• Tidak ada hasil yang ditemukan

ENGARUH TERPAAN MEDIA INTERNET TERHADAP KARAKTER SISWA :Studi terhadap Siswa SMA Negeri di Kota Cimahi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ENGARUH TERPAAN MEDIA INTERNET TERHADAP KARAKTER SISWA :Studi terhadap Siswa SMA Negeri di Kota Cimahi."

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ………... iv

ABSTRAK ……….. v

PENGANTAR ……….. vi

UCAPAN TERIMA KASIH ……….. x

DAFTAR ISI ………... xiv

DAFTAR TABEL ……….. xviii

DAFTAR GAMBAR ……….. xix

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xx

BAB I PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang Masalah ……….. 1

B. Rumusan Masalah ……… 12

C. Tujuan Penelitian ……… 13

D. Signifikansi dan Manfaat Penelitian ………. 13

E. Variabel Penelitian dan Definisi Variabel……….. 15

F. Kerangka Pemikiran ……….. 18

G. Asumsi dan Hipotesis Penelitian ……… 20

H. Metode Penelitian ……… 21

(2)

xv

BAB II KAJIAN TEORETIK ……….. 22

A. Implikasi Globalisasi ……… 22

B. Terpaan Media Internet ……… 28

1. Konsep Terpaan Media ……….. 28

2. Konsep Media Massa dan Media Baru ……… 30

3. Internet sebagai Media baru ……….. 32

4. Pengaruh Internet ………... 39

5. Motif Pengunaan Media Internet ………. 43

a. Teori Motivasi……… . 43

b. Pendekatan Hedonisme……….. 44

c. Teori Uses and Gratification……….. 45

C. Karakter Siswa ……….. 45

1. Konsep Karakter ……… 45

2. Konsep Pendidikan Karakter ……….. 47

3. PKn sebagai Pendidikan Karakter ……….. 54

D. Hasil Penelitian yang Relevan ………. 66

BAB III METODE PENELITIAN ………... 70

A. Pendekatan dan Metode Penelitian ……….. 70

B. Prosedur Penelitian ……….. 71

C. Populasi dan Sampel Penelitian ………... 73

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian ………. 75

(3)

xvi

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ………. 86

G. Uji Hipotesis……….. 89

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. 96

A. Deskripsi dan Lokasi Penelitian ……….. 96

B. Deskripsi Hasil Penelitian ………. 101

1. Hasil Penelitian Deskriptif ………... 101

2. Pengujian Hipotesis ……….. 120

C. Pembahasan Hasil Penelitian ………... 134

1. Karakter Siswa dipengaruhi secara positif oleh Terpaan Media Internet ……… 134

2. Intensitas Penggunaan Media Internet berpengaruh positif dan signifikan terhadap Karakter Siswa………. 158

3. Terpaan Media Internet dengan Motif Kesenangan berpe- ngaruh positif dan signifikan terhadap Karakter Siswa…... 162

4. Terpaan Media Internet dengan Motif Edukatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Karakter Siswa……… 167

5. Intensitas Penggunaan Media Internet dengan Motif Kesenangan dan Motif Edukatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Karakter Siswa ……….. 178

D. Temuan Penelitian ……… 184

(4)

xvii

2. Pengaruh Terpaan Media Internet terhadap Karakter Siswa

berintikan Value Education ………. 186

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ……….. 190

A. Kesimpulan ………. … 190

1. Kesimpulan Umum ………... 190

2. Kesimpulan Khusus ……….. 192

B. Implikasi ………. 193

C. Saran ………. 197

DAFTAR PUSTAKA ………. 201

LAMPIRAN-LAMPIRAN ………. 208

(5)

xviii

DAFTAR TABEL

No Tabel Halaman

1.1 Indikator Variabel Intensitas pengunaan 17 1.2 Indikator Variabel Motif Kesenangan 18 1.3 Indikator Variabel Motif Edukatif 19

3.1 Validitas Instrumen 82

3.2 Intensitas Penggunaan Internet 83

3.3 Motif Kesenangan 84

3.4 Motif Edukatif 84

3.5 Karakter Siswa 85

4.1 Data Sekolah di Kota Cimahi Tahun 2010 100

4.2 Penafsiran Data 101

(6)

xix

4.13 Model Summary 123

4.14 Anova 123

4.15 Coefficients 124

4.16 One sample Kolmogorov-Smirnov Test 126

4.17 Correlation 127

4.18 One Sample Kolmogorov-Smirnov Test 129

4.19 Coefficients 130

4.20 Model Summary 131

4.21 Anova 132

(7)

xx

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman

1.1 Hubungan antar variabel 16

1.2 Kerangka Pemikiran 19

2.1 Karakter Siswa yang Baik 50

3.1 Alur Prosedur Penelitian 72

3.2 Peta Wilayah Kota Cimahi 74

3.3 Teknik Penarikan Sampel 75

4.1 Sebaran Plot Data 122

(8)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Sumber Data Penelitian ……… 208

2. Instrumen Pengumpulan Data Sebelum Uji Coba ……… 209

3. Instrumen Pengumpulan Data Sesudah Perbaikan ……… 227

4. Analisis Data Deskriptif ……… 241

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

1. Tantangan dan Kesempatan di Era Global

Globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial sejagat yang menghubungkan tempat-tempat yang berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa lokal bisa terjadi disebabkan oleh kejadian ditempat lain yang sekian mil jauhnya dan sebaliknya (Giddens, 1990:64). Globalisasi yang tengah bergulir sebagai akibat revolusi teknologi dan informasi telah membawa berbagai perubahan pada berbagai dimensi kehidupan manusia. Teknologi sebagai salah satu motor dari three engines globalization sebagaimana dikemukakan Mickletwait dan Wooldridge (2000) dalam Supardan (2004:22) merupakan sesuatu yang menggerakkan globalisasi sehingga proses globalisasi itu sendiri begitu cepat menembus batas antar bangsa atau negara. Bahkan Cogan (1998:8) menegaskan teknologi merupakan unsur yang menentukan bagi globalisasi.

Technology is the second global trend area which receives a great deal of attention in the media. Technological change has affected nearly every activity in which people are engaged on a daily basis, eg, in the workplace, the home, at school, at leisure; yet it is probably the computer and electronics revolutions which have most noticeably touched our lives directly. People are increasingly ‘online’ to the entire world with instant acces to so much information we don’t even know where to begin to sort it all out

Pendapat tersebut sesuai pandangan Friedman, kolumnis luar negeri untuk

(10)

berkomunikasi dan mengakses informasi disimbolkan telepon genggam dan media baru internet melalui pesan-pesan sugestif yang disampaikan komunikasi. Komunikasi adalah ngobrol yang melahirkan aktivitas pertukaran informasi dan akan mempengaruhi, mengubah opini, sikap bahkan perilaku (Gani, 2010:14). Hal tersebut tergantung pada bagaimana masing-masing individu memaknai isi dari komunikasi. Diperlukan penyikapan yang benar terhadap hal tersebut, sebab suatu hal yang mustahil dan hanya akan menimbulkan masalah baru jika dalam menyikapi pengaruh globalisasi dihadapi dengan cara-cara yang konfrontatif apalagi tanpa disertai persiapan-persiapan nyata melalui peningkatan sumber daya manusianya. Kalidjernih (2009:114) menjelaskan bahwa globalisasi dapat dimaknai dengan pelbagai cara (multiple readings), sebagai suatu tantangan sekaligus kesempatan. Diperlukan konsepsi kewarganegaraan yang lebih fokus agar dapat merefleksikan diri dengan situasi kondisi di sekitarnya, keluarga, masyarakat, negara dan bangsanya.

(11)

perubahan tersebut. Kecenderungan global tersebut menuntut semua bangsa untuk menghasilkan manusia modern yang cerdas, logis dan sistematis serta komunikatif dalam masyarakat yang serba kompleks dan sarat persaingan. Siagian (2009:146) mengatakan keunggulan yang dimaksud bukan hanya keunggulan intelektual akan tetapi juga meliputi berbagai aspek kepribadian yang menampilkan dirinya sebagai manusia yang handal dan berkarakter. Hal tersebut terutama menghadapi pengembangan teknologi informasi mutakhir seperti internet dan aplikasi komputer pada sistem finansial dunia yang memberikan dampak besar kepada proses globalisasi (Kalidjernih, 2009:117).

Setahun terakhir sejak internet menjadi media yang paling diminati oleh masyarakat dunia, banyak sekali kasus-kasus yang muncul sehubungan penggunaan media ini. Mulai dari caci maki hanya karena emosi sesaat pada individu maupun institusi, pemuatan foto-foto pribadi yang seharusnya tidak layak untuk disiarkan di ruangan publik sampai “perang kata-kata” yang tidak pantas untuk diketahui publik. Padahal ketika untuk pertama kalinya internet diperkenalkan, pemrakarsanya tidak pernah menduga bahwa dampaknya nanti di kemudian hari akan sedemikian dahsyatnya (Setiawan, 2009:10).

(12)

dan bahkan ruang sehingga internet dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya dengan fasilitas search engine-situs pencari informasi maka pengguna internet dapat menemukan banyak sekali alternatif dan pilihan informasi yang diperlukannya dengan mengetikkan kata kunci di form yang disediakan.

Yang menarik, jika penggunaan internet tersebut sebagaimana diinformasikan Asih (2010) “ Warga pun mengakses Informasi Lewat RT/RW-net” (Pikiran Rakyat, 1 Februari 2010) untuk menggali potensi yang ada di wilayah masing-masing seperti di Desa Cilampeni, Pangauban, Sangkanhurip, dan Sukamukti. Pada awalnya pemanfaatan internet dipergunakan karena alasan hiburan akan tetapi selanjutnya mencetuskan ide kreatif untuk memunculkan potensi di desa masing-masing sebagai pelayanan public online yang berguna menampung aspirasi warga sekaligus mengevaluasi kinerja pelayanan terhadap masyarakat.

Demikian pula yang dilakukan Pemerintah Kota Cimahi yang mencanangkan program industri kreatif sebagai upaya mewujudkan Cimahi Cyber City (Kompas, 26 Maret 2009). Kota Cimahi siap menjadi pusat pelatihan dan ruang interaksi bagi pengembangan industri kreatif di lingkup Jawa Barat bahkan nasional. Bidang utama yang dikembangkan Pemerintah Kota Cimahi adalah teknologi informasi dan komunikasi, industri animasi dan film (http://www.kaskus.us.com).

(13)

akses internet di kota tersebut. Artinya, warga kota sudah sedemikian mengakrabkan diri dengan internet dan tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu. Hal tersebutsudah dimulai dengan diadakannya saluran informasi dan komunikasi bagi warga Kota Cimahi guna menyampaikan aspirasi kepada pemerintah kota melalui program “Pesan SMS Penduduk” (PASEDUK). Setiap pegawai negeri di Kota Cimahi wajib memiliki alamat e-mail, yang dikoordinasikan dengan pemerintah kota. Untuk siswa tingkat sekolah menengah sedang mengembangkan komunitas Science Club (SC) di setiap SMP/SMA/SMK dengan bidang science

animasi dan film, robotika, rekayasa software, games, mobile aplikasi dan web design serta industri perakitan laptop yang dilaksanakan oleh salah satu sekolah kejuruan di Cimahi. Di alun-alun Kota Cimahi pun telah terpasang tempat untuk mengakses internet secara “gratis” melalui hot spot area

(http://www.cimahikota.go.id).

(14)

Tantangan yang dihadapi negara-negara yang mengalami pertumbuhan cepat, sebagaimana yang dialami Kota Cimahi adalah penyusunan kebijakan dan program pendidikan yang mampu menghasilkan manusia-manusia cakap dan memiliki karakter yang didukung oleh penguatan dalam pewarisan budaya dan identitas bangsanya.

2. Pengaruh Internet

McLuhan dalam Kalidjernih (2009:55) meyakini bahwa teknologi merupakan eksistensi dari manusia yang memperluas kapasitas manusia, sehingga dia menyebut the medium is the message yakni media itu sendiri merupakan isi atau pesan yang menimbulkan pengaruh besar. Akibatnya teknologi atau media baru kerap menjadi model perilaku, persepsi, pengetahuan dunia, makna jati diri dan realitas itu sendiri, termasuk media internet. Bahkan sejumlah penelitian tentang dampak dan pemanfaatan internet menunjukkan bahwa internet menjadi sumber utama untuk belajar tentang apa yang sedang terjadi di dunia seperti untuk hiburan, bergembira, relaksasi, untuk melupakan masalah, menghilangkan kesepian, untuk mengisi waktu, sebagai kebiasaan dan melakukan sesuatu dengan teman atau keluarga (Severin dan Tankard, 2005:454). Masyarakat dibombardir dengan citra-citra (images) yang belum pernah ada sebelumnya, realitas direproduksi berkali-kali sehingga menghasilkan kondisi ‘hiperreal’ (lebih real

daripada real).

(15)

Jaringan pertemanan pun dipergunakan untuk memesan sekaligus menjual ganja (Setiawan, 2009:10). Tidak sedikit siswa menghabiskan harinya di warung internet (warnet) sekedar untuk chatting atau main game online. Bahkan di sebuah kota di Jawa Barat pernah ditemukan kasus banyaknya siswa yang ketagihan

games online. Para siswa menjadi lupa waktu, bahkan sampai memakai uang bayaran sekolah untuk membayar sewa gamesonline (http://www.wonosari.com).

(16)

istirahat di sekolah ataupun di saat-saat luang tertentu di sekolah, para siswa sibuk membuka internet dibandingkan mengerjakan tugas-tugas sekolah ataupun membaca buku pelajaran.

Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana dampak yang ditimbulkan dari terpaan media internet terhadap karakter siswa ? Siswa remaja sebagai salah satu pengguna internet belum mampu memilah aktivitas internet yang bermanfaat, dan cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan terlebih dulu efek positif atau negatif yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet tertentu. Terlebih lagi perusahaan-perusahaan yang terkait dengan dunia internet dan pemasaran selalu menjadikan kaum muda sebagai “tambang emas” demi keuntungan belaka. Oleh karena itu tidak mengherankan jika selama ini bahaya mengancam dari pemanfaatan online remaja terhadap pembentukan karakter anak dan remaja dijadikan sorotan utama untuk dikaji baik oleh pemerintah maupun lingkungan akademis.

(17)

moral, sedangkan tinggi menyangkut masalah profesional. Jika kaprah umum menyatakan bahwa membangun sumber daya manusia hanya menyangkut aspek profesionalisme atau keterampilannya saja, merupakan suatu kekeliruan yang sangat besar, sebab mutu sumber daya manusia pertama-tama ditentukan oleh karakter atau kepribadiannya yakni karakter atau kepribadian yang bermoral dan bermotivasi tinggi. Tiadanya unsur ini menyebabkan manusia Indonesia terombang-ambing, lemah karsa, mudah diarahkan pada hal-hal yang “bengkok” (Soewardi, 2005:138).

Li Lanqing (2004) dalam Hartono (2008:174) menyatakan untuk mengembangkan pendidikan karakter harus diawali dengan eksplorasi mencari model-model individu dalam konteks kehidupan kelompok tertentu melalui konteks tertentu ditetapkan model pengembangan karakter diri yang sesuai, dan sekolah merupakan konteks nyata model pengembangan karakter. Hasil penelitian Branson (1999:90) menunjukkan bahwa mata pelajaran di sekolah seperti pemerintahan, kewarganegaraan, sejarah dan sastra bila diajarkan secara baik memberikan kerangka konseptual yang diperlukan untuk pendidikan karakter. Hal ini mengandung arti pendidikan karakter terjadi melalui mata pelajaran tertentu dalam proses pembelajaran.

3. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Pendidikan Karakter

(18)

mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dalam praktik, pendidikan kewarganegaraan dipahami sebagai mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Sadar akan tuntutan dan kebutuhan tersebut, pemerintah merumuskan tujuan pendidikan kewarganegaraan secara umum baik untuk pendidikan dasar maupun menengah melalui pembekalan kompetensi dasar pada peserta didik dalam hal sebagai berikut. Pertama, berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Kedua, berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti korupsi.

Ketiga, berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. Keempat, berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Kurikulum Kewarganegaraan untuk SD, SLTP, SMA, 2001:12).

(19)

sebagai salah satu mata pelajaran di persekolahan yang dipandang perlu untuk dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang tengah berubah di era global. Berbagai tuntutan diharapkan menjadikan siswa sebagai seseorang yang sanggup menerapkan hasil pembelajaran dengan seutuhnya, guna pembangunan mental bangsa dan karakter bangsa.

Cogan (1998:13) menyatakan bahwa istilah citizenship education sebagai “citizenship education the contribution of education to the development of those characteristics of being a citizen”. Pendidikan Kewarganegaraan adalah kontribusi atau dampak pendidikan terhadap pengembangan karakteristik yang menandai seorang warga negara. Secara lebih lugas Lickona (1992:28) menyebutkan bahwa education had two great goals to help people become smart and to help them become good, sehingga karakter yang utuh akan mencakup kemampuan mengetahui hal-hal yang baik, menginginkan kebaikan untuk sesama, dan melakukan kebaikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial (Syamsulbachri, 2004:8).

(20)

perkembangan dan pertumbuhan teknologi dan infomasi. Untuk itu, penelitian ini penting agar dihasilkan suatu informasi atau gambaran tentang pengaruh terpaan media internet yang dapat memberikan pemahaman bagi kalangan institusi pendidik ataupun orang tua dan sekaligus bisa digunakan kontribusi untuk membuat kebijakan dalam menggunakan internet yang mengarahkan secara positif terhadap karakter siswa.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka secara umum yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: “Bagaimana pengaruh terpaan media internet terhadap karakter siswa di sekolah?”. Untuk lebih memfokuskan penelitian yang dilakukan ini maka penulis merumuskan beberapa sub-permasalahan sebagai berikut.

1. Bagaimana pengaruh intensitas penggunaan media internet terhadap karakter siswa ?

2. Bagaimana pengaruh terpaan media internet dengan motif kesenangan terhadap karakter siswa ?

3. Bagaimana pengaruh terpaan media internet dengan motif edukatif terhadap karakter siswa ?

(21)

C. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam informasi teoretis dan empirik tentang pengaruh penggunaan media internet terhadap karakter siswa. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam pengaruh terpaan media internet terhadap karakter siswa.

2. Mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam pengaruh intensitas penggunaan media internet terhadap karakter siswa.

3. Mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam pengaruh terpaan media internet dengan motif kesenangan terhadap karakter siswa.

4. Mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam pengaruh terpaan media internet dengan motif edukatif terhadap karakter siswa.

5. Mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam pengaruh intensitas dengan motif kesenangan dan edukatif terhadap karakter siswa.

D.Signifikansi dan Manfaat Penelitian

(22)

knowledge, civic skills dan civic disposition diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta bermanfaat antara lain :

1. Memberikan pengaruh yang berdaya guna secara teoritis, metodologis, dan empiris bagi kepentingan akademis dalam Pendidikan Kewarganegaraan terutama bagi pemecahan masalah-masalah kewarganegaraan berkaitan pendidikan karakter.

2. Dapat dijadikan suatu pola dan strategi dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan kewarganegaraan terhadap karakter siswa. Praktik pendidikan hendaknya dilakukan dengan menggabungkan nilai-nilai tradisional dan teknologi interaktif. Pendidikan nilai-nilai untuk membangun harga diri, kepercayaan diri, sebagai bangsa timur yang beradab, bersanding dengan intensitas mempelajari dan mempraktekkan teknologi elektronik (komputer) yang canggih.

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk dijadikan : 1. Informasi bagi para akademisi atau komunitas akademik, khususnya jurusan

pendidikan kewarganegaraan sebagai institusi pembina profesi guru yang mempersiapkan profesionalisasi calon guru pendidikan kewarganegaraan agar lebih peka dan terbuka dalam mengembangkan inovasi pembelajaran.

2. Bahan masukan bagi pihak sekolah sekaligus parameter untuk dijadikan pertimbangan secara kontekstual dan konseptual operasional dalam merumuskan pola pembinaan karakter siswa.

(23)

sedang mengembangkan Cimahi sebagai kota industri kreatif (Creatif Cyber City). Hasil penelitian ini berguna untuk menanggulangi konflik kewarganegaraan sebagai akibat dari adanya pergulatan nilai adiluhung yang bersumber pada nilai-nilai lokal dan nasional dengan nilai-nilai baru yang dibawa agen budaya global.

E.Variabel Penelitian dan Definisi Variabel 1. Variabel Penelitian

Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah terpaan media internet yang meliputi intensitas (X1), motif kesenangan (X2) dan motif edukatif (X 3) dan variabel terikat (Y) adalah karakter siswa. Pola hubungan antar variabel penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut.

Gambar 1.1 Hubungan antar variabel Keterangan :

X 1 = Intensitas Penggunaan X 3 = Motif Edukatif X 2 = Motif Kesenangan Y = Karakter Siswa

X1

Y X2

(24)

2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Setiap terminologi memiliki makna yang berbeda dalam konteks dan lapangan studi yang berbeda. Untuk memperjelas konsep dari variabel yang diteliti agar tidak mengundang tafsir yang berbeda maka dirumuskan definisi operasional atas variabel penelitian berikut ini.

a. Terpaan Media Internet (Variabel X)

Dalam penelitian ini, istilah terpaan media internet pada dasarnya digunakan dalam pengertian kegiatan menerima (membaca, mendengar, menonton) pesan media secara pasif maupun aktif (http://digilib.petra.ac.id). Adapun variabel terpaan media internet yang diukur dalam penelitian ini adalah intensitas penggunaan (X1), motif kesenangan (X2) dan motif edukatif (X3), dengan definisi operasional sebagai berikut.

1) Intensitas penggunaan (X1), yakni terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui intensitas penggunaan internet seseorang, yakni keaktifan berdasarkan frekuensi internet yang sering digunakan dan lama menggunakan tiap kali mengakses internet. Adapun indikator yang akan diukur dari variabel ini seperti tercantum dalam tabel berikut ini.

Tabel 1.1 Indikator Variabel Intensitas Penggunaan (X1)

Variabel Indikator

b. Kegiatan menggunakan internet dibandingkan dengan kegiatan belajar di rumah

c. Kegiatan menggunakan internet lebih menarik dibandingkan membaca buku pelajaran

2. Durasi

a. Aktivitas mengakses internet setiap hari

b. Lama mengakses internet setiap hari rata-rata kurang dari dua jam

(25)

2) Motif kesenangan (X 2) yang bersifat hiburan lebih banyak berorientasi pada kegiatan menyenangkan, menghabiskan waktu, pelarian dan mendatangkan kenikmatan dan relaksasi berupa kegiatan terkait mencari informasi hobi dan minat, mencari informasi hiburan, bermain game online, mencari gambar, mendownload klip video/audio, mengunjungi situs sosial networking, chatting, mengunjungi situs-situs pornografi, membaca cerita porno. Adapun indikator yang akan diukur dari variabel ini seperti tercantum dalam tabel berikut ini.

Tabel 1.2 Indikator Variabel Motif Kesenangan (X 2)

Variabel Indikator

Motif Kesenangan (X2)

1. Mencari informasi terkait hobi dan minat 2. Mencari informasi hiburan kegiatan yang terkait dengan tugas-tugas sekolah berupa mencari informasi sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran sekolah, mencari informasi berita atau peristiwa-peristiwa terkini, mencari informasi pendidikan selanjutnya, mengirim atau menerima e-mail, mencari informasi kesehatan, transaksi menjual sesuatu.

Tabel 1.3 Indikator Variabel Motif Edukatif (X3)

Variabel Indikator

Motif Edukatif (X3) 1. Mencari sumber atau bahan terkait dengan pelajaran

sekolah

2. Mencari informasi atau berita peristiwa-peristiwa terkini 3. Mencari informasi perguruan tinggi

(26)

b. Karakter Siswa (Variabel Y)

Karakter adalahtabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Siswa adalah murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah), pelajar, SMA (KBBI, 2000:1077). Pembentukan karakter yang dapat menjadi perilaku yang konsisten harus melibatkan aspek knowing, feeling and action. Lickona (1992:50) menjelaskan bahwa karakter berisikan “operative values” atau nilai-nilai yang dipraktekkan dengan tiga unsur “moral knowing, moral feeling and moral behaviour”. Adapun yang menjadi indikator variabel ini teruraikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1.4 Indikator Variabel Karakter Siswa (Y)

Variabel Indikator b. Moral Feeling mencakup :

a. Conscience

(27)
(28)

G. Asumsi dan Hipotesis Penelitian

Asumsi-asumsi merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya dapat diterima peneliti, memperkuat permasalahan, membantu menjelaskan penetapan objek penelitian, wilayah pengambilan data dan instrument pengumpulan data. Penelitian ini dilaksanakan atas asumsi mata pelajaran di sekolah seperti pemerintahan, kewarganegaraan, sejarah dan sastra bila diajarkan secara baik akan memberikan kerangka konseptual yang diperlukan untuk pendidikan karakter (Branson, 1999:90). Cogan (1998:13) menyebutkan PKn ”as Citizenship education the contribution of education to the development of those

characteristics of being a citizen”, sebagai konstribusi atau dampak pendidikan terhadap pengembangan karakteristik yang menandai seorang warga negara. Istilah karakter dianggap sebagai ciri, karakteristik, gaya atau sifat dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya (Koesoema, 2007:80) diantaranya dari media massa. “The medium is the message” demikian gagasan McLuhan (Kalidjernih, 2009:55) yang menyatakan bahwa media itu sendiri merupakan isi atau pesan yang menimbulkan pengaruh besar. Teknologi atau media baru seperti internet menjadi model perilaku, persepsi, pengetahuan dunia, makna jati diri dan realitas itu sendiri.

(29)

1. Intensitas penggunaan media internet berpengaruh positif dan signifikan terhadap karakter siswa.

2. Terpaan media internet dengan motif kesenangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap karakter siswa.

3. Terpaan media internet dengan motif edukatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap karakter siswa.

4. Intensitas penggunaan dengan motif kesenangan dan edukatif berpengaruh positif dan signifikan terhadap karakter siswa.

H. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua pendekatan : kuantitatif dan kualitatif dengan pola “the dominant-less dominant design” dari Creswell (1994:177). Bagian pertama penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survey dan paradigma tambahan (kurang dominan) kualitatif untuk pendalaman. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner, wawancara, observasi lapangan dan studi dokumentasi.

I. Lokasi dan Sampel Penelitian

(30)

70 BAB III

METODE PENELITIAN

A.Pendekatan dan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pola “the dominant-less dominant design” dari Creswell (1994:177). Bagian pertama dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survey. Pendekatan kuantitatif dijadikan sebagai pendekatan yang dominan dalam penelitian ini karena tujuan penelitian untuk mengukur banyak variabel dan membuat kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan mengenai perilaku, pengalaman atau karakteristik dari suatu fenomena.

(31)

kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan mengenai perilaku, pengalaman, atau karakteristik dari suatu fenomena”.

Dengan demikian penelitian ini memiliki karakteristik sebagaimana diungkapkan Singleton & Straits (1999:239) yaitu : 1) Sejumlah besar responden dipilih melalui prosedur sampling probabilitas mewakili populasi. 2) Kuesioner sistematik digunakan bertanya sesuatu mengenai responden, dan mencatat jawaban-jawaban mereka. 3) Jawaban tersebut dikode secara numerik dan dianalisis dengan bantuan teknik statistik.

Langkah berikutnya menggunakan paradigma tambahan (kurang dominan) dengan pendekatan kualitatif untuk pendalaman. Pada tahap ini digunakan wawancara yang sifatnya kualitatif. Pendapat yang membenarkan adanya penambahan melalui informasi pelengkap dengan wawancara adalah Singarimbun dan Effendi (1989:9) menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif menggunakan kuesioner yang disiapkan sebelumnya, diperkaya wawancara maupun observasi kualitatif, maka gambaran tentang fenomena sosial yang disajikan dalam tabel, menjadi semakin jelas, menarik dan lebih hidup nuansa-nuansa fenomena sosial yang ditampilkan.

B.Prosedur Penelitian

Dalam rangka mencapai tujuan penelitian yang diharapkan, disusun prosedur penelitian dengan sistematika tertentu, sebagai berikut.

(32)

2. Pengkajian dan pengembangan teori yang mencakup teori-teori tentang penggunaan internet dan karakter siswa

3. Penyusunan hipotesis

4. Penyusunan instrument pengumpulan data sesuai dengan variabel yang telah dirumuskan serta landasan dan kerangka teoritik

5. Pemilihan unit analisis penelitian, yaitu sejumlah SMA Negeri di Kota Cimahi. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan subjek/responden penelitian yaitu siswa kelas XI SMA Negeri tersebut

6. Pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara

7. Pengolahan data dengan cara melakukan verifikasi, pengolahan data statistik, analisis dan interpretasi hasil penelitian

8. Perumusan temuan penelitian dan perumusan kesimpulan hasil penelitian. Secara grafis, alur penelitian tersebut digambarkan sebagai berikut .

Gambar 3.1 Alur Prosedur Penelitian

Perumusan masalah Pengkajian dan

pengembangan teori

Penyusunan hipotesis

Penyusunan instrument penelitian

Pemilihan unit analisis penelitian

Pengumpulan data

Pengolahan data

(33)

C.Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri di Kota Cimahi. Adapun alasan populasi tersebut dipilih karena memiliki karakteristik yang terkait dengan tujuan penelitian, yaitu kota Cimahi diasumsikan sangat deras terkena pengaruh globalisasi melalui internet, terutama berkaitan dengan perkembangan dari kota militer (tertutup) menjadi kota industri kreatif (terbuka). Kemudian materi pendidikan kewarganegaraan di kelas XI secara “the hidden”

berkaitan dengan implikasi globalisasi. Berdasarkan data hasil pengamatan dan studi dokumentasi di dinas pendidikan kota Cimahi diperoleh data bahwa pada tahun 2009-2010 terdapat 6 SMA Negeri di kota Cimahi.

2. Sampel

Populasi penelitian ini cukup luas dan tersebar di kota Cimahi, oleh karena itu perlu dilakukan pengambilan sampel. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Untuk populasi besar yang menyertakan banyak orang, umumnya anggota populasi terdiri dari beragam orang dengan karakter berbeda. Dalam kondisi demikian, membutuhkan teknik penarikan sampel yang dikenal sebagai acak bertingkat (Multistage random sampling). Teknik ini dipakai pada populasi yang luas dan heterogen (Eriyanto, 2007:141).

(34)

Tahap 1 Pemilihan Sekolah, Primary Sampling Unit dari survey ini adalah SMA di kota Cimahi. Langkah pertama dalam menarik sampel ini adalah memilih SMA secara stratifikasi berdasarkan wilayah meliputi pertama, wilayah Cimahi Tengah yakni SMAN 1, SMAN 2 dan SMAN 5. Kedua, wilayah Cimahi Utara yakni SMAN 3. Ketiga, wilayah Cimahi Selatan yakni SMAN 4 dan SMAN 6. Sebaran wilayah lokasi penelitian dapat dilihat pada peta kota Cimahi berikut ini:

Gambar 3.2 Peta Kota Cimahi

Dari masing-masing wilayah diambil 1 (satu) SMA Negeri secara acak sehingga jumlah seluruh SMA Negeri yang menjadi sampel penelitian adalah 3 (tiga) SMA.

(35)

Tahap 3 Pemil kap dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3.3 Teknik Pengambilan Sampel

sional Variabel Penelitian

ologi memiliki makna yang berbeda dalam kon g berbeda. Oleh sebab itu, untuk memperje liti sehingga tidak mengundang tafsir yang i operasional atas variabel penelitian sebagai be

(36)

1. Terpaan Media Internet

Terpaan media internet dalam penelitian ini diartikan sebagai kegiatan menerima (membaca, mendengar, menonton) pesan media secara pasif maupun aktif yang terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau media secara keseluruhan. Berdasarkan teori Uses and Gratification yang menyatakan bahwa orang secara aktif mencari media tertentu, menggunakan media internet untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan muatan (isi) tertentu untuk menghasilkan kepuasan (atau hasil) dalam jangka waktu tertentu adalah kebutuhan yang dihubungkan dengan memperoleh informasi atau pengetahuan, kesenangan, status, memperkuat hubungan dan pelarian (West and Turner, 2008:102).

a. Intensitas penggunaan yakni terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui intensitas penggunaan internet seseorang, yakni keaktifan berdasarkan frekuensi internet yang sering digunakan dan lama menggunakan tiap kali mengakses internet.

b. Motif kesenangan yaitu aktivitas internet yang bersifat hiburan dan lebih banyak berorientasi pada kegiatan yang menyenangkan, menghabiskan waktu, pelarian dan mendatangkan kenikmatan serta relaksasi.

(37)

2. Karakter Siswa

Karakter didefinisikan berdasarkan Lickona (1992:51) yang berisikan “operative values” atau nilai-nilai yang dipraktekkan. Karakter adalah tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Siswa adalah murid (terutama pada tingkat sekolah dasar dan menengah), pelajar, SMA (KBBI, 2000:1077). Pendidikan karakter dapat dilembagakan melalui sebuah sistem yang mendukung termasuk diantaranya pendidikan kewarganegaraan di sekolah sebagai pendidikan “ moral knowing,

moral feeling and moral behaviour ”.

(38)

b. Perasaan Moral (Moral Feeling) meliputi aspek-aspek kata hati (conscience) memiliki dua sisi mengetahui apa yang baik, dan rasa wajib mengerjakan yang baik itu. Penghargaan diri (self esteem) adalah penilaian dan penghargaan terhadap diri kita sendiri. Empati (emphaty) adalah penempatan diri kita pada posisi orang lain yang merupakan aspek emosional dari “perspective taking”. Cinta kebaikan (loving the good) merupakan unsur karakter yang paling tinggi yang mencakup kemurnian rasa tertarik pada hal yang baik. Pengendalian diri (self control) adalah kesadaran dan kesediaan untuk menekan perasaannya sendiri agar tidak melahirkan perilaku yang melebihi kewajaran. Penghargaan terhadap orang lain (humility) merupakan aspek emosi dari “self knowledge” yang berbentuk keterbukaan yang murni terhadap kebenaran dan kemauan untuk bertindak mengoreksi kesalahan sendiri.

(39)

E. Instrumen Pengumpulan Data 1. Strategi Pengembangan Instrumen

Suatu instrumen pengukuran yang kredibel harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Suatu instrumen memenuhi syarat validitas jika dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Sementara reliabilitas jika dapat menunjuk pada konsistensi, akurasi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran.

Berdasarkan hal itu, maka strategi pengembangan instrumen dilakukan melalui prosedur sebagai berikut.

(40)

Untuk mengukur variabel karakter siswa mengakomodasi “Components of Good Character” dari Lickona (1992:53) yang terdiri atas unsur “moral knowing, moral feeling and moral behavior”. Untuk mengukur variabel tersebut digunakan skala likert dan pengukuran atas dasar sikapnya pada karakter baik seperti kesadaran moral responden dapat diurutkan menjadi “Sangat Setuju”, ”Setuju”, ”Tidak Setuju” dan “Sangat Tidak Setuju”.

(41)

patokan-patokan yang telah dibuat oleh peneliti. Kisi-kisi instrumen penelitian yang telah dikembangkan dapat dilihat pada lampiran.

b. Melakukan analisis induktif, dengan mengumpulkan data terlebih dulu melalui penyebaran instrumen uji coba yang kemudian dianalisis dengan teknik korelasi product moment dari Pearson (Singarimbun dan Effendi, 1989:137) dengan rumus sebagai berikut.

r

= ∑ ∑ ∑

∑ ∑ ∑

Keterangan :

r = koefisien korelasi

∑ = jumlah skor nilai butir faktor dari seluruh uji coba

∑ = jumlah skor total seluruh butir atau kedua faktor dari keseluruhan

responden uji coba

n = jumlah sampel

(42)

Nilai r yang diperoleh dengan menggunakan rumus Product Moment dari Karl’s Pearson, harus diuji keberartiannya. Uji keberartian nilai r dilakukan dengan menggunakan statistik uji-t sebagai berikut :

t = (Sudjana, 1986:377)

Keterangan :

r = koefisien korelasi

n = jumlah responden

t = harga t hitung

Sudjana (1986:377) menyatakan jika t-hitung > t-tabel, maka item dianggap berarti atau dalam hal ini soal tersebut dapat dikatakan valid. Sebaliknya apabila, t-hitung < t-tabel maka butir item tersebut dianggap tidak valid. Untuk t-tabel, adalah nilai peluang distribusi t dengan taraf siginifikansi 1 – α dan dk = n – 2. Keeratan hubungan diinterpretasi dengan menggunakan aturan Guilford (Guilford’s Empirical Rule) sebagai berikut.

Tabel 3.1 Validitas Instrumen

0 < r ≤ 0, 2 Slight correlation ; almost negligible relationship

0, 2 < r ≤ 0,4 Small correlation ; low relationship

0, 4 < r ≤0, 6 Moderate correlation ; substantial relationship

0, 6 < r ≤0, 8 High correlation ; dependable relationship

0, 8 < r ≤ 1 Very high correlation ; very dependable relationship

(43)

2. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas

Instrumen terpaan media internet berupa intensitas penggunaan mengacu kepada hasil pengolahan validitas konstruk (construct validity) yang disajikan pada tabel di bawah ini adalah sebagai berikut.

Tabel 3.2 Intensitas Penggunaan Internet

1 2 3 4 5 6

Validitas 0.706 0.493 0.552 0.559 0.262 0.693 t-hitung 5.641 3.203 3.749 3.812 1.537 5.436 t-tabel 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 Keterangan V V V V TV V

Dapat disimpulkan bahwa dari sejumlah 6 pertanyaan yang mewakili dua indikator penelitian hanya satu yang dinyatakan tidak valid (tidak signifikan pada tingkat 5%), karena t hitung lebih kecil dengan t tabel. Dengan kata lain, pernyataan no 5 tidak konsisten dengan pernyataan yang lain, dan tidak mengukur aspek yang sama dengan yang diukur oleh pernyataan no 1 sampai dengan no 6. Kemungkinan pernyataan tersebut kurang baik susunan kata-kata atau kalimatnya, kalimat yang dipakai menimbulkan penafsiran yang berbeda (Singarimbun, 1989:140) maka pernyataan tersebut direvisi.

(44)

Tabel 3.3 Motif kesenangan

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Validitas 0.331 0.377 0.560 -0.041 0.529 0.392 0.421 0.589 0.476 0.493 0.572 0.554 t-hitung 1.984 2.300 3.826 -0.230 3.523 2.414 2.627 4.123 3.060 3.203 3.941 3.763 t-tabel 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 Keterangan V V V TV V V V V V V V V 19 20 21 22 23 24

Validitas 0.639 0.666 0.584 0.629 0.639 0.576 t-hitung 4.700 5.053 4.065 4.579 4.702 3.990 t-tabel 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 Keterangan V V V V V V

Hasil pengolahan data tersebut menunjukkan dari sejumlah 18 pertanyaan pengukur (motif kesenangan atau hiburan) hanya satu yang dinyatakan tidak valid (tidak signifikan pada tingkat 5%), karena t hitung lebih kecil dengan t tabel dan kemudian direvisi.

Validitas konstruk (construct validity) instrumen variabel ( Motif edukatif), berdasarkan hasil pengolahan SPSS diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 3.4 Motif edukatif

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Validitas 0.153 0.489 0.080 0.424 0.102 0.679 0.291 0.232 0.385 0.541 0.349 0.341 t-hitung 0.874 3.167 0.453 2.645 0.580 5.227 1.721 1.346 2.359 3.634 2.105 2.052 t-tabel 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 1.694 Keterangan TV V TV V TV V V TV V V V V

Disimpulkan dari 12 item pertanyaan pengukur (motif edukatif) , ada empat yang dinyatakan tidak valid dan juga direvisi.

(45)

Tabel 3.5 Karakter Siswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Validitas 0.19 0.38 0.15 0.29 0.46 0.34 0.33 0.18 0.42 0.29 0.33 -0.36 t-hitung 1.11 2.3 0.87 1.715 2.93 2.05 2 1.04 2.61 1.74 1.98 -2.15 t-tabel 1.69 1.69 1.69 1.694 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 Keterangan TV V TV V V V V TV V V V TV

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Validitas -0.2 0.33 0.35 0.682 0.36 0.09 0.31 0.04 0.42 0.29 0.29 0.38 t-hitung -1.18 2 2.1 5.271 2.21 0.51 1.84 0.25 2.61 1.72 1.73 2.34 t-tabel 1.69 1.69 1.69 1.694 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 Keterangan TV V V V V TV V TV V V V V

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Validitas 0.54 0.44 0.38 0.343 0.02 0.42 0.42 0.38 0.33 -0.34 0.54 -0.01 0.09 0.39 0.2 t-hitung 3.6 2.74 2.33 2.068 0.12 2.62 2.58 2.34 1.96 -2.05 3.6 -0.08 0.5 2.43 1.18 t-tabel 1.69 1.69 1.69 1.694 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 1.69 Keterangan V V V V TV V V V V TV V TV TV V TV

Dari sejumlah 39 pertanyaan dalam variabel Y (karakter) terdapat dua belas item dinyatakan tidak valid. Sebagian dikarenakan nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel, dan beberapa item memiliki angka korelasi negatif. Untuk itu diadakan revisi terhadap item-item tersebut.

c. Uji Reliabilitas

(46)

selanjutnya dihitung reliabilitasnya menggunakan rumus ‘Spearman Brown’

(Sugiyono, 2009:185) dengan rumusan sebagai berikut.

!"#! !$"% !&$ &" % ' '( !&%$ ') &

* +, "%! - ,.'/$ ),) &$ "&$" " # "(

"& - $")" ."& + .'"

Pedomannya adalah pemberian interpretasi terhadap reliabilitas pada umumnya digunakan patokan reliabiliatas (rl) uji coba sama dengan atau lebih dari 0,70 berarti hasil uji coba tesnya memiliki reliabilitas tinggi. Reliabilitas (rl) uji coba kurang dari 0,70 berarti hasil uji coba tesnya memiliki reliabilitas kurang (un-reliable).

Hasil Uji Realibitas sebagai berikut :

- Instrumen variabel negatif (Intensitas Penggunaan Internet dan Motif kesenangan atau Hiburan) adalah 0,840

- Instrumen variabel positif (Motif edukatif dan Karakter Siswa ) adalah 0,780

F. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Menyeleksi data

Menyeleksi data agar dapat diolah lebih lanjut, yaitu dengan memeriksa jawaban responden sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

(47)

Penentuan bobot nilai untuk setiap kemungkinan jawaban pada setiap item variabel penelitian dengan menggunakan skala penilaian yang telah ditentukan kemudian menentukan skornya.

3. Pemberian koding

Untuk setiap jawaban pada angket selanjutnya skor tersebut dijumlahkan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan jawaban responden secara umum terhadap setiap variabel penelitian, dengan rumus sebagai berikut :

P =

01 100 %

Keterangan :

P = prosentase skor rata-rata yang dicari X = skor rata-rata setiap variabel

5 = skor rata-rata ideal setiap variabel 4. Metode Successive Interval (MSI)

Data harus merupakan data interval, sedangkan instrument penelitian menggunakan data ordinal, oleh karena itu perlu dilakukan perubahan data ordinal ke dalam data interval dengan menggunakan Methods Successive Interval (MSI). Transformasi data ini dilakukan pada setiap item pertanyaan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.

a. Menentukan frekuensi responden yang memberikan respon terhadap setiap item kuesioner

(48)

c. Menjumlahkan proporsi secara berurutan untuk setiap respon, sehingga

diperoleh nilai proporsi kumulatif, yakni

P

7

∑ 80 0 9

d. Mencari peluang densitasnya dari tabel normal

e. Menentukan nilai Z untuk setiap kategori, dengan asumsi bahwa proporsi kumulatif dianggap mengikuti distribusi normal baku.

f. Menghitung SV (scale value) dengan rumus :

SV = 5: ; <= >< ?@A: ? B < 5: ; <= >< CDD: ? B <

> :> C 5: ? B < > :> C 5: ?@A: ? B <

g. SV (scale value) yang nilainya terkecil (yang memiliki harga negatif terbesar diubah menjadi sama dengan satu (=1).

h. Mentransformasikan nilai skala dengan menggunakan rumus : Y = sv + |FG HIJ|

5. Pemeriksaan distribusi populasi data sampel bertujuan untuk mengetahui sebaran dari populasi data sampel yang diperoleh, apakah data sampel berasal populasi yang berdistribusi normal atau distribusi teoritis lainnya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan uji statistik yang dipergunakan apakah parametrik atau nonparametrik. Dalam penelitian ini, data sampel yang diperoleh diasumsikan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Oleh karena itu, pengujian atas asumsi tersebut dilakukan dengan uji kecocokan atau lebih dikenal sebagai uji kolmogorov-smirnov. Pada dasarnya uji kecocokan ini adalah untuk melihat perbedaan antara nilai frekuensi yang didapatkan di lapangan/observasi (O) kumulatif teoritis dari sebuah fungsi

(49)

Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk melakukan prosedur pengujian distribusi populasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Membuat tabel distribusi frekuensi (TDF) dari data kelompok sampel yang diperoleh

b. Untuk setiap batas bawah tiap kelasnya, hitung nilai Z dengan

menggunakan rumus Z! O P P9

% , x adalah rata-rata sampel dan s

adalah simpangan baku sampel.

c. Dari Z dan Z dapat dihitung luas daerah di bawah kurva normal atau nilai peluang normal antara Z dan Z dengan melihat tabel peluang distribusi student (t).

d. Setelah didapatkan luas daerah di bawah kurva normal antara Z dan Z kalikan nilainya dengan banyaknya anggota sampel pada tabel distribusi frekuensi (n). Sehingga didapatkan hasil perkaliannya adalah E

e. Dengan menggunakan statistik uji , didapatkan = ∑ ST9U VW

X0 Y

kriteria pengujiannya adalah : Terima H[ jika tabel > hitung, dengan tabel adalah 1\] ^7, dk = k – 3, dengan k adalah banyaknya kelas pada TDF.

G. Uji Hipotesis

(50)

H1. Rumus yang digunakan dalam menguji hipotesis bergantung pengujian normalitas distribusi data. Jika data yang terkumpul berdistribusi normal maka rumus yang digunakan adalah rumus untuk statistik parametrik, sedangkan jika data tidak berdistribusi normal maka rumus yang digunakan adalah rumus untuk statistik nonparametrik. Rumus yang digunakan adalah rumus korelasi dan regresi.

Untuk menjawab ketiga hipotesis yang telah dirumuskan, maka dilakukan analisis data berupa analisis deskripsi, uji statistik regresi sederhana dan korelasi sederhana, uji statistik regresi ganda dan korelasi ganda. Mengenai penjelasan masing-masing analisis data adalah sebagai berikut :

1. Analisis deskriptif

Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan siswa dilihat dari perolehan data numerik. Hal ini untuk mengetahui secara kualitatif apakah ada pengaruh hal-hal tersebut terhadap karakter siswa. Deskripsi mengenai terpaan media internet dengan intensitas, motif kesenangan, dan motif edukatif diperoleh melalui kuesioner skala semantic differensial dari Osgood. Untuk deskripsi karakter siswa diperoleh melalui skala likert. Pada kesimpulannya analisis data dikorelasikan, sehingga akan di dapat data deksripsi korelasi antara X dan Y.

2. Analisis korelasi

(51)

(r) dengan ketentuan nilai r = 1 artinya korelasi negatif sempurna. r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Arti harga r akan dibandingkan dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut :

Nilai interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199

Dalam penghitungan dan pengolahan data ini penulis menggunakan bantuan komputer aplikasi microsoft excel dan aplikasi SPSS ver 13.0. Rumus korelasi Product Moment dari Pearson (Singarimbun dan Effendi, 1989:137) sebagai berikut :

Selanjutnya hasil nilai r yang diperoleh harus diuji keberartiannya. Sudjana (1986:377), jika t-hitung > t-tabel, maka nilai r dianggap berarti. Sebaliknya apabila, t-hitung < t-tabel maka nilai r tersebut dianggap tidak berarti. Nilai t-tabel adalah nilai peluang distribusi t dengan taraf signifikansi l – α dan

(52)

3. Analisis Kontribusi

Untuk mengkaji sejauhmana derajat kemampuan menerangkan dari variabel bebas terhadap variabel terikat, digunakan analisis koefisien kontribusi (R . Koefisien ini akan menunjukkan kekuatan hubungan antara variabel terpaan

media internet dengan variabel karakter siswa. Nilai R adalah 0 – 1 (0< R < 1), dengan ketentuan bila R semakin mendekati nilai 1 maka hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat semakin erat, sebaliknya jika R menjauhi nilai 1, maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat semakin renggang.

4. Analisis Regresi Linear Berganda

Hipotesis ke-3, akan digunakan analisis regresi linier berganda untuk pengujiannya. Pengujian ini dipergunakan untuk mencari pola hubungan fungsional antara variabel X1 (Intensitas), variabel X2 (Motif Kesenangan) dan variabel X3 (Motif Edukatif) terhadap Y (Karakter Siswa). Adapun persamaan regresi linier berganda dinyatakan dengan rumus berikut ini :

2 2 1 1X b X

b a

Y = + + (Sudjana, 1996: 347)

dengan,

Y = harga variabel Y yang diramalkan

A = koefisien intersep (harga konstan apabila X sama dengan nol)

(53)

Xi= harga variabel X (X1danX2)

Untuk menentukan a,b1,b2 dihitung dari sistem persamaan :

=

+ 2

1 2

A = Koefisien intersep (harga konstan apabila variabel X1 dan variabel X2 sama dengan nol).

Untuk memperoleh besarnya harga-harga diatas diperoleh dengan menggunakan program SPSS dengan analisis regresi. Setelah persamaan regresi multipel tersebut didapat, selanjutnya perlu dilakukan uji keberartian persamaan regresi dengan menggunakan statistik F dengan rumus berikut ini:

(54)

Dengan kriteria pengujian tolak ho bila nilai F hitung > F tabel. untuk taraf nyata (α) 0,01 dengan db:k dan n-k-1. Artinya persamaan regresi berarti dapat

digunakan untuk membuat kesimpulan mengenai hubungan variabel terikat (Y) dengan variabel X1 dan variabel X2 (variabel bebas).

5. Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana yaitu suatu teknik analisis untuk melakukan prediksi seberapa jauh nilai variabel terikat bila nilai variabel bebas dirubah, dengan rumus sebagai berikut :

Y = a + bX

(Sugiyono, 2009: 262) Keterangan:

Y = Nilai yang diprediksikan

A = Konstanta atau bila harga X = 0 b = Koefisien regresi

X = Nilai variabel independen dimana :

(55)

x : nilai variabel X

a : perpotongan garis regresi nilai Y bila nilai X = 0

b : koefisien regresi, yaitu besarnya penambahan yang terjadi pada Y bila terjadi perubahan pada X

(56)

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A.KESIMPULAN 1. Kesimpulan Umum

Berdasarkan sejumlah temuan penelitian yang telah diuraikan di atas tampak bahwa karakter siswa dipengaruhi terpaan media internet. Terpaan informasi global dari media internet berpengaruh dalam proses mengubah kepribadian, sistem budaya, tata nilai, gaya hidup dan perilaku seseorang. Tantangan menguasai high tech dan high touch untuk mempersiapkan diri agar tetap dapat

survive dan muncul sebagai pemenang (the winner) dalam kehidupan global tergantung pada kemajuan moral manusia. Membangun masyarakat bermoral merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk keluarga, sekolah dan seluruh komponen yang terdapat dalam masyarakat. Oleh karena itu pendidikan karakter harus dilakukan secara eksplisit (terencana), terfokus dan komprehensif agar pembentukan masyarakat berkarakter dapat terwujud. Hal tersebut didukung hasil penelitian yang menyatakan bahwa karakter siswa dipengaruhi faktor lain di luar terpaan media internet.

(57)

hendaknya dapat merefleksikan kenyataan di masyarakat yang dipengaruhi kecenderungan global teknologi dan komunikasi melalui pendekatan sebagai berikut. Pertama, pendekatan psycho-pedagogical development merupakan proses pembinaan warga negara yang melibatkan aspek psiko-pedagogis atau psikologi pendidikan dengan memperhatikan perkembangan manusia yang sedang belajar. Selama ini dalam konteks kehidupan bermasyarakat, semua informasi dari media termasuk media internet senantiasa menyuguhkan kehidupan yang senantiasa bermental korup, ketidakadilan, perselingkuhan, kejahatan dan lainnya yang dapat mengancam pengembangan siswa sebagai pribadi yang berkarakter. Tantangan bagi guru adalah berperan sebagai fasilitator kegiatan pembelajaran agar siswa mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan, teknologi, nilai-nilai dan keterampilan melalui kegiatan pembelajaran.

Kedua, pendekatan socio-cultural development yakni usaha menyeluruh dalam menumbuhkembangkan pribadi berkarakter pada lingkungan yang berkarakter termasuk di dalamnya seluruh komponen yang terdapat dalam masyarakat, seperti keluarga, lembaga keagamaan, perkumpulan olah raga, media massa dan pranata sosial lainnya. Media massa memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai sarana diseminasi nilai dan seharusnya berperan sebagai penyaring yang menyeleksi dan membantu menafsirkan yang berkaitan dengan masalah-masalah kewarganegaraan yang kerap membingungkan masyarakat dan menjadi sumber konflik integrasi bangsa.

(58)

proporsional komponen masyarakat mencakup masyarakat, tokoh masyarakat dan elit politik harus dapat memberikan keyakinan agama, nilai budaya dan nilai moral. Keterpaduan, kesinambungan dan keberlanjutan pendidikan karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pendidikan karakter di luar sekolah diharapkan menghasilkan generasi bangsa yang memiliki watak, karakter kuat dan kokoh terutama pada saat menghadapi dahsyatnya informasi dari media internet.

2. Kesimpulan Khusus

Berdasarkan kesimpulan hasil uji coba hipotesis penelitian di atas, maka dirumuskan beberapa kesimpulan khusus hasil penelitian sebagai berikut:

a. Intensitas penggunaan media internet melalui indikator keaktifan berdasarkan frekuensi dan lama waktu mengakses berpengaruh terhadap karakter berkenaan dengan konsep diri berupa penilaian tentang diri (self esteem) dan pengendalian diri (self control) agar tidak kecanduan internet yang dapat mengganggu kepribadian dan berdampak pada berkurangnya interaksi antar manusia di kehidupan nyata.

b. Terpaan media internet dengan motif kesenangan berupa aktivitas mencari informasi terkait hobi, minat dan hiburan, serta mengunjungi situs pertemanan

(59)

c. Terpaan media internet dengan motif edukatif berupa aktivitas mencari sumber atau bahan terkait tugas pelajaran sekolah dan mencari informasi tentang perguruan tinggi yang berpengaruh terhadap karakter berkenaan self control

siswa yakni pengendalian diri agar selalu berbuat baik dengan cara pembiasaan (habit), pembudayaan dan diaplikasikannya teknologi informasi khususnya media internet yang berlandaskan sense of humanity sehingga menghasilkan kegiatan yang produktif.

d. Intensitas penggunaan dengan motif kesenangan dan motif edukatif yang terarah akan menghasilkan aktivitas produktif dan kreatif berupa web atau page design, rekayasa software, games, science animasi film dan berpengaruh terhadap karakter siswa serta penggunaan dengan motif edukatif yang tinggi akan memberikan landasan kognisi baru bagi terbentuknya sikap, watak serta konsep nilai moral dalam diri sehingga menyadari hakikat teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam memecahkan masalah kehidupannya.

B.IMPLIKASI

Kesimpulan hasil penelitian tersebut memberi implikasi sebagai berikut : 1. Baik atau buruknya pemanfaatan internet tergantung intensitas dan motif

(60)

yang dapat menciptakan generasi penerus yang berkualitas, berkarakter kuat sehingga dapat membawa kejayaan bagi negaranya. Pada perkembangannya, kematangan kepribadian anak juga akan dipengaruhi lingkungan sekolahnya. Sekolah merupakan tempat yang sangat strategis untuk pendidikan karakter, karena pada umumnya semua anak akan mendapatkan pendidikan di sekolah. 2. Perubahan-perubahan berskala besar dan cepat melalui informasi serta budaya

yang lahir dari penggunaan media internet akan mempengaruhi karakter siswa. Penggunaan media internet besar, jika siswa memiliki banyak waktu senggang Akibatnya tantangan yang dihadapi guru di sekolah dalam upaya pendidikan karakter akan semakin tinggi. Oleh karena itu siswa hendaknya tidak menjadi peserta pasif dalam proses pendidikan, proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas akan tetapi juga di luar kelas seperti belajar berorganisasi, dan berkelompok dalam ekstrakurikuler seperti Paskibraka, Pramuka, OSIS, dan lain sebagainya.

(61)

4. Ketergantungan siswa pada internet untuk mencari sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran di masa mendatang akan cenderung semakin meningkat. Oleh karena itu para profesional informasi, khususnya terkait dengan dunia internet dan lembaga-lembaga pendidikan sebaiknya memanfaatkan situasi ini dengan lebih banyak menyediakan situs-situs edukatif yang memiliki konten informasi yang relevan dengan kurikulum sekolah. 5. Terpaan media internet tidak hanya menghadirkan kemudahan dan

kenyamanan hidup bagi manusia akan tetapi juga kerap mengundang kekayaan muatan tidak terbatas yang dapat merambah kedalam kehidupan keluarga dan sekolah yang semula dibangun dan sarat nilai-nilai moral dan norma. Oleh karena itu pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan karakter hendaknya bersifat multidimensional, memberdayakan seluruh potensi dan kompetensi siswa baik secara personal, moral, sosial maupun intelektual. Pendidikan kewarganegaraan tidak hanya sekedar membelajarkan konsep-konsep kewarganegaraan akan tetapi lebih dari itu hendaknya dapat menumbuhkan karakter dengan unsur-unsur yang saling terkait antara The habits of mind, Heart and Action (pikiran, hati dan tindakan).

(62)

7. Terpaan media internet baik dengan motif kesenangan maupun motif edukatif merupakan suatu kenyataan yang tak dapat dielakkan pada era teknologi informasi ini. Diperlukan reformasi pembelajaran berbasis teknologi informasi yang akan menciptakan kondisi belajar menyenangkan dan mengasyikkan. Pembaharuan tersebut mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu dikembangkan pembelajaran ICT melalui internet berbasis value clarification yang berfungsi memasang filter kepada siswa agar mampu menyaring arus informasi yang masuk dengan cara klarifikasi nilai.

(63)

“mental round trip” atau tamasya mental sehingga dapat mewujudkan perilaku yang didasari oleh nilai-nilai moral dan memperibadi (learned behavior). 9. Karakter siswa dipengaruhi terpaan media internet. Oleh karena itu dibutuhkan

kesadaran untuk mengatur penggunaan media internet melalui perangkat perundangan yang berperan mengawal perkembangan internet misalnya Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang tampaknya pada pelaksanaannya belum berperan secara maksimal. Pemerintah hendaknya memiliki komitmen kuat untuk mengatur dan menjaga “ketertiban” agar perkembangan arus informasi di dunia maya tidak menyebabkan potensi konflik baik secara horizontal maupun vertikal. Pengaturan perundangan ataupun kebijakan pemerintah lainnya juga diperlukan dalam upaya menghadapi fenomena menjamurnya warung-warung internet ataupun café internet yang seyogyanya memberikan pembatasan penggunaan terhadap situs-situs tertentu yang dapat memberikan dampak negatif terhadap karakter siswa. Selama ini tampaknya kehadiran warung atau café internet yang bertebaran dengan bebas merupakan akibat kelonggaran yang diberikan pemerintah berkaitan dengan usaha atau bisnis semata.

C.SARAN

(64)

1. Siswa usia remaja sebagai salah satu pengguna internet belum mampu memilah dan memilih aktivitas internet yang bermanfaat, dan cenderung terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek positif atau negatif yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet. Departemen Pendidikan Nasional hendaknya bekerja sama dengan lembaga terkait dengan media massa dan sekolah mengembangkan pelatihan internet bagi para pelajar dan pemuda agar mereka memiliki keterampilan proses, dari mulai mengakses media, menganalisis, mengevaluasi, bahkan sampai menciptakan media (literasi media). Tujuan literasi media mengarah pada pembentukan khalayak media massa yang cerdas, yaitu mengetahui (diwujudkan dalam konsep program), memahami (diwujudkan dalam

sharing operasionalisasi media massa atau penyusunan program) dan mampu menganalisis (diwujudkan dalam pemahaman berfikir kritis).

(65)

3. Terpaan media internet dengan motif kesenangan berpengaruh terhadap karakter siswa, sehingga perlu mengarahkan dan membimbing siswa agar lebih bijaksana dalam menghadapi keinginan mereka untuk mengakses internet. Tugas guru pendidikan kewarganegaraan menanamkan nilai moral kepada siswa agar menyadari bahwa perkembangan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Dalam mengimplementasikan penanaman nilai moral tersebut dapat menggunakan berbagai model pembelajaran, antara lain klarifikasi nilai (value clarification) yakni pembelajaran yang dapat dimulai dari problematika konflik nilai terkait dengan penggunaan internet. Adapun langkah-langkah dapat berupa sebagai berikut. Pertama, memberikan pemahaman bahwa penggunaan teknologi informasi dapat berakibat positif apabila digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Kedua, memberikan problematika melalui contoh-contoh kasus akibat kesalahan menggunakan teknologi informasi yang tidak selayaknya, serta akibat-akibat atau resiko yang ditanggung oleh penggunanya. Ketiga,

memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya teknologi itu untuk memudahkan manusia dalam memecahkan masalah dan penggunaannya harus berlandaskan etika nilai-moral.

(66)

cenderung bersifat kompleks serta membutuhkan pendekatan multidisiplin dalam penyelesaiannya, salah satunya modifikasi Model Project Citizen

berbasis Information Technology (IT).

5. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan dalam fokus permasalahan dan setting penelitian. Peneliti lain diharapkan dapat mengkaji lebih lanjut dari apa yang telah dihasilkan dalam penelitian ini agar pada akhirnya kajian di bidang ini diharapkan semakin menarik dan lengkap. Beberapa aspek yang mungkin dapat diteliti lebih lanjut antara lain berikut ini.

a. Fokus permasalahan, penggunaan internet yang diteliti adalah intensitas penggunaan, motif kesenangan dan motif edukatif terhadap karakter siswa sehingga perlu diteliti ke depan pengaruh motif kreatif sebagai terhadap karakter siswa. Motif kreatif tersebut merupakan bentuk literasi media sebagai keterampilan berkomunikasi yang akan memberikan kontribusi positif terhadap karakter siswa baik dan cerdas (good and smart).

Gambar

Gambar 1.1  Hubungan antar variabel
Tabel 1.1 Indikator Variabel Intensitas Penggunaan (X1)
Tabel 1.2 Indikator Variabel Motif Kesenangan (X 2)
Tabel 1.4  Indikator Variabel Karakter Siswa (Y)
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Untuk meningkatkan kesadaran lingkungan pada siswa dibutuhkan proses habituasi yang baik. Proses habituasi yang baik dapat dilakukan di rumah, sekolah, secara

Pembatasan masalah sangat diperlukan untuk menghindari kesalah pahaman yang menyimpang dari judul Berdasarkan identifikasi masalah diatas dalam penelitian ini pembahasan berfokus

Penelitian dilatarbelakangi sebuah fenomena yang dihadapi oleh peserta didik SMA dalam orientasi karir. Oleh sebab itu, permasalahan utama yang menjadi fokus kajian

Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang dimaksud dengan penggunaan media kartu huruf dalam keterampilan menulis kalimat sederhana bahasa Perancis adalah penelitian

Penggunaan Media Kartu Huruf dalam Keterampilan Menulis Kalimat Sederhana Bahasa Perancis (Studi Eksperimen Kuasi terhadap Siswa Kelas X SMAN 4 Cimahi Tahun

Akan tetepi internet juga memiliki dampak negatif terutama bagi peserta didik, jika peserta didik menyalah gunakan internet atau tidak dengan bijak dalam

Tidak ada bagian didalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan serta pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika

Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan. Sekolah