• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Ajar Farmasi Fisika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Buku Ajar Farmasi Fisika"

Copied!
224
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Hardani, M.Si
    • Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm
    • Fajar Agung Dwi Hartanto, M.Sc
    • M. Reza Ghozaly, M.Si
    • Abdul Rahim, M.Farm
    • Sri Idawati, M.Pd
    • Indri Kusuma Dewi, M.Sc
    • Dwi Monika Ningrum, M.Farm
    • Tuhfatul Ulya, M.Farm
  • Sekolah: Universitas
  • Mata Pelajaran: Farmasi Fisika
  • Topik: Buku Ajar Farmasi Fisika
  • Tipe: buku ajar
  • Tahun: 2021
  • Kota: Bantul

I. Dasar-Dasar Farmasi Fisika dan Sifat Fisika Molekul

Bab ini menjelaskan pengantar mengenai Farmasi Fisika, yang merupakan gabungan antara ilmu Fisika dan Farmasi. Ilmu ini penting untuk memahami sifat fisika dari molekul obat yang mempengaruhi formulasi sediaan farmasi. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan dasar-dasar Farmasi Fisika, termasuk hubungan antara ilmu Farmasi dan Fisika serta peranan pentingnya dalam pengembangan sediaan obat yang efektif dan stabil.

1.1. Hubungan Ilmu Farmasi Dengan Ilmu Fisika

Ilmu Farmasi dan Fisika memiliki hubungan yang erat, dimana sifat fisika dari senyawa obat seperti massa jenis dan indeks bias mempengaruhi cara pembuatan dan formulasi sediaan obat. Pemahaman tentang sifat-sifat fisika ini penting untuk memastikan efektivitas dan kestabilan obat yang dihasilkan.

1.2. Peranan Ilmu Farmasi Fisika

Farmasi Fisika berperan dalam mempelajari sifat fisika zat aktif dan excipient untuk menghasilkan sediaan farmasi yang aman dan berkualitas. Selain itu, ilmu ini juga penting dalam pengujian kemurnian senyawa obat dan kestabilan sediaan farmasi yang beredar di pasaran.

1.3. Sifat Fisika Molekul Obat 1 (Massa Jenis dan Rotasi Optik)

Massa jenis adalah pengukuran massa per unit volume zat, yang penting untuk menentukan kemurnian. Rotasi optik mengacu pada perubahan sudut cahaya terpolarisasi saat melewati larutan, yang memberikan informasi tentang struktur molekul dan kemurnian senyawa. Kedua sifat ini digunakan dalam pengujian dan formulasi obat.

1.4. Sifat Fisika Molekul Obat 2 (Indeks Bias dan Konstanta Dielektrikum)

Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya di udara dengan kecepatan cahaya dalam zat, penting untuk menentukan konsentrasi obat. Konstanta dielektrikum menunjukkan kemampuan suatu zat untuk menyimpan energi listrik, yang berkaitan dengan polaritas pelarut. Pemahaman tentang kedua sifat ini mendukung pengembangan formulasi obat yang efisien.

II. Mikromeritik dan Fenomena Antarmuka

Bab ini membahas tentang mikromeritik, yaitu ilmu yang mempelajari ukuran partikel, serta fenomena antarmuka yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi. Pemahaman tentang ukuran partikel dan tegangan antarmuka sangat penting dalam formulasi sediaan farmasi yang efektif dan berkualitas.

2.1. Mikromeritik

Mikromeritik berfokus pada ukuran partikel yang berhubungan dengan kestabilan dan pelepasan obat. Pengukuran ukuran partikel dilakukan melalui berbagai metode, termasuk pengayakan, mikroskopik, sedimentasi, dan coulter counter. Ukuran partikel yang tepat sangat berpengaruh pada formulasi sediaan farmasi.

2.2. Tegangan Antarmuka

Tegangan antarmuka adalah gaya per satuan panjang yang terjadi pada batas antara dua fase yang tidak bercampur. Dalam farmasi, tegangan antarmuka berperan penting dalam pembuatan sediaan emulsi dan adsorpsi obat. Pemahaman tentang tegangan antarmuka membantu dalam pengembangan formulasi yang lebih stabil dan efektif.

III. Kelarutan dan Distribusi Obat

Bab ini membahas tentang kelarutan obat dan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi zat terlarut. Pemahaman tentang kelarutan sangat penting untuk merancang sediaan farmasi yang efisien dan memastikan obat mencapai targetnya dalam tubuh.

3.1. Kelarutan Obat

Kelarutan obat adalah kemampuan suatu zat untuk larut dalam pelarut tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan termasuk sifat fisika dan kimia zat, serta kondisi lingkungan. Memahami kelarutan membantu dalam merancang sediaan yang efektif dan meningkatkan bioavailabilitas obat.

3.2. Interaksi Pelarut – Zat Terlarut

Interaksi antara pelarut dan zat terlarut mempengaruhi kelarutan dan stabilitas sediaan farmasi. Pemahaman tentang interaksi ini penting untuk merancang formulasi yang optimal dan memastikan obat dapat larut dengan baik dalam sistem biologis.

3.3. Hal-Hal Yang Memengaruhi Kecepatan Kelarutan

Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ukuran partikel, suhu, dan sifat pelarut. Mengoptimalkan kecepatan kelarutan sangat penting dalam pengembangan sediaan farmasi untuk memastikan obat dapat memberikan efek terapeutik dengan cepat.

3.4. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melarutkan Zat-Zat

Dalam proses melarutkan zat, penting untuk memperhatikan pH, suhu, dan jenis pelarut yang digunakan. Memahami aspek-aspek ini akan membantu dalam merancang formulasi yang stabil dan efektif.

3.5. Kelarutan Fase Dalam Cairan

Kelarutan fase dalam cairan menjelaskan bagaimana zat terlarut berperilaku dalam pelarut tertentu. Hal ini penting untuk merancang sediaan yang efektif dan memastikan obat dapat larut dengan baik dalam sistem biologis.

3.6. Distribusi Zat Terlarut Di Antara Pelarut Yang Tidak Bercampur

Distribusi zat terlarut antara pelarut yang tidak bercampur mempengaruhi bioavailabilitas dan efektivitas obat. Memahami distribusi ini penting untuk merancang sediaan farmasi yang optimal.

IV. Rheologi

Bab ini membahas rheologi, yaitu ilmu yang mempelajari aliran dan deformasi zat. Pemahaman tentang rheologi penting dalam formulasi sediaan farmasi untuk memastikan stabilitas dan efektivitas produk.

4.1. Pendahuluan

Rheologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana zat mengalir dan berubah bentuk. Dalam farmasi, rheologi berperan penting dalam formulasi sediaan cair dan semi-cair, memastikan produk memiliki konsistensi yang diinginkan.

4.2. Rheologi dan Viskositas

Viskositas adalah ukuran resistensi aliran suatu zat. Memahami viskositas penting untuk merancang sediaan farmasi yang stabil dan mudah digunakan, seperti suspensi dan emulsi.

4.3. Viskositas

Viskositas mempengaruhi stabilitas dan pelepasan obat dari sediaan. Pengukuran viskositas dilakukan untuk memastikan formulasi memiliki karakteristik aliran yang sesuai.

4.4. Aplikasi Rheologi dalam Bidang Farmasi

Rheologi diterapkan dalam formulasi sediaan farmasi untuk memastikan stabilitas, efektivitas, dan kemudahan penggunaan produk. Pemahaman tentang rheologi membantu dalam merancang produk yang memenuhi kebutuhan pasien.

4.5. Tipe Aliran

Tipe aliran suatu zat mempengaruhi cara zat tersebut berperilaku dalam formulasi. Memahami tipe aliran penting untuk merancang sediaan yang efektif dan stabil.

V. Suspensi dan Emulsi

Bab ini membahas tentang suspensi dan emulsi, dua jenis sediaan farmasi yang penting. Pemahaman tentang teori dan praktik dalam pembuatan suspensi dan emulsi sangat penting untuk menghasilkan produk yang efektif dan stabil.

5.1. Pendahuluan

Suspensi dan emulsi adalah sediaan farmasi yang terdiri dari campuran dua fase yang tidak bercampur. Memahami prinsip dasar pembuatan suspensi dan emulsi penting untuk menghasilkan produk yang stabil dan efektif.

5.2. Teori

Teori di balik pembuatan suspensi dan emulsi melibatkan pemahaman tentang interaksi antara fase cair dan padat. Memahami teori ini penting untuk merancang sediaan yang stabil dan efektif.

5.3. Latihan

Latihan dalam pembuatan suspensi dan emulsi membantu mahasiswa memahami proses dan teknik yang diperlukan untuk menghasilkan sediaan yang berkualitas.

5.4. Ringkasan

Ringkasan dari bab ini menekankan pentingnya pemahaman tentang suspensi dan emulsi dalam formulasi sediaan farmasi yang efektif.

5.5. Tes soal

Tes soal digunakan untuk menguji pemahaman mahasiswa tentang konsep dan teknik yang telah dipelajari dalam bab ini.

VI. Difusi dan Disolusi

Bab ini membahas proses difusi dan disolusi yang penting dalam formulasi sediaan farmasi. Pemahaman tentang kedua proses ini membantu dalam merancang sediaan yang efektif dan memastikan obat dapat mencapai targetnya dalam tubuh.

6.1. Pendahuluan

Difusi dan disolusi adalah proses yang mempengaruhi bagaimana obat berperilaku dalam sistem biologis. Memahami kedua proses ini penting untuk merancang sediaan farmasi yang efektif.

6.2. Difusi Obat

Difusi adalah proses perpindahan zat dari konsentrasi tinggi ke rendah. Memahami mekanisme difusi membantu dalam merancang sediaan yang dapat melepaskan obat dengan efisien.

6.3. Jenis-Jenis Difusi

Terdapat berbagai jenis difusi, termasuk difusi sederhana dan terfasilitasi. Memahami jenis-jenis ini penting untuk merancang sediaan yang sesuai dengan kebutuhan terapeutik.

6.4. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Difusi

Faktor-faktor seperti ukuran partikel, suhu, dan sifat pelarut mempengaruhi proses difusi. Memahami faktor-faktor ini penting untuk merancang sediaan yang efektif.

6.5. Hukum Fick

Hukum Fick menjelaskan hubungan antara fluks difusi dan gradien konsentrasi. Memahami hukum ini penting untuk merancang sediaan yang dapat melepaskan obat secara efisien.

6.6. Uji Difusi

Uji difusi dilakukan untuk mengevaluasi seberapa cepat obat dapat berdifusi dalam medium tertentu. Uji ini penting untuk memastikan efektivitas sediaan farmasi.

6.7. Konsep Disolusi

Disolusi adalah proses dimana zat terlarut dalam pelarut. Memahami konsep ini penting untuk merancang sediaan yang dapat larut dengan baik dalam sistem biologis.

6.8. Kecepatan Disolusi

Kecepatan disolusi mempengaruhi seberapa cepat obat dapat memberikan efek terapeutik. Memahami kecepatan disolusi penting untuk merancang sediaan yang efektif.

6.9. Uji Disolusi

Uji disolusi dilakukan untuk mengevaluasi seberapa cepat dan efisien obat dapat larut. Uji ini penting untuk memastikan kualitas sediaan farmasi.

VII. Koloid

Bab ini membahas tentang sistem koloid dan sifat-sifatnya. Pemahaman tentang koloid penting dalam formulasi sediaan farmasi yang melibatkan partikel kecil dan stabilitas sediaan.

7.1. Sistem Koloid

Sistem koloid adalah sistem yang terdiri dari partikel kecil yang terdispersi dalam medium. Memahami sistem koloid penting untuk merancang sediaan yang stabil dan efektif.

7.2. Sifat Koloid

Sifat koloid meliputi ukuran partikel, stabilitas, dan interaksi antar partikel. Memahami sifat ini penting untuk merancang sediaan farmasi yang berkualitas.

7.3. Kestabilan Koloid

Kestabilan koloid mempengaruhi seberapa lama sediaan dapat bertahan tanpa mengendap. Memahami kestabilan ini penting untuk memastikan kualitas sediaan.

7.4. Jenis Koloid

Terdapat berbagai jenis koloid, termasuk koloid sol, emulsi, dan aerosol. Memahami jenis-jenis ini penting untuk merancang sediaan yang sesuai dengan kebutuhan terapeutik.

VIII. Dispersi Kasar

Bab ini membahas tentang dispersi kasar, yaitu sistem yang terdiri dari partikel besar terdispersi dalam medium. Pemahaman tentang dispersi kasar penting dalam formulasi sediaan farmasi yang melibatkan partikel besar.

8.1. Pendahuluan

Dispersi kasar adalah sistem yang terdiri dari partikel besar yang terdispersi dalam medium. Memahami dispersi kasar penting untuk merancang sediaan yang efektif.

8.2. Dispersi Kasar

Dispersi kasar melibatkan partikel besar yang tidak terlarut sepenuhnya dalam medium. Memahami karakteristik dispersinya penting untuk formulasi sediaan yang stabil.

IX. Kinetika dan Stabilitas Obat

Bab ini membahas tentang kinetika kimia dan stabilitas sediaan obat. Pemahaman tentang kinetika dan stabilitas penting untuk memastikan sediaan obat tetap efektif dan aman selama masa simpan.

9.1. Pendahuluan

Kinetika dan stabilitas obat adalah faktor penting dalam pengembangan sediaan farmasi. Memahami kedua aspek ini membantu memastikan kualitas dan keamanan obat.

9.2. Kinetika Kimia

Kinetika kimia mempelajari laju reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi. Memahami kinetika penting untuk merancang sediaan yang stabil dan efektif.

Referensi Dokumen

  • Farmakope Indonesia Edisi VI
  • Farmakope Indonesia III
  • Farmakope Indonesia IV
  • Fornas Edisi 2 Th. 1978
  • Buku Ajar Farmasi Fisika

Referensi

Dokumen terkait

A. Latar Belakang Kelarutan suatu senyawa dalam zat pelarut tergantung sifat fisik dan kimia dari zat terlarut tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa atom nitrogen di dalam suatu senyawa, seperti amoniak dan amina memiliki satu pasangan elektron bebas sehingga di dalam reaksi, senyawa-senyawa semacam

Dalam perkembangannya fisika selanjutnya ialah perkembang ilmu panas, ilmu panas atau sering disebut termodinamika dalam bidang fisika adalah sesuatu yang tak dapat dipungkiri lagi

Kayu berasal dari berbagai pohon yang memiliki sifat berbeda-beda, bahkan dari satu pohon terdapat sifat agak berbeda baik sifat anatomi kayu, sifat fisika dan kimianya.. Tiap

Sifat kuantitatif fisika memiliki ini dapat meningkatkan daya prediksi dan kontrol fisika (Mundilarto, 2010). karakterisitik bangun ilmu yang terdiri atas

Perbedaan fisika modern yang mulai diperkenalkan pada awal abad ke 20 dengan fisika klasik yaitu fisika modern menyelidiki gejala-gejala pada skala ukuran yang sangat kecil

Sintesa Senyawa Obat Turunan Sulfonamida • Sulfonamida atau sering juga disebut obat sulfa merupakan golongan obat-obatan yang memiliki gugus fungsi sulfonamide • Golongan obat ini

166 | Statistika Farmasi 2013 Pemakalah kedua dengan judul “DESAIN SENYAWA ANTIBIOTIK BARU HASIL PENGGABUNGAN ANTARA SEFALOSPORIN DENGAN MINYAK ATSIRI CENGKEH “pada Seminar