Black Books
Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter
Muhammad Iqbal Sugiantoro
Untuk Kalangan Sendiri Tidak Diperjualbelikan
DAFTAR ISI Interna ... 3 Pediatri ... 82 Bedah ... 101 Obsetri-Ginekologi ... 124 Anestesiologi ... 151 Oftalmologi... 158 THT-KL ... 175 Dermatovenerologi ... 194 Neurologi ... 215 Psikiatri ... 227
Forensik dan Medikolegal ... 239
Ilmu Kesehatan Masyarakat ... 256
JKN dan BPJS ... 279
INTERNA
ENDOKRINOLOGI
1. Tirotoksikosis dan Hipertiroidisme
Tirotoksikosis: manifestasi klinis akibat peningkatan hormon tiroid dalam darah Hipertiroidisme: tirotoksikosis yang diakibatkan oleh hiperaktifitas kelenjar tiroid.
Indeks Wayne >19.
Pemeriksaan TSH, FT3, dan FT4
Diagnosis TSH FT3 FT4
Bukan hipertiroidsime N N N
TSH secreting pituitary adenoma
Thyroid hormone resistance syndrome N / ↑ ↑ ↑
Hipertiroidisme Subklinik ↓ N N
Hipertiroidisme ↓ ↑ ↑
Struma : pembesaran kelenjar tiroid. Berdasarkan bentuk: difus (menyeluruh), nodusa (nodul). Berdasarkan gejala: toxic (peningkatan hormon tiroid), non-toxic (tidak terdapat peningkatan hormon tiroid)
Graves Disease / Struma Difusa Toxic / Toxic Diffuse Goiter o Hipertiroidisme tersering
o Adanya antibodi terhadap reseptor TSH
o Tampilan klinis: exoftalmus, takikardia, berkeringat, iritabel, diare, berat badan ↓ , nafsu makan meningkat ↑
o Penatalaksanaan:
Propiltiourasil (PTU) : aman untuk wanita hamil dan menyusui Methimazol
B Blocker (atasi gejala hiperadrenergik, aritmia, hambat konversi T4 --.T3) Iodin
Krisis Tiroid
o Pemicu: infeksi, pembedahan, terai iodium radioaktif, kontras iodium
o Tampilan Klinis: meningkatnya tanda-tanda hipertioid yang sudah ada, hipertermia, penurunan kesadaan
o Penatalaksanaan:
Rehidrasi dan koreksi elektrolit, vitamin, glukosa, kompres es Koreksi hipertiroidisme : PTU dosis besar, sol lugol 10 gtt / 6 – 8 jam Hambat koversi T4 T3 : propanolol / b blocker lain
2. Hipotiroidisme
Defisiensi hormon tiroid Klinis:
o Lelah, kulit kering, mengantuk, suara serak, peningkatan BB, gangguan menstruasi
o Bergerak lambat, bicara lambat, bradikardia, hiporefleks, myxedema (penebalan kulit, non pitting edema pada jaringan lunak)
Pemeriksaan Hormon Diagnosis TSH FT4 Hipotiroidisme Primer ↑ ↓ Hipotiroidisme Sekunder ↑ N Hipotiroidisme Subklinik ↓ / N ↓ Hashimoto’s Disease
o Penyebab paling sering dari hipotiroidisme o Penyakit autoimun terhadap jaringan tiroid o Struma difus
Hipotiroid pada kehamilan
o Hormon tiroid pada janin mulai terbentuk setelah minggu ke 11
o Pada kehamilan antibodi dapat melewati plasenta. Jika ibu menderita penyakit hashimoto, maka fetus akan mengalami hipotiroid
o Hormon tiroid dibutuhkan untuk perkembangan kognitif fetus Hipotiroid pada bayi (Kretinisme)
o Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan o Malas makan
o Prolonged neonatal jaundice o Hernia umbilicalis
o Lidah menonjol keluar
o Retardasi mental
Penatalaksanaan : Levotiroksin
Koma Miksedema
o Pemicu: wanita usia lanjut, infeksi, paparan udara dingin, obat-obatan, gangguan metabolik
o Tampilan klinis: riwayat hipotiroid lama, hipotermia berat (< 27° C), bradikardi, gagal nafas, penurunan kesadaran
o Penatalaksanaan: hormon tiroid IV 3. Goiter Non-toxic
Merupakan pembesaran kelenjar tiroid tanpa disertai gejala tirotoksikosis / hipertiroidisme
Paling banyak diakibatkan karena defisiensi iodium, dan menjadi endemik di daerah yang tanahnya kurang mengandung iodium.
Terapi:
o Jika tidak terdapat gejala, tidak perlu diberikan terapi
o Jika menimbulkan gejala obstruktif pada trakhea atau esofagus atau vena jugular, maka goiter diterapi dengan radioaktif iodin terapi atau dengan pembedahan (lebih cepat menghilangkan gejala obstruksi)
4. Hiperparatiroidisme
Hormon paratiroid berfungsi untuk meningkatkan kadar kalsium darah dengan melepaskan kalsium dari tulang , meningkatkan resorbsi kalsium di ginjal, dan peningkatan produksi calcitrion yang dapat meningkatkan absorbsi kasium di usus. Hiperparatiorid primer : 80 % disebabkan adenoma
Hiperparatiroid sekunder: gagal ginjal kronik, defisiensi vitamin D Tampilan klinis:
o Letargi, lelah, depresi, neurosis, konstipasi, mual, muntah o Hiperkalsemia
o Osteoporosis, osteomalasia o Nefrolithiasis
Penatalaksanaan:
o Estrogen (hambat resorpsi tulang) o Calcitonin (hambat aktifitas osteoklas) o Bhiposponate
o Vit. D 5. Hipoparatiroidisme
Etiologi
Sering terjadi setelah operasi tiroidektomi karena diduga terjadi hipoksia dari glandula paratiroid
Tampilan klinis: o Hipokalsemia
o Keram otot, paraestesi, kejang, nefrolitiasis
Penatalaksanaan:
Kalsium oral dan vitamin D 6. Diabetes Melitus
a. Klasifikasi
DM tipe 1 (90% autoimun) : defek insulin absolut DM tipe 2: resistensi insulin
DM gestasional: pertama kali menderita DM saat hamil b. Diagnosis
Gejala klasik DM: polifagia (sering lapar), polidipsi (sering haus), poliuria (banyak buang air kecil), penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya
Kriteria diagnosis DM: Gejala klasik DM ditambah:
o Gula Darah Sewaktu (GDS) ≥ 200 mg/dl o Gula Darah Puasa (GDP) ≥ 126 mg/dl
Atau Gula Darah 2 Jam Post Prandial (GDPP) setelah Tes Toleransi Glukosa Oral ≥ 200 mg/ dl
Gula Darah Puasa Terganggu (GDPT) : Kadar GDP 100 – 125 mg/ dl
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Kadar GDPP setelah TTGO 140 – 199 mg/dl
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) : diberikan beban glukosa 75 gram kemudian 2 jam kemudian di cek gula darah
Diagnosis DM dengan kriteria HbA1C ≥ 6,5% di Indonesia belum dapat digunakan secara nasional karena standarisasi laboratorium belum baik
c. Penatalaksanaan
Farmakologi
o DM tipe I : insulin o DM tipe II:
Golongan Cara Kerja Keterangan
Sulfonilurea , ex: Tolbutamid Chlorpropamide Glibenclamid Glimepirid Glikuidone Glipizid Glikazid
Meningkatkan sekresi insulin: Stimulasi reseptor pada
permukaan sel B dengan cara memblok kanal K+ dan membuka kanal Ca+
First line untuk DM tipe 2 non-obese Diberikan 15-30 menit sebelum makan Efek samping: hipoglikemia dan penurunan
berat badan
Glikuidon bagus untuk DM + gangguan ginjal karena bisa dieksresikan di hepar Glipizid bagus untuk DM + obesitas Glikazid bagus untuk DM + riwayat PJK
karena mempunyai efek anti aggregasi trombosit
Biguanide (Metformin) Meningkatkan sensitifitas insulin
Menghambat glukoneogenesis
Meningkatkan ambilan glukosa otot
First line untuk DM tipe 2 obese Diberikan saat/sesudah makan Tidak menyebabkan hipoglikemia
Efek samping pada sistem GIT: mual, muntah, diare
Kontraindikasi untuk CKD, CHF, dan Sirrosis (pada keadaan tersebut berikan insulin)
Glitazon (Thiazolidindion) ex:
Rosiglitazone Plogitazone
Bekerja pada jaringan lemak, hepar, dan otot dengan meningkatkan sensitifitas insulin, potensiasi aktifitas insulin PPAR y Agonis (mengurangi
HbA1c 1%)
Tidak bergantung pada jadwal makan Efek samping: retensi cairan dan
hepatotoksik
Acarbose Alpha Glukosilase Inhibitor Menginhibisi disacaridase di
usus.
Menghambat pencernaan kompleks karbohidrat
Diberikan bersama suapan pertama makan Efek samping: flatus, perut kembung, diare
Menghambat absorbsi
Exenatide, Liraglutide Inhibitor DPP – IV Diberikan sesaat sebelum makan
Insulin Diberikan pada:
o Penurunan BB cepat o HHS, DKA
o Gagal dengan kombinasi OHO o Kehamilan
o Gangguan fungsi ginjal dan hepar o Stres berat (infeksi sistemik,
operasi, stroke, AMI) d. Kegawatdaruratan
Diabetik Ketoasidosis (DKA) atau KAD
o Trias : hiperglikemik (GD > 250 mg/dl) , asidosis (pH arteri < 7.3), Ketonuria. Tambahan: anion gap ↑ , HCO3 <15 mEq (rendah)
o Tampilan klinis: nafas kusmaul, dehidrasi, hipovolemia, syok, nafas bau aseton
o Lebih sering pada penderita DM tipe 1
o Riwayat berhenti suntin insulin, demam, infeksi, gastroparesis o Penatalaksanaan: rehidrasi, insulin, bicarbonat, koreksi kalium Hiperglikemik Hiperosmolar State (HHS) atau HONK
o Kriteria: hiperglikemik (GD > 600 mg/dl), Hiperosmolar (osmolaritas serum ≥ 320 mOSm/kg), dehidrasi, gangguan kesadaran, ketoasidosis ( - )
o Tampilan klinis: kehausan, produksi urin meningkat, infeksi, riw. konsumsi diuretik, riw. konsumsi alkohol
o Penatalaksanaan: rehidrasi, insulin, koreksi kalium Hipoglikemia
o Kriteria: Hipoglikemik (GD < 60 mg/dl atau 80 mg/dl dengan gejala klinis), gejala hipoglikemik (lemas, lapar, mual, keringat dingin, gangguan kesadaran), membaik setelah dilakukan koreksi glukosa plasma
o Tatalaksana: Sadar
Pertahankan GDS sekitar 200 mg/dl Tidak Sadar
D 40% 2 flakon (50 ml) bolus IV Infus D 10% 6 jam / kolf
Periksa GDS: < 50 mg/dl bolus D 40% 50 ml IV < 100 mg/dl bolus D 40% 25 ml IV Periksa GDS < 50 mg/dl bolus D 40% 50 ml IV < 100 mg/dl bolus D 40% 25 ml 100 – 200 tidak usah berikan D 40 > 200 ganti infus D 10 dengan NaCl 0,9% Monitor setiap 2 jam
Penggunaan insulin reguler SC Gula darah Dosis Insulin
<200 0
200-250 5 unit 250-300 10 unit 300-350 15 unit >350 20 unit
Bila hipoglikemia tidak teratasi, pertimbangkan pemberian antagonis insulin (adrenalin, glukagon, kortison)
e. Komplikasi Mikrovaskuler
Retinopati, neuropati, macular edema, katarak, galukoma
Neuropati
Sensorik, motorik, autonomik
Makrovaskuler
ACS, penyakit pembuluh darah perifer, penyakit cerebrovaskuler
Kriteria: DM > 5 tahun, retinopati diabetikum, macroalbuminuria (> 300 mg/dl/24 jam dalam 3-4x pemeriksaan selang 2 minggu) tanpa penyebab albuminuria lainnya. OAD sebaiknya glikuidon karena tidak diekskresikan di ginjal.
Gastrointestinal Diare, gastroparesis Genitourinari
Disfungsi ereksi, ejakulasi retrograde Ulkus Diabetikum
Angiopati: ganggren kering, pulsasi arteri dorsali pedis (-), sensibilitas (+) Neuropati: ganggren basah, pulsasi arteri dorsalis pedis (+), sensibilitas (-) 7. Menghitung Jumlah Kalori Basal
a. Jumlah Kalori Basal per Hari Laki-laki: 30 kal/kgBB idaman Perempuan: 25 kal/kgBB idaman b. Menghitung Berat Badan Idaman
BB idaman = (TB – 100) – 10%
Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm tidak dikurangi 10% BB kurang: < 90% BB idaman BB normal: 90 – 100 % BB idaman BB lebih: 110 – 120% BB idaman Gemuk: >120% BB idaman c. Penyesuaian BB gemuk: - 20% kal BB lebih: -10% kal BB kurang: +20% kal Umur >40 tahun: -5% kal
Stres metabolik (infeksi, operasi): + 10-30% kal Aktifitas ringan: + 10% kal
Aktifitas sedang: + 20% kal Aktifitas berat: + 30% kal Hamil trimester I,II: + 300 kal Hamil trimester III/laktasi: + 500 kal d. Komposisi Makanan yang Dianjurkan
Karbohidrat: 45- 65% Protein: 15- 20% Lemak: 20- 25% 8. Diabetes Insipidus
a. Definisi
Kondisi volume urin yang banyak (>3 L/hari) karena gangguan resorbsi air oleh ginjal yang disebabkan penurunan ADH oleh hipofisis posterior (DI sentral) atau gangguan respon ginjal terhadap ADH (DI perifer)
b. Tampilan klinis
Gejala: poliuria, polidipsia, dehidrasi, gejala hipernatremia Osmolalitas urin normal 300 – 450 mOSM/kg
Osmolalitas urin pada DI 50-150 mOSM/kg (urin tidak terkonsentrasi) Deprivation test (diberikan desmopresin):
Normal Osmolalitas urin >600 mOSM/kg
Kemampuan mengkonsentrasikan urin normal
Polidipsia primer Osmolalitas urin 400-600 mOSM/kg Urin terkonsentrasi, kemampuan
mengkonsentrasikan urin berkurang) DI Sentral Osmolalitas urin naik (> 600
mOSM/kg) setelah pemberian desmopressin
DI nefrogenik Osmolalitas urin tidak naik setelah pemberian desmopresin
c. Penatalaksanaan - diet rendah garam - atasi penyebab
- Indometachin, chlorprompamide 9. Dislipidemia
Peningkatan kadar kolesterol total (200 mg/dl) , LDL (>130 mg/dl), trigliserid (>250 mg/dl), serta penurunan HDL (<40 mg/dl)
Obat hipolipidemik
Golongan Cara Kerja Efek
Statin, ex: Simvastatin
Menghambat sintesis kolesterol di hepar
Efektif menurunkan kadar LDL Efek samping jarang
Asam Fibrat, ex: Gemfibrozik
Meningkatkan aktifitas lipoprotein lipase
Menghambat produksi VLDL di hepar Meningkatkan aktifitas reseptor LDL
Menurunkan trigliserid, meningkatkan HDL
Efek samping jarang Asam Nikotinat, ex:
Niaspan
Menurunkan produksi VLDL di hepar Menurunkan LDL, trigliserid, meningkatkan HDL
Efek samping banyak : gangguan GIT, gatal, flushing, hiperglikemia, hiperurisemia
Resin pengikat asam empedu, ex:
Kolestriramin
Mengikat asam empedu di usus Menghambat resirkulasi asam empedu
di siklus enterohepatik
Peningkatan konversi kolesterol menjadi asam empedu
Menurunkan kolesterol total, LDL HDL naik sedikit
Kontraindikasi pada hipertrigliserid: dapat meningkatkan trigliserid dan menurunkan HDL
Penghambat absorbsi kolesterol, ex:
Ezetimibe
Menghambat absorbsi kolesterol dari lumen usus ke enterosit
Tidak mempengaruhi absorbsi trigliserid, asam lemak, asam empedu, dan vitamin larut lemak
10. Sindrom Metabolik
Minimal 3 dari 5 kriteria dibawah ini:
Obesitas sentral (lingkar pinggang ≥ 102 cm pada laki-laki, ≥ 88 cm pada wanita) PeningkatanTrigliserid (≥ 150 mg/dl) , penurunan HDL (< 40 mg/dl pada laki-laki,
< 50 mg/dl pada wanita)
Tekanan darah ≥ 130/85 mmHg
Kadar glukosa darah puasa >110 mg/dl
Resistensi insulin 11. Sindrom Cushing
Etiologi
Peningkatan kadar glukokortikoid. Biasanya karena penggunaan steroid jangka panjang. Jika terdapat adenoma hipofisis yang menyebabkan peningkatan ACTH disebut Cushing Disease
Tampilan klinis
o Peningkatan berat badan, akne, amenore, penurunan libido,
o Moon face, buffalo hump, memar, striae, kulit tipis, fraktur patologis, proksimal miopati
o Yang membedakan dengan obesitas adalah penurunan protein (kulit tipis, mudah memar, dan proximal weaknes)
12. Penyakit Addison
Etiologi
Defisiensi glucocorticoid dan mineralcorticoid karena destruksi atau disfungsi glandula adrenal. Biasanya autoimun. Lebih banyak terjadi pada wanita usia 30 – 50 tahun.
Tampilan klinis
o Penurunan berat badan, tampak kurus, pigmentasi, rambut rontok o Penurunan kadar kortisol, hormon kelamin, aldosteron
o Hiponatremia, hipokalemia, hipoglikemia, hiperkalsemia, ACTH / MSH ↑
Penatalaksanaan
Steroid replacement therapy Krisis Addison
o Tampilan klinis: syok yang tidak diketahui penyebabnya, membaik dengan resusitasi cairan. Hipertermia / hipotermia. Mual, muntah, nyeri pinggang. o Penatalaksanaan: Resusitasi cairan, hidrokortison
PULMONOLOGI
13. Bronkiektasisa. Etiologi
Paling sering infeksi, aspirasi, penyakit jaringan ikat, dll b. Tampilan klinis
Keluhan: batuk berdahak hampir setiap hari selama lebih dari satu bulan, bisa terdapat hemoptisis bila terjadi infeksi, sesak nafas, nyeri dada, wheezing, demam, penurunan berat badan
Khas sputum berwarna seperti karat atau sputum 3 lapis. Gambaran Rontgen thoraks tampak Honeycomb Appearance
c. Penatalaksanaan
Bronkodilator, mukolitik, kortikosteroid inhalasi, antibiotik 14. Bronkhitis Akut
a. Definisi
Peradangan pada bronkus yang ditandai dengan batuk yang berlangsung kurang dari 3 minggu. Disebabkan oleh virus (paling sering), bakteri, atau paparan zat iritan. b. Klinis
Faringitis diikuti oleh batuk (dapat batuk kering atau berdahak, dapat pula berdarah)
Wheezing dan Ronkhi Basah Kasar Demam (jarang sampai lebih dari 40°C)
Rontgen thoraks dapat normal atau tampak gambaran corakan bronkovesikuler meningkat c. Penatalaksanaan Oksigenasi Antitusif Ekspektoran Bronkhodilator Antibiotik
15. Penyakit Paru Obstruksi Kronis a. Definisi
PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif non-reversibel atau reversibel parsial. Terdiri dari bronkitis kronik dan atau emfisema.
Bronkitis kronik: batuk kronik berdahak minimal 3 bulan dalam setahun sekurang-kurangnya 2 tahun berturut-turut tanpa disebabkan penyakit lain. Emfisema: kelainan anatomis berupa pelebaran rongga udara distal bronkhiolus
terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. b. Tampilan klinis
Anamnesis
o Batuk berulang dengan atau tanpa dahak o Sesak dengan atau tanpa mengi
o Riwayat paparan kronik rokok, zat iritan PF
o Pursed lip breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
o Barrel chest (diameter antero-posteriol dan transversal sebanding) o Penggunaan otot bantu nafas
o Pelebaran sela iga
o Bisa terjadi gagal jantung kanan (JVP meningkat, edema tungkai)
o Pink puffer (kurus, kulit kemerahan, pernafasan pursed lip) , khas pada emfisema
o Blue bloater (gemuk, sianosis, edema tungkai, RBH di basal paru), khas pada bronkhitis kronik
o Fremitus melemah, perkusi hipersonor, ekspirasi memanjang, ronkhi, wheezing, suara jantung menjauh
o Eksaserbasi: sesak bertambah, produksi sputum meningkat, perubahan warna sputum
Penunjang
o Spirometri : FEV1 < 80
o Uji Bronkodilator <20% o Rontgen thoraks:
Emfisema: hiperinflasi, hiperlusen, sela iga melebar, ruang retrosternal melebar, diafragma mendatar, jantung menggantung (pendulum)
Bronkhitis kronik: corakan bronkovaskuler meningkat
Klasifikasi
o Derajat I / ringan: gejala tidak sering, VEP >80% o Derajat II / sedang: sesak saat aktifitas, VEP <80%
o Derajat III / berat : sesak lebih berat, eksaserbasi sering, penurunan kualitas hidup, VEP <50%
o Derajat IV / sangat berat: gejala gagal nafas dan ketergantungan oksigen, VEP <50%
c. Penatalaksanaan
o Stop rokok atau paparan
o Bronkodilator (ipatropium bromide dan atau salbutamol) o Steroid inhalasi
o Oksigen
o Antibiotik (amoxiclav, doksisiklin, sefalosporin) 16. Asma
a. Tampilan klinis
Riwayat atopik / riwayat keluarga asma/alergi, ada pemicu, reversibel
Sesak nafas episodik, batuk berdahak yang memburuk pada malam hari, mengi
b. Klasifikasi
c. Tatalaksana
Pelega (reliever)
Saat serangan akut
Agonis beta-2 kerja singkat (salbutamol, fenoterol, terbutalin. ES: rangsang kardiovaskuler, tremor, hipokalemia), kortikosteroid sistemik (predsinon. Digunakan jika reliever yang lain tidak ada perbaikan), antikolinergik (ipatropium bromide), metilsantin (aminofilin), adrenalin
Pengontrol (controler)
Kortikosteroid inhalasi (budesonid, flutikason), kortikosteroid sistemik (prednison), sodium kromoglikat, nedokromil sodium, metilsantin (teofilin), agonis beta-2 kerja lama inhalasi (salmeterol, formeterol) dan oral, leukotrien modifier (zileuton), antihistamin 1
d. Evaluasi
Spirometri Tujuan untuk diagnosis, klasifikasi, menilai respon pengobatan secara objektif. Dilakukan saat awal kunjungan, awal pengobatan, monitor 1 tahun sekali.
Arus puncak ekspirasi (APE) bertujuan untuk klasifikasi, respon pengobatan saat serangan akut, deteksi perburukan, respon pengobatan jangka panjang. Dilakukan saat serangan akut di IGD, saat kontrol, dan pemantauan mandiri sehari-hari di rumah
Asthma Control Test bertujuan untuk penyesuaian tatalaksana. Test dilakukan dengan kuesioner. Skor < 19 perlu peningkatan terapi.
Level of Asthma Control: o Controlled
Muncul gejala < 2x /minggu. Tidak ada gangguan aktifitas. o Partly controlled
Muncul gejala lebih dari 2x /minggu. Ada gangguan aktifitas o Uncontrolled
Eksaserbasi minimal 1x /minggu e. Serangan Asma
Derajat serangan o Ringan
Bisa bicara kalimat utuh, sesak saat berjalan. Penatalaksanaan:
Jika dalam 1 kali nebulisasi membaik
Observasi 1-2 jam respon bertahap pulang Dibekali B-agonis (inhalasi / oral) tiap 4-6 jam
Jika dalam 2 jam gejala timbul kembali derajat sedang o Sedang
Bicara berupa frasa (beberapa kata). Penatalaksanaan:
Jika 2-3 kali nebulisasi incomplete respon Rawat inap
Kortikosteroid oral (metilprednisolon 0,5-1 mg/KgBB/hari selama 3-5 hari)
o Berat
Bicara hanya satu kata, duduk ditopang. Penatalaksanaan:
Jika 3 kali nebulisasi tidak ada respon
Berikan Oksigen 2-4 lpm termasuk saat nebulisasi
Steroid intravena (0,5 – 1 mg/KgBB/hari) diberikan 6-8 jam
Nebulisasi: Beta agonis + antikolinergik + O2 dilanjutkan tiap 1-2 jam. Bila membaik dikurangi menjadi tiap 4-6 jam
Aminofilin IV
Jika membaik, berikan nebulisasi tiap 6 jam selama 24 jam. Ganti steroid dan aminofilin menjadi oral
Jika dalam 24 jam stabil pulangkan, bekali B-agonis (inhalasi/oral) + steroid oral Pertimbangkan ICU 17. Tuberkulosis a. Etiologi M. tuberculosis b. Tampilan klinis
Keluhan: batuk berdahak > 2 minggu, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dada, demam, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, berkeringat di malam hari, atau ada gejala TB ekstra paru
PF: suara nafas bronkhial, ronkhi basah kasar di apex,amforik
Pemeriksaan BTA (bakteri tahan asam atau Acid Fast Bacill (AFB)) SPS (sewaktu-pagi-sewaktu), dengan pengecatan Ziehl Nelsen
d. Tipe Kasus Kasus Baru
Penderita belum pernah mendapat OAT atau pernah mendapat OAT kurang dari satu bulan.
