BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehadiran hukum dalam masyarakat dapat dilihat dari macam-macam sudut.
Para profesional hukum, seperti hakim, jaksa, advokat dan para yuris yang bekerja di pemerintahan, akan melihat dan mengartikan hukum sebagai suatu bangunan perundang-undangan. Dengan demikian, Hukum tampil dan ditemukan dalam wujud perundang-undangan.1
Indonesia adalah negara hukum, hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 bahwa di dalam negara kesatuan RI, hukum merupakan urat nadi seluruh aspek kehidupan, maka salah satu prinsip penting negara hukum adalah adanya jaminan kedudukan yang sama bagi setiap orang dihadapan hukum. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum, tidak terkecuali juga kepada tersangka/terdakwa.
Seorang tersangka/terdakwa berhak atas perlakuan yang wajar dan adil terhadap hak-hak yang melekat pada dirinya, maka dari itu segala tindakan para penegak hukum harus berdasarkan kepada hukum bukan kekuasaan.
Hukum terbentuk dan berkembang sebagai produk yang sekaligus mempengaruhi, karena itu mencerminkan dinamika proses interaksi yang berlangsung
1 Satjipto Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir, (Jakarta: Kompas, 2007), halaman 1.
terus menerus antara berbagai kenyataan kemasyarakatan (aspirasi manusia, keyakinan agama, sosial, ekonomi, politik, moral, kondisi kebudayaan dan peradaban dalam batas-batas alamiah) satu dengan lainnya yang berkonfrontrasi dengan kesadaran dan penghayatan manusia terhadap kenyataan kemasyarakatan itu, yang berakar dalam pandangan hidup yang dianut serta kepentingan kebutuhan nyata manusia, sehingga hukum dan tatanan hukumnya bersifat dinamis.2
Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem, dapat berperan dengan baik dan benar ditengah masyarakat jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam bidang penegakan hukum.
Pelaksanaan hukum itu dapat berlangsung secara normal, tetapi juga dapat terjadi karena pelanggaran hukum, oleh karena itu hukum yang sudah dilanggar itu harus ditegakkan. Dalam menegakkan hukum ada 3 (tiga) unsur harus dipenuhi yaitu : Kepastian hukum (Rechtssicherheit), Kemanfaatan (Zwechmaasigheit), Keadilan (Gerechetigheit)3.
Kepastian hukum oleh setiap orang dapat terwujud dengan ditetapkannya hukum dalam hal terjadi peristiwa konkrit. Hukum yang berlaku pada dasarnya tidak dibolehkan menyimpang, hal ini dikenal juga dengan istilah fiat justitia et pereat mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Itulah yang diinginkan oleh kepastian hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel
2 Alvi Syahrin, Beberapa Masalah Hukum, (Medan: PT. Sofmedia, 2009), halaman 2-3.
3 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2002), halaman 181.
terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan ketertiban masyarakat.
Sebaliknya masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan atau penegakan hukum. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Hukum tidak identik dengan keadilan. Hukum itu bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratakan. Barang siapa mencuri harus dihukum, dimana setiap orang yang mencuri harus dihukum, tanpa membeda-bedakan siapa yang mencuri.
Sebaliknya keadilan bersifat subyektif, individualistis dan tidak menyamaratakan.
Apabila penegak hukum menitik beratkan kepada nilai keadilan sedangkan nilai kegunaan dan kepastian hukum dikesampingkan, maka hukum itu tidak dapat berjalan dengan baik. Demikian pula sebaliknya jika menitik beratkan kepada nilai kegunaan sedangkan kepastian hukum dan keadilan dikesampingkan, maka hukum itu tidak jalan. Idealnya dalam menegakkan hukum itu nilai-nilai dasar keadilan yang merupakan nilai dasar filsafat dan nilai-nilai dasar kegunaan merupakan suatu kesatuan berlaku secara sosiologis serta nilai dasar kepastian hukum yang merupakan
kesatuan yang secara yuridis harus diterapkan secara seimbang dalam penegakan hukum.4
Hukum hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman begitu juga dengan sistem peradilan kita. Sistem peradilan kita dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:5 Pertama; Segala sesuatu berkenaan dengan penyelenggaraan peradilan, mencakup seperti kelembagaan, sumber daya, tata cara, prasarana dan sarana, dan lain-lain, Kedua; Sistem peradilan diartikan sebagai proses mengadili (memeriksa dan memutus perkara). Sebagai sebuah sistem, peradilan meliputi proses kelembagaan, ketenagaan yang bekerja mempertahankan dan menegakkan hukum secara pro justitia (mempertahankan dan menegakkan hukum dapat juga dilakukan secara non justitia).6
Sistem peradilan pidana merupakan salah satu sarana dalam penanggulangan kejahatan dengan tujuan untuk7 :
a. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan.
b. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana.
c. Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.
4 Sacjipto Raharjo, Ilmu hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), halaman 20.
5 Bagir Manan, Sistim Peradilan Berwibawa (Suatu Pengantar), (Yogyakarta: FH UII Press, 2005), halaman 14
6 Ibid, halaman 57.
7 R. Abdussalam dan DPM Sitompul, Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Restu Agung, 2007), halaman 3.
Peradilan pidana dilakukan melalui prosedur yang diikat oleh aturan-aturan ketat tentang pembuktian yang mencakup semua batas-batas konstitusional dan berakhir pada proses pemeriksaan di pengadilan. 8 Dalam hal pemeriksaan perkara pidana umumnya berlangsung lama, berbelit-belit dan rumit, tidak sederhana seperti disebutkan aturan-aturan normatif/formal (KUHAP).9
Sistem peradilan pidana merujuk pada suatu konsep hukum dari ketentuan normatif suatu perundang-undangan. Hukum acara pidana adalah ketentuan normatif sistem peradilan pidana. Sistem peradilan pidana Indonesia menganut konsep bahwa kasus pidana adalah sengketa antara individu dengan masyarakat (publik) dan sengketa itu akan diselesaikan oleh negara (pemerintah) sebagai wakil dari publik.10
Mekanisme terhadap sistem peradilan pidana yang diatur dalam KUHAP ada terdapat lembaga praperadilan. Lembaga praperadilan ini dimaksudkan untuk pengawasan penggunaan upaya-upaya paksa oleh aparat penegak hukum fungsional dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan. Lembaga praperadilan ini dimasukkan sebagai wewenang dari pengadilan sebelum memeriksa pokok perkara.11
Praperadilan adalah lembaga baru yang lahir bersamaan dengan kelahiran KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981). Praperadilan bukan lembaga peradilan yang mandiri atau berdiri sendiri terlepas dari pengadilan negeri, karena dari rumusan Pasal 1 butir 10 jo Pasal 77 KUHAP dapat diketahui bahwa praperadilan hanyalah
8 Anthon F. Susanto, Wajah Peradilan Kita, (Bandung: Refika Aditama, 2004), halaman 1
9 Ibid, halaman 5.
10 Luhut M.P. Pangaribuan, Hukum Acara Pidana, (Jakarta: Djambatan, 2008), halaman 1.
11 Ibid, halaman 40.
wewenang tambahan yang diberikan kepada pengadilan negeri (hanya kepada pengadilan negeri).12 Pengadilan Negeri sebagai peradilan umum merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi pencari keadilan mempunyai tugas dan wewenang memeriksa, memutus atau mengadili dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata ditingkat pertama (Pasal 2 jo Pasal 50 UU No. 2 Tahun 1986).
Praperadilan dalam perwujutannya tetap satu dan berada pada Pengadilan Negeri baik organisatoris maupun administratif, personal, material, dan finansial berada dalam tubuh Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Praperadilan ini tunduk dan berada di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri setempat. Kedudukannya pun berada dan bersatu dengan pengadilan Negeri setempat.
Di Indonesia, lembaga praperadilan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1 butir 10 Undang-undang No. 8 Tahun 1981, yang pada pokoknya tujuan dasar dari praperadilan adalah satu cerminan pelaksanaan dari asas presumption of innocent (praduga tidak bersalah) sehingga tiap orang yang diajukan sebagai terdakwa telah melalui proses awal yang wajar dan mendapat perlindungan harkat dan martabat manusianya.13 Lembaga praperadilan merupakan alat uji apakah seseorang itu telah melalui proses awal penangkapan dan penahanan oleh aparatur penyidik secara sah menurut undang-undang atau satu penahanan dan atau penangkapan yang mengandung cacat.
12 HMA KUFFAL, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, (Malang: UMM Press, 2008), halaman 252.
13 O.C. Kaligis, dkk, Praperadilan Dalam Kenyataan: Studi Kasus Dan Kenyataan, (Jakarta:
Djambatan, 1997), halaman X.
Subyek hukum praperadilan adalah setiap orang yang dirugikan. Objek praperadilan dalam hal untuk sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya yaitu untuk menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran melalui sarana pengawasan secara horizontal.14
Fungsi dan peranan peradilan di dalam KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) merupakan ikon pembaharuan hukum acara pidana model Het Herziene Inlandsch Reglement (HIR) yang diberlakukan sejak tahun 1941-1942. HIR harus dapat
memperoleh pengakuan dari tersangka mengenai peristiwa yang melibatkan dirinya, dimana pengakuan tersangka merupakan salah satu alat bukti utama dari alat bukti lainnya sehingga terbukti sering terjadi perlakuan yang sewenang-wenang dan penyalahgunaan wewenang pemeriksaan dalam beberapa kasus tindak pidana.15
Lembaga peradilan diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat mendapatkan keadilan dan menaruh harapan. Namun, realitanya jauh dari harapan. Justru, pengadilan dianggap sebagai tempat yang berperan penting menjauhkan masyarakat dari keadilan. Harapan akan memperoleh kebenaran dan keadilanpun pupus ketika ditemukan adanya permainan sistematis yang diperankan oleh segerombolan orang yang bernama mafia peradilan. Maka dari itu untuk memperoleh lembaga peradilan
14 Irma Hermawati, ”Sekilas tentang praperadilan”,
http://www.profauna.org/suarasatwa/id/2007/02/sekilas_tentang_praperadilan.htm, diakses tanggal 20 April 2010.
15 Romli Atmasasmita, Seminar Nasional: Analisis Atas RUU KUHAP 2009, Peradilan Semu USU, Tanggal 02 Maret 2010.
yang baik, diperlukan pendekatan terpadu (integrated justice system) dan kemandirian Mahkamah Agung sebagai peradilan 1 (satu) atap, juga mesti memperhatikan nilai-nilai yang diinginkan oleh masyarakat, seperti nilai ketuhanan, keadilan, kebersamaan, kedamaian, ketertiban, kemodrenan, musyawarah, perlindungan hak asasi dan sebagainya. Sehingga lembaga peradilan tersebut dapat sesuai dengan cita hukum bangsa Indonesia.16
Apabila seseorang dikenakan penangkapan dan atau penahanan, dan ia berpendapat bahwa penangkapan/penahanannya dilakukan secara tidak sah yaitu tidak memenuhi syarat yang ditentukan dalam undang-undang, maka tersangka/terdakwa atau keluarganya atau pihak lain yang dikuasakan yaitu penasehat hukumnya, dapat mengajukan keberatan pada pengadilan negeri melalui praperadilan untuk meminta putusan hakim mengenai sah/tidaknya penangkapan/penahanan atas dirinya. Suatu penahanan dan atau penangkapan yang tidak sah oleh aparatur penyidik berkonsekuensi seorang tersangka dapat menuntut ganti kerugian atau merehabilitasi namanya.
Realitas yang demikian dapat dilihat antara lain terhadap tiga orang dokter yang mempraperadilankan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) terkait penahanan ketiganya atas tuduhan dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Kabanjahe. Adapun yang mendasari sah tidaknya penahanan ketiganya yaitu Pertama, bahwa tidak didasari bukti yang cukup karena Kejaksaan
16 Ediwarman, Pidato Ilmiah: Kritik Tajam Terhadap Dunia Hukum Kita, Kisaran, Tanggal 4 Februari 2006, halaman 2.
melakukan penahanan tanggal 16 November 2009, Sedangkan pihak kejaksaan baru mendapatkan bukti yang cukup untuk dijadikan dasar penahanan tanggal 2 Desember 2009 sesuai berita acara penyitaan tanggal 2 Desember 2009. Kedua, bahwa selain penahanan dinilai tidak sah, juga penyitaan pada tanggal 2 Desember 2009 yang dilakukan Kejaksaan merupakan pelanggaran terhadap KUHAP, Sebab termohon mengajukan persetujuan penyitaan kepada ketua PN Kabanjahe tanggal 24 November 2009 sebelum penyitaan dilakukan.17
Lembaga praperadilan walaupun berfungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan upaya paksa, namun fungsi pengawasan lembaga yang diberikan undang-undang ini tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena adanya hambatan-hambatan yang muncul karena maksud dan tujuan pemberlakuan praperadilan itu tidak tercapai dengan baik dan benar, sehingga hak-hak tersangka untuk memperoleh perlindungan hukum masih terabaikan. Adapun hambatan- hambatan yang timbul salah satunya yaitu bolak-baliknya perkara pidana dari penyidik Polri ke Jaksa sehingga hak tersangka untuk memperoleh kepastian hukum telah terabaikan; bahkan sering terjadi bolak baliknya perkara pidana dilatarbelakangi oleh kepentingan pribadi atau kelompok atau politik.
