UNIVERSITAS JEMBER FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN LABORATORIUM EKONOMI PERTANIAN
TUGAS PRAKTIKUM
NAMA : ROHMAYANA GIRSANG
NIM : 141510601039
KELAS : J
ACARA : SAS
TANGGAL PRAKTIKUM : 05 MEI 2017
TANGGAL PENYERAHAN : 11 MEI 2017
ASISTEN : RIZKY YANUARTI
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Data
1.1 Data Ketentuan Impor Gula Terhadap Terhadap Industry Gula Di
Indonesia
Tahun IMPG PRODG QDG D3 HGI BM PRODT
PKPTA JP LLTT PRODTIVT REND KURS (rupiah/jiwa) (ribu
jiwa) (ribu Ha) (% Ha) (%/Ha) (Rp/U$S) 62317.65 146631 188769 72.8 9.09 632 66929.51 149520 193148 73.8 8.77 655 67346.15 152469 257556 69.7 9.07 697 416936.93 156451 293719 75.5 7.42 994 434664.22 159894 285563 73.9 8.09 1076 426010.74 164632 277615 76.3 8.14 13300 464885.3 168354 317090 79.3 8.05 1649 465917.12 172016 337146 77.1 8.19 1655 484929.98 175587 329611 76.6 7.6 1737 504212.28 179143 339943 78.9 7.64 1805 542244.24 179312 364977 76.9 7.55 1905 576165.93 181379 386384 72.9 7.99 1997 600162.07 184493 404381 79.2 7.21 2074 623450.58 187586 420630 78.7 7.5 2118 1577702.03 190681 428726 71.2 8.02 2205 1700888.24 193755 420630 71.5 6.97 2305 1819746.56 196814 403267 70.9 7.32 2342 1870575.95 197811 485669 72.5 7.83 57 1632553.75 200748 378293 71.8 5.49 8025 1637108.05 202832 340800 62.8 6.6 71 1770626.64 205843 340660 70.5 7.04 9595 6114315.26 208910 344442 73.1 6.85 104 6152493.65 213883 350723 72.8 6.88 894 6276589.7 215277 335725 67.4 7.21 8487 6642868.88 217855 344793 77.6 7.67 8985 6919171.99 219852 381786 81.8 7.18 9705 7117888.71 222747 396441 76.3 7.63 9164 7481448.05 225642 428401 77.7 7.35 9139 8094327.49 228523 436504 75.5 8.1 9694 3980467.65 231370 422935 76.1 7.83 10408
penduduk (JP), luas tanam areal tebu (LLTT), produktivitas tebu (PROTIVT), rendemen tebu (REND), dan kurs rupiah (KURS). Termasuk dalam variabel endogen adalah IMPG, LLTT, dan PROTIVT sedangkan yang termasuk dalam variabel eksogen adalah PRODG, PRODT, PRODTIVT, D3, JP, REND, KURS, PKPTA, BM dan QDG.
1.2 Pembahasan
Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia . Dengan luas areal tanam tebu sekitar 350 ribu ha pada periode tahun 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1,3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Permintaan gula secara nasional diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat. Implikasi terbesar dari kebijakan ini adalah impor gula terbuka lebar karena pada saat itu tarif impor gula adalah nol persen. Saat itu adalah era membanjirnya gula impor ke pasar Indonesia, sehingga harga gula di pasar dunia ditransmisikan secara langsung ke pasar domestik. Harga gula di dalam negeri justru menurun signifikan. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya harga gula dunia, menguatnya nilai tukar rupiah dan tidak adanya tarif impor. Hal ini membuat harga gula dalam negeri mengalami tekanan.
BAB 2. FLOWCHAT
Mengklik the SAS system, selanjutnya akan ada tampilan berupa jendela output, log dan editor pada program SAS
Meng-copy nama-nama variabel yang digunakan untuk “DATA GULA;” Hasil copy-an nama-nama variabel yang digunakan untuk “DATA GULA” di-paste pada jendela “Program Editor” SAS setelah “Input”, kemudian mengakhiri dengan tanda titik koma (;).
Mengklik The SAS System lalu pada jendela “Program Editor” mengetikkan program “DARA GULA;”. Setelah itu, mengetikkan program “Input”, kemudian membuka Data pada Microsoft Excel.
Mengetikkan “CARDS” kemudian kembali pada Microsoft Excel untuk menginputkan data variabel-variabel yang akan digunakan untuk “DATA GULA”. Mengcopy data variabel yang akan digunakan untuk “DATA GULA”.
Hasil copyan data variabel-variabel yang digunakan untuk “DATA GULA” di paste pada jendela “Program Editor” SAS setelah “CARDS;” yang diakhiri dengan tanda titik koma (;).
Mengetikkan “DATA GULA;” dan dibawahnya mengetik “MERGE” dibawah “DATA GULA;”, kemudian mengetikkan “GULA” diakhiri dengan tanda “;” dan menambahkan pernyataan “by tahun;”. Lalu mengetikkan variabel-variabel yang akan di-create yaitu PG = PRODG+IMPG;
Mengetikkan kata “RUN;” agar kumpulan perintah yang telah disusun diatasnya diproses oleh SAS. Mengetikkan pernyataan “PROC PRINT DATA = GULA;” kemudian diakhiri dengan mengetikkan kata “RUN;”. Mengetikkan pernyataan “PROC SYSLIN 2SLS SIMPLE DATA = GULA”. Selanjutnya mengetikkan kata “ENDOGENOUS”. Memasukkan nama variabel-variabel yang bertindak sebagai variabel endogen dalam persamaan, kemudian diakhiri tanda titik koma (;). Misalnya berupa ENDOGENOUS LLTT PRODTIVT IMPG PG;
BAB 4. INTERPRETASI
Mengetikkan model persamaan yang bertindak sebagai persamaan struktural, yang diakhiri dengan tanda titik koma (;). Lalu mengetikkan persamaan yang bertindak sebagai persamaan identitas yang diakhiri dengan tanda titik koma (;). Mengetikkan model persamaan yang bertindak sebagai persamaan struktural dan persamaan identitas, yang diakhiri dengan tanda titik koma (;) kemudian mengetikkan kata “RUN;”. Model persamaan 1: LLTT : MODEL LLTT = L2PRODTIVT PRODT REND L2PKPTA/DW;. Model persamaan 2: PRODTIVT : MODEL PRODTIVT = LLTT IMPG HGI QDG/DW. Model persamaan 3: IMPG : MODEL IMPG = PRODG QDG HGI BM L2KURS D3 JP/DW; dan model identity yaitu PG : IDENTITY PG = PG + 0;
Menyimpan jendela program editor terlebih dahulu dengan memilih FILE > “save”. Memberikan “nama” pada jendela “program editor” yang akan disimpan.
Model ekonometrik fungsi struktural impor gula dalam bentuk persamaan diformulasikan sebagai berikut:
1. Fungsi Luas Tanam Areal Tebu (Persamaan Simultan 1)
LLTT = a0 + a1 PRODTIVT + a2 PRODT+ a3 REND + a4PKPTA + ut
2. Fungsi Poduktivitas Tebu (Persamaan Simultan 2)
PRODTIVT = b0 + b1 LLTT + b2 IMPG + b3 HGI+ b4 QDG + ut
3. Fungsi Impor Gula (Persamaan Simultan 3)
IMPG = c0 + c1 PRODG + c2 QDG + c3 HGI + c4 BM + c5 KURS + c6 D3 + c7 JP + ut
4. Fungsi Identitas (Persamaan Identitas) PG = PRODG + IMPG
Endogenous : LLTT PRODTIVT IMPG PG
Instruments : PRODT REND PKPTA HGI QDG PRODG D3 BM KURS JP LPRODTIVT LPKPTA LKURS L2PRODTIVT L2PKPTA L2KURS
LAG
LPRODTIVT = LAG (PRODTIVT) LPKPTA = LAG (PKPTA) LKURS = LAG (KURS) L2PRODTIVT = LAG2 (PRODTIVT) L2PKPTA = LAG2 (PKPTA) L2KURS = LAG2 (KURS)
Keterangan :
IMPG = IMPOR GULA (Ton)
PRODG = PRODUKSI GULA (Ton/Ha) QDG = PERMINTAAN GULA (Ton) D3 = KEBIJAKAN PEMERINTAH
HGI = HARGA GULA INTERNASIONAL (US$ cent/kg) BM = BEA MASUK (%)
PKPTA = PENDAPATAN PER KAPITA (Rupiah/Jiwa) JP = JUMLAH PENDUDUK (Juta Jiwa)
LLTT = LUAS TANAM AREAL TEBU (Ha) PRODTIVT = PRODUKTIVITAS TEBU (% Ton/Ha) REND = RENDEMEN TEBU (% Ton/Ha) KURS = KURS RUPIAH (Rupiah)
Hasil analisis 2SLS
1. Persamaan LLTT (Luas Tanam Areal Perkebunan Tebu)
Persamaan luas tanam areal tebu di Internasional dibagi menjadi tiga uji, yaitu;
a. Adjusted R Square
Berdasarkan Adjusted R Square dari persamaa LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 0.71223. Hal ini berarti bahwa 71.223 persen keragaman LLTT (luas tanam areal tebu) dapat dijelaskan oleh keragaman variabel-variabel PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) penjelas dalam persamaan. Sedangkan sisanya sebesar 28.887 persen keragaman LLTT (luas tanam areal tebu) dijelaskan oleh keragaman variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut atau di luar model.
Berdasarkan variabel-variabel PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) penjelas secara bersamasama mampu menjelaskan dengan baik variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu) yaitu dengan nilai probabilitas-F sebesar 0.0001. Sehingga dengan probabilitasnya 0.0001 < 10% (0.1), maka ada hubungan dengan variabel LLTT (Luas Tanam Areal Tebu).
b. Uji F
H0 : Variabel eksogen PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi
tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu)
H1 :Variabel eksogen PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi
tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) secara bersama-sama mempengaruhi variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu)
Kriteria pengujian:
H0 ditolak jika signifikansi uji F < taraf nyata
H0 diterima jika signifikansi uji F > taraf nyata
Pengambilan Keputusan:
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai Fhitung adalah sebesar
17.71 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,001 dengan taraf signifikan sebesar 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya variabel
eksogen PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) secara bersama-sama berpengaruh terhadap LLTT (luas tanam areal tebu).
c. Uji T
LLTT = 129073.5 + 378.306 L2PRODTIVT + 0.011439 PRODT - 5775.51 REND + 0.00022 L2PKPTA + u1
Interpretasi :
Konstanta: Pada saat nilai variabel eksogen L2PRODTIVT (produktivitas tebu), PRODT (produksi tebu), REND (rendemen tebu), PKPTA (pendapatan perkapita) sama dengan nol, maka LLTT (luas tanam areal tebu) akan mengalami peningkatan seluas 129073.5 Ha.
Produktivitas Tebu: Apabila terjadi kenaikan L2PRODTIVT (produktivitas tebu) sebesar 1 % Ton/Ha, maka akan menyebabkan pertambahan LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 378.306 Ton/Ha serta memiliki nilai thitung
tebu) tidak berpengaruh secara nyata terhadap LLTT (luas tanam areal tebu) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen LLTT (0.8160 > 0,1).
Produksi Tebu: apabila terjadi kenaikan PRODT (produksi tebu) sebesar 1 Ton/Ha, maka akan menyebabkan pertambahan LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 0.011439 Ton/Ha serta memiliki nilai thitung sebesar 6.74 dan
nilai signifikansi sebesar 0.001 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa PRODT (produksi tebu) berpengaruh secara nyata terhadap LLTT (luas tanam areal tebu) karena nilai signifikansi lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu) (0.001 < 0,1).
Rendemen Tebu: apabila terjadi penurunan REND (rendemen tebu) sebesar 1 % Ton/Ha, maka akan menyebabkan pertambahan LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 5775.51 % Ton/Ha serta memiliki nilai thitung sebesar -0.61 dan
nilai signifikansi sebesar 0.5474 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa REND (rendemen tebu) tidak berpengaruh secara nyata terhadap LLTT (luas tanam areal tebu) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu) (0.5474 > 0,1). Pendapatan Per Kapita : apabila terjadi kenaikan L2PKPTA (Pendapatan Per
Kapita sebesar, maka akan menyebabkan pertambahan LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 0.00022 rupiah/jiwa serta memiliki nilai thitung sebesar
-0.09 dan nilai signifikansi sebesar 0.9286 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita tidak berpengaruh secara nyata terhadap luas tanam areal tebu karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen LLTT (luas tanam areal tebu) (0.9286 > 0,1).
Berdasarkan Adjusted R Square dari persamaan PRODTIVT (produktivitas tebu) sebesar 0.39414. Hal ini berarti bahwa 39,414 persen keragaman PRODTIVT (produktivitas tebu) dapat dijelaskan oleh keragaman variabel-variabel LLTT (luas tanam areal tebu), IMPG (impor gula), HGI (harga gula internasional), QDG (permintaan gula) penjelas dalam persamaan. Sedangkan sisanya sebesar 61,596 persen keragaman PRODTIVT (produktivitas tebu) dijelaskan oleh keragaman variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut atau di luar model.
Berdasarkan LLTT (luas tanam areal tebu), IMPG (impor gula), HGI (harga gula internasional), QDG (permintaan gula) variabel-variabel penjelas secara bersamasama mampu menjelaskan dengan baik variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu) yaitu dengan nilai probabilitas sebesar 0.0033. Sehingga dengan probabilitasnya 0.0033 < 10% (0.1), maka ada hubungan dengan variabel PRODTIVT (produktivitas tebu).
b. Uji F
Hipotesis :
H0 :Variabel eksogen LLTT (luas tanam areal tebu), IMPG (impor gula),
HGI (harga gula internasional), QDG (permintaan gula) secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu)
H1 :Variabel eksogen LLTT (luas tanam areal tebu), IMPG (impor gula),
HGI (harga gula internasional), QDG (permintaan gula) secara bersama-sama mempengaruhi variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu)
Kriteria pengujian:
H0 ditolak jika signifikansi uji F < taraf nyata
H0 diterima jika signifikansi uji F > taraf nyata
Berdasarkan hasil analisis 2SLS dapat diketahui bahwa nilai Fhitung adalah
sebesar 5.39 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,0033 dengan taraf signifikansi sebesar 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya
variabel eksogen LLTT (luas tanam areal tebu), IMPG (impor gula), HGI (harga gula internasional), QDG (permintaan gula) secara bersama-sama berpengaruh dan ada hubungan terhadap PRODTIVT (produktivitas tebu) karena 0,0033<0,1. c. Uji T
PRODTIVT = 73.82291 + 1.25E-6 LLTT - 4.91E-6 IMPG + 0.003192 HGI + 8.93E-7 QDG + u1
Interpretasi :
Konstanta: Pada saat nilai variabel eksogen LLTT, IMPG, HGI dan QDG sama dengan nol, maka PRODTIVT (produktivitas tebu) akan mengalami peningkatan seluas 73.82291 Ton/Ha.
Luas Tanam Areal Tebu: Apabila terjadi kenaikan LLTT (luas tanam areal tebu) sebesar 1 Ha, maka akan menyebabkan pertambahan PRODTIVT (produkstivitas tebu) sebesar 1.25E-6 Ha serta memiliki nilai thitung sebesar
dan nilai signifikansi sebesar 0.9523 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa LLTT (luas tanam areal tebu) tidak berpengaruh secara nyata terhadap PRODTIVT (produktivitas tebu karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu (0.9523 > 0,1).
Impor Gula: Apabila terjadi kenaikan IMPG (impor gula) sebesar 1 Ton, maka akan menyebabkan penurunan PRODTIVT (produkstivitas tebu) sebesar -4.91E-6 Ton serta memiliki nilai thitung sebesar -3.14 dan nilai
Harga Gula Internasional : Apabila terjadi kenaikan HGI (harga gula internasional) sebesar 1 US$ cent/kg, maka akan menyebabkan pertambahan PRODTIVT (produkstivitas tebu) sebesar 0.003192 US$ cent/kg serta memiliki nilai thitung sebesar 0.35 dan nilai signifikansi sebesar 0.7303
dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa HGI (harga gula internasional) tidak berpengaruh secara nyata terhadap PRODTIVT (produktivitas tebu) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu) (0.7303 > 0,1).
Permintaan Gula: Apabila terjadi kenaikan QDG (permintaan gula) sebesar 1 Ton, maka akan menyebabkan pertambahan PRODTIVT (produkstivitas tebu) sebesar 8.93E-7 Ton serta memiliki nilai thitung sebesar 0.38 dan nilai
signifikansi sebesar 0.7107 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa QDG (permintaan gula) tidak berpengaruh secara nyata terhadap PRODTIVT (produktivitas tebu) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen PRODTIVT (produktivitas tebu) (0.7107 > 0,1).
3. Persamaan IMPG (Impor Gula) a. Adjusted R Square
Berdasarkan Ajd-R-Sq dari persamaan IMPG (impor gula) sebesar 0.85167. Hal ini berarti bahwa 85,167 persen keragaman IMPG (impor gula) dapat dijelaskan oleh keragaman variabel-variabel PRODG (produksi gula), QDG (permintaan gula), HGI (harga gula internasional), BM (bea masuk), KURS (kurs rupiah), D3 (kebijakan pemberintah) dan JP (jumlah penduduk) penjelas dalam persamaan. Sedangkan sisanya 14,943 persen keragaman IMPG (impor gula) dijelaskan oleh keragaman variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut atau di luar model.
mampu menjelaskan dengan baik variabel endogen IMPG (impor gula) yaitu dengan nilai probabilitas sebesar 0.0001. Sehingga dengan probabilitasnya 0.0001 < 10% (0.1), maka ada hubungan dengan variabel IMPG (impor gula).
b. Uji F
Hipotesis :
H0 :Variabel eksogen PRODG (produksi gula), QDG (permintaan gula),
HGI (harga gula internasional), BM (bea masuk), KURS (kurs rupiah), D3 (kebijakan pemberintah) dan JP (jumlah penduduk) secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel endogen IMPG (impor gula)
H1 :Variabel eksogen PRODG (produksi gula), QDG (permintaan gula),
HGI (harga gula internasional), BM (bea masuk), KURS (kurs rupiah), D3 (kebijakan pemberintah) dan JP (jumlah penduduk) secara bersama-sama mempengaruhi variabel endogen IMPG (impor gula)
Kriteria pengujian:
H0 ditolak jika signifikansi uji F < taraf nyata
H0 diterima jika signifikansi uji F > taraf nyata
Pengambilan Keputusan:
Berdasarkan hasil analisis 2SLS dapat diketahui bahwa nilai Fhitung adalah
sebesar 23.15 dan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,0001 dengan taraf signifikan sebesar 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak artinya
variabel eksogen PRODG (produksi gula), QDG (permintaan gula), HGI (harga gula internasional), BM (bea masuk), KURS (kurs rupiah), D3 (kebijakan pemberintah) dan JP (jumlah penduduk) secara bersama-sama berpengaruh da nada hubungan terhadap IMPG (impor gula) karena 0,0001<0,1.
c. Uji T
Interpretasi :
Konstanta: Pada saat nilai variabel eksogen PRODG (produksi gula), QDG (permintaan gula), HGI (harga gula internasional), BM (bea masuk), KURS (kurs rupiah), D3 (kebijakan pemberintah) dan JP (jumlah penduduk) sama dengan nol, maka IMPG (impor gula) akan mengalami penurunan seluas 2071604 Ton.
Produksi Gula: Apabila terjadi kenaikan PRODG (produksi gula) sebesar 1 Ton/Ha, maka akan menyebabkan penurunan IMPG (impor gula) sebesar -1.35427 Ton/Ha serta memiliki nilai thitung sebesar -6.47 dan nilai
signifikansi sebesar 0.0001 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa PRODG (produksi gula) berpengaruh secara nyata terhadap IMPG (impor gula) karena nilai signifikansi lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen IMPG (impor gula) (0.0001 <0,1).
Permintaan Gula: Apabila terjadi kenaikan QDG (permintaan gula) sebesar 1 Ton, maka akan menyebabkan penambahan IMPG (impor gula) sebesar 0.249032 Ton serta memiliki nilai thitung sebesar 1.19 dan nilai signifikansi
sebesar 0.2471 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa QDG (permintaan gula) tidak berpengaruh secara nyata terhadap IMPG (impor gula) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen IMPG (impor gula) (0.2471 >0,1).
Harga Gula Internasional: Apabila terjadi kenaikan HGI (harga gula internasional) sebesar 1 US$ cent/kg, maka akan menyebabkan penurunan IMPG (impor gula) sebesar -330.213 US$ cent/kg serta memiliki nilai thitung
Bea Masuk: Apabila terjadi kenaikan IMPG (impor gula) sebesar 1 %, maka akan menyebabkan penurunan IMPG (impor gula) sebesar -17809.0 % serta memiliki nilai thitung sebesar -2.25 dan nilai signifikansi sebesar 0.0356
dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa BM (bea masuk) ada berpengaruh secara nyata terhadap IMPG (impor gula) karena nilai signifikansi lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen IMPG (impor gula) (0.0356 <0,1). Kurs Rupiah: Apabila terjadi kenaikan L2KURS (kurs rupiah) sebesar 1
rupiah, maka akan menyebabkan penambahan IMPG (impor gula) sebesar 9.01723 rupiah serta memiliki nilai thitung sebesar 0.53 dan nilai signifikansi
sebesar 0.6030 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa L2KURS (kurs rupiah) tidak berpengaruh secara nyata terhadap IMPG (impor gula) karena nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan tidak ada hubungan dengan variabel endogen IMPG (impor gula) (0.6030>0,1).
Kebijakan Pemerintah: Apabila terjadi kenaikan D3 (kebijakan pemerintah) sebesar 1, maka akan menyebabkan penurunan IMPG (impor gula) sebesar -537740 serta memiliki nilai thitung sebesar -2.00 dan nilai signifikansi
sebesar 0.0593 dengan taraf signifikansi 10% (0,1) maka dapat disimpulkan bahwa D3 (kebijakan pemerintah) ada berpengaruh secara nyata terhadap IMPG (impor gula) karena nilai signifikansi lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansinya dan ada hubungan dengan variabel endogen IMPG (impor gula) (0.0593 <0,1).
Jumlah Penduduk: Apabila terjadi kenaikan JP (jumlah penduduk) sebesar 1 juta jiwa, maka akan menyebabkan penambahan IMPG (impor gula) sebesar 26.14835 juta jiwa serta memiliki nilai thitung sebesar 3.62 dan nilai