Oleh : SARI MUJIANI
5514220030
TESIS
Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Magister Akuntansi Konsentrasi Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS PANCASILA
2017
ii
UNIVERSITAS PANCASILA
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
LEMBAR PENGESAHAN
Nama Mahasiswa : Sari Mujiani
NIM : 5514220030
Konsentrasi : Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal
Judul Tesis : Determinan Abnormal Return Dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Pemediasi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015
Telah dinyatakan lulus ujian Tesis pada tanggal 01 Maret 2017 di hadapan Pembimbing dan Penguji di bawah ini :
Tim Penguji,
Pembimbing I : Dr. Nurmala Ahmar, S.E.,M.Si.,Ak.,CA. (...)
Pembimbing II : Dr. Darmansyah, SE.,M.Ak.,CA.,Ak. (...)
Penguji Ahli : Dr. Surtikanti, SE,M.Si,Ak,CA. (...)
Mengetahui, Ketua Progam Studi
Dr. H. Suratno, S.E., M.M., Ak., CA.
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister dan/atau doktor), baik di Universitas Pancasila maupun perguruan tinggi lain.
2. Tesis ini adalah murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan pembimbing.
3. Dalam tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena tesis ini, serta sanksi lainnya sesuai norma yang berlaku diperguruan tinggi ini.
Jakarta, 01 Februari 2017 Yang membuat pernyataan
Sari Mujiani
iv
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya sehingga penulis mampu menyusun proposal tesis dengan judul “Pengaruh Determinan Abnormal Return Dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Pemediasi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan Baginda Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, sahabatnya, dan terakhir kepada kita selaku pengikutnya hingga akhir zaman.
Penulisan proposal tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Magister Akuntansi (M.Ak.).Dalam menyusun proposal tesis ini banyak rintangan dan hambatan yang penulis hadapi, namun semua itu dapat penulis lalui karena bantuan dari pihak-pihak yang terlibat. Pada kesempatan kali ini, izinkanlah penulis untuk memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof Dr. Wahono Sumaryono, Apt., selaku Rektor Universitas Pancasila.
2. Prof. Dr. Sutjipto., selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Pancasila.
3. Dr. H. Suratno, S.E., M.M.,Ak.,CA. selaku ketua Program Studi Magister Akuntansi Universitas Pancasila.
4. Dr. Nurmala Ahmar, S.E.,M.Si.,Ak.,CA. Selaku pembimbing utama dan Dr.
Darmansyah, SE.,M.Ak.,CA.,Ak selaku pembimbing kedua yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya sehingga proposal tesis ini dapat selesai tepat waktu.
5. Seluruh dosen Program Studi Magister Akuntansi Universitas Pancasila atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.
6. Alm. Ayahanda yang selama sisa hidupnya tidak pernah luput untuk selalu memberikan semangat dan doanya serta ibunda, suami dan anak tercinta yang sampai detik ini selalu mendoakan dan bersemangat untuk memberikan motivasi yang tidak pernah berhenti mengalir untuk penulis.
v
7. Kedua saudaraku serta para keponakan tercinta, yang selalu memberikan keceriaan agar penulis dapat bersemangat dalam menyelesaikan studi belajar ini.
8. Para Pimpinan dan Civitas Akademik Fakultas Ekonomi khususnya jurusan Akuntansi Universitas Islam As-Syafi’iyah atas segala ilmu dan motivasinya agar penulis mencari ilmu setinggi-tingginya.
9. Seluruh rekan mahasiswa Magister Akuntansi Angkatan XV Universitas Pancasila atas kebersamaan, motivasi, dan sharing ilmunya selama ini.
10. Seluruh staf Tata Usaha dan Pelaksana di Magister Akuntansi Universitas Pancasila.
Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pepatah itulah yang menggambarkan proposal tesis ini. Segala masukan, baik kritik maupun saran, penulis harapkan demi penyempurnaan proposal tesis ini. Akhir kata, semoga apa yang disajikan dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.
Bekasi, Januari 2017
Sari Mujiani
vi ABSTRAK
Pasar modal memberikan kesempatan bagi investor sebagai pihak yang menginvestasikan dananya pada berbagai sekuritas dengan ekspektasi return saham yang akan diterimanya optimal. Adapun perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015 adalah yang digunakan dalam penelitian ini. Jumlah pengamatan sebanyak 240 sampel penelitian yang diperoleh dengan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang dipergunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa Return On Assets, Ukuran Perusahaan, Leverage, Laba Akuntansi dan Corporate Social Responsibility berpengaruh tidak signifikan terhadap Abnormal Return. Adapun Corporate Social Responsibility belum menjadi mediasi bagi Return On Assets, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Laba Akuntansi terhadap Abnormal Return.
Kata Kunci : Abnormal Return, Corporate Social Responsibility, Return On Assets, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Laba Akuntansi.
vii ABSTRACT
Capital markets provide an opportunity for investors as people who invest their funds in various securities with the expectation that stock returns which will be received are optimal. This study is focused on companies listed on the Stock Exchange 2011-2015. The number of observations are as much as 240 samples obtained by a methods which is purposive sampling technique. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. The results indicate that Return On Assets, Company Size, Leverage, Accounting Earning and Corporate Social Responsibility has not significant impact on Abnormal Return. The Corporate Social Responsibility has not mediate for Return On Assets, Company Size, Leverage and Accounting Earnings on Abnormal Return.
Keyowrd : Abnormal Return, Corporate Social Responsibility, Return On Assets, Company Size, Leverage and Accounting Earnings.
viii DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR SURAT PERNYATAAN... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK... vi
ABSTRACT... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 7
1.3 Pembatasan Masalah ... 9
1.4 Perumusan Masalah ... 9
1.5 Tujuan Penelitian ... 10
1.6 Manfaat Penelitian ... 12
BABII TINJAUAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teori ... 13
2.1.1 Grand Theory ... 13
2.1.1.1 Agency Theory ... 13
2.1.1.2 Stakeholder Theory ... 17
2.1.2 Middle Theory ... 18
2.1.2.1 Efficient Market ... 18
2.1.3 Applied Theory ... 19
2.1.3.1 Pasar Modal ... 19
2.1.3.2 Saham ... 22
2.1.3.3 Return ... 24
2.1.3.4 Harga Saham... 25
2.1.4 Abnormal Return... ... 29
2.1.5 Corporate Social Responsibility... . 33
2.1.6 Determinan... . 34
2.1.6.1 Return On Asset... . 33
2.1.6.2 Ukuran Perusahaan... . 36
2.1.6.3 Leverage... ... 38
2.1.6.4 Laba Akuntansi... ... 41
2.2 Penelitian Terdahulu... . 42
2.3 Kerangka Pemikiran... ... 45
2.3.1 Pengaruh Determinan Abnormal Return... 45
2.3.2 Pengaruh Determinan Corporate Social Responsibility... 47
ix
2.3.3 Corporate Social Responsibility sebagai
Pemediasi... . 48
2.4 Hipotesis... ... 52
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data... .... 54
3.2 Populasi dan Sampel... ... 54
3.3 Metode Pengumpulan Data... ... 56
3.4 Operasional Variabel dan Pengukuran... .. 56
3.5 Metode Analisis Data... ... 61
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Variabel Penelitian... ... 71
4.2 Hasil Pengujian Asumsi Klasik... 74
4.3 Pengujian Hipotesis Mediasi Perusahaan di BEI... .. 79
4.4 Analisis & Pembahasan... .. 86
4.5 Pengujian Hipotesis Berdasarkan Sektor Industri... .. 94
4.6 Pengujian CSR sebagai Variabel Pemoderasi ... 105
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan... .. 107
5.2 Keterbatasan Penelitian... ... 108
5.3 Saran... ... 110
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. : Matriks Ringkasan Penelitian AR dan CSR... 42
Tabel 2.2 : Matriks Ringkasan Penelitian AR... 43
Tabel 2.3 : Matriks Ringkasan Penelitian CSR... 43
Tabel 3.1 : Kriteria Pemilihan Sampel... 56
Tabel 3.2 : Operasionalisasi Variabel ... 60
Tabel 4.1 : Hasil Statistik Deskriptif... 70
Tabel 4.2 : Hasil Multikolinieritas Abnormal Return... 76
Tabel 4.3 : Hasil Pemgujian Multikolinieritas CSR... 76
Tabel 4.4 : Hasil Pengujian Autokorelasi Abnormal Return... 77
Tabel 4.5 : Hasil Pengujian Autokorelasi CSR... 77
Tabel 4.6 : Hasil Pengujian Koefisien Determinasi Abnormal Return 80 Tabel 4.7 : Hasil Pengujian Koefisien Determinasi CSR... 80
Tabel 4.8 : Hasil Uji t Abnormal Return... 81
Tabel 4.9 : Hasil Uji t CSR... 84
Tabel 4.10 : Hasil Pengujian Abnormal Return... 86
Tabel 4.11 : Hasil Pengujian CSR... 89
Tabel 4.12 : Hasil Analisis Jalur (H10)... 91
Tabel 4.13 : Hasil Analisis Jalur (H11)... 92
Tabel 4.14 : Hasil Analisis Jalur (H12)... 93
Tabel 4.15 : Hasil Analisis Jalur (H13)... 93
Tabel 4.16 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Pertanian... 94
Tabel 4.17 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Bahan Tambang... 95
Tabel 4.18 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Industri Dasar dan Bahan Kimia... 96
Tabel 4.19 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Industri Lainnya... 98
Tabel 4.20 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Industri Untuk konsumsi 99 Tabel 4.21 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Property, Real Estate dan Konstruksi Bangunan... 100
Tabel 4.22 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Transportasi, Infrastruktur dan Utilities... 101
Tabel 4.23 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Keuangan... 102
Tabel 4.24 : Hasil Pengujian Hipotesis Sektor Perdagangan, Jasa dan Investasi... 104
Tabel 4.25 : Hasil Pengujian CSR sebagai Moderating... 105
Tabel 4.26 :Hasil Pengujian Koefisien Determinasi CSR Sebagai Moderating... 106
xi
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1.1 : Rata-rata Harga Saham selama periode 2011-2015 ... 2 Gambar 4.1 : Grafik Normal P-Plot Abnormal Return... 74 Gambar 4.2 : Grafik Normal P-Plot CSR... 75
xii
1 1.1 Latar Belakang Penelitian
Pasar modal bagi perekonomian negara memiliki peranan penting karena mempunyai dua fungsi yaitu sebagai alternatif pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan dan sebagai sarana berinvestasi bagi para investor. Perusahaan sebagai pihak yang memerlukan dana dapat menggunakan dana tersebut untuk membiayai dan mengembangkan proyek-proyeknya sehingga meningkatkan kegiatan perekonomian negara dan kemakmuran masyarakat. Pasar modal sebagai sarana berinvestasi bagi para investor memberikan kesempatan untuk menginvestasikan dananya pada berbagai sekuritas (Wulandari & Putri, 2014). Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:1), tempat untuk memperjualbelikan instrumen keuangan untuk jangka panjang disebut pasar modal (capital market), seperti saham, instrumen derivatif, utang, dan sebagainya. Bagi perusahaan dan pemerintah, pasar modal adalah sarana pendanaan dan sarana untuk melakukan kegiatan investasi.
Investor memerlukan informasi untuk menilai kemampuan dan kinerja perusahaan dalam menjalankan usahanya. Informasi keuangan merupakan output yang dihasilkan dari proses akuntansi. Secara umum, bentuknya adalah laporan-laporan keuangan yang dicantumkan dalam laporan keuangan tahunan. Para stakeholder entitas mengambil berbagai keputusan mempergunakan informasi yang diberikan oleh perusahaan, khususnya investasi dan kredit (Astika, 2011:49). Adapun tabel mengenai rata-rata harga saham yang diperjualbelikan di pasar modal selama kurun waktu
lima tahun terakhir dapat terlihat dalam tabel 1.1, bagaimana terjadinya pertumbuhan rata-rata harga saham yang berfluktuasi.
Tabel 1.1
Rata-rata Harga Saham Yang Diperdagangkan
Dengan demikian, ekspektasi dari adanya investasi adalah tentunya mendapatkan keuntungan, baik berupa dividen maupun return. Return dapat berupa return realisasi (realized return) maupun return ekspektasi (expected return).
Return sendiri merupakan indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan investor termasuk didalamnya para pemegang saham. Reaksi investor ini dapat diikuti dengan perubahan abnormal return (Agustina & Kianto, 2012).
Dengan adanya reaksi dari para investor tersebut, mempunyai dampak bagi perkembangan perusahaan salah satunya CSR merupakan bidang penelitian yang mulai berkembang pesat dalam dekade terakhir, seiring dengan perkembangan konsep perusahaan yang lebih berorientasi pada kepentingan stakeholder daripada shareholder. Hal ini merupakan suatu bentuk fenomena baru dalam pencitraan perusahaan sebagai perusahaan yang berkualitas baik. Salah satu bentuk
3749
4567
5687
2319 2108
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
2011 2012 2013 2014 2015
komunikasi modern yang saat ini banyak dilakukan perusahaan adalah dengan CSR. Berdasarkan signalling theory, perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui pelaporannya dengan mengirimkan sinyal melalui laporan tahunannya. Oleh karena itu, diharapkan investor mempertimbangkan informasi CSR yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahan (Scott, 2012:475).
Jika dihubungkan dengan persoalan abnormal return, pengungkapan CSR adalah kegiatan baik (responsible firm activities) yang seharusnya juga menunjukkan sikap baik perusahaan dalam pengelolaan operasionalnya (responsible manner). Jika informasi CSR dipertimbangkan investor dalam pengambilan keputusan yang disertai kenaikan pembelian saham perusahaan maka terjadi kenaikan harga saham yang melebihi return yang diharapkan oleh investor sehingga menyebabkan abnormal return (Megawati, 2011).
Penelitian yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi return saham maupun abnormal return sudah banyak dilakukan, diantaranya : Raissa & Asri (2014); Thomas & Atim (2012); Rio Malintan & Tuban (2012); Ulupui (2007) berhasil membuktikan bahwa return on asset berpengaruh terhadap return saham, dimana pengaruh positif ROA menunjukkan pengelolaan perusahaan sangat efisien sehingga investor menilai kinerja perusahaan dalam kondisi baik dan menyebabkan harga saham meningkat. Adanya pengaruh yang positif ROA terhadap return saham dikarenakan selama tahun penelitian sebagian besar perusahaan mengalami peningkatan jumlah aset atau aktiva yang cukup besar yang secara otomatis biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan aktiva-aktiva tersebut juga akan meningkat, peningkatan jumlah aktiva perusahaan juga dipengaruhi oleh besarnya jumlah
penjualan surat-surat berharga perusahaan tersebut, sejalan dengan pendapatan laba bersih dari perusahaan mengalami peningkatan yang relatif stabil sehingga memberikan pengaruh positif terhadap return saham. Namun Budialim (2013) tidak berhasil membuktikan hal tersebut.
Penelitian yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi Corporate Social Responsibility (CSR) pun sudah banyak dilakukan, diantaranya : Dyah dan Bagus (2014); Lilis,dkk (2014); Amalia, Arfan & Shabri (2014); Theodora Martina (2010) berhasil membuktikan bahwa return on asset berpengaruh terhadap CSR, Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan teori agensi, menunjukkan bahwa profitabilitas yang tinggi akan memberikan kesempatan yang lebih kepada manajemen (agen) untuk melakukan dan mengungkapkan kepada prinsipal mengenai program tanggung jawab sosial secara luas. Perusahaan yang mempunyai profitabilitas/laba yang tinggi maka perusahaan akan lebih leluasa untuk memilih bentuk pengungkapan CSR mana yang akan dilakukan. Namun terdapat hasil yang berbeda yang ditemukan oleh Rahayu & Indah (2015); Rafika & Yulius (2014);
Triastuti (2013); Marzully & Denies (2012); Rita, dkk (2008) yaitu penelitian menyatakan tidak terdapat pengaruh antara ROA dengan CSR.
Penelitian berikutnya yang mempunyai pengaruh terhadap return saham maupun abnormal return yaitu variabel ukuran perusahaan, sejalan dengan penelitian dari Agustina & Kianto (2012); Sugiarto (2011) dimana ukuran perusahaan yang kecil cenderung marginal dalam kemampuan, sehingga harga sahamnya cenderung lebih sensitif untuk berubah dalam bidang ekonomi dan perusahaan ini mempunyai kecenderungan yang kecil untuk berkembang dalam
kondisi ekonomi yang sulit. Namun belum ditemukan penelitian yang mempunyai hasil berbeda.
Variabel ukuran perusahaan pun mempunyai pengaruh terhadap CSR, sejalan dengan penelitian dari Hastuti (2014); Dyah dan Bagus (2014); Wijaya (2012); Marzully dan Denies (2012); Jayanti dan Sudarno (2010) dimana perusahaan yang tinggi akan mendorong perusahaan untuk memberikan informasi yang lebih detail, salah satunya informasi mengenai tanggung jawab sosial perusahaan karena mereka ingin meyakinkan investor terhadap perusahaan agar para investor berinvestasi diperusahaan tersebut. Namun Triastuti (2013); Martina (2010); Rita, dkk (2008) tidak berhasil membuktikan hal tersebut.
Penelitian selanjutnya yang mempengaruhi return saham adalah leverage yang diproksikan dengan rasio DER ini, sejalan dengan penelitian dari Ulupui (2007) dimana mendapatkan hasil jika rasio yang dimiliki tinggi akan menunjukkan komposisi total hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) semakin besar apabila dibandingkan dengan total modal sendiri, sehingga hal ini akan berdampak pada semakin besar pula beban perusahaan terhadap pihak eksternal (para kreditur). Akibatnya perusahaan yang bersangkutan menjadi kurang menarik di mata investor. Rasio ini merupakan rasio solvabilitas yang mengukur kemampuan kinerja perusahaan dalam mengembalikan hutang jangka panjangnya dengan melihat perbandingan antara total hutang dengan total ekuitasnya. Namun Budialim (2013); Sugiarto (2011); Rafika & Yulius (2014); Wijaya (2012); Martina (2010) tidak berhasil membuktikan hal tersebut.
Variabel leverage pun mempunyai pengaruh terhadap CSR, hal ini sejalan dengan penelitian dari Marzully dan Denies (2012); Jayanti dan Sudarno (2010).
Manajemen perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung mengurangi pengungkapan tanggungjawab sosial yang dibuatnya agar tidak menjadi sorotan dari para debtholders. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya tingkat leverage perusahaan mempengaruhi luas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Berbeda halnya dengan variabel laba akuntansi beberapa penelitian menemukan pengaruh terhadap return saham diantaranya Amalia, dkk (2014); Adi
& Bagus (2013); Lydia & Ferlysia (2012); Azilia & Yulius (2012), akan tetapi variabel laba akuntansi belum ditemukan yang mempunyai pengaruh terhadap CSR.
Objek penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di bursa efek indonesia, hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut merupakan emiten yang memberikan kesempatan bagi para investor dalam menanamkan modalnya, sehingga perusahaan yang masuk dalam bursa efek indonesia selalu mendapatkan perhatian dari para investor yang sangat baik. Selain itu, perusahaan yang masuk di bursa efek indonesia dalam hal penyampaian laporan keuangan telah teraudit sesuai aturan yang ditetapkan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini mengambil judul
“Determinan Abnormal Return Dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Pemediasi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia“.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari beberapa penelitian terdahulu, terdapat hasil yang berbeda atau tidak konsisten terhadap variabel yang sama terkait pengaruhnya terhadap abnormal return. Variabel-variabel tersebut diantaranya adalah :
1. Return On Assets
Jika sebagian besar perusahaan mengalami penurunan jumlah aset atau aktiva yang cukup besar, maka secara otomatis biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan aktiva-aktiva tersebut akan mengalami penurunan yang sangat signifikan, dikarenakan adanya penurunan jumlah aktiva perusahaan dapat dipengaruhi juga oleh besar kecilnya jumlah penjualan surat-surat berharga perusahaan tersebut, sehingga perusahaan tidak dapat mencapai laba dan perusahaan yang mengalami penurunan aset atau aktiva akan memberikan pengaruh negatif terhadap return saham.
2. Ukuran Perusahaan
Suatu skala atau nilai dimana perusahaan dapat diklasifikasikan besar kecilnya berdasarkan total aktiva, log size, nilai saham, dan lain sebagainya. Ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar. Jika semakin besar total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasarnya maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut. Indikasinya, jika perusahaan memiliki total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar yang besar akan tetapi tidak mampu memberikan return yang positif kepada investor yang terlihat dari penurunan harga saham yang terjadi pada perusahaan, maka terlihat pengelolaan keuangan perusahaan belum maksimal.
3. Leverage
Yang diwakili dengan debt to equity ratio yang berarti ratio yang memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan atau keseimbangan proporsi antara aktiva yang didanai oleh kreditor dan yang didanai oleh pemilik perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang.
4. Laba Akuntansi
Kenaikan manfaat ekonomi dalam bentuk penurunan kewajiban atau penambahan aktiva yang menyebabkan ekuitas meningkat selama periode akuntansi bukan berasal dari kontribusi penanaman modal. Laba akuntansi digunakan untuk meramalkan kemampuan laba dan memprediksi risiko dalam investasi dan kredit selain untuk menilai kinerja.
5. Corporate Social Responsibility
Pengungkapan CSR menunjukkan bahwa perusahaan mengambil bagian dari akuntansi pertanggung jawaban sosial yang mengkomunikasikan informasi sosial kepada stakeholder.
6. Abnormal Return
Jika return yang didapat lebih besar dari return yang diharapkan atau return yang dihitung, maka abnormal return akan positif. Sebaliknya, jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung, maka abnormal return akan negatif.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan indentifikasi masalah diatas, banyak faktor yang dapat mempengaruhi abnormal return. Disertai data yang di akses melalui suatu
informasi yang di publikasikan secara konsisten selama periode penelitian, maka pembatasan masalah dari penelitian ini hanya terfokus pada return on assets, ukuran perusahaan, leverage dan laba akuntansi serta corporate social responsibility sebagai variabel pemediasi.
Sedangkan variabel dependennya adalah Abnormal Return yang menjadi isu permasalahan tersebut.
1.4 Perumusan Masalah
1. Seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Abnormal Return ? 2. Seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Abnormal Return ? 3. Seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Abnormal Return ?
4. Seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Abnormal Return ? 5. Seberapa besar pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap
Abnormal Return ?
6. Seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Corporate Social Responsibility ?
7. Seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility ?
8. Seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Corporate Social Responsibility ?
9. Seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Corporate Social Responsibility ?
10. Seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi ?
11. Seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi ?
12. Seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi ?
13. Seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi ?
1.5 Tujuan Penelitian
1. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris bahwa seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Abnormal Return.
2. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris bahwa seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Abnormal Return.
3. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris bahwa seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Abnormal Return.
4. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Abnormal Return.
5. Untuk membuktikan dan mejelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Abnormal Return.
6. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Corporate Social Responsibility.
7. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility.
8. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Corporate Social Responsibility.
9. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Corporate Social Responsibility.
10. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Return On Asset terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi.
11. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi.
12. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Leverage terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi.
13. Untuk membuktikan dan menjelaskan secara empiris seberapa besar pengaruh Laba Akuntansi terhadap Abnormal Return dengan Corporate Social Responsibility sebagai pemediasi.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung untuk para akademisi maupun para praktisi. Maka kegunaan yang diperoleh dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis / Akademis
a. Bagi pengembangan ilmu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wacana dan referensi di bidang akuntansi keuangan dan pasar modal terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Abnormal Return.
b. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan bukti empiris dari penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi investor, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi khususnya terkait dengan Abnormal Return.
b. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menilai kinerja perusahaan yang di ukur melalui Abnormal Return.
13 2.1 Tinjauan Teori
2.1.1 Agency Theory
Hubungan agensi ada ketika salah satu pihak (prinsipal) menyewa pihaklain (agen) untuk melaksanakan suatu jasa dan, dalam melakukan hal itu, mendelegasikan wewenang untuk membuat keputusan kepada agen tersebut.
Dalam suatu korporasi, pemegang saham merupakan prinsipal dan CEO adalah agen mereka. Pemegang saham menyewa CEO dan mengharapkan ia untuk bertindak bagi kepentingan mereka. Di tingkat yang lebih rendah, CEO adalah prinsipal dan manajer unit bisnis adalah agennya. Salah satu elemen kunci dari teori agensi adalah bahwa prinsipal dan agen memiliki preferensi atau tujuan yang berbeda. Kontrak insentif akan mengurangi perbedaan preferensi ini.
Menurut Brigham & Houston (2006: 26-31) para manajer diberi kekuasaaan oleh pemilik perusahaan, yaitu pemegang saham, untuk membuat keputusan, dimana hal ini menciptakan potensi konflik kepentingan yang dikenal sebagai teori keagenan (agency theory). Hubungan keagenan (agency relationship) terjadi ketika satu atau lebih individu, yang disebut sebagai principal menyewa individu atau organisasi lain, yang disebut sebagai agen, untuk melakukan sejumlah jasa dan mendelegasikan kewenangan untuk membuat keputusan kepada agen tersebut.
Dalam manajemen keuangan, hubungan keagenan utama terjadi di antara:
1. Pemegang Saham versus Manajer
Fakta bahwa manajer-pemilik tidak akan mendapatkan seluruh keuntungan dari kekayaan yang diciptakan dari usahanya ataupun menanggung seluruh biaya penghasilan tambahan akan meningkatkan insentif baginya untuk mengambil tindakan-tindakan yang bukan menjadi kepentingan utama dari pemegang saham yang lain.
2. Pemegang Saham (Melalui Manajer) versus Kreditor
Kreditor memiliki klaim atas sebagian dari arus laba perusahaan untuk pembayaran bunga dan pokok utang, dan mereka memiliki klaim atas asset perusahaan di waktu terjadi kebangkrutan. Akan tetapi, pemegang saham memiliki kendali (melalui manajernya) atas keputusan-keputusan yang memengaruhi profitabilitas dan risiko perusahaan. Kreditor meminjamkan dana dengan tarif yang didasarkan pada (1) tingkat risiko dari aset perusahaan yang telah ada, (2) ekspektasi sehubungan dengan tingkat risiko dari tambahan asetdi masa depan, (3) struktur modal perusahaan yang telah ada (yaitu jumlah pendanaan melalui utang yang digunakan), dan (4) ekspektasi sehubungan dengan keputusan-keputusan struktur modal di masa depan.
Hal-hal di atas merupakan determinan-determinan utama dari seberapa berisikonya arus kas perusahaan, yaitu tingkat keselamatan dari utang yang dikeluarkan
a) Perbedaan Tujuan antara Prinsipal dan Agen
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Agen diasumsikan akan menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan, tetapi juga dari tambahan yang terlibat dalam hubungan suatu agensi, seperti waktu luang yang banyak, kondisi kerja yang menarik, keanggotaan klub, dan jam kerja yang fleksibel. Prinsipal (yaitu, pemegang saham) di pihak lain, diasumsikan hanya tertarik pada pengembalian keuangan yang diperoleh dari investasi dia di perusahaan tersebut.
Agen dan prinsipal juga berbeda dalam hal preferensi risiko. Teori agensi mengasumsikan bahwa manajer memilih lebih banyak daripada lebih sedikit kekayaan, tetapi bahwa utilitas marginal, atau kepuasan, menurun dengan semakin banyaknya kekayaan yang diakumulasikan. Agen biasanya memiliki sebagian besar dari kekayaan dia yang terikat dengan kekayaan perusahaan. Kekayaan ini terdiri baik kekayaan keuangan dia maupun modal manusia mereka. Modal manusia-nilai manajer sebagaimana dipandang oleh pasar-dipengaruhi oleh kinerja perusahaan.
Semakin menurunnya utilitas atas kekayaan dan besarnya jumlah modal agen yang bergantung pada perusahaan, agen diasumsikan akan bersifat enggan menghadapi risiko (risk adverse). Mereka menilai peningkatan dari investasi beresiko lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan nilai (nilai aktuarial) dari investasi tersebut.
Saham perusahaan dipegang oleh banyak pemilik, yang mengurangi risiko mereka dengan mendiversifikasi kekayaan mereka dengan memiliki saham di banyak perusahaan. Oleh karena itu, pemilik tertarik dengan perkiraan nilai dari investasi mereka dan bersifat netral terhadap resiko (risk neutral). Manajer tidak
semudah itu mendiversifikasikan resiko ini, yang menyebabkan mereka enggan menghadapi resiko.
b) Tidak Dapat Diamatinya Tindakan Agen
Perbedaan preferensi yang terkait dengan kompensasi dan bonus timbul manakala prinsipal tidak dengan mudah memantau tindakan agen. Pemegang saham tidak dalam posisi untuk memantau ativitas CEO setiap harinya untuk memastikan bahwa ia bekerja untuk kepentingan mereka. Secara serupa, CEO tidak berada dalam posisi untuk memantau aktivitas manajer untuk bisnis setiap harinya.
Prinsipal tidak memiliki informasi yang mencukupi mengenai kinerja agen, prinsipal tidak pernah dapat merasa pasti bagaimana usaha agen memberikan kontribusi pada hasil aktual perusahaan. Situasi ini disebut dengan asimetri informasi. Asimetri ini dapat mengambil dari berbagai bentuk. Tanpa memantau, hanya agen yang mengetahui apakah ia bekerja untuk kepentingan prinsipal. Lebih lanjut lagi, agen tersebut mungkin mengetahui lebih banyak mengenai tugas tersebut dibandingkan dengan prinsipal. Tambahan informasiyang mungkin dimiliki oleh agen disebut dengan informasi pribadi.
Perbedaan preferensi antara prinsipal dan agen, dan informasi pribadi agen, dapat menyebabkan agen tersebut salah menyajikan informasi kepada prinsipal.
Salah penyajian ini adalah sedemikian rupa sifatnya sehingga istilah bahaya moral telah diberikan atas situasi di mana seorang agen yang dikendalikan termotivasi untuk salah menyajikan informasi karena sifat sistem pengendalian (Anthony dan Govindarajan, 2005: 269-270).
2.1.2 Stakeholder Theory
Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun eksternal yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi maupun dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan. Dengan demikian, stakeholder merupakan pihak internal maupun eksternal, seperti: pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya), lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaanya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan. Batasan stakeholder tersebut di atas mengisyaratkan bahwa perusahaan hendaknya memperhatikan stakeholder, karena mereka adalah pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi baik secara langsung mapun tidak langsung atas aktivitas serta kebijakan yang diambil dan dilakukan perusahaan. Jika perusahaan tidak memperhatikan stakeholder bukan tidak mungkin akan menuai protes dan dapat mengeliminasi legitimasi stakeholder. Berdasar pada asumsi dasar stakeholder theory tersebut, perusahaan tidak dapat melepaskan diri dengan lingkungan sosial (social setting) sekitarnya. Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta mendudukannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu stabilitas usaha dan jaminan going concern (Nor Hadi, 2011: 94-95). Esensi teori stakeholder tersebut di atas jika ditarik interkoneksi dengan teori legitimasi yang mengisyaratkan bahwa perusahaan hendaknya mengurangi expectation gap dengan masyarakat (publik) sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengakuan) masyarakat, ternyata terdapat benang merah. Untuk itu, perusahaan hendaknya menjaga reputasinya yaitu dengan menggeser pola orientasi (tujuan) yang semula
semata-mata diukur dengan economic measurement yang cenderung shareholder (para pemilik) orientation, ke arah memperhitungkan faktor social (social factors) sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan terhadap masalah sosial kemasyarakatan (stakeholder orientation).
2.1.2 Middle Theory 2.1.2.1 Efficient Market
Pasar efisien adalah pasar dimana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia. Informasi yang tersedia meliputi informasi masa lalu, informasi saat ini, serta informasi yang bersifat sebagai pendapat atau opini rasional yang bisa mempengaruhi perubahan harga.
Jika pasar efisien dan semua informasi bisa didapatkan dengan mudah dan dengan biaya yang murah oleh semua pihak yang ada di pasar, maka harga yang terbentuk adalah harga keseimbangan. Semua informasi yang masuk ke pasar akan langsung tercermin pada harga pasar saham yang baru, sehingga tidak seorangpun investor yang memperoleh abnormal return. Oleh karena itu, aspek penting dalam menilai efisiensi pasar adalah seberapa cepat suatu informasi baru diserap oleh pasar yang tercermin dalam penyesuaian menuju harga keseimbangan yang baru.
Soewardjono (2005) mengklasifikasikan bentuk pasar yang efisien kedalam tiga bentuk efisiensi, yaitu:
1) Efisien dalam bentuk lemah (weak form). Pasar efisien dalam bentuk lemah jika harga sekuritas merefleksikan secara penuh informasi harga dan volume sekuritas
masa lalu (yang biasanya tersedia secara publik). Pelaku pasar masih dimungkinkan untuk memperoleh return abnormal dengan memanfaatkan informasi selain data pasar.
2) Efisien dalam bentuk setengah kuat (semistrong form). Dikatakan pasar efisien bentuk semi-kuat jika harga sekuritas merefleksikan secara penuh semua informasi yang tersedia secara publik termasuk data statement keuangan, karena semua pelaku pasar memperoleh semua akses yang sama terhadap informasi publik, strategi informasi yang mengandalkan statement keuangan publikasi tidak akan mampu menghasilkan return abnormal secara terus-menerus.
3) Efisien dalam bentuk kuat (strong form), pasar efisien dalam bentuk kuat, semua informasi baik yang terpublikasi atau tidak dipublikasikan, sudah tercermin dalam harga sekuritas saat ini.
2.1.3 Applied Theory 2.1.3.1 Pasar Modal
Salah satu sumber dana eksternal yang utama selain supplier yang memberikan kredit jangka pendek ataupun jangka panjang dan kredit investasi bank. Oleh karena itu, pasar modal dapat dijadikan wahana penting diluar perbankan yang menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender ke borrower dan menyediakan dana bagi dunia usaha melalui penjualan instrumen-instrumen keuangan jangka panjang yang diperdagangkan di pasar modal. Menurut Suad Husnan (2004:3) mendefinisikan bahwa pasar modal yaitu :
“Pasar modal dapat didefinisikan juga sebagai pasar untuk berbagi instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam
bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan pemerintah, public aothorities, maupun perusahaan swasta.“
Berdasarkan definisi di atas, disebutkan bahwa di pasar modal diperdagangkan berbagai komoditas modal sebagai instrument jangka panjang. Komoditas modal tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu modal hutang dan modal sendiri.
Modal sendiri adalah surat berharga yang bersifat penyertaan atau ekuitas seperti saham, waran, dan right. Sedangkan modal hutang adalah surat berharga yang bersifat hutang atau sering juga disebut sebagai surat berharga pendapatan tetap (fixed income) seperti obligasi dan obligasi konversi.
Lebih luas lagi, Jogiyanto Hartono (2008:3) mendefinisikan tiga istilah yang berkaitan dengan pasar modal yaitu pasar, modal, dan pasar modal yaitu sebagai berikut:
“Pasar adalah suatu situasi dimana para pelakunya (penjual dan pembeli) dapat menegosiasikan pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas. Modal adalah suatu yang digunakan oleh perusahaan sebagai sumber dana untuk melaksanakan kegiatan perusahaan. Sedangkan pasar modal merupakan suatu situasi dimana para pemjual dan pembeli dapat melakukan negosiasi terhadap pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas dan komoditas yang dipertukarkan disini adalah modal”.
Sedangkan menurut Rusdin (2008:1) definisi capital market atau pasar modal dalam pengertian luas dan pengertian khusus adalah sebagai berikut:
“Pasar modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham, dan lainnya.”
Berdasarkan kedua teori diatas, terlihat bahwa pasar modal layaknya pasar tradisional yang mempertemukan pihak kelebihan dana (pembeli
efek) dengan pihak yang kekurangan dana (penerbit efek) yang terhimpun dalam wadah jual beli instrumen pasar modal hingga terbentuknya permintaan dan penawaran atas efek.
Sedangkan menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 2003, pengertian pasar modal yang lebih spesifik, yaitu :
“Kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.
Berdasarkan UUPM tersebut, pengertian pasar modal lebih mengacu pada kegiatan yang terjadi dipasar modal. Dimana, pasar modal berkaitan dengan kegiatan:
1. Penawaran umum dan perdagangan efek. Penawaran umum atau sering juga disebut sebagai go publik adalah kegiatan penawaran saham atau efek lainnya dipasar perdana untuk dijual kepada masyarakat oleh emiten berdasarkan UUPM.
Sedangkan perdagangan efek adalah kegiatan jual beli efek yang terjadi dipasar sekunder.
2. Perusahan publik dengan efek yang diterbitkannya. Perusahaan publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya 300 pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp.3 Milyar. Selain perusahaan memiliki kriteria tersebut, maka selama itu juga perusahaan itu wajib memenuhi kebutuhan-kebutuhan dibidang pasar modal yang mengatur perusahaan publk.
3. Lembaga profesi yang berkaitan dengan efek. Lembaga tersebut diantaranya akunatan, konsultan hukum, penilai, dan notaris. Pasar modal telah menetapkan
sangsi atas berbagai pelanggaran dipasar modal bagi pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan dipasar modal termasuk lembaga-lembaga profesi yang berkaitan dengan efek tersebut.
Dari berbagai definisi yang telah diuraikan diatas, maka terdapat berbagai karakteristik dari pasar modal, yaitu:
a. Sebagai jembatan perdagangan antara dua pihak, yaitu pihak yang menegluarkan dana (investor/Leender), dan pihak yang membutuhkan dana (Emiten/borrower).
b. Komoditas yang diperdagangkan adalah komoditas modal.
c. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panajng) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi dana secara optimal.
d. Pasar yang menggunakan sistem terorganisir dengan melalui jasa para komissioner, underwriter dan pialang.
e. Alternative investasi yang memberikan potensi keuntungan 2.1.3.2 Saham
Dalam bursa efek (stock exchange) efek yang paling banyak diminati oleh investor adalah saham. Saham merupakan surat berharga yang menunjukan kepemilikan perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas deviden atau distribusi lain yang dilakukan perusahaan kepada pemegang sahamnya, termasuk hak klaim atas asset perusahaan, dengan prioritas setelah hak klaim pemegang surat berharga lain dipenuhi, jika terjadi likuidasi.
Menurut Tjiptono Darmaji dan Hendy M. Fakhrudin ( 2006 : 178 ) “ Saham dapat didefinisikan sebagai tanda atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.”
Saham dikenal dengan karakteristik “ imbal hasil tinggi, resiko tinggi ”. Artinya, saham merupakan surat berharga yang memberikan peluang keuntungan dan potensi resiko yang tinggi. Saham memungkinkan investor untuk mendapatkan imbalan hasil atau capital gain yang besar dalam waktu singkat. Namun seiring berfluktuasinya harga saham, maka saham juga dapat membuat investor mengalami kerugian besar dalam waktu singkat. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan ( demand ) dan penawaran ( supplay ) atas saham tersebut.
Dengan kata lain, harga saham terbentuk atas permintaan dan penawaran saham.
Menurut Sunariyah ( 2006 : 128 ) “ nilai pasar saham adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya. ”.
2.1.3.3 Return
Return merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi. Menurut Jogiyanto (1998: 109), return saham dibedakan menjadi dua yaitu return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return realisasi
merupakan return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis.
Return realisasi ini penting dalam mengukur kinerja perusahaan dan sebagai dasar penentuan return dan risiko dimasa mendatang. Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan di masa mendatang dan masih bersifat tidak pasti. Dalam melakukan investasi investor dihadapkan pada ketidakpastian (uncertainty) antara return yang akan diperoleh dengan risiko yang akan dihadapinya. Semakin besar return yang diharapkan akan diperoleh dari investasi, semakin besar pula risikonya, sehingga dikatakan bahwa return ekspektasi memiliki hubungan positif dengan risiko. Risiko yang lebih tinggi biasanya dikorelasikan dengan peluang untuk mendapatkan return yang lebih tinggi pula (high risk high return, low risk low return). Tetapi return yang tinggi tidak selalu harus disertai dengan investasi yang berisiko. Hal ini bisa saja terjadi pada pasar yang tidak rasional.
Return yang diterima oleh investor di pasar modal dibedakan menjadi dua jenis yaitu current income (pendapatan lancar) dan capital gain/capital loss (keuntungan selisih harga). Current income adalah keuntungan yang didapat melalui pembayaran yang bersifat periodik seperti dividen. Keuntungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas atau setara kas sehingga dapat diuangkan secara cepat.
Misalnya dividen saham yaitu dibayarkan dalam bentuk saham yang bisa dikonversi menjadi uang kas dengan cara menjual saham yang diterimanya, sedangkan Capital gain (loss) merupakan selisih laba (rugi) yang dialami oleh pemegang saham karena harga saham sekarang relatif lebih tinggi (rendah) dibandingkan harga saham sebelumnya. Jika harga saham sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga saham periode sebelumnya (Pt-1) maka pemegang saham mengalami
capital gain. Jika yang terjadi sebaliknya maka pemegang saham akan mengalami capital loss. Dalam penelitian ini return saham yang digunakan adalah capital gain (loss). Capital gain (loss) merupakan selisih laba (rugi) yang dialami oleh pemegang saham karena harga saham sekarang relatif lebih tinggi (rendah) dibandingkan harga saham sebelumnya.
2.1.3.4 Harga Saham
Harga saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya (berapapun porsinya/jumlahnya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut. Selembar saham mempunyai nilai atau harga. Menurut Sawidji (1996;46) harga saham dapat dibedakan menjadi 3 (tiga):
1. Harga Nominal
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena deviden minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
2. Harga Perdana
Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat di bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter)
dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
3. Harga pasar
Kalau harga perdana merapakan harga jual dari perjanjian emisi kepada investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar.
Penentuan harga saham dapat dilakukan melalui analisis teknikal dan analisis fundamental. Pada analisis teknikal harga saham ditentukan berdasarkan catatan harga saham di waktu yang lalu, sedangkan dalam analisis fundamental harga saham ditentukan atas dasar faktor-faktor fundamental yang mempengaruhinya, seperti laba dan dividen. Hal ini disebabkan karena nilai saham mewakili nilai perusahaan, tidak hanya nilai intrinsik suatu saat tetapi juga adalah harapan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Analisis fundamental mencoba untuk memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan: (1) mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang, dan (2) menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Harga saham adalah harga pasar yang tercatat setiap hari pada waktu penutupan (closing price) dari suatu saham. Laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang relevan dengan model keputusan yang digunakan oleh investor dalam membuat keputusan buy, hold, atau Sell saham. Harga saham yang terjadi di pasar modal selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu. Fluktuasi harga dari suatu saham tersebut akan ditentukan antara kekuatan penawaran dan permintaan. Jika jumlah penawaran lebih besar dari jumlah permintaan, pada umumnya kurs harga saham akan turun. Sebaliknya jika jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran terhadap suatu efek, maka harga saham cenderung akan naik. Menurut Nainggolan (2008), hal-hal penting yang merupakan faktor makro atau pasar yang dapat menyebabkan fluktuasi harga saham adalah tingkat inflasi dan suku bunga, kebijakan keuangan dan fiskal, situasi perekonomian dan situasi bisnis internasional. Sedangkan faktor mikro perusahaan yang dapat menyebabkan fluktuasi harga saham adalah pendapatan perusahaan, dividen yang dibagikan, arus kas perusahaan, perubahan mendasar dalam industri atau perusahaan dan perubahan dalam perilaku investasi misalnya merubah investasinya dari saham menjadi obligasi. Kekuatan pasar dapat juga dilihat dari data mengenai sisa beli dan sisa jual. Bagi investor yang memerlukan investasi jangka panjang maupun jangka pendek perlu memperhatikan likuiditas suatu saham dan posisinya di pasar, apakah diminati masyarakat atau tidak. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham dapat berasal dari internal dan eksternal perusahaan. Faktor internalnya adalah kinerja perusahaan, arus kas perusahaan, dividen, laba perusahaan dan penjulan, sedangkan faktor eksternalnya adalah tingkat suku bunga, laju inflasi,
kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian. Menurut Halim (2005) analisis teknikal terdiri dari beberapa pendekatan diantaranya adalah:
1. Dow Theory
Teori Dow berupaya untuk menyelidiki bagaimana tren yang sedang terjadi di pasar saham, baik saham individual maupun keseluruhan. Pergeseran tersebut meliputi gerakan utama (primary movement) yaitu trend jangka panjang atas pasar modal, Pergerakan kedua (secondary movement) yaitu trend yang hanya terjadi beberapa bulan dan pergerakan ini tidak mengubah arah pergerakan pertama tetapi hanya mengoreksi harga-harga saham, Pergerakan ketiga (tertiary movement) yaitu tren yang menunjukkan fluktuasi harian dari harga-harga saham.
2. Grafik Batang
Dalam pendekatan ini digunakan 3 (tiga) tipe dasar diagram, yaitu diagram baris, diagram batang dan diagram gambar titik. Ketiganya menggunakan grafik batang (Bar chart) yang menunjukkan volume saham yang diperdagangkan pada masing- masing perubahan harga.
3. Analisis Kekuatan Pasar
Analisis kekuatan pasar dilakukan dengan cara membandingkan jumlah saham yang mengalami kenaikan harga dengan jumlah saham yang mengalami penurunan harga, selanjutnya diakumulasikan.
4. Analisis Kekuatan Relatif
Analisis ini berupaya mengidentifikasikan saham yang memiliki kekuatan relatif terhadap saham lain. Harga saham yang memiliki kekuatan relatif akan meningkat lebih cepat dari harga saham lainnya.
5. Analisis Rata-rata Bergerak
Analisis ini memfokuskan pada harga rata-rata bergerak dengan cara mengamati perubahan harga yang terjadi pada beberapa hari terakhir pada saat penutupan harga.
2.1.4 Abnormal Return
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi saham. Konsep return yang dipakai dalam penelitian ini adalah abnormal return atau keuntungan di atas normal, adalah selisih antara tingkat keuntungan sebenarnya dengan tingkat keuntungan yang diharapkan atau selisih antara actual return dengan expected return (Scott, 2009). Return juga dapat diartikan hasil yang diperoleh dari investasi.
Return dapat berupa return realisasi (yang sudah terjadi) atau return ekspektasi (yang belum terjadi) tetapi diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Return realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan resiko dimasa yang akan datang.
Return ekspektasi (expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang.
Abnormal return adalah return yang didapat investor yang tidak sesuai dengan pengharapan. Abnormal return adalah selisih antara return yang diharapkan (return
ekspektasian) dengan return yang didapat. Selisih return akan positif jika return yang didapat lebih besar dari return yang diharapkan atau return yang dihitung.
Sedangkan return akan negatif jika return yang didapat lebih kecil dari return yang diharapkan atau return yang dihitung.
Abnormal return dapat terjadi karena adanya kejadian-kejadian tertentu, misalnya hari libur nasional, awal bulan, awal tahun, suasana politik yang tidak menentu, kejadian-kejadian yang luar biasa, stock split, penawaran perdana saham, dan lain-lain.
Return sebenarnya merupakan return yang terjadi pada waktu t (tanggal transaksi) yang merupakan selisih harga sekarang dengan harga sebelumnya secara relatif, sedangkan return yang diharapkan harus diestimasikan. Untuk mengestimasikan return yang diharapkan dapat digunakan model :
1. Mean adjusted model
Model sesuai rata-rata (Mean adjusted model) ini menganggap bahwa return ekspektasian (return yang diharapkan) bernilai konstan yang sama dengan rata- rata return sebenarnya sebelumnya selama periode estimasi (estimation period).
2. Market model
Perhitungan return yang diharapkan dengan model pasar (market model) ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu membentuk model yang diharapkan dengan menggunakan data yang sebenarnya selama periode estimasi, dan menggunakan model yang diharapkan ini untuk mengestimasi return yang diharapkan di
periode jendela. Model ini dapat dibentuk menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square).
3. Market adjusted model
Model sesuai pasar (market adjusted model) menganggap bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan model ini tidak, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan retun indeks pasar (Hartono, 2009).
Adapun abnormal return merupakan selisih dari realized return dan expected return. Abnormal Return dihitung dengan menggunakan model market adjusted return. Adapun langkah-langkah perhitungan abnormal return yaitu :
a. Menentukan actual return atau realized return
Realized return yaitu return sesungguhnya yang terjadi (Jogiyanto, 2009:200), dihitung dengan menggunakan persamaan :
Keterangan :
Ri,t = Return saham tahunan
Pt = Harga penutupan saham pada tahun ke t Pt-1 = Harga penutupan saham pada tahun ke t-1 b. Menentukan expected return
Pt – Pt-1
Ri,t = Pt-1
Expected return merupakan return yang diharapkan oleh investor ketika menanamkan sahamnya. Persamaannya yaitu :
Keterangan :
E[Ri,t] = Expected return tahunan pada periode peristiwa ke-t IHSGt = Indeks harga saham gabungan pada periode peristiwa ke t IHSGt-1 = Indeks harga saham gabungan pada periode peristiwa ke t-1
c. Menentukan abnormal returnn
Keterangan :
ARi,t = Abnormal return suatu saham i pada periode ke-t Ri,t = Aktual return saham i pada periode ke-t
RMt = Rata-rata return di pasar beberapa periode
2.1.5 Corporate Social Responsibility (CSR)
Konsep CSR mulai dikenal sejak awal 1970-an, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk kontribusi dalam pembangunan secara
IHSGt – IHSGt-1
E[Ri,t] =
IHSGt-1
ARi,t = Ri,t – RMt
berkelanjutan. Pemikiran yang melandasi adanya Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) ini adalah bahwa perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab kepada para pemegang saham (shareholder), tetapi juga memiliki tanggung jawab kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholder). Pihak-pihak yang berkepentingan dalam sebuah perusahaan adalah pelanggan, pegawai, komunitas, pemilik atau investor, supplier dan juga competitor (Laras dan Basuki, 2012).
CSR dapat dilihat melalui dua sudut pandang, antara lain corporate social responsibility berdasarkan teori serta corporate social responsibility berdasarkan kenyataannya yang terjadi (Syafrudin, 2010). CSR kini juga berpijak pada triple bottom line tidak hanya pada single bottom line saja antara lain lingkungan, sosial, dan keuangan, (Daniri, 2008) dikutip dalam Machmud dan Djakman (2008).
Tuntutan ini muncul karena berkembangnya keinginan perusahaan yang mengharapkan perusahaan yang berkelanjutan (sustainable). Dengan berkembangnya nilai perusahaan diharapkan perusahaan akan mendapatkan laba untuk jangka panjang.
Penerapan Corporate Social Responsibility merupakan salah satu faktor yang dapat menarik minat pemegang saham untuk berinvestasi. Para investor lebih tertarik untuk menanamkan sahamnya pada perusahaan yang menerapkan program CSR sebagai kegiatan usahanya. Hal ini didukung oleh penelitian Pfleiger, et al.
(2005) yang menunjukkan bahwa usaha-usaha pelestarian lingkungan oleh perusahaan akan mendatangkan beberapa keuntungan, diantaranya adalah ketertarikan pemegang saham dan stakeholder terhadap keuntungan yang diperoleh
perusahaan akibat pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab. Secara matematis corporate social responsibility (CSR) dapat dirumuskan sebagai berikut:
Adapun kertas kerja untuk indikator penilaian setiap item yang diungkapkan seperti yang tertera pada lampiran.
2.1.6 Determinan Abnormal Return 2.1.6.1 Return On Asset
Investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan, menunjang, dan meningkatkan profit (Ulupui, 2006). Salah satu alternatif apakah informasi laporan keuangan yang dihasilkan bermanfaat memprediksi harga atau return saham dipasar modal, termasuk kondisi keuangan perusahaan di masa depan adalah rasio keuangan. Untuk menguji kemampuan prediksi informasi akuntansi dalam memprediksi return saham dapat menggunakan rasio keuangan yang tercermin, karena dengan informasi yang tercermin dalam laporan keuangan. Kita dapat menilai kinerja perusahaan dalam mengelola bisnisnya. Informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan memiliki kemampuan prediksi ketika diasosiasi dengan return. Oleh karena itu dengan memprediksi manfaat informasi akuntansi dalam memprediksi return saham yang dihubungkan dengan karakteristik industri tertentu dapat memberikan acuan bagi investasi dalam membuat keputusan bisnis.
CSRDI = Jumlah item informasi CSR yang diungkapkan 79 item informasi CSR versi GRI 3.0
Salah satu rasio yang digunakan adalah rasio Profitabilitas. Rasio ini mengukur seberapa kemampuan perusahaan memperoleh laba atau keuntungan (profitabilitas), baik hubungannya dengan penjualan, asset maupun laba bagi modal sendiri (Hanafi dan Halim,2003:83). Profitabilitas untuk kelangsungan hidup perusahaan. Suatu perusahaan haruslah dalam keadaan yang menguntungkan. Pada penelitian ini profitabilitas diukur dengan salah satu rasio keuangan yaitu return on asset (ROA).
Return on asset adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan tingkat aset yang tertentu (Hanafi dan Halim,2003:84). Prastowo & Juliaty (2002:86) Return on asset adalah kemampuan perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur tingkat kembalian investasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya. Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen asset yang berarti efesiensi manajemen (Hanafi dan Halim,2003:85).
Penilaian return on asset (ROA) dapat dirumuskan sebagai berikut : Return On Asset (ROA) = Laba bersih
Total aktiva 2.1.6.2 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan pada dasarnya adalah pengelompokan perusahaan ke dalam beberapa kelompok, diantaranya perusahaan besar, sedang dan kecil. Skala perusahaan merupakan ukuran yang dipakai untuk mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang didasarkan kepada total aset perusahaan (Suwito dan Herawaty, 2005)
Ukuran perusahaan adalah skala perusahaan yang dilihat dari total aktiva perusahaan pada akhir tahun. Total penjualan juga dapat digunakan untuk mengukur besarnya perusahaan, karena biaya-biaya yang mengikuti penjualan cenderung lebih besar, maka perusahaan dengan tingkat penjualan yang tinggi cenderung memilih kebijakan akuntansi yang mengurangi laba (Sidharta, 2000).
Penelitian ukuran perusahaan dapat menggunakan tolak ukur asset, karena total aset perusahaan bernilai besar maka hal ini dapat disederhanakan dengan mentranformasikan ke dalam logaritma natural (Ghozali,2007); sehingga ukuran perusahaaan juga dapat dihitung dengan :
Size = Ln Total Assets
Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya perusahaan. Besar kecilnya usaha tersebut ditinjau dari lapangan usaha yang dijalankan. Penentuan skala besar kecilnya perusahaan dapat ditentukan berdasarkan total penjualan, total asset, rata-rata tingkat penjualan (Seftianne, 2011).
Perusahaan yang berukuran besar mempunyai berbagai kelebihan dibanding perusahaan berukuran kecil. Kelebihan tersebut yang pertama adalah ukuran perusahaan dapat menentukan tingkat kemudahan perusahaan memperoleh dana dari pasar modal. Kedua, ukuran perusahaan menentukan kekuatan tawar-menawar (bargaining power) dalam kontrak keuangan. Dan ketiga, ada kemungkinan pengaruh skala dalam biaya dan return membuat perusahaan yang lebih besar dapat memperoleh lebih banyak laba (Sawir,2004).
Ukuran perusahaan adalah rata–rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun. Dalam hal ini penjualan lebih besar daripada
biaya variabel dan biaya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Sebaliknya jika penjualan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap maka perusahaan akan menderita kerugian (Brigham dan Houston, 2001).
Perusahaan dengan ukuran besar memiliki akses lebih besar dan luas untukmendapat sumber pendanaan dari luar, sehingga untuk memperoleh pinjaman akan menjadi lebih mudah karena dikatakan bahwa perusahaan dengan ukuran besar memiliki kesempatan lebih besar untuk memenangkan persaingan atau bertahan dalam industri (Lisa dan jogi, 2013).
Perusahaan besar yang sudah well - established akan lebih mudah memperoleh modal di pasar modal dibanding dengan perusahaan kecil, karena kemudahan akses tersebut berarti perusahaan besar memiliki fleksibilitas yang lebih besar pula (Sartono,2010:249)
Menurut Setiyadi (2007) Ukuran perusahaan yang biasa dipakai untuk menentukan tingkatan perusahaan adalah:
1. Tenaga kerja, merupakan jumlah pegawai tetap dan honorer yang terdaftar atau bekerja di perusahaan pada suatu saat tertentu.
2. Tingkat penjualan, merupakan volume penjualan suatu perusahaan pada suatu periode tertentu.
3. Total utang, merupakan jumlah utang perusahaan pada periode tertentu.
4. Total asset, merupakan keseluruhan asset yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu.
2.1.6.3 Leverage