• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASUHAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

DISUSUN OLEH

TIM

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO

TAHUN 2013

(2)

DAFTAR ISI

Daftar Isi ... 2

Pendahuluan ... 3

Modul I : Prinsip Penanganan Kegawatdaruratan Maternal ... 6

Modul 2 : Kasus Maternal Dan Neonatal Yang Berisiko

Kegawatdaruratan ... 14

Pendokumentasian Asuhan Kebidanan Pada Kasus Kegawatdaruratan Maternal Dan Neonatal ... 42

(3)

PENDAHULUAN

Salah satu indikator yang menentukan pelayanan kesehatan dapat

dilihat dari angka kematian ibu dan bayi. Asuhan

Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal merupakan buku yang

membahas konsep dasar, penanganan, kondisi, asuhan dan

dokumentasi yang mungkin terjadi pada masa kehamilan, persalinan, dan

nifas. Ketika situasi tersebut terjadi, para calon bidan yang nantinya akan

terlibat langsung dalam penanganan pasien harus mampu sedini mungkin

melakukan deteksi sehingga dapat memberikan solusi yang tepat bagi ibu

maupun bayi. Selain itu, buku ini juga memberikan gambaran tentang

tindakan patologi kebidanan yang harus dilakukan (penatalaksanaan) untuk

tiap-tiap trimester kehamilan, ma.sa persalinan dan nifas.

Pentingnya mata kuliah ini adalah memberikan kemampuan pada

mahasiswa untuk melakukan penanganan kegawatdaruratan Maternal

Neonatal, sub pokok bahasan tentang penanganan persalinan sungsang

brach, penanganan kegawatdaruratan persalinan

klasik-mauriceau, penanganan kegawat daruratan persalinan

lovset-mauriceau, penanganan kegawatdaruratan persalinan

muller-mauriceau, penanganan kegawatdaruratan pada persalinan distosia

bahu,penanganan kegawatdaruratan pada ibu kala III dengan penyulit

manual plasenta,penanganan kegawatdaruratan pada kala III dengan

kompresi bimanual interna,penanganan kegawatdaruratan pada ibu

dengan kompresi bimanual eksterna, penanganan kegawatdaruratan pada

bayi Asfiksia.

Kaitannya dengan kompetensi lulusan Program Studi yang telah

ditetapkan, mata kuliah ini mendukung kompetensi lulusan : mampu

menjamin kualitas asuhan kebidanan yang komprehensif sesuai dengan

SOP.

Modul ini memberikan arah dan petunjuk belajar bagi mahasiswa

(4)

neonatal. Modul ini dikemas dalam tiga kegiatan belajar, yang disusun

dengan urutan sebagai berikut :

1. Kegiatan belajar 1 : Prinsip penanganan kegawatdaruratan

maternal dan neonatal

2. Kegiatan belajar 2 : Kasus maternal dan neonatal yang beresiko

kegawatdaruratan

3. Kegiatan belajar 3 : Pendokumentasian asuhan kebidanan pada

kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal

KEMAMPUAN AKHIR YANG DIHARAPKAN

1. Diharapkan peserta disik dapat mengetahui prinsip penanganan

Kegawatdaruratan pada Maternal

2. Diharapkan peserta didik dapat melakukan penanganan pada kasus

Kegawatdaruratan pada Neonatal

3. Diharapkan peserta didik dapat melakukan pendokumentasian pada

(5)

MODUL I

Prinsip Penanganan

(6)

PRINSIP PENANGANAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL

1. Uraian Materi

Kegawatdaruratan adalah kejadian yang tidak diduga atau terjadi

secara tiba-tiba, seringkali merupakan kejadian yang berrbahaya

(Dorlan, 2011).

Kegawatdaruratan dapat didefinisikan sebagai situasi serius dan

kadang kala berbahaya yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga

dan membutuhkan tindakan segera guna menyelamtkan jiwa/ nyawa

(Campbell S, Lee C, 2000).

Kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang mengancam

jiwa yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan

dan kelahiran. Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam

kehamilan yang mengancam keselamatan ibu dan bayinya

(Chamberlain, Geoffrey, & Phillip Steer, 1999).

Pengkajian awal kasus kegawatdaruran kebidanan secara tepat

a. Jalan nafas dan pernafasan

Perhatikan adanya cyanosis, gawat nafas, lakukan pemeriksaan

pada kulit adakah pucat, suara paru : adakah weezhing, sirkulasi

tanda-tanda syok, kaji kulit (dingin), nadi (cepat >110 kali/menit dan

lemah), tekanan darah (rendah, sistolik < 90 mmHg)

b. Perdarahan pervaginam

Bila ada perdarahan pervaginam tanyakan :

Apakah ibu sedang hamil, usia kehamilan, riwayat persalinan

sebelumnya dan sekarang, bagaimana proses kelahiran plasenta,

kaji kondisi vulva (jumlah darah yang keluar, placena tertanah),

uterus (adah atonia uteri), kondisi kandung kemih (apakah penuh)

c. Klien tidak sadar/kejang

Tanyakan pada keluarga, apakah ibu sedang hamil, usia

kehamilan, periksa tekanan darah (tinggi, diastolic >90 mmHg),

(7)

d. Demam yang berbahaya

Tanyakan apakah ibu lemah, lethargie, sering nyeri saat berkemih.

Periksa temperature (lebih dari 39oC), tingkat kesadara, kaku,

paru-paru (pernafasan dangkal), abdomen (tegang), vulva (keluar

cairan purulent), payudara bengkak

e. Nyeri abdomen

Keluaran darah, adanya kontraksi uterus, pucat lemat, pusing, sakit

kepala, pandangan kabur, pecah ketuban, demam dan gawat

nafas.

Pengenalan dan penanganan kasus-kasus yang gawat seharusnya

mendapat prioritas utama dalam usaha menurunkan angka kesakitan

lebih lagi angka kematian ibu, walaupun tentu saja pencegahan lebih

baik dari pada pengobatan. Dalam kegawatdaruratan peran anda

sebagai bidan antara lain :

a. Melakukan pengenalan segera kondisi gawat darurat

b. Stabilisasi klien (ibu) dengan oksigen, terapi cairan, dan

medikamentosa dengan menjamin kelancaran jalan nafas,

memperbaiki fungsi system respirasi dan sirkulasi, menghentikan

perdarahan, mengganti cairan tubuh yang hilang, mengatasi nyeri

dan kegelisahan

c. Ditempat kerja, menyiapkan sarana dan prasarana dikamar

bersalin

d. Memiliki keterampilan klinik : mampu melakukan resusitasi pada

ibu dan bayi dengan peralatan berkesinambungan.

