BAB III METODE PENELITIAN. survei analitik dengan rancangan cross sectional, yaitu pengukuran variabel bebas

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional, yaitu pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di bagian stasiun pengeringan PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, dikarenakan belum pernah ada penelitian mengenai hubungan tekanan panas dengan tekanan darah pada pekerja di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2017. 3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah 27 orang yang bekerja di stasiun pengeringan.

3.3.2 Sampel

(2)

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari hasil pengamatan langsung, pengukuran tekanan panas dilakukan dengan Area Heatstress Monitor merk Questemp dan pengukuran tekanan darah dilakukan dengan tensi meter.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder di peroleh dari PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong yang meliputi profil perusahaan dan gambaran umum perusahaan.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel

Variabel dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah tekanan panas di stasiun pengeringan.

2. Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah tekanan darah pada pekerja di stasiun pengeringan.

3.5.2 Definisi Operasional

1. Tekanan panas (Heat Stress) adalah batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan factor lingkungan (temperatur udara, kelembaban, pergerakan udara, dan radiasi perpindahan panas) dan pakaian yang digunakan. Tekanan panas diukur dengan alat ukur Area Heatstress Monitor. 2. Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah dari sistem sirkulasi

(3)

merupakan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik pekerja di stasiun pengeringan PT. Perkebunan Nusantara IV Bah Butong yang diukur dengan menggunakan tensi meter digital OMRON.

3.6 Metode Pengukuran 3.6.1 Tekanan Panas

Tekanan panas diukur dengan alat yang bernama Area Heatstress Monitor merk Questemp, alat tersebut dioperasikan oleh asisten Laboratorium Teknik Industri USU. Questemp tidak dapat menunjukkan angka ISBB lingkungan secara langsung. Questemp hanya dapat menunjukkan angka suhu basah (Wet Bulb) dan suhu radiasi (Globe). Oleh karena itu, untuk mendapatkan ISBB lingkungan kerja terlebih dahulu harus mengetahui suhu basah (Wet Bulb) dan suhu radiasi (Globe) di lingkungan kerja tersebut. Setelah mengetahui angka Wet Bulb dan Globe, barulah dapat dicari suhu pada lingkungan kerja tersebut atau ISBB. Untuk pekerja di stasiun pengeringan, pekerja tidak mengalami paparan sinar matahari secara langsung. Untuk itu dapat dipakai rumus kedua ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,3 x suhu radiasi (Globe).

Menurut analisa, pekerja di stasiun pengeringan PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong termasuk kedalam kategori jam kerja 75% - 100% dan dalam beban kerja sedang. Jadi suhu yang diperkenankan oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja adalah tidak lebih dari 280C.

Adapun cara pengukurannya : 1. Tombol power ditekan

(4)

3. Tombol globe ditekan untuk menentukan suhu bola

4. Tombol wet bulb ditekan untuk mendapatkan suhu bola basah 5. Hasil akan keluar kemudian dicatat

6. Tombol power ditekan kembali untuk mematikan

Pengukuran dilakukan di dua titik setiap mesin pengeringan yang ada di stasiun pengeringan yaitu di depan dan di belakang mesin. Pengukuran dilakukan pada pukul 07.00 WIB - 20.00 WIB dengan tiga kali pengukuran yaitu pada awal, pertengahan dan akhir shift kerja, kemudian dari data tersebut diambil rata-ratanya sehingga didapatkan data suhu pada lingkungan kerja tersebut.

Adapun kategori untuk tekanan panas adalah :

1. Tempat kerja memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang tidak melebihi 28,0 0C.

2. Tempat kerja tidak memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang melebihi 28,0 0C.

3.6.2 Tekanan Darah

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan tensi meter digital OMRON dengan satuan mmHg yang diukur oleh tenaga medis. Dimana tekanan darah optimal orang dewasa menurut WHO-ISH 1999 adalah 120/80 mmHg. Pengukuran tekanan darah pada tenaga kerja dilakukan pada pukul 07.00 WIB – 20.00 WIB dengan tiga kali pengukuran yaitu sebelum bekerja, saat waktu istirahat dan 15 menit sesudah pekerja melakukan pekerjaannya.

Adapun cara pengukurannya adalah: 1. Pasang manset perekat pada lengan

(5)

2. Tekan tombol power

3. Tunggu hingga angka pada monitor stabil 4. Catat hasil pengukuran tekanan darah tersebut.

Adapun kategori untuk tekanan darah adalah:

1. Tekanan darah normal yaitu 120/80 mmHg atau tekanan darah sebelum pekerja melakukan pekerjaannya.

2. Tekanan darah meningkat yaitu jika tekanan darah pekerja setelah bekerja melebihi tekanan darah sebelum pekerja melakukan pekerjaannya.

3.7 Metode Analisis Data

Dalam suatu penelitian, analisis data merupakan salah satu langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian masih mentah dan belum memberikan informasi. Data-data tersebut dianalisis menggunakan program Statistic Package For The Social Science (SPSS).

