JURNAL KEBIJAKAN PERIKANAN INDONESIA
ISSN 1979 - 9366
Volume 5 Nomor 2 Nopember 2013 Nomor Akreditasi : 425/AU/P2MI-LIPI/04/2012
(Periode April 2012 – April 2015)
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia adalah wadah informasi perikanan, baik laut maupun perairan umum daratan. Jurnal ini menyajikan analisis dan
sintesis hasil-hasil penelitian, informasi, dan pemikiran dalam kebijakan kelautan dan perikanan.
Terbit pertama kali tahun 2009, dengan frekuensi penerbitan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan:
MEI dan NOPEMBER.
Ketua Redaksi: Prof. Dr. Ali Suman
Anggota:
Prof. Dr. Ir. Wudianto, M.Sc. Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc. Dr. Ir. Sonny Koeshendrajana, M.Sc.
Dr. Achmad Poernomo, M. App. Sc. Dr. Ir. Luky Adrianto, M. Sc. Mitra Bestari untuk Nomor ini:
Prof. Dr. Ir. Endi Setiadi Kartamihardja, M.Sc. (Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi SDI-Jatiluhur) Prof. Dr. Ir. Ngurah N Wiadnyana, DEA (Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi KP-Jakarta)
Dr. Ir. Augy Syahailatua, M.Sc. (Pusat Penelitian Oseanologi-LIPI)
Drs. Bambang Sumiono, M.Si. (Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi SDI-Jakarta) Redaksi Pelaksana:
R. Thomas Mahulette, S.Pi., M.Si. Darwanto, S.Sos
Desain Grafis : Arief Gunawan, S.Kom
Alamat Redaksi/Penerbit:
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Gedung Balitbang KP II, Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur Jakarta Utara-14430 Telp. (021) 64700928 ; Fax. (021) 64700929
Email: [email protected]
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia diterbitkan oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan-Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan-Kementerian Kelautan dan Perikanan.
KATA PENGANTAR
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia volume 5 Nomor 2 Nopember 2013 adalah terbitan kedua di tahun 2013. Percetakan ini dibiayai oleh Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan menggunakan anggaran tahun 2013. Sebelum diterbitkan tulisan ini telah melalui proses revisi dan evaluasi dari Dewan Redaksi dan Mitra Bestari sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing dan proses editing dari Redaksi Pelaksana.
Pada terbitan nomor dua ini, Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia menampilkan tujuh artikel hasil penelitian perikanan perairan umum dan daratan dan perairan laut. Ketujuh artikel mengulas tentang Strategi pengelolaan perikanan paparan banjir Lubuk Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan; Kebijakan pengelolaan hasil tangkapan sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia; Angka acuan sasaran untuk pengelolaan perikanan udang Laut Arafura dengan tujuan beragam; Pendekatan ekosistem untuk pengelolaan sumberdaya ikan arwana Irian, Scleropages jardinii di Sungai Maro, Merauke–Papua; Kebijakan rumponisasi perikanan pukat cincin Indonesia yang beroperasi di perairan laut lepas; Kebijakan perlindungan dan konservasi hewan Oktokoralian/Bambu Laut (Isis hippuris Linnaeus 1758 ); Status introduksi ikan dan strategi pelaksanaan secara berkelanjutan di perairan umum daratan di Indonesia.
Diharapkan tulisan ini dapat memberikanan kontribusi bagi para pengambil kebijakan dan pengelola sumberdaya perikanan di Indonesia. Redaksi mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif para peneliti dari lingkup dan luar Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan.
ISSN 1979 - 9366
JURNAL KEBIJAKAN PERIKANAN INDONESIA
Volume 5 Nomor 2 Nopember 2013
DAFTAR ISI
Halaman i iii 57-66 67-71 73-85 87-96 97-106 107-112 113-120 KATA PENGANTAR ……….... DAFTAR ISI ……….. Strategi Pengelolaan Perikanan Paparan Banjir Lubuk Lampam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera SelatanOleh: Eko Prianto, Mohammad Mukhlis Kamal, Ismudi Muchsin, dan Endi Setiadi Kartamihardja…… Kebijakan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia
Oleh: Budi Nugraha dan Bram Setyadji... Angka Acuan Sasaran untuk Pengelolaan Perikanan Udang Laut Arafura dengan Tujuan Beragam Oleh: Purwanto……… Pendekatan Ekosistem untuk Pengelolaan Sumberdaya Ikan Arwana Irian, Scleropages jardinii di Sungai Maro, Merauke–Papua
Oleh: Endi Setiadi Kartamihardja, Kunto Purnomo, Didik Wahju Hendro Tjahjo, dan Sonny Koeshendradjana ... Kebijakan Rumponisasi Perikanan Pukat Cincin Indonesia yang Beroperasi di Perairan Laut Lepas Oleh: Duto Nugroho dan Suherman Banon Atmaja……… Kebijakan Perlindungan dan Konservasi Hewan Oktokoralian/Bambu Laut (Isis hippuris Linnaeus 1758 )
Oleh: Isa Nagib Edrus dan Ali Suman………. Status Introduksi Ikan dan Strategi Pelaksanaan Secara Berkelanjutan di Perairan Umum Daratan di Indonesia
___________________
Strategi Pengelolaan Perikanan Paparan ………… Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan (Prianto E., et al)
STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN PAPARAN BANJIR LUBUK
LAMPAM KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, SUMATERA SELATAN
MANAGEMENT STRATEGY OF FLOODPLAIN FISHERIES OF LUBUK
LAMPAM OGAN KOMERING ILIR, SOUTH SUMATERA
Eko Prianto1, Mohammad Mukhlis Kamal2, Ismudi Muchsin2 dan Endi SetiadiKartamihardja1
1 Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan 2 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
Teregistrasi I tanggal: 04 Februari; Diterima setelah perbaikan tanggal: 24 Juni 2013; Disetujui terbit tanggal: 15 Juli 2013
ABSTRAK
Perairan Lubuk Lampam merupakan salah satu kawasan lelang lebak lebung yang saat ini masih dikelola oleh masyarakat dan berperan penting sebagai mata pencaharian. Lubuk Lampam memiliki luas + 1.200 ha dan terdiri dari 4 tipe sub ekosistem paparan banjiran antara lain hutan rawang, lebak kumpai, lebung dan sungai utama. Seperti daerah lainnya di OKI, perairan Lubuk Lampam saat ini juga mengalami tekanan yang besar akibat akitifitas manusia seperti penangkapan yang berlebih dan alih fungsi lahan untuk perkebunan. Saat ini produksi perikanan di Lubuk Lampam mengalami penurunan yang sangat drastis dari 93 ton pada tahun 1997 menjadi 12 ton tahun 2012. Penelitian ini menggunakan data primer dan wawancara langsung dengan nelayan dan selanjutnya dianalisa secara deskriptif. Keanekaragaman dan komposisi jenis ikan juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tahun 1992 jumlah jenis ikan sebanyak 63 jenis dan tahun 2008 sebanyak 48 jenis, sedangkan tahun 2013 meningkat menjadi 63 jenis. Beberapa ancaman yang dapat merusak sumberdaya ikan antara lain, i) alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit, ii) penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, iii) kurang memperhatikan waktu penangkapan dan iv) penggunaan pestisida. Untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan dimasa mendatang diperlukan langkah-langkah pengelolaan sebagai berikut: 1) rehabilitasi habitat Lubuk Lampam yang meliputi hutan rawang, lebak kumpai dan lebung-lebung, 2) Penetapan waktu dan lokasi penangkapan, 3) pengaturan jenis alat tangkap yang diperbolehkan, 4) rehabilitasi kawasan reservat Lebung Proyek, Suak Buayo dan Kapak Hulu dan 5) menerapkan Peraturan Daerah (PERDA) Ogan Komering Ilir (OKI) No. 9/2008 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai.
KATA KUNCI: Paparan banjiran, Lubuk Lampam, strategi pengelolaan ABSTRACT
Lubuk Lampam floodplain is one of the lebak lebung auction region has been managed by local community and plays an important role as a livelihood. Lubuk Lampam has an area of 1.200 ha and consist four type of sub ecosystem such as wet forest (rawang), swampy area (lebak kumpai), deep pool (lebung), main river (sungai utama). As with other areas in Ogan Komering Ilir, Lubuk Lampam area is experiencing great pressure due to human activity such as over fishing and land convertion to be palm oil plantation. Current fishery production in Lubuk Lampam decreased drastically from 93 tons (1997) to 12 tons (2012). This study used primary data and direct interviews with fishermen and subsequently analyzed descriptively. Diversity and species composition also changed over time. The number of species was 63 species in 1992 then decreased 48 species in 2008, while in 2013, increased to be 63 species. Some threats that can damage fish resources, such as i) land conversion for oil palm plantations, ii) destructive fishing, iii) lack of attention to the time of fishing and iv) utilizing pesticides. To ensure the future sustainability of fisheries management are required as follows: 1) habitat rehabilitation of Lubuk Lampam covering wet forest, swampy area, deep pool and main river, 2) Determination of the time and location of fishing, 3) arrangement the type of fishing gear is allowed, 4) rehabilitation of Lebung proyek reserves, Suak Buayo and Kapak Hulu and 5) implementing of local regulation of Ogan Komering Ilir (OKI) No. 9/2008 about the Management of Lebak, Lebung, and river.
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :57-66
PENDAHULUAN
Perairan paparan banjiran merupakan ekosistem yang unik dan memiliki multi fungsi baik secara ekologi maupun ekonomi. Secara ekologi paparan banjir berperan penting sebagai daerah pemijahan, asuhan dan pembesaran bagi berbagai jenis ikan (Welcomme 1979; Bayley 1995; Sparks 1995; Crain et al., 2004). Sebagai daerah pembesaran ikan, paparan banjiran mampu menyediakan invertebrata yang berlimpah sebagai makanan (Holland & Huston 1985), daerah perlindungan ikan dari perubahan suhu yang ekstrim dan arus air yang kuat (Holland 1986) serta daerah perlindungan ikan dari pemangsaan (Paller 1987). Secara ekonomi perairan paparan banjiran berperan besar dalam menghasilkan sumberdaya ikan yang berlimpah dan merupakan komponen penting dalam menghasilkan produksi ikan dalam skala luas (Galat et al., 2004).
Ogan Komering Ilir (OKI) merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Selatan yang 60% wilayahnya adalah perairan. Salah satu daerah penangkapan ikan yang produktif adalah ekosistem paparan banjiran. Banyak lokasi penangkapan ikan yang potensial ditemukan di wilayah ini diantaranya perairan Lubuk Lampam, Lebak Danau, Lebak Air Itam, dan Lebak Sarang Lang. Hasil produksi dari kegiatan penangkapan, khususnya di perairan umum daratan telah mengalami penurunan, hal tersebut diduga karena semakin berkurangnya stok ikan pada perairan tersebut akibat usaha penangkapan yang terus dilakukan dari tahun ke tahun dan tidak terkendali. Menurut Ajie (1996) dalam Muflikhah et al., (2012) produksi ikan pada tahun 1989 sebesar 38.661 ton tetapi pada tahun 1993 hanya sebesar 4.482 ton. Penurunan hasil produksi ini selain sangat berpengaruh terhadap pendapat nelayan dan juga merupakan salah satu indikasi telah terjadinya tangkap lebih (over fishing) pada perairan tersebut sebagai akibat kegiatan eksploitasi yang telah berlangsung sejak lama.
Salah satu perairan yang memiliki sumberdaya perikanan yang besar di Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah Lubuk Lampam. Perairan Lubuk Lampam merupakan salah satu kawasan lelang lebak lebung yang saat ini masih dikelola oleh masyarakat. Seperti daerah lainnya di OKI, perairan Lubuk Lampam saat ini juga mengalami tekanan yang besar akibat akitiftas manusia seperti penangkapan yang berlebih dan alih fungsi lahan untuk perkebunan. Disamping terjadinya
indikasi tangkapan lebih oleh nelayan, faktor lain juga berperan dalam menurunnya sumberdaya ikan di Lubuk Lampam antara lain alih fungsi lahan untuk perkebunan. Perkebunan kelapa sawit yang dibangun beberapa waktu lalu, berbatasan dengan Lubuk Lampam telah menurunkan luas kawasan tersebut.
Untuk mencegah terjadinya penurunan sumberdaya perikanan diperlukan pengelolaan secara lestari yang berdasarkan aspek bioekologi ikan di Lubuk Lampam. Pola pengelolaan perairan paparan banjiran di Sumatera Selatan belum terintegrasi dan masih dilakukan secara partial dan sektoral (Muthmainnah et al., 2012). Hal ini disebabkan karena ekosistem paparan banjiran sangat kompleks dan belum dipahami dengan baik. Kompleksitas pengelolaan kawasan ini disebabkan oleh stok ikan bersifat multispesies, eksploitasi yang bersifat tradisional dengan berbagai alat tangkap, kawasan melewati batas-batas administrasi desa dan variasi lingkungan yang tinggi (Koeshendrajana & Hoggarth 1998).
Data dan informasi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode observasi (survey lapangan). Data primer yang digunakan merupakan hasil pengukuran aspek biologi dan lingkungan sedangkan informasi tentang aktifitas nelayan sehari-hari diperoleh melalui wawancara. Data sekunder diperoleh dari berbagai laporan hasil penelitian dan jurnal hasil penelitian. Selanjutnya data primer dan sekunder ditabulasikan dan dianalisa secara deskriptif.
KARAKTERISTIK EKOSISTEM PAPARAN BANJIR LUBUK LAMPAM
Ekosistem Lubuk Lampam terdiri dari lebak kumpai, hutang rawang, sungai utama dan lebung-lebung yang merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan. Menurut Samuel (2008) bahwa perairan Lubuk Lampam memiliki luas ± 1.200 ha terdiri dari: lebak kumpai merupakan areal yang terluas ± 965 ha, disusul areal hutan rawang ± 213 ha, sungai utama (batanghari) ±18 ha dan lebung-lebung ± 4 ha. Hasil dari olahan citra World View 2 tahun 2013 diperoleh perubahan luasan Lubuk Lampam sebesar + 74.3 ha dan luasnya saat ini menjadi 1.125,7 ha (Gambar 1). Perubahan luasan ini disebabkan karena pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan mengkonversi hutan rawang dan lebak kumpai.
Strategi Pengelolaan Perikanan Paparan ………… Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan (Prianto E., et al)
Ekosistem paparan banjiran selalu mengalami perubahan karena turun naiknya permukaan perairan oleh curah hujan. Selama musim hujan air terdistribusi hingga ke seluruh dataran banjir (plain), tetapi selama musim kemarau hanya saluran sungai utama dan bagian perairan yang rendah tetap tergenang. Kondisi ini memberikan karakteristik khusus pada ekosistem paparan banjiran. Ciri-ciri ekosistem paparan banjiran meliputi saluran sungai, danau banjiran, batas penghalang, aliran sungai yang berkelok membentuk lengkungan cembung atau scroll, rawa, tanggul alami dan rawa yang terbendung atau backswamp (Welcomme 1979).
Samuel (2008) membagi perairan paparan banjiran Lubuk Lampam menjadi empat tipe sub ekosistem yang meliputi:
i) Hutan rawang, bagian perairan yang banyak ditumbuhi oleh vegetasi atau pohon-pohon yang besar (hutan lebat). Pada musim penghujan hutan rawang akan digenangi air sedangkan pada musim kemarau akan kering.
ii) Lebak Kumpai, bagian perairan yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan air terutama jenis kumpai (Graminae). Sama halnya dengan hutan rawang, ketika musim hujan bagian perairan ini akan tergenang air tetapi sebaliknya pada musim kemarau akan kering.
iii) Lebung dan lubuk, merupakan tipe sub ekosistem yang terletak di dalam areal rawang dan lebak kumpai. Lebung dan lubuk merupakan bagian perairan yang sepanjang tahun tidak kering. Lebung dan lubuk merupakan dua tipe sub habitat penting pada tipe perairan paparan banjir, dikarenakan kedua habitat tersebut merupakan tempat perlindungan dan penyelamatan ikan-ikan ekonomis penting tertentu pada saat datangnya musim kemarau.
iv) Sungai utama, merupakan tipe sub ekosistem yang dialiri air dan tidak kering sepanjang tahun. Sungai ini terdiri dari bagian-bagian yang dalam disebut “lubuk” dan bagian-bagian yang agak dangkal disebut dengan istilah “rantau”.
Gambar 1. Peta Lubuk Lampam Tahun 2013 Figure 1. Map of Lubuk Lampam in 2013
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
KARAKTERISTIK SUMBERDAYA IKAN DAN PERIKANAN
Keanekaragaman Jenis Ikan
Perairan Lubuk Lampam memiliki sumberdaya ikan yang beragam. Jumlah jenis ikan di Lubuk Lampam pada tahun 2013 ditemukan sebanyak 22 famili terdiri 63 jenis. Ikan dengan kelimpahan yang tinggi ditemukan sebanyak 23 jenis, kelimpahan sedang sebanyak 30 jenis dan sedikit 10 jenis. Sebagian besar jenis ikan yang ditemukan merupakan famili Cyprinidae sebanyak 24 jenis. Keragaman dan komposisi jenis ikan di Lubuk Lampam mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Makmur (2008) menyatakan pada tahun 1992 jumlah jenis ikan di Lubuk Lampam ditemukan sebanyak 63 jenis dan 19 famili, namun tahun 2008 ditemukan hanya 48 jenis sedangkan Muflikhah et al., (2012) menemukan sekitar 62 jenis ikan.
Walaupun sumberdaya perikanan di Lubuk Lampam masih tinggi, namun ada beberapa jenis ikan yang sudah hilang dari perairan. Beberapa jenis ikan tersebut arwana (Scleropages formosus), tapa (Kryptopterus sp) dan botia (Botia macracanthus). Ikan arwana dan botia merupakan ikan hias dengan harga jual yang tinggi sedangkan ikan tapa merupakan ikan konsumsi. Ketiga jenis ikan tersebut merupakan ikan ekonomis penting sehingga masyarakat terus menangkap secara intensif tanpa melakukan upaya konservasi. Keberadaan ikan invasif juga menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir ini. Jenis ikan invasif yang ditemukan di Lubuk Lampam antara lain: tawes (Barbodes goneonotus), sapu-sapu (Hyposarcus pardialis), nila (Oreochromis niloticus) dan patin siam (Pangasionodon hypopthalmus). Keberadaan ikan sapu-sapu berasal dari perairan lain disekitar Lubuk Lampam yang masuk ketika saat banjir besar yang terjadi tahun 2010, sedangkan ikan tawes, nila dan patin siam berasal dari keramba masyarakat yang lepas diperairan. Keberadaan ikan-ikan tersebut saat ini telah menjadi masalah yang cukup serius karena ikan-ikan ini
berkembang dengan baik didalam perairan alami. Dikhawatirkan dengan berkembangnya ikan-ikan invasif ini maka keberadaan ikan asli akan semakin terancam.
Pada tahun 2012 produksi perikanan di Lubuk Lampam sebesar 12 ton (Muflikhah et al., 2012) sedangkan menurut Utomo & Wijaya (2008) produksi perikanan di Lubuk Lampam tahun 1997 sebesar 93 ton. Jika dibandingkan antara 1997 dan 2012 produksi perikanan di Lubuk Lampam mengalami penurunan yang signifikan yaitu 81 ton. Penyebab menurunnya sumberdaya ikan di kawasan ini karena alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit, pembuatan kanal, waktu dan cara penangkapan yang salah dan intensitas penangkapan yang tinggi, sehingga mempengaruhi produksi perikanan.
Pemijahan Ikan-Ikan di Paparan Banjiran Ikan-ikan di perairan paparan banjiran sebagian besar memijah pada waktu musim penghujan. Ketika musim penghujan terjadi peningkatan muka air sungai sehingga air sungai melimpah ke perairan rawa sekitarnya. Pada saat tersebut ikan-ikan sungai akan melakukan migrasi ke rawa untuk melakukan pemijahan. Sebagian besar ikan-ikan yang hidup di sungai dan rawa sangat tergantung dengan keberadaan tumbuhan air. Tumbuhan air berfungsi sebagai sumber makanan, tempat berlindung dari serangan predator dan panas matahari serta tempat meletakkan telur saat memijah.
Waktu pemijahan ikan merupakan informasi penting dalam upaya penangkapan ikan, jika penangkapan dilakukan pada saat musim pemijahan maka kegagalan ikan dalam proses recruitment akan semakin besar begitu pula sebaliknya. Sebaiknya pada saat musim pemijahan sebaiknya nelayan tidak melakukan penangkapan. Sebagian besar jenis ikan di paparan banjiran melakukan pemijahan saat air mulai naik hingga banjir maksimal atau pada bulan November hingga Maret (Tabel 1).
Strategi Pengelolaan Perikanan Paparan ………… Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan (Prianto E., et al)
Tabel 1. Waktu pemijahan beberapa jenis ikan paparan banjiran Lubuk Lampam Table 1. Spawning time of several species in Lubuk Lampam
Sumber: Data primer tahun 2012 dan 2013 Source: Primery data 2012 and 2013
No. Jenis ikan/Speci es Nama Perdagangan/ Common name Nama Ilmiah/scientific Name
Waktu (Bulan)/Time (Month)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1
0 1 1 12
1. Siamis Carps Parachela
oxygastrodes
2. Riu Catfish Pseudeutropius
brachypopterus 3. Betok Climbing perch Anabas
testudineus 4. Sepat mata merah Three-spot gouramy Trichogaster tricopterus 5. Selinca Belontid Belontia hasselti 6. Sepatung Striped tiger
nandid
Pristolepis fasciata
7. Kapas Carps Puntioplites
waandersi 8. Damaian Laptobarbus sp 9. Senggiring
an
Carps Puntius lineatus
10. Seluang Rasbora Rasbora
argyrotaenia 11. Pirik elang Carps Puntius johorensis 12. Sebarau Transverse-bar
barb
Hampala
ampalong 13. Berengit Striped mystus Mystus nigriceps 14. Keperas Silver
barb/chemperas
Cyclocheilichthys
apogon 15. Sepat siam Snakeskin
gouramy
Trichogaster
pectoralis 16. Baung Yellow mystus Mystus nemurus
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
Aktifitas Penangkapan dan Produksi Ikan Paparan banjiran merupakan ekosistem yang memiliki potensi sumberdaya ikan yang paling produktif. Keanekaragaman jenis ikan menyebabkan bervariasinya sistem penangkapan ikan di wilayah tersebut (Moss 1998). Tekanan aktivitas penangkapan di paparan banjir cenderung meningkat. Bahkan pada sebagian besar sumberdaya ikan di perairan umum daratan dieksploitasi pada tingkat atau di atas maksimum tangkapan lestari (Revenga & Kura 2003). Berbagai alat tangkap ikan digunakan di perairan paparan banjir. Welcomme (1983) mengelompokkan jenis alat tangkap menjadi alat tangkap pasif dan alat tangkap aktif. Alat tangkap pasif merupakan alat tangkap ikan yang tidak digerakkan dalam pengoperasiannya. Alat tangkap pasif yang digunakan di perairan Lubuk Lampam meliputi : pengilar gilas, pengilar kawat, pancing tajur, pancing tongkat, rawai, bubu gabus, kylung, menceban, lulung, bubu belut dan pancing betok. Alat tangkap aktif adalah alat tangkap ikan yang harus aktif digerakkan pada saat dioperasikan. Alat tangkap jenis ini meliputi : jaring lempar, serok, anco. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Lubuk Lampam bergantung pada tipe habitat dan target ikan yang ditangkap.
Penangkapan ikan di Lubuk Lampam berlangsung sepanjang tahun dengan target spesies dan penggunaan alat tangkap berbeda-beda setiap bulannya (Tabel 2). Namun, puncak musim penangkapan terjadi pada musim kemarau bulan Juni-Agustus yang memberikan hasil tertinggi sedangkan pada musim penghujan Desember-Februari hasil tangkapan minimal. Berdasarkan tipe ekosistemnya, hasil tangkapan tertinggi diperoleh dari lebak kumpai (rawa berumput), selanjutnya rawa berhutan dan paling kecil di anak sungai.
Penangkapan ikan di saluran-saluran menggunakan kilung pada musim ikan bermigrasi dari
sungai ke rawa atau sebaliknya. Pada hutan rawang penggunaan jaring akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu cenderung digunakan alat tangkap bukan jaring seperti: penjebak, bubu gabus, bubu betok, pengilar kawat, pengilar gilas dan pancing. Pada perairan sungai utama penangkapan dengan menggunakan pancing tajur, pancing tongkat, rawai, menceban, kilung, lulung, jaring lempar dan anco. STATUS PENGELOLAAN PERIKANAN DI LEBAK LEBUNG
Pengelolaan perikanan di Sumatera Selatan termasuk Lubuk Lampam melalui sistem lelang lebak lebung. Diperkirakan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan sistem lebak lebung berlangsung sejak zaman kerajaan Palembang Darusalam tahun 1630, dimana saat itu perairan lebak lebung sudah dijadikan objek lelang (lelang lebak lebung). Tujuan utama dari lelang lebak lebung adalah untuk meredam konflik perebutan perairan, dan juga sebagai pendapatan asli daerah (PAD). Selanjutnya secara berturut-turut masih diteruskan oleh Pemerintah belanda, dan pemerintahan RI setelah kemerdekaan hingga sekarang (Nasution & Koeshendrajana, 2008). Menurut Nasution (2008) tahun 2003, hasil lelang lebak lebung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebesar Rp. 3.526.272.500 or 38.75% dari total PAD di kabupaten tersebut.
Sistem lelang lebak lebung ini pada hakekatnya melelang perairan kepada individu atau kelompok masyarakat dengan harga tertentu dan pemenangnya berhak untuk mengelola perairan lebak lebung terutama sumberdaya ikan yang terdapat didalamnya dalam waktu yang telah ditentukan (1 tahun). Para pemenang lelang berhak memanfaatkan sumberdaya ikan yang terdapat didalam lebak lebung. Jika dilihat dari tujuannya sistem lebak lebung jelas akan menguntungkan pemerintah daerah karena memberikan pemasukan keuangan berupa PAD.
Strategi Pengelolaan Perikanan Paparan ………… Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan (Prianto E., et al)
Tabel 2. Jenis alat tangkap dan waktu pengoperasiannya di Lubuk Lampam Table 2. Fishing gears and time operational in Lubuk Lampam
No. Jenis Alat Tangkap/Gears Nama Perdagangan/ Common name Tangkapan Utama/ Main Catch
Waktu Penangkapan (Bulan)/Time (Month) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Pengilar Gilas
bamboo pot trap
sepat siam, sepat mata merah, tambakan, gabus,
betok, lele 2 Pengilar Kawat
wire pot trap sepat siam, sepat mata merah, tambakan, gabus, betok, lele 3 Pancing Tajur Hook and
lines gabus, baung 4 Pancing
Tongkat
Hook and
lines gabus, baung 5 Rawai Long line gabus, baung
6 Bubu Gabus trap gabus
7 Kilung Filtering nets berbagai jenis ikan 8 Menceban (Jebakan) Active seine nets/barriers baung, toman, gabus 9 Lulung large fykes, with trap chambers baung, toman, gabus
10 Bubu Belut belut
11
Pancing betok
Hook and
lines betok
12 Jaring lempar Cast net
berbagai jenis ikan seperti seluang, palau, berengit, tambakan, sepat siam, lampam 13 Langian
Scoop net seluang, palau, berengit, tambakan, sepat siam
14 Anco
Lift nets seluang, palau, berengit, tambakan, sepat siam
15 Tuguk Filtering
device berbagai jenis ikan sumber: hasil wawancara nelayan tahun 2013
source: interview result to fisherman 2013
PERMASALAHAN PENGELOLAAN PERIKANAN Sumberdaya perikanan di Lubuk Lampam mengalami penurunan yang sangat tajam yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit.
Pembukaan perkebunan ini menyebabkan luas perairan lebak kumpai dan hutan rawang menurun tajam. Luas perairan berkorelasi positif dengan produksi perikanan, dengan berkurangnya luas
tersebut maka menyebabkan produksi ikan menurun.
2. Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Salah satu contoh adalah alat tangkap tuguk, merupakan alat tangkap yang dipasang memotong kanal-kanal atau anak sungai sehingga memutus ruaya ikan. Alat tangkap ini dipasang saat air mulai naik dan air mulai surut. Ketika air mulai naik, banyak ikan-ikan dewasa yang beruaya untuk melakukan pemijahan di rawa atau hutan
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
rawang terperangkap, sehingga kebanyakan ikan yang tertangkap sudah matang gonad.
3. Waktu penangkapan yang dilakukan sepanjang tahun. Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap. Pada saat air mulai naik hingga banjir maksimal (Oktober-Februari), masyarakat masih melakukan penangkapan. Periode bulan tersebut merupakan puncak dalam perkembangbiakan ikan. Pada periode tersebut sebagian besar ikan-ikan sudah matang gonad dan siap untuk memijah dan pada waktu tersebut seharusnya nelayan tidak melakukan penangkapan di perairan tersebut atau jika melakukan penangkapan harus dilakukan diluar daerah pemijahan.
4. Penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida rutin dilakukan oleh perusahan perkebunan kelapa sawit di sekitar Lubuk Lampam. Dampak serius dari penggunaan ini adalah tercemarnya perairan yang menyebabkan kematian ikan dalam jumlah besar dan akumulasi pestisida di dalam tubuh ikan. STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN
Saat ini kondisi perairan Lubuk Lampam semakin terancam akibat aktifitas penangkapan dan perkebunan di sekitarnya. Untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan usaha perikanan tangkap di masa mendatang maka diperlukan beberapa opsi pengelolaan. Beberapa opsi/langkah-langkah pengelolaan perikanan yang dapat dilakukan adalah: 1. Rehabilitasi habitat Lubuk Lampam
Perairan Lubuk Lampam memiliki empat tipe sub ekosistem yaitu hutan rawang, lebak kumpai, lebung dan sungai. Hutan rawang, lebung dan kumpai saat ini telah mengalami penurunan luas yang tajam. Luas hutan rawang telah mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan. Lubuk Lampam memiliki > 7 buah lebung dengan luas 4 ha (Samuel, 2008) diantaranya Lebung Bandung, Rimbo Lumut, Bedeng, Temeras, Timbun Gelam, Buatan dan Proyek. Praktis saat ini hanya lebung proyek dengan luas 0.2 ha saja yang masih berfungsi baik dan selebihnya sudah hilang akibat sedimentasi dan tertimbun rerumputan. Lebak kumpai secara umum kondisinya baik namun sebagian telah mengalami perubahan menjadi perkebunan sawit.
Berdasarkan hal tersebut untuk mengembalikan fungsinya maka perlu dilakukan rehabilitasi habitat antara lain: 1) penanaman vegetasi hutan (hutan rawang), sehingga habitat pemijahan ikan seperti ikan tapa, baung, belida dan sebagainya bertambah luas, 2) untuk lebung yang mengalami pendangkalan dan tertimbun rumput perlu dilakukan penggalian agar fungsinya sebagai
penampung ikan saat kemarau dapat pulih kembali, 3) untuk lebak kumpai yang ada saat ini kondisi ekosistem perlu dipertahankan dan sebaiknya kanal-kanal untuk ikan beruaya perlu diperbanyak dan dijaga agar ikan dapat bermigrasi dengan mudah. 2. Penetapan waktu dan lokasi penangkapan
Waktu dan lokasi penangkapan perlu diperhatikan dengan baik, terutama saat ikan akan melakukan pemijahan. Sebaiknya waktu penangkapan ikan yang dilarang pada saat air mulai naik hingga air banjir maksimal yaitu bulan November-Februari karena sebagian besar ikan-ikan paparan bajir melakukan pemijahan pada bulan tersebut. Pada bulan November-Februari lokasi penangkapan yang dilarang yaitu sepanjang kanal-kanal perairan yang menghubungkan sungai dan rawa, lebung proyek, suak buayo dan sebagian besar lebak kumpai. Di sungai penangkapan masih diperbolehkan dengan menggunakan alat tangkap yang selektif seperti pancing, rawai dan bubu. 3. Penentuan jenis alat tangkap yang diperbolehkan
Jenis alat tangkap yang boleh digunakan di daerah ini adalah alat tangkap yang selektif dan tidak mengganggu ruaya ikan, sedangkan alat tangkap yang dilarang adalah tuguk. Menurut Utomo (2001); Pramoda & Nasution (2011), tuguk memiliki dampak serius dalam keberlanjutan sumberdaya ikan karena sistem pengopersiannya dengan cara memotong migrasi ikan. Sehingga ikan-ikan yang akan bermigrasi untuk memijah atau mencari makan akan terhalang. Selain itu, penggunaan electrik fishing dan racun untuk menangkap juga dilarang karena dapat membunuh ikan-ikan yang berukuran kecil hingga besar. Beberapa peralatan yang menggunakan jaring seperti Kilung harus menggunakan mata jaring > 1 inci, sedangkan penggunaan gillnet harus menggunakan mata jaring > 2,5 inci agar ikan-ikan berukuran kecil tidak tertangkap.
4. Rehabilitasi kawasan reservat
Perairan Lubuk Lampam memiliki 3 kawasan reservat yang masih aktif seperti Suak Buayo dan Kapak Hulu. Kedua reservat ini berfungsi sebagai pemasok benih di perairan sekitarnya. Saat ini kondisi reservat tersebut telah mengalami penurunan luas dan pendangkalan.
5. Menerapkan Peraturan Daerah (PERDA) Ogan Komering Ilir (OKI) No. 18/2010 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai. Peraturan Daerah Ogan Komering Ilir (OKI) No. 18/2010 Bab VII Pasal 25 ayat 8 yang berbunyi “setiap orang dilarang melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkapan ikan yang menurut peraturan Perundang-Undangan dilarang untuk digunakan pada areal lebak, lebung dan sungai”.
KESIMPULAN
Perairan Lubuk Lampam telah mengalami degradasi akibat aktifitas manusia seperti alih fungsi lahan untuk perkebunan, intensitas penangkapan yang tinggi dan penggunaan alat tangkap yang merusak seperti tuguk. Untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya perikanan di masa mendatang diperlukan langkah-langkah pengelolaan sebagai berikut: (1) Rehabilitasi habitat seperti penanaman kembali pada hutan rawang, lebak kumpai dan menggali lebung-lebung yang tertimbun rumput, (2) Penetapan waktu pelarangan menangkap ikan (bulan November-Februari) dan lokasi penangkapan ikan yang dilarang meliputi sepanjang kanal-kanal perairan yang menghubungkan sungai dan rawa, lebung proyek dan suak buayo, (3) Melarang penggunaan alat tangkap tuguk, (4) Rehabilitasi kawasan reservat melalui penataan dan perluasan kawasan Lebung Proyek, Suak Buayo dan Kapak Hulu dan (5) Menerapkan Peraturan Daerah Ogan Komering Ilir No. 18/2010 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai. DAFTAR PUSTAKA
Bayley, P. B. 1995. Understanding large river-floodplain ecosystems. Bioscience 45:153–158.
Crain, P. K; K. Whitener & P. B. Moyle. 2004. Use of a Restored Central California Floodplain by Larvae of Native and Alien Fishes. American Fisheries Society Symposium 39:125–140.
Galat, D.L; G. W. Whitledge; L. D. Patton & J. Hoker. 2004. Larval Fish Use Of Lower Missouri River Scour Basins In Relation To Connectivity. Final Report to Missouri Department of Conservation Conservation Research Center 1110 S. p. 84. Holland, L. E., & M. L. Huston. 1985. Distribution
and food habits of fishes in a backwater lake of the upper Mississippi River. Journal of Freshwater Ecology 3:81–91.
Koeshendrajana, S & D. D. Hoggarth. 1998. Harvest reserves in Indonesia river fisheries. Paper presented at Fifth Asian Fsiheries Forum-International Conference of Fisheries and Food Security Beyond the Year 2000. Chiang May. 11-14 November 1998.
Moss, B. 1998. Ecology of Freshwaters. Man and Medium, Past and Future. Third Edition. Oxford: Blackwell Science. Ltd.
Makmur, 2008. Pattern of Change of Ichthyofauna In Lubuk Lampam Floodplain South Sumatra. Fisheries Ecology and Management of Lubuk Lampam Floodplain Musi River, South Sumatera. Research Institute For Inland Waters Fisheries. p 55-61.
Muflikhah, N; A. K. Gaffar; E. Prianto; Y.C. Ditya; M. Marini, Burnawi & Mersi. 2012. Dinamika dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan sebagai Komponen Permodelan Pengelolaan Perikanan di Rawa Banjiran Sumatera Selatan. Laporan Teknis Penelitian. Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum. 70 hal.
Muthmainnah, D; Z. Dahlan; R. H. Susanto; A. K. Gaffar & D. P. Priadi. 2012. Pola Pengelolaan Rawa Lebak Berbasis Keterpaduan Ekologi-Ekonomi-Sosial-Budaya Untuk Pemanfaatan Berkelanjutan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 4 (2): 59-67. Nasution, Z. 2008. Development of Fisher Community In the Floodplain Fisheries of Lubuk Lampam,
South Sumatra. Fisheries Ecology and
Management of Lubuk Lampam Floodplain Musi River, South Sumatera. Research Institute For Inland Waters Fisheries. p 113-121.
Nasution, Z & S. Koeshendrajana. 2008. Resource Allocation of The Floodplain Fisheries In South Sumatra. Fisheries Ecology and Management of Lubuk Lampam Floodplain Musi River, South Sumatera. Research Institute For Inland Waters Fisheries. p 132-142.
Paller, M. H. 1987. Distribution of larval fish between macrophyte beds and open water in a south-eastern floodplain swamp. Journal of Freshwater Ecology 4:191–200.
Pramoda, R & Z. Nasution. 2011. Transformasi Pengelolaan Perairan Umum Daratan di Kabupaten Ogan Komering Ilir. J. Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 6 (2);131-147.
Revenga, C & Kura, Y. 2003. Status and Trends of Biodiversity of Inland Water Ecosystems. Secretariat of The Convention on Biological Diversity. Technical Series No. 11. Montreal: Secretariat of CBD.
Samuel, 2008. The Morphology of Lubuk Lampam Floodplain Fisheries Ecology and Management of Lubuk Lampam Floodplain Musi River, South Sumatera. Research Institute For Inland Waters Fisheries. p. 1-7.
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
Sparks, R. E. 1995. Need for ecosystem management of large rivers and their floodplains. Bioscience. 45:168–182.
Utomo, A. D & D. Wijaya. 2008. Dynamics of Fish Production From Lubuk Lampam Floodplain. Fisheries Ecology and Management of Lubuk Lampam Floodplain Musi River, South Sumatera. Research Institute For Inland Waters Fisheries. p 73-84.
Utomo, A.D. 2001. Ruaya Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Sungai Lempuing Sumatra Selatan. Program Studi Ilmu Perairan, Pascasarjana IPB, Bogor. Thesis. 72 p.
Welcomme, R. L. 1979. Fisheries ecology of floodplain rivers. Longman Group, New York. Welcomme, R. L. 1983. River Basin. FAO Fisheries
Technicl Paper (202). Roma: FAO. 57-66
Kebijakan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia (Nugraha B & Bram S)
KEBIJAKAN PENGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN
TUNA LONGLINE DI SAMUDERA HINDIA
MANAGEMENT POLICIES OF TUNA LONGLINE BY-CATCH IN INDIAN
OCEAN
Budi Nugraha dan Bram Setyadji Loka Penelitian Perikanan Tuna Benoa
Teregistrasi I tanggal: 04 Maret 2013; Diterima setelah perbaikan tanggal: 30 September 2013; Disetujui terbit tanggal: 10 Oktober 2013
ABSTRAK
Tuna longline atau rawai tuna merupakan salah satu alat tangkap yang sangat efektif untuk menangkap tuna. Selain efektif alat tangkap ini juga merupakan alat tangkap yang selektif terhadap hasil tangkapannya. Namun demikian, alat tangkap ini masih menimbulkan suatu masalah dimana ikan hasil tangkapan yang diperoleh tidak semuanya merupakan hasil tangkapan utama (target species), ada sebagian yang merupakan hasil tangkapan sampingan (by-catch). Sebagian besar hasil tangkapan sampingan tuna longline memiliki nilai ekonomis, hanya jenis pari lumpur dan ikan naga yang tidak memiliki nilai ekonomis. Namun demikian, justru yang tidak memiliki nilai ekonomis mendominasi hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline. Oleh karena itu perlu adanya tindak lanjut dengan menyusun peraturan atau regulasi yang terkait dengan pengelolaan ikan hasil tangkapan sampingan dan pengelolaan yang benar terhadap hasil tangkapan tersebut beserta habitatnya agar terjaga kelestarian sumberdayanya dan juga tetap menjadi sumber pendapatan
masyarakat.Tulisan ini membahas secara ringkas tentang isu hasil tangkapan sampingan pada
perikanan tuna longline, komposisi jenisnya, pemanfaatannya dan kebijakannya.
KATA KUNCI: Hasil tangkapan sampingan, tuna longline, Samudera Hindia ABSTRACT
Tuna longline is one of the most effective fishing gears to catch tuna. In addition, this fishing gear is selective to catch tuna. However, this gear is still causing a problem where some species other than their target species were caught as by-catch. Most of by-catch species from the tuna longliners have an economic value, except pelagic stingrays and lancetfish. In fact, these by-catch species (non economical-valued species) dominated the longline catch. Therefore, it is needed to develop rules or regulations related to the management of the fish by-products, and properly manage the fishing activities on these by-catch species and habitat preservation to preserve its resources and also remain as a source of income. This paper briefly discusses the issue of by-catch in tuna longline fisheries, species composition, its utilization and its policy.
KEYWORDS: By-catch, tuna longline, Indian Ocean
PENDAHULUAN
Tuna longline atau rawai tuna merupakan salah satu alat tangkap yang sangat efektif untuk menangkap tuna. Selain efektif alat tangkap ini juga merupakan alat tangkap yang selektif terhadap hasil tangkapannya. Menurut Sainsbury (1996),longline merupakan alat tangkap yang efisien bahan bakar, ramah lingkungan dan memiliki metode penangkapan paling bersih, serta dapat digunakan untuk menangkap ikan demersal maupun pelagis.Tuna longline bersifat pasif dalam pengoperasiannya sehingga alat ini tidak merusak sumber daya hayati yang ada di perairan. Namun demikian, alat tangkap ini masih menimbulkan suatu masalah dimana ikan hasil tangkapan yang diperoleh tidak semuanya
merupakan hasil tangkapan utama (target species), ada sebagian yang merupakan hasil tangkapan sampingan (by-catch).
Hasil tangkapan sampingan (HTS) dapat diartikan sebagai hasil tangkapan yang tertangkap selain hasil tangkapan utama (target species) dan bukan merupakan target spesies (non target species).Spesies non-target dapat dibagi menjadi spesies-spesies yang memiliki nilai ekonomis (by-product) dan spesies-spesies yang tidak diinginkan (by-catch) karena mereka tidak memiliki nilai ekonomis atau dilindungi oleh hukum. Spesies by-product mencakup beberapa jenis hiu, marlin, layaran, lemadang, nyunglas dan ikan opah, sedangkan spesies by-catch termasuk snake mackerel,ikan pari ___________________
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
(yang tidak memiliki nilai ekonomis) dan spesies seperti penyu (yang hampir punah dan dilindungi oleh hukum) (King, 2004).
Alverson et al. (1994) dalam Ardill et al. (2013) memperkirakan bahwa rata-rata 27 juta ton ikan dibuang setiap tahunnya, setara dengan 30% dari ikan yang didaratkan dunia, walaupun ada laporan yang menyatakan bahwa beberapa ikan ini mungkin telah didaratkan dan dikonsumsi. Bahkan WWF (2013) memperkirakan bahwa setidaknya 40 persen atau 38 juta ton tangkapan laut dunia tahunan adalah berupa hasil tangkapan sampingan. Melihat tingginya prosentase hasil tangkapan sampingan tersebut, maka perlu adanya pendekatan perikanan bernuansa ramah lingkungan dimana pengelolaan perikanan diarahkan agar stok ikan berada di atas “save biological limit” atau pemulihan sumberdaya ikan hingga tingkat yang dibutuhkan. Hal ini harus diikuti dengan pengurangan secaranyata terhadap hasil tangkapan sampingan dan jenis ikan tidak termanfaatkan, serta melindungi ekosistem bahari dari aktivitas penangkapan yang merusak lingkungan (Anon, 2009 dalam Atmaja & Nugroho, 2011).
ISU HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PADA PERIKANAN TUNA LONGLINE
Hasil tangkapan sampingan telah menjadi permasalahan dan isu perikanan terpenting dunia sejak tahun 1990-an. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah hasil tangkapan sampingan menjadi salah satu penyebab penurunan stok ikan yang dapat mengancam keberlanjutan perikanan dunia (Marpaung, 2006) dan menimbulkan masalah ekologi, sosial dan ekonomi (PEW Environment Group, 2010), Gilman & Lundin (2008) menyebutkan bahwa hasil tangkapan sampingan merupakan isu internasional yang semakin menonjol dimana menimbulkan permasalahan ekologi, karena beberapa spesies seperti cetacean (paus, dan lumba-lumba), burung laut, penyu laut, hiu dan pari serta jenis ikan lainnya sangat rentan terhadap eksploitasi berlebihan dan lambat untuk pulih apabila terjadi penurunan populasi yang besar. Hasil tangkapan sampingan dapat mengubah keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem dimana akan menghapus predator puncak dan spesies mangsa pada tingkat yang paling atas (Myers et al., 2007dalam Gilman & Lundin, 2008). Hasil tangkapan yang dibuang (discards) menimbulkan masalah sosial dimana ikan yang dibuang menjadi limbah. Dari tahun 1992 – 2001 rata-rata 7,3 juta ton ikan per tahun dibuang, dimana hasil ini mewakili 8% dari hasil tangkapan dunia (FAO, 2005 dalam Gilman & Lundin, 2008).
Salah satu industri perikanan yang menghasilkan hasil tangkapan sampingan adalah industri perikanan tuna longline. Menurut Ardill et al. (2013), perikanan tuna longline di Samudera Hindia memiliki hasil tangkapan sampingan yang lebih tinggi dibandingkan perikanan pole and line atau perikanan purse seine, yaitu sekitar 11,6% dimana terdapat 87 spesies atau kelompok spesies by-catch yang terdiri dari ikan hiu, burung laut dan kura-kura yang terdaftar sebagai spesies terancam atau hampir punah oleh the International Union for Conservation of Nature (IUCN). KOMPOSISI JENIS HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PADA PERIKANAN TUNA LONGLINE Hasil tangkapan tuna longline terdiri dari dua jenis yaitu hasil tangkapan utama (target species) dan bukan hasil tangkapan utama atau hasil tangkapan sampingan (non target species/by-catch) (Chapman, 2001). Beverly et al. (2003) menyatakan bahwa hasil tangkapan sampingan adalah hasil tangkapan yang tidak diinginkan namun tertangkap secara kebetulan selama operasi penangkapan dengan tuna longline. Widodo et al. (2010) menyebutkan bahwa pada perikanan tuna longline, jenis-jenis ikan hiu atau cucut, pari, setuhuk, layaran dan lainnya sering tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan, diantaranya adalah hiu selendang biru (Prionace glauca), hiu koboy (Carcharhinus longimanus), hiu tikus (Alopias pelagicus), hiu mako (Isurus oxyrhyncus) dan pari lumpur (Dasyatis spp.), jenis setuhuk atau ikan berparuh seperti ikan pedang (Xiphias gladius), setuhuk hitam (Makaira indica), setuhuk biru (Makaira nigricans), ikan layaran (Istiophorus platypterus) dan jenis lainnya seperti ikan naga (Alepisaurusspp.), cakalang (Katsuwonus pelamis), bawal sabit (Taractichthys steindachneri), bawal lonjong (Taractes rubescens), tenggiri nyunglas (Acanthocybium solandri), lemadang (Coryphaena hippurus), ikan gindara (Lepidocybium spp.), ikan gindara berkulit duri (Ruvettus pretiosus), ikan mambo (Mola mola), ikan opah (Lampris guttatus) serta jenis penyu seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Sebagian besar hasil tangkapan sampingan tuna longline memiliki nilai ekonomis, hanya jenis pari lumpur dan ikan naga yang tidak memiliki nilai ekonomis. Namun demikian, justru yang tidak memiliki nilai ekonomis mendominasi hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline. Hal ini terlihat dari komposisi hasil tangkapan yang diperoleh kapal tuna longline yang beroperasi pada bulan Maret – Mei 2010 dimana ikan naga dan pari lumpur mendominasi hasil tangkapan sampingan kapal tersebut (Setyadji & Nugraha, 2012a). Bahkan hasil 67-71
Kebijakan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia (Nugraha B & Bram S)
penelitian Setyadji & Nugraha (2012b) menunjukkan bahwa hasil tangkapan tuna longline selama tahun 2010 – 2011 yang didaratkan di Pelabuhan Benoa didominasi oleh hasil tangkapan sampingan sebanyak 81,52%, sedangkan hasil tangkapan utama hanya 18,47%. Hasil tangkapan yang dibuang atau tidak memiliki nilai ekonomis (discards) sebanyak 51,11% dan hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis (by-product) sebanyak 30,41%.
PEMANFAATAN HTS
Saat ini terdapat perubahan pola pemanfaatan hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline yang berbasis di Pelabuhan Benoa. Semula terdapataturan dari perusahaan bahwa hasil tangkapan sampingan tidak boleh dibawa atau disimpan di dalam palka karena palka diutamakan untuk menyimpan hasil tangkapan utama. Pada umumnya hasil tangkapan sampingan yang diperoleh hanya untuk keperluan makan ABK di atas kapal selama operasi seperti ikan bawal sabit, ikan opah dan ikan gindara. Bahkan untuk jenis hiu hanya siripnya saja yang dimanfaatkan dan tubuhnya dibuang ke laut. Namun sekarang, seiring dengan berkurangnya hasil tangkapan utama, semua hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis diperbolehkan dibawa. Hiu yang dahulu hanya dimanfaatkan siripnya saja, sekarang seluruh tubuhnya dibawa sebagai hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis mulai dari daging, hati, tulang, kulit dan giginya (Sudjoko, 1991). Bahkan menurut Anonim (2013) hiu memiliki kandungan gizi berupa nutrisi, kalori, mineral dan vitamin. Sirip ikan hiu banyak diekspor ke Jepang dan Korea (Solihin, 2013).
Ikan berparuh (billfish) merupakan jenis ikan hasil tangkapan sampingan yang memiliki nilai ekonomis. Berdasarkan data Rapid Alert System for Food and Feed Portal (2009), ikan berparuh yang dijual (ekspor) ke Uni Eropa adalah ikan pedang beku ke Italia, Spanyol, Belanda dan Perancis, ikan pedang filet beku ke Yunani, ikan pedang segar ke Belanda, ikan pedang loin ke Jerman, Belanda dan Inggris, serta marlin hitam beku ke Italia, Spanyol dan Belgia. Beberapa hasil tangkapan sampingan lainnya saat ini sudah dijual ke pasar luar negeri (ekspor) seperti ikan opah beku ke Perancis dan ikan opah filet ke Jerman, ikan gindara beku ke Polandia dan Swedia, ikan gindara filet ke Jerman, lemadang filet ke Perancis, hiu selendang biru beku ke Belgia dan Italia, hiu mako beku ke Italia dan hiu mako loin ke Belanda.
KEBIJAKAN PEGELOLAAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN
1. Resolusi IOTC
Pengelolaan hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline di Indonesia, khususnya di Samudera Hindia tidak terlepas dari perikanan tuna dimana pengelolaannya harus melibatkan negara-negara lain yang tergabung dalam organisasi pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization) seperti Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). Sebagai salah satu anggotanya, Indonesia harus mengikuti aturan-aturan atau resolusi-resolusi yang telah dibuat oleh organisasi tersebut yang bertujuan untuk mengatur dan mengelola perikanan tangkap di perairan Samudera Hindia. IOTC telah menerapkan beberapa resolusi dan rekomendasi yang berkaitan dengan hasil tangkapan sampingan, termasuk hiu, burung laut dan penyu, seperti (IOTC, 2012):
a) Resolution 08/02 on establishing a programme for transhipment by large-scale fishing vessels. Di dalam resolusi ini IOTC menghimbau kepada anggotanya untuk memantau pemindahan hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline skala besar, termasuk hiu dan spesies lainnya.
b) Resolution 10/02 mandatory statistical requirements for IOTC members and cooperating non-contracting parties (CPC’s). Di dalam resolusi ini IOTC menghimbau kepada anggotanya untuk melaporkan tingkat hasil tangkapan sampingan untuk spesies lain, termasuk mamalia laut. c) Resolution 10/04 on a regional observer scheme.
Resolusi ini menghimbau kepada anggota IOTC untuk mengumpulkan informasi hasil tangkapan sampingan di pelabuhan (perikanan artisanal) dan di laut (perikanan industri).
d) Resolution 05/05 concerning the conservation of sharks caught in association with fisheries managed by IOTC. Didalam resolusi ini IOTC menghimbaukepada setiap anggotanya untuk melaporkan hiu yang ditangkap kepada IOTC dan membuat langkah-langkah untuk mengurangi tangkapan tersebut.
e) Resolution 09/06 on marine turtles and recommendation 05/08 on sea turtles. Resolusi ini menghimbau kepada anggota IOTC untuk melaporkan tingkat hasil tangkapan sampingan penyu dan langkah-langkah untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan tersebut atau mengurangi kematiannya.
f) Resolution 10/06 on reducing the incidental by-catch of seabirds in longline fisheries and recommendation 05/09 on incidental mortality of
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
seabirds. Resolusi ini menghimbau kepada anggota IOTC untuk melaporkan tingkat hasil tangkapan sampingan burung laut dan langkah-langkah untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan tersebut.
g) Resolution 10/12 on the conversation of thresher shark (family Alopiidae) caught in association with fisheries in the IOTC area of competence. Didalam resolusi 10/12 IOTC diatur mengenai (a) pelarangan menahan di atas kapal, memindahkan dari/ke kapal lain, mendaratkan, menyimpan, menjual bagian manapun atau seluruh bangkai semua spesies hiu thresher dari family Alopiidae; (b) melaporkan tangkapan hiu thresher; (c) melepas dalam keadaan hidup untuk thresher sharks yang tertangkap pada kegiatan rekreasi dan olahraga penangkapan ikan. Dengan adanya ketentuan resolusi tersebut maka negara kita harus membuat ketentuan nasional mengenai pengaturan penangkapan thresher sharks (hiu tikus).
2. Kebijakan atau Peraturan Pemerintah RI Terkait Hasil Tangkapan Sampingan
Pemerintah Indonesia telah membuat beberapa kebijakan tentang hasil tangkapan sampingan, seperti (Sadili, 2013):
(1) Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang dilindungi, telah menetapkan hiu gergaji (Pritis spp.) sebagai jenis hiu dilindungi, dan perlindungan terhadap ikan lumba-lumba famili Dolphinidae dan Ziphidae serta jenis penyu belimbing, hijau, pipih, ridel, sisik dan penyu tempayan. (2) Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat No. 09 Tahun 2012 tentang larangan penangkapan hiu, pari manta dan jenis-jenis tertentu di perairan Laut Raja Ampat;
(3) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18 tahun 2013 tentang penetapan status perlindungan penuh ikan hiu paus (Rhincodontypus);
(4) National plan of action (NPOA): Shark and ray management tahun 2010.Rencana ini ditujukan untuk mengidentifikasi isu-isu kunci pengelolaan hiu dan pari di Indonesia dan strategi yang luas untuk mengatasinya (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2010).
KESIMPULAN
1. Salah satu industri perikanan yang menghasilkan hasil tangkapan sampingan adalah industri perikanan tuna longline.
2. Hasil tangkapan sampingan tuna longline yang tidak memiliki nilai ekonomis mendominasi hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline yang berbasis di Pelabuhan Benoa.
3. Saat ini terdapat perubahan pola pemanfaatan hasil tangkapan sampingan pada perikanan tuna longline yang berbasis di Pelabuhan Benoa. 4. Pengelolaan hasil tangkapan sampingan pada
perikanan tuna longline di Indonesia, khususnya di Samudera Hindia tidak terlepas dari perikanan tuna dimana pengelolaannya harus melibatkan negara-negara lain yang tergabung dalam organisasi pengelolaan perikanan regional. 5. Pemerintah Indonesia dan IOTC telah membuat
kebijakan dan resolusi yang berkaitan dengan hasil tangkapan sampingan, termasuk hiu, burung laut dan penyu.
REKOMENDASI
Tingginya hasil tangkapan sampingan yang dibuang atau tidak memiliki nilai ekonomis pada perikanan tuna longline di perairan Samudera Hindia akan mengakibatkan perubahan komposisi jenis dan ukuran serta kelimpahan sumberdaya ikan yang akan berpengaruh terhadap rantai makanan di perairan tersebut. Oleh karena itu perlu adanya tindak lanjut dengan menyusun peraturan atau regulasi yang terkait dengan pengelolaan ikan hasil tangkapan sampingan dan pengelolaan yang benar terhadap hasil tangkapan tersebut beserta habitatnya agar terjaga kelestarian sumberdayanya dan juga tetap menjadi sumber pendapatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Alverson, D.L., Freeberg, M.H., Murawski, S.A. & Pope, J.G. 1994. A global assessment of by-catch and discards. FAO Fisheries Technical Paper No. 339. FAO. Rome. 233 p.
Anonim. 2009. Towards sustainable fisheries. Comment to the Commission ìs Green Paper “Reform of the Common Fisheries Policy”(COM(2009)163 final). October 2009 No. 7. SRU, German Advisory Council on the environment. 14 p.
Anonim. 2013. Nutrition and calories in sharks. 2 p. Diunduh dari http://www.calorie-counter.net/fish-calories/shark.htm.
Ardill, D., Itano, D. & Gillet, R. 2013. A review of by-catch and discard issues in Indian Ocean tuna fisheries. Implementation of a regional fisheries strategy for the Eastern-Southern Africa and Indian Ocean region. SF/2013/32. SmartFish Programme. Indian Ocean Commission. 61 p. Diunduh dari http://www.media.wix.com/.
Kebijakan Pengelolaan Hasil Tangkapan Sampingan Tuna Longline di Samudera Hindia (Nugraha B & Bram S)
Atmaja, S.B. & Nugroho, D. 2011. Upaya-upaya pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia. 3 (2): 101-113.
Beverly, S., L. Chapman & W. Sokimi. 2003.Horizontal longline fishing methods and techniques. A manual for fishermen. Multipress. Noumea, New Caledonia.
Chapman, L. 2001. By-catch in the tuna longline fishery. Working paper 5, 2ndSPC Heads of
Fisheries Meeting, Noumea, New Caledonia, 23 – 27 July 2001. Secretariat of the Pacific Community. Coastal Fisheries Programme.Fisheries Development Section. Noumea, New Caledonia. http://www.spc.int/coastfish/.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2010. National plan of action (NPOA): Shark and ray management. Jakarta.
FAO. 2005. Discards in the world’s marine fisheries: An update. FAO Fisheries Technical Paper No. 470. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Rome. 131 p.
Gilman, E., &Lundin, C. 2008. Minimizing by-catch of sensitive species groups in marine capture fisheries: Lessons from commercial tuna fisheries. In: Grafton, Q., Hillborn, R., Squires, D., Tait, M., &Williams, M. (Eds.). Handbook of Marine Fisheries Conservation and Management. Oxford University Press. 22 p. Diunduh dari http:// cmsdata.iucn.org/.
IOTC. 2012. Collection of Active Conservation and Management Measures for the( Indian Ocean Tuna Commission. IOTC, Victoria, Mahé, Seychelles. 183 p. Diunduh dari http://www.iotc.org/.
King, M. 2004. Protected marine species and the tuna longline fishery in the Pacific Islands. Fisheries Training Section. Secretariat of the Pacific Community Noumea. New Caledonia. 44 p. Diunduh darihttp://www.spc.int/.
Marpaung, A. 2006. Kajian pengelolaan hasil tangkapan sampingan pukat udang: Studi kasus di Laut Arafura, Provinsi Papua. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Myers, R.A., Baum, J.K., Shepherd, T.D., Powers, S.P., & Peterson, C.H. 2007. Cascading effects of the loss of apex predatory sharks from a coastal ocean.Science 315 (Mar): 1846-1850.
PEW Environment Group. 2010. Sharks by-catch in tuna fisheries. Kobe 2 By-catch Workshop, June 23-25 2010, Brisbane, Australia. 3 p. Diunduh darihttp://www.pewenvironment.org/.
Rapid Alert System for Food and Feed Portal. 2009. Database Rapid Alert System for Food and Feed From Indonesia to European Union 2009. Diunduh dari https://webgate.ec.europa.eu/rasff-window.
Sadili, D. 2013. Ikan Hiu di Indonesia; Pemanfaatan versus Konservasinya. 5 p. Diunduh dari http:// didisadili.blogspot.com/2013/04/ikan-hiu-di-indonesia-pemanfaatan.html.
Sainsbury, J. C. 1996. Commercial fishing methods:An introduction to vessel and gears. Fishing News Book Ltd. London. 359 p.
Setyadji, B. & Nugraha, B. 2012a. Hasil tangkap sampingan (HTS) kapal rawai tuna di Samudera Hindia yang berbasis di Benoa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 18 (1): 43-51.
Setyadji, B. & Nugraha, B. 2012b. Commonly discarded fishes in the tuna longline fishery based in Port of Benoa, Bali. Dipresentasikan pada Seminar Hasil Penelitian Lingkup P4KSI pada tanggal 3-5 Juli 2012 di Bogor.
Solihin, E. 2013. Perajin sirip hiu tak sanggup penuhi ekspor. Editor: Ruslan Burhani. 2 p. Diunduh dari http://www.antaranews.com/.
Sudjoko, B. 1991. Pemanfaatan ikan cucut.Oseana, Vol. XVI, No. 4 : 31-37. Diunduh dari www.oseanografi.lipi.go.id.
Widodo, A.A., Prisantoso, B.I. & Mahulette, R.T. 2010. Jenis dan distribusi ukuran ikan hasil tangkap sampingan (by-catch)pada perikanan tuna( di Samudera Pasifik. Laporan Akhir Kegiatan Penelitian.Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa. Dewan Riset Nasional Kementerian Negara Riset dan Teknologi – Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 50 p.
WWF. 2013. By-catch Fisheries Program. WWF-Indonesia Fisheries Program. Diunduh dari http:// awsassets.wwf.or.id/.
Angka Acuan Sasaran untuk Pengelolaan Perikanan Udang Laut Arafura Dengan Tujuan Beragam (Purwanto)
ANGKA ACUAN SASARAN UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN
UDANG LAUT ARAFURA DENGAN TUJUAN BERAGAM
TARGET REFERENCE POINTS FOR THE MANAGEMENT OF ARAFURA
SEA SHRIMP FISHERY WITH MULTIPLE-OBJECTIVES
Purwanto
Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Ikan-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 26 Juli 2013; Diterima setelah perbaikan tanggal: 19 September 2013; Disetujui terbit tanggal: 31 September 2013
ABSTRAK
Kriteria pengelolaan perikanan dalam kerangka pembangunan nasional, yaitu pro-growth, pro-poor, pro-job dan pro-environment, mengarahkan pengelolaan perikanan udang di Laut Arafura untuk mengoptimumkan produksi lestari dan keuntungan perikanan, serta meningkatkan keuntungan per kapal dan peluang kerja sebagai nelayan. Masing-masing tujuan tersebut perlu ditetapkan angka acuan sasarannya yang diharapkan dicapai dalam pengelolaan perikanan. Mengingat tujuan tersebut saling bertentangan, sehingga tidak dapat dicapai bersamaan, perlu ditentukan tingkat kompromi optimal diantara tujuan tersebut dan angka acuan sasarannya. Tulisan ini menyajikan model pemrograman matematika untuk optimisasi dengan empat tujuan pengelolaan, serta menggunakannya untuk mengestimasi angka acuan sasaran dan jumlah optimal kapal penangkap. Hasil optimisasi dengan pemberian bobot prioritas yang sama terhadap empat tujuan pengelolaan perikanan dalam kerangka pembangunan nasional menunjukkan bahwa angka acuan sasaran pada tingkat kompromi optimal dicapai dengan pengendalian upaya penangkapan pada tingkat yang setara dengan daya tangkap 512 kapal pukat udang 130 GT. Angka acuan sasaran yang sama dihasilkan dari optimisasi dengan pemberian bobot prioritas yang lebih tinggi terhadap dua tujuan pengelolaan perikanan sesuai dengan Pasal 6 Undang Undang Perikanan tahun 2004.
KATA KUNCI: Angka acuan sasaran, perikanan udang, pemrograman dengan sasaran beragam ABSTRACT
The criteria of fisheries management undertaken in a framework of national development, particularly pro-growth, pro-poor, pro-job and pro-environment, guide the management of shrimp fishery in the Arafura Sea to optimising shrimp production and fishery profit, and increasing per vessel profit and job opportunity as fishers. As those objectives were conflicting that could not be achieved simultaneously, it is necessary to seek an optimal compromise amongst several conflicting objectives and to estimate their target reference points. This paper presents a mathematical programming model accommodating four objectives of fisheries management, and the utilisation of this for estimating the target reference points and the optimal number of fishing vessels. The result of optimisation shows that target reference points at the optimal compromise levels for the four conflicting objectives, with equal priority, of fisheries management supporting the national development could be achieved by controlling fishing effort at the level equal to fishing power of 512 shrimp trawlers of 130 GT. The same target reference points resulted from the analysis providing higher priority to the objectives of fisheries management stated in Article 6 of Fisheries Act of 2004.
KEYWORDS: Target reference points, shrimp fishery, multiple goal programming.
PENDAHULUAN
Sumberdaya Ikan (SDI) yang terdapat di wilayah perairan laut dan ZEE Indonesia, termasuk pula stok udang di Laut Arafura, merupakan salah satu kekayaan alam yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33(3) UUD 1945). Potensi kemakmuran dari SDI tersebut perlu didayagunakan pada tingkat optimal untuk mewujudkan Tujuan dan Cita-cita Nasional, yaitu antara lain memajukan kesejahteraan umum untuk
mewujudkan bangsa yang makmur (Pembukaan UUD 1945). Tujuan Nasional tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Pembangunan Nasional, dengan kekayaan alam hayati di laut sebagai salah satu modal dasar (Lampiran UU nomor 17 tahun 2007).
Laut Arafura merupakan daerah utama penangkapan udang bagi armada perikanan Indonesia. Hasil estimasi potensi produksi udang masing-masing WPP (KepMenKP nomor 45/Men/ 2011) menunjukkan bahwa stok udang di Laut Arafura ___________________
J. Kebijak. Perikan. Ind. Vol.5 No. 2 Nopember 2013 :
dapat menghasilkan produksi lestari sekitar 45% dari potensi produksi yang dapat dihasilkan secara lestari dari stok udang di Indonesia. Namun, stok udang tersebut beberapa-kali dimanfaatkan melebihi daya-dukungnya. Berdasarkan kecenderungan produksi udang dan produktivitas kapal pukat udang tahun 1992 – 1997, Widodo, et al. (2001) menyimpulkan bahwa stok udang tersebut telah mengalami pemanfaatan berlebih sejak tahun 1996. Sementara itu, berdasarkan hasil analisis hubungan antara produktivitas kapal pukat udang dengan jumlah kapal pukat udang dan kapal pukat ikan menggunakan data tahun 1996 – 2005 Purwanto (2008, 2010 & 2013a) menyimpulkan bahwa upaya penangkapan udang di Laut Arafura pada periode tahun 1998 – 2003 lebih tinggi daripada tingkat upaya yang menghasilkan produksi lestari maksimum (EMSY). Kondisi pemanfaatan stok udang yang terburuk terjadi pada tahun 2000, pada saat produktivitas mencapai titik terendah (Purwanto, 2008, 2010 & 2013a). Hal tersebut merupakan akibat dari jumlah kapal penangkap yang diizinkan beroperasi melebihi tingkat optimumnya dan intensitas penangkapan secara ilegal relatif tinggi (Purwanto, 2010). Konsekuensi dari hal tersebut adalah kelimpahan stok dan kemampuan produksinya lebih rendah dari tingkat optimumnya (Naamin, 1984; Badrudin, Sumiono & Wirdaningsih, 2002; Purwanto, 2008, 2010 & 2013a) dan keuntungan ekonomi yang diperoleh pelaku usaha lebih rendah dibanding tingkat optimum, bahkan sebagian pelaku usaha mengalami kerugian (Purwanto, 2011b & 2013b). Kondisi perikanan udang tersebut membaik, sebagaimana nampak dari kecenderungan penurunan upaya penangkapan sejak tahun 2001, ketika dilakukan perbaikan pengelolaan perikanannya, mencakup antara lain penataan perizinan dan perbaikan pengendalian perikanan lainnya, serta peningkatan pengawasan perikanan dan penegakan hukum. Pada tahun 2004 – 2005, upaya penangkapan tidak lagi melebihi EMSY (Purwanto, 2008, 2010 & 2013a). Namun, kondisi stock udang tersebut kembali memburuk akibat pemanfaatan berlebih setelah tahun 2005, khususnya oleh tingginya kegiatan penangkapan secara ilegal (Purwanto, 2013a).
Agar stok udang dapat menghasilkan manfaat secara optimum dan berkelanjutan serta terjamin kelestariannya, pemerintah atau otoritas lain perlu melaksanakan pengelolaan terhadap perikananyang memanfaatkan SDI tersebut (Pasal 6 UU nomor 31 tahun 2004). Pengelolaan perikanansecara benar diharapkan akan memberikan dukungan optimum terhadap pembangunan nasional dengan kontribusi positif dalam kaitan dengan pertumbuhan ekonomi (pro-growth), pendapatan per kapita (pro-poor) dan
kesempatan kerja (pro-job), dengan tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungannya (pro-environment) (Buku I Lampiran Perpres nomor 5 tahun 2010). Oleh karena itu, strategi pengelolaan perikanan dalam kerangka pembangunan nasional perlu disusun dan diputuskan dengan mempertimbangkan empat kriteria tersebut. Secara umum, pengambilan keputusan dengan kriteria beragam tersebut memiliki beberapa tujuan (objectives), dan masing-masing tujuan perlu ditetapkan sasaran yang diharapkan.
Dalam pengambilan keputusan pengelolaan perikanan digunakan angka acuan sasaran (target reference point) dan angka acuan batas (limit reference point) sebagai ukuran atau sasaran operasional. Angka acuan sasaran menunjukkan sasaran atau kondisi perikanan yang diharapkan dapat dicapai dari pengelolaan perikanan, mencakup antara lain mortalitas penangkapan, biomasa, tingkat keuntungan, hasil tangkapan utama dan sampingan. Angka acuan sasaran tersebut mencerminkan tujuan yang diinginkan masyarakat dalam pengelolaan perikanan (Sainsbury, 2008). Sementara itu, angka acuan batas mencerminkan batas dari kondisi yang perlu dihindari (FAO, 1997; Sainsbury, 2008).
Sementara itu, berdasarkan empat kriteria pengelolaan perikanan dalam kerangka pembangunan nasional dapat diidentifikasikan setidaknya empat tujuan pada pengelolaan perikanan udang di Laut Arafura, yaitu (1) mengoptimumkan produksi udang dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, (2) mengoptimumkan total keuntungan dari perikanan udang, (3) meningkatkan keuntungan per unit kapal yang diperoleh pelaku usaha penangkapan udang dan (4) meningkatkan peluang kerja sebagai awak kapal penangkap udang, dengan tetap mempertahankan kelestarian stok udang. Namun, empat tujuan pengelolaan perikanan tersebut saling bertentangan sehingga tidak dapat dicapai secara bersamaan (Purwanto, 2003, 2011a&b; Purwanto & Wudianto, 2012). Oleh karena itu perlu ditentukan tingkat kompromi optimal diantara beberapa tujuan yang saling bertentangan dan angka acuan sasarannya pada tingkat yang memuaskan.
Tulisan ini menyajikan model pemrograman matematika untuk optimisasi dengan empat tujuan pengelolaan perikanan udang di Laut Arafura. Model tersebut selanjutnya digunakan untuk mengestimasi angka acuan sasaran, yang merupakan tingkat kompromi optimal sasaran dari empat tujuan pengelolaan perikanan, dan jumlah optimal kapal penangkap udang.