• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOHESI DAN KOHERENSI DALAM RUBRIK “TERAS MUDA” PADA MAJALAH BULANAN MATABACA EDISI 2006 — 2007 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KOHESI DAN KOHERENSI DALAM RUBRIK “TERAS MUDA” PADA MAJALAH BULANAN MATABACA EDISI 2006 — 2007 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

KOHESI DAN KOHERENSI DALAM RUBRIK “TERAS MUDA”

PADA MAJALAH BULANAN MATABACA

EDISI 2006 — 2007

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Diajukan oleh: Maria Dian Putriyanti

041224057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Dunia ini adalah sebuah tempat yang penuh tantangan. Aku merasakan

saat-saat tertekan atau terjatuh—saat-saat keletihan menekan jiwaku, aku merasa berbeban

berat dan seorang diri. Aku merindukan seberkas sinar di ujung lorong itu dan

berharap seseorang akan mengulurkan tangannya.

Aku bersyukur karena pada saat-saat seperti itu, Tuhan memberikan kepadaku

keluarga—Bapak, Ibu, dan adik-adikku—. Mereka menjadi tempatku bersandar,

menjadi sahabat-sahabat yang kuperlukan. Tanpa menuntut balas, mereka rela

mendengar keluh kesahku, selalu mendukungku, memberikan semangat, dan menjadi

yang siap menanggung bebanku.

Oleh karena itu, skripsi ini secara khusus kupersembahkan untuk kedua orang

tuaku tercinta Bapak Murdiyanto dan Ibu Sunarti, serta untuk adikku Agnes Shanti

Satyarini dan Lusia Aruming Tyas. Kehadiran mereka memberi terang bagi hari-hari

(5)

v

MOTO

Kesabaran adalah tumbuhan yang pahit, tapi mempunyai buah yang manis. (Pepatah Jerman)

Kejujuran adalah dasar yang sangat penting untuk segala kesuksesan. Tanpa kejujuran tak akan ada keyakinan dan kemampuan untuk bertindak

(Mary Kay Ash)

orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar akan menjadi pemilik masa depan

(Mario Teguh)

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku

akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan

(6)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Maria Dian Putriyanti

No Mahasiswa : 041224057

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

KOHESI DAN KOHERENSI DALAM RUBRIK “TERAS MUDA”

PADA MAJALAH BULANAN MATABACA EDISI 2006—2007

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Di buat di Yogyakarta

Pada tanggal : 21 April 2009

Yang menyatakan

(7)

vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 21 April 2009

Penulis

(8)

viii

ABSTRAK

Putriyanti, Maria Dian. 2009. Kohesi dan Koherensi dalam Rubrik “ Teras Muda” pada Majalah Bulanan Matabaca Edisi 2006—2007. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini membahas kohesi dan koherensi yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda”. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis kohesi yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda” pada majalah Matabaca Edisi 2006—2007, (2) mendes-kripsikan jenis koherensi yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda”.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data yang dipilih dalam penelitian ini adalah 22 wacana dalam rubrik “Teras Muda” pada majalah

Matabaca Edisi 2006—2007. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara dokumentasi dan catat. Analisis data dilakukan dengan cara mengorganisasi data yang berasal dari rubrik “Teras Muda”, memilah-milahnya, mensintesis, menemukan pola (dalam hal ini data yang diperoleh dapat diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri), menemukan penanda kohesi yang terdapat dalam rubrik, menemukan penanda koherensi yang terdapat dalam rubrik tersebut, dan mendeskripsikan penanda-penanda kohesi dan koherensi yang telah ditemukan. Pengecekan keabsahan hasil temuan dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

(9)

ix

ABSTRACT

Putriyanti, Maria Dian. 2009. Cohesion and Cohenrence in the Column “Teras Muda” in the Monthly Magazine Matabaca Edition of 2006— 2007. A script. Yogyakarta: Department of Indonesian and ethnic languages and Literature Study Program, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma University.

This research studied about cohesion and coherence in the column “Teras Muda” in the Matabaca magazine. The purpose of the research were to describe (1) the type of cohesion found in the column “Teras Muda” in the Matabaca

magazine edition of 2006—2007, (2) the type of coherence in the column of “Teras Muda”.

This research was a qualitative one. The source of the data was chosen from 22 articles in the column with the researcher as the research instrument and the data collection was carried out through documentation and recording. The data analyses was by organizing the data from the “Teras Muda” column, which was then grouped, and syntezised (collected into one), looking for and finding the patterns (while giving the data some codes to enable the tracking back), finding the cohesion signal in the column, finding the coherence signal in the column, then describing the signals of coherence and cohesion which had been found. The checking of the findings validity was by tri-anglization which was a data validity examination technique which used something outside the data for checking or as a comparison towards the data itself.

This research resulted some conclusions. First, that the types of cohesion in the “Teras Muda” column in the Matabaca magazine edition of 2006—2007 published by Gramedia are grammatical cohesion and lexical cohesion. The grammatical cohesion includes, (1) reference, (2) substitution, (3) elliptical, and (4) conjunction. The lexical cohesion includes, (1) repetition, (2) synonyms, (3) hyphonemes, (4) antonimes, and (5) collocation. Second, are that the coherence in the “Teras Muda” column used the coherence with signals and with no signals. The coherence with a signal includes, (1) causative coherence, (2) contra coherence, (3) additive coherence, (4) temporal coherence, (5) chronological coherence, (6) order coherence, and (7) detailed coherence. Coherence element with no signal includes, (1) terminal coherence and (2) descriptive coherence.

(10)

x

Puji syukur kepada Tuhan yang mahakasih atas rahmat kehidupan, perlindungan,

penyertaan serta cinta kasihNya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul Kohesi dan Koherensi dalam Rubrik

“Teras Muda” pada Majalah Bulanan Matabaca edisi 2006—2007 disusun untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

Penulis sungguh menyadari bahwa terselesainya skripsi ini berkat dukungan,

nasihat, bimbingan, dan bantuan baik secara moril dan materi dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Y. Karmin, M.Pd selaku dosen pembimbing yang sangat sabar

mendampingi, membimbing, dan mengarahkan penulis selama menyusun skripsi

ini hingga selesai.

2. Rm. Drs. J. Prapta Diharja, SJ., M.Hum., selaku Kaprodi PBSID Universitas

Sanata Dharma yang telah memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

3. Tim penguji yang telah memberi kritik dan saran demi penyempurnaan skripsi

ini.

4. Seluruh dosen program studi PBSID yang dengan penuh kesabaran dalam

mendidik dan mendampingi penulis selama belajar di program studi PBSID.

5. Mas Fx. Sudadi, karyawan sekretariat program studi PBSID yang dengan penuh

kesabaran memberikan pelayanan dan membantu kelancaran penulis selama

berproses di program studi PBSID dan dalam proses penyusunan skripsi ini.

6. Karyawan perpustakaan USD yang telah banyak membantu dalam memberikan

(11)

xi

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan.

8. Adik-adikku yang tersayang, Agnes Shanti Satyarini dan Lusia Aruming Tyas,

yang selalu memberikan semangat, canda-tawa, dan doa. Aku sayang kalian

berdua.

9. Agustinus Budi Setiyawan, yang memberikan cinta, perhatian, semangat, dan doa

kepada penulis selama penulis berproses sampai akhirnya skripsi ini selesai.

10.Seluruh keluarga besar di Warak.

11.Endah Dwi Aryani, Sri Marwanti, S.Pd., Rehulina, S.Pd., Anastasia Suyanti dan

Fransiska Suyanti, yang telah mengisi hidup penulis dengan kebahagiaan,

canda-tawa, dan kebersamaan. Aku bangga dan bahagia mempunyai sahabat seperti

kalian.

12. Theresia Lumangkun, Apriani Mega Lasmini, Anita Laluyan, dan Ester Intansari

Papoiwo, walaupun kita berjauhan tapi persahabtan ini akan tetap hidup.

13.Teman-teman program studi PBSID 2004, kebersamaan dan persaudaraan selama

ini tidak akan penulis lupakan.

14.Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah

ikut terlibat dengan penulis selama belajar di PBSID.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran dari siapa saja yang membaca skripsi ini.

