1
A. Latar Belakang Masalah
Perdagangan di Pantai Barat Sumatera adalah kawasan Indonesia bagian barat (terutama kawasan sekitar Selat Malaka dan kawasan timur Sumatera Selatan) terletak di jalur perdagangan dan pelayaran yang strategis antara pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di dunia belahan timur dan barat, antara Cina dan Jepang di satu sisi dengan India, Arab dan Eropa di sisi yang lain. Posisi ini semakin diuntungkan oleh banyaknya tempat berlabuh yang aman, serta adanya angin musim yang bertiup secara teratur di kawasan tersebut.
Pada abad-abad menjelang dan awal kedatangan bangsa Eropa, di Pulau Sumatera juga bermunculan beberapa kerajaan dan bandar dagang. Kerajaan-kerajaan itu antara lain kerajaan Aceh, Minangkabau, Tulang Bawang dan kota-kota dagang yang terkenal waktu itu antara lain Barus, Pariaman, Tiku dan Aceh.1
Di kawasan lain di luar pulau Sumatera juga muncul beberapa kerajaan dan bandar dagang. Di pulau Jawa, di samping bandar-bandar dagang yang disebut di atas, juga muncul Bandar kerajaan dan Bandar dagang Banten dan Blambangan. 2
1
Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, (Jogjakarta: Penerbit Ombak, 2007), h. 51
2
Pada tahun 1596 adalah saat kedatangan pertama pedagang Belanda di Perairan Samudera Hindia dan berhasil berlabuh di Banten. Kehadiran kedua kelompok dagang tersebut di perairan pantai barat Sumatera terbatas pada perdagangan, sebab di sepanjang perairan tersebut terdapat beberapa bandar dagang, yang berada di garis pantai yang sempit, di kali pegunungan Bukit Barisan, diantaranya Salido, Bandar X, Padang, Pariaman, Tiku, Air Bangis, Natal, Sibolga, Sorkam, Barus, Singkil, dan Meulabuh.3 Aktivitas di perairan pantai barat Sumatera terbatas pada perdagangan, sebab di sepanjang peraiaran tersebut terdapat beberapa Bandar dagang yang berada di garis pantai yang sempit di kaki pegunungan Bukit Barisan, diantaranya Padang, Pariaman, Tiku, Air Bangis, Natal, dan Sibolga.
Para pedagang Eropa di Padang mempunyai pembantu dagang yang terdiri dari orang pribumi. Mereka mengutus orang pribumi untuk melakukan perdagangan ke Bandar yang letaknya lebih jauh dari Padang. Mereka sendiri tetap berada di Padang untuk melakukan kegiatan dagang dengan perusahaan lainnya. Kapal yang keluar masuk bandar Padang pada umumnya dinahkodai oleh orang pribumi yang sekaligus sebagai pedagang. Sudah umum di pantai barat Sumatera bahwa seorang pedagang yang belayar menggunakan perahunya sendiri. Jika terjadi sesuatu musibah atau keberuntungan menjadi tanggungjawab sendiri dan berani menanggung
3
Mhd.Nur, Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera Pada Abad ke-19 Sampai Pertengahan Abad ke-20, (Padang : Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), h. 28
resiko, seperti yang dilakukan oleh Moehammad Shaleh dan kawan-kawannya.4
Moehammad Shaleh Datoek Rangkayo Basa adalah seorang pedagang Minangkabau terkemuka pada peralihan abad ke-19 dan ke-20. Moehammad Shaleh lahir di Pasir Baru, Pariaman, Sumatera Barat pada tahun 1841 dan wafat pada tahun 1922. Beliau salah satu seorang dari sedikit pengusaha Indonesia pada abad ke-19 yang menulis otobiografinya. Beliau seorang entrepreneur pribumi yang gigih diantara saudagar lainya di pemerintahan kolonial Belanda. Moehammad shaleh adalah orang yang cerdik, lincah pernah berdagang dengan belanda.5
Kerja sama tentara Hindia Belanda dengan golongan tradisional dalam menghadapi kaum Paderi memang membuahkan hasil yang baik. Satu demi satu daerah yang semula dikuasai Paderi jatuh ke tangan pasukan gabungan Belanda dengan kaum tradisionalis. Dari Tanah Datar Belanda bergerak ke Agam dan selanjutnya ke Limapuluh Kota. Gerak maju pasukan Belanda di daerah pedalaman juga diiringi dengan gerak maju di daerah pantai. Kebetulan, pada tahun 1825 Air Bangis, Natal, dan Potjan (Tapanuli) yang menjadi basis terakhir Pemerintah Inggris diserahkan kembali kepada Pemerintah Hindia Belanda.6
Moehammad Shaleh menulis otobiografi diri sendiri lewat buku yang berjudul Riwayat Hidup dan Perasaian Saja yang beliau tulis pada tahun
4
Muhammad Saleh Datuk Orang Kaya, Riwayat Hidup dan Perasaian Saya, (Bogor : S. M. Latif,1975)
5
Suryadi, Minang Saisuak, Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar: Saudagar Besar Pariaman, diunduh pada tanggal 12 Juni 2017
6
1914. Pada tahun 1914, ia menyusun buku dimaksudkan sebagai kenang-kenangan hidup untuk anak cucunya. Itu adalah sebuah dokumen yang berharga dalam banyak hal. Tidak banyak dokumen otobiografi orang Indonesia yang menjangkau lebih jauh dari awal abad XX.
Moehammad Shaleh bukanlah seorang yang berpendidikan Barat atau seorang Nasionalis, melainkan seorang pedagang besar yang menjadi kaya berkat usahanya sendiri.7 Dalam buku ini ia menuliskan kisah lebih terperinci mengenai kegiatannya sehari-hari sebagai pedagang dan nasihat praktis mengenai kehidupan pada umumnya serta perdagangan pada khususnya, dari pada mengemukakan gagasan-gagasan tinggi atau proses kebangkitan politik. Otobiografi Moehammad Shaleh merekam karirnya di bidang perdagangan yang dimulai pada pertengahan tahun 1800-an dan diteruskan hingga lebih dari 50 tahun.8
Otobiografi Moehammad Shaleh telah banyak menjadi sorotan para sejarawan dan menghasilkan karya sejarah diantaranya:
1. Mestika Zed dalam bukunya yang berjudul Saudagar Pariaman Menerjang Ombak Membangun Maskapai: Riwayat Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa (1841-1921). didalam bukunya ini Mestika Zed menjelaskan tentang penulisan kembali otobiografi Moehammad Shaleh Datuk Rangkayo Basa (1841-1921) seorang nakhoda dan pedagang besar Minangkabau dari pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20. Moehammad Shaleh adalah seorang tokoh pedagang dengan kualitas
7
Nur Usman, Cermin Kehidupan Moehammad Shaleh Datoek Rangkayo Basa Saudagar Muslim Pariaman, Minangkabau Abad XIX, (Padang : Nur Usman Islamic Center, 2012), h. 1
8
entrepreneur, seperti ditulis oleh Mestika Zed, dan sekaligus manajer dalam pengertian modern yang merintis pendirian sebuah handel-maatschappij (perusahaan dagang) modern di kalangan pribumi Indonesia. Namun demikian, terlepas dari teori apapun yang paling cocok untuk menjelaskan “fenomena” Moehammad Shaleh, yang pasti riwayat hidup dan perjalanan kariernya sebagai saudagar sangat penting untuk ditulis dan diumumkan kepada publik.
2. Mhd. Nur dalam bukunya yang berjudul “Riwajat Hidup Dan Perasaian Saja” Dinamika Aktivitas Ekonomi Di Pantai Barat Sumatera. Didalam bukunya ini Mhd. Nur menjelaskan tentang fungsi bandar Pariaman bukan saja sebagai pusat perdagangan lokal, tetapi juga sebagai tempat keluar masuk barang perdagangan rempah-rempah di pantai barat Pulau Sumatera. Bandar dagang lainnya yang terdekat dengan bandar itu adalah Padang, Tiku, Air Bangis, Sasak, Natal, dan Sibolga. Para pedagang perantara membawa barang berupa kain sutra, candu, garam, dan keramik ke daerah pedalaman. Kemudian mereka menukarkannya dengan hasil hutan dan barang komoditi lainnya yang dimiliki oleh penduduk pedalaman, dan dibawa kembali ke kota bandar di Pesisir.9
Menurut Mhd. Nur Pelabuhan di Sumatera adalah bandar yang berorientasi maritim (pelayaran), sebagai pusat perdagangan dan pintu gerbang yang menghadap ke Samudera Hindia, kecuali Belawan yang berhubungan langsung dengan Selat Malaka.
9
M. Nur, Iriani, “Riwajat Hidup Dan Perasaian Saja”Dinamika Aktivitas Ekonomi di
Khusus mengenai teks naskah “Riwajat Hidup dan Perasaian Saja” telah pernah dikupas oleh Tsuyoshi Kato dalam buku yang diedit oleh Taufik Abdullah, Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang. Akan tetapi belum mengungkapkan isi naskah secara keseluruhan.
3. Nur Usman menulis bukunya yang berjudul Cermin Kehidupan Moehammad Shaleh Datoek Rangkayo Basa : Saudagar Muslim Pariaman, Minangkabau Abad XIX. Didalam bukunya ini Nur Usman menjelaskan tentang bagaimana jejak Perdagangan Moehammad Shaleh, Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX, dan di dalam buku yang ditulis Nur Usman juga membahas tentang Kisah Kehidupan Moehammad Shaleh Gelar Datoek Rangkayo Basa dan juga sedikit menyinggung masalah ayah Moehammad Shaleh.10
Dari buku yang ditulis oleh Nur Usman ini ada sisi lain yang tidak cukup dijelaskan dalam buku Cermin Kehidupan Moehammad Shaleh Datoek Rangkayo Basa: Saudagar Muslim Pariaman, Minangkabau Abad XIX dalam melakukan perdagangan sebelum mempunyai pengalaman, walaupun mereka seorang pedagang tetapi belum bisa memasuki pasar untuk berdagang, tetapi kita lihat dari pedagang yang terkenal di Pariaman yaitu Moehamad Shaleh.11
Moehammad Shaleh ini sudah pernah melawan seorang pedagang Cina yang bernama Tjia Biauw dalam melakukan monopoli perdagangan dalam menerobos pasar, ketika itulah Moehammad Shaleh pemenang dalam
10
Nur Usman, Op.Cit.
11
suatu persaingan dagang karena dia memiliki beberapa dari sifat-sifat yaitu cerdik, suka bekerja keras, hemat, jujur, pribadi yang tahan banting, percaya diri, pertualangan, berani menghadapi resiko dan luas pengetahuan.
B. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Dari uraian singkat mengenai latar belakang masalah yang telah penulis paparkan di atas, untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah yang hendak dijawab ke dalam penelitian adalah :
a. Bagaimana Mestika Zed menulis Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh?
b. Bagaimana Mhd. Nur menulis Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh?
c. Bagaimana Nur Usman menulis Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh?
2. Batasan Masalah
Agar penulis lebih terarah serta tidak terjadi penyimpangan, maka batasan penulisan dalam skripsi ini adalah
Penulisan Historiografi Saudagar Moehammd Shaleh dalam karya Sejarah tiga Penulis tentang Moehammad Shaleh. Analisa Terhadap Historiografi Saudagar Aktivitas Perdagangan Moehammad Shaleh dalam tiga Penulisan.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini diantaranya:
a. Untuk mengetahui Penulisan Biografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh.
b. Untuk mengetahui bagaimana Mestika Zed, Mhd Nur, dan Nur Usman menulis Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh.
2. Kegunaan Penelitian
Adapun Kegunaan Penelitian:
a. Agar mendapatkan informasi mengenai Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh Studi Komparatif atas tiga karya Sejarawan.
b. Agar dapat Khazanah kepustakaan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora.
c. Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Humaniora di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang.
D. Penjelasan Judul
Untuk menghindari keraguan dan kesalahpahaman dalam memahami judul Skripsi ini, maka penulis akan menjelaskan yang terdapat dalam judul ini adalah
Historiografi adalah sebuah penulisan sejarah mengenai bentuk dan proses pengkisahan atas peristiwa-peristiwa masa lalu umat manusia. 12 pada saat melakukan kegiatan penulisan, sesungguhnya sejarawan sedang mengerahkan seluruh daya dan pikirannya, bukan saja berkaitan dengan keterampilan teknik dalam mengutip dan membuat catatan, melainkan juga menggunakan pikiran-pikiran kritis dan analitis. Hal tersebut dimaksudkan agar sejarawan tersebut dapat menghasilkan suatu sintesis dari seluruh hasil penelitian dalam sebuah tulisan yang utuh yang disebut dengan historiografi. Dalam konteks seperti inilah historiografi diartikan sebagai penulisan sejarah karena definisi aslinya adalah sejarah Penulisan Sejarah.13
Saudagar Minang adalah pedagang besar.14
Moehammad Shaleh adalah seorang saudagar dan penulis Otobiografi angkatan pertama di Indonesia. Moehammad Shaleh dilahirkan di Pariaman dan hampir tidak pernah memperoleh pendidikan umum atau agama secara formal. Pengetahuan tulis baca, hitung dagang dan ilmu agama diperolehnya dari berbagai guru setelah dia mulai dewasa. Kesungguhan dalam belajar dan bekerja secara mandiri membuat Moehammad Shaleh sukses dalam perdagangan.15
12
Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitian Sejarah Islam, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2011)., h. 4
13
Muhamad Arif, Pengantar Kajian Sejarah, (Bandung: Yrama Widya, 2011), h. 40
14
Kamus Bahasa Minangkabau-Indonesia, ( Padang: Balai Bahasa Padang, 2012)
15
Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minagkabau, (Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), 2003), h. 188
E. Tinjauan Kepustakaan
Ada beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh sejumlah pihak yang berhubungan dengan kajian ini, diantaranya yaitu:
Gusti Asnan tahun 2007, yang berjudul “ Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”. Dalam buku ini membahas peranan penting Pantai Barat Sumatera dari berbagai aspek Sosial, Politik, Budaya, dan Ekonomi dalam pelayaran dan perdagangan di kawasan Pantai Barat Sumatera pada masa Kolonial Belanda. Dari buku yang ditulis oleh Gusti Asnan dengan penulis memiliki fokus yang berbeda adalah penulis membahas mengenai Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh. 16
Junaidi, Pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat pada Abad XIX hingga awal Abad XX, skripsi ini menjelaskan keberadaan dan aktivitas pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat pada abad XIX. Skripsi yang ditulis oleh mahasiswa USU Medan ini tidak ada kaitannya dengan permasalahan yang penulis angkat.17 Penulis fokusnya membahas Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh
Isrun Syukri, yang Perdagangan berjudul: Pengaruh Budaya dan Agama terhadap Intensitas Kota Bukittinggi ke Kota Seremban Negeri Sembilan Malaysia. Dalam skripsi ini membahas menggunakan analisis budaya dan agama dalam melihat intensitas perdagangan kota Bukittinggi dan
16
Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, (Jogyakarta: Penerbit Ombak, 2007)
17
Junaidi, Pelabuhan Air Bangis Sumatera Barat pada Abad XIX hingga awal Abad XX, diakses pada 8 Agustus 2017 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/52478/Cover.pdf?sequence=7&isAllowed= y
kota Seremban Malaysia yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh budaya Minangkabau dan agama Islam terhadap intensitas atau meningkatnya suatu kegiatan perdagangan. Kota Bukittinggi ke kota Seremban negeri Sembilan Malaysia terutama bagi para Pedagang Babelok dari kota Bukittinggi ke kota Seremban. Skripsi yang ditulis oleh Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora ini tidak ada kesamaan dengan permasalahan yang penulis angkat. 18
Abd Rahman Hamid 2013, yang berjudul Sejarah Maritim Indonesia. dalam buku ini pembahasannya menfokuskan pada kerajaan dan kesultanan Nusantara sampai awal masuknya pengaruh Eropa (Portugis dan Spanyol), dan buku kedua akan dijelaskan mengenai dinamika pelayaran dan perdagangan pada zaman kompeni (VOC) dan Hindia Belanda sampai terbentuknya pelayaran nasional Indonesia. Pada bagian ini kekuatan maritim pribumi perlahan surut, seiring kuatnya intervensi kekuatan laut asing. Laut nusantara. Buku yang ditulis oleh Abd Rahman Hamid ini tidak ada kesamaan dengan permasalahan yang penulis angkat. 19
F. Metode Penelitian
Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode penelitian Sejarah, yang dilakukan dalam bentuk Library Research (Penelitian Perpustakaan). dengan langkah-langkah sebagai berikut:
18
Isrun Syukri, Pengaruh Budaya dan Agama Terhadap Intensitas Perdagangan Kota Bukittinggi Ke Kota Seremban Negeri Sembilan Malaysia, Skripsi Fakultas Adab, IAIN IB Padang, 2007, t.d
19
1. Heuristik
Heuristik merupakan langkah awal dari penelitian untuk mengumpulkan sumber sejarah. 20Untuk mendapatkan data-data yang berhubungan dengan penelitian ini, penulis menelusuri sumber-sumber yang bersangkutan dengan topik penelitian yaitu Sumber primer adalah sumber utama yang berbentuk buku berjudul Riwajat Hidup dan Perasaian Saja: Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Basa ditulis ulang oleh S.M. Latif yaitu cucu dari Moehammad Shaleh, dan juga tiga sejarawan seperti Mestika Zed, Mhd. Nur, dan Nur Usman yang mengkaji ulang mengenai saudagar Moehammad. Sedangkan sumber sekunder adalah berupa buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan penulis.
2. Kritik Sumber
Setelah sumber didapatkan, langkah selanjutnya adalah melakukan kritik sumber, gunanya untuk mengetahui sumber-sumber sejarah yang masih ada atau masih orisinil (asli), baik dari bentuk maupun isinya pada sumber-sumber yang didapat dalam penelitian ini, maka diuji melalui kritik eksteren maupun kritik interen.
Kritik eksteren yaitu untuk menyelidiki atau meneliti keaslian sumber, bagaimana otensitasnya suatu sumber, dan apakah sumber tersebut masih asli atau tidak, sedangkan pada kritik interen yaitu
20
melakukan pengujian kandungan informasi yang terdapat pada sumber tersebut.21
3. Sintesis
Sintesis adalah bentuk lain dari kegiatan atau metode berfikir dengan melakukan analisa terhadap fakta-fakta yang telah peneliti peroleh, diantara fakta-fakta yang peneliti ataupun menentukan makna pernyataan atas dasar empirik terhadap informasi-informasi yang diperoleh.
Pada dasarnya pekerjaan sintesis adalah membuat jalinan fakta tersusun dan terkait dalam satu keseluruhan hingga membentuk rangkaian cerita sejarah yang logis. Kelogisan dalam cerita sejarah dititikberatkan kepada hubungan antara fakta yang didapat dari sumber-sumber sejarah dengan inferensi-inferensi yang dibuat untuk menghubungkan fakta-fakta yang ada itu. 22
4. Penulisan
Dalam hal ini penulis berusaha untuk memaparkan hasil penelitian dengan mendeskripsikan dalam bentuk karya tulis dengan menggunakan pendekatan deskriptif-naratif dan penulis juga menggunakan pendekatan deskriptif-analitis.
G. Sistematika Penulisan
Sebagai pedoman dan memudahkan penulis dalam melakukan penelitian maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
21
Irhash A. Shamad, Ilmu Sejarah: Perspektif Metodologis dan Acuan Penelitian, (Jakarta : Hayfa Press, 2003), h. 95
22
BAB I uraian tentang Pendahuluan sebagai kerangka awal dalam penyusunan penelitian dan penulisan skripsi. Bab ini meliputi Latar Belakang Masalah, Rumusan dan Batasan Masalah, Tujuan dan Keguanaan Penelitian, Penjelasan Judul, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II mendeskripsikan tentang Dinamika Kehidupan Moehammad Shaleh dan Karyanya yaitu berisi Biografi Moehammad Shaleh, dan karya Moehammad Shaleh.
BAB III mendeskripsikan Historiografi Saudagar Minang Moehammad Shaleh Studi Komparatif atas tiga karya sejarah yang berisi model Mestika Zed, Mhd.Nur, dan Nur Usman dalam penulisan Riwayat Moehammad Shaleh, yang berisikan metode pencarian sumber, metode pengolahan sumber, dan corak Penulisan tentang Moehammad Shaleh yang ditulis tiga sejarawan.
BAB IV Penutup berisi Kesimpulan dan Saran. Dalam bagian kesimpulan ini penulis menyimpulkan hasil penelitian secara tegas, lugas, dan dikembalikan kepada permasalahan yang diajukan pada awal penelitian. Penulis juga harus mampu memberikan saran konkrit serta operasional.