• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM ANFISTUM DIFUSI DAN OS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM ANFISTUM DIFUSI DAN OS"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

PLANT ANATOMY AND PHYSIOLOGY

“TEKANAN OSMOSIS CAIRAN SEL DAN POTENSIAL AIR”

DISUSUN OLEH:

Juminah

NIM: F1071141057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

(2)

ABSTRACT

Practicum aimed to calculate the osmotic pressure fluid cell and measure the potential value of the potato tuber tissue. To calculate it can be used direct

observation method. The tools and materials used in the experiment the microscope, a razor, tweezers, glass objects, glass cover, hand counters, cork borer, ruler, analytical balance, watch glass, beaker, glass aqua 4 pieces, leaves Rhoe discolor, potato tuber (Solanum tuberosum), distilled water, and a sucrose solution with a concentration of M 0:26, 0:24 M, M 0:22, 0:20 M, M 0:18, and 0:16 M and a sucrose solution with a concentration of 0.1 M, 0.3 M, 0.5 M and 0.7 M. in the lab this is done two experiments that calculate fluid osmotic pressure cell using discolor Rhoe

materials and experiments to measure the potential value of potato tuber tissue using materials potato (Solanum tuberosum). The first experiments that calculate the osmotic pressure cell fluid that is by making incisions on the leaves Rhoe 6 discolor as much as six incisions bada bottom purple, then observed under a microscope and count the number of cells using a hand counter. Then enter into the sucrose solution with a single incision at each concentration, then let stand for 30 minutes, after 30 minutes of lift incision Rhoe discolor from sucrose laritan back then observed with a microscope and count back how many cell. The second is to measure the potential value of a network of potato tubers, the first pieces of potato using a cork borer with a length of 4 cm by 4 pieces, and each piece of the potato is cut again into smaller pieces-kicil then weighed, then slice the potatoes had been inserted into the sucrose solution with different concentrations simultaneously then let stand for 1 hour 30 minutes, then drain potatoes and weigh the potatoes back.

The results showed Rhoe discolor leaves in a solution of sucrose cell expands while potato tubers (Solanum tuberosum) in the shrunken cell sucrose solution

(3)

ABSTRAK

Praktikum kali ini bertujuan untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel dan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang. Untuk menghitungnya dapat di gunakan metode pengamatan secara langsung. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan yakni mikroskop,pisau silet,pinset,gelas objek,gelas penutup,hand counter,cork borer,penggaris,neraca analitik,kaca arloji, gelas kimia, gelas akua 4 buah, daun Rhoe discolor,umbi kentang (Solanum

tuberosum),akuades,dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0.26 M, 0.24 M, 0.22 M, 0.20 M, 0.18 M, dan 0.16 M dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0.1 M, 0.3 M, 0.5 M, dan 0.7 M. Pada praktikum ini dilakukan dua percobaan yakni menghitung tekanan osmosis cairan sel dengan menggunakan bahan Rhoe discolor dan

percobaan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang menggunakan bahan kentang (Solanum tuberosum). Percobaan pertama yakni menghitung tekanan osmosis cairan sel yaitu dengan membuat 6 sayatan pada daun Rhoe discolor

sebanyak 6 sayatan bada bagian bawah yang berwarna ungu, kemudian amati di bawah mikroskop dan hitung jumlah selnya menggunakan hand counter. Kemudian masukkan ke dalam larutan sukrosa dengan satu sayatan pada setiap konsentrasi, lalu biarkan selama 30 menit, setelah 30 menit angkat sayatan Rhoe discolor dari laritan sukrosa kemudian diamati kembali dengan mikroskop dan hitung kembali berapa jumlah selnya. Yang kedua yaitu mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang, pertama potong kentang menggunakan cork borer dengan panjang 4 cm sebanyak 4 buah, lalu setiap potongan kentang tersebut di potong lagi menjadi potongan kecil-kicil kemudian di timbang, selanjutnya potongan kentang tadi dimasukkan ke dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi yang berbeda secara bersamaan kemudian biarkan selama 1 jam 30 menit, setelah itu tiriskan kentang dan timbang kembali kentang tersebut.

Hasil pengamatan menunjukkan daun Rhoe discolor dalam larutan sukrosa selnya mengembang sedangkan umbi kentang (Solanum tuberosum) dalam larutan sukrosa selnya mengkerut

(4)

PENDAHULUAN

Setiap tumbuhan dalam proses metabolismenya memerlukan air, karena air sangat penting bagi kehidupan. Air akan diserap tumbuhan lewat bantuan bulu akar. Jika dibedakan berdasarkan bentuknya, penyerapan dibedakan menjadi difusi, osmosis dan juga imbibisi. Setiap peristiwa penyerapan dapat berlangsung dengan baik jika terdapat perbedaan tekanan potensial air yang sangat besar antara larutan di luar sel tumbuhan dengan larutan di dalam sel tumbuhan tersebut.

Air menjadi kebutuhan pokok bagi semua tanaman juga merupakan bahan penyusun utama dari protoplasma sel. Rhoe discolor merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah tropis. Umumnya tanaman ni tumbuh didaerah dingin dan cukup air. Tanaman ini tidak dapat tumbuh didaerah tanah yang jenuh atau tergenang karena batang dan daunnya akan cepat membusuk, dan tanaman ini juga tidak dapat tumbuh didaerah yang kurang air karena daun dan batangnya akan mengerdil ( Fahn, 1991)

“Air sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Bowman (1989), penurunan kadar air tanaman menyebabkan penurunan konduktivitas stomata yang membatasi penyerapan karbon dioksida untuk fotosintesis. Potensi air daun, ukuran tekanan negatif yang ada dalam sel-sel daun, dapat digunakan untuk mengukur statusnya air tanaman. Hasil tekanan negatif dari resistensi stomata yang menyebabkan air mengalir dari akar ke daun” (Zakaluk, 2008).

1. Tekanan Osmosis

(5)

Plasmolisis merupakan suatu proses terlepasnnya membran plasma dari dinding sel. Hal tersebut dapat terjadi bila sel tumbuhan dimasukkan kedalam cairan hipertonik (larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi isi sel) maka terjadilah eksosmosis yaitu,keluarnya air dari isi sel keluar membran. Karena volume isi berkurang dan dinding plasma bersifat permeabel, maka antar membran plasma dan dinding sel terisi oleh larutan dari luar (Morigan, 2008).

2. Potensial Air

Potensial air suatu sistem menunjukkan kemampuannya untuk melakukan kerja dibandingkan dengan kemampuan sejumlah air murni yang setara, pada tekanan atmosfer dan pada suhu yang sama. Potensial osmotik larutan bernilai negatif, karena air pelarut dalam larutan itu melakukan kerja kurang dari air murni. Kalau tekanan pada larutan meningkat, kemampuan pelarut untuk melakukan kerja juga meningkat. Yang dimaksud dengan kerja adalah pergerakan air murni ke dalam larutan (Salisbury, 1995).

Komponen-komponen potensial air atau jaringan adalah sebagai berikut : Ψw = Ψs + Ψp + Ψm

(PA = PO + PT + PM)

Dimana Ψw = potensial air suatu tumbuhan Ψs = potensial osmotik

Ψp = potensial tekanan atau turgor Ψm = potensial matriks (Ismail, 2011)

“Korelasi konduktansi stomata dengan potensi air batang lebih baik daripada dengan potensial air daun. Bukti ini dapat dijelaskan oleh tanah-tanaman-atmosfer kontinum, karena gangguan dalam kondisi batas terutama terjadi di atmosfer (intensitas cahaya, kecepatan angin dan VPD). Oleh karena itu, hal ini menyebabkan efek melemahnya besar pada korelasi konduktansi stomata dengan potensial air daun” (Sdoodee, 2008).

Praktikum kali ini bertujuan untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel dan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang.

(6)

METODOLOGI

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 2 Mei 2016 pukul 15.30 hingga pukul 17.30 WIB di Laboratorium Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura.

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu mikroskop,pisau silet,pinset,gelas objek,gelas penutup,hand counter,cork borer,penggaris,neraca analitik,kaca arloji, gelas kimia, gelas akua 4 buah, daun Rhoe discolor,umbi kentang

(Solanum tuberosum),akuades,dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0.26 M, 0.24 M, 0.22 M, 0.20 M, 0.18 M, dan 0.16 M dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0.1 M, 0.3 M, 0.5 M, dan 0.7 M.

Praktikum ini dilakukan dengan 2 percobaan yaitu tekanan osmosis dan penetapan potensial air jaringan tumbuhan. Yang pertama yaitu tekanan osmosis. Hal pertama yang dilakukan pada percobaan ini adalah menyiapkan daun Rhoe discolor dan membuat larutan sukrosa dengan konsentrasi 0.26 M, 0.24 M, 0.22 M, 0.20 M, 0.18 M, dan 0.16 M lalu dimasukkan kedalam gelas kimia. Kemudian dibuat sayatan daun Rhoe discolor sebanyak 6 sayatan. 6 Sayatan tadi diamati di bawah mikroskop untuk dihitung berapa banyak selnya menggunakan hand counter. Setelah dihitung, 6 sayatan dimasukkan ke dalam masing-masing larutan sukrosa. Kemudian dibiarkan selama 30 menit, lalu setelah itu dimati kembali menggunakan mikroskop untuk mengetahui jumlah selnya. Yang kedua yaitu penetapan potensial air jaringan tumbuhan. Dibuat larutan sukrosa dengan empat konsentrasi berbeda, yaitu 0.1 M, 0.3 M, 0.5 M, dan 0.7 M dan dimasukkan ke dalam gelas akua.

(7)

HASIL DAN PEMBAHASAN

O,16 341 387 Sel mengembang berbentuk segi enam 0,18 133 221 Sel mengembang

jumlah sel bertambah 0,20 230 221 Sel mengembang ,

berbentuk segi enam 0,22 173 96 Sel mengkerut, bentuk

tidak beraturan

0,24 294 202 Sel mengkerut bentuk tidak beraturan

0,26 309 215 Sel mengkerut, bentuk tidak beraturan

Praktikum Tekanan Osmosis Cairan Sel dan Potensial Air ini bertujuan untuk

menghitung tekanan osmosis cairan sel dan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang. Tekanan osmosis cairan sel menggunakan Rhoeo discolor dan potensial air menggunakan kentang (Solanum tuberosum L.). Larutan Sukrosa yang digunakan pada percobaan tekanan osmosis cairan sel dengan konsentrasi 0,26 M; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; dan 0,16 M. Dan larutan glukosa yang digunakan pada percobaan potensial air dengan konsentrasi 0,1 M; 0,3 M; 0,5 M; 0,7 M; dan 0,9 M.

Berdasarkan hasil pengamatan,pada konsentrasi 0,16 M jumlah sel daun Rhoe discolor sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa yaitu 341 dan setelah

dimasukkan kedalam larutan sukrosa jumlah selnya menjadi 387 dan bentuk selnya mengembang serta berbentuk segi enam. pada konsentrasi 0,18 M jumlah sel daun

(8)

berbentuk segi enam. pada konsentrasi 0,22 M jumlah sel daun Rhoe discolor

sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa yaitu 173 dan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa jumlah selnya menjadi 96 dan bentuk selnya mengkerut dan bentuknya tidak beraturan. pada konsentrasi 0,24 M jumlah sel daun Rhoe discolor sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa yaitu 294 dan setelah

dimasukkan kedalam larutan sukrosa jumlah selnya menjadi 202 dan bentuk selnya mengkerut dan bentuknya tidak beraturan. pada konsentrasi 0,26 M jumlah sel daun

Rhoe discolor sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa yaitu 309 dan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa jumlah selnya menjadi 215 dan bentuk selnya mengkerut dan bentuknya tidak beraturan. Sel daun Rhoe discolor mengembang karena sel terisi oleh larutan dari luar.

Plasmolisis merupakan suatu proses terlepasnnya membran plasma dari dinding sel. Hal tersebut dapat terjadi bila sel tumbuhan dimasukkan kedalam cairan hipertonik (larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi isi sel) maka terjadilah eksosmosis yaitu,keluarnya air dari isi sel keluar membran. Karena volume isi berkurang dan dinding plasma bersifat permeabel, maka antar membran plasma dan dinding sel terisi oleh larutan dari luar. Berdasarkan hasil pengamatan sel daun Rhoe discolor mengalami plasmolisis tetapi tidak sempurna,hal ini terlihat dari hasil perhitungan jumlah sel sebelum dan sesudah dimasukkan kedalam larutan sukrosa.

0,1 1,79 1,68 Keras, sedikit berair dan kasar

Lembut, berair dan halus 0,3 1,97 1,77 Keras, sedikit

berair dan kasar

Lembut, berair dan halus 0,5 2.00 1,62 Keras, sedikit

berair dan kasar

(9)

berair dan kasar

berair dan halus

Pada percobaan potensial air jaringan umbi kentang (Solanum tuberosum) ini diamati perubahan berat dan tekstur kentang sebelum dan sesudah dimasukkan kedalam larutan sukrosa. Berdasarkan hasil pengamatan pada konsentrasi 0,1 M berat kentang sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa adalah 1,79 gr dengan tekstur Keras, sedikit berair dan kasar sedangkan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa beratnya menjadi 1,68 gr dengan tekstur Lembut, berair dan halus. pada konsentrasi 0,3 M berat kentang

sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa adalah 1,97 gr dengan tekstur Keras, sedikit berair dan kasar sedangkan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa beratnya

menjadi 1,77 gr dengan tekstur lembut,halus dan berair. pada konsentrasi 0,5 M berat kentang sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa adalah 2,00 gr dengan tekstur

Keras, sedikit berair dan kasar sedangkan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa beratnya menjadi 1,62 gr dengan tekstur lembut,halus dan berair. pada konsentrasi 0,7 M berat kentang sebelum dimasukkan kedalam larutan sukrosa adalah 1,88 gr dengan tekstur

Keras, sedikit berair dan kasar sedangkan setelah dimasukkan kedalam larutan sukrosa beratnya menjadi 1,43 gr dengan tekstur lembut,halus dan berair.

Dari hasil perubahan berat kentang yang diperoleh dari sebelum dan sesudah direndam dalam larutan sukrosa dapar dilihat perubahan beratnya yaitu pada konsentrasi 0,1 M perubahan beratnya yaitu 0,11 gr, pada konsentrasi 0,3 M perubahan beratnya yaitu 0,20 gr, pada konsentrasi 0,5 gr perubahan beratnya yaitu 0,38 gr, dan pada konsentrasi 0,7 gr perubahan beratnya yaitu 0,45 gr.

Dari hasil pengamatan tekstur kentang yang kasar menjadi halus setelah direndam dalam larutan sukrosa menunjukkan bahwa kentang mengalami peristiwa osmosis dimana konsentrasi air dalam larutan sukrosa lebih tinggi daripada dalam sel kentang.

(10)

0,1 M 0,3 M 0,5 M 0,7 M

(11)

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum, pada percobaan tekanan osmosis diperoleh bahwa Tekanan osmosis sel dapat mempengaruhi terjadinya plasmolisis saat lingkungan di luar sel memiliki konsentrasi yang lebih tinggi. Dari keenam preparat Rhoe discolor yang direndam dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi berbeda didapatkan beberapa perbedaan jumlah sel sebelum dan sesudah di rendam.

Sedangkan pada percobaan potensial air jaringan umbi kentang semakin tinggi konsentrasi sukrosa dalam larutan yang digunakan, maka semakin rendah

persentase berat umbi kentang pada kondisi setelah perendaman namun perubahan berat kentang tidak sesuai dengan konsentrasi larutan sukrosa yang diberikan. Hal ini terjadi karena potongan kentang dari keempat perlakuan ini memiliki ukuran yang tidak semuanya sama

Saran

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bowman, W.D. 1989. The Relationship Between Leaf Water Status, Gas Exchange, And Spectral Reflectance In Cotton Leaves. Remote Sensing of Environment

30: 249-255.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Gajah Mada Universitas Press: Yogyakarta.

Ismail dan Abd Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan.Makassar : Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar

Morigan, Benny. 2008. Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel.

http://bennymorigan.blogspot.com/2008/03/penentuan-tekanan-osmosis-cairan-sel.html.( Diakses tanggal 8 juni 2016).

Pinem, Jhon Armedi. 2010. Perlakuan Pencucian Membran Reverse Osmosis Terhadap Penurunan Fouling Pada Membran. Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 9, No 2, hal 44.

Rahmasari, Hamita & Wahono Hadi Susanto. 2014. Ekstraksi Osmosis Pada

Pembuatan Sirup Murbei (Morus alba L.) Kajian Proporsi Buah: Sukrosa dan Lama Osmosis. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2, No 3, hal 192.

Salisbury, Frank B. & Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB.

Sdoodee, Sayan. 2008. Measurement Of Stem Water Potential As A Sensitive Indicator Of Water Stress In Neck Orange (Citrus reticulata Blanco). J. Sci. Technol. 30 (5), 561-564.

(13)

Lampiran

Perhitungan persentase perubahan berat umbi kentang ( Solanum tuberosum)

1. % perubahan berat = Beratak hirBeratAwalBeratAwalx 100 %

= 1,681,79−1,79x 100 % = -11%

2. % perubahan berat = Beratak hirBeratAwalBeratAwalx 100 %

= 1,771,97−1,97x 100 % = - 20%

3. % perubahan berat = Beratak hirBeratAwalBeratAwalx 100 %

= 1,622,00−2,00x 100 % = - 38 %

4. % perubahan berat = Beratak hirBeratAwalBeratAwalx 100 %

Gambar

Tabel I hasil pengamatan
Tabel II. Potensial Air
Grafik 1. Persentase perubahan berat kering umbi kentang (Solanum

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan hidrometer dimasukkan ke dalam gelas ukur berisi air dengan volume sebesar 25 ml, massa sebesar 25,1 gr,

mempermudah tablet mengalir dalam panci penyalut, bentuknya secembung mungkin untuk meminimalkan penggunaan larutan subcoating, harus keras supaya tahan terhadap benturan

Setelah suhu pada penambahan larutan HCl 4 M menjadi tetap/konstan, dimasukkan NaOH sebanyak 4,04 gram sedikit demi sedikit, lalu dicatat suhunya sampai suhu

Di hari sebelum penyimpanan pada suhu dingin tekstur buah pisang masih sangat segar dan keras, berwarna hijau kekuningan, beraroma khas pisang dan sedikit ada memar serta bagian

Sehingga hasil yang diperoleh tersebut tidak sesuai dengan teori yang ada karena teori menyebutkan bahwa apabila konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan

Larutan alginat dimasukkan sedikit demi sedikit dengan pipet kedalam larutan kitosan yang telah ditambah 1ml larutan kurkumin sambil di sentrifuse selama ±2 jam

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dimasukkan 0,5 ml larutan sampel (asam asetat, asam format, asam propionat) ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 0,5 ml NaOH..

Misalnya ketika jaringan dimasukkan ke dalam larutan fiksasi formalin 10%, maka jaringan akan mengalami sedikit namun ketika jaringan masuk ke dalam pematangan jaringan, maka