• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAH ROTASI PADA ANALISIS KORELASI DAN REGRESI LINIER-SIRKULAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARAH ROTASI PADA ANALISIS KORELASI DAN REGRESI LINIER-SIRKULAR"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMILIHAN ARAH ACUAN 0

o

DAN ARAH ROTASI PADA

ANALISIS KORELASI DAN REGRESI LINIER-SIRKULAR

(Kajian Kasus : Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api Merapi 2010)

ABDUL AZIZ NURUSSADAD

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

RINGKASAN

ABDUL AZIZ NURUSSADAD. Pengaruh Pemilihan Arah Acuan 0o dan Arah Rotasi pada

Analisis Korelasi dan Regresi Linier Sirkular (Kajian Kasus : Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api Merapi 2010). Dibimbing oleh I MADE SUMERTAJAYA dan AHMAD

ANSORI MATTJIK.

Hasil pengukuran tidak hanya menghasilkan data dengan atribut linier, melainkan juga data dengan atribut sirkular. Data sirkular memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh data linier, di mana data sirkular bersifat unik, yaitu data sirkular bergantung pada pemilihan arah acuan 0o dan

arah rotasi. Keunikan data sirkular diuji dalam analisis korelasi dan regresi linier sirkular. Hasil analisis korelasi ini membuktikan bahwa pemilihan arah acuan 0o bisa dilakukan secara subyektif

karena hasil korelasi linier sirkular menunjukkan nilai yang sama 0,899 untuk semua kemungkinan pemilihan arah acuan 0o dan arah rotasi dari data arah dan jarak yang ada. Untuk analisis regresi

linier sirkular diketahui bahwa model yang dibangun memiliki koefisien determinasi dan b0 yang

sama yaitu 0,808 dan 5,231 untuk semua kemungkinan pemilihan arah acuan 0o dan arah rotasi

dari data arah yang ada (tidak unik). Begitu pula dengan statistik lima serangkai dari sisaan pendugaan dengan analisis regresi linier sirkular memiliki nilai sama yaitu minimum = -2,693, quartil1 = -0,835, median = -0,171 , quartil 3 = 0,548 , maksimum = 8,421. Dugaan parameter regresi linier sirkular, yaitu b1 dan b2, membentuk siklus yang masing-masing memiliki persamaan

b1 = -1,226E-07 - 2,728 cos (α) - 2,655 sin (α) dan b2 = 3,061E-07 - 2,655 cos (α) + 2,728 sin (α)

dimana α adalah posisi arah acuan 0o dalam derajat pada masing-masing model.

Kata kunci : Directional Statistics, Statistika Sirkular, Regresi Linier Sirkular, Korelasi Linier

(3)

PENGARUH PEMILIHAN ARAH ACUAN 0

o

DAN ARAH ROTASI PADA

ANALISIS KORELASI DAN REGRESI LINIER-SIRKULAR

(Kajian Kasus : Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api Merapi 2010)

ABDUL AZIZ NURUSSADAD

Skripsi

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Statistika pada Departemen Statistika

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(4)

Judul Skripsi

: Pengaruh Pemilihan Arah Acuan 0

o

dan Arah Rotasi pada

Analisis Korelasi dan Regresi Linier-Sirkular (Kajian Kasus :

Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api Merapi

2010)

Nama

: Abdul Aziz Nurussadad

NIM :

G14070002

Menyetujui :

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Dr. Ir. I Made Sumertajaya, M.Si

Prof. Dr. Ir. A. A. Mattjik, M.Sc

NIP : 196807021994021001

NIP : 194606261970081002

Mengetahui :

Ketua Departemen Statistika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Hari Wijayanto, M.Si

NIP : 196504211990021001

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini berjudul “Pengaruh Pemilihan

Arah Acuan 0o dan Arah Rotasi pada Analisis Korelasi dan Regresi Linier Sirkular

(Kajian Kasus : Peta Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api Merapi 2010)”. Karya ilmiah ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Statistika pada Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyampaikan terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. I Made Sumertajaya, M.Si dan Bapak Prof. Dr. Ir. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan, dan arahan selama penulisan karya ilmiah ini. Kepada Ayah, Ibu, Kakak Luthfi, Mbak Uma, dan Nuna tidak lupa penulis haturkan banyak terima kasih atas dukungan semangat dan doa yang tiada putus. Ucapan terimakasih tidak lupa penulis ucapkan pada seluruh pihak yang membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak bisa penulis tuliskan satu persatu.

Bogor, Agustus 2011 Abdul Aziz Nurussadad

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Barito Utara pada tanggal 21 April 1989 sebagai putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Dani Ahmad Djuraimy dan Ibu St. Aminah.

Tahun 2001 penulis lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Cepoko Ngrambe dan tahun 2004 penulis lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negeri Ngrambe. Pada tahun 2007 penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Al-Islam 1 Surakarta dan pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor di Mayor Statistika, Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2008 penulis mengambil Minor Ekonomi Pembangunan, Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.

Penulis aktif sebagai pengurus dan kepanitiaan di Himpunan Keprofesian Gamma Sigma Beta diantaranya sebagai staf Departemen Database Centre pada tahun 2009/2010 serta kepanitiaan Statistika Ria 2008, Statistika Ria 2009, dan Lomba Jajak Pendapat Statistika 2010. Penulis melaksanakan Praktek Lapang di Center for International Forestry Research (CIFOR) Bogor pada bulan Februari-April 2011.

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 1

TINJAUAN PUSTAKA ... 1

Kawasan Rawan Bencana III Gunung Api Merapi ... 1

Data Linier ... 1

Data Sirkular ... 1

Ukuran pemusatan data sirkular ... 1

Ukuran penyebaran data sirkular ... 1

Korelasi ... 1

Korelasi linier sirkular ... 2

Analisis Regresi ... 2

Regresi linier sirkular ... 2

METODOLOGI ... 2

Data ... 2

Metode ... 2

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 3

Eksplorasi Data ... 3

Analisis Korelasi ... 3

Analisis korelasi linier ... 3

Analisis korelasi linier sirkular ... 4

Analisis Regresi ... 4

Analisis regresi linier ... 4

Analisis regresi linier sirkular ... 5

Perubahan Nilai Dugaan Parameter regresi Linier Sirkular Menurut Pemilihan Titik Acuan 0o 6 KESIMPULAN ... 7

SARAN ... 7

DAFTAR PUSTAKA ... 8

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Sudut di mana terjadi jarak terdekat dan terjauh pada berbagai kombinasi pemilihan arah acuan 0o dan arah rotasi ... 3

2. Korelasi linier antara arah dan jarak pada berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o… ... 4

3. Hasil pendugaan parameter regresi pada berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o ... 4

4. Nilai koefisien determinasi pada berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o pada analisis regresi linier ... 5

5. Hasil pemodelan terhadap parameter regresi linier sirkular ... 6

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam ... 3 2. Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan pada regresi linier dengan arah acuan A000 dan arah

rotasi searah jarum jam ... 4 3. Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan pada regresi linier sirkular dengan arah acuan A000

dan arah rotasi searah jaum jam… ... 5 4. Plot dugaan parameter berdasarkan arah acuan 0o pada arah rotasi searah jarum jam ... 6

5. Plot dugaan parameter berdasarkan arah acuan 0o pada arah rotasi berlawanan arah jarum

jam ... 6 6. Plot perubahan nilai dugaan parameter regresi linier sirkular menurut pemilihan titik

acuan 0o.. ... 6

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Statistik lima serangkai dari sisaan analisis regresi linier antara jarak dan arah ... 10 2. Statistik lima serangkai dari sisaan analisis regresi linier sirkular antara jarak dan arah . 10 3. Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah

jarum jam. ... 11 4. Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan untuk masing-masing arah 0o pada arah

rotasi searah jarum jam ... 12 5. Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan untuk masing-masing arah 0o pada arah

rotasi berlawanan arah jarum jam ... 15

(9)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Dalam berbagai bidang ilmu sains, tidak dipungkiri akan pentingnya pengukuran. Seorang peneliti yang melakukan pengukuran terkadang tidak hanya mengukur peubah yang memiliki atribut linier saja melainkan juga peubah yang memiliki atribut sirkular. Seorang vulkanolog yang bertugas mengawasi Gunung Api Merapi tidak hanya perlu mengukur jarak terjauh daerah rawan bencana dari pusat gunung api saja, melainkan arah daerah kawasan rawan bencana terhadap titik yang dipilihnya dari gunung api tersebut.

Menurut Jammalamadaka dan Sengupta (2001), representasi numerik arah tidak perlu unik karena bergantung pada penentuan arah

acuan 0o dan arah rotasinya, yaitu searah

jarum jam (clockwise) atau berlawanan dengan arah jarum jam (counter-clockwise). Nilai terkecil yang mungkin dari suatu data sirkular adalah sama dengan nilai terbesar dari data sirkular yang hal ini tidak ditemukan pada data linier.

Apakah yang akan terjadi terhadap suatu analisis regresi oleh perbedaan dari arah acuan 0o dan arah rotasi, sementara representasi

numerik dari arah dalam statistika sirkular tidaklah unik.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Melihat pengaruh pemilihan arah 0o dan

arah rotasi terhadap nilai korelasi dari analisis korelasi linier sirkular.

2. Melihat pengaruh pemilihan arah 0o dan

arah rotasi terhadap nilai koefisien determinasi, statistik lima serangkai dari nilai sisaan regresi, dugaan parameter dari analisis regresi linier sirkular.

3. Melihat pola hasil pendugaan parameter pada analisis regresi linier sirkular.

TINJAUAN PUSTAKA

Kawasan Rawan Bencana III Gunung Api Merapi

Gunung Api Merapi (2968m dpl) di Jawa Tengah adalah gunung api tipe Strato yang paling sering meletus di Indonesia. Kawasan rawan bencana III adalah daerah yang sering terlanda awan panas, aliran lava, guguran batu (pijar), gas racun dan lontaran batu (pijar) hingga radius 2 km BSN (1998)

Data Linier

Data linier adalah data yang hanya memiliki satu dimensi pengukuran. Ciri lain dari data linier adalah memiliki nilai minimum dan maksimum.

Data Sirkular

Data sirkular adalah data dengan pengukuran dua dimensi. Misalkan dari koordinat Cartesius (x,y) maka bisa diperoleh koordinat Polar (r,α), di mana r merupakan jarak terhadap titik asal (O) dan α merupakan arctan (x/y). Kumpulan dari α adalah data sirkular. Sebelum data sirkular diukur, perlu

dilakukan penentuan arah 0o dan arah

rotasinya, apakah searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.

Dalam statistika sirkular, besarnya vektor arah (r) tidak diperhatikan, oleh karena itu vektor arah dibuat menjadi satuan unit jarak (misal r = 1). Sehingga dalam pengukuran skalar didapat satu unit lingkaran dengan titik

P (1, α).

Ukuran pemusatan data sirkular

Ukuran pemusatan data sirkular sering disebut dengan istilah rata-rata arah atau dikenal juga dengan istilah “preferred

direction”. Rata-rata arah (α0) adalah

tan , jika C > 0 dan S ≥ 0 , jika C = 0 dan S > 0

tan , jika C < 0

tan 2 , jika C ≥ 0 dan S < 0

, jika C = 0 dan S = 0

dengan ∑ cos , ∑ sin

Ukuran penyebaran data sirkular

Ukuran penyebaran data sirkular dilambangkan dengan , dengan

1 , dengan 0 ≤ D ≤ 1 di mana

dengan n = banyaknya pengamatan. Nilai D semakin mendekati 1 menunjukkan penyebaran data semakin merata, dan sebaliknya semakin mendekati 0 menunjukkan penyebaran data semakin terpusat ke salah satu titik.

Korelasi

Korelasi adalah nilai yang menunjukkan kekuatan dan arah hubungan linier antara dua peubah acak. Nilai korelasi antara peubah x dan y didapat melalui rumus

(10)

, ∑ ∑ ∑

∑ ∑ ∑ ∑

Nilai korelasi positif menunjukkan bahwa nilai dua peubah tersebut memiliki hubungan linier positif dan begitu juga sebaliknya. Semakin dekat nilai korelasi dengan -1 atau +1, semakin kuat korelasi antara kedua peubah tersebut, sebaliknya jika nilai korelasinya mendekati 0, maka semakin lemah korelasi antara dua peubah tersebut (Juanda 2009).

Korelasi linier sirkular

Dalam korelasi linier sirkular, salah satu peubah memiliki atribut linier misalkan x sedangkan peubah lainnya memiliki atribut sirkular misalkan α. Mardia (1976) dan Johnson dan Wehry (1977) dalam menghitung korelasi linier sirkular menyarankan untuk menggunakan korelasi berganda antara x terhadap nilai cos α dan sin α, yaitu :

2 1 dengan

nilai korelasi antara x dan cos α, nilai korelasi antara x dan sin α, nilai korelasi antara cos α dan sin α. Nilai korelasi linier sirkular memiliki nilai antara 0 dan 1, semakin mendekati 0 maka korelasi linier sirkular semakin lemah sementara semakin mendekati 1 maka korelasi linier sirkular semakin kuat, tidak dikenal adanya korelasi positif dan korelasi negatif di korelasi linier sirkular.

Analisis Regresi

Analisis regresi digunakan untuk menggambarkan hubungan antara dua atau lebih peubah, yang salah satu peubahnya merupakan peubah tak bebas dan lainnya merupakan peubah bebas.

Regresi linier sirkular

Regresi linier sirkular adalah salah satu bentuk regresi sirkular dimana peubah responnya merupakan peubah dengan tipe data linier dan peubah penjelasnya adalah data dengan tipe data sirkular, sehingga terdapat pasangan data (αi, yi).

Menurut Mardia dan Sutton (1978) dalam Mardia dan Jupp (2000), Model regresi linier sirkular adalah sebagai berikut :

cos sin

dengan : A0 = rataan umum.

Sedangkan, menurut Jammaladaka dan SenGupta (2001), model regresi dari regresi linier sirkular adalah

cos

dengan A0 = rataan umum, A1 = amplitudo,

= acrophase.

Dua model regresi di atas adalah identik

dimana, dan tan .

METODOLOGI Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersumber dari Peta Kawasan Rawan Gunung Api Merapi tahun 2010 yang dikeluarkan oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Peta berisi Kawasan Rawan Bencana I, II dan III. Untuk penelitian ini, hanya digunakan Kawasan Rawan Bencana III saja. Pengukuran secara manual sehingga diperoleh data yang terdiri dari 360 observasi dengan 2 peubah. Penjelasan dari peubah tersebut sebagai berikut :

peubah keterangan

arah

Arah letusan dari Gunung Api Merapi sebagai peubah penjelas dengan tipe sirkular terdapat 16 kombinasi antara pemilihan

arah acuan 0o (8 arah mata

angin) dan arah rotasi (2 arah rotasi).

jarak

Jarak terluar Kawasan Rawan Bencana III yang diukur dari titik pusat yang dipilih, yaitu

Solfatara (titik letusan) Gunung

Api Merapi, sebagai peubah respon dengan tipe linier.

Metode

Prosedur – prosedur yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian ini yaitu :

1. Melakukan pemilihan arah acuan 0o

dari Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Merapi 2010 yaitu 8 arah utama mata angin, utara (A000), timur laut (A045), timur (A090), tenggara (A135), selatan (A180), barat daya (A225), barat (A270) dan barat laut (A315).

2. Menentukan arah rotasi apakah searah dengan jarum jam atau berlawanan dengan arah jarum.

3. Mengukur jarak terluar dari kawasan rawan bencana III dari titik pusat gunung Api Merapi pada Peta KRB Merapi 2010 dengan berpegang pada

(11)

sudut pada langkah 3 sehingga diperoleh (αi, xi).

4. Mentransformasi xi ke jarak sebenarnya melalui informasi jarak pada peta. 5. Melakukan analisis korelasi linier

sirkular antara x dan α untuk masing-masing pasangan x dan α.

6. Melakukan analisis regresi linier sirkular dengan x sebagai peubah respon dan α sebagai peubah penjelas untuk masing-masing pasangan x dan

α.

7. Melakukan langkah 2, 3, 4, 6 tapi dengan pemilihan arah acuan mulai dari A000 sampai dengan A359.

8. Melakukan analisis regresi linier sirkular terhadap 360 parameter b1 dan b2 yang didapat dari langkah 7.

HASIL DAN PEMBAHASAN Eksplorasi Data

Gambar 1 Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam. Gambar 1 adalah diagram pencar antara jarak terdekat antara KRB III dan solfatara terhadap arah dimana arah 0o-nya adalah arah

utara (A000) dan searah jarum jam.

Secara keseluruhan, jarak terdekat KRB III dari titik pusat yang dipilih (Solfatara) adalah sejauh 2,115 km pada arah 45o dengan putaran

searah jarum jam dari utara. Sedangkan jarak terjauh KRB III adalah sejauh 15,808 km pada

arah 169o dengan putaran searah jarum jam

dari utara (A000).

Jarak terdekat dan terjauh tetap sama, yaitu 2,115 km dan 15,808 km untuk semua kombinasi antara pemilihan arah acuan 0o dan

arah rotasi. Namun, tentu saja untuk arah, dalam derajat, terjadinya jarak terjauh berbeda-beda sesuai dengan kombinasi yang dipilih. Misalkan untuk timur laut (A045) dengan arah rotasi ke kanan, maka karena arah

0o bergeser sejauh 45o maka untuk jarak

terdekat antara KRB III dan Solfatara adalah di arah (45-45)o = 0o sementara untuk jarak

terjauh terjadi di (169-45)o = 124o.

Sedangkan untuk arah rotasi berlawanan arah jarum jam, jarak terdekat KRB III dari titik pusat yang dipilih (Solfatara) pada arah acuan 0o di arah utara terjadi pada sudut

(360-45)o = 315o dan jarak terjauh KRB III terjadi

pada arah 191o.

Untuk lebih lengkapnya untuk pergeseran jarak terdekat dan jarak terjauh antara KRB III dan titik pusat yang dipilih (Solfatara) berdasarkan pemilihan arah 0o dan arah rotasi

dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Sudut terjadinya jarak terdekat dan terjauh pada berbagai kombinasi

pemilihan arah acuan 0o dan arah

rotasi Arah Rotasi Posisi arah acuan 0o Jarak KRB III-Solfatara Jarak terdekat Jarak Terjauh A000 45 o 169 o A045 0 o =360 o 124 o A090 315 o 79 o Searah jarum jam A135 270 o 34 o A180 225 o 349 o A225 180 o 304 o A270 135 o 259 o A315 90 o 214 o A000 315 o 191 o A045 0 o =360 o 236 o A090 45 o 281 o Berlawanan arah jarum jam

A135 90 o 326 o

A180 135 o 11 o

A225 180 o 56 o

A270 225 o 101 o

A315 270 o 146 o

Selisih sudut diantara jarak terdekat dan terjauh adalah 124o dan 236o. Namun menurut

Jamalada dan SenGupta (2001), jarak antara dua sudut didefinisikan sebagai jarak terkecil diantara keduanya, maka selisih sudut diantara jarak terdekat dan jarak terjauh adalah sejauh 124o.

Analisis Korelasi Analisis korelasi linier

Korelasi linier yang digunakan adalah korelasi pearson yang mencari hubungan antara dua peubah yang sama-sama linier, sehingga dalam kasus ini peubah arah dianggap memiliki tipe data linier.

0 5 10 15 20 0 45 90 135 180 225 270 315 360 Jarak KRB III ke Solf atara (km )

(12)

Tabel 2 Korelasi linier antara arah dan jarak pada berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o

Arah

acuan0o jarum jam Searah arah jarum jam Berlawanan

A000 0,425 -0,425 A045 -0,007 0,007 A090 -0,434 0,434 A135 -0,742 0,742 A180 -0,410 0,410 A225 -0,053 0,053 A270 0,502 -0,502 A315 0,743 -0,743

Nilai korelasi linier antara pasangan yang searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam memiliki nilai yang berbeda hanya pada tanda namun selalu memiliki besaran korelasi yang sama. Korelasi terkuat terjadi terjadi pada korelasi antara jarak dengan arah dengan A315, yaitu sebesar 0,742 untuk pemilihan arah rotasi searah jarum jam dan sebesar -0,742 untuk pemilihan arah rotasi berlawanan dengan arah rotasi jarum jam. Sedangkan korelasi terlemah antara jarak dengan arah terjadi pada A045, yaitu sebesar -0,007 untuk pemilihan arah rotasi searah jarum jam dan sebesar 0,007 untuk pemilihan arah rotasi berlawanan arah rotasi jarum jam.

Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan

arah acuan 0o akan menyebabkan perbedaan

nilai korelasi dalam analisis korelasi linier. Sedangkan perbedaan arah rotasi akan menyebabkan perbedaan arah korelasi apakah korelasi antara dua peubah positif atau negatif dalam korelasi linier.

Analisis korelasi linier sirkular

Rumus korelasi yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan Mardia (1976) yang menggunakan rumus korelasi berganda yang menghitung korelasi antara jarak terhadap nilai cos dari αrah dan nilai sin dari αrah.

Hasil dari analisis korelasi menunjukkan bahwa nilai korelasi linier sirkular sama untuk semua kombinasi baik untuk yang searah jarum jam maupun berlawan arah jarum untuk

semua kemungkinan arah acuan 0o yaitu

sebesar 0,899. Hal ini menunjukkan bahwa

arah acuan 0o dan arah rotasi tidak

mempengaruhi nilai korelasi antara arah dan jarak dalam analisis korelasi linier sirkular.

Keunikan lain dari nilai korelasi linier sirkular adalah nilai korelasi tetap sama

walaupun arah rotasi dibalik, yang hal ini berbeda dengan hasil korelasi linier yang ketika dibalik terjadi perubahan tanda. Hal ini disebabkan karena korelasi linier sirkular tidak mengenal adanya nilai korelasi yang negatif.

Analisis Regresi Analisis regresi linier

Analisis Regresi Linier Sederhana dilakukan untuk melihat pengaruh pemilihan arah acuan 0o dan arah rotasi terhadap hasil

dari regresi linier.

Gambar 2 Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan pada regresi linier dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam.

Dalam analisis regresi linier untuk data sirkular, tampak bahwa sebaran sisaan sama dengan sebaran nilai jarak, namun juga dapat dilihat bahwa nilai sisaan cenderung besar. Tabel 3 Hasil Pendugaan Parameter Regresi

pada berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o

Arah Rotasi Arah 0o Penduga Parameter

b0 b1 Searah jarum jam A000 3,032 0,012 A045 5,269 -0,000 A090 7,475 -0,012 A135 9,070 -0,021 A180 7,354 -0,012 A225 5,505 -0,002 A270 2,633 0,014 A315 1,390 0,021 Berlawanan arah jarum jam A000 3,032 0,012 A045 5,269 -0,000 A090 7,475 -0,012 A135 9,070 -0,021 A180 7,354 -0,012 A225 5,505 -0,002 A270 2,633 0,014 A315 1,390 0,021 -10 -5 0 5 10 15 20 0 45 90 135 180 225 270 315 360 Jarak (k m ) Arah (o) Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(13)

Nilai dugaan parameter b1 cenderung

sangat kecil untuk semua kombinasi antara

arah 0o dan arah rotasi yang ada, hal ini

menunjukkan bahwa perubahan arah cenderung tidak berpengaruh banyak pada hasil dugaan nilai jarak.

Pada Tabel 4, tampak bahwa parameter regresi yang terbentuk sama sekali tidak dipengaruhi oleh pemilihan arah rotasi namun dipengaruhi oleh pemilihan arah 0o. Hal ini

dapat juga dilihat pada Tabel 3, dari nilai b0

dan b1 pada titik arah mata angin sama dengan

pasangannya yang berbeda arah rotasinya.

Tabel 4 Nilai koefisien determinasi pada

berbagai kombinasi arah rotasi dan pemilihan arah acuan 0o pada analisis

regresi linier

Arah Rotasi Arah 0o Koefisien

Determinasi Searah jarum jam A000 0,181 A045 0,000 A090 0,188 A135 0,551 A180 0,168 A225 0,003 A270 0,253 A315 0,552 Berlawanan arah jarum jam A000 0,181 A045 0,000 A090 0,188 A135 0,551 A180 0,168 A225 0,003 A270 0,253 A315 0,552

Nilai koefisien determinasi terbesar terjadi pada A315 yaitu sebesar 0,552 baik untuk yang arah rotasinya searah jarum jam maupun yang berlawanan arah jarum jam, sedangkan nilai koefisien determinasi terkecil terjadi pada A045 yaitu sebesar 0,000 baik untuk yang arah rotasinya searah jarum jam maupun yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Pemilihan arah rotasi tidak berpengaruh pada nilai koefisien determinasi. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi yang sama pada titik arah mata angin yang sama dengan pasangannya yang berbeda arah rotasinya.

Untuk statistik lima serangkai dari sisaan untuk masing-masing model yang terdiri dari nilai minimum, quartil 1, median, quartil 3 dan nilai maksimum (Lampiran 1), karena dugaan parameter regresinya sama untuk titik arah mata angin yang sama dengan pasangannya yang berbeda arah rotasinya maka statistik lima serangkai dari titik arah mata angin akan selalu sama dengan pasangannya yang berbeda arah rotasinya.

Analisis regresi linier sirkular

Analisis Regresi Linier Sirkular dengan jarak sebagai peubah respon dan arah sebagai peubah penjelas.

Gambar 3 Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan pada regresi linier sirkular dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam.

Berbeda halnya dengan regresi linier, nilai dugaan dari regresi linier sirkular tidak berupa garis lurus, hal ini juga menyebabkan sebaran sisaan tidak sama dengan sebaran dari nilai amatan (jarak) seperti tampak pada Gambar 3.

Arah ditransformasi ke linier melalui fungsi cosinus dan sinus kemudian dilakukan analisis regresi berganda dengan jarak sebagai peubah respon, dan sebagai peubah penjelas digunakan cosinus (αrah) dan sinus (αrah). Sehingga didapat persamaan regresi sebagai berikut

jarak = b0 + b1 cos(αrah) + b2 sin (αrah)

Hasil yang dilihat dari analisis regresi linier sirkular ini adalah koefisien determinasi, statistik lima serangkai dari sisaan, dan dugaan parameter. ‐5 5 15 0 45 90 135 180 225 270 315 360 Jarak (k m ) Arah (o) Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(14)

Gambar 4 Plot dugaan parameter

berdasarkan arah acuan 0o pada

arah rotasi searah jarum jam. Tampak pada Gambar 4 bahwa dugaan parameter untuk β1 cenderung turun dari A000

kemudian naik ketika pada A45 sampai A225, kemudian terus turun. Sementara itu dugaan untuk parameter β2 memiliki titik terendah

ketika pada arah A045 kemudian terus naik dan mencapai titik puncak pada arah A225 kemudian terus turun sampai kembali ke titik terendah pada arah A045.

Sementara itu dugaan parameter untuk β0

memiliki nilai yang konstan yaitu sebesar

5,231 tidak bergantung pada dimana arah 0o

terletak atau tidak dipengaruhi oleh pemilihan arah acuan 0o .

Gambar 5 Plot dugaan parameter

berdasarkan arah acuan 0o pada

arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

Tampak pada Gambar 5, bahwa pendugaan parameter sama sekali tidak dipengaruhi oleh arah rotasi. Sehingga secara keseluruhan didapatkan bahwa hasil pendugaan parameter tidak dipengaruhi oleh arah rotasi melainkan pemilihan arah 0o.

Nilai koefisien determinasi dari semua persamaan regresi yang dilakukan analisis menunjukkan nilai yang sama, yaitu 0.808, sesuai dengan hasil korelasi berganda yang sama.

Sementara itu, untuk statistik lima serangkai (Lampiran 2) dari sisaan seluruh model yang dilakukan analisis, memiliki nilai yang sama walaupun arah acuan dan arah rotasinya berbeda. Hal itu berlaku baik untuk nilai minimum, quartil 1, median, quartil 3 maupun nilai maksimum antar model yang diuji.

Perubahan Nilai Dugaan Parameter Regresi Linier Sirkular Menurut Pemilihan Arah Acuan 0o

Dari pembahasan sebelumnya diketahui bahwa nilai dugaan parameter regresi linier sirkular tidak dipengaruhi oleh arah rotasi. sehingga dalam melihat perubahan nilai dugaan parameter regresi linier sirkular hanya didasarkan pada perubahan pemilihan arah

acuan 0o dari A000 sampai A359 (360

persamaan regresi).

Gambar 6 Plot perubahan nilai dugaan

parameter regresi linier sirkular menurut pemilihan titik acuan 0o.

Tabel 5 Hasil pemodelan terhadap

parameter regresi linier sirkular.

Model 1 Model 2

Sisaan

minimum -5,308E-05 -5,332E-06

quartil 1 -1,805E-06 -2,518E-06

median 1,68E-07 -2,22E-07

quartil 3 2,07E-06 1,929E-06

maksimum 5.862E-06 9,831E-05 Dugaan Parameter a0 -1,34E-07 3,06E-07 a1 -2,728 -2,655 a2 -2,655 2,728 Koefisien Determinasi 1 1

Model 1: b1 = a0 + a1 cos (acuan) + a2 sin (acuan)

Model 2: b2 = a0 + a1 cos (acuan) + a2 sin (acuan)

Dari Gambar 5 dan Tabel 5, tampak bahwa analisis regresi linier sirkular antara dugaan parameter dan arah acuan membentuk suatu

5.231 -2.728 -3.806 -2.655 0.051 2.728 3.806 2.655 -0.051 -2.728 -2.655 0.051 2.728 3.806 2.655 -0.051 -2.728 -3.806 -2.655 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 0 45 90 135 180 225 270 315 360

Posisi Arah Acuan 0o(0)

b0 b1 b2 5.231 -2.728 -3.806 -2.655 0.051 2.728 3.806 2.655 -0.051 -2.728 -2.655 0.051 2.728 3.806 2.655 -0.051 -2.728 -3.806 -2.655 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 0 45 90 135 180 225 270 315 360

Posisi Arah Acuan 0o(0)

b0 b1 b2 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 0 45 90 135180225270315360 b0 b1 b2

(15)

persamaan dengan koefisien determinasi sama dengan 1 dan nilai sisaan yang mendekati nol. Dapat pula terlihat bahwa plot di atas membentuk suatu kurva sinus yang sempurna.

Hal ini dapat dijelaskan melalui sifat trigonometri, ketika dipilih acuan berupa sudut α, maka model regresi linier sirkular adalah

jarak = b0 + b1cos(α) + b2sin(α) + ε

ketika arah acuan α ini digeser sejauh β ke kanan pada regresi linier sirkular dengan arah rotasi searah jarum jam, maka persamaan tersebut berubah menjadi

jarak=b0+b1cos(α+β)+b2sin(α+β) + ε

dengan rumus penjumlahan dua sudut trigonometri maka didapat model regresi linier sirkular sebagai berikut

jarak= b0+[b1cos(β)+b2sin(β)]cos(α)+[b2 cos(β)-b1sin(β)]sin(α)+ε

dapat terlihat dengan jelas bahwa perubahan arah acuan sejauh β hanya akan merubah konstanta parameternya saja. Namun perlu diingat, dugaan parameter masih mengandung komponen trigonometri, yang mana hal ini menyebabkan plot dari dugaan parameter model membentuk kurva sinus sempurna.

Berdasarkan persamaan yang ditunjukkan oleh Jammaladaka dan SenGupta (2001) maka persamaan regresi di atas bisa dirubah dalam bentuk lain yaitu menjadi

cos , secara umum persamaan

regresi dari kawasan rawan bencana III Gunung Api Merapi 2010 memiliki persamaan

sebagai berikut 5,231 3,807 cos ,

dan perbedaan hanya pada acrophasenya saja yang terus bergeser seiring pergeseran titik acuan 0o yang dipilih.

Sehingga pada akhirnya memudahkan interpretasi persamaan regresi linier sirkular untuk kawasan rawan bencana III Gunung Api Merapi 2010, yaitu semakin besar nilai cos dari sudut minus acrophase maka akan semakin jauh jarak antara solfatara gunung api merapi dengan jarak terluas kawasan rawan bencana III Gunung Api Merapi 2010 begitu pula sebaliknya.

Nilai koefisien determinasi yang sama, yaitu sebesar 80,8%, dari seluruh persamaan regresi linier sirkular juga memudahkan interpretasi dari persamaan regresi linier sirkular ini, yaitu 80,8% keragaman dari jarak kawasan rawan bencana III dapat dijelaskan

oleh nilai dari cos α dan sin α, sisanya dijelaskan faktor lain diluar model.

KESIMPULAN

Dalam analisis korelasi linier, perbedaan

arah acuan 0o menyebabkan perbedaan nilai

korelasi, sementara perbedaan arah rotasi akan menyebabkan perbedaan arah korelasi dari dua peubah apakah positif atau negatif. Sementara dalam analisis korelasi linier sirkular, perbedaan arah acuan 0o dan arah

rotasi sama sekali tidak mempengaruhi nilai korelasi linier sirkular.

Dalam analisis regresi linier, perbedaan

arah acuan 0o akan menyebabkan perbedaan

persamaan regresi yang dibentuk, baik dari sisi dugaan parameter, sisaan, maupun koefisien determinasi. Sedangkan perbedaan arah rotasi tidak berpengaruh terhadap persamaan regresi. Semantara itu dalam analisis regresi linear sirkular, perbedaan arah

acuan 0o hanya menimbulkan perbedaan

dugaan parameter persamaan regresi linier sirkular, sedangkan koefisien determinasi dan statistik lima serangkai dari sisaan adalah sama. Sedangkan perbedaan arah rotasi tidak berpengaruh terhadap persamaan regresi linier sirkular yang dibentuk.

Perbedaan dugaan parameter dalam analisis regresi linier sirkular yang disebabkan perbedaan arah acuan 0o dengan pola teratur.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya persamaan regresi linier sirkular itu sama anatar satu dengan yang lainnya.

Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan pemilihan arah 0o dan arah rotasi pada korelasi

linier sirkular dan regresi linier sirkular dapat dilakukan secara subyektif karena berbeda halnya dengan analisis linier, analisis data sirkular menghasilkan hasil yang selalu sama yang tidak bergantung pada arah acuan 0o dan

arah rotasi.

SARAN

Analisis regresi yang dilakukan dalam penelitian ini hanyalah analisis regresi linier sirkular, untuk selanjutnya diharapkan dapat diteruskan untuk analisis regresi linier sirkular, kemudian dengan analisis regresi sirkular sirkular, dan analisis statistika sirkular lainnya.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 1998.

Penyusunan Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api. SNI-13-4689-1998.

ICS 07.060

Batscheled E. 1981. Circular Statistics in

Biology. Academic Press

Chernov N. 2011. Circular and Linier

Regression Fitting Circles and Lines by Least Squares. Boca Raton : CRC Press.

Jammalamadaka SR, Sarma YR. 1988. A

Correlation Coefficient for Angular Variables. In Matusita, K. editor, Statistical Theory and Data Analysis II,

pages 349—364. North Holland, Amsterdam.

Jammalamadaka SR, SenGupta A. 2001.

Topics in Circular Statistics. Singapura :

World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd Juanda B. 2009. Permodelan dan Pendugaan.

Bogor : IPB Press.

Johnson RA, Wehrly TE. 1977. Measures

and models for angular correlation and angular-linier correlation. Jurnal of Royal

Statistics Society, 39, 222-229.

Mardia KV. 1976. Linier-Circular

Correlation Coefficients and rythmometry.

Biometrika, 63, 403-405.

Mardia KV, Jupp PE. 2000. Directional

Statistics. West Susset : John Wiley &

Sons Ltd                                                

(17)
(18)

Lampiran 1 Statistik lima serangkai dari sisaan analisis regresi linier antara jarak dan arah.

Arah Rotasi Arah 0o Sisaan

Minimum Quartil 1 Median Quartil 3 Maksimum

Searah jarum jam

A000 -5.008 -1.578 -0.865 2.303 10.705 A045 -3.154 -2.780 -1.116 2.646 10.565 A090 -4.975 -1.611 -0.741 2.017 9.321 A135 -4.955 -1.554 -0.285 1.481 7.465 A180 -2.850 -2.339 -0.646 1.898 12.580 A225 -3.116 -2.758 -1.118 2.781 10.767 A270 -2.748 -2.270 -0.514 1.312 9.426 A315 -4.919 -1.446 -0.082 1.186 9.838

Berlawanan arah jarum jam

A000 -5.008 -1.578 -0.865 2.303 10.705 A045 -3.154 -2.780 -1.116 2.646 10.565 A090 -4.975 -1.611 -0.741 2.017 9.321 A135 -4.955 -1.554 -0.285 1.481 7.465 A180 -2.850 -2.339 -0.646 1.898 12.580 A225 -3.116 -2.758 -1.118 2.781 10.77 A270 -2.748 -2.270 -0.514 1.312 9.426 A315 -4.919 -1.446 -0.082 1.186 9.838

Lampiran 2 Statistik lima serangkai dari analisis regresi linier sirkular antara jarak dan arah.

Arah Rotasi Arah 0o Sisaan

Minimum Quartil 1 Median Quartil 3 Maksimum

Searah jarum jam

A000 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A045 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A090 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A135 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A180 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A225 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A270 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A315 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421

Berlawanan arah jarum jam

A000 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A045 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A090 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A135 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A180 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A225 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A270 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421 A315 -2.693 -0.835 -0.171 0.548 8.421

(19)

Lampiran 3 Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000.

3.1 Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam.

3.2 Diagram pencar antara arah dan jarak dengan arah acuan A000 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 0 45 90 135 180 225 270 315 360 Jarak KRB III ke Solfatara (km ) Arah (o) Jarak 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 0 45 90 135 180 225 270 315 360 Jarak KRB III ke Solfatara (km ) Arah (o) Jarak

(20)

Lampiran 4 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah untuk masing-masing arah acuan 0o pada arah rotasi searah jarum jam.

4.1 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A000 dan arah rotasi searah jarum jam.

4.2 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A045 dan arah rotasi searah jarum jam.

4.3 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A090 dan arah rotasi searah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(21)

4.4 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A135 dan arah rotasi searah jarum jam.

4.5 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A180 dan arah rotasi searah jarum jam.

4.6 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A225 dan arah rotasi searah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(22)

4.7 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A270 dan arah rotasi searah jarum jam.

4.8 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A315 dan arah rotasi searah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(23)

Lampiran 5 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah untuk masing-masing arah acuan 0o pada arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.1 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A000 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.2 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A045 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.3 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A090 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(24)

5.4 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A135 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.5 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A180 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.6 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A225 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(25)

5.7 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A270 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

5.8 Plot-plot antara jarak, dugaan jarak dan sisaan terhadap arah pada arah acuan A315 dan arah rotasi berlawanan arah jarum jam.

-5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan -5 0 5 10 15 20 0 90 180 270 360 Jarak Dugaan Jarak Sisaan

(26)

Lampiran 6. Sintaks R

#Membaca Data sirk<-read.csv(file="data.csv",head=TRUE,sep=",") jarak<-sirk$jarak x0<-sirk$X0 x1<-sirk$X1 x359<-sirka$X359

#Mengaktifkan package CircStats

library(CircStats)

#Mengubah arah ke dalam Radian

r.x0<-rad(x0) r.x1<-rad(x1) r.x359<-rad(x359) #Korelasi Linier r.lin.0<-cor(x0,jarak) r.lin.1<-cor(x1,jarak) r.lin.359<-cor(x359,jarak) #Korelasi Sirkular r.sirk.x0<-sqrt((cor(x0,cos(jarak))^2 + cor(x0,sin(jarak))^2 - 2*cor(x0,cos(jarak))*cor(x0,sin(jarak))*cor(cos(jarak),sin(jarak)))/(1 - cor(cos(jarak),sin(jarak))^2)) #Regresi Linier reg.lin.x0<-lm(jarak~x0) reg.lin.x1<-lm(jarak~x1) reg.lin.x359<-lm(jarak~x359) #Regresi Sirkular

reg.x0<- lm(jarak ~ cos(r.x0 ) +sin(r.x0 )) reg.x1<- lm(jarak ~ cos(r.x1 ) +sin(r.x1 ))

reg.x359<- lm(jarak ~ cos(r.x359 ) +sin(r.x359 ))  

Gambar

Gambar 1  Diagram pencar antara arah dan  jarak dengan arah acuan A000  dan arah rotasi searah jarum jam
Gambar 2  Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan  pada regresi linier dengan arah  acuan A000 dan arah rotasi searah  jarum jam
Gambar 3  Plot jarak, nilai dugaan dan sisaan  pada regresi linier sirkular dengan  arah acuan A000 dan arah rotasi  searah jarum jam
Gambar  5  Plot dugaan parameter

Referensi

Dokumen terkait

Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai

diagram scatter, dan korelasi diantara dua variabel cukup kuat, kita dapat menentukan suatu persamaan yang memungkinkan kita untuk memprediksi nilai satu variabel.

Regresi dan korelasi digunakan untuk mempelajari pola dan mengukur hubungan statistik antara dua atau lebih variabel.. Jika digunakan hanya dua variabel disebut regresi dan

Program linier adalah suatu cara yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan optimasi linier (nilai maksimum atau nilai minimum)...

Koefisien pada model regresi sebenarnya adalah nilai duga parameter di dalam model regresi untuk kondisi yang sebenarnya (true condition), sama halnya dengan statistik mean

Tabel 6 Nilai dugaan komponen ragam pada analisis regresi tiga level dari Model 4.1 Tahap 5 Pemilihan struktur koragam untuk sisaan level satu Pada data dengan struktur

Arah angin dan arah awan termasuk jenis data sirkular, sedangkan curah hujan merupakan data linier, sehingga untuk memodelkan hubungan antara arah angin dan arah

Analisis Regresi Linier Sederhana  Adalah suatu teknik yang digunakan untuk membangun suatu persamaan garis lurus dan menentukan nilai perkiraannya  Hanya ada 1 variabel X dan 1