4
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Ergonomi
Ergonomi bersumber dari bahasa latin yang antara lain ergon atau kerja dan nomos atau aturan/kaidah, yang merupakan ilmu yang mempelajari dan menganalisis berbagai faktor manusia dalam lingkungan kerja seperti faktor anatomi, fisiologi, psikologi, teknik, manajemen serta desain. Ergonomi adalah ilmu yang digunakan untuk meninjau optimasi, kesehatan, efisiensi, keselamatan serta kenyamanan dalam suatu pekerjaan. Ergonomi dapat diartikan seperti ilmu tentang bagaimana penerapan serta penyesuaian pekerjaan dan lingkungan dengan manusia guna meningkatkan produktivitas penggunaan faktor manusia secara optimal (Suma’mur, 1981). Tujuan penerapan ergonomi adalah untuk mengurangi jumlah cedera selama bekerja, peningkatan dalam bidang efisiensi kerja, kenyamanan, kesejahteraan fisik, mental dan sosial serta menyeimbangkan faktor teknis, ergonomis, antropologis dan budaya dari tiap-tiap unsur pekerjaan.
Terdapat pandangan yang sama dari faktor pendekatan teori ergonomi dengan human factor engineering, kedua teori tersebut menjelaskan hubungan antara kepribadian pekerja dengan ketentuan tugas yang berguna untuk mengurangi hambatan dalam pekerjaan baik fisik serta mental. Jika dilihat dari aspek teknologi, adalah salah satu aplikasi yang memberikan informasi keperluan manusia yang ditujukan untuk produksi barang buatan serta sistem kerja manusia guna pencapaian dalam tujuan kerja yang efektif dan efisien.
2.2. Metode Ergonomi
Berikut ini merupakan metode yang diterapkan untuk menilai ergonomi atau tidaknya dalam suatu lingkungan kerja (Iridiastadi, 2014):
1. Diagnosis, melakukan wawancara terhadap pekerja, inspeksi tempat kerja, mengevaluasi fisik kerja, menguji pencahayaan, ergonomik checklist serta evaluasi lingkungan kerja yang lain. Jenis evaluasi atau penilaian dilakukan secara meluas dimulai dari hal yang sederhana hingga hal yang kompleks.
5 2. Treatment, data dasar yang didapatkan dari hasil analisis menjadi faktor
penting untuk memecahkan masalah ergonomi yang akan dilakukan. Terkadang mengenai hal-hal sederhana seperti mengubah letak meubel, menyesuaikan letak pencahayaan maupun jendela, menyesuaikan furniture yang digunakan dengan dimensi fisik para pekerja.
3. Follow-up, mengevaluasi dengan cara subyektif seperti bertanya tentang kenyamanan maupun keluhan yang dirasakan para pekerja atau dengan cara obyektif seperti kriteria produk yang ditolak, jumlah ketidakhadiran karena sakit, jumlah kecelakaan dan lain-lain.
2.3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Berdasarkan ILO dan WHO, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu upaya dalam memelihara dan meningkatkan standar kesehatan para pekerja secara fisik, mental serta sosial. Namun secara umum K3 merupakan suatu wawasan yang meninjau tentang cara menerapkan upaya pencegahan penyebab terjadinya kecelakaan kerja.
Berikut ketentuan keselamatan kerja menurut Peraturan perundangan pada Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3, yaitu:
1. Untuk pencegahan dan meminimalisir kecelakaan kerja;
2. Untuk pencegahan, meminimalisir serta memadamkan kebakaran; 3. Untuk pencegahan dan meminimalisir ledakan;
4. Memberikan peluang dalam mempelajari strategi penyelamatan diri saat kebakaran atau terjadinya hal berbahaya lainnya;
5. Memberikan bantuan pada kecelakaan yang terjadi;
6. Memberikan alat-alat perlindungan diri kepada para pekerja guna mencegah serta mengendalikan munculnya atau penyebaran suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara maupun getaran;
7. Untuk pencegahan dan pengendalian penyebab penyakit yang disebabkan dari kerja fisik maupun psikis, keracunan, infeksi serta penularan;
6 9. Penyelenggaraan suhu dan kelembaban udara yang baik;
10. Penyelenggaraan penyegaran udara yang cukup. 11. Memperhatikan kebersihan, kesehatan serta ketertiban;
12. Mencapai keseimbangan antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan serta cara dan proses kerja;
13. Keamanan serta kelancaran pengakutan orang, binatang, tanaman maupun barang;
14. Keamanan serta perawatan segala jenis bangunan;
15. Keamanan serta kelancaran pekerjaan bongkar muat, perlakuan maupun penyimpangan barang;
16. Untuk pencegahan terkena aliran listrik yang berbahaya;
17. Penyesuaian serta penyempurnaan pengamanan pada pekerjaan yang kemungkinan terjadinya kecelakaan kerjanya tinggi.
2.4. Pengendalian Kecelakaan Kerja
Dalam proses mengidentifikasi bahaya K3, harus dilakukan oleh organisasi seperti apakah sudah dilakukan pengontrolan dalam organasasi serta apakah pengontrolan tersebut sudah cukup layak untuk mengidentifikasi suatu biaya. Pada saat mendeskripsikan kontrol maupun melakukan perubahan yang telah ada, diperlukannya organisasi untuk menghitung tahapan kontrol atau pengendalian bahaya.
Sesuai persyaratan OHSAS 18001:200, pada tahapan perencanaan dalam mengidentifikasi bahaya, perusahaan perlu mempunyai persyaratan guna mewujudkan hierarki kontrol. Hirarki mengendalikan bahaya memiliki arti memprioritaskan dalam memilih dan melaksanakan penanganan yang berkaitan dengan bahaya K3.
7 Gambar 2.1 Hirarki Pengendalian Resiko Bahaya
Pada hakikatnya, hirarki ini memiliki urutan pertimbangan kontrol agar dapat memilih penerapan satu atau kombinasi dari beberapa kategori kontrol.
2.5. HIRADC (Hazard Identification, Risk Assestment, Determining Control) Manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu cara pengendalian bahaya yang menyebabkan bahaya kesehatan serta keselamatan kerja dalam rangka pencegahan timbulnya kecelakaan kerja yang tidak diharapkan terjadi secara menyeluruh, terancang serta terorganisir dalam sistem yang sempurna. Besar kecilnya kemungkinan tergantung dari faktor penyebab timbulnya kecelakaan kerja, insiden maupun berat ringannya insiden yang diakibatkan (Ramli, 2010). Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang banyak digunakan di industri global adalah OHSAS 18001:200. Menurut syarat-syarat dalam OHSAS 18001, organisasi perlu menentukan prosedur atau tahapan serta mengidentifikasi bahaya (Hazard Identification), melakukan penilaian resiko (Risk Assessment) dan pengendalian resiko (Determining Control) atau dapat disebut HIRADC. Eliminasi Substitusi Rekayasa Teknis Administrasi APD
Menghilangkan fisik dari
Mengganti bahaya
Mengisolasi Manusia dari bahaya
Merubah cara melakukan pekerjaan/prosedur Menggunakan alat pelindung diri
Paling Efektif
Kurang Efektif
8 HIRADC adalah elemen penting yang digunakan dalam penentuan objektif serta perencanaan K3 pada sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (Septyani dan Tjipto, 2014).
2.6. Langkah Penerapan HIRADC
Berikut ini merupakan 3 langkah tahapan HIRADC, yaitu: 1. Identifikasi Bahaya
Teknik yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya adalah Teknik pasif yang bersumber pada pengalaman diri sendiri, Teknik semiproaktif yang bersumber pada pengalaman orang lain, serta Teknik proaktif yang bersumber pada analisis bahaya sebelum terjadi.
2. Penilaian Resiko
Apabila telah diketahui risiko bahaya apa saja yang akan terjadi, bahaya tersebut diperlukan analisis lanjutan guna mengetahui kategori risikonya seperti risiko besar, risiko sedang, risiko kecil maupun risiko yang dapat diabaikan. Evaluasi tersebut dilakukan menurut kategori kemungkinan risiko dan penetapan dampak yang akan terjadi. Kemudian hasil kategori kemungkinan serta dampak tersebut akan dimasukkan kedalam tabel matriks risiko guna mengetahui peringkat dari masing-masing risiko.
Tabel 2.1 Kategori Kemungkinan Resiko
Tingkat Uraian Contoh Rinci
1 Jarang Terjadi Bisa terjadi pada kondisi tertentu
2 Kadang Terjadi Bisa terjadi, namun kemungkinan kecil
3 Dapat Terjadi Bisa terjadi, tetapi tidak akan sering
4 Sering Terjadi Bisa terjadi beberapa kali dalam rentang waktu tertentu
5 Hampir Pasti Terjadi Setiap saat bisa terjadi pada keadaan normal
9 Tabel 2.2 Kategori Dampak Resiko
Tingkat Uraian Contoh Rinci
1 Tidak Signifikan
Kecelakaan yang tidak mengakibatkan kerugian maupun cedera atau luka yang membahayakan
manusia
2 Kecil Mengakibatkan luka ringan, kerugian kecil, serta tidak timbul dampak yang serius
3 Sedang
Luka berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit, tidak mengakibatkan cacat permanen, serta kerugian
finansial sedang
4 Berat
Mengakibatkan luka parah hingga cacat permanen, kerugian finansial besar dan timbul dampak yang
serius
5 Bencana
Kecelakaan yang mengakibatkan korban hingga meninggal dunia, dipastikan mendapatkan kerugian
parah bahkan mampu menghentikan aktivitas atau pekerjaan selamanya
Sumber: Ramli (2013)
Tabel 2.3 Matriks Probabilitas dan Dampak
Kemungkinan
Konsekuensi Tidak
Signifikan Kecil Sedang Berat Bencana
1 2 3 4 5 Hampir Pasti Terjadi 5 H H E E E Sering Terjadi 4 M H H E E Dapat Terjadi 3 L M H E E
10 Kemungkinan
Konsekuensi Tidak
Signifikan Kecil Sedang Berat Bencana
1 2 3 4 5 Kadang - kadang 2 L L M H E Sangat Jarang 1 L L M H H Sumber: Ramli (2013) 3. Pengendalian Resiko
Apabila telah diketahui nilai terhadap tiap-tiap risiko, selanjutnya diperlukan analisis langkah pengendalian risiko terhadap bahaya-bahaya yang telah diperoleh didalam proses tahapan identifikasi bahaya serta dilakukan pertimbangan peringkat kategori risiko. Berikut beberapa cara untuk melakukan tindakan atau langkah pengendalian risiko, antara lain: 1. Pengendalian Teknis Rekayasa
a. Eliminasi
Mengendalikan risiko bahaya dengan cara menghilangkan sumber bahaya kecelakaan kerja itu sendiri.
b. Subsitusi
Mengendalikan risiko bahaya dengan cara penggantian alat secara rutin, serta sistem yang digunakan dengan yang lebih canggih atau aman.
c. Pengendalian Teknik
Mengendalikan risiko bahaya dengan cara memisahkan antara bahaya dan pekerja guna mencegah timbulnya kemungkinan kesalahan yang diakibatkan oleh human error atau manusia pada suatu unit sistem mesin maupun peralatan.
11 Mengendalikan risiko bahaya dengan cara lebih ketat memilih karyawan dengan mempunyai Standart of Prosedure.
e. Alat Pelindung Diri (APD)
Mengendalikan risiko bahaya dengan cara lebih ketat dalam menerapkan APD kepada pekerja guna meminimalisir risiko serta dampak bahaya yang akan ditimbulkan, meskipun banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan pengendalian yang kurang efektif dikarenakan tergantung pada faktor manusia atau pekerja itu sendiri.
2. Pendidikan Pelatihan
Dengan melakukan penerapan training atau memberikan wawasan terhadap pekerja guna lebih memahami keadaan kerja sehingga menekan risiko yang akan ditimbulkan.
3. Insentif, Penghargaan, serta Motivasi Diri
Pada para pekerja yang taat dengan peraturan yang telah ditetapkan, bekerja secara aman dan baik akan diberikan penghargaan sehingga para pekerja yang belum menaati akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
4. Penegak Hukum
Lebih ketat dalam menegakkan peraturan mengenai ketentuan K3 yang telah ditetapkan seperti dengan memberikan hukuman pada pekerja yang melanggar atau tidak taat terhadap peraturan agar merasa jera dan tidak mengulanginya lagi.
2.7. FTA (Fault Tree Analysis)
FTA (Fault Tree Analysis) merupakan metode analisa risiko secara kuantitatif dengan menyuguhkan data dalam bentuk model grafik dan logika serta menyajikan gabungan kemungkinan peristiwa yang akan terjadi dalam sistem yaitu rusak atau baik, aplikasi tersebut melingkupi suatu sistem, equipment serta digunakan untuk analisis. Dengan memakai aplikasi analisa FTA tersebut juga dapat mengetahui faktor-faktor serta gabungan penyebab terjadinya kecelakaan kerja, dapat pula digunakan untuk proyek pembangunan gedung perkantoran
12 maupun lembaga perkuliahan, menyadari banyak kemungkinan kejadian atau situasi yang mengakibatkan kecelakaan kerja pada proyek.
Berikut ini merupakan 5 tahapan yang perlu dilakukan untuk analisa Fault Tree Analysis atau FTA, yaitu (Priyanta, 2000):
1. Mendeskripsikan masalah serta batasan kondisi dalam suatu sistem yang akan ditinjau.
2. Penjelasan model grafis Fault Tree dalam bentuk gambar bagan. 3. Memilih minimal cut set dari hasil analisa Fault Tree.
4. Dilakukannya analisa secara kualitatif pada Fault Tree. 5. Dilakukannya analisa secara kuantitatif pada Fault Tree.
Tahapan pertama diatas memiliki tujuan untuk mengetahui top event yang perlu ditentukan terlebih dahulu dalam penentuan sebuah model grafis FTA, yang hal tersebut dapat diartikan sebagai kegagalan suatu sistem.
Tahapan kedua diatas yaitu menyusun model grafis FTA. Berikut beberapa aturan dalam menyusun FTA, yaitu:
a. Mendefinisikan fault event atau kejadian yang gagal.
b. Melakukan evaluasi terhadap fault tree atau kejadian yang gagal. c. Memenuhi semua gerbang logika atau logical gate.
Model grafis pada FTA mencantum 3 simbol, antara lain yang pertama simbol kejadian yang merupakan simbol dengan bentuk lingkaran, persegi dan bentuk-bentuk yang lain yang memiliki arti di masing-masing simbol pada sistem. Yang kedua simbol transfer dan yang ketiga yaitu simbol gerbang yang menjelaskan tentang keterkaitan antara kejadian input yang menuju pada kejadian output. Keterkaitan tersebut dimulai pada top event hingga ke event yang sangat dasar.
13 Tabel 2.4 Simbol FTA
No Simbol Keterangan Simbol
1
Conditioning Event Merupakan simbol yang menunjukkan keadaan
maupun batasan tertentu atau khusus yang digunakan pada suatu gerbang logika (biasanya gerbang INHIBIT
dan PRIORITY AND).
2
Basic Event
Merupakan simbol yang menunjukkan kegagalan dasar yang tidak diperlukan tindakan lebih lanjut untuk
mengetahui penyebabnya.
3
External Event
Merupakan simbol yang menunjukkan suatu event yang di inginkan untuk muncul secara normal dan tidak
tergolong dalam kejadian gagal.
4
Intermediet Event Merupakan simbol yang menunjukkan suatu event yang muncul dari gabungan kejadian-kejadian yang gagal
diinput atau masuk ke gerbang.
5
Undeveloped Event Merupakan simbol yang menunjukkan suatu event
yang tidak diperlukan tindakan lebih lanjut karena tidak cukup tersedia informasi ataupun karena dampak
yang ditimbulkan tidak begitu penting.
14 Tabel 2.5 Simbol FTA
No. Simbol Keterangan Simbol
1
Gerbang OR merupakan simbol yang menunjukkan suatu event yang muncul atau output terjadi, apabila
salah satu input terjadi.
2
Gerbang AND merupakan simbol yang menunjukkan suatu event output yang muncul apabila semua input
terjadi.
Tahapan ketiga diatas adalah memilih serta menentukan minimal cut set dengan menganalisa secara kualitatif menggunakan Aljabar Boolean. Aljabar tersebut digunakan untuk menjabarkan dengan rinci rangkaian logika yang rumit serta kompleks menjadi rangkaian logika yang lebih sederhana (Widjanarka, 2006: 73).
Tahapan terakhir adalah melakukan analisa secara kualitatif dengan menggunakan teori reliabilitas untuk menyelesaikan analisa tersebut. Teori reliabilitas merupakan nilai probabilitas dalam suatu komponen pada sistem yang akan sukses dalam menjalankan fungsinya dalam kurun waktu dan keadaan operasi tertentu. Reliability bernilai antara angka 0 – 1, dimana nilai 0 menyatakan bahwa sistem gagal dalam menjalankan fungsinya. Sedangkan nilai 1 menyatakan bahwa sistem 100% berfungsi dan berhasil dalam menjalankan fungsinya.