Analisis penelitian ini mencakup :

1. Analisa univariat, yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variable variabel independen dan dependen dalam bentuk distribusi frekuensi.

2. Analisis bivariat, yaitu analisis lanjutan untuk melihat hubungan antara variabel independen (tekanan panas) dan variabel dependen (tekanan darah) menggunakan uji Chi Square dengan membandingkan nilai a sebesar 0,05 pada taraf kepercayaan 95%. Jika P value < 0,05 artinya ada hubungan yang bermakna antara variabel independen (tekanan panas) dengan variabel dependen (tekanan darah). Jika P value > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara tekanan Panas dengan tekanan darah.

(6)

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong

Perkebunan Bah Butong dibuka pada tahun 1917 oleh Nederland Handel

Maskapai (NV.NHM). Pabrik pertama didirikan pada tahun 1927 dan mulai

beroperasi sejak tahun 1931. Secara kelembagaan, tahun 1957 Pemerintah Indonesia melakukan pengambil alihan perusahaan yang dikelola bangsa asing, termasuk perusahaan NHM, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 229/UM/57, Tanggal 10 Agustus 1957 yang diperkuat dengan Undang-Undang Nasionalisasi Nomor. 86/1958.

Tahun 1961, PPN Baru dan Pusat Perkebunan Negara dilebur menjadi Badan Pimpinan Umum PPN Daerah Sumatera Utara I-IX melalui U.U. Nomor. 141 Tahun 1961 Sumut III dan Jo PP Nomor 141 Tahun 1961. Tahun 1963 Perkebunan Teh Sumatera Utara dialihkan menjadi Perusahaan Aneka Tanaman IV ( ANTAN-IV ) melalaui PP Nomor 27 Tahun 1963. Pada tahun 1968 terjadi perubahan menjadi

Perusahaan Negara Perkebunan VIII (PNP VIII) melalui PP Nomor 141 Tahun

1968 Tanggal 13 April 1968.

Perubahan berikutnya mulai tahun 1974 menjadi Persero yaitu PT

Perkebunan VIII ( PTP VIII ) melalui Akta Notaris GHS Lumban Tobing, SH

(7)

YA/5/5/23, Tanggal : 07 Januari 1975. Setelah mengalami beberapa kali pergantian nama perusahaan maka pada tahun 1974 nama perusahaan menjadi perusahaan negara PT. Perkebunan VIII (PTP VIII) mengusahakan 6 (Enam) Unit Usaha Teh yaitu Unit Balimbingan, Marjandi, Bah Birung Ulu, Sidamanik, Bah Butong, Toba Sari dan Sibosur.

Pada tanggal 11 Maret 1996 terjadi restrukturisasi kembali, dimana Perkebunan Bah Butong masuk dalam lingkup PTP Nusantara IV melalui Akte Pendirian PTPN IV Nomor. 37 Tanggal 11 Maret 1996 yang mengatur peleburan PTP VI, VII dan VIII menjadi PT Perkebunan Nusantara IV (PERSERO). Sejak tahun 1998 s/d 2000 dibangun pabrik baru yang lebih besar dan modern, diresmikan pada tanggal 20 Januari 2001.

4.1.2 Keadaan Umum Perusahaan

Lokasi Kebun Bah Butong berada di Kecamatan Sidamanik, 26 Km dari Kota Pematang Siantar dan 155 Km dari Kantor Pusat yang berada di Kota Medan. Luar Areal HGU = 2.602.95 Ha dengan luas TM = 1.049.95 Ha dengan ketinggian 890 mdpl. Jenis klon tanaman the terdiri dari tanaman klonal (Gambung Grup). Unit Usaha Sidamanik, Bah Butong dan Toba Sari manajemen PTPN IV mempertahankan komoditas teh tetap diusahakan dan mulai januari 2012 produksi dari Unit Tobasari dan Sidamanik diolah di pabrik unit usaha Bah Butong Kec. Sidamanik Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.

(8)

Tabel 4.1 Jumlah Karyawan PT Perkebunan Nusantara IV Bah Butong Uraian 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Karyawan 11 10 10 10 10 10 Pimpinan Karyawan 926 889 808 804 786 671 Pelaksana Jumlah 937 899 818 814 796 681

4.1.3 Visi dan Misi Perusahaan 1. Visi Perusahaan

Menjadi pusat keunggulan perusahaan agro industri pada segmen teh dengan tata kelola perusahaan yang baik, mampu bersaing baik disektor hulu dan hilir ditingkat nasional maupun internasional serta berwawasan lingkungan.

2. Misi Perusahaan

1. Menjamin keberlanjutan usaha yang kompettitif.

2. Meningkatkan daya saing produk secara berkesinambungan dengan sistem, cara dan lingkungan kerja yang mendorong munculnya kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan produksitivitas dan efisien.

3. Meningkatkan laba secara berkesinambungan.

4. Mengelola usaha secara profesional untuk meningkatkan nilai perusahaan yang mempedomani etika bisnis dan Tata Kelola Perusahaan yang baik (GCG).

5. Meningkatkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

6. Melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program pemerintah pusat/ daerah.

(9)

4.1.4 Proses Pengolahan Teh Hitam

Proses produksi di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Kebun Bah Butong dimulai dengan mengolah bahan baku sampai menjadi produk, dimana bahan baku disini adalah pucuk teh dan produk yang dihasilkan adalah teh hitam, tujuan pokok yang hendak dicapai adalah Outer quality (bentuk luar : bentuk teh yang sesuai dengan standart). Inner quality (rasa dan aroma).

Sistem pengolahan teh hitam ada dua macam yaitu : sistem ORTODOX dan sistem CTC. Perkebunan Bah Butong mengolah teh hitam dengan sistem kombinasi ORTODOX – Rector Vane dengan kapasiats olah : 1.530 Kg teh kering per jam dan kapasitas tamping daun teh basah ± 100 ton.

Dalam proses pengolahan teh hitam dilakukan beberapa tahapan–tahapan pengolahan. Proses tersebut di mulai dari :

5. Stasiun Penerimaan Daun Teh basah 6. Stasiun Pelayuan

7. Stasiun Turunan Daun Layu 8. Stasiun Penggulungan

9. Stasiun Fermentasi (reaksi oksidasi enzimatis) 10. Stasiun Pengeringan

11. Stasiun Prasortasi 12. Stasiun Sortasi 13. Stasiun Pengepakan.

1) Stasiun Penerimaan Daun Teh Basah (DTB)

(10)

ruang pelayuan dan dimasukkan ke WT (Withering Trough) dengan alat angkut MONORAIL, selanjutnya DTB dibeber/dikirap untuk dilayukan.

Cara analisa mutu pucuk halus kasar sebagai berikut :

1. Ambil pucuk teh segar yang telah dibeber diatas WT, setiap mandoran, setiap waktu timbang sebanyak 6 (enam) tempat secara diagonal, pertama dari bagian atas, kedua dari bagian tengah, ketiga dari bagian bawah masing-masing sebanyak 250 gr.

2. Kumpulkan pucuk teh segar dalam keranjang, aduk sampai rata dibagi 4 (empat) bagian. Sampel diambil 2 (dua) bagian secara diagonal.

3. Ambil sampel sebanyak 250 gr. Kemudian pisahkan pucuk teh segar dari bagian yang getas, yang kasar, gulma dan pucuk lanas/memar.

4. Timbang bagian pucuk yang getas = a gr 5. Timbang bagian pucuk yang kasar = b gr 6. Timbang bagian gulma = c gr 7. Timbang bagian pucuk lanas/memar = d gr 2) Stasiun Pelayuan

Tujuan pelayuan adalah mengurangi kandungan air daun agar konsentrasi polifenol dari enzim meningkat sehingga cocok untuk oksidasi. Secara fisik daun menjadi lemas dan mudah dibentuk menggulung. Selain itu pelayuan juga perlu mengakomodasikan terjadinya perubahan kimia/fisiologis lepas panen mendukung terbentuknya calon aroma yang berjalan lambat.

Selama pelayuan terjadi perubahan biokimia yang juga merupakan proses penting, karena berpengaruh pada komposisi kimia dari senyawa yang akan terbentuk

(11)

kemudian dan menentukan karakteristik liquor dan flavor teh jadi. Selam proses pelayuan, sebagian air pucuk diuapkan secara bartahap, dengan mengalirkan udara melalui permukaannya, yang dinamakan pelayuan fisik atau pelayuan saja, sedangkan proses perubahan biokimia dan enzimatik dinamakan pelayuan kimia.

3) Stasiun Turunan Daun Layu

Setelah proses pelayuan, daun teh diangkut menuju stasiun turunan daun layu. Proses turunan daun layu ini merupakan perantara sebelum daun teh diangkut untuk proses penggulungan.

4) Stasiun Penggulungan

Penggulungan akan memecah sel sehingga terjadi pertemuan polifenol dan enzim oksidase, karena itu saat mulai digulung selalu dianggap sebagai awal oksidasi polifenol. Pada fase ini kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, oksigen dan rentang waktu harus dikendalikan dengan baik. Kerataan tingkat oksidasi pada bubuk hasil penggulungan diusahakan melalui sortasi basah yang biasanya dilaksanakan dengan pengayakan.

Tujuan penggulungan adalah untuk mendapatkan partikel teh yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pengolahan selanjutnya, yaitu fermentasi, pengeringan dan sortasi. Proses penggulungan harus dapat menghasilkan partikel teh dengan tekstur dan ukuran yang homogen serta bentuk dan penampakan (appearance) tertentu sesuai permintaan pasar. Tekstur tidak boleh flaky tetapi mendekati sferik (gelintingan berbentuk bulat dan padat) serta memiliki kekuatan mekanik yang tinggi, hingga akan mempunyai struktur yang kokoh dan tidak mudah pecah atau rusak pada perlakuan sortasi pengepakan dan transportasi.

(12)

5) Stasiun Fermentasi (Oksidasi Enzimatis)

Penggunaan istilah fermentasi sebenarnya tidaklah tepat, karena dapat memberikan pengertian yang salah. Sebenarnya yang terjadi di tahap pengolahan teh ini bukanlah aktivitas mikroorganisme, melainkan reaksi kimia murni, tepatnya reaksi oksidasi enzimatik. Tetapi karena sudah menjadi istilah buku di dunia industri teh, baik di kalangan produsen maupun yang bergerak di bidang tata niaga, maka istilah fermentasi tetap digunakan. Reaksi kimia yang terjadi selama fermentasi sangat kompleks dan belum seluruhnya diketahui. Penelitian terhadap reaksi kimia ini masih terus berlanjut, terutama dengan tersedianya peralatan analitik yang canggih.

Perubahan kimia yang terjadi selama proses fermentasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, jauh lebih berarti dibandingkan dengan perubahan kimia pada proses pelayuan. Reaksi oksidasi enzimatik polifenol teh yang terjadi selama proses fermentasi inilah yang membentuk karakter appearance (penampakan), liquor (air seduhan) dan infused leaf (ampas seduhan). Sebagian besar karakter appearance seperti flaky, leafy, grainy dan bold terjadi selama proses maserasi, sedangkan choppy, irregular, mixed dan stalky terjadi selama proses sortasi dan hanya blackish dan brownish yang terbentuk selama proses fermentasi.

Flavor merupakan salah satu faktor terpenting dalam penentuan mutu teh jadi. Senyawa utama yang menghasilkan flavor antara lain adalah polifenol, kafein, dan asam amino, dan untuk aroma adalah terpenoid, alkhol dan senyawa karbonil, sedangkan klorofil selain berpengaruh terhadap flavor, juga pada appearance.

Ketebalan sebaran bubuk yang difermentasi bervariasi antara 4–10 cm. Ketebalan sebaran bubuk mempengaruhi kecepatan naiknya suhu bubuk. Semakin

(13)

bubuk yang lebih tebal harus diikuti oleh waktu fermentasi yang lebih pendek. Reaksi Oksidasi Enzymatis yang terjadi dalam proses fermentasi adalah merupakan reaksi kimia antara oksigen dengan polifenol teh dengan bantuan enzym yang membentuk karakter Appearance (penampakan), liquor (air seduhan), dan Infused leaf (ampas seduhan).

Tabel 4.2 Waktu Fermentasi

Bubuk I Bubuk II Bubuk III Bubuk IV Badag (menit) (menit) (menit) (menit) (menit)

120 130 130 130 130

6) Stasiun Pengeringan

Pengeringan merupakan proses dehidrasi, yaitu penguapan air teh fermen yang dilakukan dengan bantuan udara. Udara merupakan media yang paling baik dan murah bagi transfer kalor dari sumber kalor kepartikel teh, karena secara kuantitatif penggunaan udara dapat dikendalikan secara efektif dan efisien. Pengeringan akan menghentikan proses oksidasi polifenol teh pada saat dimana senyawa polifenol, hasil antara oksidasi maupun produk akhir oksidasi berada dalam timbangan tertentu yang memberikan mutu teh terbaik.

Pada proses pengeringan terjadi difusi air dari dalam sel pucuk ke permukaan partikel teh untuk kemudian menguap. Tetapi bila temperatur udara-keluar terlalu tinggi, kecepatan penguapan pada tahap awal proses pengeringan akan menjadi sangat besar, hingga permukaan teh akan mengering yang akan menghambat difusi dan penguapan air selanjutnya.

Pada kejadian ini dikenal sebagai case-herdening dan liquor akan menjadi thin dan harsh. Untuk menghindarkan terjadinya case-herdening, temperature udara-keluar sebaiknya tidak lebih tinggi dari 52oC, yang dapat menyebabkan terlalu

(14)

cepatnya penghentian oksidasi enzimatik.

Tabel 4.3 Temperatur dan Lama Pengeringan

Mesin Temperatur Inlet Temperatur Waktu (menit)

Pengeringan Ourlet

Two Stage Drier 92-94 °C 50-54 °C 21-22

(TSD)

Fluid Bed Drier 92-94 °C 80-82 °C 18-20 (FBD)

7) Stasiun Prasortasi

Setelah proses pengeringan selesai, bubuk teh dimasukkan ke dalam mesin prasortasi. Mesin prasortasi ini merupakan mesin perantara sebelum dilakukannya pemisahan jenis teh pada mesin sortasi.

8) Stasiun Sortasi

Sortasi adalah proses pemisahan jenis teh jadi berdasarkan ukuran partikel, berat jenis partikel, sehingga sesuai dengan standar yang berlaku. Sortasi pada dasarnya bertujuan adalah menyeragamkan ukuran, density dan bentuk partikel teh kering. Menyesuaikan ukuran partikel teh dengan ukuran jenis yang dibuat. Menghilangkan kotoran/benda asing bukan partikel pucuk teh yang mengganggu mutunya. Tujuan tersebut dicapai melalui pengayakan (berputar, maju mundur, getaran), penghembusan, pemotongan, pengerusan, penghilangan tangkai, serat dan benda asing lainnya.

Sortasi merupakan satu-satunya proses pengolahan teh yang tidak memiliki ketentuan yang pasti, hingga tidak ada pola kerja yang tetap yang dapat diikuti. Karena itu dibutuhkan penilaian yang sesame untuk memutuskan apakah ukuran dan bentuk hasil sortasi sudah cukup rata (even), cukup bersih (clean) dari serat dan tulang daun, hingga dapat diketahui apakah suatu pekerjaan sortasi perlu diulang atau

(15)

tidak. Untuk mengambil keputusan seperti ini diperlukan kemampuan dan integritas yang tinggi.

Meskipun telah diadakan sortasi basah, bentuk dan ukuran partikel teh kering yang dihasilkan oleh mesin pengering, masih heterogen, oleh sebab itu perlu dilakukan sortasi.

Tujuan dari sortasi adalah untuk mendapatkan ukuran dan warna partikel yang seragam sesuai dengan standart yang diinginkan oleh konsumen meliputi :

a) Memisah-misahkan teh kering menjadi beberapa grade yang sesuai dengan standart perdagangan teh.

b) Menyeragamkan bentuk, ukuran dan warna pada masing-masing grade. c) Membersihkan teh dari serat, tangkai dan bahan-bahan lain (debu, sampah dan

lain-lain).

Metode sortasi yang berlaku disuatu pabrik belum tentu sesuai untuk pabrik lain. Acuan pelaksanaan sortasi walaupun pengerjaannya tidak harus berurutan, yaitu:

a) Pemisahan berdasarkan ukuran

b) Pemisahan serat dan tulang dari fraksi daun c) Pemisahan berdasarkan berat

d) Reduksi ukuran partikel teh 9) Stasiun Pengepakan

Pengepakan dilaksanakan dalam peti kayu ataupun kantong kertas lapis, untuk melindungi mutu teh sesudah pengolahan selama disimpan maupun selama didistribusikan kepada konsumen. Pengepakan adalah proses pengemasan bubuk jadi yang telah disortasi kedalam kemasan.

(16)

a) Melindungi produk dari kerusakan b) Memudahkan transportasi

c) Efisien dalam penyimpanan di gudang d) Sebagai alat promosi

Pengepakan dilakukan bila stok teh jadi didalam bin mencapai minimal satu chop yang ditentukan oleh KDP/asisten. Bin adalah tempat penampungan sementara bubuk yang telah disortasi sebelum bubuk dikemas/di pack. Bin terdiri dari ruang-ruangan yang bertujuan untuk menyimpan teh jadi sesuai dengan jenisnya masing-masing. Kapasitas bin sekitar 2 ton/ruangan.

Proses pengepakan dilakukan dengan carat eh jadi yang akan di pack dikeluarkan dari bin untuk dimasukkan kedalam ruangan blender secara bergiliran. Setelah ruang blender penuh, maka klep pengeruaran dibuka untyuk mengisi hopper pengisian ke paper sack. Pengangkutan bubuk dari bin menuju blender menggunakan conveyor.

4.2 Analisis Univariat 4.2.1 Karakteristik Pekerja

Untuk mengetahui identitas pekerja dalam penelitian ini, maka dapat dilihat dari karakteristik pekerja sebagai berikut :

Tabel 4.4 Identitas Pekerja

Karakteristik Frekuensi Persen (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 17 62,9 Perempuan 10 37,1 Total 27 100,0 Umur ≤ 50 Tahun 17 62,9

(17)

Total 27 100,0 Masa Kerja

≤ 22 Tahun 10 37,1

˃ 22 Tahun 17 62,9

Total 27 100,0

Sumber : Data Penelitian (diolah)

Dari tabel diatas dapat dilihat dari 27 pekerja yang diteliti berjenis kelamin laik-laki sebanyak 17 orang atau 62,9% dan perempuan sebanyak 10 orang atau 37,1%. Berdasarkan umur dapat dilihat bahwa pekerja mayoritas berada pada kelompok umur ≤ 50 tahun sebanyak 17 orang atau 62,9% dan untuk kelompok umur >50 tahun sebanyak 10 orang atau 37,1%. Berdasarkan masa kerja dapat dilihat bahwa pekerja telah bekerja ≤ 22 tahun sebanyak 10 orang atau 37,1% dan dengan masa kerja >22 tahun sebanyak 17 orang atau 62,9%.

4.2.2 Tekanan Panas di Stasiun Pengeringan

Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Tekanan Panas Titik Pengukuran Rata-Rata ISBB (°C)

Mesin FBD 1 Depan 31,0 Belakang 30,1 Mesin FBD 2 Depan 32,6 Belakang 30,8 Mesin FBD 3 Depan 31,2 Belakang 32,9 Mesin FBD 4 Depan 27,6 Belakang 33,0 Mesin TSD 1 Depan 32,3 Belakang 31,2 Mesin TSD 2 Depan 29,0 Belakang 32,3 Mesin TSD 3 Depan 31,1

(18)

Belakang 32,4

Rata-Rata 31,2

Keterangan : FBD : Fluid Bed Drier TSD : Two Stage Drier

Dari hasil pengukuran diketahui bahwa rata-rata ISBB di stasiun pengeringan adalah 31,2°C dengan ISBB minimal adalah 27,6°C dan ISBB maksimal adalah 33,0°C. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan panas tersebut kemudian dikategorikan menjadi dua kategori yaitu tempat kerja memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang tidak melebihi 28°C dan tempat kerja tidak memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang melebihi 28 °C.

Pada masing-masing titik pengukuran terdapat 2 orang pekerja sehingga setiap 2 orang pekerja memiliki tempat kerja dengan tekanan panas yang sama. Namun pada titik pengukuran terakhir yaitu di belakang mesin TSD 3 hanya ada 1 orang pekerja.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Tekanan Panas

Tekanan Panas (ISBB) Frekuensi Persentase (%)

Tempat Kerja Memenuhi 2 7,4

Syarat

Tempat Kerja Tidak Memenuhi 25 92,6

Syarat

Total 27 100

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tekanan panas yang disesuaikan dengan beban kerja dari 27 pekerja dengan tempat kerja yang memenuhi syarat sebanyak 2 atau 7,4% dan tempat kerja yang tidak memenuhi syarat sebanyak 25 atau 92,6%.

Hal tersebut dikarenakan cuaca lingkungan ketika peneliti melakukan pengukuran tekanan panas memang dalam keadaan panas. Semakin panas cuaca, maka akan semakin tinggi pula suhu pada stasiun pengeringan. Hal lainnya

(19)

dikarenakan pada saat produksi, tungku yang digunakan dalam proses pengeringan membutuhkan suhu yang tinggi, sehingga menambah tekanan panas didalam ruangan karena tempat kerja tersebut merupakan ruangan terutup.

4.2.3 Tekanan Darah pada Pekerja di Stasiun Pengeringan

Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Tekanan Darah pada Pekerja No

Tekanan Darah (mmHg)

Sebelum Sesudah

Sistolik Diastolik Sistolik Diastolik

1 110 85 132 90 2 121 62 130 70 3 120 70 160 93 4 105 59 120 70 5 130 90 170 110 6 117 81 135 87 7 95 70 110 85 8 120 72 120 79 9 110 70 129 84 10 110 75 120 75 11 125 75 130 85 12 120 85 134 82 13 112 70 112 76 14 122 80 122 88 15 120 80 137 80 16 112 71 132 85 17 125 80 130 90 18 122 82 135 80 19 118 73 141 94 20 122 80 122 88 21 100 65 125 72 22 147 90 160 95 23 122 85 130 85 24 120 80 130 95 25 120 73 127 73 26 125 72 140 85 27 132 85 135 92 Rata-Rata 118 76 133 85

Dari hasil pengukuran tekanan darah pekerja di stasiun pengeringan diperoleh perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan pekerjaannya, dimana tekanan darah normal sistolik adalah antara 120 – 130 mmHg dan tekanan darah

(20)

diastolik 80-90 mmHg. Pada tabel di atas dapat dilihat rata-rata tekanan darah sistolik sebelum bekerja sebesar 118 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik sebelum bekerja sebesar 76 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah sistolik setelah bekerja sebesar 133 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik setelah bekerja sebesar 85 mmHg. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah sebelum dan sesudah pekerja melakukan pekerjaannya.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Perubahan Tekanan Darah pada Pekerja No Tekanan Darah Frekuensi Persentase (%)

1 Normal 3 11,1

2 Meningkat 24 88,9

Jumlah 27 100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sebelum dan sesudah terpapar panas di lingkungan kerja pekerja dengan tekanan darah normal sebanyak 3 orang atau 11,1% dan yang paling banyak tekanan darah meningkat sebanyak 24 orang atau 88,9%. Hal ini jelas menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah sebelum dan sesudah bekerja di lingkungan kerja yang panas.

