BAB II LANDASAN TEORI. Penelitian yang penulis lakukan berkaitan dengan bentuk kewaktuan dalam

24  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Teori tentang Konsep Kewaktuan

Penelitian yang penulis lakukan berkaitan dengan bentuk kewaktuan dalam bahasa Indonesia. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, bentuk ini diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda dalam setiap bahasa. Pembahasan mengenai bentuk kewaktuan ini kebanyakan diperoleh dari sumber-sumber asing terutama dari sumber dengan bahasa yang mengungkapkannya secara gramatikal— bahasa Inggris.

Para ahli menggunakan istilah yang berbeda-beda dalam hal konsep kewaktuan (aspek, kala, dan aksionalitas). Oleh karena itu, penulis akan memaparkan penggunaan istilah-istilah yang berkaitan dengan masalah kewaktuan oleh sejumlah

(2)

ahli bahasa. Penulis juga menggunakan beberapa kamus, seperti Kamus Inggris-Indonesia (1996), Kamus Linguistik (2001), dan Kamus Besar Bahasa Inggris-Indonesia (2003), untuk membantu pemahaman beberapa istilah.

Dalam membicarakan waktu, Benveniste (1979: 69—74) dalam Hoed (1989: 2) membedakan tiga pengertian, yaitu

1. waktu fisis (temps physique), yakni waktu yang secara alamiah kita alami yang sifatnya sinambung, linear, tidak terhingga, dan tidak dapat kita alami lagi;

2. waktu kronis (temps chronique), yakni waktu yang dipikirkan kembali atau dikonseptualisasi oleh manusia berdasarkan sejumlah peristiwa yang ditetapkan secara konvensional oleh suatu masyarakat sebagai titik acuan dalam waktu fisis; dan

3. waktu kebahasaan (temps linguistique), yakni waktu yang dilibatkan dalam tuturan kita dalam sistem bahasa yang kita pakai.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya manusia hanya mengalami waktu fisis yang terus berjalan tanpa dapat dikembalikan lagi. Akan tetapi, dengan mengonseptualisasinya dalam waktu kronis manusia dapat mengetahui sejarah, masa kini, dan hari esok. Untuk mengungkapkan apa yang disebut waktu fisis dan kronis tersebut, digunakanlah bahasa sebagai alat sehingga muncullah waktu kebahasaan yang dikaitkan dengan saat penuturan atau saat pengujaran.

(3)

Setiap bahasa di dunia ini mempunyai kategori yang berkaitan dengan waktu kebahasaan karena kategori ini bersifat universal. Artinya, setiap bahasa mempunyai unsur yang digunakan untuk mengungkap waktu yang terlibat dalam pengujaran. Pada bahasa-bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, kategori ini diungkapkan secara gramatikal. Akan tetapi, ada pula bahasa yang menggunakan bentuk-bentuk leksikal untuk mengungkapnya, termasuk bahasa Indonesia.

Contoh: (2) I eat fried rice ‘Saya makan nasi goreng’

(3) I have eaten fried rice ‘Saya sudah makan nasi goreng’

Berikut ini adalah penjelasan beberapa ahli bahasa mengenai masalah kewaktuan yang terlibat dalam bahasa (waktu kebahasaan).

2.1.1 Bernard Comrie (1985)

Pembahasan Comrie mengenai kewaktuan dituangkan dalam dua bukunya, yakni Tense (1985) dan Aspect (1985). Tense (kala) yang diungkapkan Comrie (1985: 9) merupakan bentuk gramatikal yang menempatkan peristiwa dalam waktu. Hal ini berarti bentuk kala terintegrasi dalam sistem suatu bahasa. Bentuk kala dalam bahasa Inggris terwujud dalam tataran morfosintaksis. Verba yang menjadi predikat mengalami perubahan bentuk dasar seperti mendapat tambahan afiks tertentu sehingga mengungkap makna kewaktuan.

Contoh: (4) I write a novel. (kini) (5) I wrote a novel. (lampau)

(4)

Tidak semua bahasa mempunyai kategori kala dalam sistem bahasanya. Pada bahasa tak berkala, pengungkapan peristiwa dalam waktu dapat dilakukan dengan merujuk pada bentuk leksikal tertentu. Kalimat contoh di bawah ini menunjukkan bahwa kala lampau dipahami berdasarkan nomina waktu kemarin, bukan berdasarkan kategori gramatikal pada verba.

Contoh: (6) Kemarin Adi mengajak Dimas ke Puncak.

Comrie (1985: 3) merumuskan aspek sebagai “different ways of viewing the internal tempoal constituency of a situation.” Aspek merupakan bentuk lain dari unsur internal kewaktuan dalam suatu situasi atau peristiwa. Unsur-unsur internal kewaktuan yang dimksud adalah masalah pungtual dan duratif, telis, dan atelis, serta statif dan dinamis.

Selain dibahas pada tataran morfosintaktis, kategori aspek juga dijelaskan dalam bentuk makna aspektual. Hal ini berarti kategori aspek yang diungkapkan Comrie (1985: 6) merujuk pada hal yang bersifat semantis. Dalam bahasa Inggris, (7) John was singing dan (8) John is singing berbeda dalam hal tense (kala). Sementara itu, (9) John was singing dan (10) John sang berbeda dalam segi aspek.

Kalimat contoh (7) berbentuk lampau (past) yang ditandai dengan verba bantu (auxilary verb) bentuk lampau was. Sementara itu, kalimat contoh (8) berbentuk kini (present) yang ditandai dengan verba bantu is. Selain itu, keduanya sama-sama mengungkap aspek progresif, yakni aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung. Hal ini ditandai dengan verba dengan akhiran –ing.

(5)

Di lain pihak, kalimat contoh (9) dan (10) sama-sama berbentuk lampau, tetapi makna aspektual yang dapat dipahami dari kedua kalimat tersebut berbeda. Kalimat contoh (9) mengungkap aspek progresif melalui verba berakhiran –ing, sementara kalimat contoh (10) yang berbentuk kala lampau mengungkap aspek perfektif, yakni aspek yang menyatakan perbuatan selesai.

2.1.2 Benny H. Hoed (1992)

Dalam penelitiannya Kala dalam Novel: Fungsi dan Penerjemahannya, Hoed (1992) menggunakan bahasa Perancis, sebagai bahasa yang mengungkap masalah kewaktuan secara gramatikal, untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hoed (1992: 29) merumuskan beberapa istilah yang terkait dengan masalah kewaktuan. Ia membedakan antara konsep waktu, waktu kebahasaan, Sistem Rujukan Waktu (SRW), dan kala.

“Konsep waktu menerangkan bagaimana manusia menempatkan dirinya dalam waktu. Waktu kebahasaan menggambarkan bagaimana bahasa memandang waktu atau bagaimana konsep waktu dijelaskan dari segi bahasa dan diwujudkan dalam SRW. SRW adalah suatu kerangka yang dimaksudkan sebagai rujukan semantis guna membandingkan dua bahasa yang terlibat dalam kegiatan penerjemahan. SRW secara konkret diwujudkan dengan kala. Jadi, kala merupakan perwujudan dari SRW dan merupakan alat pengungkap waktu kebahasaan.”

Dari perumusan Hoed (1992: 29) tersebut, dapat diketahui bahwa fokus penelitiannya adalah mengenai kategori kala yang merupakan perwujudan dari

(6)

sebuah kerangka semantis SRW. Istilah kala dapat dikatakan sebagai padanan dari apa yang dikenal sebagai tense dalam bahasa Inggris3.

Kala yang dimaksud Hoed (1992: 33—34) adalah alat kebahasaan yang digunakan untuk menempatkan peristiwa dalam waktu. Hoed menggunakan istilah bahasa berkala dan bahasa tanpa kala. Bahasa-bahasa seperti bahasa Inggris dan Perancis merupakan contoh bahasa berkala, sementara bahasa Indonesia merupakan contoh dari bahasa tanpa kala.

Berdasarkan penjelasan tersebut, bukan berarti bahwa bahasa tanpa kala tidak dapat menempatkan peristiwa dalam waktu. Bahasa tanpa kala menempatkan peristiwa dalam waktu dengan alat kebahasaan lain. Bahasa yang disebut Hoed (1992: 33—34) sebagai bahasa berkala, seperti bahasa Perancis dan bahasa Inggris, mengungkapkan kala secara gramatikal (tenses). Sementara itu, bahasa yang disebutnya sebagai bahasa tanpa kala, seperti bahasa Indonesia, menggunakan bentuk leksikal tertentu dan hubungan antarkalimat sampai antarwacana untuk menyatakan kala.

2.1.3 John Lyons (1995)

Lyons (1995) mengungkap tiga istilah yang berkaitan dengan masalah kewaktuan dalam bahasa, yakni kala, modus, dan aspek. Lyons (1995: 298) menyebutkan kategori kala berhubungan dengan waktu yang diungkapkan dengan kontras gramatikal yang semantis. Kontras gramatikal dalam hal ini yaitu past,

3

Penjelasan mengenai kala yang dirumuskan oleh Hoed (1992) akan diberikan pada subbab selanjutnya.

(7)

present, dan future (‘lampau’, ‘kini’, dan ‘mendatang’). Banyak ahli yang menyangka tiga bentuk gramatikal tersebut merupakan ciri bahasa yang universal. Tetapi Lyons (1995: 298) menyatakan tidak demikian halnya. Kala tidak terdapat dalam semua bahasa.

Contoh: (11) I jumped from the rooftop ‘saya lompat dari atap’

Bentuk kala pada contoh di atas adalah simple past tense. Hal ini ditandai dengan verba infleksi jumped (V-ed) yang mengungkap makna kala lampau. Peristiwa jumped ‘lompat’ terjadi pada suatu waktu sebelum waktu pengujaran sebagai titik acuan. Makna ‘lampau’ merupakan kategori semantis yang diketahui berdasarkan bentuk yang terwujud secara morfologis, yakni verba infleksi jumped.

Selanjutnya, istilah lain yang dikaitkan dengan masalah kewaktuan adalah modus. Lyons (1995: 300) menerangkan modus sebagai hal yang berkenaan dengan sikap pembicara terhadap apa yang diutarakannya. Modus diungkapkan dalam bentuk modal yang mengungkap keharusan, kemungkinan, kepastian, keraguan, dan sebagainya, yang berkaitan dengan sikap pembicara. Bentuk ini sesungguhnya tidak berkaitan langsung dengan masalah kewaktuan. Akan tetapi, keberadaannya sering dikaitkan dan dipersilangkan dengan kala. Ada ahli bahasa yang menganggap bentuk kala tertentu terkadang mengungkap makna modus. Akan tetapi, hal ini terjadi pada kasus khusus dan berbeda dengan hal yang penulis teliti sehingga tidak akan dibicarakan lebih lanjut.

(8)

Istilah lain yang diungkap Lyons (1995) dalam hal kewaktuan adalah aspek. Lyons (1995: 307) secara umum menjelaskan aspek sebagai alat untuk mengungkapkan ‘keselesaian’ suatu peristiwa. Aspek dapat mengungkap apakah sebuah peristiwa sudah, sedang, atau belum berlangsung. Istilah-istilah yang terkait dengan aspek menurut Lyons (1995) antara lain perfektif, imperfektif, habituatuf, progresif, statif, duratif, dan pungtual (momentan). Penjelasan lebih lanjut mengenai aspek menurut Lyons akan diberikan pada subbab selanjutnya.

Lyons tidak membedakan antara aspek dan aksional. Dalam Nurhayati (1999: 13—14), Lyons (1977) menyebut Aktionsart hanya bermakna ‘kind of action’ yakni sejenis aksi. Ia tidak menggunakan istilah Aktionsart melainkan aspectual character (karakter aspektual) atau character (karakter) saja. Lyons mengartikannya sebagai ‘bagian makna verba yang secara lazim mengacu ke jenis-jenis situasi tertentu.’ Penggunaan aspek secara umum diungkapkan secara gramatikal sementara konsep karakter aspektual diungkapkan secara leksikal.

2.1.4 Carl Bache (1997)

Carl Bache, linguis asal Jerman, secara konsisten membedakan antara kala, aspek, dan aksionalitas. Dalam bukunya, The Study of Aspect, Tense, and Action, Bache (1997) menyebutkan kala (tense), aspek (aspect), dan aksional (action) sebagai kategori gramatikal yang mengungkapkan makna temporal (temporality), keaspekan

(9)

(aspectuality), dan keaksionalan (actionality) di dalam metabahasa. Unsur metabahasa yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu linguistik.

Perbedaan antara aspek dan aksional terdapat dalam tataran semantik. Istilah aksional berasal dari bahasa Jerman Aktionsart. Istilah tersebut dapat diartikan sebagai ‘manner of action’4, yakni dapat dikatakan pula sebagai karakteristik aksi yang terdapat dalam predikatnya. Menurut Bache (1985: 11) dalam Nurhayati (1999: 42), “Aktionsart tidak sama dengan makna aktual verba, tetapi mengacu pada perbedaan jenis tindakan atau jenis situasi.”

Unsur-usur yang terdapat dalam karakteristik verba—yang berkaitan dengan kewakuan—seperti statif dan duratif, telis dan atelis, serta duratif dan momentan, dikaji oleh Bache sebagai kategori aksional yang mengungkap keaksionalan. Semetara itu, ahli bahasa lain, seperti Comrie (1985) dan Lyons (1995) menelaahnya sebagai bagian dari aspek.

Setelah menguraikan pandapat beberapa ahli bahasa, penulis menemukan beberapa istilah yang berkaitan dengan bentuk kewaktuan dalam bahasa. Terdapat kategori kala, yakni kategori yang berkaitan dengan penempatan peristiwa dalam waktu (kini, lampau, dan mendatang); kategori modus yang berkaitan dengan sikap pembicara (harus, ragu, boleh, dan sebagainya); kategori aspek yang berkaitan

4

Dalam Routledge Dictionary of Language and Linguistics, Aktionsart didefinisikan sebagai, “German term meaning ‘manner of action’; itu is used by some linguist (esp. German and Slavinic) to denote the lexicalization of semantic distinction in verbal meaning, as opossed to aspect.” (hlm. 14)

(10)

dengan keselesaian suatu peristiwa (sudah, akan, atau sedang berlangsung); serta aksional yang pembahasannya bertumpang tindih dengan kategori aspek.

Untuk memperkecil pembahasan, penulis memfokuskan penelitian ini pada kategori kala dan aspek. Penulis tidak akan membahas modus karena kategori ini tidak berkaitan dengan penelian. Sementara itu, aksional juga tidak akan dibahas karena unsur-unsur yang terdapat di dalamnya juga dibahas dalam kategori aspek. Dengan demikian, pembahasan pada subbab selanjutnya adalah pemaparan lebih dalam atas kategori kala dan aspek.

2.2 Teori tentang Kala

Telah disebutkan sejak awal bahwa dalam bahasa Indonesia tidak terdapat makna temporal (kala) dalam sistem verbanya. Hal ini diungkapkan Gonda (1954) dalam Hoed (1992: 88). Akan tetapi, Gonda menambahkan bahwa terdapat bentuk-bentuk tertentu yang dapat memberi tambahan makna kewaktuan pada suatu peristiwa.

Dalam penelitian ini, kategori kala juga turut diuraikan dalam teori karena berkaitan dengan bahasa Inggris yang mempunyai sistem gramatikal kala di dalamnya. Uraian ini diberikan untuk menganalisis bentuk kala yang muncul dalam data bahasa Inggris. Lyons (1995: 298) menyebutkan ciri hakiki kategori kala adalah bahwa hal itu menghubungkan waktu perbuatan, kejadian, atau peristiwa bahasa yang diacu dalam kalimat dengan waktu ujaran. Kategori kala tidak harus terdapat dalam

(11)

suatu bahasa karena setiap bahasa mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengungkap kewaktuan.

Comrie (1985: 13) menyebut kala sebagai kategori deiktis karena merujuk pada hal di luar bahasa, yakni waktu. Selanjutnya, ia menyatakan bahwa perujukan waktu tersebut dilakukan secara arbitrer karena kita tidak pernah tahu dengan pasti bagian yang merupakan titik awal atau pun akhir dari waktu. Kita baru dapat menentukan sebuah peristiwa yang diujarkan mengungkap kala kini, lampau atau mendatang setelah mengetahui titik yang menjadi rujukan (pusat deiktis). Kala kini (present) merupakan bentuk yang biasanya dijadikan sebagai pusat deiktis. Berikut adalah garis waktu yang biasa digunakan untuk menentukan kala.

Lampau Kini Mendatang (past) (present) (future)

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, penulis menggunakan rumusan Comrie mengenai bentuk kala mutlak (absolute tense). Terdapat tiga kala mutlak yang dirumuskan Comrie (1985: 36), yakni present tense, past tense, dan future tense.

a. Present tense (kala kini) merupakan bentuk yang mengungkap peristiwa yang berlangsung pada pusat deiktis dalam garis waktu. Dalam bahasa inggris, bentuk present tense ditandai denggan verba bentuk dasar (base) atau verba dengan akhiran –s/-es.. Dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris, present tense juga digunakan untuk mengungkap hal yang menjadi kebiasaan (aspek habituatif). Misalnya pada kalimat (12) John goes to work at eight o’clock in the morning

(12)

(everyday). ‘Pergi ke kantor setap pukul delapan pagi’ merupakan kebiasaan yang dilakukan John setiap hari. Tanpa menuliskan keterangan everyday pun kebiasaan tersebut dapat dipahami.

b. Past tense (kala lampau) merupakan bentuk kala yang menempatkan peristiwa dalam waktu sebelum waktu kini. Dalam garis waktu, kala lampau terletak di sebelah kiri pusat deiktis. Bentuk ini ditandai oleh verba bentuk lampau atau verba dengan akhiran –d/-ed.

Contoh: (13) John went to the cinema yesterday ‘John pergi ke bioskop kemarin.’ Peristiwa ‘pergi ke bioskop’ telah terjadi pada suatu waktu sebelum kini. Bentuk past tense mutlak seperti ini juga mengungkap aspek perfektif karena peristiwa tersebut sudah selesai terjadi di waktu sebelum waktu kini. Hal ini menunjukkan kaitan antara kategori kala dan aspek.

Menurut Smith (1991: 137), beberapa bahasa seperti bahasa Melayu— termasuk bahasa Indonesia—serta bahasa Hebrew klasik tidak mempunyai kategori gramatikal untuk mengungkapkan kala. Dalam bahasa-bahasa tersebut, waktu kebahasaan diungkapkan secara langsung dalam bentuk penggunaan adverbia waktu atau secara tidak langsung melalui sudut pandang aspektual.

Contoh: (14) Mula-mula kugunakan kekuatanku untuk bersenang-senang. (SMD, hlm.4)

Contoh di atas merupakan contoh kalimat dalam bahasa Indonesia yang penulis ambil dari data. Kalimat tersebut mengungkapkan aspek inkoatif, yakni aspek

(13)

yang menggambarkan perbuatan mulai. Dalam kalimat (14) aspek inkoatif diungkapkan melalui bentuk leksikal mula-mula. Aspek ini menunjukkan perbuatan yang berlangsung pada waktu sebelum kini. Dalam garis waktu, peristiwa yang diungkapkan dalam kalimat contoh (14) tersebut berada di sebelah kiri pusat deiktis sehingga mengandung kala lampau.

c. Future tense (kala mendatang) merupakan bentuk kala yang menempatkan peristiwa dalam waktu setelah waktu kini. Dalam garis waktu, kala mendatang terletak di sebelah kanan pusat deiktis. Bentuk ini ditandai dengan verba bantu will. Sebenarnya, bentuk kala ini masih menimbulkan perdebatan. Comrie (1985: 45) menyatakan tidak ada bahasa yang mengungkap futur tense secara benar-benar gramatikal. Bentuk ini ditandai oleh bentuk leksikal will. Verba dalam kala ini tetap berbentuk verba dasar.

Contoh: (15) I will go to Anyer next week ‘saya akan pergi ke Anyer pekan depan.’ (16) They will have an exam tomorrow ‘mereka akan mengikuti ujian besok.’

Setelah menguraikan hal-hal yang terkait dengan kategori kala, penulis memahami kategori kala sebagai kategori yang menghubungkan waktu perbuatan, kejadian, atau peristiwa bahasa yang diacu dalam kalimat dengan waktu ujaran. Kategori ini mengungkap apakah suatu peristiwa terjadi pada waktu lampau, kini, atau mendatang (past, present, atau future), dengan waktu ujaran sebagai tolok ukur pusat deiktis.

(14)

Kategori kala tidak harus selalu diungkapkan secara gramatikal dalam bahasa. Dalam hal ini bahasa Indonesia yang tidak mempunyai sistem kala tidak harus memaksakan munculnya ungkapan kewaktuan pada saat menerjemahkan bahasa berkala, seperti bahasa Inggris. Akan tetapi, bentuk kewaktuan lampau, kini, dan mendatang dapat dipahami dengan mengaitkan unsur-unsur lain yang muncul, seperti nomina waktu.

Pada bagian analisis, penulis akan mencari bentuk-bentuk kewaktuan yang muncul dalam bahasa Indonesia. Pada data berbahasa inggris, kategori kala tentu dapat diidentifikasi secara gramatikal. Bentuk kewaktuan ini memang tidak harus muncul dalam bahasa Indonesia, tetapi dapat dipahami berdasarkan konteks

Unsur yang dijadikan tolok ukur dalam menentukan unsur kala dalam bahasa Indonesia adalah verba dan waktu pengujaran. Berbeda dengan bentuk wacana lisan, waktu pengujaran pada wacana tertulis—seperti buku cerita yang penulis gunakan sebagai data—ditandai pada saat dibaca. Kala kini menunjukkan perbuatan—yang diungkapkan melalui verba—terjadi pada waktu pengujaran. Kala lampau menunjukkan perbuatan terjadi sebelum pengujaran. Kala mendatang menyatakan perbuatan akan berlangsung dalam waktu mendatang. Pada bentuk-bentuk tertentu, makna kala hanya dipahami berdasarkan konteks yang terbangun dalam cerita. Bentuk yang sama tidak berarti mengungkap makna yang sama, tergantung konteksnya.

(15)

2.3 Teori tentang Aspek

Istilah aspek, menurut Lyons (1995: 2980, pertama kali diungkapkan untuk mengacu pada perbedaan ‘perfektif’ dan ‘imperfektif’ dan infleksi verba dalam bahasa Rusia dan bahasa-bahasa Slavonika lainnya. Smith (1991: 22) mengemukakan bahwa kategori aspek merupakan kategori yang bersifat universal. Sistem aspek yang berlaku pada bahasa-bahasa yang ada tidak terlalu jauh berbeda.

“The concepts of aspect play a role in all languages, so far as we know. And the aspect system of different languages are strkingly similar...they also vary in subtle and not-so-subtle ways.”

Dalam setiap bahasa, kategori aspek berkaitan dengan masalah perfektif dan imperfektif. Di dalamnya, juga terkandung unsur temporal seperti progresif, duratif, pungtual, dan sebagainya. Lyons (1995: 307) secara umum menjelaskan aspek sebagai alat untuk mengungkapkan ‘keselesaian’ suatu peristiwa. Dalam bahasa Indonesia, masalah perfektif dan imperfektif atau ‘selesai’ dan ‘belum/tidak selesai’ biasanya dipahami berdasarkan konteks kalimat meski kadang-kadang juga diungkapkan dalam bentuk leksikal tertentu.

Contoh: (17) Masalah itu pun terpecahkan (SMD, hlm 9).

Dalam kalimat contoh tersebut, aspek perfektif diketahui berdasarkan konteks verba berprefiks ter- yang menyatakan perbuatan telah selesai dan berarti ‘dapat dipecahkan’.

Oleh karena bersifat universal, kategori aspek juga dibicarakan dalam bahasa Indonesia. Montolalu (2001) menganggap kategori aspek bahasa Indonesia dapat

(16)

diukur dalam tataran wacana. Kategori aspek yang diungkapkan Montolalu merupakan kategori semantis yang disebut sebagai makna aspektual.

Montolalu (2001: 296) menyimpulkan tiga makna aspektual yang dijumpai dalam wacana bahasa Indonesia. (1) makna aspektual perfektif; (2) makna aspektual imperfektif; dan (3) makna aspektual yang netral. Sudut pandang perfektif berinteraksi dengan situasi yang bertitik akhir, sementara sudut pandang imperfektif berinteraksi dengan situasi yang tidak bertitik akhir alamiah. Sudut pandang netral tidak berinteraksi dengan titik akhir.

Berdasarkan penelitian Montolalu (2001: 3), diketahui bahwa pengungkapan makna perfektif dilakukan melalui verba berafiks me-i, me-kan, di-i, di-kan, memper-i, memper-kan, diper-memper-i, diper-kan, ter- dan frase verbal dengan pemarkah sudah, telah, habis, setelah, selesai, baru. Pengungkapan makna imperfektif diungkapkan melalui verba berafiks ber- dan frase verbal bermarkah sedang, tengah, lagi, masih, terus, sering, selalu. Akan tetapi, pada umumnya, untuk menyatakan konsep kewaktuan dalam bahasa Indonesia dipakai alat-alat kebahasaan seperti (a) nomina waktu; (b) adverbia waktu; (c) bentuk leksikal tertentu; (d) afiks; atau (e) verba.

Dalam Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, Kridalaksana (2005: 53) menyebutkan beberapa afiks pembentuk verba yang berperan dalam mengungkap makna aspektual. Misalnya, sufiks –i pada menanami dan menyirami yang membentuk verba bermakna repetitif. Selain itu, ada prefiks ter- yang bermakna perfektif pada terinjak dan terjatuh.

(17)

Di samping afiks pembentuk verba, alat kebahasaan lain yang muncul untuk mengungkap waktu kebahasaan adalah nomina waktu. Kridalaksana (2005: 72) menyebutkan beberapa nomina yang berfungsi sebagai penunjuk waktu, seperti pagi, petang, waktu, zaman, tahun, hari, sore dan minggu. Kridalaksana (2005: 85) juga memaparkan adverbia sebagai penanda aspek, yakni lagi, masih, pernah, sudah, telah, mulai. Akan tetapi, ia menambahkan catatan bahwa terdapat beberapa aspek yang tidak diungkapkan oleh adverbia melainkan diungkapkan oleh alat kebahasaan lainya.

Samsuri dalam bukunya Tata Kalimat Bahasa Indonesia (1985) menyinggung masalah aspek sebagai bagian yang menjadi pemadu dalam kalimat yang menjelaskan predikatnya. Di samping keterangan waktu, Samsuri (1985: 416) menjelaskan, bahasa Indonesia menggunakan sejumlah kata yang menyatakan bahwa peristiwa, keadaan, atau hal sesuatu, atau singkatnya proposisi yang dinyatakan oleh kalimat, dalam keadaan ‘selesai’, ‘tengah berlangsung’, atau ‘akan berlaku’.

Hal ini berbeda dengan pengertian kala (tense) pada bahasa Inggris karena dalam bahasa Indonesia keadaan itu tidak dinyatakan dengan menggunakan bentuk gramatikal melainkan dengan pemakaian partikel yang ditempatkan sebelum konstruksi dasar. Oleh karena partikel itu menunjukkan semacam aspek dari peristiwa, keadaan, atau hal yang dimaksudkan dalam kalimat, Samsuri menyebut partikel tersebut sebagai aspek.

(18)

(19) Kami akan pergi ke Anyer.

Selain yang berkaitan dengan makna aspektual perfektif dan imperfektif, penulis membahas beberapa makna aspektual yang muncul dalam bahasa Indonesia. Berikut ini beberapa makna aspektual yang akan dibahas pada bagian analisis.

1. Aspek frekuentatif, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan berulang berkali-kali (kekerapannya).

Contoh: (20) Kami sering memancing di danau UI.

(21) Mahasiswa angkatan 2004 jarang datang ke kampus.

2. Aspek habituatif, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan yang menjadi kebiasaan.

Contoh: (22) Biasanya, jalanan ibukota menjadi lebih padat pada hari Senin. (23) Ibu senantiasa menyiapkan sarapan yang bergizi untuk kami. 3. Aspek inkoatif, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan mulai.

Contoh: (24) Masyarakat mulai bersiap menghadapi kenaikan harga BBM. 4. Aspek kontinuatif, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung

berkesinambungan. Bentuk ini muncul pada verba yang bersifat statif. Contoh: (25) Ia menjadi dosen sejak tahun1960 sampai sekarang.

5. Aspek progresif, yakni aspek yang menuatakan perbuatan sedang berlangsung. Bentuk ini muncul pada verba yang bersifat dinamis.

(19)

6. Aspek momentan, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung sebentar.

Contoh: (27) Ia menoleh sesaat kemudian menghilang.

7. Aspek repetitif, yakni aspek yang menggambarkan perbuatan berulang. Contoh: (28) Mereka melempari kami dengan batu.

Bentuk-bentuk aspek yang diuraikan di atas sebenarnya merupakan penjabaran dari dua bentuk aspek yang utama, yakni aspek perfektif dan imperfektif. Aspek momentan dapat digolongkan sebagai bagian dari aspek perfektif. Aspek ini menyatakan peristiwa sudah selesai. Sementara itu, aspek frekuentatif, habituatif, inkoatif, kontinuatif, progresif, dan repetitif dapat dikatakan pula sebagai aspek imperfektif. Aspek-aspek ini tidak mengungkapkan peristiwa yang selesai. Dalam rumusan Comrie (1985: 25), terungkap bahwa aspek habituatif, kontinuatif, dan progresif memang bagian dari aspek imperfektif.

Penulis memahami kategori aspek sebagai makna keselesaian suatu peristiwa yang diungkapkan dalam predikat. Aspek dapat mengungkap apakah peristiwa sudah selesai, belum selesai, sedang berlangsung, selalu berlangsung, atau baru saja berlangsung. Dalam bahasa Indonesia, kategori aspek dapat dipahami secara semantis berdasarkan bentuk-bentuk leksikal yang ada. Aspek juga dapat dipahami dengan melihat unsur-unsur yang muncul dalam wacana. Oleh karena itu, makna aspektual harus dipahami berdasarkan konteks wacananya. Pengungkapan bentuk-bentuk ini dalam bahasa Indonesia merupakan fokus penelitan yang penulis lakukan.

(20)

2.4 Teori tentang Terjemahan

Teori mengenai penerjemahan juga penulis gunakan untuk mendukung penelitian ini. Konsep-konsep penerjemahan Larson (1989), Moeliono (1989) dan Widyamartaya (2006) akan digunakan dalam penelitian ini. Ketiganya membicarakan masalah-masalah yang muncul dalam bidang terjemahan di Indonesia. Di dalamnya terdapat pula tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penerjemahan di Indonesia, tidak hanya masalahnya, tetapi juga konsep-konsepnya serta aturan-aturan yang digunakan dalam kaitannya dengan penerjemahan aspek ke dalam bahasa Indonesia.

Moeliono (1989: 55) menyebutkan bahwa kita dapat menggolongkan kegiatan terjemahan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama ialah terjemahan yang dilakukan kata demi kata, dengan tujuan tidak menyimpang sedikit pun dari ciri-ciri lahiriah bahasa. Terjemahan macam ini disebut sebagai terjemahan harfiah.

Penerjemahan harfiah mutlak, menurut Larson (1989: 16), adalah penerjemahan yang dilakukan baris per baris (interlinear). Penerjemahan jenis ini sangat berguna untuk studi bahasa sumber. Akan tetapi, penerjemahan harfiah tidak cukup membantu pembaca bahasa sasaran yang ingin mengetahui makna teks sumber. Penerjemahan harfiah hampir tidak mempunyai nilai komunikasi.

Kelompok kedua adalah terjemahan yang bentuk bahasanya tidak terikat pada naskah sumbernya, tetapi tujuannya ialah mengungkapkan intisari dari ide atau maksud yang terkandung dalam naskah asli. Terjemahan jenis ini biasanya paling mudah dipahami orang karena di dalamnya telah terjalin tafsiran penerjemah.

(21)

Terjemahan seperti itu juga dapat disebut sebagai terjemahan bebas. Larson (1989: 18) menyatakan, “Sebuah terjemahan disebut terlalu bebas jika dalam penerjemahan itu ditambahkan informasi lain yang tidak ada dalam teks sumber atau jika kenyataan latar historisdan teks bahasa sumber diubah.”

Kelompok ketiga ialah terjemahan yang mengarah pada kesepadanan atau ekuivalensi antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Terjemahan seperti itu tidak termasuk terjemahan harfiah karena tidak didasarkan pada terjemahan kata demi kata. Akan tetapi, terjemahan macam itu tidak pula disebut sebagai terjemahan yang bebas karena dalam hal bentuknya masih terikat dengan ciri lahiriah naskah sumber. Terjemahan yang seperti itu dapat disebut sebagai terjemahan idiomatik. Terjemahan yang idiomatik dapat dianggap ada di tengah kedua ekstrem, antara terjemahan yang harfiah dan terjemahan bebas (1989: 56).

Sasaran dari kegiatan penerjemahan adalah menyampaikan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Dengan demikian, idealnya, penerjemahan yang dilakukan adalah penerjemahan idiomatis. Akan tetapi, penerjemahan menurut Larson (1989) seringkali merupakan gabungan antara pengalihan harfiah satuan leksikal dan terjemahan idiomatis makna teks itu. Sesungguhnya, tidak mudah membuat penerjemahan idiomatis secara konsisten.

Widyamartaya (2006: 56) menuliskan rambu-rambu yang harus diketahui penerjemah dalam hal penerjemahan tenses. Tidak seperti pada bahasa Inggris, bahasa Indonesia tidak mempunyai konsep verbal concord, yakni persesuaian bentuk

(22)

kata kerja dengan subjeknya, dan juga tidak ada tenses, yaitu persesuaian bentuk kata kerja sesuai dengan waktunya: waktu sekarang, lampau, atau akan datang. Oleh karena itu, penerjemahan bentuk tenses bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dapat disesuaikan dengan keperluan dan kemampuan bahasa Indonesia untuk mengungkapnya.

Kata kerja bahasa Inggris dalam bentuk lampau tidak harus selalu diimbangi dengan kata telah atau sudah pada terjemahannya karena dalam bahasa Indonesia ada verba tertentu yang telah mencakup makna aspek tertentu. Misalnya, kalimat last week, I went to the cinema dapat diterjemahkan menjadi minggu lalu, saya pergi ke bioskop tanpa harus menambah kata telah atau sudah sebelum kata pergi. Keterangan waktu minggu lalu sudah cukup mejelaskan peristiwa pergi sudah terjadi dan waktunya sudah lewat sehingga penerjemah tidak perlu mengutak-atik verbanya lagi. Hal ini juga berlaku pada penerjemahan tenses lainnya, seperti perfect tense, progressive tense, future tense, dan juga kombinasinya.

Bentuk tenses yang sudah dikombinasi memang lebih kompleks. Misalnya, gabungan antara past tense dengan perfect tense; progressive tense dengan perfect tense; atau bahkan gabungan tiga tenses sekaligus. Dalam hal ini, penerjemah harus menghasilkan terjemahan seluwes-luwesnya dengan menghindari ungkapan kaku, seperti sudah sedang, akan sedang, telah akan, sudah akan sedang. Konsep waktu dalam bahasa Indonesia dapat dimengerti melalui konteks kalimatnya.

(23)

Dalam kaitannya dengan terjemahan, penyampaian makna adalah hal yang utama. Segala bentuk kemudahan hendaknya dibuat agar pembaca dapat mengerti produk terjemahan dengan baik. Jikalau terpaksa terjadi perombakan, penghilangan, ataupun penambahan bagian-bagian tertentu, hal itu dibenarkan dalam mencapai kemudahan pengertian. Oleh karena itu, pekerjaan menerjemah akan melibatkan apa yang disebut dengan competence (kompetensi) dan performance (perwujudan).

Casson (1981) dalam Herlina (1988: 16) menguraikan pengertian competence dan performance sebagai berikut.

Competence is the ability or capacity of the speaker to produce and understand the sentences that are syntactically, semantically, and phonologically acceptble; it is distinct from performance which is the speaker’s actual use of his knowledge in the production and interpretation of sentences. (kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan pembicara untuk menghasilkan dan memahami kalimat yang dapat diterima secara sintaktis, semantis, dan fonologis; sedangkan perwujudan adalah penggunaan pengetahuan tersebut oleh pembicara dalam menghasilkan dan menafsirkan kalimat).

Sebagai contoh, ungkapan jika menegur seseorang “Selamat pagi, Bu! Mau ke mana?” seringkali salah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga menjadi, “Good morning, Ma’am! Where are you going?” Seharusnya, dalam bahasa Inggris ungkapan tersebut menjadi “Good morning, Ma’am! How are you?” Dalam contoh tersebut, kesalahan terjadi karena performance bahasa Inggris dan bahasa Indonesia berbeda. Kebudayaan Inggris dengan kebudayaan Indonesia berbeda. Penerjemahan tersebut dilihat berdasarkan konteks atau situasi menyampaikan salam atau menegur dan bukan dalam konteks menanyakan arah tujuan seseorang.

(24)

Menurut Larson (1989: 15), kategori terjemahan yang lebih baik adalah terjemahan idiomatik. Penerjemah tidak menerjemahkan bentuk, melainkan makna. Akan tetapi, terdapat bentuk kalimat yang sudah dapat dipahami melalui terjemahan harfiah saja. Memang cukup sulit membuat suatu bentuk terjemahan dengan satu tipe tertentu secara konsisten. Selain itu, kombinasi bentuk terjemahan akan membuat pembaca lebih mendapatkan variasi bentuk bacaan.

Pada buku-buku bacaan tertentu, tenses dalam bahasa Inggris dapat terwujud dengan cukup rumit. Atas dasar masalah tenses yang rumit ini, penulis menggunakan buku cerita anak sebagai sumber data. Dalam cerita anak, kompleksitas tenses dihindari karena berkaitan dengan kemampuan bahasa anak-anak sehingga data ini dapat mempermudah penelitian penulis.

Dalam kaitannya dengan teori terjemahan, penulis menilai bentuk terjemahan dalam SMD adalah kombinasi antara penerjemahan harfiah dan idiomatis. Penerjemahan idiomatis terdapat pada kalimat yang jika diterjemahkan secara harfiah tidak memiliki nilai komunikasi terhadap pembaca sasarannya. Akan tetapi, penulis tetap memaparkan terjemahan harfiah atas setiap kalimat yang ada dalam data. Hal ini dilakukan untuk melihat perbandingan pemunculan bentuk kategori aspek dan kala yang menjadi fokus penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :