• Tidak ada hasil yang ditemukan

kel 1 rs akreditasi nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "kel 1 rs akreditasi nasional"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kementerian Kesehatan berupaya untuk menjaga mutu layanan melalui kegiatan akreditasi rumah sakit baik rumah sakit pemerintah maupun swasta. Dasar hukum pelaksanaan akreditasi rumah sakit adalah UU no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, permenkes no. 159 B tahun 1988 yang mengatur tentang akreditasi rumah sakit, S.K.Menkes no 436/93 tentang berlakunya standar layanan rumah sakit dan layanan medik dan SK Dirjen YanMedik no. YM.02.03.3.5.2626 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan lainnya (KARS).

Berbagai keputusan strategis mengenai peraturan perundang-undangan juga mengamanatkan bahwa program akreditasi rumah sakit harus dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari dua Undang-Undang yaitu UU Nomor 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Dalam Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dapat dilihat bahwa semua penyedia pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan profesi kedokteran harus membenahi diri. Penyedia pelayanan kesehatan tersebut meliputi Puskesmas, Balai Pengobatan, Praktek Dokter, Rumah Sakit, dan sebagainya.

(2)

pelayanan kedokteran. Rumah Sakit harus melaksanakan perubahan dalam rangka menyesuaikan diri terhadap Undang-Undang praktik kedokeran tersebut. Mulai mempersiapkan Prosedur Tetap (Standard Operating Procedure) tiap pelayanan kedokteran, memperbaiki kebijakan persetujuan pelayanan oleh pasien (informed consent) dan segala sesuatu yang diamanatkan oleh Undang-Undang tersebut.

Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, Pasal 29 huruf b menyebutkan bahwa Rumah Sakit wajib memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, kemudian pada Pasal 40 ayat (1) disebutkan bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali. Dari kedua Undang-Undang tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Akreditasi rumah sakit penting untuk dilakukan dengan alasan agar mutu/kualitas diintegrasikan dan dibudayakan kedalam sistem pelayanan di Rumah Sakit.

(3)

dan meningkatkan mutu layanan rumah sakit baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik internal maupun eksternal rumah sakit perlu dilaksanakan.

1.2 Tujuan

Tujuan dalam penyusunan makalah yang berjudul Akreditasi Nasional Rumah Sakit adalah sebagai berikut:

a. Mengetahui definisi akreditasi rumah sakit level nasional

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Akreditasi Rumah Sakit

Akreditasi menurut ensiklopedi nasional adalah suatu bentuk pengakuan yang diberikan oleh pemerintah untuk suatu lembaga atau institusi. Pasal satu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 417 tahun 2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit menyebutkan bahwa Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen yang ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang berlaku. Untuk sampai kepada pengakuan, rumah sakit melalui suatu proses penilaian yang didasarkan pada standar nasional perumahsakitan (depkes.1999).

Akreditasi rumah sakit mencakup penilaian terhadap terhadap fisik bangunan, pelayanan kesehatan, perlengkapan, obat-obatan, ketenagaan dan administrasi. Akreditasi dilakukan sekurang-kurangnya setiap tiga tahun sekali dan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penilaian dilakukan berulang dengan interval yang regular diawali dengan kegiatan kajian mandiri (self assessment) oleh rumah sakit yang dinilai. Survei akreditasi ini dilakukan oleh badan yang terlegitimasi dan di Indonesia adalah komite akreditasi rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya (KARS). Sedangkan sertifikasi diberikan oleh dirjen pelayanan medis depkes RI berdasarkan rekomendasi KARS.

2.2. Dasar Hukum Akreditasi Rumah Sakit

Dasar hukum akreditasi rumah sakit adalah sebagai berikut: a. UU No. 44/2009 tentang Rumah Sakit Pasal 40

(1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali.

(5)

(3) Lembaga independen sebagaimana dimaksud ayat (2) ditetapkan oleh menteri.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

b. Permenkes no. 159b/88 tentang rumah sakit, pasal 26 mengatur tentang akreditasi Rumah Sakit.

c. SK Menkes 436/93 menyatakan berlakunya standard pelayanan Rumah Sakit dan standard pelayanan medis.

d. SK Dirjen Yanmed No. YM.02.03.3.5.2626 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan Lainnya.

2.3. Tujuan Akreditasi Nasional Rumah Sakit

Pada dasarnya tujuan utama akreditasi rumah sakit agar kualitas pelayanan yang diberikan terintegrasi dan menjadi budaya sistem pelayanan di rumah sakit.

Secara khusus tujuan akreditasi adalah sebagai berikut:

a. Memperoleh gambaran seberapa jauh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi berbagai standard yang ditentukan sehingga mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan.

b. Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada rumah sakit yang telah mencapai tingkat pelayanan sesuai dengan standard yang ditetapkan.

c. Memberikan jaminan kepada petugas rumah sakit bahwa semua fasilitas, tenaga dan lingkungan yang diperlukan tersedia sehingga dapat mendukung upaya penyembuhan dan pengobatan pasien dengan sebaiknya.

d. Memberikan jaminan dan kepuasan kepada individu, keluarga dan masyarakat sebagai pelanggan bahwa pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit diselenggarakan dengan baik.

2.4. Tingkat Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit

Ada 3 cara pelaksanaan akreditasi yaitu tingkat dasar, tingkat lanjut dan tingkat lengkap yang disesuaikan dengan kegiatan pelayanan di rumah sakit.

(6)

Menilai 5 kegiatan pelayanan di rumah sakit yaitu Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Keperawatan, Pelayanan Gawat Darurat dan Rekam Medik.

b. Akreditasi Tingkat Lanjut

Menilai 12 kegiatan pelayanan di rumah sakit yaitu Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan keperawatan, Pelayanan Gawat Darurat, Rekam Medik, Farmasi, Radiologi, Kamar Operasi, Pengendalian Infeksi, Pelayanan Resiko tinggi, Laboratorium dan Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana.

c. Akreditasi Tingkat Lengkap

Menilai 16 kegiatan pelayanan di rumah sakit yaitu Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan keperawatan, Pelayanan Gawat Darurat, Rekam Medik, Farmasi, Radiologi, Kamar Operasi, Pengendalian Infeksi, Pelayanan Resiko tinggi, Laboratorium dan Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana ditambah Pelayanan Intensif, Pelayanan Transfusi Darah, Pelayanan Rehabilitasi Medik dan Pelayanan Gizi.

Rumah sakit boleh memilih akan melaksanakan akreditasi tingkat mana sesuai dengan kemampuan, kesiapan dan kebutuhan rumah sakit baik pada penilaian pertama kali atau penilaian ulang setelah akreditasi.

Perlu dipahami bahwa pelaksanaan kegiatan akreditasi rumah sakit sebaiknya berdasarkan perencanaan rumah sakit dan terjadwal sehingga dapat disesuaikan dengan jadwal pembinaan di Dinas Kesehatan Provinsi dan KARS.

2.5. Metode Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit

Survei akreditasi dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan survei akreditasi dan tahap pascasurvei akreditasi.

a. Tahap persiapan

(7)

dilaksanakan oleh tim akreditasi rumah sakit yang terdiri dari beberapa kelompok kerja, sesuai dengan pelayanan yang akan dinilai. Misalnya bila rumah sakit memilih untuk akreditasi tingkat dasar maka tim akreditasi rumah sakit terdiri dari 5 kelompok kerja.

Langkah-langkah persiapan survei akreditasi di rumah sakit adalah sebagai berikut:

1) Pimpinan, pemilik dan seluruh pegawai sepakat melaksanakan persiapan survei akreditasi rumah sakit dengan sosialisasi pada setiap kesempatan dengan menjelaskan kaitan akreditasi dengan mutu pelayanan di rumah sakit

2) Tim akreditasi rumah sakit perlu dibentuk dengan surat keputusan direktur

3) Ubah pola kerja menjadi kerja tim, saling terbuka dan menghargai

4) Sosialisasikan apa yang dimaksud dengan akreditasi dan makna yang terkandung di dalamnya, kepada seluruh jajaran rumah sakit mulai dari manjer puncak hingga pelaksana di lapangan termasuk satpam, tukang kebun, juru masak dan lainnya.

Tim akreditasi rumah sakit terdiri atas kelompok kerja yang sesuai dengan instrumen kajian mandiri serta mempunyai uraian tugas yang jelas berdasarkan SK direktur rumah sakit. Tim akreditasi bersifat terbuka, koordinasi sangat diperlukan dalam tim karena banyak hal menjadi lebih efisien bila dikerjakan secara tim.

Tugas yang dilaksanakan oleh Tim akreditasi diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Membuat rencana kerja dengan koordinasi antar kelompok kerja dan ketua tim akreditasi

2) Siapkan ruangan yang dapat digunakan untuk bekerja 3) Sosialisasikan pada setiap kesempatan pentingnya akreditasi 4) Melakukan kajian mandiri dengan memberi skor yang sesuai

pada kegiatan pelayanan yang dinilai

(8)

6) Selalu melakukan cek dan ricek antar kelompok kerja secara proaktif.

b. Tahap pelaksanaan survei akreditasi rumah sakit

Pada tahap ini, survei dilaksanakan oleh KARS menggunakan instrumen akreditasi rumah sakit. Pelaksanaan survei didampingi oleh staf Dinkes Provinsi dari seksi rujukan bidang pelayanan kesehatan. Hal ini dilakukan supaya Dinkes Provinsi juga tahu hal apa saja yang menjadi rekomendasi untuk perbaikan pada kegiatan pascasurvei akreditasi. Hasil penilaian dirangkum untuk diserahkan ke Dirjen YanMedik Depkes RI sebagai rekomendasi untuk sertifikasi.

c. Tahap pascasurvei akreditasi

Kegiatan pada paska survei akreditasi berupa pembinaan yang bertujuan mendorong manajemen rumah sakit untuk memantau pelaksanaan rekomendasi hasil survei, memberikan arahan untuk dapat memenuhi rekomendasi, melakukan evaluasi terhadap penerapan standar yang berdampak pada peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit serta meningkatkan interaksi antara rumah sakit, Dinkes Provinsi dan KARS.

Kegiatan pembinaan paska akreditasi dilakukan paling cepat 12 bulan setelah dilakukan survei akreditasi oleh KARS. Hasil pembinaan dalam bentuk laporan sebagai umpan balik terhadap upaya rumah sakit untuk memenuhi rekomendasi hasil survei kepada pimpinan rumah sakit.

2.6. Komisi Akreditasi Rumah Sakit

(9)

KARS mempunyai fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengembangan, pembimbingan dan pelatihan serta monitoring dan evaluasi dalam bidang akreditasi rumah sakit di Indonesia, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan perkembangan akreditasi rumah sakit secara internasional. Masa bakti Komisi Akreditasi Rumah Sakit adalah 5 tahun untuk pelaksana akreditasi (surveyor).

Tugas pokok dan fungsi KARS adalah:

a. Merumuskan kebijakan dan tata laksana akreditasi rumah sakit b. Menyusun rencana strategis akreditasi rumah sakit

c. Menyusun peraturan internal KARS d. Menyusun standar akreditasi

e. Menetapkan status akreditasi rumah sakit

f. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan pembimbingan serta pengembangan di bidang akreditasi dan mutu layanan rumah sakit g. Mengangkat dan memberhentikan tenaga surveyor

h. Membina kerja sama dengan institusi di dalam negeri maupun di luar negeri yang berkaitan dengan bidang akreditasi dan peningkatan mutu layanan rumah sakit

i. Melakukan sosialisasi dan promosi kegiatan akreditasi

j. Melakukan monitoring dan evaluasi dalam bidang akreditasi rumah sakit

k. Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan akreditasi rumah sakit.

Surveyor adalah seseorang yang diberi tugas oleh KARS untuk melakukan survei akreditasi dan bimbingan akreditasi rumah sakit. Surveyor merupakan tenaga yang handal yang diperoleh melalui rekrutmen dari tenaga yang ada di daerah atau dari pelamar dan memenuhi persyaratan yang ditentukan KARS serta wajib mengikuti pelatihan surveyor.

Surveyor terbagi menjadi surveyor administasi, surveyor medis dan surveryor keperawatan dengan tugas pokok dan fungsi (1) membimbing dan memberikan asistensi pada manajemen rumah sakit agar dapat mencapai standar pelayanan yang ditetapkan serta (2) mengukur tingkat kepatuhan rumah sakit dalam menerapkan standard dan parameter akreditasi dengan cara melihat dan mencatat keadaan sebenarnya pada saat survei dilakukan.

(10)

medis, farmasi dan K3. Surveyor medis dalam pelayanan medis, gawat darurat, laboratorium, radiologi dan kamar operasi. Sedangkan surveyor keperawatan bertanggungjawab dalam pelayanan keperawatan, perinatal resiko tinggi dan pengendalian infeksi.

Untuk menjaga konsistensi penilaian maka ada program Jaga Mutu Surveyor dengan membentuk tim etik dan kredensial yang melakukan evaluasi sikap, perilaku dan kemampuan surveyor setiap tahun sehingga yang tidak memenuhi syarat maka SK pengangkatan tidak diperpanjang. Disamping itu dilakukan pertemuan surveyor setahun dua kali sebagai cara untuk menjaga mutu dalam mengikuti perkembangan yang terjadi dalam perumahsakitan.

KARS dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia dan Komite Akreditasi Nasional dalam melakukan monitoring dan evaluasi kinerja rumah sakit pascaakreditasi dan untuk membina rumah sakit dalam upaya meningkatkan mutu layanannya. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi kinerja rumah sakit pascaakreditasi, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia mengikutsertakan asosiasi perumahsakitan lainnya.

2.7. Instrumen Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit

Embrio instrumen survei akreditasi adalah format penilaian penampilan rumah sakit yang dilaksankan setiap tahun dalam rangka hari kesehatan nasional yang dikembangkan tahun 1984. Pengembangan dan penyempurnaan indikator penilaian dilakukan berkala setiap 2 tahun sekali. Format penilaian penampilan rumah sakit ini dikembangkan Dirjen Pelayanan Medik bersama Pusat Penelitian Dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan di Surabaya dan hingga tahun 1994 menjadi instrumen untuk survei akreditasi. Instrumen survei akreditasi mengalami perbaikan hingga tahun 2003 sebagai instrumen kajian mandiri yang digunakan sampai saat ini.

(11)

Pada tahun 1999 dilakukan revisi sehingga terdiri dari 20 kegiatan pelayanan. Standar pelayanan rumah sakit tersebut meliputi Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan keperawatan, Pelayanan Gawat Darurat, Rekam Medik, Farmasi, Radiologi, Kamar Operasi, Pengendalian Infeksi, Pelayanan Resiko tinggi, Laboratorium dan Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana ditambah Pelayanan Intensif, Pelayanan Transfusi Darah, Pelayanan Rehabilitasi Medik dan Pelayanan Gizi, Sterilisasi sentral, Pemeliharaan sarana, Pelayanan Anesteti dan Perpustakaan.

Setiap kegiatan pelayanan mengandung 7 standard yaitu falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, staf dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan program pendidikan serta evaluasi dan pengendalian mutu. Setiap standard mempunyai parameter dengan skor 0-5 dan dilengkapi dengan definisi operasional, cara pembuktian dokumen, observasi dan kepada siapa surveyor melakukan wawancara.

Dalam perkembangannya, instrumen survei akreditasi pada tingkat lengkap setelah melalui pembahasan menjadi 16 kegiatan pelayanan saja, karena ada beberapa kegiataan pelayanan yang dapat digabungkan. Pelayanan perpustakaan dimasukkan di pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan pemeliharaan sarana dimasukkan juga ke pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan anesteti dimasukkan dalam pelayanan kamar operasi.

Berikut adalah salah satu contoh instrumen survei akreditasi bidang pelayanan gawat darurat.

Pedoman Survei Akreditasi Rumah Sakit Pedoman Khusus

Pelayanan Gawat Darurat

(12)

Instalasi gawat darurat dapat memberikan pelayanan gawat darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.

S.1.P.1. Rumah sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat selama 24 jam terus menerus.

Skor

0 = Tidak ada pelayanan gawat darurat.

1 = Ada pelayanan gawat darurat digabungkan dengan pelayanan lain.

2 = Ada pelayanan gawat darurat, terpisah dari pelayanan lain, tersedia didalam waktu jam kerja.

3 = Ada pelayanan gawat darurat, terpisah dari pelayanan lain, tersedia dalam waktu 24 jam, ada perawat jaga on site.

4 = Ada pelayanan gawat darurat, terpisah dari pelayanan lain, tersedia dalam waktu 24 jam, ada dokter dan perawat jaga on site.

5 = Ada pelayanan gawat darurat, terpisah dari pelayanan lain, tersedia dalam waktu 24 jam terus menerus, ada dokter dan perawat jaga on site, ada dokter konsulen jaga on call, ada petugas jaga dari pelayanan radiologi dan laboratorium on site; Petugas mampu memberikan informasi secara benar. D.O. = Informasi pelayanan gawat darurat adalah

semua keterangan tentang pelayanan yang tersedia di unit / instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit.

C.P. =

D = Jadwal jaga, daftar absen, informasi gawat darurat, laporan jaga harian.

O = Pelaksanaan Pelayanan.

(13)

yang melaksanakan pelayanan gawat darurat

Sko r :

Catatan / keterangan :

S.1.P.2. Ada instalasi atau unit gawat darurat yang terpisah secara fungsional dari unit-unit pelayanan lainnya.

Skor

0 = Tidak ada instalasi/unit gawat darurat dan tidak ada pelayanan gawat darurat

1 = Tidak ada instalasi/unit gawat darurat; Ada pelayanan gawat darurat di unit kerja lain dalam jam kerja.

2 = Tidak ada instalasi/unit gawat darurat; Ada pelayanan gawat darurat di unit kerja lain dalam waktu 24 jam.

3 = Ada instalasi/unit gawat darurat terpisah dari unit kerja lain; Ada pelayanan gawat darurat diberikan dalam jam kerja.

4 = Ada instalasi/unit gawat darurat terpisah dari unit kerja lain; Ada pelayanan gawat darurat diberikan sesudah jam kerja.

5 = Ada instalasi / unit gawat darurat terpisah dari unit kerja lain; Ada pelayanan gawat darurat diberikan selama 24 jam terus menerus.

D.O. = Parameter ini mengukur keberadaan instalasi atau unit gawat darurat secara organisatorik dan fisik serta berlangsungnya pelayanan gawat darurat yang disediakan

C.P. =

(14)

O = Pembangunan / ruangan dan alat-alat. W = Kepala UGD, Dokter dan Perawat UGD.

Skor :

Catatan / keterangan :

S.1.P.3. Ada kebijakan dan prosedur tentang pasien yang tidak tergolong akut dan gawat yang datang berobat di instalasi/unit gawat darurat.

Skor

0 = Tidak ada kebijakan dan prosedur.

1 = Ada kebijakan dan prosedur tidak tertulis. 2 = Ada kebijakan dan prosedur tertulis

ditetapkan sendiri di instalasi/unit gawat darurat

3 = Ada kebijakan dan prosedur tertulis

ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit tetapi belum dilaksanakan.

4 = Ada kebijakan dan prosedur tertulis ditetapkan pimpinan rumah sakit dan sudah ada pelaksanaannya

5 = Ada kebijakan dan prosedur tertulis

ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit; sudah ada pelaksanaan disertai adanya evaluasi dan tindak lanjut.

D.O. = Yang dimuat dalam kebijakan adalah kriteria pasien akut dan gawat darurat serta

penanganan pasien tidak akut dan tidak gawat yang datang di Instalasi/Unit Gawat Darurat diluar jam kerja dan pelaporan dari pasien-pasien ini. Kebijakan dan prosedur harus ditetapkan dengan SK pimpinan rumah sakit.

(15)

D = SK Penetapan kebijakan, prosedur tertulis. O = Kegiatan Pelayanan.

W = Kepala Instalasi / Unit Gawat Darurat, perawat dan dokter Gawat Darurat.

Skor :

Catatan / keterangan :

Standar. 2. Administrasi dan pengelolaan

Unit gawat darurat harus diatur, dipimpin dan di integrasikan dengan bagian lain dan instalasi rumah sakit lainnya

S.2.P.l. Instalasi/unit gawat darurat dilengkapi dengan bagan organisasi disertai uraian tugas, pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit kerja lain didalam rumah sakit.

Skor

0 = Tidak ada bagan organisasi.

1 = Ada bagan organisasi lengkap ditetapkan sendiri di

instalasi/unit gawat darurat tanpa uraian tugas, pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit kerja lain.

2 = Ada bagan organisasi lengkap ditetapkan sendiri di instalasi/unit gawat darurat disertai uraian tugas; tidak ada pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit kerja lain.

3 = Ada bagan organisasi lengkap ditetapkan sendiri di instalasi/unit gawat darurat disertai uraian tugas dan pembagian kewenangan; Tidak ada mekanisme hubngan kerja dengan unit kerja lain.

(16)

5 = Ada bagan organisasi lengkap ditetapkan pimpinan rumah sakit disertai uraian tugas, pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit kerja lain. D.O. = Yang diartikan dengan bagan organisasi lengkap adalah

struktur organisasi instalasi/unit gawat darurat yang terisi pegawai lengkap yang dibutuhkan sesuai pola ketenagaan yang ditetapkan. Bagan organisasi harus dilengkap dengan uraian tugas pegawai, pembagian kewenangan pegawai yang ada dan prosedur atau mekanisme hubungan kerja dengan unit kerja lain diluar instalasi/unit gawat darurat.

C.P. =

D = SK Pimpinan Rumah Sakit tentang struktur organisasi instalasi/unit gawat darurat, penjabaran uraian tugas,

deskripsi kewenangan, hubungan kerja dengan unit kerja lain didalam rumah sakit.

O = Unit Gawat Darurat, Sekretariat. W = Pimpinan RS, Petugas UGD.

Skor :

Catatan / keterangan :

S.2.P.2. Ada jadwal jaga harian bagi dokter, perawat, konsulen dan petugas pendukung lain yang bertugas di instalasi/unit gawat darurat. Skor

0 = Tidak ada penjadwalan kerja.

1 = Ada jadwal jaga dari perawat dan petugas pendukung. 2 = Ada jadwal jaga dokter, perawat dan petugas pendukung;

Tidak ada jadwal jaga dari konsulen .

3 = Ada jadwal jaga dokter, perawat, petugas pendukung dan konsulen.

4 = Ada jadwal jaga dokter, perawat, petugas pendukung dan konsulen disertai prosedur kerja.

(17)

prosedur yang ada.

D.O. = Yang dimaksud dengan prosedur kerja adalah SPO (standar prosedur operasi atau Protap) untuk mengatur dan

melaksanakan tugas jaga di instalasi/unit gawat darurat. Yang dimaksud dengan petugas pendukung adalah pegawai administrasi, radiologi, laboratorium, teknik, ambulans Pelaksanaan baik; petugas datang sesuai dengan jadwal jaga dan tepat waktu (dapat dilihat dari absensi).

Pengaturan jadwal dan tugas jaga ditetapkan dengan SPO. C.P. =

D = SPO, jadwalnya jaga bulanan, daftar hadir petugas dan laporan jaga.

O = Pelaksanaan jaga. W = Petugas jaga.

Skor :

Catatan / keterangan :

S2.P.3. Ada petunjuk dan informasi yang disediakan bagi masyarakat untuk menjamin adanya kemudahan, kelancaran dan ketertiban dalam memberikan pelayanan di instalasi/unit gawat darurat.

Skor

0 = Tidak ada petunjuk dan informasi.

1 = Ada petunjuk tidak jelas; informasi tersedia lisan.

2 = Ada petunjuk tidak jelas; informasi tersedia tertulis, tidak lengkap , tidak ada petugas yang dapat menjelaskannya dengan benar .

3 = Ada petunjuk tidak jelas; informasi tersedia tertulis,

lengkap, tidak semua petugas dapat menjelaskannya dengan benar .

(18)

semua petugas dapat menjelaskannya dengan benar disertai adanya evaluasi terhadap pelaksanaan pemberian informasi dan cara-cara menyediakan petunjuk yang jelas.

D.O. = Yang dimaksud petunjuk adalah tanda, rambu atau papan pemberitahuan yang menunjukkan arah, lokasi dan cara mencapai unit/ instalasi Gawat Darurat. Adanya petunjuk ini untuk memudahkan orang yang ingin mencari atau mencapai lokasi unit/instalasi gawat darurat baik dari luar maupun dari dalam rumah sakit.

Informasi yang lengkap harus disediakan tertulis dan memuat penjelasan tentang pelayanan yang tersedia, tarif untuk pasien, tata tertib dan lain sebagainya yang

dibutuhkan oleh pasien dan keluarganya. Untuk proses evaluasi agar diadakan angket ke pasien/keluarganya sebagai umpan balik. C.P. =

D = Brosur, leaflet.

O = Di unit / instalasi Gawat Darurat, dilokasi yang strategis. W = Perawat, dokter dan petugas di unit / instalasi Gawat

Darurat.

Skor :

Catatan / keterangan :

Standar. 3. Staf dan Pimpinan

(19)

S.3.P.1. Ditetapkan dokter sebagai kepala instalasi/unit gawat darurat yang bertanggung jawab atas pelayanan di UGD.

Skor

0 = Tidak ada dokter sebagai penanggung jawab.

1 = Ada dokter sebagai penanggung jawab; bekerja paruh waktu. 2 = Ada dokter sebagai penanggung jawab; bekerja purna waktu;

belum ada SK pimpinan rumah sakit.

3 = Ada dokter sebagai penanggung jawab; bekerja purna waktu dan sudah ada SK pimpinan rumah sakit.

4 = Ada dokter sebagai penanggung jawab; bekerja purna waktu dan sudah ada SK pimpinan rumah sakit; pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan tanpa sertifikat. 5 = Ada dokter sebagai penanggung jawab; bekerja purna waktyu dan sudah ada SK pimpinan rumah sakit; pernah mengikuti pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan dengan memperoleh sertifikat.

D.O. = - Dokter Bedah dan Dokter Anestesi dikecualikan dari pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan.

- Yang dimaksud dengan bekerja paruh waktu adalah bahwa yang bersangkutan mempunyai tugas pokok ditempat lain, di unit kerja diluar unit/instalasi gawat darurat. Bekerja purna waktu adalah bekerja secara penuh di unit/instalasi gawat darurat.

- Yang dimaksud dengan pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan adalah pelatihan yang diselenggarakan oleh kalangan profesi atau Departemen Kesehatan dengan memberikan sertifikat PPGD atau sejenisnya (ATLS, ACLS).

C.P. = D: SK pengangkatan, Sertifikat PPGD / ATLS / ACLS. O: Pelayanan di gawat darurat.

W: Kepala Unit.

D = SK pengangkatan dokter Gawat Darurat, bukti pelatihan yang diikuti.

(20)

Skor :

Catatan / keterangan :

S.3.P.2. Ditetapkan perawat sebagai penanggung jawab pelayanan keperawatan di unit/instalasi gawat darurat.

Skor

0 = Tidak ada perawat sebagai penanggung jawab .

1 = Sudah ada perawat sebagai penanggung jawab dan bekerja paruh waktu.

2 = Sudah ada perawat sebagai penanggung jawab dan bekerja purna waktu; belum ada SK pimpinan rumah sakit.

3 = Sudah ada perawat sebagai penanggung jawab dan bekerja purna waktu; Sudah ada SK pimpinan rumah sakit.

4 = Sudah ada perawat sebagai penanggung jawab dan bekerja purna waktu; Sudah ada SK pimpinan rumah sakit; pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan tanpa sertifikat. 5 = Sudah ada perawat sebagai penanggung jawab dan bekerja

purna waktu; Sudah ada SK pimpinan rumah sakit; pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan dengan sertifikat. D.O. = - Periksa DO pada S.3.P.1.

C.P. = D: SK pengangkatan, Sertifikat PPGD. O: Pelayanan di gawat darurat.

W: Kepala Unit.

Skor :

(21)

S.3 P.3. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pasien.

Skor

0 = Jumlah dan kualifikasi tidak memenuhi kebutuhan 1 = Tersedia tenaga perawat; belum terlatih; belum cukup

jumlahnya.

2 = Tersedia tenaga perawat dan dokter; belum terlatih; belum cukup jumlahnya.

3 = Tersedia tenaga perawat dan dokter; sudah terlatih; belum cukup jumlahnya.

4 = Tersedia tenaga perawat, dokter dan konsulen; sudah terlatih tetapi tidak cukup jumlahnya.

5 = Tersedia tenaga perawat, dokter dan konsulen, cukup jumlahnya serta sudah mengikuti pelatihan

penanggulangan kegawatdaruratan; tersedia dokter konsulen jaga lebih dari 4 jenis spesialisasi.

D.O. = Kecukupan jumlah dan kualifikasi tenaga perawat, dokter dan konsulen harus ditetapkan melalui penetapan pola ketenagaan di unit/instlasi gawat darurat. Pola ketenagaan ini harus ditetapkan dengan SK pimpinan rumah sakit. Pelatihan penanggulangan kegawatdaruratan harus dibuktikan dengan sertifikat PPGD, ATLS atau ACLS. Jenis spesialisasi disesuaikan dengan jenis pelayanan yang tersedia di Rumah Sakit.

C.P. =

D = Ketetapkan Pola Ketenagaan Unit/Instalasi Gawat Darurat, SK pengangkatan pegawai UGD, sertifikat/bukti pelatihan, uraian tugas masing-masing petugas.

O = Instalasi Gawat Darurat, Bagian kepegawaian. W = Penanggung jawab/Kepala UGD .

(22)

Catatan / keterangan :

S.3.P.4. Semua dokter dan tenaga keperawatan mampu melakukan teknik pertolongan hidup dasar (Basic Life Support).

Skor

0 = Tidak pernah ada pelatihan bagi tenaga unit/instalasi gawat darurat.

1 = Ada pelatihan tidak teratur untuk tenaga perawat 2 = Ada pelatihan tidak teratur untuk tenaga dokter

3 = Ada pelatihan tidak teratur untuk sebagian kecil tenaga dokter dan perawat

4 = Ada pelatihan teratur untuk sebagian besar tenaga dokter dan perawat

5 = Ada pelatihan teratur untuk semua tenaga dokter dan perawat

D.O. = - Kemampuan melakukan teknik pertolongan hidup dasar (Basic Life Support) diperoleh melalui

pelatihan-pelatihan yang harus dilakukan oleh rumah sakit bagi tenaga staf yang bekerja di unit/instalasi gawat darurat; - Pelatihan ini bisa diselenggarakan oleh tiap-tiap rumah

sakit sepanjang dapat memenuhi kualifikasi pelatihan yang tersedia di rumah sakit sesuai dengan kurikulum yang ada. Pelatihan teratur minimal 1 tahun 1 kali - Pimpinan rumah sakit dapat menerbitkan surat

keterangan / sertifikat dari tenaga-tenaga yang selesai menjalani pelatihan.

- Yang dimaksud dengan sebagian kecil adalah kurang 60 % jumlah perawat.

- Diperagakan teknik mengatasi masalah A, B dan C. C.P. =

D = Daftar pegawai UGD, bukti pelatihan .

O = UGD

(23)

Skor :

Catatan / keterangan :

S.3.P.5.Informasi tentang pelayanan yang diperlukan sudah dikomunikasikan kepada staf yang berkepentingan sebelum pasien sampai.

Skor

0 = Tidak ada sistem informasi yang digunakan

1 = Sistem informasi sedang dalam proses penyusunan. 2 = Sistem informasi sudah ditetapkan dengan SK Direktur

akan tetapi belum disosialisasikan.

3 = Sistem informasi sudah ditetapkan dengan SK Direktur akan tetapi sudah disosialisasikan.

4 = Sistem informasi sudah ditetapkan dengan SK Direktur akan tetapi sudah disosialisasikan, sistem belum berjalan lancar.

5 = Sistem informasi sudah ditetapkan dengan SK Direktur akan tetapi sudah disosialisasikan, sistem sudah berjalan lancar.

D.O. = Dalam sistem informasi ini yang perlu diatur adalah muatan informasi yang dibutuhkan, media menyampaikan

informasi yang harus tersedia dan disampaikan. Muatan informasi berisikan segala sesuatu tentang

kemampuan pelayanan gawat darurat dan pelayanan medis lainnya untuk menangani pasien gawat darurat yang akan disampaikan kepada pasien/keluarga yang meminta informasi, termasuk pelayanan untuk bencana massal (disaster).

(24)

D = Sistem informasi yang ditetapkan : untuk Rutin maupun untuk Bencana massal.

O = Unit Gawat Darurat, Komite Medik.

W = Staf penerima pasien Gawat Darurat, perawat UGD.

Skor :

Catatan / keterangan :

Standar 4. Fasilitas dan Peralatan

Fasilitas yang disediakan harus menjamin efektivitas bagi pelayanan pasien gawat darurat dalam waktu 24 jam terus menerus.

S.4.P.1 Ada kemudahan bagi kendaraan roda empat dari luar untuk mencapai lokasi Instalasi/ Unit Gawat Daurat di rumah sakit, dan kemudahan transportasi pasien dari dan ke UGD dari arah dalam RS.

Skor :

0 = Tidak ada akses

1 = Ada akses tak langsung

2 = Ada akses langsung, tetapi tidak dapat dicapai dari arah dalam RS

3 = Ada akses langsung, tetapi sukar dicapai dari arah dalam RS 4 = Ada akses langsung, mudah dicapai dari luar dan dari dalam

tetapi tidak tersedia tempat parkir khusus Ambulance atau sebaliknya.

5 = Ada akses langsung, mudah dicapai dari luar dan dari dalam dan ada lahan parkir bagi ambulance.

(25)

 Akses tidak langsung artinya, kendaraan roda empat sukar mencapai UGD.

