BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
Peninjuan kembali pustaka terhadap hal yang berkaitan dengan penelitian merupakan hal yang mendasar dalam penelitian. Tinjauan pustaka merupakan suatu tinjauan pustaka yang berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka tentang masalah yang berkaitan, dan tidak terlalu tepat dan identik dengan permasalahan yang dihadapi tetapi yang seiring dan berkaitan (colleteral) (Leedy, 1997). Berikut tinjauan pustaka yang terkait dengan penelitian
Dalam penelitian yang dilakukan Afrianur (2016) yang berjudul Analisis Risiko Manajemen Material dan Pengaruh Tindakan Koreksi pada Proyek Gedung Bertingkat mengenai analisis risiko manajemen material dan pengaruh tindakan koreksi pada proyek gedung bertingkat yang bertujuan untuk mengetahui risiko dominan yang signifikan dampaknya terhadap kinerja proyek gedung bertingkat dan tindakan koreksi yang diberikan terhadap kinerja proyek. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analitis. Dari penelitian tersebut didapatkan nilai risk index tertinggi adalah kesalahan dalam mengestimasi dan merencanakan anggaran biaya untuk material dan tindakan koreksi yang memiliki nilai tertinggi adalah penambahan personil, jam kerjajuga harus ditambah.
Penelitian yang dilakukan Nurlela dan Suprapto (2014) yang berjudul Identifikasi dan Analisis Manajemen Risiko pada Proyek Pembangunan Infrastruktur Bangunan Gedung Bertingkat ini mengenai analisis manajemen risiko terhadap proyek pembangunan gedung bertingkat yang bertujuan mengidentifikasi risiko dan menentukan risiko dominan atau paling berpengaruh pada proyek pembangunan infrastuktur bangunan gedung
8
bertingkat, serta memberikan tindakan mitigasi sebagai respon risiko terhadap risiko dominan dengan menggunakan metode House of Risk (HOR). Dari penelitian tersebut mengidentifikasi 18 variabel risiko, dan mendapatkan hasil perhitungan bahwa risiko dominan yang terjadi adalah proses pengadaan sumber daya terhenti dan belum dijadwal ulang. Tindakan mitigasi sebagai respon risiko yang tepat terhadap risiko dominan tersebut adalah pembuatan jadwal yag realistis dan membuat system pengawasan dan sanksi.
Penelitian yang dilakukan Liwoso (2020) yang berjudul Identifikasi dan Analisis Risiko pada Masa konstruksi Bangunan Bertingkat 4-40 Lantai di JABOTABEK terhadap Ruang Lingkup, Jadwal, dan Sumber Daya Proyek mengenai analisis manajemen risiko pada proyek pembangunan gedung tinggi yang bertujuan untuk mengetahui risiko dominan dan mengetahui upaya penanganan yang tepat untuk mengatasi risiko tersebut. Pada penelitian tersebut analisis data dilakukan secara bertingkat dimana pada tahap pertama untuk mengidentifikasi variabel-variabel risiko yang terjadi, tahap kedua untuk menganalisis variabel-variabel risiko yan telah diidentifikasi dan tahap ketiga untuk mengetahui alternatif penanganan terhadap variabel-variabel risiko yang telah dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 50 jenis variabel risiko dengan identifikasi 16 jenis variabel risiko berpengaruh terhadap ruang lingkup proyek, 20 jenis variabel berpengaruh terhadap jadwal proyek, dan 14 jenis variabel risiko berpengaruh terhadap sumber daya proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 6 risiko utama yang terjadi dalam proyek.
Penelitian yang dilakukan oleh T. M. William (1993), yang berjudul Risk Management Infrastruktur mengenai manajemen risiko infrastruktur. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa setiap proyek konstruksi memiliki risiko yang mungkin terjadi, terlebebih pada proyek pembangunan infrastruktur. Maka dari itu perlu adanya manajemen risiko infrastruktur untuk mengetahui dan memperkirakan risiko yang mungkin terjadi, mengetahui kriteria untuk
9
memilih infrastruktur dan mengetahui teknik yang tepat untuk merespon risiko yang terjadi.
Penelitian yang dilakukan oleh Situmorang, Tisano, dan Jermias, (2018) yang berjudul Analisis Risiko Pelaksanaan Pembangunan Proyek Konstruksi Bangunan Gedung mengenai analisis manajemen risiko yang bertujuan untuk mendapatkan faktor risiko dominan serta menentukan respon risiko yang tepat terhadap risiko dominan tersebut. Pada penelitian tersebut menggunakan metode penelitian survey menggunakan kuisioner. Analisis dimulai dari studi literature, kemudian melakukan penyebaran kuisioner kepada responden terpilih, selanjutnya analisis risiko dilakukan dengan cara mencari nilai yang mewakili terlebih dahulu yang berasal dari jawaban responden menggunakan metode Severity Index (SI), analisis dilanjutkan dengan menggunakan Matriks Probabilitas dan Dampak atau Probability Impact Matrix (PIM).Dari penelitian tersebut, didapatkan risiko dominan yaitu kurang tersedianya jumlah tenanga kerja, produktivitas tenaga kerja rendah, kenaikan harga material, kerusakan/kehilangan material, kerusakan peralatan konstruksi, dan keterlambatan dari jadwal, serta didapatkan respon yang tepat terhadap risiko dominan tersebut yaitu mencari dan memastikan tersedianya tenaga kerja sesuai kebutuhan, memastikan penggunaan tenaga kerja yang berkemampuan serta sistem kontrak tenaga kerja yang jelas, melakukan pemesanan material lebih awal sesuai jadwal kebutuhan atau memperbanyak supplier material alternative yang menawarkan kesiapan penyediaan material, meningkatkan kinerja dengan penambahan jam kerja dan metode evaluasi, memperketat tenaga security dan mengatur penempatan material pada tempat penyimpanan dengan efektif, melakukan service terhadap peralatan kosntruksi serta memiliki alternatif pengganti apabila kondisi peralatan konstruksi tidak memungkinkan.