PRINSIP PENANGANAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL

NEONATAL

1. Sistem rujuan kasus neonatal

a. Pengertian

Sistem rujukan adalah sistem di dalam pelayanan kesehatan

(8)

atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal maupun

horizontal. Sistem yang dikelola secara strategis, proaktif,

pragmatif dan koordinatif untuk menjamin pemerataan pelayanan

kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan

komprehensif bagi masyarakat yang membutuhkannya terutama

ibu dan bayi baru lahir, dimanapun mereka berada dan berasal dari

golongan ekonomi manapun agar dapat dicapai peningkatan

derajat kesehatan dan neonatal di wilayah mereka berada. Suatu

sistem yang memberikan suatu gambaran tata cara pengiriman

neonatus resiko tinggi dari tempat yang kurang mampu

memberikan penanganan ke Rumah Sakit yang dianggap

mempunyai fasilitas yang lebih mampu dalam hal

penatalaksanaannya secara menyeluruh (mempunyai fasilitas

yang lebih dalam hal tenaga medis, laboratorium, perawatan dan

pengobatan)

b. Tujuan

1) Memberikan pelayanan kesehatan pada neonatus dengan cepat

dan tepat

2) Menggunakan fasilitas kesehatan neonatus seefesien mungkin

3) Mengadakan pembagian tugas pelayanan kesehatan neonatus

pada unit-unit kesehatan sesuai dengan lokasi dan kemampuan

unit-unit tersebut

4) Mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi

5) Meningkatkan upaya promotif, preventif,kuratif dan rehabilitatif

secara berdaya guna dan berhasil guna

c. Pelaksanaan

Sesuai dengan pembagian tingkat perawatan maka unit perawatan bayi

baru lahir dapat dibagi menjadi:

1) Unit perawatan bayi baru lahir tingkat III

Kasus rujukan yang dapat dilakukan adalah bayi kurang bulan,

(9)

memerlukan tindakan segera, gangguan pengeluaran mekonium

disertai kembung dan muntah, ikterik yang timbulnya terlalu awal atau

lebih dari dua minggu dan diare.

Pada unit ini perlu penguasaan terhadap pertolongan pertama

kegawatan BBL yaitu identifikasi sindroma ganguan nafas, infeksi atau

sepsis, cacat bawaan dengan tindakan segera,ikterus,muntah,

pendarahan, BBLR dan diare.

2) Unit perawatan bayi baru lahir tingkat II :

Perawatan bayi yang baru lahir pada unit ini meliputi pertolongan

resusitasi bayi baru lahir dan resusitasi pada kegawatan selama

pemasangan endotrakeal, terapi oksigen, pemberian cairan intravena,

terapi sinar dan tranfusi tukar, penatalaksanaan hipoglikemi, perawatan

BBLR dan bayi lahir dengan tindakan.

Pada unit ini diperlukan sarana penunjang berupa laboratorium dan

pemeriksaan radiologis serta ketersediaan tenaga medis yang mampu

melakukan tindakan bedah segera pada bayi.

3) Unit perawatan bayi baru lahir tingkat I :

Pada unit ini semua aspek yang menyangkut dengan masalah

perinatologi dan neonatologi dapat ditangani disini.

Unit ini merupakan pusat rujukan sehingga kasus yang ditangani

sebagian besar merupakan kasus resiko tinggi baik dalam kehamilan,

persalinan maupun bayi baru lahir.

d. Mekanisme rujukan

1. Penemuan masalah pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih

Penemuan neonatus, bayi dan balita yang tidak dapat ditangani oleh

kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan

kesehatan.

2. Penentuan tingkat kegawatdaruratan pada tingkat bidan desa,

puskesmas

3. Penentuan tingkat kegawatdaruratan kasus sesuai dengan

(10)

tingkatannya serta penentuan kasus yang dapat ditangani sendiri

dan kasus yang harus dirujuk.

4. Pemberikan informasi kepada penderita dan keluarga

Pemberian informasi mengenai kondisi atau masalah bayi yang akan

dirujuk kepada orangtua atau kelurga bayi, sehingga orangtua atau

keluarga memahami kondisi bayi

4) Pengiriman informasi pada tempat rujukan yang dituju

a) Memberitahukan kepada petugas di tempat rujukan bahwa akan ada

penderita yang dirujuk

b) Meminta petunjuk pelayanan yang perlu dilakukan dalam rangka

persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan

c) Meminta petunjuk dan cara penanganan untuk menolong penderita

bila penderita tidak mungkin dikirim

5) Persiapan penderita (BAKSOKUDA)

B (Bidan) yaitu pastikan ibu/ bayi/ klien didampingi oleh tenaga

kesehatan yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk

melaksanakan kegawatdaruratan

A (Alat) yaitu bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan

seperti spuit, infus set, tensimeter dan stetoskop

K (keluarga) yaitu beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien)

dan alasan mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota

keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat

rujukan.

S (Surat) yaitu beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu

(klien), alasan rujukan, uraian hasil rujuka, asuhan atau

obat-obat yang telah diterima ibu

O (Obat) yaitu bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama

perjalanan merujuk

K (Kendaraan) yaitu siapkan kendaraan yang cukup baik untuk

memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang nyaman dan

(11)

U (Uang) yaitu ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah

yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang

diperlukan di tempar rujukan

DA (Darah) yaitu siapkan darah untuk sewaktu-waktu membutuhkan

transfusi darah apabila terjadi perdarahan

6) Pengiriman Penderita (Ketersediaan sarana kendaraan)

Untuk mempercepat pengiriman penderita sampai ke tujuan, perlu

diupayakan kendaraan/sarana transportasi yang tersedia untuk

mengangkut penderita

7) Tindak lanjut penderita

Penderita yang telah dikembalikan melaporkan pada instansi rujukan

terkait jika memerlukan tindak lanjut dan lakukan kunjungan rumah bila

penderita yang memerlukan tindakan lanjut tidak melapo

2. Petunjuk Praktikum

a. Perhatikan petunjuk pelaksanaan Prosedur

b. Lakukan prosedur Resusitasi Pada bayi Baru lahir

3. Prosedur Pelaksanaan

Penilaian :

0 Jika tidak dilakukan

1 Jika dilakukan tetapi kurang sempurna

(12)

RESUSITASI PADA BAYI BARU LAHIR

No Butiran yang dinilai Nilai

2 1 0

A SIKAP

1 Teruji memperkenalkan diri

2 Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan dan persetujuan tertulis oleh keluarga

11 Membersihkan jalan nafas dengan menghisap mulut

lalu hidung, tidak terlalu dalam di tenggorokan dengan de lee atau balon karet

12 Mengeringkan dan memberikan rangsangan taktil dengan lembut (menggosok punggung bayi atau menyentil kaki bayi atau menepuk dengan lembut)

13 Mengatur posisi bayi kembali

14 Nilai ulang keadaan bayi

15 Memasang sungkup pada wajah bayi (melingkupi mulut, hidung, dan dagu)

16 Merapatkan perlekatan sungkup dan wajah

17 Cek perlekatan sungkup dengan 2x ventilasi dan amati pengambangan dada

18 Lakukan ventilasi selama 20x tiupan dalam 30 detik, berhenti dan menilai terjadinya nafas spontan

19 Membereskan alat dan merendam dalam larutan klorin 0,5 %

(13)

20 Melepaskan sarung tangan dan mencuci dalam larutan tangan klorin 0,5 % dan dilepas secara terbalik

21 Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir 22 Menberitahukan hasil tindakan pada orangtua atau

keluarga

Skor: 34

C TEKNIK

23 Melakukan secara berurutan dan sistematis

24 Menjaga kehangatan bayi

25 Melaksanakan tindakan dengan lembut dan hati-hati

26 Menjaga keselamatan bayi

(14)

MODUL 2

(15)

KASUS MATERNAL DAN NEONATAL YANG BERISIKO

KEGAWATDARURATAN

1. Uraian Materi

a. Infeksi akut

Definisi

Kasus gawat darurat obstetric adalah kasus obstetric yang apabila

tidak segera ditangani akan berakibat kematian ibu dan janinnya.

Kasus ini menjadi penyebab utama kematian ibu dan bayi baru

lahir.

Infeksi akut dan sepsis

Infeksi akut ditandai dengan kalor (demam), rubor (merah), dolor

(nyeri), tumor (benjolanpembengkakan) dan function lesa

(terganggu). Tidak jarang jaringan yang terkena infeksi

mengeluarkan bau atau cairan yang berbau busuk, misalnya

infeksi di organ genetalia dapat disertai pengeluaran cairan

pervaginam berbau busuk.