Walaupun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUANPEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN. ...iv

HALAMAN MOTO. ...v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...vi

PERNYATAAN KESALIAN KARYA...vii

ABSTRAK. ... .viii

ABSTRACT. ...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI ...xii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... ...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan Penelitian...2

1.4 Manfaat Penelitian...3

1.5 Batasan Istilah...4

(13)

xiii

BAB II KAJIAN TEORI...6

2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan ...6

2.2 Kajian Teori ...8

2.2.1 Media Massa Cetak ...8

2.2.2 Wacana...8

2.2.3 Kohesi ...9

a. Kohesi Gramatikal... 9

1) Referensi ...10

2) Substitusi...14

3) Elipsis ...16

4) Konjungsi...16

b. Kohesi Leksikal...19

1) Reiterasi ...19

2) Kolokasi ...22

2.2.4 Koherensi ...23

a. Koherensi Berpenanada ...23

1) Koherensi Kausalitas ...24

2) Koherensi Kontras ...24

3) Koherensi Aditif ...24

4) Koherensi Temporal ...25

5) Koherensi Kronologis ...25

6) Koherensi Perurutan ...26

7) Koherensi Perincian...26

(14)

xiv

1) Koherensi Pentahapan...27

2) Koherensi Perian...27

3) Koherensi Wacana Dialog ...28

2.2.5 Keterkaitan Antara Kohesi dan Koherensi...28

a) Kohesif sekaligus Koheren...28

b) Kohesif tidak Koheren. ...29

c) Tidak Kohesif tetapi Koheren. ...30

d) Tidak Kohesif dan Tidak Koheren ...30

BAB III METODE PENELITIAN...32

3.1 Jenis Penelitian...32

3.2 Sumber Data...32

3.3 Instrumen Penelitian ...34

3.4 Teknik Pengumpulan Data...34

3.5 Teknik Analisis Data...35

3.6 Trianggulasi Hasil Analisis Data ...35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...37

4.1 Deskripsi Data Penelitian...37

4.2 Analisis Data...38

4.2.1 Kohesi ...38

a. Kohesi Gramatikal...38

1) Referensi Persona ...39

(15)

xv

b) Referensi Persona I Jamak...40

c) Referensi Persona II Tunggal...41

d) Referensi Persona III Tunggal ...42

e) Referensi Persona III Jamak ...43

2) Referensi Demonstratifa...44

a) Referensi Demonstratifa Umum ...44

b) Referensi Demonstratifa Waktu...45

c) Referensi Demonstratifa Tempat ...46

d) Referensi Demonstratifa Ihwal ...47

3) Referensi Komparatif ...49

4) Substitusi ...51

5) Elipsis ...52

6) Konjungsi ...53

a) Konjungsi Koordinatif ...53

b) Konjungsi Subordinatif...54

c) Konjungsi Antarkalimat...55

b. Kohesi Leksikal...56

1) Repetisi...57

2) Sinonim ...57

3) Hiponim...58

4) Antonimi...59

5) Kolokasi ...60

4.2.2 Koherensi ...60

(16)

xvi

b. Koherensi Tidak Berpenanda...63

4.2.3 Keterkaitan Antara Kohesi dan Koherensi...64

4.3 Pembahasan...65

BAB V PENUTUP...67

5.1 Kesimpulan...67

5.2 Implikasi ...68

5.3 Saran ...70

DAFTAR PUSTAKA...72

LAMPIRAN Rubrik “Teras Muda”...74

Tabel Hasil Analisis ...96

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Penelitian

Pembicaraan mengenai kohesi dan koherensi tidak akan terlepas dari masalah

wacana karena kohesi dan koherensi merupakan bagian dari syarat kewacanaan suatu

teks. Wacana yaitu suatu konstruksi yang terdiri atas kalimat yang satu diikuti oleh

kalimat yang lain yang merupakan suatu keutuhan dan memiliki makna. Wacana dapat

berupa wacana lisan dan wacana tulisan. Menurut Pranowo (1996: 73), wacana tulisan

biasa disebut teks, namun karena wacana lisan bila akan dianalisis juga harus

ditranskrip dalam tulisan maka keduanya juga disebut teks.

Menurut Alwi (1993: 471), wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang

menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan membentuk

kesatuan. Untuk membentuk suatu wacana yang baik, kalimat-kalimat yang digunakan

untuk menyatakan hubungan proposisi harus kohesif dan koheren. Dengan demikian,

suatu wacana dikatakan kohesif apabila hubungan antara unsur yang satu dan unsur

yang lain dalam wacana tersebut serasi sehingga tercipta pengertian yang baik dan

koheren.

Ada tujuh syarat kewacanaan yaitu: (a) kohesi, (b) koherensi, (c) intensionalitas,

(d) akseptabilitas, (e) informatifitas, (f) situasionalitas, dan (g) keinterwacanaan. Dari

ketujuh syarat kewacanaan di atas peneliti akan menganalisis kohesi dan koherensi

wacana, dalam rubrik “Teras Muda” majalah Matabaca edisi 2006—2007.

Kohesi yaitu cara bagaimana komponen yang satu berhubungan dengan komponen

yang lain. Komponen yang dimaksud di sini biasa berupa kata dengan kata, kalimat

(18)

komponen-komponen wacana, yang berupa konfigurasi konsep dan hubungan, menjadi

relevan dan saling mengikat. Secara ringkas dapat dikatakan kohesi sebagai jalinan

hubungan bentuk bahasa, sedangakan koherensi merupakan jalinan isi pikiran yang

terkandung di dalam bentuk bahasa (Pranowo, 1996: 75).

Jenis penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah penelitian kualitatif deskripsi.

Penelitian mengenai wacana bahasa Indonesia ini belum terlalu banyak dilakukan oleh

mahasiswa PBSID. Penulis memilih penelitian mengenai kohesi dan koherensi, untuk

membantu para guru serta mahasiswa PBSID dalam memilih media pembelajaran

khususnya media cetak yang baik dan yang memenuhi syarat kewacanaan. Penelitian

kohesi dan koherensi dalam media massa cetak bahasa Indonesia khususnya dalam

rubrik “Teras Muda”, juga bertolak dari masih sedikitnya telaah mengenai wacana

bahasa Indonesia, serta masih kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai kohesi dan

koherensi. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian yang

telah dilakukan sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis menetukan rumusan masalah

yang akan ditulis adalah sebagai berikut.

1. Jenis kohesi apa saja yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda” pada majalah

Matabaca edisi 2006—2007 (berdasarkan teori Halliday dan Hasan)?

2. Jenis koherensi apa saja yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda” pada majalah

(19)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu:

1. Mendeskripsikan jenis kohesi yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda”

majalah Matabaca.

2. Mendeskripsikan jenis koherensi yang terdapat dalam rubrik “Teras Muda”

ma-jalah Matabaca

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dan kontribusi bagi guru bahasa dan

sastra Indonesia dan mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah

(PBSID), para jurnalis dan bagi penelitian selanjutnya. Kontribusi itu adalah sebagai

berikut.

Pertama, guru bahasa Indonesia dapat memilih secara tepat, wacana dalam media

cetak yang mengandung kohesi dan koherensi yang baik untuk membantu proses

pembelajaran mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kedua, Mahasiswa

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah dapat memahami secara baik kohesi

dan koherensi yang terdapat dalam media cetak sehingga dapat digunakan sebagai

bahan pembelajaran. Ketiga, para jurnalis juga dapat memahami secara baik kohesi dan

koherensi yang terdapat dalam media cetak. Diharapkan penelitian ini bisa membantu

dalam kegiatan menulis berita dan ulasan di media massa cetak. Keempat, peneliti

selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini, mengingat pendidikan terus

(20)

1.5 Batasan Istilah

Dalam bagian ini disajikan batasan-batasan istilah yang digunakan dalam penelitian

ini. Tujuan disajikan batasan istilah atau konsep, untuk menghindari kesalahpahaman.

Batasan istilah yang disajikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Wacana adalah satuan bahasa yang tertinggi atau terlengkap di atas kalimat atau

klausa dengan kohesi dan koherensi yang tinggi yang berkesinambungan yang

mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis

(Tarigan, 1987: 25).

2. Kohesi adalah perangkat sumber-sumber kebahasaan yang dimiliki setiap

bahasa sebagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian

teks dengan bagian lainnya (Halliday dan Hasan 1992, melalui Suwandi, 2002:

231).

3. Kohesi Gramatikal adalah keterkaitan semantis bagian-bagian wacana yang

di-wujudkan ke dalam sistem gramatikal (Halliday dan Hasan 1979, melalui

Baryadi, 1990: 41).

4. Kohesi Leksikal adalah keterkaitan semantis yang direalisasikan ke dalam

sistem leksikal (Halliday dan Hasan 1979, melalui Baryadi, 1990: 41).

5. Koherensi adalah cara bagaimana komponen-komponen wacana, yang berupa

konfigurasi konsep dan hubungan, menjadi relevan dan saling mengikat

(Pranowo, 1996: 75).

6. Koherensi Berpenanda adalah koherensi yang diungkapkan dengan ditandai

dengan konjungsi (Puspitasari, 2004: 15).

7. Koherensi Tidak Berpenanda adalah koherensi yang secara tersurat tidak

ditandai konjungsi namun dipahami dari hubungan antar kalimatnya

(21)

1.6 Sistematika Penyajian

Bab I merupakan pendahuluan. Dalam bab ini dipaparkan 6 hal yaitu: (1) latar

belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian,

(5) batasan istilah, dan (6) sistematika penyajian.

Bab II merupakan kajian teori. Dalam bab ini dipaparkan 6 hal, yaitu: (1)

pe-nelitian terdahulu yang relevan, (2) media massa cetak, (3) wacana, (4) kohesi yang

dibagi atas kohesi gramatikal dan kohesi leksikal, (5) koherensi yang dibagi atas

koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda, dan (6) keterkaitan antara

ko-hesi dan koherensi.

Bab III merupakan metodologi penelitian. Dalam bab ini dipaparkan 6 hal, yaitu:

(1) jenis penelitian, (2) sumber data penelitian, (3) teknik pengumpulan data, (4)

ins-trumen penelitian, (5) teknik analisis data, dan (6) trianggulasi hasil analisis data.

Bab IV merupakan hasil analisis data dan pembahasan. Dalam bab ini dipaparkan

3 hal, yaitu: (1) deskripsi data penelitian, (2) analisis data, dan (3) pembahasan.

Bab V merupakan penutup. Dalam bab ini dipaparkan 3 hal, yaitu (1) kesimpulan,

(22)

6

BAB II KAJIAN TEORI

Dalam bab ini dikemukakan penelitian terdahulu, kajian teori yang relevan

dengan penelitian mengenai kohesi dan koherensi, mencakup teori media massa cetak,

wacana, kohesi dibagi atas kohesi gramatikal dan kohesi leksikal, koherensi dibagi atas

koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda, serta keterkaitan antara kohesi

dan koherensi.

2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan

Sejauh yang peneliti ketahui, penelitian mengenai kohesi dan koherensi

khususnya bagi mahasiswa PBSID masih sedikit dilakukan. Berikut ini beberapa

penelitian yang relevan dengan topik ini, yaitu penelitian L.M Sri Sudartanti Purworini

(1993), Agustina Anie Puspita Sari (2004), dan Yuanita Hartanti (2007).

L. M. Sri Sudartanti (1993), dalam skripsinya yang berjudul Kohesi dan

Koherensi Kalimat Topik dan Kalimat Pengembang dalam Paragraf Eksposisi serta

Paragraf Argumentasi dalam Majalah Trubus dan Tiara. Teknik pengumpulan

data-nya dilakukan dengan cara mengumpulkan paragraf eksposisi dan paragraf

argumen-tasi dari sumber data. Sumber data diperoleh dari majalah dwi mingguan Tren dan

Informasi Perilaku Tiara, dan dari majalah bulanan pertanian Trubus. Hasil

peneliti-annya menunjukkan bahwa penanda kohesi dan koherensi sangat menentukan jenis

kohesi. Deskripsi koherensi kalimat topik dengan kalimat pengembangan

menunjuk-kan bahwa hubungan makna di antara keduanya sangat menentumenunjuk-kan jenis hubungan

(23)

Relevansi penelitian L. M. Sri Sudartanti (1993) terhadap penelitian ini adalah

sama-sama berfokus pada kohesi dan koherensi dalam majalah. Penelitiannya banyak

memberikan gambaran mengenai analisis kohesi dan koherensi dalam majalah. Namun,

jika penelitian di atas hanya dilakukan pada kohesi dan koherensi kalimat topik dan

pengembang yang terdapat dalam paragraf eksposisi dan paragraf argumentasi dalam

majalah Trubus dan Tiara, penelitian ini lebih melibatkan kohesi dan koherensi pada

majalah Matabaca khususnya wacana rubrik “Teras Muda”.

Agustina Anie Puspitasari (2004) melakukan penelitian yang berkaitan dengan

kohesi dan koherensi. Penelitiannya berjudul Analisis Wacana Rubrik “Psikoterapi”

Surat Kabar Mingguan Minggu Pagi Edisi Tahun 2003. Penelitian ini mengambil data

dari wacana rubrik “Psikoterapi” Surat Kabar Mingguan MP (Minggu Pagi) selama

bulan Januari sampai dengan Desember 2003. Hasil analisis yang diperoleh adalah

(1) berdasarkan strukturnya, wacana rubrik “psikoterapi” dalam Surat Kabar

Minggu-an MP (Minggu Pagi) dapat dikelompokkMinggu-an menjadi wacMinggu-ana lengkap dMinggu-an wacMinggu-ana tidak

lengkap, (2) berdasarkan kohesi wacana rubrik “psikoterapi” yang berupa pertalian

unsur semantisnya diwujudkan menjadi bentuk kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.

Relevansi penelitian Agustina Puspitasari (2004) terhadap penelitian ini adalah

sama-sama berfokus pada kohesi dan koherensi dalam wacana rubrik. Penelitiannya

banyak memberikan gambaran mengenai analisis kohesi dan koherensi dalam wacana

rubrik.

Yunita Hartanti (2007) melakukan penelitian yang berkaitan dengan kohesi dan

koherensi. Penelitiannya berjudul Kohesi dan Koherensi dalam Wacana pada Buku

Teks Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMU Kelas X Karangan Dawud, dkk Terbitan

Erlangga Tahun 2004. Jenis penelitian yang dilakukan Yunita yaitu penelitian

(24)

pen-catatan. Sumber data berupa kohesi dan koherensi pada buku teks Bahasa dan Sastra

Indonesia Kelas X karangan Dawud, dkk. Terbitan Erlangga tahun 2004 pada unit 1,

unit 6, dan unit 12, yang terdiri dari 25 wacana. Hasil analisis yang diperoleh adalah

kohesi yang terdapat dalam buku teks Bahasa dan Sastra Indonsia untuk SMA Kelas X

karangan Dawud, dkk. Terbitan Erlangga tahun 2004 menggunakan kohesi gramatikal

dan kohesi leksikal, sedangkan koherensinya menggunakan keherensi penanda dan

koherensi tidak berpenanda.

2.2 Kajian Teori

2.2.1 Media Massa Cetak

Media massa cetak artinya bacaan umum yang memuat berita, opini, atau artikel

mengenai hal-hal yang perlu diketahui orang banyak. Majalah sering dikelompokkan

sebagai media massa cetak. Majalah juga seringkali diterbitkan menurut bidang tertentu

(politik, agama, wanita, komputer, fauna dan flora, remaja, dan sebagainya) (Zed, 2004:

13).

2.2.2 Wacana

Dalam hierarki kebahasaan wacana merupakan tataran yang paling besar.

Se-bagai tataran yang terbesar, wacana bukan susunan kalimat secara acak, namun

me-rupakan satuan bahasa, baik lisan maupun tulisan, yang tersusun secara

berke-sinambungan dan membentuk kepaduan.

Menurut Hasan Alwi yang dimaksud dengan wacana adalah rentetan kalimat

yang berkaitan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu

(Alwi dkk, 1993: 43). Berdasarkan medianya wacana dibagi menjadi dua, yaitu wacana

tulis dan wacana lisan. Wacana tulis merupakan teks-teks tertulis, sedangkan wacana

(25)

terlengkap dan terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang

tinggi yang berkesinambungan, yang mempunyai awal dan akhir yang nyata,

disampai-kan secara lisan. Maka hal yang penting yang harus dipahami bahwa wacana yang utuh

(wacana tulis maupun lisan) harus mempertimbangkan segi isi atau informasi yang

ko-heren dan wacana yang padu harus mempertimbangkan kohesi hubungan antarkalimat.

2.2.3 Kohesi

Halliday dan Hasan (1992, melalui Suwandi, 2002: 81) berpendapat bahwa

kohesi adalah perangkat sumber-sumber kebahasaan yang dimiliki setiap bahasa

se-bagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian teks dengan bagian

lainnya. Menurut Halliday dan Hasan kohesi dibagi menjadi dua jenis, yaitu kohesi

gramatikal (gramatical cohesion) dan kohesi leksikal (lexsical cohesion). Kohesi

gramatikal adalah keterkaitan semantis bagian-bagian wacana yang diwujudkan ke

da-lam sistem gramatikal. Kohesi leksikal adalah keterkaitan leksikal antara bagian-bagian

wacana (1979, melalui Baryadi, 2002: 17).

a. Kohesi Gramatikal

Alat kohesi gramatikal yang digunakan dalam wacana tertentu akan berbeda

dengan alat kohesi gramatikal yang digunakan dalam wacana yang lain. Hal ini karena

pemakaian alat kohesi erat kaitannya dengan tujuan penulisan wacana. Kohesi

grama-tikal itu muncul jika terdapat unsur lain yang dapat ditautkan dengannya. Oleh Halliday

dan Hasan, kohesi gramatikal meliputi referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi.