Dan dalam penelitian yang dilakukan Lazuardi Gagah Mulyarko (2015) yang berjudul Analisis Pengaruh Risiko pada Kontrak Kerja Konstruksi terhadap Biaya Pekerjaan (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jalan Tol Bogor Ring
10
Road Seksi II A) mengenai analisis manajemen risiko yang bertujuan untuk mengetahui risiko dominan dan respon risiko yang tepat. Pada penelitian tersebut penelitian dimulai dengan identifikasi variabel risiko melalui studi literatur, kemudian melakukan pengumpulan data menggunakan metode survei dan wawancara terhadap responden yang berkaitan dengan proyek.
Analisis data menggunakan metode Severity Index dan Matriks Probability and Impact. Hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan variabel risiko yang signifikan yaitu kontraktor mendapat informasi yang jelas mengenai kondisi lapangan dan respon risiko yang dapat dilakukan adalah secara avoid dan mitigate.
Dalam penelitian yang dilakukan Abdul Mohsen Al Hammad dan Sadi Assaf (1996), yang berjudul Assessment of Work Perfomance of Maintenance Contactors in Saudi Arabia mengenai penilaian kinerja selama masa pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kriteria utama dari berbagai kriteria yang akan digunakan sebagai evaluasi. Penelitian tersebut dibagi menjadi dua tahap utama, yaitu fase pertama meliputi studi literatur dan wawancara mengenai kriteria atau variabel evaluasi, kemudian tahap kedua penyebaran kuisioner dan mengalisis hasil kusioner. Analisis data tersebut menggunakan metode Severty Index yang bertujuan untuk mengetahui bobot dan peringkat kepentingan dari masing-masing variabel. Setelah diketahui peringkat dari masing-masing variabel maka, didapatkan beberapa variabel yang memiliki bobot lebih dari 60% sehingga variabel tergolong sangat efektif sebagai evaluasi.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Proyek Konstruksi
Agar dapat memahami maksud dari proyek konstruksi,pertama hal yang perlu dipahami adalah pengertian dari proyek dan pengertian dari konstruksi. Dalam Project Management Institute (2004), dijelaskan bahwa proyek adalah suatu usaha sementara yang dijalankan untuk menyajikan suatu produk atau jasa.
Sedangkan, menurut Imam Soeharto (1997) kegiatan proyek dapat diartikan
11
sebagai satu kegiatan bersifat sementara yang berjalan dalam jangka waktu terbatas,dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas sasarannya telah digariskan dengan jelas. Tugas tersebut dapat berupa membangun membuat produk baru, pabrik atau melakukan penelitian dan pengembangan.Proyek memiliki perbedaan dengan suatu proses produksi, dalam proyek memiliki suatu permulaan dan suatu akhir sedangkan proses produksi lebih bersifat secara terus-menerus untuk periode waktu yang panjang dan tidak memiliki suatu permulaan yang pasti dan tidak jelas juga kapan waktu pemberhentiannya. Terdapat kesamaan antara proyek dan proses produksi terletak pada kebutuhan akan sumber dayanya, serta membutuhkan biaya dan perencanaan yang matang agar tujuannya masing-masing dapat diselesaikan dengan sukses.
Sedangkan, proyek konstruksi adalah suatu kegiatan yang dinamis dan berbeda sifatnya dengan kegiatan operasional rutin. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat proses pengolahan sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan berupa bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut Ervianto(2002), proyek konstruksi mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi yaitu :
1) Bersifat unik: tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persis (tidak ada proyek yang identik, yang ada adalah proyek sejenis), proyek bersifat sementara dan selalu melibatkan grup pekerja yang berbeda- beda.
2) Dibutuhkan sumber daya: setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber daya yaitu tenaga kerja, uang, peralatan, metode dan material.
3) Organisasi: setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya terlibat sejumlah individu dengan keahlian yang bervariasi. Langkah
12
awal yang harus dilakukan adalah menyatukan fisi menjadi satu tujuan yang ditetapkan organisasi.
Dalam proses mencapai tujuan proyek telah ditentukan tiga batasan/kendala yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, mutu dan jadwal yang harus dipenuhi atau lebih dikenal dengan triple constraint. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Apabila dilihat dari segi teknis,ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi (Imam Soeharto, 1997)
2.2.2 Tahap-tahap Pelaksanaan Proyek Konstruksi
Setiap proyek konstruksi bersifat unik, namun proyek konstruksi dapat didefinisikan sebagai suatu siklus hidup proyek yang khas. Siklus hidup poyek biasanya terdiri dari empat tahap utama yaitu :feasibility (studikelayakan),planning and design (perencanaan dan disain),production (konstruksi), serta start up and turn over.
Sumber:Project Management Institute.(2004).A Guide to the Project Management Body of Knowledge,third edition
Gambar 2.1 Siklus Kehidupan Proyek Konstruksi
13
a. Tahap Feasibility
Hal pertama yang harus dilakukan dari pengerjaan setiap pelaksanaan proyek konstruksi adalah penetapan konsep. Penetapan konsep ini dapat menjadi apapun mulai dari suatu struktur sampai suatu jalan raya hingga sebuah pembangkit tenaga listrik.Penerapan konsep dapat menjadi masuk akal dan praktis,criteria berikut perlu untuk dicapai (Cohen and Palmer, 2004, p. 1-2):
• Proyek dapat dikonstruksi secara fisik.
• Adanya teknologi dan keahlian untuk memungkinkan proyek dapat berjalan secara konsisten saat dilaksanakan dengan harapan dari konstituen.
• Keuntungan yang diharapkan dari proyek dalam membenarkan biaya (keduanya dalam hal sumber daya dan waktu) untuk implementasinya.
b. Tahap Planning and Design
Tahap perencanaan dan desain dari siklus hidup proyek pada dasarnya terdiri dari formulasi strategi yang bersifat berkelanjutan, serta pelaksanaan perencanaan dan desain. Selama tahap ini, parameter dasar untuk melaksanakan proyek ditetapkan dan ditentukan. Parameter- parameter ini berisi (Cohen and Palmer,2004, p. 1-2):
• Tipe kontrak (lumpsum, cost-plus,unit price).
• Kebutuhan rencana kerja utama (projectstart, substantial completion, comercial operation).
• Kebutuhan biaya utama (disain, peralatan,material,konstruksi).
• Perencanaan terperinci (proses manajemen konstruksi termasuk staffing,resources,procurement dan scopechange).
c. Tahap Production
Tahap konstruksi dari siklus hidup proyek adalah tahap dimana akan dilaksanakan aktualisasi dari fisik scope proyek untuk pekerjaan, dari segi
14
finalisasi untuk rekayasa terperinci sampai konstruksi proyek di lapangan.Tahap konstruksi ini biasanya terdiri dari beberapa komponen utama pada pekerjaan,antara lain (Cohen and Palmer, 2004, p. 1-2):
• Procurement material dan peralatan
• Pabrikasi dan pengiriman peralatan utama
• Mobilisasi
• Pekerjaan sipil dan lapangan
• Pekerjaan bangunan utama
• Instalasi peralatan
• Pekerjaan mekanikal
• Pekerjaan elektrikal
• Pekerjaan control dan instrumentasi
d. Tahap Startupand Turnover
Tahap akhir dari siklus hidup proyek adalah tahap startup dan turnover dimana pada tahap ini biasanya akan meliputi beberapa komponen utama antara lain(Cohenand Palmer, 2004, p. 2):
• Finaltesting (pengujian akhir)
• Commisioning (pengujian kehandalan peralatan)
• Systemturnover (system perpindahan)
• Contractcloseout (penutupan kontrak) Start dari operasi dan maintenance
2.2.3 Definisi dan Klasifikasi Risiko
Suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan akan selalu diikuti dengan risiko.
Risiko merupakan suatu akibat dari rencana yang dapat terjadi akibat prses
15
kegiatan atau aktivitas yang sedang berlangsung, kejadian yang akan datang atau terjadi secara tidak terduga.
Menurut Imam Soeharto(1997), risiko merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa di luar yang diharapkan. Sedangkan menuru Herman Damawi (2000),risiko m e r u p a k a n kemungkinan kerugian, ketidakpastian, penyebaran hasil actual dari hasil yang diharapkan, dan probabilitas suatu hasil (outcome) berbeda dengan hasil (outcome) yang diharapkan.
Harold Kerzner (1998) menjelaskan bahwa risiko adalah sebagai kegiatan- kegiatan atau faktor-faktor, yang apabila terjadi akan m e n i n g k a t k a n k e m u n g k n a n tidak tercapainya tujuan proyek yang berupa waktu, biaya, dan performa. Menurut Institut Manajemen Proyek (2004) risiko proyek diartikan sebagai kondisi yang tidak pasti, yang apabila terjadi akan memberikan efek negatif atau positif terhadap tujuan proyek.
Memahami konsep risiko secara luas merupakan hal dasar yang esensial untuk memahami konsep dan teknik manajemen risiko. Definisi risiko menurut Harold Kerzner, yaitu :
1) Risiko lebih mengacu pada kegiatan-kegiatan atau faktor-faktor, yang apabila terjadi akan meningkatkan kemungkinan tidak tercapainya tujuan proyek yang berupa waktu, biaya, dan performa.
2) Risiko adalah pengukuran probabilitas dan konsekuensi tidak tercapainya tujuan proyek yang telah ditetapkan
Risiko memiliki tiga komponen utama, yaitu berupa kegiatan (event), nilai kemungkinan terjadinya kegiatan tersebut(probability) dan akibat (impact) dari kegiatan tersebut apabila terjadi terhadap seluruh aktivitas proyek.
Menurut Kenzer, tiga komponen utama proyek tersebut akan sangat berpengaruh terhadap tujuan proyek. Secara umum, tujuan proyek yaitu waktu, biaya dan mutu atau yang lebih kita kenal dengan triple constrait.
16
Selaras dengan pendapat Kenzer, dan Sonhadji (2011) dimana risiko memiliki tiga komponen utama yang saling berkaitan. Komponen utama adalah kejadian, yang memiliki kemungkinan (probabilitas), dan akibat (dampak).
Ketiga komponen tersebut saling berhubungan, dan dapat dilihat dari bagan berikut :
(Sumber : Sonhajdi, 2011)
Gambar 2.2 Hubungan unsur Risiko
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa besar kecilnya risiko yang mempengaruhi suatu proyek adalah tergantung dari besar kecilnya ketidakpastian atau probabilitas terjadinya suatu kejadian atau kegiatan dan besar kecilnya dampak negatif (kerugian) yang mungkin ditimbulkan oleh aktivitas atau kejadian tersebut (Kenzer, 1998)
Dalam perkembangannya risiko-risiko yang dibahas dalam manajemen risiko dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu :
KEJADIAN
KEMUNGKINAN AKIBAT
(Probabilitas) (Impact)
17
1) Risiko Operasional
Risiko Operasional adalah risiko yang dapat timbul akibat tidak berfungsinya system internal,kesalahan manusia maupun kegagalan sistem. Sumber risiko opersional ini merupakan sumber risiko terluas dibandingkan dengan sumber risiko lainnya,selain bersumber dari kegiatan di atas juga bersumber dari kegiatan operasional dan jasa,system teknologi informasi, akuntansi, system informasi manajemen atau system pengelolaan sumber daya manusia.
2) Risiko Hazard
Risiko Hazard ini adalah suatu keadaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu musibah. Pengertian tersebut dapat diperluas meliputi berbagai keadaan yang dapat menimbulkan kerugian.
Risiko Hazard dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
a) Physical Hazard, adalah suatu keadaan yang bersumber pada karakterisik secara fisik dari suatu objek yang d a p a t memperbesar kemungkinan terjadi suatu musibah ataupun memperbesar suatu kerugian.
b) Moral Hazard,adalah suatu kondisi yang bersumber dari orang yang bersangkutan atau berkaitan dengan pandangan hidup serta kebiasaannya yang dapat memperbesar kemungkinan tejadinya suatu musibah ataupun kerugian.
c) Morale Hazard,adalah suatu kondisi yang bersumber dari perilaku manusia yang seringkali menimbulkan kecerobohan atau sikap yang kurang hati-hati. Pada dasarnya setiap orang tidak menginginkan terjadinya suatu kerugian, akan tetapi karena merasa bahwa ia telah memperoleh jaminan baik atas diri maupun harta miliknya maka kondisi tersebut masih sering terjadi.
d) Legal Hazard, adalah suatu kondisi dimana seringkali berdasarkan peraturan – peraturan ataupun undang – undang yang bertujuan melindungi masyarakat justru diabaikan ataupun kurang
18
diperhatikan sehingga dapat memperbesar terjadinya suatu musibah.
3) Risiko Finansial
Risiko Finansial merupakan suatu risiko yang dialami oleh investor sebagai akibat dari ketidakmampuan emiten saham dan obligasi untuk memenuhi kewajiban pembayaran deviden atau bunga serta pokok pinjaman.
4) Risiko Strategi
Risiko strategi merupakan risiko yang terjadi karena serangkaian kondisi yang tidak terduga yang dapat mengurangi kemampuan manajer untuk mengimplementasikan strateginya secara signifikan.
2.2.4 Manajemen Risiko
Djojosoedarsono (1999) menjelaskan bahwa manajemen risiko adalah sebuah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi perusahaan, keluarga dan masyarakat, yang mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, memimpin dan mengawasi upaya penanggulangan. Sedangkan menurut Flanagan dan Norman (1993), manajemen risiko merupakan sebuah cara untuk mengidentifikasi dan mengukur seluruh risiko dalam suatu proyek atau bisnis sehingga dapat diambil sebuah keputusan bagaimana mengelola dan merespon risiko tersebut.
Setiap proyek konstruksi memiliki risiko yang mungkin terjadi. Risiko tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi dan dapat dipindahkan sehingga dapat dikontrol. Pemahaman akan risiko sangat penting dan sangat diperlukan dalam mengidentifikasi dan menganalisis secara sistematis, menangani dan melakukan kontrol terhadap pencapaian tujuan proyek sesuai dengan waktu (time), biaya (cost), dan mutu. Manajemen risiko memiliki tujuan untuk mengenali risiko sehingga dapat direncanakan penanganan yang akan dilakukan terhadap risko yang akan muncul. Strategi yang digunakan harus
19
diperhitungkan dengan baik agar mampu mengurangi bahkan menghilangkan risiko.
Menurut Kenzer (1995), dalam manajemen risiko memiliki 4 tahapan sebagai berikut :
1. Identifikasi risiko
Identifikasi risiko merupakan tahap untuk menentukan risiko-risiko yang dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek. Tujuan dari identifikasi risiko adalah untuk mengetahui kelompok dan faktor penyebab risiko serta hal yang mempunyai pengaruh yang dominan pada proyek. Untuk mempermudah pembuatan daftar risiko yang menyeluruh, maka dalam proses ini sebaiknya risiko-risiko yang mungkin terjadi dikelompokkan dalam beberapa kelompok.
Pengelompokan ini membantu dalam penentuan tindakan pencegahan serta penanganan risiko.
Sejumlah metode yang tersedia untuk mengidentifikasi risiko dapat ditemukan dalam literature manajemen risiko.Menurut PMBOK 2008,untuk mengidentifikasi risiko dapat dilakukan dengan tekniks sebagai berikut : a. Brainstorming
Edwards (1995) menjelaskan bahwa brainstorming adalah metode yang efektif untuk mengidentifikasi risiko, namun untuk mempertahankan dan mendorong setiap peserta untuk mengembangkan ide-ide lebih, fasilitator terampil dan berpengalaman diperlukan. Dalam suatu tim proyek dapat mengajak para ahli diluar tim untuk berdiskusi dimana hasilnya adalah identifikasi risiko yang dapat digunakan acuan dalam proyek.
b. Delphi Technique
Chapman(1998) Delphi Technique menggunakan dua kelompok yang berbeda, yaitu sekelompok ahli dan sekelompok orang yang merupakan pekerja proyek. Kuisioner dibagikan kepada kelompok peserta dan tanggapan
20
yang diterima dirangkum oleh kelompok ahli.
c. Interviewing
Interviewing dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko potensial. Risiko yang dapat diperoleh dari pengalaman manajer proyek yang berpengalaman atau tenaga ahli dalam proyek, dari informasi yang terpublikasikan atau dari sumber lain yang dianggap membantu.
d. Root Cause Identification
Root Cause Identification merupakan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab penting dari risiko. Dengan menggunakan data dari suatu peristiwa risiko, teknik ini memungkinkan untuk mengetahui apa dan bagaimana hal itu terjadi,dan mengerti penyebab hal itu terjadi, sehingga dapat menemukan tanggapan untuk mencegah risiko terjadi kembali. Dalam Root Cause Identification ada beberapa pilihan teknik yang dapat digunakan, antara lain Barrier Analysis, Fault Tree Analysis, dan Pareto Analysis.
e. Strength, Weakness, Opportunities and Threats Analysis
Teknik ini dilakukan dengan memeriksa proyek dari perspektif masing- masing aspek yakni kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman untuk meningkatkan pemahaman dan cakupan risiko yang lebih luas. Proses identifikasi risiko lebih baik dilakukan dengan menggolongkan variabel jenis risiko menjadi beberapa.
2. Analisis risiko
Menurut Flanagan dan Norman (1993) menjelaskan bahwa pada tahap analisis risiko,berbagai hasil dari setiap keputusan yang dibuat harus dianalisis.Dapat disimpulkan bahwa, analisis risiko memberikan gambaran apa yang terjadi jika risiko terjadi dan jika rencana tidak mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan.
Terdapat berbagai cara analisis risiko yang dapat digunakan. Berikut adalah
21
dua cara analisis risiko, meggunakan analisis risko kualitatif dan analisis risko kuantitatif.
a. Analisis Risiko Kualitatif
Analisis kualitatif dalam manajemen risiko adalah proses menilai impact (dampak) dan kemungkinan dari risiko yang sudah diidentifikasi untuk penanganan lebih lanjut. Proses ini dilakukan dengan menyusun risiko berdasarkan dampak terhadap tujuan proyek, analisis ini merupakan salah satu cara menentukan bagaimana pentingnya memperhatikan risiko-risiko tertentu dan bagaimana respon yang akan diberikan (PMBOK, 2004).
Analisis kualitatif memerlukan teknik tertentu untuk bisa mengevaluasi risiko berdasarkan kemungkinan dan dampaknya. Hal-hal yang perlu dijadikan masukan dalam analisis ini antara lain :
• Risk managemen plan
• Risiko yang sudah di identifikasi
• Status proyek
Tingkat ketidakpastian dari suatu risiko biasanya akan bergantung pada kemajuan proyek dalam siklus hidupnya. Pada tahap awal pelaksanaan proyek, beberapa risiko mungkin belum muncul seperti desain proyek yang belum matang dan akan mengakibatkan banyak perubahan, sehingga masih banyak risiko yang akan muncul. Hasil analisis secara kualitatif bisa dianalisis lebih lanjut dengan analisis risiko secara kuantitatif atau langsung menuju tindakan penanganan risiko.
b. Analisis Risiko Kuantitatif
Menurut PMBOK, (2004) dijelaskan bahwa, analisis risiko kuantitatif adalah proses menganalisis secara numerik probabilitas dari setiap risiko dan konsekuensinya terhadap tujuan proyek. Analisis ini biasanya mengikuti analisis kualitatif,apakah perlu dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan, hal ini bergantung pada ketersediaan biaya dan waktu, serta apakah perlu menyatakan risiko secara kualitatif dan kuantitatif serta dampak-dampaknya. Berikut adalah tahapan dari analisis kuantitatif :
22
• Menentukan nilai informasi dan aset baik secara tangible dan intangible.
• Menentukan estimasi kerugian untuk setiap risiko yang teridentifikasi.
• Melakukan analisis risiko.
• Memperoleh risiko yang berpotensi terjadi.
• Memilih langkah-langkah atau strategi penanganan untuk setiap risiko.
Menentukan aksi untuk merespon risiko yang ada.
Selanjutnya menurut PMBOK (2004), sebelum dilakukan analisa kuantitatif, risiko-risiko sudah diidentifikasi dan harus dapat dinilai besarnya potensi kerugian sertakemungkinan yang terjadi. Hasil ini mungkin sederhana untuk dihitung, atau tidak mungkin diukur secara pasti. Oleh karena itu,dalam proses penilaian sangat penting untuk membuat estimasi-estimasi terbaik dari sisi akademis dengan maksud untuk memprioritaskan implementasi rencana manajemen risiko secaratepat
3. Penanganan risiko
Penanganan risiko adalah suatu proses pengembangan pilihan-pilihan dan penentuan tindakan yang berupa proses, teknik,dan strategi untuk memperbesar kesempatan dan mengurangi ancaman risiko yang mungkin terjadi. Penanganan risiko harus sesuai dengan tingkat besarnya kecilnya risiko, disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat, biaya efektif dalam memenuhi tantangan,berhasil secara tepat waktu,dalam konteks proyek yang realistis, dan dimiliki oleh personil yang bertanggungjawab. Dalam penanganan risiko terdapat beberapa metode yang dapat dipilih untuk menyelesaikan risiko,antara lain:
a. Menghindari risiko (avoid)
Metode ini dilakukan dengan cara mengubah rencana proyek untuk menghilangkan risiko atau untuk melindungi sasaran proyek dari pengaruh atau akibatnya yang ditimbulkan.
b. Memindahkan risiko(transfer)
Memindahkan risiko dilakukan dengan mencari pertukaran atau
23
melimpahkan konsekuensi kepada pihak ketiga bersama dengan kepemilikan respon.
c. Mitigasi risiko
Mitigasi risiko merupakan metode dengan cara investigasi untuk mengurangi peluang dan dampak dari suastu kejadian risiko terhadap ambang batas yang dapat diterima.
d. Menerima risiko
Menerima risiko merupakan metode yang dapat dilakukan apabila tim proyek memutuskan untuk tidak mengubah rencana proyek berkaitan dengan suatu risiko atau tidak mampu untuk mengidentifikasi strategi respon yang memadai lainnya
e. Berbagi risiko
Berbagi risiko merupakan merupakan metode dengan cara penggabungan dari metode menerima risiko dan metode memindahkan risiko artinya sebagian risiko ditanggung sendiri, sebagian lainnya dipindahkan kepihak lain yang bersedia menerimanya
f. Memonitor risiko
Memonitor risiko merupakan metode yang dilakukan dengan cara memonitoring terhadap risiko-risiko residual, mengidentifikasi risiko baru,mengeksekusi rencana pengurangan risiko (risk reduction plans), dan mengevaluasi tingkat efektivitasnya selama umur proyek
4. Lesson-learned
Tahap lesson-learned merupakan metode yang dapat dilakukan dengan menyimpulkan dan mempelajari kembali analisis dan pelajaran mengenai manajemen risiko yang dapat digunakan untuk waktu yang akan datang.
2.2.5 Skala Likert
Menurut Sugiyono (2009) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam skala ini menggunakan item yang secara pasti baik dan secara pasti buruk. Item yang pasti disenangi, disukai, yang baik diberi tanda (-).
24
Skala ini menggunakan ukuran ordinal sehingga dapat membuat ranking walaupun tidak diketahui berapa kali satu responden lebih baik atau lebih buruk dari responden lainnya. Berikut prosedur dalam Skala Likert adalah sebagai berikut:
1 Pengumpulan item-item yang cukup banyak dan relevan dengan masalah yang sedang di teliti
2 Item-item tersebut dicoba kepada responden.
3 Pengumpulan responsi dari responden untuk kemudian diberikan skor, untuk jawaban yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor tertinggi.
4 Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing item dari individu tersebut.
5 Reponsi di analisis untuk mengetahui item mana yang sangat nyata, batasan antara skor tinggi dan skor rendah dalam skala total. Untuk mempertahankan konsistensi internal dari pertanyaan, maka item yang tidak menunjukkan korelasi dengan total skor atau tidak menunjukkan beda yang nyata apakah masuk ke dalam skor tinggi atau skor rendah di buang.
Untuk kelebihan Skala Likert sendiri, adalah sebagai berikut :
1. Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas korelasinya masih dapat dimasukkan dalam skala.
2. Mampu memperlihatkan item yang dinyatakan dalam beberapa responsi alternatif.
3. Dapat memberikan keterangan yang lebih nyata tentang sikap atau sikap respoden.
Dalam penelitian ini nantinya Skala Linkert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi responden mengenai kepastian pernyataan yang diajukan dalam kuisioner, pernyataan tersebut mengenai kepastian akan
25
frekuensi terjadinya suatu risiko pada variabel risiko yang telah ditentukan.
2.2.6 Skala Guttman
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Menurut Sugiyono, 2009 skala ini mempunyai ciri penting, yaitu merupakan skala komulatif dan mengukur satu dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi sehingga skala ini termasuk mempunyai sifat undimensional.
Skala Guttman yang disebut juga dengan metode scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi universal atau atribut universal. Skala pengukuran tipe ini akan didapat jawaban yang tegas yaitu “iya atau tidak”,
“benar atau salah”. Adapun skring perhitungan dalam skala Guttman sebagai berikut :
Tabel 2.1 Skoring skala Guttman
Alternatif Jawaban Skor Alternative Jawaban
Positif Negative
Ya 1 0
Tidak 0 1
(Sumber : Rizky Djati Munggaran, 2012)
Langkah-langkah untuk membuat Skala Guttman adalah sebagai berikut : 1. Menyusun sejumlah pernyataan yang relevan dengan masalah yang ingin
diselidiki.
2. Melakukan penelitian permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan diselidiki.
3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban ekstrim tidak disetujui dibuang. Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80%responden.
4. Menyusun jawaban pada tabel Guttman.
5. Menghitung koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
26
2.2.7 Severty Index (SI)
Konsep severity index dipakai untuk mengetahui nilai P (Probability) dan I (Impact). Menurut Al-Hammad et al., 1996) keunggulan konsep severity index adalah dapat mempermudah pengklasifikasian. Dimana Serverity Index (SI) dihitung menggunakan rumus :
SI = ∑ ai.xi
4 ∑ xi (Rumus ... ... 2.1)
Dimana,
ai = Konstanta penilaian xi = Frekuensi responden i = 0, 1, 2, 3, 4, . . . ,n
Dengan,
a0 = 0 x0 = untuk jawaban SJ (Sangat Jarang) a1 = 1 x1 = untuk jawaban J (Jarang)
a2 = 2 x2 = untuk jawaban C (Cukup) a3 = 3 x3 = untuk jawaban S (Sering)
a4 = 4 x4 = untuk jawaban SS (Sangat sering)
Pada penelitian ini, konsep severity index digunakan sebagai alat untuk mempermudah perhitungan data kuisioner. Setelah hasil didapatkan maka selanjutnya dikonversikan ke dalam tabel matriks probabilitas dan dampak(Probability Impact Matrix).
2.2.8 Matriks Probabilitas dan Dampak (Probability Impact Matrix) Risiko dapat diprioritaskan untuk dianalisis lebih lanjut secara kuantitatif dan tindakan (response) berdasarkan ukuran (rating) risiko. Ukuran risiko didasarkan pada peluang dan dampaknya. Tingkat kepentingan dan prioritas risiko dapat dievaluasi dan diperhatikan dengan menggunakan bantuan tabel matriks probabilitas dan dampak.
27
Matriks probabilitas dan dampak digunakan untuk mengukur tingkat risiko.
Tingkat risiko didapatkan dari perkalian bobot probability dan bobot impact yang didapat dari responden. Untuk mengukur tingkat risiko digunakan rumus sebagai berikut :
R = PxI (Rumus ...2.2)
Keterangan
R = Tingkat Risiko
P =Kemungkinan (probability) risiko yang terjadi
I = Tingkat dampak (impact) risiko yangterjadi
Setelah diketahui tingkat risiko masing-masing variabel, selanjutnya risiko dapat diplotkan dalam matriks probabilitas dan dampak untuk mengetahui mana variabel risiko yang memiliki risiko paling dominan dan berdampak besar bagi proyek. Berikut adalah matriks probabilitas dan dampak :
5 5 10 15 20 25
4 4 8 12 16 20
3 3 6 9 12 15
2 2 4 6 8 10
1 1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
Impact (Sumber : PMBOK Guide 2004)
Gambar 2.3 Matriks Probabilitas dan Dampak
Probability
HIGH MEDIUM
LOW
28
2.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bagian dari populasi yang benar-benar diteliti oleh sebuah peneliti.
Sampel yang baik harus representative (mewakili populasi) dan memiliki sifat yang homogeny (sejenis).Berdasarkan aspek peluang pemilihan dan pengacak ansampel dibagi menjadi :
1. Sampel Probabilistik
Sampel probabilistik adalah sampel yang memperhatikan peluang pada pemilihan anggota sampel. Dimana dasar sampel probabilistik adalah sampel acak. Sampel acak adalah sampel yang diambil dari populasi dimana setiap anggotanya mempunyai peluang yang sama terpilih menjadi anggota sampel.
Berikut adalah jenis-jenis sampel probabilistik
• Sampel acak sederhana
Setiap anggota populasi diberi nomor, kemudian dilakukan pengambilan anggota populasi secara acak (dengan undian atau tabel bilangan acak).
• Sampel sistematik
Setiap anggota populasi diberi nomor, kemudian anggota pertama dalam sampel dipilih acak dari populasi.
• Sampel berstrata atau berlapis
Populasi memiliki beberapa tingkatan atau strata. Data dalam setiap tingkatan cenderung homogen,dan antar tingkatan cenderung heterogen.
• Sampel gerombol (cluster)
Populasi memiliki beberapa kelas atau kelompok. Data dalam setiap gerombol cenderung heterogen, dan antar kelompok cenderung homogen.
2. Sampel Non-Probabilistik
Sampel non-probabilistik adalah sampel yang tidak memperhatikan sapek peluang pada pemilihan anggota sampel. Sampel non-probabilistik diambil dari populasi yang convenient, tidak ada syarat peluang yang sama untuk
29
setiap anggota populasi terpilih menjadi anggota sampel. Berikut adalah jenis-jenis dari sampel non-probabilistik,yaitu:
• Sampel haphazard
Merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan tiba-tiba berdasarkan siapa yang ditemui oleh peneliti. Kelebihan dari pengambilan sesaat ini adalah kepraktisan dalam pemillihan anggota sampel.
Sedangkan, kekurangannya adalah belum tentu respon den memiliki karakteristik yang dicari oleh peneliti.
• Sampel sukarela (voluntary)
Merupakan salah satu jenis sample yang non probalbity. Sampel dipilih dari anggota populasi yang secara sukarela berkenan di data. Terkadang anggota populasi tersebut tertarik dengan tema utama survei.
• Sampel purposive
Merupakan pemilihan anggota sampel yang didasarkan atas tujuan danpertimbangan tertentu dari peneliti. Kelebihan dari pengambilan menurut tujuan ini adalah tujuan dari peneliti dapat terpenuhi.
Sedangkan,kekurangannya adalah belum tentu mewakili keseluruhan variasi yang ada.
• Sample bola salju (snowball)
Merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan system jaringan responden.Dimulai dari mewawancarai satu responden kemudian, responden tersebut menunjuk responden lain dan responden lain tersebut menunjuk responden berikutnya. Hal ini dilakukan secara terus-menerus hingga terpenuhinya jumlah anggota sampel yang diinginkan oleh peneliti.
Kelebihan dari pengambilan beruntun ini adalah peneliti bisa mendapatkan responden yang ahli di bidangnya. Sedangkan,kekurangannya adalah memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu mewakili keseluruhan variasi yang ada.
• Sample kuota
Merupakan pengambilan anggota sampel berdasarkan jumlah yang
30
diinginkan oleh peneliti. Kelebihan dari pengambilan menurut jumlah ini adalah praktis karena jumlah sudah ditentukan dari awal. Sedangkan, kekurangannya adalah bias, belum tentu responden yang ada mewakili seluruh anggota populasi sampel
2.4 Variabel Risiko
Dari hasil penelitian terdahulu dan dari berbagai literatur yang terkait dengan penelitian ini, maka diperoleh hasil berupa sumber risiko dan variabel-variabel risiko yang berpengaruh. Sumber risik dan variabel- variabel risiko dapat dilihat pada Tabel 2.2 di bawah ini :
31 Tabel2.2 Sumber danVariabel Risiko Berdasarkan Berbagai Literatur.
NO SUMBER
RESIKO FAKTORRESIKO
PENGARANG
(D)
(A) (B) (C) P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14
A Lingkungan
Bencana Alam ✓ ✓ ✓ ✓
Kebakaran
Cuaca buruk ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Polusi ✓ ✓
Tidak Ramah Lingkungan ✓
Degradasi Alam ✓
B Ekonomi
danFinansial
Inflasi ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Fluktuasi nilai tuka rmata uang ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Analisa pasar yang buruk ✓
Kesalahan analisa investor ✓
Perkiraan biaya yang tidak sesuai ✓
Daya beli konsumen ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Resiko pasar
Kenaikan pajak ✓ ✓ ✓
Fluktuasi suku bunga ✓ ✓ ✓
Pendapatan perkapita ✓
Likuiditas akibat krisis ✓
32 Tabel2.2 Lanjutan
C Politik dan Lingkungan
Perang ✓ ✓ ✓
Embargo ✓
KetersedianPekerja ✓
Distribusi material akibat macet ✓
Korupsi ✓ ✓ ✓
Protesdari buruh,ahli lingkungan dan
masyarakat ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Stabilitas politik ✓
Satbilitas Ekonomi ✓
Perbedaan budaya,bahasa,agama ✓
Tingkat kriminalitas ✓ ✓ ✓
Penemuan arkeologi di lokasi proyek ✓
Vandalisme ✓
Keterlambatan birokrasi
Sikap pemerintah terhadap investor ✓
D Hukum
Peraturan keamanan ✓
Ketidakpastian peraturan ✓ ✓
Kebijakan ekspor,impor ✓
Sistem peradilan yang bertentangan
Prosespersetujuanyangrumit ✓ ✓ ✓ ✓
Perubahan peraturan ✓ ✓
Peraturan daerah ✓
33
Tabel2.1 Lanjutan
E Tender dan Kontrak
Pembatalan tender ✓
Price dumping oleh kompetitor ✓ Kontrak yang tidak
menguntungkan
✓ ✓
Kompetisi antar kontraktor ✓ ✓
D Design
Design yang tidak sesuai ✓ ✓ ✓ ✓
Designyangtidakefektif ✓
Kesalahan dan KelalaianDesign ✓ ✓ ✓
Kurangnya spesifikasi ✓ ✓ ✓
Tidak lengkapnya design ✓
Design yang tidak setujui ✓ ✓ ✓
Kualitas design ✓
Lambatnya respon perubahan design
✓
Terbatasnya inovasi dan kreatifitas
✓
Permasalahan design ✓ ✓ ✓ ✓
E ManajemenP royek
Kesalahan pemilihan tim ✓ Keselahan jadwal pekerjaan ✓
Pengkoordinasian yang buruk ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ Manajemen sumberdaya yang
buruk
✓
SDA terbatas ✓ ✓
Perbedaan standar
keamanan dan kesehatan ✓ ✓
Cashflow unbalance ✓
Pengaruh terhadap proyek lain
Perubahan manajemen ✓
Keterlambatan kepemilikan
lokasi proyek ✓ ✓
Pembatalan oleh pihak terkait ✓ Kebutuhan yang tidak jelas ✓
Kualitas kontraktor ✓ ✓
Kurangnyakomitmenmanajeme n
✓ ✓
Hubungan yang tidak baik antar tim
✓ ✓
34
Tabel2.2 Lanjutan
Keterlambatan dalam
menyelesaikan masalah ✓
Prestasi yang tidak pasti ✓ ✓
Kurangnya informasi ✓ ✓
Tidak konsistennya biaya,
waktu dan lingkup pekerjaan ✓
Konflik SDM disatuorganisasi ✓
Permasalahan keuangan dari owner
✓ ✓ ✓
Permasalahan keuangan dari kontraktor
✓ ✓
Kegagalan sub kontraktor ✓
Kesalahan rencana anggaran ✓ ✓ ✓ ✓
Pemotongan dana ✓ ✓
Modal ✓ ✓
Pembayaran yang terlambat ✓ ✓
F Pengerjaan
Konstruksi
Kerusakan Struktur ✓
Kerusakan Peralatan ✓ ✓ ✓
Kecelakaan Pekerja ✓
Kebakaran material dan alat ✓ Kesalahan identifikasi keadaan tanah
✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Pekerja yang absen ✓
Kualitas pekerja ✓
Distribusi material akibat macet
✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Kualitas material ✓ ✓ ✓
Kesalahan teknik konstruksi ✓ ✓ ✓ ✓
Pengontrolan kualitas ✓ ✓ ✓ ✓ ✓
Batasan pekerjaan ✓
35
Tabel2.2Lanjutan
G Teknologi
Ketersediaanalat ✓
Adaptasi alat ✓ ✓
Kelengkapan alat ✓
Daya guna alat ✓
Mesin ✓
H Lain-lain Kepemilikan hak cipta ✓
Penanggungjawaban data ✓
(Sumber, Sinta 2011)
Keterangan Pengarang Tabel 2.2
P1 Al-Bahar dan Crandall (1990) P8 Sharma (2013)
P2 Kim dan Bajaj (2000) P9 Zou dan Couani (2012)
P3 Skorupka (2003) P10 Chapman (2001)
P4 Zhi (1995) P11 Sandyavitri (2009)
P5 De Marco dan Thaeem (2014) P12 Azhar, et al (2008)
P6 Dey (2009) P13 Smith, et al (1999)
P7 Chileshe (2012) P14 Flanagan dan Norman (1993)
36
2.5 Rencana Variabel Penelitian
Identifikasi risiko dilakukan dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang merujuk dengan tujuan idetifikasi risiko dari literatur atau referensi yang sudah dipelajari serta melihat sesuai kondisi proyek. Berikut adalah tabel rencana variabel risiko dalam penelitian di bawah ini
Tabel 2.3 Rencana Variabel Penelitian Kode
Risiko
Sumber Risiko Variabel Risiko Referensi
V1 Lingkungan Kondisi Cuaca yang Buruk Flanagan dan Norman (1993) V2 Design Design yang tidak sesuai
dengan lapangan
Chapman (2001)
V3 Lambatnya respon perubahan
desain
Zou dan Couani (2012) V4
Pengerjaan Konstruksi
Kerusakan struktur Flanagan dan Norman (1993)
V5 Kerusakan peralatan Flanagan dan
Norman (1993)
V6 Kecelakaan Pekerja Chileshe (2012)
V7 Kualitas material tidak sesuai Sharma (2013)
V8
PANDEMI COVID-19
Keterlambatan pengiriman material akibat PSBB dan PPKM
Project
V9 Ketidaktersediaan peralatan
Konstruksi akibat PSBB dan PPKM
Project
V10 Ketidaktersedian material
akibat PPKM
Project
V11 Produktivitas pekerja rendah
akibat PSBB dan physical distancing
Project
V12 Pekerja terpapar COVID-19 Project
V13
Hasil
Pengamatan
Tempat penyimpanan material yang kurang luas
Pengamatan
V14 Akses transportasi
pengiriman yang kurang baik
Pengamatan