Diagnose

1. Tentukan kasus dalam kondisi demam atau tidak

2. Tentukan kasus dalam kondisi syok atau tidak

3. Cari keterangan tentang faktor predisposisi atau penyakit

yang erat hubungannya.

4. Tentukan sumber infeksi

5. Pada infeksi genetalia beberapa kondisi seperti secret/cairan

berbau busuk keluar dari vagina, pus keluar dari servik, air

ketuban hijau kental dapat erbau busuk atau tidak, subinvolusi

Rahim

6. Infeksi pelvis dengan nyeri rahim, nyeri goyang servik, nyeri

(16)

Penanganan

1. Tindakan umum

Pantau tanda-tanda vital

2. Pemberian oksigen, tidak perlu diberikan apabila kondisi

penderita stabil dan kecil resiko mengalami syok septic

Apabila penderita tidak stabil pemberian oksigen dalam

kecepatan 6-8 L/menit

3. Pemberian cairan intravena

Banyaknya caiaran yang diberikan harus diperhitungkan

scara hati-hati, tidak sebebas seperti syok pada perdarahan,

oleh karena tidak terdapat kehilangan jumlah cairan yang

banyak.

4. Pemberian antibiotic

Diberikan apabila terdapat infeksi, pada kasus sepsis, syok

septik.

5. Pemeriksaan darah

Bila tampak anemic diperiksa hemoglobin dan hematokrit

sekaligus golongan darah dan cross match

6. Pemeriksaan urin

Dalam kondisi syok biasanya produksi urin sedikit sekali atau

bahkan tidak ada, berat jenis urin meningkat lebih dari 1.020.

b. Abortus

Pada awal kehamilan, ibu mungkin akan mengalami perdarahan

yang sedikit (spotting) disekitar waktu pertama terlambat haid.

Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi (penempelan hasil

konsepsi pada dinding rahim) dan ini normal terjadi. Pada waktu

yang lain dalam kehamilan, perdarahan ringan mungkin terjadi

pertanda servik yang rapuh (erosi). Perdarahan semacam ini

mungkin normal atau mungkin suatu tanda terjadinya keguguran

(17)

hasil konsepsi pada kehamilan kurang dari 20 minggu. Berikut ini

adalah macam-macam abortus:

a) Abortus Spontan

Adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervalluar

(buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut.

Penanganannya yaitu:

1. Lakukan penilaian awal untuk segera menentukan kondisi

pasien (gawatdarurat, komplikasiberat, atau masih cukup

stabil)

2. Segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan

tindakan lanjutan (evaluasi medik atau merujuk), temukan

dan hentikan dengan segera sumberperdarahan, lakukan

pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan

danperkembangan lanjutan.

b) Abortus Provokatus (induced abortion)

Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai

obat-obatan maupun alat-alat.

c) Abortus medisinalis

Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila

kehamilandilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu

(berdasarkan indikasi medis) biasanya perlu mendapat

persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.

d) Abortus Kriminalis

Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang

tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

e) Abortus inkompletus (keguguran bersisa)

Adalah hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan,

yang tertinggal adalah plasenta.

Penanganannya yaitu:

1) Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan

(18)

2) Keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode

digital dan kuretase.

3) Beri obat uterotonika dan antibiotika.

f) Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung)

Adalah abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sdah

terbuka dan ketuban yang teraba kehamilan tidak dapat

dipertahankan lagi.

Penanganannya yaitu:

1) Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan

pemberian cairan dan transfuse darah.

2) Keluarkan jaringan secepatnya mungkin dengan metode

digital dan kuretase.

3) Beri obat-obat uterotonika dan antibiotika.

g) Abortus imminens (ancaman keguguran)

Adalah keguguran yang mengancam akan terjadi. Dalam hal ini

keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan

obat-obatan hormonal dan anti spasmodika sertai istirahat.

Penanganan tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring

total, jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau

hubungan seksual.

h) Missed abortion

Adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada

dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.

Penanganannya yaitu dengan berikan obat dengan maksud

agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan,

kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. Hendaknya

juga diberikan uterotonika dan antibiotika.

c. Kasus Perdarahan Post Partum Dalam Obstetric

1) Plasenta Previa

Plasenta Previa adalah plasenta yang ada di depan jalan lahir

(19)

previa ialah placenta yang implantasinya tidak normal yakni

rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian Ostium

Internum. ( Prof. Dr. Rustam Moctar MPH., 1998).

Plasenta previa ialah suatu kehamilan dimana plasenta

berimplantasi abnormal pada segmen bawah rahim (SBR),

menutupi ataupun tidak menutupi ostium uteri internum (OUI),

sedangkan kehamilan itu sudah viable atau mampu hidup di

luar rahim (usia kehamilan >20mg dan atau berat janin >500gr).

2) Atonia uteri

Atonia uteri adalah uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik

setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir).

(JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta;

2002). Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan

pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering

untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi uterus

merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan

setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan

mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis

dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang

mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah

implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut

miometrium tersebut tidak berkontraksi.

3) Inversio uteri

Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik

sebagian atau seluruhnya masuk kedalam kavum uteri.

Menurut dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SpOG Inversio Uteri

merupakan keadaan dimana terbaliknya uteri kedalam kavum

uteri yang dapat menimbulkan nyeri dan perdarahan.

Faktor yang dapat menimbulkan inversio uteri:

a. Spontan karena tekanan abdominal meningkat dan saat

(20)

b. Persalinan plasenta secara Crede, namun kontraksi otot

rahim belum kuat.

c. Tarikan tali pusat sebagai upaya untuk melahirkan

plasenta

d. Kasus Hipertensi Dalam Kehamilan Dan Persalinan

1) Pre eklamsia

Pre eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria

dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20

minggu atau segera setelah persalinan. Menurut kamus saku

kedokteran Dorland, preeclampsia adalah toksemia

pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi,edema,

dan proteinuria.

Klasifikasi preeklampsia

a. Pre eklamsia ringan

 Tekanan darah sistole 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam

 Tekanan darah diastole 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam

 Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu. Edema umum, kaki, jari tangan dan muka.

 Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1

sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran

pertengahan.

b. Pre eklampsia berat

 Diagnosa PEB ditegakkan apabila pada kehamilan > 20

minggu didapatkan satu/lebih gejala/tanda di bawah

ini Tekanan darah 160/110 mmHg

 Ibu hamil dalam keadaan relaksasi (pengukuran tekanan darah minimal setelah istirahat 10 menit)

(21)

 Oligouria, urin kurang dari 500 cc/24 jam.

 Poteinuria 5 gr/liter atau lebih atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif.

 Terdapat edema paru dan sianosis.

 Gangguan visus dan serebral.

 Keluhan subjektif

 Nyeri epigastrium

 Gangguan penglihatan Nyeri kepala

 Gangguan pertumbuhan janin intrauteri.

 Pemeriksaan trombosit c. Penanganan

1. Penanganan pre eklamsia ringan

 Istirahat di tempat tidur dengan berbaring ke arah

sisi tubuh

 fenobarbital 3×30 mg per hari (menenangkan

penderitaan dan menurunkan tensi)

 pengurangan garam dalam diet

 pemakaian diuretik dan antihipertensi tidak dianjurkan

 jika tidak ada perbaikan dan tensi terus mningkat, retensi cairan dan proteinuria bertambah maka

pengakhiran kehamilan dilakukan meskipun janin

msh prematur

 Penanganan pre eklamsia berat

 Jika pasien datang dengan pre eklampsia berat) beri sedativa yang kuat untuk mecegah kejang :

 larutan sulfas magnesikus 50% sebanyak 10 ml disuntikkan IM, dapat diulang 2 ml tiap 4 jam.

