29
ANALISIS KAWASAN PERENCANAAN
3.1 Analisis Daya Dukung Fisik dan Lingkungan
Daya dukung fisik dan lingkungan ini diharapkan dapat mengarahkan pemanfaatan lahan sesuai peruntukannya. Sehingga dalam hal ini pemanfaatan lahan baik pada kawasan budidaya dan kawasan lindung harus jelas fungsi pemanfataannya. Selain itu, bukan hanya fungsi penggunaan lahan yang diperhatikan, namun status lahan dan kemungkinan bencana alam yang dihadapi juga harus diperhatikan. Pemanfaatan kawasan budidaya seperti peruntukan permukiman dan sarana umum lainnya tidak lebih dari 5%, selebihnya merupakan peruntukan lahan pertanian, perkebunan sebagai kegiatan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya serta peruntukan lahan hutan dan sungai yang harus dijaga kelestariannya.
Kepadatan bangunan di zona ini tergolong rendah. Persentase ruang terbuka lebih besar dibandingkan dengan area yang terbangun. Dengan kondisi permukiman yang linear dan terdapat permukiman warga berada pada lahan yang curam. Begitupun kondisi lahan pertanian dan
perkebunan yang juga terdapat pada lahan yang cukup curam, sehingga kawasan prioritas ini secara umum rawan akan bencana longsor, sebab berada pada ketinggian antara 170-560 m. Selain itu, status lahan juga mendukung kondisi lingkungan, dimana kejelasan status tanah milik dengan status kepemilikan bangunan rumah juga harus diketahui kejelasannya.
3.2 Analisis Daerah Rawan Bencana
Secara umum kawasan prioritas ini merupakan daerah yang berpeluang paling besar mendapatkan bencana longsor, yang disebabkan ketinggian yang ada pada wilayah ini berkisar pada ketinggan 170-560 m. Sehingga diperlukan keadaan siaga terhadap bencana tersebut, seperti
penghijauan (reboisasi) sepanjang aliran sungai serta penghijauan sepanjang jalan dan wilayah minim pohon, serta pengadaan sengkedan atau terasering dan pengadaan lubang biopori di setiap rumah tangga.
BAB
III
30 Tabel 13. Analisis Daya Dukung Fisik dan Lingkungan
Fungsi Lahan Status Lahan Bencana Alam
Kekuatan/Potensi Kelemahan/Masalah Kekuatan/Potensi Kelemahan/Masalah Kekuatan/Potensi Kelemahan/Masalah
Jenis bangunan rumah masyarakat sebagain besar masih bergaya etnis bugis-makassar (rumah panggung) 267 unit
Terdapat lokasi yang dapat dikembangkan menjadi ruang terbuka publik Terdapat lokasi kawasan sejarah Permukiman berkembang tanpa memperhatikan GSB dan GSS Tidak tertatanya kawasan ruang terbuka publik dan kawasan sejarah yang ada
Status lahan dan rumah milik.
Status lahan kawasan sejarah secara turun menurun merupakan warisan sehingga mendorong masyarakat membangun permukiman didalam kawasan sejarah.
Sungai yang berada di kaw. Ini berfungsi sebagai penampung air Banyaknya pepohonan yang dapat mencegah longsor Sepanjang sungai terdapat tanaman bambu sebagai pencegah longsor Kurangnya talud pada daerah miring Kurangnya terasering pada lahan pertanian miring Masih terjadi penebangan pohon liar.
Sumber: Hasil analisis, 2013
3.3 Analisis Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau di kawasan perencanaan cukup banyak, sebab ±95% merupakan lahan terbuka. Banyaknya potensu RTH di kawasan ini dapat dilihat berupa pekarangan warga, lahan perkebunan dan pertanian, lahan kosong, dan jalur hijau sepanjang sungai. Namun permasalahan yang ada saat ini adalah kurangnya kepedulian masyarakat dalam mengolah ruang terbuka di masing-masing bangunan rumah dengan menyisakan lahan untuk pekarangan. Banyak bangunan rumah yang memiliki pekarangan namun tidak hijau, sehingga tidak menciptakan citra kawasan hijau.