4.3 Analisis Bivariat

Untuk mengetahui hubungan dua variabel yaitu antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen maka digunakan analisis statistik bivariat. Pada penelitian ini analisis bivariat yang digunakan adalah uji Chi Square, masing-masing variabel independen dan variabel dependen yang sudah dikategorikan diuji apakah ada hubungan antara variabel independen yaitu tekanan panas dengan variabel dependen yaitu tekanan darah. Jika nilai p < 0,05 maka ada hubungan antara variabel independen (tekanan panas) dengan variabel dependen (tekanan darah).

(21)

Tabel 4.9 Hubungan Tekanan Panas dengan Tekanan Darah Pekerja Tekanan Darah Tekanan Panas Total No Memenuhi Syarat (28°C) Tidak Memenuhi Syarat (>28°C) P f % F % F % 1 Normal 2 66,7 1 33,3 3 100,0 0,009 2 Meningkat 0 0 24 100 24 100,0

Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tekanan panas dengan tekanan darah pekerja di stasiun pengeringan diperoleh data bahwa ada 2 pekerja dengan tekanan darah normal pada tempat kerja yang memenuhi syarat (66,7%) dan 1 orang dengan tekanan darah normal pada tempat kerja yang tidak memenuhi syarat (33,3%). Sedangkan 24 pekerja mengalami peningkatan tekanan darah pada tempat kerja yang tidak memenuhi syarat (100%).

Pada hasil uji Chi Square antara tekanan panas dengan tekanan darah dapat diketahui nilai p = 0,009 dimana p < 0,05 artinya ada hubungan tekanan panas dengan terjadinya kenaikan tekanan darah pada pekerja di stasiun pengeringan.

(22)

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Pekerja

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa karakteristik responden bervariasi mulai dari umur, jenis kelamin dan masa kerja. Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa kelompok umur yang terbanyak adalah kelompok umur ≤50 tahun yaitu 17 orang (62,9%) dan sisanya pada umur >50 tahun yaitu 10 orang (37,1%). Dalam penelitian Pitaloka tekanan darah akan cenderung tinggi bersama dengan peningkatan usia. Umumnya sistolik akan meningkat sejalan dengan peningkatan usia, sedangkan diastolik akan meningkat sampai usia 55 tahun untuk kemudian menurun lagi.

Pada jenis kelamin, pekerja pria lebih banyak dibanding pekerja wanita yaitu 17 orang (62,9%) dimana tekanan darah pekerja pria cenderung lebih tinggi dibanding dengan tekanan darah pekerja wanita. Namun ada juga beberapa pekerja wanita yang memiliki tekanan darah tinggi.

Untuk masa kerja yang paling banyak adalah pada masa kerja ≤ 22 tahun (62,9%). Masa kerja berhubungan dengan aklimatisasi tenaga kerja terhadap tekanan panas. Menurut Santoso (2004) pekerja baru yang mulai bekerja pada lingkungan kerja dengan tekanan panas yang tinggi akan mengalami proses aklimatisasi terhadap intensitas paparan panas yang sebelumnya tidak pernah dialaminya. Proses aklimatisasi ini biasanya memerlukan waktu 7-10 hari.

(23)

5.2 Analisis Univariat

5.2.1 Tekanan Panas (ISBB)

Tekanan panas adalah kombinasi suhu udara, kelembapan udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Tekanan panas dalam penelitian ini adalah suhu di stasiun pengeringan. (Suma’mur, 2009)

Berdasarkan hasil pengukuran tekanan panas di stasiun pengeringan diketahui bahwa bahwa rata-rata ISBB di stasiun pengeringan adalah 31,2 °C dengan ISBB minimal 27,6°C dan ISBB maksimal 33,0°C. Hasil pengukuran tekanan panas tersebut kemudian dikategorikan menjadi dua kategori yaitu tempat kerja yang memenuhi syarat dan tempat kerja yang tidak memenuhi syarat yang disesuaikan berdasarkan beban kerja pekerja di stasiun pengeringan, sehingga didapatkan tempat kerja di stasiun pengeringan yang memenuhi syarat sebanyak 2 atau 7,4% dan tempat kerja yang tidak memenuhi syarat sebanyak 25 atau 92,6%.

Dari hasil pengukuran tekanan panas di stasiun pengeringan diperoleh ISBB terendah 27,6 °C dan ISBB tertinggi 33.0 °C. Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja termasuk dalam kategori jam kerja 75%-100% dengan beban kerja sedang, maka ISBB yang diperkenankan sebesar 28°C.

Hasil pengukuran yang dilakukan di stasiun pengeringan didapatkan mayoritas tempat kerja yang melebihi ISBB yang diperkenankan. Hal tersebut dikarenakan tungku yang digunakan dalam proses pengeringan membutuhkan suhu yang tinggi, dan suhu sekitar tempat kerja yang panas sehingga menambah tekanan panas di dalam ruangan karena tempat kerja tersebut merupakan ruangan tertutup.

(24)

Proses pengeringan membutuhkan suhu yang tinggi dan ini menghasilkan panas yang berlebih pada tungkunya. Proses pengeringan teh ini harus benar-benar sempurna agar kadar air didalam teh berkurang sehingga dapat tahan lama disimpan, oleh karena itu dibutuhkan suhu yang tinggi agar proses pengeringannya sempurna.

Untuk mengatasi lingkungan kerja yang panas pihak perusahaan juga telah melakukan hal sebagai berikut : pembuatan beberapa ventilasi di ruangan dan penyediaan air galon. Walaupun hal tersebut sudah dilakukan tetapi dapat dirasakan bahwa kondisi lingkungan di stasiun pengeringan tersebut masih terasa panas.

5.2.2 Tekanan Darah

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata tekanan darah sistolik sebelum bekerja sebesar 118 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik sebelum bekerja sebesar 76 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah sistolik setelah bekerja sebesar 133 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik setelah bekerja sebesar 85 mmHg.

Dari hasil tabel distribusi frekuensi perubahan tekanan darah pekerja di stasiun pengeringan, dapat dilihat dari 27 pekerja dengan tekanan darah normal sebanyak 3 orang atau 11,1% dan tekanan darah meningkat sebanyak 24 orang atau 88,9%. Adanya perubahan tekanan darah pekerja di stasiun pengeringan disebabkan karena tekanan panas saat pekerja bekerja melebihi ISBB yang diperkenankan, ditambah lagi pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri dikarenakan kurang nyaman saat bekerja. Sehingga pekerja langsung terpapar panas dari mesin pengeringan.

(25)

bekerja. Gejala ini sering dirasakan setelah empat sampai lima jam bekerja. Pihak perusahaan telah menyediakan air minum galon yang diletakkan di sudut stasiun pengeringan ini, namun jarang sekali didapati pekerja yang mau meminum air mineral tersebut sebelum dan sesudah bekerja.

5.3 Analisis Bivariat

Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tekanan panas dengan tekanan darah pekerja di stasiun pengeringan diperoleh data bahwa ada 2 pekerja dengan tekanan darah normal pada tempat kerja yang memenuhi syarat (66,7%) dan 1 orang dengan tekanan darah normal pada tempat kerja yang tidak memenuhi syarat (33,3%). Sedangkan 24 pekerja mengalami peningkatan tekanan darah pada tempat kerja yang tidak memenuhi syarat (100%). Pada hasil uji Chi Square antara tekanan panas dengan tekanan darah dapat diketahui nilai p = 0,009 dimana p < 0,05 artinya ada hubungan tekanan panas dengan terjadinya kenaikan tekanan darah pada pekerja di stasiun pengeringan.

Hal diatas didukung dengan hasil pengukuran tekanan panas di stasiun pengeringan yang menunjukkan hasil untuk tekanan panas rata-rata adalah sebesar 31,2°C melebihi NAB menurut PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja yaitu sebesar 28°C dengan pengaturan waktu kerja 75% kerja dan 25% istirahat, sedangkan untuk hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan perbedaan antara sebelum melakukan pekerjaan dan sesudah melakukan pekerjaan.

Menurut Santoso (2004) Tenaga kerja yang terpapar panas di lingkungan kerja akan mengalami heat strain. Heat strain atau tegangan panas merupakan efek yang

(26)

diterima tubuh atas beban iklim kerja tersebut. Salah satu indikator heat strain adalah tekanan darah. Untuk itu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang lebih serius perlu adanya upaya pengendalian.

Grandjean (1988) juga menyatakan jika suhu lingkungan meningkat, maka efek fisiologis yang terjadi adalah peningkatan kelelahan, peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, mengurangi aktivitas organ pencernaan, sedikit peningkatan suhu inti dan peningkatan tajam suhu shell (suhu kulit akan naik dari 32°C ke 36-37°C), peningkatan aliran darah melalui kulit, dan peningkatan produksi keringat yang menjadi berlebihan jika suhu kulit mencapai 34°C atau lebih.

(27)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Hasil penelitian di PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong tahun 2017, diperoleh bahwa :

1. Dari hasil pengukuran tekanan panas di stasiun pengeringan, diperoleh tekanan panas rata-rata di stasiun pengeringan sebesar 31,2°C dengan tempat kerja yang memenuhi syarat sebanyak 2 atau 7,4% dan tempat kerja yang tidak memenuhi syarat sebanyak 25 atau 92,6%.

2. Dari hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah bekerja di stasiun pengeringan dari 27 pekerja dengan tekanan darah normal sebanyak 3 orang atau 11,1% dan tekanan darah meningkat sebanyak 24 orang atau 88,9%. 3. Terdapat hubungan antara tekanan panas dengan tekanan darah pada pekerja

di PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong tahun 2017 (p=0,009).

6.2 Saran

1. Sebaiknya perusahaan menyediakan exhaust fan dalam ruangan untuk menurunkan tekanan panas di tempat kerja.

2. Sebaiknya pekerja sering mengonsumsi air yang telah disediakan oleh perusahaan dan istirahat yang cukup.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :