P a g e | 1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komputer yang sangat pesat akhir-akhir ini mendapat sambutan positif di masyarakat. Berbagai layanan masyarakat sudah mengimplementasikan ICT (Information and Communication Technology). Dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah e-business atau e-commerce, di dunia pemerintahan dikenal dengan istilah e-government dan bagi dunia pendidikan dikenal dengan istilah e-learning. Departemen Pendidikan Nasional sebagai organisasi yang berfungsi mengelola pendidikan di Indonesia menyambut baik perkembangan ICT dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pengenalan teknologi informasi dan komunikasi, terutama di jenjang pendidikan menengah. Respon ini menunjukkan bahwa Departemen Pendidikan Nasional memperhatikan perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang sedang mengalami kemajuan pesat. Kebijakan ini bertujuan agar siswa memiliki bekal kemampuan untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kelak pada saat lulus tidak buta sama sekali dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang ada di masyarakat.
Page | 2
Tuntutan yang harus dilaksanakan oleh guru dan sekolah dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi menghadapi berbagai kendala yang tidak sederhana. Masalah utama yang seringkali dihadapi oleh pihak sekolah dan guru adalah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya fisik, sumber daya manusia maupun sumber belajar berbasis teknologi komputer dan telekomunikasi.
Berkaitan dengan implementasi pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, terutama pemanfaatan internet sebagai media alternatif pembelajaran, sekolah perlu melakukan analisis kebutuhan, penyiapan kebutuhan yang diperlukan, perancangan model pembelajaran serta pengembangannya.
Untuk dapat menggunakan internet seefektif mungkin dalam proses pembelajaran di kelas, ada banyak cara yang dapat ditempuh oleh guru Fisika, yaitu:
1. Guru berperan sebagai mediator dan fasilitator seperti yang diamanatkan oleh KTSP. 2. Memilih strategi dan model pembelajaran yang dapat memacu siswa untuk belajar secara
sendiri atau berkelompok dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang bervariasi, bukan hanya mengandalkan guru sebagai salah satu sumber belajar bagi mereka, terlebih bagi siswa kelas XII IPA yang pada akhir tahun harus menghadapi Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu penentu kelulusan mereka dari SMA.
3. Guru berinteraksi dengan siswa dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan proses yang dapat melibatkan aktivitas siswa sehingga terjadi proses belajar yang bermakna dan tuntas yang memungkinkan siswa betul-betul menguasai permasalahan yang dipecahkan bersama.
Page | 3
Disamping merancang bahan ajar sendiri, guru juga dapat memilih bahan ajar yang telah dirancang oleh institusi lain sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya dengan cara membuka situs Internet yang tersambung ke komputer tersebut.
Penggunaan Komputer sebagai media pembelajaran memiliki format penyajian yang terdiri atas:
1) tutorial terprogram, yakni seperangkat tayangan baik statis maupun dinamis yang telah lebih dahulu diprogramkan, 2) tutorial intelijen, dalam tutorial ini ada dialog antara siswa dan komputer , 3) practice, disini komputer digunakan sebagai alat untuk melatih siswa mengerjakan soal-soal latihan dari bank soal yang tersedia di situs internet yang dapat diakses menggunakan komputer dimana saja tidak mesti di ruang kelas, dan 4) simulasi, memberikan kesempatan untuk belajar secara dinamis, interaktif dan perorangan (Arsyad Azhar, 1997:4).
Komputer juga merupakan alat yang dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang dikenal dengan metode Computer Asssisted Learning (CAL). Metode ini digunakan untuk kegiatan belajar yang berstruktur, dimana komputer diprogramkan dengan permasalahan-permasalahan yang terstruktur sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditetapkan dalam kurikulum tiap-tiap mata pelajaran.
Metode CAL digunakan oleh siswa untuk memecahkan masalah tersebut atau mencari jawaban dengan mempergunakan komputer dan seketika itu juga jawaban siswa akan diproses secara elektronik dan dalam beberapa detik siswa sudah dapat mengetahui jawaban atau umpan balik jawaban tersebut. Dalam hal ini metode CAL dapat membuat siswa maju dalam penguasaan materi yang dipelajarinya sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing dalam memahami pelajaran yang dipelajarinya.
Page | 4
guru, maka sebaiknya guru memanfaatkan Internet sebagai sumber belajar bagi siswa secara mandiri.
Saat ini keberadaan internet belum umum dan belum banyak dipilih oleh para guru untuk digunakan secara rutin dan maksimal bagi keperluan pembelajaran. Padahal ada banyak situs di Internet yang dapat digunakan bagi keperluan pembelajaran fisika baik sebagai media pembelajaran, sumber belajar maupun sebagai tutorial mandiri. Sebagai contoh ; www.invir.com, www.e-dukasi.net, www.scribd.com, www.id.wordpress.com/tag/soal-soal/, dan lain-lain.
Oleh karena itu penulis mencoba mempopulerkan penggunaan internet bukan hanya sebagai ajang mencari berbagai informasi, tetapi lebih dititikberatkan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran baik di kelas maupun di luar sekolah. Untuk mengetahui seberapa efektif internet dapat meningkatkan hasil belajar fisika, maka perlu dilakukan penelitian melalui proses survey yang berhubungan dengan pembelajaran fisika dan peneliti tertarik untuk melalukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Pemanfaatan Internet Terhadap Prestasi Belajar Siswa dalam Proses Pembelajaran Fisika pada Kelas XI
SMA Negeri I Sigli”
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini
sebagai berikut: “Adakah pengaruh pemanfaatan internet terhadap prestasi belajar siswa
dalam proses pembelajaran fisika pada kelas XI SMA Negeri I Sigli”
1.3 Tujuan Penelitian
Page | 5
1.4 Anggapan dasar
Anggapan dasar merupakan landasan yang akan dipakai dalam melaksanakan suatu penelitian. Ungkapan dalam anggapan dasar berupa pernyataan-pernyataan yang sudah dinyatakan benar dan tidak ada sanggahan-sanggahan dari pihak-pihak lain. Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Internet merupakan salah satu media pembelajaran.
2. Pada kelas XI SMA I Sigli diajarkan mata pelajaran Fisika 3. Materi pelajaran fisika saat ini banyak dimuat di dalam internet. 1.5 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban, pendapat atau dugaan yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji melalui data-data yang terkumpul.
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka hipotesis penelitian ini adalah bahwa adanya pengaruh positif dari pemanfaatan internet terhadap prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran fisika pada kelas XI SMA Negeri I Sigli.
1.6 Ruang Lingkup
Penelitian ini membahas tentang pemanfaatan salah satu media pembelajaran yang interaktif dan mandiri yaitu internet dan hubungannya terhadap prestasi dalam proses pembelajaran fisika disekolah.
1.7 Definisi Operasional
Page | 6
1. Internet adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan saling hubungan antar jaringan-jaringan komputer yang disebut sebagai “antar-jaringan besar” yang terorganisasi longgar menghubungkan antara universitas-universitas, institusi-institusi riset, pemerintah, bisnis-bisnis serta organisasi lainnya sehingga mereka dapat saling tukar-menukar pesan serta saling berbagi informasi.
2. Media pengajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Bentuk-bentuk media digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih kongkrit.
3. Prestasi Belajar dalam penelitian ini adalah skor yang diperoleh siswa dalam rapor di setiap akhir siklus pembelajaran.
1.8 Manfaat Hasil Penelitian
Setelah melakukan penelitian tindakan kelas, diharapkan akan bermanfaat bagi berbagai pihak sebagai berikut:
1. Bagi siswa, Internet memiliki dampak positif yang sangat besar apabila dipergunakan dengan benar. Pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran di harapkan dapat menunjang prestasi siswa.
2. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan untuk guru agar dapat dipergunakan sebagai salah satu metode pembelajaran mandiri.
Page | 7
4. Sebagai salah satu masukan kepada orang tua murid bahwasanya internet tidak selalu berbau hal-hal negatif tetapi banyak pembelajaran positif yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan prestasi siswa.
Page | 8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Hakikat Belajar 2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar didefinisikan sebagai suatu proses perubahan perilaku individu sebagai akibat pengalaman dari tingkah laku yang ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Belajar merupakan kegiatan setiap orang untuk menerima, menanggapi dan menganalisa setiap kejadian. Belajar akan berjalan dengan baik apabila ia mengalami suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku dapat diamati dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama.
Hamalik (2002:27) menyatakan bahwa:
“(1) Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is define as modification or stengthening of behavior of through experiencing); dan (2) Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan”.
Perubahan tingkah laku dalam belajar itu diperoleh melalui pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya seperti yang dikemukakan oleh Slameto (2003:3) berikut ini:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
Perubahan-perubahan dalam diri siswa tersebut dalam konteks belajar: “dapat bersifat fungsional struktural, material dan tingkah laku yang disengaja, positif dan efektif, dimana perubahan itu bermakna dalam diri si pelajar dan pengetahuan dari belajar tersebut dapat direproduksi dan dipergunakan untuk pemecahan masalah, baik dalam ujian, ulangan mapun penyesuaian diri dalam rangka mempertahankan kelangsngan hidupnya.
Page | 9
Menurut Slameto (2003:3):
“Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun
jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seorang merupakan perubahan dalam arti belajar, melainkan perubahan tingkah laku dalam belajar itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Perubahan terjadi secara sadar, (2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan fungsional, (3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, artinya dalam perbuatan belajar, (4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, (5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, (6) Perubahan
mencakup seluruh aspek tingkah laku”
Jadi belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan sikap, kemampuan dan keterampilan.
2.1.2 Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.
Menurut Rohani, Sumber belajar (Learning Resources) adalah macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar. (Rohani, 1997:102).
Menurut Ahmad Sudrajat (http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com /2008/04/15), Secara garis besar terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:
1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. 2. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber
Page | 10
Dari kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya (2) orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya; (3) bahan: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya; (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya; (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan (6) lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.
Dalam hal ini, media merupakan salah satu sumber belajar yang paling banyak memberikan pengetahuan dan pengaruh terhadap pola fikir siswa baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa tersebut.
Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi.
Page | 11
Demikian pula, saat ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa diharapkan untuk dapat mengakses internet sebagai pendukung sumber belajar yang sudah ada.
2.1.3 Manfaat Sumber Belajar
Karti Soeharto (2003:77) menjelaskan secara rinci manfaat sumber belajar sebagai berikut :
“a. Dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit dan langsung.
b. Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan.
c. Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas d.Dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru
e. Dapat membantu memecahkan masalah baik dalam lingkup makro maupun dalam lingkup mikro
f. Dapat memberikan motivasi positif
g.Dapat merangsang untuk berpikir lebih kritis, merangsang untuk bersikap lebih
positif dan merangsang untuk berkembang lebih jauh.”
Sejumlah manfaat sumber belajar tersebut, dapat membantu siswa dalam melakukan proses belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan adanya sumber belajar, hal-hal baru yang belum diketahui oleh seorang siswa akan menajdi sebuah pengetahuan baru sehingga dapat merangsang cara berpikir siswa untuk lebih berkembang, lebih kritis dan positif.
Menurut Ahmad Sudrajat (http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com /2008/04/15), manfaat Sumber belajar adalah untuk:
1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
Page | 12
4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa.
2.1.4 Pembelajaran
Menurut Robbins, Stephen P. (2007:69-79), Pengertian pembelajaran adalah:
“Setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri”.
Konsep dari pembelajaran adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diobservasi, seperti yang diungkapkan oleh McGehee, W. (1958:2):
“Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah "belajar" dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespons sebagai hasil dari
pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya”.
Page | 13
Menurut Aqib, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Aqib, 2002:41).
Disisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja.
Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Proses pembelajaran dapat berlangsung efektif dan menyenangkan bagi siswa apabila guru dapat mengkombinasikan materi dan penggunaan media yang tepat.
2.1.5 Mengajar
Mengajar berasal dari bahasa Yunani “didoskein”, yang berarti pengajaran atau
“didaktos” yang berarti pandai mengajar atau “didaktik”. Di Indonesia “didaktik” berarti ilmu
mengajar. Karena didaktik berarti ilmu mengajar, maka pengertian didaktik menyangkut pengertian yang sangat luas. Dalam kaitan pembicaraan tentang didaktik, pengertian didaktik akan difokuskan pada bagaimana perlakuan guru dalam proses belajar mengajar tersebut. Mengajar menurut pengertian modern berarti aktivitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik sehingga terjadi proses belajar.
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Roestiyah (2001 :13) mengemukakan bahwa :
“Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling
Page | 14
sedangkan guru hanya membimbing, mengarahkannya dengan memperhitungkan kepribadian anak dan kesempatan untuk berbuat dan berfikir lebih banyak”
Bertolak dari pengertian di atas, keberhasilan mengajar tentunya harus diukur dari bagaimana partisipasi anak dalam proses belajar mengajar dan seberapa jauh hasil yang telah dicapainya. Dalam menjawab dua permasalahan tersebut, ahli-ahli didaktik mengarahkan perhatiannya pada tingkah laku guru sebagai organisator proses belajar mengajar. Maka timbulah prinsip-prinsip didaktik atau azas-azas mengajar, yaitu kaidah atau rambu-rambu bagi guru agar lebih berhasil dalam mengajar. Jadi, dalam uraian ini yang dimaksud azas-azas didaktik ialah prinsip-prinsip, kaidah mengajar yang dilaksanakan oleh guru secara maksimal, agar lebih berhasil.
Sebagian para ahli mengatakan bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam diri anak didik. Dalam hal ini guru memegang peranan utama, sedangkan siswa tinggal menerima, bersifat pasif. Pengajaran yang berpusat kepada guru bersifat teacher centered. Ilmu pengetahuan yang diberikan kepada siswa kebanyakan hanya diambil dari buku-buku pelajaran, tanpa dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari siswa. Pelajaran serupa ini disebut intelektualistis.
Sebagian para ahli lainnya mengatakan bahwa mengajar merupakan usaha penyampaian kebudayaan kepada anak didik. Definisi kedua ini hampir sama maksudnya dengan definisi pertama. Tentu saja yang diinginkan adalah agar anak mengenal kebudayaan bangsa, kebudayaan suku dan marganya. Tetapi lebih dari itu diharapkan agar anak didik tidak hanya menguasai kebudayaan yang ada, tetapi juga ikut memperkaya kebudayaan tersebut dengan menciptakan kebudayaan baru menurut zaman yang senantiasa mengalami perubahan.
Page | 15
didik. Termasuk di dalam kondisi eksternal ini adalah komunikasi verbal guru dengan anak didik.
Dengan demikian, sesungguhnya kunci proses belajar-mengajar itu terletak pada penataan dan perancangan yang memungkinkan anak didik dapat berinteraktif. Berinteraktif maksudnya adalah terjadinya hubungan timbale-balik personal anak dengan lingkungan. Anak didik dapat berinteraktif dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial.
Tiap usaha mengajar sebenarnya ingin menumbuhkan atau menyempurnakan pola laku tertentu dalam diri peserta. didik. Yang dimaksud dengan pola laku adalah kerangka dasar dari sejumlah kegiatan yang lazim dilaksanakan manusia untuk bertahan hidup dan untuk memperbaiki mutu hidupnya dalam situasi nyata. Kegiatan itu bisa berupa kegiatan rohani, misalnya mengamati, menganalisis, dan menilai keadaan dengan daya nalar. Bisa juga berupa kegiatan jasmani. yang dilakukan dengan tenaga dan keterampilan fisik. Umumnya rnanusia bertindak secara manusiawi apabila kedua jenis kegiatan tersebut dibuat secara terjalin dan terpadu.
Di samping menumbuhkan dan menyempumakan pola laku, pengajaran juga menumbuhkan kebiasaan. Kebiasaan dapat dirumuskan sebagai keterarahan, kesiapsiagaan di dalam diri manusia untuk melakukan kegiatan yang sama atau serupa atas cara yang lebih mudah, tanpa memeras atau memboroskan tenaga. Kebiasaan akan timbul justru apabila kegiatan manusia, baik rohani maupun jasmani dilakukan berulang kali dengan sadar dan penuh perhitungan.
Dalam hal ini mengajar merupakan salah satu perilaku memberikan ilmu oleh seseorang yang memiliki pengetahuan dalam bidangnya kepada orang lain secara langsung melalui media pembelajaran.
Page | 16
Prestasi belajar merupakan suatu prestasi yang dicapai seorang dalam mengikuti proses belajar atau hasil belajar adalah perubahan yang terjadi dalam diri individu. Perubahan yang terjadi biasanya perubahan yang terarah dan bertujuan, yaitu untuk mencapai sesuatu yang baik dan baru sebelumnya.
Menurut Hamalik (2002:31) :,
“Prestasi belajar adalah tingkah laku baru yang timbul, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, timbul pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, kesanggupan, menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional
dan perubahan jasmaniah”.
Pendapat di atas, mengungkapkan bahwa hasil belajar yang dicapai seseorang dapat digolongkan menjadi empat, yaitu pengetahuan, kemampuan, kebiasaan, dan keterampilan.
Perubahan tingkah laku yang terjadi akibat proses pembelajaran dinyatakan sebagai salah satu kriteria keberhasilan belajar. Secara implisit pernyatan ini menunjukkan bahwa
perubahan tingkah laku dalam diri siswa merujuk pada pengertian “hasil belajar”. Prestasi
belajar adalah: “kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman
belajar” (Sudjana, 1992:78).
Tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan pendidikan yang ditempuh. Hal tersebut merupakan ukuran kemampuan yang dinyatakan dalam bentuk perolehan skor belajar. Pernyataan ini bersesuaian dengan definisi Purwadarminta dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yang
menyatakan bahwa : “Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes, atau angka yang
diberikan guru “.
Page | 17
kemampuan siswa dalam menyerap pengetahuan yang telah diberikan kepadanya yang diukur melalui suatu evaluasi.
Evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa setelah siswa menjalani proses pembelajaran di kelas meliputi tiga ranah menurut Taxonomi Bloom yaitu: 1) Ranah kognitif (pemahaman), meliputi: pengetahuan, pemahaman penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. 2) Ranah afektif (sikap dan perilaku), meliputi: menerima, tanggapan, menilai, mengorganisasi dan karakteristik. 3) Ranah psikomotorik (keterampilan), yakni suatu keterampilan yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan.
Pengukuran untuk mengetahui prestasi belajar tersebut dapat dilakukan dalam bentuk ujian lisan, kuis, ulangan harian, pekerjaan rumah, ulangan semester, dan ujian akhir atau
biasa disebut Ujian Nasional (UN). Dari uraian di atas hakikat “Prestasi Belajar” adalah skor
yang diperoleh siswa yang diukur melalui suatu teknik evaluasi terhadap ranah kognitif, afketif dan psikomotorik.
2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Slameto (2003: 54-71), mengemukan beberapa faktor yang mempengaruhi belajar. Secara garis besarnya terdiri atas dua faktor utama, yaitu faktor internal yang terdiri atas faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan) dan faktor kelelahan.
Menurut Mudzakir dan Sutrisno (1997: 155-168) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan kedalam dua faktor yaitu, faktor intern (faktor dalam diri manusia) dan faktor ekstern (faktor dari luar manusia). Faktor-faktor tersebut meliputi: 1. Faktor intern (faktor dalam diri manusia). Faktor ini meliputi:
Page | 18
Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya ransangan yang diterima melalui inderanya lama, sarafnya akan bertambah lemah, sehingga ia tidak dapat masuk sekolah untuk beberapa hari, yang mengakibatkan ia tertinggal dalam pelajarannya.
2) Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, dan pikirannya terganggu. Karena hal-hal tersebut penerimaan dan respon terhadap pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal dalam memproses, mengelola,menginterprestasi dan mengorganisasi materi pelajaran melalui inderanya sehingga ia tidak dapat memahami makna materi yang dipelajarinya.
3) Karena cacat tubuh
Cacat tubuh dibedakan atas dua golongan, yaitu :
a. Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor.
b. Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu dan sebagainya. Bagi seseorang yang memiliki cacat tubuh ringan masih dapat mengikuti pendidikan umum, dengan syarat guru memperhatikan dan memperlakukan siswa dengan wajar. Sedangkan bagi orang yang memiliki cacat tubuh serius harus mengikuti pendidikan di tempat khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB).
b. Faktor psikologi (faktor yang bersifat rohani) Faktor psikologi meliputi:
1) Intelegensi
Page | 19
jenius. Golongan ini mempunyai potensi untuk dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Seseorang yang memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, mereka inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar.
2) Bakat
Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya, ia akan cepat bosan, mudah putus asa dan tidak senang. Hal-hal tersebut akan tampak pada anak suka mengganggu kelas, berbuat gaduh, tidak mau pelajaran sehingga nialinya rendah.
3) Minat
Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhanya, tidak sesuai dengan kecakapan dan akan menimbulkan problema pada diri anak. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara aak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan dan aktif tidaknya dalam proses pembelajaran.
4) Motivasi
Page | 20
dan sering meninggalkan pelajaran. Akibatnya mereka banyak mengalami kesulitan belajar.
5) Faktor kesehatan mental
Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Hubungan kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik demikian juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang.
Bila harga diri tumbuh akan merupakan faktor adanya kesehatan mental. Individu di dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan, seperti: memperoleh penghargaan, dapat kepercayaan, rasa aman, rasa kemesraan, dan lain-lain. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi akan membawa masalah-masalah emosional dan akan menimbulkan kesulitan belajar.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa, faktor ini meliputi : a. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Yang termasuk faktor ini antara lain :
1) Perhatian Orang tua
Dalam lingkungan keluarga setiap individu atau siswa memerlukan perhatian orang tua dalam mencapai prestasi belajarnya. Karena perhatian orang tua ini akan menentukan seseorang siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Perhatian orang tua diwujudkan dalam hal kasih sayang, memberi nasihat-nasihat dan sebagainya.
Page | 21
Keadaan ekonomi keluarga juga mempengaruhi prestasi belajar siswa, kadang kala siswa merasa kurang percaya diri dengan keadaan ekonomi keluarganya. Akan tetapi ada juga siswa yang keadaan ekonominya baik, tetapi prestasi prestasi belajarnya rendah atau sebaliknya siswa yang keadaan ekonominya rendah malah mendapat prestasi belajar yang tinggi.
3) Hubungan antara anggota keluarga
Dalam keluarga harus terjadi hubungan yang harmonis antar personil yang ada. Dengan adanya hubungan yang harmonis antara anggota keluarga akan mendapat kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Hal ini dapat menciptakan kondisi belajar yang baik, sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan baik pula.
b. Lingkungan Sekolah
Yang dimaksud sekolah, antara lain : 1) Guru, yang meliputi :
Guru merupakan salah satu faktor lingkungan sekolah yang berperan penting dalam mencapai prestasi belajar siswa. Guru sebagai subjek dalam pendidikan yang bertugas untuk mentransfer ilmu kepada siswa, maka seorang guru harus dapat menguasai bahan pelajaran yang akan ditransfer dan dapat menyampaikan dengan baik serta dapat menguasai dan mengontrol kondisi kelas siswa.
2) Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian kurang efektif. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratotium akan banyak menimbulkan kesulitan siswa dalam belajar dan guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menimbulkan kepasifan bagi siswa sehingga tidak menutup kemungkinan akan menghambat prestasi belajar siswa.
Page | 22
Kondisi gedung terutama ditunjukkan pada ruang kelas atau ruang tempat proses belajar mengajar. Ruang harus memenuhi syarat kesehatan seperti;
a) Ruang harus berjendela, ventilasi cukup, udara segar dan sinar dapat masuk ruangan
b) Dinding harus bersih, putih, tidak terlihat kotor c) Lantai tidak becek, licin atau kotor
d) Keadaan gedung yang jauh dari keramaian seperti pasar, bengkel, pabrik, dan lain-lain, sehingga siswa mudah konsentrasi dalam belajar Apabila beberapa hal diatas tidak terpenuhi maka situasi belajar akan kurang baik.
c. Faktor Mass Media dan Lingkungan Sosial (Masyarakat)
1) Faktor mas media meliputi ; bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku, komik yang ada disekeliling kita. Hal-hal itu yang akan menghambat belajar apabila terlalu banyak waktu yang dipergunakan, hingga lupa tugas belajar.
2) Lingkungan sosial
a) Teman bergaul berpengaruh sangat besar bagi anak-anak. Maka kewajiban orang tua adalah mengawasi dan memberi pengertian untuk mengurangi pergaulan yang dapat memberikan dampak negatif bagi anak tersebut.
b) Lingkungan tetangga dapat memberi motivasi bagi anak untuk belajar apabila terdiri dari pelajar, mahasiswa, dokter. Begitu juga sebaliknya, apabila lingkungan tetangga adalah orang yang tidak sekolah, menganggur, akan sangat berpengaruh bagi anak.
Page | 23
Jadi, dari penjelasan tersebut, penggunaan media Interaktif sebagai alat pelajaran merupakan salah satu di antara faktor eskternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
2.2 Media Pembelajaran
2.2.1 Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber balajar yang ada.
Page | 24
media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan teus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfubgsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.
Page | 25
Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. (www.aitech.ac.JP/-iteslj)
Selanjutnya (Aqib, 2002:58) menyatakan bahwa media pengajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Bentuk-bentuk media digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih kongkrit. Pengajaran dengan menggunakan media tidak hanya sekedar menggunakan kata-kata. Dengan demikian, dapat kita harapkan hasil pengalaman belajar dapat lebih berarti bagi siswa.
Miarso (1984:48), menyimpulkan bahwa (a) media merupakan wadah dari pesan oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, (b) bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat di tangkap oleh panca indra yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasi dalam kegiatan belajar.
2.2.2 Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Secara umum ada tiga ciri utama media yang merupakan petunjuk mengapa media
digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak
mampu melakukannya adalah sebagaimana dikemukakan oleh Arsyad (1997, 12-13), yaitu:
“1. Ciri fiksatif (fixative property), yang menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan menkonstruksi sesuatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, disket komputer dan film.
Page | 26
3. Ciri distributif (distributive property), yang memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan berdasarkan ciri-ciri tersebut”.
Berdasarkan penjelasan diatas, penggunaan media mampu membantu guru untuk mentransformasikan ilmu atau pengetahuan baru yang belum pernah didapatkan dan bahkan belum pernah dilihat sama sekali oleh panca indra siswa. Dengan bantuan media, guru akan lebih mudah menyajikan materi pembelajaran kepada seluruh siswa secara bersamaan dan para siswa juga menangkap penjelasan guru tersebut dalam waktu yang bersamaan.
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus dapat memberikan dan meningkatkan motivasi siswa. Selain itu media juga harus merangsang siswa untu mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan siswa dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.
Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Kriteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin maka semakin baik pula media tersebut.
2.2.3 Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Page | 27
“a. Media audio visual gerak yang menampilkan suara, gambar, garis, simbol dan gerak.
b. Media audio visual diam yang menampilkan suara, gambar, garis dan symbol. c. Media audio semi-gerak yang menampilkan garis, simbol, dan gerak.
d. Media visual gerak yang menampilkan gambar, garis, simbol, dan gerak. e. Media visual diam yang menampilkan gambar, garis, dan symbol. f. Media semi gerak yang menampilkan garis, simbol dan gerak.
g. Media audio yang menampilkan suara saja dan media cetak yang menampilkan
simbol saja.”
Media pembelajaran menurut penggunaannya yang dikaitkan dengan teknologi pendidikan terdiri atas : media dan teknologi pendidikan yang penggunaannya secara massal seperti televisi, film, radio; media dan teknologi pendidikan yang metode penggunaannya secara individual seperti kelas atau laboratorium elektronik, alat-alat otoinstruktif (alat-alat pemeriksa dan pendengar individual) dan kontak unit instruktif (satu unit instruktif yang dilengkapi dengan buku teks film-strip, tape recorder, gambar-gambar dan bahan latihan); media teknologi yang penggunaannya secara konvensional; dan media teknologi pendidikan modern seperti ruang kelas otomatis, sistem proyeksi berganda (multi proyection System) (Sudjana dan Rivai, 1997:105). Dengan demikian, penggolongan jenis-jenis media dapat berdasarkan atas bentuk, suara, gerak, dan penggunaannya di dalam kelas.
2.2.4 Media Pembelajaran Interaktif.
Media pembelajaran interaktif adalah sebuah media yang dibuat guna memenuhi berbagai kebutuhan pembelajar. Sifat dasar dari media ini adalah interaktif, bergerak dan mengandung simulasi. Kelebihan yang bersifat atraktif ini mampu menarik minat belajar serta mempercepat pemahaman materi palajaran yang disampaikan.
Page | 28
mengajar, berwujud komputer & LCD projector yang berfungsi menayangkan program pembelajaran: memperlihatkan gambar, informasi, serta memperdengarkannya kepada siswa saat mengajar.
Sifat dinamis dari media interaktif merupakan kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan media pembelajaran yang berupa buku tebal yang statis sifatnya. Sifat yang dinamis membuat pemahaman tentang suatu materi lebih jelas dan mudah dimengerti dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan harus membaca satu persatu dari buku panduan.
Pengajaran pada media interaktif dirancang secara sistematis dan berurutan sehingga menjadi suatu alur pengajaran yang mudah dimengerti secara bertahap, dan pada akhirnya menghasilkan pemahaman yang baik tentang materi yang diajarkan. (http://digilih.petra.ac.id/ads)
2.2.5 Fungsi Media Pembelajaran
Media belajar merupakan suatu sarana atau perantara yang digunakan dalam interaksi komunikasi pembelajaran. Oleh karena itu, setiap media belajar harus menyumbangkan nilai-nilai positif yang merupakan essensi dari potensi yang dikandungnya sekaligus yang disumbangkan kepada penggunanya.
Page | 29
immediately of learning, karena memberi pengetahuan langsung, dan (6) memberi penyajian pendidikan lebih luas.
Selain hal-hal di atas, media juga harus memberikan berbagai pengalaman yang konkret, membantu siswa mengintegrasikan pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan yang sekarang, dapat menarik perhatian siswa, dan membangkitkan minat serta motivasi siswa dalam belajar.
Hamalik (2002:47), mengemukakan bahwa, pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemakaian media belajar dapat berdampak pada hal-hal sebagai berikut :
a. Pengajaran bisa lebih menarik
b. Pembelajaran menjadi lebih interaktif
c. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat d. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan
e. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana saja diinginkan
f. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
2.2.6 Penggunaan Media Pembelajaran
Page | 30
pengaruh teknologi audio visual pada sekitar abad ke-20 lahirlah peraga audio visual yang terutama menekankan penggunaan pengalaman yang kongkret untuk menghindarkan verbalisme.
Bentuk-bentuk media digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi lebih konkrit. Pengajaran dengan menggunakan media tidak hanya sekedar menggunakan kata-kata. Dengan demikian, dapat kita harapkan hasil pengalaman belajar dapat lebih berarti bagi siswa.
Sudjana (1992:3), mengemukakan salah satu alasan penggunaan media pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pengajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pengajaran, hal-hal yang abstrak dapat dikongkritkan dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.
(Arsyad, 1997: 15 -16), mengemukakan bahwa :
“Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran saat itu.”
Disamping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.
2.2.7 Kaitan Antara Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar
Page | 31
belajar adalah media pembelajaran interaktif. Sedangkan hasil belajar itu adalah perubahan nyata yang terjadi dalam diri siswa yang belajar berupa pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan.
Dengan demikian, antara media pembelajaran dengan hasil belajar mempunyai hubungan yang fungsional, di mana media interaktif dapat memudahkan belajar yang memungkinkan pencapaian hasil belajar yang diharapkan. Apakah konsep pikir ini benar, data di lapanganlah yang membuktikannya.
2.3 Hakikat Internet dan Pemanfaatan Internet Sebagai Media Pembelajaran Fisika 2.3.1 Hakikat Internet
Salah satu kemajuan teknologi informasi berbasis komputer adalah kemampuannya memberikan informasi luas, mendalam dan beranekaragam dari berbagai kalangan dan sumber terpercaya serta para pakar handal di bidangnya masing-masing hanya dengan meng
“klik” tombol pada keyboard komputer tersebut dan kita akan terhubung dengan “jaringan
jalan raya informasi (super-highway information)”
Jaringan jalan raya informasi tersebut menghubungkan berbagai komputer di seluruh dunia yang disebut Internet. Internet adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jaringan antar jaringan-jaringan pada berbagai tingkat yang berfungsi seperti sistem jalan raya untuk informasi olahan komputer yang merupakan jaringan dari ribuan jaringan komputer di seluruh dunia.
Page | 32
memiliki alamatnya sendiri. Bagian IP protokol memeriksa identitas pengirim dan tujuan atau alamat informasi.
Alamat IP setiap komputer yang ada di internet tersebut unik yang digambarkan dalam bentuk empat seri angka yang dipisahkan oleh tanda titik (dot), contoh 192.46.101.87. Alamat ini memungkinkan komputer manapun yang berada di Internet dapat menemukan komputer lainnya sehingga mereka dapat berkomunikasi
Disamping menggunakan angka, alamat Internet dapat dituliskan dalam kata-kata yang biasa disebut sebagai alamat e-mail. Alamat e-mail dapat menjadi alamat pribadi seseorang di Internet. Suatu alamat e-mail seseorang terdiri atas tiga bagian, a) sebuah user
name, b) simbol “at” (@) dan c) sebuah nama domain, contoh : jnalmahyar @yahoo.com
(dibaca jnalmahyar at yahoo dot com). Username (nama pengguna) adalah jnalmahyar, @ menyatakan simbol dan yahoo.com adalah nama domain yang mengidentifikasikan jenis komputer yang menjembatani pengguna ke internet. Pada contoh ini yahoo.com adalah nama
domain dari komputer penyedia layanan akses pengguna, yakni “jnalmahyar”.
Nama-nama domain selalu tetap untuk suatu sistem, sebagai cara pengidentifikasian komputer. Kata yang paling kanan dalam suatu domain menyatakan jenis institusi atau nama negara tempat suatu komputer berada dan disebut sebagai domain tingkatan tertinggi. Di Amerika Serikat domain-domain tingkatan tertinggi untuk komputer-komputer mempergunakan singkatan yang terdiri atas tiga huruf yang menentukan jenis institusi (Wahono, R.S., 2005:3).
Page | 33
Alamat-alamat internet tersebut secara awam dapat juga dinamai dengan situs (web) dan dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja diseluruh dunia tanpa terikat oleh ruang dan waktu untuk memperoleh berbagai informasi. Kenyataan ini menyebabkan timbulnya arus informasi global yang begitu cepat yang menyatukan dunia tanpa adanya batas-batas wilayah regional asalkan saja mereka memiliki alatnya yakni sebuah komputer yang terhubung dengan perangkat lunak modem dan fasilitas “jaringan untuk mengakses
internet”.
Berdasarkan uraian di atas, Hakikat Internet adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan saling hubungan antar jaringan-jaringan komputer yang disebut
sebagai “antar-jaringan besar” yang terorganisasi longgar menghubungkan antara
universitas-universitas, institusi-institusi riset, pemerintah, bisnis-bisnis serta organisasi lainnya sehingga mereka dapat saling tukar-menukar pesan serta saling berbagi informasi dan dapat diakses oleh para pengguna di seluruh dunia dengan menggunakan sebuah komputer.
2.3.2 Pemanfaatan Internet sebagai Media Pembelajaran Fisika
Perkembangan teknologi informasi saat ini telah menjalar dan memasuki setiap dimensi aspek kehidupan manusia. Teknologi informasi saat ini memainkan peran yang besar didalam kegiatan bisnis, perubahan struktur organisasi, dan manajemen organisasi. Dilain pihak, teknologi informasi juga memberikan peranan yang besar dalam pengembangan keilmuan dan menjadi sarana utama dalam suatu institusi akademik.
Page | 34
maka kehadiran teknologi informasi telah memberikan kekuatan dan merupakan potensi besar jikalau dimanfaatkan dengan baik.
Teknologi informasi telah memberikan gambaran kepada kita bagaimana teknologi informasi telah memainkan peranan yang penting dalam suatu komunikasi informasi. Dimana pada tahun an media komunikasi yang dipakai adalah jam dan kura-kura, pada tahun 50-an s.d 70-50-an, media y50-ang dipergunak50-an adalah surat d50-an teleks, 70-50-an s.d 90-50-an media y50-ang dipergunakan adalah telephon dan faks, dan pada tahun 90-an sampai sekarang, maka media yang dipergunakan adalah ponsel (HP), PC (komputer), dan internet.
Data statistik tahun 2009 dari internetworldstats.com tentang Asia Internet Usage and Population menunjukkan bahwa tahun 2000 hanya 2 juta penduduk Indonesia yang mengkases internet dan survey terbaru yang dilakukan pada 31 Desember 2009 menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan yaitu 30 juta penduduk indonesia yang melakukan akses internet dari 240.271.522 total penduduk Indonesia atau 12,5% (lampiran 4). Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa pertumbuhan pengguna internet di seluruh Indonesia berkembangan sangat pesat dan sudah menjadi suatu kebutuhan utama bagi setiap orang.
Page | 35
penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan hal tersebut, maka ada beberapa keuntungan jikalau kita menggunakan internet sebagai media pembelajaran dalam pendidikan:
1. Frekuensi tatap muka bukan lagi menjadi suatu kebutuhan yang mutlak, namun hal ini bisa diakali dengan penyediaan bahan-bahan pengajaran yang dapat langsung diakses melalui internet.
2. Peserta didik dapat langsung mendapatkan bahan-bahan yang selalu up to date.
3. Peserta didik dapat memperkaya bahan-bahan yang ada dengan melakukan searching di internet.
Manfaat internet pada dasarnya tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Hal ini sangat tergantung pada institusi pendidikan, apalagi metode ini dipergunakan maka akan berimplikasi pada:
a. Ketersediaan sarana pendukung yang harus menunjang; b. Ketersediaan jaringan internet yang memadai;
c. Serta perlu pula didukung oleh tingkat kecepatan yang memadai.
Melalui media internet diharapkan siswa akan mengalami proses belajar yang bermakna, bukan sekedar belajar menghafal. Siswa juga diharapkan belajar dengan pendekatan konstruktivistik, yaitu siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya setelah terjadi tawar-menawar intelektual antara pengetahuan awalnya (preconception) dengan pengetahuan yang lebih unggul yang ditawarkan lewat media internet. Pembelajaran fisika dengan media internet sangat mendukung pendekatan konstruktivisme, yang menitikberatkan guru sebagai fasilitator.
Tujuan utama pembelajaran fisika dengan media internet adalah :
Page | 36
2. Memungkinkan guru untuk membuat whiteboard interaktif dengan mengakses materi ajar fisika dan ditayangkan melalui proyektor.
3. Membuat contoh-contoh nyata fisika (fisika kehidupan sehari-hari).
4. Diharapkan senakin banyak siswa gemar dan menekuni lebih jauh tentang fisika.
Pembelajaran fisika dengan media internet ini dapat dilaksanakan baik secara klasikal, kelompok maupun individual. Pembelajaran secara klasikal akan menuntut guru dalam pemilihan materi ajar fisika sehingga dalam pelaksanaan proses pembelajarannya efektif, efisien, dan menarik. Dalam pencarian materi ajar ini dimulai ketika searching dengan mesin Google. Setelah memasukan kata kunci, muncul beberapa halaman, pilih satu halaman yang diinginkan. Jika sesuai dengan materi ajar yang diinginkan maka disimpan dalam bentuk file (download file). Hasil-hasil ini diolah menjadi bahan ajar yang siap untuk ditayangkan dengan komputer dan atau proyektor dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Sedangkan pembelajaran kelompok atau individual dilakukan dengan memberi tugas pada siswa dengan metode webquest yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan pada sebuah web atau blog kemudian dipresentasikan atau didemonstrasikan atau dipraktikkan.
Di bidang pendidikan internet menyebabkan munculnya e-learning dan pembelajaran online dimana belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Selain sebagai sumber belajar yang hamper tidak terbatas, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi antara guru dengan guru maupun guru dengan siswa.
Page | 37
Salah satu alamat institusi nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan dan dapat dijumpai di internet serta diperbolehkan untuk diakses oleh pengguna tanpa harus mendaftarkan diri untuk masuk (login) terlebih dahulu adalah situs e-dukasi.net.
Untuk dapat mengakses situs ini terlebih dahulu pengguna harus masuk atau
meng”klik” icon web browsing seperti mozilla firefox, Opera atau Google Chrome pada layar
monitor, kemudian masuk ke search engine seperti google, yahoo atau search engine lain dan ketik e-dukasi.net, maka secara otomatis kita akan terhubung dengan layanan jaringan e-dukasi.net.
Situs e-dukasi.net memiliki berbagai keperluan pembelajaran seluruh mata pelajaran mulai tingkat sekolah dasar (SD), SMP dan SMA. Situs ini menyajikan bahan ajar, bank soal, uji kompetensi dan berbagai animasi pembelajaran yang menarik dan dengan mudah dapat di akses oleh para pengguna. Oleh karena itu situs ini dapat digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa dan guru.
Selain situs e-dukasi.net, masih banyak situs-situs fisika lainnya yang dapat diakses oleh pengguna tanpa harus mendaftar sebagai pengguna (user) terlebih dahulu. Dalam situs-situs tersebut terdapat banyak hal yang berhubungan dengan fisika, baik itu sejarah, tokoh-tokoh, rumus maupun informasi fisika terkini. Selain itu ada beberapa situs yang menyajikan latihan soal-soal fisika berupa uji kompetensi untuk mata pelajaran yang di UN kan ataupun yang diujikan sebagai ujian sekolah (UAS). Pengguna dapat melatih dirinya secara on-line dan seketika dapat melihat nilai atau skor mereka setelah melakukan uji kompetensi.
Berikut ini adalah beberapa situs fisika yang dapat diakses secara cepat: 1. www.blueneptune.com
Page | 38
Dengan demikian diharapkan ketersediaan media internet dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran fisika yang menyenangkan. Selain itu kaidah, hukum dan prinsip fisika yang sulit dapat diatasi dengan beberapa simulasi dan animasi fisika di internet serta media internet diharapkan dapat mengatasi keterbatasan perpustakaan dan media pembelajaran fisika saat ini.
Page | 39
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sigli Kabupaten Pidie. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Juni 2010 sampai dengan selesai, setelah memperoleh izin dari Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur Sigli dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri I Sigli dan sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas XI-1 dan XI-2 di SMA Negeri I Sigli yang berjumlah 56 orang.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode survey dan instrumen penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data/informasi dari responden adalah:
1. Angket/kuesioner
2. Nilai rapor semester I sebagai nilai pembanding
3. Wawancara dengan responden sebagai informasi tambahan
Angket yang dibagikan kepada responden peserta didik berisikan pertanyaan mengenai persepsi dan pengalaman peserta didik terhadap internet yang berhubungan dengan pembelajaran fisika.
Page | 40
ditransformasikan dengan cara mengalikan dengan konstanta karena hal ini akan merubah nilai dasarnya.
Data yang dihasilkan dalam skala rasio disebut data rasio dan tidak ada pembatasan terhadap alat uji statistik yang sesuai. Variabel yang diukur skala interval dan disebut variable metrik.
Nilai (rate) terhadap pilihan jawaban sesuai dengan empat skala penilaian sebagai berikut :
Data/informasi yang telah dikumpulkan melalui angket, dianalisis secara deskriptif dengan menguraikan pendapat atau jawaban responden terhadap masing-masing pertanyaan yang terdapat di dalam angket dengan teknik persentase dan akan dibandingkan dengan nilai rapor yang diperoleh oleh siswa.
Tehnik persentase menggunakan rumus sebagai berikut:
Page | 41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Pada bab sebelumnya telah dipaparkan bahwa pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara memberikan kuesioner kepada responden penelitian yaitu Siswa di SMA Negeri I Sigli yang diambil dengan menggunakan tekhnik skala rasio.
Angket yang dibagikan kepada responden peserta didik berisikan pertanyaan mengenai persepsi dan penyikapan peserta didik terhadap internet. Dalam penelitian ini disebarkan 56 angket pada 56 responden. Kuesioner yang dikembalikan sebanyak 56 eksemplar, sehingga respon rate-nya sebanyak 100%. Kuesioner yang terjawab lengkap dan layak dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 56 kuesioner.
Berikut ini disajikan keadaan subjek penelitian yang menjadi responden dalam penelitian ini:
4.1.1. Data Responden Menurut Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Data Responden Menurut Jenis Kelamin di SMA Negeri I Sigli
Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
XI-1 9 16 25
XI-2 11 20 31
Jumlah 20 36 56
4.1.2 Data Analisa Jawaban Angket
Hasil analisis data/informasi sesuai dengan butir-butir pertanyaan yang telah dirumuskan di dalam angket dan disampaikan kepada responden peserta didik adalah sebagai berikut:
Page | 42
Tabel 4.2 Frekuensi Siswa Mengakses Internet
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Setiap hari
Tabel 4.3 Frekuensi Siswa Mengunjungi Situs yang Berkaitan dengan Ilmu Fisika Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Setiap hari
Tabel 4.4 Frekuensi Siswa Mengikuti Perkembangan Ilmu Fisika di Internet Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sering
b) Kadang-kadang c) Jarang
d) Tidak pernah sama sekali
2
Tabel 4.5 Frekuensi Mengerjakan PR Fisika dengan Bantuan Internet Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 10 kali
Tabel 4.6 Jumlah E-Book Fisika yang dimiliki oleh Siswa
Page | 43
Tabel 4.7 Frekuensi Kunjungan Siswa ke Forum Fisika Setiap Mengakses Internet Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 10 forum
Tabel 4.8 Frekuensi Forum Fisika di Internet yang di Register oleh Siswa Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 10 forum
Tabel 4.9 Pemanfaatan Situs Fisika dan Forum Fisika dalam Menyelesaikan PR Siswa
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sangat membantu
b) Kadang-kadang membantu c) Jarang membantu
d) Tidak membantu sama sekali
34
Tabel 4.10 Frekuensi Download Aplikasi yang Berhubungan dengan Ilmu Fisika Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sering
b) Kadang-kadang c) Jarang
d) Tidak pernah sama sekali
1
Tabel 4.11 Frekuensi Siswa Mengikuti Sayembara atau Lomba yang Berhubungan dengan Ilmu Fisika di Internet
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sering
b) Kadang-kadang c) Jarang
d) Tidak pernah sama sekali
Page | 44
Tabel 4.12 Frekuensi Siswa Mengirimkan Artikel Tentang Fisika Melalui Internet Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 3 kali
b) 1-3 kali c) 1 kali
d) Tidak pernah sama sekali
1
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sering
b) Kadang-kadang c) Jarang
d) Tidak pernah sama sekali
12
Tabel 4.14 Frekuensi Siswa Pernah Mendapatkan Info Beasiswa Melalui Internet Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) Sering
b) Kadang-kadang c) Jarang
d) Tidak pernah sama sekali
4
Tabel 4.15 Frekuensi Siswa Pernah Mendapatkan Majalah atau Artikel Fisika Secara Gratis yang diminta Melalui Internet
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 5 kali
b) 2 – 5 kali c) 1 kali
d) Tidak pernah sama sekali
2
Tabel 4.16 Frekuensi Siswa Mengerjakan Tugas yang Berkaitan dengan Internet Berdasarkan Permintaan Guru Mata Pelajaran Fisika
Jawaban Responden Frekuensi Persentase (%) a) > 10 kali
b) 5 – 10 kali c) 1 – 4 kali
d) Tidak pernah sama sekali
Page | 45
4.1.3 Data Level Nilai Angket Terhadap Nilai Rapor Mata Pelajaran Fisika
Tabel 4.17 Level Pemanfaatan Internet oleh Siswa yang Berhubungan dengan Fisika No Level Nilai
Angket Frekuensi
Persentase
(%) Level Pemanfaatan Internet
1 76-90 0 0.00 Sangat Tinggi
2 61-75 16 28.57 Tinggi
3 46-60 40 71.43 Sedang
4 31-45 0 0.00 Rendah
Tabel 4.18 Perbandingan Nilai Angket terhadap Nilai Rata-Rata Rapor Mata Pelajaran Fisika No Level Nilai Angket Frekuensi Nilai Rata-Rata Rapor Mata
Pelajaran Fisika
Berdasarkan temuan dari pelaksanaan survey di atas maka akan dipaparkan lebih lanjut mengenai hasil penelitian, sebagai berikut:
a. Frekuensi Siswa Mengakses Internet
Page | 46
Seperti yang terlihat pada gambar 4.1 di atas, seluruh responden menyatakan pernah mengakses internet. Walaupun demikian jumlah siswa yang aktif mengakses internet setiap hari hanya 28.6% dari total keseluruhan responden, siswa yang mengakses internet setiap minggu sebanyak 3.6% dan mayoritas siswa mengunjungi dunia maya tersebut tergantung dengan kebutuhan mereka atau sebanyak 67.9% dari total keseluruhan responden. Menurut responden yang mengakses internet hanya pada waktu tertentu saja dikarenakan faktor kesibukan yang berhubungan dengan kegiatan belajar atau ekstra kulikuler sekolah, keterbatasan akses internet atau keterbatasan ekonomi untuk dapat mengakses internet setiap hari karena di daerah mereka tidak semua tempat dapat mengakses internet secara gratis. Pada daerah yang menyediakan internet secara gratis melalui jaringan wifi, kendala yang dihadapi adalah tidak tersedianya sarana atau perangkat keras seperti laptop atau desktop untuk menghubungkan mereka dengan dunia maya.
Dengan demikian secara umum, siswa SMA Negeri I Sigli pernah mengakses internet walaupun frekuensi kunjungan sangat bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan siswa untuk menggunakan media internet sebagai media pembelajaran fisika sangat terbuka lebar.
b. Frekuensi Siswa Mengunjungi Situs yang Berkaitan dengan Ilmu Fisika
Gambar 4.2 Grafik Frekuensi Siswa Mengunjungi Situs yang Berkaitan dengan Ilmu Fisika
Jumlah siswa yang aktif mengunjungi situs yang berkaitan dengan ilmu fisika setiap minggu sebanyak 3.6% dan jumlah siswa yang mengikuti perkembangan ilmu fisika di internet sesuai dengan kebutuhan menunjukkan frekuensi yang paling besar yaitu 92.2 %.
Page | 47
Untuk siswa yang sama sekali tidak pernah mengakses situs yang berhubungan dengan ilmu fisika sebesar 3.6% dan tidak ada sama sekali siswa yang mengakses situs yang berkaitan dengan ilmu fisika setiap hari.
Menurut data terkini dari Google Insight for Search sampai dengan bulan Juni Tahun 2010, kata kunci yang paling sering diakses oleh penduduk Indonesia adalah facebook (lampiran 5). Walaupun tidak bisa dijadikan acuan karena yang mengakses kata kunci tersebut tidak hanya siswa, namun cukup menggambarkan bahwa minat siswa untuk mengakses situs yang berhubungan langsung dengan fisika masih belum maksimal sesuai dengan harapan dari pemanfaatan media internet untuk pembelajaran formal.
c. Frekuensi Siswa Mengikuti Perkembangan Ilmu Fisika di Internet
Gambar 4.3 Grafik Frekuensi Siswa Mengikuti Perkembangan Ilmu Fisika di Internet
Jumlah responden yang jarang mengikuti perkembangan ilmu fisika di internet menunjukkan frekuensi yang paling besar yaitu 67.9 %. Hanya 3.6% yang mengikuti perkembangan ilmu fisika di internet secara rutin. Jumlah tersebut lebih sedikit dari pada responden sama sekali tidak pernah meng-update perkembangan ilmu fisika ketika sedang mengakses internet yaitu sebesar 10.7% dan untuk siswa yang hanya sesekali mengikuti perkembangan ilmu fisika di internet sebesar 17.9%.
Page | 48
Dari hasil wawancara, hal ini disebabkan karena banyak situs-situs lain yang lebih menarik untuk dikunjungi dan bagi sebagian siswa, fisika bukan mata pelajaran favorit. Saat ini, situs jejaring sosial merupakan situs favorit untuk para remaja. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses situs tersebut seperti www.facebook.com, www.twitter.com atau yahoo messenger.
Menurut www.alexa.com, negara yang menduduki peringkat pertama didunia untuk pengakses situs jejaring sosial facebook adalah Indonesia (lampiran 6). Sungguh prestasi yang sangat membanggakan apabila hal ini dapat dipergunakan secara positif. Dengan kata lain, dengan mengakses situs facebook, para siswa dapat berkomunikasi langsung dengan siswa-siswa lain diseluruh Indonesia bahkan seluruh dunia untuk bertukar infromasi mengenai hal-hal seputar ilmu fisika, update terkini bahkan mungkin memecahkan soal-soal fisika bersama secara online.
d. Frekuensi Mengerjakan PR Fisika dengan Bantuan Internet
Gambar 4.4 Grafik Frekuensi Mengerjakan PR Fisika dengan Bantuan Internet