• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa adalah hal yang esensial dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa menjadi kebutuhan mendasar sebagai alat komunikasi maupun berinteraksi manusia. Scarino & Liddicoat (2009: 16) menyatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang dilakukan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari dan sesuatu yang mereka gunakan untuk mengekspresikan, membuat, dan menginterpretasikan makna, serta untuk membangun dan mempertahankan hubungan sosial dan interpersonal.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan kuatnya arus globalisasi, bahasa Indonesia telah diminati oleh penutur asing dari berbagai negara di belahan dunia. Perkembangan pemelajar bahasa Indonesia di dunia juga meningkat.

Peningkatan penutur asing yang belajar bahasa Indonesia dibuktikan dengan semakin banyaknya pemelajar bahasa Indonesia yang datang dan belajar di Indonesia (Budiasih, Andayani, & Rohmadi, 2017: 214). Sampai pada saat ini, 219 lembaga pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri, diketahui telah menyelenggarakan pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (Muliastuti, 2017: 1). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah mendapatkan tempat di dunia internasional.

Selain itu, pada Kongres Bahasa Indonesia ke-11 dibahas tentang bahasa Indonesia sebagai pengembangan strategi dan diplomasi kebahasaan demi mencapai target bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional pada 2045.

Bahasa Indonesia telah dipelajari lebih dari 45 negara, di antaranya Amerika Serikat, Thailand, Australia, China, Vietnam, dan negara-negara lainnya. Bahkan, Bahasa Indonesia menjadi jurusan pada perguruan tinggi di berbagai negara.

Misalnya, Moscow State University, Institut Ketimuran di Moskow, Saint Petersburg State University, dan sebagainya. Tentunya, untuk mencapai target bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional pada 2045, tidaklah mustahil mengingat minat belajar bahasa Indonesia di luar negeri semakin tinggi.

(2)

Internasionalisasi bahasa Indonesia ini diwujudkan dalam program pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). BIPA adalah suatu program yang dikhususkan bagi warga negara asing. Program BIPA dapat dilaksanakan di Indonesia maupun di luar negeri. BIPA dapat disebut sebagau bahasa kedua maupun bahasa asing oleh para pemelajarnya.

Seringkali pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing dibedakan.

Bahasa akan dianggap asing apabila dipelajari di kelas saja dan tidak digunakan di masyarakat tempat pembelajaran berlangsung. Pembelajaran dan pengajaran bahasa asing mengacu pada pengajaran atau pembelajaran bahasa non-pribumi di luar lingkungan di mana itu biasa digunakan (Moeller & Catalano, 2015: 327).

Bahasa kedua mengimplikasikan bahwa pemelajar berada dalam lingkungan di mana bahasa yang diperoleh diucapkan. Sedangkan akuisisi bahasa merupakan istilah umum yang mencakup pembelajaran bahasa asing dan kemampuan manusia untuk belajar bahasa lain selain bahasa pertama yang telah diperoleh. Lebih jauh, Eddy (2011: 11-12) menjelaskan bahwa perbedaan paling penting antara bahasa kedua dan bahasa asing adalah bahwa bahasa kedua biasanya diperoleh di lingkungan di mana bahasa itu sebenarnya diucapkan sehari-hari oleh sekelompok populasi tertentu, sementara bahasa asing dipelajari di luar lingkungan bahasa alami.

Bahasa diajarkan dan dapat dipelajari di berbagai tempat, dapat ditemukan di lingkungan informal maupun formal. Seseorang mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing setelah bahasa pertama yang dikuasainya dengan berbagai macam motivasi. Gallagher-Brett (2004: 5-6) mengungkapkan ada banyak hal yang memotivasi seseorang belajar banyak bahasa, di antaranya: (1) menghargai manfaat belajar bahasa secara pribadi; (2) merasa bahwa belajar bahasa itu menyenangkan; (3) dengan mempelajari bahasa, ada kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan melalui komunikasi yang baik; (4) bahasa dapat menjadi ajang promosi antarindividu maupun antarnegara; (5) tertarik untuk mempelajari budaya di mana bahasa itu berasal; serta (6) menganggap bahwa dengan mempelajari bahasa, segala hal akan terasa lebih mudah dan jalan kesuksesannya menjadi lebih terbuka lebar.

(3)

Mempelajari bahasa kedua memberikan berbagai manfaat, yaitu meningkatkan kemampuan kognitif sebagai pencapaian tingkat kecakapan tertentu dalam bahasa kedua dan meningkatkan kesadaran budaya. Mereka yang mempelajari bahasa kedua belajar bahwa ada banyak sekali variasi budaya yang ada di seluruh dunia. Mereka akan belajar menghargai budaya lain dan penutur bahasa lain (Archibald, 2006: 4).

Selain itu, Moeller & Catalano (2015: 327) menyatakan bahwa belajar bahasa lain memungkinkan individu berkomunikasi secara efektif dan kreatif, serta berpartisipasi dalam situasi kehidupan nyata melalui bahasa budaya asli itu sendiri. Mempelajari bahasa lain menyediakan akses ke perspektif lainnya, meningkatkan kemampuan untuk melihat koneksi, dan mempromosikan perspektif lintas disiplin sambil mendapatkan pemahaman antarbudaya. Bahasa adalah kendaraan yang diperlukan untuk interaksi manusia ke manusia yang efektif dan menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang bahasa dan budaya seseorang.

Pembelajaran BIPA menjadi penting setelah Indonesia menjadi target destinasi warga negara asing. Kemampuan berbahasa Indonesia menjadi salah satu kebutuhan yang penting selama orang-orang asing itu tinggal di Indonesia dengan berbagai tujuan. Tujuan tersebut dapat berupa tujuan akademik, wisata, pekerjaan, maupun penelitian. Pada tahun 2011, berdasarkan hasil studi empiris, belajar bahasa Indonesia untuk orang asing yang bertujuan untuk mendukung minat diplomasi, meningkatkan pengetahuan tentang bahasa Indonesia, dan meningkatkan pemahaman kekayaan budaya (Andayani, 2015: 1106).

Ulumuddin & Wismanto (2014: 16) berpendapat bahwa dalam perjalanannya, bahasa Indonesia dewasa ini memberikan masukan yang cukup besar pada kemajuan bangsa Indonesia. Tujuan utama bangsa lain mempelajari untuk mempelajari bahasa Indonesia adalah untuk dapat berkomunikasi apabila mereka berada di Indonesia. Selain itu, mereka ingin dapat lebih memahami dan mendalami kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam. Pengetahuan akan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam itulah yang menjadi salah satu

(4)

idealisme pembelajaran BIPA. Untuk itulah, pengajar BIPA harus mampu menghadirkan Indonesia di dalam pembelajarannya.

Keberhasilan pembelajaran bergantung dari berbagai unsur, salah satunya adalah unsur kemampuan pengajar. Pengajar harus memiliki kemampuan menguasai dan menyampaikan materi ajar, mengelola kelas, memilih atau menggunakan media pembelajaran dan alat peraga, menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat, serta melaksanakan penilaian dengan baik dan profesional (Agustina, Andayani, & Wardani, 2013: 141).

Bergeron (2015: 17) menekankan bahwa pemelajar setiap hari terpapar dengan berbagai bentuk media, maka tidak mungkin lagi untuk berpura-pura bahwa bentuk komunikasi dan pertukaran informasi melalui media hanya bisa didapatkan di luar kelas. Sebaliknya, dengan memanfaatkan sumber daya media dalam pembelajaran bahasa asing, pengajar akan menjadi lebih siap untuk membawa konten dan konteks pembelajaran ke kehidupan nyata.

Senada dengan pendapat Bergeron, Cakir (2015: 69-70) berpendapat bahwa perubahan gaya belajar pemelajar dan jenis media pembelajaran yang tersedia telah memberikan tekanan pada pengajar, yang mau tidak mau harus mengikuti teknik inovatif dalam teknologi, metode, dan penggunaan media pembelajaran. Ini merupakan fakta bahwa mengajar, yang diakui merupakan proses yang sulit dan panjang, terutama terdiri atas lima komponen yaitu pemelajar, pengajar, media pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi.

Macwan (2015: 91-92) berpendapat bahwa pengajar bahasa sedang mencoba membawa inovasi baru dalam pembelajaran mereka agar menjadi pembelajaran yang efektif. Tidak ada batasan umur dalam mempelajari sesuatu.

Meskipun demikian, mengajar bahasa bukanlah tugas yang mudah dan perlu sesuatu yang dapat menarik minat pemelajar. Oleh karena itu, pengajar bahasa cenderung mengadaptasi berbagai teknik untuk mengajar bahasa yang lebih efektif dan menarik. Dengan pertumbuhan yang cepat dan ketersediaan teknologi, pengajar bahasa dapat mengintegrasikan alat bantu tambahan yang berbeda bersama dengan buku teks untuk mengajar bahasa.

(5)

Penelitian lainnya yang berhubungan dengan media adalah penelitian yang dilakukan oleh Chan, Lei, & Lena (2014). Chan, Lei, & Lena (2014: 53) menyatakan bahwa dengan perkembangan ilmu komputer dan teknologi, sumber media semakin banyak digunakan di ruang kelas. Manfaat penggunaan media pembelajaran tampak jelas: membangkitkan minat pemelajar dalam belajar dan membuat mengajar menjadi lebih efektif.

Senada dengan pendapat tersebut, Bajrami (2016: 502) melalui penelitiannya juga menyatakan bahwa pesatnya perkembangan teknologi telah membawa banyak inovasi dalam pendidikan dan terutama dalam pembelajaran bahasa. Untuk menawarkan dan menciptakan kelas yang sukses, pengajar, dapat menggunakan media yang berbeda untuk memfasilitasi proses pembelajaran, disamping menggunakan buku teks dan kegiatan menarik lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Rao (2014: 142) menyimpulkan bahwa media inovatif seperti iklan koran, berita olahraga, ulasan film, pamflet turis, dan banyak media autentik lainnya dapat menciptakan rasa ingin tahu yang dapat dimanfaatkan untuk mentransfer keterampilan berbahasa dengan mudah.

Pergeseran dari penggunaan buku-buku teks saja ke media yang lebih menarik dapat menjadi motivasi untuk mendorong pemelajar dapat menguasai bahasa target.

Studi tentang media juga dilakukan oleh Oroujlou (2012: 28) yang menghasilkan simpulan bahwa media dapat membiasakan pemelajar dengan konteks nyata dan autentik yang diperlukan untuk pembelajaran bahasa. Selain itu, media juga dapat menarik minat pemelajar bahasa dan dapat membiasakan mereka dengan berbagai bentuk bahasa.

Media pembelajaran memiliki peranan yang cukup besar dalam suatu pembelajaran bahasa. Media dapat menjadi motivasi bagi pemelajar agar lebih bersemangat dan merasa senang dalam pembelajaran. N. S., Andayani, &

Saddhono (2017: 77) juga menyimpulkan bahwa pengajar selalu menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Slavíková (2014: 1) mengungkapkan bahwa berbagai jenis media selalu menciptakan bagian tak terpisahkan dalam pembelajaran bahasa karena mereka

(6)

membawa elemen otentik ke dalam pembelajaran. Elemen-elemen ini membantu pemelajar untuk lebih dekat dengan situasi kehidupan nyata dan membuat pembelajaran bahasa lebih asli dan lebih hidup. Oleh karena itu, pengajar disarankan untuk menggunakan berbagai media di dalam setiap pembelajaran mereka.

Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Čirić (2014: 24-25) menunjukkan bahwa menggabungkan semua sumber daya, baik sumber daya manusia dan media, dalam pembelajaran, akan mengurangi anggapan monoton dalam pembelajaran baik bagi pengajar maupun pemelajar.

Meskipun berdasarkan hasil temuan menunjukkan penggunaan kata-kata langsung dari pengajar dan pemelajar lebih banyak digunakan, namun media pembelajaran dapat membantu dalam hal teknis dalam pembelajaran sesuai keperluan.

Penelitian yang dilakukan oleh Asemota (2015: 311) membahas tentang penggunaan media pembelajaran bahasa. Media dalam pengembangan dan pembelajaran bahasa membangun hubungan antara sumber daya manusia dan sumber daya non-manusia. Media adalah berbagai macam hal yang digunakan pengajar dan pemelajar dalam proses belajar mengajar. Media juga membantu meningkatkan kemampuan mengajar pengajar, membantu menjembatani kesenjangan komunikasi antara pengajar dan pemelajar dengan membantu pengajar untuk menjelaskan konsep dengan lebih baik.

Mariko (2015: 247) melakukan penelitian tentang pentingnya memilih dan menyiapkan media pembelajaran. Simpulan dari penelitian tersebut yaitu ketika memilih dan menyiapkan media pembelajaran, penting untuk memastikan bahwa media mengarah pada pemahaman konsep yang lebih baik dan berhubungan dengan pengalaman pemelajar dan berada pada tingkat pemahaman mereka. Media yang dipilih juga harus akurat dan memberikan informasi terkini.

Singkatnya, media pembelajaran harus lebih menjelaskan konten kurikulum dan meningkatkan pemahaman tentang pembelajaran. Inti dari media pembelajaran adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan oleh karena itu, perlu untuk memilih dan menyiapkan media yang memenuhi tujuan ini.

(7)

Berdasarkan beberapa kajian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti penggunaan media dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing, khsusunya di BIPA Universitas Negeri Semarang. Dalam pembelajaran, media sangat diperlukan demi kelancaran proses pembelajaran.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus meneliti penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Selain meneliti media apa saja yang digunakan dalam pembelajaran dan prosedur penggunaannya, penelitian ini juga meneliti kesulitan apa saja yang muncul dalam penggunaan media pembelajaran dan bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Apa sajakah media yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes?

2. Bagaimanakah penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes?

3. Bagaimanakah kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes?

4. Bagaimanakah cara mengatasi kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan media yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes.

(8)

2. Mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes.

3. Mendeskripsikan kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes.

4. Mendeskripsikan cara mengatasi kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing di BIPA Unnes.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, berupa manfaat teoretis dan manfaat praktis. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan khasanah keilmuan, khususnya yang berhubungan dengan penggunaan media dan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengajar, pemelajar, lembaga BIPA, dan peneliti. Bagi pengajar, dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi evaluasi agar semakin meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam menggunakan media. Bagi pemelajar, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran penggunana media dalam pembelajaran BIPA. Bagi lembaga BIPA, diharapkan hasil penelitian ini dapat membuat lembaga mempersiapkan dan mengembangkan penggunaan media pembelajaran BIPA dengan lebih baik dan testruktur. Bagi peneliti, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai penggunaan media dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Penelitian ini juga dapat menjadi masukan yang positif bagi mahasiswa yang akan atau sedang menekuni bidang pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.

Referensi

Dokumen terkait

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

The students were reportedly enjoy studying in the Monolingual class and support the use of English–only in their English classes for enhancing learning. In spite of their

Aksi diselenggarakan kelompok afi nitas akan menjadi tujuan akhirnya, namun tindakan kolektif infoshop hanya salah satu dari berbagai tugas yang dibutuhkan untuk mempertahankan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, keabsahan akta notaris meliputi bentuk isi, kewenangan pejabat yang membuat, serta pembuatannya harus memenuhi

Ketidakberhasilan eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut, hipotesis yang

Fondasi dari desain dengan memproduksi ide yang bertujuan untuk memberikan bayangan visual dari sebuah proyek, dan sebagai referensi untuk illustrator dan

Tabel 4.11 Rekapitulasi Tanggapan Tamu Terhadap Repurchase Intention Tamu Di Saffron Restoran ... 114 Tabel 4.13 Output Pengaruh Service Guarantee Terhadap

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk