PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASARKAN KERAPATAN ALUR SIDIK JARI
TESIS
dr. Doaris Ingrid Marbun 107113001/IKF
PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER
SPESIALIS I
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASARKAN KERAPATAN ALUR SIDIK JARI
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Spesialis Forensik (Sp.F) Dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis
Konsentrasi Ilmu Kedokteran Forensik Pada Fakultasl Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Oleh:
dr. Doaris Ingrid Marbun 107113001/IKF
Program Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan
2016
HALAMAN PERSETUJUAN SEMINAR HASIL PENELITIAN
Judul Penelitian
PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASARKAN KERAPATAN ALUR SIDIK JARI
Disusun oleh
dr. Doaris Ingrid Marbun 107113001/IKF
Hasil penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan.
Medan, 25 Juli 2016 Disetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. H. Guntur Bumi Nasution, Sp. F
NIP. 194806091985031001 NIP. 196709252005012001 dr. Rita Mawarni, Sp. F
HALAMAN PENGESAHAN SEMINAR HASIL PENELITIAN
Judul Tesis : Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari
Nama Mahasiswa : Doaris Ingrid Marbun Nomor Induk Mahasiswa : 107113001/IKF
Program Studi : Magister Kedokteran Klinik – Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK USU
Menyetujui,
Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua
NIP. 194806091985031001 dr. H. Guntur Bumi Nasution , Sp. F
NIP. 196709252005012001 dr. Rita Mawarni, Sp. F
Ketua Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik
Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
NIP. 195205041989031001 dr. H. Mistar Ritonga, Sp. F
NIP. 194806091985031001 dr. H. Guntur BumiNasution, Sp. F
HALAMAN PENGESAHAN SEMINAR HASIL PENELITIAN
Judul Tesis : Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari
Nama Mahasiswa : Doaris Ingrid Marbun Nomor Induk Mahasiswa : 107113001/IKF Program Pendidikan : Dokter Spesialis
Konsentrasi : Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Menyetujui Komisi Pembimbing
Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua
NIP. 194806091985031001 dr. H. Guntur Bumi Nasution , Sp. F
NIP. 196709252005012001 dr. Rita Mawarni, Sp. F
Ketua Program Studi
Ilmu Kedokteran Forensik Kepala TKP PPDS
NIP. 195205041989031001
dr. H. Mistar Ritonga, Sp. F dr. Muhammad Rusda, NIP. 196805202002121002
M. Ked. (OG), Sp. OG (K)
Tanggal lulus : Telah diuji pada tanggal :
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : dr. H. Mistar Ritonga, Sp. F
Anggota : 1. Prof. dr. H. Amri Amir, Sp. F (K), SH, Sp. Akup 2. dr. H. Guntur Bumi Nasution, Sp. F (K)
SURAT PERNYATAAN
PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASARKAN KERAPATAN ALUR SIDIK JARI
Dengan ini saya menyatakan, bahwa pada penelitian yang saya lakukan ini sebelumnya tidak pernah dilakukan penelitian ini oleh orang lain atau pihak manapun, dengan sampel dan tempat di mana saya melakukan penelitian tersebut.
Dan sepengetahuan saya, tidak ada karya ilmiah dan pendapat orang lain atau pihak manapun yang pernah ditulis atau dipublikasikan, untuk saya ambil/jiplak (plagiat) kecuali pernyataan-pernyataan yang memang saya kutip dan tulis langsung dari pustaka yang terdapat di dalam halaman Daftar Rujukan naskah penelitian saya.
Hormat saya, Penulis
NIM. 107113001/IKF dr. Doaris Ingrid Marbun
DATA DIRI
Riwayat Pribadi
Nama : Doaris Ingrid Marbun
NIM : 107113001/ IKF
Tempat/Tanggal lahir : Medan, 17 Maret 1978 Agama : Kristen Protestan Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Kongsi Gg. Aman No. 5, Marindal 1, Patumbak
Riwayat Pendidikan
1. SD RK Setia Budi, Medan, lulus tahun 1990
2. SMP Katolik Budi Murni 3, Medan, lulus tahun 1993 3. SMA Negeri 3, Medan, lulus tahun 1996
4. FK USU Medan, lulus 2003
Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan : PNS
Instansi : Puskesmas Abang 1, Abang, Karangasem, Bali NIP : 197803172007012024
Riwayat Keluarga
Nama suami : Pdt. Rodion Posmen Tampubolon Nama ayah : Drs. Baginda S. Marbun
Nama ibu : Dr. Sinondang M. Simorangkir
Alamat orang tua : Jl. Kongsi Gg. Aman No. 5, Marindal 1, Patumbak
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul
“PENENTUAN JENIS KELAMIN BERDASARKAN KERAPATAN ALUR SIDIK JARI”.
Adapun proses pembuatan penelitian ini, diawali dari munculnya sebuah ide serta pemikiran atas suatu permasalahan yang timbul di dalam kegiatan pendidikan di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK USU.
Dengan rasa hormat, saya menyampaikan terima kasih yang sedalam- dalamnya kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan dan Ketua TKP PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah menerima saya, kepada para guru saya staf pengajar di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yaitu Prof. dr. H. Amri Amir, Sp. F(K), DFM, SH, Sp. Akup, dr. H. Guntur Bumi Nasution, Sp. F, dr. H. Mistar Ritonga, Sp. F, dr. Surjit Singh Sp. F, DFM, dr. Rita Mawarni, Sp. F, dan dr. Dessy Damayanti Harianja, Sp. F yang telah turut serta memberikan sumbangsih ilmunya kepada penulis serta khusus kepada dr. H. Guntur Bumi Nasution, Sp. F dan dr. Rita Mawarni, Sp. F selaku pembimbing tesis, yang meluangkan waktu dan dengan kesabaran membimbing penulis sampai selesai tesis ini.
Harapan saya semoga hasil penelitian ini merupakan suatu penelitian karya ilmiah yang dapat bermanfaat bagi dunia pengetahuan kedokteran dan masyarakat.
Medan, 30 Juni 2016 Peneliti,
NIM. 107113001/IKF dr. Doaris Ingrid Marbun
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ... i
Halaman Persetujuan ... iii
Halaman Pengesahan ... iv
Surat Pernyataan ... vii
Data Diri ... viii
Kata Pengantar ... ix
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xii
Abstrak ... xiii
BAB 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Identifikasi... 7
2.2 Jenis Kelamin ... 8
2.3 Sidik Jari ... 9
2.4 Suku ... 21
BAB 3. Kerangka Konsep Penelitian dan Defenisi Operasional 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 22
3.2 Defenisi Operasional ... 22
BAB 4. Metode Penelitian 4.1 Jenis Penelitian ... 24
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 24
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 24
4.4 Variabel Penelitian ... 26
4.5 Izin Subjek Penelitian ... 26
4.7 Instrumen Penelitian ... 27
4.8 Cara Kerja Penelitian ... 28
4.9 Batasan Operasional ... 28
4.10 Pengolahan dan Analisa Data ... 30
BAB 5. Hasil Penelitian 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian ... 31
5.2 Analisis Bivariat ... 33
BAB 6. Pembahasan ... 37
BAB 7. Kesimpulan dan Saran 7.1 Kesimpulan ... 40
7.2 Saran ... 40
Daftar Referensi ... 41
Lampiran-lampiran Lampiran 1 Lembar Penjelasan Kepada Calon Subjek Penelitian ... 46
Lampiran 2 Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) ... 48
Lampiran 3 Lembaran Kegiatan Bimbingan Hasil Penelitian ... 49
Lampiran 4 Jadwal Kegiatan ... 50
Lampiran 5 Biaya Penelitian ... 51
Lampiran 6 Surat Persetujuan Komisi Etik tentang Pelaksanaan Penelitian ... 52
Lampiran 7 Master Data Hasil Pengukuran Kerapatan Alur Sidik Jari ... 53
Lampiran 8 Hasil Analisis Data ... 60
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Kelamin ... 31 Tabel 5.2 Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Suku ... 31 Tabel 5.3 Distribusi Suku berdasarkan Jenis Kelamin ... 32 Tabel 5.4 Rerata Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2
Tabel 5.5 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm
... 32
2
Jenis Kelamin ... 33 dengan
Tabel 5.6 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2
Suku ... 33 dengan
Tabel 5.7 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2
Jenis Kelamin berdasarkan Suku ... 34 dengan
ABSTRAK
Jenis kelamin adalah salah satu informasi yang penting untuk mengidentifikasi seseorang. Jika kita dapat menentukan dengan pasti apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan maka akan membatasi daftar pencarian dan mempersingkat waktu pencarian sekaligus memperbesar kemungkinan teridentifikasinya seseorang.
Telah banyak terjadi bencana di Indonesia baik itu bencana alam maupun bencana akibat kelalaian manusia. Bencana sering menimbulkan banyak korban jiwa manusia dan harus segera diidentifikasi. Mayat yang telah membusuk, rusak berat ataupun yang berupa potongan tubuh kadang hanya menyisakan jari tangan - dalam hal ini sidik jari - untuk diperiksa. Pemeriksaan sidik jari merupakan salah satu metode identifikasi yang penting. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan mudah, biayanya murah dan hasilnya spesifik bila dilakukan oleh ahli daktiloskopi. Jika pemeriksaan yang sederhana ini dapat dipergunakan untuk menentukan jenis kelamin pada korban-korban pada tahap awal oleh dokter maka akan sangat membantu proses identifikasi.
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan jenis kelamin berdasarkan kepadatan alur sidik jari. Desain penelitian ini adalah deskritif dengan pendekatan cross sectional terhadap 276 peserta mahasiswa yang sedang menjalani magang klinis di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan dari 2 Mei 2016 sampai 10 Juli 2016.
Dari penelitian ini didapatkan bahwa sidik jari dengan rata-rata kerapatan alur sidik jari 11,23 alur sidik jari/25 mm2 dan simpang bakunya 1,18 alur sidik jari/25 mm2 adalah cenderung dimiliki oleh laki-laki sedangkan sidik jari dengan rata-rata kerapatan alur sidik jari 12,29 alur sidik jari/25 mm2 dan simpang bakunya 1,10 alur sidik jari/25 mm2 cenderung dimiliki oleh perempuan.
Didapatkan nilai P-value 0,00001 pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari/25 mm2 dengan jenis kelamin sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan kerapatan alur sidik jari. Akan tetapi pada penelitian ini kami tidak dapat menentukan suku berdasarkan kerapatan alur sidik jari.
Kata kunci: Jenis kelamin, Kerapatan alur sidik jari.
ABSTRAK
Gender plays a very important role in the process of identification. We can limit our effort in the process of identification and at the same time increases the possibility of identification.
There have been increasing disasters in Indonesia whether it may be due to natural or man-made disaster. Disaster usually caused many human lives which need identification. Decomposed bodies, severely damaged bodies or in case the remaining body parts only leaving the finger to examined fingerprint test.
Fingerprint is one of the very important methods in the process of identification. This examination can be done easily, cheap with specific result if done by the expert in the field of dactyloscopy. This simple procedure can be used to determine gender which will help in process of identification.
This study is aimed to determine gender based on density of fingerprint ridges. The design of the study is descriptive with cross sectional study approach from 276 medical students doing their clinical rotation in the department of forensic medicine in RSUP H. Adam Malik and RSUD dr. Pirngadi Medan from May 2nd, 2016 until July 10th
The result of this study is density of ridges <12 ridges/25 mm , 2016.
2 more likely belongs to males whereas density of ridges >12 ridges/25 mm2 more likely belongs to females. In the study we cannot determine race on ridge density.
Keywords: Gender, Density of the fingerprint ridges.
ABSTRAK
Jenis kelamin adalah salah satu informasi yang penting untuk mengidentifikasi seseorang. Jika kita dapat menentukan dengan pasti apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan maka akan membatasi daftar pencarian dan mempersingkat waktu pencarian sekaligus memperbesar kemungkinan teridentifikasinya seseorang.
Telah banyak terjadi bencana di Indonesia baik itu bencana alam maupun bencana akibat kelalaian manusia. Bencana sering menimbulkan banyak korban jiwa manusia dan harus segera diidentifikasi. Mayat yang telah membusuk, rusak berat ataupun yang berupa potongan tubuh kadang hanya menyisakan jari tangan - dalam hal ini sidik jari - untuk diperiksa. Pemeriksaan sidik jari merupakan salah satu metode identifikasi yang penting. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan mudah, biayanya murah dan hasilnya spesifik bila dilakukan oleh ahli daktiloskopi. Jika pemeriksaan yang sederhana ini dapat dipergunakan untuk menentukan jenis kelamin pada korban-korban pada tahap awal oleh dokter maka akan sangat membantu proses identifikasi.
Penelitian ini dilakukan untuk menentukan jenis kelamin berdasarkan kepadatan alur sidik jari. Desain penelitian ini adalah deskritif dengan pendekatan cross sectional terhadap 276 peserta mahasiswa yang sedang menjalani magang klinis di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan dari 2 Mei 2016 sampai 10 Juli 2016.
Dari penelitian ini didapatkan bahwa sidik jari dengan rata-rata kerapatan alur sidik jari 11,23 alur sidik jari/25 mm2 dan simpang bakunya 1,18 alur sidik jari/25 mm2 adalah cenderung dimiliki oleh laki-laki sedangkan sidik jari dengan rata-rata kerapatan alur sidik jari 12,29 alur sidik jari/25 mm2 dan simpang bakunya 1,10 alur sidik jari/25 mm2 cenderung dimiliki oleh perempuan.
Didapatkan nilai P-value 0,00001 pada data hubungan antara kerapatan alur sidik jari/25 mm2 dengan jenis kelamin sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan kerapatan alur sidik jari. Akan tetapi pada penelitian ini kami tidak dapat menentukan suku berdasarkan kerapatan alur sidik jari.
Kata kunci: Jenis kelamin, Kerapatan alur sidik jari.
ABSTRAK
Gender plays a very important role in the process of identification. We can limit our effort in the process of identification and at the same time increases the possibility of identification.
There have been increasing disasters in Indonesia whether it may be due to natural or man-made disaster. Disaster usually caused many human lives which need identification. Decomposed bodies, severely damaged bodies or in case the remaining body parts only leaving the finger to examined fingerprint test.
Fingerprint is one of the very important methods in the process of identification. This examination can be done easily, cheap with specific result if done by the expert in the field of dactyloscopy. This simple procedure can be used to determine gender which will help in process of identification.
This study is aimed to determine gender based on density of fingerprint ridges. The design of the study is descriptive with cross sectional study approach from 276 medical students doing their clinical rotation in the department of forensic medicine in RSUP H. Adam Malik and RSUD dr. Pirngadi Medan from May 2nd, 2016 until July 10th
The result of this study is density of ridges <12 ridges/25 mm , 2016.
2 more likely belongs to males whereas density of ridges >12 ridges/25 mm2 more likely belongs to females. In the study we cannot determine race on ridge density.
Keywords: Gender, Density of the fingerprint ridges.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik yang masih hidup ataupun sudah mati.
Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat, amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.
Selain hal tersebut, peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi adalah terutama mengindentifikasi jenazah yang tidak dikenal, telah rusak, membusuk, hangus terbakar dalam kasus kecelakaan massal, bencana alam, ataupun huru-hara yang dapat mengakibatkan banyak korban meninggal, yang dapat berupa mayat yang masih utuh, potongan tubuh manusia atau kerangka.
1
Dalam analisis forensik terdapat identifikasi barang bukti untuk memperkirakan identitas (ras, umur, jenis kelamin) atau menghubungkan seseorang dengan tempat kejadian perkara (TKP). Analisis terhadap barang bukti fisik mencakup obyek material berupa tubuh, senjata, jejak cairan tubuh, sidik jari, rambut, serat, dan lain-lain.
2
Sejarah identifikasi dalam ilmu forensik bermula pada saat diperkenalkannya suatu metode yang disebut Bertillon System pada tahun 1879.
3
Metode ini memungkinkan pihak kepolisian mengidentifikasi korban atau tersangka dengan berpatokan pada ukuran tubuh mereka. Metode Bertillon ini mendasarkan proses identifikasinya atas 11 bagian tubuh yang ukurannya tidak akan berubah secara signifikan ketika seseorang beranjak dewasa.
Kemudian, pada tahun 1910, diperkenalkan cara identifikasi seseorang melalui sidik jari. Sejak saat itu pula mulai dilakukan proses pengambilan sidik jari para tersangka oleh pihak kepolisian dan metode identifikasi dengan menggunakan sidik jari ini dinilai cukup akurat menurut data statistik.
3
Metode pengidentifikasian manusia terus mengalami perkembangan seiring dengan digunakannya tipe golongan darah (A, B, AB, atau O) sebagai alat identifikasi. Namun, pengidentifikasian dengan metode ini dinilai tidak seakurat metode sidik jari karena tipe golongan darah yang hanya empat jenis ini tidak dapat digunakan sebagai alat pengenal bagi 7 miliar individu yang berbeda.
Penemuan molekul DNA (deoxyribonucleic acid) telah membawa suatu lompatan besar pada dunia forensik. Molekul ini dapat ditemukan pada darah atau jaringan tubuh lainnya seperti sperma, tulang, dan rambut. Penggunaan DNA untuk identifikasi tersangka kejahatan menjadi perhatian publik pada kasus pembunuhan yang melibatkan pemain football terkenal AS, O.J. Simpson, pada tahun 1995.
3
Agar identitas seseorang dapat dipastikan secara positif maka diperlukan minimal satu dari metode identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal 2 dari metode identifikasi sekunder.
3
2 Metode identifikasi pada dasarnya dibagi atas 2 bagian:
1. Data sidik jari, gigi, dan DNA adalah metode identifikasi primer 2. Data medik, properti dan ciri fisik adalah metode identifikasi sekunder.
Telah sering terjadi bencana di Indonesia akhir-akhir ini, baik yang sengaja ditimbulkan atau akibat kelalaian manusia maupun karena faktor alam seperti kejadian meledaknya bom di Kuta, Bali, tahun 2002 dan di Hotel J. W.
Marriott, Jakarta tahun 2003, gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004, jatuhnya pesawat C-130 Hercules Alpha 1325 TNI AU di Magetan, Jawa Timur tahun 2009 hingga penggerebekan teroris di Klaten Jawa Tengah bulan Juni 2010.
2
Sumatera Utara juga telah mengalami banyak bencana antara lain beberapa kasus jatuh pesawat yaitu jatuhnya pesawat Garuda GA 152 di Sibolangit pada tanggal 26 September 1997, jatuhnya pesawat Mandala Airlines Penerbangan RI 091 di Medan pada tanggal 5 September 2005, jatuhnya pesawat Cassa 212-200 di Bahorok pada tanggal 30 September 2011 dan kejadian terakhir yaitu jatuhnya pesawat Hercules C-130 dengan nomor A-1310 di Medan pada tanggal 30 Juni 2015 yang lalu serta gempa dan tsunami di pulau Nias tahun 2004.
1
Kejadian-kejadian tersebut di atas menimbulkan korban manusia meninggal yang jumlahnya relatif besar dan harus diidentifikasi. Dan ketika diperiksa, sering tubuh korban-korban tersebut telah mengalami pembusukan atau rusak berat ataupun hanya merupakan potongan tubuh yang akan semakin memperberat tugas dokter untuk mengidentifikasinya.
Pemeriksaan sidik jari dapat dilakukan sebagai tes awal identifikasi karena spesifik, mudah dilakukan, dan murah sehingga dapat membantu proses
2,3
identifikasi lebih lanjut. Sidik jari juga merupakan salah satu metode identifikasi primer.
Sidik jari yang ditemukan di TKP juga merupakan barang bukti yang sangat penting dan pengidentifikasiannya dapat dipergunakan untuk mengkonfirmasi keberadaan seseorang di TKP.
4
Jenis kelamin adalah salah satu informasi yang penting untuk mengidentifikasi seseorang. Jika jenis kelamin seseorang telah dapat ditentukan dengan pasti maka akan semakin mempermudah kita untuk mengidentifikasi seseorang dikarenakan di dunia ini hanya terdapat dua jenis kelamin yaitu laki- laki dan perempuan. Sehingga dalam konteks ini, penentuan jenis kelamin berdasarkan keragaman pola sidik jari dan kepadatan alur sidik jari menjadi relevan dan telah banyak dilakukan penelitian yang mengamati hubungan antara jenis kelamin dan sidik jari.
4
Jantz menemukan adanya hubungan antara jenis kelamin dan perbedaan ras dengan kepadatan alur sidik jari. Moore menyatakan bahwa perempuan memiliki epidermal sidik jari yang lebih halus dibandingkan dengan laki-laki dan Okajima menemukan bahwa indeks alur sidik jari bentuk garpu lebih tinggi pada sidik jari perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki.
5
Penelitian tentang penentuan jenis kelamin berdasarkan kepadatan alur sidik jari telah banyak lakukan oleh para peneliti di luar negeri antara lain oleh Sudesh Gungadin di India pada tahun 2006
6
7, Vinod C. Nayak MD dkk untuk populasi India pada tahun 20072, Intira Suthiprapha dkk pada orang Thailand pada tahun 20104, dan Lalit Kumar dkk untuk daerah Uttarakhand di India pada tahun
20133. Di dalam penelitiannya, Vinod C. Nayak MD dkk mendapatkan bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari ≤ 12 alur/25 mm 2 cenderung berasal dari laki- laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari > 12 alur/25 mm2 cenderung dari perempuan.2
Hasil penelitian Sudesh Gungadin di India pada tahun 2006 didapatkan bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari ≤ 13 alur/25 mm
2 cenderung berasal dari laki-laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari > 14 alur/25 mm2 cenderung dari perempuan. Hasil penelitian Intira Suthiprapha dkk pada orang Thailand pada tahun 20104 didapatkan bahwa persentasi terbanyak laki-laki yaitu 31,54% dengan 15 alur/25 mm2 dan sebanyak 26,92% pada perempuan dengan 16 alur/25 mm2. Lalit Kumar dkk untuk daerah Uttarakhand di India pada tahun 20133 mendapatkan hasil penelitian yaitu bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari ≤ 12 alur/25 mm2 cenderung berasal dari laki-laki dan kepadatan rata-rata alur sidik jari
> 14 alur/25 mm2
Karena belum banyak dilakukan penelitian yang membahas tentang hubungan antara jenis kelamin dan sidik jari di Indonesia maka untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tersebut khususnya untuk daerah Kota Madya Medan di mana penulis sekarang sedang menjalani tugas sebagai seorang peserta PPDS Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di FK USU Medan, Sumatera Utara.
cenderung dari perempuan. Dari penelitian-penelitian tersebut didapatkan bahwa jumlah alur sidik jari pada perempuan kecenderungan lebih banyak dibandingkan pada laki-laki.
Penelitian ini akan dilakukan dengan meminta keikutsertaan partisipan yaitu para mahasiswa/i yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUPH. Adam Malik
1.2 Rumusan Masalah
dan RSUD dr. Pirngadi Medan.
Apakah jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan kerapatan alur sidik jari?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menentukan jenis kelamin berdasarkan kerapatan alur sidik jari.
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk menentukan jenis kelamin dari kerapatan alur sidik jari berdasarkan suku asli Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai alat bantu untuk menentukan identifikasi jenis kelamin manusia dari barang bukti berupa sidik jari yang diperoleh dari mayat ataupun sisa tubuh manusia yang termutilasi, terbakar ataupun telah mengalami pembusukan yang mana hanya menyisakan jari-jari tangan yang dapat diperiksa ataupun dari ditemukannya sidik jari di TKP.
2. Sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Identifikasi 2.1.1 Defenisi
Identifikasi adalah usaha pengenalan kembali korban yang tidak dikenal, baik masih hidup ataupun telah mati, dari yang masih utuh dan belum mengalami pembusukan sampai tinggal sisa jaringan.2 Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang pada tubuh seseorang yang tidak dikenal, baik yang masih hidup ataupun sudah mati. Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik dan secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.1,4,12
2.1.2 Metode identifikasi
Metode identifikasi pada dasarnya dibagi atas 2 bagian, yaitu identifikasi primer dan identifikasi sekunder. Metode identifikasi primer meliputi pemeriksaan sidik jari (finger print), identifikasi gigi (odontologi) dan DNA, sedangkan metode identifikasi sekunder meliputi medik (antara lain data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat/kelainan khusus, tato) dan properti (antara lain wajah/foto, dokumen, pakaian dan perhiasan). Identitas seseorang dipastikan
dengan minimal salah satu dari identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal 2 dari identifikasi sekunder.1,4,12,13
2.2 Jenis Kelamin
Jenis kelamin adalah perbedaan keadaan antara perempuan dan laki-laki, didapat dari hasil pengamatan. Pada korban yang masih utuh biasanya mudah menentukan jenis kelamin yaitu dengan melihat genitalia externa dan perkembangan sex secunder seperti payudara, jakun, pertumbuhan rambut pubis dan lain-lain. Pada korban yang tidak utuh, keadaan tulang, otot, kulit, rambut kepala, rambut pada kulit dan linea albicans dapat membantu dalam penentuan jenis kelamin. Kadang-kadang penentuan jenis kelamin menjadi sulit pada hermaprodit atau pada mayat yang sudah mengalami pembusukan lanjut. Pada pembusukan lanjut uterus pada wanita dan prostat pada laki-laki, dapat diperiksa karena organ-organ tersebut lama baru membusuk.
Pada kasus anak yang hermaprodit kadang-kadang masih susah untuk mengenali jenis kelaminnya. Jenis kelamin tersebut dapat dengan pasti diketahui apabila ia sudah memasuki usia dewasa (pubertas), karena pada usia tersebut mulai terjadi menstruasi pada wanita atau terjadinya pengeluaran air mani pada laki-laki.
2
Perbedaan lain yang dapat dikenal yaitu pada laki-laki bahu lebih lebar dari panggul, sebaliknya pada perempuan panggul lebih besar dari bahu. Linea albicans bisa dijumpai pada abdomen perempuan dan striae pada perut dan paha yang menunjukkan perempuan yang pernah melahirkan. Pada laki-laki rambut
pubis lebat sampai ke umlilikus, pada perempuan horizontal menuju ke bawah.
Kulit laki-laki kasar, kulit perempuan halus. Selain itu papilla mammae, aerola mammae dan Montgomary’s tubercle dapat membantu menentukan jenis kelamin perempuan. Laring dan trakea lebih panjang pada laki-laki dari perempuan. Jakun lebih menonjol pada laki-laki.2
2.3 Sidik Jari 2.3.1 Defenisi
Daktiloskopi ilmu yang mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali (identifikasi) orang. Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak-tapak jari, baik yang sengaja diambil atau dicapkan dengan tinta maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah terpegang atau tersentuh dengan kulit telapak (friction skin) tangan atau kaki.
Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai ke semua ujung jari, dan kulit pada bagian telapak kaki mulai dari tumit sampai ke semua ujung jari, di mana terdapat garis-garis halus yang menonjol keluar, satu sama lainnya dipisahkan dengan celah atau alur yang membentuk lukisan-lukisan tertentu.
1,4
4
Gambar2.1 Sidik jari dengan diagram alur (ridge)
Dikutip dari:
http://m.infospesial.net/955/4-kasus-pembunuhan-tersadis-di-indonesia/ dan
http://arisaputra2000.blogdetik.com/index.php/archives/36 (diakses pada 8 Maret 2015).
2.3.2 Sejarah sidik jari
Sidik jari manusia telah banyak ditemukan pada benda-benda peninggalan zaman purba kala dan bersejarah. Walaupun penemuan ini telah membuktikan bahwa orang pada zaman dahulu telah menyadari keunikan sidik jari pada setiap orang, namun barulah di akhir abad ke-16 ilmu sidik jari yang modern mulai diprakarsai.18Di tahun 1686, Marcelle Malpighi, guru besar Anatomi pada Universitas Bologna menyatakan dalam tulisannya bahwa pada bagian ujung jari terdapat garis-garis yang berbentuk loop dan spiral. Sejak saat itu, sejumlah besar penelitian dilakukan untuk mempelajari sidik jari.
Henry Fauld, pada tahun 1880, adalah yang pertama sekali menyarankan penggunakan sidik jari untuk keperluan identifikasi di masa-masa yang akan datang. Pada saat yang sama, Herschel menegaskan bahwa beliau telah 20 tahun (1860-1880) mempraktekkan pengenalan dengan mempergunakan sidik jari.
Penemuan-penemuan ini yang kemudian menetapkan dasar perumusan sidik jari modern. Pada akhir abad ke-19, Sir Francis Galton melakukan penelitian yang mendalam; beliau memperkenalkan detail fitur-fitur untuk membandingkan sidik jari pada tahun 1888. Kemajuan penting dalam perumusan sidik jari kemudian dibuat pada tahun 1899 oleh Edward Henry, yang menetapkan sistem klasifikasi sidik jari yang dikenal dengan nama “Sistem Henry”.
4,14
4,14
Pada awal abad ke-20, perumusan sidik jari telah diterima secara resmi sebagai suatu “metode identifikasi personal yang sah dan menjadi standart rutin di bidang forensik”. Badan-badan yang mengidentifikasi sidik jari didirikan di seluruh dunia dan dibuatkan database sidik jari para perlaku kriminal.4,14
2.3.3 Anatomi Dan Perkembangan kulit
Kulit di telapak kaki dan telapak tangan berkerut oleh alur yang sempit yang dikenal sebagai alur sidik jari dan bebas dari rambut dan kelenjar sebasea. Namun, memiliki banyak kelenjar keringat. Sidik jari mulai terbentuk pada usia janin 12- 16 minggu intrauterin dan dianggap telah berkembang penuh pada usia janin 6 bulan.Sidik jari yang terbentuk pada periode janin tersebut tidak akan mengalami perubahan selama seluruh kehidupan invidual sampai akhirnya hancur oleh pembusukan.
Kulit telapak terdiri dari dua lapisan:
15
1. Lapisan dermal (kulit jangat) sering juga dinamakan kulit yang sebenarnya karena lapisan inilah yang menentukan bentuk dari garis-garis yang terdapat pada permukaan kulit telapak.Apabila lapisan dermal terluka atau cacat, maka bekas luka atau cacat itu akan permanen sifatnya.
2. Lapisan epidermal adalah lapisan kulit luar di mana terdapat garis-garis halus menonjol keluar (yang selanjutnya disebut garis-garis papilair).
Terhadap lukisan-lukisan yang dibentuk oleh garis-garis papilair itulah perhatian kita tertujukan, untuk menentukan bentuk pokok, perumusan dan pemeriksaan perbandingan sidik jari.
4,9
4
Cacat pada sidik jari dapat berupa:
1. Cacat sementara adalah cacat pada lapisan kulit luar (epidermis). Garis- garis yang rusak karena cacat ini akan kembali sebagai semula.
2. Cacat tetap adalah cacat yang disebabkan karena ikut rusaknya garis-garis yang sampai pada lapisan dermal.
Baik cacat sementara maupun cacat tetap (kecuali keseluruhan ruas ujung jari itu dirusakkan sama sekali) biasanya tidak mempengaruhi identifikasi terhadap jari itu, yang hanya dapat mempengaruhi perumusannya saja. Kegunaan yang sebenarnya dari garis papilair itu adalah untuk memperkuat pegangan (grip) sehingga benda-benda yang dipegang tidak mudah tergelincir.4,14
Gambar 2.2 Diagram anatomi kulit
Dikutip dari: http://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:HumanSkinDiagram.jpg (diakses pada 9 Maret 2015).
2.3.4 Prinsip dasar dari sidik jari
1. Setiap jari mempunyai ciri-ciri garis tersendiri ditinjau dari segi detailnya, dan tidak sama dengan yang lain.4,16 Seperti semua hal yang ada pada tubuh manusia, alur pada sidik terbentuk melalui kombinasi faktor-faktor genetik dan lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa sidik jari pada orang kembar sekalipun berbeda.14 Dan kemungkinan dua orang memiliki sidik jari yang sama adalah satu di antara 64 juta populasi.
2. Ciri-ciri garis itu, sudah mulai terbentuk sejak janin berusia kira-kira 12-16 minggu di dalam kandungan ibu, dan tidak berubah selama hidup, sampai hancur akibat pembusukan setelah meninggal dunia. Jika cedera mencapai cukup dalam dan mengakibatkan kerusakan kulit, bekas luka yang permanen akan terbentuk. Hal ini dapat terjadi bila luka menembus 1-2 mm di bawah permukaan kulit. Kehadiran bekas luka yang permanen akan menjadi karakteristik baru dan menjadi tambahan untuk tujuan identifikasi.
2,17
3. Seperangkat sidik jari dapat dirumuskan, sehingga dapat diadministrasikan (disimpan dan dicari kembali).
4,16
4,16
2.3.5 Klasifikasi sidik jari
Sidik jari dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu:
1. Arch (busur) adalah bentuk pokok sidik jari yang semua garis-garisnya datang
dari satu sisi lukisan, mengalir atau cenderung mengalir ke sisi yang lain dari lukisan itu, dengan bergelombang naik di tengah-tengah, kecuali tented arch (tiang busur) yang akan diterangkan lebih lanjut. Dijumpai 50% dari seluruh sidik jari terdiri dari bentuk arch.
Golongan arch ini terbagi lagi atas:
a) Plain arch
b) Tented arch (tiang busur).
2. Loop (sangkutan) adalah bentuk pokok sidik jari di mana satu garis atau lebih
datang dari salah satu sisi lukisan, melengkung menyentuh suatu garis bayangan (imaginary line) yang ditarik antara delta dan core dan berhenti atau cenderung kembali ke sisi datangnya semula. Dijumpai 60-65% dari seluruh sidik jari terdiri dari bentuk loop.
Golongan loop ini terbagi lagi atas:
a) Ulnar loop b) Radial loop.
3. Whorl (lingkaran) adalah bentuk pokok sidik jari yang mempunyai paling sedikitnya 2 buah delta, dengan satu atau lebih garis melengkung atau melingkar di hadapan kedua delta. Dijumpai 30-35% dari seluruh sidik jari terdiri dari bentuk whorl.
Golongan whorl ini terbagi lagi atas:
a) Plain whorl
b) Central pocket loop whorl (suku tengah)
c) Double loop whorl (sangkutan kembar).
d) Accidental (combination of more than one pattern).4,16
Gambar 2.3 Subgolongan dari pola sidik jari.
Dikutip dari: http://sites.bergen.org/forensic/fingerprint_files/image004.jpg (diakses pada 8 Maret 2015).
2.3.6 Tipe-tipe sidik jari yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Bentuk dari sidik jari yang ditemukan di TKP dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu:
1. Visible impression, yaitu sidik jari yang langsung dapat terlihat tanpa mempergunakan alat-alat tambahan, seperti sidik jari yang diambil dengan
tinta, demikian pula sidik jari bekas darah, bekas cat yang masih basah, dsb., yang sering tertinggal di tempat kejadian perkara (TKP).
2. Latent impression, yaitu sidik jari latent yang biasanya tidak langsung dapat terlihat, dan memerlukan beberapa cara pengembangan terlebih dahulu untuk membuatnya nampak jelas, seperti sidik jari yang selalu ada kemungkinannya untuk tertinggal di TKP.
3. Plastik impression, yaitu sidik jari yang berbekas pada benda-benda yang lunak seperti sabun, gemuk, lilin, permen karet, dsb.4,16
2.3.7 Perumusan Sidik Jari (Fingerprint Classification)
Perumusan sidik jari adalah proses penentuan rumus sidik jari dengan membubuhkan angka dan huruf-huruf tertentu yang menyatakan bentuk pokok serta perincian garis-garis dari seperangkat sidik jari.4
2.3.8 Identifikasi Sidik Jari (Fingerprint Identification)
Identifikasi sidik jari adalah proses penentuan dua atau lebih sidik jari berasal dari jari yang sama dengan membandingkan garis-garis papilairnya. Garis- garis papilair yang terdapat pada ruas yang kedua dan ketiga dari jari-jari, demikian pula pada telapak tangan (palm) dan telapak kaki beserta jari-jarinya, mempunyai nilai identifikasi yang sama dengan garis-garis papilair pada ruas ujung jari tangan, yaitu dapat diperbandingkan untuk menentukan kesamaanya.4
2.3.9 Sistem Sidik Jari (Fingerprint System)
Sistem sidik jari adalah suatu keseluruhan pengaturan/penyusunan kartu- kartu sidik jari, agar supaya pemanfaatan sidik jari efektif dalam penyidikan yang mencakup tata urut penyimpanan, pengklasifikasian/penyusunan, pemeliharaan dan penggunaan.
Pada dasarnya, sistem sidik jari terdiri dari sistem 10 jari (deca dectylair system/ten fingerprint system) dan sistem 1 jari (mono dectylair system/single fingerprint system). Di samping itu, ada pula sistem 5 jari (single five system) yang biasa digunakan sebagai pengganti sistem satu jari.
a. Pengolahan secara manual 1. Sistem 10 jari
Tujuan utama sistemini adalah untuk mengkonfirmasikan identitas dan catatan kriminal dari tersangka atau pemohon SKKB/ SIM/ dll. Dalam sistem 10 jari, kesepuluh jari tersangka atau pemohon SKKB/ SIM/ dll diambil (direkam) pada satu kartu kemudian disimpan menurut cara tertentu dalam lemari file. Bila suatu waktu ada tersangka yang ditahan atau ada pemohon SKKB/ SIM/ dll, maka kebenaran identitas dan catatan kriminal dapat segera dikonfirmasikan dengan cara mengambil sidik jari yang bersangkutan dan mengirimkannya ke tempat penyimpanan file 10 jari.
2. Sistem 1 jari dan sistem 5 jari
Tujuan utama sistem 1 jari dan sistem 5 jari adalah untuk mendeduksi/
mengidentifikasi identitas penjahat melalui sidik jari laten. Pada sistem 1
jari, tiap-tiap sidik jari tersangka/penjahat diambil (direkam) pada kartu yang berlainan kemudian disimpan menurut cara tertentu dalam lemari file; sedangkan pada sistem 5 jari, kelima sidik jari tiap tangan tersangka/
penjahat diambil (direkam) pada kartu yang berlainan kemudian disimpan menurut cara tertentu dalam lemari file. Bila terjadi suatu kasus, maka identitas tersangka/penjahat dapat dideduksi (identifikasi) dengan cara mengirimkan sidik jari laten yang ditemukan di TKP ke tempat penyimpanan file satu jari atau file lima jari.
b. Pengolahan dengan komputer (AFIS)
Proses klasifikasi sidik jari dilakukan secara otomatis. Bentuk lukisan, jarak core-delta; minusi dibaca secara otomatis oleh “Fingerprint Reader”
dalam bentuk digital dan diteruskan ke “Search Processor”/ komputer.
Proses pencarian sidik jari dilakukan secara otomatis oleh komputer (Search Processor) berdasarkan minusi. Sistem ini dikenal dengan nama AFIS (Automated Fingerprint Identification System).4
2.3.10 Pemeriksaan sidik jari
Tiap jari tangan, telapak tangan, jari kaki dan telapak kaki setiap orang memiliki garis-garis papilair dengan bagian-bagian kecil yang unik dan berbeda. Bagian- bagian kecil garis-garis papilair yang unik tersebut (biasa disebut karakteristik garis-garis jari atau “Galton detail”) berbentuk sebagai berikut:
Gambar 2.4 Galton detail Dikutip dari:
http://www.dartmouth.edu/~chance/chance_news/for_chance_news/ChanceNews11.03/os terburg2.jpg (diakses pada 8 Maret 2015).
“Galton detail” dan hubungan posisinya satu sama lain menetapkan individualitas dari setiap jari. Agar dapat ditentukan bahwa dua sidik jari adalah sama, maka faktor-faktor yang membedakan hubungan posisi “Galton detail”
antara kedua sidik jari tersebut harus dapat dijelaskan.
Para ahli mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai jumlah titik persamaan (“Galton detail” yang sama posisi dan hubungan) untuk menentukan bahwa dua sidik jari berasal dari jari yang sama. Ada yang berpendapat bahwa yang penting adalah keunikan dari bagian-bagian garis papilair (“Galton detail”)
4
daripada jumlah titik persamaan itu sendiri. Bagaimana pun, kedua-duanya sama penting untuk menentukan kesamaan dua sidik jari.
Umumnya dua sidik jari dinyatakan identik (berasal dari jari yang sama) bila:
a. Terdapat minimal enam titik persamaan yang memiliki ciri-ciri yang unik.
b. Terdapat minimal dua belas titik persamaan tanpa keunikan.4
2.3.11 Pengambilan sidik jari
Sidik jari direkam pada sehelai kartu sidik jari di mana terdapat kolom- kolom untuk sidik jari yang tidak digulingkan (rolled impression), kolom untuk sidik jari yang tidak digulingkan (plain impression), dan kolom untuk informasi beserta identitas orang yang diambil sidik jarinya.
Hasil pengambilan harus bagus dan bersih karena rekaman sidik jari itu akan menjadi rekaman yang permanen dari orang yang bersangkutan apakah ia seorang pembunuh, atau seorang yang ditahan karena melakukan suatu tindak pidana, seorang pelamar pekerjaan, pekerja atau pegawai dan sebagainya, untuk dimanfaatkan dikemudian hari, sebagai sarana pengenalan kembali terhadap mereka di kemudian hari, baik untuk maksud-maksud penyidikan, memperkuat pembuktian, maupun untuk kepastian mengenai diri seseorang (personal identification).
Apabila tidak diambil dengan teliti, sidik jarinya tidak akan dapat dirumuskan untuk disimpan, atau dicari kembali pada waktu diperlukan.
Sidik jari dapat diambil dengan cara:
4
1. Digulingkan (rolled impression)
2. Tidak digulingkan (plain impressions).4,16
2.4 Suku
Kelompok etnis atau suku adalah suatu golongan manusia yang anggota- anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.13 Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis. Penduduk kota Medan memiliki beragam etnis (suku) asli yaitu antara lain suku Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, Aceh dan Nias.
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
3.2 Defenisi Operasional
No. Defenisi Cara Penilaian Alat Ukur Hasil Ukur
Skala Ukur
Satuan Ukur 1. Kepadatan alur
sidik jari adalah
banyaknya garis-garis sidik jari yang dihitung di dalam 25 mm2
Menghitung alur epidermal mulai dari salah satu sudut segi empat ke sudut diagonalnya yang
berlawanan.
.
Dengan menggunakan plastik
transparan segi empat
berukuran 5x5 mm2 yang ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih.
Kemudian diperiksa
jumlah alur sidik jari dalam 25 mm2
Jumlah alur sidik jari dihitung di dalam 25 mm
dengan
2
Numerik
.
Jumlah alur/25 mm2.
Sidik Jari Jenis Kelamin
Suku
menggunakan kaca pembesar.
2. Jenis kelamin adalah
perbedaan keadaan antara laki-laki dan perempuan.
Wawancara Kuisioner Jenis kelamin:
- Laki-laki - Perempuan.
Nominal -
3. Suku adalah suatu golongan manusia yang anggota- anggotanya mengidentifika sikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.
Wawancara Kuisioner Suku Melayu, Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh dan Nias.
Nominal -
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan design penelitiannya adalah cross sectional untuk Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari.
4.2 Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP H. Adam Malik/ RSUD dr. Pirngadi Medan yang dilakukan selama 10 minggu yang dimulai sejak 2 Mei 2016 sampai 10 Juli 2016 yang meliputi studi kepustakaan, pengumpulan data, pengumpulan sampel, penelitian dan penulisan.
4.3 Populasi dan sampel penelitian 4.3.1 Populasi target
Semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran di provinsi Sumatera Utara.
4.3.2 Populasi terjangkau
Semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan.
4.3.3 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr.
Pirngadi Medan yang bersedia menjadi subjek penelitian dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Kriteria inklusi
1. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan.
2. Laki-laki dan perempuan berusia 20-30 tahun.
3. Tidak memiliki luka, cacat ataupun kelainan pada jari-jari kedua tangan yang dapat mengakibatkan pengambilan sidik jari tidak utuh dan lengkap.
4. Bersedia menjadi subjek penelitian.
Kriteria eksklusi
1. Bukan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran yang sedang menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di RSUP H. Adam Malik dan RSUD dr. Pirngadi Medan.
2. Laki-laki dan perempuan berusia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30 tahun.
3. Memiliki luka, cacat ataupun kelainan pada jari-jari kedua tangan yang dapat mengakibatkan pengambilan sidik jari tidak utuh dan lengkap.
4. Tidak bersedia menjadi subjek penelitian.
4.3.4 Perkiraan sampel penelitian
Teknik dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan consecutive sampling, yaitu semua subyek yang datang secara berurutan dan
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi.
Untuk menentukan besar sampel minimal yang diperlukan digunakan rumus berikut:
18
n = (Z1 – α/2)2 d
(PQ)
n = besar sampel minimal.
2
Z1 – α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α 5% = 1,96.
P = referensi yaitu proporsi orang dengan >12 alur/25 mm
= 77% = 0,77
2
Q = 1 – P
= 1 – 0,77 = 0,23.
d = perkiraan koefisien korelasi (0,05).
Hasil perhitungan diperoleh n = 272,13.
18
Maka besar sampel adalah 273 orang.
4.4 Variabel penelitian
Variabel tergantung : Jenis kelamin dan suku.
Variabel bebas : Kerapatan alur sidik jari.
4.5 Izin Subjek Penelitian
Semua pengukuran yang dilakukan telah mendapat izin dari subjek penelitian setelah terlebih dahulu mendapat penjelasan tentang maksud, tujuan, cara, manfaat dan resiko dari penelitian yang dilakukan sesuai dengan Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian (terlampir), selanjutnya persetujuan/izin dari
subjek (Informed Consent) dilakukan pada Lembaran Persetujuan Subjek Penelitian (terlampir).
4.6 Etika Penelitian
Penelitian yang dilakukan telah mendapat persetujuan komisi etik Health Research Ethical Committee of North Sumatera c/o Medical School, Universitas Sumatera Utara Tentang Pelaksanaan Penelitian Bidang Kesehatan, Nomor:
442/TGL/KEPK FK USU-RSUP HAM/2016 (terlampir).
4.7 Instrumen penelitian
1. Peralatan yang diperlukan untuk pengambilan sidik jari meliputi:
a) Tinta daktiloskopi, sejenis tinta cetak hitam yang dicampur dengan minyak sehingga tinta cepat kering. Merk tinta yang dipergunakan adalah
“Fingerprint Black Ink”.
b) Plat kaca, ukuran ± 12x28 cm, tempat tinta daktiloskopi diratakan. Dapat juga digunakan bahan-bahan tak berpori seperti porselin dan plastik.
c) Roller, sepotong karet bulat berdiameter ± 2 cm dan panjang ± 5-6 cm digunakan untuk meratakan (menggulingkan) tinta daktiloskopi pada plat kaca. Merk roller yang dipergunakan adalah Roll-Ease Fingerprint Ink Roller ukuran 3 inchi.
d) Kartu sidik jari, dibuat dari kertas tebal licin berukuran 20x20 cm.
e) Loop (kaca pembesar) ukuran 75 mm dengan merk Classic Magnifier 75.
2. Peralatan yang diperlukan untuk penghitungan kerapatan alur sidik jari:
a) Lembar data hasil penghitungan kerapatan alur sidik jari subjek penelitian (terlampir).
b) Sebuah segi empat berukuran 5x5 mm2
4.8 Cara Kerja Penelitian
digambar pada plastik transparan dan ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih.
1. Pengumpulan data subjek penelitian dilakukan meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, suku bangsa, dan alamat.
2. Pemeriksaan terhadap kondisi jari-jari kedua tangan untuk kelayakan pengukuran yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3. Pengambilan kesepuluh sidik jari kedua tangan dengan menggunakan alat penelitian oleh peneliti yang didampingi oleh seorang petugas bagian Identifikasi dari Kepolisian (INAFIS) sebagai konsultan.
4. Penghitungan kerapatan alur sidik jari dengan menggunakan alat penelitian.
5. Menentukan mean kerapatan alur sidik jari dari kesepuluh sidik jari setiap subjek penelitian
4.9 Batasan Operasional
1. Langkah-langkah pengambilan sidik jari:
a) Subjek diminta untuk mencuci bersih tangan mereka.
b) Tuangkan sejumlah tetes tinta daktiloskopi di atas plat kaca. Ratakan tinta tersebut dengan roller yang digerakkan maju-mundur. Usahakan tinta tidak terlalu tebal.
c) Berikan blanko kartu sidik jari pada orang yang hendak diambil sidik jarinya untuk ditulis nama serta keterangan-keterangan yang diperlukan.
d) Tekankan jari-jari tersebut satu kali saja pada kartu sidik jari sesuai dengan kolomnya masing-masing. Jari ditekan dengan tekanan sedang dan sidik jari ke-10 jari tangan diambil.
e) Setelah selesai pengambilan sidik jari, berikan pada oranga yang bersangkutan alat pembersih tangan seperti “ink cleaner”, bensin, atau sabun dan kain lap.
2. Langkah-langkah penghitungan kepadatan alur sidik jari:
a) Bagian atas pada batas radial dari cetakan sidik jari dipilih sebagai daerah untuk dianalisa karena pada semua jenis pola sidik jari menunjukkan kesamaan arah alur pada area tersebut. Metode ini berfungsi untuk mengisolasi alur dalam area yang telah ditentukan untuk dapat dilakukan proses penghitungan alur pada sidik jari. Sebuah segi empat berukuran 5x5 mm2
b) Hitung alur epidermal mulai dari salah satu sudut segi empat ke sudut diagonalnya yang berlawanan. Titik (dot) tidak dihitung. Garpu (fork) dihitung sebagai dua alur tidak termasuk pegangannya dan danau dihitung sebagai dua alur. Nilai ini mewakili jumlah alur di dalam 25 mm
digambar pada plastik transparan dan ditempatkan pada sampel sidik jari pada area yang telah dipilih.
2
c) Nilai kepadatan alur diambil untuk ke-10 jari dan meannya dihitung. Nilai ini merupakan satu data tunggal untuk tiap individu.
dan mencerminkan nilai kepadatan alur.
4.10 Pengolahan dan analisa data
Setelah semua data terkumpul maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Editing yaitu memeriksa kelengkapan data yang diperoleh untuk menghindari bias.
2. Coding yaitu pemberian tanda pada data untuk mempermudah waktu pengadaan tabulasi dan analisa.
3. Cleaning data yaitu pemeriksaan kembali semua data yang telah dikumpulkan guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data.
4. Saving yaitu penyimpanan data untuk dianalisa.
5. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Stata.
Analisis data meliputi univariat untuk melihat karakteristik jenis kelamin dan suku. Statistik analitik digunakan untuk menghitung nilai duga positif, nilai duga negatif, dan likelihood ratio kepadatan alur sidik jari dalam menentukan jenis kelamin.
BAB 5
HASIL PENELITIAN
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian penentuan jenis kelamin berdasarkan sidik jari ini dilakukan terhadap 276 orang (157 orang laki-laki dan 119 orang perempuan) dari periode bulan Maret 2016 sampai dengan bulan Juni 2016 dan disusun dalam tabel induk (lihat lampiran) dengan kolom isian: nomor urut, nomor identifikasi, jenis kelamin, suku, dan rerata kerapatan alur sidik jari per 25 mm2
5.1.1 Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
. Berikut ini dipaparkan perincian tabel dan data deskriptifnya.
Distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persenatase (%)
1. Laki-laki 157 56,9
2. Perempuan 119 43,1
Total 276 100
Dari 276 subjek penelitian ini didapatkan laki-laki lebih banyak dari perempuanya itu jumlah subjek laki-laki 157 orang (56,7%) dan perempuan 119 orang (43,1%).
5.1.2 Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Suku
Distribusi subjek penelitian berdasarkan suku dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Distribusi Subjek Penelitian Berdasarkan Suku
No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persenatase (%)
1. Batak 116 42,0
2. Melayu 65 23,6
3. Jawa 57 20,7
4. Minang 16 5,8
5. Aceh 15 5,4
6. Nias 7 2,5
Dari tabel 5.2 di atas dapat dilihat bahwa suku dengan jumlah subjek yang terbanyak adalah suku Batak yaitu 116 orang (42,0%) dan jumlah subjek yang paling sedikit adalah suku Nias yaitu hanya berjumlah 7 orang (2,5%). Jumlah subjek suku Melayu adalah 65 orang (23,6%), suku Jawa 57 orang (20,7%), suku Minang 16 orang (5,4%) dan suku Aceh 15 orang (2,5%).
5.1.3 Distribusi Suku Berdasarkan Jenis Kelamin
Distribusi suku berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari tabel 5.3.
Tabel 5.3 Distribusi Suku berdasarkan Jenis Kelamin
No. Suku
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
n % n %
1. Batak 60 51,7 56 48,3
2. Melayu 38 58,5 27 41,5
3. Jawa 39 68,4 18 31,6
4. Minang 6 37,5 10 62,5
5. Aceh 9 60,0 6 40,0
6. Nias 5 71,4 2 28,6
Dari data penelitian ini diketahui bahwa dari 116 orang suku Batak didapati 60 orang laki-laki (51,7%) dan perempuan 56 orang (48,3%). Dari 65 orang suku Jawa didapati 38 orang laki-laki (58,5%) dan perempuan 27 orang (41,5%), dari 57 orang suku Jawa didapati 39 orang laki-laki (68,4%) dan 18 orang perempuan(31,6%), dari 16 orang suku Minang didapati 6 orang laki-laki (37,5%) dan 10 orang perempuan (62,5%), dari 15 orang suku Aceh didapati 9 orang laki- laki (60,0%) dan 6 orang perempuan (40,0%), dan dari 7 orang suku Nias didapati 5 orang laki-laki (71,4%) dan 2 orang perempuan (28,6%).
5.1.4 Rerata Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm Rerata kerapatan alur sidik jari per 25 mm
2
2 dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4 Rerata Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm No
2
Alur Sidik Jari Rerata
(alur/25 mm2
Simpangan Baku ) (alur/25 mm2)
1. Kerapatan alur sidik jari 11,68 1,26
Dari data penelitian ini diketahui bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari per 25 mm2 adalah 11,68 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,26 alur sidik jari/25 mm2.
5.2 Analisis Bivariat
5.2.1 Hubungan Antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2
Hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 25 mm
dengan Jenis kelamin
2
Tabel 5.5 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm
dengan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.5.
2
No
dengan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Rerata (alur/25 mm2
Simpangan Baku ) (alur/25mm2
P-value*
)
1. Laki-laki 11,23 1,18
0,00001
2. Perempuan 12,29 1,10
*P-value menggunakan uji Mann-Whitney U
Dari data penelitian ini diketahui bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari pada subjek dengan jenis kelamin laki-laki adalah 11,23 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,18 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan pada subjek penelitian jenis kelamin perempuan didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari 12,29 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,10 alur sidik jari/25 mm2. Dengan P- value yang didapatkan dari data tersebut adalah 0,00001 maka dapat diambil
kesimpulan bahwa ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan jenis kelamin.
5.2.2 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm
dengan Suku
2
Tabel 5.6 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm
dengan Suku dapat dilihat pada tabel 5.6.
2
No
dengan Suku
Suku Rerata
(alur/25 mm2
Simpangan Baku ) (alur/25 mm2
P-value*
)
1. Batak 11,81 1,36
0,2334
2. Melayu 11,69 1,22
3. Jawa 11,40 1,10
4. Minang 12,09 1,13
5. Aceh 11,43 1,12
6. Nias 11,29 1,44
*P-value menggunakan uji Krukal-Wallis
Dari data pada tabel 5.6 didapati bahwa rata-rata kerapatan alur sidik jari pada subjek suku Batak adalah 11,81 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,36/25 mm2. Pada suku Melayu didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,69 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,22/25 mm2. Pada suku Jawa didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,40 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,10/25 mm2. Pada suku Minang didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 12,09 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,13/25 mm2. Pada suku Aceh didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,43 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,12/25 mm2. Dan pada suku Nias didapati rata-rata kerapatan alur sidik jari adalah 11,29 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,44/25 mm2. P-value yang
didapatkan dari data tersebut 0,2334 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari dengan suku.
5.2.3 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm2
Hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 25 mm
dengan Jenis Kelamin berdasarkan Suku
2
Tabel 5.7 Hubungan antara Kerapatan Alur Sidik Jari per 25 mm
dengan jenis kelamin berdasarkan suku dapat dilihat pada tabel 5.7.
2
No
dengan Jenis Kelamin berdasarkan Suku
Suku Rerata
(alur/mm2
Simpangan Baku (alur/mm
) 2 P-value*
) 1. Batak
• Laki-laki 11,31 1,30
0,00001
• Perempuan 12,36 1,20
2. Melayu
• Laki-laki 11,01 0,96
0,00001
• Perempuan 12,64 0,89
3. Jawa
• Laki-laki 11,04 1,04
0,0003
• Perempuan 12,19 0,78
4. Minang
• Laki-laki 12,45 1,35
0,252
• Perempuan 11,87 0,98
5. Aceh
• Laki-laki 11,51 1,08
0,860
• Perempuan 11,30 1,28
6. Nias
• Laki-laki 11,32 1,65
1,000
• Perempuan 11,20 1,27
*P-value menggunakan uji Mann-Whitney U
Dari tabel 5.7 didapatkan bahwa pada suku Batak, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,31 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,30 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 12,36 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,20 alur sidik jari/25 mm2. P-value yang didapatkan adalah 0,00001.
Pada suku Melayu, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,01 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 0,96 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 12,64 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 0,89 alur sidik jari/25 mm2
Pada suku Jawa, rata-rata kerapatan alur sidik jari padalaki-laki adalah 11,04 alur sidik jari/25 mm
. P-value yang didapatkan adalah 0,00001.
2 dengan simpangan baku 1,04 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 12,19 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 0,98 alur sidik jari/25 mm2
Pada suku Minang, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 12,45 alur sidik jari/25 mm
. P-value yang didapatkan adalah 0,0003.
2 dengan simpangan baku 1,35 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,87 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,28 alur sidik jari/25 mm2
Pada suku Aceh, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,51 alur sidik jari/25 mm
. P-value yang didapatkan adalah 0,252.
2 dengan simpangan baku 1,08 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,30 alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,28 alur sidik jari/25 mm2
Pada suku Nias, rata-rata kerapatan alur sidik jari pada laki-laki adalah 11,32 alur sidik jari/25 mm
. P-value yang didapatkan adalah 0,860.
2 dengan simpangan baku 1,65 alur sidik jari/25 mm2. Sedangkan rata-rata kerapatan alur sidik jari pada perempuan adalah 11,20
alur sidik jari/25 mm2 dengan simpangan baku 1,27 alur sidik jari/25 mm2
Dari data-data pada tabel 5.7 maka dapat disimpulkan pada suku Batak, Melayu dan Jawa berdasarkan P-value pada masing-masing suku bahwa ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari/25 mm
. P- value yang didapatkan adalah 1,000.
2 dengan jenis kelamin berdasarkan suku. Sedangkan pada suku Minang, Aceh sertaNias berdasarkan P- valuenya diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara kerapatan alur sidik jari per 25 mm2 dengan jenis kelamin berdasarkan suku.
BAB 6 PEMBAHASAN
Jumlah subjek pada penelitian ini adalah 276 orang dimana jumlah subjek laki-laki 157 orang (56,7%) dan perempuan 119 orang (43,1%). Berdasarkan suku maka subjek penelitian ini terdiri dari suku Batak 116 orang (42,0%), suku Melayu 65 orang (23,6%), suku Jawa 57 orang (20,7%), suku Minang 16 orang (5,4%), suku Aceh 15 orang (2,5%) dan suku Nias 7 orang (2,5%).
Dari data penelitian ini diketahui bahwa dari 116 orang suku Batak didapati 60 orang laki-laki (51,7%) dan perempuan 56 orang (48,3%). Dari 65 orang suku Jawa didapati 38 orang laki-laki (58,5%) dan perempuan 27 orang (41,5%), dari 57 orang suku Jawa didapati 39 orang laki-laki (68,4%) dan 18 orang perempuan (31,6%), dari 16 orang suku Minang didapati 6 orang laki-laki (37,5%) dan 10 orang perempuan (62,5%), dari 15 orang suku Aceh didapati 9 orang laki-laki (60,0%) dan 6 orang perempuan (40,0%), dan dari 7 orang suku Nias didapati 5 orang laki-laki (71,4%) dan 2 orang perempuan (28,6%).
Penelitian tentang penentuan jenis kelamin berdasarkan kepadatan alur sidik jari telah banyak lakukan oleh para peneliti di luar negeri antara lain oleh Sudesh Gungadin di India pada tahun 20067, Vinod C. Nayak MD dkk untuk populasi India pada tahun 20072, Intira Suthiprapha dkk pada orang Thailand pada tahun 20104, dan Lalit Kumar dkk untuk daerah Uttarakhand di India pada tahun 20133. Di dalam penelitiannya, Vinod C. Nayak MD dkk mendapatkan bahwa kepadatan rata-rata alur sidik jari ≤ 12 alur/25 mm 2 cenderung berasal dari laki-