• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

American Diabetes Association (ADA) 2005 menjelaskan bahwa Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Soegondo, 2007). Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal (PERKENI, 2015).

Prevalensi DM di Indonesia terjadi peningkatan dari 1,1% pada tahun 2007 menjadi 2,1% pada tahun 2013. Perempuan memiliki prevalensi yang cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Prevalensi di Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan dari 1,4% pada tahun 2007 menjadi 2,0%

pada tahun 2013. Di Jawa Barat DM menjadi bukan masalah prioritas yang harus segera ditangani karena prevalensinya masih berada di bawah angka nasional. Namun prevalensi di Kota Cimahi menunjukan bahwa DM merupakan masalah yang perlu diperhatikan karena prevalensinya berada di atas angka nasional yaitu sebesar 2,2% pada tahun 2013 (Badan Litbang, 2013).

Peningkatan prevalensi DM di Indonesia terjadi akibat peningkatan pendapatan per kapita sehingga terjadi perubahan gaya hidup khususnya di kota-kota besar. Hadirnya restoran siap santap mengakibatkan perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini yang cenderung memilih makanan cepat saji. Teknologi yang semakin canggih menyebabkan sedentary life sehingga banyak masyarakat saat ini kurang aktivitas fisik (Suyono, 2007).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Munawaroh di RSUD Cibabat Kota Cimahi pada tahun 2016 menyebutkan bahwa

(2)

prevalensi kadar glukosa darah yang tidak terkendali pada pasien DM Tipe 2 sebanyak 66,7 %.

Diabetes Melitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat mengakibatkan terjadinya berbagai penyulit menahun, seperti serebro- vaskular, penyakit jantung koroner, penyulit pada mata, ginjal dan syaraf.

Jika glukosa dapat selalu dikendalikan dengan baik, diharapkan semua penyulit menahun tersebut dapat dicegah, paling sedikit dihambat (Waspadji, 2007).

Diabetes Melitus sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia dan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar. Oleh karenanya semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta secara aktif dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan (PERKENI, 2015).

Pilar utama dalam mengelola DM yaitu edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani dan intervensi farmakologis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik). Setelah langkah pertama tercapai, baru kemudian dilanjutkan dengan langkah berikutnya dilanjutkan pengelolaan obat dan penyuluhan terkait gizi (Waspadji, 2007).

Terapi gizi medis merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM Tipe 2. Prinsip makan diabetisi hampir sama dengan anjuran makan untuk orang normal, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan energi dan zat gizi masing-masing individu. Penderita DM perlu diberi penekanan mengenai pentingnya 3J yaitu keteraturan jadwal makan, jumlah kandungan kalori makanan dan jenis makanan (PERKENI, 2015).

Asupan karbohidrat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah karena hasil akhir dari metabolisme karbohidrat adalah glukosa (Almatsier, 2009). Bukti ilmiah menunjukan penggunaan

(3)

sukrosa sebagai dari perencanaan makan akan memperburuk kontrol glukosa darah pada penderita DM karena dapat menaikan kadar glukosa dalam darah (Sukardji, 2007). Komposisi karbohidrat yang dianjurkan untuk diabetisi yaitu 45-65% dari total kebutuhan energi yang diutamakan berasal dari sumber karbohidrat yang berserat tinggi dan karbohidrat total tidak kurang dari 130 gram/hari (PERKENI, 2015).

Selain asupan karbohidrat, kadar glukosa darah juga dipengaruhi oleh asupan serat. Pengaruh serat terhadap kadar glukosa darah yaitu memperbaiki penanganan glukosa dalam tubuh dengan cara memperlambat absorpsi karbohidrat (Achadi, 2007). Anjuran serat untuk diabetisi yaitu 20-35 gram/hari yang berasal dari berbagai sumber makanan (PERKENI, 2015).

Hasil penelitian yang dilakukan Ananda Praditya di Rumah Sakit Al Islam Bandung pada tahun 2012 menyebutkan ada hubungan yang bermakna antara asupan serat dengan pengendalian kadar glukosa darah dengan asupan serat yang baik pada pasien dengan kadar glukosa darah terkendali yaitu >25 gram. Sedangkan penelitian yang dilakukan Siti Munawaroh di RSUD Cibabat Kota Cimahi pada tahun 2016 menyebutkan tidak ada hubungan antara asupan serat dengan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan asupan serat yang tidak baik pada pasien dengan kadar glukosa darah tidak terkendali yaitu <25 gram.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mempelajari gambaran asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi?

(4)

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui gambaran asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran umum sampel (umur, jenis kelamin, pendidikan, berat badan, tinggi badan, berapa kali mendapatkan konseling gizi, dan konsumsi obat OHO).

b. Mengetahui gambaran kadar glukosa darah puasa sampel.

c. Mengetahui gambaran asupan karbohidrat sampel.

d. Mengetahui gambaran asupan serat sampel.

e. Mengetahui gambaran asupan karbohidrat dan kadar glukosa darah puasa sampel.

f. Mengetahui gambaran asupan serat dan kadar glukosa darah puasa sampel.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dibatasi pada kajian asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti mengenai Diabetes Melitus Tipe 2 dan gambaran asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi.

(5)

1.5.2 Bagi Sampel

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada sampel mengenai pentingnya menjalankan diet yang baik terutama asupan karbohidrat dan asupan serat untuk menjaga dan mengontrol kadar glukosa darah.

1.5.3 Bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk materi penyuluhan atau konseling gizi rumah sakit khususnya dalam melakukan penatalaksanaan diet pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2.

1.5.4 Bagi Institusi Pendidikan Jurusan Gizi

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan literatur mengenai Diabetes Melitus, khususnya gambaran asupan karbohidrat, asupan serat dan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam RS Dustira Kota Cimahi.

1.6 Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat 9 sampel (23,7%) dengan diagnosa Diabetes Melitus Tipe 2 disertai dengan penyakit penyulit seperti hipertensi dan gangguan fungsi ginjal.

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu/ Drs Kulup Bono/ Kepala Balatrans Yogyakarta menjelaskan/ dipilihnya Translok Karangtengah untuk pelaksanaan validasi modul/ antara lain karena kebiasaan mereka

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan organisasi pecinta alam yang dipandang mampu menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, namun pada

dilakukan terhadap nilai TPC, TVB, pH, dan organoleptik fillet pada hari ke 0, ke-8, ke-14, ke-18, ke-21 dan ke-24 penyimpanan dalam suhu 5 o C yang dikemas dengan

[r]

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Daftar Pendek (Short List ) Nomor : 05/PBJ-Kons/IV.30/06/2012 tanggal 12 Juni 2012 dengan ini diumumkan Hasil Evaluasi Seleksi Sederhana Penyedia

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 227. Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Deputi Bidang

Judul : Pelatihan Keterampilan Reparasi Sepeda Motor Bagi Para Tukang Tambal Ban Dan Tukang Bengkel Sepeda Motor Se Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang 600.000,- Dana Rutin

Revitalisasi dan Fasilitasi Agroindustri Peternakan (susu dan daging) di Jawa Barat. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan mutu dan produk yang dihasilkan oleh