 Tidak ada akses artinya kendaraan roda empat/ambulance tidak dapat mencapai UGD.

 Tidak dapat dicapai dari arah dalam RS artinya tidak ada hubungan langsung UGD dengan Instalasi/Unit lain RS.

C.P. : D : Denah

W: Pasien, Keluarga, masyarakat, petugas RS O : Lokasi UGD.

Skor :

Keterangan / catatan :

S.4. P.2 Ada pemisahan tempat pemeriksaan dan tindakan sesuai dengan kondisi penyakitnya.

Skor :

0 = Tidak ada tempat pemeriksaan dan tindakan khusus

1 = Ada tempat pemeriksaan dan tindakan khusus tetapi bergabung dengan Unit kerja lain

2 = Ada tempat pemeriksaan dan tindakan khusus tetapi kasus medical dan bedah digabung

3 = Pemeriksaan dan tindakan untuk kasus medical dan bedah terpisah tetapi sebagian ruang lain belum lengkap.

4 = Pemeriksaan dan tindakan untuk kasus medical dan bedah terpisah belum ada ruangan petugas dan ruang tunggu keluarga, fungsi belum berjalan baik

5 = Pemeriksaan dan tindakan untuk kasus medical dan bedah terpisah, ruangan-ruangan lain lengkap, fungsi berjalan baik. D.O : Ruangan di UGD meliputi :

(26)

 Tempat tindakan khusus yaitu resusitasi  Ruang tindakan : a. Medical

b. Bedah  Ruang observasi

 Ruang tunggu keluarga  Ruang istirahat petugas

C.P. : D : Denah

O : Ruangan Instalasi/Unit Gawat Darurat W:

--Skor :

Keterangan / Catatan

S.4. P.3 Pengadaan dan penyediaan peralatan, obat, bahan, cairan infus dilakukan sesuai dengan standar pada Buku Pedoman Pelayanan Gawat Darurat.

Skor :

0 = Tidak ada obat dan alat untuk life saving 1 = Ada obat, tidak ada alat, atau sebaliknya 2 = Ada obat, ada alat tak lengkap

3 = Ada obat, ada alat cukup 4 = Ada obat, alat lengkap

5 = Ada obat, alat sangat lengkap/sesuai dengan standar D.O : Obat dan alat sangat lengkap : sesuai dengan standar yang

tercantum dalam buku “Pedoman Pelayanan Gawat Darurat” dikecualikan 3 jenis alat yang tercantum halaman 22 dibawah judul Alat dan Obat yang perlu untuk resusitasi

1. Pneumatic Trousers 2. Pace Maker

(27)

C.P. : D : Daftar alat dan obat untuk life sving. Prosedur / SPO pengadaan / penyediaan obat / alat

O : Alat dan obat pelaksanaan pelayanan W: Petugas

Skor :

Keterangan / catatan :

S4. P4 Ada sistem komunikasi untuk menjamin kelancaran hubungan antara unit gawat darurat dengan :

 unit lain di dalam dan di luar runah sakit yang terkait  rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya

 pelayanan ambulance  unit pemadam kebakaran  konsulen SMF di UGD

Skor :

0 = Sarana komunikasi sangat minim; tidak ada prosedur. 1 = Sarana komunikasi cukup memadai; tidak ada prosedur. 2 = Sarana komunikasi cukup memadai; ada prosedur tetapi

tidak lengkap.

3 = Sarana komunikasi cukup baik; ada prosedur lengkap. 4 = Sarana komunikasi cukup baik, ada prosedur lengkap tetapi

belum berfungsi baik.

5 = Sarana komunikasi cukup baik, ada prosedur lengkap dan berfungsi dengan baik.

DO : Sarana komunikasi minim: unit/instalasi gawat darurat tidak mempunyai telepon intern maupun extern

(28)

rumah sakit

Sarana komunikasi cukup baik : unit/instalasi gawat darurat mempunyai telepon intern dan extern. Hubungan keluar unit/instalasi gawat darurat dapat langsung

Yang dimaksud dengan prosedur adalah standar prosedur operasi yang harus ditetapkan tertulis oleh pimpinan rumah sakit

CP : D : Sistem komunikasi, sarana komunikasi, SPO O : Pelaksanaan

W : Petugas gawat darurat

Skor :

Keterangan / Catatan :

S.4.P.5 Ada ketentuan tentang pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan secara berkala

Skor :

0 = Tidak ada ketentuan

1 = Ada ketentuan tidak tertulis

2 = Ada ketentuan tertulis tetapi tidak lengkap

3 = Ada ketentuan tertulis, lengkap, akan tetapi belum dilaksanakan

4 = Ada ketentuan tertulis, lengkap, sebagian besar sudah dilaksanakan

5 = Ada ketentuan tertulis, lengkap, semua sudah dilaksanakan

(29)

peralatan yang berada dan digunakan di unit/instalasi gawat darurat, skedul pemeriksaan/pemeliharaan peralatan, kalibrasi peralatan, prosedur perbaikannya jika rusak, penggantian (replacement) peralatan dan petugas yang diberi tanggung jawab untuk melasanakan ketentuan ini. - Yang dimaksud dengan “ semua sudah dilaksanakan”

adalah jika semua peralatan sudah menjalani pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala, dan alat siap pakai.

C.P : D : Daftar perlatan, Juklak/SPO, bukti pemeliharaan O : lingkungan UGD

W : petugas yang diberi tanggung jawab

Skor :

Keterangan / Catatan :

Standar 5. Kebijakan dan Prosedur

Harus ada kebijakan dan prosedur pelaksanaan tertulis di unit yang selalu ditinjau dan disempurnakan (bila perlu) dan mudah dilihat oleh seluruh petugas.

S.5. P.1 Ditetapkan kebijakan tentang TRIASE

Skor :

0 = Tidak ada kebijakan

1 = Kebijakan dalam proses penyusunan

(30)

D.O : TRIASE adalah system :

1. Seleksi terhadap keluhan atau masalah penderita dalam situasi sehari-hari

2. Seleksi penderita atau korban akibat adanya bencana Yang dimaksud dengan kebijakan disini adalah ketentuan tertukis yang ditetapkan pimpinan rumah sakit yang mengatur tentang pelaksanaan Triase di unit/instalasi gawat darurat, memuat juga Juklak/SPO

C.P. : D : Kebijakan, SPO, ketentuan tertulis di unit gawat darurat, pelaksanaan

O : Pelaksanaan TRIASE W: Petugas Triase.

Skor :

Keterangan / Catatan

S 5. P2 Ditetapkan kebijakan tentang pasien yang perlu dirujuk ke rumah sakit lain.

Skor:

0 = Tidak ada kebijakan

1 = Kebijakan dalam proses penyusunan

2 = Ada kebijakan tetapi belum lengkap dan belum dilaksanakan 3 = Ada kebijakan, sudah lengkap, tetapi belum dilaksanakan 4 = Ada kebijakan, sudah lengkap, pelaksanaan tidak sesuai

Juklak/SPO 5

=

Ada ketentuan, sudah lengkap, pelaksanakaan sesuai Juklak/SPO

(31)

atau pasien yang dikirim untuk alih rawat  Untuk hal-hal tertentu dalam keadaan tertentu

pemeriksaan spesimen juga dapat dimasukkan kedalam ketentuan rujukan ini.

 Yang dimaksud kebijakan disini adalahg ketentuan tertulis ketentuan tertulis yang ditetapkan pimpinan rumah sakit yang mengatur tentang pelaksanaan dari ketentuan ini, termasuk Juklak/SPO.

C.P : D : Juklak/SPO, laporan berkala, Daftar pasien yang dirujuk O : Pelaksanaan SPO

W : Dokter dan perawat

Skor :

Keterangan / Catatan:

S 5.P 3 Ditetapkan kebijakan tentang penggunaan obat dan peralatan untuk life saving.

Skor :

0 = Tidak ada kebijakan

1 = Kebijakan dalam proses penyusunan

2 = Ada kebijakan tetapi belum lengkap dan belum dilaksanakan 3 = Ada kebijakan , sudah lengkap, tetapi belum dilaksanakan 4 = Ada kebijakan, sudah lengkap, pelaksanaan belum sesuai

Juklak/SPO

5 = Ada kebijakan, sudah lengkap, dilaksanakan sesuai Juklak/SPO

D.O : Yang dimaksud dengan kebijakan disini adalah ketentuan tertulis yang ditetapkan pimpinan rumah sakit yang mengatur tentang penggunaan obat dan peralatan life-saving, termasuk juga Juklak dan SPO

(32)

O : Pelaksanaan protap W : Petugas

Skor :

Keterangan / Catatan :

S.5. P.4 Ditetapkan kebijakan, program, prosedur penanggulangan bencana (Disaster Plan) yang mungkin terjadi didalam atau di luar rumah sakit.

Skor :

0 = Tidak ada program

1 = Program sedang dalam proses penyusunan 2 = Ada program tidak lengkap

3 = Ada program lengkap tetapi belum dilaksanakan latihan

4 = Ada program lengkap, sudah dilaksanakan latihan tetapi belum baik

5 = Ada progran lengkap dan sudah dilaksanakan latihan dengan teratur

D.O :

 Program harus berisi  Methodologi  Organisasi

 Perencanaan SDM  Perencanaan Logistik  Perencanaan Komunikasi  Perencanaan transportasi  Pelaporan

 Bencana/disaster yang mungkin terjadi dapat dalam bentuk a.l. : kebakaran, keracunan massal, gempa bumi dan kecelakaan massal.

(33)

O : -W : -

Skor :

Catatan / keterangan :

Standar 6. Pengembangan Staf dan Program Pendidikan

Instalasi gawat darurat dapat dimanfaatkan untuk pendidikan (in-service training) dan pendidikan berkelanjutan bagi petugas.

S 6. P 1. Ada program orientasi/pelatihan bagi petugas baru yang bekerja di UGD.

Skor

0 = Tidak ada program pelatihan .

1 = Ada semacam orientasi tetapi diberikan secara lisan saja . 2 = Ada orientasi tertulis tetapi dilaksanakan secara terbatas . 3 = Ada orientasi dan pelatihan sudah tertulis tetapi belum ada

penetapan pimpinan RS .

4 = Ada penetapan pimpinan RS, belum pernah dievaluasi . 5 = Ada program orientasi / pelatihan tertulis, sudah ditetapkan

pimpinan, dilaksanakan dengan baik, dievaluasi secara berkala serta ditindaklanjuti.

D.O. = Program memuat: 1. Pengenalan RS.

2. Pengenalan tugas dan tata laksana di UGD. C.P. =

D = Program tertulis, laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi tahunan tertulis.

O =

(34)

Skor :

Catatan / keterangan :

S.6.P2. Setiap tahun ditetapkan program pelatihan dan pengembangan pegawai yang menyeluruh untuk meningkatkan keterampilan tenaga yang bertugas di UGD. Program pelatihan dan pengembangan ini telah sesuai dengan kebutuhan perseorangan dan organisasi.

Skor

0 = Tidak ada program pelatihan dan pengembangan pegawai. 1 = Ada program pelatihan pegawai tetapi dampak dari program

ini tidak diukur.

2 = Ada program pelatihan, dampak terukur, belum ada evaluasi. 3 = Ad 2. Evaluasi dilakukan secara terbatas.

4 = Ad 3. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, berkala dan terstruktur.

5 = Ad 4. Ditambah tindak lanjut.

D.O. = Yang dimaksud dengan Program Pelatihan dan Pengembangan pegawai yang lengkap adalah:

1 = Program ini disusun secra terstruktur, ditetapkan oleh pimpinan

dan diterapkan secara luas.

2 = Ada sistem yang mengatur cara monitoring serta evaluasi secara berkala.

3 = Ada sistem yang mengatur tentang tindak lanjut, penyempurnaan materi pelajaran serta pengukuran dampak program.

C.P. =

D = Adanya kebijaksanaan, SK, SPO, bukti-bukti evaluasi, laporan tindak lanjut.

(35)

W = Staf bagian Diklat RS, salah satu pegawai yang pernah dilatih.

Skor :

Catatan / keterangan :

S.6.P.3. Ditetapkan program pelatihan secara teratur bagi petugas UGD untuk menghadapi kemungkinan terjadinya berbagai macam bencana (disaster).

Skor

0 = Tidak ada pelatihan .

1 = Ada semacam pelatihan tetapi disampaikan secara lisan saja.

2 = Ada pelatihan sudah tertulis, hanya beberapa petugas saja yang sudah mengikuti.

3 = Sudah seluruh pegawai mengikuti pelatihan penanggulangan bencana, tetapi belum teratur dilaksanakan.

4 = Sudah teratur dilaksanakan tetapi belum pernah dievaluasi. 5 = Ada pelatihan teratur, meliputi seluruh petugas UGD,

dilaksanakan dengan baik dan dievaluasi secara berkala. D.O. = Latihan yang dimaksud adalah membiasakan pegawai pada

tindakan-tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi bencana misalnya:

- Latihan menggunakan alat pemadam kebakaran. - Evakuasi pasien.

- Latihan minimal 1 tahun 1 kali.

C.P. : Program pelatihan, laporan pelaksanaan, evaluasi tahunan. D = Modul pelatihan (Kerangka acuan), penetapan direktur,

jadwal pelatihan, bukti hadir, evaluasi berkala .

(36)

W = Petugas UGD .

Skor :

Catatan / keterangan :

S.6.P.4. Setiap tahun ditetapkan program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam bidang gawat darurat bagi pegawai rumah sakit dan masyarakat.

Skor

0 = Tidak ada program pelatihan tertulis. 1 = Sedang dalam proses penyusunan. 2 = Ada, tetapi belum lengkap.

3 = Ada, lengkap, belum dilaksanakan. 4 = Ada, lengkap, pelaksanaan belum baik.

5 = Ada program tahunan secara tertulis , untuk pegawai Rumah Sakit dan masyarakat, dilaksanakan dengan baik, dievaluasi secara berkala.

D.O. = Cukup jelas. C.P. :

D = Program tertulis, laporan kegiatan, evaluasi tahunan program tindak lanjutnya.

O =

--W = Petugas rumah sakit.

Skor :

Catatan / keterangan :

(37)

Skor

0 = Jumlah dan kualifikasi tenaga dokter belum memenuhi syarat; Tidak ada program pelatihan dokter terampil. 1 = Jumlah sudah memenuhi syarat akan tetapi kualifikasi

tenaga dokter belum memenuhi syarat; Tidak ada program pelatihan dokter terampil.

2 = Jumlah dan kualifikasi tenaga dokter belum memenuhi syarat; Ada program pelatihan dokter terampil.

3 = Jumlah sudah memenuhi syarat akan tetapi kualifikasi tenaga dokter belum memenuhi syarat; Ada program pelatihan dokter terampil.

4 = Jumlah dan kualifikasi tenaga dokter sudah memenuhi syarat; Ada program pelatihan dokter terampil.

5 = Jumlah dan kualifikasi tenaga dokter sudah memenuhi syarat; Ada program pelatihan dokter terampil, disertai evaluasi terhadap program latihan dan tindak lanjutnya. D.O. = Yang dimaksud dengan dokter terampil adalah dokter yang

sudah pernah mengikuti pelatihan PPGD/ATLS/ACLS. Pelatihan ini harus dibuktikan dengan adanya sertifikat pelatihan yang masih berlaku. Pelatihan dapat dilaksanakan dalam bentuk in-house training atau diluar rumah sakit. Pimpinan rumah sakit harus mendaftarkan pola ketenagaan dokter di UGD sebagai dasar untuk merencanakan

kebutuhan tenaga dan dasar untuk mengukur kecukupan jumlah dan kualifikasi tenaga dokter.

C.P. :

D = Dokumen pola ketenagaan, daftar tenaga dokter yang bekerja purna waktu di UGD, program pelatihan dan pelaporannya, dokumen evaluasi program pelatihan.

O =

-W = Ka UGD

Skor :

(38)

S.6.P.6 Pelayanan keperawatan di UGD diberikan oleh perawat mahir.

Skor

0 = Jumlah dan kualifikasi tenaga perawat belum memenuhi syarat; Tidak ada program pelatihan perawat mahir. 1 = Jumlah sudah memenuhi syarat akan tetapi kualifikasi

tenaga perawat belum memenuhi syarat; Tidak ada program pelatihan perawat mahir.

2 = Jumlah dan kualifikasi tenaga perawat belum memenuhi syarat; Ada program pelatihan perawat mahir.

3 = Jumlah sudah memenuhi syarat akan tetapi kualifikasi tenaga perawat belum memenuhi syarat; Ada program pelatihan perawat mahir.

4 = Jumlah dan kualifikasi tenaga perawat sudah memenuhi syarat; Ada program pelatihan perawat mahir.

5 = Jumlah dan kualifikasi tenaga perawat sudah memenuhi syarat; Ada program pelatihan perawat mahir, disertai evaluasi terhadap program latihan dan tindak lanjutnya. D.O. = Yang dimaksud dengan perawat mahir adalah perawat yang

sudah pernah mengikuti PPGD.

Pelatihan ini harus dibuktikan dengan adanya sertifikat pelatihan. Pelatihan dapat dilaksanakan dalam bentuk in-house training atau diluar rumah sakit. Pimpinan rumah sakit harus menetapkan pola ketenagaan keperawatan di UGD sebagai dasar untuk merencanakan tenaga perawat dan dasar untuk mengukur kecukupan jumlah dan kualifikasi tenaga perawat.

C.P. :

D = Dokumen pola ketenagaan, daftar tenaga perawat yang bekerja purna waktu di UGD, program pelatihan dan pelaporannya, dokumen evaluasi program pelatihan.

(39)

W = Ka UGD, Kepala keperawatan, peserta program pelatihan.

Skor :

Catatan / keterangan :

Standar 7. Evaluasi dan Pengendalian Mutu

Ada upaya penilaian kemampuan dan hasil pelayanan instalasi gawat darurat secara terus menerus.

S.7.P.l. Data dan informasi tentang pelayanan gawat darurat serta analisisnya disediakan dan disampaikan kepada unit lain yang terkait.

Skor

0 = Tidak ada pengumpulan data.

1 = Ada pengumpulan data, tetapi tidak teratur. 2 = Ada pengumpulan, teratur, belum diolah. 3 = Ada pengumpulan data, teratur, sudah diolah.

4 = Ada pengumpulan data, teratur, sudah diolah disertai analisisnya.

5 = Ada pengumpulan data, teratur, sudah diolah disertai analisis; Informasi sudah disampaikan ke unit kerja lain yang terkait.

D.O. = - Informasi adalah data yang telah diolah dan dianalisa. Informasi ini harus paling sedikit memuat :

- * jumlah kunjungan

- * penggunaan pemeriksaan penunjang

- * pola penyakit dan kecelakaan (10 terbanyak) - * angka kematian

(40)

Death on arrival. Kematian di UGD.

- Diinformasikan di dalam RS artinya: Di pertemuan dalam RS.

Bulletin RS / Surat Edaran / Laporan Internal. - Diinformasikan di luar RS artinya:

Di papan informasi untuk masyarakat umum. Pertemuan ilmiah di luar RS.

Publikasi C.P. :

D = Laporan tertulis, buletin / majalah ilmiah, informasi di papan untuk masyarakat umum.

O = Instalasi UGD.

W = Kepala UGD, staf, petugas unit terkait.

Skor :

Catatan / keterangan :

S.7.P.2. Dilakukan evaluasi mengenai penanganan kasus kecelakaan dan kasus medis paling sedikit setahun sekali.

Skor

0 = Tidak ada kasus kecelakaan.

1 = Ada kasus kecelakaan dan medis tetapi tidak pernah didata. 2 = Ada data tentang kasus kecelakaan dan kasus medis tetapi

dimasukkan kedalam kasus kasus umum.

3 = Ada data tentang kasus kecelakaan dan medis tetapi belum pernah dianalisis dan dievaluasi.

4 = Ada data tentang kasus kecelakaan dan medis; dilakukan evaluasi dan analisis tetapi tidak teratur.

5 = Ada data tentang kasus kecelakaan dan medis; dilakukan evaluasi dan analisis secara teratur dan berkala.

(41)

kasus “True emergency”. Evaluasi mengandung:

1. Jumlah kasus. 2. Jenis.

3. Rujukan.

4. Umpan balik hasil penanganan. 5. Kematian.

C.P. =

D = Data UGD, informasi teratur tentang kasus kecelakaan, bukti analisis dan evaluasi .

O = Rekam Medik, UGD

W = Petugas Rekam Medik RS, petugas UGD

Skor :

Catatan / keterangan :

S.7.P.3. Ketentuan tentang Informed Consent (IC) telah dilaksanakan oleh staf medis dan perawat.

Skor

0 = Tidak ada prosedur IC; Tidak ada formulir IC.

1 = Tidak ada prosedur IC; Ada formulir IC ditetapkan sendiri oleh IGD;

2 = Ada prosedur dan formulir IC, ditetapkan sendiri oleh IGD, tetapi belum dilaksanakan.

3 = Ada prosedur dan formulir IC, ditetapkan sendiri oleh IGD, sudah dilaksanakan

4 = Ada prosedur dan formulir IC, ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit, sudah dilaksanakan.

5 = Ada prosedur dan formulir IC, ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit, sudah dilaksanakan disertai adanya

(42)

D.O. = Pengaturan IC dalam bentuk ketentuan atau peraturan rumah sakit harus dibuat tertulis dan ditetapkan oleh

pimpinan rumah sakit mengacu pada pedoman yang dimuat dalam :

1. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 585/MENKES/PER/X/1989 tentang

Persetujuan Tindakan Medik;

2. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor : HK. 00.06.3.5.1866, tanggal 21 April 1999 tentang Pedoman Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent).

Kepala Unit Gawat Darurat (UGD) harus melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan ketentuan ini dan melaporkan hasil evaluasi ini kepada Pimpinan rumah sakit. C.P. =

D = SK Direktur RS, Juklak/SPO IC, hasil evaluasi, laporan O = Observasi: pelayanan

W = Wawancara: perawat, staf medis.

Skor :

Catatan / keterangan :

S.7.P.4. Indikator klinis dikumpulkan, diolah dan dianalisis untuk digunakan melakukan evaluasi terhadap mutu pelayanan.

Skor

0 = Tidak ada pengumpulan data indikator klinis

1 = Ada pengumpulan data indikator klinis, akan tetapi tidak teratur

(43)

analisis

3 = Ada pengumpulan data indikator klinis, teratur disertai analisis

4 = Ada pengumpulan data indikator klinis, teratur disertai analisis dan rekomendasi.

5 = Ada pengumpulan data indikator klinis, teratur disertai analisis, rekomendasi dan tindak lanjut

D.O. = Yang dimaksud dengan indiaktor klinis adalah indikator yang tercantum dslsm Buku Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit ( World Health Organization –Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan, 1998 ). Salah satu indikator klinis yang harus dikumpulkan, diolah dan dinalisis dalam standard ini adalah Angka Keterlambatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat (Emergency Response Time Rate), atau disingkat Angka KPPGD.

Pengumpulan data dan analisis untuk keperluan ini harus ditetapkan secara tertulis disertai kerangka acuan (TOR) jelas. Analisis harus dilakukan secara berkala 3 (tiga) bulan sekali secara terus menerus. Yang harus disimpulkan dari analisis ini adalah kecenderungan (trend) dari

Keterlambatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat. Perlu dilakukan penilaian, analisis serta evaluasi kemajuan pelayanan.

C.P. =

D = Kerangka Acuan (TOR), pembentukan unit pelaksana, dokumen analisis, rekomendasi dan tindak lanjut

O = UGD,

W = Ketua Komite Medis, Ketua Komite Mutu

Skor :

(44)

S.7.P.5. Dilakukan evaluasi terhadap kejadian kematian di UGD.

Skor

0 = Tidak ada pencatatan dan pelaporan kematian di UGD 1 = Tidak ada pencatatan kematian di UGD; Ada pelaporan

tidak tertulis

2 = Ada pencatatan akan tetapi tidak ada pelaporan kematian di UGD

3 = Ada pencatatan dan pelaporan kematian di UGD

4 = Ada pencatatan dan pelaporan kematian di UGD disertai analisis terhadap kematian secara berkala

5 = Ada pencatatan dan pelaporan kematian di UGD disertai analisis terhadap kematian secara berkala, rekemondasi dan tindak lanjutnya.

D.O. = Angka Kematian di UGD = Jumlah kematian x 100 Jumlah Pasien UGD

Angka kematian ini harus dikumpulkan dan dilaporkan setiap 3 bulan sekali. Yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan angka kematian ini dari waktu ke waktu. Tidak dimasukkan didalam angka kematian ini Death On Arrival (DOA).

C.P. =

D = Laporan, notulen pertemuan, bukti tindak lanjut.

O =

-W = Direksi RS, Ka UGD, Kepala Rekam Medis.

Skor :

(45)

2.8. Status Akreditasi

Keputusan status akreditasi nasional rumah sakit adalah: a. Tidak diakreditasi/ Tidak lulus

- Nilai total < 65% b. Akreditasi Bersyarat

- Nilai total > 65% , < 75% - Tidak ada nilai <= 60% - Satu tahun diakreditasi lagi c. Akreditasi Penuh

- Nilai total >= 75% - Tidak ada nilai <= 60% - Tiga tahun masa berlaku d. Akreditasi Istimewa

(46)

BAB III

STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1. Contoh Kasus

71% RS di Jatim Tak Terakreditasi

Jumat, 12/08/2011 | 10:28 WIB sumber : Surabaya post online

SURABAYA- Bertambahnya jumlah rumah sakit (RS) di Jatim ternyata masih saja tak diimbangi dengan peningkatan layanan kesehatan memadai. Indikasi ini setidaknya masih rendahnya jumlah RS yang mengantongi akreditasi dari Kementerian Kesehatan. Dari 309 RS di Jatim hanya sekitar 29% atau sekitar 90 RS yang sudah terakreditasi. Sisanya 71% atau sebanyak 219 tidak terakreditasi.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Drs Mudjib Affan MARS mengatakan, akreditasi RS menjadi sesuatu hal yang penting lantaran menjadi jaminan bagi masyarakat mendapatkan kualitas layanan kesehatan. “Setiap rumah sakit harus terakreditasi, karena akreditasi merupakan salah satu standart kualitas dan pelayanan rumah sakit,” kata Affan, Kamis (11/8).

Lantaran itu, Dinkes Jatim menargetkan tahun 2012 nanti seluruh RS harus sudah mendapatkan akreditasi paling tidak secara nasional di Jatim yang berlaku untuk rumah sakit tipe A, B, C dan D.

Ia menyebutkan, dari 309 RS di Jatim rinciannya 206 RS swasta, 58 RS pemerintah, 12 RS BUMN atau BUMD dan 25 RS milik TNI dan polri. ”Jumlah tersebut telah memenuhi jumlah penduduk di Jatim,” paparnya.

Sebab dari 309 RS tersebut setidaknya ada lebih dari 4.000 tempat tidur.“Untuk jumlah rumah sakit memang sudah mencukupi. Namun, persebarannya belum merata,” katanya.

(47)

maka, akreditasi bisa menjadi jaminan mutu pelayanan bagi masyarakat. “Jadi, kalau bisa dengan adanya akreditasi rumah sakit maka pelayanan di RS daerah dan kota besar sama,” ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Dr Slamet Riyadi Yuwono, DTMH, MARS, Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) Jatim membenarkan, kalau tidak semua rumah sakit di Jatim terakreditasi. “Jumlahnya memang relatif masih kecil,” paparnya.

Jumlah yang cukup kecil tersebut, lantaran dulunya akreditasi dilakukan sebagai imbauan saja. Namun, setelah muncul Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit maka akreditasi menjadi kewajiban bagi semua rumah sakit.

Tapi, lanjut dia, hal ini tidak hanya terjadi di Jatim saja. Sebab data Kementerian Kesehatan tahun 2010 mengungkapkan dari 1.523 rumah sakit di Indonesia dan baru 653 RS yang terakreditasi. Sedangkan saat ini jumlah rumah sakit sudah 1.668 unit. “Sebanyak 50 persen dari rumah sakit yang belum terakreditasi adalah rumah sakit pemerintah, dan 50 persen lainnya rumah sakit swasta,” terangnya.

Akreditasi rumah sakit, kata dia, diperlukan sebagai batas penilaian pelayanan yang diberikan rumah sakit. Rumah sakit yang terakreditasi berarti sudah memenuhi standar pelayanan yang ditentukan pemerintah. Akreditasi rumah sakit dibagi tiga, yaitu untuk lima pelayanan, 12 pelayanan dan 16 pelayanan. Saat ini mayoritas RS yang mendapatkan akreditasi, baru sampai tahap lima pelayanan “ Rumah sakit yang terakreditasi akan memberikan keuntungan pada masyarakat berupa kepastian hukum serta standart pelayanan medis. Seperti jaminan pelayanan dan Standart Operation Procedure (SOP). Di Jatim langkah langkah yang rumah sakit akreditasi yang belum,”terangnya.

(48)

3.2. Analisis dan Solusi Masalah

Berdasarkan studi kasus tersebut alasan dari masih banyaknya rumah sakit yang belum mendapatkan akreditasi adalah pelaksanaan akreditasi sebelumnya hanya berupa imbauan, sehingga hanya sedikit yang berinisiatif untuk mengajukan akreditasi. Ketika UU no 44 tahun 2009 tentang diterapkan, terlihatlah bahwa masih banyak RS yang belum melakukan akreditasi. Permasalahan lain yang menjadi kendala pelaksanaan akreditasi adalah banyak RS yang belum memiliki tenaga kerja yang memadai, seperti belum adanya tenaga dokter dan tenaga medis tetap. Selain itu mutu pelayanan di banyak RS juga tidak memenuhi mutu pelayanan yang disyaratkan. Sehingga banyak RS masih sulit untuk mendapatkan sertifikat akreditasi.

Pelaksanaan akreditasi RS sangat penting, karena akan memberi jaminan kualitas pelayanan bagi masyarakat. Akreditasi akan memberikan standard bagi RS secara nasional, sehingga memungkinkan penyetaraan kualitas RS di daerah dan kota. Pemberian akreditasi memungkinkan RS berkompetisi secara sehat, dalam meningkatkan pelayanan dan mutu rumah sakit itu sendiri. Sehingga bagi masyarakatnya pun bisa memudahkan mereka dalam mendapatkan akses rujukan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu sesuai dengan tujuannya yaitu menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat.

Akreditasi memberikan jaminan bagi masyarakat tentang mutu pelayanan dari rumah sakit. Sementara itu, jika sebuah rumah sakit tidak melakukan akreditasi maka izin operasionalnya akan dicabut. Per- 1 november 2011 akan dimulai akreditasi. Sesuai dengan peraturan yang mengatur tentang akreditasi itu berlaku setelah dua tahun masa sosialisasi. Maka setelah tanggal itu sanksi pencabutan izin operasional bagi rumah sakit yang belum terakreditasi benar-benar di berlakukan.

(49)

harus ditingkatkan. Selain itu juga pemenuhan fasilitas dan peralatan kesehatan yang diperlukan masyarakat yang berada dalam jangkauan rumah sakit juga dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Dalam upaya pemenuhan akreditasi, rumah sakit sudah seharusnya memberi perhatian yang lebih. Pihak rumah sakit harus mempersiapkan semua hal mulai dari fisik bangunan, pelayanan kesehatan, perlengkapan, obat-obatan, ketenagaan dan administrasi sebelum pelaksanaan akreditasi. Sehingga target pemenuhan akreditasi dapat terpenuhi, dan pelayanan rumah sakit pun dapat meningkat sesuai dengan harapan masyarakat.

(50)

KESIMPULAN

Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen yang ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang berlaku. Tujuan utama akreditasi rumah sakit adalah agar kualitas pelayanan yang diberikan terintegrasi dan menjadi budaya sistem pelayanan di rumah sakit sehingga memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Akreditasi dilakukan sekurang-kurangnya setiap tiga tahun sekali dan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Survei akreditasi ini dilakukan oleh badan yang terlegitimasi dan di Indonesia adalah komite akreditasi rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya (KARS). Sedangkan sertifikasi diberikan oleh dirjen pelayanan medis depkes RI berdasarkan rekomendasi KARS.

(51)

DAFTAR PUSTAKA

UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 417/Menkes/Per/II/2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit

http://ngada.org/bn124-2011.htm http://akreditasi.web.id

Referensi

Dokumen terkait

Energi dari medan radiasi ditransportasikan oleh pancaran atau gelombang elektromagnetik (photon), dan asalnya dari energi dalam material yang memancar.

Kegiatan asesmen meliputi:(1) asesmen lingkungan, yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasikan harapan sekolah dan msyarakat (orang tua peserta didik), sarana

mudah di lupakan.Misalnya setiap akan tidur, anak terbiasa untuk membaca ayat-ayat Alquran,atau ketika membicarakan halyang berkenaan dengan persaudaraan, misalnya, maka

Dalam penelitian ini rumusan hipotesis yang akan di uji kebenarannya adalah hubungan antara persepsi kualitas pelayanan kesehatan Puskesmas dan sosial ekonomi masyarakat

panen kayu yang lama, kurangnya jaminan pasar, persaingan lahan untuk tanaman pertanian, kebutuhan harian yang akan terganggu, dan kurangnya penguasaan teknologi.

akan tetapi jika yang digadaikan surat-surat berharga barang yang disandarkan kepada surat tersebut masih bisa dimanfaatkan, seperti seseorang menggadaikan sertifikat rumah, maka

Bentuk Kerancang di Usaha Sulaman Ambun Suri Kota Bukittinggi Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat diketahui bahwa bentuk kerancang di usaha sulaman Ambun Suri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak etanolik daun Awar-awar (Ficus septica Burm. f.) terhadap pemacuan apoptosis sel kanker payudara MCF-7.