Tabel 14. Analisis Ruang Terbuka Hijau
Potensi Permasalahan Arahan
Banyaknya lahan
terbuka hijau
Peruntukan lahan seperti kebun, sawah dan hutan menyatu sehingga tidak terdapat pengelompokan lahan Pengelompokan peruntukan lahan Terdapat lapangan yang dapat dijadikan ruang publik
Tidak difasilitasi oleh sarana penunjang lainnya
Penataan lapangan sebagai ruang publik
Banyaknya rumah
yang memiliki
pekarangan
Tidak dilengkapi oleh tumbuhan-tumbuhan pekarangan
Penataan pekarangan rumah.
31 Tersedianya Ruang
terbuka Hijau Publik yang dapat dikenbangkan
Daerah Rawan Bencana Longsor
32 3.4 Analisis Sosial, Budaya
Hubungan sosial masyarakat yang berada pada kawasan prioritas ini cukup erat yang dikarenakan saat ini hubungan kekeraban keluarga masyarakat sekitar masih sangat erat, serta kondisi budaya yang masih sangat dipelihara oleh masyarakat Onto yang berlandaskan agama Islam.
Tabel 15. Analisis Sosial Budaya Kaw. Prioritas
Potensi Permasalahan Arahan
Tumbuhnya organisasi generasi muda penggerak masyarakat Onto
Masih kurangnya partisipasi dari kalangan generasi muda. Karakter generasi muda yang
berkembang kearah modern yang bercampur pada karakter tradisional yang memunculkan karakter sosial baru sehingga membutuhkan pengawasan.
Dukungan masyarakat setempat dan tokoh-tokoh adat dalam pengembangan generasi muda
Budaya Balla Tujua masih diwariskan
Masyarakat yang memegang teguh adat ini terkadang sulit menerima masukan dari luar sebeb mempertahankan kondisi adat Penataan kawasan sejarah dengan dukungan pemerintah dalam pengembangannya & melestarikan budaya yang dianggap baik dan dapat menjadi daya tarik. Masih terlaksanakan acara adat tahunan balla tujua
Kurangnya fasilitas dalam kawasan sejarah tersebut serta informasi kemasyarakat luar masih sangat kurang
Sumber: Hasil Analisis, 2013
3.5 Analisis Kependudukan
Perkembangan kependudukan masyarakat yang berada pada kawasan prioritas ini sangat berpengaruh pada perkembangan kawasan nantinya, baik dari segi peruntukan lahan, pemanfaatan sarana dan prasarana juga sangat mempengaruhi. Sehingga dibutuhkan analisis kependudukan berupa proyeksi penduduk, kualitas SDM yang ada, tingkat kesejajteraan masyarakatnya.
1. Proyeksi Penduduk
Jumlah penduduk yang berada pada kawasan prioritas ini ditahun 2013 sebanyak 1.573 jiwa. Pt (2018) = 1.573 (1 + 0,04)5 Pt (2018) = 1.573 . 1,22 Pt (2018) = 1919 Pt = Po ( 1 + r ) n - Po = 1.573 jiwa - r = 0,040 - n = 5
Pertambahan penduduk kawasan prioritas sampai pada tahun 2018
33 2. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Tingkat kesejahteraan masyarakat yang bermukim pada kawasan prioritas dapat terlihat dari 9 indikator yang telah ditetapkan. Salah satu indikato rutama dalam klasifikasi kemiskinan ini adalah pekerjaan masyarakat yang akan mempengaruhi tingkat pendapatannya. Dari hasil yang telah didapatkan penduduk yang tergolong miskin dikawasan prioritas sebanyak 275 kepala keluarga dengan mayoritas pendapatan berada di <Rp 350.000/bulannya.
3. Kualitas SDM
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan penduduk dalam merencanakan lingkungannya. Saat ini, pada kawasan prioritas tingkat pendidikan masyarakat yang masih sangat rendah, sehingga mempengaruhi tingkat kesejateraan masyarakat. Selain itu, kualias SDM manusia juga dapat dilihat dari mata pencarian pokok masyarakat khususnya yang berada di kawasan prioritas. Dari data yang ada mata pencaharian masyarakat sebagian besar sebagai petani garapan, sehingga dengan pendidikan yang rendah juga sangat berpengaruh terhadap gaya atau sistem bertani masyarakat yang masih rendah, sehingga hasil yang didapatkan juga rendah. Oleh karena itu, dibutuhkan kegiatan dalam peningkatan SDM masyarakat.
Tabel 16. Analisis Sosial-Kependudukan Kawasan Prioritas Faktor Internal (Kekuatan-Kelemahan)
Perkembangan Sosial-Kependudukan (INTERNAL) Kependudukan (Penyebaran Penduduk) Perilaku Kekuatan/ potensi Kelemahan/
permasalahan Kekuatan/ potensi Kelemahan/ permasalahan ikatan/kekerabatan keluarga sangat kuat. Penduduknya
adalah suku asli bantaeng Onto Masih memegang kebudayaan Balla Tujua Hubungan sosial kuat, berpengaruh pada pertumbuhan rumah yang berdempetan Masyarakat sulit mendapatkan saran dari luar
karena masih memengang adat. Memegang nilai-nilai budaya lokal yang berlandaskan Islam Perkumpulan kuat jika terjadi acara/keg. Kekerabatan yang kuat Acara adat masih sering dilaksanakan Sikap ramah terhadap orang luar Pola hidup tidak sehat, Susahnya generasi muda bersosialisasi dalam beda jenis, sebab masih memegang adat Onto Kegiatan yang menunjukka n tradisi budaya lokal hanya terlihat pada acara adat tahunan
FAKTOR INTERNAL
34 Tabel 17. Analisis Sosial-Kependudukan Kawasan Prioritas Faktor
Eksternal (Kesempatan-Hambatan)
Perkembangan Sosial-Kependudukan (EKSTERNAL) Kependudukan (Penyebaran Penduduk) Perilaku Prospek/ kesempatan Kendala/ hambatan Prospek/
kesempatan Kendala/ hambatan
- Tidak ada kebijakan/ manajemen hunian sehat didaerah dataran tinggi Tidak ada pengawasan terhadap pertumbuhan permukiman didaerah ketinggian curam Budaya kumpul bersama kuat, mudah disertakan dalam menerapkan kebijakan kualitas lingkungan. Tidak ada dukungan kebijakan untuk menyusun rencana permukiman dan paket wisata sejarah balla tujua
FAKTOR EKSTERNAL
Sumber: Hasil Analisis, 2013
3.6 Analisis Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum mata pencaharian utama masyarakat yang berada pada kawasan prioritas adalah berprofesi sebagai petani garapan yang dimana pendapatan masyarakat tersebut tidak ditunjang oleh pertumbuhan ekonomi lainnya diberbagai sektor, sehingga pendapatan masyarakat sangat rendah yang menyebabkan jumlah KK Miskin di kawasan ini cukup besar. Kegiatan yang menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat adalah sebagian masyarakat hanya membangun warung rumahan sebagai tambahan pendapatan, selain itu kegaiatan industri rumah tangga lainnya belum dikembangkan.
Usaha rumah tangga berupa warung yang berada pada bangunan rumah masyarakat, sebagai salah
35 . Tabel 18. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Prioritas Faktor
Internal (Kekuatan-Kelemahan)
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Kegiatan usaha (pekerjaan) masyarakat Investasi pembangunan Kekuatan/ potensi Kelemahan/
permasalahan Kekuatan/ potensi Kelemahan/ permasalahan pendorong perkembangan perekonomian berupa pertanian/perkeb unan, peternakan dan wisata sejarah Secara umum, mata pencaharian utama penduduk adalah petani Pendapatan masyarakat tergolong sangat rendah kurangnya kemampuan masyarakat untuk mengembang kan sektor yang ada dan mengolah hasil pertanian Tanaman perkebunan khususnya ubi,labu dan pisang tidak berbasis produksi sebab tidak diolah menjadi makanan olahan rumah tangga Kawasan sejarah dapat dikembangkan menjadi kawasan pusat wisata sejarah adat 12 Masih tersedianya ruang lahan dalam pengembangan pertanian Kawasan prioritas sebagai daerah percontohan hasil perkebunan serrai kurangnya prasarana pendukung sektor pertanian antara lain; jalan tani, dan irigasi kurang tertatanya kaw. sejarah tidak adanya pengetahuan dalam mengembang kan hasil bahan baku pertanian (ubi, labu, dan pisang)
Sumber: Hasil Analisis, 2013
Tabel 19. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Prioritas Faktor Internal (Kesempatan-Hambatan)
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Kegiatan usaha (pekerjaan) masyarakat Investasi pembangunan
Prospek/ kesempatan Kendala/ hambatan Prospek/ kesempatan Kendala/ hambatan Potensi perkebunan serrai banyak diminati
oleh petani luar
Potensi sejarah sebagai perkembangan pusat wisata sejarah Potensi home
industri yang ada dapat dikembangkan Tidak ada kebijakan yang mendukung kegiatan perkebunan serrai Kurangnya dukungan sarana dan prasarana fisik yang dapat meningkatkan produktivitas Kurangnnya dorongan dari pemerintah dalam upaya penyelenggara an kegiatan usaha Masih tersediannya ruang untuk pengembanga n kegiatan perekonomian, khusunya usaha rumahan. Jalan utama yang melintasi kawasan prioritas mendukung kegiatan perekonomian. Keunikan karakteristik rumah panggung untuk pengembangan sektor pariwisata sejarah Tidak ada investasi untuk pengembangan penjualan hasil pertanian dan perkebunan serta kerajinan rumahan Belum tersediaanya prasarana pendukung kegiatan pertanian dan wisata sejarah Kurangnya sarana dan prasarana pendukung hasil pertanian (pasar)
36 3.7 Analisis Permukiman
1. Pola Permukiman
Pola perumahan di kawasan prioritas termasuk pola permukiman linear. Hal ini terlihat dari arah pertumbuhannya yang mengikuti jalan-jalan utama dan lingkungan.
2. KDB dan Kepadatan Bangunan
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) merupakan perbandingan luas
lahan terbangun dengan luas lahan keseluruhan peruntukan yang dinyatakan dalam persen (%). KDB di kawasan prioritas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 20. Kepadatan & KDB Kaw. Prioritas
RW Jumlah Rumah Kepadatan rata-rata Bangunan KDB Rata-rata Ket. Total 346 2 55 Sedang
Sumber: Hasil Analisis, 2013
KDB yang terdapat di kawasan prioritas jika dihubungkan dengan standar perumahan dan permukiman, KDB di kawasan prioritas Kelurahan Onto tergolong tinggi.
Tingkat kepadatan bangunan di kawasan prioritas yaitu 2 bangunan/ ha, jika dihubungkan dengan parameter diatas maka tingkat kepadatan bangunan di kawasan prioritas sangat rendah. Sebab pada
kawasan ini di dominasi oleh lahan terbuka hijau (pertanian, perkebunan).
3. Garis Sempadan Bangunan
Garis sempadan bangunan pada kawasan prioritas berbeda-beda. Terdapat Rumah yang dimana jarak antara bangunan dan garis jalan 0-1 m, namun tedapat pula garis sempadan bangunan yang mencapai 3-5 m.
4. Model Bangunan
Salah satu potensi model bangunan pada kawasan ini adalah masyarakat masih mempertahankan jenis bangunan berkarateristik adat bugis makassar (rumah panggung), namun saat ini dengan potensi yang ada, masyarakat tidak mendukungnya dengan pola hidup rumah sehat.
Jarak bangunan ke bahu jalan 0-1 m
Jarak bangunan ke bahu jalan 3-5 m
37 3.8 Analisis Kebutuhan Sarana
Kebutuhan sarana umum di kawasan prioritas ini merupakan fasilitas-fasilitas penunjang dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam tabel analisis di bawah terlihat bahwa terdapat sarana umum yang telah mencukupi namun untuk kondisi bangunannya masih kurang memadai (Taman Kanak-kanak) sehingga dibutuhkan peningkatan kualitas sarana tersebut, dan masih terdapat pula kebutuhan sarana yang tidak terpenuhi dikawasan ini.
Tabel 21. Analisis Kebutuhan Sarana Kaw. Prioritas
No Uraian Ketersediaan sarana (unit) tahun 2013 Jumlah penduduk pendukung Keterangan Terbangun Standar 1. Pendidikan a. TK b. SD c. SMP d. SMA 2 1 1 - 1 1 1 - 1250 1600 4800 4800 Mencukupi Namun tidak dalam kondisi baik Mencukupi Mencukupi - 2. Peribadatan a. Mesjid 6 1 2500 Mencukupi 3. Pemerintahan
a.Kantor lurah - - - Mencukupi
4. Perdagangan a. Warung b. Pertokoan - - 250 6000 Mencukupi 5. Kesehatan a.Posyandu b. Pustu c. Tempat praktek d. Klinik - 1 - - 3 - - - 500 30000 5000 - penambahan mencukupi 6. Ruang Terbuka, Olahraga Dan Rekreasi
a.Taman main b. Lapangan c. Balai pertemuan - 1 - - 0 - 2500 30000 2500 Mencukupi
Sumber: Hasil Analisis, 2013
Tabel 22. Analisis Potensi Dan Masalah Kebutuhan Sarana
Kekuatan/ potensi Kelemahan/ permasalahan Prospek/ kesempatan Kendala/ hambatan Kawasan prioritas terdaat sarana pendidikan TK, SD dan SMP yang memenuhi
kebutuhan anak usia sekolah
Sarana peribadatan berupa masjid sudah tersedia dimasing-masing RW
Terdapat lapangan yang dapat dijadikan pusat ruang publik
Sarana pendidikan berupa TK
tidak dalam kondisi baik (permanen) dan lahan masih menumpang pada bangunan rumah masyarakat
Sara peribdatan telah tercukupi
jika dilihat dari jumlah penduduknya, namun melihat kondisi permukiman yang terpencar menjadikan wilayah tertentu membutuhkan penambahan mesjid Tidak terfasilitasinya sarana
posyandu, sehingga banyak balita tidak memperoleh imunisasi dengan baik
Merupkan pusat sarana pendidikan Aksesibilitas dalam menuju sarana umum tersebut tidak memadai
38 3.9 Analisis Kebutuhan Prasarana
1. Air Bersih
Pemenuhan akan air bersih pada kawasan perencanaan sebagian besar bersumber dari mata air terlindung yang di integritaskan melalui jaringan perpipaan. Namun saja hal ini mengalami beberapa kendala dan masalah yang disebabkan tidak seluruh masyarakat mendapatkan kebutuhan air bersih dengan baik.
Tabel 23. Analisis Kebutuhan Air Bersih Kaw. Prioritas
Fasilitas Kebutuhan
Standar (Liter/hari)
Kawasan Prioritas air Bersih 2013 air Bersih 2018
Permukiman 60 ltr/jiwa/hr 94.380 ltr 115.140 ltr Kesehatan (Pustu)* 10.000 ltr/unit/hr 10.000 ltr 10.000 ltr MCK* 1.000 ltr/unit/hr 20.000 ltr 20.000 ltr Peribadatan Mesjid 3.500 21.000 ltr 24.500 ltr Kantor Desa 1.000 ltr/hr - - TK 400 ltr/unit 800 ltr 800 ltr SD 7200 ltr/unit 7200 ltr 7200 ltr SMP 10.800 ltr/unit 10.800 ltr 10.800 ltr
Jumlah Kebutuhan Air Bersih (liter) 164.180 ltr 188.440 ltr
Sumber: Hasil Anaisis, 2013
2. Jaringan Listrik
Pemanfaatan sumber penerangan pada kawasan prioritas 100% tidak terlayani oleh jaringan listrik PLN. Sehingga sebagian besar masyarakat menggunakan system penarangan illegal (sambungan dari rumah kerumah), dan sebagian lagi menggunakan penerangan dari PLTA dan pelita.
Analisis:
Jika dilihat dari sumber mata air yang ada, kebutuhan akan air bersih dimasing-masing rumah dapat terpenuhi, hanya saja sistem perpipaan yang ada kurang baik, serta kesadaran masyarakat dalam mengelola sistem perpipaan tersebut masih kurang serta tidak adanya alat pengontor penggunaan air bersih seperti meteran ataupun kran air, sehingga wilayah bawah seperti RW 8 tidak memperoleh air bersih dengan baik.
39 Tabel 24. Analisis Jaringan Listrik Kaw. Prioritas
Fasilitas Standar
Pada Kawasan Prioritas Jumlah kebutuhan
2013
Jumlah kebutuhan 2018 Permukiman 450 VA/watt 138.150 VA/watt 172.800 VA/watt Pustu 2.500 VA/watt 2.500 VA/watt 2.500 VA/watt Fasilitas Umum 20 % dari kebutuhan rumah tangga 27.630 VA/watt 34.560 VA/watt Penerangan Jalan 10 % dari kebutuhan rumah tangga 13.815 VA/watt 17.280 VA/watt
Kantor Desa 2.500 VA/watt - -
Jumlah Kebutuhan Energi Listrik 182.095 VA/watt 227.140 VA/watt
sumber: hasil analisis, 2013
Saat ini, masyarakat yang berada di kawasan prioritas telah memanfaatkan listrik tenaga air, sehingga diharapkan kedepannya pemanfaatan listrik tenaga air ini dapat dikembangkan jika pemenuhan akan listrik PLN tidak terpenuhi.
3. Persampahan
Sistem persampahan yang dilakukan masyarakat pada kawasan prioritas masih dilakukan secara tradisional, dimana masyarakat masih membuang sampah pada lahan-lahan kosong yang berada di sekitar rumah. Dengan jumlah penduduk 1.595 jiwa dengan jumlah timbulan
sampah 3.190 l/hari, sehingga penanggulangan timbulan sampah tersebut membutuhkan sarana persampahan berupa tempat sampah permenen yang mampu melayani masing-masing lingkungan yang didukung oleh pemisahan tempat sampah dimasing-masing ruumah tangga.
Tabel 25. Analisis Prasarana Persampahan Kaw. Prioritas
Masalah Analisis Arahan
Tidak terdapatnya sarana tempat sampah komunal Masyarakat tidak memisahkan sampahnya Tidak terlayaninya pengangkutan sampah Kesadaran masyarakat masih kurang dikarenakan masih terdapatnya lahan kosong yang dapat
digunakan untuk
membuang sampah
sembarangan serta tidak adanya fasilitas TPS dimasing-masing
lingkungan
Masyarakat memilah sampah dimasing-masing rumah tangga yang kemudian sampah dikumpulkan di tempat sampah masing-masing ataupun membawa pada TPS dan sampah diangkut oleh petugas kebersihan
Pemanfaatan lubang biopori Pembuatan sarana tempat sampah komunal Pengelolaan sampah basah menjadi pupuk organik
40 5. Jamban Pribadi dan MCK umum
Secara umum pemanfaatan jamban pribadi kawasan prioritas masih jauh dari standar kebutuhan. Sebab, hanya sekitar 31,5% rumah tangga yang mempunyai jamban pribadi atau sebanyak 109 rumah dari 346 bangunan rumah yanga ada. Sedangkan yang memanfaatkan septik tank diantara 109 rumah tersebut hanya 87 rumah tangga menggunakan sistem septik tank, sedangkan yang tidak memiliki jamban pribadi lebih memilih BABS pada lahan perkebunan ataupun saluran drainase.
Saat ini pemenuhan akan MCK umum di kawasan prioritas sebanyak 20 unit dan diantara 3 unit yang ada sudah tidak berfungsi lagi, dikarenakan pemeliharaan dari masyarakat yang sangat kurang.
Tabel 26. Analisis Jamban Pribadi dan MCK Umum
Masalah Analisis Arahan
Masyarakat masih BABS (perkebunan, drainse) Terdapat MCK umum yang sudah tidak berfungsi
Setiap rumah tangga memiliki jamban pribadi dengan menggunakan sistem septik tank
Setiap MCK yang ada dilengkapi oleh sistem air bersih yang baik serta pemeliharaan oleh masyarakat akan penggunaan MCK Pengadaan jamban pribadi/umum ataupun pengadaan MCK pada lokasi-lokasi strategis.
Sumber: Hasil Analisis, 2013
6. Jembatan
Sarana jembatan yang ada sebagai penghubung antara satu aktifitas ruas jalan ke aktifitas lainnya. Namun saat ini terdapat 1 unit jembatan yang dalam kondisi rusak berat (terputus) sehingga menghambat aksesibilitas masyarakat. Sehingga arahan pengembangan yang diharapkan adalah penataan jembatan rusak.
Tabel 27. Analisis Jembatan Kaw. Prioritas
Masalah Analisis Arahan
Jembatan putus/rusak berat sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagai penghubung kegiatan masyarakat
Jembatan yang ada harus mampu mengaksesibilitas kegiatan masyarakat dengan baik, sehingga dapat dengan mudah mencapai tujuan kegiatan.
Perbaikan kualitas jembatan yang ada
41 7. Drainase dan SPAL
Saluran drainase pada kawasan prioritas masih kurang memadai, hal ini dilihat dari banyaknya ruas-ruas jalan yang tidak terintegrasi oleh saluran drainase serta adanya drainase yang masih tidak berfungsi dikarenakan kondisi yang tidak terhubung.
Sedangkan untuk kondisi SPAL di kawasan perencanaan 100% rumaah tangga tidak mengintegrasikan pembuangan limbah rumah tangganya ke saluran drainase. Masyarakat hanya memanfaatkan lahan kosong dibelakang rumah masing-masing sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangganya.
Tabel 28. Analisis Drainase dan SPAL
Masalah Analisis Arahan
Terdapat drainase dengan kondisi tersumbat Terdapat saluran drainase yang terputus Masyarakat tidak menggunakan SPAL ke drainase
Setiap rusa jalan yang ada
terpenuhi akan
penyediaan drainase sesuai fungsi jalan yang ada.
Setiap rumah tangga menggunakan SPAL yang terintegrasi ke saluran drainase Peningkatan kualitas drainase dengan membersihkan drainase yang tersumbat serta pengadaan penyambungan drainase yang tidak terintegrasi. Pengadaan SPAL
disetiap rumah tangga
Sumber: Hasil Analisis, 2013
8. Jaringan Jalan
Jaringan jalan pada kawasan prioritas terdiri dari fungsi jalan arteri, lingkungan dan jalan setapak dan terdiri dari jalan yang terintegrasi dan terdapat pula jalan yang tdiak terintegrasi. Kebutuhan akan panjang jalan pada kawasan ini telah terpenuhi, hanya saja yang menghambat aksesibilitas masyarakat pada berada pada kawasan ini adalah kualitas jalan yang sangat buruk. Sebab, sebesar 87,7% kondisi jalan di kawasan ini rusak berat. Oleh karena itu dibutuhkan peningkatan kualitas jalan baik pada status jalan arteri, lingkungan maupun jalan setapak.
42 Tabel 29. Analisis Jaringan Jalan Kaw. Prioritas
Nama Jalan Pot. Jalan Lebar Sempadan
Bangunan Ket.
Analisis
Jalan Pukkulu 1 3,5 m 1-3 m Material
aspal (rusak berat)
Jalan arteri yang menghubungkan antara lingkungan ini dalam
kondisi rusak berat, sehingga menghambat aksesibilitas masyarakat
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan lahan
perkebunan
Tidak terdapat jalur hijau
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dengan elemen pelengkap prasarana jalan (jalur hijau, lampu jalan)
Jalan Pukkulu 2 3 m 1-2 m Material
batu (rusak berat)
Kondisi jalan dalam kondisi rusak berat, serta tidak terhubung ke lingkungan sebelah, sebab penghubung jembatan rusak berat
Sekitar jalan di dominasi oleh sebagian permukiman dan lahan
perkebunan
Tidak terdapat jalur hijau
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dengan elemen pelengkap prasarana jalan (jalur hijau, lampu jalan)
Jalan Poros Jambua-Gamacayya 3,5 m 0-2 m Material aspel (kondisi baik-rusak sedang)
Tarikan lalu lintas tinggi, sebab merupakan jalan penghubung antara 1 desa ke desa lain.
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan lahan
perkebunan
Tidak terdapat jalur hijau
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dengan elemen pelengkap prasarana jalan (jalur hijau, lampu jalan)
Jalan Ling. Jambua 2 m 0,5-2 m Material
rabat beton (rusak sedang)
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan sarana umum
sekolah
Tidak terdapat jalur hijau
43
Jalan Setapak Jambua 3 m 1-2 m Material
tanah (rusak sedang)
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman Tidak terdapat jalur hijau
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dan jalur hijau
Jalan. Balla Tujua 3,5 0-2 m Material
aspel (rusak berat)
Kondisi jalan rusak berat
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan lahan
perkebunan
Tidak terdapat jalur hijau
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dengan elemen pelengkap prasarana jalan (jalur hijau, lampu jalan)
Jalan Ling. Balla Tujua 3 m - Material
tanah (rusak berat)
Jalan lingkungan dalam kondisi rusak berat
Sekitar jalan di dominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan Arahan: Peningkatan kualitas jalan
Jalan Ling. Gamacayya 3 m 0-2 m Material aspal (rusak berat)
Jalan lingkungan dalam kondisi rusak berat
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan lahan
perkebunan
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dengan elemen pelengkap prasarana jalan drainase
Jalan Barakassi 3 m 1-3 m Material
aspal bebatuan (rusak berat)
Kondisi jalan rusak berat
Sekitar jalan di dominasi oleh permukiman dan lahan
perkebunan dan pertanian
Arahan: Peningkatan kualitas jalan dan elemen lampu jalan Sumber: Hasil analisis, 2013
44 Tabel 30. Analisis Kondisi Prasarana Kawasan Prioritas
Jenis Prasarana Kekuatan/ potensi Kelemahan/ permasalahan Prospek/ kesempatan Kendala/ hambatan Air Bersih Terdapat sumber mata air di
Gamacayya dan Balla Tujua
System perpipaan yang tidak dikelola dengan baik.
Terdapat masyarakat yang tidak sadar akan pemanfaatan air bersih Tidak terdapat alat pengontrol
penggunaan air bersih (meteran dan kran air)
Terlayaninya akan sistem meteran air dan kran sebagai pengontor penggunaan air bersih
Belum adanya program pengadaan meteran air.
Listrik Terdapat wilayah yang memanfaatkan listrik tenaga air
Tidak terlayani jaringan listrik PLN sehingga masih terdapat rumah yang tidak memiliki sumber penarangan serta banyaknya masyarakat yang menggunakan listrik PLN ilegal. Tidak adanya fasilitas rambu-rambu
jalan
Pengadaan mesin PLTA dan alternatif penerangan lainnya dengan daya besar
Sosialisasi akan penghematan listrik
Sanitasi Lingkungan
Persampahan Lahan yang cukup banyak
dalam pengelolaan sarana
persampahan (tempat sampah)
Tidak terdapatnya sarana tempat sampah komunal
Masyarakat tidak memisahkan sampahnya
Tidak terlayaninya pengangkutan sampah
Sosialisasi dan pelatihan dalam mendaur ulang sampah
Belum adanya program pengangkutan sampah
Jamban Masih banyaknya rumah yang tidak
memiliki jamban pribadi yang menggunakan septik tank (237 rmh)
Masyarakat masih BABS
Memperoleh program percepatan pembangunan jamban
Pengetahuan hidup sehat dan belum adanya program
pengadaan septik tank komunal
SPAL Setiap rumah tangga tidak memiliki
saluran pembuangan air limbah yang diintegrasikan ke saluran drainase
45 Drainase Telah memiliki jaringan
drainase
Telah memiliki jaringan drainase,
namun di beberapa tempat saluran
drainase yang ada menyempit,
konstruksi yang salah dan tersumbat serta terdapat jaringan drainase yang terputus
Jembatan Terdapat sarana penghubung jembatan
Kondisi jembatan rusak parah
Jalan
Ketersediaan prasarana jalan utama yang terintegrasi
Jaringan jalan mengikuti
topografi kawasan.
Kenyamanan pengguna jalan
terganggu diakibatkan kondisi jalan utama rusak besar (7.158 m) Masih terdapat jalan lingkungan
dengan material tanah (896 m)
Prasarana jalan yang tersedia belum memenuhi ukuran standar