(26)

1) Referensi

Referensi adalah kohesi gramatikal yang berupa unsur tertentu, menunjuk unsur

bahasa yang mendahului atau mengikutinya (Baryadi, 2002: 18). Referensi biasa

di-sebut penunjukan (Baryadi, 2002: 18) dan pronomina (Alwi dkk, 1993: 273).

Berdasarkan fungsinya, Alwi (1993: 273) berpendapat bahwa pronomina

menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan

da-lam kalimat tertentu juga pronomina dapat menduduki posisi predikat. Ciri lain yang

dimiliki pronomina ialah bahwa acuannya dapat berpindah-pindah bergantung kepada

siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau

siapa/apa yang dibicarakan.

Halliday dan Hasan membedakan pangacuan (referensi) menjadi tiga jenis yaitu

(1) pengacuan persona, (2) pengacuan penunjukan (demonstratif), dan (3) pengacuan

pembandingan (komparatif). Selain pembagian di atas, menurut Halliday dan Hasan

pengacuan juga dapat dibedakan atas pengacuan endofora apabila acuannya (satuan

lingual yang diacu) berada atau terdapat di dalam teks wacana itu dan pengacuan

ekso-fora apabila acuannya berada atau terdapat di luar teks wacana. Pengacuan endoekso-fora

berdasarkan arah pengacuannya dibedakan lagi menjadi dua jenis, yaitu pengacuan

ana-foris dan pengacuan kataana-foris. Pengacuan anaana-foris adalah salah satu kohesi gramatikal

yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang

men-dahuluinya atau mengacu anteseden sebelah kiri. Pengacuan kataforis adalah salah satu

kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan

lingual yang mengikutinya, atau mengacu anteseden di sebelah kanan (Halliday dan

Hasan, 1976 melalui Suwandi, 2002: 82). Secara lebih singkat pengacuan anaforis

(27)

pada unsur yang baru disebutkan kemudian. Pada dasarnya anaforis dan kataforis

di-markahi oleh bentuk persona dan bukan persona. Referensi meliputi referensi persona,

referensi demonstratifa, dan referensi komparatif. Berikut ini adalah uraian dari setiap

bagian referensi tersebut.

a) Referensi Persona

Referensi persona ditandai dengan pemakaian pronomina persona (kata

ganti orang). Pronomina persona adalah deiktis yang mengacu pada orang secara

berganti-ganti bergantung pada “topeng” (proposan) yang sedang diperankan oleh

partisipan wacana (Fillmore dalam Abdul Rani 2006: 100). Partisipan itu dapat

berperan sebagai pembicara (persona I), pendengar (persona II), atau yang dibicarakan

(persona III), baik tunggal maupun jamak dan baik anaforis maupun kataforis.

Demikian juga pronomina persona enklitik -nya merupakan alat kohesi wacana.

Klasifikasi pronomina persona secara lebih lengkap dapat diperhatikan sebagai berikut.

Tebel 2.1 Klasifikasi Referensi Pronomina Persona

Tunggal

Aku, saya, daku Terikat lekat kiri: ku- Terikat lekat kanan: -ku I

Jamak

kami

kami semua kita

Tunggal

kamu, anda, engkau, dikau terikat lekat kiri: kau- terikat lekat kanan:-mu II

Jamak

kalian

kamu semua (sekalian) Anda sekalian

Tunggal

ia, dia, beliau terikat lekat kiri: di- terikat lekat kanan: -nya PERSONA

III

Jamak mereka

(28)

Perhatikan contoh berikut ini:

(1) Liliani mulai melibatkan diri ke dalam narkotika sejak masih duduk di kelas terakhir sekolah dasar. Sejak dia mulai meningkat remaja, tekanan batin yang dialaminya semakin terasa menyiksa. Dia dianggap tidak ada, diacuhkan. Diajak bicara pun tidak, bahkan dimarahi pun tak pernah dia rasakan, apalagi sampai dipukul (Baryadi, 1990 dalam majalah Gatra, h.44-45)

(2) Dengan sepedanya itu, Pak Amat menulusuri jalan Malioboro (Soewandi, 2001: 46)

Pada tuturan (1) kata dia mengacu pada Liliani (kohesi gramatikal dengan

pengacuan endofora [karena acuannya terdapat di dalam teks], yang bersifat anaforis

[karena berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang

mendahuluinya atau mengacu anteseden sebelah kiri, atau pula mengacu pada unsur

yang telah disebut sebelumnya] melalui satuan lingual berupa pronomina III tunggal

bentuk bebas). Pada tuturan (2) kata –nya mengacu pada Pak Amat (kohesi gramatikal

dengan pengacuan endofora [karena acuannya terdapat di dalam teks], yang bersifat

kataforis [karena berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual yang

mengikutinya, atau mengacu anteseden di sebelah kanan, atau pula mengacu pada

un-sur yang baru disebutkan kemudian] melalui satuan lingual berupa pronomina III

tung-gal bentuk terikat lekat kanan).

b) Referensi Demonstratif

Referensi demonstratif atau kata ganti penunjuk digunakan untuk

menunjuk (menggantikan) nomina. Secara lebih rinci Alwi (1993: 287) membagi

referensi demonstratif menjadi empat yaitu, (1) penunjuk umum, (2) penunjuk waktu,

(3) penunjuk tempat, dan (5) penunjuk ihwal. Penunjuk umum terdiri dari ini, itu, dan

anu. Penunjuk waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti kini, sekarang, dan

(29)

datang) dan waktu netral (seperti pagi dan siang). Penunjuk tempat ada yang mengacu

pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (sini, ini), agak jauh dengan

pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara (sana), dan menunjukkan tempat secara

eksplisit. Dan penunjuk ihwal (begini, begitu, dan demikian), titik pangkal pembedanya

sama dengan penunjuk lokasi: dekat (begini), jauh (begitu), dan netral (demikian).

Klasifikasi pronomina demonstratif dapat diperhatikan sebagai berikut.

Tabel 2.2 Klasifikasi Referensi Pronomina Demostratif

Kini: kini, sekarang, saat ini

Lampau: kemarin, dulu, ….yang lalu Yang akan datang: besok, ….depan, …yang akan datang

Waktu

Netral: pagi, siang, sore, pukul 12 Dekat dengan penutur: sini, ini Agak dekat dengan penutur: situ, itu Jauh dengan penutur: sana

Tempat

Menunjuk secara eksplisit Dekat:begini

Jauh: begitu Ihwal

Netral: demikian Dekat: ini Jauh: itu DEMONSTRATIF

(PENUNJUKAN)

Umum

Netral: anu

Perhatikan contoh berikut ini:

(1) Sudah dua tahun suami Iyah tinggal di Malaysia. Menurut kabar, di sana dia bekerja di perpustakaan kayu lapis. Meskipun belum pernah pulang, setiap bulan dia selalu mengirimkan uang untuk keluarganya di Jawa (Baryadi, 2002: 23).

(2) Dia telah lama tinggal di kota ini. Dia berdagang sejak puluhan tahun yang lalu. Di sini dia merasa cukup beruntung karena barang dagangannya yang berupa barang pecah belah cukup laris (Baryadi, 2002: 23)

Berdasarkan contoh di atas, pada tuturan (1) kata di sana mengacu pada

Malaysia (kohesi gramatikal pengacuan endofora yang bersifat anaforis melalui

(30)

(2) kata di sini mengacu pada kota ini (kohesi gramatikal pengacuan endofora yang

bersifat anaforis melalui pronomina demonstratif tempat yang dekat dengan penutur).

c) Referensi Komparatif

Menurut Sumarlam (2003, melalui Hartanti, 2007: 19), referensi

komparatif (perbandingan) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat

membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari

segi bentuk/wujud, sikap, watak, perilaku, dan sebagainya. Kata-kata yang biasa

di-gunakan untuk membandingkan misalnya sama, bagaikan, laksana, berbeda, serupa,

persis sama dengan. Perhatikan contoh berikut:

Rio berusia lima tahun. Umur Dita sama dengan umur Rio.

Satuan lingual sama pada tuturan di atas merupakan referensi komparatif

yang berfungsi membandingkan umur antara Rio dan Dita. Tuturan di atas mengacu

padalima tahun.

2) Substitusi (Penggantian)

Menurut Baryadi (1990: 43), substitusi atau penyulihan atau penggantian adalah

kohesi gramatikal yang berupa unsur bahasa tertentu mengganti unsur bahasa yang

mendahului atau mengikutinya. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan

menjadi subtitusi nomina, verba, frasa, dan klausa.

a) Substitusi Nomina

Substitusi nomina (Sumarlam 2003, melalui Yunita Hartanti, 2007: 21)

adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan

(31)

b) Substitusi Verba

Substitusi verba (Sumarlam 2003, melalui Yunita Hartanti, 2007: 21) adalah

penggantian satuan lingual yang berkategori verba dengan satuan lingual yang juga

berkategori verba, misalnya kata berusaha diganti dengan kata berikhtiar, dan

se-bagainya. Perhatikan contoh berikut.

Ia berdiri. Seolah-olah perbuatannya itu dilakukan sebagai protes, matanya memandang ke lapangan, ke udara sore yang bening (Suwandi, 2003: 241).

Pada contoh di atas satuan lingual verba berdiri yang telah disebut terdahulu

digantikan oleh satuan verba pula yaitu kata perbuatannya yang disebutkan kemudian.

c) Substitusi Frasa

Substitusi frasa adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata

atau frasa dengan satuan lingual lainnya yang berupa frasa. Perhatikan contoh berikut.

Tak pelak, hilangnya Maya pun memunculkan spekulasi lain. Dia disebut-sebut menghilang bersama Tommy. Bisa jadi dan bukan mus-tahil. Pasalnya, kedua insan ini punya hubungan khusus (Suwandi, 2003: 240).

Berdasarkan contoh di atas, kata Maya pada kalimat pertama dan Tommy

pada kalimat kedua disubstitusikan dengan frasa kedua insan ini pada kalimat keempat.

d) Substitusi Klausa

Substitusi Klausa adalah penggantian satuan lingual yang berupa klausa atau

kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frasa.

Indonesia kalah di final. Ya, saya dengar demikian.

Pada contoh di atas tampak bahwa kata demikian menggantikan klausa

(32)

Substitusi atau penggantian juga dilakukan untuk menghindari penyebutan

berulang-ulang. Secara definitif, substitusi adalah hubungan antara kata (-kata) dan kata

(-kata) lain yang digantikannya. Contoh alat gramatikal yang digunakan untuk

men-ciptakan substitusi adalah demonstrativa ini, begitu, di bawah ini, dan berikut ini untuk

menggantikan kata yang akan disebut; demonstrativa itu, begitu, demikian, tersebut,

dan di atas untuk menggantikan kata yang sudah disebut (Yuwono, 2005: 97).

3) Elipsis (Penghilangan)

Elipsis atau biasa disebut penghilangan (Yuwono, 2005: 98) adalah

peng-hilangan kata (-kata) yang dapat dimunculkan kembali dalam pemahamannya. Elipsis

dapat dilakukan untuk menciptakan kepaduan wacana. Menurut Tarigan, elipsis dapat

pula dikatakan penggantian nol (zero); sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau

tidak dituliskan. Perhatikan contoh berikut.

(1) Yuna mengikuti kuliah Analisis Wacana. Agung juga [mengukuti kuliah Analisis Wacana].

(2) Karena [Widya] sakit, Widya tidak dapat mengikuti kuliah hari ini.

Pada contoh di atas kalimat kedua pada contoh (1) tersebut, yang datang dari

bahasa lisan, mengikuti kuliah Analisis Wacana dihilangkan (dalam kurung siku),

na-mun tetap terpahami apa yang dihilangkan. Demikian pula dalam kalimat (2), yang

datang dari bahasa tulis, Widya dihilangkan dalam anak kalimat karena telah

di-munculkan dalam induk kalimat.

4) Konjungsi

Konjungsi menurut Suwandi (2003: 243) adalah kata tugas yang

meng-hubungkan dua klausa atau lebih. Konjungsi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu konjungsi

(33)

a) Konjungsi Koordinatif

Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur

atau lebih dan kedua unsur itu memiliki status yang sama (Suwandi, 2003: 243).

Konjungsi koordinatif sering ditandai dengan konjungtor dan, atau, tetapi, ada

beberapa konjungtor lain untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu lalu, kemudian,

lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik…maupun, tidak…tetapi, dan

bukan-(nya)…melainkan.

(1) Hal ini disebabkan bibit dari biji mempunyai akar yang lebih dalam dan batang yang lebih kokoh dibandingkan bibit cangkokan (Mafrukhi dkk, 2007: 81).

(2) Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daun-daun, kemudian dibungkus dengan sobekan kain sarung Pak Balam (Mafrukhi dkk, 2007: 123).

Pada contoh (1), konjungsi dan berfungsi menghubungkan klausa akar yang

lebih dalam dan batang yang lebih kokoh. Kedua klausa itu memiliki kedudukan yang

sama. Kata kemudian pada contoh (2) berfungsi menghubungkan dua klausa yang sama

kedudukannya, yaitu klausa Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan

daun-daun dan dibungkus dengan sobekan kain sarung Pak Balam. Dengan

mem-perhatikan fungsinya jelaslah bahwa kedua konjungsi itu tergolong konjungsi

koor-dinatif.

b) Konjungsi Subordinatif

Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa

atau lebih dan klausa itu tidak memiliki status sintaktis yang sama. Salah satu dari

klausa itu merupakan anak kalimat (klausa subordinatif) (Suwandi, 2003: 244).

Konjungsi subordinatif sering ditandai dengan konjungtor meskipun, kalau, bahwa.

(34)

ketika, sementara, setelah (konjungsi subordinatif waktu), jika, bila, bilamana

(konjungsi subordinatif syarat), sebab, karena, akibat (konjungsi subordinatif

penyebab), sehingga, maka (konjungsi subordinatif pengakibatan), dengan, tanpa

(kon-jungsi subordinatif cara), walau(pun), sekali(pun) (konjungsi subordinatif konsesif),

andai, andaikata, sekiranya (konjungsi subordinatif pengandaian) dan bahwa

(kon-jungsi subordinatif penjelasan). Contohnya sebagai berikut:

(1) Aneh, Srintil merasa ada sesuatu yang terlampiaskan ketika daun yang tak bersalah itu remuk dalam genggamannya (Suwandi, 2003: 244). (2) Sepanjang kita tidak melakukan perbaikan itu, maka ancaman

kecelakaan akan terus terjadi (Suwandi, 2003: 245)

Pada tuturan (1) kata ketika menyatakan konjungsi subordinatif khususnya

konjungsi subordinatif waktu. Pada tuturan (2) kata maka menyatakan konjungsi

sub-ordinatif khususnya subsub-ordinatif pengakibatan.

c) Konjungsi Antarkalimat

Konjungsi antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang

lain dalam sebuah wacana. Oleh karena itu, konjungsi ini selalu memulai suatu kalimat

baru. Konjungsi antarkalimat sering ditandai dengan konjungtor namun, tetapi,

sebaliknya (menyatakan pertentangan), sama halnya, berbeda dengan itu, seperti

(menyatakan perbandingan), akibatnya, konsekuensinya, dengan demikian, oleh karena

itu, sebab itu (menyatakan sebab-akibat), mudah-mudahan (menyatakan harapan),

singkatannya, pendeknya, pada umumnya, jadi, kesimpulannya, dengan ringkasnya

(menyatakan simpulan), selain itu, apalagi (menyatakan adanya hal lain di luar yang

telah dinyatakan sebelumnya). Perhatikan contoh berikut.

(35)

Berdasarkan contoh diatas, terlihat bahwa frasa oleh karena itu berfungsi

se-bagai konjungsi antarkalimat.

b. Kohesi Leksikal

Wacana yang baik selain didukung oleh aspek gramatikal, juga didukung oleh

aspek leksikal. Kohesi leksikal adalah hubungan semantis antarunsur pembentuk

wacana dengan memanfaatkan unsur leksikal atau kata (Yuwono, 2005: 98). Halliday

dan Hasan (1979, melalui Baryadi, 1990: 46) memaparkan tiga jenis kohesi leksikal,

yaitu (1) “general nouns”, (2) reiterasi, dan (3) kolokasi. Namun, untuk kepentingan

analisis wacana bahasa Indonesia, pembagian tersebut diubah, karena “general nouns“

sulit dibedakan dalam bahasa Indonesia. Kohesi leksikal yang akan dibahas dalam

penelitian ini di samping berdasarkan pemikiran Halliday dan Hasan juga didasarkan

jenis relasi makna leksikal yang dikemukakan oleh Yuwono (2005: 98), bahwa kohesi

leksikal dapat diwujudkan dengan reiterasi dan kolokasi.

1) Reiterasi

Reiterasi menurut Yowono (2005: 99) adalah pengulangan kata-kata pada

kalimat berikutnya untuk memberikan penekanan bahwa kata-kata tersebut merupakan

fokus pembicaraan. Reiterasi dapat berupa repetisi, sinonim, hiponim, metonimi, dan

antonimi.

a) Repetisi

Repetisi atau ulangan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan

hu-bungan kohesif antarkalimat. Huhu-bungan itu dibentuk dengan mengulang sebagian

(36)

ter-diri dari pengulangan penuh dan pengulangan dengan bentuk lain. Perhatikan contoh

berikut ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi menatapkan Sumardi sebagai ter-sangka dalam kasus tindak pidana korupsi di perusahaan besar itu. Tersangka saat ini ditahan di Rumah Tahanan Salemba (Yuwono, 2005: 99).

Pada contoh di atas, kata tersangka pada kalimat pertama diulang

kembali pada kalimat kedua.

b) Sinonim

Sinonim adalah hubungan makna antarkata (frasa atau kalimat) yang

maknanya sama atau mirip (Darmojuwono, 2005: 117). Ada beberapa hal yang

me-nyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim, seperti kata-kata yang berasal dari

bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing. Contoh, kukul (bahasa Jawa)

ber-sinonim dengan jerawat (bahasa Indonesia); diabetes bersinonim dengan penyakit

kencing manis; atau telepon genggam bersinonim dengan handphone (bahasa asing),

dan sebagainya. Perhatikan contoh berikut ini.

Setelah 34 tahun memendam cinta membara, akhirnya Pangeran Charles dan Camila Parker resmi menjadi suami-istri. Pasangan pe-ngantin ini menikah pada Sabtu, 9 April 2005 (Yuwono, 2005: 99).

Tampak pada tuturan di atas terdapat sinonim kata suami-istri pada kalimat

pertama dengan kata pasangan pengantin.

c) Hiponim

Hiponim adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna

spesifik dalam makna generik, seperti makna anggrek dalam makna bunga, makna

(37)

bunga, sedangkan kucing, anjing, kambing, dan kuda berhiponim dengan binatang

(Darmojuwono, 2005: 118).

Menurut Suwandi (2003: 248), konsep hiponimi berkaitan dengan kata

umum dan kata khusus. Dalam relasi makna, kata umum mengacu ke hipernim;

sedangkan kata khusus mengacu ke hiponim. Misalnya, pemakaian frasa sepeda motor

dan kendaraan. Kendaraan merupakan hipernim; sedangkan sepeda motor merupakan

hiponim. Contoh lain, frasa sepeda motor dan Harley Davidson. Sepeda motor

me-rupakan hipernim; sedangkan hiponimnya adalah Herley Davidson. Dari contoh itu

diketahui bahwa sebuah kata atau frasa dapat digolongkan sebagai hipernim dan dapat

pula sebagai hiponim. Penggolongan itu sangat tergantung pada relasi kata itu dengan

kata lainnya.

Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikut.

Mamalia mempunyai kelenjar penghasil susu. Manusia menyusui anaknya. Paus pun demikian (Yuwono, 2005: 99)

Berdasarkan contoh di atas manusia dan paus merupakan anggota (hiponim)

dari kelas mamalia.

d) Metonimi

Metonimi adalah relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hiponimi

karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan perlibatan searah,

tetapi merupakan relasi makna bagian dengan keseluruhan. Perhatikan contoh di bawah

ini.

(38)

Dari contoh di atas yang dimaksud garuda bukanlah burung garuda,

melainkan pesawat (maskapai penerbangan) yang berasosiasi dengan burung garuda

yang dapat terbang.

e) Antonimi

Antonimi atau oposisi adalah relasi antarkata yang bertentangan atau

ber-kebalikan maknanya. Antonimi terdiri dari (1) antonimi makna dalam pasangan

leksi-kal bertaraf, seperti panas dengan dingin, antonimi ini disebut bertaraf karena antara

panas dan dingin masih ada kata-kata lain seperti hangat dan suam-suam kuku. (2)

An-tonimi makna dalam pasangan leksikal tidak bertaraf (oposisi komplementer), seperti

jantan dengan betina. Dengan demikian, jika dikatakan Pusu seekor kucing jantan, itu

berarti Pusu bukan kucing betina. (3) Relasi antarkata ada juga yang maknanya

ber-kebalikan, seperti kata suami dengan kata istri, yang dapat dijelaskan sebagai “jika Tina

istri Tono, berarti Tono suami Tina” (Darmojuwono, 2005: 118). Perhatikan contoh

be-rikut.

Laki-laki lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif. Wanita sebaliknya, lebih emosional, lebih pasif, lebih submisif (Baryadi, 2002: 28).

Pada contoh di atas terdapat tiga pasang kata yang memiliki makna yang

saling bertentangan, yaitu rasional x emosional, aktif x pasif, dan agresif x submisif.

2) Kolokasi

Menurut Suwandi (2003: 249), kolokasi adalah asosiasi yang tetap antara kata

dengan kata lain yang berdampingan. Atau menurut Yuwono (2005: 100), kolokasi

adalah hubungan antarkata yang berada pada himpunan atau bidang yang sama. Seperti

(39)

air. Jika keadaannya demikian, secara psikologis, akan ditarik suatu simpulan kolokasi.

Untuk lebih jelas perhatikan contoh lain berikut ini.

Ada siswa yang mati karena dipukuli oleh teman-temannya. Kata gurunya, almarhum adalah siswa yang nakal dan suka menakut-nakuti teman-temannya dengan seenjata tajam. Tetapi, menurut keluarga almarhum, dia itu sangat soleh dalam hidupnya. Dia tak pernah berbuat hal yang melanggar hukum (Baryadi, 2002: 28-29).

Pada contoh di atas terlihat bahwa kata mati berkolokasi dengan kata

al-marhum karena kedua kata itu memiliki makna yang saling berdekatan, yaitu

almar-hum mengandaikan sudah mati.

2.2.4 Koherensi

Menurut Yuwono (2005: 101), koherensi adalah keberterimaan suatu tuturan

atau teks karena kepaduan semantisnya. Secara lebih spesifik, koherensi diartikan

se-bagai hubungan antara teks dan faktor di luar teks berdasarkan pengetahuan seseorang.

Pengetahuan seseorang yang berada di luar teks itu sering disebut konteks bersama

atau pengetahuan bersama. Menurut Eriyanto (2006: 242) koherensi adalah pertalian

atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks. Koherensi terdiri dari berbagai jenis dan

setiap jenis wacana memiliki corak koherensi yang berbeda pula. Sebagai penghubung

semantis koherensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu koherensi berpenanda dan

ko-herensi tidak berpenanda. Menurut Baryadi (2002: 33), koko-herensi berpenanda

di-ungkapkan secara eksplisit dalam bentuk tanda (misalnya berupa konjungsi), sedangkan

koherensi tidak berpenanda diungkapkan secara implisit yaitu tidak ditandai namun

dapat dipahami dari hubungan antarkalimatnya.

a. Koherensi Berpenanda

Koherensi berpenanda dibagi menjadi tujuh, yaitu koherensi kausalitas,

(40)

ko-herensi perurutan, dan koko-herensi perincian. Koko-herensi berpenanda biasanya

diungkap-kan dengan konjungsi. Berikut ini uraian dari tujuh koherensi berpenanda.

1) Koherensi Kausalitas

Koherensi kausalitas merupakan hubungan makna sebab-akibat antara kalimat

yang satu dengan kalimat yang lain. Contoh:

Kira-kira mulai tahun 1980-an perkembangan pengkajian bahasa Indonesia cenderung mengarah ke bidang analisis wacana. Namun, perkembangan tersebut menghadapi kendala, yaitu masih langkanya literature berbahasa Indonesia mengenai wacana, baik mengenai teori maupun model analisisnya. Oleh sebab itu, penyusunan buku ini dimaksudkan untuk mengisi kerumpangan tersebut (Baryadi, 2002: 29)

Pada contoh di atas, kalimat terakhir berkoherensi kausalitas dengan kalimat

sebelumnya dengan ditandai oleh konjungsi oleh sebab itu.

2) Koherensi Kontras

Kontras merupakan sarana koherensi yang merupakan hubungan makna

per-lawanan atau pertentangan antara satu kalimat dengan ditandai dengan kalimat yang

lain. Contoh:

Pohon rumbia memperbanyak durinya dengan tunas di bawah tanah. Jika sudah berbuah, pohon palem yang bernama rumbia ini akan mati. Akan tetapi, rumbia mampu hidup antara sembilan sampai lima bels tahun (Baryadi, 2002: 30).

Pada contoh di atas, kalimat kedua dan kalimat pertama memiliki hubungan

perlawanan (koherensi kontras) yang ditandai dengan konjungsi akan tetapi.

3) Koherensi Aditif

Koherensi aditif adalah hubungan makna penambahan antara kalimat yang satu

dengan kalimat yang lain, yang ditandai konjungsi tertentu antara lain: dan, juga, lagi

pula, berikutnya, disamping itu. Contoh alinea yang mengandung hubungan aditif:

(41)

Berdasarkan contoh di atas kalimat tersebut memiliki hubungan makna

pe-nambahan (koherensi aditif), yang ditandai dengan konjungsi dan, juga.

4) Koherensi Temporal

Koherensi temporal adalah hubungan makna waktu antara kalimat yang satu

dengan kalimat yang lain (Sumadi, 1988 melalui Hartanti, 2007: 45). Hubungan

mak-na waktu ditandai dengan konjungsi misalnya setahun lalu, seminggu sekali, dua

ming-gu, sekarang, sebulan sekali, dan lain-lain. Berikut ini contoh alinea yang

mengan-dung hubungan makna waktu.

Setahun sekali saya karyawati umur 45, pernah menjalani operasi kanker payudara. Sesudahnya harus menjalani control. Tadinya se-minggu sekali, lalu dua minggu, dan sekarang sebulan sekali. Selain mahal, juga melelahkan. Tetapi sampai sekarang tidak ada kepastian apakah payudara saya sudah sehat atau ini akan berlangsung abadi (Hartanti, 2007: 45).

Pada kalimat di atas terdapat hubungan makna waktu (koherensi temporal) yang

dinyatakan dengan konjungsi setahun sekali, seminggu sekali, dua minggu, sekarang

sebulan sekali, dan sekarang.

5) Koherensi Kronologis

Koherensi kronologis merupakan hubungan rangkaian waktu. Menurut Baryadi,

koherensi ini sering ditandai oleh konjungsi yang menyatakan temporal (lalu,

ke-mudian, ini, sesudah itu), penanda kala (dulu, sekarang), dan penanda aspek (akan,

be-lum, sudah). Contoh:

Setelah berlari Busrodin masuk ke dalam lubang perlindungan. Terengah-engah lalu meletakkan tubuh sahabatnya di atas tanah. Sekarang mereka terlindung dari tembakan senapan musuh (Baryadi, 2002: 33).

Contoh di atas terdiri dari empat kalimat. Di antara kalimat-kalimat tersebut

menyatakan berbagai peristiwa yang terjadi secara kronologis yang ditunjukkan dengan

(42)

6) Koherensi Perurutan

Koherensi perurutan merupakan hubungan makna yang menyatakan perbuatan

yang harus dilakukan secara berurutan. Contoh:

Pertama-pertama kita semua harus mendaftarkan diri sebagai anggota perkumpulan. Kedua, kita membayar uang iuran. Berikutnya kita mengikuti segala kegiatan, baik berupa latihan maupun kursus-kursus. Kemudian kita mengikuti ujian, dan selanjutnya kalau lulus kita diterima sebagai anggota tetap. Akhirnya kita diangkat menjadi penyuluh bagi masyarakat pedesaan dalam hal-hal praktis mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga. (Tarigan, 1987: 106).

Contoh di atas terdiri dari lima kalimat. Diantara kalimat-kalimatnya

me-nyatakan koherensi perurutan yang ditandai dengan konjungsi pertama-pertama,

ke-dua, berikutnya, kemudian, selanjutnya, dan akhirnya.

7) Koherensi Perincian

Koherensi perincian adalah koherensi yang menyatakan hubungan makna

rincian penjelasan sesuatu hal secara sistematis (Baryadi, 2002: 32). Perhatikan contoh

berikut ini.

Berdasarkan media yang digunakan, komunikasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan media yang berupa bahasa, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan media yang be-rupa media bukan bahasa, baik media visual (bendera, cahaya, gam-bar) maupun media audio (sirine, kentongan, bel).

Pada contoh di atas terdiri dari tiga kalimat. Tampak bahwa ketiga kalimat

ter-sebut memiliki hubungan yang menyatakan perincian dua macam komunikasi baik

komunikasi verbal maupun nonverbal. Perincian pada contoh di atas ditandai dengan

(43)

b. Koherensi Tidak Berpenanda

Menurut Baryadi (2002: 34) koherensi tidak berpenanda diungkapkan secara

implisit yaitu tidak ditandai dengan konjungsi namun dapat dipahami dari hubungan

antarkalimatnya. Koherensi tidak berpenanda dalam wacana dibagi menjadi tiga, yaitu

1) koherensi pentahapan, 2) koherensi perian, dan 3) koherensi wacana dialog. Berikut

ini uraian dari tiga bentuk koherensi berpenanda.

1) Koherensi Pentahapan

Koherensi pentahapan adalah koherensi yang merupakan hubungan makna yang

menyatakan tahap-tahap terjadinya suatu peristiwa atau yang menyatakan perbuatan

yang harus dilakukan secara bertahap atau berurutan. Perhatikan contoh berikut ini.

1. Cuci daging, iris lebar-lebar (serat memanjang).

2. Haluskan semua bumbu-bumbu, campurkan dengan daging sambil diremas-remas.

3. Rebus dengan ½ gelas air. Tambahkan air tiap kali, hingga daging lunak.

4. Panaskan minyak dalam wajan (penggorengan). 5. Goreng daging hingga warnanya kecoklat-coklatan. 6. Hidangkan dalam piring daging

Pada contoh di atas tediri dari enam tahap mengolah daging untuk dijadikan

pa-nganan. Tampak bahwa proses pentahapan di atas diungkapkan secara implisit, yaitu

ti-dak diungkapkan dengan penanda. Koherensi yang diungkapkan secara implisit pada

contoh di atas dapat dipahami lewat urutan kalimatnya.

2) Koherensi Perian

Koherensi perian adalah koherensi yang merupakan hubungan makna yang

menyatakan pendeskripsian sesuatu hal secara jelas. Perhatikan contoh berikut ini.

(44)

Pada contoh di atas terdiri dari tiga kalimat. Tampak bahwa kalimat-kalimat

ter-sebut mendeskripsikan burung walet mulai dari ukuran, sayap, variasi warna, sampai

pada kaki.

3) Koherensi wacana Dialog

Koherensi wacana dialog adalah koherensi yang didominasi oleh koherensi

sti-mulusrespon. Koherensi ini tidak diwujudkan dalam bentuk penanda sehingga harus

dipahami dari hubungan antarkalimatnya. Koherensi wacana dialog dibagi menjadi

lima, yaitu a) koherensi fatis, b) koherensi informatif, c) koherensi pengukuhan, d)

ko-herensi penolakan, e) koko-herensi negosiatif (Baryadi, 2002: 34-35). Penjelasan mengenai

koherensi wacana dialog hanya dijelaskan sekilas, dengan maksud untuk menambah

pengetahuan pembaca saja.

2.2.5 Keterkaitan antara Kohesi dan Koherensi

Wacana yang utuh akan terbentuk apabila mengandung kohesi dan koherensi

yang merupakan penghubung bentuk dan makna. Menurut Pranowo (1996: 84) ada tiga

bentuk pertalian antara kohesi dan koherensi dalam wacana, yaitu a) kohesif sekaligus

koheren, b) kohesif tidak koheren, dan c) tidak kohesif tetapi koheren. Namun, ada satu

hal lagi yang menurut penulis perlu diketahui bahwa ada pula wacana yang tidak

memiliki keterkaitan kohesi dan koherensi (tidak kohesif dan tidak koheren). Berikut

ini uraian dari ketiga bentuk pertalian antara kohesi dan koherensi dalam wacana.

a) Kohesif sekaligus Koheren

Wacana yang terbentuk dengan pertalian yang kohesif sekaligus koheren

(45)

Untuk lebih jelas perhatikan contoh berikut.

(1) Ia duduk termenung karena (ia) sedih.

(2) Saya terpaksa berangkat ke Malang juga, meskipun anak dan istri di rumah kurang sehat.

Pada contoh (1) kalimat ia sedih dihubungkan dengan kalimat ia duduk

ter-menung dengan menggunakan kata penghubung karena (penanda kohesi). Pada contoh

(2) kalimat saya terpaksa berangkat ke Malang berhubungan dengan kalimat anak dan

istri di rumah kurang sehat, kedua kalimat ini dihubungkan dengan kata penghubung

meskipun. Dapat dilihat dari kedua contoh di atas peristiwa yang satu menjadi sebab

terjadinya suatu peristiwa berikutnya. Maka contoh di atas di samping memiliki

per-talian bentuk (kohesi) juga memiliki perper-talian isi/makna (koherensi).

b) Kohesif tidak Koheren

Wacana juga dapat terbentuk dengan pertalian kohesi namun tidak koheren atau

memiliki pertalian bentuk namun tidak memiliki pertalian makna/isi. Perhatikan contoh

berikut.

(1) Ia menengadah ke langit maka pesawat terbang itu jatuh (2) Pak Gunadi mengetik soal maka saya jatuh sakit.

Contoh pertama, kalimat ia menengadah ke langit merupakan sebab terjadinya

peristiwa pesawat terbang jatuh, karena adanya kata penghubung maka (penanda

kohesi). Begitu pula pada contoh kedua, kalimat Pak Gunadi mengetik soal merupakan

sebab terjadiya persitiwa selanjutnya yaitu saya jatuh sakit karena adanya kata

peng-hubung maka (penanda kohesi). Berdasarkan pertalian bentuk kedua contoh di atas

sangat kohesif, namun dari segi isi kedua contoh di atas hubungan setiap kalimat tidak

(46)

c) Tidak Kohesif tetapi Koheren

Tidak kohesif tetapi koheren maksudnya dalam wacana terdapat pertalian isi

atau makna, namun tidak memiliki pertalian bentuk (penanda kohesi). Bentuk seperti

ini banyak kita jumpai dalam bentuk karya sastra khususnya puisi. Perhatikan contoh

berikut.

Satu kekasih

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa (Amir Hamzah)

Baris-baris puisi dalam contoh di atas tidak kohesif karena tidak memiliki kata

penghubung. Namun, jika diteliti dari pemakaian kata-katanya, yaitu satu dalam baris

satu kekasih yang dikaitkan dengan baris aku manusia menunjuk bahwa aku sebagai

pembicara yang biasanya memiliki kerinduan terhadap rasa dan rupa. Pertalian baris

tersebut sebenarnya dapat ditunjukkan dengan cara memparafrasekan menjadi:

(ting-gal) satu kekasihku (bahwa) aku (sebagai) manusia (biasa) (juga) rindu rasa (dan)

rindu rupa. Jadi baris puisi tersebut satu sama lain meskipun tidak kohesif ternyata

memiliki pertalian isi atau koheren.

d) Tidak Kohesif dan Tidak Koheren

Bentuk tidak kohesif dan tidak koheren ini hanya merupakan tambahan.

Ben-tuk ini tidak menandakan adanya keterkaitan antara kohesi dan koherensi. Namun,

menurut penulis bentuk ini harus dijelaskan, karena dapat juga ditemukan dalam

wacana. Perhatikan contoh berikut.

Harga menjes (tempe bongkrek) turun secara drastis. Harga minyak di pasaran jatuh sejak terjadinya resesi ekonomi dunia.

Dari contoh di atas, tampak bahwa kalimat Harga menjes turun drastis dan

kalimat Harga minyak di pasaran jatuh sejak terjadinya resesi ekonomi dunia,

(47)

yang satu dengan yang berikutnya tidak ada hubungan sama sekali karena pembicara

satu berbicara harga sesuatu (harga mejes), sedangkan pembicara lain berbicara harga

sesuatu yang lain (harga minyak) meskipun memiliki konteks yang sama resesi

ekonomi dunia. Kalimat di atas juga tidak memiliki penanda bentuk atau kohesi. Jadi,

contoh di atas merupakan contoh wacana yang tidak memiliki pertalian kohesif dan

(48)

32

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan: (1) jenis penelitian, (2) sumber data, (3)

ins-trumen penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik analisis data, dan (6)

tri-anggulasi hasil analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Tylor

(1975, melalui Moleong, 2006: 4), penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan

perilaku yang dapat diamati. Tujuan penelitian ini adalah membuat deskripsi secara

sistematis fakta-fakta yang dapat diamati yaitu kohesi dan koherensi dalam rubrik

“Teras Muda” pada majalah Matabaca Edisi 2006—2007.

3.2 Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif biasanya berupa kata-kata,

gambar, dan bukan angka-angka. Sumber data adalah benda, hal, atau orang di mana

peneliti mengamati, membaca, bertanya tentang sesuatu (Arikunto, 2000: 107). Data

penelitian ini berupa kohesi dan koherensi dalam rubrik “Teras Muda” pada majalah

Matabaca edisi 2006—2007.

Tulisan dalam “Teras Muda” terdiri dari produk jurnalistik berupa artikel ringan

dan praktis. Artikel ringan maksudnya tulisan lepas yang berisi opini seseorang (siswa

(49)

arti tidak menguras pikiran pembaca. Artikel praktis yaitu tulisan lepas yang berisi

petunjuk praktis melakukan sesuatu.

Matabaca merupakan majalah yang mengupas dan menguak dunia perbukuan di

Indonesia yang terbit setiap awal bulan. Dengan slogan sebagai "Jendela Dunia

Pustaka" jelas bahwa Matabaca menjadi sarana bagi pembaca dalam memperluas

cakrawala dan menghirup atmosfer seputar dunia perbukuan. Terbit perdana pada

Agustus 2002, majalah ini terbit berkat kerjasama Bank Naskah Gramedia dan Penerbit

IndonesiaTera.

Pada tahun 2002—2004 rubrik dalam majalah ini yaitu "Gagas" yang berisi

opini seputar perbukuan, "Raut" tentang tokoh atau wajah suatu penerbitan, "Warta"

berita dunia buku, "Kupas" merupakan resensi buku-buku yang baru beredar, dan

"Renung", sebuah kontemplasi dengan puisi. Seiring waktu, majalah ini mengalami

beberapa perubahan menjadi lebih muda dan ngepop. Perubahan ini tampak sejak edisi

September 2005, tidak hanya pada perwajahan dan isinya yang lebih gaul, tapi juga

perubahan terjadi bagi mereka yang berada pada kursi redaksional. Hasilnya pun jelas:

ciri nyeni ala penerbitan Jogja dengan tampilan lukisan yang semula menghias tiap

edisi, terutama pada cover depan, menghilang, diganti dengan pose penulis atau pemilik

penerbitan, dengan judul yang jelas ngepop: "Pram, Gue Banget!", "Kalau Seleb Jadi

Penulis", "Nggak Zamannya Lagi Penulis Miskin", "Sains Gak Ada Matinye".

Judul-judul itu juga diupayakan mengikat tulisan-tulisan di dalamnya, terutama di bawah

rubrik "Gagas Utama". Selain itu, tulisan-tulisan dari siswa-siswi dan guru-guru pun

mulai diberi tempat di majalah ini. Untuk tulisan siswa-siswi SMP/SMA dimuat dalam

Gambar

Tabel Hasil Analisis...............................................................................96
Tabel 2.2 Klasifikasi Referensi Pronomina Demostratif
Tabel 4.1 Hasil Analisis Data Referensi Persona
Tabel 4.2 Hasil Analisis Data Refrensi Demonstratifa
+7

Referensi

Dokumen terkait

dengan prioritas masalah Gangguan Nutrisi Kurang Dari kebutuhan. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan

Yang bertanda tangan dibawah ini Kelompok Kerja (Pokja) Pemagaran Gedung Kantor Pengadilan Agama Tanjung Selor, pada hari ini RABU , tanggal TIGA bulan JUNI¸ tahun DUA

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengembangan sistem kesetaraan kualifikasi dari semua luaran pendidikan dan pelatihan di Indonesia harus dapat mengantisipasi 4 (empat)

Dari pengertian tersebut, tersirat bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus lebih dipahami sebagai pemenuhan kondisi kondisi : (1) Terpenuhinya pangan dengan

Perbandingan produksi bauksit dan aluminium yang sangat tidak seimba menunjukkan bahwa industri hulu aluminium nasional masih bertumpu pada ekspor bahan mentah dan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah “ Adakah pengaruh penggunaan media silsilah raja-raja terhadap

Analisis Penggunaan Huruf Lam dalam Al-Qur`an serta Implikasinya terhadap Pembelajaran Tarjamah.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Judul Skripsi : Sintesis Pati Sitrat Dari Pati Singkong (Manihot utilissima P.) Dengan Metode Basah (Adebiyi). Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini ditulis berdasarkan