Kasus Kambuh (relaps)
Pernah mendapat pengobatan TB lengkap dan dinyatakan sembuh kemudian berobat kembali dengan hasil pemeriksaan BTA positif
Kasus Setelah Putus Berobat (Default)
Telah mendapat pengobatan minimal satu bulan namun putus obat selama dua bulan lebih dengan BTA positif
Kasus Gagal (Failure)
Penderita BTA positif yang masih positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5
Kasus Pindah
Penderita yang sedang mendapat pengobatan OAT namun pindah ke kabupaten / kota lain
Kronik
Penderita dengan hasil pemeriksaan BTA positif setelah selesai pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik
Bekas TB
Tidak ada tanda TB, BTA negatif, hanya ada fibrosis pada rontgen thoraks e. Penatalaksanaan
Kategori 1 (2RHZE / 4H3R3) o Kasus baru BTA positif
o BTA negatif, rontgen thoraks positif o TB ekstra paru
o Jika pada akhir fase intensif (2RHZE) BTA masih positif, diberikan OAT sisipan (1RHZE)
Kategori 2 (2RHZES/ RHZE/ 5H3R3E3) o Pasien kambuh
o Pasien gagal
o Pasien dengan pengobatan setelah putus obat
f. Evaluasi sputum dilakukan pada akhir fase intensif, 1 bulan sebelum pengobatan berakhir, dan saat pengobatan berakhir
g. TB pada anak
Menggunakan scoring TB anak
Parameter 0 1 2 3
Kontak Tb Tidak Jelas Laporan
keluarga BTA
negatif atau BTA tidak jelas
Uji tuberkulin Negatif Positif (≥ 10 mm,
atau ≥ 5 mm pada keadaan
immunokompromais
Status Gizi Bawah garis
merah KMS atau BB/U <80% Klinis gizi buruk (BB/u <60%) Demam tanpa
sebab yang jelas
≥ 2 minggu Batuk ≥ 3 minggu Pembesaran KGB ≥ 1 cm, jumal > 1, tidak nyeri Pembengkakan tulang / sendi Ada pembengkakan Foto thoraks Normal /
tidak jelas
Kesan TB
Jumlah
Jika skor ≥ 6 maka ditatalaksana sebagai TB
Kategori anak: 2RHZ / 4RH
Jika skor <6 dan ada riwayat kontak TB maka diberikan profilaksis
Profilaksis TB: INH 5-10 mg/kgBB/ hari selama 6 bulan Cara tes mantoux / uji tuberkulin
Injeksikan PPD serum sebanyak 0,1 ml secara intrakutan (sudut 30°) di bagian volar lengan bawah sampai terjadi indurasi 6-10 mm. Pembacaan dilakukan 48-72 jam kemudian
h. TB pada kehamilan
OAT diberikan kecuali streptomisin i. TB pada ibu menyusui
Semua OAT aman pada ibu menyusui. Anak diskoring TB j. TB dengan HIV/AIDS
Regimen sama dengan yang tidak disertai HIV. Pengobatan TB didahulukan dibanding pengobatan HIV. Pengobatan ARV dimulai tergantung jumlah CD4 dan stadium klinis. ARV nevirapin diganti dengan Efavirenz.
CD4 < 200 : mulai ARV 2 – 8 minggu dari pengobatan OAT dimulai CD4 200 – 350 : ARV dimulai setelah fase intensif selesai
CD4 >350 : Tunda ARV sampai pengobatan TB selesai
Stadium klinis 3 + CD4 <350: pertimbangkan mulai ARV sebelum CD4 <200 Stadium klinis 3 + kehamilan +CD4 <350: mulai ARV
Stadium klinis 4: mulai ARV k. TB dengan Hepatitis Akut
Pengobatan TB ditunda sampai hepatitis akut mengalami penyembuhan. Jika terpaksa maka streptomisin dan etambutol masih diperbolehkan.
l. TB dengan Kelainan Hati Kronik
Jika terdapat peningkatan SGPT / SGOT 3 kali dari normal semua obat TB dihentikan, jika peningkatan 2 kali nilai normal obat TB dilanjutkan dengan pengawasan ketat. Pirazinamid tidak boleh diberikan. Regimen menjadi 2RHES/6RH atau 2SHE/10HE
m. TB dengan Gagal Ginjal
Streptomisin dan etambutol dihindari. Regimen 2RHZ/4RH n. TB dengan DM
Rifampisin mengurangi efektifitas sulfonilurea sehinga dosis OHO perlu ditingkatkan.
o. TB dengan Meningitis
Perlu ditambahkan kortikosteroid p. Efek samping obat TB
Obat Efek Samping
Rifampisin Menurunkan efektifitas KB hormonal Menstruasi irreguler
Urin berwarna merah Purpura dan renjatan Defisiensi asam folat Strong enzyme inducer Hepatotoksik
Isoniazid Neuropati perifer berikan vit. B6 Anemia
Pirazinamid Paling hepatotoksik
Meningkatkan kadar asam urat Nyeri sendi
Ethambutol Gangguan pengelihatan, Neuritis optik, buta warna pada anak
Streptomisin Ototoksik, embriotoksik (kontraindikasi pada ibu hamil), nefrotoksik
18. Pneumonia a. Etiologi
Bakteri, virus, jamur, parasit, kecuali M. Tuberculosis. Onset akut biasanya S. pneumoniae. Pada orang tua atau immunokompromais Klebsiella, Pseudomonas, Enterobacter, jamur.
b. Klasifikas
Pneumonia komuniti Pneumonia nosokomial Pneumonia aspirasi
Pneumonia pada penderita immunokompromais c. Tampilan Klinis
Keluhan
Demam, menggigil, suhu tubuh dapat >40° C, batuk dengan dahak purulen / mukoid kadang disertai darah, sesak, nyeri dada
PF
Bagian sakit tertinggal saat bernafas, fremitus mengeras, perkusi redup, auskultasi terdengar suara bronkovesikuler sampai bronkhial, ronkhi basah halus hingga ronkhi basar kasar
Penunjang
o Rontgen thoraks: konsolidasi/ infiltrat dengan air bronkhogram, biasanya lobaris. Pada bronkopneumonia tampak infiltrat bilateral.
Pneumonia
Bronkhopneumonia
o Leukositosis (AL > 10.000) d. Penatalaksanaan
Golongan penisilin, beta laktam, sefalosporin, fluorokuinolon 19. Pneumothoraks
a. Definisi
Terdapatnya udara bebas dala rongga pleura, dapat primer (tidak ada riwayat penyakit / trauma), dan sekunder (riwayat penyakit / trauma, biasanya disebakan pecahnya bullae akibat TB).
b. Tampilan Klinis
Sesak, riwayat trauma / penyakit sebelumnya
Pengembangan dada tidak simetris, fremitus menurun, perkusi hipersonor, suara nafas menurun
Pneumothoraks sinistra c. Penatalaksanaan
WSD / chest tube (di SIC V antara linea axilaris anteroir dan linea axilaris media) 20. Efusi Pleura
a. Definisi
Terisinya rongga pleura oleh cairan. Normalnya hanya 1 ml cairan pleura. Tipe: hidrothoraks (terisi cairan), hemothoraks (terisi darah), Empiema (terisi pus), chylothorax (terisi cairan limfe)
b. Klinis Keluhan
Sesak (biasanya > 500 ml), nyeri dada, gejala lain sesuai penyebab PF:
Pengembangan dada asimetris, fremitus menurun, perkusi redup, suara nafas menurun, egofoni, pleural friction rub, mediastinal shifting
Penunjang
Pada rontgen thoraks didapatkan sudut kostofrenikus tumpul
Efusi pleura masif kanan c. Tatalaksana
Terapi sesuai penyebab
WSD
21. Abses Paru a. Definisi
Terdapatnya kavitas berisi pus pada paru disebabkan oleh infeksi. Bakteri anaerob (Peptostreptococcus, Fusobacterium) biasanya kronis, aerob (Streptococcus/ staphylococcus) biasanya akut. Dapat berasal dari sekret yang tertelan dari mulut pada pasien yang menderita ginggivitis atau oral higine buruk.
b. Klinis
Batuk berdahak, demam, keringat malam, penurunan berat badan, dahak berbau dan tidak enak, kadang dapat hemoptisis
Riwayat ginggivitis
Rontgen tampak kavitas berdinding tebal dengan air-fluid level (bedakan dengan bulla, pada bulladinding tipis)
Abses Paru Kanan c. Tatalaksana
22. Kanker Paru
Riwayat merokok
Keluhan: batuk, sesak, hemoptisis, penurunan berat badan
Rontgen thoraks / CT scan tampak massa tumor 23. Sindrom Gagal Nafas Akut
Kriteria:
Dalam satu minggu terdiagnosis klinis atau gejala pernafasan baru atau memburuk Rontgen thoraks radioopak bilateral, tak sepenuhnya efusi, lobus paru kolaps atau
nodul
Gagal nafas tidak berhubungan dengan gagal jantung
PaO2 / FiO2 : ringan (200 -300 mmHg), sedang (100 – 200 mmHg), berat (<100 mmHg)
GASTROENTEROHEPATOLOGI
24. Esofagitis Terdiri dari reflux esophagitis, infectious esophagitis, pill esophagitis, eosinophilic esophagitis
Tampilan klinis: disfagia, odinofagia, heartburn, mual, muntah Gambaran radiologi: cobble-stone appearance
25. Akalasia
Sfingter esofagus tidak bisa relaksasi
Gejala berupa kesulitan menelan
26. Penyakit Refluks Gastroesofagus dan Laringo-pharyngeal Reflux
Disebabkan karena sfingter esofagus menutup tidak adekuat sehingga menyebabkan refluks asam lambung
Faktor risiko: usia > 40 tahun, obesitas, kehamilan, merokok, kopi, alkohol, coklat, makanan berlemak, nitrat, teofilin, verapamil, pakaian ketat, sering mengangkat berat
GERD: heart burn
LPR: suara serak, rasa mengganjal di tenggorokan
Penatalaksanaan: o PPI (omeprazole) o Modifikasi faktor risiko
o Makan teratur, porsi sedikit tapi sering, tidur minimal 2 jam setelah makan 27. Dispepsia
Menurut ROMA III:
o Adanya 1 atau lebih keluhan rasa cepat penuh setelah makan, cepat kenyang, nyeri ulu hati / epigastrik, rasa terbakar di epigastrium
o Tidak ada bukti kelainan struktural / organik o Keluhan minimal terjadi 3 bulan
Alarm Symptom
o Usia > 55 tahun atau dispepsia onset baru o Penurunan BB yang tidak jelas sebabnya o Disfagia atau odinofagia
o Anemia
o Muntah persisten
o Teraba massa atau adanya limfadenopati o Jaundice
o Hematemesis melena Drug Induced Dyspepsia
NSAID, CCB, Bifosfonat, Kalium, eritromisin, metronidazole, akarbose Penatalaksanaan
o Jika ada alarm simptom endoskopi (EGD/ esofagogastroduodenoskopi))
o PPI (omeprazole)
o Tes H. pylori dengan urea breath test atau dengan antigen H. pylori. Jika positif tatalaksana dengan PAC (PPI + amoksisilin + clarytromisin) atau PMC (PPI + metronidazole + clarytromisin)
28. Ulkus Peptikum
Etiologi H. pylori.
Tampilan klinis: nyeri epigastrium berulang, dipengaruhi makanan PF: nyeri tekan epigastrium
Lokasi
o Ulkus gaster: makanan memicu nyeri dengan segera
o Ulkus duodenum: nyeri berkurang dengan makanan, beberapa jam kemudian baru timbul nyeri
Penunjang: endoskopi (EGD) ulkus Penatalaksanaan
PPI , Anti-histamin 2, jika ada H. pylori tatalaksana dengan PAC atau PMC Diagnosis Banding: gastritis erosif, dari pemeriksaan EGD erosi mukosa 29. Kolesistitis, Kolelitiasis, Kolangitis, Koledokolelitiasis
Diagnosis Nyeri Kolik Murphy Sign Demam Ikterik
Kolelitiasis / kolesistolitiasis
Batu pada kantung empedu + - - -
Koledokolelitiasis
Batu pada duktus koledokus + - - +
Kolesistitis
Radang pada kantung empedu +/- + + (low) -
Kolangitis
Radang pada duktus koledokus +/- + + (high) +
Faktor risiko cholelitiasis: 4F (female, fat, fourty, fertile)
Trais Charcot (demam, ikterik, nyeri di kuadran kanan atas) kolangitis
Murphy sign: ketika dipalpasi/penekanan di kuadran kanan atas abdomen dan pasien diminta inspirasi, pasien menahan karena kesakitan.
Alkali Phospatase (ALT) : menilai obstruksi post hepatal
Gamma GT : menilai obstruksi intrahepatal;
SGPT, SGOT, LDH : meningkat jika ada kerusakan sel hepar Pemeriksaan imaging: USG
Kolesistitis: penebalan dinding mukosa Kolelitiasis: posterior accoustic shadow 30. Hepatitis
a. Klasifikasi
Hepatitis akut: Hepatitis A dan E, menular melalui fekal oral. Jarang menjadi kronis
Hepatitis kronik: Hepatitis B dan C, menular lewat darah dan kontak seksual. Hepatitis B dapat menjadi hepatoma tanpa melalui sirrosis
b. Tampian Klinis
Stadium II / ikterik (minggu kedua) : ikterik, kencing coklat, kondisi tubuh baik, nafsu makan baik, hepatomegali teraba tajam, nyeri tekan. Bilirubin naik memuncak turun
Stadium III / konvalesen (minggu III-IV): KU membaik, bilirubin naik, SGPT/SGOT turun
c. Penunjang
Seromarker
o Hepatitis A : IgM anti-HAV (akut), jarang menjadi kronis. IgG anti-HAV (post infeksi)
o Hepatitis B :
Penanda Serologis Keterangan
HBsAg Infeksi HBV atau pembawa sehat Anti-HBs Sembuh dan imun
HBeAg Replikasi aktif HBV
Anti-Hbe Replikasi tidak aktif atau integrasi Anti-HBc IgG Riwayat kontak dengan HBV HBV DNA Replikasi aktif HBV
DNA-polymerase Replikasi aktif HBV
Akut: HBsAg (+), IgM Anti-HBc (+), Anti HBc (+), Anti-HBs (-) Window period: HBsAg (-), Anti-HBc (+), Anti-HBs (-)
Sembuh: HBsAg (-), Anti-HBs (+), Anti-HBc (+), Anti-HBe (+)
Hepatitis kronis: HBsAg (+), HBeAg (+), IgGAnti-HBc (+), Anti-HBe (-), IgM Anti-HBc (-), Anti-HBs (-)
Carrier: HBsAg (+), HBeAg (+), Anti-HBc (+), Anti-HBe (+), Anti-HBs (-) Imunisasi: Anti-HBs (+), Anti-HBc (-), Anti-Hbe (-)
o Hepatitis C : Anti HCV Membedakan akut dan kronik
LFT Hepatitis Akut Hepatitis Kronik
SGOT / SGPT < 1 > 1
Bilirubin direk ↑↑ ↑
o SGOT ↑ pertanda kronik, SGPT ↑ pertanda akut o Kronik: rasio albumin / globulin < 1
d. Penatalaksanaan Bed rest total Diet TKTPK Roborantia
31. Hepatoma / Hepatocelluler Carcinoma a. Etiologi
Primer
Sekunder : HBV, HCV b. Tampilan Klinis
Riwayat merongkol perut dan pertumbuhan progresif
Hepatomegali, berbenjol-benjol, nyeri tekan
USG: nodul, disarsitek
AFP meningkat (>15) Biopsi c. Penatalaksanaan Bed rest Diet TKTP Roborantia Lobektomi Sitostatik 32. Sirrosis Hepatis
Tampilan klinis: sklera ikterik, spider nevi, ginecomastia, atropi testis, palmar eritem, varises esofagus, splenomegali, kolateral dinding perut, ascites, hemoroid
Pemeriksaan Fisik: hepar teraba keras, ukuran mengecil, permukaan rata
SGOT > SGPT, Gamma GT ↑, ALP ↑, bilirubin ↑, hipoalbuminemia
Komplikasi: ensefalopati hepatik (kelebihan amonia, penurunan kesadaran), pecah varises esofagus, peritonitis bakterial spontan, ascites permagna, endotoxemia
33. Pankreatitis Akut a. Etiologi
b. Klinis
Keluhan: nyeri abdomen, mual, muntah, distensi abdomen, demam, ikterik
PF: nyeri tekan epigastrium, Cullen’s Sign, Turner’s Sign
Cullen’s Sign: warna kebiruan di sekitar umbilikus akibat hemoperitoneum
Turner’s Sign: warna blue-red-purple / green brown pada panggul akibat katabolisme jaringan tersebut
Amilase dan lipase meningkat > 3x c. Tatalaksana
Puasakan Pasang NGT
Antibiotik spektrum luas 34. Karsinoma Pankreas
Faktor risiko: laki-laki usia > 40 tahun, diet tinggi protein dan lemak, alkohol, DM, pankreatitis kronik
Klinis: ikterik, nyeri epigastrium, gejala obstruksi akibat kanker menekan duodenum
PF: massa di epigastrium, distensi dan pembesaran kantung empedu yang tidak nyeri (Courvoiser;s sign)
35. Diare Akut
Dilihat berdasarkan patogen a. E. Coli
Gram negatif, anaerobik fakultatif, bentuk batang, bisa ditemukan di intestinal distal. Pada biakan di agar Mc Conkey didapatkan pertumbuhan koloni bundar, halus, memfermentasi glukosa.
Entetotoxin E. coli (ETEC)
Diare tanpa lendir, darah. Riwayat bepergian ke negara berkembang (makanan tidak higienis).
Enterohemoragic E.Coli (EHEC)
Diare dapat atau tidak disertai lendir, darah. Riwayat mengkonsumsi daging ayam, daging sapi, daging babi, dll yang tidak dimasak
Enteroinvasive E.Coli (EIEC)
Diare disertai lendir, darah. Riwayat konsumsi daging ayam dan susu yang tidak dimasak, keju.
Terapi: fluorokulinolon, azitromisin b. Shigella
Menyebabkan disentri basiler (shigellosis)
Bentuk paling berat (fluminan) biasanya disebabkan S. dysentriae Diare disertai lendir dan darah, darah > lendir, demam, tenesmus
Terapi: cotrimoksazol (bisa membunuh shigella dan E. hystolitica), fluorokuinolon, azitromisin
c. Entamoeba hystolitica
Menyebabkan disentri amoeba (amoebiasis) Diare lendir dan darah, lendir > darah, tenesmus
Pemeriksaan mikroskopis didapatkan trofozoit dengan sitoplasma mengandung eritrosit. Kista: berinti empat.
Jika tidak terdapat pemeriksaan mikroskopis untuk membedakan disentri basiler atau disentri amoeba, maka dianggap menderita disentri basiler karena insidensi lebih banyak.
Dapat menyerang hepar.
Terapi: metronidazole d. Vibrio colera
Menyebabkan Kolera
Menyebabkan gangguan absorbsi ion klorida
Riwayat konsumsi makanan laut yang tidak dimasak
Diare seperti cucian beras, sering dan banyak (profuse) Terapi: doksisiklin, tetrasiklin (anak), eritromisin
e. Giardia lambdia
Menyebabkan giardiasis
Mikroskopis: trofozoit dengan 2 nukleus dan 2 aksonema, berflagel (bentuk seperti layang-layang)
Terapi: metronidazole f. Stafilokokus aureus
Bakteri gram positif, bentuk rantai/coccus, aerob
Riwayat konsumsi daging ayam, sapi, babi, dll yang tidak dimasak Terapi: fluorokuinolon, azitromisin
g. Salmonella thypii
Bakteri berbentuk batang, berflagel, anaerob, gram negatif
Demam, mual, muntah, nyeri perut, diare dapat atau tanpa disertai lendir dan darah
Terapi: kloramfenikol, ciprofloksasin, amoxicillin, cotrimoxazole h. Rotavirus
Diare cair, kekuningan, tidak disertai darah, disertai demam, nyeri perut Terapi: rehidrasi, zinc
i. Balantidium coli
Protozoa bersilia, mempunyai makronukleus dan mikronukleus, protozoa terbesar yang menginfeksi manusia
Riwayat kontak dengan babi atau konsumsi air / makanan yang tercemar kotoran babi
Diare lendir darah, profus
Habitan protozoa di colon ascenden
Terapi: cairan, metronidazole j. C. dificle
Diare cair, banyak (profuse)
Terapi: metronidazole k. C. botulinum
Riwayat konsumsi makanan kaleng kadaluwarsa
Diare, terdapat gangguan saraf (paralisis/ paresis) Terapi: metronidazole
36. Iritable Bowel Syndrom a. Definisi
Gangguan fungsi gastrointestinal tanpa adanya kelainan organik. b. Tampilan Klinis
Kriteria menurut Roma III:
Adanya nyeri perut atau abdominal discomfort berulang minimal 3 hari per bulan selama 3 bulan dan diikuti 2 gejala berikut:
Lega setelah buang air besar
Perubahan frekuensi buang air besar (konstipasi / diare) Perubahan konsistensi tinja
Perut kembung Muccorhea c. Penatalaksanaan
Diet tinggi serat, bebas kafein, bebas gluten (kontroversial)
Terangkan pada pasien bahwa tidak ada gangguan organik (psikoterapi) 37. Iritable Bowel Disease
Gangguan fungsi GIT disertai kelainan organik
Terdiri dari Crohn disease dan ulceratif colitis
Crohn Disease Ulceratif Colitis
Dapat mengenai segmen GIT manapun
Diare kronik, nyeri perut, lelah, penurunan BB
Inflamasi sampai ke otot GIT
Bisa terdapat fistula ani, abses, atau ulkus
Rekuren
Inflamasi pada seluruh mukosa colon dan rektum
Diare disertai lendir darah
Endoskopi: peningkatan post-rectal space
Endoskopi: cobblestone appearance
GINJAL DAN HIPERTENSI
38. Infeksi Salurah Kemiha. Etiologi
Eschercia coli (paling sering), Proteus sp, Klebsiella sp, Staphylococcus sp b. Klasifikasi
ISK atas
o Meliputi pielonefritis akut, pielonefritis kronik
o Gejala: demam tinggi, mual, muntah, keram punggung, NKCV (+), penurunan BB
ISK bawah
o Meliputi sistitis, sindrom uretra akut, epididimitis, prostatitis
o Nyeri suprapubik, disuria, polakisuria, hematuria, urgensi, tranguria, nokturia
c. Pemeriksaan Penunjang
Kultur urin dengan midstream urin (urin pancaran tengah) d. Penatalaksanaan
Minum air putih banyak, fluorokuinolon 39. Gagal Ginjal Akut
a. Perburukan fungsi ginjal yang cepat dan tiba-tiba ditandai dengan oligouria (Urine output < 0,5 cc/kgBB/jam) atau anuria dan peningkatan kreatinin.
b. Etiologi
Prerenal
Hipovolemia (diare), edema, penurunan cardiac output, renal vacular disease (stenosis a. Renalis), NSAID
Renal
Glomerulonefritis, sindrom nefrotik, emboli, acute interstitial nefritis (AIN), acute tubular necrosis (ATN), NSAID, siklosporin
Post renal
c. Kriteria RIFFLE
Risk: creatitin ↑ 50% Injury: creatinin ↑ 100% Failure: creatitin ↑ 150% Loss: berlangsung >4 minggu End-stage: berlangsung > 3 bulan 40. Gagal Ginjal Kronik
a. Definisi
Keadaan klinis yang ditandai penurunan fungsi ginjal secara irreversibel b. Etiologi
DM
Penyakit glomerular: autoimun, infeksi sistemik, obat (NSAID) Penyakit vaskular: hipertensi, mikroangiopati
Penyakit polikistik kistik ginjal
Keracunan obat (siklosporin, takrolismus) c. Tampilan Klinis
Trias CKD: hipertensi, anemia, edema
Dispneu (edema pulmo) Nyeri pinggang menjalar d. Klasifikasi Grade I: GFR > 90% Grade II: GFR 60-89% Grade III: GFR 30-59% Grade IV: GFR 15-29% Grade V: GFR <15% e. Indikasi CITO HD
Asidosis (pH <7,2), hiperkalemia berat, uremia (ureum > 200), overload cairan (sesak karena edema pulmo)
40. Sindroma Nefrotik
Klinis
o Proteinuria (>3 g/24 jam atau dipstik +3) o Hipoalbuminemia
o Edema
Terminologi o Remisi
Proteinuria negatif 3 hari berturut-turut dalam satu minggu o Relaps
Proteinuria ≥ +2 3 hari berturut-turut dalam satu minggu
Relaps jarang: kurang dari 2x dalam 6 bulan atau 4x dalam satu tahun Relaps sering: ≥ 2x dalam 6 bulan atau ≥ 4x dalam setahun
o Dependen steroid
Relaps 2x berurutan saat dosis steroid diturnkan atau 14 hari setelah dosis steroid dihentikan
o Sensitif steroid
Remisi pada pengobatan steroid dosis penuh selama 2mg/KgBB/hari selama 4 minggu
o Resisten steroid
Tidak terjadi remisi pada pengobatan steroid dosis penuh. Indikasi biopsi ginjal. 41. Sindroma Nefritik
Disebabkan glomerulonefritis akut
Klinis: hematuria, proteinuria, hipertensi, penurunan fungsi ginjal, silinder eritrosit Biasanya pada anak-anak. Didahului infeksi oleh Streptococcus B hemolitikus grup
A (biasanya faringitis atau impetigo). Reaksi hipersensitifitas tipe 3 (melibatkan komplemen C3)
42. Hipertensi
b. Obat Antihipertensi Oral
Drug Class Examples Other Indication Contraindication
Diuretics
Thiazid Hydroclorotiazid Diabetes, dyslipidemia, gout,
Chlothalidone hyperuricemia, hypokalemia
Loop Diuretic Furosemide
CHF due to systolic
dysfunction,
Ethacrynic acid renal failure Aldosterone antagonist Spironolaktone
CHF due to systolic
dysfunction, Renal failure, hyperkalemia Eplerenone primary aldosteronism
K retaining Amiloride
Triamterene Beta Blockers
Cardioselective Atenolol Angina, CHF, post-MI, sinus
Asthma, COPD, 2nd - 3 rd degree
Metoprolol tachycardia, ventricular heart block, sick-sinus syndrome
Nonselective Propanolol Arythmia
Propanolol LA
Combined alpha/beta Labetalol Post-MI, CHF
Carvediol ACE inhibitors
Captopril Post-MI, coronarry syndrome, Acute renal failure, bilateral Lisinopril CHF with low EF, nephropathy renal artery stenosis, pregnancy,
Ramipril Hyperkalemia
Angiotensin II reseptor blockers
Losartan CHF with low EF, nephropathy Acute renal failure, bilateral Valsartan ACE-I cough renal artery stenosis, pregnancy,
Candesartan Hyperkalemia
Calcium canal blockers / calcium antagonists
Dyhydropyridines Nifedipine Post-MI, SVT, angina 2nd or 3rd heart block
Non-dihydropyridines Verapamil
Diltiazem
c. Hipertensi Urgensi
o Tekanan darah sangat tinggi (≥ 180/110 mmHg) o Tidak disertai kelainan / kerusakan organ target
o Terapi dengan antihipertensi oral untuk menurunkan tekanan darah dalam beberapa jam
d. Hipertensi Emergensi
o Disertai / akan terjadi kerusakan organ target. Harus dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang
o Kerusakan organ target: diseksi aorta akut, edema paru akut, AMI, ACS, PEB, eklampsia, gagal ginjal akut, ensefalopati hipertensi, SAH, ICH, stroke, hipertensi post-operatif akut, krisis simpatis
o Terapi dengan antihipertensi IV: nicardipin, clonidin (hati-hati efek rebound) o Target penurunan tekanan darah 25% MAP dalam satu jam, kemduian
diturunkan secara gradual
KARDIOLOGI
43. Penyakit Jantung Koroner (Acute Corronarry Syndrome / ACS)
Terdiri dari UAP, STEMI, dan Non-STEMI
Faktor risiko: usia, riwayat keluarga ACS <55 tahun, rokok, LDL tinggi, hipertensi, obesitas, DM, stres, physical inactivity
Klinis: nyeri dada khas (sulit dilokalisir, terasa seperti terhimpit benda berat, menjalar ke bahu/lengan/dagu), mual, muntah, berkeringat dingin. Berlangsung >20 menit Angina pektoris stabill (tidak termasuk ACS)
Angina “sehari-hari”, sering dirasakan, muncul saat aktifitas, frekuensi beratnya tetapt sama, membaik dengan istirahat atau nitrogliserin
Angina pektoris tidak stabil (UAP)
Angina yang pertama kali dirasakan, dirasakan saat istirahat dan lebih dari 20 menit, Angina yang semakin berat (cressendo), tidak membaik dengan istirahat / nitrogliserin. EKG dapat normal (low risk UA) atau ST Depresi (High risk UA). Cardiac marker normal
Non-STEMI
EKG menunjukkan ST Depresi atau T Inverted. Cardiac marker meningkat. Tidak perlu trombolitik.
STEMI
EKG menunjukkan ST Elevasi. Cardiac marker meningkat. Perlu trombolitik.
Trombolitik diberikan pada pasien dengan onset kurang dari 12 jam
Cardiac markers
Myoglobin 1-4 jam 6-7 jam 24 jam
CKMB 3-12 jam 24 jam 48-72 jam
Troponin I 3-12 jam 24 jam 5-10 hari
Troponin T 3-12 jam 12-72 jam 5-14 hari Tatalaksana awal (guidline AHA 2014):
o Oksigen bila SaO2 94% atau nafas memendek o Aspirin 160-320 mg
o Nitrogliserin sublingual / spray. Jangan diberikan pada riwayat infark ventrikel kanan
o Pain control (morfin, fentanyl) Gambaran EKG Evolusi STEMI ST Depresi o Lokasi infark Anterior: V1-V6 Anteroseptal: V1-V4
High Lateral: I, aVL, V5, V6 Inferior: II, III, aVF
Posterior: tampak gambaran resiprokal (biasanya ST depresi) di V1, V2. Saat dipasang lead posterior tampak ST Elevasi
44. Gagal Jantung a. Definisi
Suatu kondisi dimana cardiac output tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Hal ini disebabkan oleh remodelling progresif akibat meningkatnya beban miokard.
Secara fungsi dibagi menjadi gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri. Dapat juga dibagi menjadi gagal jantung sistolik (Ejection fraction <50%) dan gagal jantung diastolik (EF >50%).
Gagal jantungn akut adalah perubahan kondisi yang cepat dan tiba-tiba dari seseorang yang telah mengalami gagal jantung sebelumnya.
b. Tampilan Klinis
Gejala Tanda
Gagal jantung kiri Dyspneu de effort Orthopneu Paroxysmal nocturnal dyspneu Fatique Diaphoresis Takikardi Suara jantung 2 mengeras S3 gallop Gagal jantung kanan Edema perifer
Right upper quadrant discomfort
JVP meningkat
Hepatomegaly Edema perifer
Jika didapatkan gejala gagal jantung kanan dan kiri maka disebut gagal jantung kongestif.
c. NYHA Functional Class
I : Sesak saat aktifitas berat (lari, naik tangga) II : Sesak saat aktifitas lebih ringan
III : Sesak saat aktifitas sehari-hari IV : sesak saat istirahat
d. Tatalaksana
Diuretik, ACE-i / ARB, Beta blocker (bila hemodinamik stabil), digoksin, vasodilator 45. Aritmia
Aritmia adalah kelainan pada frekuensi, regularitas, lokasi asal, atau kondiksi listrik jantung. Irama sinus normal adalah irama yang dicetuskan oleh nodus sinus (sinoartrial node) yang kemudian diteruskan ke AV node, berkas hiss, cabang berkas kanan dan kiri, serabut purkinje, kemudia ke ventrikel dengan irama yang reguler dan frekuensi 60-100 x/menit. Selain dari itu disebut aritmia.
Aritmia dibagi menjadi supraventrikular dan ventrikular. Dalam ekg aritmia supraventrikular ditandai dengan kompleks QRS yang sempit, sedangkan aritmia ventrikuler ditandai dengan kompleks QRS yang lebar.
Aritmia supraventrikel tersering: sinus bradikardia, sinus takikardia, paroksismal supraventrikular takikardi, atrial fibrilasi, atrial flutter
Aritmia ventrikular tersering: ventrikel takikardia dan ventrikel fibrilasi
Aritmia letal atau yang dapat menyebabkan kematian adalah VF, VT pulseless, PEA, dan asistol
Sinus bradikardia
o Irama berasal dari SA node o Dipengaruhi oleh sistem simpatis o Frekuensi <60 x/menit
o Gelombang P diikuti kompleks QRS. Interval P-R <0,2 detik, kompleks QRS sempit (< 0,12 detik)
o Terapi diberikan atropin
Sinus takikardia
o Irama berasal dari SA node o Dipengaruhi oleh sistem simpatis o Frekuensi >60 x/menit
o Gelombang P diikuti kompleks QRS. PR interval <0,2 detik, kompleks QRS <0,12 detik
Paroksismal supraventrikular takikardia
o Irama berasal dari atrium
o Disebabkan oleh adanya siklus reenterant o Frekuensi 150 – 250 x/menit
o Gelombang P sulit terlihat, jika terlihat biasanya retrograd (setelah QRS) o Interval R-R reguler, kompleks QRS <0,12 detik
Atrial fibrilasi
o Irama berasal dari berbagai tempat di atrium
o Gelombang P sejati (P yang berasal dari SA node) tidak nampak
o Gelombang P jauh lebih banyak dibanding kompleks QRS
o Interval R-R irreguler o Kompleks QRS <0,12 detik Atrial flutter
o Irama berasal dari atrium o Akibat adanya siklus reenterant o Tidak ada gelombang P sejati o Seperti gambaran gergaji
o Perbandingan jumlah gelombang P dan kompleks QRS bisa 1:2, 1:3, 1:4 dst. Jumlahnya reguler
o Interval R-R reguler o Kompleks QRS <0,12 detik
Ventrikel Ekstrasistol (VES) / Premature Ventricular Contraction (PVC)
o Gelombang ventrikel yang muncul diantara gelombang sinus o VES jarang (<5 x/menit), VES frekuen (>5 x/menit)
o VES multifokal: terdapat berbagai bentuk VES dalam satu lead o Tidak ada gelombang P sebelum muncul irama ventrikel o Kompleks QRS >0,12 detik
Ventrikel takikardia
o Irama berasal dari ventrikel o Frekuensi 120 – 200 x / menit o Dapat monomorfik atau polimorfik o Denyut nadi bisa ada atau hilang
o Tidak ada gelombang P. Kompleks QRS > 0,12 detik
Ventrikel fibrilasi
VF halus (fine VF)
VF kasar (coarse VF) o Irama berasal dari ventrikel
Pulseless Electrical Activity
Segala bentuk irama dimana irama tersebut tidak menghasilkan denyut jantung
46. Blokade Konduksi
Blokade konduksi adalah obstruksi atau hambatan impuls listrik di sepanjang jalur normal konduksi
Blokade konduksi yang banyak ditemui diantaranya adalah AV block AV block dibagi dalam 3 derajat
AV Block derajat I
o P-R interval melebar (>0,2 detik) o Semua denyut dihantarkan ke ventrikel o Tidak ada drop beat (gelombang hilang) o Bisa terjadi pada orang sehat
AV Block derajat II tipe 1 / Weekenbach
o P-R interval memanjang secara progresif kemudian disusul dengan adanya drop beat
o Bisa terjadi pada orang sehat AV Block derajat II tipe 2
o P-R interval sama, namun tiba-tiba muncul drop beat
AV Block derajat III
o Gelompang P dan kompleks QRS berjalan sendiri-sendiri
o Etiologi: infark miokard inferior atau anterior 47. Endokarditis
Proses peradangan pada endokardium oleh karena infeksi
Biasanya mengenai katup mitral dan aorta
Klinis:
diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Duke (2 kriteria mayor/ satu mayor 3 minor/ 5 minor)
Kriteria mayor:
o Kultur darah positif untuk organisme penyebab endokarditis (strep. Viridins / bovis, HACEK, enterococcus, staph. Aureus tanpa fokus primer di tempat lain) yang di ambil dari 2 waktu berbeda
o Ekokadriografi menunjukkan adanya gambaran seperti terombag-ambing pada katup, biasanya di katup mitral
Kriteria minor:
o Faktor predisposisi atau penggunaan obat IV o Demam >38 °C
o Fenomena vaskular: emboli, intracranial bleeding, perdarahan konjungtiva, Janeway lession
o Fenomena immunologis: osler node, glomerulonefritis, Roth spots, rheumatoid factor
o Microbiological evidence: kultur darah positif tapi tidak memenuhi kriteria mayor Tatalaksana
Penisilin G 48. Demam Rematik
Infeksi Grup A Streptococcus B Hemolitikus terbentuk antibodi 1-3 minggu kemudian antibodi tersebut menyebabkan kerusakan pada katup jantung, sendi, jaringan subkutan, dan ganglia basalis
Diagnosis ditegakkan dengan kriteria Jones:
1 required criteria + 2 major criteria atau 1 required criteria + 1 major criteria + 2 minor criteria
Required Criteria: bukti terdapatnya infeksi streptococcus (ASTO (+) ) Major Criteria: o Carditis o Poliarthritis o Chorea o Erytema marginatum o Nodul subkutan Kriteria minor: o Demam o Atrhalgia
o Riwayat demam rematik atau penyakit jantung rematik o Reaktan fase akut: Leukositosis/ CRP/ ESR
o Interval P-R memanjang Tatalaksana:
o Antibiotik (benzathine penisilin / sulfadiazine) o Salisilat
o Steroid
o Diazepam bila terjadi Sydenham’s chorea 49. Diseksi Aorta
Masuknya darah ke dalam tunika intima aorta akibat lapisan dinding aorta terpisah (tunika intima terpisah dari tunika media)
Riwayat DM dan Hipertensi Tampilan klinis:
o Keluhan:
Nyeri dada menjalar ke punggung/ intrascapular/ leher, sinkop, stroke, perubahan status mental
o Pemeriksaan Fisik:
Hipotensi/ hipertensi, perbedaan tekanan darah lengan kanan dan kiri, takikardi, denyutan pada epigastrium
o Pemeriksaan Penunjang:
Rontgen toraks, EKG, echocardiografi, CT-Scan, MRI Tatalaksana:
o Medikamentosa: antihipertensi (Beta bloker IV pilihan pertama), analgetik narkotik
o Pembedahan 50. Penyakit Arteri Perifer (PAD)
Tersumbatnya aliran darah arteri perifer oleh karena aterosklerosis
Tampilan klinis:
o Claudicatio (nyeri pada ekstremitas bawah saat aktifitas akibat kurangnya suplai oksigen ke otot)
o Berukrang dengan istirahat.
o Nyeri selalu dirasakan pada kelompok otot yang sama 51. Thromboangitis Obliterans (Buerger’s Disease)
Terbentuknya trombus hingga terjadi oklusi pada end arteri
Berhubungan erat dengan riwayat merokok
Tampilan klinis: o Usia <45 tahun
o Keluhan terjadi pada end arteri (jari-jari)
o Claudicatio (nyeri pada otot saat aktifitas karena kekurangan suplai darah) o nyeri saat istirahat
o ulkus, ganggrene 52. Deep Vein Thrombosis
Diakibatkan karena gangguan aliran darah (statis, kurang gerak, imobilisasi) Lokasi tersering di ekstremitas bawah
Unilateral
Klinis: nyeri, bengkak, kemerahan, tidak ada penyebab lainnya
Homan Sign: ketika posisi kaki ekstensi, kemudian dilakukan dorsofleksi pedis, maka akan terlihat bendungan
Tatalaksana:
o Antikoagulan (heparin, dll)
RHEUMATOLOGI
53. Gout Artritis Merupakan artrhritis yang disebabkan karena terdapatnya kristal urat di dalam cairan sinovial.
Klinis:
o Onset akut
o Paling sering monoartikuler
o Paling sering mengenai sendi kecil (tangan, kaki, jari-jari), bisa juga mengenai lutut
o Serangan akut dapat dicetuskan oleh konsumsi alkohol, konsumsi makanan tinggi purin, trauma, dehidrasi, obat-obatan (diuretik)
o Gejala akut: nyeri, bengkak, kemerahan, dapat disertai demam
o Dapat ditemukan tofus dan podagra (bengkak, nyeri pada metatarsophalangeal I, sebagai inisial artritis pada 50% kasus)
o Dari pemeriksaan lab dapat ditemui hiperurisemia
Diagnosis banding o Psuedogout
Monoartikuler, biasnya menyerang sendi besar, terdapat kristal calsium phospat dari biopsi, dapat ditemukan kalsifikasi pada tulang rawan
o Septic arthritis
Monoartikuler, paling sering menyerang lutut, leukositosis (>50.000), kultur (+), tidak ditemukan kristal
Tatalaksana o Akut
NSAID, kortikosteroid, kolkisin (uricosuric agent) o Preventif
Alopurinol, probenecid 54. Osteoartritis
Kerusakan sendi akibat proses degenerasi
Faktor risiko : usia >50 tahun, obesitas, pada orang dengan penggunaan sendi yang berlebihan, riwayat imobilisasi
Klinis
o Onset perlahan
o Dapat mengenai sendi lutut (tersering), pinggang, vertebra, dan jari o Biasanya poliartritis
o Gejala umum: nyeri terutama bila digerakkan, pengurangan ROM, kekakuan (biasanya di pagi hari / morning stiffnes) <30 menit. Krepitasi
o Pada OA di tangan dapat ditemukan nodul khas yaitu Heberden’s node (nodul pada DIP (distal interphalanx)) dan Bouchard’s node (nodul di PIP ( proksimal interphalanx))
o Temuan radiologis dapat berupa osteofit dan penyempitan celah sendi, deformitas
Tatalaksana
NSAID (lebih bagus yang dominan menghambat COX2 seperti diklofenak, meloksikam), glucosamin, chondroitin sulfat. Pada penderita gastritis diberikan NSAID selektif menghambat COX2 yang tidak mengganggu sistem proteksi lambung (seloksib, rofekoksib, lumirakoksib)
55. Rheumatoid Arthritis
Merupakan inflamasi sendi kronis yang belum diketahui pasti penyebabnya Kriteria diagnosis ACR
Kriteria 1-4 harus ada minimal selama 6 minggu 1) Morning stiffness
2) Artritis melibatkan 3 sendi atau lebih 3) Atritits pada sendi-sendi tangan 4) Atritits simetris
5) Nodul rheumatoid 6) Rheumatoid faktor positif 7) Perubahan radiografis
Tanda khas RA akibat deformitas sendi:
o Boutonniere deformity (pada jempol tangan) o Swan neck (jari seperti leher angsa)
o Ulnar deviation
Tatalaksana
NSAID, Kortikosteroid, DMARDs (metrotrexate) 56. Osteoporosis
Osteroporosis merupakan penyakit tulang sistemik dimana terjadi penurunan massa tulang dan perubahan microarcithectural tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh