1 1.1 Latar Belakang Penelitian
Dekade pertama hingga ketiga abad ke-20 kolonialis Eropa telah menguasai hampir 85% permukaan bumi. Bagi masyarakat Hindia Belanda— sekarang Indonesia, periode yang paling berpengaruh terutama dalam perkembangan kebudayaan adalah masa kolonial. Dalam catatan historis, salah satu kolonialis Eropa yang menguasai Indonesia adalah Belanda selama kurun waktu 3,5 abad. Bentuk kolonialisme yang ditinggalkan Belanda tidak dapat hilang dari sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang diperoleh, belum menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah bebas secara keseluruhan.
Sejak akhir abad ke-18, Hindia Belanda dikuasai oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, selain mengambil alih usaha VOC, kekuasaan juga diperluas hingga mencakup kekuatan militer dan politik. Dalam melancarkan semua usaha tersebut, sejumlah tenaga didatangkan dari Belanda baik tenaga militer maupun sipil. Sebagian tenaga pribumi diperlukan, tetapi dengan pembagian kapasitas dan pekerjaan yang dibatasi. Bagi pribumi yang berasal dari golongan non priyayi, pekerjaan yang diberikan terbatas sebagai budak atau pekerja rendahan.
Poskolonialisme membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan hanya berbentuk fisik melainkan psike kepada bangsa yang terjajah. Penjajahan menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, politik maupun mentalitas. Bidang kajian poskolonialisme mencakup seluruh khazanah tekstual nasional, khususnya karya sastra yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Dalam hal ini, teori poskolonialisme memiliki posisi yang berkaitan erat dengan poskolonialisme dalam menganalisis berbagai gejala kultural termasuk sastra. Dalam karya sastra biasanya penulis pribumi memasukkan ideologi kolonial seolah-olah berada di bawah lisensi imperial. Dengan demikian, teori poskolonial dianggap mampu mengungkapkan masalah-masalah peristiwa sejarah koloni terdahulu di Indonesia khususnya dalam karya sastra.
Novel Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado merupakan salah satu novel yang menggambarkan keadaan pada zaman kolonial Belanda dengan latar belakang peristiwa terjadinya perang Aceh sekitar tahun 1896. Remy Sylado lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 12 Juli 1945 memiliki nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong (Japi Tambajong). Novel ini merupakan novel yang termasuk ke dalam novel fiksi sejarah. Hal itu ditandai dengan penceritaan tentang sebagian pribumi yang menjadi marsose Belanda untuk maju ke medan perang Aceh pada waktu 1873 hingga 1904. Adanya ketegangan-ketegangan yang timbul antara pihak bangsa Belanda dengan sasaran bangsa pribumi yaitu sebagian pejuang Aceh. Cerita yang diangkat oleh Remy Sylado diasumsikan dilatarbelakangi oleh kakeknya yang merupakan seorang tentara. Tokoh utama dalam novel ini yaitu
Jehezkiel Malikoe pun berasal dari Makassar yang ditandai dengan nama belakangnya bermarga Tambajong. Latar tempat yang digunakan pengarang dipengaruhi oleh latar belakang beliau yang semasa kecilnya pernah menetap di Semarang dan Solo.
Beliau memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), dan juga ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Sejak belia, beliau sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman populer, buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal dengan sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Selain menulis banyak novel, beliau juga dikenal piawai melukis, drama, dan mengetahui banyak film. Remy pernah dianugerahi hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2002 dengan novelnya Kerudung Merah Kirmizi. Karya sastra berbentuk novel yang telah dihasilkan Remy Sylado yakni Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas, Siau Ling, Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa, 1999), Kembang Jepun (2003), Kerudung Merah Kirmizi(2002), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004), Sam Po Kong (2004), dan yang terbaru adalah Malaikat Lereng Tidar (2014), serta masih banyak lainnya berupa puisi, drama, film ataupun sinetron.
Dalam kasus karya Remy Sylado, sejumlah karya besarnya banyak memakai latar sejarah. Sejarah yang dipakai dikemas cukup mendalam dan eksotis, seperti novel Malaikat Lereng Tidar sebagai objek peneliti mengambil
latar masa kolonialisme pada masa perang Aceh. Novel lainnya seperti Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa) yang mengangkat latar zaman kolonial di lingkungan pedagang Tionghoa, Siau Ling berlatar di kota Semarang abad ke-15, Kerudung Merah Kirmizi berlatar masa awal reformasi, dan Parijs Van Java berlatar masyarakat Belanda pada masa penjajahan Belanda. Fakta ini mengisyaratkan bahwa Remy Sylado selalu memposisikan sejarah sebagai “sisi lain” yang unik sebagai ciri khasnya dalam beberapa novel.
Novel Malaikat Lereng Tidar diterbitkan pada tahun 2014 oleh Kompas dan masuk ke dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-14. Novel ini mengangkat latar waktu zaman bangsa Belanda dalam keadaannya ingin melawan bangsa Aceh dengan menggunakan pribumi ikut serta sebagai tentara marsose KNIL. Pribumi yang ikut dalam pendidikan militer di Magelang di antaranya berasal dari Jawa, Ambon dan Minahasa. Tokoh utama diperankan oleh Jez yang lahir di Manado, menggambarkan laki-laki yang melakukan perjalanan untuk menjadi seorang marsose dari bangsa pribumi. Koloni Belanda memanfaatkan tenaga pribumi untuk membantu memenangkan Perang Aceh.
Terdapat pertemuan antara tokoh pribumi dan tokoh Belanda di dalam novel yang merepresentasikan stereotip masing-masing. Hal ini menunjukkan fenomena yang tercipta dari adanya paham Barat memandang Timur dan juga sebaliknya. Selain itu, tokoh-tokoh dalam novel terbentuk identitas melalui hibriditas, ambivalensi, dan mimikri. Pertemuan antarbangsa menciptakan ruang ketiga dan terbentuknya identitas yang terjadi karena Belanda datang ke Indonesia dengan kebudayaan dan ideologi yang berbeda. Novel ini
membangkitkan kembali ingatan imperial dan kolonialisme pembaca ketika Belanda menguasai Indonesia dengan jejak-jejak kolonialnya.
Oleh sebab itu, novel ini menarik untuk dijadikan bahan kajian guna mengetahui jejak-jejak kolonialisme dan sejauh mana dampak-dampak kolonialisme tampak dalam gambaran kondisi kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonial. Hal ini berkaitan dengan perspektif pengarang yang berasal dari bangsa pribumi. Teori poskolonial diasumsikan dapat menganalisis ciri-ciri dominan terlihat dalam novel ini di antaranya adalah terciptanya bentuk-bentuk stereotip yang berkesinambungan dengan pembentukan identitas melalui bentuk hibriditas, ambivalensi, dan mimikri.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, adapun permasalahan sebagai berikut.
1. Bentuk-bentuk stereotip tokoh dalam novel Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado
2. Ambivalensi, Mimikri, dan Hibriditas dalam novel Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian terhadap novel Malaikat Lereng Tidar memiliki dua tujuan utama, yaitu tujuan teoretis dan praktis. Tujuan teoretis penelitian ini adalah mengaplikasikan teori poskolonial untuk mengungkapkan stereotip tokoh Belanda dan tokoh pribumi dalam novel Malaikat Lereng Tidar dan mendeskripsikan identitas tokoh yang berbentuk ambivalensi, mimikri, dan hibriditas dalam novel Malaikat Lereng Tidar.
Selain itu, terdapat tujuan praktis dalam penelitian ini. Pertama, sebagai wujud pemikiran dalam memahami novel Malaikat Lereng Tidar dari sudut pandang poskolonial. Kedua, menambah keberagaman penelitian-penelitian terhadap novel dalam khazanah sastra Indonesia serta apresiasi terhadap novel Malaikat Lereng Tidar. Ketiga, penelitian terhadap novel Malaikat Lereng Tidar diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dan referensi bagi penelitian selanjutnya.
1.4 Tinjauan Pustaka
Berdasarkan hasil penelusuran peneliti terkait penelitian sebelumnya ditemukan beberapa penelitian yang memiliki topik yang sama. Penelitian-penelitian inilah yang digunakan oleh peneliti sebagai bagian dari pijakan pustaka dalam proposal penelitian ini. Adapun berikut beberapa tinjauan pustaka yang telah ditemukan oleh peneliti terkait objek dan teori yang digunakan oleh peneliti dalam proposal ini.
Pertama, La Madira dengan judul skripsinya “Representasi Kebudayaan Minahasa dalam Novel Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sastra Berkearifan Lokal. Penelitian Madira dengan objek material novel ini lebih berfokus untuk mendeskripsikan representasi kebudayaan Minahasa dan mendeskripsikan representasi pemanfaatan Novel Malaikat Lereng Tidar sebagai alternatif bahan ajar sastra berkearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan adanya representasi kebudayaan Minahasa berbentuk bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, peralatan hidup, dan teknologi, mata pencaharian, dan religi. Lalu novel ini dimanfaatkan sebagai alternatif bahan ajar sastra yang berkearifan lokal dengan menyesuaikan SK KD pada pembelajaran novel untuk SMP, SMA, dan SMK.
Kedua, Yohanes Denis Dwiputranto dengan judul skripsinya “Novel Paris Van Java: Darah, Keringat, dan Air Mata Karya Remy Sylado: Kajian Poskolonial”. Dalam skripsinya Dwiputranto mengungkapkan bahwa terdapat berbagai dampak dinamika kehidupan di masa kolonial dalam novel tersebut. Dampak tersebut melibatkan dua ras yang saling beroposisi yakni Barat dan Timur. Penelitian ini berfokus mencari efek-efek kolonialisme Belanda di Hindia Belanda yang dimunculkan pengarang. Dwiputranto memiliki tiga pembahasan dalam skripsinya yaitu mengenai posisi pengarang dalam konteks poskolonial. Pada pembahasannya tersebut Dwiputranto membahas karya sastra dalam poskolonial dan Remy Sylado sebagai pengarang dalam konteks poskolonial yang berkaitan dengan konteks sosial dan fakta dalam Paris Van Java. Selanjutnya, stereotip yang berasal dari tokoh Belanda terhadap diri maupun liyan dan stereotip
dari tokoh Bumiputera terhadap bumiputera maupun Belanda. Adanya stereotip-stereotip yang tercipta, Dwiputranto menemukan pertemuan yang muncul sebagai akibatnya berupa ambivalensi, hibriditas, dan mimikri.
Ketiga, Rahmi Yunita dengan skripsi berjudul “Novel De Winst Karya Afifah Afra: Tinjauan Poskolonial”. Dalam skripsinya, Yunita mendeskripsikan posisi pengarang dan kondisi-kondisi pasca-kolonial, mendeskripsikan hibriditas, mimikri, dan ambivalensi tokoh-tokoh dalam novel De Winst, serta menjelaskan bentuk resistensi kolonial. Yunita memiliki hasil penelitian yang berkaitan dengan deskripsi masing-masing rumusan masalahnya. Yunita menemukan bahwa pengarang pasca-kolonial mampu memposisikan, menampilkan, dan menciptakan pencitraan yang dialami oleh kaum bumiputera pada masa kolonial. Novel De Winst yang merupakan objek penelitiannya menitikberatkan pada wacana hibriditas dan mimikri dihadirkan dengan menggunakan sarana pakaian dan gaya hidup, serta adanya ambivalensi melalui pandangan beberapa tokoh yang cenderung mencintai sekaligus membenci Belanda. Dalam bentuk resistensi yang terdapat dalam novel De Winst, Yunita menemukan tidak hanya dilakukan melalui jalur politik-budaya, tetapi juga melalui jalur ekonomi.
Keempat, Dwi Oktarina dengan judul skripsinya “Prasangka Rasial dan Hibriditas dalam Syair Kompeni Welanda Berperang dengan Tjina: Tinjauan Poskolonialisme”. Penelitian Oktarina mendeskripsikan relasi antarbangsa sebagai akibat kontak antara kaum pribumi, Cina, dan bangsa Belanda yang ada di dalam teks SKWBdT. Relasi antar dua budaya menimbulkan konsep ambivalensi dan hibriditas. Oktarina menggunakan metode pembacaan kontrapuntal sebagai
upayanya karena naskah SKWBdT merupakan teks sastra klasik yang tidak ditransliterasikan kembali. Hasil penelitiannya Oktarina membuktikan bahwa hubungan antara bangsa pribumi, Cina, dan Belanda dalam teks SKWBdT diwarnai dengan saling melekatkan stereotip. Persepsi mengenai etnis Cina di mata pribumi didasarkan pada perbedaan ras, kelas, dan agama yang melahirkan stereotip membuat sekat antar kelompok bangsa. Selain itu, unsur ambivalensi dan hibriditas muncul secara kuat akibat dari interaksi budaya yang berbeda.
Kelima, Hanifah Yuliasari dengan judul skripsinya “Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura sampai ke Kelantan: Analisis Poskolonial (Stereotip dan Ambivalensi)”. Yuliasari meneliti dengan tujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku stereotip dan ambivalensi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi terhadap bangsa Melayu. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra lama, khususnya karya sastra Melayu klasik. Kesimpulan yang diperoleh pada penelitian ini adalah empat belas bentuk stereotip Abdullah terhadap bangsa Melayu, kebiasaan bangsa Melayu yang tidak menjaga kebersihan dan kesehatan, karakter pemalas bangsa Melayu, karakter penipu dan gemar memfitnah masyarakat Melayu, karakter masyarakat Melayu yang tidak beradab, kebudayaan Melayu yang irasional. Sedangkan perilaku ambivalensi Abdullah ditunjukkan dengan perhatian-perhatian yang diberikan terhadap masalah-masalah bangsa Melayu, kecintaan Abdullah terhadap bangsa Melayu, dan ungkapan-ungkapan yang ditujukan kepada bangsa Melayu.
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, diketahui bahwa Novel Malaikat Lereng Tidar belum dianalisis dengan kajian poskolonial sehingga perlu diadakan dengan objek novel tersebut. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca terkait dengan dampak kolonialisme. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki kebaruan dari segi pemilihan objek dengan teori yang sesuai yaitu teori poskolonialisme.
1.5 Landasan Teori
Kolonialisme berasal dari bahasa Latin colonia yang berarti pertanian atau pemukiman. Koloni berarti daerah pendudukan, penaklukan, atau penguasaan, sedangkan kolonial adalah pihak yang meng-koloni. Proses penaklukan pihak kolonial terhadap daerah koloni disebut kolonisasi. Dari istilah-istilah tersebut selanjutnya lahir kolonialisme, yang berarti penaklukan dan penguasaan atas tanah dan harta penduduk asli oleh penduduk pendatang dan selanjutnya membentuk pemukiman baru. Dalam membentuk pemukiman baru oleh pendatang kerap terjadi hubungan yang kompleks dan traumatik dalam sejarah manusia, antara penduduk lama dan pendatang. Sianipar (2004: 9) menyebutkan bahwa terkadang pembentukan koloni baru ini ditandai oleh usaha membubarkan komunitas-komunitas yang sudah ada dengan melibatkan praktik-praktik perdagangan, penjarahan, pembunuhan massal, perbudakan, dan pemberontakan-pemberontakan.
Penjajahan, penindasan, atau penguasaan terhadap penduduk asli oleh pendatang tidaklah berlangsung tanpa perlawanan. Berbagai bentuk perlawanan juga ditunjukkan oleh penduduk asli yang pada akhirnya berujung pada dekolonisasi, yaitu pengusiran penjajah oleh terjajah. Dengan terusirnya penjajah atau pihak kolonial tersebut, maka secara harfiah kolonialisme sudah berakhir, dan penduduk yang sebelumnya menjadi koloni secara langsung berada dalam masa poskolonial (dalam bahasa Inggris: post-colonial).
Namun, Loomba (dalam Sianipar, 2004: 25) mempersoalkan bahwa ketika kolonialisme diartikan sebagai penaklukkan negara imperial terhadap negara koloni, sedangkan dalam tata dunia global penguasaan terhadap negara-negara koloni belum berakhir, maka sebenarnya kolonialisme ini belum berakhir. Oleh karena itu, penggunaan istilah poskolonial menjadi kurang relevan sebab proses penguasaan yang dialami lewat bentuk-bentuk dan sistem-sistem baru belumlah berakhir. Dasar-dasar epistemologi poskolonial pun kemudian menjadi perdebatan di berbagai kalangan.
Studi poskolonial yang relatif masih baru memang menimbulkan kegairahan, kebingungan, skeptisisme, sekaligus kesulitan bagi pelbagai pihak yang mendalaminya (Sianipar, 2004: 7). Kesulitan itu sebagian akibat dari sifat interdisipliner studi poskolonial yang merentang dari analisis literer hingga ke riset atas arsip-arsip pemerintah kolonial, dari kritik atas naskah medis hingga teori ekonomis, serta terkadang menggabungkan bidang tertentu dengan bidang lainnya, seperti bidang sejarah, sosial, budaya, hingga politik.
Dasar semantik istilah poskolonial berkaitan dengan kebudayaan-kebudayaan nasional setelah runtuhnya kekuasaan imperial (Aschroft, dkk, 2003: xxii). Istilah poskolonial digunakan untuk mencakup seluruh kebudayaan yang pernah mengalami kekuasaan imperial dari awal sejarah kolonisasi hingga kurun waktu masa kini. Hal ini disebabkan adanya kontinuitas penjajahan yang terus berlangsung semenjak dimulainya agresi imperial bangsa Eropa hingga sekarang ini. Oleh sebab itu, menurut Aschroft, dkk (2003: xxii), istilah poskolonial merupakan istilah paling tepat untuk menyebut kritik-kritik lintas-budaya yang muncul akhir-akhir ini serta wacana yang dibentuknya.
Pada sisi lain, istilah poskolonial juga tidak jarang digunakan untuk membedakan masa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan makna dari istilah tersebut. Istilah poskolonial merupakan serapan dari bahasa Inggris post-colonial. Apabila dikaitkan dengan bahasa Indonesia, kata post juga dapat dipadankan dengan kata pasca yang berarti masa sesudah. Oleh karena itu, terdapat pula istilah pascakolonialisme, seperti yang digunakan oleh Faruk. Menurut Faruk (2007: 5), pascakolonialisme adalah sebuah terminologi dalam ilmu pengetahuan humaniora yang mengkaji seluk beluk pengaruh kekuasaan politik dan kebudayaan kolonial terhadap bangsa terjajah sampai masa kemerdekaan bangsa tersebut.
Pada dasarnya antara istilah poskolonial dan pascakolonial memiliki cakupan makna yang sama. Namun, untuk menghindari kerancuan makna ataupun kesalahpahaman tafsir, dalam penelitian ini akan dibedakan penggunaan kedua terminologi tersebut. Istilah poskolonial selanjutnya akan digunakan untuk
menyebut kritik lintas budaya yang meliputi seluruh kebudayaan yang pernah mengalami kekuasaan imperial dari awal sejarah kolonisasi hingga kurun waktu saat ini, sedangkan istilah pascakolonial akan digunakan untuk menyebut masa sesudah kolonial atau masa sesudah runtuhnya kekuasaan imperial.
Teori poskolonial mencakup tiga kemungkinan pilihan perhatian. Pertama, pada kebudayaan masyarakat-masyarakat yang pernah mengalami penjajahan bangsa Eropa, baik berupa efek penjajahan yang masih berlangsung sampai pada masa pascakolonial maupun kemungkinan transformasinya ke dalam bentuk-bentuk yang disebut neokolonialisme (internal maupun global). Kedua, respons perlawanan atau wacana tandingan dari masyarakat terjajah maupun yang lainnya terhadap penjajahan itu, tanpa menghilangkan perhatian pada kemungkinan adanya ambiguitas atau ambivalensi. Ketiga, segala bentuk marginalitas yang dikaitkan oleh segala bentuk kapitalisme (Lo dan Helen dalam Faruk, 2007: 15). Melalui sudut pandang ini, poskolonial dapat diartikan sebagai suatu perangkat teori untuk menjelaskan relasi antara bangsa penjajah dan bangsa terjajah dalam masa kolonial, serta dampak dari penjajahan tersebut hingga pada masa pascakolonial.
Ashcroft, dkk, (1998: 192) mengartikan pembacaan poskolonial sebagai strategi membaca dan pembacaan kembali teks-teks, baik teks budaya metropolitan maupun budaya koloni, yang memberikan perhatian mendalam atas efek-efek terpendam dan tidak terelakkan dari kolonialisme Eropa dalam suatu produksi literatur. Oleh karena itu, kerangka berpikir pembacaan poskolonial dapat diaplikasikan untuk meneliti teks-teks pascakolonial, atau merupakan
pembacaan yang bersifat dekonstruktif terhadap teks-teks yang menjadi objek kajiannya. Kerangka berpikir pembacaan poskolonial ini sering disebut dengan istilah poskolonialisme. Day dan Foulcher (2006: 3), menggunakan istilah poskolonialisme untuk menyebut suatu strategi kritik yang ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membantu mengidentifikasikan jejak-jejak kolonialisme dalam teks-teks sastra maupun kritik, serta mengevaluasi sifat dan arti penting efek-efek tekstual dari jejak-jejak itu. Istilah poskolonialisme tidak hanya mengacu pada jejak-jejak sastra dan efek-efek kolonialisme, tetapi juga mengacu pada posisi subjek dari penulis pascakolonial dan suara-suara naratifnya, dengan cara mengarahkan perhatian pada konteks lebih luas di mana makna diproduksi di dalam dan di seputar teks sastra atau teks kritik tersebut.
Menurut Ashcroft, dkk. (2003; cf. Barker, 2004:226—227) karya sastra dianggap sebagai sumber terpenting sebab kekuasaan ditanamkan dalam bahasa sebagai medium utama karya sastra. Literatur poskolonial adalah karya-karya yang dihasilkan oleh orang-orang koloni dari bekas koloni Eropa, hubungan antara masa kolonial dengan waktu sesudahnya dibangun dengan cara “diceritakan kembali”. Adanya asumsi hingga kini sepertiga penduduk dunia masih terkontaminasi oleh pengalaman kolonial. Karya sastra dalam berbagai bentuknya merupakan objek yang dapat dianalisis dengan teori poskolonial dan memberikan makna yang berbeda dibandingkan makna oleh teori lain.
Loomba (2003: 92) mengatakan, teks sastra merupakan sebuah zona kontak yang penting dalam kajian poskolonial. Dalam sebuah teks, berbagai perbedaan ideologis dalam masyarakat kolonial berinteraksi dan saling
berkonflik. Melalui lembaga-lembaga seperti pasar dan institusi pendidikan, teks-teks sastra memainkan peranan penting dalam membangun suatu otoritas kultural bagi para penjajah, baik pada wilayah metropolis maupun kolonial.
1.5.1 Stereotip
1.5.1.1 Teori Orientalisme
Wacana Orientalisme yang sebelumnya dikemukakan oleh Erdward Said menegaskan bahwa “there is always...the suggestion that colonial power and discourse is possesed entirely by the coloniser”. Stereotipe yang dijabarkan Said antara hubungan Barat dan Timur merupakan pengelompokan yang tetap. Barat bertindak sebagai superior, modern, menjajah, dan yang lain dikelompokkan sebagai kelompok terjajah, terbelakang, misterius, serta tempat menarik untuk dikunjungi. Dalam wacananya, Said jelas menggambarkan hubungan yang kaku (antara Barat dan Timur) sebagai sudut pandang masyarakat Barat memandang rendah masyarakat Timur.
Satu fitur penting dari wacana kolonial adalah ketergantungan pada konsep kepastian dalam pembangunan ideologi keberbedaan. Ketetapan sebagai tanda budaya, sejarah, perbedaan ras dalam wacana kolonialisme adalah representasi yang berkonotasi atas kekakuan dan perintah yang tidak berubah. Stereotip yang termasuk dalam salah satu konsep poskolonial, adalah bentuk pengetahuan dan identifikasi antara pihak superior terhadap inferior (Bhabha, 1994: 95). Stereotip juga mencakup idealisasi selektif terhadap liyan. Liyan yang dimaksud di sini
adalah bentuk-bentuk objektif terhadap ras atau bangsa lain. Hegemoni gagasan Barat terhadap Timur sebagai liyan dari Eropa, merupakan praktik yang sengaja diciptakan untuk mendukung superioritas Eropa (Barat) (Said, 2010: 8-10).
Awal mula bangsa Barat melakukan ekspansi ke dunia Timur bertujuan untuk melakukan peziarahan. Dengan alasan tersebut, mereka mengunjungi, memotret, bahkan mengeksploitasi dunia Timur. Kemudian dari peziarahan berlanjut kepada penulisan pengalaman selama berada di Timur. Pengalaman pribadi tersebut menjadi sebuah jurnal ilmiah yang digunakan sebagai bahan kajian ketimuran bagi kepentingan Barat. Selama Barat berada di Timur, mereka tetap menutup diri dari pengaruh ketimuran. Oleh karena itu, tulisan Barat terhadap Timur sama sekali tidak terpengaruh terhadap studi ketimuran. Barat menjadikan Timur sebagai panggung imajinatif, yang pada akhirnya dapat dieksploitasi sesuai dengan kepentingan mereka sendiri (Said, 2010: 257).
Pandangan yang dibentuk Barat terhadap Timur inilah yang disebut dengan stereotip. Pada saat pasukan dan pejabat kolonial Inggris mulai berdatangan ke Malaka, mereka memandang masyarakat Melayu dengan pandangan yang merendahkan. Inggris memandang bangsa Melayu tidak memperoleh tingkat perkembangan intelektual yang tinggi, memiliki karakter primitif dan tidak beradab (Alatas. 1988:53).
1.5.1.2 Teori Oksidentalisme
Wacana Orientalisme muncul dengan hadirnya buku Orientalisme yang ditulis oleh Edward W. Said. Buku tersebut dianggap menelanjangi Barat atas praktik-praktik yang menyudutkan Timur. Semangat Timur bangkit dan semakin berani menunjukkan eksistensi di depan dunia Barat, yaitu dengan melahirkan wacana tandingannya, Oksidentalisme. Terminologi Oksidentalisme berasal dari kata dasar Occident yang berarti „barat‟, Oksidentalisme diarahkan sebagai reaksi atas eurosentrisme dan perlunya melakukan perubahan dari transferensi ke inovasi (Tasmuji, 2011 : 27). Oksidentalisme merupakan wajah lain dari Orientalisme yang melihat Timur sebagai liyan, mempunyai tujuan mengurangi simpul sejarah yang mendua antara ego dengan liyan. Oksidentalisme dibangun di atas ego yang netral dan tidak berambisi merebut kekuasaan, dan hanya menginginkan pembebasan (Shimogaki, 2001).
Beragam persoalan dihadapi oleh masyarakat poskolonial, di antaranya adalah persoalan kompleksitas menentukan identitas. Sejak penjajahan Barat, baik melalui pemikiran dan kekuatan ideologi yang menguasai kawasan Timur, lambat laun membangkitkan Timur dari sejarah peradaban. Kebangkitan Timur melalui Oksidentalisme mempunyai tujuan untuk menumbangkan superioritas the other (Barat) dengan menjadikannya objek kajian.
Gagasan Oksidentalisme pertama kali digulirkan oleh Hasan Hanafi. Tasmuji (2011) mengungkapkan kerangka epistemologis yang dibangun Hasan Hanafi adalah untuk membebaskan diri dari pengaruh pihak lain sehingga lahir kesetaraan antara dunia Barat dengan Timur. Pernyataan Hasan Hanafi dalam
bukunya yang berjudul Muquaddima Fi’ilm Al-Istighrab (Introduction to the Science of Occidentalism) (1992) cukup tegas bahwa Oksidentalisme bukanlah lawan Orientalisme. Dengan demikian kajian ini secara konstruktif menginginkan adanya perdamaian, toleransi, kerjasama dan kesetaraan.
Oksidentalisme bertugas mengurai inferioritas Barat dengan menjadikannya sebagai objek yang dikaji. Kesetaraan antara Barat dan Timur merupakan tujuan utama Oksidentalisme, yaitu dengan menumbangkan superioritas Barat dan menghilangkan rasa tidak percaya diri atau inferiority complex oleh Timur di hadapan Barat. Hubungan antara Barat dan Timur adalah hubungan kekuatan, dominasi, hubungan berbagai derajat hegemoni yang kompleks (Said, 2010: 5). Hasan Hanafi merupakan salah satu pemikir poskolonial yang mengkritik Barat dengan Oksidentalisme sebagai manifestasi dari sikapnya terhadap Barat. Meskipun melakukan serangan balik terhadap Orientalisme, Oksidentalisme hanya ingin membebaskan diri dari hegemoni Barat, dan mendongkrak inferioritas Timur demi posisi yang sejajar dengan Barat (Maarif, 2013: 11).
Oksidentalisme digagas untuk menggerakkan kreativitas aku dan menentukan hubungan dialektis antara aku dan liyan. Oksidentalisme ditujukan untuk menghilangkan inferioritas aku (Timur) dengan menjadikannya sebagai pengkaji dan menumbangkan superioritas liyan (Barat) dengan menjadikannya bahan kajian. Bagi Hanafi, kebangkitan Arab-Islam merupakan kebangkitan bangsa-bangsa dunia ketiga yang tersebar di Asia, Afrika, dan Amerika latin. Jika dunia ketiga bisa diidentifikasi pula dengan Timur, maka kegemilangan peradaban
yang dulu berpindah dari Timur ke Barat kini akan berpindah lagi dari Barat ke Timur (Maarif, 2013: 44). Dari paparan di atas Hanafi tidak secara jelas mendeskripsikan aku, aku dapat berarti negara Islam-Arab, bangsa dunia ketiga dan Timur.
Sedangkan liyan dalam Oksidentalisme sudah jelas mengarah pada Barat. Hanafi mengungkapkan “Bagi bangsa-bangsa dunia ketiga di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, liyan adalah Barat. Aku peradaban-peradaban pinggiran, sementara liyan peradaban pusat”. Liyan adalah Barat yang menjajah di masa lalu dan meninggalkan jejak imperialisme budaya. Tidak hanya dari segi bahasa, arsitektur, pakaian dan kebudayaan yang hanyut dalam arus westernisasi, para intelektual Timur pun mulai menguasai gagasan Barat. Hanafi pada akhirnya menggagas Oksidentalisme sebagai manifestasi perlawanan aku terhadap liyan.
Ketika mengkaji Barat, Hanafi pertama-tama mengasumsikan Barat sebagai peradaban sentrifugal, peradaban yang menjauh dari pusat dan berkembang tanpa membangun. Atas dasar itu Hanafi menggunakan metode historis-diakronis dalam mengkaji perkembangan Barat (Maarif, 2013: 32). Pada dasarnya metode historis-diakronis, menurut Hanafi, dilakukan dengan mengkaji peristiwa-peristiwa sejarah dengan mengkomparasikan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, menggabungkan pengalaman-pengalaman perasaan diri dan realitas-realitas lampau sebagai pengalaman perasaan, dan mengaitkan makna-makna dengan cara membaca masa kini dengan masa lampau dan merasakan masa lampau dengan masa kini.
Sastra pascakolonial di Afrika menurut Gugelberger (1999: 513) dibagi menjadi tiga klasifikasi, kelompok pertama adalah sastra yang menanggapi kolonialisme, yang kedua adalah sastra encomiastic yaitu waktu transisi yang berkaitan dengan peringatan peralihan kedaulatan dan nasionalisme suatu bangsa, kelompok ketiga adalah sastra yang menyoroti fungsi atau manfaat kemerdekaan yang diperoleh yaitu kemerdekaan penuh sebagai suatu negara berdaulat. Pembentukan sastra pascakolonial memiliki kaitan erat dengan kondisi sejarah yang menjadi latar karyanya, oleh sebab itu sejarah sering dijadikan titik tolak penulisan karya sastra. Sejarah bukan lagi menjadi satu-satunya sumber untuk memahami peristiwa masa lalu suatu masyarakat, namun sastra juga merupakan alat untuk menyampaikan gagasan yang melatari terjadinya peristiwa sejarah yang tidak dapat disampaikan (Prasaja, 1998: 24).
Metode historis-diakronis yang digunakan Hasan Hanafi memanfaatkan sejarah masa lalu dalam mengkaji kesadaran Barat. Kesadaran Barat adalah kesadaran diri dalam perasaan yang terkait dengan peradaban. Metode ini bergerak mengkaji peristiwa-peristiwa sejarah dengan cara mengkomparasikan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Tugas peneliti adalah mentransformasikan objek sebagai sejarah, peristiwa atau realitas demi menentukan cara pandang dunia (Maarif, 2013: 33).
1.5.2 Identitas
Bhabha kemudian menanggapi wacana ini dalam esai berjudul “The Other Question” dalam buku The Location of Culture, “there is a space „in-between the designation of identity” yang berarti bahwa selalu ada ruang ketiga di dalam proses terbentuknya sebuah identitas. Menurut Bhabha tidak ada identitas yang murni terbentuk, Bhabha juga menambahkan bahwa identitas adalah unsur yang bersifat dinamis dan terus berubah. Identitas seperti ini yang dimaksud Bhabha sebagai identitas yang kokoh yang terlahir dari identitas-identitas lain. Bhabha memberikan alternatif pembacaan relasi antara identitas penjajah dan terjajah dengan lebih bernuansa karena identitas stabil tak berubah dan selalu berada dalam ketegangan. Penyelesaian yang ditawarkan adalah menyibak ruang antara dua kategori yang dianggap stabil yaitu penjajah dan si terjajah. Bhabha menyebut ruang antara itu sebagai ruang ketiga atau ruang liminal. Pada ruang ini kaum terjajah menemukan strategi perlawanan terhadap dominasi wacana penjajah. Kaum terjajah melawan bukan dengan cara frontal, melainkan dengan “perselingkuhan” budaya dengan mengambil alih nilai-nilai budaya penjajah dan mengawinkannya dengan kebudayaan bangsa terjajah itu sendiri sehingga menghasilkan identitas dan cara hidup yang baru (ruang ketiga).
Dalam membangun ruang ketiga, Bhabha tidak mempermasalahkan seberapa menindasnya kolonialisme penjajah kepada si terjajah. Bhabha dominan mempersoalkan tajamnya pembedaan kedua kategori itu yang dipandangnya mengekalkan oposisi biner yang telah dikritik oleh pemikir Perancis, Jacques Derrida (1930—2004). Derrida menuduh wacana Barat didominasi oleh binerisme
yang membagi dua dengan ketat identitas-identitas seperti putih/hitam, Barat/Timur, penjajah/terjajah, laki-laki/perempuan, dan seterusnya. Dalam penolakan identitas tersebut, situasi ini menunjukkan dinamika pembentukan identitas yang terus berubah dan strategi “bertahan” dari landasan budaya dominan. Penolakan dan kerja sama antara penjajah dan si terjajah tak saling meniadakan (mutually exclusive), melainkan masing-masing kategori saling menghidupi dan menciptakan; penjajah melahirkan si terjajah dan menghidupinya, juga sebaliknya si terjajah dapat menciptakan si penjajah yang baru dan seterusnya.
Identitas memang tidak akan ditemukan dengan pasti. Identitas bukan produk yang telah terbentuk sebelumnya atau produk yang telah selesai. Identitas adalah kemampuan seseorang untuk melanggengkan suatu narasi tentang diri (Bhabha, 1994:51)
1.5.2.1 Ambivalensi
Ambivalensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikaitkan dengan studi psikologi. Ambivalensi adalah “perasaan tidak sadar yang saling bertentangan terhadap situasi yang sama atau terhadap seseorang pada waktu yang sama”. Bhabha mengambil istilah dari psikologi tetapi penyebab kondisi tersebut dikaitkan dengan kolonialisme. Ambivalensi dijelaskan sebagai sebuah kondisi fragmentasi dan duplikasi tiada henti dan tidak mudah untuk diperkirakan.
Manusia pada kondisi kolonialisme seringkali ditemukan upaya-upaya peniruan terhadap sosok kolonial. Upaya peniruan tidak pernah berjalan dengan sempurna sehingga menimbulkan ambivalensi.
Bhabha menelusuri jejak-jejak poskolonialisme dan menemukan fakta bahwa gambaran langsung dari paduan hanya ruang ambivalen dan perilaku-perilaku kontradiktif (Bhabha, 1994:38). Subjek-subjek kolonial kemudian mewujud dalam posisi yang bimbang, ragu ataupun bahkan tegas namun ironik atas segala pilihan mengenai jati diri dari kategori dan klasifikasi yang tersedia di wacana kolonial. Bhabha kemudian “mengisyaratkan bahwa pantulan pandangan penjajah, pembiasan melalui prisma „serupa tapi tak sama‟ itu menimbulkan efek destabilisasi terhadap „tuntutan narsistik otoritas kolonial‟ “ (Foulcher, 2006:107). Gejala ambivalensi mengarahkan pada kondisi fragmentasi dan duplikasi tiada henti dan juga tidak mudah untuk diperkirakan. Kedua pihak yaitu penjajah dan si terjajah mengalami situasi ini karena penataan kolonial dilakukan tidak hanya secara khusus kepada si terjajah tetapi juga para penjajah. Situasi keadaan kolonial ditata sedemikian rupa agar dapat berjalan sesuai irama yang mengarah pada „misi pengadaban‟ kolonialisme.
1.5.2.2 Mimikri
Pengertian mimikri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebatas pengertian yang berkaitan dengan studi biologi. Dalam kamus, mimikri adalah
“tindakan menirukan (misal suara kera atau jalannya katak) atau penyesuaian diri (dengan mengubah warna dan sebagainya) sesuai dengan alam sekitarnya untuk melindungi diri dari bahaya (misalnya pada bunglon). Mimikri dalam studi poskolonialisme, khususnya pandangan Bhabha (1994) adalah “reproduksi belang-belang subjektivitas Eropa di lingkungan kolonial yang sudah “tidak murni”, tergeser dari asal-usulnya dan terkonfigurasi ulang dalam cahaya sensibilitas dan kegelisahan khusus kolonialisme (Foulcher, 2006:105). Foulcher menjelaskan bahwa mimikri dapat dilakukan oleh pihak penjajah maupun si terjajah, menghasilkan efek-efek yang ambigu dan kontradiktif.
Hasil mimikri tersebut disebabkan oleh upaya otoritas kolonial yang terus berusaha mengendalikan dengan ketat peniruan yang dilakukan oleh pihak terjajah. Pengendalian itu adalah membatasi peniruan agar “jangan sampai melewati batas-batas „rasa terima kasih‟ ataupun agar jangan sampai “mengajukan tuntutan untuk memperoleh otoritas [...] yang tidak pernah dimaksudkan untuk si terjajah” (Foulcher, 2006:108). Kondisi mimikri tersebut adalah sebuah pilihan yang diberikan Bhabha sebagai tanggapan untuk pandangan Frantz Fanon tentang “pilihan psikis yang dihadapi oleh kawula-kawula kolonialisme” (Foulcher, 2006:108). Menurut Fanon pilihan bagi mereka hanyalah dua yaitu menjadi putih atau menghilang (Foulcher, 2006:108).
1.5.2.3 Hibriditas
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia „hibrida‟ memiliki pengertian (1) turunan yang dihasilkan dari perkawinan antara dua jenis yang berlainan, dan (2) kata kompleks yang bagian-bagiannya berasal dari bahasa berbeda. Dalam kajian poskolonialisme, hibriditas dipahami sebagai “cara untuk mengacu pada interaksi antara bentuk-bentuk budaya berbeda, yang satu saat akan menghasilkan pembentukan budaya-budaya dan identitas-identitas baru dengan sejarah dan perwujudan tekstual sendiri (Day and Foulcher, 2006:12). Adanya pertemuan-pertemuan antara penjajah dan si terjajah akan menimbulkan tumpang tindih dan „sinkretisme‟ budaya. Pemahaman adanya pembentukan budaya baru atau „produk paduan budaya‟ dapat dikaitkan dengan karya Macaulay yang ditulis Bhabha. Bhabha menjelaskan bahwa adanya obsesi dari kolonialisme dalam menciptakan manusia-manusia baru: “tubuh berwarna hitam tetapi selera serupa dengan kulit putih” (Bhabha, 1994:87). Namun, praktik langsung dari kolonialisme dan yang menjadi ruang atas hadirnya kemungkinan akan hibriditas ternyata tidak selalu sekuat obsesinya.
Konsep terpenting hibriditas Bhabha adalah di mana satu kebudayaan tidaklah terlahir secara mutlak dengan sendirinya. Menurut Bhabha kebudayaan adalah hasil dari perpaduan dengan kebudayaan lain yang kemudian menghasilkan kebudayaan baru yang disebut ruang ketiga. Teori hibriditas dianggap penting keberadaannya karena dianggap mampu mengangkat masyarakat dalam ruang ketiga ini. Bhabha menegaskan bahwa masyarakat terjajah bukan tunduk kepada nilai-nilai kebudayaan bangsa terjajah itu sendiri, melainkan masyarakat terjajah
melakukan resistensinya melalui sikap tidak menerima secara pasrah dominasi kaum penjajah. Sikap tersebut ditunjukkan melalui “perselingkuhan” kebudayaan dengan mencampurkan unsur-unsur yang terdapat dalam dua kebudayaan. Melalui ruang ketiga secara tidak langsung dapat ditegaskan Barat tidak selalu superior dan Timur tidak selalu terbelakang. Hal itu dilihat dari tidak semua nilai-nilai Barat diangap cerdas, modern, patut diakui dan tidak selalu nilai-nilai Timur terbelakang, tidak terdidik, dan perimitif. Peranan ruang ketiga inilah membentuk sebuah identitas yang merupakan gabungan nilai-nilai kedua bangsa yang terlibat dalam sebuah skenario masa penjajahan.
Kebudayaan cenderung berubah sejalan dengan berbaurnya kebudayaan lain di dalam sebuah kebudayaan sehingga dapat hidup beberapa identitas. Studi poskolonialisme dominan ke arah bagaimana masyarakat poskolonialisme mampu resist di antara dua kebudayaan dan salah satunya dianggap lebih tinggi. Dalam hibriditas, dua kebudayaan setara memiliki nilai-nilai baik sekaligus buruk sehingga setiap kebudayaan saling membutuhkan—Barat maupun Timur. Konsep hibriditas atau ruang ketiga yang diawarkan Bhabha merupakan solusi bagi masyarakat yang hidup di antara benturan kebudayaan yang berbeda.
1.5.2.4 Fokalisasi
Hubungan antar unsur-unsur peristiwa atau situasi dengan visi yang disatukan pencerita kepada pembaca disebut fokalisasi (fokus atau kancah
perhatian) dan merupakan objek langsung bagi teks naratif. Objek fokalisasi dapat berupa orang, lembaga, maupun lingkungan dari mana deretan peristiwa itu dipandang. Fokalisasi dapat dilakukan oleh pencerita sendiri maupun tokoh-tokoh dalam cerita (Bal dkk, 1985: 131). Narator adalah pihak yang dianggap sebagai sumber ungkapan bahasa yang membangun cerita. Subjek narator atau sudut pandang, yaitu orang yang melihat atau melakukan visi atau perspektif, disebut juga fokalisator.
Fokalisator internal dapat berupa subjek pencerita orang pertama atau si “aku” yang bercerita tentang dirinya sendiri. Fokalisator “aku” dapat juga bertingkat-tingkat berdasarkan waktu penceritaan. Misalnya, “aku” dewasa bercerita tentang dirinya ketika kecil, remaja, dewasa, menjadi fokalisator si “aku” kecil, si “aku” remaja, hingga si “aku” dewasa. Perubahan sudut penceritaan tersebut mengubah (atau bergantian) bentuk fokalisasi internal menjadi fokalisasi eksternal. Fokalisator internal bahkan lewat visinya sendiri dapat menampilkan visi tokoh lain (Bal dkk, 1985: 132—133)
Fokalisator eksternal lebih merupakan pengangkut kisahan atau agen pencerita (Bal, 1977:37, via Rimmon-Kenan, 1983:74). Fokalisator eksternal tidak mengambil bagian dalam cerita, tetapi bukan berarti ia tidak dapat muncul dalam cerita. Terkadang fokalisator eksternal menyebut namanya dan memberi komentarin mengenai peristiwa dan tokoh-tokoh lain dalam cerita (Bal dkk, 1991:118). Terkadang juga seluruh cerita difokalisasikan oleh seorang fokalisator eksternal yang tidak disebut namanya (Bal dkk, 1985:132).
Karakter tokoh-tokoh dalam cerita dicirikan oleh cara mereka memandang tokoh maupun segala ikhwal di sekitarnya. Tokoh-tokoh menjalin hubungan dan saling memberi informasi mengenai diri tokoh-tokoh tersebut, sehingga terbuka kemungkinan untuk mengetahui hubungan antara subjek dan objek fokalisasi. Bagaimana seorang tokoh dipandang, dinilai, dan diperlakukan (termasuk memandang, menilai, dan memperlakukan diri tokoh sendiri)—baik oleh fokalisator eksternal maupun tokoh-tokoh lain—dapat ikut menentukan cara pandang pembaca terhadap tokoh tersebut (Bal dkk, 1985:137).
Fokalisator dan objek sudut pandang merupakan dua buah hal yang tidak dapat diamati lepas satu sama lain (Luxemburg dkk, 1987:130). Dengan meneliti siapa yang memfokalisasi, kita tidak hanya mendapat kesan mengenai apa yang difokalisasikan, tetapi juga informasi tentang yang memfokalisasi. Gambaran mengenai tokoh yang telah didapat melalui fokalisasi dapat dianalisis lebih lanjut dengan berbagai cara, misalnya dengan mendeskripsikan tokoh sebagai suatu kesatuan beserta ciri-ciri yang melingkupinya, mengamati tokoh dalam hubungannya satu sama lain, ataupun pengamatan terhadap tokoh dalam kaitannya dengan peristiwa. Fokalisasi adalah istilah yang menyaran pada segi subjektivitas dalam lakuan bercerita (Luxemburg dkk, 1987: 129). Berbeda dengan konsep sudut pandang pada umumnya, segi subjektivitas dalam pengertian fokalisasi lebih membatasi diri pada tokoh sebagai fokalisator atau subjek yang melihat peristiwa. Peristiwa sebagai objek fokalisasi, difokalisasikan oleh tokoh yang sedikit banyak merangsang proses identifikasi pembaca.
Dengan demikian, apabila diperhatikan teori poskolonial dapat diterapkan dalam kepentingan penelitian ini yakni mengungkapkan bentuk stereotip tokoh dalam novel Malaikat Lereng Tidar. Lalu mendeskripsikan identitas yang berbentuk ambivalensi, hibriditas, dan mimikri tokoh dalam novel Malaikat Lereng Tidar. Selain itu, pembacaan novel ini dengan mempertimbangkan kolonialisme dan dampaknya menimbulkan posisi atau suara pengamat berkaitan dengan stereotip dan identitas tokoh tersebut. Berdasarkan uraian di atas maka novel Malaikat Lereng Tidar akan dianalisis menggunakan teori poskolonial dengan fokalisasi pengarang sesuai dengan klasifikasi yang sudah dipaparkan sebelumnya.
1.6 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini dapat dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian data. Pertama, pengumpulan data dengan memilih objek material, merelasikan dengan teori, dan melakukan studi pustaka. Berdasarkan pengamatan peneliti, penelitian objek kajian novel Malaikat Lereng Tidar dengan menggunakan teori poskolonial belum pernah dilakukan sebelumnya. Penggunaan teori poskolonial dirasa tepat digunakan karena novel ini diasumsikan sebagai novel yang menggambarkan kehidupan bangsa pribumi pada masa penjajahan Belanda.
Kedua, analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis (Ratna, 2011:53). Dari arti tambahannya (Ratna, 2011:53), metode deskriptif analisis tidak berhenti sampai batas menguraikan, tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya. Metode analisis data dilakukan setelah didapatkan data-data berupa kata, frasa, maupun kalimat dalam novel Malaikat Lereng Tidar. Langkah-langkah tersebut berisi pemilahan data yang berhubungan dengan rumusan masalah penelitian. Peneliti mengidentifikasi dan mengklasifikasi data yang sesuai dengan kerangkat teori poskolonial.
Ketiga, penyajian data yang merupakan hasil analisis akan disusun secara sistematis dan deskriptif. Suatu data akan diuraikan penjelasan analisisnya. Data tersebut akan menunjukkan bentuk stereotip dan identitas tokoh. Selain itu, analisis yang dilakukan juga akan melihat maksud pengarang yang tersirat dalam karya sastra. Dengan demikian, kesimpulan didapatkan dari hubungan kedua permasalahan yang akan diteliti.
1.7 Sistematika Laporan Penelitian
Sistematika laporan dalam penelitian ini terdiri atas empat bab. Bab pertama merupakan pendahuluan yaitu terdiri latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan
sistematika penyajian. Bab kedua memuat bentuk stereotip dalam novel Malaikat Lereng Tidar. Bab ketiga memuat identitas tokoh yang berbentuk ambivalensi, hibriditas, dan mimikri dalam novel Malaikat Lereng Tidar. Bab keempat merupakan kesimpulan.