• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dentin Tersier Yang Terbentuk Pada Gigi Molar Rahang Bawah Atrisi Akibat Menyirih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Dentin Tersier Yang Terbentuk Pada Gigi Molar Rahang Bawah Atrisi Akibat Menyirih"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

DENTIN TERSIER YANG TERBENTUK PADA

GIGI MOLAR RAHANG BAWAH ATRISI

AKIBAT MENYIRIH

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteraan Gigi

Oleh :

RAHMAT SETIADI NABABAN NIM : 080600035

Pembimbing: 1. Yendriwati, drg., M.Kes. 2. Yumi Lindawati, drg., MDSc.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Biologi Oral

Tahun 2015 Rahmat Setiadi Nababan

DENTIN TERSIER YANG TERBENTUK PADA GIGI MOLAR

RAHANG BAWAH YANG ATRISI AKIBAT MENYIRIH

xi + 45 halaman

Dentin tersier adalah jaringan yang dibentuk sebagai respon yang terlokalisasi terhadap stimulus eksternal yang kuat dalam penggunaan gigi geligi. Atrisi akibat pengunyahan yang cepat dan berlebihan seperti menyirih akan memicu odontoblast-like cell membentuk dentin tersier. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui dentin tersier yang terbentuk pada gigi penyirih di setiap puncak pulpa yaitu linguomesial, linguodistal, bukomesial, bukodistal dan fisur, melihat perbedaan distribusi dentin tersier pada atap pulpa di setiap bagian puncak pulpa dan melihat hubungan dentin tersier yang terbentuk dengan usia, lama menyirih dan atrisi gigi.

(3)

Hasil penelitian diperoleh dentin tersier yang terbentuk ditemukan pada setiap puncak pulpa dari gigi yang mengalami atrisi dengan distribusi pada bagian linguomesial 90%, linguodistal 72,8%, bukomesial 100%, bukodistal 100%, dan fisur 90,9%.

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dentin tersier yang terbentuk ditemukan pada 11 sampel gigi molar bawah yang mengalami atrisi akibat menyirih. Dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa dan fisur gigi yang mengalami atrisi lebih banyak ditemukan dibagian bukal serta belum diperoleh hubungan yang signifikan antara dentin tersier yang terbentuk dengan usia penyirih, lama menyirih, dan derajat atrisi (p>0,05).

(4)

DENTIN TERSIER YANG TERBENTUK PADA

GIGI MOLAR RAHANG BAWAH ATRISI

AKIBAT MENYIRIH

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteraan Gigi

Oleh :

RAHMAT SETIADI NABABAN NIM : 080600035

Pembimbing: 1. Yendriwati, drg., M.Kes. 2. Yumi Lindawati, drg., MDSc.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji

Medan, 24 April 2015

Pembimbing: Tanda tangan

1. Yendriwati, drg., M.Kes ………

(6)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

pada tanggal 24 April 2015

TIM PENGUJI

KETUA : Yendriwati, drg., M.Kes

ANGGOTA : 1. Yumi Lindawati, drg,. MDSc

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan kasih-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Dentin Tersier Yang Terbentuk Pada Gigi

Molar Rahang Bawah Atrisi Akibat Menyirih” sebagai salah satu syarat untuk

mendapatkan gelar sarjana kedokteran gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Yendriwati, drg,. M.Kes dan Yumi Lindawati, drg., MDSc selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Rehulina Ginting, drg,. M.Si Selaku Ketua Departemen Ilmu Biologi Oral dan Lisna Unita, drg., M.Kes., Minasari, drg., MM., Dr. Ameta Primasari, drg., M.Kes., MDSc., selaku dosen di Departemen Ilmu Biologi Oral.

3. Cut Nurliza, drg., M.Kes selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingan dan dukungan moral yang diberikan.

4. Pegawai Departemen Biologi Oral : Ibu Naisah dan Ibu Dani atas bantuan moril yang telah diberikan.

(8)

menyemangati penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, serta dukungan dan doa yang diberikan selama ini.

Selanjutnya terimakasih juga penulis ucapkan kepada Betaria Pasaribu, Harnaldes Limbong, Lamser Hutasoit, Junaidi, Martin, Indra agung (bempong) dan semua teman seperjuangan stambuk 2008, teman-teman mahasiswa skripsi di BO dan sahabat-sahabat Pelangi Kost atas kebersamaan dan kekeluargaan selama penulis menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Gigi.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, pengembangan ilmu dan masyarakat.

Medan, April 2015 Penulis,

(9)
(10)

2.3.1 Daun Sirih ... 12

2.3.2 Kapur ... 12

2.3.3 Pinang ... 13

2.3.4 Gambir ... 13

2.4 Frekuensi, Lama Menyirih dan Usia Penyirih ... 13

2.5 Atrisi Gigi ... 14

2.5.1 Derajat Atrisi ... 15

2.5.2 Faktor Penyebab Atrisi Patologis ... 16

2.6 Hubungan Menyirih dengan Atrisi ... 17

2.7 Hubungan Atrisi dengan Dentin Tersier ... 17

2.8 Ciri-ciri Molar 1 dan Molar 2 Rahang bawah ... 19 4.1 Persentase Distribusi Dentin Tersier yang Terbentuk Pada Puncak Pulpa ... 31

4.2 Hubungan Usia Penyirih dengan Dentin Tersier yang Terbentuk pada Puncak Pulpa ... 31

4.3 Hubungan Lama Menyirih dengan Dentin Tersier yang Terbentuk Pada Puncak Pulpa ... 33

4.4 Hubungan Dentin Tersier yang Terbentuk Pada Puncak Pulpa Dengan Derajat Atrisi ... 34

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Persentase Distribusi Dentin Tersier yang Terbentuk Pada Puncak Pulpa ... 36

(11)

5.3 Hubungan Lama Menyirih dengan Dentin Tersier yang

Terbentuk Pada Puncak Pulpa ... 39 5.4 Hubungan Dentin Tersier yang Terbentuk Pada Puncak

Pulpa dengan Derajat Atrisi ... 39

BAB VI KESIMPULAN

6.1 Kesimpulan ... 42 6.2 Saran ... 42

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Karakteristik sampel... 30 2. Persentase distribusi dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa ... 31 3. Hubungan usia penyirih dengan dentin tersier yang terbentuk pada puncak

pulpa bagian lingual ... 31 4. Hubungan usia penyirih dengan dentin tersier yang terbentuk pada puncak

pulpa bagian bukal ... 32 5. Hubungan lama menyirih dengan dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa bagian lingual ... 33 6. Hubungan lama menyirih dengan dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa bagian bukal ... 33 7. Hubungan dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa bagian lingual

dengan derajat atrisi ... 34 8. Perbedaan dentin tersier yang terbentuk pada puncak pulpa bagian bukal

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Struktur gigi ... 6

2. Dentin primer, dentin sekunder ... ... 7

3. Dentin tersier akibat atrisi (40X)... 11

4. Indeks atrisi gigi ... 16

5. Gigi atrisi ... 17

6. Olympus SZX16 Microscope ... 19

7. Dentin tersier akibat menyirih dengan Microscope Olympus SZX16 pembesaran 1,25x1000 (Dokumentasi) ... 27

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Skema alur pikir 2. Kuesioner

3. Kuesioner pemilihan sampel gigi 4. Ethical Clearence

5. Gambaran mikroskopis dentin tersier dengan Olympus SZX16

Referensi

Dokumen terkait

Pulpa merupakan jaringan lunak pada gigi yang terletak di dalam gigi dan dikelilingi oleh dentin dan jaringan yang paling banyak terpapar dalam kasus kasus

Diagram batang kedalaman atap ruang pulpa dan dasar ruang pulpa gigi molar pertama rahang atas dan bawah dalam satuan millimeter. Dari 35 sampel gigi molar permanen

5.2 Pembentukan Kristal, Diameter Dentin Tertier, dan Tipe Margin Tubulus Dentin Pada Gigi Molar Pertama Bawah Permanen Penyirih Suku Karo di Pancur Batu Medan.. Menurut

Penelitian ini bertujuan mengetahui komplikasi yang paling sering terjadi post odontektomi molar ketiga rahang bawah impaksi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) FKG Universitas

kedua bawah kanan secara bedah, pemasangan Dtllon pada permukaan oklusal gigi. Gigi impaksi ditarik deDgan gaya yang cukup ringan ke gigi premolar penama ba$ah Larran

17 Stimulus yang ringan seperti pengunyahan fisiologis dapat menyebabkan iritasi kronis (atrisi) dan menyebabkan deposit dentin sekunder terbentuk oleh aktifitas odontoblas

Panjang lengkung gigi diukur dari pertengahan gigi insisivus sentralis tegak lurus terhadap garis yang menghubungkan puncak tonjol kaninus dan puncak tonjol disto-bukal gigi

Jenis fraktur gigi yang paling sering terjadi yaitu fraktur enamel dan dentin tanpa melibatkan pulpa 42,7%, fraktur hanya enamel 31,2%, serta enamel dan dentin melibatkan pulpa 4,6%.2