(22)

100mg, prometazin 50 mg sebagai infus

intravena.

 perlu obat hipotensif

 jika oliguria, beri glukosa 20% iv diuretik tdk rutin, hanya bila retensi air banyak setelah bahaya akut

berakhir, dipertimbangkan untuk menghentikan

kehamilan.

e. Kasus Persalinan Macet/Distosia Bahu

Ketidakmampuan melahirkan bahu pada persalinan

normal. Tertahannya bahu depan diatas simfisis. Angka kejadian

distosia bahu tergantung pada kriteriadiagnosa yang

digunakan.Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila

dalam persalinan pervaginam untuk melahirkan bahu harus

dilakukan maneuver khusus seperti traksi curam bawah dan

episiotomi. Spong dkk (1995) menggunakan sebuah kriteria

objektif untuk menentukan adanya distosia bahu yaitu interval

waktu antara lahirnya kepala dengan seluruh tubuh. Nilai normal

interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan

seluruh tubuh adalah 24 detik , pada distosia bahu 79 detik. Mereka

mengusulkan bahwa distosia bahu adalah bila interval waktu

tersebut lebih dari 60 detik.

Penatalaksanaan

1. Pertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu

adalah melakukan traksi curam bawah sambil meminta ibu

untuk meneran.

2. Lakukan episiotomi.

Setelah membersihkan mulut dan hidung anak, lakukan

usaha untuk membebaskan bahu anterior dari simfsis pubis

(23)

a) Tekanan ringan pada suprapubic

Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan

secara bersamaan dilakukan traksi curam bawah pada

kepala janin. Tekanan ringan dilakukan oleh asisten pada

daerah suprapubic saat traksi curam bawah pada kepala

janin.

b) Maneuver Mc Robert

Tehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun

1983 dan selanjutnya William A Mc Robert

mempopulerkannya di University of Texas di

Houston. Maneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari

penyangga dan melakukan fleksi sehingga paha

menempel pada abdomen ibu. Tindakan ini dapat

menyebabkan sacrum mendatar, rotasi simfisis pubis

kearah kepala maternal dan mengurangi sudut inklinasi.

Meskipun ukuran panggul tak berubah, rotasi cephalad

panggul cenderung untuk membebaskan bahu depan

yang terhimpit.

Ruang lingkup kegawatdaruratan neonatal yaitu :

1. BBLR

Pengertian : BB bayi baru lahir yang kurang dari 2500 gram tanpa

memandang masa gestasi.

Penyebab : persalinan kurang bulan/ prematur dan bayi lahir kecil

untuk masa kehamilan.

2. Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Pengertian : kegagalan nafas secara spontan dan eratur pada saat

bayi lahir/ beberapa saat setelah lahir.

Penyebab : berkaitan dengan kondisi ibu, masalah pada tali pusat dan

(24)

3. Kejang pada Bayi Baru Lahir

Perubahan secara tiba-tiba ungsi neuroloi baik fungsi motorik maupun

fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak.

KUMPULAN CHEKLIST

Prosedur Pelaksanaan

Penilaian :

0 Jika tidak dilakukan

1 Jika dilakukan tetapi kurang sempurna

2 Jika dilakukan dengan benar

CHECLIST KOMPRESI BIMANUAL EKSTERNA (KBE)

NO BUTIR YANG DINILAI NILAI

0 1 2 A. SIKAP DAN PRILAKU

1 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 2 Teruji bersikap sopan

3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sabar dan teliti

SCORE : 10 B. CONTENT / ISI

1 Memakai celemek

2 Cuci tangan dan menyiapkan serta menempatkan alat secara ergonomis

3 Melakukan informed consent

4 Penolong berdiri menghadap pada sisi kanan ibu 5 Tekan ujung jari telunjuk, tengah dan manis satu

tangan di antara simpisis dan umbilicus pada corpus depan bawah sehingga fundus uteri naik kearah dinding abdomen

(25)

bagian belakang uteri seluas mungkin dan dorong uterus ke arah korpus depan (vertal)

7 Lakukan kompresi korpus uteri dengan jalan menekan dinding belakang dan dinding depan uterus dengan cara saling merapatkan / mendekatkan kedua tangan untuk melakukan kompresi pembuluh darah uterus 8 Perhatikan perdarahan pervaginam. Bila perdarahan

berhenti pertahankan posisi tersebut hingga uterus dapat berkontraksi dengan baik

9 Bereskan alat dan rendam dalam larutan clorin 0,5 % 10 Mencuci tangan

SCORE : 20 C. TEKNIK

1 Teruji melakukan secara sistematis dan berurutan 2 Teruji menjaga privacy pasien

3 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 4 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu

(26)

CHECKLIST

KOMPRESI BIMANUAL INTERNA ( KBI )

NO BUTIR YANG DINILAI 2 1 0

A SIKAP DAN PERILAKU

1 Menyapa pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah

2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dorsal recumbent 4 Teruji tanggap terhadap reaksi ibu

5 Teruji sabar dan teliti

8 Memberikan informed consent 9 Memberikan dukungan emosional

10 Melakukan desinfeksi menggunakan pinset 11 Memasang Sarung tangan DTT

12 Mengosongkan kandung kemih dan memastikan perdarahan karena atonia uteri

13 Memasukkan tangan secara obstetrik ke dalam lumen vagina (menyatukan kelima ujung jari)

14 Periksa vagina dan servik jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri mungkin hal ini menyebabkan uterus tak dapat berkontraksi

15 Kepalkan tangan dalam dan letakkan dataran punggung jari telunjuk hingga kelingking pada fornik anterior dan dorong segmen bawah uterus ke kranio anterior

16 Letakkan telapak tangan luar pada dinding perut ibu, upayakan tangan luar mencakup bagian belakang korpus uteri sebanyak mungkin

17 Lakukan kompresi uterus dengan mendekatkan telapak tangan luar dan kepalan tangan dalam pada fornik anterior

(27)

berkontraksi sampai perdarahan berhenti dan uterus berkontraksi

19 Setelah uterus berkontraksi pertahankan posisi tersebut hingga uterus berkontraksi dengan baik dan secara perlahan lepaskan tangan anda

20 Menjelaskan pada ibu bahwa telah selesai dilakukan tindakan KBI dan mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya

21 Alat-alat direndam dalam larutan clorin 0,5% 22 Ibu dirapikan dan baju diganti dengan baju bersih 23 Mencuci tangan

Score : 36 C TEHNIK

17 Teruji melakukan secara sistematis

18 Teruji berlaku sopan dalam tindakan dan menjaga privacy pasien

19 Teruji melakukan tindakan dengan hati-hati dan teliti 20 Teruji percaya diri dan tidak gugup

21 Teruji mendokumentasikan hasil tindakan Score : 10

(28)

CHECKLIST

PERTOLONGAN DISTOSIA BAHU

NO BUTIR YANG DINILAI NILAI

0 1 2 A. SIKAP DAN PERILAKU

1. Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 2. Teruji bersikap sopan dan minta ijin untuk melakukan

tindakan

3. Teruji memposisikan pasien

4. Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5. Teruji sabar dan teliti

B. CONTENT/ ISI

6 Cuci tangan dan memakai sarung tangan DTT 7 Bersihkan daerah perneum

8 Pasang duk dibawah bokong ibu 9 Meminta bantuan 2 orang asisten

10 Membuat episiotomi yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan memberikan ruangan yang cukup untuk melakukan tindakan a. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah antara

kepala bayi dan perineum.

b. Masukan jarum secara subkutan, mulai komisura posterior menelusuri sepanjang perineum dengan sudut 45 kearah kanan ibu ( tempat akan

e. Tekan tempat infiltrasi agar anestesi menyebar. Tunggu 1-2 menit sebelum melakukan episiotomi f. Lakukan episiotomi

(29)

12 Dengan memakai sarung tangan yang telah di DTT : a. Melakukan tarikan yang kuat dan terus menerus

kearah bawah pada kepala janin untuk menggerakan bahu depan dibawah sympisis pubis (hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibatkan trauma pada fleksus brakhialis

b. Meminta seseorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu (jangan menekan fundus karena dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptura uteri).

13 Jika bahu masih belum dapat dilahirkan : a. Masukan tangan kedalam vagina

b. Lakukan penekanan pada bahu yang terletak di depan dengan arah sternum bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu

c. Jika diperlukan lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum

14 Jika bahu masih belum dapat dilahirkan : a. Masukan tangan kedalam vagina

b. Rahi humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakan lengan ke arah dada, sehingga bahu depan dapat bergerak dibawah simpisis pubis 18 Memberitahu hasil tindakan dan memberikan selamat

pada ibu

19 Mendokumentasikan hasil

20 Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan 21 Teruji menjaga privacy pasien

(30)

23 Teruji melaksanakan tindakan dengan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu

24 Teruji mendukung pasien untuk kooperatif Total score 48

(31)

CHEKLIST

PERSALINAN METODE LOVSET

NO BUTIR YANG DINILAI NILAI

0 1 2 A SIKAP DAN PERILAKU

1 Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 2 Teruji bersikap sopan dan minta ijin untuk melakukan

tindakan

3 Teruji memposisikan pasien

4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sabar dan teliti

B CONTENT/ ISI

6 Cuci tangan dan memakai sarung tangan DTT

7 Melakukan perasat lovset jika ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala

8 Badan janin dipegang secara Femuro-Pelviks yaitu kedua ibu jari penolong diletakkan sejajar Spina sakralis media dan jari telunjuk pada Krista iliaka dan jari-jari lain mencengkeram paha bagian depan

9 Dengan pegangan ini dilakukan traksi curam kebawah badan janin diputar setengah lingkaran sehingga bahu belakang menjadi bahu depan

10 Sambil dilakukan traksi, badan janin diputar kembali kearah yang berlawanan setengah lingkaran. Demikian bolak-balik, sehingga bahu belakang tampak dibawah simfisis dan lengan dapat dilahirkan 11 Bila lengan janin tidak dapat lahir dengan sendirinya,

maka lengan janin dapat dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan dengan kedua jari penolong. (Tolong persalinan sampai bayi lahir seluruhnya) 12 Celupkan sarung tangan tangan dalam larutan klorin

0,5 % dan lepaskan dalam keadaan terbalik, rendam selama 10 menit

C TEKHNIK

13 Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan 14 Teruji menjaga privacy pasien

(32)

16 Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu

(33)

CHEKLIST

PERSALINAN METODE MUELLER

NO BUTIR YANG DINILAI NILAI

0 1 2 A SIKAP DAN PERILAKU

1 Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 2 Teruji bersikap sopan dan minta ijin untuk melakukan

tindakan

3 Teruji memposisikan pasien

4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sabar dan teliti

B CONTENT/ ISI 6 Posisikan ibu litotomi

7 Cuci tangan dan memakai sarung tangan DTT 8 Bersihkan daerah perineum

9 Meletakkan handuk diatas perut ibu dan Pasang duk dibawah bokong ibu

10 Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban, dan penurunsan bokong dan kemungkinan penyulit

11 Instruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his, mulai dengan menarik nafas dalam, katupkan mulut upayakan tenaga mendorong ke abdomen dan anus. Kedua tangan menarik lipat lutut, angkat kepala dan lihat ke pusar

12 Pimpin berulang kali hingga bokong turun kedasar panggul. lakukan episiotomi mediolateralis saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis

13 Melahirkan bahu dan tangan bayi (pengeluaran bahu dengan tangan secara muller dilakukan jika dengan brach bahu dan tangan tidak bisa lahir)

14 Melonggarkan tali pusat dan menunggu kaki janin lahir seluruhnya

15 Memegang bokong bayi sambil menarik lembut kearah bawah

(34)

belakang kontra lateral dari letak bahu depan. Tarik badan bayi curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu depan nampak dibawah simpisis. Bila lengan belum lahir, lahirkan lengan dengan menelusuri punggung, scapula fossa cubiti dan lipat siku

17 Melahirkan bahu dan lengan belakang bayi dengan ekstraksi tarik badan bayi ke atas sampai bahu belakang lahir dengan sendirinya lahirkan lengan belakang dengan mengait lengan bawah dengan kedua jari penolong 18 Letakkan bayi diatas perut ibu keringkan dan nilai bayi 19 Celupkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% dan

Lepaskan dalam keadaan terbalik 20 Cuci tangan

C TEKHNIK

21 Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan 22 Teruji menjaga privacy pasien

23 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 24 Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan

tidak ragu-ragu

(35)

CHECKLIST

2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dorsal recumbent 4 Teruji tanggap terhadap reaksi ibu

5 Teruji sabar dan teliti

8 Memberikan informed consent 9 Pasang sarung tangan DTT

10 Baringkan ibu diatas ranjang, Penolong berdiri menghadap pada sisi kanan ibu. Atur posisi penolong sehingga ibu berada pada ketinggian yang sama dengan pinggul penolong

11 Tungkai diletakkan pada dasar yang rata (tidak menggunakan penopang kaki) dengan sedikit fleksi pada artikulasio koksae

12 Pada pulsasi arteri pulmonalis dengan jalan meletakkan ujung jari telunjuk dan tengah, tangan kanan pada lipat paha dengan garis harizontal yang melalui titik 1 cm diatas dan sejajar dengan tepi atas simpisis ossium pubis. Psastikan pulsasi arteri tersebut teraba dengan baik

13 Setelah pulsasi dikenali, jangan pindahklan kedua ujung jari dari titik pulsasi tersebut

14 Kepalkan tangan kiri dan tekan bagian punggung jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking pada umbilikus ke arah kolumna vetebrsalis dengan arah tegak lurus. 15 Dorongan kepalan tangan akan mengenai bagian

(36)

abdominalis maka pulsasi arteri pulmonalis (yang dipantau dengan ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanan) akan berkurang atau terhenti (tergantung derajat tekanan pada aorta)

16 Perhatikan perubahan perdarahhan pervaginam (kaitkan dengan perubahan pulsasu arteri femoralis) 17 Bila berkurang atau berhenti, pertahankan posisi

tersebut dan lakukan massase uterus (oleh asisten) hingga uterus berkontraksi dengan baik

18 Menjelaskan pada ibu bahwa telah selesai dilakukan tindakan KAA dan mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya

19 Alat-alat direndam dalam larutan clorin 0,5% 20 Ibu dirapikan dan baju diganti dengan baju bersih 21 Mencuci tangan

Score : 32 C TEHNIK

21 Teruji melakukan secara sistematis

22 Teruji berlaku sopan dalam tindakan dan menjaga privacy pasien

23 Teruji melakukan tindakan dengan hati-hati dan teliti 24 Teruji percaya diri dan tidak gugup

25 Teruji mendokumentasikan hasil tindakan Score : 10

(37)

CHECKLIST

MANUAL PLASENTA

NO BUTIR YANG DINILAI 0 1 2

A SIKAP DAN PERILAKU

1 Menyapa pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah

2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dorsal recumbent 4 Teruji tanggap terhadap reaksi ibu

5 Teruji sabar dan teliti

8 Memberikan informed consent 9 Pasang sarung tangan DTT 10 Bersihkan vulva dan perineum 11 Mengosongkan kandung kemih

12 Penolong berdiri menghadap vulva perineum ibu 13 Jepit tali pusat dengan klem berjarak 5-10 cm dari

vulva,tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai 14 Secara obstetrik masukan tangan lainnya (punggung

tangan menghadap ke bawah ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat

15 Setelah sampai bukaan servik, minta seseorang asisten/penolong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri

16 Sambil menahan fundus, masukan tangan dalam hingga ke kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta

17 Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi salam ( ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling merapat)

(38)

 Bila plasenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetap disebelah atas dan sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap kebawah (posterior ibu)

 Bila di korpus depan maka pindahkan tangan ke sebelah atas tali pusat dan sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke atas (anterior ibu)

19 Setelah ujung –ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan ke kiri sambil digeser ke atas (kranial ibu) hingga semua perlekatan plasenta terlepas dari dinding uterus 20 Jika plasenta tidak dapat dilepaskan dari permukaan

uterus, kemungkinan plasenta akreta, dan lakukan rujukan

21 Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada sisi plasenta yang tertinggal

22 Pindahkan tangan luar ke supra simpisis untuk menahan uterus saat plasenta dikeluarkan

23 Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simpisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian instruksikan assisten/penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa plasenta keluar (hindari terjadinya percikan darah)

24 Lakukan penekanan (denagn tangan yang menahan supra simfisis) uterus kearah dorso kranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah yang telah disediakan

25 Celupkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% dan alat-alat direndam dalam larutan clorin 0,5% 26 Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir 27 Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering 28 Menjelaskan pada ibu bahwa telah selesai dilakukan

(39)

Score : 46 C TEHNIK

29 Teruji melakukan secara sistematis

30 Teruji berlaku sopan dalam tindakan dan menjaga privacy pasien

31 Teruji melakukan tindakan dengan hati-hati dan teliti 32 Teruji percaya diri dan tidak gugup

33 Teruji mendokumentasikan hasil tindakan Score : 10

(40)

CHECKLIST

DENGAN METODE MAURICEAU

NO BUTIR YANG DINILAI 0 1 2

A SIKAP DAN PERILAKU

1 Menjelaskan prosedur yang dilakukan

2 Teruji bersikap sopan dan minta ijin untuk melakukan tindakan

3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sabar dan teliti

Score : 10 B CONTENT / ISI 6 Cuci tangan

7 Menggunakan barier ptotektif

8 Menggunakan sarung tangan DTT/Steril

9 Meletakkan badan bayi diatas tangan kiri letakkan seolah –olah badan bayi menunggang kuda

10 Memasukan jari tengah kedalam mulut bayi, jari tengah masuk kemulut bayi, dua jari lain oada maksila dan menekan kearah badan bayi bertujuan mempertahankan posisi kepala agar tetap fleksi

11 Mencengkaram atau memegang leher bayi dari arah punggung cengkraman dengan tangan kanan dari arah punggung. Jari telunjuk menunjuk pada suboksiput. Dua jari lain pada leher bayi

12 Assisten menekan fundus uteri (hati-hati sebaiknya melakukan tindakan ini pada saat ada his yang baik). 13 Menarik badan bayi curam kebawah bersamaan dengan

adanya his, assisten mendorong fundus, tarik badan bayi curam kebawah, searah sumbu jalan lahir, tarik badan bayi sampai suboksiput terlihat dibawah simpisis.

14 Melakukan elevasi kepala bayi kearah atas (kanan perut ibu) sehingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala ingat tangan kiri tidak boleh ikut menarik bayi, karena dapat menyebabkan perlukaan pada mulut dan muka bayi 15 Meletakkan bayi diperut ibu, bungkus bayi dan keringkan

(41)

16 Membereskan alat dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5 %

17 Melepas sarung tangan secara terbalik dan dekontaminasi dengan larutan DTT

18 Cuci tangan

19 Memberitahukan hasil tindakan 20 Memberi selamat pada ibu

Score : 30 C TEKNIK

21 Teruji melaksanakan secara sistematis dan berurutan 22 Teruji menjaga privacy pasien

23 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 24 Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan

tidak ragu - ragu

25 Teruji mendukung pasien untuk kooperatif Score : 10

(42)

MODUL 3

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN

KEBIDANAN PADA KASUS

(43)

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA KASUS

KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

1. Uraian Materi

Dokumentasi berasal dari kata ‘dokumen’ yang berarti ‘bahan

pustaka, baik berbentuk tulisan maupun berbentuk rekaman lainnya

seperti pita suara/kaset, video, film, gambar dan foto (Suyono trimo

1987, hal 7). Dokumentasi dalam bahasa inggris berarti satu atau lebih

lembar kertas resmi dengan tulisan diatasnya. Dokumentasi dalam

bidang kesehatan atau kebidanan adalah suatu pencatatan dan

pelaporan informasi tentang kondisi dan perkembangan kesehatan

pasien dan semua kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan

(bidan,dokter/perawat dan petugas kesehatan lainnya).

Pendokumentasian dari asuhan kebidanan di rumah sakit dikenal

dengan istilah rekam medik.

Dokumentasi kebidanan menurut SK Menkes RI No 749 a

adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen yang berisi tentang

identitas : anamnesa, pemeriksaan, tindakan dan pelayanan lain yang

diberikan kepada seorang pasien selama dirawat di rumah sakit yang

dilakukan di unit-unit rawat termasuk UGD dan Unit Rawat Inap.

Dokumentasi berisi dokumen/pencatatan yang memberi bukti dan

kesaksian tentang sesuatu atau suatu pencatatan tentang sesuatu.

Manajemen kebidanan adalah proses Pemecahan masalah yang di

gunakan sebagai metode untuk Mengorganisasi pikiran serta tindakan

berdasar kan teori yang ilmiah. Penemuan-penemuan keterampilan

dalam rangkaian Tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus

pada klien. Manajemen asuhan pada kebidanan Antenatal terdiri dari

7 langkah yang berurutan di mulai dengan pengumpulan data dasar

hingga evaluasi.

Metode pendokumentasian yaitu dengan menggunakan metode

(44)

dokumentasi memiliki kesamaan dalam pengkajiannya, tetapi dari

semua metode tersebut yang dipakai dalam pendokumentasian

asuhan kebidanan pada saat ini, yaitu memakai metode SOAP. S

merupakan Data Subjektif, O = Data Objektif, A = Analisa/

Assessment/ Pengkajian dan P = Plan/ Planning/ Perencanaan.

Alasan pemakaian SOAP dalam pendokumentasian asuhan

kebidanan, yaitu :

1. Karena SOAP merupakan pencatatan yang memuat kemajuan

informasi yang sistemis, mengorganisasikan penemuan

kesimpulan sehingga terbentuk suatu rencana asuhan.

2. SOAP merupakan intisari dari manajemen kebidanan untuk

penyediaan pendokumentasian.

3. SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat membantu bidan

mengorganisasikan pikiran dalam pemberian asuhan yang

bersifat komprehensif.

Contoh Pendokumentasian dengan langkah varney

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGI

NY. A H UMUR 22 TAHUN INPARTU KALA II DENGAN KPD

DI PUSKESMAS TAMALATE

IDENTITAS

Nama : Ny. A H Nama : Tn. M Y

Umur : 22 tahun Umur : 25 tahun

Suku/ bangsa: Gorontalo/ Indonesia Suku/ bangsa:Jawa/ Indonesia

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : S1

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

(45)

DATA SUBJEKTIF

Hari/ Tanggal : Rabu, 14 Januari 2014 Pukul

: 20.00 WITA

1. Alasan masuk

Ibu mengatakan ingin melahirkan di pelayanan kesehatan yang ditolong

oleh bidan

2. Keluhan utama

Ibu mengatakan sakit perut yang melingkar sampai ke pinggang sejak

pukul: 02.00 WITA terjadi pelepasan lendir bercampur darah dan

ketuban sudah pecah sejak pukul 03.15 WITA

3. Tanda-tanda persalinan

Ibu mengatakan merasa nyeri sejak pukul 02.00 WITA dengan lokasi

ketidaknyamanan di perut bagian bawah melingkar sampai ke pinggang

dan juga keluarnya cairan bercampur darah dari vagina sampai dengan

sekarang.

4. Perdarahan

a. Darah lendir : ada

b. Air ketuban : ada

c. Darah

 Jumlah : 20 cc

 Warna : merah tua 5. Riwayat menstruasi

a. Menarche : 14 tahun

b. Siklus haid : 27-28 hari

c. Lamanya : 7 hari

d. Banyaknya : 3x ganti pembalut

e. Teratur/tidak : teratur

6. Riwayat kehamilan sekarang

a. HPHT : 25 Mei 2013

(46)

c. ANC : teratur, frekuensi 4x di puskesmas

Hamil dan Persalinan ini

9. Pergerakan janin : masih dirasakan / lebih sering

10. Makan dan minum terakhir

13. Pola istitahat : sejak pukul 03.00 WITA sampai sekarang belum tidur

(47)

e. Kepala dan leher

1) Oedema wajah : tidak ada

2) Mata : sclera tidak ikterus, conjungtiva tidak pucat

3) Mulut : gigi tidak berlubang

4) Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid, vena

jugularis, dan kelenjar limfe.

f. Payudara

1) Bentuk : simetris kiri dan kanan

2) Putting susu : menonjol

g. Abdomen

1) Pembesaran perut : memanjang

2) Benjolan : tidak ada

3) Bekas luka operasi : tidak ada

4) Konsisten : keras

5) Pembesaran lifer : tidak ada

h. Pemeriksaan kebidanan

Leopold I : TFU: 31 cm, teraba bokong

Leopold II : kiri: punggung janin, kanan: ekstremitas

Leopold II : teraba kepala

Leopold IV : divergen (sudah masuk rongga panggul)

DJJ : 143x/menit

i. Ekstremitas

1) Oedema : tidak ada

2) Varices : tidak ada

3) Refleks : +/+

j. Genetalia luar

1) Varices : tidak ada

2) Bekas luka : tidak ada

3) Pengeluaran : ada, darah bercampur lendir dan air ketuban

(48)

k. Pemeriksaan dalam

1) Atas indikasi : untuk mengetahui adanya kemajuan

persalinan

2) Pembukaan : Lengkap

3) Portio : tipis

4) Ketuban : sudah tidak ada

5) Penurunan kepala : 1/5

6) Presentasi :kepala

KALA I

Tanggal :14 Januari 2014 pukul : 20:00 WITA

S : - Ibu mengatakan sakit perut melingkar sampai ke pinggang sampai

bagian bawah.

- Ibu mengatakan keluar lendir bercampur darah dan jalan lahir

O : Keadaan umum : Baik

Kesadaran : composmentis

TTV

- TD : 110/70 mmHg - SB : 36,50 C

- N : 80 xmenit - R : 20 x/menit

Antropometri :

- BB : 69 Kg

- TB : 158 cm

DJJ : + 144x/menit

HIS : 5x/ 10 menit/ > 40 detik

VT : pembukaan 10 cm, portio tipis, ketuban sudah

pecah, penurunan kepala 1/5

A : Ny. A H ,umur 22 tahun, G1POAO, inpartu kala I

P :

1. Menjelaskan pada ibu hasil pemeriksaan dimana ibu dan bayi masih

(49)

2. Membrikan antibiotik profilaksis untuk mengurangi risiko infeksi

streptokokus grup B:

a. Cefotaxime IV setiap 6 jam

b. ATAU Cefadroxil IV setiap 6 jam sampai persalinan,

c. Jika tidak ada infeksi pascapersalinan : hentikan pemberian

antibiotika.

3. Melakukan asuhan sayang ibu

4. Mempersiapkan persalinan yaitu persiapan kelahiran bayi atau

ruangan.

5. Mempersiapkan perlengkapan bahan-bahan dan obat-obatan yag di

perlukan.

6. Melaksanakan pencegahan infeksi.

7. Memantau kondisi janin 30 menit, kemajuan persalinan setiap 4 jam,

kontraksi uterus setiap 10 menit, TD ibu setiap 4 jam, nadi ibu setiap

2 jam.

8. Mencatat hasil pemeriksaan dalam partograf.

9. Persiapan alat untuk pertolongan persalinan :

a. Persiapan ruangan

b. Partus set

 Klem 2 buah

 ½ kocher 1 buah

 Gunting talipusat 1 buah

 Umbilikal klem 1 buah

 Gunting episiotomi 1 buah

 Kateter metal 1 buah

 Handscoon steril 1 buah

 Kasa steril 1 buah c. Haecting set

 Nald

(50)

 Nald puder

 Benang

d. Persiapan penolong : barier protektif

e. Persiapan pasien.

f. Persiapan kelengkapan ibu dan bayi.

KALA II

Tanggal :14 Januari 2014 pukul : 21.30 WITA

S :- Ibu mengatakan rasa sakit yang semakin sering dan kuat.

- Ibu mengatakan ingin BAB

- Ibu mengatakan ingin meneran O : Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV

- TD : 110/70 mmHg N : 80x menit

- SB : 370 C R : 20x/menit

Antropometri

- TB : 158 cm

- BB : 69 kg

DJJ : ada, frekuensi 148x/menit

HIS : 5x/ 10 menit/ > 40 detik

VT : pembukaan 10 cm, portio tipis, tidak teraba

selaput ketuban, penurunan kepala 0/5

A : Ny. A H, umur 22 tahun, GIP0A0 inpatu kala II

P :

1. Memberi dukungan kepada ibu secara terus menerus.

2. Memberi nutrisi pada ibu dengan memberi makanan dan minum pada

ibu saat tidak ada HIS.

(51)

4. Mengajarkan pada ibu untuk meneran, memastikan ibu berada pada

posisi yang nyaman.

5. Mencuci tangan dan memakai barier protektif bagi penolong.

6. Meletakan kain di atas perut ibu dan kain yang dilipat ½ bagian bawa

bokong ibu.

7. Mendekatkan alat secara orgonomis.

8. Memakai handscoon steril.

9. Memberi dukungan pada ibu seperti memberi pujian.

10. Memimpin persalinan saat ibu ada dorongan kuat.

11. Pemantauan dengan memastikan kesejahteraan janin sampai dengan 6

jam.

12. Memastikan pembukaan lengkap

13. Menolong kelairan bayi :

 Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm di depan vulva maka lindungi parineum dengan tangan yang satunya, yang di lapisi

dengan kain. Tangan yang lainnya menahan posisi defleksi untuk

membantu kelahiran bayi.

 Memeriksa apakah ada lilitan tali pusat.

 Setelah kepala melakukan putaran paksi luar secara spontan, pegang kepala secara biparietal menganjurkan ibu untuk meneran

saat ada kontraksi, dengan lembut gerakan kepala ke bawah untuk

melahirkan bahu depan gerakan keatas untuk melahirkan bahu

belakang.

 Setelah kedua bahu lahir, pindahkan tangan tangan untuk menyangga leher dan bahu, tangan yang satunya, untuk menyusuri

punggung sampai kaki

 Melakukan pemeriksaan sepintas apakah ketuban jernih, bercampur

mekonium, bayi menangi kuat, bernafas baik dan bergerak aktif.

 Mengeringkan bayi, ganti handuk basah dengan henduk yang bersih

(52)

 Memeriksa uterus dan memastikan janin kedua/tunggal.

 Beritahu ibu bahwa ia akan segerah dilakukan penyuntikan oksitosin.

 Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit, di 1/3 paha atas distal lateral

 Menjepit tali pusat dengan umbilikan klem 3 cm dari pangkal bagian talipusat dan diurut kearah ibu dan jepit klem ke 2 cm dari klem

pertama.

 Meletakan bayi tengkurap di dada ibu , luruskan bahu bayi, sehingga bayi menempel di dada ibu.

 Menyelimuti bayi dan ibu dengan kain bersih dan pkaikan topi bayi.

Evalusi

Tanggal :14 Januari 2014 pukul : 21.30 WITA

Bayi baru lahir spontan LBK, segera menangis, jenis kelmin permpuan,

berat badan 2800 gram, panjang badan 46 cm, A/S : 7/9, anus berlubang,

plasenta belum lahir.

KALA III

Tanggal :14 Januari 2014 pukul :21.45 WITA

S : - ibu mengatakan sangat lelah melewati proses persalinan.

- ibu mengtakan senang karena bayinya telah lahir.

O : Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV

TD : 130/90 mmHg

N : 81 x/menit

SB : 370 C

R : 22 x/menit

Antropometri

(53)

BB : 69 Kg

A : Ny. A H , umur 23 tahun, P1A0, inpartu kala III

P :

1. Memenuhi nutrisi ibu, menganjurkan ibu untuk makan dan minum untuk

mencegah dehidrasi.

2. Melakukan menejemen aktif kala III

 Penegangan talipusat terkendali lahirkan palcenta.

 Pindahkan klem kira-kira 5-10 cm dengan vulva.

 Tangan kiri di letakan diatas perut ibu, memeriksa uterus, tangan

kanan memegang talipusat, jika ada kontraksi lakukan PPT.

3. Saat ada kontraksi, tangan kanan diatas perut ibu untuk melakukan

dorsokranial dengan sedikit tekanan, cegah agar tidak terjadi inversio

uteri.

4. Ulangi lagi bila placenta belum lahir.

5. Melihat tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu tali pusat memanjang dan

ada semburan darah serta uterus menjadi globular, pada saat plasenta

sudah lepas anjurkan ibu untuk sedikit meneran dan penolong tetap

memegang talipusat.

6. Bila plasenta sudah tampak depan vulva, pegang placenta dengan

kedua tangan, telungkupkan dan putar searah jarum jam secara

hati-hati, kemudian tempatkan plasenta ditempat plasenta.

7. Memeriksa kelengkapan plasenta.

8. Melakukan masase untuk mempertahankan kontraksi agar tidak terjadi

atonia uteri yang menyebabkan perdarahan.

9. Memeriksa jalan lahir untuk memastikan tidak ada robekan pada jalan

lahir yang menyebabkan perdarahan, jika ada robekan lakukan

penjahitan.

(54)

EVALUASI

Tanggal : 14 Januari 2014 Pukul : 21.45 WITA

Plasenta lahir lengkap dengan selaputnya, berat 500 gr, panjang tali

pusat 50 cm, insersi tali pusat dibagian tengah, ada laserasi pada perineum

derajat 2.

KALA IV

Tanggal : 14 Januari 2014 Pukul : 23.45 WITA

S :

- ibu mengatakan merasa legah karena plasenta telah lahir.

- Ibu mengatakan merasa lelah.

O :

- Keadaan umum : Baik

- Kesadaran : Composmentis

- TTV

TD : 110/70 mmHg

N : 80 x/menit

SB : 370 C

R : 20 x/menit

- Antropometri

TB : 158 cm

BB : 69 kg

A : NY. A H umur 22 tahun, P1A0 inpartu kala IV

P :

1. Memantau TTV

TD : 110/70 mmHg

N : 80 x/menit

SB : 370 C

R : 20 x/menit

- memantau pengeluaran lochia.

(55)

- merapikan dan membersihkan semua peralatan yang telah digunakan dan membersihkan tempat tidur.

- Membersihkan ibu dan dan memakaikan celana dalam dan pembalut, gurita, pakaian bersih dan selimut.

- Mennganjurkan ibu dan keluarga untuk masase uterus untuk membantu agar uterus berkontraksi dengan baik.

- Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin karena kolostrum baik untuk bayi.

- Melakukan pengukuran antropometri bayi:

BB : 2600 gr PB : 46

cm

LK : 30 cm LD

: 29 cm

JK : perempuan Anus :

berlubang

- Mendokumentasikan hasil kegitan.

EVALUASI

Tanggal : 14 Januari 2014 Pukul : 00.45 WITA

1. Keadaan umum : Baik

2. TTV

TD : 110/70 mmHg

N : 80 x/menit

SB : 370 C

R : 20 x/menit

3. Kontraksi uterus : Baik

4. Perdarahan : 50 cc

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Arias Fernando (2004) Practical Guide to Highrisk Pregnancy and Delivery,

Mosby Year Book

DEPKES (2005), Pedoman Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri dan

Neonatal

Depkes (2005) Pedoman Manajemen Pelayanan Obstetri Neonatal

Emergensi Komprehensif 24 Jam di Tingkat Kabupaten/Kota

Drew David (2002). Resucitation of the Newborn: A Pratical Approach,

Butterword Heinemann

Elizabeth Gilbert (2003), Manual of High Risk Pregnancy and delivery,

Mosby

Fraer Diane, (2001), Proffesional Studies for Proffessional Practice,

Churchil Livingstone

Frasher MD (2003), Myles Textbook for Midwives, Churchil Livingstone

H. Wilson (2002) Clinical Risk Management in Midwifery : the right to a

perfect baby, Books for midwives.

Handerson (2000) Managing complication in pregnancy and childbirth : a

guide for midwives and doctors, WHO

Handerson (2004) Mayes Midwifery, Bailliert Tindall.

Helen Varney (1997), Varney’s Midwifery, Jones and Bartlett Pub

Johnson Ruth (2006), Skills for Midwifery Practice, Churchill Livingstone

Johsnon Ruth (2006), Skills for Midwifery Practice, Churchill Livingstone

Obstetri dan Ginekologi : Panduan Praktik : Practice Guideline for

Obstetrics and Gynecology

Sastrawinata Sulaeman (2005) Obstetri Patology : Ilmu Kesehatan

Reproduksi Edisi 2, EGC

Wiknjosastro H (2007) Ilmu Kebidanan, YBPSP

Woodward Vivin (2005), Managing Childbirth Emergencies in Community

Referensi

Dokumen terkait

Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan

peregangan kearah bawah dengan lembut selanjutnya tangan kanan melakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus kearah atas dan belakang (dorso cranial)

Plasenta percreta Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus desidua sampai myometrium sampai di bawah peritoneum plasenta akreta- percreta Jika