(STUDI KASUS BANK UMUM SYARIAH PERIODE
2012-2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Disusun Oleh
EKA FEBRIYANA
NIM 213 13 108
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
i
(STUDI KASUS BANK UMUM SYARIAH PERIODE
2012-2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Disusun Oleh
EKA FEBRIYANA
NIM 213 13 108
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
vi
YANG KHUSYU’” (Q.S AL BAQARAH:45)
“BERDOA, USAHA DAN SABAR ADALAH KUNCI KEBERHASILAN”
“AKU MENCINTAIMU, ITULAH SEBABNYA AKU TAK PERNAH BERHENTI
MENDOAKANMU” (SAPARDI DJOKO DAMONO)
“SAAT ORANG LAIN MERENDAHKANMU, JANGANLAH KAMU MERASA RENDAH DIRI, BUKTIKAN JIKA KAMU AKAN BERHASIL SUATU HARI NANTI”
vii
PERSEMBAHAN Kedua orang tuaku Bapak Sumiat dan Ibu Widarti, yang telah
membimbing, mendidik, mencurahkan segala usaha dan
do’anya dengan ikhlas serta kasih sayang tanpa mengenal lelah dan bosan demi masa depan penulis,
Untuk adikku tercinta, Selly Irma Hidayah
Untuk keluarga besar dan saudara-saudaraku
Para dosenku tercinta,
Teman-teman seperjuanganku,
viii
Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta alam, atas limpahan
rahmat, hidayah, taufiq dan inayahnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan judul “Analisis Pengaruh Tabungan terhadap Return On Asset (ROA) dengan Inflasi
sebagai Variabel Moderasi Bank Umum Syariah Periode 2012-2015” guna
memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi Program Studi S1
Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Salatiga. Penulisan
skripsi ini tidak terlepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak, maka
segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Rahmad Hariyadi, M.Pd selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Salatiga
2. Dr. Anton Bawono, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
3. Fetria Eka Yudiana, M.Si selaku Kaprodi S1 Perbankan Syariah.
4. Qi Mangku Bahjatullah, Lc, M.SI selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membimbing penulis, memberikan pengarahan, masukan sehingga
penulis dapat menyelesaikan penelitian ini
5. Dr. Benny Ridwan, M.Hum selaku dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan banyak bimbingan, arahan, dan saran kepada penulis
6. Seluruh Dosen Program Studi S1 Perbankan Syariah, Instritut Agama
ix semangat.
9. Untuk sahabat-sahabat terbaik ku Kunni, Dian, Mustoviyah, Mbak Nida
dan seluruh teman-teman PS-S1 angkatan 2013 yang telah banyak
memberikan masukan serta motivasi.
10.Untuk teman-teman KKN posko 64, 65, dan 66 Desa Gondangrawe
Andong Boyolali 2017.
Semoga Allah SWT memberikan barokah atas kebaikan dan jasa-jasa
mereka semua dengan rahmat dan kebaikan yang terbaik dari-Nya. Akhir kata,
penulis menyadari bahwa dalam penyus unan skripsi ini masih banyak keurangan,
untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan sarannya sebagai motivasi bagi
penulis. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membaca dan
mempelajarinya.
Wassalamualaikum Wr Wb
Salatiga, 24 November 2017 Penulis,
x
Ekonomi dan Bisnis Islam Program Studi S1-Perbankan Syariah IAIN Salatiga.
Pembimbing: Qi Mangku Bahjatullah, Lc, M. Si.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia. Kemampuan pengelolaan kinerja bank syariah dapat memberikan keuntungan secara efektif dan efisien. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA) dengan inflasi sebagai variabel moderasi bank umum syariah tahun 2012-2015. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi laporan tahunan bank umum syariah dan situs resmi Bank Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini adalah bank umum syariah di Indonesia tahun 2012-2015. Teknik analisi yang digunakan adalah regresi bernda yang meliputi uji multikolonieritas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, Uji R2 , Uji F, Uji t dan Moderated Regression Analysis (MRA)
menunjukkan bahwa tabungan berpengaruh signifikan dan negatif terhadap
Return On Asset (ROA) dan inflai memoderasi pengaruh tabungan terhadap
Return On Asset (ROA).
xi
PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... Error! Bookmark not defined.
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... Error! Bookmark not defined.
MOTTO ...ii
C. Tujuan Penelitian ...13
D. Manfaat Penelitian ...13
E. Sistematika Penulisan...14
BAB IILANDASAN TEORI ...16
A. Telaah Pustaka ...16
B. Kerangka Teori...23
1. Bank Syariah...23
2. Tabungan ...27
3. Inflasi ...30
4. Return On Asset (ROA) ...37
5. Kerangka Pemikiran ...39
6. Hipotesis Penelitian ...40
BAB IIIMETODE PENELITIAN ...42
xii
F. Teknik Analisis Data ...46
1. Statistik Deskriptif ...47
2. Uji Asumsi Klasik ...47
3. Analisis Regresi ...49
4. Uji Statistik ...50
5. Moderated Regression Analysis (MRA) ...52
G. Alat Analisis ...53
BAB IVANALISIS DATA ...55
A. Gambaran Objek Penelitian ...55
B. Analisis Deskriptif ...58
C. Pengujian Asumsi Klasik ...59
1. Uji Multikolonieritas ...59
2. Uji Autokorelasi ...60
3. Uji Heteroskedastisitas ...61
4. Uji Normalitas ...62
D. Pengujian Hipotesis ...63
1. Uji Koefisien Determinasi (R2) ...63
2. Uji Statistik F ...63
3. Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ...64
E. Moderated Regression Analysis (MRA) ...66
BAB VPENUTUP ...70
A. Kesimpulan ...70
B. Saran...70
C. Keterbatasan Penelitian ...71
DAFTAR PUSTAKA ...72
xiii
Tabel 1.3 Tingkat Besarnya Inflasi Tahun 2011-2015 ...7
Tabel 1.4 Research Gap Penelitian ...8
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ...19
Tabel 4.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif ...58
Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolonieritas ...60
Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi ...60
Tabel 4.4 Hasil Uji Heteroskedastisitas ...61
Tabel 4.5 Uji Normalitas ...62
Tabel 4.6 Hasil R2 ...63
Tabel 4.7 Hasil Uji F...64
Tabel 4.8 Hasil Uji t...65
1 A. Latar Belakang
Perkembangan bank syariah di Indonesia semakin pesat, dimana
hingga Januari 2016 berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI)
jumlah industri Bank Umum Syariah (BUS) sebanyak 12 bank, Unit
Usaha Syariah sebanyak 22 bank dan BPRS sebanyak 163 bank. Bank
syariah atau bank bagi hasil merupakan bank yang beroperasi dengan
prinsip-prinsip syariah Islam. Di dalam operasinya bank syariah mengikuti
aturan Al Qur’an dan Hadist dan regulasi dari perintah. Sesuai dengan
perintah dan larangan syariah, maka praktik-praktik yang mengandung
unsur riba dihindari, sedangkan yang diikuti adalah praktik-praktik bisnis
yang dilakukan di zaman Rasullulah.
Dalam Undang Nomor 7 Tahun 1992 dan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 merupakan landasan hukum untuk
mengembangkan perbankan syariah di Indonesia. Perkembangan bank
syariah di Indonesia dipandang penting untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat yang menghendaki layanan jasa perbankan sesuai dengan
prinsip syariah, meningkatkan mobilisasi dana masyarakat yang belum
terserap sistem perbankan yang ada, meningkatkan ketahanan sistem
untuk melaksanakan pembiayaan dan transaksi keuangan yang sesuai
dengan prinsip syariah (Martono, 2002:95). Sedangkan peningkatan
jumlah bank syariah maupun jumlah kantor menunjukkan eksistensi
perbankan syariah di Indonesia, hal tersebut mengindikasikan bahwa
kepercayaan masyarakat terhadap perbankan Syariah semakin meningkat.
Dimana pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan
kegiatan bank dalam menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat,
yang kemudian akan mempengaruhi pertumbuhan profitabilitas bank.
Bank syariah harus dapat menjaga kinerja keuangan dengan baik
dalam menjalankan operasionalnya sehingga mampu selalu menjadi
lembaga yang mengedepankan kepercayaan masyarakat. Sebagai lembaga
yang profit oriented seperti hal nya lembaga keuangan lain, kesehatan
kinerja keuangan bank syariah menjadi sangat penting, terutama pada
tingkat profitabilitasnya. Bank syariah harus mempunyai permodalan
memadai yang dapat mengembangkan earning asset dan dapat menjaga
tingkat profitabilitas dan likuiditas. Sebagai lembaga intermediasi, peran
bank syariah antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan
pihak-pihak yang memerlukan juga membutuhkan kinerja keuangan yang
sehat.
Sejalan dengan perkembangan ekonomi domestik yang masih
mengalami perlambatan, pertumbuhan industri perbankan nasional juga
cenderung melambat. Pada tahun 2015 perbankan nasional hanya tumbuh
sebesar 13,3%. Tingkat pertumbuhan perbankan nasional ini merupakan
pertumbuhan terendah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Tabel 1.1
Indikator Utama Perbankan Syariah
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015
Total Aset (Rp Triliun) 145,47 195,02 242,28 272,34 296,26
Pertumbuhan Aset 3,064% 24,23% 12,41% 8,78%
DPK (Rp Triliun) 115,41 147,51 184,12 199,30 212,96
Pertumbuhan DPK 27,81% 24,42% 18,71% 6,11%
ROA 1,79% 2,14% 2,00% 0,79% 0,84%
Sumber : Data OJK 2015, (data diolah)
Aset pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar Rp 23,9
triliun menjadi Rp 296,26 triliun atau tumbuh 8,78% dibandingkan jumlah
aset pada tahun 2014. Sementara DPK meningkat sebesar Rp 13,32%
triliun atau tumbuh 6,11% sehingga DPK tahun 2015 sebesar Rp 231,17
triliun. Walaupun DPK mengalami peningkatan, ROA dari tahun 2013
mengalami penurunan yang salah satunya kemungkinan disebabkan oleh
faktor eksternal. Dengan keadaan seperti tabel di atas, akan memengaruhi
kinerja keungan bank syariah terutama profitabilitasnya (www.ojk .go.id).
Kesehatan kinerja keuangan bank syariah sebagai lembaga profit
oriented seperti lembaga keuangan lainnya menjadi sangat penting
terutama tingkat profitabilitasnya. Kinerja yang baik dapat meningkatkan
peran bank syariah sebagai lembaga intermediari antara pihak yang
produk dan memberikan layanan jasa keuangan pada masyarakat,
perbankan syariah juga memiliki tujuan dasar bisnis perbankan untuk
memperoleh keuntugan maksimal sehingga mampu memenuhi kewajiban
membagikan deviden serta peningkatan prospek usahanya.
Profitabilitas dapat dikatakan sebagai salah satu indikator yang
paling tepat untuk mengukur kinerja suatu perusahaan. Kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba dapat menjadi tolok ukur kinerja
perusahaan tersebut. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam
usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka
panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah perusahaan tersebut
mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. Salah satu
tingkat profitabilitas suatu bank dapat diukur dengan Return On Asset
(ROA). Di samping itu, ROA merupakan metode pengukuran yang paling
objektif yang didasarkan pada data akuntansi yang tersedia dan besarnya
ROA dapat mencerminkan hasil dari serangkaian kebijakan perusahaan
terutama perbankan. ROA merupakan ukuran dari kinerja keuangan bank
dalam memperoleh laba sebelum pajak, yang dihasilkan dari total asset
(total aktiva) bank yang bersangkutan.
Salah satu cara meningkatkan profitabilitas yaitu dengan
meningkatkan kinerja perbankan. Kinerja merupakan hal penting yang
harus dicapai oleh setiap perusahaan, karena kinerja merupakan cerminan
Dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya, aset perbankan di
Indonesia terbentuk dari dana pihak ketiga. Volume dana pihak ketiga
dapat dijadikan indikasi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan. Semakin tinggi volume dana pihak ketiga mengindikasikan
masyarakat semakin percaya kepada bank yang bersangkutan. Sebaliknya
bila volume dana pihak ketiga semakin menurun maka mengindikasikan
masyarakat semakin menurun kepercayaannya terhadap bank tersebut
(Taswan, 2010:11).
Sumber dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank merupakan
dana yang terbesar yang sangat diandalkan oleh bank (dapat mencapai
80-90% dari seluruh dana yang di kelola oleh bank). Pentingnya fungsi dana
pihak ketiga sebagai salah satu sumber modal, bank syariah harus
memiliki kemampuan dalam menghimpun dana pihak ketiganya (Lukman
dalam Salviana, 2014:3). Berikut ini terdapat volume dana pihak ketiga
perbankan syariah tahun 2010-2015
Tabel 1.2
Data Dana Pihak Ketiga Perbankan Syariah Tahun 2010-2015
Sumber: Statistik Perbankan Syariah (data diolah)
0 500000 1000000 1500000 2000000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 Giro
Tabungan
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa minat masyarakat untuk
menitipkan dananya di bank. Dimana dari tahun 2010-2015 rata-rata giro,
tabungan, dan deposito mengalami kenaikan. Namun, pada tahun 2014,
tabungan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mungkin
disebabkan oleh beberapa alasan, seperti kebutuhan masyarakat yang
meningkat sehingga masyarakat akan lebih memprioritaskan kebutuhan
pokok dibandingkan menabung. Sedangkan kemampuan masyarakat
menabung ditentukan oleh tingkat pendapatan masyarakat setelah
dikurangi pajak serta tingkat pengeluaran konsumsinya. Kemauan untuk
menabung juga ditentukan oleh faktor-faktor seperti budaya, sosial,
ekonomi, dan politik.
Salah satu indikator faktor ekonomi adalah inflasi, di mana inflasi
merupakan suatu prooses meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus-menerus (Karim, 2007:137). Apabila terjadi inflasi maka terjadi
ketidakpastian kondisi makro ekonomi suatu negara yang mengakibatkan
masyarakat lebih mengguunakan dananya untuk konsumsi. Menurut para
ekonom muslim menyebutkan dampak inflasi antara lain: menimbulkan
gangguan terhadap fungsi uang, melemahkan semangat menabung,
meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja dan mmengarahkan
investasi pada hal-hal yang non produktif (Karim, 2007:137).
Apabila terjadi inflasi, masyarakat akan enggan menabung di bank
karena uang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan inflasi
para masyarakat karena mereka kesulitan mengembalikan modal yang
disebabkan oleh inflasi. Berikut ini data inflasi dari Bank Indonesia.
Tabel 1.3
Tingkat Besarnya Inflasi Tahun 2011-2015
Tahun 2011 2012 2013 2014 2015
Inflasi 4,28% 6,97% 6,42% 6,38% 3,53%
Sumber: Bank Indonesia, data diolah
Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa inflasi pada tahun 2015
adalah yang paling rendah sebesar 3,53%. Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian mengemukakan, meski inflasi tahunan pada 2015
berhasil menyentuh target 3,3%, namun sejatinya sedikit meleset sebesar 5
persentasi poin (3,35%) dari perkiraan sebelumnya. Menurut Menko
Perekonomian Darmin Nasution, hal ini terjadi kenaikan harga pada
beberapa komoditas, seperti cabai, bawang, telur, dan daging ayam
(www.sindonews.com).
Seperti saat ini, harga-harga kebutuhan pokok cenderung terus naik
seiring permintaan daya beli masyarakat yang terus naik tetapi tidak
seimbang dengan barang yang tersedia yang menyebabkan harga terus
naik. Dimana dengan tingginya inflasi kemungkinan dapat mempengaruhi
besarnya masyarakat melakukan penyimpanan dana ke bank. Inflasi yang
meningkat akan menyebabkan nilai riil tabungan merosot karena
masyarakat akan mempergunakan hartanya untuk mencukupi biaya
mempengaruhi profitabilitas bank (Sukirno, 2003:98). Sehingga inflasi
dapat memoderasi masyarakat dalam melakukan penyimpanan dana.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti
mengenai tabungan, inflasi dan Return On Asset (ROA) adalah sebagai
berikut:
Tabel 1.4
Research Gap Penelitian
Variabel Dependen
Variabel Independen
Peneliti Thn Metode Hasil
Tabungan Nindi Nopiyanti 2015 Regresi linier
berganda
Positif Signifikan Bambang
Sudiyatno
2010 Regresi linier berganda
Positif Signifikan
Dewi Gusti 2008 Regresi linier
berganda
Positif Signifikan
Andriyanto 2009 Regresi linier
berganda
2016 Regresi linier berganda
2015 Regresi linier berganda
Positif Signifikan
Hardiansyah Pahlawan
2012 Regresi linier berganda
Positif Signifikan
Inflasi Syahirul Alim 2014 Regresi linier
berganda
Positif Tidak Signifikan
Return On Asset (ROA)
Sahara berganda Signifikan
Ravika Fauziah 2012 Regresi linier berganda
Negatif Tidak Signifikan Seliaty Bunga
Paretta
2016 Regresi linier berganda
Positif Signifikan Desi Marilin
Swandayani dkk
2012 Regresi linier berganda
2009 Regresi linier berganda
Positif Signifikan
Adapun kaitannya dengan Good Corporate Governanve, dimana
salah satunya dengan prinsip transparansi data laporan keuangan bank
tersebut yang dipublikasikan. Hubungan dengan Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) apabila masyarakat banyak melakukan penyimpanan dana
di bank syariah akan meningkatkan profitabilitas bank syariah namun juga
memperhatikan tingkat besarnya inflasi yang terjadi. Secara tidak
langsung, dengan melakukan penyimpanan dana berarti pendapatan
mereka meningkat karena berani melakukan perjanjian yang salah satu
jaminannya adalah harta mereka. Dengan terkumpulnya dana dari
masayrakat di bank, selanjutnya dana tersebut disalurkan kepada
masyarakat yang membutuhkan untuk digunakan sebagai usaha produksi
sehingga kesejahteraan meningkat.
Pada penelitian-penelitian sebelumnya yang mengamati
faktor-faktor yang mempengaruhi ROA seperti Nopiyanti (2015) dengan judul
On Asset (ROA). Hal ini berbeda Luh Putu dkk (2016) bahwa aktiva
produktif dan dana pihak ketiga berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja operasional. Sedangkan Junita dan Abundanti (2016)
serta Paretta (2016) menyimpulkan bahwa dana pihak ketiga berpengaruh
positif terhadap penyaluran kredit dan Return On Asset (ROA). Sudiyatno
(2010) bahwa Dana pihak ketiga berpengaruh positif terhadap kinerja
keuangan.
Sedangkan pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA)
dalam beberapa penelitian seperti, Andriyanto (2009) menyimpulkan
bahwa tabungan mudharabah dan deposito mudharabah tidak terdapat
berpengaruh signifikan terhadap laba bersih. Hal ini berbeda dengan
Sukmawati dan Purbawangsa (2016) bahwa pertumbuhan dana pihak
Ketiga berpengaruh positif tidak signifikan terhadap profitabilitas.
Lutviyah dan Dina (2015) dalam judul Pengaruh Pertumbuhan Dana Pihak
Ketiga Terhadap Laba Perbankan Syariah di Indonesia menyebutkan
bahwa tabungan berpengaruh signifikan terhadap laba perbankan syariah.
Dari penelitian Pahlawan (2012) bahwa tabungan dan deposito
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat rentabilitas ROA.
Sedangkan Julianti (2013) dengan judul Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai
Tukar Dan Bi Rate Terhadap Tabungan Mudharabah Pada Perbankan
Syariah bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
tabungan mudharabah. Sedangkan Lutviyah dan Dina (2015) bahwa
syariah. Ayu (2008) menyimpulkan bahwa deposito mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap tingkat rentabilitas ROA.
Pada tahun 2014, penelitian Alim yang berjudul Analisis Pengaruh
Inflasi dan Bi Rate Terhadap Return On ROA Bank Syariah Di Indonesia
dapat disimpulkan bahwa inflasi secara parsial berpengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Sahara (2013) dalam
judul Analisis Pengaruh Inflasi, Bi rate dan Produk Domestik Bruto
Terhadap Return On Asset (ROA) Bank Syariah Di Indonesia bahwa
inflasi berpengaruh signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Sedangkan
Fauziah (2012), disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara inflasi
terhadap Return On Asset (ROA) di Bank Muamalat dan BCA.
Swandayani, dkk (2012) bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap ROA
perbankan syariah.
Mutaqiena (2013) melakukan penelitian menyimpulkan bahwa
inflasi berpengaruh signifikan terhadap DPK. Sedangkan Taufiq (2011)
pada penelitian yang berjudul Pengaruh Deposito Terhadap Kredit dengan
Inflasi sebagai Variabel Moderasi Pada Bank Umum di Indonesia
menyimpulkan bahwa deposito berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kredit. Sedangkan inflasi secara signifikan memperlemah
deposito terhadap kredit. Zakky (2011) dalam judul Pengaruh Return On
Asset (ROA) Terhadap Return Saham dengan Inflasi sebagai Variabel
Moderasi dapat disimpulkan bahwa Return On Asset (ROA) berpengaruh
profitabilitas terhadap return saham. Sedangkan pada penelitian
Lumbantobing dan Saim (2012) yang berjudul Inflasi Sebagai Variabel
Makro Ekonomi Pemoderasi Determinan Struktur Modal Perusahaan
Sektor Industri Manufaktur Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia
bahwa inflasi terbukti memoderasi pengaruh positif profitabilitas terhadap
rasio hutang perusahaan industri manufaktur yang go public di Bursa Efek
Indonesia.
Oleh karena itu, merujuk pada penelitian-penelitian tersebut,
penelitian semakin tertarik untk melakukan penelitian kembali yang
pernah dilakukan peneliti sebelumnya dengan tahun dan variabel yang
berbeda. Peneliti menggunakan variabel tabungan sebagai variabel
independen. Inflasi sebagai variabel moderasi. Return On Asset (ROA)
sebagai variabel dependen dengan periode penelitian tahun 2012-2015.
Kemudian perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu adalah pada penelitian ini
menggunakan variabel moderasi inflasi sebagai pengaruh tabungan
terhadap Return On Asset (ROA).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti
mengenai Analisis pengaruh Tabungan Terhadap Return On Asset (ROA)
dengan Inflasi sebagai Variabel Moderasi Bank Umum Syariah Periode
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tabungan berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) di
Bank Syariah ?
2. Bagaimana inflasi memoderasi pengaruh tabungan terhadap Return On
Asset (ROA) di Bank Syariah ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh tabungan terhadap Return On Asset
(ROA) di Bank Syariah
2. Untuk mengetahui inflasi memoderasi pengaruh tabungan terhadap
Return On Asset (ROA) di Bank Syariah
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dilakukan berkaitan dengan profitabilitas pada
bank syariah beserta variabel-variabel yang mempengaruhinya adalah
sebagai berikut :
1. Bagi peneliti, dapat mengasah kemampuan peneliti dalam menjawab
permasalahan nyata, khususnya terkait dengan perbankan dan
mengembangkan pemahaman keilmuan peneliti.
2. Bagi akademisi, menjadi referensi dalam pengembangan keilmuan dan
menjadi bahan inspirasi untuk penelitian selanjutnya.
3. Bagi institusi
a. Bagi bank syariah dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi terkait
b. Bagi stakeholders, dapat memberikan gambaran terkait dengan
tingkat kesehatan bank sebagai pertimbangan dalam pengambilan
keputusan.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan urutan penyajian dari
masing-masing bab secara terperinci, singkat dan jelas serta diharapkan dapat
mempermudah dalam memahami laporan penelitian. Adapun penulisan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menyajikan pendahuluan dari seluruh penulisan
yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.
2. BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menguraikan tentang landasan teori dan penelitian
terdahulu, kerangka pemikiran serta hipotesis yang merupakan
jawaban sementara dari sesuatu yang diteliti.
3. BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang variabel penelitian dan
definisi operasional variabel, populasi dan sampel, jenis dan
sumber data, metode pengumpulan data serta metode analisis.
4. BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang deskripsi objek penelitian,
5. BAB V PENUTUP
Bab ini menguraikan tentang simpulan dari penelitian yang
telah dilakukan, keterbatasan penulis serta saran-saran yang dapat
diberikan kepada perusahaan dan pihak-pihak lain yang
16 BAB II
LANDASAN TEORI A. Telaah Pustaka
Dua jenis faktor yang dapat memengaruhi tingkat perubahan
profitabilitas suatu bank, yaitu faktor yang berasal dari internal dan
eksternal. Riyadi dan Yulianto dalam Luthfia Hanania (2015)
menyebutkan bahwa faktor-faktor tersebut meliputi indikator makro,
perpajakan, karakteristik bank, struktur keuangan, kualitas aset, likuiditas,
dan modal. Indikator makro ekonomi yang sering digunakan dalam sebuah
penelitian untuk menganalisis profitabilitas yaitu inflasi, tingkat suku
bunga acuan dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan untuk indikator
karakteristik bank itu sendiri salah satunya adalah dana pihak ketiga,
seperti giro, tabungan dan deposito.
Perkembangan kondisi perekonomian dunia saat ini akan
memengaruhi pergerakan sistem keuangan. Dalam kaitannya dengan
sistem keuangan bank syariah menurut Nopiyanti (2015), dalam penelitian
dengan judul Pengaruh Dana Pihak Ketiga Dan Suku Bunga Terhadap
Profitabilitas bahwa dana pihak ketiga berpengaruh positif signifikan
terhadap Return On Asset (ROA). Dalam penelitian Paretta (2016) dengan
judul Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Inflasi Terhadap
Profitabilitas menyimpulkan bahwa Dana pihak ketiga dan inflasi
tabungan terhadap Return On Asset (ROA) dalam beberapa penelitian
seperti, Andriyanto (2009) yang berjudul Pengaruh Tabungan Mudharabah
dan Deposito Mudharabah terhadap Laba Bersih Bank Muamalat dan
Bank Mandiri Syariah bahwa tabungan mudharabah dan deposito
mudharabah tidak terdapat berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.
Sukmawati dan Purbawangsa (2016) bahwa pertumbuhan dana pihak
Ketiga berpengaruh positif tidak signifikan terhadap profitabilitas.
Sedangkan Julianti (2013) dengan judul Analisis Pengaruh Inflasi,
Nilai Tukar Dan Bi Rate Terhadap Tabungan Mudharabah Pada Perbankan
Syariah bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
tabungan mudharabah. Sedangkan Lutviyah dan Dina (2015) dalam judul
Pengaruh Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga Terhadap Laba Perbankan
Syariah di Indonesia menyimpulkan bahwa deposito berpengaruh tidak
signifikan terhadap laba bersih perbankan syariah..
Pada tahun 2014, penelitian Alim yang berjudul Analisis Pengaruh
Inflasi dan Bi Rate Terhadap Return On ROA Bank Syariah bahwa inflasi
secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On
Asset (ROA). Sahara (2013) dalam penelitiannya Analisis Pengaruh Inflasi,
Bi rate, dan Produk Domestik Bruto Terhadap Return On Asset (ROA)
Bank Syariah bahwa inflasi berpengaruh signifikan terhadap Return on
Asset (ROA). Sedangkan Fauziah (2012), dalam judul Analisis Pengaruh
Bank Central Asia bahwa tidak terdapat pengaruh antara inflasi terhadap
Return On Asset (ROA) di Bank Muamalat dan BCA.
Mutaqiena (2013) melakukan penelitian Analisis Pengaruh PDB,
Inflasi, Tingkat Bunga, dan Nilai Tukar Terhadap Dana Pihak Ketiga
Perbankan Syariah bahwa inflasi berpengaruh signifikan terhadap DPK.
Sedangkan Taufiq (2011) pada penelitian yang berjudul Pengaruh
Deposito Terhadap Kredit dengan Inflasi sebagai Variabel Moderasi Pada
Bank Umum di Indonesia bahwa deposito berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kredit. Sedangkan inflasi secara signifikan
memperlemah deposito terhadap kredit. Zakky (2011) dalam judul
Pengaruh Return On Asset (ROA) Terhadap Return Saham dengan Inflasi
sebagai Variabel Moderasi dapat disimpulkan bahwa Return On Asset
(ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Inflasi
memoderasi profitabilitas terhadap return saham. Sedangkan pada
penelitian Lumbantobing dan Saim (2012) yang berjudul “Inflasi Sebagai
Variabel Makro Ekonomi Pemoderasi Determinan Struktur Modal
Perusahaan Sektor Industri Manufaktur Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia” menyimpulkan bahwa inflasi terbukti memoderasi pengaruh
positif profitabilitas terhadap rasio hutang perusahaan industri manufaktur
yang go public di Bursa Efek Indonesia. Berikut ini ringkasan beberapa
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Pengaruh tabungan terhadap Return On asset (ROA)
Penulis Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian
Nindi Nopiyanti
Aktiva produktif dan
DPK berpengaruh
positif dan signifikan
Muamalat dan Kredit, Likuiditas, Kondisi Ekonomi
Dana Pihak Ketiga dan Laba
Pengaruh inflasi terhadap Return On asset (ROA)
Syahirul Alim
Inflasi secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On
Pengaruh Tabungan Terhadap Return On Assets (ROA) dengan Inflasi sebagai Variabel Moderasi
Penulis dan Tahun
Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian
Abieda
signifikan terhadap DPK.
M Taufiq (2011) Pengaruh
Deposito
positif dan signifikan
terhadap kredit.
Sedangkan inflasi secara signifikan memperlemah
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap
return saham. Inflasi memoderasi profitabilitas terhadap return saham.
Rudolf terhadap rasio hutang
perusabaan industri
manufaktur yang go
Dari beberapa penelitian terdahulu, peneliti menemukan adanya gap
antara lain:
1. Dari beberapa ringkasan penelitian terdahulu, masih terdapat penelitian
dengan hasil yang berbeda sehingga peneliti ingin membuktikan hasil
penelitian yang baik.
2. Beberapa penelitian terdahulu dengan hasil yang bertentangan dengan
teori. Seperti: penelitian menyatakan dana pihak ketiga tidak
berpengaruh dan tidak signifikan.
3. Penelitian yang dilakukan sebelumnya, belum ada penelitian yang
menyatakan inflasi memoderasi dana pihak ketiga terhadap Return On
Asset (ROA).
B. Kerangka Teori 1. Bank Syariah
Kata bank dari kata banque dalam bahasa Perancis, dan dari
banco dalam bahasa Italia, yang berarti peti atau lemari atau bangku.
Kata peti atau lemari menyiratkan fungsi sebagai tempat menyimpan
benda-benda berharga, seperti emas, peti berlian, peti uang dan
sebagainya. Dalam Al Quran, istilah bank tidak disebutkan secra
eksplisit. Tetapi jika yang dimaksud adalah sesuatu yang memiliki
unsur-unsur seperti terstruktur, manajemen, fungsi, hak dan kewajiban
maka semua itu disebutkan dengan jelas, seperti zakat, sodaqoh,
ghanimah (harta rampasan perang), jual beli, utang dagang, dan
tertentu dalam kegiatan ekonomi. Pada umumnya yang dimaksud
dengan bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya
memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran
serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan
prinsip-prinsip syariah yaitu perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank
dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan
usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan nilai-nilai
syariah yang bersifat makro maupun mikro.
Nilai-nilai makro yang dimaksud adalah keadilan, maslahah,
sistem zakat, bebas dari bunga (riba) bebas dari kegiatan spekulatif
yang nonproduktif seperti perjudian (maysir), bebas dai hal-hal yang
tidak jelas dan meragukan (gharar), dan bebas dari hal-hal yang rusak
atau tidak sah (bathil), sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an
“...hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu....”(QS An Nisa:
29)
Sementara nilai-nilai mikro yang harus dimiliki oleh pelaku
perbankan syariah adalah sifat-sifat mulia yang dicontohkan oleh
Rasullulah yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah (Ascarya,
2013:30). Oleh karena itu, usaha bank akan selalu berkaitan dengan
masalah uang yang merupakan barang dagangan utamanya (Kasmir
Sedangkan kegiatan dan usaha bank akan selalu berkait dengan
komoditi, sebagai berikut :
a. Pemindahan uang.
b. Menerima dan pembayaran kembali uang dalam rekening koran.
c. Mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat berharga
lainnya.
d. Membeli dan menjual surat - surat berharga.
e. Membeli dan menjual cek wesel, surat wesel, kertas dagang.
f. Memberi kredit.
g. Memberi jaminan kredit.
Sedangkan menurut (Kasmir, 2003:31) fungsi dan peran bank
syariah diantaranya tercantum dalam pembukaan standar akuntansi
yang dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institution), sebagai berikut :
a. Manajer investasi, bank syariah dapat mengelola investasi dana
nasabah.
b. Investor, bank syariah dapat menginvestasikan dana yang
dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.
c. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, bank syariah
dapat melakukan kegiatan-kegiatan jasa layanan perbankan
d. Pelaksana kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas
keuangan syariah, bank Islam juga memiliki kewajiban utnuk
mengeluarkan dan mengelola zakat serta dana-dana sosial lainnya.
Adapun Bank syariah mempunyai beberapa tujuan diantaranya :
a. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara
Islam, khususnya muamalat yang berhubungan dengan perbankan,
agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha atau
perdagangan lain yang mengandung unsur gharar dimana
jenis-jenis usaha tersebut selain dilarang dalam Islam, juga telah
menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian rakyat.
b. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan
meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi.
c. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka
peluang berusaha yang lebih besar.
d. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya
merupakan program utama dari negara-negara yang sedang
berkembang.
e. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter.
f. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap bank
non syariah.
Sedangkan ciri-ciri bank syariah antara lain (Kasmir, 2003:33 ):
a. Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian
kaku dan dappat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar
menawar dalam batas wajar.
b. Penggunaan presentase dalam hal kewajiban untuk melakukan
pembayaran selalu dihindari.
c. Pengerahan dan masyarakat dalam bentu deposit tabungan oleh
penyimpanan dianggap sebagai titipan sedangkan bagi bank
dianggap sebagai titipan yang diamankan sebgai penyertaan dan
pada proyek-proyek yang dibiyai bank yang beroperasi sesuai
dengan prinsip syariah sehingga pada penyimpan tidak dijanjikan
imbalan yang pasti.
d. Dewan Pengurus Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi
operasionalisasi bank dari sudut syariahnya.
e. Fungsi kelembagaan bank syariah dalam menjembatani antara
pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana.
2. Tabungan
Dana yang bersumber dari masyarakat luas atau dana pihak
ketiga (DPK) merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan
operasional suatu bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika
mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Dana tersebut
dapat berasal dari simpanan berupa tabungan, giro, dan deposito
(Kasmir, 2002:64). Dana-dana pihak ketiga yang dihimpun dari
masyarakat merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan
DPK = Tabungan+Giro+Deposito
Namun, dalam penelitian ini adapun penghimpunan dana dari
masyarakat paling diminati oleh masyarakat adalah tabungan.
Menurut UU No 10 Tahun1998 Tentang Perbankan, Tabungan adalah
simpanan yang dipenarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat
tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet
giro, dan atau alat lainnya (www.wikipedia.com). Dalam bank syariah
tabungan dibagi menjadi dua, yaitu tabungan wadiah dan tabungan
mudharabah.
a) Tabungan Wadiah
Menurut UU RI No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas
UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Tabungan wadiah adalah
produk pendanaan bank syariah berupa simpanan dari nasabah
dalam bentuk rekening tabungan untuk keamanan dan kemudahan
pemakainya. Karakteristik tabungan wadiah ini juga mirip dengan
tabungan pada bank konvensional ketika nasabah penyimpan diberi
garansi untuk dapat menarik dananya sewaktu-waktu dengan
menggunkan berbagai fasilitas yang disediakan bank, seperti kartu
ATM, dan sebagainya tanpa biaya (Ascarya, 2013:115).
Tabungan wadiah yang menggunakan prinsip wadiah yad
dhamanah memungkinkan bank dalam mengelola dana. Bank
selama mengendap di bank. Sedangkan prinsip tabungan wadiah
yad amanah adalah sebaliknya. (Faqih Nabhan: 2008, 43).
b) Tabungan Mudharabah
Tabungan mudharabah adalah dimana penyimpan dana
bertindak sebagai shahibul maal dan bank sebagai mudharib. Dana
ini digunakan bank untuk melakukan pembiayaan akad jual beli
maupun syirkah. Jika terjadi kerusakan maka bank bertanggung
jawab atas kerugian yang terjadi. Untuk tabungan mudharabah,
bank dapat memberikan buku tabungan sebagai bukti
penyimpanan. Selain itu, tabungan mudharabah dapat diambil
setiap saat oleh penabung sesuai dengan perjanjian yang disepakati,
namun tidak diperkenankan mengalami saldo negatif (Ascarya,
2013:229).
Sedangkan syarat-syarat akad pada tabungan mudharabah, yaitu :
1) Pada setiap penerimaan nasabah baru, bank per ketentuan
internal diwajibkan untuk menerangkan esensi dari tabungan
mudharabah serta kondisi penerapannya.
2) Wajib meminta nasabah untuk mengisi formulir dan
menandatangani. Jika tidak ada akad yang disertakan, maka
formulir ini harus dianggap sebagai akad perikatan
permohonan keikutsertaan investasi dalam bentu tabungan
3) Apabila bank setuju, bank wajib menandatangani for mulir
tersebut sebagai bukti adanya kehendak dari pihak bank.
4) Nasabah wajib menyetorkan dana sebesar nomi nal yang
ditulis dalam formulir.
5) Apabila terdapat perubahan nisbah bagi hasil untuk periode
mendatang, maka bank wajib mengumumkannya sebelum
nisbah bagi hasil tersebut diberlakukan dalam jangka waktu
minimal sesuai kebijakan bank.
6) Bank wajib mengumumkan pendapatan yang akan
dibagihasilkan.
7) Tabungan hanya dapat ditutup setelah periode investasi
berakhir.
3. Inflasi
a. Pengertian Inflasi
Menurut Karim (2007: 135) inflasi adalah kenaikan tingkat
harga secara umum dari barang atau komoditas dan jasa selama
suatu periode waktu tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai
fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit
penghitungan moneteterhadap suatu komoditas. Sebaliknya, jika
yang terjadi adalah penurunan unit penghitungan moneter terhadap
barang-barang atau komoditas dan jasa didefinisikan sebagai
inflation) yaitu tingkatan perubahan dari tingkat harga secara
umum.
Menurut Sukirno (2004: 27) inflasi adalah kenaikan
harga-harga secara umum berlaku dalam suatu perekonomian dari suatu
periode ke periode lainnya, sedangkan tingkat inflasi adalah
presentase kenaikan harga-harga pada suatu tahun tertentu
berbanding dengan tahun sebelumnya. Inflasi diukur dengan
tingkat inflasi, yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara
umum.
Perhitungan inflasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
dengan menggunakan IHK. Indeks ini menghitung rata-rata
perubahan harga dalam satu periode, dari suatu kumpulan barang
dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk atau rumah tangga dalam
kurun waktu tertentu. Indeks ini merupakan salah satu indikator
ekonomi yang secara umum dapat menggambarkan tingkat inflasi
atau deflasi harga barang dan jasa (www.bps.go.id). Selain itu,
indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi
adalah IHK. IHK ini juga digunakan oleh Badan Pusat Statistik dan
Bank Indonesia sebagai indikator untuk mengukur laju inflasi di
Indonesia.
Rumus yang digunakan untuk mencari inflasi adalah
sebagai berikut :
INFt = Inflasi pada periode tertentu
IHKt = Indeks harga konsumen pada periode tertentu
IHKt-1 = Indeks harga konsumen pada periode sebelumnya
b. Tingkat inflasi
1) Inflasi ringan adalah tingkat inflasi yang berada di bawah 10
% dalam setahun.
2) Inflasi sedang adalah tingkat inflasi yang berada di antara
10-30 % dalam setahun.
3) Inflasi berat adalah tingkat inflasi yang berkisar antara
30-100 % dalam setahun.
4) Inflasi tinggi (hyperinflation) adalah tingkat inflai yang
berkisar dari 100 % dalam setahun (Karim, 2008:135).
c. Sebab-sebab Inflasi
Penyebab Inflasi Inflasi timbul karena adanya tiga faktor
sebagai berikut :
1) Tekanan dari sisi supply (cost push inflation, inflasi ini
timbul karena adanya depresiasi nilai tukar, dampak inflasi
luar negeri terutama negara-negara partner dagang,
peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah,
dan terjadinya negative supply shocks akibat bencana alam
2) Dorongan permintaan (demand pull inflation), inflasi ini
timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat
dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian.
3) Ekspektasi inflasi, inflasi ini dipengaruhi oleh perilaku
masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung
bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini terlihat dari
perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan
pedagang terutama pada saat menjelang hari besar
keagamaan dan penentuan upah minimum regional (dalam
website www.bi.go.id, tahun 2014).
Ekonom Islam Taqiudin Ahmad Ibn al-Maqrizi menggolongkan
inflasi ke dalam dua bentuk, yaitu :
a) Natural Inflation adalah gangguan terhadap jumlah barang
dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian.
Misalnya jumlah barang dan jasa turun tetapi jumlah uang
beredar dan kecepatan peredaran uang tetap, maka
konsekuensinya harga barang meningkat.
b) Human Error Inflation dikatakan sebagai inflasi yang
diakibatkan oleh kesalahan manusia itu sendiri. Penyebab
human error inflation seperti korupsi dan administrasi yang
d. Akibat Inflasi
Dalam teori inflasi islam, inflasi berakibat sangat buruk
bagi perekonomian karena :
1) Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama
terhadap fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi dari
pembayaran di muka, dan fungsi dari unit penghitungan.
Orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan
akibat dari beban inflasi tersebut. Inflasi juga
mengakibatkan terjadinya inflasi kembali.
2) Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap
menabung dari masyarakat.
3) Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non produktif
yaitu penumpukan kekayaan seperti : tanah, bangunan,
logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan
investasi ke arah produktif seperti: pertanian, industrial,
perdagangan, transportasi, dan lainnya (Karim, 2006:139).
e. Cara Mengatasi Inflasi
Menurut dengan menggunkan persamaan Irving Fisher
MV=PT, dapat dijelaskan bahwa inflasi timbul karena MV naik
lebih cepat daripada T. Variabel (M atau V) harus
dikendalikan. Di samping ini, volume T ditingkatkan guna
mencegah aatau mengurangi inflasi. Cara mengatur variabel M,
beberapa kebijakan yang menyangkut kenaikan produksi,
kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya adalah :
1) Kebijakan Moneter
Pertama, apabila seseorang memasukkan uang kas
ke bank dalam bentuk giro. Kedua, apabila seseorang
memperoleh pinjaman dari bank tidak diterima kas tetapi
dalam bentuk giro. Deposito yang timbul dengan cara
kedua sifatnya lebih inflatoir daripada cara pertama. Sebab
cara pertama hanyalah pengalihan bentuk saja dari uang
kas ke uang giral. Bank dapat menggunakan apa yang
disebut dengan tingkat diskonto (discount rate). Discount
rate adalah tingkat diskonto untuk pinjaman yang
diberikan oleh bank sentral pada bank umum. Discount
rate ini bagi bank umum merupakan biaya untuk pinjaman
yang diberikan oleh bank sentral. Apabila tingkat diskonto
dinaikkan (oleh bank sentral) maka gairah bank umum
untuk meminjam makin kecil sehingga cadangan yang ada
pada bank sentral juga mengecil. Akibatnya, kemampuan
bank umum memberikan pinjaman kepada masyarakat
makin kecil sehingga jumlah uang yang beredar di
2) Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang
pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara
langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan
dengan demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat
dicegah melalui penurunan permintaan total. Kebijakan
fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerintah
serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan
total, sehingga inflasi dapat ditekan.
3) Kebijakan Output
Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi.
Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan
kebijakan penurunan bea masuk sehingga impor barang
cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang
cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang di
dalam negeri cenderung menurunkan harga.
4) Kebijakan Penentuan Harga Indexing
Ini dilakukan dengan celling harga, serta
mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk gaji atau
upah (dengan demikian gaji atau upah tetap secara riil
tetap). Kalau indeks harga naik, maka gaji atau upah juga
akan dinaikkan. Ekonom Islam juga memberikan solusi
a) Melarang adanya transaksi yang bersifat gharar, seperti
judi dan riba.
b) Memaksimalkan sumber daya yang ada untuk
dialokasikan pada kegiatan ekonomi produktif.
c) Menetapkan fungsi bank sentral secara optimal, dalam
hal ini di Indonesia telah diberlakukan
instrumen-instrumen pengendali moneter khusus perbankan syariah
seperti: Giro Wajib Minimum, Sertifikat Investasi
Mudharabah Antarbank Syariah (SIMA), dan Sertifikat Wadi’ah Bank Indonesia (Karim, 2006 : 233-234).
4. Return On Asset (ROA)
Retun On Asset (ROA) adalah perbandingan antara pendapatan
bersih dengan rata-rata aktiva (Muhamad, 2002:245). (Dalam Ela
Chalifah, 2014:34-37) Return on asset (ROA) Menurut Munawir,
profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang diukur dengan
kesuksesan dan kemampuan perusahaan menggunakan aktivanya
secara produktif (Munawir, 2004: 33). Analisis profitabilitas adalah
evaluasi rasio kinerja operasi yang umumnya mengaitkan pos laporan
laba rugi dengan penjualan. Nasabah menjadi lebih menguntungkan
ketika mereka makin lama menggunakan produk perusahaan dalam
masing-masing jasa yang ditawarkan tersebut. Laporan keuangan
sehubungan dengan posisi keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Data tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan
apabila data tersebut diperbandingkan dua periode atau lebih, dan
dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan
mendukung keputusan yang akan. Return on Asset (ROA) adalah salah
satu bentuk rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat
mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang
ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan
dalam menghasilkan laba.
Di samping itu, ROA merupakan metode pengukuran yang
paling objektif yang didasarkan pada data akuntansi yang tersedia dan
besarnya ROA dapat mencerminkan hasil dari serangkaian kebijakan
perusahaan terutama perbankan. ROA merupakan ukuran dari kinerja
keuangan bank dalam memperoleh laba sebelum pajak, yang
dihasilkan dari total asset (total aktiva) bank yang bersangkutan.
Menurut Husnan (1992) dalam Sahara (2013:150), semakin
besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang baik. Berikut ini cara
mengukur Return On Asset (ROA)
ROA
Semakin kecil (rendah) rasio ini semakin tidak baik, demikian
sebaliknya (Munawir, 2004: 89). Return on Asset (ROA) sangat
penting, karena rasio ini mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank
berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Semakin besar Return on Asset
(ROA) suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang
dicapai bank tersebut, dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari
segi penggunaan asset (Kasmir dan Jakfar, 2003: 206). Rasio keuangan
dikatakan berguna jika dapat digunakan untuk membantu dalam
pengambilan keputusan. Manfaat rasio keuangan dalam memprediksi
pertumbuhan laba dapat diukur dengan signifikan tidaknya hubungan
antara rasio keuangan pada tingkat individu maupun pada tingkat
construct (capital, assets, earnings dan liquidity) dengan pertumbuhan
laba. Jika hubungan rasio keuangan dengan pertumbuhan laba
berpengaruh signifikan, maka dapat dikatakan rasio keuangan
bermanfaat, jika sebaliknya maka dikatakan tidak bermanfaat (Umam,
2013: 349).
5. Kerangka Pemikiran
Mengacu pada rumusan masalah maka berikut ini dijelaskan
kerangka berpikir penelitian sebagai berikut :
H2
H1
Gambar 2.1
Kerangka Konsep Penelitian
Inflasi (Z)
6. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan kesimpulan teoritis atau sementara dalam
penelitian. Dengan hipotesis, penelitian menjadi jelas searah
pengujiannya dengan kata lain hipotesis membimbing peneliti dalam
melaksanakan penelitian di lapangan baik sebgai objek pengujian
maupun dalam pengumpulan data (Muhamad, 2008:76). Berdasarkan
kerangka pemikiran teoritis dan hasil temuan atas penelitian terdahulu,
maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA)
Menurut Ismail (2010), biaya dana merupakan biaya yang
dikeluarkan oleh bank dalam rangka menghimpun dana pihak
ketiga. Artinya, bank akan menghitung biaya yang dikeluarkan
atas setiap dana yang berhasil dihimpunnnya, semakin kecil
biaya dana yang dikeluarkan oleh bank berarti semakin efisien
biaya yang dikeluarkan bank. Dan pada akhirnya keadaan
tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kinerja perbankan
yang diukur dengan Return On Asset (ROA). Suatu kegiatan
usaha yang dijalankan baik perusahaan maupun perbankan
tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, yakni
mencapai laba yang diinginkan. Seperti beberapa penelitian
yang telah dilakukan Dewi (2008), Hardiansyah (2012), Hedy
Made (2016) bahwa masih menunjukkan variabel tabungan
berpengaruh positif dan signifikan.
H1: Tabungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Return On Asset (ROA) Bank Syariah
b. Pengaruh tabungan terhadap Return On Asset (ROA) dengan
inflasi sebagai variabel moderasi
Dengan naiknya inflasi, kemungkinan masyarakat untuk
menabung di bank akan menurun. Disebabkan kebanyakan
masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan sehari-hari seperti
kebutuhan makanan. Seperti penelitian pada Friska Julianti
(2013) yang berjudul “Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar
Dan Bi Rate Terhadap Tabungan Mudharabah Pada Perbankan Syariah” disimpulkan bahwa tabungan mudharabah
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset
(ROA). Serta pada penelitian Taufiq (2011) bahwa inflasi
memoderasi deposito terhadap kredit.
H2: Inflasi memoderasi pengaruh tabungan terhadap Return
42 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang
pengukurannya menggunakan angka yang diperoleh dari buku laporan
keuangan yang dipublikasikan oleh bank syariah terkait yang kemudian di
analisis dengan menggunakan teori statistik. Jenis penelitian kuantitatif ini
dipandang mampu memberikan informasi untuk melihat realita atau
fenomena yang konkrit yang terjadi dalam objek penelitian (Alfianika,
2016:29)
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini dapat diakses melalui situs resmi
masing-masing bank umum syariah dan situs resmi Bank Indonesia (www.bi.go.id)
yang menyediakan informasi laporan keuangan yang berisikan data-data
yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kuaitas dan karakteristik tertentu yang
kesimpulannya (Sugiyono, 2009:115). Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh Bank Umum Syariah di Indonesia.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Supardi, 2005:103). Adapun teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu
teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2013:218).
Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengambilan
sampel antara lain :
a. Bank umum syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2012-2015.
b. Bank umum syariah yang menerbitkan laporan tahunan periode
2012-2015.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dala m penelitian adalah
sebagai berikut :
1. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk data yang
sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya
2. Studi Kepustakaan
Penulis mengadakan penelitian kepustakaan untuk mendapatkan
teori dan konsep yang kuat agar dapat memecahkan permasalahan.
Studi kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan literatur-literatur
ilmiah, buku-buku, jurnal-jurnal, artikel, dan majalah yang berkaitan
dengan penelitian ini.
3. Pengamatan langsung
Pengumpulan data dan keterangan seperti laporan keuangan dan
data lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Pencarian dengan
membuka website resmi Bank Indonesia yang mempublikasikan
laporan keuangan dan penelitian pendukung yang diperlukan untuk
penelitian ini.
E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian
Definisi operasional merupakan penjelasan tentang variabel yang
akan digunakan dalam penelitian ini. Terdapat tiga variabel dalam
penelitian ini yaitu variabel dependen (terikat), indpenden (bebas) dan
moderasi. Berikut ini penjelasan dari ketiga variabel tersebut menurut
Martono (2011:57):
1. Variabel Dependen
Menurut Martono (2011:57) variabel dependen merupakan variabel
yang diakibatkan atau dipengaruhi oleh variabel bebas (variabel
independen). Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif
penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Retun
On Asset (ROA) perbankan syariah di Inonesia. Menurut Husnan
(1992) dalam Sahara (2013:150), untuk menghitung Retun On Asset
(ROA) adalah sebagai berikut:
ROA
2. Variabel Independen
Menurut Martono (2011:57) variabel independen adalah variabel
yang mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada
variabel lain, yang pada umumnya berada dalam urutan waktu yang
terlebih dulu. Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif
merupakan variabel yang menjelaskan terjadinya fokus atau topik
penelitian. Berikut variabel independen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tabungan.
Menurut UU RI No. 10 Tahun 1998 tetntang perubahan atas UU
No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Tabungan wadiah adalah produk
pendanaan bank syariah berupa simpanan dari nasabah dalam bentuk
rekening tabungan untuk keamanan dan kemudahan pemakainya.
Karakteristik tabungan wadiah ini juga mirip dengan tabungan pada
bank konvensional ketika nasabah penyimpan diberi garansi untuk
dapat menarik dananya sewaktu – waktu dengan menggunkan berbagai
fasilitas yang disediakan bank, seperti kartu ATM, dan sebagainya
Pertumbuhan tabungan dapat dihitung dengan cara mengurangkan
perolehan tabungan periode sekarang dengan laba periode sebelumnya
kemudian dibagi dengan laba periode sebelumnya :
( ) ( )
( )
Tabungan(t) = tabungan pada periode tertentu Tabungan(t-1) = tabungan pada periode sebelumnya
3. Variabel Moderasi
Variabel moderasi adalah variabel independen yang akan
memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen
lainnya terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013:223). Variabel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah inflasi. Inflasi adalah
kondisi uang yang berlebih-lebihan akan menimbulkan kenaikan
harga-harga yang meneyeluruh dan terus menerus (Sadono,2003).
Rumus yang digunakan untuk mencari inflasi adalah sebagai
berikut :
INFt=
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah langkah selanjutnya setelah data diperoeh untuk
menunjang penelitian ini dari sampel yang diteliti sudah terkumpul.Teknik
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness
(kemencengan distribusi).
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah uji yang digunakan utnuk mengetahui
apakah model regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini
memenuhi asumsi klasik atau tidak.
a. Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan unutuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen
saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal.
Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi
antar sesama vareiabel independen sama dengan nol (Ghozali,
2013:105). Untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas dapat
menggunakan melihat Tolerence Value dan Variance Inflation
Factor (VIF). Variabel yang menyebabkan multikoliniearitas dapat
Variance Inflation Factor (VIP) yang lebih besar daripada 10
(Ghozali, 2011: 108).
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dan residual satu
ke pengamatan satu tetap, maka disenut homokedastisitas juka
berbeda disebut heterokedastisitas. Uji heteroskendastisitas dalam
penelitian ini menggunakan metode Park dilakukan dengan
meregresikan logaritma residual kuadrat (U2i) dengan variabel
bebas.
c. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model
regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem
autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan
sepanjang waktu berkaitan satu sa ma lainnya. Uji Durbin Watson
hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan
adanya konstanta dalam model regresi dan tidak ada variabel lag
diantara variabel independen. Dalam mendeteksi ada atau tidaknya
autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (DW test)