Masyarakat yang mengajukan praperadilan atas sah tidaknya suatu penahanan atau penangkapan, penghentian penyidikan atau penuntutan yang dilakukan oleh
17 Tiga Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Alkes RSU Kabanjahe Praperadilankan Kejatisu di PN Medan, Sinar Indonesia Baru, Rabu, 20 Januari 2010, halaman 1.
aparat penegak hukum jarang sekali menang atau bahkan sampai ke pengadilan. Hal ini dapat menyebabkan tidak adanya kepastian hukum terhadap masyarakat sebagai pencari keadilan.
Realita ini dapat dilihat dalam beberapa kasus praperadilan dimana hampir semuanya dimenangkan oleh pihak kepolisian ataupun kejaksaan, salah satunya seperti halnya dalam putusan No. 14/Pra.Pid/2009/PN.Mdn antara Drs. Torkis P.
Siahaan melawan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, terkait perihal menahan atau menghentikan berkas perkara secara diam-diam, dimana kasus tersebut dimenangkan oleh pihak kepolisian. Bukan hanya itu putusan No.
29/Pra.Pid/2007/PN.Mdn antara M. Richard Manik, SH melawan Direktur Narkoba Polda Sumatera Utara, terkait perihal penagkapan secara paksa dimana tidak adanya bukti pemula yang cukup serta tidak adanya surat perintah penahanaan serta penggeledahan dari Pengadilan Negeri.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk menyusun penelitian dalam bentuk tesis dengan judul “Eksistensi Praperadilan Dalam Proses Hukum Perkara Pidana di Pengadilan Negeri Medan”.
B. Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaturan hukum yang mengatur tentang praperadilan dalam proses
hukum perkara pidana.
2. Bagaimana Faktor-faktor penyebab kegagalan pemohon praperadilan dalam proses hukum perkara pidana di Pengadilan Negeri Medan
3. Bagaimana analisis putusan praperadilan dalam praktek hukum perkara pidana.
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengkaji pengaturan hukum yang mengatur tentang praperadilan dalam proses hukum perkara pidana.
2. Untuk mengkaji faktor-faktor penyebab kegagalan pemohon praperadilan dalam proses perkara pidana di Pengadilan Negeri Medan.
3. Untuk mengkaji putusan praperadilan dalam praktek hukum perkara pidana.
D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran di bidang hukum yang akan mengembangkan disiplin ilmu hukum, khususnya hukum pidana.
2. Secara Praktis
Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan jalan keluar yang akurat terhadap permasalahan yang diteliti dan disamping itu hasil penelitian ini
dapat mengungkapkan teori-teori baru serta pengembangan teori-teori yang sudah ada.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang ada disekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Khususnya Fakultas Ilmu Hukum, ternyata belum ditemukan judul mengenai Eksistensi Praperadilan Dalam Proses Hukum Perkara Pidana Di Pengadilan Negeri Medan. Oleh karena itu, penulis berkeyakinan bahwa judul tesis ini dan permasalahan yang diajukan belum pernah diteliti dan dibahas, sehingga dapat dikatakan asli.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.18 Kerangka teoritis dalam penelitian mempunyai beberapa kegunaan, dimana mencakup hal-hal, sebagai berikut19 :
1. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
18 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Maju, 1994), halaman 27.
19 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), halaman 121.
2. Teori sangat berguna didalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi.
3. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut obyek yang diteliti.
4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor- faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.
5. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti.
Teori yang akan dijadikan landasan dalam tesis ini adalah teori sistem hukum (Legal System) dan teori sistem peradilan pidana (Criminal Justice System). Dalam teori sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman, yaitu hukum dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri. Ada tiga komponen utama yang dimiliki sistem hukum yaitu komponen struktural hukum (legal structure), komponen substansi hukum (legal substance), dan komponen budaya hukum (legal culture).
Ketiga komponen tersebut saling menentukan satu sama lainnya, demikian juga saling berpengaruh satu sama lainnya.20 Ketiga komponen dimaksud, diuraikan sebagai berikut21 :
1. Komponen struktural adalah bagian-bagian dari sistem hukum yang bergerak dalam suatu mekanisme. Termasuk dalam komponen ini antara lain lembaga
20 Lawrence M. Friedman, American Law, (New York-London : W.W. Norton & Company, 1984), halaman 7.
21 Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), halaman 116.
pembuat undang-undang, pengadilan, dan lembaga yang diberi wewenang untuk menerapkan hukum serta lembaga yang diberi wewenang untuk melakukan penindakan terhadap pihak yang melanggar ketentuan hukum.
2. Komponen substansi adalah hasil nyata yang diterbitkan oleh sistem hukum. Hasil ini dapat terwujud hukum in concreto atau kaidah hukum khusus dan kaidah hukum in abstracto atau kaidah hukum umum.
3. Komponen budaya hukum diartikan keseluruhan sistem nilai, serta sikap yang mempengaruhi hukum. Pembagian sistem hukum ke dalam tiga komponen ini untuk menganalisis bekerjanya suatu sistem hukum atau sistem hukum yang sedang beroperasi dalam studi tentang hukum dan masyarakat.
Menurut Sudikno Mertokusumo, hukum merupakan sistem, berarti hukum itu merupakan tatanan, merupakan suatu kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian- bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut. Kesatuan tersebut diterapkan terhadap kompleks unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum, asas hukum dan pengertian hukum.22
Selama ini orang memandang hukum itu identik dengan peraturan perundang-undangan, padahal peraturan perundang-undangan itu merupakan salah
22 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit., halaman 115.
satu unsur dari keseluruhan sistem hukum. Sistem hukum itu terdiri dari 7 (tujuh) unsur23 yaitu:
1. Asas-Asas Hukum
2. Peraturan-Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang a. Undang-Undang
b. Peraturan-Peraturan Pelaksanaan Undang-Undangan c. Yurisprudensi Tetap (Case Law)
d. Hukum Kebiasaan
e. Konvensi-Konvensi Internasional f. Asas-Asas Hukum Internasional
3. SDM yang Profesional, bertanggungjawab dan sadar hukum 4. Pranata-Pranata Hukum
5. Lembaga-Lembaga Hukum
6. Sarana dan Prasarana Hukum, seperti :
a. Furnitur dan lain-lain perkantoran, termasuk komputer dan sistem manajemen perkantoran
b. Senjata dan lain-lain peralatan (terutama untuk polisi) c. Kendaraan
d. Gaji
e. Kesejahteraan pegawai / karyawan
7. Budaya hukum yang tercermin oleh prilaku pejabat (eksekutif, legislatif, maupun yudikatif), tetapi juga prilaku masyarakat yang di Indonesia cenderung menghakimi sendiri sebelum benar-benar dibuktikan seorang tersangka atau Tergugat benar-benar bersalah.
Dari uraian unsur-unsur sistem hukum tersebut diatas apabila salah satu unsur saja tidak memenuhi syarat, maka seluruh sistem hukum tidak akan berjalan sebagaimana mestinya atau apabila salah satu unsur saja berubah maka seluruh sistem juga ikut berubah, atau dengan kata lain perubahan undang-undang saja tidak akan membawa perbaikan apabila tidak disertai perubahan yang searah dibidang peradilan,
23C.F.G. Sunaryati Hartono, Upaya Menyusun Hukum Ekonomi Indonesia Pasca Tahun 2003, Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, BPHN, Departemen Kehakiman dan HAM RI, Jakarta, halaman 227.
rekrutmen dan pendidikan hukum, reorganisasi birokrasi penyelarasan proses dan mekanisme kerja, sarana dan prasarana serta budaya dan prilaku hukum masyarakat.
Sistem hukum Indonesia sebagai suatu sistem aturan yang berlaku di negara Indonesia adalah sistem aturan yang sedemikian rumit dan luas, yang terdiri atas unsur-unsur hukum, dimana diantara unsur hukum yang satu dengan yang lain saling bertautan, saling mempengaruhi serta saling mengisi, Oleh karenanya tidak bisa dipisahkan dari yang lain.24
Sistem peradilan pidana (Criminal Justice System) tidak dapat dipisahkan dari sistem hukum yang terdiri dari substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum.
Ketiga hal tersebut menjadi komponen hukum yang berfungsi menggerakkan mesin dalam suatu pabrik dimana satu saja komponen pendukung tidak berfungsi, maka mesin mengalami kepincangan.25 Struktur hukum yang terkait dengan sistem peradilan pidana diwujudkan melalui para aparat penegak hukum yang meliputi polisi, jaksa, hakim, lembaga pemasyarakatan dan advokat.
Aparat penegak hukum merupakan bagian dari struktur hukum. Betapapun sempurnanya substansi hukum tanpa penegakan hukum, maka sistem hukum tidak berjalan. Sistem hukum harus ditegakkan oleh aparatur penegak hukum yang bersih, berani serta tegas. Aparatur penegak hukum yang tidak bersih atau korup dapat mengakibatkan krisis kepercayaan para warga terhadap hukum.
24 Ilhami Bisri, Sistem Hukum Indonesia, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), halaman 39.
25 R. Abdussalam dan DPM Sitompul, Op. Cit., halaman 7.
Menurut Soejono Soekanto mengatakan bahwa hukum dan penegakan hukum merupakan sebagian faktor penegakan hukum yang tidak bisa diabaikan, jika diabaikan akan menyebabkan tidak tercapainya penegakan hukum yang diharapkan.
26
Istilah criminal justice system atau sistem peradilan pidana menunjukkan mekanisme kerja dalam penanggulangan kejahatan dengan mempergunakan dasar pendekatan sistem. Menurut Remington dan Ohlin menyatakan bahwa:
”criminal justice system dapat diartikan sebagai pemakaian pendekatan sistem
Menurut Mardjono, sistem peradilan pidana adalah sistem pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga-lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan pemasyarakatan terpidana. Tujuannya sebagai berikut:
a. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan.
b. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana.
c. Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.
27
terhadap mekanisme administrasi peradilan pidana. Sebagai suatu sistem, peradilan pidana merupakan hasil interaksi antara peraturan perundang- undangan, praktik administrasi dan sikap atau tingkah laku sosial. Pengertian sistem itu sendiri mengandung implikasi suatu proses interaksi yang dipersiapkan secara rasional dan dengan cara efisien untuk memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya.”
28
26 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:
Rajawali, 1983), halaman 5.
27 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, (Bandung: Binacipta, 1996), halaman 14.
28 Anthon F. Susanto, Op. Cit., halaman 74.
Adapun ciri pendekatan sistem dalam peradilan pidana menurut Romli Atmasasmita,29 yaitu:
a. Titik berat pada koordinasi dan sinkronisasi komponen peradilan pidana (kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan).
b. Pengawasan dan pengendalian penggunaan kekuasaan oleh komponen peradilan pidana.
c. Efektifitas sistem penanggulangan kejahatan lebih utama dari efisiensi penyelesaian perkara.
d. Penggunaan hukum sebagai instrumen untuk menetapkan the administration of justice.
Hukum Acara Pidana adalah hukum pidana yang mengatur tata cara menegakkan hukum pidana material. Artinya, apabila terjadi pelanggaran hukum pidana material, maka penegakannya menggunakan hukum pidana formal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum acara pidana merupakan hukum yang mengatur tentang bagaimana para penegak hukum serta masyarakat (yang terpaksa berurusan pidana) beracara di muka pengadilan.30
Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas presumption of innocent (praduga tidak bersalah). Asas praduga tidak bersalah yaitu bahwa dalam
proses peradilan pidana tersangka/terdakwa wajib mendapat hak-haknya yaitu setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di depan
29 Romli Atmasasmita, Op. Cit., halaman 10.
30 Ibid, halaman 46.
pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah maka ia mendapat hak-hak seperti: hak untuk segera mendapat pemeriksaan dalam tahap penyidikan, hak segera mendapat pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapat putusan seadil-adilnya, hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan/didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya, hak untuk menyiapkan pembelaannya, hak untuk mendapat juru bahasa, hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya.31
Seseorang apabila dikenakan penangkapan dan atau penahanan, dan ia berpendapat bahwa penangkapan/penahanannya dilakukan secara tidak sah yaitu tidak memenuhi syarat yang ditentukan dalam undang-undang, maka tersangka/terdakwa atau keluarganya atau pihak lain yang dikuasakan yaitu penasehat hukumnya, dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri melalui praperadilan untuk meminta putusan hakim mengenai sah/tidaknya penangkapan/penahanan atas dirinya. Selain itu, pihak pelapor dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri melalui praperadilan, bila perkara tindak pidana yang dilaporkan dihentikan penyidikan atau penuntutan untuk mendapatkan putusan hakim mengenai sah/tidaknya penhentian penyidikan atau penuntutan.
Praperadilan tidak hanya menyangkut sah tidaknya suatu penangkapan atau penahanan, atau tentang sah tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan,
31 R. Abdussalam dan DPM Sitompul, Op. Cit., halaman 30.
atau tentang permintaan ganti rugi atau rehabilitasi, akan tetapi upaya praperadilan dapat dilakukan terhadap adanya kesalahan penyitaan yang tidak termasuk alat pembuktian, atau seseorang yang dikenakan tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang, karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan, atau akibat adanya tindakan lain yang menimbulkan kerugian sebagai akibat pemasukan rumah, penggeledahan dan penyitaan yang tidak sah menurut hukum.32
Sejauh ini kita kenal praperadilan sering dilakukan oleh tersangka atau keluarga tersangka melalui kuasa hukumnya dengan cara melakukan gugatan/permohonan praperadilan terhadap pihak kepolisian atau terhadap pihak kejaksaan ke pengadilan negeri setempat, yang substansi gugatannya mempersoalkan tentang sah tidaknya penangkapan atau sah tidaknya penahanan atau sah tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan. Namun sesungguhnya praperadilan secara hukum dapat juga dilakukan pihak kepolisian terhadap kejaksaan, begitu juga sebaliknya, dimana tertuang dalam Pasal 77 s/d Pasal 83 KUHAP yang mengatur tentang praperadilan tidak hanya memberikan hak kepada tersangka atau keluarganya untuk mempraperadilankan kepolisian dan kejaksaan, namun pasal tersebut juga memberikan hak kepada kepolisian untuk mempraperadilankan kejaksaan dan memberi hak kepada kejaksaan untuk mempraperadilankan kepolisian.33
32 M. Sofyan Lubis, “Praperadilan Dalam KUHAP”, http://www.Kantorhukum- lhs.com/details_artikel_hukum.php?id=5, diakses tanggal 20 April 2010.
33 Ibid.
Realita yang demikian dapat dilihat antara lain, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan mempraperadilankan Polda Kalimantan Selatan terkait penangkapan, penahanan serta penggeledahan atas 0,56 gram sabu-sabu yang semula diamankan Polda Kalimantan Selatan sebagai barang bukti di pengadilan. Dimana barang bukti tersebut dibawa pulang ke rumah oleh jaksa mukhyar dengan alasan tidak ada tempat penitipan barang bukti. Padahal menurut ketentuan, benda sitaan harus disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara dan tanggung jawab atas benda sitaan tersebut ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan, sehingga benda yang menjadi barang bukti tersebut dilarang dipergunakan oleh siapapun juga dan dengan alasan apapun tidak diperkenankan disimpan dirumah karena apabila barang bukti tersebut sampai disimpan dirumah maka yang harus bertanggung jawab adalah instansi Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.34
Praperadilan juga dapat dilakukan pihak kepolisian kepada kejaksaan jika suatu perkara telah dinyatakan cukup bukti oleh pihak kejaksaan dan/atau suatu perkara tersebut telah dilimpahkan dari kepolisian kepada kejaksaan, namun ditengah jalan tiba-tiba kejaksaan mengeluarkan SP3 (Surat Penetapan Penghentian Penuntutan), maka demi tegaknya hukum dan keadilan pihak kepolisian dapat mempraperadilankan pihak kejaksaan ke pengadilan negeri. Namun, realita yang demikian jarang sekali terjadi, dimana masing-masing pihak berusaha saling menjaga
34 Denny Kailimang, “Fenomena Kejaksaan Tinggi Praperadilankan Polda”, http://www.kemitraan.or.id/newsroom/media-news/fenomena-kejaksaan-tinggi-praperadilankan- polda/lang-pref/id/, diakses tanggal 15 Mei 2010.
hubungan baik atas dasar pertimbangan rasa segan sesama aparat dan/atau adanya rasa saling membutuhkan dalam sistem kerja dan/atau adanya rasa saling pengertian.35
Apabila kondisi ini dibiarkan terus tanpa adanya upaya untuk memperbaiki antar sesama penegak hukum agar tercipta budaya saling kontrol, maka hal ini dapat menganggu upaya penegakan supremasi hukum di negara kita ini.
Dalam era supremasi hukum ini kepolisian harus berani mempraperadilankan pihak kejaksaan jika suatu perkara yang telah dinyatakan cukup bukti ternyata perkara tersebut tidak jadi dilimpahkan ke pengadilan, begitu juga sebaliknya, kejaksaan harus berani mempraperadilankan pihak kepolisian jika secara tiba-tiba pihak kepolisian mengeluarkan SP3 (Surat Penetapan Pengehentian Penuntutan) terhadap suatu perkara yang telah dinyatakan memenuhi syarat untuk dilakukan penuntutan.
Persoalan praperadilan telah menjadi bagian dari tugas dan wewenang pengadilan negeri yang tidak boleh ditangani oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan lain. Hanya saja yang perlu diperhatikan, bahwa proses acara praperadilan bukanlah sebagian dari tugas memeriksa dan memutuskan (mengadili) perkara tindak pidananya itu sendiri, sehingga putusan praperadilan bukanlah merupakan tugas dan fungsi untuk menangani suatu tindak pidana (pokok) yang berupa memeriksa dan memutus perkara tindak pidana yang berdiri sendiri sebagai putusan akhir. Dengan
35 Sofyan Lubis, “Upaya praperadilan”,
http://sofyanlubis.blogspot.com/2009_12_01_archive.html, diakses tanggal 15 Mei 2010.
demikian, putusan praperadilan walaupun mencakup sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan juga bukan merupakan atau yang dapat digolongkan sebagai putusan akhir walaupun dapat dimintakan banding.36
Putusan akhir mengenai hal tersebut ada pada pengadilan tinggi. Oleh karenanya, apapun yang diputus oleh praperadilan adalah yang khas, spesifik, dan mempunyai karakter sendiri, sebab hakim hanya mempunyai tugas dan wewenang sebagai sarana pengawasan secara horizontal demi penegakan hukum, keadilan dan kebenaran. Sifat ataupun fungsi praperadilan yang khas, spesifik dan karakteristik tersebut akan menjembatani pada usaha pencegahan tindakan upaya paksa sebelum seseorang diputus oleh pengadilan, pencegahan atau tindakan yang melanggar hak asasi tersangka atau terdakwa, agar segala sesuatunya berjalan atau berlangsung sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan aturan main.
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konsepsi merupakan gambaran bagaimana hubungan antara konsep- konsep yang akan diteliti. Konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan abstraksi dari gejala tersebut. Kerangka konsep ini digunakan untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun kerangka konsep sehubungan penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
36 Irma Hermawati, Op.Cit.
a. Eksistensi adalah Keberadaan.
b. Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini, tentang:
1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;
2. Sah atau tidaknya penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;
3. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.
c. Perkara Pidana adalah delik yang merupakan objek pemeriksaan peradilan pidana.
d. Pengadilan Negeri adalah badan yang berwenang mengadili perkara pada tingkat pertama.
e. Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam KUHAP.
f. Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam KUHAP.
G. Metode Penelitian 1. Spesifikasi Penelitian
Penelitian mengenai Eksistensi Praperadilan Dalam Proses Hukum Perkara Pidana Di Pengadilan Negeri Medan merupakan penelitian hukum normatif, yaitu lebih menitikberatkan kepada asas-asas hukum dan sinkronisasi terdapat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang permasalahan yang diteliti, apakah telah sejalan dengan undang-undang atau tidak.
2. Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a. Pendekatan Kasus (Case Approach),37 dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan yang tetap.
b. Pendekatan Konseptual (Copceptual Approach),38 dilakukan dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, yang akan menemukan ide-ide yang dapat melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.
37 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2006), halaman 94.
38 Ibid, halaman 95.
3. Sumber Data
Penelitian ini mempunyai sumber data yang terdiri atas:
a. Bahan hukum primer, yakni bahan hukum yang terdiri atas peraturan perundang- undangan.39
b. Bahan hukum sekunder, yakni bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, dan hasil simposium mutahir yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.40
c. Bahan hukum tersier, adalah bahan-bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Misalnya kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain.41
4. Prosedur Pengambilan Data dan Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang diteliti, dilaksanakan dua tahap penelitian :
a. Studi Kepustakaan.
Studi kepustakaan ini untuk mencari konsep-konsep, teori-teori, pendapat- pendapat atau penemuan-penemuan yang berhubungan erat dengan pokok permasalahan. Kepustakaan tersebut dapat berupa peraturan perundang-undangan, karya ilmiah para sarjana dan lain-lain.
39 Jhony Ibrahim, Teori Dan Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia Publising, 2006), halaman 295.
40 Ibid
41 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995), halaman 33.
b. Studi Lapangan.
Studi lapangan adalah cara memperoleh data yang bersifat primer. Hal ini akan diusahakan untuk memperoleh data-data dengan mengadakan tanya jawab (wawancara) dengan penegak hukum. Pada wawancara ini yang akan dijadikan sumber informan akan dipilih dari institusi kepolisian, kejaksaan, hakim pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Medan, Lembaga Profesi Advokat, serta pakar hukum sebagai kelompok masyarakat yang berdasarkan profesi yang terdapat di Kota Medan.
5. Analisis Data
Setelah pengumpulan data dilakukan, maka data tersebut dianalisa secara kualitatif42 yakni dengan mengadakan pengamatan data-data yang diperoleh dan menghubungkan tiap-tiap data yang diperoleh tersebut dengan ketentuan-ketentuan maupun asas-asas hukum yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.
42 Bambang Sunggono, Metodelogi Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), halaman 10.