• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mei 2021 TRUST STRONG MATURE THE REAL GOD THE REAL WORSHIPPER. Part 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mei 2021 TRUST STRONG MATURE THE REAL GOD THE REAL WORSHIPPER. Part 2"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

T H E R E A L

G O D

T H E R E A L

W O R S H I P P E R

P a r t 2

LIFE Mei 2021

TRUST STRONG MATURE

(2)
(3)
(4)

change

T

erpujilah Tuhan Yesus yang sangat baik! Oleh kebaikanNya kita sekarang berada di bulan kelima tahun ini.

Pada bulan lalu kita sudah belajar bagian pertama dari tema The Real God, The Real Worshipper, dimana kita sudah belajar Materi bagian A yaitu tentang penyembahan kepada Tuhan dan bahaya penyembahan kepada berhala. Bangsa Israel dengan tegas diperingatkan agar berhati- hati terhadap penyembahan berhala, peristiwa di gunung Sinai di mana Tuhan menyatakan kemuliaanNya yang dilihat dan didengar adalah hanya api, awan, kilat, suara sangkakala dan suara

Tuhan sendiri. Mereka tidak melihat rupa, hanya suara Tuhan.

Juga bagi kita yang hidup dalam perjanjian baru diperingatkan agar jangan terlibat dalam penyembahan berhala yang dimensinya bukan hanya benda- benda berhala tetapi juga sampai kepada hal-hal yang terdalam dalam diri manusia yaitu dalam keinginan-keinginan, pikiran, perasaan dan hati serta perilaku berdosa. Waspada merupakan tindakan kehati-hatian dari kita orang Kristen agar jangan sampai segala sesuatu (apa saja) dapat menggesar posisi Tuhan di dalam hati kita.

REAL GOD, THE THE REAL WORSHIPPER

(Part 2)

(5)

Dalam materi Poin B tentang The Real God. Tuhan Allah yang benar yang diajarkan oleh Musa dalam PL khususnya dalam kitab Ulangan 4:1-40, sangat jelas dikatakan bahwa rupa tidak dilihat, hanya suara Tuhan yang dari dalam api. Bangsa Israel harus membangun hubungan dengan Tuhan melalui iman, seperti ringkasan perjalanan iman dalam kitab Ibrani 11:1-40, pada setiap ayat selalu dituliskan

“ karena iman “ dan kebenaran tentang iman dituliskan pada ayat 6 yaitu iman membuat seseorang berkenan di hadapan Allah dan iman membuat seseorang dapat membangun hubungan dengan Allah.

Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru mengajarkan kebenaran tentang Allah dalam injil Yohanes 4:22-24, yaitu Allah Bapa adalah Roh. Pribadi Allah Bapa itu Roh.

Hanya Yesus Kristuslah yang dapat mengajarkan tentang Allah dengan benar karena Dia adalah Firman yang bersama- sama dengan Allah dan Firman

itu adalah Allah. Sama seperti bangsa Israel diwahyukan pemahaman yang benar tentang Allah, demikian juga kita yang oleh karena Injil menjadi percaya kepada Allah diajarkan pemahaman yang benar supaya kita mengerti bahwa kita dalam membangun hubungan dengan Allah harus dengan iman.

Pemahaman yang benar sesuai kebenaran Alkitab akan membuat kita terhindar dari segala sesuatu yang dapat menggantikan Allah di hati kita atau luput dari jeretan penyembahan berhala.

Pada bulan Mei ini kita akan melanjutkan belajar firman Tuhan pada bagian kedua dengan tema yang sama yaitu The Real God, The Real Worshipper. Pada bulan ini kita akan membahas tentang materi bagian C yaitu The Real Worshipper , Para Penyembah Sejati atau Penyembahan Benar.

(6)

THE REAL WORSHIPPERS

1. MANUSIA ADALAH MAKHLUK PENYEMBAH.

Manusia sebenarnya sedang melakukan penyembahan dalam hidup yang dijalaninya, apakah dia menyadari atau tidak, apakah dia tahu siapa tentang Allah Penciptanya atau tidak, apakah dia memiliki hati yang percaya atau tidak kepada Allah Sang Pencipta, semua manusia sebenarnya sedang melakukan penyembahan.

Kesadaran akan adanya Allah Sang Pencipta memang sudah diberikan ke dalam hati manusia dari sejak awal. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, manusia dapat menikmati persekutuan dengan Tuhan Sang Pencipta, jadi manusia diciptakan dengan kemampuan untuk berkomunikasi atau membangun hubungan dengan Tuhan Sang Pencipta (Kej 2: 15-17;

3:9-19).

Masuknya dosa ke dalam hidup manusia telah merusak segalanya termasuk dalam hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Allah sangat membenci dosa, karena dosa telah membuat manusia menjauh dan meninggalkan Allah dan membuat manusia berjalan tanpa Allah di dunia ini, manusia tersesat seperti domba tersesat tidak bisa kembali atau tidak tahu jalan pulang, tersesat artinya mempunyai jalnnya sendiri-sendiri atau meyimpang dari jalan Tuhan (Yes 53:6). Dosa telah merusak manusia serusak- rusaknya. Allah membenci dosa yang dilakukan oleh manusia, namun Dia sangat mengasihi manusia (Yoh 3:16).

Manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan Sang Pencipta. Dengan masuknya dosa menjadikan manusia sebagai makhluk penyembah mengalami distorsi atau gangguan atau

(7)

penyimpangan. Manusia dalam penyembahannya menjadi meleset seperti arti kata dosa yaitu tidak mengenai sasaran atau tidak tepat sasaran. Oleh karena mengalami distorsi akibat dosa maka penyembahan yang dilakukan manusia menjadi tidak tepat sasaran artinya manusia bisa menyembah siapa saja dan apa saja yang menurut pikirannya segala sesuatu dapat disembah sehingga penyembahan dapat ditujukan kepada Tuhan Allah yang benar atau dapat ditujukan kepada berhala (allah ciptaan manusia) atau dapat ditujukan kepada roh-roh jahat atau dapat ditujukan kepada dirinya sendiri atau dapat ditujukan kepada benda-benda ciptaan, atau dia sedang menyembah dirinya sendiri (Roma 3:4,9-18).

Manusia adalah makhluk penyembah, tapi sayang, masuknya dosa telah membuat manusia menyembah siapa saja dan apa saja termasuk dirinya sendiri, syukur kepada Allah, oleh karena kasihNya yang begitu

besar kepada manusia sehingga Ia mengaruniakan Yesus Kristus AnakNya yang tunggal untuk mati disalibkan oleh karena dosa dan dikubur dan dibangkitkan dari antara orang mati pada hari ketiga untuk pengampunan dosa kita, untuk pembenaran kita dan untuk keselamatan kita (Roma 3:23-24; 2 Kor 5:21; Titus 3:7).

2. KEBENARAN TENTANG PENYEMBAHAN

Penyembahan kepada Allah perlu kita pelajari dengan benar sesuai kebenaran yang dinyatakan di dalam Alkitab.

Ada 3 Perkara Penting Dalam Penyembahan Yang Benar:

01. Perkara Penting Pertama adalah Kiblat Penyembahan.

Istilah Kiblat menurut KBBI diartkan dengan kata : arah ke Ka’bah di Mekah (pada waktu salat); 2. arah; jurusan; mata angin. Jadi kiblat secara umum lebih menerangkan tentang arah atau jurusan.

(8)

Topik tentang kiblat dalam penyembahan kepada Tuhan dapat kita baca dalam percakapan Tuhan Yesus dengan wanita Samaria dalam injil Yohanes 4, di situ kita menemukan dialog yang menerangkan tentang wanita Samaria di mana nenek moyangnya dan dia sendiri menyembah Tuhan di Gunung Gerizim, lokasinya dekat sumur Yakub tempat wanita ini akan menimba air. Isi percakapan Wanita Samaria ini dengan Yesus, dia mengatakan bahwa

“Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”” Joh 4:20

Nenek moyang wanita Samaria ini melakukan penyembahan di atas Gunung Gerizim, dan kemudian dia meneruskan percakapannya kepada Yesus dengan mengatakan “ kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah. Jika kita bandingkan dengan terjemahan

BIS dituliskan : tetapi bangsa Tuan berkata; dalam terjemahan ISV : But you Jews say that the place where people should worship is in Jerusalem.”

Wanita Samaria ini menyatakan kepada Yesus sebagai orang Yahudi (4:20) atau bangsa Yahudi mengatakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah, dimana Bait Allah berada dan kota yang dipilih Tuhan (1 Raja 11:32,36; 14:21).

Dari percakapan itu kita menemukan bahwa bangsa Samaria kiblat penyembahanya ke arah atau di Gunung Gerizim dan bangsa Yahudi kiblat penyembahannya ke arah Bait Allah atau ke Yerusalem.

Pada waktu pentahbisan Bait Allah di jaman Salomo, salah satu permohonan Salomo adalah tentang kiblat ke Bait Allah, di Yerusalem. Di bawah ini kita bisa baca dalam Alkitab: Doa dengan berkiblat ke arah Bait Allah di Yerusalem pada saat berperang.

“Apabila umat-Mu keluar

(9)

untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu,”

2Taw 6:34

Kiblat ke arah Bait Allah di Yerusalem pada saat sebagai tawanan musuh bahkan dalam pembuangan.

“apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu,”

2Taw 6:38

Contoh doa yang berkiblat ke Yerusalem dapat kita baca dalam kitab Daniel 6:11, sekalipun pada

jaman Daniel Bait Allah sudah dihancurkan oleh tentara Babel, namun tidak membatasi Daniel yang berada di Babel berdoa berkiblat ke Yerusalem, temapt Bait Allah dulunya ada.

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya.

Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” Dan 6:11

Ketika wanita Samaria menyatakan bahwa nenek moyangnya berkiblat ke Gunung Gerizim dan Bangsa Yahudi berkiblat ke Yerusalem, maka Yesus mengatakan :

“Kata Yesus kepadanya:

“Percayalah kepada-Ku (maksudnya adalah terimalah

bahwa apa yang Aku katakan itu benar), hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di

(10)

Yerusalem.” Joh 4:21

Dengan perkataan ini, Yesus menegaskan kepada wanita Samaria bahwa akan ada masa dimana orang menyembah Tuhan tidak berkiblat ke Gunung Gerizim dan tidak berkiblat ke Bait Allah di Yerusalem. Yesus meneruskan perkataanNya dan berkata:

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah- penyembah demikian.” Yoh 4:23

Yesus mengajarkan kebenaran tentang penyembahan dengan cara

melihat penyembahan dari sisi Allah Bapa, sebagai Pribadi yang menerima penyembahan manusia, Bapa menghendaki manusia yang menyembah Dia, menyembahnya dalam roh dan kebenaran. Artinya Bapa menghendaki penyembahan yang dilakukan oleh manusia

tidak berdasarkan tempat tertentu atau kiblat tertentu (bukan di Gunung Gerizim dan di Yerusalem) tapi di semua tempat di bumi ini, Bapa dapat disembah juga tidak hanya pada hari-hari tertentu seperti hari raya atau sabath, tapi di segala waktu dan penyembahan itu harus dilakukan di dalam roh dan kebenaran.

Kebenaran ini mengajarkan bahwa kita yang percaya kepada Yesus, kita tidak memerlukan kiblat atau arah ke suatu lokasi untuk menyembah Bapa di surga.

Bagi orang Kristen kiblatnya atau arahnya penyembahan dilakukan hanya ditujukan kepada Yesus Kristus , seperti ayat Alkitab mengatakan, “ mata yang tertuju kepada Yesus” dan memuliakan nama Yesus di dalam doa dan penyembahan kita.

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan

(11)

mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibr 12:2

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Fil 2:9-11

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”” Yoh 14:14

02. Perkara Penting Kedua adalah Kualitas Penyembahan

a. Pentingnya

Penyembahan yang benar

Dalam dialog Yesus dengan wanita Samaria, selain kita

menemukan kebenaran bahwa Allah Bapa sebagai Pribadi yang menerima penyembahan

menghendaki manusia menyembahnya dalam roh dan

kebenaran. Dalam penyembahan yang manusia lakukan kita juga menemukan bahwa ada manusia yang melakukan penyembahan kepada “Allah sesembahan

“ yang tidak dikenal seperti yang diucapkan Yesus dengan mengatakan kepada wanita Samaria,” kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal”. Dalam konteks ini orang Samaria tidak mengenal Allah yang disembah di Gunung Gerizim. Orang Samaria mengadakan penyembahan tetapi kepada “Allah” yang tidak mereka kenal.

“Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Yoh 4:22

Jika ini diaplikasikan kepada kita sekarang, maka penyembahan kepada sesuatu

(12)

yang tidak kita kenal merupakan tindakan yang membahayakan kita, kita dapat tertipu dan kita juga sedang menduplikat yang salah dalam hidup kita, sebab tindakan penyembahan membuat orang yang menyembah menjadi sama dengan apa yang disembah, Mazmur 115:8; 135:18.

Oleh karena di dunia ini hanya ada dua yang disebut bapa yaitu Bapa yang benar dan kudus yang kita kenal di dalam Yesus Kristus (Yoh 17:11) dan bapa segala dusta yaitu Iblis (Yoh 8:44), maka kita harus berhati-hati dalam melakukan penyembahan, jangan sembrono dan harus sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Penyembahan yang benar di dalam Yesus Kristus memiliki

dampak yang besar bagi kita sebab penyembahan akan menjadikan kita serupa dengan Yesus, atau segambar dan serupa dengan Dia (Roma 8:29-30).

b. Penyembahan dalam roh dan kebenaran

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah- penyembah demikian.” Yoh 4:23

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”” Yoh 4:24

(13)

Kedua ayat di atas adalah pernyataan Yesus Kristus dalam hal penyembahan yang dikehendaki Allah Bapa, dan dari kedua ayat tersebut kita dapat menemukan ajaran penting dalam hal penyembahan yaitu:

Alasan Yesus menekankan penyembahan dalam roh dan kebenaran adalah karena sifat Allah sendiri yaitu Allah itu Roh.

Pada saat kita ingin mempelajari lebih dalam penyembahan dalam roh dan

kebenaran, maka kita harus melihat konteksnya, kebenaran ajaran ini tertulis dalam kitab injil Yohanes. Injil Yohanes mencatat kata roh /Roh sebanyak 15 ayat, 19 kali pengulangan kata roh/

Roh dan kebenaran sebanyak Kebenaran tentang

penyembah- penyembah benar (siapa saja; dimana saja; kapan saja artinya

dari segala bangsa).

Kebenaran keharusan melakukan penyembahan dengan

kualitas : dalam roh dan kebenaran

Kebenaran keinginan Allah Bapa tentang

penyembahan

Kebenaran tentang Allah yaitu Allah itu

Roh

(14)

22 ayat, 28 kali kata kebenaran.

Jadi pada saat kita membaca injil Yohanes kita mendapatkan penekanan dari pesan yang ingin disampaikan tentang roh/Roh dan kebenaran.

Ajaran Yesus dalam penyembahan kepada Allah Bapa adalah penyembahan harus dilakukan dengan kualitas dalam roh dan kebenaran.

Pertanyaannya adalah kata roh ini mengacu kepada roh manusia atau Roh Allah? Kalau kata kebenaran dengan sendirinya atau sudah pasti mengacu kepada Yesus Kristus (adalah kebenaran, Yoh 14:6) / Roh kudus (adalah Roh Kebenaran, Yoh 14:17;

15:26).

Jika kita menyandingkan kata roh (untuk roh manusia) dan kebenaran (untuk Pribadi Yesus dan Roh Allah), maka hal ini menjadi tidak pas. Mengapa tidak pas? karena semua manusia telah berdosa dan roh manusia terpisah dari Allah, dengan keberadaan manusia seperti ini tidak mungkin untuk bisa memenuhi

standar penyembahan yang Allah kehendaki.

Pemahaman yang memungkinkan kata roh ini

ditujukan kepada Roh Allah itu sendiri karena Alkitab menuliskan tentang Roh Allah adalah Roh Kebenaran. Terjemahan BIS menuliskan ayat 23-24 sebagai berikut:

“Tetapi waktunya akan datang, malahan sudah datang, bahwa dengan kuasa Roh Allah orang-orang akan menyembah Bapa sebagai Allah yang benar seperti yang diinginkan Bapa.”

Joh 4:23

“Sebab Allah itu Roh, dan hanya dengan kuasa Roh Allah orang-orang dapat menyembah Bapa sebagaimana Ia ada.”” Joh 4:24

Secara sederhana kita bisa memaknai ayat 23-24 secara dinamis seperti ini : Namun, akan ada waktunya, bahkan sudah datang, ketika Roh menyatakan kebenaran Allah, akan memungkinkan

(15)

manusia menyembah Bapa di semua tempat. Allah adalah Roh, dan mereka yang hendak menyembah-Nya harus dilahirkan baru oleh Roh Kebenaran. Oleh orang-orang seperti itulah Bapa akan disembah.

Jadi kualitas penyembahan ada dua poin utama yaitu kiblatnya tertuju kepada Yesus dan dilakukan dalam kuasa Roh Allah.

03. Perkara Penting Ketiga adalah Penyembah Yang Benar.

Penyembahan dapat terjadi karena dua unsur yaitu orang yang melakukan penyembahan dan Pribadi yang menerima penyembahan. Uraian di atas kita telah dijelaskan tentang Allah Bapa sebagai Pribadi yang menerima penyembahan dan kualitas yang Dia inginkan diberikan oleh si penyembah.

Dalam perkara ketiga ini kita akan melihat kebenaran tentang si-penyembah atau manusianya. Allah Bapa

menghendaki si penyembah adalah si-penyembah benar yang melakukan penyembahan kepadaNya dalam kuasa Roh Allah, dari ayat 23-24, kita menemukan bahwa si penyembah yang dicari oleh Allah Bapa, bukanlah ditujukan kepada semua manusia pada umumnya, tetapi manusia berada dalam kuasa Roh Allah.

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), kata dosa berasal dari kata Yunani hamartia digambarkan seperti seseorang yang sedang memanah ke titik sasaran tapi tidak pernah tepat sasaran, artinya dosa membuat manusia distorsi atau selalu meleset dari sasaran yang Allah telah tetapkan, kondisi manusia berdosa diuraikan oleh rasul Paulus sebagai berikut:

Sedang berada dibawah kuasa atau kendali dosa atau hamba dosa (Yoh 8:34; Roma 3:9;

6:16-17)

(16)

1. Semua manusia adalah pembohong (Roma 3:4) 2. Tidak ada yang benar

(Roma 3:10)

3. Tidak seorangpun berakal budi (Roma 3:11)

4. Tidak seorangpun mencari Allah

5. Semua telah menyeleweng (Roma 3:12)

6. Semua tidak berguna

7. Tidak ada yang berbuat baik

8. Semua jahat (Roma 3:13-18).

Kalau kita melihat penjelasan Alkitab tentang manusia berdosa, rasul Paulus menerangkan dalam kitab Roma 8:5-8, manusia berdosa atau manusia daging, hanya memikirkan apa yang dari daging dan menuruti keinginan daging, maka dari kebenaran tentang manusia berdosa atau manusia daging, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat menyembah Allah Bapa sesuai dengan apa yang

diinginkanNya. Semua meleset dan tidak bisa memenuhi standar penyembahan yang Allah Bapa tetapkan.

Agar kehendak Allah Bapa yang mengingini penyembah- penyembah benar yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran, kita harus memperhatikan lagi apa yang Yesus katakan kepada wanita Samaria dalam ayat 4:21, “ saatnya akan tiba “, ayat 4:23, “Tetapi waktunya akan datang, malahan sudah datang”. Dari pernyataan Yesus ini kita mendapatkan bahwa akan ada suatu waktu atau masa bahwa si-penyembah benar akan muncul dan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Pertanyaannya adalah Kapan waktunya? Siapa si-penyembah- penyembah benar itu ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita memperhatikan lagi pernyataan Yesus kepada wanita Samaria pada ayat 4:22,” sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Tampilnya penyembah- penyembah benar yang sesuai

(17)

dengan kehendak Allah Bapa berhubungan erat dengan pesan Yesus tentang keselamatan.

Keselamatan semua manusia berdosa itu berasal dari bangsa Yahudi sesuai janji Allah kepada bangsa Israel tentang Mesias atau Raja Penyelamat. Para Rasul menyatakan Mesias itu ialah Yesus Kristus (Kisah 5:42; 17:3;18:5;

Roma 9:5).

Kriteria si-penyembah benar yang dicari oleh Allah Bapa ialah orang-orang dari

segala bangsa , pria atau wanita, anak-anak atau orang tua yang oleh pemberitaan injil menjadi percaya kepada Yesus Kristus dan diselamatkan (Markus 16:15- 16), dilahirkan baru oleh kuasa Roh Allah (2 Kor 5:17; Yoh 3:3-8), yang dimateraikan oleh kuasa Roh Kudus ( Efe 1:13) dan yang dipimpin oleh kuasa Roh Allah (Gal 5:16,25). Orang-orang inilah yang dicari oleh Allah Bapa seperti perkataan Yesus kepada wanita Samaria.

Jika Saudara sebagai orang Kristen yang sudah dilahirkan baru oleh kuasa Roh Kebenaran, sudah diselamatkan oleh kuasa darah Yesus dan sudah dimateraikan oleh kuasa Roh Kudus, Saudara mesti sadar dan tahu dengan benar, tujuan Allah menyelamatkan Saudara melalui Yesus Kristus adalah agar Saudara memenuhi keinginan Allah Bapa yaitu menyembah-Nya, Saudaralah yang dicari oleh Allah Bapa; Saudaralah yang dirindukan oleh Allah Bapa untuk masuk dalam persekutuan denganNya dalam penyembahan yang benar.

Saudaralah si penyembah benar itu. Sembahlah Allah Bapa di dalam Yesus Kristus, dalam kuasa Roh Allah dalam kasih Kristus!

(18)

Allah ingin Anda bertumbuh.

Tujuan Bapa surgawi Anda ialah agar Anda menjadi dewasa dan mengembangkan karakteristik yang dimiliki Yesus Kristus. Sayangnya, jutaan orang Kristen bertambah tua tetapi tidak pernah bertumbuh.

Mereka tertahan sebagai bayi rohani terus-menerus, tetap dalam pakaian dan sepatu bayi.

Sebabnya adalah karena mereka tidak pernah berkeinginan

untuk bertumbuh.

Pertumbuhan rohani tidaklah otomatis. Dibutuhkan komitmen yang terencana.

Anda harus mau bertumbuh, memutuskan untuk bertumbuh, dan melakukan upaya untuk bertumbuh, serta terus menerus bertumbuh dalam pertumbuhan. Pemuridan, yaitu proses menjadi serupa dengan Kristus, selalu dimulai dengan suatu keputusan.

Yesus memanggil kita, dan kita

Bagaimana Kita Bertumbuh

Allah ingin kita bertumbuh serupa dengan Kristus dalam

segala Hal. Efesus 4:15 (Msg)

(19)

menanggapi: “la berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku.’ maka bedirilah Matius lalu mengikut Dia.” Pada saat murid-murid pertama memilih untuk mengikut Yesus, mereka tidak memahami semua implikasi dari keputusan mereka. Mereka hanya menanggapi undangan Yesus.

Itulah saja yang Anda butuhkan untuk memulai: Putuskan untuk menjadi seorang murid.

Yang paling kuat membentuk kehidupan Anda adalah komitmen-komitmen yang Anda buat. Komitmen-komitmen Anda bisa mengembangkan Anda atau menghancurkan Anda, tetapi bagaimanapun, komitmen Anda akan menentukan keadaan Anda.

Beri tahu saya untuk apa Anda komit, dan saya akan mengatakan seperti apa Anda jadinya dalam kurun waktu dua puluh tahun.

Kita menjadi apa yang untuknya kita komit. Pada titik komitmen inilah sebagian besar orang kehilangan tujuan Allah bagi kehidupan mereka. Banyak orang takut untuk komit pada sesuatu

dan hanya hanyut mengikuti kehidupan. Orang orang lain membuat komitmen setengah hati untuk memenuhi nilai nilai, yang membawa kepada frustasi dan keadaan biasa-biasa saja.

Orang lain membuat komitmen penuh untuk memenuhi sasaran sasaran duniawi, seperti menjadi kaya atau terkenal, dan berakhir dengan kekecewaan dan kepahitan. Setiap pilihan memiliki akibat yang abadi, jadi Anda sebaiknya memilih dengan bijak. Petrus memperingatkan,

“Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.”)

Bagian Allah dan bagian Anda. Keserupaan dengan Kristus merupakan hasil dari kebiasaan membuat pilihan-pilihan seperti Kristus dan bergantung kepada Roh-Nya untuk menolong Anda memenuhi pilihan- pilihan tersebut. Begitu Anda memutuskan untuk bersungguh- sungguh menjadi seperti Kristus, Anda harus mulai bertindak

(20)

dengan cara-cara yang baru.

Anda akan perlu melepaskan beberapa kebiasaan lama, mengembangkan beberapa kebiasaan baru, dan dengan terencana mengubah cara Anda berpikir. Anda bisa yakin bahwa Roh Kudus akan menolong Anda dengan perubahan-perubahan ini. Alkitab berkata, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”)

Ayat ini menunjukkan dua bagian pertumbuhan rohani:

“kerjakan” dan “mengerjakan.”

Kata “kerjakan” adalah tanggung jawab kita, dan “mengerjakan”

adalah peran Allah. Pertumbuhan rohani adalah usaha kerja sama antara Anda dan Roh Kudus.

Roh Kudus bekerja bersama kita, bukan hanya di dalam kita.

Ayat ini, yang ditulis

untuk orang-orang percaya, bukan tentang bagaimana diselamatkan, tetapi bagaimana bertumbuh. Ayat tersebut tidak berkata “bekerjalah untuk”

keselamatan Anda, karena Anda tidak bisa menambahkan apapun pada apa yang telah Yesus

k e r j a k a n . S e l a m a

“latihan” fisik, Anda berlatih

untuk mengembangkan tubuh

(21)

Anda, bukan untuk mendapatkan satu tubuh.

Ketika Anda “mengerjakan”

sebuah teka-teki menyusun potongan-potongan gambar, Anda telah memiliki semua potongan, tugas Anda ialah memasang potongan-potongan itu menjadi satu. Para petani

“mengusahakan” tanah, bukan untuk mendapatkan tanah, tetapi untuk mengembangkan apa yang telah mereka miliki.

Allah telah memberi Anda kehidupan baru; sekarang Anda bertanggung jawab untuk mengembangkannya “dengan takut dan gentar.” Ini berarti memperhatikan pertumbuhan rohani Anda dengan sungguh- sungguh! Ketika orang- orang tidak peduli dengan pertumbuhan rohani mereka, itu menunjukkan bahwa mereka tidak memahami implikasi- implikasi kekalnya

Mengubah kemudi Anda.

Untuk mengubah kehidupan Anda, Anda harus mengubah

pola pikir Anda. Di balik segala sesuatu yang Anda lakukan ada sebuah pemikiran. Setiap perilaku dimotivasi oleh suatu keyakinan, dan setiap tindakan didorong oleh sebuah sikap. Allah menyatakan hal ini ribuan tahun sebelum para ahli psikologi memahaminya:

“Hati-hatilah dengan caramu berpikir; kehidupanmu dibentuk oleh pikiran-pikiranmu.

Bayangkan Anda mengendarai sebuah perahu

cepat di sebuah danau dengan kemudi otomatis untuk pergi ke arah timur. Jika Anda memutuskan untuk berbalik dan menuju ke barat, Anda memiliki dua cara yang memungkinkan untuk mengubah arah perahu.

Satu cara adalah memegang roda kemudi dan secara fisik memaksanya untuk menuju ke arah yang berlawanan dari tempat ke mana kemudi otomatis diprogram untuk pergi. Dengan kemauan keras saja Anda bisa mengatasi kemudi otomatis, tetapi Anda akan merasakan

(22)

halangan yang terus-menerus.

Lengan Anda pada akhirnya bisa lelah karena tegangan, Anda akan melepaskan roda kemudi, dan perahu tersebut akan segera kembali menuju Timur, jalan yang sudah diprogram untuknya.

Inilah yang terjadi bila Anda mencoba mengubah kehidupan Anda dengan kemauan keras:

Anda berkata, “Aku memaksa diriku untuk makan sedikit...

berlatih lebih banyak... tidak lagi kacau dan terlambat.” Ya, kemauan keras bisa menghasilkan perubahan jangka pendek, tetapi hal itu menimbulkan tekanan batin yang terus menerus karena Anda belum menangani penyebab asalnya. Perubahan itu tidak terasa alami, sehingga pada akhirnya Anda menyerah, menghentikan diet Anda, dan berhenti berlatih. Dengan cepat Anda kembali ke pola lama Anda.

Ada cara yang lebih baik dan lebih mudah: Ubahlah kemudi otomatis Anda, yakni cara pikir Anda. Alkitab berkata, “Biarlah Allah mengubahmu menjadi

manusia baru dengan mengubah cara pikirmu.”) Langkah pertama Anda di dalam pertumbuhan rohani adalah mulai mengubah pola pikir Anda. Perubahan selalu berawal mula-mula di dalam pikiran Anda. Cara Anda

berpikir menentukan cara Anda

merasa, dan cara Anda m e r a s a

(23)

mempengaruhi cara Anda bertindak. Paulus berkata,

“Hendaklah hati dan pikiranmu dibaharui seluruhnya.” Untuk menjadi serupa dengan Kristus Anda harus mengembangkan pikiran Kristus. Perjanjian Baru menyebut perubahan mental ini pertobatan, yang dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti “mengubah pikiran Anda.” Anda bertobat ketika Anda mengubah pola pikir Anda dengan mengambil pola pikir Allah, tentang diri Anda sendiri, dosa, Allah, orang lain, kehidupan, masa depan Anda, dan segala sesuatu lainnya. Anda mengambil pandangan dan pikiran Kristus.

Kita diperintahkan untuk

“menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Ada dua bagian untuk melakukan hal ini. Separuh pertama dari perubahan mental ini ialah berhenti memikirkan pikiran-pikiran yang tidak dewasa, yang egosentris dan memikirkan diri sendiri. Alkitab berkata, “Saudara-saudara,

janganlah sama seperti anak- anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”) Bayi-bayi pada dasarnya benar-benar egois.

Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kebutuhan sendiri.

Mereka tidak mampu memberi;

mereka hanya bisa menerima.

Inilah cara berpikir yang tidak dewasa. Sayangnya, banyak orang tidak pernah bertumbuh melebihi jenis pikiran seperti itu.

Alkitab mengatakan bahwa cara berpikir yang mementingkan diri sendiri adalah sumber dari perilaku yang berdosa: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal hal yang dari daging.”

Separuh kedua dari cara berpikir seperti Yesus adalah mulai berpikir secara dewasa, yang memusatkan perhatian pada orang lain, bukan pada diri Anda sendiri. Dalam pasal yang luar biasa tentang apakah kasih sejati itu, Paulus menyimpulkan bahwa memikirkan orang lain

(24)

merupakan tanda kedewasaan:

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.

Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”10)

Sekarang banyak orang mengira bahwa kedewasaan rohani diukur dengan jumlah informasi dan doktrin alkitabiah yang Anda ketahui. Meskipun pengetahuan merupakan salah satu ukuran kedewasaan, itu bukanlah segalanya. Kehidupan Kristen jauh melebihi pengakuan iman dan keyakinan; kehidupan Kristen meliputi perilaku dan karakter. Perbuatan-perbuatan kita harus konsisten dengan pengakuan iman kita, dan keyakinan kita harus didukung denganperilaku yang serupa dengan Kristus. Kekristenan bukanlah sebuah agama atau filsafat, tetapi sebuah hubungan dan gaya hidup. Inti dari gaya hidup itu ialah memikirkan orang lain, sebagaimana Yesus

lakukan, dan bukan memikirkan diri sendiri. Alkitab mengatakan,

“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan- Nya sendiri.””)

Memikirkan orang lain adalah inti dari keadaan serupa dengan Kristus dan bukti terbaik dari pertumbuhan rohani. Jenis pemikiran ini bersifat tidak alami, melawan budaya, jarang, dan sulit. Untungnya, kita memiliki pertolongan: Allah telah memberi kita Roh Nya. Karena itu kita tidak berpikir sebagaimana orang dunia berpikir.” 12) Dalam bab-ba berikutnya kita akan melihat alat- alat yang Roh Kudus gunakan untuk menolong kita bertumbuh.

(25)

Bacaan Alkitab

April 2021

Bac aan Alk it ab

Tanggal Tanggal

1 2 Tawarikh 26-29 2 2 Tawarikh 30-32 3 2 Tawarikh 33-36 4 Ezra 1-4

5 Ezra 5-7 6 Ezra 8-10 7 Nehemia 1-3 8 Nehemia 4-6 9 Nehemia 7-9 10 Nehemia 10-13 11 Ester 1-3

12 Ester 4-7 13 Ester 8-10 14 Ayub 1-4 15 Ayub 5-7

16 Ayub 8-10 17 Ayub 11-13 18 Ayub 14-17 19 Ayub 18-20 20 Ayub 21-24 21 Ayub 25-27 22 Ayub 28-31 23 Ayub 32-34 24 Ayub 35-37 25 Ayub 38-42 26 Mazmur 1-4 27 Mazmur 5-8 28 Mazmur 9-12 29 Mazmur 13-15 30 Mazmur 16-18 31 Mazmur 19-21

(26)

Dalam kehidupan, setiap manusia tentu pernah mengalami rasa kecewa, entah kepada orang lain atau kepada situasi. Namun, pernahkah Anda kece- wa dengan Tuhan? Jika seseorang melihat hidupnya begitu banyak masalah, segala hal yang diupayakan tidak pernah berhasil, dan seakan-akan Tuhan mem- biarkan atau bahkan menimpakan semua hal itu atas hidupnya, segala situasi buruk yang terlihat ini bisa menimbulkan rasa kecewa kepada Tuhan, lalu orang itu bisa saja akhirnya meninggalkan Tuhan.

David Flood, seorang misionaris asal Swedia, pernah mengalami kekecewaan yang mendalam kepada Tuhan dan mengalami hidup yang menjauh dari Tuhan karena kekecewaan itu. David Flood ber- sama istrinya, Svea, terpanggil untuk memberitakan

Kecewa karena

yang Terlihat

(27)

Injil di Zaire, Afrika. Pada tahun 1921, dua keluarga; David Flood dan Svea serta Joel Erickson dan Bertha; berangkat menuju pedalaman Afrika.

David dan Svea membawa serta David Jr, bayi pertama mereka yang berusia dua tahun.

Dalam perjalanan itu, David Jr.

terkena penyakit malaria. Me- mang, Afrika di masa itu ma- sih dipenuhi nyamuk malaria.

Malangnya, tiba di suatu desa, mereka tidak diizinkan mema- suki desa itu. “Tidak boleh ada orang kulit putih yang masuk ke desa, dewa-dewa kami akan marah,” tegas Kepala Suku. Na- mun, David dan Svea pantang menyerah; mereka mendirikan pondok dari lumpur di hutan yang berada di tepi luar desa dan tinggal menetap di sana.

Setelah beberapa bulan, mereka menderita kekurangan gizi parah dan jarang berhasil berhubungan dengan pen- duduk desa. Maka setelah lewat enam bulan, kedua keluarga misionaris ini berpikir untuk pulang. Keluarga Erickson

memutuskan untuk kembali ke Swedia, tetapi karena Svea ham- il, keluarga Flood tetap tinggal di desa itu. Saat itu, Svea pun terserang malaria dan sering mengalami demam, tetapi ia tetap memberikan bimbingan rohani kepada seorang anak ke- cil dari penduduk desa tersebut.

Inilah satu-satunya kontak den- gan penduduk lokal sekaligus satu-satunya hasil pelayanan Injil keluarga Flood. Anak itu dibimbing kepada Kristus dan menjadi pengikut Kristus.

Sayangnya, malaria mem- buat kondisi Svea terus membu- ruk di tengah-tengah kehami- lannya. Ia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan, tetapi kondisi sang ibu sendiri amatlah lemah. Setelah melahirkan ia berjuang meregang nyawa, lalu sebelum meninggal ia berbisik kepada David, “Berikan nama Aina kepada anak kita.”

David begitu terpukul den- gan kematian Svea. Ia membuat peti mati dan menguburkan Svea di tanah yang begitu jauh dari kampung halaman, dalam

(28)

rundungan duka yang sepi. Saat itulah, memuncak kekecewaan yang sangat dalam di hatinya kepada Tuhan. Dengan emo- sional, David berseru, “Tuhan, mengapa Kau izinkan ini ter- jadi? Bukankah kami datang untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau? Istriku yang cantik dan pandai seka- rang telah tiada. Anak sulungku baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun kami ada di hutan dan hanya berhasil memenangkan seo- rang anak kecil yang tidak cuk- up memahami berita Injil. Kau mengecewakan aku, Tuhan.

Betapa sia-sianya hidupku!!!”

David pergi ke kantor lembaga misi dan di sana ia bertemu keluarga Erickson. Ia berkata dengan penuh keke- cewaan, “Saya mau kembali ke Swedia! Saya tidak mampu mengurus anak ini. Saya titip- kan bayi perempuan ini ke- padamu.” David memberikan Aina kepada keluarga Erickson dan ia sendiri kembali ke Stock-

holm bersama anak sulungnya dengan menumpang kapal.

Tak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, keluarga Erickson sendiri pun, yang mer- awat Aina, meninggal karena diracuni salah satu kepala suku setempat. Pasangan lain ber- nama Arthur dan Anna Berg akhirnya mengasuh Aina dan membawanya ke Desa Masisi, di utara Kongo, yang kini men- jadi Zaire. Aina dipanggil “Ag- gie” dan belajar bahasa Swahili.

Sementara itu, di Swedia David Flood menikah lagi dan memili- ki lima orang anak; empat putra serta satu putri.

Setelah sekian lama me- layani Desa Masisi, keluarga Berg kembali ke Amerika Seri- kat dan menetap di Minneap- olis. Aggie yang sudah dewasa menikah dengan Dewey Hurst, yang menjadi Presiden Sekolah Alkitab Northwest di kota itu.

Suatu hari, Aggie mendapat kiri- man majalah Kristen berbahasa Swedia. Ia melihat foto-fotonya sendiri dengan satu foto kubu- ran dan salib putih bertuliskan

(29)

“Svea Flood”. Aggie kemudian bertemu dengan penerjemah bahasa Swedia dan mendapat- kan terjemahannya. Dikisahkan, ada keluarga misionaris yang datang ke Afrika dan member- itakan Yesus kepada seorang bocah laki-laki di desa setem- pat. Keluarga ini dikaruniai seo- rang anak perempuan selama tinggal di desa itu, tetapi ibunya meninggal setelah melahir- kannya dan anak perempuan itu kini entah di mana. Melalui bocah kecil yang dibimbing oleh Svea Flood, Tuhan telah menyelamatkan 600 orang di Zaire. Anak ini bertumbuh besar menjadi pelayan Kristus dan mendirikan sekolah di desa serta memimpin sebuah gereja Pentakosta yang seluruhnya membawahi 110.000 orang Kristen di Zaire. Aggie terkejut mendengar penggalan kisah kehidupan masa kecil dan ke- hidupan orang tua kandungnya ini!

Suatu kali, Sekolah Alkitab memberikan tiket kepada Aggie dan suaminya untuk pergi ke

Swedia. Saat singgah di London, Aggie berjalan di dekat Royal Albert Hall dan melihat ada aca- ra pertemuan penginjilan dan pengkhotbah berkulit hitam di acara itu bersaksi bahwa Tu- han melakukan perkara besar di Zaire. Aggie pun bertanya kepada sang pengkhotbah,

“Pernahkah Anda mengetahui pasangan penginjil yang ber- nama David dan Svea Flood?”

Ia menjawab, “Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya ma- sih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan, tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaan- nya sekarang.” Kata Aggie, “Say- alah bayi perempuan itu. Saya adalah Aggie – Aina.” Jawaban itu membuat Ruhigita Ndagora, sang pengkotbah, menangis kuat-kuat dan memeluk Aggie.

Aggie terheran-heran.

Orang inilah bocah yang dilayani ibunya dan kini ber- tumbuh menjadi penginjil yang melayani bangsanya. Pekerjaan Tuhan berkembang pesat di Zaire, dengan 110.000 orang

(30)

Kristen, 32 pos penginjilan, satu pusat sekolah Alkitab, dan ru- mah Sakit dengan kapasitas 120 tempat tidur.

Selepas kunjungan singkat di London, Aggie melanjutkan berangkat ke Stockholm. Seti- banya di hotel, ketiga saudara kandung Aggie telah menung- gu. Dalam pertemuan keluarga itu Aggie bertanya, “Di mana David, kakak sulungku?” Mer- eka menunjuk David Jr, yang duduk saja di sudut lobi. David telah menua dan berambut putih, tetapi ia tampak hidup dalam kepahitan. Ia sedang minum minuman beralkohol, dan ia marah ketika Aggie bertanya tentang ayahnya.

Ternyata David dan semua saudaranya membenci ayahn- ya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahn- ya. Karena kedatangan Aggie yang telah lama dirindukan ini, akhirnya mereka setuju untuk menemui sang ayah yang telah uzur bersama-sama. Saudara perempuan Aggie memeluknya dan berkata, “Sepanjang hidup-

ku aku telah merindukanmu.

Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh mobil mainan lalu menjalankannya di atas peta, seolah-olah aku mengendarai mobil itu untuk mencarimu ke mana-mana.”

Bersama-sama, sauda- ra-saudari ini memasuki sebuah gedung yang tidak terawat dan penuh aroma miuman beralko- hol. Di sudut ruangan, tampak- lah ayahnya yang sudah beru- mur 73 tahun, dengan penyakit diabetes, stroke, dan katarak yang menutupi kedua matanya.

Aggie menangis dan mendekati ayahnya, “Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggal- kan di Afrika.” Sesaat kemudian, orang tua itu menangis terse- du-sedu dan menjawab, “Aku tidak pernah bermaksud mem- buang kamu. Aku hanya tidak mampu mengasuhmu lagi.”

Aggie menenangkan ayahnya,

“Tidak apa-apa ayah. Tuhan memelihara aku.” Wajah ayahn- ya pun berubah gelap, “Tuhan tidak memeliharamu! Tuhan menghancurkan seluruh kelu-

(31)

arga kita! Tuhan membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita di sana. Tidak ada satu pun hasil dari yang kita lakukan di sana.

Semuanya sia-sia!”

Aggie paham kekecewaan ayahnya yang pahit itu. Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Ruhigita Ndagora, sang pengkotbah kulit hitam yang dulu adalah anak kecil yang dilayani dan dibimbing oleh pasangan misionaris David dan Svea di tepi desa kecil di Afri- ka. Aggie juga menceritakan perkembangan penginjilan di Zaire yang berbuah lebat, “Se- karang Zaire mengenal Kristus, dan semua orang di Zaire men- genal pemimpin dan pengkot- bah mereka sebagai anak kecil hasil pelayanan Ayah dan Ibu itu. Kisahnya telah dimuat di semua surat kabar.”

Saat itulah, Roh Kudus turun atas David Flood dan menjamah hatinya. Ia berto- bat dan sembuh dari kekece- waan serta kepahitannya ke- pada Tuhan. Tak lama setelah pertemuan itu, David Flood

meninggal dalam damai. Tuhan memulihkan dia dari pandan- gan yang pahit akan kegagalan serta penderitaan yang ia lihat oleh mata jasmaninya, dengan memperlihatkan buah-buah ro- hani yang telah dikerjakan-Nya.

Keluarga Aggie akhirnya mengunjungi Desa N’dolera, yang dulu di tepinya terletak pondok tempat tinggal David, Dvea, David Jr., dan bayi kecil Aggie sesaat setelah dilahirkan, untuk berziarah ke kubur Svea Flood. Aggie berlutut dan ber- syukur kepada Tuhan di kubur itu. Pada suasana ziarah yang penuh makna itu, pendeta se- tempat membacakan Yohanes 12:24, “Aku berkata kepada- mu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,”

dan Mazmur 126:5, “Orang- orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dengan bersorai-sorai,”

Apa yang telah kita tabur untuk Tuhan, jika kita melihat

(32)

sepertinya sia-sia dan tidak ada hasilnya, janganlah kecewa kepada Tuhan karena apa yang terlihat dengan mata jasma- ni kita. Tuhan tidak berhenti mengerjakan apa yang tidak terlihat dan Ia tahu waktu yang terbaik untuk menuai buah dari benih-benih itu. Seperti Daud menulis, “TUHAN, Eng- kau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Se- bab sebelum lidahku mengelu- arkan perkataan, sesungguhn- ya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN,” (Mzm. 139:1-4), kita tak perlu meragukan ke-maha- tahu-an Tuhan dan ke-maham- ampu-an Tuhan di atas segalan- ya.

(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)

Telephone 0561 765 495 Website

escindonesia.com Email

[email protected] Hotline DC

0855 5000 1210

Hotline Service 0855 5000 1187 0852 4848 8694 Youtube

GBI El Shaddai Pontianak Instagram

@Elshaddai_Church EL Shaddai

Church

Sunday Service

07.30 WIB | 10.00 WIB WIB | 16.00 WIB 18.00 WIB | 20.00 WIB

Kids Service 10.00 WIB Youth Service 10.00 WIB | 16.00 WIB

Young Adult Service Sabtu, 18.00 WIB

Jl. Prof. M Yamin No. 1A Kota Baru Sungai Bangkong, Pontianak Kota,

Kalimantan Barat, Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

team gi3i untuk   penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien.  Anjurkan klien untuk  meningkatkan asupan nutrisinya.  4akinkan diet yang diknsumsi

Ada sejenis ROM, yaitu EPROM (Erasable Programmable Read Only Memory) yang isinya dapat dihapus dengan cara menyinari menggunakan sinar ultraviolet dan kemudian diisi program

$bat golongan ini bekerja dengan ara menghambat gerak peristaltik usus dan meningkatkan penyerapan kembali airan di usus besar. 6adi, tidak membasmi kuman, tidak 

Pada Putusan Nomor 3/TIPIKOR/2016/PT PDG, Majelis Hakim Tingkat Banding sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam putusannya, bahwa

Dari beban geser yang diatur pada tiang vertikal ponton sesuai dengan jarak yang telah ditentukan kemudian kita mendapat titik beratnya.. Letak titik berat ini

Untuk mengetahui Perilaku Petani Dalam Penggunaan Pestisida dan Alat Pelindung Diri (APD) serta Keluhan Kesehatan Petani di Desa Suka Julu Kecamatan Barus Jahe

Tahun ini Data Pokok Pendidikan (Dapodik) menjadi acuan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam penyaluran dana untuk berbagai kebijakan, mulai dari Bantuan

Tabel 3.50 Deskripsi Use Case Enter Secondary Re-registration Information 146 Tabel 3.51 Deskripsi Use Case Check Submitted Re-registration Documents 147 Tabel 3.52