal Kabupaten Bulukumba yang Berpotensi sebagai Antikanker”.

(30)

5. Herbarium

(31)
(32)

Kelompok 7 Sub Class : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Genus : Murraya

Species :Murraya paniculataL. Nama Resmi : kemuning

Nama Sinonim:Chalcas exotica(L.) Millsp,Chalcas paniculataL.,Murraya exotica Nama Daerah : kamuning (Sunda), kuning (Bali), kamoni (Ambon)

Nama Asing : orange jessamine (Inggris), jiu li xiang (Cina), yueh chu (Cina)

2. Morfologi

Tanaman ini tersebar luas di India, Asia bagian selatan dan Cina bagian selatan. Habitus : Perdu.

Batang : Tegak dan tajuk luas, beralur dan tidak berduri. Kayu kemuning berwarna kuning muda. Seiring bertambahnya usia, warna kayu yang tadinya berwarna kuning muda akan berubah menjadi cokelat. Serat kayunya halus dan keras tapi mudah dibelah. Diameter batang kemuning dapat mencapai 60 cm.

Daun : Warna daun hijau mengkilap. Bentuk oval, daun tersebar, ujung lancip. Panjang 5 cm termasuk majemuk, dan helaian anak daun bertangkai, bentuk bulat telur sungsang atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata.

Bunga : Berwarna putih, beraroma harum, bunga majemuk yang keluar dari ketiak daun atau ujung ranting. Berbentuk terompet, jumlahnya sekitar 1-8, biseksual, aktinomorf, jumlah sepal 5, jumlah petal 5, stamen 10 (dalam 2 lingkaran masing-masing 5) dan ovarium superior.

(33)

Biji : Kecil, lanset, berwarna Putih, dan berjumlah 2. Akar : Tunggang dan berwarna kuning keputih-putihan.

3. Kegunaan

Salah satu bagian tumbuhan yang sering digunakan adalah daunnya. Dalam masyarakat, daun kemuning digunakan untuk mengatasi nyeri, menurunkan demam, obesitas, penyakit infeksi seperti bisul, eksema, ulkus, infeksi saluran kencing, infeksi saluran pernafasan, diare dan disentri.

Dalam mengobati infeksi kandung kemih, daun kemuning memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Bahan untuk membuatnya adalah 30 gram daun kemuning yang masih segar dan 150 ml air matang. Cara membuatnya adalah daun kemuning dihaluskan dengan blender, ditambahkan air matang. Ramuan disaring dan diambil airnya. Air ramuan diminum sekaligus satu hari.

4. Daftar Pustaka

Dwi, Kartika dan Gunardi. Profil Kromatogram Dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kemuning (Murraya Paniculata (L) Jack.) terhadap Bakteri Escherichia Coli Secara In Vitro. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Jabbar, Abdul, dkk. 1996. Cinnamates and Coumarins From the Leaves of Murraya Paniculata. Pakistan: H. E. J. Research Institute of Chemistry, University of Karachi.

(34)

5. Herbarium

(35)
(36)

Praktikum Shift Selasa

Spesies :Lavandula angustifoliaMill.

Nama sinonim : Lavandula officinalis, Lavandula spica L., Lavandula spica, Lavandula vulgarisLam.

Nama resmi : lavender

Nama daerah : lavender (Indonesia)

Nama asing : common lavender, english lavender, true lavender

2. Morfologi

Habitus : Perdu.

Batang : Berkayu, berbentuk bulat, monopodial.

Daun : Dekusatus, tunggal, pertulangan rektinervis, tepi daun serratus. Bunga : Zigomorf, biseksual, simosa.

Buah : Nutlet (kacang kecil), tekstur lembut, bentuk ovoid atau oblong. Biji : Dikotil, berwarna hitam atau coklat tua, bentuk bulir.

Akar ; Tunggang, berserabut, berwarna putih kotor hingga kecokelatan.

3. Kegunaan

(37)

obat penenang lain dan / atau herbal karminatif. Infus dibuat dengan menambahkan 5 sampai 10 mL obat per cangkir air panas (150 mL), sedangkan bahan aditif dibuat dengan 100 g obat disiram air panas atau direbus dengan 2 liter air dan ditambahkan saat mandi

Berikut merupakan berbagai cara pemakaiannya dalam berbagai penyakit/ masalah kesehatan: 1) Insomnia, dengan menambahkan 5-8 tetes untuk 1/4 cangkir garam (Bath muda Starflake / garam mandi yang sangat mengkristal yang besar untuk menyerap minyak esensial), kemudian tambahkan ke bak air, berendam selama 20 atau oleskan di bagian belakang leher, pelipis, dan bagian atas telinga. Tambahkan 5-10 tetes untuk satu ons air dalam botol semprot, kocok dengan baik dan semprot bantal, seprei, atau hanya menyemprotkan sekitar kamar tidur. Ini akan menenangkan emosi dan memungkinkan untuk bersantai dan tidur. 2) Luka bakar, jika area yang terbakar adalah besar, tambahkan 5-10 tetes minyak lavender untuk satu ons air murni dalam botol semprot, kocok dengan baik (dan sering) dan semprot pada areal yang terbakar. 3) Sakit kepala atau depresi, tambahkan 2 – 4 tetes minyak lavender kedalam 2 atau 3 gelas air mendidih. Hiruplah uapnya. Jika memiliki masalah asma, sebaiknya atas persetujuan dokter.

4. Daftar Pustaka

Gruenwald, Joerg et.al. 2000. “PDR for Herbal Medicine”. Montvale: Medical Economics Company. Halaman 277-278.

(38)

5. Herbarium

(39)
(40)

Kelompok 2

Spesies :Catharanthus roseus(L.) G. Don

Nama sinonim :Ammocallis rosea, Lochnera rosea, Vinca rosea Nama resmi : tapak dara

Nama daerah : kembang tembaga beureum (Sunda), kembang sari cina (Jawa), tapak lima (Bali), usia (Maluku), sindapor (Sulawesi)

Nama asing : perwinkle (Inggris), chang chun hua (Cina), keminting cina, rumput jalang (Malaysia).

2. Morfologi

Habitus : Herba

Batang : Berbentuk teres (bulat), tumbuh erectus (tegak lurus), pola cabang simpodial (tidak mempunyai batang utama).

Daun : Folius simplex (tunggal), tulang daun penninervis (menyirip), bentuk daun oval, ujung daun mukronatus (ujung runcing), foliatus berbentuk folia decussata (selang-seling), pangkal daun obtusus (tumpul), tepi daun integer (rata), pangkal daun petiolatus dengan tangkai yang sangat pendek

Bunga : Majemuk, warnanya ada yang putih, merah muda, atau putih dengan bercak merah di tengahnya, bentuk simetri bunga aktinomorf (simetri radial), kelamin bungan biseksual (kelamin ganda), kuncup bunga berbentuk contortus (terputar ke satu arah), mempunyai 5 sepal (kelopak), 5 petal (mahkota), 5 stamen (benang sari) dengan anthera basifik, putik (pistilum) terdiri atas kepala putik (stigma), tangkai kepala putik (stilus), dan ovarium yang terletak di ketiak daun (axilaris). Buah : Folliculus (bumbung) berbentuk silinder (gilig), berbulu.

(41)

Akar ; Tunggang.

3. Kegunaan

Kandungan kimia dari tanaman ini mengandung alkaloid yang berefek antikanker dan alkaloid yang berefek menurunkan kadar gula dalam darah. Alkaloid antikanker seperti vinblastine (VLB), vincristine (VCR), leurosine (VLR), vincadioline, leurosidine, catharanthine, lochnerine. Alkaloid yang berefek hipoglikemia (menurunkan kadar gula darah) antara lain leurosine, catharanthine, lochnerine, tetrahydroalstonine, indoline, dan vindolinine.

Efek farmakologis dari tanaman tapak dara bersifat sedikit pahit, sejuk, dan toksin. Berkhasiat sebagai antikanker (antineoplaastik), penenang (hipotensif), sitostatika, menyejukan darah, menghilangkan racun tubuh, menghentikan pendarahan, dan menurunkan gula darah. Bagian tanaman yang digunakan adalah bunga, daun dan batang yang dikeringkan yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan diabetes mellitus; hipertensi; leukemia; asma dan bronkhitis; demam; radang perut dan disentri; kurang darah; tangan gemetar; gondong, bengkak, bisul dan borok; luka bakar dan luka baru ; serta pendarahan akibat penurunan jumlah trombosit.

Daun dari tapak dara dapat digunakan untuk mengobati diabetes melitus, tangan gemetar, gondongan, bengkak, bisul, borok,dan demam. Cara pembuatan obat resebut dengan merebus daun tersebut dengan 3 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas. Pada penggunaan untuk luka bakar daun direndam dalam air panas dan ditumbuk sampai halus sehingga dapat ditempelkan pada luka bakar tersebut dan pada luka baru daun dikunyah sampai lembut lalu ditempel pada luka baru tersebut. Selain itu, daun tapak dara kering yang direbus dapat digunakan untuk mengobabati hipertensi, redang perut, disentri dan leukimia. Bonggol akar tapak dara kering dapat digunakan untuk mengobati asma dan bronkhitis dengan cara direbus dengan 5 gelas air. Penyakit anemia juga dapat diobati dengan putik bunga tapak dara putih yang direndam dengan 1 gelas air kemudian ditaruh diluar rumah semalaman.

4. Daftar Pustaka

(42)

5. Herbarium

(43)
(44)

Kelompok 3

Spesies :Andrographis paniculata(Burm. f.) Nees Nama sinonim :Justicia paniculataBurm. f.

Nama resmi : sambiloto

Nama daerah : ki oray (Jawa Barat), sambiloto (Jawa Tengah dan Jawa Timur), bidara (Sumatera)

Nama asing : hempedu bumi (Melayu), chuan xin lian (Cina), green chireta (Inggris)

2. Morfologi Habitus : Perdu.

Batang : Berwarna hijau tua, panjang 30-100 cm, diameter 2-6 mm, berbentuk persegi empat (quadrangular), berkerut di sekitar sudut batang muda, sedikit membesar di bagian tangkai.

Daun : Tunggal, berbentuk seperti pedang (lanset), panjang 2-12 cm, lebar 1-3 cm, tepi daun rata (integer), permukaan halus, berwarna hijau, persebaran daun dekustatus. Tekstur daun herbaseus. Pertulangan daun menyirip. Permukaan daun bagian bawah berwarna hijau ucat dan tangkai daunnya (petiolus) pendek. Daun bagian atasnya selalu bractiform dengan petiolus yang pendek.

(45)

Buah : Kapsul berbentuk corong, panjang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm pangkal, dan ujung berbentuk tajam.

Biji : Berbentuk kapsul, kedua sisinya berbentuk tajam, banyak dan tersebar, berukuran kecil 1.9 cm × 0.3 cm, berwarna kuning kecoklatan. Tanpa endosperm dan subquadrate.

Akar : Akar tunggang, berwarna putih kecokelatan.

3. Kegunaan

Andrographis paniculata sering digunakan sebagai obat herbal tradisional di Bangladesh, Cina, Hong Kong, Pakistan, Filipina, Malaysaia, Indonesia, dan Tailand. Biasanya tanaman ini digunakan untuk mengobati beberapa penyakit seperti bekas gigitan ular dan serangga, diabetes, disentri, demam, dan malaria. Saat ini banyak produk-produk komersial di beberapa negara yang juga menggunakan ekstrak dari tanaman ini. Daun dan akar dari tanaman ini yang dimanfaatkan untuk berbagai pengobatan untuk diambil ekstraknya. Tanaman ini juga diketahui memiliki efek farmakologi sebagai antikanker, antidiare, antihepatitis, anti-HIV, antihyperglycemic, anti-inflammatory, antimikroba, antimalaria, antioksidan, kardiovaskular, sitotoksik, hepatoprotektif,immune stimulatory, dansexual dysfunctions.

Daging dari batang dan seluruh bagian tanamannya digunakan untuk mengobati penyakit Newcastle dan sakit pernapasan pada hewan unggas. Di India, daun tanamanya biasa digunakan untuk mengobati keracunan datura, cacing hati, cacing mata dan perut, konstipasi, glositis, tuberkulosis, pneumonia, tetanus dan skabies. (Wynn, Susan; Halaman 471)

4. Daftar Pustaka

Hossain, Md. Sanower, et al. 2014. “Andrographis Paniculata (Burm. f.) Wall. ex Nees: A Review of Ethnobotany, Phytochemistry, and Pharmacology”. The

Scientific World Journal.

https://www.hindawi.com/journals/tswj/2014/274905/ diakses pada tanggal 12 Oktober 2016.

Jarukamjorn, Kanokwan, Nabuo Nemoto. 2008. “Pharmacological Aspects of Andrographis Paniculata on Health and Its Major Diterpenoid Constituent Andrographolide”.Journal of Health Science. Halaman 370-381.

(46)

Asian Journal of Science and Technology. http://journalajst.com/sites/default/files/1038%20Download.pdf diakses pada tanggal 12 Oktober 2016, pukul 21.22 WIB.

(47)

5. Herbarium

(48)
(49)

Kelompok 4

Spesies :Clerodendrum thomsoniae

Nama sinonim :Clerodendrum thomsoniaevar. balfounii B.D. Jacks Nama resmi :Clerodendrum thosoniaeBalf.f

Nama daerah : nyonya nginang, nona makan sirih, nyai nginang

Nama asing : bleeding glory bower, bag flower, bleeding heart vine, glory tree, southern bleeding heart, tropical bleeding heart

2. Morfologi

Habitus : Tahunan, perdu, merambat dan memanjat. Batang : Penampang quadrangular, puberulent.

Daun : Tidak ada stipula, opposite, ujung akuminatus, pangkal obtuse, tepi entire, permukaan atas dan bawah puberulent, bagian atas berwarna hijau tua, bagian bawah berwarna hijau pekat, banyak bintil, urat daun terlihat jelas, bentuk lanset.

Bunga : Dikasial, kaliks urceolate putih puberulent, sepal lanset, pangkal connale (bertautan), ujung akuminatus, korola merah, majemuk, tulang daun menyirip.

Buah : Drupa, dilindungi kaliks, bulat, hitam mengkilat, bilobus. Biji : Bentuk oblong berwarna putih.

Akar : Tunggang berwarna putih kotor.

3. Kegunaan

(50)

menghilangkan rasa sakit dan peradangan yang disebabkan oleh duri atau benda logam yang terjadi antara ujung jari dan kuku.

4. Daftar Pustaka

Ratnasari, Juwita. 2007. “Galeri Tanaman Hias Bunga”. Jakarta: Penebar Swadaya. Jeeva, Solomon, et al. 2012. “Intra-specipic variation of bioactive principles in select

(51)

5. Herbarium

(52)
(53)

Kelompok 5

Spesies :Sonchus arvensis Nama sinonim :Hieracium arvense Nama resmi : tempuyung

Nama daerah : galing, lampenas, rayana

Nama asing : sowthistle, swine thistle, niu she tou

2. Morfologi

Tempuyung merupakan tanaman obat liar dari famili Asteraceae yang umumnya tumbuh di tempat terbuka atau sedikit terlindung, pematang, tempat bertebing atau pinggir saluran air.

Habitus : Herba menahun dengan tinggi 0,65-2 m.

Batang : Bersegi, berlubang, bergetah putih, percabangan monopodial, berwarna hijau keputih-putihan.

Daun : Tunggal, di bagian bawah membentuk roset akar, berbentuk lonjong dan lanset, tepi daun dentatus, ujung daun akutus, pangkal daun aurikulatus, panjang 5-50 cm dengan lebar 5-10 cm.

Bunga : Majemuk, berbentuk malai, kelopak bunga berbentuk lonceng berbulu dengan panjang tangkai ±8 cm, berwarna hijau keputih-putihan, panjang mahkota bunga 2-2,5 cm berbentuk jarum dan berwarna putih atau kuning.

Buah : Berbentuk kotak, berusuk 5 dan berambut, berwarna hitam, panjang 4-4,5 mm.

(54)

3. Kegunaan

Tempuyung digunakan untuk mengobati batu empedu dan batu saluran kencing (diuretik / prostat). Kandungan kalium dalam daun tempuyung cukup tinggi sehingga dapat membuat batu ginjal yang berupa kalsium karbonat tercerai. Kalium akan menyingkirkan kalsium untuk bergabung dengan senyawa oksalat, karbonat, atau urat yang merupakan pembentuk batu ginjal hingga endapan batu ginjal larut dan keluar bersama urin. Salah satu cara mengonsumsinya adalah dengan membuat serbuk dari daun tempuyung kemudian ambil sekitar 10-20 g untuk direbus menggunakan panci infus dalam air dengan suhu 90oC selama 15 menit hingga mengeluarkan banyak

uap. Kemudian saring dalam keadaan panas dan minum sehari dua kali tiap setengah ramuan.

4. Daftar Pustaka

Napitupulu, Rumonda, dkk. 2008.Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup. Jakarta: BPOM RI. Halaman 86.

(55)

5. Herbarium

(56)
(57)

Kelompok 6

Spesies :Acalypha hispidaBurm.F Nama sinonim :Acalypha densifloraBlume. Nama resmi :Acalypha hispidaBurm.f.

Nama daerah : tali anjing (Sunda), ikut lutung (Bali), lofoti (Maluku)

Nama asing : gou wei hong (Cina), chenile plant, red–hot cattail (Inggris), ekor kucing (Melayu)

2. Morfologi

Ekor kucing umumnya merupakan tanaman asli hindia barat. Umumnya, ditanam sebagai tanaman hias di halaman.

Habitus : Perdu, tumbuh tegak, tinggi 1-3 m.

Batang : Bulat, tipe percabangan simpodial, permukaan kasar, berwarna cokelat kehijauan.

Daun : Tunggal, bertangkai panjang, letak berseling, helaian daun berbentuk bulat telur atau lonjong, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip, panjang 12-20 cm, lebar 6-16 cm, berwarna hijau muda.

Bunga : Berkelamin tunggal dalam satu pohon, bunga betina berkumpul dalam satu karangan berbentuk bulir yang keluar dari ketiak daun, bentuknya bulat panjang menjuntai kebawah, berwarna merah, berdiameter 1-1,5 cm, panjang 20-50 cm.

Buah : Bulat, kecil, berambut, berwarna hijau.

(58)

3. Kegunaan

Ekor kucing atau acalypha hispida memiliki rasa manis dan memiliki khasiat pada bagian bunganya daun dan akarnya. Kandungan kimia dari ekor kucing ini daunnya mengandung acalyphin, flavonoida, saponin, dan tanin. Bunga mengandung saponin dan tanin. Bagian bunga digunakan untuk pengobatan sebagai penawar muntah darah, radang usus, luka luka kecil, mimisan, dan cacingan. Pemakaiannya dengan cara mengambil bunganya dan kunyah mentah bersama daun kari dan daun pinang muda. Bagian akar digunakan untuk pengobatan penawar batuk berdarah. Pemakainnya dengan cara mengambil akarnya lalu rebus, setelah itu minum air rebusan tersebut. Bagian daun digunakan untuk pengobatan sakit kulit vitiligo, sakit kusta, batuk darah, luka berdarah, dan sariawan. Untuk cara pemakain pada sakit kulit (vitiligo) dengan cara cuci segenggam daun segar, dan kencur seukuran ½ ibu jari sampai bersih lalu tumbuk sampai halus. Balurkan pada bagian tubuh yang terkena sakit kulit (vitiligo) lalu balutkan. Untuk menutup luka, cuci segenggam daun segar sampai bersih, lalu tumbuk sampai halus. Tempelkan pada luka, lalu balut dengan kain perban.

4. Daftar Pustaka

Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid II. Jakarta: Trubus Agriwidya. Halaman 62.

Mahendra, B & Fauzi Rahmat Kusuma, 2005. Kumis Kucing. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

(59)

5. Herbarium

(60)
(61)

Kelompok 7

Spesies :Orthosiphon aristatus(Blume) Miq. Nama sinonim :Ortosiphon stamineusBenth. Nama resmi : kumis kucing

Nama daerah : remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koneng (Madura), giri-giri marah (Sumatera)

Nama asing : java tea (USA), misai kucing (Melayu), yaa nuat maeo (Thailand), kabling parang (Filipina), mao xu cao (Tiongkok), cat whiskers (England)

2. Morfologi

Tumbuhan ini banyak ditemukan tumbuh liar, baik di dataran rendah maupun tinggi dan tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang sulit.

Habitus : Herba atau terna menahun, tumbuh tegak, tinggi 1-2 m.

Batang : Berkayu, bersudut segi empat (quandrangularis), permukaan batang licin (laevis), percabangan simpodial.

Daun : Daun tunggal, filotaksis daun dekusatus, tulang daun menyirip, berbentuk bulat telur (ovatus), ujung daun akuminatus, tangkai petiolatus, tepi daun seratus, tidak mempunyai stipula, permukaan daun laevis, tekstur daun papiraseus.

(62)

Buah : Kotak berbentuk bulat telur, berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi cokelat gelap.

Biji : Kecil, saat muda berwarna hijau setelah tua menjadi hitam. Akar : Tunggang.

3. Kegunaan

Tanaman kumis kucing mengandung minyak atsiri 0,02-0,06%. Minyak atsiri tersebut terdiri dari 60 macam sesquiterpens dan senyawa fenolik. 0,2% flavonoid lipofil dengan kandungan utama sinensetin, eupatorin, skutellarein, tetrametil eter, salvigenin, rhamnazin, glikosida flavonol, turunan asam kafeat (terutama asam rosmarinat dan asam 2,3-dikaffeoil tartarat), metilripariokromen A 6-(7,8-dimetoksi-2,2-dimetil [2H,1-benzopiran]-il), saponin dan garam kalsium (3%), serta myoinositol.4,9,13). Berikut akan dijelaskan beberapa contoh penggunaan tanaman kumis kucing untuk pengobatan.

a. Batu ginjal

Kalium pada tanaman obat kumis kucing berkhasiat diuretik (memperlancar buang air kecil) sehingga dapat mencegah dan membantu melarutkan batu ginjal. Bahan yang digunakan yaitu daun kumis kucing 11 lembar, kencur 5 biji, jahe merah 1 jari tangan, dan beras direndam dulu selama 3 jam ¼ gelas. Sedangkan, cara pembuatannya adalah semua bahan dicuci sampai bersih, lalu direbus bersamaan dengan 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Angkat dan saring. Ramuan ini diminum 3 kali sehari masing-masing ½ gelas sesudah makan.

b. Hipertensi

(63)

4. Daftar Pustaka

Anonim. 1980.Materia Medika Indonesia, jilid IV. Departemen Kesehatan RI.

Arisandi, Yohana & Yovita Andriani. 2008. Khasiat Berbagai Tanaman Obat untuk Pengobatan.Jakarta: Eska Media.

Dwiyanto. 2009.Ramuan Tradisional.Yogyakarta: Quills Publisher.

Hidayat, Syamsul dan Rodame M. Napitupulu. 2015. Kitab Tanaman Obat. Jakarta: AgriFlo.

J. Kloppenburgh–Versteegh. 2006. Tanaman Berkhasiat Indonesia volume I, Alih Bahasa dan Saduran: drh. J. Soegiri, Prof.Dr.drh.Nawangsari. IPB Press.

(64)

5. Herbarium

(65)
(66)

Kelompok 8 Genus : Plantago L. Spesies :Plantago majorL.

Nama sinonim : Plantago borysthenica Wissjul. , Plantago dregeana Decne., Plantago gigasH.Lev.

Nama resmi :Plantago major

Nama daerah : daun sendok, ki urat, sangka buah

Nama asing : common plantain, broad-leaved plantain, lanting

2. Morfologi

Plantago majormerupakan jenis tumbuhan herba tahunan, berkembang secara cepat dengan rimpang tegak. Tanaman ini tumbuh di tanah yang disiari matahari yang cukup. Seperti di pinggir jalan berumput dan di lapangan rumput.

Habitus : Herba dengan tinggi 15-20 cm.

Batang : Pendek, bulat dan berwarna cokelat. Biasanya batang ini berada dibawah permukaan tanah sehingga yang tampak dari luar seperti tidak memiliki batang.

Daun : Daun tunggal, bertangkai panjang, tersusun dalam roset akar. Bentuk daun ovatus sampai lanset melebar, tepi rata, permukaan daun laevis, pertulangan melengkung, panjang sekitar 5-10 cm, lebar 4-9 cm, berwarna hijau. Ada stipula, ujung daun berbentuk akutus.

Bunga : Perbungaan majemuk tersusun dalam bulir yang panjangnya sekitar 30 cm , kecil-kecil berwarna putih. Bunga biseksual, sepal berbentuk elips sampai bulat, mahkota bunga 2-4 mm, ovarium superior, stamen berada di dalam mahkota bunga.

(67)

Biji : Panjang berbentuk elips berwarna kecokelatan sampai hitam. Akar : Serabut berwarna putih.

3. Kegunaan

Dalam dunia kefarmasian, Plantago major sudah diuji aktivitas farmakologinya seperti dapat menyembuhkan luka yang bengkak, antiinflamasi, antioksidan, antibiotik. Selain ituPlantago majordapat menyembuhkan bisul. Siapkan 3 tanaman daun sendok dan gelas air lalu direbus hingga memperoleh 1 gelas, diminum sehari satu kali satu gelas. Lalu daun sendok dapat digunakan untuk mengobati rematik dengan dibentuk pasta dan dioleskan pada daerah yang sakit dan diperbaharui setiap 3 jam sekali. Daun sendok dapat dijadikan obat wasir dengan 1 genggam daun sendok lalu 7 helai daun wungu segar serta 100 ml air, dibuat infus atau diseduh dan diminum 1 kali sehari sebanyak 100 ml dalam kurun waktu 14 hari.

4. Daftar Pustaka

Prota. 2008.Plant Resources of Tropical Africa 11 Medical Plant 1. Wageningen: Backhuys.

(68)
(69)
(70)

Praktikum Shift Jumat

Spesies :Piper sarmentosumRoxb.

Nama sinonim :Macropiper sarmentosa, Piper brevicaule Nama resmi : sirih tanah

Nama daerah : karuk, cabean, kado-kado

Nama asing : wild pepper, wild betel, chaa pluu,chabai, kadok batu

2. Morfologi

Habitus : Herba

Batang : Bulat, berkayu, beruas, halus, hijau muda hingga tua.

Daun : Tunggal, letak daun tersebar (alternate), tepi daun rata (integer), bentuk daun kordatus, ujung daun meruncing (akuminatus), permukaan daun mengkilap (nitidus), tulang daun menjari (peninervis).

Bunga : Majemuk, bentuk bulir (spika), di ketiak daun, tangkai silindris, panjang ± 2 cm, stamen banyak, ruang sari dua, stigma putih, berukuran kecil, bunga berwarna putih kehijauan.

Buah : Lonjong, panjang ± 4 cm, berwarna hijau pucat ketika masih muda dan setelah tua berwarna hitam, permukaan buah tidak rata (membentuk tonjolan- tonjolan).

(71)

3. Kegunaan

Beberapa bagian dari tanaman Piper sarmentosum ini dapat digunakan sebagai bahan obat tradisonal seperti akarnya dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi, peluruh air seni dan batu empedu. Sedangkan daunnya, dapat dimanfaatkan untuk mengobati perut kembung, gangguan pencernaan, diare, disentri, gejala iritasi usus, gastritis, asma, mengurangi flu, dan mengurangi demam. Buah dan daun karuk mengandung saponin, polifenol, dan flavanoid. Kandungan daun dan buah karuk diantaranya saponin, polifenol, dan flavoniod sedangkan kandungan dari karuk lainnya diantaranya adalah kalsium, kalium, karoten, magnesium, niacin, vitamin B1, B2, dan C yang dikenal sebagai antioksidan yang alami.

Cara penggunan Piper sarmentosum, yaitu sebgai berikut: untuk mengobati asma, lumatkan 5 lembar daun karuk hingga menyerupai bubur, lalu campurkan dengan setengah gelas air panas. Saring, lalu diminum sehari dua kali. Biasanya, sesak nafas tersebut akan terhenti tak sampai seminggu. Sementara untuk mengobati batuk, ambil daun karuk yang tua sebanyak 5 lembar. Masukkan ke dalam air panas sebanyak 3/4 gelas. Boleh juga ditambahkan madu. Lalu diamkan hingga airnya menjadi hangat kuku, baru diminum. Lebih baik jika daunnya disuir atau ditumbuk hingga halus. Minum tiap pagi dan sore. Selain itu, untuk mengobati sakit kepala, tumbuk daun karuk lalu jadikan bahan lulur atau param kulit, lalu tempelkan pada kepala yang sakit dan untuk mengobati sakit gigi, kunyah akar karuk bersamaan dengan pinang dan jahe kecil.

4. Daftar Pustaka

Ahmad, Undang. 2002. Morfologi dan Sistematik Tumbuhan. Bandung: Departemen Biologi Institut Teknologi Bandung. Halaman 68 dan 3-50.

Hoon, Chay Than, Hwe Ling Koh dan Chua Tung Kian.2009.An Ilustrated, Scientific and Medicinal Approach.Singapura: World Scientific. Halaman122-123. Jacobsen, Nephyr dan C. Pierce Salguero. 2013. Thai Herbal Medicine Traditional

Receipes for Health & Harmony. United Kingdom: Findhorn Press. Halaman 151.

(72)

5. Herbarium

(73)
(74)

Kelompok 2

Spesies :Anredera cordifolia

Nama sinonim :Boussingaultia cordifolia, Boussingaultia basselloides, dan Boussingaultia gracilisMiers

Nama resmi : binahong

Nama daerah : gendola, kandula, uci-uci, gendele, lembayung, rinutu, tatabue, poiloo, garang-garang, dan duyumu

Nama asing : heartleaf madeira vine, madeira vine, dan teng san chi 2. Morfologi

Habitus : Semak perennial, tanaman yang melilit atau memanjat

Batang : Tidak berambut (glabrus). Batang muda berwarna hijau atau kemerahan, bentuk bulat, saat dewasa tampilan batang menjadi seperti tali dan warnanya menjadi coklat keabuan, batang terdapat umbiwarty berwarna coklat keabuan atau kehijauan dengan panjang 1-10 cm, namun biasanya hanya mencapai 2-3 cm, umbi terbentuk pada nodus sepanjang batang yang lebih tua.

Daun : Susunan daun tersebar (alternate), sedikit berdaging (semi-succulent), tidak berambut (glabrus), kadang tampak mengkilat (nitidus), tangkai daun (petioles) yang panjangnya 5-20 mm, bentuk daun hati (kordatus) atau berbentuk bulat telur (ovate) dengan ujung yang sedikit berlekuk (emarginatus). Panjang daun mencapai 2-15 cm dan lebarnya 1,5-10 cm. Ujung daunnya akutus atau obtuse apex.

(75)

memiliki 5 kelopak (mahkota atau segmen perhiasan bunga) dan muncul di batang pendek (pedicles) yang panjangnya 2-3 mm. Memiliki 5 stamen dan 1 stigma dengan ujung tangkai bercabang tiga dan tiga stigma kecil. Panjang kelopak 2-3 mm, sedikit berdaging, keras, dan akan berubah warna menjadi cokelat tua atau hitam seiring waktu.

Buah : Tidak ada. Biji : Tidak ada.

Akar : Akar tunggang, berdaging lunak, dan berwarna cokelat.

3. Kegunaan

Daun binahong (A. cordifolia (Ten.) Steenis) memiliki kandungan senyawa aktif berupa terpenoid, saponin, fenol, minyak atsiri, dan flavonoid. Oleh karenanya, binahong dalam farmasi memiliki kegunaan untuk membantu pengobatan luka, tipus, maag, radang usus, ambeien, pembengkakan, pembekuan darah, rematik, luka, memar, asam urat, stroke, dan diabetes mellitus. Cara penggunaanya adalah dengan merebus daun binahong. Kemudian rebusan akarnya juga dapat dimanfaatkan untuk menegeringkan luka bekas operasi.

Penelitian Tshikalange (2004) menunjukkan bahwa ekstrak air dan kloroform akar binahong (A. cordifolia(Ten.) Steenis) dapat menghambat pertumbuhan bakteriS. aureus dan E. colidengan konsentrasi hambat minimumnya sebesar 60 mg/ml. Studi yang lainnya juga menunjukkan bahwa daun binahong memilki potensi dalam mengatasi diabetes mellitus dan menurunkan kolestrol darah. Zat yang berperan dalam menurunkan gula darah adalah flavonoid. Jadi flavonoid memilki cincin benzena dan gugus gula yang reaktif terhadap radikal bebas. Gugus gula inilah yang menangkap radikal bebas penyebab diabetes.

4. Daftar Pustaka

Navie, Sheldon and Steve Adkins. 2016. "Factsheet - Anredera Cordifolia (Madeira Vine)".

Rochani, Nita .2009.Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap Candida albicans Serta Skrining Fitokimianya.

(76)

5. Herbarium

(77)
(78)

Kelompok 3

Spesies :Cananga odorata Nama sinonim :Canangium odoratum Nama resmi : kenanga

Nama daerah : kananga, sandat, selanga Nama asing : siang sui su, ylang-ylang

2. Morfologi

Kenanga merupakan tumbuhan liar yang mudah tumbuh di daerah dataran rendah mulai dari ketinggian 250-1.000 m dpl dan dapat hidup hingga puluhan tahun.

Habitus : Pohon atau perdu

Batang : Berkayu, berbatang besar dengan diameter 0,1-0,7 meter berwarna kecoklatan kehijauan, pada waktu muda mempunyai batang yang getas (mudah patah), penampang bulat, bercabang dengan percabangan simpodial.

Daun : Tunggal, alternate, distikha, permukaan nitidus, ujung akuminatus, berwarna hijau, pangkal akutus, tepi integer, urat daun peninervis dan berbentuk lonjong.

Bunga : Majemuk, aktinomorf, aromatis, sistem pebungaan rosemosa, bunga hipogenus, ovarium superus, 3 sepal, 6 petal, dan banyak stamen. Buah : Buni, berbentuk bulat telur terbalik, berwarna hijau ketika muda dan

hitam ketika tua.

(79)

3. Kegunaan

Dalam dunia kefarmasian, tanaman kenanga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan sesak nafas, malaria, dan bronkhitis. Bunga kenanga mengandung asam benzoat, farnesol, 0,88 % geraniol, 5,97 % linalool, bensin asetat, eugenol, safrol, kadinen, dan pipen. Untuk pengobatan penyakit malaria, bahan yang dibutuhkan adalah tiga kuntum bunga kenanga yang sudah dikeringkan. Bunga yang sudah kering tersebut diseduh dengan satu gelas air panas dan ditutup rapat. Setelah dingin, airnya disaring dan diminum secara teratur. Untuk pengobatan sesak nafas, segenggam bunga kenanga dan 1 sendok gula putih direbus dengan air panas hingga airnya tersisa setengah gelas. Airnya disaring kemudian diminum teratur tiap pagi dan sore hari. Untuk pengobatan penyakit bronkhitis, dua kuntum bunga kenanga direbus dengan satu gelas air panas hingga mendidih dan airnya tersisa setengah gelas. Air hasil rebusan diminum secara rutin setiap pagi dan sore hari.

4. Daftar Pustaka

A.N.S, Thomas. 1992.Tanaman Obat Tradisional 2. Yogyakarta: Kanisius. Hariana, Arief. 2013.Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Hidayat, Syamsul. 2015.Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta: AgriFlo.

(80)

5. Herbarium

(81)
(82)

Kelompok 4

Spesies :Piper betleL.

Nama sinonim:ChavicaauriculataMiq., C. betleMiq., artanthehixagona Nama resmi : sirih

Nama daerah : seureuh (Sunda), sedah, suruh (Jawa), sere (Madura)

Nama asing : ju jiang (Cina), betel, betel nut (India), ikmo, itmo, buyo-anis (Filipina)

2. Morfologi

Habitus : Habitus merupakan perdu.

Batang : Batang bulat memanjang, tinggi 5-15 m, tumbuh menjalar atau merambat, beruas, berbuku dengan jarak 5-10 cm, memiliki pertunasan, berwarna kecoklatan hingga kehijauan.

Daun : Daun berbentuk bulat oval atau telur, pangkal daun kordatus, pertulangan menyirip, tepi integer, lebar 2-10 cm, panjang 5-15 cm, berwarna kehijauan muda hingga tua, merupakan daun tunggal.

Bunga : Bunga majemuk, perbungaannya bulir (spika), terletak pada cabang daun yang berhadapan. Bulir lengkap yaitu bulir jantan dan betina, bulir jantan panjang 1-3 cm, benang sari pendek, sedangkan bulir betina panjang 2-6 cm dan panjang kepala putik 3-5 cm, umumnya bunga berwarna merah muda hingga kemerahan tua serta keputihan. Buah : Buah berbentuk bulat telur kecil, bagian ujung gundul, berwarna

abu–abu hingga kehitaman, dan terdapat bulu banyak.

Biji : Memiliki biji bulat, pipih, dan berwarna kehitaman yang mencapai sekitar 10-20 biji per buahnya.

(83)

3. Kegunaan

Daun sirih telah digunakan selama berabad-abad. Pada mitologi pengobatan Cina, daun sirih dikatakan untuk detoksifikasi, antioksida, dan antimutasi. Ada beberapa penelitian pada daun sirih yaitu ektstrak daun, fraksi, dan senyawa murni yang ditemukan pada daun sirih berperan dalam kebersihan mulut (oral). Selain itu dapat juga berperan sebagai antidiabetik, kardiovaskular, anti inflamasi, anti ulkus, melindungi hati, anti infeksi, dan lain sebagainya.

Daun sirih telah dijelaskan dari zaman kuno merupakan daun yang memiliki sifat stimulo-karminatif aromatik, astringent, dan afrodisiak. Daun sirih memproduksi minyak atsiri aromatik yang mengandung gugus fenol yang disebut chavicol. Chavicol mempunyai kandungan antiseptik. Efek farmakologi dari mengunyah daun sirih adalah meningkatkan stimulasi otot dan mental, meningkatkan laju air liur (saliva).

Daun dari Piper betle umumnya digunakan sebagain penyegar mulut setelah makan. Pada pengobatan tradisional, daun sirih umum digunakan sebagai antiseptik dan untuk penyembuhan luka. Minyak atsiri dari daun sirih dapat digunakan sebagai bahan baku industri untuk pembuatan obat-obatan, parfum, penyegar mulut, tonik, bahan tambahan makanan (aditif), dan lain lain. Ekstrak daun sirih menunjukkan efek positif dalam menurunkan tingkat pertumbuhan beberapa tumor pada hewan. Ektrak daun sirih menghambat awal munculnya DMBA yang menginduksi kasinogenesis payudara pada tikus. Namun, tidak menghambat pertumbuhan tumor yang telah muncul pada payudara tikus.

4. Daftar Pustaka

Baldwin, Roger. 1979.Hawaii’s Poisonous Plants. United States: Petroglyph Press. hal 88

S.Sripradha. 2013.Betel Leaf – The Green Gold.Saveetha Dental College: Chennai. (online).

http://www.jpsr.pharmainfo.in/Documents/Volumes/vol6issue01/jpsr06011 409.pdf.Diakses pada tanggal 14 November 2016 pukul 10.15.

Toprani, Rajendra, dan Daxesh Patel. 2013. Betel Leaf: Revisiting The Benefits Of An Ancient Indian Herb. (online).

(84)

5. Herbarium

(85)
(86)

Kelompok 5

Spesies :Strobilanthes crispa

Nama sinonim :Sericocalyx crispus(L)Bremex Nama resmi :Sericocalycis folium

Nama daerah : daun picah beling (Jakarta), daun keji beling, enyoh kelo (Jawa Tengah),sambang geteh (Jawa), remek daging, reundeu beureum (Sunda), dan lire (Ternate).

Nama asing : Fenugreek

2. Morfologi

Habitus : Semak dengan tinggi sekitar 0,5 – 1 m.

Batang : Percabangan monopodial, bentuk bulat, berambut kasar, dan berwarna hijau.

Daun : Daun tunggal, tangkai pendek, folio opposita, helaian daun lanset atau hampir elliptikus, tepi seratusatau krenatus, ujung akuminatus, pangkal akutus, permukaan hispidus, tulang daun peninervis dengan panjang 9-18 cm, lebar 3-8 cm, berwarna hijau.

Bunga : Perbungaan majemuk, bentuk spika, korola berbentuk corong, terbagi menjadi 5 petal,panjang 1,5-2 cm, berambut, dan berwarna kuning. Buah : Berbentuk gelendong, berisi 2-4 biji

(87)

3. Kegunaan

Salah satu manfaat dariStrobilanthes crispus (Acanthaceae)atau biasa disebut keji beling adalah sebagai antikanker. Sebuah penelitian membuktikan bahwa ekstrak kasar tanaman ini bersifat sitotoksik untuk lini sel kanker manusia terutama ada kanker payudara dan kanker prostat. Ekstraknya sendiri dibuat dengan cara daun segar dari S. crispus (6 kg) dipotong dengan penggiling pabrik, lalu dipotong halus dan dimaserasi dengan heksan (20 L) selama tiga hari pada suhu kamar (25-27°C). Setelah mengeluarkan ekstrak heksana, residu kemudian dimaserasi dengan DCM (20 L) selama tiga hari. Ekstrak disaring dan pelarut diuapkan di bawah tekanan rendah pada suhu kurang dari 35 ° C.

4. Daftar Pustaka

BMC Complementary and Alternative Medicine.Anticancer activity of a sub-fraction of dichloromethane extract of Strobilanthes crispus on human breast and prostate cancer cells in vitro. (16 Oktober 2016).http://bmccomple mentalternmed.biomedcentral.com/articles/10.1186/1472-6882-10-42. Dalimartha, Setiawan. 2006.Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 4.Jakarta: Puspa

Swara. Halaman 38-39.

Hariana, Arief. 2013.262 Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swdaya. Halaman 155.

NCBI.Effects of Strobilanthes crispus Tea Aqueous Extracts on Glucose and Lipid Profile in Normal and Streptozotocin-induced Hyperglycemic rats. (12 Oktober 2016)

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16688478.

(88)

5. Herbarium

(89)
(90)

Kelompok 6

Spesies :Abrus precatoriusL. Nama sinonim :Abrus frutex

Nama resmi : saga manis

Nama daerah : saga, saga rambat, safa areuy

Nama asing : kenderi (Malaysia), rosary pea (Inggris), black-eyed susan (Inggris)

2. Morfologi

Habitus : Perdu merambat.

Batang : Batang bersifat harbaseus, bentuk batang silinder, dan percabangan simpodial.

Daun : Majemuk bipinatus, letak daun berhadapan (opposita), tidak memiliki stipula, urat daun menyirip (peninervis), bentuk daun jorong, ujung daun membulat (rotundatus), pangkal daun rotundus, tepi daun rata (integer), permukaan daun tidak berambut (glabrus), tekstur membranous.

Bunga : Perbungaan rasemosa, bunga majemuk, korola terdiri dari 5 petal, memiliki 9 stamen dan 1 pistilum, bunga biseksual, bentuk bunga aktinomorf dan hipoginus, bunga berwarna putih-ungu.

Buah : Buah siliqua berupa legum

Biji : Biji kecil, bulat, keras, berwarna merah mengkilap dengan sedikit warna hitam.

(91)

3. Kegunaan

Tumbuhan Saga manis atau Abrus precatorius mengandung beberapa zat kimia seperti abrine, abraline, L(+) hypaphorine, precatorine, chline, trigonelline, squalene, abrussic acid, glycyrrhisic acid. Dalam bidang farmasi tumbuhan saga memiliki beberapa manfaat, yaitu untuk obat infeksi cendawan, skabies, radang kulit bernanah, dan eksim dengan cara pemakaian, yaitu ambil biji saga secukupnya, lalu cuci bersih, dan tumbuk halus. Setelah itu, tambahkan minyak kelapa ke dalam ramuan dan aduk hingga rata. Oleskan campuran itu ke bagian tubuh yang sakit. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai obat Hepatitis dan sakit tenggorokan dengan cara mengambil sekitar 17 gram akar dan batang dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil kemudian direbus 3 gelas air sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin, hasil rebusan disaring dan diminum 2 kali sehari, masing-masing ½ gelas. Serak dan amandel juga dapat diobati dengan tumbuhan saga dengan mengambil sekitar 7 gram daun segar atau 4 gram daun kering dicuci bersih. Daun diseduh dengan ½ cangkir air mendidih dan diamkan beberapa saat. Ketika dingin, saring seduhan itu dan minum sekaligus.

4. Daftar Pustaka

Hariana, Arief. 2006.Tumbuhan obat dan khasiatnya. Jakarta: Swadaya.

Kapoor, L. D. 2000.Handbook of Ayurvedic Medicinal Plants: Herbal Reference Library. Boca Raton: CRC Press.

Maurice, M. Iwu. 1993.Handbook of African Medicinal Plants, Second Edition.Boca Raton: CRC Press.

(92)

5. Herbarium

(93)
(94)

Kelompok 7 Sub class : Rosidae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Excoecaria

Species :Excoecaria cochinchinensis Nama sinonim :Excoecaria bicolor

Nama resmi :Excoecaria cochinchinensis

Nama daerah : sambang darah, daun lamban, daun remek daging, ki sambang Nama asing :ji wei mu(Cina), buta-buta(Malaysia), kamlang krabue (Thailand)

2. Morfologi

Morfologi dari tumbuhanExcoecaria cochinchinensisadalah Habitus : Perdu.

Batang : Percabangan simpodial, berkayu, warna coklat kehitaman, berbuku-buku, berbentuk bulat.

Daun : Tunggal, opposita, ujung kuspidatus, tepi rata, permukaan daun bagian atas berwarna hijau hingga hijau pucat, permukaan daun bagian bawah berwarna merah keunguan, ujung daun obtusus, dasar daun petiolatus, urat daun peninervis, tekstur daun herbaseous, mengkilap (nitidus), tidak berambut (glabrus).

Bunga : Berwarna hijau, dalam rasemat terminal, bentuk kapsul, uniseksual, aktinomorf, 3 sepal, petal 3 sampai 5.

Buah : Bentuk kapsul.

Biji : Bundar.

(95)

3. Kegunaan

Dalam dunia kefarmasian, sambang darah dapat digunakan untuk mengobati disentri, batuk darah, haid tidak teratur, dan pendarahan yang berlebihan pasca melahirkan. Tumbuhan ini mengandung zat aktif daphnane dan tigliane (diterpene esters) yang berperan dalam aktivitas uterotonik. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan adalah akar, batang, dan daun. Getah daunnya dapat diekstrak menjadi acetone extract atau ethyl acetate fraction. Selain itu, air rebusan daunnya dapat digunakan untuk mengobati disentri dan batuk darah. Untuk mengobati batuk darah, daun perlu ditumbuk terlebih dahulu sebelum kemudian direbus dalam campuran air dan garam. Pendarahan berlebihan saat melahirkan dapat diatasi dengan meminum air rebusan batangnya yang telah dipotong kecil-kecil sebanyak tiga kali sehari. Sedangkan untuk mengobati luka, daun dapat ditumbuk dan diletakkan pada bagian tubuh yang terluka.

4. Daftar Pustaka

Gruber, Christian W. dan Margaret O’Brien. 2010.Uterotonic Plants and Their Bioactive Constituents. New York: Planta Med.

Quattrocchi, Umberto. 2012. CRC World Dictionary of Medicinal and Poisonous Plants: Common Names, Scientific Names, Eponyms, Synonyms, and Etymology. Florida: CRC Press. Halaman 1709.

Singh, Gurcharan. 2010.Plant Systematics an Integrated Approach Third Edition.New Delhi: Science Publisher. Halaman 554.

(96)

5. Herbarium

(97)
(98)

Kelompok 8 Sub Class : Asteridae Ordo : Scrophulariales Famili : Achantaceae Genus : Graptophyllum

Species :Graptophyllum pictum(L.) Griff (Cronquist, 1981). Nama Resmi : daun ungu

Nama Sinonim :Justicia picta

Nama Daerah : handeuleum, daun wungu, demung

Nama Asing : kalpueng, balasbas (Filippina), carmantine (Inggris)

2. Morfologi

Habitus : Perdu perrenial tinggi 1,5-3 m.

Batang : Berkayu, aerial, cabang bersudut tumpul, berbentuk galah dan beruas rapat, kulit dan daun berlendir, bagian dalam solid, percabangan simpodial,arah cabang miring ke atas.

Daun : Helaian daun tipis tegar, bentuk bulat telur sampai lanset, ujung runcing (akutus), pangkal meruncing (akuminatus), tepi rata (integer), pertulangan peninervis, permukaan mengkilat (nitidus), tunggal, bertangkai pendek, letaknya folia opposita, disthika , panjang 8–20 cm, lebar 3–13 cm, permukaan bawah warnanya ungu.

Bunga : Bunga majemuk, muncul dari ujung batang (terminalis), tersusun dalam rangkaian berupa tandan yang panjangnya 3–12 cm, warnanya merah keunguan.

Buah : Buah kotak sejati (kapsula), lonjong, warna ungu kecoklatan.

Biji : Berbentuk bulat, warnanya putih, kadang-kadang pipih berkulit tebal, putih.

(99)

3. Kegunaan

Daun wungu dapat digunakan untuk mengobati sembelit. Bahan yang digunakan adalah 7 helai daun wungu . Daun wungu mengandung saponin, tanin, flavonoid, sitosterol, pektin alkaloid, glikosida dan asam format (Ozaki dkk., 1989). Cara membuatnya yaitu dengan merebus 7 helai daun wungu dan 2 gelas air sampai airnya tinggal setengah. Cara penggunaannya minum sekaligus pada pagi hari.

4. Daftar Pustaka

Simpson, Michael G. 2005.Plant Systematic. Elsivier. Canada: Academic Press Publication.

(100)

5. Herbarium

(101)
(102)

Group 9

Species :Cinnamomum burmannii

Synonym name :Cinnamomum burmannii(Nees & T.Nees) Blume, K.Cinnamomum burmani, Cinnamomum cylanicura Scientific name :Cinnamomum burmannii

Local name : kayu manis, padang cassia Common name : cassia, cinnamon

2. Morphology

Cinnamomum burmannii is an evergreen tree and having aromatic stems. The tress may grow into a very tall tree.C. burmannii is an angispermae, so it have a flower with small size with yellowish color. Its leaves may be pink-purplish in early growth, and will change to green as it matures. It can mostly be found in Sri Lanka and South India, where this plant is planted commercially on white, sandy soils in Sri Lanka, Madagascar and Brazil. It fits once planted in hot and moist climate area, such as tropical area with rainfall 2000-2500 mm/year.

Habitus : Tree.

Stems : Aromatic, 5 to 15 m in height, dark greyish color of skin of stem, red-brownish color of stems.

(103)

Flowers : Bisexual, small, very pale yellow to yellowish color, grow on panicles, 6 petals, 12 stamens.

Fruits : Black color, taper shape, about 1.5cm in length, have fleshes in fruits, circular shape, dark green for young fruits and turn dark purple as it matures.

Root : Tap root.

Seeds : short viability, ripe in a shaded nursery bed.

3. Usage

Cinnamomum burmannii can be used in traditional usage, the pharmaceuticals, biological activities, and phytochemical constituents. It is traditionally used as a spice. The chemical constituents are mostly cinnamyl alcohol, coumarin, cinnamic acid, cinnamaldehyde, anthocynin, and essential oils together with constituents of sugar, protein, crude fats, pectin, and others. Cinnamomum burmannii is also a tonic, carminative and stimulant. The dried inner bark of the plant is used as flavoring agent in foods, beverages or chewing gums. The distilled bark oil and the oleoresin of the bark of the plant are used in soap and perfume manufacturing. The powdered bark is used to treat nausea, coughs, dyspepsia, gripe, malaria, chest complaints, or flatulence. It is also used alone or in combination to treat diarrhea. The oil of the plant is demonstrated to exhibit analgesic, antibacterial, carminative, and anti-fungal properties.

4. Reference

(104)

5. Herbarium

(105)
(106)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Herbarium merupakan spesimen tanaman kering yang di buat dengan cara pengeringan dan di beri tekanan. Spesimen tumbuhan yang akan di herbarium terlebih dahulu harus dibersihkan terlebih dahulu dari debu dan sejenisnya, kemudian pada permukaan bagian tanaman yang akan di herbarium diolesi dengan alkohol dengan menggunakan kapas. Untuk tumbuhan dengan tulang daun dan batang yang tebal, tanaman dilayukan terlebih dahulu dengan cara di jemur dibawah sinar matahari.

Papan kayu disediakan sebanyak dua papan untuk digunakan menekan herbarium. Sebelum dilakukan press pada herbarium, papan kayu terlebih dahulu di bungkus dengan kertas sebagai penyerap air dari spesimen tumbuhan yang akan di herbarium. Apabila papan kayu telah siap, maka herbarium siap di buat. Spesimen tumbuhan yang telah bersih dan telah diolesi dengan alkohol pada permukaannya di tata sedemikian rupa pada papan kayu yang telah dilapisi koran sebelum di press. Papan kayu yang lain diletakkan di atas spesimen tumbuhan yang telah di tata pada papan kayu sebelumnya dan di ikat erat sebelum di timpa dengan benda-benda berat-sebagai bebanpress.

(107)

LAMPIRAN

Shift Senin

Kelompok Nama Anggota Kelompok Nama Asisten Kelompok

1

 Siti Haura (11615001)  Jesslyn Aryanti (11615016)  Zhafira Ajrina (11615028)

 Indri Yuliani (11615036)

 Dimas Adiyuga Negara (11615043)

Cut Raisa Farathilla (10714032)

2

 Dhea Savira Prananingrum (11615003)

 Zahra Shofia (11615009)

 Acep Hendra Punja Unggara (11615012)  Ria Ade Rahmawati (11615017)

 Anastasya Calista Handoko (11615029)

 Maisha Yushmi Afina (11615037)

Dian Arista (11614024)

3

 Farah Ayu Indriana (11615004)  Naura Sufina (11615010)  Intan Sabrina (11615018)

 Anandito Akbar Nugroho (11615019)

 Auliyanisa Pramasynta (11615030)  Theresia Kirana (11615038)

Annisa Fathadina (11614013)

4

 Nandy Daud Elghifari (11615005)

 Ayu Trinita Sihombing (11615011)  Indah Sugesti (11615021)

 Teguh Abrian S.Waruwu (11615022)

 Cut Yasinta Dewi Nurhasanah (11615031)

 Desyana Yuharsiwi (11615039)

Arnold Nathaniel (11614003)

5

 Ariel Arya Mahendra (11615023)

 Ivon Triani (11615040)  Jessica Nathania (11615024)  Mariana Irwan (11615032)

 Stephanie (11615006)

 Tasya Oesricha Pakki (11615013)

Yelian Ansari (10714041)

6

 Meita Nurgraini Fauziyyah (11615007)

 Safira Mutia A. (11615014)

 Drajat Ramdani Dipraja (11615025)  Oki Marsela (11615026)

 Neng Rima L. R. (11615034)

 Vania Putri Asysyifa (11615041)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Outline : Tujuan